Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi Di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009

87  37  Download (0)

Full text

(1)

PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN LANSIA TENTANG PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DALAM MENUNJANG

STATUS GIZI DI PUSKESMAS PETISAH MEDAN TAHUN 2009

S K R I P S I

Oleh :

Enina Tarigan NIM. 071000266

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN LANSIA TENTANG PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DALAM MENUNJANG

STATUS GIZI DI PUSKESMAS PETISAH MEDAN TAHUN 2009

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

Enina Tarigan NIM. 071000266

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :

PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN LANSIA TENTANG PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DALAM MENUNJANG

STATUS GIZI DI PUSKESMAS PETISAH MEDAN TAHUN 2009

Yang Dipersiapkan dan Dipertahankan Oleh :

Enina Tarigan NIM. 071000266

Telah Diuji Dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 14 Januari 2010 dan

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima

Tim Penguji

Ketua Penguji Penguji I

(Dr.Ir.Zulhaida Lubis, M.Kes) (Dr.Ir.Evawani Y.Aritonang, M.Si) NIP.196205291989032001 NIP. 132049788

Penguji II Penguji III

(Ernawati Nasution SKM, M.Kes) (Fitri Ardiani SKM, MPH) NIP. 197002121995012001 NIP.198207292008122002

Medan, Desember 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Dekan,

(4)

ABSTRAK

PERILAKU LANSIA TENTANG PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DALAM MENUNJANG STATUS GIZI DI PUSKESMAS PETISAH MEDAN TAHUN 2009

Posyandu lansia merupakan keterpaduan pelayanan yang dibentuk atas dasar peningkatan populasi lansia, mahalnya biaya pengobatan, rendahnya jangkauan pelayanan kesehatan dan tingginya angka kesakitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009.

Jenis penelitian ini adalah survey dengan rancangan sekat silang. Populasi adalah seluruh lansia di Puskesmas Petisah Medan. Sampel sebanyak 100 responden yang dipilih secara acak sederhana. Variabel bebas yaitu karakteristik lansia berupa umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Variabel terikat yaitu perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu dan status gizi lansia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan lansia dalam kategori baik sebesar 96,15%, sikap lansia dalam kategori baik sebesar 100% dan tindakan lansia dalam kategori baik 78,8%. Indeks Massa Tubuh pada lansia diperoleh 62% lansia yang status gizi normal, 30% lansia yang status gizi gemuk tingkat ringan, 8% lansia yang status gizi gemuk tingkat berat. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi dalam kategori baik.

Disarankan kepada petugas puskesmas tetap mempertahankan program posyandu dan memberikan penyuluhan kesehatan, kepada kader dan kepala lingkungan lebih berperan aktif dalam menghimbau lansia agar tetap mengikuti kegiatan posyandu, dan juga kepada anggota keluarga agar mendampingi lansia dalam mengikuti setiap kegiatan posyandu lansia.

(5)

ABSTRACT

Elderly’s behavior of using posyandu in supporting elderly’nutrition in Puskesmas Petisah Medan 2009

Elderly’ posyandu is integrated health service was formed on basic of improvement aging population, expensive cost, the low coverage of health services and high morbidity. This study aims to determinent behavior of using elderly’s posyandu in supporting nutrition elderly in Puskesmas Petisah 2009.

This research is survey with a cross sectional. Population of this research is all elderly in Puskesmas Petisah Medan. Sample is 100 respondents was taken by simple random sampling. Variable independent is age, sex, education, job and income. Variable dependent is behaviour elderly’s about utilization posyandu.

The results showed that knowledge of the elderly in both category for 96,15%, the attitude of the elderly in both category of 100% and practice of elderly in category 78,8%. Body mass indeks of elderly at normal nutritional status is 62%, 30% of the nutritional status of elderly in the mild fat, 8% of nutritional status of elderly in the level of fat weight. From the result it can be concluded that the behavior off the elderly’s utilization in supporting the elderly posyandu nutritional status in both categories.

It is suggested to health workers posyandu for maintaining posyandu’s programme and provide health education, to cadre and the environment chief be more active in calling elderly for following the posyandu activities, and also to family members to accompany the elderly to following in each posyandu’activities elderly.

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : ENINA TARIGAN

Tempat/Tanggal lahir : Medan, 23 Maret 1985

Agama : Kristen Protestan

Status Perkawinan : Belum menikah

Jumlah Bersaudara : 6 Orang

Alamat Rumah : Jl. Saudara Gg. Pantai II No. 22 Medan

Riwayat Pendidikan

Tahun 1992 – 1998 : SD Swasta Kristen Immanuel Medan

Tahun 1998 – 2001 : SMP Swasta Kristen Immanuel Medan

Tahun 2001 – 2003 : SMA Swasta Kristen Immanuel Medan

Tahun 2003 – 2006 : Poltekkes Depkes RI Medan

Jurusan Keperawatan

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa

atas kasih dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul: “Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi Di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Tersusunnya skripsi ini, tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima

kasih kepada:

1. dr. Ria Masniari Lubis, MSi, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat.

2. Dr. Ir Zulhaida Lubis M.Kes, selaku Dosen pembimbing I dan Dr. Ir Evawany

Y. Aritonang, M.Si, selaku Dosen pembimbing II yang telah banyak

meluangkan waktu, pikiran serta memberikan bimbingan hingga selesainya

skripsi ini.

3. Dra. Jumirah Apt. M.Kes selaku Ketua Departemen Gizi Kesehatan

Masyarakat.

4. Ernawati Nasution, SKM. M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Dr. Henny Safitri selaku Kepala Puskesmas Petisah yang telah memberikan

izin untuk mengikuti kegiatan akademik.

6. Secara khusus kepada Orang tua tercinta buat Papa Drs. A.M. Tarigan, Apt

(8)

sayang sepenuhnya bagi penulis. Demikian juga buat kakak dan adikku yang

selalu hadir disetiap waktu untuk mendukung, dan memberikan semangat.

7. Buat sahabatku : Hinsa, Esra, Kak Santi, Melisa, Hendra dan teman-teman di

Peminatan Gizi Kesehatan Mayarakat, Ekstensi 2007 serta Regular 2005

lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terimakasih atas

dukungan, kebersamaan, canda, tawa yang telah terjalin selama ini dan

membantu skripsi ini hingga selesai.

8. Teristimewa buat abangku Elwin Ginting, S.Pt yang telah banyak mendukung

skripsi ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu

diharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga penelitian yang telah

dilaksanakan dapat berguna bagi penulis, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan juga

bagi semua pihak yang berkompeten.

Medan, Januari 2010

(9)

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ... i

Abstrak ... ii

Abstract ... iii

Riwayat Hidup Penulis... iv

Kata Pengantar... v

2.1.2. Arti dan Batasan Lansia... 10

2.2. Posyandu Lanjut Usia ... 11

2.2.1. Pengertian Posyandu Lansia... 11

2.2.2. Tujuan Penyelenggaraan... 12

2.2.3. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia... 12

2.2.4. Kendala Pelaksanaan Posyandu Lansia... 13

2.3 Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia ... 15

2.4 Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Posyandu Lansia ... 17

2.5 Keukupan Gizi Pada Lansia ... 19

2.6 Pengkajian Status Gizi ... 22

2.7. Kebutuhan Zat Gizi Pada Lansia ... 29

2.8. Perilaku Sehubungan Dengan Pemanfaatan Posyandu ... 30

(10)

3.2.1.Lokasi Penelitian ... 36

4.1.4. Tenaga Kesehatan Puskesmas Petisah ... 43

4.1.5. Fasilitas Fisik Puskesmas Petisah ... 43

4.1.6. Posyandu Lansia Di Puskesmas Petisah ... 44

4.2 Karakteristik Responden... 44

5.1.1. Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu 55

5.1.2. Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu ... 58

5.1.3.Tindakan Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu ... 59

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur ... 45

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 45

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan ... 46

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 46

Tabel 4.5 Distribuusi Responden Berdasarkan Penghasilan ... 46

Tabel 4.6 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009 ... 47

Tabel 4.7 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Berdasarkan Hasil Pengukuran ... 49

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009 ... 50

Tabel 4.9 Distribusi Sikap Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Berdasarkan Hasil Pengukuran ... 52

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009 ... 53

Tabel 4.11 Distribusi Tindakan Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Berdasarkan Hasil Pengukuran ... 53

Tabel 4.12 Status Gizi Lansia Berdasarkan Indeks Masa Tubuh ... 54

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi Lansia di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009.

Lampiran 2. Surat Keterangan Izin Penelitian di Puskesmas Petisah Medan.

Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Penelitian di Puskesmas Petisah Medan.

(13)

ABSTRAK

PERILAKU LANSIA TENTANG PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DALAM MENUNJANG STATUS GIZI DI PUSKESMAS PETISAH MEDAN TAHUN 2009

Posyandu lansia merupakan keterpaduan pelayanan yang dibentuk atas dasar peningkatan populasi lansia, mahalnya biaya pengobatan, rendahnya jangkauan pelayanan kesehatan dan tingginya angka kesakitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi di Puskesmas Petisah Medan Tahun 2009.

Jenis penelitian ini adalah survey dengan rancangan sekat silang. Populasi adalah seluruh lansia di Puskesmas Petisah Medan. Sampel sebanyak 100 responden yang dipilih secara acak sederhana. Variabel bebas yaitu karakteristik lansia berupa umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Variabel terikat yaitu perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu dan status gizi lansia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan lansia dalam kategori baik sebesar 96,15%, sikap lansia dalam kategori baik sebesar 100% dan tindakan lansia dalam kategori baik 78,8%. Indeks Massa Tubuh pada lansia diperoleh 62% lansia yang status gizi normal, 30% lansia yang status gizi gemuk tingkat ringan, 8% lansia yang status gizi gemuk tingkat berat. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi dalam kategori baik.

Disarankan kepada petugas puskesmas tetap mempertahankan program posyandu dan memberikan penyuluhan kesehatan, kepada kader dan kepala lingkungan lebih berperan aktif dalam menghimbau lansia agar tetap mengikuti kegiatan posyandu, dan juga kepada anggota keluarga agar mendampingi lansia dalam mengikuti setiap kegiatan posyandu lansia.

(14)

ABSTRACT

Elderly’s behavior of using posyandu in supporting elderly’nutrition in Puskesmas Petisah Medan 2009

Elderly’ posyandu is integrated health service was formed on basic of improvement aging population, expensive cost, the low coverage of health services and high morbidity. This study aims to determinent behavior of using elderly’s posyandu in supporting nutrition elderly in Puskesmas Petisah 2009.

This research is survey with a cross sectional. Population of this research is all elderly in Puskesmas Petisah Medan. Sample is 100 respondents was taken by simple random sampling. Variable independent is age, sex, education, job and income. Variable dependent is behaviour elderly’s about utilization posyandu.

The results showed that knowledge of the elderly in both category for 96,15%, the attitude of the elderly in both category of 100% and practice of elderly in category 78,8%. Body mass indeks of elderly at normal nutritional status is 62%, 30% of the nutritional status of elderly in the mild fat, 8% of nutritional status of elderly in the level of fat weight. From the result it can be concluded that the behavior off the elderly’s utilization in supporting the elderly posyandu nutritional status in both categories.

It is suggested to health workers posyandu for maintaining posyandu’s programme and provide health education, to cadre and the environment chief be more active in calling elderly for following the posyandu activities, and also to family members to accompany the elderly to following in each posyandu’activities elderly.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan dan gizi merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan merupakan

faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan

pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang meliputi

berbagai bidang termasuk kesehatan telah dirumuskan paradigma baru pembangunan

nasional yakni paradigma sehat dimana perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

di semua sektor agar mempertimbangkan dampak positif dan negatif pada status

kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Untuk mewujudkan paradigma tersebut

telah ditetapkan visi Indonesia Sehat 2010 (Depkes RI, 2000).

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat lepas dari makanan.

Makanan sebagai salah satu kebutuhan pokok bagi manusia, memiliki fungsi yaitu

memelihara dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak, mengatur metabolisme dan

keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh lainnya, serta sebagai penghasil energi.

Agar makanan dapat berfungsi seperti ini, maka makanan yang dikonsumsi

sehari-hari tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat tertentu

sehingga memenuhi fungsi tersebut, dan zat-zat ini disebut dengan zat gizi. Oleh

karena itu, asupan (intake) zat gizi pada makanan dalam jumlah yang seimbang

mutlak diperlukan pada lanjut usia.

Seiring kemajuan tingkat perawatan kesehatan dan penurunan jumlah

kelahiran, jumlah penduduk usia lanjut juga semakin meningkat. Keadaan ini tidak

(16)

Penduduk Antar Sensus) Lembaga Demografi UI 1985 memperkirakan jumlah usia

lanjut di Indonesia dewasa ini mencapai 15 juta jiwa atau 7,5 % dari jumlah

penduduk. Jumlah penduduk yang berusia lebih dari 60 tahun pada tahun 2005

diperkirakan akan meningkat lagi pada tahun 2020 menjadi 28,8 juta atau 11,34%

dari seluruh populasi. Peningkatan jumlah usia lanjut diperkirakan diikuti dengan

peningkatan usia harapan hidup dari usia 59,8 tahun pada tahun 1990 menjadi 71,7

tahun pada tahun 2020.

Menghadapi tantangan di masa yang akan datang, pembinaan kesehatan pada

usia lanjut memerlukan penanganan yang lebih serius karena terjadinya perubahan

demografi, pergeseran pola penyakit dan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut,

sementara jumlah dan kualitas petugas kesehatan dalam pengelolaan pelayanan

kesehatan usia lanjut di tingkat pelayanan dasar maupun rujukan saat ini masih belum

memadai (Depkes RI, 2001). Oleh karena itu Departemen Kesehatan Republik

Indonesia mengembangkan suatu program pembinaan kesehatan lanjut usia dengan

strategi pendekatan edukatif melalui institusi pelayanan kesehatan terutama

puskesmas dan posyandu lanjut usia. Dengan adanya program ini diharapkan

terbentuk suatu masyarakat lanjut usia yang berdaya guna, mandiri dan aktif dalam

menjalankan fungsi kehidupannya secara optimal.

Posyandu lanjut usia merupakan keterpaduan pelayanan yang dibentuk atas

dasar peningkatan populasi lansia, mahalnya biaya pengobatan, rendahnya jangkauan

pelayanan kesehatan, tingginya angka kesakitan dan lain-lain (Depkes RI, 2000).

Posyandu lansia direncanakan dan dikembangkan oleh masyarakat bersama Lurah,

(17)

kader yang terlatih. Kader dapat berasal dari anggota PKK, tokoh masyarakat, dan

anggota masyarakat lainnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008,

jumlah lansia yang dibina sebesar 24.659 atau 3,0% dari seluruh populasi lansia yang

jumlahnya mencapai 820.990 jiwa. Begitu juga dengan kegiatan pelayanan kesehatan

lansia di puskesmas yang mencakup pengobatan, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan

konseling, arisan atau pengajian dan kunjungan rumah atau home care hanya sebesar

19,5% (80 dari 409 puskesmas) dan 400 posyandu lansia yang sudah terbentuk atau

sekitar 23,2% sementara target yang harus dicapai sebesar 2120 posyandu lansia.

Berdasarkan data Puskesmas Petisah Medan tahun 2008, jumlah kunjungan

lansia yang berkunjung di posyandu di setiap kelurahan yaitu Kelurahan Petisah

Tengah, Kelurahan Sekip, Kelurahan Sei Putih Timur sebanyak 529 orang (15.85 %).

Sedangkan jumlah lansia yang berkunjung langsung ke Puskesmas Petisah Medan

sebanyak 3336 orang (11,75%). Hal tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ke

posyandu lansia masih sangat rendah dikarenakan jumlah penduduk yang lansia

berjumlah 5218 orang.

Dalam kenyataannya, kegiatan posyandu lansia yang diselenggarakan oleh

Puskesmas Petisah Medan kurang popular bila dibandingkan dengan posyandu untuk

balita. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kunjungan lansia di Puskesmas yang telah

ditunjuk sebagai pelaksana dari posyandu lansia.

Hal tersebut dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan lansia itu

sendiri bahkan keluarga juga belum memahami cara untuk memperlakukan lansia

(18)

yang kurang mengetahui akan adanya kegiatan posyandu lansia serta tujuan dari

kegiatan tersebut. Karena kegiatan promosi posyandu lansia di masyarakat masih

sebatas informasi dari orang ke orang yang sudah pernah memanfaatkan kegiatan

posyandu lansia, ataupun informasi yang didapat saat mengunjungi puskesmas

sebagai penyelenggara kegiatan posyandu lansia.

Kegiatan- kegiatan posyandu lansia yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas

Petisah yaitu berupa kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan,

pengukuran tekanan darah, olah raga, pemberian makanan tambahan dan penyuluhan

kesehatan.

Seyogyanya pelayanan gizi merupakan bagian pelayanan kesehatan bagi usia

lanjut yang dapat dilakukan di semua fasilitas pelayanan baik pemerintah atau swasta.

Oleh karena itu perlu dikembangkan tatalaksana gizi usia lanjut yang merupakan

bagian dalam program kesehatan usia lanjut. Dengan meningkatkan pelayanan gizi

pada usia lanjut diharapkan dapat menanggulangi masalah gizi usia lanjut sehingga

pada akhirnya dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan usia lanjut.

Sarana atau pelayanan gizi pada usia lanjut di Indonesia masih sangat kurang,

terutama di daerah pedesaan, dimana pemahaman masyarakat tentang program

kesehatan usia lanjut masih kurang. Di lain pihak, kesadaran untuk mendapatkan

pelayanan kesehatan dan pelayanan gizi yang bermutu telah mulai muncul, terutama

di kota-kota besar dimana banyak berkembang kelompok-kelompok usia lanjut

(Poksila) yang melakukan kegiatan secara mandiri. Pada umumnya poksila-poksila di

atas mendapat dukungan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau swasta yang

(19)

kesehatan usia lanjut sudah mulai ada di beberapa daerah. Sebagai contoh pemerintah

kabupaten menyediakan fasilitas gratis bagi lanjut usia yang berobat ke puskesmas

(Agate, 1999).

Berdasarkan jumlah kunjungan lansia ke posyandu, jumlah lansia yang dibina

masih kurang dari target pencapaian cakupan pelayanan kesehatan lansia pada tahun

2010 berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 70%, maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan gambaran perilaku lansia tentang

pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi di posyandu lansia.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan dalam penelitian ini

adalah bagaimana Perilaku Lansia Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam

Menunjang Status Gizi di Puskesmas Petisah Medan pada tahun 2009.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perilaku lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam

menunjang status gizi di Puskesmas Petisah Medan pada tahun 2009.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui pengetahuan lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia

dalam menunjang status gizi.

2. Untuk mengetahui sikap lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam

menunjang status gizi.

3. Untuk mengetahui tindakan lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia

(20)

4. Untuk mengetahui status gizi lansia yang diukur berdasarkan IMT (Indeks

Masa Tubuh).

1.4.Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan bagi petugas puskesmas dan kader kesehatan dalam

meninggkatkan kualitas pelayanan kesehatan lanjut usia.

2. Sebagai bahan masukan bagi anggota keluarga dan bagi lansia tersebut untuk

lebih memperhatikan kesehatan lansia dengan memanfaatkan sarana yang

telah ada di setiap tempat pelayanan kesehatan yaitu bentuk pelayanan

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Lanjut Usia 2.1.1. Proses Menua

Menua (menjadi tua = aging) adalah proses menghilangnya secara

perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Semua orang yang dikaruniai umur yang panjang, pada suatu saat pasti akan

mengalami suatu proses penuaan. Proses penuaan ini tidak hanya terjadi pada suatu

bagian-bagian tertentu saja, tetapi seluruh bagian di tubuh kita akan mengalami

proses penuaan. Hal ini dapat dilihat misalnya dengan menjadi kisutnya pipi,

tumbuhnya uban pada rambut, berkurangnya proses pendengaran, mundurnya daya

ingat dan kemampuan berpikir, serta berkurangnya daya penglihatan sehingga

memerlukan bantuan kacamata untuk membaca (Gallo, 1998).

Sebenarnya lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidak dapat

dihindarkan, sebab manusia sebagai mahluk hidup, umurnya terbatas oleh suatu

peraturan alam. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua

merupakan masa hidup yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang akan

mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial sedikit demi sedikit sampai tidak

dapat melakukan tugasnya sehari-hari. Sehingga bagi kebanyakan orang, masa tua itu

(22)

Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada

tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut.

Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua, antara

lain :

1. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan

jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan

kering, wajah keriput serta muncul garis-garis yang menetap. Oleh karena itu,

pada usia lanjut seringkali terlihat kurus.

2. Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga

dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat.

Sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan

kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan. Penurunan indera

pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel saraf pendengaran.

3. Dengan banyaknya gigi geligi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan

fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.

4. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan

seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan lanjut usia.

Penurunan mobilitas usus dapat juga menyebabkan susah buang air besar yang

dapat menyebabkan wasir.

5. Kemampuan motorik yang menurun, selain menyebabkan lanjut usia menjadi

lamban, kurang aktif dan kesulitan untuk menyuap makanan, dapat mengganggu

(23)

6. Pada lanjut usia terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan

daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa,

kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas bertujuan

(apraksia) dan gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut

dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan kepribadian,

penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang

berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti-sosial lainnya.

7. Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar

juga berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran Natrium sampai dapat

terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

8. Incontintia Urine (IU) adalah pengeluaran urine di luar kesadaran merupakan

salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok

lanjut usia, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi

minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.

Kemunduran psikologis pada lanjut usia juga terjadi yaitu ketidakmampuan

untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya,

antara lain : sindroma lepas jabatan, sedih yang berkepanjangan (Depkes RI, 2000)

Kemunduran sosiologi pada lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tingkat

pendidikan dan pemahaman lanjut usia itu atas dirinya sendiri. Status sosial seseorang

sangat penting bagi kepribadiannya di dalam pekerjaan. Perubahan status sosial lanjut

usia akan membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan

(24)

sebaiknya diketahui oleh lanjut usia sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan

diri sebaik mungkin.

2.1.2. Arti dan Batasan Usia Lanjut

Menurut ilmu Gerontologi, lanjut usia bukanlah suatu penyakit, melainkan

suatu masa atau tahap hidup manusia yang merupakan kelanjutan dari usia dewasa

dan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu

yang mencapai usia lanjut tersebut.

Beberapa pendapat tentang batasan umur lanjut usia yaitu:

1. Menurut Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia

pasal 1 ayat 2 adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

2. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai umur 60 tahun ke atas yang

karena mengalami penuaan berakibat menimbulkan berbagai masalah

kesejahteraan di hari tua, kecuali bila sebelum umur tersebut proses menua itu

terjadi lebih awal, dilihat dari kondisi fisik, mental dan sosial.

3. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut usia meliputi:

a. Usia pertengahan (Middle Age) adalah orang yang berusia 45-59 tahun

b. Usia Lanjut (Elderly) adalah orang yang berusia 60-74 tahun

c. Usia Lanjut Tua (Old) adalah orang yang berusia 75-90 tahun

d. Usia Sangat Tua (Very Old) adalah orang yang berusia > 90 tahun

Menurut Undang-Undang Kesehatan No.23 tahun 1992, manusia lanjut usia

adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan fisik, kejiwaan dan

sosial. Perubahan ini memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk

(25)

Berdasarkan dokumen pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang

diterbitkan oleh Departemen Sosial Republik Indonesia (1996) dalam rangka

perancangan Hari Lanjut Usia Nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Preseiden RI,

menetapkan batasan usia lanjut adalah 60 tahun ke atas.

Lanjut usia dapat dikelompokkan dalam beberapa tipe tergantung pada

karakter, pengalaman hidup, lingkungan dan kondisi fisik, mental, sosial dan

ekonominya. Dalam program posyandu lansia, sasaran terkategori atas 3 macam

berdasarkan ukuran kemandirian (Activities of Daily Live) untuk mampu melakukan

aktifitas sehari-hari, yaitu “kemandiriaan A” lansia yang tidak bisa datang ke

posyandu/puskesmas, “kemandirian B” yaitu lansia yang datang ke

posyandu/puskesmas dengan dibantu orang lain atau dipapah dan “kemandirian C”

lansia yang bisa datang sendiri ke posyandu. (Depkes RI, 2005).

2.2. Posyandu Lanjut Usia

2.2.1. Pengertian Posyandu Lansia

Posyandu lanjut usia perlu diupayakan dan mendapat perhatian dari

pemerintah, keluarga dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan pelayanan

kesehatan dan meringankan beban masyarakat khususnya lanjut usia.

Menurut Depkes RI bahwa pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu

bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang dilaksanakan

di tingkat dusun/ desa dalam wilayah kerja puskesmas. Tempat pelayanan program

terpadu ini disebut posyandu.

Dalam suatu posyandu dikembangkan beberapa kegiatan terpadu. Kegiatan

(26)

disepakati bersama. Dengan keterpaduan tersebut dapat berkembang dan meluas dari

dua program menjadi lebih banyak program. Keterpaduan dapat berupa aspek

sasaran, aspek lokasi, kegiatan maupun petugas penyelenggara. Sesuai dengan prinsip

posyandu adalah suatu kegiatan yang dikelola masyarakat dan ditujukan untuk

kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Adapun lanjut usia adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan

terhadap lanjut usia di tingkat desa/kelurahan dalam masing-masing wilayah kerja

puskesmas. Dasar pembentukan posyandu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat terutama lanjut usia. Kita dihadapkan pada beberapa masalah yaitu

jumlah lanjut usia yang semakin meningkat, mahalnya harga dan biaya pengobatan,

tingginya angka kesakitan, rendahnya jangkauan pelayanan kesehatan dan lain-lain

(Depkes RI, 2000).

2.2.2. Tujuan Penyelenggaraan

Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :

a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat,

sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia

b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta

dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat

usia lanjut.

2.2.3. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia

Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang

diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan

(27)

yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada

juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut:

- Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau

tinggi badan

- Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh

(IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga

dilakukan di meja II.

- Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa

dilakukan pelayanan pojok gizi.

2.2.4. Kendala Pelaksanaan Posyadu Lansia

Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu

antara lain:

a. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.

Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari

pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan

posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat

dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka.

Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar

pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu

mengikuti kegiatan posyandu lansia.

(28)

Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau

posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan

daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi

posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika

lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa

harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat

mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan

demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk

menghadiri posyandu lansia

c. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia

untuk datang ke posyandu.

Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan

lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator

kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar

lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha

membantu mengatasi segala permasalahan yang terjadi pada lansia

d. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.

Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas

kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap

yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang

diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah

(29)

kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu

dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.

2.3. Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia

Kebijakan Departemen Kesehatan dalam pembinaan kesehatan lansia

merupakan upaya yang ditujukan untuk peningkatan kesehatan, kemampuan untuk

mandiri, produktif dan berperan aktif dalam komprehensif, azas kekeluargaan,

pelaksanaan sesuai protap, dan kendali mutu (Depkes RI, 2003).

Kebijakan tersebut dilakukan dengan pendekatan holistic, pelaksanaan

terpadu, pembinaan komprehensif tersebut terdiri dari:

1. Pembinaan kesehatan yang mencakup kegiatan:

a. Promotif, antara lain penyuluhan tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan

Sehat), penyakit pada lansia, gizi, upaya meningkatkan kebugaran jasmani,

kesehatan mental, dan kemandirian produktifitas.

b. Preventif, antara lain deteksi dini dan pemantauan kesehatan lansia yang dapat

dilakukan POKSILA/puskesmas dengan menggunakan KMS Lansia, buku

pemantauan kesehatan pribadi lansia.

2. Pelayanan kesehatan yang mencakup kegiatan;

a. Kuratif, antara lain pengobatan bagi lansia yang sakit baik di Poksila, Pustu,

Puskesmas/Rumah Sakit.

b. Rehabilitatif, antara lain upaya medis, psikososial, edukatif untuk dapat

mengembalikan kemampuan fungsional dan kepercayaan diri lansia.

3. Konseling yang mencakup kegiatan:

(30)

b. Dilaksanakan oleh Konseler.

c. Upaya memecahkan masalah kesehatan dan psikologis lansia.

d. Dapat berfungsi preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitatif.

4. Pendekatan individu maupun kelompok.

5. Home Care

6. Bentuk pelayanan kesehatan komprehensif yang dilakukan di rumah klien/lansia.

7. Melibatkan klien serta keluarga sebagai subjek untuk berpartisipasi dalam

kegiatan perawatan dalam bentuk tim (tenaga professional/non professional di

bidang kesehatan maupun non kesehatan).

8. Bertujuan memandirikan klien dan keluarganya.

Dalam kegiatan pelayan kesehatan bagi lansia, maka dilaksanakan kegiatan di

posyandu bagi lansia, agar lansia dapat mencapai hidup sehat sesuai dengan tujuan

pembangunan nasional Indonesia dan Indonesia Sehat 2010.

Kegiatan yang dilakukan di posyandu bagi lansia antara lain adalah:

1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam

kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat

tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.

2. Pemeriksaan status mental.

3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi

badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).

4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta

penghitungan denyut nadi selama satu menit.

(31)

6. Penyuluhan Kesehatan.

7. Pemberian makanan tambahan (PMT).

8. Kegiatan olah raga, antara lain senam usia lanjut, gerak jalan santai, dan

sebagainya untuk meningkatkan kebugaran (Lasma, 2007).

Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk peningkatan kesehatan terutama

dalam menunjang status gizi lansia dan pencegahan penyakit, dilakukan melalui

pemantauan keadaan kesehatan para lansia secara berkala dengan menggunakan

Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia,dengan harapan gangguan kesehatan lansia dapat

dideteksi lebih dini untuk mendapatkan pertolongan secara cepat, tepat dan memadai

sesuai dengan keinginan yang diperlukan (Depkes RI, 2003).

2.4.Upaya Untuk Meningkatkan Pemanfaatan Posyandu Lanjut Usia

Untuk meningkatkan pemanfaatan posyandu lansia dilakukan upaya-upaya

berupa:

1. Memantapkan kerjasama dan partisipasi lintas program, lintas sector, lembaga

swadaya masyarakat serta peran serta masyarakat melalui kesepakatan dan

rencana kerja di setiap tingkat administrasi, antara lain dalam :

a. Pelayanan kesehatan di tingkat pelayanan dasar: Puskesmas termasuk

Puskesmas Pembantu, Bidan di desa, Balai Kesehatan Masyarakat, Kelompok

Lanjut Usia dan lain-lain.

b. Pemantapan kerjasama antara Dinas Kesehatan dan RS KKabupaten/ Kota

Dati I agar tercipta system yang tertata rapi dan mantap dalam memberikan

(32)

c. Membina kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat atau organisasi

profesi yang bergerak dalam pembinaan kesehatan lanjut usia.

d. Peningkatan komitmen dan dukungan politis dari Gubernur, Bupati/Walikota,

sektor dan program terkait dalam pemasaran sosial mengenai upaya

kesehatan lansia, dukungan dana bersumber APBN dan APBD dalam

penanganan lanjut usia termasuk biaya transportasi serta upaya rujukan bagi

lansia yang tidak mampu.

2. Meningkatkan upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) melalui :

a. Pengembangan pesan-pesan dan pengembangan media penyuluhan tentang

kesehatan lansia.

b. Penyebarluasan informasi mengenai upaya kesehatan lansia kepada petugas

penyuluhan dan sektor terkait.

c. Pengembangan upaya konseling dalam penanganan kasus lansia termasuk

keluarganya.

3. Peningkatan upaya deteksi dini terhadap kasus lansia beresiko dan

penanganannya dengan pelayanan kesehatan yang tepat dan memadai, melalui

kegiatan :

a. Pendataan sasaran dan pemutakhiran data secara berkala.

b. Penggerakan Puskesmas dan jajarannya untuk memberikan pelayanan secara

aktif terhadap sasaran lanjut usia, sehingga akan meningkatkan cakupan

(33)

c. Pemantauan secara berkesinambungan terhadap kesehatan lansia melalui

kegiatan kelompok lansia dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS)

lansia.

d. Pemberdayaan masyarakat termasuk sasaran lansia dalam mengenal dan

melakukan rujukan kasus resiko tinggi.

4. Peningkatan pembinaan teknis dan manejerial pengelola program lansia

melalui:

a. Pembahasan rutin pelaksanaan program pembinaan lansia.

b. Pelatihan/pendidikan dan berkelanjutan mengenai penyakit degeneratif dan

masalah kesehatan lansia.

c. Melakukan pembinaan/ supervise terhadap pelaksanaan kegiatan kelompok

lansia di masyarakat maupun pelaksanaan pelayanan di tingkat pelayanan

dasar.

5. Pemantapan kemampuan pengelola program lansia dalam perencanaan,

penggerakkan pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan antara lain

melalui:

a. Penentuan prioritas kegiatan berdasarkan masalah yang ada.

b. Membuat perencanaan/usulan kegiatan dengan memperhatikan prioritas

masalah yang ada.

c. Meningkatkan kemampuan pengelola program lansia di Kabupaten melalui

(34)

2.5. Kecukupan Gizi Pada Lansia

Kecukupan gizi lanjut usia berbeda dengan usia muda karena pada usia lanjut

terjadi perubahan fisiologis dan psikososial sebagai akibat dari proses menua.

Kebutuhan gizi setiap individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah ini :

1. Umur

Pada masa pertumbuhan kebutuhan semua zat gizi tinggi (bayi, anak-anak dan

remaja), sedangkan makin tua seseorang maka kalori (karbohidrat dan lemak)

yang dibutuhkan menurun. Namun kebutuhan protein, vitamin dan mineral cukup

tinggi sebagai aktioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang

dapat merusak sel.

2. Jenis Kelamin

Umumnya laki-laki memerlukan zat gizi lebih banyak (terutama kalori, proitein

dan lemak) dibandingkan dengan wanita karena postur, otot dan luas permukaan

tubuh lebih besar atau lebih luas daripada wanita. Namun kebutuhan Fe pada

wanita cenderung lebih tinggi dibandingkan pria karena wanita mengalami

menstruasi. Pada wanita yang sudah menopause kebutuhan Fe akan menurun

kembali.

3. Aktivitas/kegiatan fisik dan mental

Orang yang melakukan kegiatan fisik (menggunakan otot) memerlukan zat gizi

lebih banyak dibandingkan dengan orang yang hanya duduk atau tidur. Walaupun

aktivitas fisik lebih memerlukan zat gizi lebih pada aktivitas mental, namun stress

(35)

membutuhkan zat gizi cukup (terutama zat gizi mikro). Orang yang sedang

istirahat pun memerlukan zat gizi untuk proses metabolisme tubuh yang disebut

Basal Metabolisme Rate (BMR).

4. Postur Tubuh

Tubuh yang tinggi dan besar memerlukan zat gizi lebih banyak dibandingkan

dengan tubuh yang pendek, karena zat gizi dibutuhkan untuk mensuplai makanan

sampai ke seluruh tubuh.

5. Pekerjaan

Kecukupan zat gizi seseorang sangat tergantung dari pekerjaan sehari-hari,

apakah termasuk ringan, sedang atau berat. Makin berat kerja seseorang makin

besar zat gizi yang dibutuhkan. Contoh : Pekerja lapangan membutuhkan zat gizi

lebih besar dibandingkan orang yang bekerja di kantor.

6. Iklim/suhu udara

Orang yang tinggal di daerah dingin (pegunungan) memerlukan zat gizi yang

lebih untuk mempertahankan suhu tubuh.

7. Kondisi fisik tertentu

Kebutuhan zat gizi setiap individu tidak selalu tetap. Kebutuhan zat gizi setiap

orang bervariasi sesuai dengan kondisi fisik tertentu. Selain faktor-faktor diatas

pada kondisi tertentu, misalnya sedang hamil atau sehabis sembuh dari sakit,

memerlukan zat gizi yang lebih dari biasanya.

8. Lingkungan

Orang yang terus menerus berada di lingkungan berbahaya (misal : radioaktif,

(36)

protein, vitamin dan mineral untuk melindungi sel-sel tubuh dari efek seperti

radiasi (Arifin, 2000).

2.6. Pengkajian Status Gizi

Keadaan gizi seseorang mempengaruhi penampilan, pertumbuhan dan

perkembangannya, kondisi kesehatan serta ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Pengkajian status gizi adalah proses yang digunakan untuk menentukan status gizi,

mengidentifikasi malnutrisi (kurang gizi atau gizi lebih) dan menentukan jenis diet

atau menu makanan yang harus diberikan pada seseorang. Mengkaji status gizi usia

lanjut sebaiknya menggunakan lebih dari satu parameter sehingga hasil kajian lebih

akurat. Pengkajian status gizi pada usia lanjut dapat dilakukan dengan cara sebagai

berikut :

1. Anamnesis

Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain :

a. Identitas (nama, umur, agama, etnis, pendidikan, jenis kelamin, alamat,

pekerjaan, penghasilan).

b. Orang terdekat yang dapat dihubungi (keluarga/pengasuh)

c. Keluhan dan riwayat penyakit yang berhubungan dengan penyakit degeneratif

(diabetes melitus, hipertensi, kegemukan/obesitas, osteoporosis, empedu,

jantung, hati, kanker) atau saluran pencernaan (gastritis, colitis ulceroa) serta

penyakit infeksi/kronis (TBC, diare, radang paru) dan dimentia (pikun).

d. Riwayat asupan makanan : apakah ada perubahan karena kondisi usila seperti

gigi geligi yang tidak baik, tidak nafsu makan/menolak makan, tidak

(37)

e. Riwayat pengobatan (resep dokter/obat bebas) dan penggunaan obat yang

berhubungan dengan asupan makanan dan zat gizi (megadosis vitamin,

makanan kesehatan dan suplemen)

f. Riwayat operasi yang mengganggu asupan makanan seperti operasi usus,

hernia.

g. Riwayat penyakit keluarga (diabetes mellitus, hipertensi)

h. Aktivitas sehari-hari yang menurun misalnya akibat osteoporosis dan depresi.

i. Riwayat kebiasaan buang air besar dan buang air kecil misalnya sembelit

(konstipasi) dan beser (incontinentia urine).

j. Kebiasaan lain yang mengganggu asupan makanan : perokok berat, pecandu

alkohol atau minuman keras lain dan ketergantungan obat.

2. Pemeriksaan Tanda Vital

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan tanda vital adalah :

a. Derajat penurunan atau perubahan kesadaran

b. Pemeriksaan tekanan darah dan frekuensi jantung/nadi yang dilakukan dalam

posisi berbaring, duduk dan berdiri (pada usia lanjunt sering terjadi hipotensi

ortostatik).

c. Pemeriksaan frekuensi nafas untuk mengetahui apakah ada asidosis.

Pada lansia yang mengalami penurunan atau perubahan kesadaran sebelum

dilakukan lebih lanjut, sebaiknya diatasi dengan memberikan infus atau bolus

glukosa untuk menghindari terjadinya hipoglikemia. Untuk selanjutnya pemberian

makanan pada usia lanjut diatas dapat diberikan melalui NGT (Naso Gastrik Tube).

(38)

yang mengganggu masuknya makanan ke dalam lambung (seperti tumor

oesophagus), pemberian makanan formula langsung ke dalam lambung (gastrotomy).

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menentukan hubungan sebab akibat antara

status gizi dan kondisi kesehatan lanjut usia serta menentukan terapi obat dan diet.

Pemeriksaan fisik meliputi :

a. Tanda-tanda klinis kurang gizi atau gizi lebih

1. Kurang gizi: sangat kurus, pucat atau bengkak

2. Gizi lebih : gemuk atau sangat gemuk (obesitas)

b. Sistem kardiovaskuler

c. Sistem pernafasan

d. Sistem gastrointestinal

e. Sistem genitourinarius

f. Sistem muskuloskeletal

g. Sistem metabolik/endokrin

h. Sistem neurologik/psikiatik

4. Pengukuran Antropometri

Berbagai cara pengukuran antropometri dapat digunakan untuk menentukan

status gizi. Cara yang paling sederhana dan banyak digunakan dengan menghitung

indeks Massa Tubuh (IMT) dan Rumus Brocca. Cara lain yang dapat dilakukan

sesuai dengan kondisi usila yaitu dengan mengukur tinggi lutut (knee high).

(39)

Untuk menilai status gizi usia lanjut seseorang perlu dilakukan pengukuran

tinggi badan dan berat badan, kemudian IMT dihitung dengan cara sebagai berikut :

IMT =

TBxTB kg BB( )

Ket :

IMT : Indeks Massa Tubuh

BB : Berat Badan (kg)

TB : Tinggi Badan (cm)

Pengukuran berat badan dilakukan dengan pakaian seminimal mungkin dan

tanpa alas kaki dengan kepekaan 0,1 kg. Alat yang dianjurkan adalah Beam Balance

Scale (tidak dianjurkan memakai timbangan kamar mandi).

Pengukuran tinggi badan dapat menggunakan alat pengukur tinggi badan dengan

kepekaan 0,1 cm. pengukuran dilakukan pada posisi berdiri lurus dan tanpa

menggunakan alas kaki (Supariasa, 2001).

Status gizi ditentukan bila IMT :

Untuk Wanita Untuk Laki-Laki

Normal

Sumber : Depkes RI, Pedoman Praktis Memantau Status Gizi Orang Dewasa 1996

b.Menggunakan Rumus Brocca

Cara ini digunakan untuk mengukur berat badan (BB) ideal dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

(40)

Batas ambang yang diperbolehkan adalah + 10%. Bila > 10% sudah kegemukan dan

bila > 20% terjadi obesitas.

c. Menghitung Tinggi Lutut

Menghitung tinggi lutut digunakan pada usia lanjut yang tulang punggungnya

terjadi osteoporosis (keropos), sehingga terjadi penurunan tinggi badan. Dari tinggi

lutut dapat dihitung tinggi badan sesungguhnya dengan rumus :

Tinggi Badan (Laki-Laki) = 59,01 + (2,08 x TL)

Tinggi Badan (Perempuan) = 75,00 + (1,91 x TL)

Catatan : TL = Tinggi Lutut (cm)

5. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendukung diagnosa penyakit

serta untuk menentukan intervensi gizi. Pemeriksaan laboratorium antara lain :

1. Darah : Hb, kolesterol total, HDL, LDL, gula darah, ureum, creatinin, asam urat

dan trigliserida serta kadar vitamin dan mineral lain.

2. Urine : glukosa/kadar gula, albumin.

3. Faeces : fungsi pencernaan, serat, lemak.

Adapun masalah gizi yang sering timbul pada lanjut usia adalah :

a. Gizi berlebihan

Gizi berlebihan pada lanjut usia banyak terdapat di negara barat dan di

kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan

yang berlebihan, apalagi pada lanjut usia penggunaan kalori berperan karena

kekerangannya aktivitas fisik. Kelebihan makan tersebut sukat untuk dirubah

(41)

pencetus berbagai penyakit, misalnya penyakit jantung, diabetes millitus,

penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi dan sebagainya.

b. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebakan oleh masalah-masalah sosial, ekonomi dan juga

keadaan gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan

menyebabkan berat badan berkurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan

kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan tidak dapat diperbaiki,

akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan

mudah terkena infeksi pada organ-organ tubuh.

c. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayur-sayuran dalam makanan kurang, apabila

ditambah kekurangan protein dalam makanan, maka akibatnya nafsu makan kurang,

penglihatan mundur, mulut kering, lesu dan tidak semangat (Arifin Siregar, 2000).

Dalam merencanakan makanan untuk lansia, perlu diperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

1. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang dan jangan terlalu

sedikit. Porsi makan hendaknya diatur, merata dalam satu hari, sehingga dapat

makan lebih sering dalam porsi yang kecil.

2. Banyak minum dan kurang makan garam, dengan banyak minum dapat

memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu

usia akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya

(42)

3. Membatasi penggunaan kalori, sehingga berat badan dalam keadaan normal,

terutama makanan yang manis-manis/bergula, minyak dan makanan yang

berlemak. Disarankan untuk usia di atas 50 tahun 1900 kalori, usia di atas 60

tahun 1700 kalori dan usia diatas 70 tahun 1500

4. Bagi para lansia dimana proses penuaannya sudah lanjut perlu diperhatikan

hal-hal sebagai berikut :

a. Makanlah makanan yang sudah dicerna

b. Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, goreng-gorengan dan sebagainya.

c. Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik,

makanan harus lunak atau lembek atau dicincang.

d. Makanlah dalam porsi yang kecil tetapi sering.

e. Makanan selingan atau snack, susu, buah, sari buah, dan sebagainya

sebaiknya diberikan.

5. Batasi minum kopi dan teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab

berguna untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan (Arifin

Siregar, 2000)

2.7. Kebutuhan Zat Gizi Pada Lansia

Pada usia lanjut jumlah sel yang aktif menurun, jadi bukan karena

metabolisme yang menurun. Penyelidikan menunjukkan dengan bertambahnya umur,

organ-organ tubuhpun kehilangan jumlah sel-sel. Organ-organ yang diambil dari

binatang percobaan dari binatang muda dan tua, menunjukkan kehilangan sel pada

jaringan otot jantung binatang tua. Demikian pula pada otot anggota badan, ginjal,

(43)

Sedangkan penyelidikan dengan pengukuran aktivitas enzim, menunjukkan

tidak ada perbedaan yang bermakna antara sel dari jaringan yang tua dan muda bila

dihubungkan dengan jumlah DNA. Oleh karena itu penyusunan diet usia lanjutpun

banyak faktor yang perlu diperhatikan.

Basal metabolisme yang menurun 10-15% dan bervariasi tergantung dari

keaktifan perorangan. Penurunan Basal metabolisme ini karena menurunnya fungsi

protoplasma dan juga karena menurunnya keaktifan tubuh. Keadaan ini juga

menyebabkan menurunnya daya tahan terhadap infeksi, mudah timbul berbagai

penyakit. Turunnya nafsu makan, karena menurunnya produksi asam lambung yang

meliputi : volume, keasaman, dan jumlah pepsin. Sebaliknya tripsin normal dan

kadang-kadang meninggi dan lipase sangat berkurang.

Menurunnya keasaman ini mempunyai efek kurang baik pada absorbsi

kalsium dan mineral besi. Lemak sukar dicerna karena menurunnya daya lambung

untuk pengosongan. Hal ini karena produk lipase yang jumlahnya menurun hingga

hidrolisa kurang sempurna akibat berkurangnya sekresi empedu ke usus kecil.

Gigi geligi pada lanjut usia menjadi kurang lengkap, meskipun

kadang-kadang sudah diberi gigi palsu. Pengaruhnya menjadikan pengunyahan yang kurang

sempurna dan merasa sesuatu kurang lezat. Hal ini menyebabkan lanjut usia lebih

memilih makanan yang lunak (yang biasanya terutama terdiri dari hidrat arang).

Menu makanan ini jelas tidak seimbang.

Di samping itu menurunnya nafsu makan terhadap beberapa jenis makanan,

(44)

Alat pencernaannya cenderung berubah tonus yang berkurang dari otot-otot

lambung, usus kecil, dan usus besar sehingga menyebabkan gerakan psikiatrik

berkurang, sering menimbulkan rasa penuh dibagian perut dan kadang-kadang susah

buang air besar.

Adanya gangguan sirkulasi di ginjal karena menurunnya jumlah glumeruli,

menyebabkan kadar ureum dan asam urat meninggi. Pembuangan hasil-hasil

metabolismepun berkurang.

Ketidakseimbangan sistem hormonal usia lanjut pada wanita sering

menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan nitrogen yang akan menyebabkan

osteoporosis (pengeroposan tulang).

2.8. Perilaku Sehubungan dengan Pemanfaatan Posyandu Lanjut Usia

Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang, sebahagian terletak di dalam

diri individu itu sendiri yang disebut dengan factor intern dan sebahagian terletak di

luar individu itu sendiri atau faktor ekstern yaitu faktor lingkungan.

1. Faktor-faktor Intern

Faktor intern yaitu faktor yang ada didalam individu itu sendiri, misalnya:

karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, keyakinan) yang dimiliki

seseorang. Selain itu juga dapat berupa pengalaman akan keberhasilan dalam

mencapai sesuatu, pengakuan yang diperoleh, rasa tanggung jawab, pertumbuhan

profesional dan intelektual yang dimiliki seseorang. Sebaliknya, apabila seseorang

merasa ttidak puas dengan hasil dari pekerjaan yang telah dilakukannya, dapat

dikaitkan dengan faktor-faktor yang sifatnya dari luar individu.

(45)

Faktor ekstern yaitu factor yang ada diluar individu yang bersangkutan. Factor

ini mempengaruhi, sehingga di dalam diri individu timbul unsur-unsur dan

dorongan/motif untuk berbuat sesuatu. Misalnya karakteristik lingkungan sosial.

Lingkungan sosial termasuk didalamnya lingkungan social terdekat yaitu keluarga,

tetangga dan fasilitas pelayanan kesehatan, alat-alat kesehatan yang menunjang

kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia tersebut.

Pada tingkat ini benar-benar terjadi tarik-menarik antar pribadi dan tujuan

yang akan dicapai. Maka, pada saat pertentangan motif baik ini memaksa orang harus

berpikir secara matang, mempertimbangkan baik-baik segala kemungkinan. Dalam

pertimbangan ini orrang tidak terlepas dengan norma-norma dan nilai-nilai yang

dihayati pada saat tersebut.

2.9. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan

peraba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya perilaku manusia. (Notoatmodjo, 2005).

Terdapat 5 tingkatan pengetahuan yang tercakup di dalam domain kognitif

yaitu:

1. Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari

sebelumnya, termasuk juga mengingat kembali terhadap suatu spesifik dari

(46)

2. Memahami (Comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Aplication) diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi

yang telah dipelajari dari situasi dan kondisi secara riil (sebenarnya).

4. Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan suatu materi

atau suatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih ada kaitannya satu

sama lain.

5. Sintesis (Synthesis) adalah menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru.\

2.10. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau

aktivitas, namun merupakan suatu kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek di

lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Sikap terdiri dari 4 tingkatan yaitu:

1. Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespon (Responding) diartikan sebagai memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

3. Menghargai (Valuing) yakni mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

(47)

4. Bertanggung jawab (Responsible) yakni bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang dipilihnya dengan segala resiko.

Ciri-ciri sikap :

1. Sikap bukan bawaan lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang

perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya.

2. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari.

3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu

objek.

4. Objek sikapdapat merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan

kumpulan dari hal-hal tertentu.

Fungsi sikap yaitu sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri, alat

pengatur tingkah laku, alat pengatur pengalaman-pengalaman, pernyataan

kepribadian.

2.11. Tindakan

Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, yang berupa perbuatan

(action) terhadap situasi dengan rangsangan dari luar.

Untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil terlebih dahulu

menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap untuk menumbuhkan

hubungan yang baik.

Tingkatan- tingkatan tindakan :

1. Persepsi adalah mengenal dan memilh berbagai objek yang berhubungan

(48)

Sikap Lansia tentang Pemanfaatan

Posyandu

2. Respon terpimpin, yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang

benar sesuai dengan contoh

3. Mekanisme, apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar

secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

4. Adaptasi, adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan

baik artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran

tindakan tersebut.

2.12. Kerangka Konsep

Kerangka konsep di atas menunjukkan bahwa karakteristik lansia yaitu umur,

jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan mempengaruhi pengetahuan, sikap

dan tindakan lansia tentang pemanfaatan posyandu. Perilaku ini secara langsung

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif dengan desain cross

sectional (sekat silang) yaitu penelitian yang mengamati subjek dengan pendekatan

suatu saat untuk mendapatkan gambaran mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan

lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Puskesmas Petisah Medan. Adapun alasan memilih

Puskesmas Petisah Medan sebagai lokasi penelitian adalah sebagai berikut:

a. Program Puskesmas Petisah bagi lansia berjalan rutin setiap bulannya.

b. Rata-rata penduduk di wilayah kerja Puskesmas Petisah mayoritas lanjut usia

c. Kunjungan ke posyandu lansia masih sangat rendah (15,85%).

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia di Posyandu Lansia

Puskesmas Petisah Medan sebanyak 529 orang.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang mewakili populasi dengan kriteria sampel

(50)

1. Umur responden 60 tahun keatas

2. Tidak cacat fisik (tuli, rabun) yang dapat diwawancarai/ yang dapat berkomunikasi

langsung dengan peneliti.

Metode pengambilan sampel menggunakan rumus (Singarimbun,1985), yaitu

sebagai berikut:

Zc : Tingkat kepercayaan yang diinginkan dalam hal ini derajat kepercayaan

95%, Zc = 1,96

p : Proporsi dari populasi, ditetapkan p = 0,5

q : 1-p = 0,5

Jadi, jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 orang lansia.

3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil langsung oleh peneliti yaitu data

(51)

pekerjaan, dan penghasilan yang dikumpulkan melalui wawancara. Sedangkan status

gizi lansia diperoleh dengan menggunakan metode antropometri yaitu menggunakan

IMT.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Petisah Medan tahun 2008 dan Dinas

Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008.

3.5. Defenisi Operasional

1. Umur adalah usia responden berdasarkan ulang tahun terakhir

2. Jenis kelamin adalah laki-laki dan perempuan.

3. Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal tertinggi yang diselesaikan dan

memiliki surat tanda tamat belajar/ijazah.

4. Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan lansia sehari-hari.

5. Penghasilan adalah besarnya pendapatan lansia setiap bulan yang dihitung dengan

uang.

6. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui lansia tentang pemanfaatan

posyandu lansia dalam menunjang status gizi.

7. Sikap adalah pendapat atau pandangan lansia tentang pemanfaatan posyandu

lansia dalam menunjang status gizi.

8. Tindakan adalah kegiatan yang dilakukan secara konkrit oleh lansia tentang

pemanfaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi.

9. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai umur 60 tahun keatas.

10.Posyandu Lansia adalah suatu kegiatan yang terpadu yang ditujukan kepada lanjut

(52)

11.Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam tubuh yang diukur

berdasarkan IMT.

3.6. Aspek Pengukuran

Pengetahuan, sikap dan tindakan diukur dengan memberikan nilai terhadap kuesioner yang telah diberi bobot. Selanjutnya dilakukan skoring untuk mengetahui

total nilai yang diperoleh (Sugyono, 2004). Berdasarkan total nilai yang diperoleh

kemudian diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:

1. Baik apabila jumlah nilai responden (> 75%)

2. Sedang apabila jumlah nilai responden (40%-75%)

3. Rendah apabila jumlah nilai responden <(40%)

a. Pengetahuan

Pengetahuan diukur melalui 12 pertanyaan yang diajukan kepada responden

dengan memilih jawaban a yang paling benar diberi skor 3 dan jawaban b yang

kurang benar diberi skor 2, sedangkan jawaban c yang tidak benar diberi skor 1. Total

skor pengetahuan tertinggi adalah 36. Pengukuran tingkat pengetahuan lansia

terhadap pemafaatan posyandu lansia dalam menunjang status gizi terdiri atas 3

kategori yaitu:

1. Baik, apabila skor jawaban responden >27 atau dapat menjawab pertanyaan

sekurang-kurangnya 28 pertanyaan dengan benar.

2. Sedang, apabila skor jawaban responden 14-27 atau dapat menjawab

pertanyaan sekurang-kurangnya 14-27 pertanyaan dengan benar.

3. Kurang, apabila skor jawaban responden <14 atau dapat menjawab pertanyaan

(53)

b. Sikap

Sikap diukur melalui 10 pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan

memilih jawaban a diberi skor 2 dan jawaban b diberi skor 1. Total skor sikap

tertinggi adalah 20. Pengukuran tingkat sikap terhadap pemanfaatan posyandu lansia

dalam menunjang status gizi terdiri atas 3 kategori yaitu:

1. Baik, apabila skor jawaban responden >15 atau dapat menjawab pertanyaan

sekurang-kurangnya 8 pertanyaan dengan benar.

2. Sedang, apabila skor jawaban responden 8-15 atau dapat menjawab

pertanyaan sekurang-kurangnya 4-7 pertanyaan dengan benar.

4. Kurang, apabila skor jawaban responden <8 atau dapat menjawab pertanyaan

sekurang-kurangnya 3 pertanyaan dengan benar.

c. Tindakan

Tindakan diukur melalui 10 pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan

memilih jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0.

Total skor tindakan tertinggi adalah 10.Pengukuran tingkat pengetahuan lansia dalam

menunjang status gizi terdiri atas 3 kategori yaitu:

1. Baik, apabila skor jawaban responden >8 atau dapat menjawab pertanyaan

sekurang-kurangnya 9 pertanyaan dengan benar.

2. Sedang, apabila skor jawaban responden 4-9 atau dapat menjawab pertanyaan

sekurang-kurangnya 5-9 pertanyaan dengan benar.

3. Kurang, apabila skor jawaban responden <4 atau dapat menjawab pertanyaan

(54)

d. Status Gizi

Status gizi diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dimana IMT adalah

alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang

berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Pengukuran IMT dapat

dikategorikan sebagai berikut:

No Status Gizi Responden

Kategori IMT 1 Kurus Kekurangan berat badan tingkat

berat

< 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0-18,5

2 Normal > 18,5-25,0

3 Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan

> 25,0-27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat

>27,0

3.7. Analisa Data

Data yang dikumpulkan dilakukan editing, coding, tabulating serta diolah

secara manual dan menggunakan komputer yang disajikan dalam tabel distribusi

frekuensi dan dianalisis secara deskriptif.

3.8. Instrumen Pengukuran

Adapun yang menjadi alat pengukuran pada penelitian ini yaitu dalam

pengukuran pengetahuan, sikap dan tindakan dilakukan dengan menggunakan

kuisioner. Pengukuran berat badan dilakukan dengan Beam Balance Scale, dan

Figure

Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Tabel 4.1.

Distribusi Responden Berdasarkan Umur p.57
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Frekuensi

Tabel 4.3.

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Frekuensi p.58
Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2.

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin p.58
Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan

Tabel 4.5.

Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan p.59
Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 4.4.

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan p.59
Tabel 4.6. Distibusi Pengetahuan Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu

Tabel 4.6.

Distibusi Pengetahuan Responden Tentang Pemanfaatan Posyandu p.60
Tabel 4.7 Distribusi Pengukuran Pengetahuan Tentang Pemanfaatan Posyandu

Tabel 4.7

Distribusi Pengukuran Pengetahuan Tentang Pemanfaatan Posyandu p.62
Tabel 4.8. Distibusi Responden Berdasarkan Sikap Responden Tentang

Tabel 4.8.

Distibusi Responden Berdasarkan Sikap Responden Tentang p.62
Tabel 4.9. Distibusi Pengukuran Sikap Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia

Tabel 4.9.

Distibusi Pengukuran Sikap Tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia p.64
Tabel 4.10. Distibusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Pemanfaatan

Tabel 4.10.

Distibusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Pemanfaatan p.64
Tabel 4.12 Status Gizi Lansia Berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Tabel 4.12

Status Gizi Lansia Berdasarkan Indeks Massa Tubuh p.66
Tabel 4.11 Distribusi Pengukuran Tindakan Tentang Pemanfaatan Posyandu

Tabel 4.11

Distribusi Pengukuran Tindakan Tentang Pemanfaatan Posyandu p.66

References

Outline : Saran

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in