BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
13. Zat Padat Tersuspensi (TSS)
Padatan tersuspensi adalah zat padat atau partikel yang mempunyai diameter 1 μm yang dapat menyebabkan kekeruhan pada air, tidak larut dan tidak dapat mengendap langsung. Biasanya berupa partikel-partikel anorganik, organik, maupun campuran keduanya. Partikel-partikel tersebut berasal dari
run-off, aliran sungai, buangan industri dan rumah tangga. Zat padat tersuspensi ini merupakan pencemar umum yang hampir dijumpai di semua perairan alam. Bahkan di perairan yang relatif bersih dan belum tercemar juga dijumpai zat padat tersusupensi dalam bentuk liat, debu dan pasir. Kadar TSS di Perairan Mentawai berkisar antara 3,75-8,78 ppm dengan rerata 5,14 ppm. Hasil pengukuran kadar TSS di masing-masing stasiun pengamatan di sajikan pada Gambar 16.
Dari hasil tersebut terlihat bahwa kadar TSS di perairan ini relatif rendah dan belum menimbulkan pengaruh terhadap terumbu karang. Sebagai pembanding, kadar TSS di perairan Raha yang kondisi karangnya relatif masih baik berkisar antara 70-80 ppm. Kantor MNLH (2004) menetapkan Nilai Ambang Batas (NAB) untuk padatan tersuspensi sebesar 20 ppm untuk kepentingan koral dan wisata bahari, sedangkan Kantor MNLH (1988) memberikan NAB untuk budidaya perikanan < 80 ppm. Menurut Sulastri & Bajoeri (1995) kandungan TSS > 25 mg/l dapat menurunkan produksi biota perairan. Dengan demikian berdasarkan kadar zat padat tersuspensi, kualitas perairan ini termasuk kategori baik.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Stasiun TSS (ppm)
G a m b a r 1 6 . Nilai TSS (ppm) di masing-masing stasiun penelitian di lokasi penelitian di perairan Mentawai.
C. M
A N G R O V EPada umumnya kondisi mangrove di Kabupaten Mentawai ini tidak begitu tebal, ketebalan mangrove berkisar antara 100 – 200 m dari batas laut ke arah darat.
Hasil koleksi bebas dan pencuplikan data yang di lakukan sebanyak 8 transek di 5 pulau yang meliputi P. Sipora, P. Siburu, P. Siberut, P. Kuboi dan P. Silebut, berhasil dijumpai 25 jenis mangrove yang termasuk dalam 15 suku (Tabel 4).
Untuk kategori pohon (diameter > 10 cm), berdasarkan hasil dari seluruh transek yang dilakukan, banyaknya jenis bervariasi (Tabel 5). Jenis Rhizophora
dan Pulau Silebut. Jenis ini umumnya tumbuh baik di habitat yang mempunyai lumpur yang dalam (STENNIS, 1958) akan tetapi kondisi habitat bagian dalam berupa batu-batuan atau koral mati maka jenis tersebut tidak bisa tumbuh maksimal seperti yang didapatkan di hutan mangrove bagian timur Sumatera (Sembilang) yang diameternya dapat mencapai lebih dari 40 cm dengan ketinggian lebih dari 25 meter. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya tumbuh jenis ini adalah tidak terdapatnya sungai besar yang membawa lumpur untuk di alirkan ke daerah pantai. Sedang untuk Pulau Siburu dan Pulau Siberut jenis yang mendominasi adalah
Rhizophora apiculata. Jenis ini umumnya sifat
tumbuhnya hampir sama dengan Rhizophora mucronata hanya habitatnya pada lumpur yang agak dalam.
Secara keseluruhan jenis mangrove berupa pohon yang didapatkan di daerah Kabupaten Mentawai mencapai 9 jenis (Tabel 6). Jenis yang mendominasi adalah Rhizophora apiculata dengan nilai penting (NP) 121,22 %, sedang codominan diduduki jenis Rhizophora
mucronata dengan nilai penting 72,29 %. Tujuh jenis
lainnya mempunyai NP kurang dari 30 % (Tabel 6). Kepadatan pohon rata-rata mencapai 473 batang per hektar dengan rata-rata ketinggian 13,15 meter yang berdiameter rata-rata mencapai 14,80 cm (Tabel 7).
T a b e l 4 . Jenis ma ngrove y a ng dijump ai (tanda +) di Kabupaten Mentawai.
L o k a s i No. S u k u No. J e n i s
1 2 3 4 5
1. Acanthaceae 1. Acanthus illicifolius +
2. Baringtoniaceae 2. Baringtonia racemosa +
3. Lumnitzera littorea + + 3. Combretaceae
4. L. racemosa + + + +
4. Euphorbiaceae 5. Exoecaria agallocha +
5. Flagellaniaceae 6. Flagellaria indica + + +
6. Goodeniaceae 7. Scaevola taccada + + + + +
7. Lythraceae 8. Phempis acidula + +
8. Malvaceae 9. Thespesia populnea + + + + +
10. Xylocarpus gangeticus + 11. X. granatum + + + 9. Meliaceae
12. X. moluccensis + + + +
10. Myrsinaceae 13. Aegiceras corniculatum + + +
11. Palmae 14. Nypa fruticans +
12. Polypodiaceae 15. Acrostichum aureum + + +
16. Bruguiera cylindrica + + + 17. B. gymnorrhiza + + + 18. B. sexangula + + + + 19. Ceriops decandra + + + 20. C. tagal + + + + 21. Rhizophora apiculata + + + + + 22. R. mucronata + + + + 13. Rhizophoraceae 23. R. stylosa + + + +
14. Combretaceae 24. Sonneratia alba + + +
15. Sterculiaceae 25. Heritiera littoralis + + +
Keterangan lokasi : 1. P. Sipora (Utara) 4. P. Kuboi
2. P. Siburu 5. P. Silebut
T a b e l 5 . Daftar Nilai Penting ( % ) jenis pohon ma ngrove di Perairan Mentawai. Lokasi No. Jenis 1 2 3 4 5 1. Rhizophora apiculata 101,02 168,94 170,53 41,00 75,71 2. R. mucronata 105,83 - 48,51 113,07 110,33 3. Bruguiera gymnorrhiza - 89,17 33,80 - - 4. B. parviflora - 41,89 - - - 5. Ceriops tagal 43,92 - - - - 6. Lumnitzera littorea 14,87 - - - - 7. L. racemosa 34,36 - 24,08 46,24 - 8. Xylocarpus granatum - - 23,08 - 113,96 9. X. moluccensis - - - 99,69 -
Keterangan lokasi : 1. P. Sipora (Utara) 4. P. Kuboi 2. P. Siburu 5. P. Silebut 3. P. Siberut (Timur)
T a b e l 6 . Daftar kerapatan nisbi (KN), frekuensi nisbi (FN), dominasi nisbi (DN) dan nilai penting (NP) jenis pohon di Kabupaten Mentawai
No. Jenis KN (%) FN (%) DN (%) NP (%) 1. Rhizophpora apiculata 26,94 20,00 25,35 72,29 2. R. apiculata 37,50 37,79 45,93 121,22 3. Bruguiera gymnorrhiza 8,65 4,44 12,97 26,06 4. Lumnitzera racemosa 7,69 11,11 5,43 24,23 5. Ceriops tagal 6,73 11,11 3,42 21,26 6. Xylocarpus granatum 2,88 6,67 2,09 11,64 7. X. moluccensis 2,88 4,44 1,52 8,84 8. Bruguiera parviflora 2,85 2,22 1,49 7,56 9. Lumnitzera littorea 2,88 2,22 1,80 6,90
T a b e l 7 . Gamb aran me ngenai struktur ma ngrove di Kabupaten Mentawai.
Atribut vegetasi Struktur Keterangan Pohon : • Dominan • Codominan Ra (NP: 121,22 %) Rm (NP: 72,29 %) Anak pohon : • Dominan • Codominan Ra (NP: 97,53 %) Rm (NP: 55,03 %) Kepadatan : • Pohon (batang/Ha) • Anak pohon (batang/Ha)
473 2905 Rata-rata tinggi (m): • Pohon • Anak pohon 13,15 4,93 Banyaknya jenis 25 Rata2 diameter (cm): • Pohon • Anak pohon 14,80 5,07 NP = Nilai Penting Ra = Rhizophora apiculata Rm = Rhizophora mucronata Sa = Sonneratia alba Of = Oncosperma filamentosa
Untuk anak pohon (diameter 2cm - ≤ 10cm), tiga pulau di dominasi oleh jenis Rhizophora apiculata yaitu Pulau Sipora (NP. 115,47 %), Pulau Siburu (NP. 186,66 %) dan Pulau Siberut (NP. 80,47 %), sedangkan Pulau Kuboi dan Pulau Silebut didominasi jenis
Bruguiera sexangula (NP. 95,17 %) dan Rhizophora mucronata (NP. 96,25 %) (Tabel 8). Dari pencuplikan
data sebanyak 8 transek di daerah Kabupaten Mentawai ini didapatkan 11 jenis anak pohon yang didominasi oleh Rhizophora apiculata dengan nilai penting 97,53 %, sedang codominan ditempati oleh Rhizophora
mucronata dengan nilai penting 55,03 %. Jenis-jenis
lainnya mempunyai nilai penting kurang dari 50 % (Tabel 9). Dengan demikian untuk masa mendatang di
daerah ini tetap akan didominasi jenis Rhizophora
apiculata. Kepadatan anak pohon rata-rata mencapau
2905 batang per hektar dengan ketinggian rata-rata 4,93 meter dan diameter 5,07 cm (Tabel 7).
Dibandingkan dengan hasil yang diperoleh di Nias dan Tapanuli Tengah, yang posisinya sama-sama terletak di bagian barat P. Sumatera, kepadatan kategori pohon mangrove di Kabupaten Mentawai (473 batang/ha) merupakan yang terbesar dibandingkan dengan di Nias (160 batang/ha) dan Tapanuli Tengah (288 batang/ha). Untuk kategori anak pohon, kepadatan di Kabupaten Mentawai (2905 batang/ha) lebih tinggi dibandingkan di Nias (2696 batang/ha), walaupun kepadatannya masih lebih rendah dibandingkan dengan di Tapanuli Tengah (2995 batang/ha).
T a b e l 8 . Daftar Nilai Penting (% ) jenis anak pohon di Kabupaten Mentawai. Lokasi No. Jenis 1 2 3 4 5 1. Rhizophora apiculata 115,47 186,66 80.47 69,64 35,45 2. R. mucronata 75,68 - 29,49 - 96,29 3. R. stylosa - - 21,12 - - 4. Ceriops decandra 7,38 - - - 21,15 5. C. tagal 38,46 - - 80,17 - 6. Lumnitzera racemosa 50,29 - 29,60 - - 7. L. littorea 12,72 - - - - 8. Bruguiera gymnorrhiza - 77,88 27,43 - 23,39 9. B. sexangula - 39,46 40,82 95,17 57,64 10. B. cylindrica - - 71,07 - 36,63 11. Xylocarpus moluccensis - - - 55,02 29,45
Keterangan lokasi : 1. P. Sipora (Utara) 4. P. Kuboi 2. P. Siburu 5. P. Silebut 3. P. Siberut (Timur)
T a b e l 9 . Daftar kerapatan nisbi (KN), frekuensi nisbi (FN), dominasi nisbi (DN) dan nilai penting (NP) jenis anak pohon di Kabupaten Mentawai
No. Jenis KN (%) FN (%) DN (%) NP (%) 1. Rhizophora apiculata 28,26 32,73 36,54 97,53 2. R. mucronata 20,29 16,36 18,38 55,03 3. Bruguiera sexangula 10,87 12,73 13,62 37,22 4. Lumnitzera racemosa 7,25 7,27 9,87 24,39 5. Bruguiera cylindrica 10,87 5,45 5,29 21,61 6. Ceriops tagal 5,80 9,09 5,91 20,80 7. Bruguiera gymnorrhiza 6,52 5,45 3,51 15,48 8. Xylocarpus moluccensis 5,07 3,64 3,17 11,88 9. Ceriops decandra 2,17 3,64 1,31 7,12 10. Lumnitzera littorea 1,45 1,82 1,53 4,80 11. Rhizophora stylosa 1,45 1,82 0,87 4,14
D. K
A R A N GDi P. Sipora bagian utara dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, pada umumnya memiliki pantai berpasir yang tidak begitu lebar, dilanjutkan dengan rataan terumbu yang semakin jauh dari pantai (50-100 m) semakin curam, dengan sudut kemiringan 40o -60o. Pada beberapa tempat, pada dasar rataan terumbunya terlihat lorong-lorong yang tegak lurus pantai, menandakan energi gelombang di daerah ini relatif cukup besar. Kenampakan ini juga dicirikan dari bentuk-bentuk pertumbuhan jenis karang yang umumnya mempunyai ukuran koloni yang relatif kecil dengan percabangan yang sangat kompak. Pertumbuhan karang relatif kurang bervariasi dan memiliki rugositas yang rendah. Karang yang tumbuh pada kedalaman 1-5 m di dominasi oleh suku Pocilloporidae
dari marga Pocillopora, Stylophora dan Seriatopora, suku Faviidae dari marga Favia dan Favites, dan suku Poritidae dari marga Porites. Karang Pocillopora verrucosa merupakan jenis yang paling dominan, diikuti oleh karang dari marga Porites dan Favia. Pertumbuhan Acropora umumnya dengan koloni yang kecil dan percabangan yang pendek. Pada kedalaman 5-10 m bentuk pertumbuhan karang lebih bervariasi, tetapi lebih didominasi oleh karang yang mempunyai bentuk pertumbuhan masif dan merayap (encrusting). Pada kedalaman 10-20 meter pertumbuhan karang sudah jarang dijumpai dan pasir terlihat lebih mendominasi.
Pada P. Siberut bagian selatan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, pada umumnya memiliki pantai yang sempit dan ditumbuhi oleh mangrove dari marga Rhizopora. Lebar rataan terumbu berkisar antara 50-100 m dengan dasar berupa karang mati dan pasir kasar yang ditumbuhi oleh turf algae. Sudut kemiringan tubir antara 40°-60°. Karang yang tumbuh umumnya memiliki bentuk pertumbuhan merayap (encrusting) dan masif, antara lain Montipora
informis, Echinopora mammiformis dan Favia speciosa.
Pada kedalaman 2-7 m, lereng terumbu didominasi oleh pertumbuhan Porites dengan bentuk pertumbuhan masif dan bercabang dengan diselingi oleh pertumbuhan
Acropora palifera. Biota lain yang cukup menonjol adalah
hydroid, karang lunak (soft coral) dan sponge. Pada kedalaman lebih dari 10 m, karang sudah jarang dijumpai, yang terlihat hanya hamparan pasir yang sangat luas.
Dari hasil RRI, LIT dan pengamatan bebas berhasil dijumpai 166 jenis karang batu yang termasuk dalam 19 suku (Lampiran 6).
Pengamatan terumbu karang dengan metode RRI yang dilakukan di 48 stasiun dijumpai tutupan karang hidup antara 0,88%-66,90%, dengan rerata tutupan karang hidup 14,89%. Berdasarkan hasil RRI ini pula terlihat bahwa persentase tutupan karang hidup di P. Sipora bagian utara tidak terlalu berbeda dengan di P. Siberut bagian selatan dimana rerata persentase tutupan di P. Sipora bagian utara sebesar 15,64% (n=24 stasiun) dan di P. Siberut bagian selatan sebesar 14,14 % (n=24 stasiun). Gambar 17 menampilkan rerata persentase tutupan dari seluruh stasiun RRI (n=48 stasiun) untuk masing-masing kategori biota dan substrat yaitu Karang hidup (terdiri dari
Acropora, Non Acropora), karang mati (dead scleractinia),
karang mati yang ditumbuhi alga (dead scleractinia with algae), karang lunak (soft coral), sponge, fleshy seaweed, biota lain (other biota), pecahan karang (rubble), pasir (sand) dan lumpur (silt).
Dari 48 stasiun RRI tersebut, tak ada satu stasiun pun yang dikategorikan sangat baik (persentase tutupan karang hidup 75% -100%). Sedangkan 2 stasiun dikategorikan baik (persentase tutupan karang hidup 50% -74%), 8 stasiun dalam kondisi cukup (persentase tutupan karang hidup 25% - 49%), dan 28 stasiun dalam kondisi kurang (persentase tutupan karang hidup <25 %). Peta kondisi terumbu karang berdasarkan persentase tutupan karang hidup di masing-masing stasiun RRI ditampilkan
pada Gambar 18.a. dan Gambar 18.b. Sedangkan hasil lengkap persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat di masing-masing stasiun RRI dapat dilihat pada Lampiran 7.
Acropora Non Acropora
Dead Coral
Dead Coral with Algae Soft Coral Sponge Fleshy seaweed Other Biota Rubble Sand Silt Rock
G a m b a r 1 7 . Rerata persentase tutupan dari seluruh stasiun RRI (n=48 stasiun) untuk masing-masing kategori biota dan substrat.
Pengamatan terumbu karang dengan metode LIT di 9 stasiun transek permanen menunjukkan bahwa terumbu karang yang masuk dalam kategori baik sebanyak 2 stasiun, kategori cukup sebanyak 3 stasiun, dan kategori kurang sebanyak 4 stasiun. Peta persentase tutupan untuk masing kategori biota dan substratnya di masing-masing stasiun transek permanen yang dilakukan dengan metode LIT ditampilkan pada Gambar 19.a. dan Gambar 19.b. Sedangkan hasil lengkap persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratnya disajikan pada Gambar 20 dan Lampiran 8.
G a m b a r 1 8 . a . Peta kondisi terumbu karang berdasar kan persentase tutupan karang hidup
G a m b a r 1 8 . b . Peta kondisi terumbu karang berdasar kan persentase tutupan karang hidup
G a m b a r 1 9 . a . Peta persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratny a di
masing-masing stasiun transek permanen di P. Sipora bagian utara dengan metode LIT.
G a m b a r 1 9 . b . Peta persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratny a di
masing-masing stasiun transek permanen di P. Siberut bagian selatan dengan metode LIT.
0% 20% 40% 60% 80% 100% MTWL01 MTWL02 MTWL03 MTWL04 MTWL05 MTWL06 MTWL07 MTWL08 MTWL09 Rock Silt Sand Rubble Other Biota Fleshy Seaweed Sponge Soft Coral
Dead Coral wih algae Dead Coral
Non Acropora Acropora
G a m b a r 2 0 . Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat di masing-masing stasiun transek permanen dengan metode LIT.
Diantara 9 stasiun transek permanen, nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon yang tertinggi dijumpai di stasiun MTWL09 yang posisinya terletak di pulau kecil antara P. Sipora dan P. Siberut. Pada stasiun ini, jenis-jenis karang batu terlihat menyebar merata, dimana tak dijumpai suatu jenis yang terlihat lebih dominan dibanding jenis lainnya. Hal ini juga bisa dilihat dari nilai indeks kemerataan jenis karang batunya yang relatif tinggi (Tabel 10). Nilai indeks kemerataan yang terendah dijumpai pada Stasiun MTWL08 (Tabel 8). Pada stasiun ini, Porites
T a b e l 1 0 . Jumlah jenis (S), Jumlah individu (N), Indeks keanekaragaman jenis Shannon (H’) yang dihitung menggunakan ln (=log e), dan Indeks kemerataan Pielou (J’) untuk karang batu di masing-masing stasiun transek permanen dengan metode LIT.
S t a s i u n S N H ’ J ’ MTWL01 19 81 2,382 0,809 MTWL02 19 36 2,589 0,879 MTWL03 17 84 2,309 0,815 MTWL04 16 61 2,301 0,830 MTWL05 30 100 2,829 0,832 MTWL06 14 42 2,149 0,814 MTWL07 14 58 2,037 0,772 MTWL08 9 18 1,783 0,812 MTWL09 21 57 2,714 0,891
Nilai kemiripan Bray-Curtis (Bray-Curtis Similarity) yang dihitung berdasarkan jumlah kehadiran (number of occurrence) dari masing-masing jenis karang batu di setiap stasiun transek permanen ditampilkan pada Tabel 11. Kemudian dengan menggunakan metode rerata kelompok (group average), dilakukan analisa pengelompokan (cluster analysis) dengan bantuan program PRIMER diperoleh dendrogram seperti pada Gambar 21. Dengan memilih tingkat kemiripan 50 %, terlihat bahwa hanya stasiun MTWL01 dan MTWL03 saja yang mengelompok dalam satu kelompok. Analisa MDS (Multi Dimensial Scaling) dengan nilai Stress=0,13 juga menunjukkan bahwa stasiun MTWL01 mengelompok dengan stasiun MTWL03 (Gambar 22). Pada kedua stasiun ini, Seriatopora hystrix tampak umum dijumpai.
Tabel 11. Nilai kemiripan Bray-Curtis berdasarkan jumlah kehadiran masing-masing jenis karang batu pada stasiun transek permanen. S t a s i u n MTWL01 MTWL02 MTWL03 MTWL04 MTWL05 MTWL06 MTWL07 MTWL08 MTWL09 MTWL01 - MTWL02 25,641 - MTWL03 65,455 33,333 - MTWL04 19,718 30,928 19,310 - MTWL05 33,149 22,059 25,000 22,360 - MTWL06 14,634 30,769 17,460 19,417 12,676 - MTWL07 35,971 19,149 40,845 23,529 22,785 20,000 - MTWL08 6,061 25,926 13,725 5,063 10,169 6,667 2,632 - MTWL09 18,841 19,355 12,766 25,424 39,490 20,202 12,174 10,667 -
M T WL08 M T WL05 M T WL09 M T WL07 M T WL01 M T WL03 M T WL06 M T WL02 M T WL04 100 80 60 40 20 0 Similarity
G a m b a r 2 1 . Dendrogram analisa pengelompokan stasiun transek permanen di Kabupaten Mentawai berdasarkan jumlah kehadiran masing-masing jenis karang batu.
MTWL01 MTWL02 MTWL03 MTWL04 MTWL05 MTWL06 MTWL07 MTWL08 MTWL09 Stress: 0.13
G a m b a r 2 2 . MDS untuk stasiun transek permanen di Kabupaten Mentawai berdasarkan berdasarkan jumlah kehadiran masing-masing jenis karang batu.
Analisa variansi untuk menyelidiki hubungan antara nilai indeks keanekaragaman Shanon (H’) dan persentase tutupan karang hidup di masing-masing stasiun transek permanen menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel tersebut (p>0,01) (Tabel 12). Analisa regresi antara keduanya menunjukkan hubungan linear positif dengan dengan koefisien korelasi (r)= 0,4215 (Gambar 23).
T a b e l 1 2 . Analisa variance hubungan antara nilai H’ dan persentase tutupan karang hidup.
Sumber variasi DF SS MS F p
Regressi 1 0,1569 0,1569 1,5123 0,2585 Sesatan 7 0,7264 0,1038
Total 8 0,8833
H' = 0.0087*(% tutupan karang hidup) + 2.0593 r2 = 0,1777 ; r = 0.4215 0 1 2 3 4 0 20 40 60
Tutupan karang hidup (%)
H'
G a m b a r 2 3 . Analisa regresi antara nilai H’ dan persentase tutupan karang hidup.
E. M
E G AB
E N T H O SSeperti yang diuraikan dalam metode penarikan sampel dan analisa data, metode Reef check yang dilakukan pada lokasi transek permanen dalam penelitian ini mencatat hanya beberapa dari jenis mega benthos yang bernilai ekonomis penting ataupun yang bisa dijadikan indikator dalam menilai kondisi kesehatan terumbu karang.
Dari hasil Reef check tersebut diperoleh bahwa kelimpahan Acanthaster planci, yang merupakan hewan pemakan polip karang ditemukan dalam jumlah yang sedikit, yaitu hanya 16 individu/ha.
Karang jamur (CMR=Coral Mushrom) dijumpai dalam jumlah yang berlimpah yaitu 7913 individu/ha. Tingginya kelimpahan CMR terutama dijumpai pada Stasiun MTWL04 dan MTWL05. Stasiun MTWL04 dan MTWL05 ini posisinya berada pada barat laut P. Sipora bagian utara, tepatnya di daerah teluk dekat dengan muara sungai.
Bulu babi (Diadema setosum) dijumpai dalam jumlah sedang yaitu 556 individu/ha. Sedangkan Kima (Giant clam) dijumpai dalam jumlah yang sedikit, dimana untuk yang berukuran besar (panjang >20 cm) kelimpahannya sebesar 48 individu/ha, dan yang berukuran kecil (panjang < 20 cm) sebesar 71 individu/ha. Demikian pula halnya dengan tripang (holothurian) dimana yang berukuran besar (diameter >20) kelimpahannya hanya sebesar 79 individu/ha, sedangkan yang berukuran kecil tidak dijumpai sama sekali selama pengamatan dilakukan.
Hasil reef check selengkapnya di masing-masing stasiun transek permanen bisa dilihat pada Gambar 24.a., Gambar 24.b. dan Lampiran 9. Beberapa jenis mungkin tidak dijumpai pada saat pengamatan berlangsung karena luas pengamatan yang dibatasi (luasan bidang pengamatan = 140 m2/transek), sehingga tidak menutup kemungkinan akan dijumpai pada lokasi di luar transek.
Hasil analisa cluster dan MDS berdasarkan kelimpahan mega benthos yang diamati dengan menggunakan program PRIMER dimana pengukurannya memakai nilai kemiripan Bray-Curtis (Bray-Curtis Similarity) (Tabel 13) dengan metode rerata kelompok (group average) diperoleh hasil seperti pada Gambar 25 dan Gambar 26.
Dari Gambar tersebut terlihat bahwa stasiun MTWL02 terpisah dibandingkan dengan stasiun lainnya. Pada stasiun MTWL02 ini, Giant clam yang berukuran kecil (panjang < 20cm) dan Holothurian yang berukuran besar (panjang >20cm) relatif lebih banyak dijumpai dibandingkan dengan di stasiun lain. Sebaliknya, pada stasiun ini pula, kelimpahan Diadema setosum relatif rendah.
G a m b a r 2 4 . a. Hasil reef check untuk me ga benthos y a ng me miliki nilai ekonomis penting dan sebagai
indikator kesehatan karang pada di masing-masing stasiun transek permanen di P. Sipora bagian utara.
G a m b a r 2 4 . b . Hasil reef check untuk me ga benthos y a ng me miliki nilai ekonomis penting dan sebagai
indikator kesehatan karang pada di masing-masing stasiun transek permanen di P. Siberut bagian selatan.
Tabel 13. Nilai kemiripan Bray-Curtis berdasarkan jumlah individu mega benthos di masing-masing stasiun transek permanen. S t a s i u n MTWL01 MTWL02 MTWL03 MTWL04 MTWL05 MTWL06 MTWL07 MTWL08 MTWL09 MTWL01 - MTWL02 10,811 - MTWL03 76,923 11,111 - MTWL04 5,957 0,862 1,709 - MTWL05 2,229 0,000 0,638 52,005 - MTWL06 46,512 15,000 23,810 15,966 6,022 - MTWL07 68,750 20,690 70,968 0,000 0,000 17,143 - MTWL08 70,588 12,500 56,000 13,821 5,321 74,074 51,163 - MTWL09 19,780 8,939 15,470 72,679 35,844 24,865 13,793 32,124 -
MTW L05 MTW L04 MTW L09 MTW L02 MTW L06 MTW L08 MTW L07 MTW L01 MTW L03 100 80 60 40 20 0 Similar ity
G a m b a r 2 5 . Dendrogram analisa pengelompokan stasiun transek permanen di Kabupaten Mentawai berdasarkan jumlah individu mega benthos.
MTWL01 MTWL02 MTWL03 MTWL04 MTWL05 MTWL06 MTWL07 MTWL08 MTWL09 Stress: 0.04
G a m b a r 2 6 . MDS untuk stasiun transek permanen di Kabupaten Mentawai berdasarkan jumlah individu mega benthos.
F. I
K A N K A R A N GDari hasil RRI terhadap ikan karang yang dilakukan di 48 stasiun berhasil dijumpai 179 jenis (spesies) ikan karang yang termasuk dalam 34 suku ikan karang. Jenis
Acanthurus lineatus merupakan jenis yang paling sering
dijumpai selama pengamatan, dimana jenis ini berhasil dijumpai di 30 stasiun dari 48 stasiun RRI (Frekuensi relatif kehadiran berdasarkan jumlah stasiun yang diamati= 62,50 %). Kemudian diikuti oleh Thalassoma
hardwickii (56,25%) dan Zebrasoma scopas (52,08%).
Sedangkan jenis-jenis ikan karang lainnya dijumpai kurang dari separuh stasiun RRI yang diamati. Sebelas jenis ikan karang yang memiliki nilai frekuensi relatif kehadiran terbesar (berdasarkan jumlah stasiun yang diamati) bisa dilihat pada Tabel 14.
Dari seluruh stasiun RRI yang diamati, Perbandingan antara ikan major, ikan target dan ikan indikator di masing-masing stasiun RRI ditampilkan pada Gambar 27.a. dan Gambar 27.b.
Underwater Visual Census (UVC) yang dilakukan di 9 Stasiun transek permanen menjumpai sebanyak 157 jenis ikan karang yang termasuk dalam 25 suku, dengan nilai kelimpahan ikan karang sebesar 12263 individu per hektarnya. Jenis Chromis ternatensis merupakan jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan yang tertinggi dibandingkan dengan jenis ikan karang lainnya, yaitu sebesar 1502 individu/ha-nya, kemudian diikuti oleh
azysron (546 individu/ha). Sepuluh besar jenis ikan karang
yang memiliki kelimpahan yang tertinggi ditampilkan dalam Tabel 15.
T a b e l 1 4 . Sebelas jenis ikan karang y a ng me miliki nilai frekuensi relatif kehadiran terbesar (berdasarkan jumlah stasiun yang diamati).
No. Jenis Frekuensi relatif
kehadiran (%) 1. Acanthurus lineatus 62,50 2. Thalassoma hardwickii 56,25 3. Zebrasoma scopas 52,08 4. Ctenochaetus striatus 45,83 5. Lutjanus decussatus 39,58 6. Halichoeres hortulanus 37,50 7. Labroides dimidiatus 37,50 8. Pomacentrus moluccensis 37,50 9. Scarus sordidus 37,50 10. Chromis margaritifer 35,42 11. Pomacentrus bankanensis 35,42
T a b e l 1 5 . Sepuluh besar jenis ikan karang y a ng memiliki kelimpahan yang tertinggi.
No. Jenis Kelimpahan
(jml individu/ha) 1. Chromis ternatensis 1502 2. Chromis iomelas 619 3. Neopomacentrus azysron 546 4. Cirrhilabrus cyanopleura 537 5. Plectroglyphidodon lacrymatus 537 6. Dascyllus trimaculatus 521 7. Pomacentrus moluccensis 476 8. Chromis viridis 422 9. Halichoeres spp. 368 10. Acanthurus blochii 317
G a m b a r 2 7 . a . Peta perbandingan antara ikan ma jor, ikan target dan ikan indikator di
G a m b a r 2 7 . b . Peta perbandingan antara ikan ma jor, ikan target dan ikan indikator di
Kelimpahan beberapa jenis ikan ekonomis penting yang diperoleh dari UVC di lokasi transek permanen seperti ikan kakap (suku Lutjanidae) yaitu 165 individu/ha, ikan kerapu (suku Serranidae) 73 individu/ha, ikan ekor kuning (suku Caesionidae) yaitu 32 individu/ha.
Ikan kepe-kepe (Butterfly fish; suku Chaetodontidae) yang merupakan ikan indikator untuk menilai kesehatan terumbu karang memiliki kelimpahan 486 individu/ha. Selama penelitian berlangsung, ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) tidak dijumpai. Kelimpahan ikan karang untuk masing-masing suku ditampilkan dalam Tabel 16.
Jumlah individu untuk setiap jenis ikan karang yang dijumpai di masing-masing stasiun transek permanen dengan menggunakan metode UVC bisa dilihat pada Lampiran 10. Hasil UVC juga menunjukkan bahwa kelimpahan kelompok ikan major, ikan target dan ikan indikator berturut-turut adalah 9219 individu/ha, 2559 individu/ha dan 486 individu/ha, sehingga perbandingan antara ikan major, ikan target dan ikan indikator adalah 19:5:1. Ini berarti bahwa untuk setiap 25 ikan yang dijumpai di perairan Mentawai, kemungkinan komposisinya terdiri dari 19 individu ikan major, 5 individu ikan target dan 1 individu ikan indikator. Peta perbandingan antara ikan major, ikan target dan ikan indikator di masing-masing stasiun transek permanen ditampilkan pada Gambar 28.a. dan Gambar 28.b.
T a b e l 1 6 . Kelimpahan ikan karang untuk masing-masing suku yang dijumpai di lokasi transek permanen.
NO. SUKU KELIMPAHAN
(jml individu/ha) 1. POMACENTRIDAE 6714 2. LABRIDAE 2060 3. ACANTHURIDAE 1146 4. CHAETODONTIDAE 486 5. SCARIDAE 362 6. MULLIDAE 216 7. SCOLOPSIDAE 194 8. BALISTIDAE 187 9. LUTJANIDAE 165 10. CARANGIDAE 143 11. LETHRINIDAE 124 12. POMACANTHIDAE 95 13. SERRANIDAE 73 14. HOLOCENTRIDAE 60 15. SYNODONTIDAE 48 16. MICRODESMIDAE 44 17. APOGONIDAE 32 18. CAESIONIDAE 32 19. ZANCLIDAE 32 20. SIGANIDAE 25 21. HARPODONTIDAE 10 22. PSEUDOCHROMIDAE 6 23. MURAENIDAE 3 24. PLATACIDAE 3 25. TETRAODONTIDAE 3
G a m b a r 2 8 . a . Peta perbandingan antara ikan ma jor, ikan target dan ikan indikator di
G a m b a r 2 8 . b . Peta perbandingan antara ikan ma jor, ikan target dan ikan indikator di
Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon dan nilai kemerataan jenis Pielou (Tabel 17), terlihat bahwa untuk kedua nilai indeks tersebut, pada stasiun MTWL08 memiliki nilai yang rendah (H’=1,770 dan J’=0,671). Hal ini disebabkan karena sedikitnya jenis ikan karang yang dijumpai di stasiun tersebut, dan adanya jenis yang terlihat lebih