Menurut Rahardi (2000: 87) wujud imperatif mencakup dua macam hal, yakni (1) wujud imperatif formal atau struktural dan (2) wujud imperatif pragmatik atau
26 nonstruktural. Wujud formal imperatif adalah realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia menurut ciri struktural atau ciri formalnya. Sedangkan wujud pragmatik imperatif adalah realisasi maksud imperatif menurut makna pragmatiknya. Makna yang demikian dekat dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakangi munculnya tuturan tuturan imperatif itu. Dengan demikian wujud pragmatik imperatif dalam bahasa Indonesia itu dapat berupa tuturan yang bermacam-macam sejauh di dalamnya terkandung makna pragmatik imperatif.
1. Wujud formal imperatif
Wujud formal berkaitan dengan jenis kalimat perintah (imperatif). Secara formal, tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia meliputi dua macam perwujudan, yakni imperatif aktif dan imperatif pasif. Imperatif aktif dibentuk dengan penggunaan awalan meN- pada verbanya, dan dapat juga menghilangkan subjek yang lazimnya berupa persona kedua, mempertahankan bentuk verba yang dipakai dalam kalimat deklaratif itu seperti apa adanya, serta menambahkan sufiks –lah pada bagian tertentu. Sufiks –lah tersebut untuk memperhalus maksud imperatif tersebut. Sedangkan imperatif pasif digunakan pada kadar suruhan yang didalamnya cenderung rendah.
a. Imperatif Aktif
Kalimat imperatif memiliki ciri formal seperti intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan, pemakaian pertikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan. Berdasarkan penggolongan verbanya, imperatif aktif dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni imperatif aktif yang bercirikan tidak transitif dan imperatif aktif yang bercirikan transitif. Imperatif aktif tidak transitif. digunakan dengan tidak menyertakan objek pada tuturannya. Imperatif transitif
27 digunakan dengan menyertakan objek pada tuturannya. Pada bagian berikut kedua macam tipe imperatif tersebut diuraikan terperinci.
1) Imperatif aktif tidak transitif
Menurut Rahardi (2000, 88), imperatif aktif tidak transitif dapat dibentuk dari tuturan deklaratif, yakni dengan menetapkan ketentuan-ketentuan berikut: (a) menghilangkan subjek yang lazimnya berupa persona kedua seperti Anda, Saudara, kamu, kalian, Anda sekalian, Saudara sekalian, dan kalian-kalian; (b) mempertahankan bentuk verba yang dipakai dalam kalimat deklaratif itu seperti apa adanya; (c) menambahkan sufiks –lah pada bagian tertentu untuk memperhalus maksud imperatif tersebut. Imperatif aktif tidak transitif dibentuk dari kalimat deklaratif (taktransitif) yang dapat berpredikat dasar, frasa adjektival, dan frasa verbal
yang berprefiks ber- atau meng- ataupun frasa preposisional. Contoh tuturan di bawah
ini dapat dengan jelas dilihat bahwa untuk membentuk imperatif aktif yang tidak transitif, verba tidak transitif yang berupa kata dasar seperti berdansa, berlibur, dan berteriak tidak perlu mengalami perubahan. Demikian pula apabila verba tidak transitif itu merupakan kata turunan yang didahului dengan meN- seperti misalnya pada membisu dan menyeberang, unsur meN- pada verba itu tidak perlu ditinggalkan terlebih dahulu untuk membentuk tuturan imperatif aktif tidak transitif.
Contoh:
(17) Hei…Kamu kemari kalau berani! (18) Hei…Kemari kalau berani! (19) Hei…Kemarilah kalau berani! Konteks Tuturan :
Tuturan-tuturan tersebut disampaikan oleh anak-anak kecil pada saat mereka saling berdebat karena akan saling berkelahi
28 2) Imperatif aktif transitif
Untuk membentuk tuturan imperatif aktif transitif, verbanya harus dibuat tanpa berawalan meN-. Apabila verba kalimat deklaratif yang akan dibentuk menjadi kalimat aktif transitif itu memiliki dua unsur awalan, seperti misalnya memper dan member, hanya unsur meN sajalah yang perlu ditanggalkan. Akhiran yang melekat pada verba tetap dipertahankan dan tidak perlu dihilangkan di dalam pembentukan tuturan imperatif aktif transitif. Perlu dicatat bahwa apabila verba kalimat deklaratif yang akan dibentuk menjadi imperatif akif transitif itu memiliki dua unsur awalan seperti misalnya memper- dan member-, hanya unsur meN sajalah yang perlu ditinggalkan. Perlu dicatat pula bahwa akhiran melekat pada verba tetap dipertahankan dan tidak perlu dihilangkan di dalam pembentukan tuturan imperatif aktif transitif.
Contoh :
(20) Ambillah surat keterangan itu saja sekarang juga! (21) Kamu memperkecil suara radio itu.
(22) Saudara memberhentikan pertengkaran itu.
b. Imperatif pasif
Di dalam komunikasi keseharian, maksud tuturan imperatif lazim dinyatakan dalam tuturan yang berdiatesis pasif. Digunakan bentuk tuturan yang demikian dalam menyatakan maksud imperatif karena pemakaian imperatif pasif itu, kadar suruhan yang didukung didalamnya cenderung menjadi rendah. Selain itu, bentuk imperatif pasif juga dapat mengandung konotasi makna bahwa orang ketigalah yang diminta melakukan sesuatu, bukannya orang kedua. Kadar permintaan dan kadar suruhan yang terdapat di dalam impertif itu tidak terlalu tinggi karena maksud dan tuturan itu tidak
29 secara langsung tertuju kepada orang yang bersangkutan. Pemasifan dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) menggunakan verba prefiks di-dan (2) menggunakan verba tanpa prefiks di-.
Contoh :
(23) Surat itu diketik dan dikirim secepatnya! Konteks Tuturan :
Tuturan ini disampaikan oleh seorang pemimpin kepada sekretaris atau pembantunya. Tuturan tersebut dituturkan dalam situasi yang agak tegang karena sang direktur marah.
Tuturan (23) dapat menjadi semakin halus dan semakin tidak langsung apabila tuturan itu tidak diungkapkan dengan intonasi suruh. Selain itu, untuk mengurangi kadar kelangsungan tuturan seperti yang terdapat pada (23) dapat ditambahkan unsur-usur lingual lain sehingga tuturan menjadi semakin panjang. Semakin panjang sebuah tuturan semakin tidak langsunglah maksud sebuah tuturan itu. Semakin langsung maksud sebuah tuturan menjadi semakin rendahlah kadar kesantunan.
2. Wujud Pragmatik Imperatif
Wujud pragmatik imperatif dalam bahasa Indonesia tidak selalu berupa konstruksi imperatif. Dengan perkataaan lain, wujud imperatif dalam bahasa Indonesia berupa tuturan yang bermacam-macam, dapat berupa konstruksi imperatif dan dapat pula berupa konstruksi nonimperatif. Wujud pragmatik adalah realisasi maksud imperatif dalam bahasa Indonesia apabila dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Makna pragmatik imperatif tuturan itu sangat ditentukan oleh konteksnya. Konteks yang dimaksud dapat bersifat ekstralinguistik dan dapat pula bersifat intralinguistik. Menurut Rahardi (2000: 93) ada tujuh belas macam bentuk pragmatik imperatif dalam bahasa Indonesia.
30 1) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Perintah
Di dalam pemakaian bahasa Indonesia keseharian, terdapat beberapa makna pragmatik perintah yang tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif. Tuturan imperatif dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Imperatif yang demikian dapat disebut dengan imperatif tidak langsung yang hanya dapat diketahui makna pragmatiknya melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakangi dan mewadaihnya. Banyak tuturan disekitar kita yang sebenarnya mengandung makna pragmatik tertentu, namun wujud konstruksinya bukan tuturan imperatif. Hanya konteks situasi tuturlah yang dapat menentukan kapan sebuah tuturan akan ditafsirkan sebagai imperatif perintah dan kapan pula sebuah tuturan akan dapat ditafsirkan dengan makna pragmatik imperatif yang lain.
Contoh:
(24) “Jika Nawaksara akan diseminarkan, silakan!” Konteks tuturan:
Tuturan disampaikan seorang kepala Negara kepada masyarakat umum di dalam acara televise pada saat isu akan diseminarkannya pidato Nawaksara semakin merebak.
Tuturan (24) Jika “Nawaksara” akan diseminarkan, silakan! yang dituturkan seorang kepala Negara itu akan dapat ditafsirkan menjadi bermacam-macam kemungkinan makna oleh warga masyarakat. Secara linguistik karena dibagian akhir tuturan itu terdapat kata silakan tuturan itu kemungkinan besar akan ditafsirkan sebagai sebuah imperatif yang bermakna persilaan. Oleh sementara orang lain, tuturan itu akan dapat ditafsirkan sebagai sebuah perintah. Tuturan tesebut di dalamnya terkandung maksud agar orang tidak perlu lagi mengadakan seminar pidato “Nagaswara” tersebut.
31 2) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Suruhan
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, suruhan berarti mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak bicara. Makna suruhan berarti lebih halus daripada perintah. Makna pragmatik imperatif suruhan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif. Tuturan imperatif dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Secara struktural, imperatif yang bermakna suruhan dapat ditandai oleh pemakaian kesantunan coba.
Contoh:
(25) Coba luruskan kakimu kemudian ditekuk lagi perlahan-lahan!
(25a) Saya menyuruhmu supaya meluruskan kakimu kemudian ditekuk lagi perlahan-lahan.
Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh seorang ahli pijat urat kepada seorang pasien.Pasien itu terkilir kakinya sehingga sangat sulit untuk diluruskan seperti dalam keadaan normal.
Tuturan diatas secara berturut-turut dapat diparafrasa sehingga menjadi tuturan (25a) untuk mengetahui secara pasti apakah benar tuturan tersebut merupakan imperatif dengan makna suruhan. Pada kegiatan bertutur yang sesungguhnya, makna pragmatik imperatif suruhan itu tidak selalu diungkapkan dengan konstruksi imperatif seperti yang disampaikan diatas. Seperti yang terdapat pada wujud-wujud imperatif lain, makna pragmatik suruhan dapat diungkapkan dengan tuturan deklaratif dan tuturan interogatif.
3) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Permintaan
Tuturan Imperatif yang mengandung makna permintaan mempunyai kadar suruhan yang sangat halus. Dalam tuturan ini sikap penutur lebih merendah
32 dibandingkan dengan penutur pada waktu berkomunikasi dengan kalimat imperatif perintah. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif. Makna permintaan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Lazimnya terdapat ungkapan penanda kesantunan tolong atau frasa lain yang bermakna minta.
Contoh:
(26) Totok : “Tolong pamitkan, Mbak!” Narsih : “Iya, Sis. Selamat jalan, ya!” Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh seseorang kepada sahabatnya pada saat ia akan meninggalkan rumahnya pergi ke kota karena ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Pada saat yang sama sebenarnya ia harus menghadiri sebuah acara rapat karang taruna di desanya.
Tuturan yang disampaikan Totok pada (26), yakni Tolong pamitkan Mbak dapat berparafrasa menjadi Saya minta tolong supaya pamitkan, Mbak. Engan demikian dapat dikatakan bahwa tuturan-tuturan tersebut merupakan imperatif permintaan. Dari penelitian didapatkan bahwa makna pragmatik imperatif permintaan itu banyak diungkapkan dengan konstruksi nonimperatif. Sebagai contoh dapat dipertimbangkan tuturan-tuturan berikut.
Contoh:
(27) Manajer personalia : ”Sebaiknya diperhatikan umur saya kalau mau adapenentuan manajer Personalia lagi.”
General Manager : “Sebaiknya memang tidak lebih dari 60 tahun, kok.”
Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh dua orang pemimpin perusahaan pada saat mereka bersama-sama sedang menikmati minum dan makanan kecil selesai rapat membicarakan sesuatu berkenaan dengan kepegawaian di perusahaan itu.
33 4) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Permohonan
Secara struktural, imperatif yang mengandung makna permohonan biasanya, ditandai dengan ungkapan penanda kesantuan mohon. Selain ditandai dengan hadirnya penanda kesantunan itu, sufiks –lah juga lazim digunakan untuk memperluas kadar tuturan imperatif permohonan. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permohonan pada umumnya diwujudkan dengan tuturan imperatif atau imperatif langsung. Tidak semua makna permohonan diwujudkan dengan tuturan imperatif tetapi dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Makna permohonan ini biasanya permintaan kepada orang yang kedudukannya lebih tinggi. Tuturan (28) dapat diparafrasa menjadi tuturan deklaratif pada tuturan (28a). Sebagaimana didapatkan pada bentuk-benuk imperatif lainnya, dalam kegiatan bertutur sesungguhnya makna pragmatik imperatif tidak selalu dituangkan dalam konstruksi imperative.
Contoh:
(28) “Mohon tanggapi secepatnya surat ini!” Konteks tuturan:
Tuturan seorang karyawan kepada karyawan lain dalam sebuah pekerjaan pada saat mereka bekerja.
(28a) “Saya memohon Saudara menanggapi secepatnya surat ini.”
(29) “Tuhan, Engkau tahu segala kebutuhan dan permasalahan kami. Engkau pasti tidak pernah akan menegakan kami. Amin”
Konteks tuturan:
Tuturan seseorang yang sedang berdoa disebuah tempat perjiarahan di Yogyakarta .
5) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Desakan
Lazimnya, imperatif dengan makna desakan menggunakan kata ayo atau mari sebagai pemerkah makna. Selain itu, kadang-kadang digunakan juga kata harap atau
34 harus untuk memberi penekanan maksud desakan tersebut. Intonasi yang digunakan untuk menuturkan imperatif jenis ini, lazimnya cenderung lebih keras dibandingkan dengan intonasi pada tuturan imperatif lainnya. Makna pragmatik imperatif desakan ini tidak saja diwujudkan dalam tuturan imperatif. Makna desakan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif.
Contoh :
(30) Kresna kepada Harjuna : “Ayo, Harjuna segera lepaskan pusakamu sekarang juga! Nanti keduluan kakakmu, Karna.”
Konteks tuturan:
Tuturan diungkapkan oleh Kresna kepada Harjuna pada saatmereka berada di medan laga bertempur melawan Karna dan Salya dalam sebuah cerita pewayangan.
(31) Seorang suami kepada dokter : “Dokter, kapan istriku bisa segera keluar dari Ruang ICU dan pindah ke bangsa!” Konteks tuturan:
Tuturan diatas merupakan cuplikan percakapan yang terjadi di sebuah ruang dokter di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta antara seorang bapak dengan dokter.
6) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Bujukan
Imperatif yang bermakna bujukan di dalam bahasa Indonesia biasanya diungkapkan dengan penanda kesantunan ayo atau mari. Selain itu, imperatif tersebut diungkapkan dengan penanda kesantunan tolong. Makna pragmatik imperatif bujukan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna bujukan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan ini ditandai dengan alasan yang mendukung atau ditandai dengan hadiah. Seringkali didapatkan bahwa imperatif yang mengandung makna pragmatik bujukan, tidak diwujudkan dalam
35 bentuk tuturan imperatif seperti contoh diatas. Maksud atau makna pragmatik imperatif bujukan dapat dwujudkan dengan tuturan yang berbentuk deklaratif ataupun introgatif.
Contoh:
(32) Ibu guru kepada anak didiknya yang masih anak Taman Kanak-kanak : “ Kerjakan dulu, ayo! Nanti yang paling cepat ibu kasih permen.
Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh seorang guru kepada anak didiknya yang masih anak Taman Kanak-kanak dan susah untuk mengerjakan tugas. Tuturan itu dimaksudkan untuk membujuk si anak didik agar mau mengerjakan soal. (33) Seorang penjual kepada calon pembeli: “Mobiliini irit sekali dan masih
kalengan dan tambahan lagi masih tangan pertama.” Konteks tuturan:
Tuturan ini berlangsung dalam peristiwa tawar-menawar di sebuah show-room mobil bekas di Yogyakarta.Perlu dijelaskan bahwa kalengan adalah istilah lazim digunakan untuk menyebut mobil yang berkondisi baik mendekati sempurna.
7) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Himbauan
Imperatif yang mengandung makna imbauan, lazimnya digunakan bersama partikel –lah. Selain itu, imperatif jenis ini sering digunakan bersama dengan ungkapan penanda kesantunan harap dan mohon. Makna pragmatik imperatif imbauan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif. Makna imbauan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif. Imperatif jenis ini mempunyai makna memperingatkan atau menghimbau. Maksud atau makna pragmatik imperatif jenis ini dapat pula diwujudkan dengan bentuk-bentuk tuturan nonimperatif.
Contoh:
(34) “ Jagalah kebersihan sekolah!” Konteks tuturan:
36 (35) “ Harap mematuhi rambu-rambu lalu lintas!”
Konteks tuturan:
Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan polisi dengan pengendara motor di sebuah rambu-rambu lalu lintas.
(36) Seorang pakar politik: “ Kita memerlukan koalisi bersih.” Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh seorang politikus, ditujukan kepada masyarakat umum dan dilansir dalam sebuah media masa cetak nasioal dan daerah.
8) Tuturan yang Mengandung Makna Pragmatik Imperatif Persilaan
Imperatif persilaan dalam bahasa Indonesia, lazimnya digunakan dengan penanda kesantunan silakan. Makna pragmatik imperatif persilaan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna bujukan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Seringkali digunakan pula bentuk pasif dipersilakan untuk menyatakan maksud pragmatik imperatif persilaan itu. Bentuk yang kedua cenderung lebih sering digunakan pada acara-acara formal yang sifatnya protokoler. Makna pragmatik tuturan imperatif persilaan pada komunikasi keseharian dapat ditemukan juga di dalam bentuk tuturan nonimperatif.
Contoh:
(37) Dosen kepada mahasiswa : “ Silahkan kelompok pertama maju!” Konteks tuturan:
Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan yang terjadi di sebuah kampus saat berlangsungnya perkuliahan.
(38) Dosen dengan mahasiswa yang akan bimbingan: “Nanti sore saya sibuk mengajar dan mengetik naskah. Sekarang ini saya kosong.”
Konteks tuturan:
Tuturan seorang dosen kepada mahasiswa bimbingan yang terjadi pada sebuah ruang dosen perguruan tinggi.
37 9) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Ajakan
Imperatif dengan makna ajakan, biasanya ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan mari atau ayo. Kedua macam penanda kesantunan itu masing-masing memiliki makna ajakan. Tidak semua makna pragmatik imperatif ajakan diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna ajakan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Penanda kesantunan mari atau ayo di dalam tuturan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut. Secara pragmatik, maksud imperatif ajakan ternyata tidak selalu diwujudkan dengan tuturan-tuturan yang berbentuk imperatif. Berkenaan dengan makna pragmatik imperatif ajakan termasuk tuturan (41) berikut.
Contoh:
(39) Caleg kepada masyarakat : “Mari datang dan saksikan kampanye politik HANURA!”
Konteks tuturan:
Tuturan ini terjadi di sepanjang jalan, pada saat partisipan caleg mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kampanye politik.
(40) Caleg kepada pembaca: “Ayo coblos nomer 9!” Konteks tuturan:
Tuturan ini terjadi di sebuah papan reklame , pada saat kampanye politik yang mengajak masyarakat yang membaca agar memilih caleg partai nomer Sembilan.
(41) Istri kepada suami : “Pak…! Si Iyan batuknya mengerikan sekali lho.Sore ini bisa to?”
Konteks tuturan:
Tuturan seorang istri kepada suaminya, mengajaknya untuk berangkat ke rumah sakit memeriksakan anaknya yang satu itu sakit batuk parah.
10) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Permintaan Izin Imperatif dengan makna permintaan izin, biasanya ditandai dengan penggunaan ungkapan kesantunan mari dan boleh. Makna pragmatik imperatif
38 permintaan izin tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna permintaan izin dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Makna permintaan izin mengandung makna meminta izin untuk melakukan sesuatu kepada orang lain. Tuturan (42) berikut dapat dicermati untuk memperjelas hal ini. Secara pragmatik, imperatif dengan maksud atau makna pragmatik permintaan izin dapat diwujudkan dalam bentuk tuturan nonimperatif. Berkaitan dengan hal ini contoh tuturan (42) berikut dapat dipertimbangkan.
Contoh:
(42) Pria kepada wanita: “ Mbak, mari saya bawakan bukunya!”
Konteks tuturan:
Tuturan disampaikan oleh seorang pria kepada wanit yang sedang berada di perpustakaan yang meminta izin membawakan buku wanita tersebut.
(42) Sekretaris kepada direktur: “ Pak, boleh saya bersihkan dulu meja kerjanya?”
Konteks tuturan:
Tuturan ini disampaikan oleh seorang sekretaris kepada direkturnya, ia meminta izin untuk membersihkan dulu meja direktur yang saat itu penuh dengan kertas dan berkas-berkas.
11) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Mengizinkan Imperatif yang bermakna mengizinkan, lazimnya ditandai dengan penanda kesantunan silakan. Makna pragmatik imperatif mengizinkan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna mengizinkan ini dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Makna mengizinkan bisa bermaksud memberikan izin atau memberitahukan sesuatu. Tuturan berikut dapat digunakan sebagai ilustrasi. Secara pragmatik, imperatif dengan maksud atau makna pragmatik permintaan izin dapat diwujudkan dalam bentuk tuturan
39 nonimperatif. Tuturan (43) dan (44) berikut semuanya mengandung makna pragmatik mengizinkan sekalipun bukan berbentuk tuturan imperatif.
Contoh:
(43) “ Silahkan buang sampah di tempat ini!” Konteks tuturan:
Tuturan ditemukan di tempat khusus yang disediakan untuk membuang sampah.Di lokasi itu tidak diperkenankan membuang sampah selain ditempat yang sudah ditentukan.
(44) “Jalan masuk khusus untuk para pelamar pekerjaan.” Konteks tuturan:
Bunyi sebuah tuturan memberitahukan kepada para pencari kerja yang terdapat pada sebuah perusahaan.
(45) “Menerima buangan tanah bekas bangunan.” Konteks tuturan:
Bunyi sebuah tuturan pemberitahuan pada sebuah lokasi pembuangan tanah bekas bangunan.
12) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Larangan
Imperatif dengan makna larangan dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan pemakaian kata jangan. Makna pragmatik imperatif larangan tidak saja diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna larangan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Makna larangan ini dimaksudkan untuk melarang melakukan sesuatu. Imperatif yang bermakna larangan dapat diwujudkan secara pragmatik dalam bahasa Indonesia keseharian. Wujud pragmatik itu ternyata dapat berupa tuturan yang bermacam-macam dan tidak selalu berbentuk tuturan imperatif. Berikut contoh tuturan yang menunjukkan maksud atau makna pragmatik imperatif larangan.
40 Pemakaian kata jangan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut.
Contoh;
(46) Imeh kepada Ramlan : “Jangan kau sangka aku akan bersedih hanya soal tempat tinggal!” (Ramlan seperti hendak pergi).
Konteks tuturan:
Tuturan ini terjadi pada saat keduanya sedang bertengkar di tempat tertentu.Pria dan wanita ini memiliki hubungan yang sangat dekat dan khusus. (47) “Biarkan aku bebas dari sentuhan kakimu.”
Konteks tuturan:
Tulisan peringatan yang terdapat pada sebuah taman di pinggir jalan protocol di kota Yogyakarta.
(48) “Khusus dokter dan perawat!” Konteks tuturan:
Tulisan pada pintu sebuah WC rumah sakit di Yogyakarta.
13) Tuturan yang Mengandung makna Pragmatik Imperatif Harapan
Imperatif yang menyatakan makna harapan, biasanya ditunjukkan dengan penanda kesantunan harap dan semoga. Kedua macam penanda kesantunan itu di dalamnya mengandung harapan. Makna harapan tidak selalu diwujudkan dengan tuturan imperatif atau tuturan langsung. Makna harapan dapat pula diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau tuturan tidak langsung. Makna harapan ini adanya keinginan sesuatu yang diharapkan menjadi kenyataan. Secara pragmatik, imperatif