• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ziarah Kemanusiaan Bersama Lukas Peliturgi

Bab Enam

Ziarah Kemanusiaan Bersama Lukas Peliturgi

Sebelum berhenti di titik ini, setelah menelusuri liku-liku ibadah yang dibangun di atas narasi-narasi kedua tulisan Lukas, kami mencatat beberapa hal sebagai kesimpulan dan bekal (viaticum) perziarahan berikut.

Pertama, Lukas memprioritaskan tujuh bagian, atau empat bagian plus-plus (4++), penting dalam liturgi ritual, yaitu: pembuka, pembacaan Alkitab, pengajaran, baptisan, doa, perjamuan, dan pengutusan. Ketujuh hal ini, terutama empat yang inti: pembacaan Alkitab, pengajaran, doa, dan perjamuan, merupakan ruang liturgi ritual yang menyatu bagi gereja akhir menjelang abad pertama.296 Gereja adalah persekutuan yang beribadah ritual.

Ibadah ritual merupakan oasis yang memberikan inspirasi pada ketaatan hidup menggereja. Paparan Lukas di kedua tulisannya berisi narasi yang menginspirasi gereja berliturgi.

296 Bdk. LaVerdiere, Acts, 17, menyebut empat hal dari community life of the apostolic church, yaitu: pengajaran, pemecahan roti, kehidupan komunal, dan doa (Kis. 2:42) sebagai aktivitas religius; bdk. McGowan, 98.

Narasi merupakan bahan dasar dalam membangun ibadah ritual.

Pola itu telah terjadi sejak kekristenan awal yang membangun cerita sekitar perkumpulan sosial.297

Tulisan Lukas bukan tulisan sejarah dalam perspektif masa kini. Data historis dalam tulisan Lukas tidak bertujuan untuk mendapatkan nilai kesejarahan suatu data dan akta. Tulisan Lukas adalah menarasikan liturgi ritual. Joel Green mempertegas bahwa Lukas sendiri mengategorikan tulisannya bukan sebagai paparan historis, bukan pula Injil semata, tetapi lebih pada narasi

(διήγησιν) atau orderly account [(LAI) “susunan suatu berita tentang peristiwa-peristiwa” (Luk. 1:1)], atau historiografi.298 Pemeran utama setiap narasi Kristus dalam tulisan Lukas adalah Allah sendiri. Maria,299 Yusuf, dan Yohanes Pembaptis diperlukan, namun mereka bukan petingkah atau pengulah utama dalam narasi.

Ada bagian liturgi yang Lukas ambil dari praktik selebrasi ibadah kekristenan awal di zamannya, namun tidak semua. Yang menarik, banyak bagian tulisan Lukas yang menginspirasi gereja

297 Rasid Rachman, “Narasi Membangun Selebrasi: Gulir Ritual

Kekristenan Awal,” Indonesian Journal of Theology, Vol. 8, No. 2 (Desember 2020):

141-142 (131-156). https://doi.org /10.46567/ijt.v8i2.179 (diakses 27 Maret 2021).

298 Joel B. Green, The Gospel of Luke (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1997), 1, 2-3; Greek – English Dictionary, s.v. “διήγησις”.

299 Bdk. Stookey, 115-116.

Z i a r a h K e m a n u s i a a n B e r s a m a L u k a s P e l i t u r g i| 125

untuk me-mimesis yang tertulis, sekalipun itu hanya satu ayat, semisal: Yesus diberi nama dan disunat (Luk. 1:21), Yesus terangkat ke sorga (Kis. 1:9), doa sembilan malam (Kis. 1:14).

Sedemikain berharganya karya penanya, sehingga satu ayat tulisan Lukas merupakan percikan dari narasi teologi-liturgi yang lebih besar.

Kedua, melihat keberagaman narasi kedua tulisan Lukas, keterbukaan ibadah bagi semua adalah hal yang kuat. Ibadah bagi semua versi Penginjil Lukas adalah berbagi. Berbagi berawal dari makan bersama (Luk. 14:12-14). Ia menggambarkan hal itu dalam beberapa narasi, antara lain: memberi makan sekitar lima ribu orang (Luk. 9:10-17), pemecahan roti di gereja Yerusalem (Kis. 2:41-47).

Dalam narasi Lukas, Yesus memberi makan lima ribu orang bukanlah perjamuan, melainkan makan sesehari dan massal. Para murid mengusulkan agar orang-orang itu pergi untuk mencari penginapan dan makanan. Hal itu disampaikan karena “hari mulai malam“. Lelah dan lapar dialami oleh semua orang. Namun, Yesus merespons: “Kamu harus memberi mereka makan” (Luk. 9:12-13).

Kisah ini adalah salah satu kisah Yesus berperan sebagai tuan rumah. Ia bukan tuan rumah dalam perjamuan, melainkan tuan rumah yang memelihara kehidupan harian “lima ribu orang”.

Yesus adalah “patron” bagi berbagai umat manusia (bnd. Mrk. 6:34

“domba tidak mempunyai gembala”; Luk. 9:11 dan 12 “orang banyak”).

Praktik pemecahan roti gereja awal di Yerusalem bukan sekadar menggambarkan praktik ibadah ritual (Kis. 2:41-47). Louis-Marie Chauvet melihat pemecahan roti sebagai pernyataan akan kehadiran nyata Kristus. Sekalipun “Christ is here” terjadi di

seluruh perayaan liturgi, namun pemecahan roti Lukas merupakan puncak kemahapenyataan-Nya.300 Pecahan roti yang diterimakan kepada umat berasal dari satu roti utuh (bnd. 1Kor. 10:16-17).

Pecahan roti bukan hanya makanan, tetapi juga pembagian,301 bahkan hal “setiap hari makan secukupnya” (Luk. 11). Di dalam kebersamaan dengan orang banyak, berbagi hanya dapat terjadi jika setiap orang memakan makanan secukupnya. Berdasarkan Chauvet,302 kami melihat bahwa itulah inti “mengakui tubuh Kristus dalam perjamuan” (bnd. 1Kor 11:29) sebagai premis pemecahan roti.

300 Louis-Marie Chauvet, Symbol and Sacrament: a Sacramental Reinterpretation of Christian Existence, terj. Patrick Madigan dan Madeleine Beaumont (Collegeville: The Liturgical Press, 1995), 404-405.

301 Chauvet, 406; Étienne Trocmé The Childhood of Christianity, terj. John Bowden, (London: SCM Press, 1997), 17-18,.mencatat bahwa hal berbagi melalui kehidupan dan makan bersama ini merupakan gambaran kehidupan kaum Eseni-Qumran.

302 Chauvet, 406-407.

Z i a r a h K e m a n u s i a a n B e r s a m a L u k a s P e l i t u r g i| 127

Ketiga, perjamuan inklusif dalam eksklusivitas pemecahan roti. Kami setuju dengan Alan Streett,303 yang menyatakan bahwa perjamuan-perjamuan Yesus dalam Lukas menggambarkan sikap anti-Imperial. Hampir seperlima dari semua pasal dalam Lukas dan Kisah Para Rasul adalah tentang perjamuan. Uniknya, Lukas menempatkan perjamuan Yesus tersebut dalam narasi Kerajaan Allah yang membuka sekat sektarianisme.304

Penginjil Lukas, di dalam keterbukaan sikapnya, adalah Injil tentang dan dari Allah yang bernuansa sosial, bersolider, dan berbela rasa. Howard Kee memperjelas bahwa Penginjil Lukas menempatkan gereja untuk menjalankan misi Allah

menyampaikan terang bagi bangsa-bangsa, kabar baik bagi kaum marginal (the outcasts), dan Allah bertindak sendiri terhadap kaum marginal305 dengan menyampaikan kabar baik kepada pusat kekuasaan (Roma [Kis. 28:31]). Chauvet menambahkan bahwa sebagai inti ibadah (the whole of the celebration), perjamuan

mengundang segala orang, termasuk “kaum berdosa”, membentuk tubuh Kristus, yakni gereja (bnd. 1Kor. 1:26-29 “yang tak

303 Alan Streett, Subversive Meals: an Analysis of the Lord’s Supper under Roman Domination during the First Century, (Oregon: Pickwick Publications, 2013), 131-132.

304 Street, 132-133.

305 Howard Clark Kee, Understanding the New Testament, Fourth Edition, (Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc., 1983), 188-191.

terpandang, yang bodoh, lemah, dan hina, dipilih Allah”).306 Setelah keterbukaan perjamuan bagi segala umat manusia dan menjadi jemaat, Lukas memaparkan identitas jemaatnya dalam terminologi eksklusif, pemecahan roti.

Keempat, seluruh narasi liturgi Lukas bermuara pada pengutusan menjadi saksi melalui pemberitaan dan pelayanan pemulihan. Hal pemulihan ini kentara sejak awal kitab kedua (Kis.

1:6-8 “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? Jawab-Nya: … kamu akan menjadi saksi-Ku …”). Misi kepada para murid Yesus dalam Lukas adalah misi pemulihan.

Pemulihan itu terjadi antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, dan manusia dengan dunia.

Pemulihan itu bersifat menyeluruh. Kejatuhan manusia sudah menyangkut beragam aspek, maka pemulihan tidak bisa hanya tanggung-tanggung. Berdasarkan Empereur dan Kiesling mengacu pada Mazmur 103, Allah mengampuni, menebus hidup, dan

memahkotai dengan kasih dan rahmat atas keadaan “sakit” dalam arti luas yang merupakan bayang-bayang “kesalahan”, “lobang kubur” dan “dosa”.307 Melalui Diri-Nya, Kristus memulihkan dunia dan tata masyarakatnya.

306 Chauvet, 390.

307 James L. Empereur dan Christopher G. Kiesling, The Liturgy That Does Justice (Collegeville: The Liturgical Press, 1990), 206.

Z i a r a h K e m a n u s i a a n B e r s a m a L u k a s P e l i t u r g i| 129

Kelima, muara ini pun bukan akhir. Narasi Kristus dalam Lukas tidak “berhenti“ pada penugasan bagi para pengikut Yesus;

mereka hanya beralih peran (suksesi). Lukas tidak menulis kematian Yohanes Pembaptis (bnd. Mat. 14:5-11; Mrk. 6:19-28), tetapi menulis kematian Yudas secara tragis (Kis. 1:16-19). Selebrasi Perjamuan Malam Terakhir (bnd. Mat. 26:29; Mrk. 14:25; Luk. 22:16 dan 18 “Aku tidak akan meminum lagi ...“) masih diikuti dengan perjamuan dalam persinggahan sesaat sekali di Emaus (Luk. 24:30).

Injil Lukas menulis bahwa para murid hanya sesaat “tinggal

sampai kamu diperlengkapi“ setelah “pulang ke Yerusalem“ (Luk.

24:49, 52 ὑπέστρεψαν εἰς Ἰερουσαλὴµ = balik kembali308). Tulisan kedua dimulai dari persinggahan para rasul di Yerusalem (Kis. 1:1-4). Stefanus mati, namun segera diikuti dengan penyebaran rasul-rasul (Kis. 8:1a-b). Petrus “tidak ditemukan“ (Kis. 12:19) ketika dilacak oleh Herodes, tetapi “Herodes mati dimakan cacing-cacing“ (Kis. 12:23); di rumah yang disewanya, Paulus masih

“menerima semua orang ... dan mengajar di Roma“ (Kis. 28:30-31).309 Selain itu, Lukas juga mengisahkan Paulus sebagai rasul yang berjalan, singgah sebentar, dan berjalan atau berlayar kembali.

308 Greek-English Dictionary, s.v. “στρέϕω“.

309 Berdasarkan Konkordansi Alkitab, s.v. ”Herodias”; “Yohanes (Pembaptis)”.

Kisah-kisah persinggahan, perjalanan, dan kesementaraan adalah metode Lukas mengisahkan perguliran dan perziarahan gereja yang tak henti. Gereja, baik institusi maupun umat, hanya perlu sejenak stop dan menarik diri di titik ini, kemudian

melanjutkan pengelanaan. Hanya satu kali Lukas mengisahkan keberhentian, yakni setelah penguburan Yesus. Lukas 23b “Dan pada hari Sabat mereka beristirahat [σάββατον ἡσύχασαν (berhening pada Sabat)310] menurut hukum Taurat.” Ini berbeda dengan Penginjil Matius yang mengisahkan aktivitas para

perempuan tinggal di depan kubur (Mat. 27:61). Inilah juga alasan bacaan Sabtu Sunyi (tahun A – B – C) menurut RCL adalah Matius 27:57-66 atau Yohanes 19:38-42,311 bukan Lukas.

Menggunakan waktu sesaat di titik ini untuk

memperlengkapi diri adalah sikap peziarah tulen. Beberapa hal yang merupakan bekal untuk kami meneruskan perjalanan bersama Lukas Peliturgi adalah sebagai berikut:

Pertama, kami tidak mengatakan bahwa Lukas menjadi dasar semua narasi, jenis, dan bentuk ibadah gereja. Ada banyak ritus dan narasi yang terkandung yang dimunculkan oleh para Penginjil lain secara khas. Bahkan, ada banyak ritus dan narasi yang tidak

310 Greek-English Dictionary, s.v. “ἡσύχία”; “σάββατον”.

311 RCL, 62

Z i a r a h K e m a n u s i a a n B e r s a m a L u k a s P e l i t u r g i| 131

dikemukakan dalam kedua tulisannya yang menjadi bahan dasar liturgi gereja sepanjang dua ribu tahun ini.

Kedua, kedua tulisan Lukas telah menginspirasi bahwa

pembuka liturgi ritual merupakan pengokoh hidup bergereja yang mengejawantah di dalam karya sosial, masyarakat, dan dunia.

Pengajaran, perjamuan, doa-doa, baptisan, dan penahbisan tidak terpisah dengan karya sosial. Maka, peristiwa gerejawi adalah eksklusivitas perayaan liturgi melahirkan ruang-ruang inklusivitas.

Ketiga, kedua tulisan Lukas bukan hanya wacana di seminar-seminar dan percakapan di kelas seminar-seminari teologi, tetapi juga narasi selebrasi liturgi. Meliturgikan Lukas merupakan upaya menjemaatkan dan menggerejakan teologi eksklusif melangkah keluar dari ruang-ruang kelas menuju sikap institusi gereja dan perilaku umat.

Keempat, narasi dan meneruskan tradisi dalam budaya Indonesia ditempatkan secara istimewa. Budaya Batak Toba

mengenal partuturan, yakni tata krama dalam bertutur sapa kepada kerabat, alih-alih langsung memanggil nama. “Kekerabatan

mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain dengan baik.”312 Filosofi partuturan adalah pengikat

312 Visit Samosir, “Adat dan Budaya Batak,” Adat dan Budaya Batak - Visit Samosir (diakses 27 Maret 2021).

kekerabatan. Intinya, bagi Gereja-gereja di Indonesia merayakan liturgi bernarasi adalah jati diri.

Maka, “beribadah ritual di gereja adalah mengisahkan narasi dan merenarasikan peristiwa Kristus” dalam guliran sejarah.313 Setelah siap, marilah terus menggulirkan narasi dan berziarah bersama kami. °

313 Rachman, 153.

L u k a s P e l i t u r g i | 133

Dokumen terkait