• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yurisprudensi dalam Pernikahan Tidak Dicatatkan

DICATATKAN

B. Yurisprudensi dalam Pernikahan Tidak Dicatatkan

tersebut tidak sah karena lahir di luar nikah, sangat jelas karena hanya memiliki satu hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya semata. Sangat kontroversial dan tidak dapat disamakan dengan kedudukan hak anak dari perspektif pernikahan yang tidak dicatatkan yang orang tuanya menikah karena tidak mematuhi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan KHI. Apabila anak dilihat dari segi hukum Islam, status hukumnya sah dan dapat memiliki hubungan hak sipil baik dengan ibunya dan keluarga ibunya dan hubungan sipil ayahnya dan keluarga ayahnya. Hanya saja dalam konteks pernikahan tidak dicatatkan tidak dapat diberikan pembelaan karena sudah sangat jelas melawan hukum negara, tidak terkecuali Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan KHI.

harus melakukan dan melaksanakan keadilan dalam perkara yang berkaitan dengan pernikahan, tidak terkecuali pernikahan tidak dicatat. Bahkan dapat diasumsikan bahwa hukum positif dapat menciptakan kepastian hukum. Supremasi hukum mengutamakan nilai-nilai idealisme dan kebiasaan dalam masyarakat, sehingga hukum harus mempertimbangkan nilai atau falsafah keadilan bagi memenuhi kemaslahatan masyarakat.

Pasal 7 ayat dalam KHI memiliki makna ketika diinstruksikan dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 saat menikah tidak berlaku sebelum tahun 1974, sehingga pelaksanaannya diperbolehkan karena pada saat itu belum ada peraturan untuk pencatatan pernikahan. Sebaliknya, jika seseorang melangsungkan pernikahan tidak dicatat setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak pernah lagi mengizinkan pernikahan yang dengan hukum negara.

Meskipun pernikahan di bawah tangan atau tidak dicatatkan diselesaikan setelah undang-undang mengatur dengan permohonan itsbat di Pengadilan Agama untuk memperoleh akta nikah, dokumen resmi yang membantu untuk

mendapatkan kepastian hukum tentang pernikahan. Meskipun undang-undang mewajibkan akta nikah, hal ini tidak jarang terjadi pasangan suami-istri dalam masyarakat tidak memiliki akta nikah.61

Itsbat nikah adalah perkara yang di bawa ke Pengadilan Agama, sebuah permohonan yang berisi petisi hak-hak sipil dari pihak istri dan anak yang dilahir. Kadang-kadang hakim menerima permohonan itsbat nikah dan hakim menolak, namun apabila diterima dalam keputusan permohonan itsbat nikah oleh hakim, pernikahan yang tidak dicatatkan oleh negara menjadi sah dihadapan hukum dan negara.

Mengabulkan itsbat nikah di Pengadilan Agama berarti pernikahan itu sudah mengikaat dan menjamin hak-hak pasangan suami-istri dan anak-anak yang lahir dari perlindungan hukum pernikahan.62 Alasan hakim mengabulkan permohonan itsbat nikah, ketika rukun dan syarat pernikahan terpenuhi, efek dari status yang berubah ketika permohonan

61Rizky Amelia Fathia and Dian Septiandani, “Dampak Penolakan Itsbat Nikah Terhadap Pemenuhan Hak Anak,” JURNAL USM LAW REVIEW 5, no. 2 (2022): 606–17.

62Fathia and Septiandani.

itsbat nikah dikabulkan adalah intinya para pihak mendapat kepastian hukum melalui status pernikahan yang dicatatkan.

Ada beberapa alasan ditolaknya permohonan itsbat Nikah karena kurangnya bukti pernikahan. Istri dan anak-anak dalam pernikahan tidak dicatat di tolak permohonan itsbat, maka mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan kesempatan atas hak warisan dan hak nafkah karena pernikahan seolah-olah tidak pernah terjadi.Efeknya pada status anak, anak tidak dihitung sebagai anak, sehingga sangat sulit untuk memperoleh akta kelahiran untuk pernikahan yang tidak dicatatkan,karena anak hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibunya. Dalam itsbat nikah menimbulkan dilema bagi para hakim, mengingat semua permohonannya Pernikahan dikabulkan tanpa melihat asas kemanfaatan, dan tanpa ketelitian maka dapat menimbulkan berbagai efek negatif.

Beberapa kasus dari pernikahan tidak dicatat mengajukan permohonan itsbat di Pengadilan Agama untuk mendapatkan legalitas secara hukum negara. Itsbat dari pernikahan tidak dicatat dapat menjadi yurisprudensi oleh

hakim ketika mengajukan permohonan itsbat di Pengadilan Agama. Hampir dalam setiap Pengadilan Agama di seluruh Indonesia dibanjiri dengan perkara permohonan itsbat nikah untuk mendapat kepastian hukum, dapat menjadi acuan oleh hakim untuk menerapkan yurisprudensi. Penerapan yuriprudensi dalam penetapan permohonan perkara itsbat nikah oleh hakim di Pengadilan Agama disebabkan dalam konteks pernikahan itu semata dapat terfokus pada rukun dan syarat pernikahan yang ditetapkan dalam hukum Islam.

Perlindungan istri dan anak di luar nikah sangat diperlukan dalam konteks ini dengan tidak mengalami perlakuan diskriminatif, tidak adil, adalah posisi yang sama dengan melestarikan pernikahan dengan pengabulan itsbat nikah. Memberikan perlindungan maksimal dengan anak-anak di luar nikah melalui itsbat nikah di Pengadilan Agama, artinya untuk mendukung penegakkan keadilan dan hak asasi manusia terutama nantinya dalam penerapan yuriprudensi.

Hakim dengan tugas mulia adalah menegakkan dan melaksanakan hukum Allah yakni hukum Islam terutama di Pengadilan Agama. Hakim wajib menerapkan hukum yang

benar melalui hukum syar'i, sehingga dalam konteks ini adalah hakim di pengadilan wajib mencegah dan melindungi hukum bagi masyarakat seperti itu aturan hukum dapat ditegakkan.

Melalui hakim semakin bertanggung jawab untuk menghentikan orang untuk melakukan secara sewenang-wenang atau tirani pihak tertentu untuk yang lainnya.

Itsbat nikah adalah menjadi kewenangan absolut oleh hakim di Pengadilan Agama, termasuk Pengadilan Agama Kota Parepare. Hakim di Pengadilan Agama memiliki kewenangan untuk mengesahkan atau menetapkan keabsahan nikah di bawah tangan. Dalam merespon perlindungan anak yang lahir dalam perkawinan tidak dicatat di Pengadilan Agama dapat ditemukan melalui penetapan hakim atas itsbat nikah. Dengan begitu, perlindungan anak lahir dalam nikah tidak dapat pula direalisasi melalui itsbat nikah di Pengadilan Agama.

Selanjutnya, sebagai contoh permohonan itsbat nikah di Pengadilan Agama adalah Pemohon I dan Pemohon II mengajukan permohonan itsbatnikah di Pendaftaran Pengadilan Agama Watampone pada tanggal 07 Juni 2021

dengan nomor 400/Pdt.P/2021/PA.Wtp dengan alasan pada tanggal 16 Mei 2019 di Desa Lappa, Sinjai Utara Kabupaten Sinjai, Pemohon I dan Pemohon II dinikahkan oleh imam setempat dan wali oleh ayah kandung Pemohon II, dengan melibatkan dua orang laki-laki dengan mahar.

Berdasarkan keterangan Pemohon I dan Pemohon II yang dikuatkan dengan keterangan Saksi 1 dan Saksi 2 yang bersesuaian satu dengan yang lain, terbukti pernikahan Pemohon I dan Pemohon II yang dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2019 di Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, telah memenuhi rukun pernikahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam, yaitu adanya: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi, serta ijab dan kabul.63

Pemohon I sebagai calon suami dan Pemohon II sebagai calon istri, wali nikah, dua orang saksi nikah, serta ijab dan kabul. Ketika akad nikah dilaksanakan ditemukan memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan pernikahan menurut

63“Penetapan Nomor 400/Pdt.P/2021/PA.Wtp,” n.d.

hukum Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemohon I sebagai calon suami dan Pemohon II sebagai calon istri pada saat akad nikah tidak ditemukan terdapat halangan perkawinan sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 sampai dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Pasal 39 sampai dengan Pasal 44 Kompilasi Hukum Islam. Menimbang dari fakta-fakta persidangan sebagaimana tersebut di atas, Pengadilan berpendapat bahwa perkawinan Pemohon I dan Pemohon II yang dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2019 di Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, telah sah secara syar’I sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam.

Pengajuan permohonan itsbat nikah dengan dikabulkan oleh hakim dengan Penetapan Nomor 400/Pdt.P/2021/PA.Wtp di Pengadilan Agama Watampone. Pasangan suami istri yang telah melakukannya pernikahan yang tidak terdaftar dilakukan melalui Pegawai Pencatat Nikah untuk menerbitkan akta nikah dengan menerbitkannya terlebih dahulu akta nikah di

Pengadilan Agama. Akan tetapi, kebutuhan itsbat yang diajukan permohonanya di Pengadilan Agama patut disayangkan karena terbatas hanya untuk dilegalisasi untuk perceraian. Dengan demikian penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama dapat menciptakan peluang-peluang untuk menjadi yuriprudensi bagi hakim untuk pengajuan permohonan perkara itsbat nikah berikutnya di Pengadilan Agama.

Apalagi setelah dikeluarkan Perma Nomor 1 Tahun 2015 untuk pelaksanaan sidang keliling yang nantinya adalah memberikan penetapan itsbat nikah pada pernikahan tidak dicatat atau tidak dicatatkan. Hal itu tentu saja penerapan Perma Nomor 1 Tahun 2015 untuk merespon permasalahan hukum dalam konteks untuk memberikan kepastian hukum dan jaminan perlindungan hak-hak bagi istri dan anak-anak yang lahir dalam pernikahan yang tidak dicatat atau tidak tercatat.

BAB VIII

PERDEBATAN HAK WARIS ANAK

Dokumen terkait