• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wujud Perjuangan Tokoh Kinanthi dalam Menyetarakan Gender

Kinanthi sebagai tokoh utama, juga sebagai tokoh perempuan yang melakukan perjuangan melawan adanya ketidakadilan gender melakukan perlawanan untuk menyetarakan gender.

Perjuangan Kinanthi dalam menyetarakan gender dapat diwujudkan dalam bidang politik, ekonomi, maupuan gerakan sossial budaya pada umumnya. Selain itu juga diwujudkan dengan meningkatkan kualitas Kinanthi sebagai seorang perempuan, yaitu dengan cara meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan pengetahuan sehingga Kinanthi mampu bersaing dalam dunia yang penuh persaingan bebas.

Perjuangan Kinanthi terjadi akibat perlakuan tidak adil yang diterimanya.

Kinanthi mendapatkan banyak perlakuan tidak adil dari beberapa orang disekelilingnya. Perlakuan tidak adil yang pertama didapat Kinanthi dari Saepul, ayah Ajuj.

Pada novel Galaksi Kinanthi, Saepul adalah ayah dari Ajuj. Saepul adalah tokoh masyarakat di dusun Gunung Kidul tempat Kinanthi kecil tinggal.

Hubungan yang terjalin antara Saepul dan Kinanthi adalah ayah dari teman dekat yang juga cinta sejati Kinanthi, yaitu Ajuj.

Saepul adalah tipe orang yang sangat menjunjung tinggi kehormatannya dimata orang lain. Saepul melarang anaknya, Ajuj untuk berteman dengan

commit to user

Kinanthi hanya karena Kinanthi adalah anak orang miskin dan berasal dari keturunan yang tidak baik, sedangkan Saepul adalah pemuka agama dikampungnya yang sangat dihormati dan selalu menjadi pemimpin dalam segala upacara keagamaan yang diadakan di kampungnya.

Wajah Ajuj menunduk lagi, bicaranya agak lirih, tapi bulat. Tidak merengek, “Kinanthi ndak punya teman, Pak. Kasihan.”

“Nah, itu kowe sudah tahu. Kalau anak-anak lain ndak mau main sama Kinanthi, kk, kowe mau? Seperti ndak ada ada teman lain saja.

Kinanthiitu anak penjudi, ibunya baulaweyan, mbak dan masnya nakal”

(Tasaro GK, 2009:27-28).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Saepul adalah salah satu tokoh pelaku ketidakadilan gender kepada Kinanthi. Saepul adalah tokoh yang berlaku sewenang-wenang terhadap perempuan dan juga mereendahkan derajat perempuan, dalam hal ini adalah Kinanthi. Saepul merupakan contoh seorang pemuka agama yang sangat dihormati di kampungnya namun tingkah lakunya, justru tidak mencerminkan sosok seorang pemuka agama.

“Nah, itu kowe sudah tahu. Kalau anak-anak lain ndak mau main sama Kinanthi, kok, kowe mau? Seperti ndak ada teman yang lain saja.

Kinanthi itu anak penjudi, ibunya baulawean, mbak dan masnya nakal.”

(Tasaro GK, 2009:28)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Saepul adalah memberi label baulawean kepada ibu Kinanthi. Baulawean adalah pandangan negatif yang hanya diberikan kepada perempuan karena menganggap setiap perempuan yang menikah dan suaminya selalu meninggal adalah sosok seorang wanita yang negatif seperti pandangan Saepul terhadap Kinanthi dan ibunya.

Wujud perjuangan Kinanthi yang pertama adalah saat Kinanthi di tukar oleh bapaknya dengan harga 50 kilogram beras kepada kerabat nya dari bandung.

Meskipun bapaknya tidak mau menyebut bahwa Kinanthi dijual namun pada kenyataannya Kinanthi ditukarkan dengan 50 kilogram beras. Kinanthi saat itu

commit to user

menolak saat akan dibawa kerabatnya yang bernama Edi ke Bandung. Kutipan dibawah ini merupakan wujud perjuangan Kinanthi menolak perdagangan manusia (Human trafficking) yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri.

Tangis Kinanti semakin tidak tertahankan. Dia meronta sambil terus berteriak-teriak histeris. “Bapak jahat! Bapak ndaksayang aku! Bapak jahaaaaaaaat!!Ndak mau! Ndakmau! Ajuuuuuuuuuj!Tolong! Tolong!”

mangun tidak mampu berpikir lagi. Dia menegakkan dirinya. Dia peluk Kinanthi dan diangkat paksa. Meskipun Kinanthi mulai memukul dan menendang sebisa-bisanya, mangun tetap mengangkat gadis cilik itu, lalu mengunci dalam dekapannya. Bukan hal mudahkarena tinggi tubuh Kinanthi mencapai setengah badan bapaknya. Rontanya begitu menyulitkan (Tasaro GK, 2009:84).

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana Kinanthi sekuat tenaga melawan orang tuanya, agar tidak dijual kepada kerabatnya dan agar tidak dibawa ke Bandung. Wujud dari perlawanan Kinanthi dengan cara sekuat tenaga meronta dan berteriak dengan harapan bapaknya tidak jadi membawa Kinanthi kepada kerabatnya untuk tinggal di Bandung. Namun, Mangun memaksa Kinanthi dengan cara menggendongnya kuat-kuat.

Kinanthi berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkan rencana orang tuanya itu, namun usaha Kinanthi gagal. Mobil yang membawanya pergi terus melaju meskipun Kinanthi tetap tidak menyerah untuk meminta bantuan Ajuj agar melepaskan dari situasi tersebut

“Kinanthi rupanya berdiri di jok mobil bagian belakang. Wajahnya menempel di kaca mobil, tinju kecilnya memukul-mukul. Tangis kerasnya menyelingi teriakan serak ketika dia memanggil nama Ajuj.”

“Kinanthi!”

Ajuj berlari dengan kecepatan melebihi kemampuannya sendiri.

Sementara mobil kuning di depannya terus bergerak

“Ajuj!”

“Kinanthi!” (Tasaro GK, 2009:88).

Usaha dan perjuangan Kinanthi akhirya sia-sia. Dia berhasil dibawa oleh kerabatnya yang bernama Edi untuk tinggal bersamanya. Kutipan diatas

commit to user

merupakan wujud perjuangan Kinanthi melawan marginalisasi yang dihadapinya.

Kinanthi ditukar oleh orang tuanya dengan 50 kilogram beras kepada kerabatnya.

Bentuk perlawanan tersebut ditunjukkan Kinanthi dengan berusaha keluar dari mobil yang membawanya pergi. Ditinju-tinju kaca mobil yang membawanya menuju Bandung. Meskipun usaha Kinanthi tidak berhasil menghentikan mobilnya.

Kehidupan Kinanthi di Bandung pada mulanya baik-baik saja. Kinanthi disekolahkan, dirawat, dan diberi makan yang layak. Dia juga berteman dengan beberapa orang temannya. Salah satu temannya bernama Gesit. Gesit sangat menyukai Kinanthi. Gesit menjebak Kinanthi dan mencoba melakukan pemerkosaan. Namun Kinanthi berhasil melawan.

“Mau diperkosa? Lalu kenapa Dik Kinanthi mau diajak ke Lembang?”

“waktu itu…kami pulang dari Tangkuban Perahu. Gesit memaksa saya mampir ke vila yang katanya milik saudaranya. Di Villa itu, dia mau memerkosa saya”

“Saya melawan. Saya pukul di pakai botol minuman.”

Jadi itu penyebab dahi Gesit diplester waktu itu” sela Neni.

Kinanthi mengangguk (Tasaro GK, 2009:121).

Wujud perlawanan yang dilakukan Kinanthi ketika akan diperkosa Gesit dengan memukul Gesit menggunakan botol minuman dan Kinanthi berhasil melarikan diri. Adapun dalam hal ini Kinanthi berjuang melawan adanya kekerasan seksual yang hendak dilakukan oleh gesit kekerasan seksual dengan percobaan pemerkosaan. Kinanthi melawan sehingga perjuangannya berhasil.

Kejadian percobaan pemerkosaan ini membuat Edi, kerabat bapaknya marah hingga terkuak apa yang sebenarnya telah direncanakan Edi kepada Kinanthi sedari dulu.

commit to user

Jawaban “mengapa harus tahun depan” akhirnya Kinanthi dapatkan kemudian. Setelah dua belas bulan dalam impitan, usia Kinanthi telah mendekati lima belas tahun, Dengan tinggi tubuhnya yang diatas rata-rata, tidak sulit untuk memanipulasi usianya menjadi tujuh belas tahun.

Terjawab juga mengapa dulu Eli mendaftarkannya ke kursus bahasa Arab. Kursus yang tidak pernah diikuti Kinanthi dengan sungguh-sungguh (Tasaro GK, 2009:122-123)

Setelah kejadian tersebut pada akhirnya diketahui maksud dan rencana Edi merawat Kinanthi adalah untuk di jadikan TKW di Arab. Padahal, awal mula Kinanthi dibawa paksa oleh Edi, Mangun, bapak Kinanthi berujar bahwa Edi akan merawat Kinanthi dengan baik seperti merwat anaknya sendiri.

“Iya, tetapi Kinanthi tidak bisa dibeli, Mbokne.”

“Bapak ini bagaimana. Kinanthi tidak dibeli. Kinanthi mau disekolahkan tinggi. Kalau Mas Edi memberi kita beras itu hanya ucapan terima kasih.

Lha wong, dia ndak punya anak. Dikasih Kinanthi, yo, senang. Anak nurut, pinter, seperti Kinanthi itu, kan, menguntungkan Mas Edi”

“Mbokne ini membicarakan anak seperti barang saja.”

“Ya ndak begitu, Pak. Kita melakukan ini, kan, untuk kebaikan Kinanthi.

Justru karena kita memikirkan masa depan dia. Kalau Kinanthi tetap bersama kita, makan aja susaj, apalagi sekolah. Sayang, to, Pak. Kinanthi anak pinter. Kalau ndak sekolah, sayang otaknya yang pinter itu.”

(Tasaro GK, 2009:80).

Edi merupakan tokoh kedua setelah Saepul yang termasuk dalam tokoh yang kontra dengan perjuangan yang dilakukan Kinanthi dalam kesetaraan gender. Edi adalah kerabat Kinanthi yang tinggal di Bandung. Orang tua Kinanthi menukar Kinanthi kepada Edi dengan 50 kilogram beras. Pada mulanya Edi adalah orang yang baik kepada Kinanthi, namun ternyata dia adalah seorang penyalur TKW illegal.

Hari itu, setahun setelah kematian Gesit yang dramatis. Kinanthi akhirnya diperbolehkan keluar rumah. Menjinjing tas berisi sedikit pakaian, dia berjalan gontai menuju mobil VW kuning milik Edi yang akan mengantarkannya ke penampungan TKW di Jakarta, sebelum diterbangkan ke Arab Saudi.

“jangan-jangan majikanmu itu penyalur pembantu rumah tangga?”

commit to user

Kata-kata Euis dua tahun sebelumnya masih basah ditlinga Kinanthi.

Sesuatu yang hari ini terbukti, Benar, Is. Kamu benar (Tasaro GK, 2009:123).

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Edi merupakan salah satu tokoh yang berlawanan dengan perjuangan yang dilakukan Kinanthi dalam menyetarakan gender karena Edi adalah pelaku kekerasan kepada Kinanthi.

Edi melakukan kekerasan kepada Kinanthi karena kesalahan yang dituduhkan kepada Kinanthi. Niat buruk Edi untuk menjadikan Kinanthi menjadi TKW ternyata sudah direncanakan dari awal. Pada akhirnya Edi mengirim Kinanthi menjadi TKW di Arab Saudi dan menjadi awal dari perjalanan penyiksaan yang dialami Kinanthi saat menjadi TKW.

“Ternyata, selama ini kita memelihara sundal, Pa. Perempuan tidak bener.” Eli melampiaskan amarahnya sesampainya di rumah, sepulang dari sekolah Kinanthi dan kantor polisi.”Sudah disekolahkan gratis.

Diberi makan enak. Kamu benar-benar tidak tahu diri, Thi!”

Tamparan keras Eli memanaskan pipi Kinanthi. Gadis itu menahannya dalam isak tertahan. Dia tidak berkata apa-apa. Percuma.

“Sepertinya bakat mbokmu menurun, Thi.” Komentar Edi tidak kalah sengit (Tasaro GK, 2009:121-122).

Berdasarkan kutipan di atas Edi termasuk di dalam tokoh kontrafeminis karena Edi melakukan kekerasan pada perempuan. Tindakan kekerasan kepada perempuan yang dilakukan Edi merupakan bentuk ketidakadilan gender bagi perempuan di segi kekerasan fisik non seksual.

Selain Edi, tokoh pelaku ketidakadilan gender adalah Gesit. Gesit adalah teman sekolah Kinanthi saat mereka tinggal di Bandung. Pada mulanya Gesit adalah teman yang baik. Hingga pada suatu hari Gesit mencoba memperkosa Kinanthi.

Suara gaduh terdengar dari vila yang dimasuki Gesit dan Kinanthi sepuluh menit yang lalu. Teriakan Gesit yang melolong kesakitan

commit to user

terdengar jelas. Suara benda pecah. Kinanthi muncul di pintu dengan wajah marah besar. (Tasaro, 2009:112)

“Dia …. .. dia mau memperkosa saya, Pak.” Kalimat Kinanthi dihujani dengan isak. Terbata-bata (Tasaro GK, 2009:121).

Pada kutipan di atas ketidakadilan gender yang dilakukan oleh Gesit adalah ketika ia menjebak Kinanthi untuk dibawa ke tempat yang sepi dan merencanakan untuk memperkosa Kinanthi. Gesit menjebak Kinanthi dengan cara mengajak Kinanthi jalan-jalan. Di tengah perjalanan tersebut Gesit meminta Kinanthi untuk beristirahat sebentar di sebuah vila.

Tindakan percobaan pemerkosaan ini merupakan wujud dari ketidakadilan gender dalam hal kekerasan fisik seksual. Ketika Gesit melakukan percobaan pemerkosaan kepada Kinanthi, Kinanthi berhasil melarikan diri. Beberapa hari setelah kejadian tersebut Gesit bunuh diri karena tertekan oleh rasa bersalahnya kepada Kinanthi dan rasa malu karena hampir memperkosa temannya sendiri.

“Thi kamu sudah dengar kabar?” Nurma, teman sebangku Kinanthi tergopoh-gopoh dating dari luar kelas. Dia sibuk mengatur napas sebelum duduk di samping Kinanthi.

Kinanthi menoleh, memasang ekspresi “aku sedang tak ingin dengar kabar apapun.”

“sudah dengar belum?”

“Kabar apa?” terpaksa akhirnya keluar suara juga.

“Gesit bunuh diri tadi pagi.”

Kinanthi terhenyak. Bibirnya gemetaran (Tasaro GK, 2009:120).

Kutipan di atas menggambarkan bahwa perilaku adalah kekerasan fisik yang mengakibatkan psikis seseorang terganggu. Terlihat bukan hanya korban yang dihantui dengan baying-bayang pemerkosaan, sang pelaku pun juga terkena dampak psikologis karena percobaan pemerkosaan yang telah ia lakukan kepada Kinanthi.

commit to user

Kenyataannya ternyata dari awal sebenarnya Edi sudah berencana untuk menjadikan Kinanthi sebagai TKW di Arab. Akhirnya Kinanthi dikirim Edi ke Arab untuk menjadi TKW. Di Arab, Kinanthi memperoleh perlakuan kasar atau memperoleh kekerasan fisik maupun psikis dari majikannya. Kinanthi diperkosa oleh salah satu anak majikannya yang bernama Mustafa. Akan tetapi Kinanthi mampu melawan, seperti pada kutipan berikut:

“ Kenapa Takut?”

Mustafa memerhatikan Kinanthi yang menghampiri ranjang untuk merapikan sprei dan bantal-bantal. Kinanthi tak menjawab pertanyaan tuannya. Dia ingin buru-buru menyelesikan pekerjaannya. Gerakan berhenti kertika mendengar suara daun pintu berderit menutup.

Kinanthi membalikkan badannya dengan gerakan mengejutkan.

“Saya akan teriak. Ibu Tuan sedang ada di kamarnya,” ancamnya (Tasaro GK, 2009:141).

Kutipan di atas menunjukkan Kinanthi dapat menjaga harga dirinya dan mampu melawan percobaan pemerkosaan yang akan dilakukan oleh Mustafa, sehingga tidak terjadi pemerkosaan terhadap dirinya.

Bentuk perlawanan yang dilakukan Kinanthi dengan mengancam Mustafa.

Kinanthi mengatakan bahwa ia akan berteriak sampai majikannya mendengar jika Mustafa tetap melanjutklan percobaan pemerkosaan tersebut

Perjuangan Kinanthi dalam menyetarakan gender, diwujudkan dalam berbagai hal. Perlawanan yang dilakukan Kinanthi dalam melawan kekerasan yang menimpanya dilakukan Kinanthi dalam bentuk ancaman berupa teriakan yang merupakan wujud dari perjuangan tersebut. Kinanthi melakukan ancaman tersebut karena ia mengetahui bahwa hal yang ditakuti Mustafa adalah ibunya sendiri atau majikan Kinanthi.

Setelah kejadian Mustafa, Kinanthi sekali lagi mengalami percobaan pemerkosaan. Selain dari Mustafa anak majikan, Kinanthi juga mengalami

commit to user

percobaan pemerkosaan dari majikannya yang bernama Habdul Aziz. Kinanthi dapat melawan kekerasan seksual tersebut.

Kinanthi bersikap waspada. Dia berjalan mundur menuju jendela. Ini lantai dua. Kinanthi melirik kebawah dan memastikan, melompat dari ketinggian itu bisa meremukkan kedua kakinya.

“Mau kemana, Kinanthi?”

“Saya akan teriak!”

“Percuma” Habdul Aziz terus mendekat.

“Mundur, Tuan!” Tangan Kinanthi bergerak cepat, merogoh saku gamisnya. Di situ selalu dia simpan pisau kecil untuk berjaga-jaga. Dia menempelkan ujung pisau itu ke lehernya. “Lebih baik mati. Mundur, Tuan! Atau saya bunuh diri di kamar ini!”(Tasaro GK, 2009:143)

Kinanthi terselamatkan dengan usaha yang dilakukannya. Dengan keberanian yang dimiliki Kinanthi dia mampu bangkit dan melarikan diri dari Habdul Aziz. Bentuk perlawanan yang dilakaukan Kinanthi dengan mengeluarkan pisau kecil dari saku gamisnya. Kinanthi bukan hendak membunuh Habdul Aziz namun mengancam akan bunuh diri, dengan maksud lebih baik Kinanthi mati daripada harus mengalami pemerkosaan. Habdul Aziz menghentikan tindakan asusilanya dengan alasan, jika Kinanthi mati di hadapanya Habdul Azizlah yang akan dituduh membunuh Kinanthi. Oleh karena pemikiran Kinanthi dalam berjuang melawan tindak pemerkosaan tersebut, ia berhasil lolos dari Habdul Aziz.

Habdul Aziz adalah majikan pertama Kinanthi setibanya di Arab Saudi.

Berdasarkan pemahaman kebanyakan orang Arab, pembantu rumah tangga yang ia pekerjakan adalah budak. Kondisi perbudakan sangat terasa saat Kinanthi bekerja di rumah Habdul Aziz.

Habdul Aziz adalah laki-laki yang kejam yang melakukan percobaan pemerkosaan terhadap Kinanthi. Selain perlakuan kejam Habdul Aziz tidak

commit to user

memberi gaji kepada Kinanthi, akhirnya Kinanthi melarikan diri dari rumah Habdul Aziz.

“Nama majikanmu siapa, Nak?”

“Habdul Aziz.”

“Alamat?”

Kinanthi menyebut sebuah alamat yang susah payah ia ingat.

“Kenapa kamu kabur dari rumah majikanmu?”

“Tidak digaji,” kalimat Kinanthi tersendat, “berkali-kali mau diperkosa”

(Tasaro GK, 2009:147).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Habdul Aziz termasuk dalam tokoh kontrafeminis karena ia mencoba memperkosa Kinanthi. Percobaan pemerkosaan termasuk dalam bentuk kekerasan fisik seksual. Selain tidakan percobaan pemerkosaan Habdul Aziz tidak memberikan gaji kepada Kinanthi yang telah bekerja sebagai pembantunya. Adapun hal tersebut juga termasuk dalam bentuk kekerasan.

Setelah kejadian yang hampir merenggut kesuciannya tersebut, Kinanthi berniat melarikan diri rumah Habdul Aziz. Keluarga Habdul Aziz memiliki supir yang juga berasal dari Indonesia bernama Yusman. Kinanthi berencana meminta bantuan kepada Yusman untuk membantu melarikan diri dari rumah Habdul Aziz.

“Kita berangkat sekarang,” kata Yusman mantap. Kinanthi masih tidak bersuara. Dia ikut saja kemana langkah Yusman. Termasuk ketika perhatian para pekerja yang sibuk di ruang penjahitan. Yusman lebih dulu keluar gerbang, memastikan taksi yang ia panggil lewat telepon sudah menunggu di ujung jalan. Berikutnya, dia memanggil Kinanthi.

Mereka berdua lantas bergegas masuk ke taksi, secepat-cepatnya pergi meninggalkan rumah Habdul Aziz” (Tasaro GK, 2009:144).

Kutipan di atas membuktikan bahwa Kinanthi memperjuangkan hak atas dirinya agar terhindar dari orang-orang yang melakukan kekerasan dan percobaan pemerkosaan terhadap dirinya. Kinanthi melarikan diri dari rumah Habdul Aziz dengan bantuan Yusman. Kinanthi berniat meminta perlindungan hukum di

commit to user

KBRI. Proses melarikan diri Kinanthi dari rumah Habdul Aziz merupak wujud dari bentuk perjuangan dirinya melawan kekerasan fisik baik seksual ataupun non seksual yang diterima Kinanthi saat berada dirumah Habdul Aziz. Akhirnya usaha Kinanti berhasil.

Setelah Kinanthi berhasil melarikan diri, Kinanthi mendapatkan majikan baru yang bernama Azam dan Layla. Azam dan Layla ternyata sama halnya dengan Habdul Aziz. Kekerasan fisik maupun psikis diterima oleh Kinanthi.

Kinanthi tak mengerti. Dia hanya salah menghidangkan kopi karena terlalu banyak gula, sore itu, dan pukulan bertubi-tubi menyarang tubuh dan kepalanya. Kesalahan yang sama entengnya dengan alasan mengapa dua majikannya itu memukulinya beberapa hari terakhir. Kemarin karena lupa mematikan televise, kemarinlusa karena air meluber di kamar mandi, kemarinnya lagi karena terlambat bangun. Kesalahan-kesalahan sepele yang harus dibayar dengan remuk redam sekujur tubuh” (Tasaro, 2009:174).

Pada kutipan di atas menunjukkan kekerasan yang menimpa Kinanthi di rumah majikan baru, Azzam dan Layla. Dengan adanya kekerasan tersebut Kinanthi melakukan perjuangan untuk melawan tindak kekerasan yang dilakukan Azam dan Layla seperti pada kutipan berikut:

“Tubuh Kinanthi ambruk berdebam. Dia berusaha memegangi perut dan kening sekaligus. Perut; karena terasa sesak oleh sodokan tongkat baseball di tangan Azzam, majikan laki-lakinya. Kening, untuk luka mencucurkan darah segar akibat pukulan hak sepatu Layla ; majikan perempuannya” (Tasaro, 2009:174).

Kutipan di atas menunjukkan kekerasan yang dilakukan oleh majikan baru Kinanthi yang bernama Azam dan Layla. Kinanthi berusaha menyelamatkan diri dari pukulan dan siksaan majikannya. Kekerasan yang merupakan wujud dari ketidakadilan gender dilawan oleh Kinanthi. Kinanthi menginginkan hak yang didapat setara dengan kaum laki-laki.

commit to user

Usaha yang dilakukan Kinanthi dalam memerangi kekerasan yang menjadi perjuangannya belum berakhir. Setelah lolos dari Azam dan Layla, Kinanthi bekerja dengan seorang Arab lain bernama Zazkia. Tanpa diketahui Kinanthi ternyata Zazkia adalah kakak Layla. Zazkia berniat membalas dendam kepada Kinanthi. Akan tetapi Kinanthi terus berjuang melawan budaya Arab yang menganggap pembantu adalah budak. Seperti pada kutipan berikut.

Sepekan berlalu, Kinanthi telah menjadi setengah mayat setengah manusia. Jalannya sempoyongan, pandangannya nanar, harapan hidupnya menggantung di awan. Dia tinggal berjarak sedikit lagi dari bunuh diri.

Siang itu, ketika suasana begitu lengang, Kinanthi memandangi lanskap di luar apartemen dari jendela kaca di seberang dapur. Dia memang hanya bisa berlama-lama di seputaran kanan kiri dapur. Kinanthi mulai berpikir bagaimana caranya menghancurkan jendela kaca itu dan terjun dari ketinggian. Tak usah dipikirkan apa akibatnya. Mati tidak akan mengubah apa pun. Toh, Kinanthi merasa hidupnya tidak cukup ditukar dengan surga (Tasaro GK, 2009:184-185).

Kekerasan fisik dan psikis berpengaruh besar pada kejiwaan seseorang, begitu pula Kinanthi. Setelah kekerasan yang dialami di Arab dan saat pindah ke Amerika, dia sudah tidak mampu lagi menahan penderitaan yang ditanggungnya.

Kinanthi berjuang keras melarikan diri dari keluarga Zazkia. Kinanthi melarikan diri dengan cara melompat jendela rumah majikannya. Hal yang dilakukan Kinanthi dengan cara melompat merupakan bentuk perjuangan Kinanthi dalam kesetaraan gender. Kinanthi melarikan diri ke sebuah masjid di Amerika, dan memulai hidupnya yang baru.

Beberapa orang yang melakukan ketidakadilan terhadap Kinanthi adalah Mustafa, Marwan, Zaskia dan Layla. Bentuk ketidakadilan yang mereka lakukan adalah bentuk kekerasan terhadap Kinanthi.

commit to user

Mustafa adalah anak laki-aki dari Habdul Aziz. Seperti tindakan yang dilakukan ayahnya, Mustafa juga melakukan tindakan percobaan pemerkosaan terhadap Kinanthi.

“ Kenapa Takut?”

Mustafa memerhatikan Kinanthi yang menghampiri ranjang untuk merapikan sprei dan bantal-bantal. Kinanthi tak menjawab pertanyaan tuannya. Dia ingin buru-buru menyelesikan pekerjaannya. Gerakan berhenti kertika mendengar suara daun pintu berderit menutup. Kinanthi membalikkan badannya dengan gerakan mengejutkan.

“Saya akan teriak. Ibu Tuan sedang ada di kamarnya,” ancamnya (Tasaro GK, 2009:141).

Pada kutipan di atas menunjukkan bentuk percobaan pemerkosaan yang terjadi pada Kinanthi. Seperti halnya Habdul Aziz, Mustafa juga melakukan hal yang sama dengan ayahnya. Adapun hal tersebut termasuk dalam tindakan kekerasan seksual.

Selain Mustafa adalah Marwan. Tokoh Marwan adalah orang Indonesia yang ditemui Kinanthi saat Kinanthi berhasil melarikan diri dari rumah Habdul Aziz. Marwan ketika bertemu Kinanthi seperti berniat membantu Kinanthi untuk mencarikan majikan baru yang lebih baik. Namun pada kenyataannya Marwan adalah makelar TKW yang kabur yang kemudian diiming-imingi tawaran gaji

Selain Mustafa adalah Marwan. Tokoh Marwan adalah orang Indonesia yang ditemui Kinanthi saat Kinanthi berhasil melarikan diri dari rumah Habdul Aziz. Marwan ketika bertemu Kinanthi seperti berniat membantu Kinanthi untuk mencarikan majikan baru yang lebih baik. Namun pada kenyataannya Marwan adalah makelar TKW yang kabur yang kemudian diiming-imingi tawaran gaji

Dokumen terkait