PENGARUH PERUBAHAl'f
NILAI TUKAR
US DOLLAR
TEJR.HADAP EKSPOR
UDANG INDONESIA
Marlia Rahmayanti
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PEllTANIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKN()LOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAFC
PENGARUHPERUBAHAN
NILAI TUKAR
US DOLLAR
TERHADAP EKSPOR
UDANG INDONESIA
Oleh:
MARLIA RAHMA Y ANTI
100092020271
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Ekonomi Pertanian
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SY ARIF HIDAY ATULLAH
JAKARTA
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEK"f\JOLOGI
UIN SY ARIF HIDA YATULLAH JAKARTA
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh :
1''1ama
NIM
Program Studi Judul Skripsi
: Mariia Rahmayanti : 100092020271
: Sosial Ekonomi Pertanian
: Pengaruh Perubahan Nilai Tukar CS Dollar Terhadap Ekspor Udang Indonesia
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertani&n/Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayaruliah Jakarta.
Jakarta, Februari 2005 Menyetujui, Dosen Pembimbing
Pembimbing I, Pembunbing ll,
Prof. Dr. Tumari Jatileksono, MA, M.Sc.
' ,, '
ᄋNエNrHZセセ@
セゥセョウケ。ィ@
Jaya Putra, M.Sis"'1111Nl.P1)50 -' 17 956
Mengetahui,
エゥセ@
Eny Dwiningsih, S.TP, M.Si.
Ketua Jumsan
セセ@
.
PENGESAHAN UJIAN
Skripsi yang berjudul " Pengaruh Perubahan Nilai Tukar US Dollar
Terhadap Ekspor Udang Indonesia". Telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Hari Selasa, 22 Februari 2005. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata I (SI) pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian.
Jakarta, Februari 2005
Tim Penguji
Penguji I
Penguji III
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR
HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGUR.UAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Jakarta, Februrui 2005
Madia Rahmayauti
Ringkasan
MARLIA RAHMAYANTI, Pengaruh Nilai Tukar US Dollar Terhadap Ekspor Udang Indonesia. (Dibawah bimbingan TUMARI JATILEKSONO dan ENY
DWININGSIB).
Beberapa tahun terakhir ini penerimaan dari sektor migas cenderung menurun dan upaya untuk peningkatan ekspor dari sektor non miga:s khususnya subsektor perikanan merupakan salah satu altematif Udang sebagai komoditas ekspor
perikanan telah memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu sebagai sumber devisa negara.
Indonesia sebagai salah satu negara produsen udang terbesar di kawasan Asia
Pasifik. Pertumbuhan ekspornya mencapai 9 ,5% per tahun. Se lain itu peranan nilai ekspor udang terhadap nilai ekspor perikanan cukup besar dimana rata-rata pangsanya mencapai 50%. Pasar udang Indonesia pun telah tersebar ke negara-negara Timur Tengah, Eropa, Asia dan negara-negara Iainnya.
Masalah yang dihadapi dalam perdagangan ekspor udang adalah
berfluktuasinya permintaan udang Indonesia di pasar dunia, terutama ketika
Indonesia dilanda krisis ekonomi yang menyebabkan nilai matl. uang rupiah melemah dan berdarnpak pada penurunan harga udang Indonesia sehingga udang Indonesia dianggap murah di pasar internasional. Selain itu, melemahnya mata uang rupiah menyebabkan permintaan ekspor udang mengalami perubahan.
Penelitian ini bertujuan untuk (I). Mengetahui perkembangan ekspor udang Indonesia, (2) menganalisis pengaruh perubahan nilai tukar terhadap ekspor udang Indonesia.
Data sekunder yang digunakan adalah data deret waktu selama 18 tahun
nilai tukar dollar terhadap rupiah. Metode kuantitatif yang digunakan adalah regresi berganda, dan model persamaan untuk volume ekspor udang Indonesia adalah Q=ao+a1P,+a2ERt. Sedangkan untuk model persamaan nilai ekspor udang adalah R=ao+a1P,+a2ER,.
Udang Indonesia dihasilkan dari tiga sumber yaitu melalui budidaya, perairan umum dan laut. Perkembangan total produksi cukup menggembirakan, yang
menunjukkan peningkatan pesat. Untuk perkembangan ekspor udang beku, segar dan kaleng menunjukkan peningkatan walau masih berfluktuasi, demikian pula dengan nilai ekspor udang yang diperoleh masih berfluktuasi.
Dari hasil analisis regresi model persamaan volume ekspor udang segar, beku dan kaleng bahwa (I) Harga ekspor tidak berpengaruh nyata te:rhadap volume ekspor udang. (2) Nilai tukar berpengaruh nyata terhadap nilai ekspor ketiga jenis produk udang, dan nilai koefisiennya bertanda positif yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan niali tukar akan meningkatkan volume ekspor udang, dan sebalikuya.
Selanjutnya hasil analisis regresi terhadap nilai ekspor udang yaitu (1) Harga ekspor udang berpengaruh nyata terhadap nilai ekspor udang beku, segar dan kaleng dengan nilai koefisiennya positif, sehingga bila terjadi peningkatan harga ekspor masing-masing jenis produk udang akan meningkatkan nilai ekspor udang menurut bentuknya, begitu pula sebaliknya. (2) Nilai tukar berpengaruh nyata terhadap nilai ekspor udang beku, segar dan kaleng dan nilai koefisiennya bertanda positif, artinya setiap terjadi perubahan nilai tukar misalnya nilai tukar rneningkat maka akan berdampak pada perubahan nilai ekspor yang diterima yaitu menjadi meningkat.
Dari hasil analisis tersebut maka dapat dikatakan bahwa setiap perubahan nilai tukar akan mempengaruhi ekspor udang Indonesia baik nilai maupun volume. Namun untuk meningkatkan ekspor udang pemerintah tidak bisa menurnnkan nilai mata uang
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
KATA PENGANTAR
セI|セI|セ|セ@
Segala puja dan puji hanya bagi Allah SWT, penabur segala nikmat dan
karunia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Na.bi Muhammad SAW
beserta keluarga, sahahat serta seluruh pengikutnya. Tak ada yang pantas penulis
ucapkan selain Alhamdullah kehadirat Allah SWT sebagai ungkapan syukur atas
segala berkat dan rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Pertanian bagi mahasiswa akhir pada Jurusan Sosia.l Ekonomi Pertanian, Fakultas
Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi
ini berjudul "Pengaruh Perubahail Nilai Tukar US Dollar Terhadap ekspor
Udang Indonesia".
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. U;;apan terima kasih ini
penulis tujukan terutama kepada:
I. Bapak Prof. Dr. Tumari Jatileksono, MA, M.Sc, dan Ibu Eny Dwiningsih, S.TP,
M.Si, yang telah membimbing dan banyak membe1ikan masukan bagi penulis.
2. Bapak Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, selaku Dekan Fakultas Sains dan
3. Bapak Ir. Mudatsir Najamuddin, MM, selaku Ketua Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian yang telah banyak membantu kelancaran terselesaikannya skripsi ini. 4. Ibu Widyastutik, SE, M.Si, yang telah bersedia menjadi dosen penguji.
5. Para stafDosen Jurusan Agribisnis yang telah banyak memberikan ilmunya.
6. Kedua orang tua, Mama dan Papa atas dnkungan, baik rnoril maupun materil. 7. Bu Rizk:i, yang telah membantu kelancaran skripsi ini.
8. Adik-adikku tercinta, Fajar, Faisal dan Rizal yang telah banyak membantu hingga
skripsi ini selesai serta adik mungilku yang cantik "Fadhlillah" yang selalu
memberi semangat dalam hari-hariku.
9. Keluarga di Bandung, Mimih, Ibu, Ayah dan sepupuku terutama Febi atas segala
bantuan dan dukungannya sehingga tulisan ini dapat terwujud. Keluarga Besar E. Kasmat di Depok, terutama Alm Nenekku tercinta ams segala nasehat dan
semangatnya, serta Keluarga Orn Tanto yang telah membantu kelancaran penulis
dalam menyusun skripsi ini.
10. Keluarga Om Cacu dan Pak Benyamin yang telah memberi fasilitas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar.
11. Pak Teguh, yang tidak pemah bosan mencarikan informasi dan literatur yang dibutuhkan penulis.
12. Sahabat-sahabatku tercinta, Chimah, Q-nay, Umah, Wawa, Zore dan Bonang
yang selalu memberikan semangat dan mengisi ceria hari-hariku dengan "Rusuh
13. My best friends in campus, Lulu, Naty, Imah dan Amel si Miss Come! yang
selalu ceria, yang telah memberikan bantuan dan dukungannya.serta mewarnai hari-hariku dengan canda, tawa, suka dan duka.
14. Kawan-kawanku seperjuangan saat KKN, Pite, Citra, Mas Ro', Renal, Syifa, amel, Natzuki, Lulu, Lubena, Yulis, Wahyu, Ratna, Deni, Dhani, Syahril, Quroy,
Prucul, Naufal, dan David.
15. Rekan-rekan AGB A, Ina, Tanti, , Masburi, Dewi, Gigip, Teti, Pipit dan
rekan-rekan lainnya, atas kebersamaannya selama ini.
16. Rekan-rekan AGB B, Yusuf, yang telah bersedia menghabiskan waktunya untuk membantu kelancaran seminar dan sidang. Gewe, Arman, Gofur, Lia, Yati, Erna, Dini dan rekan-rekan AGB B lainnya.
17. Staf perpustakaan dan Staf Akademik yang telah banyak membantu kelancaran
skiif)si ii1i.
18. Pihak-pihak lain yang turut membarltti kelailcaran penulisan ini.
Penulis mengakui bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan tuntunan dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan mendatang.
Jakarta, F ebruari 2005
DAFTARISI
KATA PENGANTAR ... . DAFTAR ISi ,, .. , .. , .. , .. ,,, .. ,, .. , ... , .. , .. ,, .. , ... , .... ,,.,,,,, .. ,, .. ,, ... , ... ,.. IV
DAFTAR TABEL ... ,... v1
DAFTAR GAMBAR ...
vu
DAFTAR LAMPIRAN ... , ... , ... ,.,... vm BAB I PENDAHULUAN A La tar Belakang . .. . .. .. .. .. . .. . .. .. .. .. . .. .. . .. .. . .. .. . .. . .. .. . .. .. .. . .. . .. . .. .. .. .. . .. .. .. . 1B. Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 6
E. Sistematika Penulisan .. . .... .. .. .. .. .. ... .. .. .. .. .. .... .. .... .. .. .. .... .. . .. .. .... .... .. 7
BAB IJ[ TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN A Deskripsi Udang... 9
B. Perdagangan Intemasional .. ... . ... ... ... .... ... ... ... ... ... .. .. .. ... 13
C. Nilai Tukar.. ... ... .. ... .... .... .. .... .... .. . .. ... ... ... ... 17
D. Penelitian Terdahulu ... 17
E. Kerangka Pemikiran ... , ... ... ... ... . .. . . 18
BAB III METODE PENELITIAN A Jenis dan Sumber Data... 21
B. Metode Analisis dan Pengolahan Data ... .. .. ... ... .. .... .. .. . 21
C. Analisis Data dan Perumusan Model ... .... .. .... .... .. .... ... .. .. ... 22
D. Definisi Operasional ... 23
BAB IV PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR UDANG INDONESIA A Perkembangan Produksi Udang ... 25
B. Perkembangan Ekspor Udang ... ... .... ... ... .. .... ... .... .. .... .... ... ... . 28
BAB V BASIL DAN PEMBABASAN A Perubahan Nilai Tukar ... 45
B. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar terhadap Volume Ekspor Udang Indonesia... 46
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .. . .. . .. ... .. . .. ... . ... ... . . .. . .. . ... . .. ... ... .. . .. . ... . . .. ... .. . .. ... . .. . . .. . 61
B. Saran... 63
DAFTARPUSTAKA... 64
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 : Perkembangan Hasil Ekspor Perikanan Indonesia,1988-2002 ... .
Tabel 2 : Perkembangan Ekspor Udang Indonesia, 1988-2002 ... . Tabel 3 : Perkembangan Produksi Budidaya Menurnt Kepulauan ... . Tabet 4 : Perkembangan Produksi Udang Indonesia ... . Tabel 5 : Perkembangan Ekspor Udang Beku Indonesia, 1985-2002 ... .
2 3
26
27 29 Tabet 6 : Perkembangan Ekspor Udang Segarindonesia, 1985-2002 ... 31 Tabel 7 : Perkembangan Ekspor Udang Kaleng Indonesia, 1985-2002... .. ... . ... . . 32 Tabet 8 : Perkembangan Ekspor Udang Beku Menurut Negarn Tujuan,
1985-2002 ... 34 Tabel 9 : Perkembangan Ekspor Udang Segar Menwut Negara Tujuan,
1985-2002 ... . Tabet 10 : Perkembnagan Ekspor Udang Kateng Menwut Negara Tujuannya,
1985-2002 ... . Tabel 11 : Perkembangan Pangsa Udang Beku Indonesia, 1985--2002 ... .
36
38 40 Tabet 12: Perkembangan Pangsa Pangsa Udang Segar Indonesla, 1985-2002... 41 Tabel 13 : Perkembangan Pangsa Udang Kateng Indonesia, 1985-2002... 43 Tabel 14: Hasil Regresi dari Model Persamaan Volume Ekspor Udang
Indonesia... 51 Tabet 15 : Hasil Regresi dari Model Persamaan Nilai Ekspor Udang
[image:14.525.26.446.165.570.2]Gambar 1
Gambar 2 Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9
Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12
Gambar 13
DAFTAR GAMBAR
Halaman
: Peranan Nilai Ekspor Udang Terhadap Nilai Ekspor Hasil
Perikanan_____________________________________________________________________________________________ 4
Kurva Terjadinya Perdagangan Internasional________________________________ 15
: Alur Pemikiran Penelitian Pengaruh Nilai Tukar Terhadap
Ekspor Udang Indonesia__________________________________________________________________ 20
: Perkembangan Laju Nilai Tukar Dollar Terhadap Rupiah___________ 45
: Perkembangan Harga Ekspor Udang Beku____________________________________ 46 : Perkembangan Volume Ekspor Udang Beku_________________________________ 47 : Perkembangan Harga Ekspor Udang Segar____________________________________ 47 : Perkembangan Volume Ekspor Udang Segar________________________________ 48 Perkembangan Harga Ekspor Udang Kaleng_________________________________ 49
Perkembangan Volume Ekspor Udang Kaleng_____________________________ 50 : Perkembangan Nilai Ekspor Udang Beku Indonesia_____________________ 54
[image:15.519.29.439.155.472.2]Lampiran I Lampiran 2 Lampiran3 Lampiran4 Lampiran 5 Lampian 6
Lampian 7
Lampian 8
Lampiran 9
Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12
Lampiran 13
Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Jenis-jenis Udang ______________________________________________________________________________ _ : Perkembangan Ekspor Udang Indonesia ________________________________________ _ Perkembangan Ekspor Udang Beku Menurut Negara Tujuan ____ _ Perkembangan Ekspor Udang Segar Menurut Negara Tujuan ... . Perkembangan Ekspor Udang Kaleng Menurnt Negara Tujuan .. . Input Regresi Volume Ekspor Udang Beku __________________________________ _ Hasil Regresi Model Persamaan Volume Ekspor Udang Beku ____ _ Input Regresi Volume Ekspor Udang Segar __________________________________ _ Hasil Regresi Model Persamaan Volume Ekspor Udang Segar __ _ Input Regresi Volume Ekspor Udang Kaleng ______________________________ _ Hasil Regresi Model Persamaan Volume Ekspor Udang Kaleng Input Regresi Nilai Ekspor Udang Beku __________ ---Hasil Regresi Model Persamaan Nilai Ekspor Udang Beku ______ _ Input Regresi Nilai Ekspor Udang Segar _________ ---· Hasil Regresi Model Persamaan Nilai Ekspor Udang Segar _______ _ : Input Regresi Nilai Ekspor Udang Kaleng ___________________________________ _
66 68
69
70
71 7273
74
75 7677
78 7980
81 82A. Latar Belakang
BABI
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki
potensi sumber daya perikanan, diantaranya berbagai ikan yang bernilai ekonomi
tinggi. Perikanan laut Indonesia yang luasnya 5,8 juta kilometer dan bentangan garis
pantai 81.000 kilometer, memiliki potensi lestari ikan 6,4 jrnta ton atau 7,5% dari
seluruh potensi ikan laut dunia. Indonesia juga memiliki potensi budidaya air payau,
budidaya laut, budidaya air tawar dan perairan umum yang cukup besar (Ditjen
Perikanan, 2004 ).
Untuk mengantisipasi perdagangan global dan pengentasan kemiskinan,
ekspor non migas dijadikan motor penggerak perturnbuhan ekonomi Indonesia. Hal
tersebut terbukti dengan meningkatnya volume ekspor perikanan yang merupakan
salah satu basil non migas, terutama ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi yang
mengakibatkan meningkatnya nilai tukar US dollar terhadap rupiah.
Peningkatan total ekspor basil perikanan Indonesia selama periode I 985-2002
menunjukkan peningkatan 9,5% per tahun (Tabel I). Komoditas perikanan yang
memiliki volume ekspor terbesar adalah komoditas udang dengan laju rata-rata
Tabel 1. Perkembangan Ekspor Hasil Perikanan Indonesia, 1988-2002.
Tahun Volume Ekspor Menurut Komoditi <Ribu Ton
Udang Tuna. Ikan Kepiting La.innya La inn ya
1988 57 49 27 5 44
1989 77 57 49 4 42
1990 94 73 108 5 40
1991 96 103 153 6 51
1992 100 43 183 5 59
1993 98 92 262 6 69
1994 99 79 268 6 91
1995 94 86 292 6 83
1996 100 82 320 5 90
1997 93 82 332 3 93
1998 142 104 330 3 69
1999 109 90 354 10 79
2000 116 92 .216 12 81
2001 128 84 169 12 92
2002 124 92 236 11 100
%Kenaikan 6,8
6,4
. 24,6' 15,4 12,5
'Rata-rata · ' .. .
·, ·. .
Sumber: Ditjen Perikanan, 2002.
Volume ekspor komo(litas perikanan yang semakin meningkat menuujukkan
bahwa komoditas periJc!l1W1'1 memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam perdagangan internasional. Salah satu komoditasnya adalah udang. Dewasa ini supplai udang
dipenuhi oleh Jebih dari 15 negara produsen dan Indonesia merupakan salah satu
pengekspor terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Ekspor udang Indonesia selama tahun 1988-2002 menunjukkan peningkatan
[image:18.528.28.446.119.463.2]tertinggi terjadi pada tahun 1998, dengan persentasenya 53,26%. Penurunan terbesar terjadi pada tahun 1999 sebesar 23,15%.
Tabel 2. Perkembangan Ekspor Udang Indonesia, 1988-2002.
Tahun Volume
.
Persentase Nilai ·. Persentase (Ton) Perubahan (%) (US$'000) · Perubahan (%)I .
·•
1988 56.793 500.312
1989 77.190 35,91 556.760 11,28
1990 94.037 21,82 690.230 23,97
1991 95.626 1,69 769.982 11,55
1992 100.455 5,05 764.850 -0,67
1993 98.569 -1,88 876.703 14,62
1994 99.523 0,97 1.009.738 15,17
1995 94.551 -4,99 1.037.006 2,70
1996 100.230 6,00 1.017.892 -1,84
1997 93.043 -17,17 1.011.135 -0,66
1998 142.689 53,36 1.011.467 0,33
1999 109.650 -23,15 888.982 -12,11
2000 116.188 5,96 1.002.124 12,73
2001 128.830 10,89 934.989 -6,70
2002 124.765 -3,15 836.563 -10,53
Sumber: Ditjen Perikanan, 2002.
Nilai ekspor udang selama 1988-2002 menunjukkan peningkatan, namun masih berfluktuasi. Peningkatan nilai ekspor udang tertinggi terjadi pada tahun 1990 sebesar 23,97%. Sedangkan penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada tahun 1999,
sebesar 12,11%.
Volume dan nilai ekspor masih mengalami fluktuasi, tetapi menuajukkan
Nilai Ekspor (Ribu US$)
1500000
1000000
500000
1988 1991 1994 1997 2000
Sumber : Ditjen Perikanan, 2002.
Gambar 1. Peranan Nilai Ekspor Udang Terhadap Nilai Ekspor Hasil Perikanan.
Komoditas udangjuga merupakan primadona bagi subsektor perikanan dalam menghasilkan devisa, dari nilai ekspor basil perikanan Indonesia 50% adalah ekspor
udang.
[image:20.521.28.440.94.461.2]Tujuan ekspor udang beku diantaranya adalah Jepang, Hongkong, USA,
Belgia dan Luxemburg. Ekspor udang segar diantaranya Singapura, Jepang,
Hongkong dan Malaysia. Udang kaleng diantaranya adalah Singapura, USA,
Hongkong dan Jepang.
Udang Indonesia memiliki permintaan yang cukup besar di pasar
intemasional dan berperan penting dalam menghasilkan devisa. Volume ekspor
udang beku, segar maupun kaleng mengalami peningkatan namun masih berfluktuasi.
Hal ini memerlukan kajian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempe.ngaruhi
fluktuasi volume ekspor.
B. Perumusan Masalah
Akhir-akhir ini pemerintah menggalakkan peningka.tan nilai ekspor non
migas. Udang yang merupakan salah satu komoditas non migas bidang perikanan dan
kelautan, dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam peningkatan nilai
ekspor.
Volume ekspor udang mengalami peningkatan namun masih berfluktuasi.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan nilai tukar dollar Arnerika terhadap rupiah.
Sementara penyebab lain seperti adanya kontaminasi bakteri phatogen atau
kandungan antibiotik sehingga udang Indonesia tidak diterima di pasar intemasional
dan adanya isu-isu intemasional mengenai pemasaran udang Indonesia. Namun salah
nilai tukar. Dengan demikian, dalam penelitian ini masalah yang perlu dirumuskan
adalah:
1. Bagaimana perkembangan pola ekspor udang Indonesia di pasar internasional?
2. Bagaimanakah pengaruh nilai tukar terhadap ekspor udang Indonesia dan
seberapa besar pengaruhnya?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui perkembangan pola ekspor udang Indonesia di pasar intemasional. 2. Menganalisis pengaruh perubahan nilai tukar US dollar terhadap volume dan
nilai ekspor udang Indonesia.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan bagi penulis dan
pembaca. Bagi penulis berguna untuk menambah pengalarnan dan media untuk
menerapkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah. Kegunaan bagi pembaca adalah
sebagai sumber informasi tentang pengaruh perubahan nilai tukar US dollar terhadap
E. Sistematika Penulisan
Tahapan skripsi ini akan dituangkan ke dalam enam bab:
BAB I : PENDAHULUAN, membahas tentang Iatar belakang dari penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II
BAB III
TINJAUAN PUSATAKA DAN KERANGK.A PEMIKIRAN, bab ini
membahas mengenai deskripsi udang, teori-teori yang relevan dari permasalahan yaitu mengenai perdagangan internasional dan nilai
tukar. Bab ini juga membahas tentang alur pemikiran penelitian. METODOLOGI PENELITIAN, dalam bab ini akan diuraikan
mengenai tahun analisis, jenis data yang digunakan, metode
anali:si£, analisis. data dan perumusan model serta definisi
operasional.
BAB IV : PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR UDANG
BAB V
INDONESIA, bab ini akan menguraikan peirkembangan produksi selama tahun analisis dan perkembangan ek:;por udang Indonesia
sesuai dengan jenis produk udang.
HASIL DAN PEMBAHASAN, membahas pengarub nilai tukar US
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN, penulis mencofoa menarik kesimpulan
berdasarkan basil penelitian dan memberi saran-saran yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA J>EJW:IKIRAN
A. Deskripsi Udang
1. Jenis-jenis Udang
Dalam dunia perdagangan internasional dikenal beragam spesies udang.
Keragaman ini dapat dipilah-pilah menurut asal habitatnya. Berdasarkan
habitatnya, spesies udang yang telah dikenal dalam jalur perdagangan
internasional dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar (Hari M.B, 1992:7),
yakni:
a. Spesies udang Iaut dingin. Kelompok spesies ini berasal dari daerah dingin
dan hidup pada perairan laut dingin. Pertumbuhannya lambat dan bentuk fisik
dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan udang Iaut yang berasal
dari daerah tropika.
b. Spesies udang Iaut tropika. Kelompok spesies ini berasal dari daerah tropika
dan hidup pada perairan pantai daerah tropika, serta memiliki ukuran lebih
besar.
c. Spesies udang air tawar. Umwnnya kelompok spesies ini, hidup pada danau
atau sungai didaerah tropika dan dapat memiliki ukuran yang besar sekali.
Spesies udang ini dalam dunia perdagangan internasional umurnnya dikenal
Menurut Suyanto dan Mujiman (1999) dalan1 Kambuno (2000:41)
udang yang terdapat di pasaran intemasional sebagian besar berasal dari laut,
hanya sebagian kecil saja yang berasal dari air tawar, ha! ini disebabkan volume
perdagangan yang relatif kecil dan terbatasnya daerah pemasaran pada beberapa
negara.
Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Pa!aemonidae
sehingga para ahli menyebutnya kelompok udang Pa!aemonid. Udang laut sendiri
biasanya berasal dari keluarga Panaeidae, yang biasa disebut Penaeid. Di
samping itu pula terdapat udang-udang dari keluarga lain seperti Palimuridae,
Scy!!aridae, dan suku Stomatopoda.
a. Udang Penaeid
Beberapa jenis udang Penaeid yang biasa ditangkap oleh para nelayan
antara lain adalah:
I) Udang Windu (Penaeus monodon)
Udang Ini dikenal sebagai Black tiger shrimp, termasuk jenis ndang
laut yang memiliki kulit agak keras tetapi tidak kaku pada ruas badannya,
terdapat dua ban yang berwama ungu hitam dan kaki umumnya berwama
merah, panjang badan umumnya 20-25 cm.
2) Udang Putih (Penaeus mergu!ensis)
3) Udang Werus (Metapenaeus monocerus)
Dikenal juga dengan nama udang api-api kare:na berwarna kemerah-merahan.
4) Udang Kembang (Penaeus semisulcatus)
Udang ini dinamakan juga udang windu, udang pancet, udang manis, udang doang dan sitto. Dalam dunia perdagangan intemasional sering dijuluki sebagai tiger prawn sehingga agak sulit dibedakan dengan udang windu atau
Penaeus monodon.
5) Udang Belang (Parapenaeopsis scul!ptilis)
Udang ini juga dinamakan udang krosok, udang harimau atau udang
loreng, merupakan jenis udang terbesar diantara udang-udang Parapenaeopsis
lainnya.
b. Udang Barong
Udang ini termasuk keluarga Parimuridae, dikenal sebagai spiny lobster,
Dalam dunia perdagangan udang ini biasa dipanggil sebagai lobster tapi bukan lobster yang sesungguhnya karena dinegeri kita terdapat lobster yang sebenarnya
yaitu yang terdapat di laut utara Eropa.
c. Udang Kipas
Udang kipas (Scyllarus sp) dinamakanjuga udang keper atau udang pasir,
d. Udang Tambak
Beberapa jenis Penaeid yang biasa mengbuni tambak dan selaajutnya
dinamakan udang tambak antara lain adalah udang windu (Penaeus monodon),
udang putih (Penaeus mergulensis dan Penaeus indicus longirastris), udang
werus (Metapenaeus monocerus dan Metapenaeus berkenroadi) dan udang
cendana (Metapenaeus brevicornis).
2. Berbagai Bentuk Komoditas Udang
Bentuk produk udang yang dijajakan di pasar intemasional culrnp beragam
dari suatu pasar ke pasar Iainnya. Adapun bentuk udang yang dipasarkan pada
umumnya adalah:
a. Udang segar dingin.
b. Udang beku
c. Udang kaleng
Menurut Hari M.B. (1992 : 14) udang yang diperdagangkan dalam bentuk
segar terbatas pada daerah-daerah yang dekat dengan pielabuhan perikanan.
Umumnya udang tersebut telah mengalami perlakuan ー・ョ、ゥョAセョ。ョ@ dikapal setelah
proses penangkapannya. Persyaratan penanganan dan penge:masan udang segar
dingin mengacu pada persyaratan peraturan pemerintah ym1g tertuang dalam
Standar Nasional Indonesia (SN!) nomor 01-2728-2-1992. Meliputi: penerimaan bahan baku, pemotongan kepala, sortasi, pencucian, penimbangan, pendinginan,
Hari M.B. (1992:14) mengatakan bahwa udang beku merupakan cara
penyajian yang paling umum dan menempati bagian terbesar dalam perdagangan
intemasional. Udang beku terdiri dari udang utuh dan kepala:, tanpa kepala, dikupas
dan ekor masih utuh, dikupas dengan vena dibuang, dikemas dengan hampa udara,
dan dibelah dengan atau tanpa: vena.
Persyaratan penanganan dan pengemasan udang kaleng menurut SNI
nomor 01-2712-2-1992 yang meliputi: sortasi, pemotongan kepala, pencucian
awal, pengupasa:n, pembelahan atau tanpa pembelahan, pencucian akhir, sortasi
akhir, pengisian udang ke kaleng, sterilisasi, pendi11ginan, pengeraman,
pengemasan, pelabelan, pemberian kode dan penyimpanan (Ditjen Perikanan,
1998).
B. Perdagangan Internasional
1. Definisi Perdagangan Internasional dan Ekspor
Gonarsyah ( 1987) dalam Nursusanto (2003: 11 ), perdagangan intemasional
dalam arti sempit merupakan gugusan masalah yang timbul sehubnngan dengan
pertukaran komoditi antar negara. Menurut Waluya (1995:14), perdagangan
intemasional terdiri dari kegiata.n-kegiatan pemiagaan dari suatu negara asal yang melintasi perbatasan menuju suatu negara multinational coorporation nntuk
melakukan perpindahan komoditi, teknologi (pabrik) dan merek dagang.
dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah
dan mengharapkan pembayaran dalam bentuk valuta asing.
2. Faktor Timbulnya Perdagangan Internasional
Pada dasamya faktor yang mendukung timbulnya perdagangan
intemasional dari suatu negara lain bersumber dari keinginan memperluas
pemasaran komoditi ekspor dan memperbesar penerimaarn devisa bagi kegiatan
pembangunan, adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara, tidak
semua negara mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya, serta akibat
adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditi tertentu.
Ada pun faktor-faktor yang menyebabkan te1jadinya perdagangan
internasional menurut Boediono (2001: 11) yaitu adanya kemungkinan diperolebnya manfaat dari perdagangan tersebut karena suatu negara dapat
menghasilkan barang tertentu secara lebih efisien dibandingkan dengan negara
lain.
Didalam teorinya mengenm timbulnya perdagangan internasional,
Heckscer dan Ohlin dalam Salvatore (1997:129) menganggap bahwa negara dicirikan oleh bawaan faktor yang 「・イ「・セ。L@ sedangkan fungsi produksi semua
negara adalah sama. Berdasarkan asumsi tersebut didapatkan kesimpulan dengan
fungsi produksi yang sama dan faktor bawaan yang berbeda antar negara, suatu
negara cenderung mengekspor komoditi yang relatif intens1if dalam menggunakan
Secara teoritis, suatu negara (misalnya negara A) akan mengekspor suatu komoditi (misalnya udang) ke negara lain (misalnya negara B), apabila harga domestik di negara A (sebelum terjadinya perdagangan) re:latif Iebih rendah bila
dibandingkan dengan harga domestik di negara B ( Gambar I). Stuktur harga yang
relatif lebih rendah di negara A tersebut dikarenakan adanya excess supply yaitu
produksi domestik melebihi konsumsi domestik. Dalam ha! ini faktor produksi di
negara A berlimpah. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan untuk menjual kelebihan produknya ke negara Iain. Dilain pihak, negara B terjadi
kekurangan penawaran udang karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestiknya (excess demand) sehinggga harga menjadi tinggi, untuk mencukupi
kebutuhan konsumsinya tersebut, negara B berkeinginan untuk membeli komoditi
dari negara lain yang harganya lebih rendah. Jika kemudian terjadi komunikasi
antara negara A dan B maka akan terjadi perdagangan a:ntar negara tersebut.
Dalam ha! ini negara A akan mengekspor udang ke negara B.
p
b ...
Pa ···
Qa Negara A
SA
P
Pl
Q
Sumber: Salvatore {1997 : 84)
ES
. ... .
b
···a: ···ED
Q
QI
Pasar Internasional
Ga:mbar 2. Kurva Terjadinya Perdagangan Internasional.
a ···D
· - - - · Q
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa sebelum terjadinya perg!lgangan
internasional, harga di negara A adalah sebesar Pa sedangkan harga di negara B
sebesar Pb. Penawaran di pasar internasional akan terjadi jika harga intemasional
Iebih tinggi dari Pa, sedangkan permintaan di pasar internasional akan terjadi jika
harga intemasional lebih rendah dari Pb. Pada saat harga internasional sama
dengan harga Pa maka di negara B akan terjadi excess demand sebesar a
sedangkan jika harga internasional sebesar Pb maka di negara A akan terjadi
excess supply sebesar b. Dari a dan b tersebut maka akan terjadi kurva ES dan
ED, dimana ES dan ED adalah kurva excess supply dan kurva excess demand di
pasar intemasional. Perpaduan antara ES dan ED akan menentukan harga yang
berlaku di pasar internasional yaitu sebesar Pl. Dengarn adanya perdagangan
internasional tersebut maka negara A akan mengekspor suatu komoditi (misalnya
udang) sebesar x, sedangkan negara B akan mengimpor sebesar m. Di pasar
internasional besamya x akan sama dengan m yaitu sebesar QI. Dengan kata lain
besamya ekspor suatu komoditi dalam perdagangan intemasional akan sama
dengan impor komoditi tersebut.
Harga yang terjadi di pasar intemasional merupakan keseimbangan antara
penawaran dan pennintaan dunia. Perubahan dunia akan mempengaruhi
penawaran dunia, sedangkan perubahan dalai;n konsumsi akan berpengaruh
terhadap permintaan dunia. Kedua perul:>ahan itu yang akhirnya akan
C. Nilai Tukar
Nilai tukar mata uang merupakan perbandingan nilai dua mata uang yang
berbeda atau dikenal dengan sebutan kurs (Nopirin, 1999:137). Peningkatan atau
perbaikan nilai tukar suatu negara biasanya dianggap menguntungkan bagi negara itu
sendiri, karena harga yang diperoleh dari ekspomya akan meningkat secara relatif
terhadap harga-harga yang harus dibayarnya untuk memperoleh produk-produk
impor (Salvatore, 1997:93).
Penawaran dan permintaan terhadap valuta asmg timbul karena adanya
hubungan intemasional dalam perdagangan barang, jasa maupun modal. Penawaran
valuta asing disebabkan adanya ekspor barang, jasa transfer atau hibah dari luar
negeri maupun kapital masuk. Sedangkan permintaan valuta asing disebabkan adanya
impor barang, jasa maupun kapital, sehingga untuk menyelesaikan transaksi perlu
menukarkan suatu mata uang domestik dengan valuta asing dan sebaliknya (Halwani,
2000:186)
Menurut Salvatore (1997:94) menyatakan bahwa banyak ha! yang dapat turut
mempengafljhi nilai tukar. Namun dua ha! yang dewasa in;i sering dikemukakan
sebagai penyebab terjadinya perubahan nilai tukar suatu negara adalah pertumbuhan
ekonomi d11n pembayaran ke pihak luar negeri (transfer).
D.
P(lnelitill'1
Terlf1fh11lu , ' IP((pelitian Retnowati (1990), mengenai 。ョQQQゥセゥウ@ ekonomi uqang In<lonesia di
penawaran ekspor udang Indonesia ke Jepang adalah harga udang di pasar dunia,
produksi, variabel dummy (kebijakan penghapusan alat tangkap trawl) dan variabel
intensifikasi tambak, sedangkan variabel bebas harga komoditi substitusi di
Indonesia, nilai tukar, pendapatan perkapita Indonesia tidak berpengaruh nyata
terhadap penawaran udang.
(E.
kerangka Pemikiran\__/
Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang terjadi sejak pertengahan tahun
1997, saat ini mengakibatkan sektor pertanian memperoleh keuntungan yang cukup besar. Hal ini disebabkan sebagian hasil produksi sektor pe1ianian di ekspor dan
perolehan keuntungan yang cukup besar tersebut akibat tingginya nilai dollar, yang
merupakan peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan arah pembangunan ke
sektor primer seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan kelautan.
Beberapa tahun terakhir perkembangan ekspor migas terhadap total nilai
ekspor Indonesia dan total produksi domestik bruto mengalami penurunan, tetapi
tidak demikian dengan sektor non migas, dalam ha! ini adalah pertanian yang telah
memberikan sumbangan yang cukup besar.
Udang yang merupakan salah satu komoditi sektor pertanian yang termasuk
sub sektor perikanan, merupakan penyumbang devisa terbesar dalam sub sektor
perikanan Indonesia. Dalam kondisi pasar internasional yang terns berkembang
termasuk pasar udang, peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor komoditi ini
Tetapi dalam perdagangan internasional, sebagaimana komoditi lainnya udang
menghadapi persaingan yang ketat terutama dalam hal mutu dari negara penghasil
udang lainnnya.
Ekspor udang Indonesia ke pasar internasional sttiak tahun 1985-2002
cenderung meningkat, walaupun masih mengalami fluk:tuasi. Namun demikian udang
Indonesia di pasar internasional masih memiliki pangsa pasar yang cukup besar.
Dengan adanya krisis perekonomian tentnnya akan menyebabkan terjadinya
peningkatan nilai tukar dollar Amerika yang berdampak pada perubahan ekspor
udang. Oleh karena itu dalam penelitian ini, menganalisis pengaruh perubahan nilai
tukar US dollar terhadap ekspor udang Indonesia dengan menggunakan dua variabel
Ekspor Udang Indonesia
' Ir
11 Nilai Tukar
II
II
Harga EksporII
'
I. Volnme Ekspor
セ@
2.
Nilai Eksporb
Analisis
Regresi
[image:36.518.58.424.83.490.2]BABffi
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Snmber Data
Data yang digunakan sebagai bahan analisa dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data deret waktu (time series). Data tersebut meliputi data tahunan
selama 18 tahun (1985-2002) dan diperoleh dari Direktorat Jendral Perikanan, selain
itu data didapat dari berbagai kepustakaan yang terkait dengan penelitian ini.
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah: I. Volume dan nilai ekspor basil perikanan Indonesia.
2. Volume dan nilai ekspor udang baik udang beku, segar maupun kaleng. 3. Produksi udang Indonesia.
4. Volume dan nilai ekspor udang menurut negara tujuan. 5. Harga udang Indonesia di negara internasional.
6. Nilai tukar atau excange rate US$ terhadap rupiah (Rp/US$).
r
ャセZm・エッ、・@
Analisis dan Pengolahan DataMetode yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif Untuk perkembangan produksi dan ekspor udang Indonesia dianalisis secara
deskriptif dengan tabulasi. Metode kuantitatif dengan menggunakan model linier
Pengolahan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pengelompokan data,
perhitungan penyesuaian-penyesuaian dengan kalkulator tangan untuk kemudian
ditabelkan menurut keperluan. Data yang telah ditabelkan dipersiapkan sebagai input
komputer sesuai dengan model yang digunakan. Perhitungan dilakukan dengan
bantuan komputer.
C. Analisis Data dan Perumusan Model
Model yang digunakan dalam analisis data adalah model regresi berganda.
Model dapat menunj ukkan persentase variabel tak bebas d\jelaskan oleh variabel
bebas dengan nilai R2, dan mengidentifikasi apakah variabel-variabel bebasnya
berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas dengan nilai P-Value.
Perumusan Model
Berdasarkan kerangka teori dan beberapa alternatif spesifikasi model yang
telah dicoba, maka model ekonometrik untuk ekspor udang Indonesia sebagai berikut:
Model persamaan volume ekspor udang
Q1 = ao+ al P1+ a2 ER1
Model persamaan nilai ekspor udang
R1= ao+ al P1+ a2ER1
Dimana:
Q, =Volume ekspor udang Indonesia R, = Nilai ekspor udang Indonesia
ER,= Nilai tukar tahun ke t.
!I() = lntersep
a0 =Parameter yang diduga, dimana n = 1,2
Hipotesis
Dari perumusan model diatas maka untuk menguji pengaruh koefisien regresi ditentukan hipotesis sebagai berikut:
H0 : B1 = 0 Berarti bahwa variabel bebasnya (harga dan atau nilai tukar) tidak
berpengaruh terhadap variabel tak bebasnya (volume ekspor udang).
H1 B1
*
0 Berarti bahwa variabel bebasnya berpengarub terhadap variabel takbebasnya.
Dasar dari hipotesis tesebut adalah:
..
Jika P -Value < 0,05 maka tolak Ho karena variabel bebas berpengaruhterhadap variabel tak bebasnya.
• Danjika P-Value > 0,05 maka terima Ho yang berarti bahwa variabel bebasnya tidak berpengaruh terhadap variabel tak bebas.
D. Definisi Operasional
• Volume udang Indonesia didefinisikan sebagai volume udang beku, segar atau kaleng ke pasar intemasional atau ke negara tujuan utama, dan dinyatakan
• Nilai ekspor udang Indonesia merupakan nilai ekspor udang beku, segar atau kaleng ke pasar internasional atau ke negara tujuan utama, dan dinyatakan
dalam ribuan US$.
• Harga ekspor udang yaitu harga ekspor udang beku, udang segar atau udang
kaleng ke pasar internasional yang merupakan basil bagi antara nilai ekspor
dengan volume ekspornya, dinyatakan dalam satuan US$ per kilogram.
" Nilai tukar adalah nilai tukar US dollar terhadap mata uang rupiah dinyatakan
BAB IV
PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR UDANG INDONESIA
A. Perkembangan Prodnksi Udang Indonesia
Udang mernpakan komoditi yang dominan di pasar mternasional sehingga
produksi udang semakin meningkat di beberapa negara produsen utama diantaranya
Cina, Indonesia dan Thailand. Produksi udang Indonesia pada periode 1985-2002
cenderung meningkat.
Udang produksi Indonesia berasal dari tiga sumber yaitu perauan Iaut,
perairan umum dan basil budidaya, udang yang berasal dari perairaan taut dan
perairan umum digolongkan sebagai udang hasil tangkapan. Udang hasil budidaya
berasal dari beberapa tempat yaitu budidaya laut, tambak, kolam dan sawah.
Budidaya tambak menghasilkan jumlah yang sangat signifikan. Sedangkan usaha
budidaya sawah, laut dan kolam barn dilaksanakan sekitar tahun 2000 dan masih
menghasilkan jumlah yang sangat kecil. Pembudidayaan udang ini dilakukan karena
alasan kontinuitas produksi dan basil yang lebih standar dalam ukuran, oleh karena
itu udang hasil budidaya hampir seluruhnnya untuk konsumsi ekspor.
Potensi lahan pengembangan untuk budidaya diperkirakan sekitar 913.000 Ha
namun lahan yang dimanfaatkan seluas 419.282 Ha di tahun 2000 atau
pemanfaatannya barn sekitar 45,92% (Ditjen Perikanan Budidaya, 2000). Laban
budidaya udang tersebar di berbagai pulau di Indonesia dimana luas areal terbesar di
Sumatera dan 123.360 Ha di pulau Sulawesi dan sisanya tersebar di Bali, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua.
Tabel 3. Perkembangan Produksi Budidaya Menurut Kepulauan (Ton). · ...
Pulau ' Prodnksi Bui.lidavaTambak
I . 2001 . . 2002
. . .
Sumatera 53.703 61.401
Jawa 52.263 51.652
Bali-Nusa Temn1ara 2.123 1.457
Kalimantan 12.046 14.581
Sulawesi 32.213 25.272
Maluku-Paoua 190 192
Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya, 2002.
Hasil produksi terbesar adalah pulau Sumatera dimana pada tahun 2001
sebesar 53.703 ton dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 61.401 ton. Sedangkan produksi terkecil terdapat pada pulan Papua dan Maluku yaitu 190 ton pada tahun
2001 dan meningkat di tahun 2002 sebesar 2 ton ュ・セェ。、ゥ@ 192 ton (Tabel 3 ).
Udang tangkap dihasilkan dari perairan laut dan perairan umum. Hasil udang
laut terbesar terjadi tabun 2001, terdapat pada perairan pantai Selat Malaka sebesar 84.800 ton dan yang kedua terdapat di perairan pantai Timur Sumatera dengan produksinya mencapai 31.297 ton (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2000).
Sedangkan untuk udang yang berada di perairan ummn berasa.1 dari dua sumber yaitu sungai-sungai besar dan danau-danau tawar yang tersebar di kepulauan Indonesia.
Adapun perkembangan produksi udang Indonesia pada periode 1985-2002
[image:42.524.29.445.177.472.2]atau rata-rata pertumbuhannya 13,74%, namun 1998 mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu 29,46%, dikarenakan terjadinya krisis ekonomi yang berdampak pula terhadap biaya produksi yang meningkat. Peningkatan tertinggi terjadi pada
tahun 1987 yaitu 41,04 % (Tabel 4 ).
Tabel 4. Perkembangan Produksi Udang Indonesia, 1985-2002.
Tahun Produksi (Ton)
Budidaya Perairan Laut Total Produksi Um um
1985 37.650 7.929 107.190 152.132
1986 41.187 7.495 117.707 167.019
1987 59.981 8.716 131.907 196.604
1988 78.785 9.411 153.806 254.002
1989 98.371 10.041 143.269 251.681
1990 107.295 8.784 144.825 260.904
1991 140.123 9.375 151.435 300.933
1992 141.690 10.032 165.473 317.195
1993 135.786 8.423 156.777 300.986
1994 134.058 9.373 177.734 312.165
1995 146.608 9.554 181.954 338.116
1996 151.759 9.775 187.269 348.783
1997 167.445 8.499 212.252 388.196
1998 118.111 9.326 222.550 349.987
1999 140.946 9.969 238.892 389.807
2000 143.750 9.971 249.032 402.573
2001 149.245 9.420 263.037 421.702
2002 159.997 9.994 261.485 411.476
Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Peningkatan produksi udang laut tertinggi terjadi pada tahun 1988 sekitar
[image:43.522.26.444.155.547.2]241.485 ton dari tahun sebelumnya. Sedangkan laju peningkatan raia:rata produksi
udang laut mencapai 5,65% per tahun.
Perkembangan produksi dari perairan umum juga mengalami peningkatan
dengan laju kenaikan rata-ratanya 2,34% per tahun. Peningkatan produksi
tertingginya mencapai 16,29% terjadi pada tahun 1987. Namun penurunan yang
terbesar terjadi pada tahun 1993 yaitu 16,99% atau menurun 1.600 ton dari tahun
sebelumnya.
Produksi udang Indonesia rata-rata meningkat sebesar 6,33% tiap tahunnya.
Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 1987 yaitu 19,51 % menjadi 199.604 ton dari
167.019 ton pada tahun 1986.
B. Perkembangan Ekspor Udang Indonesia
Udang Indonesia di ekspor dalam tiga bentuk yaitu beku, segar dan dalam
kaleng. Selama periode 1985-2002 ekspor udang didominasi oleh udang beku
mencapai 92,41 % kemudian udang segar 6, 15% dan 1,44% udang kaleng.
Volume ekspor udang beku Indonesia selama tahun 1985 sampai 2002
mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat, dimana pada tahun 1985
sebesar 28. 780 ton menjadi 112.539 ton di tahun 2002. Laju rata-rata pertumbuhan
volume ekspor udang beku sebesar 9,87% (Tabel 5).
Peningkatan tertinggi untuk volume udang beku terjadi pada tahun 1998
mencapai 136.806 ton (52,81 % ). Peningkatan terjadi karena menurunnya harga udang
perekonomian melanda Indonesia sehingga terjadi peningkatan nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah yang kemudian udang beku Indonesia di pandang murah di
pasaran intemasional.
Tabel 5. Perkembangan ekspor Udang Beku Indonesia, 1985-2002.
Tahun Volume Ekspor Nilai Ekspor Harga .
(Ton) (RibuUS$) . (US$/kg)
1985 28.780 119.455 6,9
1986 33.992 280.697 8,2
1987 40.941 343.474 8,4
1988 53.294 489.067 9,2
1989 71.704 547.725 7,6
1990 89.887 678.079 7,5
1991 90.556 754.853 8,3
1992 91.512 727.816 7,9
1993 91.224 840.784 9,2
1994 92.401 968.240 10,5
1995 87.695 1.000.498 11,4
1996 94.504 1.002.098 10,6
1997 89.529 996.223 11,l
1998 136.806 977.335 7,1
1999 97.106 850.239 8,7
2000 103.396 968.986 9,4
2001 113.069 905.304 8,0
2002 112.539 817.823 7,3
Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Perkembangan nilai ekspor udang beku ditentukairr oleh perkembangan volume dan harga ekspor udang, laju peningkatan rata-rata nilai ekspor udang beku
ke pasar intemasional 9,73% per tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1988 dengan persentasenya sebesar 42,39% atau nilai ekspomya meningkat sebesar
[image:45.525.33.443.175.503.2]terjadi pada tahun 1992, 1997, 1998, 1999, 2001 dan 2002. Dimana penurunan
terbesamya terjadi di tahun 1999 yang mencapai 13%, penurunan tersebut di
akibatkan dengan menguatnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika sehingga
meningkat pula harga udang di tahun tersebut 22,53% yang merupakan peningkatan
harga tertinggi pada periode 1985-2002.
Periode 1985 sampai 2002 untuk ekspor udang segar Indonesia ke pasar
intemasional juga mengalami peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan dengan
meningkatnya volume ekspor udang segar. Pada tahun 1985 tercatat volume ekspor
udang segar Indonesia ke pasar intemasional 2.199 ton dan rneningkat cukup pesat
hingga mencapai 8.987 ton di tahun 2002. Laju perkembangannya sekitar 13,65%
tiap tahunnya. Begitu pula dengan nilai ekspor udang segar dimana pada tahun 1985
sebesar US$3.253.000,00 meningkat sampai US$14.141.000,00 pada tahun 2002
(Tabel 6).
Tabel 6 menunjukan bahwa terjadi peningkatan volume ekspor yang cukup
pesat mencapai 9.806 ton atau dalam persentasenya 131,71% di tahun 1999,
peningkatan ini disebabkan menurunnya harga udang segar 59,72% dimana
penurunan harga udang segar tersebut merupakan penurunan harga terendah selama
periode 1985 sampai 2002.
Untuk perkembangan nilai ekspor, laju peningkatan rata-ratanya 22,42% per
tahun, dengan kenaikan tertingginya terjadi pada tahun 1998 sebesar 160,28% yang
Tabel 6. Perkembangan Ekspor Udang Segar Indonesia, 1985-2002.
Tahun Volume Ekspor Nilai Ekspor . Harga · . (Ton) (RibuUS$) ... (US$/krr)
1985 2.199 3.235 1,5
1986 2.109 4.178 2,0
1987 3.235 8.962 2,7
1988 3.257 10.773 3,3
1989 4.924 6.461 1,3
1990 3.323 8.358 2,5
1991 4.489 13.322 3,0
1992 8.058 30.390 3,8
1993 5.951 26.221 4,4
1994 6.096 35.577 5,8
1995 5.317 28.514 5,4
1996 4.482 11.023 2,4
1997 2.842 11.700 4, 1
1998 4.232 30.453 7,2
1999 9.806 28.816 2,9
2000 10.709 27.482 2,6
2001 10.994 19.362 1,8
2002 8.987 14.141 1,6
Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Selaiu perkembangan ekspor udang segar dan udang beku, tabel 7
menunjukkan perkembangan ekspor udang kaleng, dengan peningkatan yang sangat
pesat. Pada tahun 1985 volume ekspor hanya 4 ton dan meningkat hingga mencapai 3.239 ton pada tahun 2002. Nilai ekspor udang kaleng pun mengalami kenaikan yang
[image:47.527.29.444.115.470.2]Tabel 7. Perkembangan Ekspor Udang Kaleng Indonesia, 1985-2002.
Tahun Volume Ekspor Nilai Ekspor ·. Harga .
. fTon) .. .ffiibuUS$) .. ·. ' (US$/k_g)
1985 4 21 5,2
1986 11 27 2,4
1987 247 649 2,6
1988 242 472 1,9
1989 562 2.574 4,6
1990 827 3.793 4,6
1991 582 1.806 3,1
1992 888 6.643 7,4
1993 1.394 9.698 6,9
1994 1.026 5.922 5,8
1995 1.539 7.993 5,2
1996 1.244 4.771 3,8
1997 673 3.212 4,8
1998 1.352 3.679 2,7
1999 2.739 9.927 3,6
2000 2.082 5.655 2,7
2001 4.768 10.322 2,l
2002 3.239 4.599 1,4
Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Peningkatan volume ekspor pada tahun 1987 diikuti dengan meningkatnya
nilai ekspor pada tahun tersebut mencapai 2303,70% dari tahun sebelumnya dan pada
kondisi harga sebesar US$ 2,6 per kilogram. Untuk nilai ekspor udang kaleng persentase kenaikan rata-rata pertahunnya mencapai 185,33%. Namun pada tahun
2002 terjadi penurunan nilai ekspor yang cukup besar 55,44%, dikarenakan turunnya harga 33,33% atau menjadi US$ 1,4 per kilogram (Tabel 7).
Harga udang kaleng sangat berfluktuasi dengan laju pertumbuhannya sebesar
[image:48.527.29.444.114.471.2]1992 sebesar 138,71% sehingga harga udang kaleng mencapai US$ 7,4 per kilogram
dari US$ 3,1 di tahun sebelumnya ..
Udang beku mendominasi ekspor udang Indonesia, dikarenakan udang beku
merupakan bentuk produk umum di pasar dunia dengan permintaan yang sangat
besar. Pertumbuhan udang beku mengalami peningkatan yang sangat pesat terutama
di tahun 1998 (Lampiran 2).
Vohune udang segar menduduki posisi kedua setelah udang beku, volume
ekspomya pun mengalami peningkatan, volume ekspor terbesamya terjadi pada tahun
2001. Volume udang kaleng menunjukkan peningka1an walaupun volumenya masih
relatif kecil. Selama 1985-2002 volume udang kaleng menunjukkan peningkatan
yang relatif stabil walau masih berfluktuasi dan peningkatan tertingginya terjadi
pada tahun 2001 (Lampiran 2).
Berdasarkan data tahun 1985-2002 udang Indonesia telah diekspor lebih dari
80 negara tujuan. Negara tujuan ekspor tersebut cukup bervariasi di negara-negara
Timur Tengah, Eropa, Asia dan lain-lain.
Tabet 8 menunjukkan perkembangan ekspor udang beku Indonesia, dimana
volume ekspor terbesar adalah Jepang. Negara tersebut merupakan uegara tujuan
Tabel 8. Perkembangan Udang Beku Indonesia Menurut Negara Tujuan, 1985-2002.
Tahun Volume Ekspor (Ton)
. . Jepang USA Singapura Hongkong Belgia&
Luxemburg 1985 23.828 481 2.173 1.604 127 1986 26.240 546 2.608 1.802 608 1987 29.505 1.091 2.868 2.547 1.190 1988 39.883 1.722 3.116 2.407 1.419 1989 49.462 5.787 5974 2.531 2.277 1990 58.570 8.634 9.052 2.499 2.496 1991 53.570 12.904 10.268 2.603 1.860 1992 56.446 14.720 6.809 2.590 2.332 1993 60.597 10.737 6.780 3.184 2.027 1994 62.380 10.249 6.463 4.262 1.485 1995 64.320 4.704 5.034 4.345 1.256 1996 66.151 9.462 3.392 3.922 954 1997 54.638 10446 3.606 3.781 1.500 1998 87.113 13.829 4.039 4.171 2.655 1999 49.214 14.074 3.561 4.418 3.031 2000 52.919 15.180 3.116 5.927 2.011 2001 58.342 15.369 4.247 5.377 1.913 2002 58.912 16.356 4.349 5.097 5.197 Sumber: Ditjen Perikanan, 2002.
Lainnya 567 2.188 3.740 4.747 5.673 8.636 9.752 8.615 7.899 7.562 8.036 10.623 15.558 24.999 22.808 24.243 27.861 22.628
Tabel 8 juga menunjukkan bahwa pasar Jepang cukup potensial untuk udang
beku Indonesia. Laju pertumbuhan rata-rata volume ekspornya sekitar 7,66% pertahunnya dengan kenaikan tertinggi pada tahun 1998 sebesar 87.113 ton atau
mencapai 59,44%. Selain itu USA juga merupakan pasar yang cukup berpotensi
[image:50.524.27.438.126.478.2]Indonesia dalam jumlah yang cuk:up besar dan sisanya di ekspor ke negara-negara
lainnya.
Selama periode 1985-2002 perkembangan ke beberapa negara tersebut
mengalami peningkatan walau masih berfluktuasi, terutama untuk negara lainnya menunjukkan peningkatan yang cukup besar dikarenakan s1:makin bertambahnya
tujuan ekspor udang beku Indonesia, sehingga volume ekspor semakin meningkat. Terutama pada tahun 1998 volume ekspor udang bek:u menurut negara tujuannya diatas menunjukkan peningkatan yang cukup pesat dari tahun sebelumnya
Volume ekspor udang beku didominasi Jepang. Sedangkan USA menduduki
pos1s1 kedua dalam mengimpor udang beku Indonesia. Singapura dan Hongkong
juga merupakan pengimpor udang bek:u Indonesia dengan jumlah volume yang cuk:up besar, walaupun masih relatif kecil bila dibandingkan dengan Jepang dan USA
Belgia dan Luxemburg mengimpor udang beku Indonesia dalam jumlah yang kecil. Dan volume ekspor udang Ice negara lainnya menunjukkan peningkatan yang cukup
besar, terutama di tahun 2001. Hal tersebut membuktikan bahwa pasar udang beku
Indonesia semakin meluas ke negara-negara lainnya (Lampi ran 3 ).
Selama periode 1985 sampai 2002 volume ekspor udang segar didominasi oleh negara Singapura dengan laju rata-rata volume ekspor udang segar 21,38%, namun ekspor udang segar ke Singapura menunjukkan penurunan jumlah volume
ekspor terutama pada tahun 1998, penurunan tersebut mencapai 695 ton dari tahun sebelumnya. Pada tahun yang sama negara Jepang, USA, Hongkong, Malaysia dan
penurunan yang terjadi di Singapura dikarenakan berpindahnya ekspor udang segar
Indonesia ke negara tujuan Jainnya. Namun terjadi peningkatan kembali di tahun 1999 yang merupakan peningkatan tertinggi selama periode 1985-2002 yaitu
mencapai 330,02%. Laju rata-rata volume ekspor ke Singapura 21,38 % per tahun.
Tabel 9. Perkembangan Ekspor Udang Segar Indonesia Menurut Negara Tujuan, 1985-2002.
Tahun . Volume Ekspor Udang Segar (Ton)
.
. .
Sini.,>apura Jeoang 1•• Hongkong Malaysia USA
1985 1.786 137 24 173
1986 1.331 120 83 435
1987 1.690 160 1 942
1988 1.743 514 8 559 4
1989 3.511 183 4 1105 14
1990 2.624 34 22 489
1991 3.031 41 47 449 10
1992 5.819 1.004 240 146 136
1993 3.689 984 118 583 77
1994 3.607 1.705 217 71 153
1995 2.780 1.199 344 117 56
1996 3.414 25 207 241 39
1997 1.308 167 466 230 194
1998 613 1120 588 178 692
1999 2.636 1.142 1.335 3.506 419
2000 3.129 1.094 833 4.248 543
2001 3.342 1.185 641 5.383 119
2002 1.657 696 895 5.301 233
Sumber: Ditjen Perikanan, 2002.
· Lainnya 79 140 532 429 107 154 911 713 500 343 821 566 477 1.041 768 862 324 205
Perkembangan pasar udang segar Indonesia cukup ュゥセョァァ・ュ「ゥイ。ォ。ョ@ dimana
[image:52.522.29.441.158.558.2]Netherland. Keempat negara tersebut mengimpor udang scgar Indonesia dalam
jumlah yang sangat kecil. Sejalan dengan perkembangannya kini di tahun 2002
ekspor udang segar sudah mencapai 21 negara tujuan.,
Lampiran 4 menunjukkan perkembangan ekspor udang segar ke Jepang,
Malaysia, Hongkong, USA dan negara lainnya mengalami fluktuasi yang sangat
tinggi walaupun volume ekspomya mengalami peningkatan.
Selama 1985-2002 secara kumulatif udang segar didominasi Singapura
namun terjadi penurunan yang besar tahun 1998. Sedangkan Hongkong mengalami
peningkatan pesat pada tahun tersebut dan mendominasi ekspor udang segar
Indonesia. Di tahun 1999 ekspor udang segar bergeser ke Malaysia sehingga negara
tersebut merupakan pengimpor udang segar terbesar (Lampiran 4).
Tabel 10 menunjukkan pada tahun 1985 udang kaleng Indonesia barn
diekspor ke dua negara yaitu Jepang sebanyak 1 ton dan 3 ton diekspor ke
Netherland. Kemudian di tahun 1986 - 1988 hampir seluruh udang kaleng Indonesia
di ekspor ke Singapura. Peningkatan ekspor udang kaleng ke Singapura yang terbesar
terjadi pada tahun 1996 yang mencapai 86,09% dengan volumenya mencapai 629 ton.
Ekspor udang kaleng Indonesia ke USA secara umum menunjukkan
peningkatan. Peningkatan terbesar dicapai pada tahun 1998 sebesar 294,03%,
[image:53.522.26.445.163.470.2]Tabel 10. Perkembangan Ekspor Udang Kaleng Indonesia Menurut Negara Tujuannya, 1985-2002
Tahun Volume ('fon)
Singapura USA Hongkong Malaysia Jepang
1985 1
1986 IO
1987 246
1988 211 30
1989 151 27 5 40 32
1990 288 91 3 85 1
1991 80 62 4
rn
21992 138 45 273 0 21
1993 470 2IO 295 54 31
1994 295 214 209 83 34
1995 338 513 195 54 36
1996 629 473 29 7 5
1997 280 335 0 5 19
1998 5 1320 26
1999 290 334 1476 173 46
2000 326 493 404 :52 51
2001 238 664 576 2525 32
2002 262 248 279 732 IO
Surnber: Ditjen Perikanan, 2002.
Lainnya 3 1 1 1 307 359 416 411 334 191 403 101 34 l 420 726 739 1708
Sedangkan untuk perkembangan volume ekspor udang kaleng ke Hongkong,
dan Malaysia menunjukkan peningkatan walaupun masih berfluktuasi. Peningkatan volume ekspor terbesar ke Hongkong terjadi pada tahun 1999 mencapai 1.476 ton
Untuk volume ekspor udang ka\eng terbesar ke Malaysia terjadi pada tahun 2001 mencapai 4755,77%.
Gambar pada lampiran 5 menunjukkan bahwa ekspor udang kaleng di tahun
[image:54.525.28.455.125.471.2]oleh USA, kemudian di tahun berikutnya bergeser ke Hongkong. Tetapi di tahun
2001 volume ekspor udang kaleng justru didominasi Malaysia, yang mengalami
peningkatan pesat. Walaupun terjadi fluktuasi yang sangat tinggi, tetapi volume
ekspor udang kaleng secara kumulatif selama tahun 1985-2002 diduduki oleh USA. Demikianjuga perkembangan volume ekspor udang kaieng ke negara-negara
tujuannya menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan walaupun masih
mengalami fluktuasi (Lampiran 5). Volume udang kaleng memang tidak sebesar
volume ekspor udang beku dan segar. Dengan demikian peluang untuk
mengembangkan pasar udang kaleng Indonesia masih cukup terbuka lebar mengingat
di zaman sekarang pola konsumsi masyarakat mulai bergeser untuk mengkonsumsi
makanan yang siap saji.
Untuk melihat seberapa besar pangsa udang beku Indonesia ke Jepang
terhadap total udang Indonesia dapat dilihat pada tabel 11 menunjukkan nilai yang sangat berfluktuasi dan cenderung menurun. Pangsa terbesar w1tuk udang beku justru
terjadi pada tahun 1985 dimana persentasenya sebesar 87,3%., namun ditahun-tahun
berikutnya mengalami penurunan dan terjadi kenaikan di tahun 1993 yaitu pangsanya
73,8%.
Pangsa udang beku terendah ke Jepang terjadi pada tahun 1999 yaitu hanya
59,7%, namun demikian pangsa udang beku ke Jepang masih mendominasi dimana pada tahun tersebut untuk pangsa ke Belgia & Luxemburg hanya 2,8%; pangsa udang
Tabel 11. Perkembangan Pangsa Udang Beku Indonesia,1985-2002.
Tahtm: . . . Panmm Udang Beku . . . . . . Jepang Belgia& Singapura Hongkong. OSA ··Lainnya
Luxemburg. . . . .
1985 0,873 0,003 0,051 0,032 0,016 0,036 1986 0,844 0,015 0,046 0,043 0,015 0,063 1987 0,799 0,027 0,044 0,029 0,024 0,063 1988 0,796 0,023 0,044 0,024 0,034 0,074 1989 0,735 0,029 0,062 0,019 0,086 0,064 1990 0,669 0,027 0,082 0,018 0,119 0,084 1991 0,639 0,020 0,089 0,018 0,151 0,083 1992 0,664 0,023 0,066 0,018 0,163 0,066 1993 0,738 0,020 0,050 0,021 0,113 0,061 1994 0,770 0,016 0,040 0,026 0,097 0,056 1995 0,822 0,014 0,023 0,020 0,051 0,064 1996 0,772 0,010 0,014 0,021 0,106 0,078 1997 0,698 0,015 0,016 0,023 0,132 0,118 1998 0,638 0,022 0,015 0,022 0,155 0,148 1999 0,597 0,028 0,014 0,023 0,167 0,177 2000 0,622 0,017 0,009 0,027 0,167 0,158 2001 0,615 0,014 0,016 0,027 0,155 0,173 2002 0,614 0,034 0,016 0,021 0,163 0,152 Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Dengan demikian, walaupun pangsa udang beku mengalami penurunan
tetapi pangsa udang beku ke Jepang terhadap total udang beku lndonesia masih cukup
besar. Dapat dilihat bahwa selama periode 1985 sampai 2002 udang beku ke Jepang masih menduduki posisi pertama untuk ekspor udang beku Indonesia dengan persentasenya melebihi 50% dari pangsa udang beku ke negara lainnya.
Pangsa udang segar Indonesia ke pasar intemasional didominasi oleh pangsa udang segar ke Singapura diikuti Jepang. Pangsa udang segar ke Singapura yang
mencapai puncak pada tahun 1990 sebesar 78,4%, Jepang hanya 2,6%, Hongkong
[image:56.524.25.441.112.467.2]pangsa udang segar ke Singapura semakin menurun dan justru didominasi oleh
pangsa udang segar ke Jepang. Seperti pada tahun 1995, pangsa udang segar
Indonesia didomonasi oleh negara Jepang yang mencapai 57,4% sedangkan nntuk
Singapura pangsanya hanya 14,6% (Tabet 12).
Tabel 12. Perkembangan Pangsa Udang Segar Indonesia, 1985-2002 .
Tahm1 .. Pan!!sa Udang Sellar
.
.
..Singaoura Jeoanll: · Honll:kong · 1
•• Malavsia . USA Laimwa
1985 0,365 0,318 0,052 0,150 0,115
1986 0,224 0,199 0,132 0,178 0,267
1987 0,392 0,107 0,001 0,164 0,336
1988 0,272 0,417 0,003 0,076 0 0,232
1989 0,612 0,214 0,003 0,115 0,013 0,267
1990 0,784 0,026 0,042 0,053 0,095
1991 0,744 0,034 0,032 0,045 0,006 0,139
1992 0,459 0,297 0,073 0,009 0,034 0,128
1993 0,449 0,400 0,023 0,030 0,018 0,080
1994 0,343 0,527 0,041 0,005 0,039 0,045
1995 0,146 0,574 0,077 0,013 O,Oll 0,179
1996 0,399 0,027 0,146 0,068 0,049 0,311
1997 0,208 0,191 0,148 0,004 0,239 0,210
1998 0,062 0,368 0,095 0,001 0,299 0,175
1999 0,183 0,328 0,191 0,028 0,187 0,083
2000 0,183 0,341 0,082 0,058 0,217 0,119
2001 0,317 0,396 0,044 0,176 0,049 0,018
2002 0,166 0,322 0,099 0,217 0,160 0,036
Sumber data: Ditjen Perikanan, 2002.
Tabel 12 juga menunjukkan bahwa pada tahun 1996 terjadi kenaikan kembali
untuk pangsa udang segar ke Singapura sebesar 39,9%. Dan pada tahun tersebut
Singapura menjadi negara yang mendominasi ekspor udang segar. Di tahun 1997
pangsa udang segar ke Singapura mengalami penurunan dan pangsa terbesar udang
[image:57.527.31.445.160.512.2]2002 persentase pangsa terbesar diduduki Jepang dengan rata-rata pangsanya selama
tahun tersebut sebesar 35,1 %.
Walaupun pangsa Jepang mendominasi di tahun-tahun terakhir namun pada
periode 1985-2002 ekspor udang segar masih didominasi Singapura dengan rata-rata
persentasenya 34,03%. Sedangkan untuk rata-rata persentase ke Jepang hanya
mencapai 28,25%.
Untuk perkembangan pangsa udang kaleng, tabel 13 menunjukkan bahwa
USA dan Singapura merupakan pasar terbesar untuk ekspor udang kaleng Indonesia.
Pada tahun 1986 dan 1987 Singapura merupakan negara tujuan utama Indonesia
dalam mengekspor udang kaleng dimana pada saat itu seluruh udang kaleng
Indonesia di ekspor ke Singapura, namun pada tahun berikutnya pangsa udang kaleng
Indonesia ke Singapura menurun dan peningkatan pangsa udan