BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. PEMBAHASAN
1. Wujud Formal dan Wujud Pragmatik Imperatif
Sebelum diuraikan lebih lanjut perihal kesantunan dan peringkat ke santunan pemakaian tuturan imperatif, maka terlebih dahulu yang akan dijelaskan mengenai wujud tuturan imperatif di dalam bahasa Indonesia. Wujud imperatif tersebut mencakup dua hal pertama wujud imperatif formal atau stuktural dan kedua wujud imperatif pragmatik atau nonstuktural.
Wujud formal imperatif adalah realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia menurut ciri struktural atau ciri formalnya. Ciri formal atau ciri stuktural imperatif di dalam bahasa Indonesia telah banyak dijelaskan oleh ahli-ahli tata bahasa Indonesia misalnya Gorys Keraf (1991) sebagaimana dikutip oleh Kunjana Rahardi (2002) dikatakan bahwa menunjukan tiga ciri mendasar yang
dimiliki satuan lingual imperatif dalam bahasa Indonesia, yakni: 1) menggunakan intonasi keras; 2) kata kerja yang digunakan lazimnya kata kerja dasar, dan 3) mempergunakan partikel pengeras-lah.3 Linguis-linguis lain, pada umumnya, juga menguraikan perihal ciri struktural atau ciri formal satuan lingual imperatif tersebut di dalam karya ketatabahasaan dengan masing-masing penjelasan yang berbeda-beda.
Sedangkan, wujud pragmatik imperatif adalah realisasi maksud imperatif menurut makna pragmatiknya. Makna yang demikian dekat dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakangi munculnya tuturan imperatif itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, wujud pragmatiknya imperatif dalam bahasa Indonesia itu dapat berupa tuturan yang bermacam-macam sejauh di dalamnya terkandung makna pragmatik imperatif.
Bentuk imperatif membedakan antara imperatif formal dengan imperatif pragmatik, imperatif pragmatik wujudnya bermacam-macam dan hanya dapat diketahui melalui konteks situasi tuturannya. Konteks termaksud dapat mencakup banyak hal, seperti lingkungan tutur, maksud tutur, nada tutur, peserta tutur, dan aspek-aspek konteks situasi tutur yang lain.
1. Wujud Formal Imperatif
Di depan sudah disampaikan bahwa yang dimaksud dengan wujud struktural imperatif adalah realisasi maksud imperatif apabila dikaitkan dengan ciri formal atau ciri strukturalnya. Secara formal, tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia meliputi dua macam perwujudan, yakni imperatif aktif dan imperatif pasif. Kedua macam tersebut akan diuraikan secara terperinci.
a. Imperatif Aktif
Dalam bahasa Indonesia imperatif aktif dapat dibedakan berdasarkan penggolongan verbanya menjadi dua macam, yakni imperatif aktif yang berciri tidak transitif dan imperatif aktif yang berciri transitif. Kridalaksana (1992) sebagaimana dikutip oleh Kunjana Rahardi (2002) dalam buku pragmatik
3
Kunjana Rahardi, Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2002), h. 87.
kesantunan imperatif bahasa Indonesia dijelaskan bahwa “transitif” bersangkutan dengan perbuatan (verba) yang mengharuskan adanya tujuan; sedangkan “tidak transitif” atau “intransitif” bersangkutan dengan perbuatan (verba) yang tidak mengharuskan adanya tujuan.4 Selanjutnya kedua macam tipe imperatif aktif tersebut akan diuraikan.
1)Imperatif Aktif Tidak Transitif
Imperatif aktif dalam bahasa Indonesia dapat berciri tidak transitif. Imperatif yang demikian dapat dengan mudah dibentuk dari tuturan deklaratif, diketahui bahwa kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada orang lain.5 yakni yang menetapkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1) menghilangkan subjek yang lazimnya berupa pesona kedua seperti Anda, Saudara, kamu, sekalian, Saudara sekalian, kamu sekalian
dan kalian-kalian; 2) mempertahankan bentuk verba yang dipakai dalam kalimat deklaratif itu seperti apa adanya; dan 3) menambahkan partikel-lah pada bagian tertentu untuk memperhalus maksud imperatif aktif tersebut. 6Tetapi dalam teks pidato siswa SMP Islam Harapan Ibu kelas IX semester genap, peneliti hanya menemukan dua ketentuan yakni mempertahankan bentuk verba yang dipakai dalam kalimat deklaratif itu seperti apa adanya; dan menambahkan partikel-lah.
Kedua pententuan tersebut dapat dilihat dari contoh berikut.
(3) Hendaknya kita bisa memulai dari definisi pemanasan global pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata deretan bumi, laut dan atmosfer.
(Sumber data No. 2: Dinny Nadia P, 2013)
Informasi Indeksal:
Pembicara mengajak kepada pendengar agar mengetahui definisi dari
4
Kunjana Rahardi, Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2002), h. 88.
5
Abdul Chaer, Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses), (Jakarta: Renika Cipta, 2009), h. 187.
6
pemanasan global, dengan tujuannya adalah agar pendengar mengetahui bencana yang disebabkan pemanasan global.
(41)Dan buatlah anak cucu kita nanti masih dapat merasakan indahnya dunia tanpa global warming.
(Sumber data No. 6: Mas Taufiq Dirga P, 2013)
Informasi Indeksal:
Dalam pidato yang disampaikan pembicara memberi tahu dengan tegas kepada pendengar agar kita semua yang ada di muka bumi ini sama-sama menjaga lingkungan dan ketestarian alam.
Dari contoh-contoh tuturan di atas, dapat dengan jelas dilihat untuk membentuk imperatif aktif yang tidak transitif, verba tidak transitif yang berupa kata dasar dapat dilihat pada tuturan (3). Untuk tuturan (41) tuturan yang menambahkan partikel-lah. Penggunaan partikel –lah menunjukan adanya etika berbahasa yang menunjukan hubungan erat tentang beberapa dimensi yaitu pemilihan kode bahasa. Pada konteks ini pembicara memilih partikel –lah, dalam kalimat imperatif aktif tak transitif dipilih untuk dapat menimbulkan efek kesantunan berbahasa. Pembicara sangat mengharapkan agar mendengar bersedia melakukan tindakan seperti yang diharapkannya yaitu berbuat sesuatu yang membuat anak cucu kita senang. Ditinjau dari norma-norma sosial kalimat imperatif berpartikel-lah ini merupakan norma sosial yang tidak tertulis berlaku dalam masyarakat Indonesia, yang bertujuan untuk memperhalus bahasa yang diujarkan. Partikel-lah secara sosial dapat membangkitkan efek yang menunjukan rasa senang lawan bicara dalam hal ini pendengar pidato.
2)Imperatif Aktif Transitif
Untuk membentuk tuturan imperatif aktif transitif, ketentuan yang telah disampaikan sebelumnya yaitu: 1) menghilangkan subjek yang lazimnya berupa persona kedua seperti Anda, Saudara, kamu, kalian, Anda Sekalian, Saudara
sekalian,kamu sekalian dan kalian-kalian; 2) mempertahankan bentuk verba yang dipakai dalam kalimat deklaratif itu seperti apa adanya; dan 3) menambah partikel-lah pada bagian tertentu untuk memperhalus maksud imperatif aktif tersebut. Dalam membentuk tuturan imperatif aktif tidak transitif tetap berlaku, perbedaannya adalah bahwa untuk membentuk imperatif aktif transitif, verbanya harus dibuat tanpa berawalan me-N. Contoh yang bernomor (34) a dan b pada tuturan-tuturan berikut dapat dicermati dan dipertimbangkan.
(34) a. Yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global adalah menghentikan listrik jika tidak digunakan, menghemat kertas dan plastik, mengurangi menggunakan kendaraan, tanam pohon disekitar dan juga merawatnya. Mungkin kita sudah menanam pohon tapi apakah kita juga merawatnya? Percuma saja menanan pohon kalau tidak dirawat juga akan mati.
(Sumber data No.6: Mas Taufiq Dirga P, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato Mas Taufiq Dirga P meminta kepada kitsa, agar mengetahui dampak dari pemanasan global. Karena pemanasan global tanda-tanda bumi akan hancur.
b. Yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global adalah hentikan listrik jika tidak digunakan, hemat kertas dan plastik, mengurangi menggunakan kendaraan, tanam pohon disekitar dan juga merawatnya. Mungkin kita sudah menanam pohon tapi apakah kita juga merawatnya? Percuma saja menanan pohon kalau tidak dirawat juga akan mati.
(Sumber data No.6: Mas Taufiq Dirga P, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato Mas Taufiq Dirga P meminta kepada kitsa, agar mengetahui dampak dari pemanasan global. Karena pemanasan global tanda-tanda bumi akan hancur.
Perlu dicatat bahwa apabila verba kalimat deklaratif yang akan dibentuk menjadi imperatif aktif transitif itu memiliki dua unsur awalan, misalnya
memper-dan member-, hanya unsur me-N sajalah yang perlu ditinggalkan. Perlu dicatat pula bahwa pada akhiran yang melekat pada verba dipertahankan dan tidak perlu dihilangkan di dalam pembentukan tuturan imperatif aktif transitif.
Pada kalimat imperatif (34a) dan (34b) ditinjau secara pragmatik menunjukan kaidah kesantunan formalitas (formality), hal ini sesuai dengan pernyataan (Lakoff, 1973). Kesantunan formalitas yaitu kesantunan bertutur yang tidak memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu, tetapi mampu menyarankan kepada orang lain untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk dilakukan, contoh kalimat (34b) kalimat imperatif aktif transitif ini dipilih oleh pembicara untuk dapat menimbulkan efek “senang” pada lawan bicara untuk bersedia melakukan tindakan yang dapat mengurangi pemanasan global. Dengan demikian, harapan pembicara dapat tercapai sesuai dengan apa yang harapkannya, tanpa menyinggung perasaan orang lain karena pembicara menggunakan nosi kesantunan berbahasa.
b. Imperatif Pasif
Dalam komunikasi keseharian, maksud tuturan imperatif lazimnya dinyatakan dalam tuturan yang berdiatesis pasif. Digunakan bentuk tuturan yang demikian dalam menyatakan maksud imperatif karena pada pemakaian imperatif pasif itu, kadar suruhan yang dikandung di dalamnya cenderung menjadi rendah. Selain itu, bentuk imperatif pasif juga dapat mengandung konotasi makna bahwa orang ketigalah yang diminta melakukan sesuatu, bukanlah orang kedua. Kadar permintaan dan kadar suruhan yang terdapat di dalam imperatif itu tidak terlalu tinggi karena maksud tuturan itu tidak secara langsung tertuju kepada orang yang bersangkutan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di dalam pemakaian tuturan imperatif pasif itu terdapat maksud penyelamatan muka yang melibatkan muka si penutur maupun muka diri si mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini dapat dicermati dan dipertimbangkan dalam tuturan berikut.
(24) Tentu saja diharapkan agar pemerintah lebih berperan aktif dalam mencegah pemanasan global menjadi berakibat buruk bagi bumi yang tentu saja efeknya akan kemabali ke kita.
(Sumber data No. 3: Elsiandari Rahayu, 2013)
Informasi Indeksal:
Pembicara dalam pidatonya pendengar, hususnya pemerintah untuk menjaga lingkungan mulai dari hal terkecil, agar alam ini terhindar dari pemanasan global.
Pada kalimat imperatif pasif secara pragmatik menunjukan kesantunan dalam studi bahasa yang bermakna bagaimana bahasa mengekspresikan jarak sosial antara para penuturya dan hubungan peran mereka yang berbeda-beda. Selain itu bagaimana muka berperan, yakni upaya untuk mewujudkan, mempertahankan, dan penyelamatan muka. Menurut (Richards 1985) diartikan sebagai kesan atau impresi terhadap seseorang atau yang ditunjukan oleh seseorang kepada partisipan lain.
Kalimat imperatif pasif dalam komunikasi dalam hal ini adalah pidato, kadar suruhan yang terkandung di dalamnya cenderung menjadi rendah, karena orang ketiga yang diminta untuk melakukan sesuatu. Dapat dilihat contoh tuturan (24) orang ketiga yang diminta untuk melakukan sesuatu yaitu pemerintah, dalam hal ini pemerintah diharapkan agar berperan lebih aktif dalam menjaga lingkungan serta alam agar terhindar dari pemanasan global. Dengan demikian harapan pembicara dapat tercapai sesuai dengan yang di harapkan tanpa menyinggung perasaan orang lain, karena pembicara menggunakan kesantunan dalam berbahasa.
(2) Mari kita cegah mulai dari diri kita sendiri dan dari sekarang, untuk tidak membuat keadaan bumi semakin lebih buruk.
Informasi Indeksal:
Kalimat imperatif ajakan dalam teks pidato ini, pembicara mengajak kepada pendengar untuk menjaga bumi agar terhindar dari pemanasan global.
(31) Disini saya ingin menyampaikan tentang pentingnya menjaga bumi dan memelihara bumi. Karena bumi adalah tempat berlangsungnya kehidupan para umat manusia. Jika bumi ini tidak dijaga dan dipelihara dengan benar. Maka, yang akan terjadi ialah bumi bisa mengalami kerusakan dimana-mana. Untuk mencegah kerusakan pada bumi ini. Maka, langkah yang pertama adalah dengan mencoba bersahabat dengan alam.
(Sumber data No. 10: M. Irfan Ardiansyah, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato yang sampaikan M. Irfan kepada pendengar agar menjaga bumi, mulai dari sendiri dan dari hal terkecil misalnya menghemat listrik, pemakaian kendaran bermotor seperlunya dan lain sebagainya.
Tuturan (2) akan menjadi semakin halus dan semakin tidak langsung apabila tuturan itu tidak diungkapkan dengan intonasi suruh. Selain itu, untuk mengurangi kadar kelangsungan tuturan, seperti yang terdapat (2) dapat ditambahkan unsur-unsur lingual lain sehingga tuturan menjadi semakin panjang. Semakin panjang sebuah tuturan akan menjadi semakin tidak langsunglah maksud sebuah tuturan itu. dapat dipertimbangkan tuturan (31). Demikian sebaliknya semakin pendek sebuah tuturan akan menjadi semakin langsunglah maksud tuturan itu. untuk pemperjelas hal ini dapat dilihat tuturan (5). Semakin langsung maksud sebuah tuturan, menjadi semakin rendahlah kadar kesantunannya.
(5) Mari kita cegah semaksimal mungkin efek dari pemanasan global.
Informasi Indeksal:
Pembicara mengajak kepada pendengar, agar menjaga bumi dari pemanasan global karena pemasanan global akan merugikan manusia yang ada di bumi.
Pada kalimat imperatif secara pragmatik menunjukan kesantunan, yaitu adanya etika berbahasa erat kaitannya dengan pemilihan kode bahasa. Pada konteks ini pembicara memilih sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. Dapat cermati tuturan (5) dan (31).
(5) Mari kita cegah semaksimal mungkin efek dari pemanasan global.
(Sumber data No. 3: Elsiandari Rahayu, 2013)
Informasi Indeksal:
Pembicara mengajak kepada pendengar, agar menjaga bumi dari pemanasan global karena pemasanan global akan merugikan manusia yang ada di bumi.
(31) Disini saya ingin menyampaikan tentang pentingnya menjaga bumi dan memelihara bumi. Karena bumi adalah tempat berlangsungnya kehidupan para umat manusia. Jika bumi ini tidak dijaga dan dipelihara dengan benar. Maka, yang akan terjadi ialah bumi bisa mengalami kerusakan dimana-mana. Untuk mencegah kerusakan pada bumi ini. Maka, langkah yang pertama adalah dengan mencoba bersahabat dengan alam.
(Sumber data No. 10: M. Irfan Ardiansyah, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato yang sampaikan M. Irfan kepada pendengar agar menjaga bumi, mulai dari sendiri dan dari hal terkecil misalnya menghemat listrik, pemakaian kendaran bermotor seperlunya dan lain sebagainya.
Tuturan (5) dan (31) memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu menjaga dan memelihara bumi agar tidak terjadi pemanasan global, yang membedakan adalah panjang pendek tuturan tersebut. Ditinjau dari norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat Indonesia orang yang berbicara langsung terhadap apa yang diinginkannya, dapat dikatakan kadar kesantunannya rendah. Selain itu secara sosial dapat membangkitkan efek yang menunjukan rasa tidak senang terhadap lawan dalam hal ini pendengar pidato. Demikian sebaliknya norma yang berlaku di masyarakat Indonesia orang bercara secara tidak langsung, maka orang tersebut dikatakan santun.
2. Wujud Pragmatik Imperatif
Berbeda dengan wujud formal imperatif sebagaimana telah disampaikan di bagian awal bahwa wujud struktural imperatif adalah realisasi maksud imperatif, sedangkan wujud pragmatik imperatif dalam bahasa Indonesia tidak selalu berupa konstuksi imperatif. Dengan perkataan lain, wujud pragmatik imperatif dalam bahasa Indonesia tersebut dapat berupa tuturan yang bermacam-macam, dapat berupa konstruksi imperatif dan dapat pula berupa konstruksi nonimperatif.
Adapun yang dimaksud dengan wujud pragmatik adalah realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia apabila dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. 7Makna pragmatik imperatif tuturan yang demikian itu sangat ditentukan oleh konteksnya.
Dari penelitian yang dilakukan mengenai teks pidato yang dibuat siswa SMP Islam Harapan Ibu kelas IX semester genap, peneliti hanya menggunakan tiga macam makna pragmatik imperatif di dalam bahasa Indonesia sesuai dengan pembatasan masalah. Tiga macam makna pragmatik imperatif itu ditemukan baik di dalam tuturan imperatif langsung maupun di dalam tuturan imperatif tidak langsung. Pada bagian berikut, masing-masing wujud makna pragmatik imperatif akan diuraikan secara terperinci.
77
a. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Suruhan
Secara struktural, imperatif yang bermakna suruhan dapat ditandai oleh pemakaian penanda kesantunan coba. Selain itu tuturan yang menggunakan penanda kesantunan dapat diparafrasa sehingga lebih santun.8 Untuk mengetahui apakah tuturan yang diparafrasa tersebut merupakan imperatif dengan makna suruhan. Pada kegiatan bertutur yang sesungguhnya, makna pragmatik imperatif suruhan itu tidak selalu diungkapkan dengan konstruksi imperatif. Makna pragmatik imperatif suruhan dapat diungkapkan dengan bentuk tuturan deklaratif dan tuturan interogatif. Diketahui bahwa bentuk tuturan deklaratif adalah kalimat yang isinya menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan interogatif adalah kalimat yang mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Seperti dapat dilihat pada contoh-contoh tuturan sebagai berikut:
(16) Solusi yang mudah dilakukan dan aman adalah: 1. Menggunakan kendaraan bermotor seperlunya saja 2. Mengurangi pembakaran sampah dan pembakaran yang lain 3. Reboisasi 4. Mengurangi penggunaan farmum.
(Sumber data No. 15: Zhafran, 2013)
Informasi Indeksal :
Dalam pidato yang disampaikan Zhafran, menyuruh kepada pendengar agar waspada terhadap terjadinya pemanasan global yang akan merugikan kita semua.
(17) Agar lingkungan bersih kita juga harus membudiyakan membuang sampah tidak sembarangan dan mulai sekarang menanamkan kepada diri kita bahwa kebersihan sebagian dari iman.
(Sumber data No. 17: Fadlila Meivira Jelita, 2013)
Informasi Indeksal :
Kalimat ajakan dalam pidato yang disampaikan oleh fadlila Meivira, mengajak kepada kita agar menjaga lingkungan.
8
Tuturan yang mengandung makna pragmatik ditunjukan dengan penanda kesantunan coba. Bertutur yang sesungguhnya yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan tidak selalu diungkapkan dengan kontruksi imperatif. Sebetulnya dapat diungkapkan dengan bentuk tuturan deklaratif dan bentuk tuturan interogatif. Di dalam tuturan (16) dan (17) mengandung makna suruhan dengan bentuk tuturan deklaratif yaitu pembicara dalam pidatonya menyeruh kepada kita sebagai pendengar agar menjaga lingkungan dan melestarikan alam agar terhindar dari pemanasan global.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di dalam sebuah kesantunan setiap orang bertutur dalam konteks ini adalah pidato berkeinginan agar apa yang dilakukan, apa yang dimilikinya atau apa yang merupakan nilai-nilai yang ia yakini (sebagai akibat dari apa yang dilakukan atau dimilikinya itu) diakui orang lain sesuatu hal yang baik, yang menyenangkan dan patut dihargai (Brown dan Levinson 1996).
b. Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Ajakan
Imperatif dengan makna ajakan, biasanya ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan mari atau ayo. Kedua macam penanda kesantunan itu masing-masing-masing memiliki makna ajakan. Pemakaian penanda kesantunan itu di dalam tuturan dapat dilihat pada contoh tuturan sebagai berikut:
(4) Mari kita cegah semaksimal mungkin efek dari pemanasan global.
(Sumber data No. 2: Dinny Nadia P, 2013)
Informasi Indeksal:
Dalam pidato yang disampaikan Dinny mengajak kepada pendengar agar menjaga bumi dari pemanasan global.
(11) Saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa perlu adanya kesadaran kita bersama untuk saling menjaga, merawat dan menghijaukan bumi (menanam pohon, melestarikan hutan ) air, (membersihkan sampah dan kotoran dari kali), udara (mengurangi bahan bakar), dan segala isinya agar tetap lestari khususnya
membersihkan lingkungan disekitar tempat tinggal masing-masing, sehingga kita dapat hidup dengan nyaman sehat, sejahtera.
(Sumber data No. 10: M Irfan Ardiansyah, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato yang disampaikan M Irfan, mengajak kepada pendengar untuk saling mengingatkan mengenai efek dari pemanasan global, selian itu untuk sama-sama menjaga dan merawat bumi ini dengan baik agar terhindar dari pemanasan global.
Secara pragmatik imperatif makna ajakan tuturan (4) menunjukan kesantunan dengan penanda mari. Tetapi ditinjau dari norma sosial yang berlaku dalam masyarakat Indonesia, tuturan tersebut mengandung kadar kesantunan sangat rendah. Karena tuturan (4) secara langsung diungkapkan tanpa adanya unsur lingual, semakin pendek sebuah tuturan akan menjadi semakin langsunglah maksud tuturan itu. Semakin langsung maksud sebuah tuturan, menjadi semakin rendah kadar kesantunannya.
Secara pragmatik maksud imperatif ajakan, tidak selalu diwujudkan dengan penanda kesantunan imperatif. Berkenaan dengan makna pragmatik imperatif ajakan termaksud tuturan (11). Etika berbahasa antara lain “mengatur” dalam artian apa yang harus kita katakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia dalam bertutur secara tidak langsung, ketaklangsungan tuturan tersebut mengandung kesantunan.
c. Tuturan yang mengandung Makna Pragmatik Imperatif Permintaan
Tuturan imperatif yang mengandung makna permintaan lazimnya terdapat ungkapan penanda kesantunan tolong atau frasa lain yang bermakna minta. Makna imperatif permintaan yang lebih halus diwujudkan dengan penanda kesantunan
mohon. Dari hasil analisis di dalam teks pidato yang buat siswa SMP Islam Harapan Ibu kelas IX semester genap, tidak terdapat penanda kesantunan tolong
dan mohon. Peneliti hanya mendapatkan frasa yang bermakna minta. Dapat dilihat pada contoh berikut:
(26) Yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak global warming adalah mematikan listrik jika tidak digunakan, menghemat kertas dan plastik, mengurangi kendaraan bermotor, menanam pohon di sekitar dan juga merawatnya, mungkin kita sudah menanam pohon tapi
jika tidak dirawat akan mati juga.
(Sumber data No. 13: Charina, 2013)
Informasi Indeksal :
Pendengar diminta untuk menghemat kertas dan plastik, menggunakan kendaraan bermotor seperlunya, dan menanam pohon sebanyak-banyaknya dan selalu merawatnya.
(27) Disini saya ingin menyampaikan tentang pentingnya menjaga bumi dan memelihara bumi. Karena bumi adalah tempat berlangsungnya kehidupan para umat manusia. Jika bumi ini tidak dijaga dan dipelihara dengan benar. Maka, yang akan terjadi ialah bumi bisa mengalami kerusakan dimana-mana. Untuk mencegah kerusakan pada bumi ini. Maka, langkah yang pertama adalah dengan mencoba bersahabat dengan alam.
(Sumber data No. 10: M. Irfan Ardiansyah, 2013)
Informasi Indeksal :
Pidato yang sampaikan M. Irfan kepada pendengar agar menjaga bumi, mulai dari sendiri dan dari hal terkecil misalnya menghemat listrik, pemakaian kendaran bermotor seperlunya dan lain sebagainya.
Ada tiga kaidah yang perlu kita patuhi agar ujaran terdengar santun oleh pendengar atau lawan bicara kita yaitu: 1) jangan memaksa atau jangan angkuh, dalam hal ini pembicara mengajak kepada pendengar untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pemanasan global tanpa ada paksaan; 2) buatlah sedemikian
rupa sehingga lawan bicara Anda dapat menentukan pilihan, yang menjadi lawan bicara disini adalah pemdengar dalam hal ini pendengar dapat menentukan pilihan yang terbaik yang dilakukun pendengar agar terhindar dari pemanasan global; 3) bertindaklah seolah-olah Anda dan lawan bicara Anda sama atau dengan kata lain buatlah ia senang (Lakoff 1973). Dengan demikian pidato yang disampaikan oleh pembicara mengenai pemanasan global meminta kepada pendengar untuk menjaga lingkungan dan melestarikan alam agar terhindar dari pemanasan global.