KAJIAN PROSES PEMEKARAN FISIK KOTA
DI PINGGIRAN KOTA PEMATANGSIANTAR
(Studi Kasus Koridor Jalan Melanthon Siregar)
TESIS
OLEH
JAYADIN SIMARMATA
087020013/AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KAJIAN PROSES PEMEKARAN FISIK KOTA
DI PINGGIRAN KOTA PEMATANGSIANTAR
(Studi Kasus Koridor Jalan Melanthon Siregar)
TESIS
Untuk memperoleh Gelar Magister Teknik
Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur
Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
OLEH :
JAYADIN SIMARMATA
087020013/AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PERNYATAAN
KAJIAN PROSES PEMEKARAN FISIK KOTA
DI PINGGIRAN KOTA PEMATANGSIANTAR
(Studi Kasus Koridor Jalan Melanthon Siregar)
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Oktober 2010
Judul Tesis : Kajian Proses Pemekaran Fisik Kota di Pinggiran Kota
Pematangsiantar (Studi Kasus Koridor Jalan Melanthon Siregar)
Nama Mahasiswa : Jayadin Simarmata
Nomor Pokok : 087020013/AR
Program Studi : Teknik Arsitektur
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Abdul Ghani Salleh, B.Ec, M.Sc, PhD) (Salmina W. Ginting, ST, MT)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
Magister Teknik Arsitektur USU, Fakultas Teknik USU
(Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc, PhD) (Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME)
Telah diuji pada
Tanggal : 4 Nopember 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Abdul Ghani Salleh, B.Ec, M.Sc, PhD Anggota : 1. Salmina W. Ginting, ST, MT
2. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc
ABSTRAK
Suatu kota (kawasan) dalam kondisi umum akan selalu bertumbuh dan
berkembang baik dimensi kenampakan fisik spasial dan dimesi non fisikalnya.
Perkembangan ini diakibatkan adanya pertumbuhan penduduk dan berbagai aktivitas
pembangunan, ekonomi, sosial, budaya, politik dan sebagainya pada kawasan tersebut
yang berdampak terjadinya peningkatan kebutuhan akan ruang (lahan). Jawaban
kebutuhan akan ruang (lahan) salah satunya adalah lahan di sekitar pinggiran kota
dengan membangun berbagai sarana prasarana di kawasan tersebut yang mengakibatkan
terjadinya pemekaran kenampakan fisik spasial kota, walaupun banyak dampak
negatifnya karena umumnya lahan dipinggiran kota adalah lahan-lahan pertanian yang
masih produktif.
Demikian juga pada kawasan penelitian koridor Jalan Melanthon Siregar, yang
telah dan sedang ber-evolusi menjadi kenampakan fisikal kota yang diindikasikan
dengan terjadinya konversi lahan-lahan pertanian menjadi kawasan terbangun
(settlement built up area) antara lain perumahan, ruko, sekolah, rumah ibadah, kantor
dan sebagainya.
Pemekaran fisik kota di kawasan tersebut sebagai konsekuensi logis dari
pertumbuhan kota, namun ke depan perlu di pikirkan solusi yang lebih baik dikarenakan
perubahan tersebut juga sebenarnya memiliki banyak dampak negatif terutama bagi
kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan. Beberapa solusi (1) agar pemerintah kota
dan segenap stakeholders mengawasi lebih ketat pemanfaatan lahan pada kawasan
tersebut dan (2) membuat legalisasi peraturan daerah tentang tata guna lahan sebagai
pedoman dalam pemanfaatan dan pengendalian penggunaan lahan.
ABSTRACT
In general, a city (an area) will grow and develop both in its physical-spatial and non-physical dimensions. This development occurs because of the population growth and a variety of development, economic, social, political and other activities in the area which ultimately result in the increasing need for space (land). One of the ways of fulfilling this need for space (land) is by building a variety of facilities and infrastructure in suburban areas which will bring about improvements in the physical-spatial appearance of the areas although this might have negative consequences considering that suburban areas generally make productive agricultural land.
And this is also true for the research area located along Melanthon Siregar Street, which has evolved and is evolving into a city in its physical appearance indicated by the conversion of agricultural land into settlement built up area which includes, among others: housing complex, storied shops, schools, houses of worship and others.
While the physical expansion of city in the area occurs as a logical consequence of the city development, better future solutions should be sought because the change itself has a negative impact on the environmental reservation and food supply. Some of the solutions include : (1) the city government along with the stakeholders should impose stricter supervision of land use in the area, and (2) legalize local regulations on land utilization as a guide to land control and use.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Jayadin Simarmata
Alamat : Jalan Dr. Kumpulan Pane No. 7E Tebing Tinggi
Agama : Kristen Protestan
Tempat/Tanggal Lahir : Pematangsiantar, 06 Januari 1970
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : 2 dari 8
Warga Negara : Indonesia
Nama Ayah : St. Poltak Simarmata (Alm.)
Nama Ibu : St. Tamainim br Purba
Nama Istri : Seva br Karo
Nama Anak : Harodian Simarmata
Harodwiki Simarmata
Pendidikan Formal : SD GKPS II Pematangsiantar (tamat tahun 1982) SMPN I Pematangsiantar (tamat tahun 1985)
SMAN III Pematangsiantar (tamat tahun 1988)
Sarjana Teknik Sipil Universitas Tanjung Pura, Pontianak
(tamat tahun 1995)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kasih karena atas ijin dan karuniaNya
penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul ”Kajian Proses Pemekaran
Fisik Kota di Pinggiran Kota Pematangsiantar (Studi Kasus Koridor Jalan Melanthon Siregar)”. Penelitian ini disusun untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah PPs – 699 Tesis pada Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik,
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang
tak terhingga kepada yang terhormat :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
D.T.M.&H., M.Sc. (C.T.M.), Sp.A.(K.).
2. Dekan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Ir. Bustami
Syam, M.S.M.E.
3. Ketua Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Ibu Ir. Dwira Nirfalini Aulia,
MSc, PhD.
4. Sekretaris Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Ibu Beny Octofryana
Yousca Marpaung, ST, MT, PhD.
5. Koordinator Manajemen Pembangunan Kota, Bapak Achmad Delianur Nasution,
ST, MT, IAI.
6. Dosen Pembimbing I, Bapak Prof. Abdul Ghani Salleh, B.Ec, M.Sc, PhD, atas
bimbingan dan dukungan penuh dalam menyelesaikan penelitian ini.
7. Dosen Pembimbing II, Ibu Salmina W. Ginting, ST, MT atas bimbingan,
kesabaran dan dukungan penuh dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. Para Staf Pengajar dan Penguji Program Studi Magister Teknik Arsitektur
Universitas Sumatera Utara yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu atas
materi perkuliahan dan masukan-masukan yang sangat berarti dalam
9. Ibu Novi Yanthi sebagai administrasi Program Studi Magister Teknik Arsitektur
Universitas Sumatera Utara atas komunikasi dan administrasi yang baik selama
studi.
10.Walikota Pematangsiantar Up. Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar Bapak
Drs. Donver Panggabean, MSi yang pada akhirnya telah menerbitkan Surat Ijin
Belajar kepada penulis.
11.Para mantan dan Kepala Bappeda Kota Pematangsiantar selama periode penulis
mengikuti pendidikan, yaitu : Bapak Drs. Midian Sianturi, Bapak Herowhin TF.
Sinaga, AP, MSi dan Bapak Ir. Adyaksa DS. Purba, MM atas segala dukungan
dan pengertiannya.
12.Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Statistik Kota Pematangsiantar,
Bapak Drs. M. Akhir Harahap, atas penerbitan Surat Rekomendasi Ijin
Penelitian.
13.Kepala Dinas Pertanian Kota Pematangsiantar, Bapak Robert Pangaribuan, SP,
MSi, Pelaksana Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bapak Ir. Adres Tarigan,
Kepala BPS Kota Pematangsiantar, Bapak Drs. Ngiahken Karo-karo untuk
bantuan data dan informasi yang telah diberikan.
14.Rekan-rekan para Kasubbid dan staf di Bidang Monitoring Bappeda Kota
Pematangsiantar atas dukungan pelaksanaan tugas sehari-hari (walaupun
Kabidnya sering bolak balik Siantar – Medan, harap maklum ya…).
15.Isteriku tercinta ‘Nande’ Seva br Karo, untuk segala cinta kasih, kesabaran,
dukungan dan pengertian yang sangat besar, kedua putraku Harodian Simarmata
dan Harodwiki Simarmata (rajin belajar agar bisa sekolah minimal sampai kayak
bapak ya, ... doa dan harapan).
16.Kedua orangtua yang sangat kukasihi Bapak Alm. St. Poltak Simarmata sebagai
teladan dan motivator terbesar, Ibu St. Tamainim br Purba yang telah
menunjukkan kasih sayangnya dengan caranya sendiri, dan yang tak terlupakan
17.Saudara-saudaraku, keluarga AH. Damanik/ Jayani br Simarmata, SE, Ukir
Saut Silalahi, BSc/ Jayalena br Simarmata, Amd, Parlindungan Pasaribu,
SE/Jayasti br Simarmata, SPd, Berlison Purba, SH/Jayador br Simarmata, SS,
Amrin Hutasoit, SSos/Jayatur br Simarmata, SPd, Pdt. Jayasser Simarmata,
STh/Melda br Hutahaean, SPd, Jayamos Simarmata, SE/Mira br Purba, SPd dan
seluruh keponakan.
18.Keluarga Besar Mertuaku Dame Karosekali/Upah br Sembiring atas dukungan
semangat dan doanya, khususnya keluarga ‘Silih’ Ir. Jendakem
Karosekali/AKBP. Kasmina br Ginting, SSi di Medan.
19.Rekan-rekan Mahasiswa Magister Manajemen Pembangunan Kota Angkatan
2008 : Lucy, Arfan, Asmadi, Bayhaki, Bernas, Rai, Hendra, Muara, Yani, Sahid,
Erwin, Amsuardiman, Armelia atas kebersamaan dan kerjasama yang sudah
terjalin selama ini.
20.Tak lupa Saudara-saudaraku Alumni PMK Pontianak dimanapun sekarang
berada dan berkarya, kak Will, kak Omi, mas Samuel, bang Jimmy, Dju Kheng,
Bardoth, Freddy, Oloan, Santi, Martha, Lusi, Yusi, Famin, Robin, Men Khiong,
Lina dan lain-lain.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari terdapat
kekurangan-kekurangan yang diharapkan dapat disempurnakan atas bimbingan dan masukan dari
pembimbing, penguji, dan pembaca.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat diterima dan memberi manfaat bagi semua
pihak yang membutuhkannya. Terimakasih...!
Medan, Oktober 2010
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ……… i
ABSTRACT……… ii
KATA PENGANTAR……… iii
DAFTAR ISI……….. vi
DAFTAR TABEL……….. ix
DAFTAR GAMBAR……….. x
BAB I. PENDAHULUAN……….. 1
1.1. Latar Belakang………... 1
1.2. Perumusan Masalah……… 5
1.3. Tujuan Penelitian……… 5
1.4. Manfaat Penelitian………. 6
1.5. Kerangka Berfikir………... 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……… 8
2.1. Urban Sprawl : Defenisi dan Konteks……… 8
2.2. Proses Urban Sprawl ………. 11
2.3. Pemekaran Kota di Cileunyi – Bandung……… 17
2.4. Dimensi Fisik Spasial dan Non Fisik………. 17
2.4.1. Dimensi Fisik Spasial………... 17
2.5. Faktor-faktor Penyebab Urban Sprawl………... 23
2.6. Diversifikasi Mata Pencaharian……….. 31
BAB III. METODE PENELITIAN………. 33
3.1. Lokasi Penelitian……… 33
3.2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data……… 33
3.2.1. Data Sekunder………. 33
3.2.2. Data Primer……….. 34
3.2.3. Metode Pengumpulan Data………. 34
3.3. Tahapan/Kronologis Pengumpulan Data……… 37
3.4. Metode Analisis………. 39
3.3.1. Analisis Deskriptif Kualitatif……… 39
BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN……….. 42
4.1. Gambaran Kota Pematangsiantar……… 42
4.1.1. Kondisi Geografis dan Administratif……… 42
4.1.2. Sejarah Kota Pematangsiantar………. 44
4.2. Gambaran Kecamatan Siantar Marihat………... 45
4.2.1. Luas Wilayah Menurut Kelurahan……… 45
4.2.2. Batas-batas Administrasi………. 47
4.3. Gambaran Lokasi Penelitian………... 47
4.4. Rencana Tata Guna Lahan………. 49
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………. 52
5.1.1. Karakteristik Pemanfaatan Lahan……… 52
5.1.2. Karakteristik Bangunan……… 64
5.1.3. Karakteristik Sirkulasi……….. 75
5.2. Analisis Aspek Non Fisik……… 79
5.2.1. Diversifikasi Mata Pencaharian……… 79
5.3. Faktor-faktor Penyebab………. 85
5.3.1. Faktor dari dalam (internal)………. 85
5.3.2. Faktor dari luar (eksternal)……… 88
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN……… 91
6.1. Kesimpulan………. 91
6.2. Saran ………. 93
DAFTAR PUSTAKA……… 94
DAFTAR TABEL
No. JUDUL hal.
4.1. Luas Daerah Menurut Kecamatan……….. 43
4.2. Rencana Pembagian Bagian Wilayah Kota (BWK)……….. 51
5.1. Perubahan Guna Lahan Tahun 1990 – 2000……… 54
5.2. Perubahan Guna Lahan Tahun 2000 – 2010……… 59
5.3. Bentuk Bangunan Tetap Fungsi Berubah……… 66
5.4. Bentuk Bangunan Berubah Fungsi Berubah……… 68
5.5. Bentuk Bangunan Ruko Fungsi Komersil……… 70
5.6. Nama Angkutan Yang Melintasi Jalan Melanthon Siregar…………. 77
5.7. Jenis dan Mata Pencaharian Penduduk……… 80
5.8. Perubahan Mata Pencaharian/Pekerjaan………... 81
DAFTAR GAMBAR
No. JUDUL hal.
1.1. Kerangka Berfikir……… 7
2.1. Perembetan Konsentris……… 13
2.2. Perembetan Linier……… 14
2.3. Perembetan Meloncat……….. 15
2.4. Hubungan Faktor Penentu dalam Pemanfaatan Lahan……… 29
4.1. Kota Medan – Pematangsiantar (128 Km)……….. 42
4.2. Peta Administratif Kota Pematangsiantar……… 46
4.3. Peta Administratif Kecamatan Siantar Marihat………... 46
4.4. Peta Koridor Jalan Melanthon Siregar………. 48
4.5. Gambar Ruas Jalan Melanthon Siregar……….. 49
4.6. Rencana Tata Guna Lahan………... 50
5.1. Peta Pola Penggunaan Lahan Tahun 1990……….. 53
5.2. Peta Pola Penggunaan Lahan Tahun 2000……….. 58
5.3. Peta Pola Penggunaan Lahan Tahun 2010……….. 60
5.4. Bentuk Bangunan Tetap Fungsi Berubah……… 67
5.5. Bentuk Bangunan Berubah Fungsi Berubah……… 69
5.6. Form Bangunan Ruko Fungsi Komersil……….. 71
5.7. Form Bangunan Fungsi Non Komersil……… 72
5.9. Form Bangunan Fungsi Non Komersil……… 74
5.10. Kondisi Sirkulasi Jalan Melanthon Siregar……….. 78
5.11. Fasilitas Umum di Koridor Jalan M. Siregar………... 88
5.12. Aksesibilitas Jalan M. Siregar………. 89
ABSTRAK
Suatu kota (kawasan) dalam kondisi umum akan selalu bertumbuh dan
berkembang baik dimensi kenampakan fisik spasial dan dimesi non fisikalnya.
Perkembangan ini diakibatkan adanya pertumbuhan penduduk dan berbagai aktivitas
pembangunan, ekonomi, sosial, budaya, politik dan sebagainya pada kawasan tersebut
yang berdampak terjadinya peningkatan kebutuhan akan ruang (lahan). Jawaban
kebutuhan akan ruang (lahan) salah satunya adalah lahan di sekitar pinggiran kota
dengan membangun berbagai sarana prasarana di kawasan tersebut yang mengakibatkan
terjadinya pemekaran kenampakan fisik spasial kota, walaupun banyak dampak
negatifnya karena umumnya lahan dipinggiran kota adalah lahan-lahan pertanian yang
masih produktif.
Demikian juga pada kawasan penelitian koridor Jalan Melanthon Siregar, yang
telah dan sedang ber-evolusi menjadi kenampakan fisikal kota yang diindikasikan
dengan terjadinya konversi lahan-lahan pertanian menjadi kawasan terbangun
(settlement built up area) antara lain perumahan, ruko, sekolah, rumah ibadah, kantor
dan sebagainya.
Pemekaran fisik kota di kawasan tersebut sebagai konsekuensi logis dari
pertumbuhan kota, namun ke depan perlu di pikirkan solusi yang lebih baik dikarenakan
perubahan tersebut juga sebenarnya memiliki banyak dampak negatif terutama bagi
kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan. Beberapa solusi (1) agar pemerintah kota
dan segenap stakeholders mengawasi lebih ketat pemanfaatan lahan pada kawasan
tersebut dan (2) membuat legalisasi peraturan daerah tentang tata guna lahan sebagai
pedoman dalam pemanfaatan dan pengendalian penggunaan lahan.
ABSTRACT
In general, a city (an area) will grow and develop both in its physical-spatial and non-physical dimensions. This development occurs because of the population growth and a variety of development, economic, social, political and other activities in the area which ultimately result in the increasing need for space (land). One of the ways of fulfilling this need for space (land) is by building a variety of facilities and infrastructure in suburban areas which will bring about improvements in the physical-spatial appearance of the areas although this might have negative consequences considering that suburban areas generally make productive agricultural land.
And this is also true for the research area located along Melanthon Siregar Street, which has evolved and is evolving into a city in its physical appearance indicated by the conversion of agricultural land into settlement built up area which includes, among others: housing complex, storied shops, schools, houses of worship and others.
While the physical expansion of city in the area occurs as a logical consequence of the city development, better future solutions should be sought because the change itself has a negative impact on the environmental reservation and food supply. Some of the solutions include : (1) the city government along with the stakeholders should impose stricter supervision of land use in the area, and (2) legalize local regulations on land utilization as a guide to land control and use.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suatu kawasan (wilayah) akan selalu bertumbuh dan berkembang dinamis
seiring perjalanan waktu, baik dimensi kenampakan fisik maupun non fisiknya.
Perubahan(evolusi) kenampakan fisik suatu kawasan dapat kita lihat terhadap 3 (tiga)
elemen morfologi kota yaitu : karakteristik penggunaan lahan, bangunan dan sirkulasi.
Sedangkan perubahan non fisik meliputi aspek ekonomi, sosial, budaya, politik,
teknologi dan sebagainya.
Proses perubahan tersebut dapat diidentifikasi misalnya, yang sebelumnya
adalah kawasan dengan ciri pedesaan berubah menjadi ciri perkotaan, atau yang
sebelumnya adalah kota kecil berubah menjadi kota besar bahkan menjadi kota
metropolitan yang terdiri dari kota-kota sekitarnya atau bahkan kota megapolitan, yang
pada umumnya kenampakan spasial fisikal kekotaannya melewati batas-batas
administrasi pemerintahan kota tersebut yang oleh Yunus (1999) disebut sebagai under
bounded city.
Mengapa hal ini bisa terjadi, adalah sebagai konsekuensi logis dari adanya
dinamika berbagai aktivitas pembangunan dan pertumbuhan penduduk di kawasan
tersebut, yang berdampak kepada peningkatan kebutuhan akan ruang dan lahan sebagai
wadah untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan kebutuhan
lahan untuk memenuhi perumahan bagi pertumbuhan penduduk yang semakin
Pembangunan baik dalam aspek fisik dan non fisik adalah sesuatu yang mutlak
diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu daerah (kawasan)
baik dalam skala lokal, regional dan nasional. Tanpa adanya aktivitas ekonomi, sosial,
budaya dan sebagainya maka dapat dikatakan suatu kawasan ‘mati’ (stagnan) dan
kondisi ini tentunya tidak diinginkan terjadi oleh suatu pemerintahan dan masyarakat
(stakeholders) di manapun. Salah satu ciri pembangunan secara fisikal adalah adanya
perubahan (evolusi) di kawasan objek pembangunan tersebut, misalnya kawasan yang
sebelumnya adalah kawasan hutan, pertanian, perkebunan, ruang terbuka hijau dan
sebagainya secara lambat laun berubah menjadi kenampakan perumahan permukiman
penduduk, perkantoran, perdagangan, sekolah, pusat kesehatan, dan berbagai sarana
prasarana berciri perkotaan lainnya. Sedangkan dipusat kota sendiri, yang dulunya
adalah taman-taman kota (ruang terbuka), bangunan-bangunan tua yang masih
difungsikan ataupun tidak, berubah menjadi bangunan-bangunan modern dan bertingkat,
seperti hotel dan pusat-pusat perbelanjaan (mall, supermarket) yang seringkali
berdampak hilangnya ‘saksi-saksi’ sejarah masa lampau kawasan tersebut.
Jadi peningkatan berbagai aktivitas pembangunan secara fisik membutuhkan
input lahan sebagai wadah aktivitas tersebut, sehingga semakin pesat dinamika
pembangunan di suatu kawasan semakin cepat pula proses perubahan yang terjadi di
kawasan tersebut. Dengan adanya kegiatan pembangunan akan membuka berbagai
lapangan pekerjaan dan berbagai peluang usaha lainnya yang akan meningkatkan
perekonomian, pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Selanjutnya, perkembangan kota diindikasikan dengan evolusi kenampakan fisik
spasial akan selalu bersifat dinamis, baik secara horizontal (sentrifugal dan sentripetal)
luar) kawasan pinggiran kota, yang dulunya adalah ciri fisik pedesaan ber-evolusi
menjadi kenampakan kekotaan, atau yang dulunya kota kecil berubah menjadi kota
besar dengan kenampakan bangunan yang semakin rapat dan vertikal (bertingkat) serta
semakin melebar ke arah luar (urban sprawl), bahkan tidak jarang terjadi perkembangan
fisiknya melewati batas-batas administrasi kota itu sendiri, menjadikan dua atau lebih
kawasan yang secara administratif berbeda (terpisah) namun jadi satu kesatuan
kenampakan kekotaan (kota metropolitan) dengan bentuk dan fungsi-fungsi bangunan
yang berkarakteristik kota.
Lahan merupakan faktor produksi yang secara fisik tidak berpindah, tetapi
eksisting dan pemanfaatannya ditentukan oleh beragam kepentingan dalam
pembangunan, ekonomi, sosial dan politik. Semua ini mempercepat terjadinya proses
perubahan (Waters, 2000) dalam (Suartika, 2007).
Sedangkan tinjauan terhadap dimensi non fisik, meliputi perubahan yang terjadi
akibat proses urban sprawling terhadap aspek ekonomi, sosial budaya, lingkungan,
teknologi dan sebagainya. Aspek ekonomi misalnya penduduk yang dulunya bermata
pencaharian utama petani secara lambat laun berubah menjadi pedagang, buruh dan
pekerjaan berciri kota lainnya. Aspek sosial budaya yaitu dengan berubahnya pola
hubungan kekerabatan dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya berciri khas kota,
lingkungan yang semakin panas, polusi, banjir dan lain-lain diakibatkan semakin
berkurangnya vegetasi, resapan air dan makin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor
dan mesin-mesin pabrik yang berdampak kepada kesehatan penduduk.
Berbagai hasil penelitian yang sudah dilakukan, umumnya menghasilkan suatu
pertanian di suatu kawasan menimbulkan banyak dampak negatif terhadap lingkungan
dan mengancam keberlangsungan produksi hasil pertanian (pangan). Sementara jumlah
penduduk terus bertambah yang otomatis juga semakin meningkatkan kebutuhan pangan
pada akhirnya akan menimbulkan krisis pangan yang semakin parah atau
ketergantungan terhadap kawasan/negara lain (impor pangan), dan akan mengancam
berbagai aspek dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan
pemanasan global (global warming) yang merupakan salah satu issu (permasalahan)
universal yang dihadapi semua masyarakat dan negara di dunia dalam dekade terakhir
ini.
Akibat hilangnya lahan terbuka hijau di daerah pinggiran kota banyak berkaitan
dengan hilangnya sumber daya lahan pertanian sebagai sumber utama penghasilan
pangan. Dampak lokal mungkin tidak dirasakan namun sebagai suatu bangsa yang
berjalan dalam satu kesatuan sistem ekonomi nasional, maka akibat kumulatif dari
hilangnya lahan pertanian subur beririgasi teknis akan mengakibatkan bencana di masa
yang akan datang. Pengurangan lahan pertanian berjalan terus, usaha menciptakan lahan
pertanian baru belum membawa hasil yang berarti paling tidak dalam dekade pertama
millenium ketiga ini dan sementara itu jumlah mulut yang harus diberi suapan pangan
bertambah terus-menerus. Analisis untuk meramalkan dampak yang akan terjadi tidak
memerlukan kualifikasi intelektual yang tinggi, karena hampir semua orang akan
memahami akibat yang dapat timbul karenanya. (Yunus, 2005).
Namun selama masih adanya pertumbuhan penduduk dan dinamika
pembangunan di suatu kota, maka konsekuensinya kebutuhan akan ruang dan lahan akan
terus berkembang yang salah satunya adalah dengan pemekaran kota (urban sprawling)
luas, harga lahan yang lebih murah dan kondisi lingkungan yang lebih baik. Namun
ironisnya lahan di pinggiran kota tersebut pada umumnya adalah lahan-lahan pertanian
produktif sebagai sumber penghasil pangan dan berfungsi sebagai paru-paru kota.
1.2. Perumusan Masalah
1). Bagaimana proses pemekaran fisik kota di kawasan penelitian pada jangka waktu 20
(dua puluh) tahun terakhir dikaji terhadap :
a. Aspek Fisik Spasial
b. Aspek Non Fisikal
2). Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya proses pemekaran fisik kota di
kawasan penelitian.
1.3. Tujuan Penelitian
1). Mengkaji proses pemekaran fisik kota di kawasan penelitian pada jangka waktu 20
(dua puluh) tahun terakhir ditinjau terhadap :
a. Aspek Fisik Spasial :
Melakukan kajian terhadap 3 (tiga) elemen morfologi kota yaitu : karakteristik
penggunaan lahan, karakteristik bangunan dan karakteristik sirkulasi.
b. Aspek Non Fisikal
Aspek ini meliputi bidang yang sangat luas, yaitu ekonomi, sosial budaya,
lingkungan, teknologi dan sebagainya, sehingga tinjauan pada aspek ini dibatasi
pada salah satu elemen bidang ekonomi saja yaitu diversifikasi mata pencaharian
2). Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya proses pemekaran fisik kota di
kawasan penelitian.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi segenap stakeholders di kawasan
penelitian terutama Pemerintah Kota Pematangsiantar sebagai masukan berbasis kajian
ilmiah didalam merumuskan kebijakan yang berkenaan dengan pemanfaatan ruang
(lahan) di kawasan pinggiran kota khususnya di koridor Jalan Melanthon Siregar,
Kecamatan Siantar Marihat.
KAWASAN PINGGIRAN KORIDOR JALAN MELANTHON SIREGAR
AKTIVITAS DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK
INPUT LAHAN
PEMEKARAN FISIK KOTA
ANALISIS
FISIK SPASIAL : 3 ELEMEN MORFOLOGI KOTA
NON FISIK : EKONOMI, SOSIAL DAN LINGKUNGAN
FAKTOR ‐FAKTOR PENYEBAB
KESIMPULAN DAN
SARAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Urban Sprawl : Defenisi dan Konteks
Dari waktu ke waktu, sejalan dengan selalu meningkatnya jumlah penduduk
perkotaan serta meningkatnya tuntutan kebutuhan kehidupan dalam berbagai
aspek-aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi telah mengakibatkan meningkatnya
kegiatan penduduk perkotaan. Baik meningkatnyya jumlah penduduk perkotaan
maupun kegiatan penduduk perkotaan telah mengakibatkan meningkatnya kebutuhan
ruang kekotaan yang besar. Oleh karena ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan
terbatas, maka meningkatnya kebutuhan ruang untuk tempat tinggal dan kedudukan
fungsi-fungsi selalu akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota. Gejala pengambil
alihan lahan non urban di daerah pinggiran kota disebut sebagai “invasion”. Proses
perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar disebut “urban sprawl” (Yunus,
1999).
Selanjutnya dari Yunus (1999) tersebut mengutip beberapa pengertian urban
sprawl, antara lain yaitu :
Menurut Northam (1975) :
Urban sprawl refers to the areal expansion of urban concentration beyond what they
have been. Urban sprawl involves the conversion of land peripheral to urban centers
that has previously been used for non urban uses to one or more urban uses.
Urban sprawl refers to continous expansion around large cities, where by there is
always a zone of land that is in the process of being converted from rural to urban use.
Menurut Domouchel (1976) :
Urban sprawl can be defined of growth of metropolitan area through the process of
development of miscellaneous types of land use in the urban fringe areas.
Sedangkan pengertian menurut Rosul (2008), Urban Sprawl atau dikenal dengan
pemekaran kota merupakan bentuk bertambah luasnya kota secara fisik. Perluasan kota
disebabkan oleh semakin berkembangnya penduduk dan semakin tingginya arus
urbanisasi. Semakin bertambahnya penduduk kota menyebabkan semakin bertambahnya
kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, perkantoran, dan fasilitas sosial ekonomi
lain. Urban sprawl terjadi dengan ditandai adanya alih fungsi lahan yang ada di sekitar
kota (urban periphery) mengingat terbatasnya lahan yang ada di pusat kota. Urban
sprawl merupakan salah satu bentuk perkembangan kota yang dilihat dari segi fisik
seperti bertambahnya gedung secara vertikal maupun horisontal, bertambahnya jalan,
tempat parkir, maupun saluran drainase kota. Dampak dari pemekaran kota adalah
semakin berkurangnya lahan subur produktif pertanian sehingga mengancam
swasembada pangan karena terjadi perubahan peruntukan lahan pertanian menjadi lahan
terbangun. Disamping itu pemekaran kota yang tidak terkendali (unmanaged growth)
menyebabkan morfologi kota yang tidak teratur, kekumuhan (slum), dan permukiman
liar (squatter settlement). Pemilihan lokasi hunian di pinggiran kota dengan asumsi
harga lahan yang lebih murah dan kondisi udara yang masih sehat. Penduduk yang
memilih lokasi tinggal di luar kota agar memiliki rumah tinggal sendiri. Sebagian
penduduk yang berpenghasilan rendah dengan terpaksa menempati rumah tinggal yang
sempit dan kumuh. Sebagian penduduk terpaksa tinggal di daerah genangan. Musim
kemarau tergenang oleh air rob (air laut pasang), dan musim hujan tergenang oleh oleh
air hujan. Rumah dan fasilitas pendukungnya seperti jalan, saluran drainase, tiang listrik,
barang elektronik menjadi rusak. Masyarakat yang mampu pindah ke tempat lain, tetapi
masyarakat yang miskin tidak ada pilihan selain tetap bertempat tinggal disana. Salah
satu kota dengan urbanisasi dan pertumbuhan kota yang khas adalah Kota Semarang.
Bukit yang seharusnya menjadi daerah tangkapan hujan (recharge area) dijadikan
sebagai permukiman sebagai akibat terbatasnya lahan di pusat kota. Dampaknya adalah
air larian permukaan (surface run off) semakin tinggi dan menurunnya resapan
(inviltrasi), semakin banyak vegetasi yang hilang sehingga udara semakin panas. Itulah
sebabnya sumur kering pada musim kemarau karena menurunnya cadangan air di
groundwater. Keberadaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masih belum dapat
diimplementasikan dalam mencapai tata ruang yang pro lingkungan. Terlalu banyak
kepentingan sosial ekonomi yang mempengaruhi pelaksanaan RTRW, sehingga fungsi
lingkungan terabaikan. Rencana yang disusun masih baik dalam teori konsep, tetapi
karena tidak dapat diimplementasikan maka keberadaannya tidak mampu memformat
kota agar dapat terkendali.
2.2. Proses Urban Sprawl
Menurut Yunus (2005), ditinjau dari prosesnya perkembangan spasial fisikal
kota dapat diidentifikasi, yaitu :
1). Sentrifugal : proses bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan ke arah luar
dari daerah kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah
pinggiran kota. Proses inilah yang memicu dan memacu bertambah luasnya
areal kekotaan. Makin cepat proses ini berjalan, makin cepat pula perkembangan
kota secara fisikal.
2). Sentripetal : proses penambahan bangunan-bangunan kekotaan di bagian dalam
kota (pada lahan kosong/ruang terbuka kota).
b. Secara vertikal : penambahan ruang kota dengan menambah jumlah lantai (bangunan
bertingkat).
Dalam penelitian ini, penulis menitikberatkan fokus studi pada proses
perkembangan spasial fisikal kota secara horizontal sentrifugal yaitu proses
bertambahnya ruang kota ke arah luar/pinggiran kota atau urban sprawl yang masih
kental dengan kenampakan fisik desa yaitu wajah pertanian terutama sawah dengan
irigasi teknis. Artinya terjadi alih fungsi (konversi) penggunaan lahan pertanian menjadi
built up area dalam hal ini menjadi perumahan/permukiman penduduk, perkantoran,
sekolah, perdagangan dan berbagai infrastruktur perkotaan lainnya.
Pengaruh urban sprawl dari struktur fisik adalah terjadinya pola penyebaran
permukiman yang semakin meluas/melebar ke samping kiri kanan jalur transportasi,
dengan kata lain terjadi pemusatan fasilitas umum perkotaan di nodes; bagian wilayah
tertentu. Dari struktur kependudukan adalah terjadinya pola penyebaran penduduk
diperlihatkan dengan penyebaran lahan terbangun (permukiman) yang semakin melebar
ke samping kiri kanan jalan arteri. Sedangkan dari struktur ekonomi, pengaruh urban
sprawl adalah terjadinya perubahan pola kegiatan ekonomi penduduk ke arah non
sektor pertanian dan meningkatnya penduduk yang bekerja di sektor non pertanian
(pedagang, buruh industri dan jasa).
Selanjutnya menurut Yunus (1999), secara garis besar ada tiga macam proses
perluasan kekotaan (urban sprawl), yaitu :
Tipe 1 : Perembetan Konsentris ( Concentric Development/Low Density Continous Development
Tipe pertama ini oleh Harvey Clark (1971) disebut sebagai “low density,
continous development” dan oleh Wallace (1980) disebut “concentric development”.
Jadi ini merupakan jenis perembetan areal kekotaan yang paling lambat. Perembetan
berjalan perlahan-lahan terbatas pada semua bagian-bagian luar kenampakan fisik kota.
Karena sifat perambatannya yang merata disemua bagian luar kenampakan kota yang
sudah ada, maka tahap berikutnya akan membentuk suatu kenampakan morfologi kota
yang relatif kompak.
Tipe 2 : Perembetan Memanjang (Ribbon development/linear development/axial development).
Tipe ini menunjukkan ketidakmerataan perembetan areal kekotaan disemua
bagian sisi-sisi luar dari pada daerah kota utama. Perembetan paling cepat terlihat di
sepanjang jalur transportasi yang ada, khususnya yang bersifat menjari (radial) dari
pusat kota. Daerah ini sepanjang rute transportasi utama merupakan tekanan paling berat
dari perkembangan. Membumbungnya harga lahan pada kawasan ini telah memojokkan
pemilik lahan pertanian pada posisi yang sangat sulit.
Makin banyaknya perubahan lahan pertanian ke lahan non pertanian, makin
banyaknya penduduk, makin banyaknya kegiatan non agraris. Tingginya harga lahan
dan makin banyak orang yang mau membeli telah memperkuat dorongan pemilik lahan
untuk meninggalkan kegiatannya dan menjualnya. Bagi masyarakat hasil penjualan
tanahnya diinvestasikan lagi pada lahan yang jauh dari kota sehingga memperoleh lahan
Gambar 2.2. Perembetan Linier
Tipe 3 : Perembetan yang meloncat (leap frog development/checkerboard development)
Tipe perkembangan ini oleh kebanyakan pakar lingkungan dianggap paling
merugikan, tidak efisien dalam arti ekonomi, tidak mempunyai nilai estetika dan tidak
menarik. Perkembangan lahan kekotaannya terjadi berpencaran secara sporadis dan
tumbuh di tengah-tengah lahan pertanian. Keadaan ini sangat menyulitkan pemerintah
kota untuk membangun prasarana-prasarana fasilitas kebutuhan hidup sehari-hari.
Gambar 2.3. Perembetan Meloncat
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketiganya dapat terjadi
bersama-sama, gabungan dari dua macam maupun sendiri-sendiri. Makin besar kotanya makin
kompleks ekspresi spasial yang ditampilkannya. Pengenalan sifat masing-masing bentuk
ekspresi perkembangan spasial sentrifugal adalah sangat penting karena berkaitan
dengan penentuan dan pemilihan teknik manajemen tertentu yang direkomendasikan
2.3. Pemekaran Kota di Cileunyi – Bandung
Perkembangan suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh wilayah sekitarnya,
terutama antara wilayah kota dengan wilayah pinggirannya. Demikian halnya dengan
Kecamatan Cileunyi yang merupakan wilayah pinggiran dari Kota Bandung. Salah satu
pengaruh yang mulai jelas terlihat adalah terjadinya urban sprawl.
Untuk melihat sejauhmana terjadinya urban sprawl di Kecamatan Cileunyi,
digunakan metode pendekatan studi melalui analisis deskriptif kualitatif. Analisis ini
digunakan untuk menilai indikator urban sprawl selama kurun waktu tahun 1990-2003,
yaitu jumlah, kepadatan dan migrasi penduduk, mata pencaharian penduduk,
penggunaan lahan dan fasilitas umum perkotaan. Hasil akhir dari studi ini adalah
gambaran mengenai proses terjadinya urban sprawl selama kurun waktu 1990-2003 dan
pengaruh urban sprawl terdahap struktur tata ruang wilayah Kecamatan Cileunyi.
Dimana proses terjadinya urban sprawl di mulai sejak tahun 1997, terutama terlihat dari
jumlah dan kepadatan penduduk di setiap desa dan Kecamatan Cileunyi secara
keseluruhan yang mengarah pada perubahan fungsi wilayah pedesaan menjadi kota
menengah dan menuju kota besar. Sedangkan pengaruh urban sprawl terhadap struktur
tata ruang dapat dilihat dari 3 (tiga) struktur yaitu struktur fisik, kependudukan dan
ekonomi.
Pengaruh urban sprawl dari struktur fisik adalah terjadinya pola penyebaran
permukiman yang semakin meluas/melebar ke samping kiri kanan jalur transportasi,
dengan kata lain terjadi pemusatan fasilitas umum perkotaan di nodes; bagian wilayah
diperlihatkan dengan penyebaran lahan terbangun (permukiman) yang semakin melebar
ke samping kiri kanan jalan arteri. Sedangkan dari struktur ekonomi, pengaruh urban
sprawl adalah terjadinya perubahan pola kegiatan ekonomi penduduk ke arah non
pertanian. Hal ini terlihat dengan semakin berkurangnya penduduk yang bekerja di
sektor pertanian dan meningkatnya penduduk yang bekerja di sektor non pertanian
(pedagang, buruh industri dan jasa).
Dengan gambaran kondisi tersebut, lebih jauh pengaruh urban sprawl terhadap
struktur tata ruang wilayah Kecamatan Cileunyi dapat merambah ke kawasan dengan
fungsi lindung. Untuk itu perlu ada upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten
Bandung bekerja sama dengan Kota Bandung seperti pengendalian pemanfaatan ruang
sesuai fungsi kawasan, pengaturan pemberian ijin lokasi (insentif dan disinsentif),
pengaturan distribusi penduduk, pengelolaan wilayah pinggiran melalui sinkronisasi
kebijaksanaan, program dan kegiatan serta pengalihan sebagian pusat-pusat kegiatan
perkotaan ke wilayah pinggiran. (Rustiati 2007).
2.4. Dimensi Fisik Spasial dan Non Fisik
Secara garis besar proses urban sprawl dapat ditinjau terhadap dua dimensi yaitu
dimensi fisik spasial dan dimensi non fisikal.
2.4.1. Dimensi Fisik Spasial
Identifikasi dimensi secara fisikal ditinjau terhadap 3 (tiga) elemen utama
morfologi kota (Smailes, 1955) dalam Yunus (2006) yang dapat digunakan sebagai
indikator untuk mengenali sifat kekotaan dari segi kenampakan fisik. Ketiga elemen
a. Karakteristik pemanfaatan lahan (land use characteristics)
Elemen karakteristik pemanfaatan lahan ditekankan pada bentuk dan tipe
pemanfaatan lahan semata. Klasifikasi bentuk pemanfaatan lahan yang berkonotasi
kekotaan atau kedesaan diklasifikasikan kedalam 2 (dua) bentuk saja, yaitu bentuk
pemanfaatan lahan non agraris dan bentuk pemanfaatan lahan agraris. Bentuk
pemanfaatan lahan non agraris adalah bentuk pemanfaatan lahan yang diklasifikasikan
sebagai settlement built-up areas yang berasosiasi dengan sektor kekotaan dan bentuk
pemanfaatan lahan agraris khususnya vegetated area yang berasosiasi dengan sektor
kedesaan.
b. Karakteristik bangunan (building characteristics)
Tinjauan ini menekankan pembahasan pada fungsi dari sebuah bangunan, fungsi
mana selalu berasosiasi dengan orientasi pemanfaatannya. Sesuatu kota selalu diciri
khas oleh dominasi fungsi bangunan yang berorientasi pada kegiatan kekotaan atau
sektor non agraris. Dalam tinjauan mengenai karakteristik bangunan juga ditambahkan
tentang kepadatan bangunan dan jumlah bangunan pada suatu areal tertentu yang sangat
berbeda dengan apa yang terdapat di daerah pedesaan dengan jumlah dan kepadatan
bangunan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang terlihat di bagian kota.
Fenomena lain yang perlu diamati berkaitan dengan pembahasan karakteristik
bangunan adalah proses perubahan fungsi bangunan. Proses perubahan orientasi pada
sektor kedesaan dan kemudian beralih menjadi berorientasi sektor kekotaan. Hal ini
terjadi dalam kompleks permukiman maupun dalam bangunan-bangunan secara
c. Karakteristik sirkulasi (circulation characteristics)
Karakteristik yang juga digunakan untuk mengidentifikasi apakah sesuatu
kenampakan fisikal merupakan bagian dari daerah kekotaan adalah karakteristik
sirkulasi. Sirkulasi yang ditekankan di sini adalah prasarana yang memfasilitasi
peredaran barang, jasa dan informasi yaitu jaringan transportasi dan komunikasi.
Jaringan transportasi yang terbentuk di daerah yang kegiatan penduduknya sangat
banyak baik volume maupun frekuensinya akan menciptakan jaringan transportasi yang
sangat padat dengan kompleksitas sarana transportasi yang sangat tinggi.
Kompleksitas karakteristik sirkulasi dapat dilihat dari banyaknya kendaraan yang
berlalu lalang, keragaman kendaraan, kepadatan jaringan jalan, keanekaan rambu-rambu
lalu lintas yang kesemuanya nyaris tidak ditemukan di daerah yang bukan bersifat
kekotaan.
Proses urbanisasi secara fisik spasial terdiri dari 3 (tiga) yaitu :
a. Perpindahan penduduk dari desa ke kota.
b. Perubahan status pemerintahan.
c. Perembetan kenampakan fisik kekotaan kearah luar (urban sprawl).
2.4.2. Dimensi Non Fisikal
Dalam tinjauan ini, proses urban sprawl yaitu merupakan berubahnya
keseluruhan dimensi kehidupan manusia dari sifat kedesaan menjadi bersifat kekotaan.
Perubahan meliputi perilaku ekonomi, sosial, budaya, politik dan teknologi. Contoh
sifat kekerabatan yang dulunya kuat menjadi semakin individualistis dan formalistik,
aspek ekonomi misalnya perubahan proporsi mata pencaharian dari agraris (petani)
menjadi non agraris (pedagang, karyawan, buruh), aspek teknologi misalnya
penggunaan peralatan rumah tangga dari yang sederhana menjadi yang serba elektronis
(rice cooker, setrika listrik, televisi, HP), aspek politik yaitu semakin meningkatnya
kesadaran masyarakat akan peran serta mereka dalam berbagai kegiatan politik dan
pembangunan.
Beberapa karakteristik sebagai ciri yang membedakan masyakat pedesaan
dengan masyarakat perkotaan ditinjau dari dimensi non fisikal seperti yang disebutkan
oleh Said (2009), yaitu :
a.Jumlah dan kepadatan penduduk.
Meskipun tidak ada ukuran pasti, kota memiliki penduduk yang jumlahnya lebih
banyak dibandingkan desa. Hal ini mempunyai kaitan erat dengan kepadatan penduduk.
Kepadatan penduduk ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembangunan
perumahan.
b. Lingkungan hidup.
Lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh berbeda dengan di pekotaan.
Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas. Udaranya bersih, sinar
matahari cukup, tanahnya segar diselimuti berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan
berbagai satwa yang terdapat sela-sela pepohonan. Air yang menetes, memancar dari
persawahan. Semua ini sangat berbeda dengan lingkungan perkotaan yang sebagian
besar dilapisi beton dan aspal. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Udara yang
terasa pengap karena tercemar asap buangan cerobong pabrik dan kendaran bermotor.
Kota sudah terlalu banyak mengalami sentuhan teknologi, sehingga kadang-kadang
memasukkan sebagian alam kedalam rumahnya, baik yang berupa tumbuh-tumbuhan
bahkan mungkin hanya gambarnya saja.
c. Mata pencaharian.
Perbedaan yang sangat menonjol adalah pada mata pencaharian. Kegiatan utama
penduduk desa berada di sektor ekonomi primer yaitu bidang agraris. Kehidupan
ekonomi terutama tergantung pada usaha pengelolaan tanah untuk keperluan pertanian,
peternakan dan termasuk juga perikanan darat. Sedangkan kota merupakan pusat
kegiatan sektor ekonomi sekunder yang meliputi bidang industri, disamping sektor
ekonomi tertier yaitu bidang pelayanan jasa. Jadi kegiatan di desa adalah mengolah alam
untuk memperoleh bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia.
Sedangkan kota mengolah bahan-bahan mentah yang berasal dari desa menjadi bahan
setengah jadi atau mengolahnya sehingga berwujud bahan jadi yang dapat segera di
konsumsi.
d. Corak kehidupan sosial.
Corak kehidupan sosial di desa dapat dikatakan masih homogen. Sebaliknya di
kota sangat heterogen, karena disana saling bertemu berbagai suku bangsa, agama,
e. Stratifikasi sosial.
Stratifikasi sosial kota jauh lebih kompleks daripada di desa. Misalnya saja
mereka yang memiliki keahlian khusus dan bidang kerjanya lebih bamyak memerlukan
pemikiran memiliki kedudukan lebih tinggi dan upah lebih besar dari pada mereka yang
dalam sisitem kerja hanya mampu menggunakan tenaga kasarnya saja. Hal ini akan
membawa akibat bahwa perbedaan antara pihak kaya dan miskin semakin menyolok.
f. Mobilitas sosial.
Mobilitas sosial di kota jauh lebih besar daripada di desa. Di kota, seseorang
memiliki kesempatan besar untuk mengalami mobilitas sosial, baik vertikal yaitu
perpindahan kedudukan yang lebih tinggi atau lebih rendah, maupun horisontal yaitu
perpindahan ke pekerjaan lain yang setingkat.
g. Pola interaksi sosial.
Pola-pola interaksi sosial pada suatu masyarakat ditentukan oleh struktur sosial
masyarakat yang bersangkutan. Karena struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang
ada di pedesaan sangat berbeda dengan di perkotaan. Maka pola interaksi sosial pada
kedua masyarakat tersebut juga tidak sama.
h. Solidaritas sosial.
Solidaritas sosial pada kedua masyarakat ini pun ternyata juga berbeda.
kesamaan-kesamaan kemasyarakatan. Sebaliknya solidaritas masyarakat perkotaan justru terbentuk
karena adanya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat.
i. Kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional.
Dalam hierarki sistem administrasi nasional, kota memiliki kedudukan yang
lebih tinggi daripada desa. Di negara kita misalnya, urut-urutan kedudukan tersebut
adalah : ibukota negara, kota provinsi, kota kabupaten, kota kecamatan dan seterusnya.
Semakin tinggi kedudukan suatu kota dalam hierarki tersebut, kompleksitasnya semakin
meningkat, dalam arti semakin banyak kegiatan yang berpusat disana.
Dalam penelitian ini, proses urban sprawl untuk dimensi non fisik ditinjau
terhadap perubahan mata pencaharian penduduk yang berlokasi di kawasan penelitian,
yaitu perubahan mata pencaharian dari sektor primer (pertanian) menjadi bermata
pencaharian non pertanian antara lain : pedagang/wiraswasta, industri (buruh dan
karyawan), PNS/TNI/Polri dan sebagainya.
2.5. Faktor-faktor Penyebab Urban Sprawl
Proses bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan ke arah luar dari daerah
kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah pinggiran kota memicu
dan memacu bertambah luasnya areal kekotaan. Makin cepat proses ini berjalan, makin
cepat pula perkembangan kota secara fisikal. Variasi keruangan dan lingkungan yang
terdapat di daerah pinggiran kota akan menyebabkan variasi akselerasi perkembangan
spasial yang terjadi. Makin banyak dan kuat faktor-faktor penarik yang terdapat di
daerah pinggiran kota terhadap penduduk dan fungsi-fungsi, makin cepat pula proses
Menurut Lee (1979) dalam Yunus (2005), mengemukakan bahwa terdapat 6
(enam) faktor yang mempunyai pengaruh kuat yang menyebabkan perkembangan ruang
secara sentrifugal kearah luar (urban sprawling) dan sekaligus akan mencerminkan
variasi intensitas perkembangan ruang di daerah pinggiran kota. Keenam faktor-faktor
tersebut adalah :
a. Faktor Aksesibilitas
Faktor aksessibilitas mempunyai peranan yang besar terhadap perubahan
pemanfaatan lahan, khususnya perubahan pemanfaatan lahan agraris menjadi non agraris
di daerah pinggiran kota. Dalam wacana aksesibilitas dikenal berbagai macam jenis
aksesibilitas, antara lain aksesibilitas sosial, aksesibilitas ekonomi, aksesibilitas budaya,
aksesibilitas politik dan aksesibilitas spasial yang sering diasosiasikan dengan
pengertian aksesibilitas fisikal. Yang dimaksud aksesibilitas dalam hal ini adalah
aksesibilitas fisikal yaitu tingkat kemudahan suatu lokasi dapat dijangkau oleh berbagai
lokasi lain. Pengukuran aksesibilitas fisikal dapat dilaksanakan dengan menilai
prasarana transportasi yang ada bersama-sama dengan sarana transportasinya.
Di daerah yang mempunyai nilai aksesibilitas fisikal yang tinggi akan
mempunyai daya tarik yang lebih kuat dibandingkan dengan daerah yang mempunyai
nilai aksesibilitas fisikal yang rendah terhadap penduduk maupun fungsi-fungsi
kekotaan. Di bagian tertentu daerah pinggiran kota yang masih didominasi oleh lahan
pertanian, namun memliki nilai aksesibilitas fisikal yang tinggi, proses konversi lahan
pertanian menjadi lahan non pertanian atau proses pengurangan lahan pertanian akan
berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan daerah-daerah pertanian dengan
b. Faktor Pelayananan Umum
Faktor pelayanan umum merupakan faktor penarik terhadap penduduk dan
fungsi-fungsi kekotaan untuk datang kearahnya. Makin banyak jenis dan macam
pelayanan umum yang terkonsentrasi pada suatu wilayah, maka makin besar daya
tariknya terhadap penduduk dan fungsi-fungsi kekotaan. Pembangunan kampus
pendidikan yang besar, sebagai contoh, akan diikuti pula oleh banyaknya pendatang
baru baik sebagai mahasiswa maupun pegawai-pegawai institusi yang bersangkutan.
Penduduk setempat baik asli maupun pendatang banyak yang memanfaatkan peluang
bisnis baru untuk memperoleh tambahan penghasilan. Usaha pemondokan mahasiswa,
pembangunan rumah baru untuk tujuan yang sama, usaha jasa pengetikan, rental
komputer, warung internet, fotocopy dan percetakan dan lain sejenisnya sangat marak
terjadi pada pusat-pusat pendidikan baru.
Pusat pelayanan umum sangat banyak macamnya, antara lain, kampus
pendidikan, pusat perbelanjaan, kompleks perkantoran, kompleks industri, pusat
rehabilitasi, rumah sakit, tempat ibadah, tempat rekreasi dan olah raga, stasiun kereta
api, stasiun bus, bandara dan lain sejenisnya.
c. Faktor Karakteristik Lahan
Lahan-lahan yang terbebas dari banjir, stabilitas tanahnya tinggi, topografi relatif
datar atau mempunyai kemiringan yang kecil, air tanah relatif dangkal, relief mikronya
tidak menyulitkan untuk pembangunan, drainasenya baik, terbebas dari polusi air, udara
maupun tanah akan mempunyai daya tarik yang lebih besar terhadap penduduk maupun
fungsi-fungsi lain kekotaan dibandingkan dengan daerah-daerah yang skor komposit
Demikian pula bentuk pemanfaatan lahan yang berbeda akan mempunyai daya
tarik yang berbeda pula. Sebagai contoh dapat dikemukakan, yaitu lahan pekarangan
akan berbeda dengan lahan persawahan walaupun keduanya mempunyai skor komposit
yang sama. Bagi orang yang akan memanfaatkan lahannya untuk perumahan,
cenderung memilih lahan pekarangan dibandingkan lahan persawahan. Penyebab
utamanya terletak pada kerepotan dalam proses pembangunannya.
d. Faktor Karakteristik Pemilik Lahan.
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa pemilik lahan yang mempunyai
status ekonomi lebih lemah mempunyai kecenderungan lebih kuat untuk menjual
lahannya dibanding dengan mereka yang mempunyai status ekonomi kuat.
Pemilik-pemilik lahan berekonomi lemah kebanyakan berasosiasi dengan Pemilik-pemilikan lahan yang
sempit dan mereka inilah yang paling terpengaruh oleh meningkatnya harga lahan yang
semakin tinggi, sementera itu upaya pengolahan lahannya tidak menguntungkan.
Mereka yang berekonomi kuat tidak didera oleh kebutuhan ekonomi mendesak,
sehingga kemampuan untuk mempertahankan lahannya atau tidak menjual lahannya
lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang berekonomi lemah. Hal inilah antara lain
alasan rasional yang mendasari mengapa karakteristik pemilik lahan mempunyai
pengaruh terhadap perkembangan spasial di daerah pinggiran kota. Pada daerah yang
didominasi oleh pemilik lahan yang berstatus ekonomi lemah, transaksi jual-beli lahan
akan lebih intensif dibandingkan dengan daerah yang didominasi oleh pemilik lahan
berekonomi kuat.
Diyakini sebagai salah satu faktor yang berpengaruh kuat terhadap intensitas
perkembangan spasial di daerah pinggiran kota apabila peraturan yang ada dilaksanakan
secara konsisten dan konsekuen. Beberapa kota di Indonesia telah mempunyai
perumusan yang baik untuk pengembangan kotanya, namun kebanyakan dari mereka
tidak melaksanakan keputusannya sendiri secara konsisten dan konsekuen. Hal inilah
yang mengakibatkan dampak-dampak keruangan, sosial, ekonomi dan lingkungan
negatif yang sulit dipecahkan pada masa depan yang panjang.
f. Faktor prakarsa pengembang
Faktor ini mempunyai peranan yang kuat pula dalam mengarahkan
pengembangan spasial sesuatu kota. Oleh karena pengembang selalu menggunakan
ruang yang cukup luas maka keberadaan kompleks yang dibangun akan mempunyai
dampak yang besar pula terhadap lingkungan sekitar. Pada daerah tertentu yang
mungkin sebelum dibeli pengembang merupakan lahan dengan nilai ekonomis yang
sangat rendah, setelah dibeli dan dimanfaatkan oleh pengembang untuk kawasan
permukiman elit dengan prasarana dan sarana permukiman yang lengkap dan baik, maka
daerah tersebut menjadi sangat menarik pemukim-pemukim baru maupun bentuk
kegiatan ekonomi. Daerah semacam ini akan mempunyai akselerasi perkembangan
spasial yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan daerah yang tidak dijamah oleh
pengembang.
Sedangkan menurut Chapin (1957) dalam Suartika (2007) mengidentifikasi tiga
kelompok (faktor) yang berperan besar dalam menentukan tata guna lahan yaitu :
1. Faktor ekonomi, yang berorientasi kepada kepentingan pengembangan modal
2. Faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan menjaga keberlangsungan hidup masyarakat
umum (public interest values).
3. Faktor nilai-nilai sosial bertumbuhkembang di daerah dimana lahan itu berada
(socially rooted values).
Gambar 2.4. Hubungan antara faktor-faktor penentu dalam pemanfaatan lahan
Secara nalar, Chapin kemungkinan menghilangkan kepentingan politik (political
values) karena secara prinsip politik suatu negara didedikasikan menjaga
keberlangsungan hidup rakyatnya (public interest values). Tetapi hal ini tidak selalu
benar. Kalau kerangka pemikiran Chapin hendak diterapkan di negara dengan
praktek-praktek sentralisasi politik yang kental seperti Indonesia (Firman 1999, 2000, Faisal
2002), memberikan tempat khusus pada political interest menduduki posisi strategis,
Jadi menurut Suartika untuk negara dengan sentralisasi kebijakan politik yang
masih kental termasuk Indonesia terdapat 4 (empat) faktor penentu tata guna lahan, yaitu
:
1. Faktor Ekonomi
2. Faktor Kebutuhan Masyarakat.
3. Faktor nilai-nilai sosial.
4. Faktor Politik.
Sedangkan menurut Dowall (1978), Durand dan Laverse (1983) dalam
Hartini dkk (2008), ada dua faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan, yaitu faktor
eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal meliputi :
1. Tingkat urbanisasi secara umum
2. Kondisi perekonomian
3. Kebijakan dan program-program pembangunan kota
Sedangkan faktor internal, meliputi :
1. Lokasi dan potensi lahan
2. Pola pemilikan lahan
3. Motivasi kepemilikannya.
Sementara menurut Suryadini (1994) dalam Hartini dkk (2008) menyatakan
bahwa faktor penyebab terjadinya perubahan pemanfaatan lahan adalah :
2. Kebutuhan pemenuhan fasilitas yang ingin dibangun untuk melayani penduduk
3. Kurangnya pengawasan dari pemerintah.
4. Tingkat pendapatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan akan ruang
terbuka hijau.
5. Konsekuensi dari lokasi yang strategis secara ekonomis dan produktif yang dapat
meningkatkan nilai lahan.
2.6. Diversifikasi Mata Pencaharian
Diversifikasi adalah suatu proses semakin beragam dan semakin banyaknya
sumber penghasilan penduduk. Proses tersebut merupakan proses struktural dimana
sumber lapangan kerja dan pendapatan penduduk desa dikembangkan dan diperluas.
Jadi proses tersebut mencakup pengembangan dari pengenalan jenis tanaman dan
teknologi pada sistem usahatani tradisional ke pengembangan lapangan kerja di luar
pertanian, khususnya pada industri kecil pedesaan. Secara bertahap proses tersebut
tersebut mencakup beralihnya tenaga kerja pedesaan yang bekerja di sektor pertanian
(dalam tingkat yang makin besar) dan hal ini merupakan bagian dari transformasi
ekonomi secara struktural. Pada tingkat yang sangat umum ini, diversifikasi pedesaan
dapat dianggap sebagai proses bertahap yang tidak dapat dihindari. (Prabowo, 1995).
Hal tersebut di atas merupakan elemen utama dalam proses pembangunan di
hampir semua negara berkembang, yang mencakup tidak hanya kenaikan produksi
pertanian non-traditional tetapi juga pertumbuhan nonfarm di pedesaan yang dapat
menyediakan dasar bagi pertumbuhan yang berkesinambungan dan pemerataan. Sebagai
pertanian baik dalam produksi maupun penyerapan tenaga kerja serta proporsi penduduk
pedesaan terhadap penduduk keseluruhan.
Sedangkan menurut Rachman, Handewi PS, dkk (2006), pengertian diversifikasi
terkait dengan masalah keragaman sumber pendapatan (usaha) rumah tangga di
pedesaan. Dari berbagai definisi, secara umum, diversifikasi dapat diterangkan sebagai
berikut :
a. Pergeseran sumberdaya dari kegiatan usahatani ke non-usahatani.
b. Penggunaan sumberdaya dalam skala besar berupa campuran dari berbagai komoditas
dan kegiatan yang menunjangnya.
c. Perubahan sumberdaya dari komoditas pertanian bernilai rendah ke komoditas
pertanian bernilai tinggi.
Yang juga penting adalah kemampuan melakukan diversifikasi (mata
pencaharian, peruntukan lahan, moda transportasi, dan sebagainya) yang seringkali
harus dilakukan akibat tekanan atau perubahan-perubahan tertentu. Satu contoh yang
dapat dikemukakan disini adalah diversifikasi mata pencaharian penduduk di dua desa di
sekitar delta Red River di Vietnam yang dikaitkan dengan pertumbuhan jaringan
transportasi dan perkembangan kota-kota di sekitarnya. Selama 15 tahun pengamatan,
penduduk di ke-dua desa tersebut melakukan diversifikasi usaha mulai dari petani,
peternak, pedagang, hingga pengrajin untuk bertahan dan meningkatkan kualitas hidup
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah di koridor Jalan Melanthon Siregar di Kecamatan
Siantar Marihat Kota Pematangsiantar. Mengapa koridor jalan ini, adalah dengan
pertimbangan letak geografis jalan yang terletak di pinggiran kota (sub urban)
Pematangsiantar yang banyak mengalami fenomena proses urban sprawling dimana
terjadinya perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi built up area antara lain
berupa perumahan dan permukiman penduduk, perkantoran, perdagangan, pendidikan
dan berbagai infrastruktur dan utilitas perkotaan lainnya.
Jalan Melanthon Siregar sendiri merupakan jalan propinsi dengan kondisi berupa
infrastruktur aspal hotmix yang cukup baik dan lebar menghubungkan pusat primer Kota
Pematangsiantar dengan kota-kota Kecamatan di Kabupaten Simalungun wilayah timur
dan merupakan jalan alternatif bagi para pengguna kendaraan dari dan ke wilayah pesisir
timur Sumatera Utara.
3.2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Data Sekunder dan
Data Primer.
3.2.1. Data Sekunder
Data Sekunder adalah jenis data yang diperoleh dari hasil pengumpulan publikasi
a. Peta-peta Tematik Kota Pematangsiantar dan Kecamatan Siantar Marihat.
b. Rencana Umum Tata Ruang Kota Pematangsiantar Tahun 2002 -2011.
c. Perda Nomor 7 Tahun 2003 tentang Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kota
Pematangsiantar Tahun 2002 – 2011.
d. Laporan Rencana Revisi RUTR Kota Pematangsiantar Tahun 2007 – 2016.
e. Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kecamatan Siantar Marihat Tahun
2000 – 2011.
f. Pematangsiantar Dalam Angka, Kecamatan Siantar Marihat Dalam Angka, Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB), dan sebagainya.
3.2.2. Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan dari hasil wawancara dan penyebaran
kuesioner kepada penduduk di wilayah penelitian, wawancara dengan aparat Pemerintah
Kota dan Kecamatan/Kelurahan yang berkompeten, pengamatan (observasi) langsung
dan mendokumentasikan secara visual kondisi eksisting di lapangan.
3.2.3. Metode Pengumpulan Data
a. Data Sekunder
Metode pengumpulan data sekunder ini adalah dengan cara mengumpulkan
publikasi dari berbagai sumber instansi Pemerintah Kota Pematangsiantar baik dalam
Dinas Pekerjaan Umum, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kantor Kecamatan/Kelurahan
di Siantar Marihat.
b. Data Primer
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dalam
Penelitian kualitatif metode pengumpulan data primer yang biasanya dimanfaatkan
adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen (Moleong, 2005).
1). Wawancara
Wawancara yang dilakukan dibagi atas dua bagian yaitu wawancara terstruktur
dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur, dengan mengadakan
wawancara langsung kepada responden secara pribadi atau perseorangan dengan
mengajukan kuesioner. Wawancara tidak terstruktur, dalam hal ini tidak disediakan
daftar pertanyaan, akan tetapi caranya agak bebas dan sederhana serta tidak terlihat
formil, sehingga tidak menimbulkan kekakuan dalam wawancara dan yang
diwawancarai diusahakan tidak menyadari bahwa responden (informan) sedang
diwawancarai sehingga data yang diperoleh lebih akurat dan terjamin (Muslim, 2003).
Untuk mendapatkan sampel digunakan teknik random sampling (sampel
random). Sampel random adalah sampel yang diambil dari suatu populasi dan setiap
anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel
(Singarimbun, 1995).
Wawancara dilakukan terhadap sampel penduduk yang bermukim di sepanjang
koridor Jalan Melanthon Siregar yang masuk wilayah administratif Kota
populasi. Jika populasi penelitian dianggap homogen, maka sampelnya cukup diambil 5
% saja tetapi manakala populasinya heterogen, maka jumlah sampelnya dinaikkan
menjadi lebih besar. Donald Ary menyarankan 10 – 20 %. (Mukhtar dan Widodo, 2000).
Dalam penelitian ini penulis tidak membatasi diri tentang persentase minimal jumlah
sampel terhadap populasi, namun penulis berusaha mendapatkan sebanyak-banyaknya
sampel dari total populasi penduduk yang bermukim di kawasan penelitian tersebut,
melebihi persyaratan minimum jumlah sampel di atas.
Wawancara terstruktur dengan pengisian kuesioner sebagian besar dilakukan
terhadap sampel penduduk di lokasi penelitian, sebagian kecil dilakukan dengan
wawancara tidak terstruktur, sedangkan wawancara yang dilakukan terhadap beberapa
narasumber yang berkompeten dari jajaran instansi Pemerintahan Kota Pematangsiantar
antara lain : Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pertanian,
Kepala BPS, Camat dan Lurah di Siantar Marihat, pengurus sekolah, rumah ibadah,
perkantoran swasta dan sebagainya, dilakukan dengan teknik wawancara tidak
terstruktur.
2). Pengamatan
Pengamatan atau observasi ke lapangan ditujukan untuk lebih meyakini
kebenaran dari data yang diperoleh berdasarkan wawancara untuk disesuaikan dengan
kondisi lapangan atau lokasi penelitian dan mendokumentasikan secara visual kondisi
eksisting tersebut.
Pemanfaatan dokumen adalah berupa data sekunder yang didapatkan penulis dari
berbagai sumber instansi Pemerintah Kota Pematangsiantar antara lain Bappeda, Dinas
PU, Dinas Pertanian, BPS, Kecamatan dan Kelurahan di Siantar Marihat.
Dokumen-dokumen tersebut antara lain Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pematangsiantar,
Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Siantar Marihat, Pematangsiantar Dalam Angka,
PDRB Kota Pematangsiantar dan sebagainya.
3.3. Tahapan/Kronologis Pengumpulan Data
Pengumpulan data baik data sekunder dan data primer dilakukan dengan
tahapan/kronologis sebagai berikut :
1). Pengurusan surat izin penelitian dari Ketua Program Studi Magister Teknik
Arsitektur Universitas Sumatera Utara Nomor Surat : 032/H5.2.1.4/SPB/2010
tanggal 30 Januari 2010 perihal Permohonan Izin Penelitian.
2). Pengurusan Surat Rekomendasi/Izin Penelitian dari Pemerintah Kota
Pematangsiantar up. Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Statistik Kota
Pematangsiantar Nomor : 800/035/BPPS/II/2010 tanggal 1 Pebruari 2010 perihal
Rekomendasi/Izin Penelitian an. Jayadin Simarmata.
3). Setelah mendapat izin/rekomendasi dari Pemerintah Kota Pematangsiantar, penulis
segera mengumpulkan data sekunder berupa berbagai dokumen tertulis yang dimiliki
oleh instansi di jajaran Pemerintah Kota yang berhubungan dengan penelitian ini,
dilakukan pada periode waktu bulan Pebruari sampai dengan April 2010.