C. Pemberdayaan Yurisprudensi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Oleh
2. Yurisprudensi Pengadilan Tata Usaha Negara
Yurisprudensi bermula dari putusan hakim yang ditujukan untuk memutus suatu perkara tertentu. Dengan kata lain, yurisprudensi memberikan berbagai sisi dalam maknanya, yaitu menjadi bahan pembentuk undang- undang, pedoman, atau acuan penting bagi para hakim dalam memutus perkara yang memiliki elemen sarna. Disamping itu juga berfungsi sebagai alat pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara yang belum pernah diatur atau belum ditentukan hukumnya sekaligus proses untuk mengembangkan hukum itu sendiri melalui putusan lembaga peradilan, dimana Yurisprudensi disini diartikan sebagai alat dan proses.
Hal ini dikarenakan putusan lembaga peradilan, secara teoriris merupakan salah satu bahan primer dalam upaya pernbentukan hukum di Indonesia melalui sistem persuasive force of precedent. Dalam upaya peningkatan pembangunan hukum dan untuk menghindari terjadinya kekosongan hukum, maka hakim tidak boleh menolak suatu perkara karena alasan belum ada atau kurang jelas aturan undang-undangnya. Hakim wajib menggali dan menemukan hukum terhadap perkara-perkara yang dihadapinya. Dengan kata lain yurisprudensi diharapkan dapat menjadi stimulator untuk menerapkan standar hukum yang sama bila undang-undang tidak mengatur atau belum mengaturnya sehingga akan tercipta kepastian hukum di tengah masyarakat. Dengan terciptanya kepastian hukum dan kesamaan hukum terhadap elemen perkara yang sarna, maka putusan hakirn dapat diperkirakan
(predictable) dan transparan dalam prosesnya. Keseragaman penafsiran dapat
mencegah kemungkinan-kemungkinan timbulnya disparitas dalam berbagai putusan hakim yang berbeda dalam elemen perkara yang sama, sehingga kepastian hukum yang diharapkan dapat tercapai.
Ditinjau dari perspektif wilayah keberlakuannya, Bagir Manan membedakan sifat antara yurisprudensi dengan putusan hakim. Yuriprudensi adalah hukum positif yang berlaku secara umum yang lahir atau berasal dari putusan hakim. Putusan hakim adalah hukum yang bersifat konkrit dan khusus berlaku pada subyek yang terkena atau terkait langsung dengan bunyi putusan. Pada saat putusan hakim diterima sebagai yurisprudensi, maka asas atau kaidahnya menjadi bersifat umum dan dapat dipergunakan sebagai dasar pertimbangan hukum bagi siapa saja.154 Persamaan antara yurisprudensi dengan
putusan hakim adalah sama-sama bersumber dari putusan hakim. Dalam sistem
common law putusan hakim disebut dengan case law atau judge made law.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) tahun 1994/1995, suatu putusan hakim dapat disebut sebagai
yurisprudensi apabila putusan itu sekurang-kurangnya memiliki 5 (lima) unsur pokok yaitu: 155
1. Keputusan atas sesuatu peristiwa yang belum jelas hukumnya; 2. Keputusan tersebut sudah merupakan keputusan tetap;
3. Telah berulang-ulang kali diputus dengan keputusan yang sama dalam kasus yang sama;
4. Memenuhi rasa keadilan;
5. Keputusan itu dibenarkan oleh Mahkamah Agung.
Dengan demikian tidak semua putusan hakim dapat disebut dan diartikan sebagai yurisprudensi. Menurut mantan Ketua Mahkamah Agung RI Harifin A. Tumpa putusan hakim yang dikategorikan sebagai hukum yurisprudensi harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana hasil penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) di atas. 156
Berdasarkan tabulasi questioner penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Kumdil Mahkamah Agung RI pada tahun 2005 dengan topik “Pembentukan Hukum Melalui Yurisprudensi” diperoleh jawaban dari 547 responden hakim yang berasal dari 4 lingkungan peradilan, 482 responden atau 88,11 % setuju, bahwa suatu putusan hakim dapat disebut sebagai yurisprudensi bilamana memenuhi unsur-unsur sebagai berikut : 157
a. Keputusan atas sesuatu peristiwa apa hukumnya
apabila belum jelas pengaturan perundang-undangannya.;
b. Keputusan tersebut harus sudah merupakan tetap;
c. Telah berulangkali diputus dengan keputusan yang sama dalam kasus yang sama;
d. Memenuhi rasa keadilan;
e. Keputusan itu dibenarkan oleh Mahkamah Agung;
f. Mengandung obiter dicta dan rasio decidendi. Putusan pengadilan yang mengandung nilai terobosan menurut M.Yahya Harahap: (1) Bisa berupa penyimpangan dari putusan-putusan Pengadilan sebelumnya, (2) Putusan mengandung nilai penafsiran baru atas rumusan undang-undang yang berlaku, (3) Putusan mengandung asas-asas baru: dari asas sebelumnya, atas penemuan asas baru, (4) Bisa pula berupa Putusan contra legem. Sedangkan yang dimaksud dengan putusan diikuti secara konstan: (1) Bisa dalam bentuk secara murni mengikutinya; (2) Atau dipedomani dan diikuti case by case atau secara kasuistik, (3) Maupun dipedomani yang dibarengi dengan modifikasi. Dengan demikian dapat dilihat, tidak mudah untuk menjadikan suatu putusan menjadi Yurisprudensi, 155 Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, Penyajian Hasil
Penelitian Tentang Peranan Hukum Kebiasaan Dalam Hukum Nasional, Jakarta, 1994
156 Harifin A. Tumpa, Dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, Jilid 6 Tata Usaha
Negara, Jakarta: PT. Pilar Yuris Ultima, 2009, hal. v
157 Puslitbang Kumdil MA RI, Bahan Literatur Penelitian Kedudukan Dan Relevansi
diperlukan persyaratan bahwa putusan tersebut tidak menjadi stare decisis
dalam arti, putusan tersebut: (1) Secara berlanjut diikuti, (2) Hal itu berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, (3) Sehingga jumlah putusan yang seperti itu telah banyak jumlahnya. 158
Menurut beberapa hakim agung, suatu putusan untuk sampai kepada tahapan menjadi yurisprudensi mekanisme yang ditempuh atau tahapan- tahapan prosesnya adalah sebagai berikut: (1) adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap, (2) atas perkara atau kasus yang diputus belum ada aturan hukumnya atau hukumnya kurang jelas, (3) memiliki muatan kebenaran, dan keadilan, (4) telah berulangkali diikuti oleh hakim berikutnya dalam memutus kasus yang sama, (5) telah melalui uji eksaminasi atau notasi oleh tim yurisprudensi hakim agung MA (6) dan telah direkomendasikan sebagai putusan yang berkualifikasi yurisprudensi tetap.159
Menurut hemat peneliti, kriteria yurisprudensi menurut Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dan Mahkamah Agung di atas terlalu luas, khususnya mengenai unsur telah berulang-ulang kali diputus dengan keputusan yang sama dalam kasus yang sama. Unsur ini sulit diterapkan karena sistem hukum Indonesia tidak mengadopsi asas stare decisis atau
binding precedent (hakim wajib mengikuti putusan yang lebih tinggi atau atau lebih dahulu) dalam sistem peradilannya. Kondisi ini menurut R. Benny Riyanto, telah melahirkan anomali kebebasan hakim yaitu sikap hakim yang menyimpangi yurisprudensi dengan alasan setiap hakim bebas dan tidak terikat pada putusan hakim yang lebih tinggi atau putusan hakim sebelumnya, seperti halnya para hakim dalam sistem hukum Anglo Saxon.160
Menurut Soenaryati Hartono, kebebasan hakim yang tanpa batas tersebut dalam kenyataannya akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan anarki dalam yurisprudensi Indonesia, karena tidak ada yang bisa memperkirakan apa yang menjadi peraturan hukumnya. 161 Oleh karena itu,
agar pengadilan lebih berperan dalam rangka Pembangunan Hukum Nasional, asas stare decisis atau binding precedent (hakim wajib mengikuti putusan yang lebih tinggi atau atau lebih dahulu) perlu diterapkan dalam sistem peradilan Indonesia.
b. Langkah-langkah Mahkamah Agung Dalam Rangka Mengumpulkan Yurisprudensi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
158 Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Mengenai Sistem Peradilan Dan Penyelesaian
Sengketa, Bandung: PT. Citra Aditiya Bakti, 1997, hal. 450.
159 Laporan Akhir Program Pembentukan Prosedur Tetap Pedoman Pembentukan Hukum
Melalui Yurisprudensi, Proyek Mahkamah Agung Republik Indonesia- Komisi Eropa- Tata Kepemerintahan yang Baik pada Peradilan Indonesia, Juni 2008, hal. 47
160 R. Benny Riyanto, Kebebasan Hakim Dalam Menutus Perkara Perdata di Pengadilan
Negeri, Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, 2006, hal. 92
161 Soenaryati Hartono, Peranan Hakim Dalam Proses Pembentukan Hukum, Makalah
Disampaikan pada Seminar Tentang Peranan Hakim dan Tanggung Jawab Hakim Sebagai Pejabat Negara Dalam Sistem Peradilan Indonesia, Diselenggarakan oleh BPHN Departemen Kehakiman dan HAM, tanggal 2 Oktober 2002, hal. 8-9
Menurut Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI Supandi, MA telah melakukan langkah-langkah dalam rangka mengumpulkan Yurisprudensi Peradilan Tata Usaha Negara diantaranya: 162
1. Penyeleksian Terhadap Putusan-putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang dapat disebut sebagai yurisprudensi.
2. Publikasi Dan Anotasi Yurisprudensi PTUN.
3. Pembinaan Tenaga Penyusunan dan Pengolahan Yurisprudensi PTUN.
1. Penyeleksian Terhadap Putusan-putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Yang Dapat Disebut Sebagai Yurisprudensi.
Pada prinsipnya aktivitas pengumpulan dan penerbitan kompilasi putusan Mahkamah Agung dilakukan secara ad hoc dan hierarkis. Setiap tahunnya dibuat panitia yang terdiri dari pejabat-pejabat struktural Mahkamah Agung yang pada puncaknya dikoordinasikan oleh seorang hakim agung. Proses pengumpulan dilakukan secara bertingkat, dimana setiap Kepaniteraan Muda Perkara, meliputi: 163
1. Panitera Muda Perkara Perdata
2. Panitera Muda Perkara Perdata Khusus 3. Panitera Muda Perkara Pidana
4. Panitera Muda Perkara Pidana Khusus 5. Panitera Muda Perkara Perdata Agama 6. Panitera Muda Perkara Pidana Militer 7. Panitera Muda Perkara Tata Usaha Negara 8. Panitera Muda Kamar
diminta untuk mengumpulkan sejumlah putusan yang dianggap baik pada masing-masing lingkup kepaniteraan mudanya. Setelah itu pengumpulan dilakukan secara bertahap dimulai dari unit paling bawah, yaitu Unit Seksi Kaidah Hukum, yang merupakan arsip perkara. Biasanya petugas pada Seksi Kaidah Hukum akan mengumpulkan naskah-naskah putusan dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang diminta, supaya selanjutnya dapat dilakukan seleksi atas putusan-putusan terbaik yang layak untuk diterbitkan.
Selanjutnya proses seleksi terjadi secara bertingkat, akhirnya dicapai sejumlah putusan yang dianggap paling pantas untuk diterbitkan sebagai bagian dari yurisprudensi tahun yang bersangkutan. Dari sisi instrumen, jalannya proses seleksi yurisprudensi dimulai dari tahap pemutusan. Pada adviesblaad
yang disediakan kepada majelis hakim disediakan kolom yang dapat diisi hakim untuk mengusulkan perkara tersebut untuk masuk dalam yurisprudensi. Usulan tersebut terdiri dari kriteria-kriteria antara lain: 164
162 Wawancara, dengan Supandi, Hakim Agung, Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha
Negara Mahkamah Agung RI, hari Selasa, 29 Maret 2016
163 Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Kepaniteraan Mahkamah Agung RI
juncto SK KMA Nomor: KMA/018/SK/III/2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan Mahkamah Agung.
164 Laporan Akhir Program Pembentukan Prosedur Tetap Pedoman Pembentukan Hukum
1. Menarik Perhatian umum.
2. Mencerrninkan pendekatan baru terhadap suatu masalah hukum.
3. Melibatkan berbagai masalah hukum (kompleksitas yuridis). 4. Mencerminkan arah perkembangan hukum.
5. Mempertegas suatu aspek hukum.
6. Menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Sehubungan dengan kriteria yurisprudensi di atas, terdapat hubungan yang erat antara dengan ditetapkannya sistem kamar pada MA RI dengan proses penyeleksian terhadap Putusan-putusan hakim PTUN yang dapat disebut sebagai yurisprudensi. Untuk memastikan tercapainya maksud dan tujuan implementasi sistem kamar tersebut, rapat Pleno Kamar Tata Usaha Negara pada tanggal 10 Desember 2013 dan 7 Januari 2014 telah memutuskan perlunya ditetapkan prosedur pemeriksaan dan penyelesaian perkara atau Standar Operasional Prosedur (SOP) pada Kamar Tata Usaha Negara, yang dituangkan dalam Keputusan Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI No. 60/Tuaka.Tun/V/2014 Tentang Prosedur Pemeriksaan Dan Penyelesaian Perkara Pada Kamar Tata Usaha Negara.
Prosedur Pemeriksaan Dan Penyelesaian Perkara Pada Kamar Tata Usaha Negara dalam keputusan tersebut antara lain:
- Perkara yang masuk ke Mahkamah Agung yang menjadi kewenangan Kamar Tata Usaha Negara Mahkamah Agung, ditelaah oleh Direktorat Pratalak. Perkara Tata Usaha Negara, tenggang waktu penelaahannya paling lama 14 (empat belas) hari kerja. Sedangkan Perkara Pajak, tenggang waktu penelaahannya paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja.
- Perkara Pajak dengan acara cepat dan perkara khusus lain yang batas waktu penanganannya telah ditetapkan oleh undang-undang (seperti Keterbukaan Informasi Publik, Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, sengketa Tata Usaha Negara Pemilu, Uji Pendapat, Hak Uji Materiil, dll), tenggang waktu penelaahannya paling lama 2 (dua) hari kerja.
- Perkara Kasasi, PK TUN, PK Pajak, dan HUM serta uji pendapat yang diajukan melalui PN/PTUN yang tidak disertai dengan dokumen elektronik sebagaimana dimaksud dalam SEMA No. 1 Tahun 2014 tidak diproses lebih lanjut dan dikembalikan kepada pengadilan pengaju. Begitu juga dengan Perkara HUM dan uji pendapat yang diajukan langsung ke MA, yang tidak disertai dengan dokumen elektronik dikembalikan kepada pemohon.
- Perkara yang diterima oleh Panitera Muda Perkara, diregistrasi untuk paling lama 7 (tujuh) hari kerja. Setelah perkara diregistrasi, Bundel B dan adviesblad digandakan sebanyak Anggota Majelis, untuk paling lama 7 (tujuh) hari kerja. Panitera Muda Perkara menyampaikan daftar pendistribusian perkara kepada Ketua Mahkamah Agung, dengan
tembusan kepada Ketua Kamar disertai susunan majelis tingkat pertama, banding dan kasasi. Panitera Muda Perkara menyampaikan daftar rekapituasi perkara yang masuk dalam satu minggu berjalan kepada Ketua Kamar pada setiap hari kerja terakhir setiap minggu, untuk ditetapkan susunan majelisnya.
- Ketua Kamar menetapkan susunan majelis paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah mendapat persetujuan dari Ketua Mahkamah Agung. Penetapan Ketua Kamar tentang Penunjukkan Susunan Majelis diserahkan kembali kepada Panitera Muda Perkara paling lama 1 (satu) hari kerja. Panitera Muda Perkara mendistribusikan perkara yang sudah ditetapkan susunan majelisnya kepada Ketua Majelis melalui Asisten Ketua Majelis untuk paling lama 3 (tiga) hari kerja. Khusus untuk perkara HUM, Panitera Muda Perkara mendistribusikan perkara yang sudah ditetapkan susunan majelisnya kepada Ketua Majelis melalui Asisten Ketua Majelis untuk paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah terlampauinya tenggang waktu 14 (empat belas) hari atau setelah diterimanya jawaban Termohon.
- Ketua Majelis membuat penetapan hari dan tanggal musyawarah dan pengucapan (Muscap) paling lama 3 (tiga) hari kerja, dengan tembusan disampaikan kepada Ketua Kamar dan Panitera Mahkamah Agung. Hari dan tanggal Muscap ditetapkan paling lama 2 (dua) bulan sejak berkas perkara diterima oleh Ketua Majelis, kecuali terhadap perkara yang jangka waktu penanganan perkaranya ditentukan lebih cepat oleh undang-undang (seperti Perkara Keterbukaan Informasi Publik, Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, sengketa Tata Usaha Negara Pemilu, Uji Pendapat). Fotokopi Bundel
B, adviesblad dan Penetapan Muscap disampaikan oleh Asisten Ketua
Majelis kepada Panitera Pengganti yang ditunjuk untuk paling lama 2 (dua) hari kerja. Panitera Pengganti yang ditunjuk meneruskan fotokopi Bundel B, adviesblad, dan penetapan Muscap dari Ketua Majelis tersebut kepada Hakim Anggota paling lama 2 (dua) hari kerja. - Hakim Anggota ataupun Panitera Pengganti dapat meminjam dokumen/berkas yang dibutuhkan dari berkas asli (Bundel A dan B) untuk keperluan menyiapkan draf putusan atau keperluan lain yang tidak bertentangan dengan undang-undang. Tujuh hari kerja sebelum hari dan tanggal Muscap, Asisten Ketua Majelis mempersiapkan rol sidang dan disampaikan kepada Majelis dan Panitera Pengganti yang bersangkutan dengan tembusan kepada Ketua Kamar dan Panitera Mahkamah Agung.
- Hakim Anggota sudah harus menyerahkan adviesblad masing-masing kepada Ketua Majelis 2 (dua) hari kerja sebelum Muscap. Dalam hal perkara tidak dapat diputus pada hari dan tanggal Muscap yang telah ditetapkan, Ketua Majelis langsung menetapkan kembali hari dan tanggal Muscap untuk paling lama 7 (tujuh) hari kerja. Penetapan hari dan tanggal Muscap sebagaimana tersebut di atas dibuat kembali rol sidangnya oleh Asisten Ketua Majelis untuk disampaikan kepada
Majelis Hakim dan Panitera Pengganti paling lama 1 (satu) hari kerja dengan tembusan kepada Ketua Kamar dan Panitera Mahkamah Agung. Asisten Ketua Majelis menyampaikan rol sidang yang telah dilengkapi dengan amar putusan hasil Muscap kepada Panitera Muda Perkara pada hari itu juga (untuk keperluan one-day publish) dengan tembusan kepada Panitera Mahkamah Agung.
- Perkara yang telah diputus, berkas asli (Bundel A dan B) diserahkan oleh Asisten Ketua Majelis kepada Panitera Pengganti yang bersangkutan untuk keperluan pengetikan putusan paling lama 2 (dua) hari kerja setelah Muscap. Pengetikan konsep putusan dilaksanakan oleh Operator di bawah pengawasan Panitera Pengganti masing- masing, minimal 1 (satu) putusan dalam 1 (satu) hari kerja.
- Konsep putusan yang telah selesai diketik oleh Operator diserahkan kepada Panitera Pengganti dalam bentuk soft copy untuk dikoreksi minimal 3 (tiga) putusan dalam 1 (satu) hari kerja. Konsep putusan yang telah selesai dikoreksi oleh Panitera Pengganti diserahkan kepada Ketua Majelis melalui staf yang ditugaskan untuk itu dalam bentuk soft copy untuk dikoreksi lebih lanjut. Staf Ketua Majelis sebagaimana dimaksud di atas, untuk paling lama 2 (dua) hari kerja sudah menginventarisir dan membuat daftar putusan yang akan dikoreksi dan melaporkannya kepada Ketua Majelis untuk diagendakan koreksi bersama.
- Ketua Majelis atau Hakim Anggota yang ditunjuk atau Majelis Hakim lengkap (sesuai kebijakan Ketua Majelis) dengan didampingi oleh Panitera Pengganti yang bersangkutan melaksanakan koreksi bersama minimal 4 (empat) putusan setiap hari atau 20 (dua puluh) putusan setiap minggu. Konsep putusan yang telah selesai dikoreksi oleh Majelis Hakim, pada hari itu juga dicetak dan dibubuhi meterai serta ditanda-tangani oleh Majelis Hakim dan Panitera Pengganti. Putusan yang telah ditandatangani berikut salinan putusan (lembar terakhir/ttd) dan berkas asli (Bundel A dan B) diserahkan kepada Panitera Muda Perkara disertai softcopy putusan oleh Panitera Pengganti yang bersangkutan paling lama 1 (satu) hari kerja.
- Panitera Muda Perkara setelah menerima berkas minutasi, mengirimkan kembali kepada Pengadilan Pengaju untuk paling lama 14 (empat belas) hari kerja. Pada hari yang sama putusan dikirimkan kembali ke Pengadilan Pengaju, oleh petugas operator di Panitera Muda Perkara langsung diunggah (upload) ke situs (website)
Mahkamah Agung. Daftar putusan yang telah dikirim kembali ke Pengadilan Pengaju beserta daftar upload putusan, disampaikan oleh Panitera Muda Perkara kepada Ketua Kamar dan Ketua Majelis melalui Asisten dengan tembusan Panitera Mahkamah Agung.
Mengacu pada Keputusan Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI No. 60/Tuaka.Tun/V/2014 tersebut, menurut Supandi
proses penyeleksian putusan-putusan PTUN yang mengandung penemuan hukum baru untuk dijadikan yurisprudensi dapat dirumuskan sebagai berikut:165
1. Majelis hakim agung Kamar Peradilan Tata Usaha Negara berkoordinasi guna menyeleksi dan menghimpun putusan-putusan peradilan tata usaha negara yang mengandung penemuan hukum baru sebagai referensi untuk perkara-perkara serupa bagi pengadilan-pengadilan di tingkat bawah.
2. Hakim ketua majelis, dalam hal berpendapat bahwa putusan yang tengah dimusyawarahkan masuk kepada kriteria yurisprudensi, memberikan tanda pada adviesblaad dengan menuliskan kriteria serta alasan singkat terpenuhinya kriteria yurisprudensi.
3. Majelis menyerahkan adviesblaad tersebut kepada Asisten Hakim Agung dalam rangka penyiapan konsep putusan dan rol sidang. 4. Asisten Hakim Agung kemudian memasukan data tersebut ke
dalam format laporan rol sidang yang akan dikirim ke Asisten Koordinator, sehingga rol sidang selain memuat daftar perkara yang disidangkan juga memuat informasi tentang keberadaan putusan yang mengandung penemuan hukum baru yang masuk dalam kriteria yurisprudensi. Selanjutnya rol perkara tersebut diserahkan kepada Panitera Muda untuk dicatat dan dikelola. 5. Panitera Muda membuat daftar terpisah atas putusan yang telah
diberi tanda putusan penting yang fungsinya membedakannya dengan putusan lain. Daftar putusan tersebut kemudian diserahkan kepada Puslibangkumdil MA untuk dikelola sebagai basis data publikasi putusan yang mengandung penemuan hukum baru yang akan diolah menjadi usulan yurisprudensi.
6. Puslitbang MA mengolah putusan yang mengandung penemuan hukum baru tersebut dengan berpedoman pada kriteria yurisprudensi. Selanjutnya sebagai bagian dari proses seleksi untuk menentukan usulan yurisprudensi, Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha Negara akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa usulan tersebut telah memenuhi kriteria yurisprudensi. Setelah dilakukan pemeriksaan serta dinyatakan bahwa usulan tersebut layak untuk dijadikan yurisprudensi, tahap selanjutnya adalah melakukan anotasi dan kemudian dipublikasikan melalui media cetak maupun situs putusan Mahkamah Agung.
165 Wawancara, dengan Supandi, Hakim Agung, Ketua Kamar Peradilan Tata Usaha
Bagan 4.1
Alur Pedoman Pembentukan Putusan Penting dan Yurisprudensi
Hakim Ketua Majelis Asisten Hakim Ketua Majelis Kepaniteraan Muda Website MARI/
Kepaniteraan Puslitbang Ketua Muda MARI
Putusan Diangga p Penting ? Memberikan Tanda Putusan Penting Publikasi di Putusan. net Memasukan ke dalam Rol Perkara
termasuk Klasifikasi Mencatat dan Mengelola Daftar Putusan Penting Daftar Putusan Penting
Mengolah Data Putusan Penting Publikasi Putusan Penting Cetak Usulan Yurisprudensi Mempersipakan Analisis/Anotasi yang diperlukan Publikasi Yurisprudensi Tetap
Kriteria ini didasarkan kepada kuantitatif dan
kualitatif
Menyetujui Usulan Yurisprudensi
USULAN ALUR & LOGIKA PENERBITAN PUTUSAN PENTING & YURISPRUDENSI MARI
MATRIKS LOGIKA IDENTIFIKASI, PENGELOLAAN, DAN PENGELOLAAN PUTUSAN PENTING DAN YURISPRUDENSI
No Proses PI Tujuan Deskripsi Proses Out Put
1 Identifikasi Hakim Agung Ketua Majelis
Mengidentifikasi per- kara-perkara yang dianggap penting dan telah memenuhi kriteria Putusan yang dianggap penting.
Pada setiap akhir sidang majelis untuk memeriksa dan memutus perkara, maka Hakim Ketua Majelis mendiskusikan kepada anggota majelis, apakah perkara yang ditangani telah memenuhi kriteria sebagai putusan yang dianggap penting.
1. Catatan pada Adviesblaad. 2. Catatan pada masing-masing
hakim
Asisten pada Ketua Majelis Hakim Agung
Mengkompilasasikn secara sistematis dan teratur daftar perkara- perkara yang dianggap penting dan klasifikasi- nya.
Proses ini dilakukan bersamaan dengan penyiapan rol perkara, ada dua cara yang dapat dipilih:
Catatan pada informasi rol perkara
1. Menambah kolom informasi status pada laporan rol.
2. Menambah jenis laporan baru. 2 Penyimpanan serta
pengumpulan data
Kepaniteraan Muda Mengkonsolidasi daftar
perkara-perkara yang diberikan tanggapan se- bagai perkara penting
Pada saat Petugas Registrasi pada Kepaniteraan Muda menerima rol perkara putus, informasi tentang perkara yang dianggap penting dibuat pula daftarnya dalam daftar yang terpisah.
Register tersendiri tentang perkara- perkara yang dianggap penting.
3 Pengolahan data Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Melakukan pengecekandaftar perkara-perkara penting yang diajukan dari masing-masing ke- paniteraan muda tentang konsistensi satu sama lain.
1. Berdasarkan register yang dihasilkan masing-masing Ke- paniteraan Muda, maka Puslitbang akan melakukan tinjauan terhadap naskah putusannya dan secara makro