HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Wujud Kesantunan Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Guru dalam Pembelajaran di Kelas
a. Penggunaan Tuturan dengan Modus Deklaratif
Berdasarkan hasil penelitian, wujud kesantunan tindak direktif penutur yang diekspresikan melalui tuturan bermodus deklaratif dalam pembelajaran di kelas meliputi memohon sebelum menyatakan informasi, menyatakan suruhan, menyatakan permintaan, dan menyatakan larangan.
1). Memohon Sebelum Menyatakan Informasi
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak memohon sebelum menyatakan informasi dengan menggunakan tuturan bermodus deklaratif, hal itu dituturkan oleh penutur ketika terlambat menyajikan materi pelajaran karena ada laporan pertanggungjawaban keuangan yang di ketik.
[A1.1] Penutur : Maaf anak-anakku, saya terlambat. (1) Kebetulan ada yangdiketik tadi di kantor jadi ibu tinggal.(2)
Mitra tutur: (Diam, mendengarkan informasi yang disampaikan oleh penutur)(3)
Tuturan (A1.1) dituturkan oleh penutur sebelum menyajikan materi, ketika itu penutur terlambat masuk di kelas. Dalam kutipan (A1.1) melalui tuturan (1) terungkap aspek kesantunan penutur melalui tuturan tidak langsung bermodus deklaratif sebagai wujud ekspresi tindak memohon sebelum menyatakan informasi. Hal itu di tandai oleh penggunaan “Maaf anak-anakku, saya terlambat” yang dapat ditafsirkan bahwa dalam tuturan tersebut penutur selaku partisipan yang memiliki status sosial tinggi, berusaha melembutkan daya ilokusi dengan permohonan maaf kepada mitra tutur yang memiliki status sosial lebih rendah, penutur juga dalam tuturan tersebut menunjukkan solidaritas tinggi.
2). Menyatakan Suruhan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengeksresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak memohon sebagai wujud menyatakan suruhan dengan menggunakan tuturan bermodus deklaratif, hal itu dituturkan oleh penutur ketika menyuruh mitra tutur supaya belajar di rumah sebagai persiapan ujian harian. Berikut kutipan (A1.2) memperlihatkan hal yang dimaksud.
[A1.2] Penutur : Anak-anakku minggu depan ujian akhir maki itu, kalau perlutinggalkan sudah mainnya. (1) minggu depannyapi baruki ujian praktik. (2)
Tuturan (A1.2) dituturkan oleh penutur dalam kegiatan akhir pembelajaran, ketika itu penutur mengingatkan mitra tutur
mrmpersiapkan diri untuk menghadapi ulangan harian. Dalam kutipan (A1.2) melalui tuturan (1) terungkap segala aspek kesantunan penutur melalui tuturan tidak langsung bermodus deklaratif sebagai wujud ekspresi tindak menyatakan suruhan kepada mitra tutur supaya belajar.
Penanda suruhan dalam tuturan tersebut dapat dilihat dari pemakaian maki (kita akan) menandakan adanya penegasan isi pesan yang ingin disampaikan penutur, kemudian diikuti oleh tuturan “kalau perlu tinggalkan sudah mainnya”berfungsi sebagai penjelas isi pesan yang disampaikan penutur sehingga dapat ditafsirkan bahwa penutur menyuruh mitra tutur untuk belajar.
3). Menyatakan Permintaan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak menyatakan permintaan dengan menggunakan tuturan bermodus deklaratif. Hal itu dapat dilihat melalui kutipan (A1.3) berikut.
[A1.3] Penutur : Sebentar lagi kita istirahat.(1) Mitra tutur : Belumpi, bu.(2)
Tuturan (A1.3) dituturkan oleh penutur setelah melihat jam tangannya, ketika itu mitra tutur sementara mengerjakan soal-soal latihan. Dalam kutipan (A1.3) melalui tuturan (1) terungkap aspek kesantunan penutur melalui tuturan tidak langsung bermodus deklaratif sebagai wujud ekspresi tindak menyatakan permintaan didasarkan pada konteks, situasi, dan waktu maka tuturan tersebut mengandung permintaan agar
mitra tutur mengerjakan cepat soal latihan tersebut dan segera mengumpulkannya sebab jam pelajaran akan segera berakhir. Dengan penggunaan kita sebagai penanda identitas dan kesantunan, penutur mengidentifikasikan diri satu kelompok dengan mitra tutur. Hal itu mengidentifikasikan bahwa penutur berupaya melembutkan daya ilokusi tuturannya sehingga terkesan wajar dan santun bagi mitra tutur.
4). Menyatakan Larangan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak meyatakan larangan dengan menggunakan tuturan bermodus deklaratif. Hal itu dapat dilihat melalui kutipan (A1.4) berikut.
[A1.4] Penutur : Benarmi itu nak. (1)
Mitra tutur : (melanjutkan tulisannya) (2)
Tuturan (A1.4) dituturkan oleh penutur dalam kegiatan inti pembelajaran bahasa Indonesia ketika itu mitra tutur ingin menghapus jawabannya di papan tulis. Dalam kutipan (A1.4) mealui tuturan (1) terungkap aspek kesantunan penutur mealui tuturan tidak langsung bermodus deklaratif sebagai wujud ekspresi tindak menyatakan larangan kepada mitra tutur. Berdasarkan konteks, tuturan (1) dikategorikan sebagai wujud tindak larangan kepada mitra tutur agar tidak menghapus contoh kalimat yang telah ditulis mitra tutur di papan tulis, sesuai dengan catatan lapangan mitra tutur setelah mendengar pernyataan penutur tidak jadi menghapus tulisan tersebut. Dalam hal itu
juga penutur tampak melunakkan daya ilokusi dengan sapaan nak sebagai serpihan diksi anak sebagai upaya menjalin keakraban sehingga mitra tutur dapat melaksanakan apa yang diinginkan oleh penutur dengan merasa dikasihi, disayangi, dan bersahabat.
b. Penggunaan Tuturan dengan Modus Imperatif
Berdasarkan hasil penelitian, wujud kesantunan tindak direktif penutur yangdiekspresikan melali tuturan imperatif dalam pembelajaran di kelas meliputi(1) wujud tindak ajakan, (2) wujud tindak permintaan, (3) wujud tindak suruhan, (4) wujud tindak larangan, dan (5) wujud tindak pengizinan.
1). Wujud Tindak Ajakan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak ajakan dengan menggunakan tuturan bermodus imperatif. Hal itu dapat dilihat melaui kutipan (A2.1) berikut
[A2.1] Penutur : Sekarang mari kita melihat penulisannya ya!(1) kita lihat contoh yang Ibu buat di atas!(2) Kalau awal kalimat menggunakan huruf???(3)
Mitra tutur : Huruf besar, bu.(4)
Tuturan (A2.1) dituturkan oleh penutur ketika mengajak mitra tutur mengecek contoh kalimat yang telah ditulis di papan tulis. Dalam konteks tersebut, realisasi ajakan oleh penutur tampak pada penggunaan pemarkah kesantunan mari kalimat imperatif ajakan
biasanya digunakan dengan penanda kesantunan ayo (yo), biar, coba, mari, harap, hendaknya, dan hendaklah (Rahardi, 2005 : 82) sebagai wujud ekspresi penutur untuk menggiring mitra tutur melakukan sesuatu yakni melihat dalam arti luas, yakni mengajak mitra tutur untuk memperbaiki sebuah contoh penulisan yang telah dibuat penutur di papan tulis. Untuk menghindari ancaman yang tidak menyenangkan, penutur berupaya mengidentifikasikan diri satu kelompok dengan mitra tutur melalui penggunaan kita sehingga terjadi pelembutan daya ilokusi yang menjadikan tuturan tersebut terasa santun bagi mitra tutur.
2). Wujud Tindak Permintaan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak permintaan dengan menggunakan tuturan bermodus imperatif. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan [A2.2] berikut
[A2.2] Penutur : Sayami yang bicara dulu d’i (1) sekarang tolong dengarki baik-baik soalnya!(2)
Mitra tutur : Iye, Bu!(3)
Tuturan [A2.2] dituturkan penutur – mitra tutur pada kegiatan inti pembelajaran ketika penutur ingin membacakan soal latihan sementara mitra tutur masih rebut. Berdasarkan pada konteks dan situasi yang melingkupi percakapan tersebut wujud tindak permintaan tampak pada tuturan (1)”sayami yang bicara dulu d’I” maksud tuturan tersebut kurang lebih seperti ini “Biarkanlah saya berbicara terlebih
dulu”. Tuturan tersebut mengindikasikan adanya interferensi varian tutur bahasa Bugis yang menjadi pemarkah kesantunan terhadap pemakaian bahasa Indonesia. Salah satu cara untuk menghubungkan variasi bahasa dengan faktor-faktor dan kultur adalah melalui pemakaian bahasa daerah sebagai pemarkah dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai wujud pencerminan (Kartomiharjo, 1988) dalam Sumarsono, (2003:348). Melalui tuturan tersebut tampak penggunaan diksi informal berupa klitik penegasan sayami (biarkanlah) dan –d’i (yang menyatakan keakraban dan penegas maksud permintaan dalam tuturan) yang menempati posisi enklitik. Sebagai produk sosiokultural masyarakat bugis –mi’ dan –d’i diimplikasikan dalam wujud perilaku berbahasa santun terhadap mitra tuturnya. Artinya, -mi dan –d’i dijadikan oleh penutur sebagai pelembut daya ilokusi tuturan agar terdengar santun oleh mitra tutur.
3). Wujud Tindak Suruhan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak suruhan dengan menggunakan tuturan bermodus imperatif. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [08] berikut.
[A2.3] Penutur : Sayami yang bicara dulu d’i (1) sekarang tolong dengarki baik-baik soalnya!(2)
Mitra tutur : Iye, Bu!(3)
Tuturan [A2.3] dituturkan oleh penutur – mitra tutur pada kegiatan inti pembelajaran ketika penutur ingin membacakan soal latihan sementara mitra tutur ribut. Berdasarkan pada konteks dan situasi yang melingkupi percakapan tersebut,wujud tindak suruhan yang diekspresikan oleh penutur tampak pada tuturan (1) melalui penggunaan dengar sebagai verba yang bergandengan dengan klitik sapaan ki sebagai wujud pernyataan penghormatan, melalui tuturan tersebut juga tampak penggunaan pemarkah tolong yang disampaikan oleh penutur sebelum menyuruh mitra tutur untuk melakukan tindak mendengar. Dengan demikian, perpaduan antara pemarkah penghormatan (ki) dengan pemarkah kesantunan tolong semakin menjadikan daya ilokusi tuturan tersebut terlembutkan dan menimbulkan kadar kesantunan yang tinggi sehingga efek yang ditimbulkan membuat mitra tutur merasa senang melakukan apa yang telah disuruhkan oleh penutur.
4). Wujud Tindak Larangan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak larangan dengan menggunakan tuturan bermodus imperatif. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A2.4] berikut.
[A2.4] Penutur : Sayami yang bicara dulu d’i (1) sekarang tolong dengarki baik-baik soalnya!(2)
Mitra tutur : Iye, Bu!(3)
Tuturan [A2.4] dituturkan oleh penutur – mitra tutur pada kegiatan inti pembelajaran ketika penutur ingin membacakan soal latihan sementara mitra tutur ribut. Berdasarkan pada konteks dan situasi yang melingkupi percakapan tersebut, memperlihatkan bahwa mitra tutur pada waktu itu sedang ribut dengan teman-temannya sedangkan penutur ingin membacakan soal-soal, dengan penggunaan tuturan “sayami bicara dulu d’i” penutur mengatasi masalahnya karena tuturan tersebut dapat ditafsirkan sebagai wujud permintaan yang mengandung larangan kepada mitra tutur supaya tidak ribut lagi.
5). Wujud Tindak Pengizinan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak pengizinan dengan menggunakan tuturan bermodus imperatif. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A2.5]berikut.
[A2.5] Mitra tutur : Bisa bertanya, Bu?(1) Penutur : Boleh, Silahkan! (2) Mitra tutur : Naik semuaki nanti, Bu?
Penutur : Saya sarankan supaya kelompok menentukan sendiri siapa yang akan mempresentasikannya.
Tuturan [A2.5] dituturkan oleh penutur pada kegiatan inti pembelajaran, ketika itu penutur mengharapkan mitra tutur agar mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan teman-temannya.
Wujud pengizinan yang diekspresikan oleh penutur dalam tuturan
bermodus imperatif di atas tampak pada penggunaan “Boleh, silahkan!”
pada tuturan (2) hal itu mengidikasikan bahwa penutur sebelum menyatakan pengizinan melalui penanda silahkan berusaha melembutkan tuturannya dengan penggunaan boleh yang dapat ditafsirkan sebagai respon mengiyakan atas permintaan mitra tutur dan dapat diartikan sebagai wujud perilaku penutur yang tidak ingin mengecewakan mitra tutur.
c. Penggunaan Tuturan dengan Modus Interogatif
Wujud interogatif diekspresikan oleh penutur kepada mitra tutur dalam pembelajaran di kelas digunakan apabila penutur bermaksud mengetahui jawaban terhadap sesuatu hal atau suatu keadaan, melalui pertanyaan penutur menghendaki adanya respon dari mitra tutur berupa jawaban ya/tidak, menghendaki informasi, atau menghendaki jawaban berupa perbuatan. Tindak direktif yang mengemban fungsi pertanyaan antara lain ditandai pemarkah pertanyaan berupa kata tanya (apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana).
Berdasarkan hasil penelitian, wujud kesantunan tindak direktif penutur yang diekspresikan melalui tuturan bermodus interogatif dalam pembelajaran di kelas meliputi (1) wujud pertanyaan menyatakan suruhan, (2) wujud pertanyaan menyatakan ajakan, (3) wujud pertanyaan menyatakan permintaan, (4) wujud pertanyaan menyatakan larangan, dan (5) wujud tindak pengizinan
1). Wujud Pertanyaan Menyatakan Suruhan
Sesuai dengan catatan lapangan, melalui mata pelajaran IPA dalam konteks pembelajaran di kelas diperoleh data tuturan penutur berwujud interogatif yang menyatakan suruhan dan mengandung wujud kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A3.1] berikut.
[A3.1] Penutur : Mau belajar tidak?(1) Mitra tutur : Mau, Bu!(2)
Tuturan [A3.1] dituturkan oleh penutur diawal pembelajaran, ketika proses absensi berlangsung sementara mitra tutur sedang ribut. Pada kutipan [A3.1] melalui tuturan (1) terungkap aspek kesantunan melalui tuturan bermodus interogatif menyatakan suruhan. Sebuah tindak tutur disebut langsung apabila terdapat hubungan langsung antara struktur tuturan dan fungsi komunikasinya. Sebaliknya, apabila tindak tutur bertolak belakang apa yang diperformansikan dengan apa yang dimaksudkan maka tindak tutur tersebut dikatakan sebagai tindak tutur tak langsung. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur tidak langsung apabila didasarkan pada konteks yang melatari tuturan tersebut.
Penutur melalui tuturan yang disampaikan bermaksud menyuruh mitra tutur agar melakukan sesuatu berupa tindak diam. Artinya, tuturan tersebut memperlihatkan bahwa apa yang disampaikan dengan apa yang dimaksudkan tidak sesuai, sehingga menuntut mitra tutur untuk mengenali maksud yang disampaikan lewat inferensi dengan mempertimbangkan konteks yang melingkupinya. Sesuai catatan
lapangan tampak mitra tutur melakukan dua tindak sebagai wujud respon yakni, mitra tutur menjawab tuturan penutur sesuai dengan modusnya dan mitra tutur melakukan tindak diam sebagai realisasi inferensi terhadap tuturan penutur. Dengan demikian, penutur dalam pertuturan tersebut berusaha melakukan tindak meminimalisasi ancaman muka negatif mitra tutur.
2). Wujud Pertanyaan Menyatakan Ajakan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak pertanyaan menyatakan ajakan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A3.2] berikut.
[A3.2] Penutur : Bagaimana kalau kita lanjut lagi d’i?(1) Mitra tutur : Tunggu sebentar, Bu!(2)
Tuturan [A3.2] dituturkan oleh penutur dalam kegiatan inti pembelajaran PKN ketika mengajak mitra tutur menyimak soal berikutnya. Penanda kesantunan ajakan seperti ayo, mari, harap, hendaknya, dan hendaklah yang dinyatakan Rahardi (2005:82) pada kutipan [A3.2] tidak tampak sehingga inferensi yang dapat digunakan untuk menafsirkan ajakan penutur yang diimplisitkan dalam tuturan bermodus interogatif adalah mengaitkan dengan penggalan tuturan “kita lanjut lagi d’i?” yang dapat diartikan bahwa penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu yakni me;lanjutkan pembahasan soal-soal ke nomor berikutnya. Aspek kesantunan penutur yang dapat diungkap
adalah ketidaklangsungan tuturan, penanda kesantunan identitas satu kelompok, pemakaian penegas d’i diakhir tuturan. Namun yang perlu diuraikan melalui tuturan ini adalah pemakaian d’i karena pemarkah kesantunan yang lainnya telah dijelaskan sebelumnya.
3). Wujud Pertanyaan Menyatakan Permintaan
Dalam konteks pebelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak pertanyaan menyatakan permintaan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A3.3.1], [A3.3.2], dan [A3.3.3] berikut.
[A3.3.1] Penutur : Bisakah kalian diam sejenak?(1) Mitra tutur : (diam dan memperhatikan penutur)(2) [A3.3.2] Penutur : Apakah sudah benar kita lihat?
Mitra tutur : Maaf, Bu!
[A3.3.3] Penutur : Bagaimana kalau sisanya kita kerja di rumah?
Mitra tutur : Baik Bu, Iye, Bu!
Tuturan [A3.3.1] dituturkan oleh penutur diawal pembelajaran ketika itu penutur sedang mengabsen anak didiknya. [A3.3.2] dituturkan oleh penutur dalam kegiatan inti pembelajaran, ketika itu penutur meminta mitra tutur untuk memperbaiki jawaban yang ditulis di papan tulis, dan tuturan [A3.3.3] dituturkan oleh penutur diakhir pembelajaran ketika itu penutur dan mitra tuturbelum sempat membahas secara keseluruhan soal IPA pada pertemuan itu karena waktu jam pelajaran sudah tidak memadai. Tuturan permintaan yang disampaikan melalui
wujud pertanyaan di atas, masing-masing terdapat pada kutipan [A3.3.1], [A3.3.2], dan [A3.3.3]. Melalui tuturan (1) dalam kutipan [A3.3.1] tampak penggunaan penanya tanda bisakah dan intonasi yang agak naik diakhir tuturan ketika disampaikan oleh penutur. Berdasarkan konteks dan tujuan tuturan, penutur melalui wujud tersebut mengekspresikan maksud permintaan agar mitra tutur melakukan sesuatu, yakni tindak diam dan mendengarkan namanya ketika disebutkan oleh penutur. Tujuan tuturan penutur melalui wujud tersebut adalah berusaha mengendalikan suasana kelas agar bias tertib.
Pada kutipan [A3.3.2] melalui tuturan (1) penutur tampak mengekspresikan wujud pertanyaan menyatakan permintaan dengan memakai penanda tanya ‘apakah’ dengan diiringi intonasi yang agak naik diakhir tuturan ketika disampaikan kepada mitra tutur. Didasarkan pada konteks dan catatan lapangan, tuturan penutur menyatakan permintaan agar mitra tutur sebelum kembali ke tempat duduk supaya mencermati dan memperbaiki contoh kalimat komparatif yang telah ditulisnya di papan tulis karena menunjukkan adanya kesalahan yang tidak dinyatakan secara langsung oleh penutur. Melalui pertanyaan
“Apakah sudah benar kita lihat?” pertanyaan tersebut mengindikasikan bahwa penutur berupaya meminimalisasikan ancaman muka positif mitra tutur dengan tidak langsung menyatakan “perbaiki pekerjaanmu karena salah”dan penutur juga berusaha melembutkan daya ilokusi tuturan tersebut dengan mengidentifikasikan diri satu kelompok dengan
mitra tutur melalui pemakaian kita. Artinya, penutur berusaha menunjukkan kesetiakawanan, berbagi rasa dan menghargai mitra tutur. Kita sebagai persina pertama bersifat inklusif (termasuk orang kedua: pembaca atau pendengar) lazim digunakan untuk menyembunyikan diri, dengan menggunakan kita penutur memiliki teman, berbagi rasa dengan dan menghargai mitra tutur.
Pada kutipan [A3.3.3] melalui tuturan (1) penutur tampak mengekspreikan wujud pertanyaan menyatakan permintaan dengan memakai penanda tanya ‘bagaimana’ diiringi intonasi yang agak naik diakhir tuturan ketika disampaikan kepada mitra tutur. Tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur apabila didasarkan pada konteks yang melatarinya, dapat ditafsirkan bahwa penutur menghendaki mitra tutur agar soal yang belum sempat dibahas pada pertemuan itu supaya dikerjakan di rumah. Melalui tuturan (2) mitra tutur memahami maksud permintaan penutur dengan langsung merespons melalui pernyataan yang variatif. Melalui respons mitra tutur menyatakan penghormatan dan menunjukkan rasa senang dengan segera mengemasi soal-soal yang telah dibagikan oleh penutur sebelumnya. Dengan demikian, aspek penentu kesantunan dalam tuturan penutur adalah ketidaklangsungan tuturan dan pemarkah identitas kelompok bersifat inklusif yang digunakan penutur dalam melembutkan daya ilokusi sehingga tuturan terasa wajar dan santun bagi mitra tutur.
4). Wujud Pertanyaan Menyatakan Larangan
Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesantunan tindak direktif melalui tindak pertanyaan menyatakan larangan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A3.4] berikut.
[A3.4] Penutur : Siapa yang berbuat seperti itu?(1) Mitra tutur : Main-mainki, Bu!(2)
Penutur : Bagaimana kalau kita dikasi seperti itu?(3) Mitra tutur : Tidak enak, Bu!(4)
Tuturan [A3.4] dituturkan oleh penutur setelah menerima pengaduan salah satu mitra tutur yang merasa diganggu oleh teman-temannya pada saat menulis. Penanda larangan pada tuturan di atas tidak dinyatakan secara ekspilit oleh penulis, tetapi melihat pada konteks dan hasil wawancara peneliti kepada penutur, maka tuturan (1) berwujud pertanyaan dengan penanda siapa dan tuturan (3) berwujud pertanyaan dengan penanda bagaimana dari kedua wujud pertanyaan tersebut, inferensi yang dapat dikemukakan sebagai upaya menginterpretasikan tuturan penutur antara lain. Pertama, melalui tuturan tersebut penutur mengimplimplisitkan maksud larangan yang menjadi tujuan tuturan tersebut. Kedua, penutur dengan menggunakan pertanyaan untuk menyatakan maksud larangan mengindikasikan bahwa ketidaklangsungan tuturan penutur menjadi pelembut daya
ilokusi sehingga mitra tutur merasa bersalah dan langsung merespon dengan berbasa-basi dalam tuturan (2) dengan tetap menunjukkan rasa hormat melalui pemakaian sapaan Bu sebagai persona pertama.
Dengan demikian, tuturan penutur tersebut disimpulkan sebagai ekspresi larangan yang menghendaki mitra tutur untuk tidak mengulangi perbuatannya.
5). Wujud Pertanyaan Menyatakan Pengizinan
Wujud pengizinan dapat dituturkan melalui aneka modus tuturan (Rahardi, 2005:146-147). Dalam konteks pembelajaran di kelas penutur mengekspresikan wujud kesanatunan tindak direktif melalui tindak pertanyaan menyatakan pengizinan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan [A3.5] berikut.
[A3.5] Penutur : Apakah tidak sebaiknya kita dikelompok Edi Tahir saja?(1)
Mitra tutur : Baik, Bu.(2)
Tuturan [A3.5] dituturkan oleh penutur dalam kegiatan inti pembelajaran Bahasa Indonesia, ketika itu penutur mempersilahkan salah satu mitra tutur untuk bergabung ke salah satu kelompok yang telah dibentuk secara bersama-sama. Penanda kesantunan pengizinan yang dinyatakan Rahardi (2005:81) seperti silakan, dipersilakan, dan diperkenankan tidak tampak dalam tuturan tersebut. Artinya, penutur tidak menyatakan secara eksplisit pengizinan yang ditujukan kepada mitra tutur sehingga mitra tutur perlu mengaitkan konteks dengan
tuturan yang disampaikan penutur sebagai acuan supaya dapat menarik inferensi atas maksud pengizinan yang ditujukan kepada diri mitra tutur.
Sesuai dengan kenyataan di lapangan yang teramati siswa tersebut bergabung dengan kelompok yang dimaksudkan oleh penutur dalam tuturan. Hal itu mengindikasikan bahwa salah satu cara untuk menginterpretasikan maksud pengizinan pada kutipan [A3.5] adalah mengaitkan konteks dengan penggunaan verba dikelompok yang dapat diartikan bahwa penutur menunjukkan agar mitra tutur berada di dalam kelompok yang dimaksud sebagai acuan untuk menarik inferensi. Aspek kesantunan yang diekspresikan penutur antara lain. Pertama, ketidaklangsungan tuturan, kedua, penggunaan pemarkah kesantunan identitas satu kelompok.
2. Fungsi Kesantunan Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Guru