Wire / kawat merupakan komponen utama pada horn. Hal ini dikarenakan dari wire-lah (yang telah dililitkan) timbul medan magnet yang merupakan energi utama yang dapat menggerkan semua komponen-komponen yang ada pada horn sampai pada akhirnya dapat menimbulkan bunyi / suara. Spesifikasi wire yang dipakai adalah wire 2UEW, dimana wire tersebut terbuat dari tembaga dengan ukuran Ø0.32mm ±0.02mm. Wire didatangkan dari supplier dalam bentuk gulungan.
Pada permukaan wire terdapat lapisan email yang berfungsi sebagai lapisan pelindung wire terhadap kemungkinan korsleting pada permukaan wire ketika digulung (winding) menjadi kumparan (coil). Lapisan email juga bersifat sebagai isolator (tak bisa menghantarkan arus listrik). Oleh karena itu lapisan email pada ujung wire harus dihilangkan sebelum wire disambung ke rangkaian lain. Proses handapot adalah proses menghilangkan lapisan email pada wire untuk kemudian diganti dengan lapisan timah. Proses handapot secara lebih detail akan dijelaskan pada bagian selanjutnya pada bab ini.
Gambar 4.11 Wire 0.32 (gulungan) 2. Bobin
Bobin terbuat dari bahan plastik jenis PA66, G30, NT, TORAY CM1011 melalui proses plastic injection. Diantara semua part-part penyusun horn, hanya bobin-lah yang mempunyai bentuk yang paling kompleks (dapat dilihat pada gambar dibawah ini). Hal ini disesuaikan dengan fungsi bobin. Adapun fungsi bobin adalah sebagai berikut:
a. Sebagai tempat wire dililitkan menjadi sebuah kumparan (coil).
Gambar 4.12 Bobin
3. Core
Core terbuat dari bahan plat besi jenis SGCC dengan tebal 1mm yang dilapisi plating dengan kode proses plating “MFZnC-5”. Artinya material yang digunakan untuk proses plating adalah Zn (seng), dengan warna plating yellow (C), dengan ketebalan plating minimal 5 mikron. Lapisan plating tersebut berfungsi sebagai lapisan anti karat. Core berfungsi sebagai holder (rumah) untuk bobin. Ketika contact assy (terdiri dari bobin, wire, core, contact A dan contact B) disatukan dengan case dan stay dengan proses pole coulking (dijelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya), maka core berfungsi untuk mengikat (clamping) contact assy dengan kuat pada case dan stay.
Gambar 4.13 Core 4. Pole
Pole terbuat dari bahan besi jenis SWRM12 yang dilapisi plating dengan kode proses plating EP-Fe/Zn5B. Artinya material yang digunakan untuk proses
plating adalah Zn (seng), dengan warna plating blue (B), dengan ketebalan plating minimal 5 mikron dan maksimal 8 mikron. Pole termasuk dalam kategori komponen penting yang terdapat pada satu unit horn. Pole berbentuk seperti rivet (pin) dan diassy ditengah-tengah bobin yang telah dililitkan wire dengan proses press pole. Adapun fungsi dari pole adalah sebagai berikut:
a. Ketika pole terinduksi magnet oleh lilitan wire pada bobin, maka pole berubah sifat menjadi magnet dan dapat menarik rivet yang terdapat pada diaphram assy sehingga terjadi bunyi.
b. Menyatukan contact assy (terdiri bobin yang telah dililit wire, core, contact A, contact B dan rivet tembaga tembaga 3x10 dengan jumlah 2 pcs) dengan case, washer 5mm 2 pcs dan stay 2pcs dengan proses pole coulking.
Gambar 4.14 Pole 5. Copper Rivet 3x10
Copper Rivet 3x10 terbuat dari bahan tembaga (copper) jenis C1100W. Copper Rivet 3x10 berfungsi sebagai media penyalur alur listrik dari terminal menuju ke contact assy. Seperti kita ketahui bahwa tembaga (cupper) memiliki sifat konduktor (sifat menghantarkan arus listrik) yang sangat baik. Disamping itu tembaga juga memiliki sifat mampu dibentuk / keling / rivet dengan baik sehingga dalam hal ini copper rivet 3x10 dapat juga berfungsi untuk menyatukan antara terminal sub assy, contact assy dan case dengan proses terminal press yang akan
dijelaskan selanjutnya pada bab ini. Secara lebih jelas copper rivet 3x10 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4.15 Copper Rivet 3x10 6. Contact B
Contact B merupakan gabungan antara contact plate B dan point B yang diassy dengan proses press contact B. Contact plate B terbuat dari bahan besi jenis SUS 420 J2 dengan tebal 0.3mm dengan kekerasan 410 - 450 HV. Point B terbuat dari bahan tembaga (Copper). Contact B diassy pada coil assy dengan posisi point B menghadap ke atas. Contact B berfungsi untuk menyambung dan memutus arus listrik dari terminal menuju ke coil assy. Dalam kondisi normal, contact B tersambung dengan contact A (normally close). Tetapi ketika arus listrik mengalir menuju ke coil assy, rivet yang ada pada diaphram tertarik pole, kemudian insulator pun juga ikut bergerak kebawah mendekati contact B. Sampai pada akhirnya insulator menekan contact B kebawah dan terputuslah arus listrik yang menuju coil assy. Untuk lebih jelasnya contact B dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Contact plate B didesain dengan bentuk dan bahan sedemikian rupa sehingga memungkinkanya memiliki sifat elastis. Sifat elastis inilah yang dimanfaatkan untuk menyambung dan memutus contact point antara point B pada contact plate A dengan point B pada contact plate B. Dengan demikian point B pada contact plate B merupakan moveable point (titik yang dapat berubah posisi).
Gambar 4.16 Contact B 7. Contact A
Contact A merupakan gabungan antara contact plate A dan point B yang diassy dengan proses press contact A. Contact plate A terbuat dari bahan besi jenis SPCC dengan tebal 1.2 mm yang dilapisi plating dengan kode proses plating MFZn-2B. Artinya material yang digunakan untuk proses plating adalah Zn (seng), dengan warna plating blue (B), dengan ketebalan plating minimal 2 mikron. Contact A diassy secara manual oleh operator diatas contact B pada bobin. Kemudian diclamp dengan 1st rivet copper 3x10. Point B pada contact A berfungsi sebagai fixed point (titik yang tetap). Contact A merupakan komponen dari horn yang mengalami proses adjusting point gap (penyesuaian) yaitu proses untuk menentukan besarnya kekuatan penekanan contact A terhadap contact B untuk mendapatkan point gap yang sesuai standar. Proses adjusting contact A dilakukan dengan cara mengencangkan atau mengendurkan screw pan M3x7 yang terdapat pada case. Ketika screw pan M3x7 dikencangkan, maka ujung dari screw pan M3x7 akan menekan contact A. Demikian sebaliknya ketika screw pan M3x7 dikendorkan maka penekanan terhadap contact A berkurang.
8. Case
Case terbuat dari bahan besi jenis SPCC-SD (JSC270C,OD) dengan tebal 0.8mm yang dilapisi plating dengan kode proses plating Ep-Fe/Zn8K (CF). Artinya material yang digunakan untuk proses plating adalah Zn (seng), dengan warna plating black (K), dengan ketebalan plating minimal 8 mikron, dengan proses oven selama 4 jam. Lapisan plating berfungsi untuk mencegah korosi dan untuk memberi warna pada case yaitu warna hitam (black). Case berfungsi rumah (case) dimana semua komponen-komponen horn diassy didalamnya. Disamping itu case juga berfungsi untuk melindungi semua komponen-komponen horn dari pengaruh dari luar terutama cairan/air/air hujan. Air yang masuk ke dalam rangkaian horn dapat mempengaruhi kualitas suara yang ditimbulkan horn. Dalam jangka waktu lama juga dapat menyebabkan korosi pada komponen-komponennya. Oleh karena itu tidak boleh terjadi kebocoran pada case.
Gambar 4.18 Case 9. Terminal Sub Assy
Terminal Sub Assy merupakan gabungan antara terminal plate dan terminal holder. Terminal plate terbuat dari bahan kuningan (campuran tembaga / Cu dan seng / Zn) jenis C2680P-1/2H dengan tebal 0.8 mm. Sedangkan terminal holder terbuat dari bahan plastik PA66, G30, NT, TORAY CM1011 (sama seperti bobin). Terminal sub assy berfungsi sebagai jalan masuknya arus listrik dari sumber listrik menuju ke
rangkaian horn. Pada setiap satu unit produk horn terdapat sepasang sub terminal sub assy. Pada masing-masing terminal terdapat dua buah lubang yaitu lubang besar dan lubang kecil. Lubang besar akan dimasuki rivet tembaga pada proses terminal press (dijelaskan pada bagian selanjutnya). Lubang kecil berfungsi untuk mengikat kabel dari sumber arus listrik (dari kendaraan yang akan dipasangi horn).
Gambar 4.19 Terminal Sub Assy 10. Washer Flat Ø5mm
Washer flat Ø5mm terbuat dari bahan besi jenis SPCC-SD dengan tebal 1mm yang dilapisi plating dengan kode proses plating Ep-Fe/Zn5K (CF). Artinya material yang digunakan untuk proses plating adalah Zn (seng), dengan warna plating black (K), dengan ketebalan plating minimal 5 mikron, dengan proses oven selama 4 jam. Pada setiap satu unit horn terdapat washer flat Ø5mm sebanyak dua pcs. Satu washer dipasang diantara case dan stay, satu washer lain dipasang diatas stay. Washer flat Ø5mm berfungsi untuk memperkuat pegangan (holding) stay terhadap case.
Gambar 4.20 Washer Flat Ø5mm
11. Stay
Stay terbuat dari bahan besi jenis SK7 dengan tebal 0.7 mm yang dilapisi plating dengan kode proses plating Ep-Fe/Zn8K. Artinya material yang digunakan
untuk proses plating adalah Zn (seng), dengan warna plating black (K), dengan ketebalan plating minimal 8 mikron. Fungsi dari stay adalah untuk sebagai dudukan (stay) pada horn yang nantinya dipasangkan (clamping) pada unit motor / mobil / kendaraan lainya. Pada setiap satu unit horn terdapat dua buah stay yang dipasang bertumpuk. Pada masing-masin stay terdapat tiga buat lubang. Satu lubang digunakan untuk clamping unit horn dan dua lubang lainya untuk clamping horn pada unit motor / mobil / kendaraan lainya.
Gambar 4.21 Stay