• Tidak ada hasil yang ditemukan

111yang relatif sedikit tinggi justru terjadi di propinsi yang wilayahnya tidak

terlalu luas namun jumlah penduduknya besar yaitu Sulawesi Selatan. Propinsi ini juga memiliki tingkat kemajuan pembangunan dan sosial- ekonomi masyarakat yang relatif lebih tinggi dibanding propinsi lain di wilayah ini. Namun di Kalimantan Timur, meskipun memiliki beberapa daerah perkotaan dengan tingkat kemajuan cukup tinggi, penggunaan frekuensi AM juga sangat rendah. Hal ini diduga karena pada daerah yang sudah maju cenderung menggunakan frekuensi radio lain (FM).

2. Frekuensi Radio FM

Perbandingan intensitas penggunaan frekuensi FM terhadap luas wilayah dan jumlah penduduk di propinsi-propinsi di kawasan timur Indonesia menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dibanding penggunaan frekuensi AM. Intensitas penggunaan frekuensi FM ini juga cenderung tinggi pada daerah dengan jumlah penduduk besar dan memiliki wilayah administratif yang banyak seperti di Jawa dan Sumatera Utara. DI Yogyakarta dan DKI Jakarta meskipun memiliki penduduk tidak besar, namun intensitas penggunaan frekuensi AM yang digunakan juga tinggi. Hal ini disebabkan kedua daerah ini memiliki kepadatan penduduk tinggi dan banyak daerah perkotaan dengan tingkat dinamika sosial ekonomi yang relatif tinggi seperti kegiatan bisnis, pendidikan dan sebagainya. Beberapa daerah lain dengan jumlah penduduk

Bidang Operasi Frekuensi

Gambar 6.11A

Perbandingan Penggunaan Frekuensi FM dengan Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Kepulauan Sumatera, Jawa dan Bali

lebih besar dari DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, namun intensitas penggunaan frekuensi FM-nya lebih rendah seperti Banten dan Sumatera Barat karena kepadatan penduduk dan dinamika sosial ekonomi masyarakat yang lebih rendah.

Sementara intensitas penggunaan frekuensi FM di kawasan timur Indonesia menunjukkan tingkat yang tinggi daripada frekuensi FM seperti terlihat pada gambar 6.11B. Namun dari distribusi penggunanya di kawasan ini terlihat bahwa penggunaan frekuensi FM cenderung tinggi pada daerah dengan kepadatan penduduk tinggi dan atau tingkat kemajuan (sosial- ekonomi) daerah yang lebih tinggi. Penggunaan frekuensi FM terlihat pada daerah dengan kepadatan penduduk relatif tinggi seperti Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan NTT. Namun di NTB dan Sulawesi Selatan yang juga memiliki kepadatan penduduk tinggi menunjukkan penggunan frekuensi FM yang rendah. Intensitas penggunaan frekuensi FM yang tinggi juga ditunjukkan pada daerah dengan kepadatan penduduk rendah namun tingkat kemajuan sosial-ekonomi yang relatif lebih tinggi seperti Kalimantan Timur. Sementara daerah dengan kepadatan penduduk rendah lain namun tingkat kemajuannya juga relatif kurang seperti Maluku-Papua, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, penggunaan frekeunsi FM juga rendah.

Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika

Gambar 6.11B

Perbandingan Penggunaan Frekuensi FM dengan Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua

3. Frekuensi TV

Perbandingan penggunaan spektrum frekuensi TV dengan luas wilayah dan jumlah penduduk di kawasan barat Indonesia menunjukkan terdapat korelasi yang cukup kuat antara penggunaan spektrum frekuensi TV dengan kepadatan penduduk dibandingkan dengan luas wilayah. Penggunaan frekuensi TV pada daerah-daerah dengan jumlah dan kepadatan penduduk yang tinggi menunjukkan jumlah penggunaan yang tinggi seperti di Pulau Jawa, Bali dan Riau. Namun penggunaan frekuensi TV ini juga cukup tinggi di Sumatera Selatan dan Jambi yang memiliki kepadatan penduduk relatif rendah. Faktor luas wilayah dan tingkat kemajuan pembangunan nampaknya berperan dalam tingginya penggunan frekuensi TV di Sumatera Selatan ini. Berkembangnya siaran televisi daerah menjadi salah satu faktor pendukung distribusi penggunaan frekuensi TV menjadi relatif lebih merata. Penggunaan frekuensi TV di beberapa wilayah di Sumatera seperti Jambi, Riau dan Sumatera Barat misalnya juga cukup signifikan meskipun dari sisi jumlah penduduk tidak terlalu besar. Bahkan penggunan frekuensi TV di ketiga daerah ini lebih besar daripada Sumatera Utara yang memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah lebih besar.

Lebih terdistribusinya penggunaan frekuensi TV antar daerah juga terlihat dari perbandingan antara penggunaan frekuensi TV dengan luas wilayah dan jumlah penduduk untuk kawasan tengah dan timur Indonesia. Penggunaan frekuensi TV di wilayah Kalimantan justru menunjukkan angka yang relatif

Bidang Operasi Frekuensi

Gambar 6.12A

Perbandingan Jumlah Frekuensi TV dengan Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah

tinggi, terutama di propinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat meskipun daerah tersebut memiliki karakteristik berbeda. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur memiliki wilayah yang luas sedangkan Kalimantan Selatan memiliki wilayah yang lebih kecil. Sementara di Sulawesi, penggunaan frekuensi yang tinggi justru terjadi di propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan yang memiliki wilayah yang luas. Tingginya penggunaan frekuensi TV di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan diduga terkait dengan tingkat kemajuan daerah yang relatif lebih tinggi dibanding daerah lainnya.

Hal yang menarik juga ditunjukkan dalam penggunan frekuensi di Sulawesi Utara dimana penggunaan frekuensi TV juga cukup tinggi meskipun jumlah penduduk relatif lebih sedikit dan luas wilayah juga tidak terlalu besar. Hal ini diduga terkait dengan adanya daerah perkotaan yang cukup tersebar dan kemajuan daerah yang lebih tinggi. Sementara di Papua yang tingkat kemajuan pembangunannya juga relatif masih kurang, justru memiliki tingkat penggunaan frekuensi TV yang lebih besar dibanding NTB, NTT dan Maluku yang memiliki tingkat kemajuan pembangunan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada pola yang khusus dalam penggunan frekuensi TV dikaitkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk. Dalam hal ini, kondisi geografis dari wilayah tersebut juga menjadi faktor penentu penggunaan frekuensi TV. Daerah yang dipisahkan oleh pegunungan diduga memiliki kebutuhan penggunan frekuensi yang lebih tinggi juga.

Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika

Gambar 6.12B

Perbandingan Jumlah Frekuensi TV dengan Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah

Intensitas penggunaan frekuensi broadcast (AM, FM dan TV) tidak menunjukkan korelasi dengan luas wilayah (kecuali untuk TV di Papua), namun lebih berkorelasi dengan tingkat kepadatan penduduk dan atau tingkat kemajuan sosial-ekonomi daerah.

4. Distribusi Penggunaan ISR Kanal TV dan FM untuk Keperluan Penyiaran

Penyajian data distribusi penggunaan ISR kanal TV dan FM bertujuan untuk mengukur tingkat pemanfaatan dari kanal frekuensi yang tersedia untuk masing-masing jenis kanal ISR di masing-masing wilayah. Berdasarkan data tersebut akan dapat diketahui pada daerah mana kanal ISR TV tertentu masih berpeluang untuk dioptimalkan utilisasinya. Dari tingkat pemanfaatan (utilisasi) kanal TV sampai semester 1 tahun 2011 seperti ditunjukkan tabel 6.6 menunjukkan masih rendahnya utilisasi di hampr sebagian besar propinsi atau dengan kata lain masih terbukanya pemanfaatan kanal frekuensi TV di daerah. Tingkat utilisasi yang tinggi hanya terjadi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta yang mencapai 100% dan Bali yang mencapai 75%. DKI Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan bisnis, sementara DI Yogyakarta dan Bali adalah daerah dengan wilayah propinsi yang tidak terlalu luas namun menjadi daerah wisata dan pusat industri kreatif.

Dari gambar 6.13 juga terlihat bahwa utilisasi kanal frekuensi TV yag rendah terdapat di NAD dan Bengkulu di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo dan Maluku Utara yang masih kurang dari 15%. Daerah-daerah tersebut dicirikan dengan tingkat kemajuan pembangunan yang relatif tertinggal, perkembangan ekonomi yang lambat atau merupakan daerah pemekaran sehingga investasi dalam pemanfaatan frekuensi TV juga masih

Bidang Operasi Frekuensi

No Propinsi Jumlah Ter- sedia Jumlah Ter- pakai Utili- sasi No Propinsi Jumlah Ter- sedia Jumlah Ter- pakai Utili- sasi 1 NAD 87 9 10.3% 16 Bali 20 15 75.0% 2 Sumut 90 14 15.6% 17 NTB 34 6 17.6% 3 Sumbar 76 17 22.4% 18 NTT 96 11 11.5% 4 Riau 104 20 19.2% 19 Kalbar 69 25 36.2% 5 Jambi 62 17 27.4% 20 Kalteng 46 16 34.8% 6 Babel 27 8 29.6% 21 Kaltim 89 30 33.7% 7 Bengkulu 35 5 14.3% 22 Kalsel 56 26 46.4% 8 Sumsel 61 27 44.3% 23 Sulsel+Sulbar 127 28 22.0% 9 Lampung 60 14 23.3% 24 Sulteng 61 30 49.2% 10 Banten 17 7 41.2% 25 Sultra 42 15 35.7%

11 DKI Jakarta 14 14 100.0% 26 Sulut 42 24 57.1%

12 Jawa Barat 69 34 49.3% 27 Gorontalo 21 2 9.5%

13 Jawa Tengah 53 27 50.9% 28 Maluku 35 8 22.9%

14 DI Yogyakarta 14 14 100.0% 29 Maluku Utara 21 2 9.5%

15 Jawa Timur 83 44 53.0% 30 Papua 91 26 28.6%

Tabel 6.6

Utilasi Kanal TV Menurut Propinsi

kurang. Hal ini juga diduga terkait dengan potensi pasar dari industri penyiaran televisi pada daerah tersebut yang masih rendah sehingga masih kurang menarik minat pelaku industri penyiaran TV nasional maupun lokal untuk berinvestasi mengembangkan kegiatan penyiaran TV di wilayah tersebut. Tingkat utilisasi frekuensi TV yang masih belum tinggi juga terlihat pada propinsi-propinsi dengan wilayah yang luas. Pada daerah-daerah tersebut khususnya du luar Jawa, dengan alokasi kanal frekuensi TV yang relatif besar maupun kecil, utilisasinya belum cukup tinggi. Pada daerah- daerah di Sumatera yang memiliki alokasi kanal cukup tinggi seperti Sumatera Utara dan Riau, tingkat utilisasinya masih rendah, dibawah 20%. Sementara di Sulawesi, fenomena daerah dengan alokasi frekuensi besar namun tingkat pemanfatannya rendah terlihat di Sulawesi Selatan.