HASIL DAN PEMBAHASAN
11. PT. Bank Tabungan Negara, Tbk
4.4 Wilcoxon Signed Rank Test
Dari analisis diatas menggunakan Shapiro Wilk. Variabel yang tidak berdistribusi normal Capital Adequancy Ratio (CAR), Net Performing Loan (NPL), Return on Assets (ROA), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasi dengan Pendapatan Operasi (BOPO) dapat dilihat pada tabel 4.10 sebagai berikut:
Tabel 4.10
Berikut ini adalah penejelasan dari tabel 4.10 tentang analisis uji beda data dengan uji Wilcoxon Signed Rank Testsebagai berikut:
1. Analisis Uji Beda Rasio Capital Adequancy Ratio (CAR)
Nilai Z pada Capital Adequancy Ratio (CAR) sebesar -6,451 dan nilai Asymp.
Sig. (2-tailed) (0.000) ≤ 0.05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Capital Adequancy Ratio (CAR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional di Indonesia periode 2013-2017.
2. Analisis Uji Beda Rasio Non Performing Loan (NPL)
Nilai Z pada Non Performing Loan (NPL) sebesar -6,452dan nilai Asymp.
Sig. (2-tailed) (0.000) ≤ 0.05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
Non Performing Loan (NPL) Bank Syariah dengan Bank Konvensional di Indonesia periode 2013-2017.
3. Analisis Uji Beda Rasio Return On Asset (ROA)
Nilai Z pada Return On Asset (ROA) sebesar -6,452 dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Return On Asset (ROA) Bank Syariah dengan Bank Konvensional di Indonesia periode 2013-2017.
4. Analisis Uji Beda Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR)
Nilai Z pada Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar -6.410 dan nilai Asymp.
Sig. (2-tailed) (0.000) ≤ 0.05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional periode di Indonesia 2013-2017.
5. Analisis Uji Beda Rasio Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional Nilai Z pada Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO)sebesar -6,334dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) (0.000) ≤ 0.05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO)Bank Syariah dengan Bank Konvensional di Indoensia periode 2013-2017.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan pada variabel Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, Return on Assets, Loan to Deposit Ratio dan Biaya Operasi dengan Pendapatan Operasional pada Bank Syariah dan Bank Konvensional yang Laporan Keuangan sudah diaudit dan dipublikasin oleh Bank
Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan periode 2013-2017.
4.5.1 Analisis Perbedaan Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Syariah dan Bank Konvensional
Pada hasil uji hipotesis terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) antara Bank Syarah dengan bank Konvensional periode 2013-2017. Hasil dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dimana nilai rata-rata Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Syariah sebesar 16,3804% dan nilai rata-rata Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Konvensional sebesar 17,8997%. Ini menunjukkan adanya perbedaan sebesar 1,5193 %.
Hal ini berarti bahwa selama periode 2013-2017 Bank Konvensional memiliki CAR lebih baik dibandingkan dengan Bank Syariah, karena semakin tinggi nilai CAR maka akan semakin bagus kualitas permodalan bank tersebut.
Akan tetapi, jika mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia bahwa standar CAR yang terbaik adalah 8%, maka Bank Syariah masih berada pada kondisi yang ideal karena masih berada diatas ketentuan Bank Indonesia. Semakin besar rasio CAR maka semakin baik kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi dan begitu pun sebaliknya semakin kecil rasio CAR, menunjukkan bahwa bank tidak mampu memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
Capital Adequacy Ratio (CAR) diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena tidak berdistribusi normal. Dari uji hipotesis dilihat bahwa nilai
Wilcoxon Signed Rank Test Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Dapat dikatakan bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Capital Adequacy Ratio (CAR).
Hasil Penelitian ini didukung oleh Yudiana dan Isti (2015) yang dapat menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional, dan penelitian yang dilakukan oleh Yenni dan Wahono (2017) bahwa Kinerja Keuangan Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Capital Adequacy Ratio
4.5.2 Analisis Perbedaan Rasio Non Performing Loan (NPL) Bank Syariah dan Bank Konvensional
Pada hasil uji hipotesis Non Performing Loan (NPL), menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rasio Non Performing Loan (NPL) Bank Syariah dengan Bank Konvensional periode tahun 2013-2017. Hasil dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dimana nilai rata-rata Non Performing Loan (NPL) Bank Syariahsebesar 3,1168% dan Bank Konvensional sebesar 1,8393%. Ini menunjukkan adanya perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional sebesar 1,2775%.
Hal ini berarti bahwa selama periode 2013-2017 Bank Konvensional memiliki NPL lebih baik dibandingkan dengan Bank Syariah, karena semakin rendah nilai NPL maka akan semakin baik kualitas asset suatu bank akan tetapi,
jika mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia bahwa standar NPL yang terbaik adalah dibawah 5%, maka Bank Syariah masih berada pada kondisi yang ideal karena masih berada pada ketentuan Bank Indonesia. Semakin kecil persentase NPL nya berarti semakin bagus tingkat pengembalian kredit dari nasabah dan sebaliknya semakin besar nilai persentase rasio NPL menunjukkan bahwa tingkat pengembalian kredit dari nasabah adalah buruk atau dengan kata lain terdapat nilai kredit macet yang tinggi.
Non Performing Loan (NPL) diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena tidak berdistribusi normal.Dari uji hipotesis Wilcoxon Signed Rank Test dilihat bahwa nilai Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Non Performing Loan (NPL) antara Bank Syariah dan Bank Konvensional. Dapat dikatakan bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Non Performing Loan (NPL).
Hasil Penelitian ini didukung dilakukan oleh Yenni dan Budi (2017) bahwa Non Performing Loanterdapat perbedaan yang signifikan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional, dan penelitian yang dilakukan oleh Widya (2012) bahwa bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Non Performing Loan (NPL).
4.5.3 Analisis Perbedaan Rasio Return On Asset (ROA) Bank Syariah dan Bank Konvensional
Pada hasil uji hipotesis Return On Asset (ROA), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan On Asset (ROA), antara Bank Syaraiah dan Bank
Konvensional periode tahun 2013-2017. Hasil dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dimana nilai rata-rata Return On Asset (ROA), Bank Syariah sebesar 0,7320% dan Bank Konvensional sebesar 2,4257%. Ini menunjukkan adanya perbedaan sebesar 1,6937%.
Hal ini berarti bahwa selama periode 2013-2017 Bank Konvensional memiliki ROA lebih baik dibandingkan dengan Bank Syariah, karena semakin tinggi nilai ROA maka akan semakin baik kualitasnya. Bank Konvensional memenuhi standar ROA dari Bank Indonesia, yaitu sebesar 1,5%, sedangkan Bank Syariah tidak memenuhi standar dari Bank Indonesia. Semakin rendah Return on Assets (ROA) mencerminkan bahwa semakin rendah kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Semakin besar nilai rasio ROA menunjukkan bahwa semakin efektif bank dalam memperoleh laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki dan sebaliknya semakin kecil nilai rasio ROA menunjukkan bahwa semakin tidak efektif bank dalam memperoleh laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki.
Return on Assets (ROA) diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena tidak berdistribusi normal. Dari uji hipotesis Wilcoxon Signed Rank Test dilihat bahwa nilai Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Return on Assets (ROA) Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Dapat dikatakan bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Return On Asset (ROA).
Hasil Penelitian ini didukung Damayanti (2013), bahwa terdapat,
bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Return on Assets (ROA) Bank Syariah dengan Bank Konvensional. dan penelitian yang dilakukan oleh Abraham dan Dwi (2015) bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Return On Asset (ROA).
4.5.4 Analisis Perbedaan Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Syariah dan Bank Konvensional
Pada hasil uji hipotesis Loan to Deposit Ratio (LDR), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Loan to Deposit Ratio (LDR), antara Bank Syaraiah dan Bank Konvensional periode tahun 2013-2017. Hasil dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dimana nilai rata-rata Loan to Deposit Ratio (LDR), Bank Syariah sebesar 88,7104% dan Bank Konvensional sebesar 84,7453%. Ini menunjukkan adanya perbedaan sebesar 3,9651%.
Hal itu berarti bahwa selama periode 2013-2917 Bank Konvensional memiliki LDR lebih baik dibandingkan dengan Bank Syariah. Bank Konvensional memenuhi standar LDR terbaik dari Bank Indonesia, yaitu sebesar 85-110%, dan Bank Syariahjuga memenuhi standar terbaik dari Bank Indonesia.Semakin kecil nilai rasio LDR menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan oleh nasabah dengan mengandalakan kredit yang diberikan, begitu juga sebaliknya semakin besar nilai rasio LDR menunjukkan kemampuan bank yang buruk dalam membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah dengan mengandalkan kredit yang diberikan.
Loan to Deposit Ratio (LDR) diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test
karena tidak berdistribusi normal. Dari uji hipotesis Wilcoxon Signed Rank Test dilihat bahwa nilai Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Dapat dikatakan bahwa Kinerja Keuangan Bank Syariah lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Konvensional pada rasio Loan to Deposit Ratio (LDR)
Hasil Penelitian ini didukung Vivin dan Wahono (2013), bahwa terdapat, bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Syariah dengan Bank Konvensional, dan penelitian yang dilakukan oleh Widya (2012) bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Konvensional pada rasio Loan to Deposit Ratio.
4.5.5 Analisis Perbedaan Rasio Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Syariah dan Bank Konvensional
Pada hasil uji hipotesis Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) antara Bank Syaraiah dan Bank Konvensional periode tahun 2013-2017. Hasil dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif dimana nilai rata-rata Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Syariah sebesar 91,5344% dan Bank Konvensional sebesar 80,6447%. Ini menunjukkan adanya perbedaan sebesar 10,8897%.
Hal itu berarti bahwa selama periode 2013-2017 Bank Konvensional memiliki BOPO lebih baik dibandingkan dengan Bank Syariah, karena semakin rendah nilai BOPO maka akan semakin baik kualitasnya. Akan tetapi, jika
mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia bahwa standar BOPO yang terbaik adalah dibawah 92%, maka Bank Syariah masih berada pada kondisi yang ideal karena masih berada pada ketentuan Bank Indonesia.Semakin rendah nilai rasio BOPO berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, begitu juga sebaliknya semakin tinggi nilai rasio BOPO berarti semakin tidak efisien bank dalam mengendalikan biaya operasionalnya. Dengan adanya efisiensi biaya maka keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar.
Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena tidak berdistribusi normal. Dari uji hipotesis Wilcoxon Signed Rank Test dilihat bahwa nilai Sig. (2-tailed) (0,000) ≤ 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO)Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Dapat dikatakan bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada rasio Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO).
Hasil Penelitian ini didukung Damayanti (2012), bahwa terdapat, bahwa terdapat perbedaan yang Signifikan Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Syariah dengan Bank Konvensional, dan penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Fadah (2015) bahwa Kinerja Keuangan Bank Konvensional lebih baik dibandingkan dengan Kinerja Keuangan Bank Syariah pada Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO).
BAB V