• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan petani peladang berpindah di sekitar hak pengusahaan hutan (HPH) Pt. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendapatan petani peladang berpindah di sekitar hak pengusahaan hutan (HPH) Pt. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAPATAN PETANI PELADANG BERPINDAH

DI SEKITAR HAK PENGUSAHAAN HUTAN (HPH)

PT. SUKA JAYA MAKMUR, KALIMANTAN BARAT

SUSAN IKROSNAENI

E14101010

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PENDAPATAN PETANI PELADANG BERPINDAH

DI SEKITAR HAK PENGUSAHAAN HUTAN (HPH)

PT. SUKA JAYA MAKMUR, KALIMANTAN BARAT

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Kehutanan pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Oleh:

SUSAN IKROSNAENI

E14101010

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Judul Penelitian : Pendapatan Petani Peladang Berpindah Di Sekitar Hak

Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Suka Jaya Makmur,

Kalimantan Barat

Nama Mahasiswa : Susan Ikrosnaeni

NIM : E14101010

Departemen : Manajemen Hutan

Program Studi : Manajemen Hutan

Menyetujui:

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS

NIP. 131 412 316

Mengetahui:

Dekan Fakultas Kehutanan

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS

NIP. 131 430 799

(4)

ABSTRAK

Susan Ikrosnaeni (E14101010). Pendapatan Petani Peladang Berpindah Di Sekitar Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS

Perladangan berpindah merupakan cara pertanian yang tertua dan banyak

dijumpai di daerah tropika. Sistem perladangan bergilir (gilir balik) sering dikenal

dengan metode 6 M, yakni menebas, menebang, membakar, menugal,

merumput, menuai.

Tujuan yang diharapkan dalam kegiatan penelitian ini yaitu untuk: (1)

Mengetahui tingkat pendapatan petani perladangan berpindah; (2) Mengetahui

kontribusi pendapatan dari perladangan berpindah terhadap pendapatan petani;

(3) Mengetahui potret perladangan berpindah.

Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat,

tepatnya di lokasi yang telah dilakukan aktivitas kegiatan perladangan pada areal

sekitar HPH PT. Suka Jaya Makmur. Data yang terkumpul diolah menggunakan

sistem tabulasi sedangkan analisis datanya dilakukan secara analisis kuantitatif

dan deskriptif.

Dari hasil penelitian dilapangan, rata-rata pendapatan petani peladang

berpindah dari hasil ladang sebesar Rp 3.585.583/tahun, rata-rata pendapatan

petani hasil di luar ladang sebesar Rp 5.320.766/tahun, rata-rata pengeluaran

dari rumah tangga dan kegiatan berladang yang dikeluarkan oleh petani sebesar

Rp 8.432.316/tahun. Rata-rata pendapatan bersih petani sebesar Rp

474.033/tahun, sedangkan rata-rata pengeluaran petani dari kegiatan berladang

saja setiap tahunnya sebesar Rp 535.000/tahun dan rata-rata pendapatan bersih

petani dari hasil ladang berdasarkan luas ladang yang diolah sebesar Rp

2.542.048/tahun.

Pendapatan per kapita di Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung

untuk masyarakat miskin sekali berkisar antara 213,84-232,50 kg/kapita/tahun

dengan persentase 10%, sedangkan untuk masyarakat miskin berkisar antara

245,50-317,86 kg/kapita/tahun dengan persentase 20% dan 70% masyarakat

Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung termasuk rumahtangga

(5)

Hal ini menunjukkan bahwa di Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung

termasuk golongan masyarakat sejahtera.

Persentase kontribusi pendapatan hasil ladang dan luar ladang dapat

dilihat bahwa pendapatan hasil ladang sebesar 41% dan hasil di luar ladang

sebesar 59%. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat peladang

berpindah dari hasil di luar ladang lebih besar dari hasil ladang sebagai kegiatan

pokok masyarakat petani. Maka dari itu perladangan berpindah ini sudah menjadi

keharusan bagi petani untuk menutupi pengeluaran mereka setiap tahunnya.

Potret perladangan berpindah di Kecamatan Nanga Tayap hampir sama

dengan perladangan berpindah di daerah lain mulai dari kegiatan mencari lokasi

untuk kegiatan perladangan sampai kegiatan memanen hasil ladang. Akan tetapi,

ada sedikit perbedaan dalam hal kepercayaan yang dianut pada acara ritual

(6)

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan anugrah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Skripsi dengan judul “Pendapatan Petani Peladang Berpindah Di Sekitar Hak

Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat”.

Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai syarat untuk

memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan baik dalam

penyusunan maupun dalam penulisan, oleh karena itu penulis mengharapkan

kritik membangun dari semua pihak.

Bogor, Februari 2006

(7)

UCAPAN TERIMAKASIH

Dalam Penyusunan Skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan baik

moril maupun materil, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan

terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Apa dan Mamah serta adik-adikku tercinta atas

do’a dan kasih sayangnya.

2. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan

arahan serta ilmu selama penyelesaian skripsi ini.

3. Ir. T. R. Mardikanto, MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan

dan Ir. Tutut Sunarminto, MSi selaku dosen penguji dari Departemen

Konservasi Sumberdaya Hutan yang telah memberikan masukan dan saran.

4. Bapak Pimpinan dan seluruh staf karyawan di PT. Alas Kusuma Group,

Pontianak.

5. Bapak Ir. Purnomo Lusianto selaku Manager Camp Pawan Selatan, PT. Suka

Jaya Makmur.

6. Seluruh staf IUPHH PT. Suka Jaya Makmur (Alas Kusuma Group) yang telah

membantu dalam penelitian ini.

7. Suamiku tercinta atas perhatiannya, do’a serta kasih sayangnya.

8. Seluruh keluarga dan saudaraku yang paling kusayangi.

9. Teman-teman MNH’38 khususnya Lab sosek atas kebersamaan yang indah.

10. Isma CH atas bantuan yang telah diberikan selama penyusunan skripsi.

11. Keluarga besar Pondok Nauli atas kebersamaannya selama ini.

12. Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, atas segala

bantuan, bimbingan dan perhatiannya kepada penulis selama melakukan

penelitian hingga skripsi ini selesai.

Semoga amal dan niat baik yang telah diberikan kepada penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMAKASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL .. ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hutan ... 3

B. Pengertian Perladangan Berpindah ... 4

C. Dampak Kegiatan Perladangan Berpindah ... 6

D. Pendapatan Usahatani ... 7

E. Pendapatan Per Kapita . ... 8

III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 9

B. Alat dan Bahan ... 9

C. Data dan Informasi yang Diperlukan ... 9

D. Pengumpulan Data ... 9

E. Analisis Data ... 10

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Areal ... 11

B. Topografi ... 12

C. Jenis Tanah dan Iklim ... 13

D. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Hutan ... 13

(9)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden ... 16

B. Pendapatan Petani Ladang Berpindah ... 18

C. Kontribusi Pendapatan Perladangan Berpindah ... 22

D. Potret Perladangan Kecamatan Nanga Tayap ... 24

1. Pemanfaatan Hasil Ladang ... 24

2. Motivasi Ekonomi Perladangan Berpindah ... 24

3. Tata Cara Perladangan ... 26

VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 36

B. Saran ... 37

DAFTAR PUSTAKA ... 38

(10)

DAFTAR TABEL

No Halaman

Teks

1. Luas Areal Kecamatan Nanga Tayap Berdasarkan Kelas Lereng ... 12

2. Luas Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas Lereng ... 12

3. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kelompok Umur ... 17

4. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Pendidikan ... 17

5. Pendapatan Petani Peladang Berpindah Per Tahun Kecamatan Nanga Tayap ... 19

6. Pendapatan Petani Peladang Berpindah Berdasarkan Luas Ladang Kecamatan Nanga Tayap ... 20

7. Pendapatan Per Kapita Petani Peladang Berpindah Per Tahun ... 22

8. Kontribusi Hasil Ladang dan Hasil di Luar Ladang Terhadap Pendapatan Kotor Petani Setiap Tahun ... 23

9. Motivasi Ekonomi Petani Peladang Berpindah ... 26

10. Tata Waktu Kegiatan Perladangan di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung tahun 2005 ... 34

11. Jumlah Anggota Keluarga ... 41

12. Jenis-jenis Tanaman dan Luas Areal yang Dikelola ... 42

13. Biaya Pegelolaan Perladangan Berpindah ... 43

14. Pemanfaatan Hasil ... 43

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

Teks

1. Persentase Kontribusi Pendapatan Hasil Ladang dan Luar Ladang .... 24

2. Pembakaran Lahan Untuk Dijadikan Ladang ... 29

3. Pondok Peristirahatan di Ladang ... 29

4. Kegiatan Menugal ... 30

5. Kegiatan Menanam ... 30

6. Jenis Tanaman Padi di Ladang Paya ... 31

7. Jenis Tanaman Padi di Ladang Natai... 31

(12)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki

multifungsi dan berperan penting dalam kehidupan manusia. Menurut

Suhendang (2002), hutan memiliki fungsi lindung (konservasi), produksi dan

sosial. Hutan berperan dalam memelihara tingkat kesuburan tanah, kualitas

air segar serta pengendalian laju erosi tanah.

Keberadaan hutan dan ekosistem yang ada didalamnya harus tetap

dijaga kelestariannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengelolaan

hutan yang berkelanjutan sesuai dengan konsep hutan lestari. Pengelolaan

hutan Indonesia dilaksanakan sejak tahun 70-an yang dikelola oleh BUMN

(Perum Perhutani) dan pihak swasta yaitu Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

khususnya di luar Pulau Jawa, guna menghasilkan devisa untuk kegiatan

pembangunan.

Adanya kegiatan pengelolaan hutan yang berkelanjutan adalah untuk

menjaga fungsi dan peran hutan. Selain itu, kegiatan pengelolaan hutan

diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar hutan.

Tersedianya aksesibilitas yang memadai sebagai salah satu manfaat yang

mendukung kegiatan masyarakat sekitar hutan.

Bagi masyarakat di sekitar hutan yang memiliki tradisi berladang dapat

juga merasakan manfaat tersebut. Kegiatan ladang berpindah ini dilakukan di

lahan bekas pengelolaan ataupun disekitar areal HPH. Kegiatan ladang

berpindah yang dilakukan masyarakat guna memenuhi tuntutan kebutuhan

hidup yang semakin bertambah dan meningkatnya jumlah penduduk. Seperti

yang disebutkan di atas, aksesibilitas yang tinggi dari lokasi sekitar HPH yang

sudah ditinggalkan merupakan salah satu alternatif untuk membuka ladang

baru. Hal ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan yang tidak

bervegetasi di kawasan hutan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui seberapa besar

pendapatan petani perladangan berpindah. Perlu juga diketahui bagaimana

kegiatan perladangan berpindah ini dapat mempengaruhi ekonomi, sosial

(13)

B. Perumusan Masalah

Ladang berpindah merupakan salah satu kegiatan mengelola lahan

pertanian bahkan menjadi suatu keharusan bagi sebagian masyarakat sekitar

hutan. Selama ini kegiatan ladang berpindah diyakini mampu menopang dan

memenuhi kebutuhan keluarga petani ladang berpindah.

Kegiatan ladang berpindah ini banyak dilakukan oleh masyarakat yang

berada di sekitar areal HPH. Mereka memanfaatkan aksesibilitas yang

dibangun oleh HPH untuk kegiatan perladangan ini. Perladangan berpindah

ini merupakan pekerjaan pokok bagi petani peladang berpindah sekitar HPH.

Sampai saat ini belum banyak kajian yang menjelaskan bagaimana kegiatan

ladang berpindah ini mempengaruhi pendapatan petani ladang berpindah

dan potret perladangan berpindah seperti apa yang merupakan tradisi

budaya masyarakat sekitar hutan.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui tingkat pendapatan petani perladangan berpindah.

2. Mengetahui kontribusi pendapatan dari perladangan berpindah

terhadap pendapatan petani.

(14)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Hutan

Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena

didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma

nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah

banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk

kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan

sebagainya. Pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam

UUD 45, UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun

1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan

serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan.

Namun gangguan terhadap sumberdaya hutan terus berlangsung bahkan

intensitasnya makin meningkat.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Kalimantan Barat (1999)

mangungkapkan bahwa pengertian hutan harus dapat dibedakan ke dalam

pengertian kekayaan hutan, potensi hutan dan sumberdaya hutan.

1. Hutan sebagai kekayaan alam apabila eksistensi hutan tersebut belum

diketahui potensinya, pemanfaatannya dan teknologi pemanfaatnnya.

2. Hutan merupakan suatu potensi apabila manfaatnya sudah diketahui,

teknologi pemanfaatannya sudah tersedia namun potensi dasarnya belum

ada atau belum diketahui.

3. Hutan merupakan sumberdaya apabila komponen–komponen hayati

maupun non–hayati serta jasa terdapat yang di dalam hutan tersebut

telah diketahui potensi, manfaat dan teknologi pemanfaatannya serta

pasarnya telah tersedia.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1999) dalam Nurhidayati (2002) menyatakan bahwa hutan merupakan salah satu faktor penting dalam

kehidupan dunia. Oleh karena itu, keberadaan hutan sangat penting bagi

kehidupan baik hutan sebagai hutan produksi, sebagai perlindungan sistem

penyandang kehidupan, sebagai tempat pengawetan keanekaragaman

(15)

secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya atau sebagai

tempat wisata alam.

B. Pengertian Perladangan Berpindah

Sebagian besar penduduk Indonesia 70% tinggal di pedesaan,

sedangkan 30% di perkotaan. Bagi masyarakat pedesaan kehidupan mereka

sangat ditentukan oleh sumberdaya alam yaitu lahan dan lingkungan itu

sendiri. Lahan merupakan satu-satunya sumberdaya yang tersedia dan

dapat diperoleh masyarakat sehingga sebagian besar masyarakat pedesaan

tegantung pada pertanian dalam arti luas. Kegiatan pertanian yang ada

sekitar hutan masih dalam taraf tradisional seperti perladangan berpindah,

peramu hasil hutan. Perpaduan berbagai faktor seperti teknologi, budaya dan

lain-lain yang ada pada masyarakat di sekitar hutan tersebut membawa

masalah kemiskinan (Darusman dan Bahruni, 1995).

Nair (1989) menjelaskan bahwa istilah perladangan berpindah mengacu

pada sistem perladangan atau pertanian dengan kondisi lahan tanpa vegetasi

alami, dengan tanaman pertanian untuk beberapa tahun dan kemudian

dibiarkan sementara vegetasi alami setempat beregenerasi. Tahapan atau

fase pengolahan biasanya pendek (2-3 tahun) namun fase regenerasi yang

dikenal sebagai masa bera atau fase semak-semak jaraknya lebih panjang

(10-20 tahun secara tradisional). Pembersihan selalu dilakukan dengan

metode tebas dan bakar (slash and burn), menggunakan peralatan

sederhana.

Nair (1989) menjelaskan bahwa perladangan berpindah masih

merupakan rangkaian sistem perladangan tradisional sepanjang areal yang

luas dari daerah tropis dan sub tropis. Perkiraan luas areal sistem

perladangan bermacam-macam. Salah satu estimasi yang masih digunakan

(FAO, 1982) secara luas adalah bahwa luas areal bertambah mendekati

rata-rata 360 juta hektar atau 30% dari total lahan tereksploitasi di seluruh dunia,

dan membantu lebih dari 250 juta orang. Crutzen dan Andreas (1990)

memperkirakan bahwa perladangan berpindah dipraktekan oleh 200 juta

(16)

Nair (1989) menjelaskan bahwa perladangan berpindah berperan untuk

tujuan produksi dan pengolahan hasil pertanian sehari-hari, seperti padi,

jagung, talas, kacang-kacangan dan lain-lain. Periode masa bera

memberikan kontribusi untuk akumulasi dari elemen nutrien dalam produksi

agrikultur. Dalam perladangan berpindah secara tradisional, masa bera itu

sangat lama sehingga kesuburan tanah dapat diperbaiki secara efisien.

Tetapi sekarang masa bera telah diperpendek, bahkan sudah ditinggalkan

yang disebabkan oleh pertambahan penduduk dan meningkatnya kebutuhan

rumah tangga. Sebagai hasilnya, terjadi kemunduran kondisi tanah secara

drastis dan berkurangnya hasil panen.

Petani peladang berpindah melakukan aktivitas berladang dengan

rotasi 5 tahun di lokasi yang mereka klaim sebagai hak ulayat, dapat

mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian ladang dengan dasar

hukum hak ulayat tersebut. Perladangan berpindah merupakan kegiatan

membuka lahan (secara tradisional di areal berhutan) dengan menebang,

membakar, menanam padi, jagung, sayuran dan sebagainya yang kemudian

memanennya. Biasanya menanam hanya satu kali setahun atau maksimal

tiga kali secara berulang ulang di lokasi yang sama. Pembukaan lahan

dilakukan secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan

dari tahun ke tahun dan adakalanya kembali ke lokasi tempat awalnya yang

merupakan siklus berladang. Pembukaan lahan biasanya menggunakan

areal berhutan atau kondisi pepohonan yang masih lebat untuk mendapatkan

lapisan humus yang tebal (subur) pada dataran tinggi, perbukitan dan

sebagainya (Nusa Hijau-WWF,2003).

Utomo (1994) menyatakan bahwa pada masyarakat yang masih menganut sistem berladang berpindah, maka ciri utamanya ialah masyarakat

belum mengenal hak milik tanah yang menetap. Dalam komunitas seperti itu

penguasaan tanah bersifat sementara karena setelah beberapa musim

kemudian lahan tersebut ditinggalkan dan setelah menghutan kembali

mungkin saja digunakan oleh orang lain lagi dengan seijin sipemakai

pertama. Tanah atau lahan dimiliki secara bersama-sama sebagai tanah

adat.

Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan melakukan pertanian secara

(17)

pembakaran (Agustus) penanaman (Februari-Maret). Setelah itu berpindah

lokasi dengan siklus kira-kira 5-15 tahun, tetapi apabila ladang pertama

berasal dari hutan primer biasanya rotasi perladangan dapat terjadi kurang

dari 5 tahun. Dari beberapa desa contoh, luas dan produktifitas ladang

berpindah rata-rata adalah 1,12 ha dan 1,3 ton/ha/tahun. Hampir setiap

rumahtangga yang ada memiliki tanah garapan. Kehidupan masyarakat

sangat tergantung pada perladangan ini dan sebagian besar hasil ladang

dikonsumsi sendiri (Nair, 1989).

C. Dampak Kegiatan Perladangan Berpindah

Perladangan berpindah merupakan upaya pertanian tradisional di

kawasan hutan, pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan cara

pembakaran karena cepat, murah dan praktis. Namun pembukaan lahan

untuk perladangan tersebut umumnya sangat terbatas dan terkendali.

Kebakaran liar mungkin terjadi karena kegiatan perladangan hanya sebagai

kamuflase dari penebang liar yang memanfaatkan jalan HPH dan berada di

kawasan HPH (Dove,1988).

Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah (2001), dampak dari kegiatan

perladangan berpindah yang paling banyak terjadi yaitu kebakaran hutan dan

lahan. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan dari kebakaran hutan

adalah:

1. Penurunan nilai tegakan

2. Musnahnya kehidupan flora dan fauna

3. Rusaknya nilai estetika

4. Terganggunya tata air

5. Merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah

6. Perubahan iklim mikro maupun global

7. Munculnya dampak negatif terhadap lingkungan berupa kabut asap, yang

imbasnya dapat menganggu kesehatan dan kegiatan transportasi.

Nugraha (2005) menjelaskan bahwa dalam konteks kerusakan, terdapat

dua faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan praktek pertanian ladang

berpindah. Pertama, perkembangan demografi dan penyempitan lahan

sebagai akibat pertambahan penduduk. Faktor tersebut telah mengakibatkan

(18)

kesuburan lahan. Jelas, hasil panen jauh berkurang. Kedua, faktor budaya

tanam tinggal. Dengan semakin menurun tingkat kesuburan, maka pertanian

ladang membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Dengan budaya tanam

tinggal mengakibatkan sistem perladangan semakin tidak ekonomis di tengah

berkembangnya paham dan budaya masyarakat yang kian berorientasi pada

aspek-aspek ekonomi.

D. Pendapatan Usahatani

Soekartawi (2002) menyatakan Bahwa pendapatan usahatani adalah

selisih antara total penerimaan dengan total biaya. Dalam banyak hal jumlah

total penerimaan ini selalu lebih besar bila analisis ekonomi yang dipakai, dan

selalu lebih kecil bila analisis finansial yang dipakai. Oleh karena itu, setiap

kali melakukan analisis, perlu disebutkan analisis apa yang digunakan.

Soekartawi (1986) menyatakan Bahwa pendapatan kotor usahatani

(gross farm income) didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Jangka

waktu pembukuan umumnya setahun, dan mencakup semua produk yang:

1. Dijual.

2. Dikonsumsi rumahtangga petani.

3. Digunakan dalam usahatani untuk bibit atau makanan ternak.

4. Digunakan untuk pembayaran.

5. Disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun.

Menghindari perhitungan ganda, maka semua produk yang dihasilkan

sebelum tahun pembukuan tetapi dijual atau digunakan pada saat tahun

pembukuan, tidak dimasukkan dalam pendapatan kotor.

Soekartawi (1986) menyatakan Bahwa dalam menaksir pendapatan

kotor, semua komponen produk yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan

harga pasar. Tanaman dihitung dengan cara mengalikan produksi dengan

harga pasar. Pendapatan kotor usahatani adalah ukuran hasil perolehan total

sumberdaya yang digunakan dalam usahatani.

Soekartawi (1986) menyatakan Bahwa pengeluaran total usahatani

didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau

dikeluarkan di dalam produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga

(19)

usahatani adalah pendapatan bersih usahatani (net farm income). Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga

petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal

milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani.

E. Pendapatan Per Kapita

Pendapatan perkapita (per capita income) adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, yang biasanya satu

tahun. Pendapatan per kapita bisa juga diartikan sebagai jumlah dari nilai

barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara

pada suatu periode tertentu. Pendapatan per kapita diperoleh dari

pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk

suatu negara pada tahun tersebut.

Menurut Sajogyo, dkk (1991) penentuan kemiskinan absolut merupakan

garis kemiskinan. Konsep-konsep garis kemiskinan untuk daerah pedesaan

diantaranya:

1. Miskin : Pendapatan 240-320 kg/kapita/tahun setara beras.

2. Miskin sekali : Pendapatan 180-240 kg/kapita/tahun setara beras.

3. Paling Miskin : Pendapatan < 180 kg/kapita/tahun setara beras.

(20)

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten

Ketapang Kalimantan Barat, tepatnya di lokasi yang telah dilakukan aktivitas

kegiatan perladangan pada areal sekitar HPH PT. Suka Jaya Makmur. Waktu

penelitian dilakukan mulai bulan September sampai bulan Oktober 2005.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa daftar pertanyaan

(kuisioner), komputer dengan software Microsoft Excel, alat tulis, alat hitung dan kamera. Bahan yang digunakan berupa data dan informasi mengenai

kegiatan peladang berpindah di sekitar HPH PT. Suka Jaya Makmur.

C. Data dan Informasi yang Diperlukan

Data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa:

1. Karakteristik rumahtangga peladang meliputi nama, umur, jumlah anggota

keluarga, tingkat pendidikan dan mata pencaharian.

2. Data potensi ekonomi keluarga (kepemilikan modal) meliputi luas areal

perladangan berpindah serta sarana dan prasarana yang dimiliki.

3. Pendapatan rumah tangga.

4. Kondisi demografi meliputi jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk

serta sarana dan prasarana lingkungan.

5. Keadaan fisik lingkungan meliputi letak, keadaan tanah, topografi dan

kelerengan lahan.

6. Kalender musiman atau hasil tanam.

7. Jenis tanaman yang digunakan oleh peladang.

8. Jarak tempuh dari tempat tinggal ke ladang.

D. Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara terstruktur

menggunakan daftar pertanyaan maupun wawancara bebas terhadap pemilik

ladang dan tokoh masyarakat, pengisian kuisioner dan observasi lapang.

(21)

mempelajari arsip-arsip yang ada di instansi yang terkait dengan kegiatan

perladangan berpindah.

E. Analisis Data

Data yang telah terkumpul diolah menggunakan analisis sistem tabulasi.

Analisis data untuk menghitung pendapatan rata-rata petani perladangan

berpindah setiap tahunnya adalah sebagai berikut:

1. Pengeluaran (Rp/thn) merupakan pengeluaran dari kegiatan berladang

dengan pengeluaran di luar hasil ladang (pengeluaran rumahtangga dan

menyadap karet).

2. Pendapatan bersih petani (Rp/thn) didapat dari penjumlahan hasil dari

ladang dan hasil di luar ladang dikurangi pengeluaran.

3. Pendapatan rata-rata petani pertahun merupakan selisih jumlah total

pendapatan bersih petani dengan jumlah seluruh responden.

Analisis data untuk menghitung rata-rata pendapatan petani perladangan

berpindah berdasarkan luas setiap tahunnya adalah sebagai berikut:

1. Pengeluaran (Rp/thn) merupakan pengeluaran dari kegiatan berladang mulai

dari kegiatan menebas sampai memanen.

2. Pendapatan bersih hasil ladang (Rp/ha/thn) berdasarkan luas didapat dari

selisih pendapatan hasil ladang setelah dikurangi pengeluaran dengan

luasan lahan ladang.

3. Pendapatan rata-rata petani berdasarkan luas merupakan selisih jumlah total

pendapatan bersih petani jumlah seluruh responden.

Kontribusi pendapatan petani ladang berpindah dari hasil ladang adalah

besarnya persentase selisih antara pendapatan petani dari hasil ladang terhadap

pendapatan kotor petani setiap tahunnya sedangkan kontribusi pendapatan

petani ladang berpindah dari hasil di luar ladang adalah besarnya persentase

selisih antara pendapatan petani dari hasil di luar ladang terhadap pendapatan

(22)

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan

Barat. Tepatnya di lokasi yang telah dilakukan perladangan di sekitar HPH

PT. Suka Jaya Makmur.

A. Letak dan Luas Areal

Secara geografis, Kecamatan Nanga Tayap terletak di antara Garis

Lintang 1o12"24 LS - 1o38"00 LS dan Garis Bujur 110o 15' 24" BT - 110o 52'

00 " BT dengan keluasan Kecamatan Nanga Tayap 1.728,1 ha dari 9 desa

dan 49 dusun. Batas wilayah Kecamatan Nanga Tayap:

Utara : Sandai

Selatan : Tumbang Titi

Timur : Kalimantan Tengah

Barat : Matan Hilir

Dalam Rencana Kerja Pengusahaan Hutan (RKPH) PT. Suka Jaya

Makmur merupakan salah satu anak perusahaan yang tergabung dalam

kelompok Alas Kusuma Group berdasarkan Surat Keputusan Hak

Pengusahaan Hutan No. 106/KPTS-II/2000 tanggal 29 Desember 2000. Luas

areal berdasarkan SK Menhut No 106/Kpts-II/2000 adalah seluas 171.340

ha, dimana luas Hutan Produksi Terbatas seluas 158.340 ha dan Hutan

Produksi Tetap seluas 13.000 ha.

Menurut pembagian wilayah Administrasi Pemerintahan, areal PT. Suka

Jaya Makmur meliputi Kecamatan Tumbang Titi, Nanga Tayap, Sandai,

Matan Hilir Selatan dan Sokan, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten

Sintang, Propinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan pembagian Administrasi

Kehutanan, areal Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) PT.

Suka Jaya Makmur termasuk ke dalam wilayah Kesatuan Pemangkuan

Hutan Ketapang dan Sintang Selatan, Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan

Barat.

Secara geografis, areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur merupakan

areal kompak yang terletak di antara 110o 20’ BT - 111o 20’ BT dan 01o 20’ LS

(23)

Utara : IUPHHK PT. Duaja II dan PT. Wanasokan Hasillindo.

Timur : Hutan Lindung dan Hutan Negara

Selatan : IUPHHK PT. Wanakayu Batuputih dan Hutan Negara

Barat : HPT PT. Triekasari, PT. Kawedar dan Hutan Negara

B. Topografi

Topografi areal Nanga Tayap datar, landai hingga sangat curam

dengan persentase kemiringan lapangan seperti pada Tabel 1. Dan topografi

areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur umumnya bergelombang, datar dan

landai hingga agak curam dengan persentase kemiringan lapangan seperti

pada Tabel 2. Areal tersebut memiliki ketinggian minimum 300 m dpl dan

maksimum 700 m dpl.

Tabel 1. Luas Areal Kecamatan Nanga Tayap Berdasarkan Kelas Lereng

Klasifikasi Kelerengan (%) Luas (ha) Persentase (%)

(1) (2) (3) (4)

Datar 0-2 24,816 14,36

Landai 3-14 94,347 54,60

Curam 15-40 8,750 5,06

Sangat Curam >40 44,897 25,98

Jumlah 172,810 100,00

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang 2003

Tabel 2. Luas Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas Lereng

Klasifikasi Kelerengan (%) Luas (ha) Persentase (%)

(1) (2) (3) (4)

Datar 0-8 13,433 7,84

Landai 8-15 43,794 25,56

Agak Curam 15-25 108,766 63,48

Curam 25-40 2,861 1,67

Sangat Curam >40 2,486 1,45

Jumlah 171,340 100,00

Sumber : Rencana Kerja Pengusahaan Hutan Tahun 2004

C. Jenis Tanah dan Iklim

Menurut peta tanah Propinsi Dati I Kalimantan Barat, jenis tanah yang

terdapat di sekitar areal pengusahaan hutan PT. Suka Jaya Makmur hampir

(24)

jenis tanah di areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur adalah Podsolik Merah

Kuning (PMK), Latosol, Litosol dengan batuan induknya adalah batuan

sedimen, batuan beku dan batuan metamorf.

Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson 1951, kondisi iklim di

wilayah Nanga Tayap dan areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur termasuk

tipe iklim A, dengan nilai Q = 0,4. Curah hujan rata-rata tahunan berkisar

antara 2.761 mm/tahun.

Bulan-bulan basah curah hujan >100 mm/bulan yang merupakan musim

penghujan terjadi hampir sepanjang tahun sedangkan bulan kering curah

hujan < 60 mm/bulan. Suhu udara rata-rata tahunan berkisar antara 26oC -

28oC, kelembaban udara rata-rata 85% - 95%.

D. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Hutan

Desa-desa yang terdapat di sekitar IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur

secara administratif meliputi: Desa Beginci, Kecamatan Sandai; Desa

Kayung Sekayu, Kecamatan Nanga Tayap. Wilayah Kabupaten Ketapang

terdiri dari 2 desa dan 7 dusun yaitu dengan jumlah 916 KK dan jumlah

penduduk 3.268 jiwa yang terdiri dari laki-laki 1.733 jiwa (53%) dan

perempuan 1.536 jiwa (47%).

Penduduk desa yang berada di Kecamatan Nanga Tayap dan sekitar

IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur hampir seluruhnya merupakan Etnis Dayak

dan sisanya merupakan Suku Melayu, Cina dan Jawa. Etnis dayak yang

berdomisili asli di desa-desa di wilayah Kabupaten Ketapang adalah Dayak

Beginci dan Dayak Kayung.

Tingkat pendapatan penduduk mempunyai kaitan yang erat dengan

tingkat pendidikan meskipun hal tersebut tidaklah mutlak. Keberadaan

fasilitas sekolah di desa akan memudahkan penduduk desa tersebut untuk

memperoleh pendidikan formal. Semakin tinggi fasilitas pendidikan yang ada

di desa akan memberikan kecenderungan yang lebih baik pada tingkat

pendidikan penduduk desa tersebut. Desa-desa yang berada di wilayah

Kabupaten Ketapang memiliki angka tingkat pendidikan yang lebih tinggi

(25)

pendidikan formal adalah 30,69%. Rendahya tingkat pendidikan

dimungkinkan oleh beberapa sebab seperti :

1. Aksesibilitas dan motivasi penduduk desa untuk bersekolah masih

rendah.

2. Rendahnya tingkat pendapatan penduduk desa.

3. Keadaan atau kondisi lingkungan dan cara atau metode belajar.

4. Fasilitas (sarana dan prasarana) pendidikan yang kurang memadai.

Pada kenyataannya motivasi penduduk desa yang berada di Kecamatan

Nanga Tayap dalam memberikan pendidikan anaknya relatif cukup tinggi,

namun kendala yang dihadapi adalah ketidakmampuan untuk membiayai

anaknya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Menanggulangi kesulitan

penduduk desa tersebut IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur telah memberikan

beasiswa dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi serta pendirian

sekolah menengah pertama yang menginduk ke SMP Kemala Bhayangkari

guna menampung lulusan siswa sekolah dasar, sedikit banyaknya telah

membantu anak-anak desa dalam mencapai cita-citanya.

Pada umumnya sarana dan prasarana di setiap desa terdiri dari Sarana

pendidikan mulai dari tingkat TK sebanyak 1 unit, SD sebanyak 7 unit, SLTP

sebanyak 1 unit sedangkan untuk SMU ada di Ketapang. Sarana kesehatan

terdiri dari puskesmas pembantu sebanyak 1 unit, posyandu sebanyak 7

buah, polindes 2 buah, klinik 1 buah sedangkan untuk sarana ibadah

Gereja/Kapel untuk Katolik 6 buah, untuk Protestan 3 buah, Surau/mesjid 1

buah, dan untuk pertemuan antara penduduk terdapat rumah adat/balai

pertemuan 7 buah.

Mata pencaharian penduduk Nanga Tayap pada umumnya mayoritas

adalah petani tradisional yang lebih dikenal sebagai peladang berpindah,

sisanya bekerja di bidang lain sebagai karyawan, guru dan pedagang. Selain

berladang sebagian penduduk desa juga mempunyai aktifitas di kebun karet,

sawah dan mengumpulkan biji Tengkawang pada musim buah. Rata-rata

kepemilikan lahan di wilayah Kabupaten Ketapang seperti kebun Karet 1,28

(26)

Penduduk yang berada di Nanga Tayap dan sekitar IUPHHK PT. Suka

Jaya Makmur mempunyai kesempatan untuk menjadi karyawan PT. Suka

Jaya Makmur baik sebagai operasional di lapangan maupun tenaga

administrasi sesuai dengan spesifikasi dan kriteria yang dibutuhkan pihak

perusahaan serta kemampuan dari penduduk desa untuk memenuhi

persyaratan yang diminta. Selain itu peluang berusaha penduduk sekitar

IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur cukup besar di dalam pemenuhan bahan

makanan terutama sayur-sayuran dan buah-buahan untuk keperluan

karyawan camp yang selama ini sebagian besar dipasok langsung dari

Kabupaten Ketapang.

E. Aksesibilitas

Kecamatan Nanga Tayap memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi.

Areal tersebut dapat dilalui dua macam rute, yaitu :

1. Jalan darat yang melalui ruas jalan Ketapang - Sinduk (60 km). Sinduk –

Desa Sei Kelly (61 km), dan Desa Sei Kelly – Kecamatan Nanga Tayap

(24 km). Sebagian besar keadaan jalan darat tersebut dapat dilalui

kendaraan pada musim kemarau.

2. Jalan air melalui Sungai Pawan antara Ketapang – Sei Kelly di Desa Sei

Kelly (± 3 jam) dengan speed boat dan jalan darat antara Sei Kelly – Nanga Tayap (24 km).

Daerah Ketapang memiliki Lapangan Udara Rahardi Oesman yang

menghubungkan daerah Ketapang dengan Pontianak, Jakarta dan

Semarang. Jenis pesawat yang dipakai seperti Twin Otter. Hubungan antara

Ketapang dengan Pontianak dilaksanakan oleh perusahaan penerbangan

Deraya dan Dirgantara Air Sevice (DAS) dengan frekuensi penerbangan dua

kali sehari dalam seminggu, sedangkan dari Jakarta dan Semarang,

hubungan udara tersebut hanya dilayani oleh Merpati Nusantara Airways

(MNA) dengan frekuensi tiga kali seminggu. Pelabuhan laut yang terdapat di

Ketapang dapat dikunjungi jenis kapal untuk pelayaran samudera, nusantara,

(27)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Perladangan berpindah (swidden cultivation) merupakan cara pertanian yang tertua dan banyak dijumpai di daerah tropika. Sistem perladangan bergilir

(gilir balik) sering dikenal dengan metode 6 M, yakni menebas, menebang,

membakar, menugal, merumput, menuai (Nugraha, 2005). Coklin (1957) dalam

Nugraha (2005) menyatakan bahwa perladangan adalah sistem pertanian yang

sifatnya tidak berkesinambungan. Lahan ladang yang yang sudah tidak subur

setelah ditanami 1-2 tahun akan diistirahatkan (fallow). Sambil menunggu suksesi secara alami dengan terbentuknya hutan sekunder berupa padang

rumput dan pohon liar, maka peladang pindah ke lahan lain. Mereka akan

kembali ke lahan awal, jika lahan yang ditinggalkan telah cukup mengalami masa

bera sekitar 5 tahun.

Perladangan berpindah yang berada di lokasi penelitian berada di wilayah

hutan milik masyarakat. Lahan yang dijadikan sebagai ladang berasal dari hutan

utuh dan hutan belukar. Jarak tempuh dari rumah petani ke ladang sekitar 3 km

-10 km mereka menempuhnya dengan jalan kaki dan menggunakan motor.

Petani akan memilih jarak lahan ladang dengan tempat tinggal yang relatif dekat

dan mudah ditempuh. Jarak yang dekat dan akses yang mudah berarti peladang

tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga, sehingga bisa dimanfaatkan

untuk pekerjaan lain di rumah. Setiap petani ladang berpindah memiliki luas

ladang sekitar 0,8 ha-1,5 ha.

A. Karakteristik Responden

Jumlah responden yang terpilih dalam penelitian ini sebanyak 30 orang

kepala keluarga. Dengan tingkat umur responden berkisar antara 20 sampai

(28)

Tabel 3. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kelompok Umur

Kelompok Umur Jumlah (orang) Persentase (%)

(1) (2) (3)

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Tingkat pendidikan responden tergolong sangat rendah, hal ini dapat

dilihat dari banyaknya responden dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak

23 orang sedangkan tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 4

orang. Dan terdapat pula yang tidak mengenyam dunia pendidikan sebanyak

3 orang.

Tabel 4. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

(1) (2) (3)

Tidak Sekolah 3 10,00

SD 23 76,67

SLTP 4 13,33

Jumlah 30 100,00

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Dari seluruh jumlah responden mereka menganut agama Kristen Katolik

dan Kristen Protestan dengan persentase Katolik 63,33% dan Protestan

36,67%. Untuk suku bangsanya hampir seluruhnya bersuku bangsa Dayak

Kayung dengan persentase 96,67% dan 3,33% Dayak Kalimantan Tengah.

Pekerjaan utama responden adalah berladang dan pekerjaan

sampingan yang mereka lakukan yaitu berburu hewan dan menyadap getah

karet serta ada pula yang membuat kerajinan dari rotan maupun bambu.

Pekerjaan sampingan petani ladang berpindah dilakukan selama menunggu

(29)

B. Pendapatan Petani Ladang Berpindah

Sumber pendapatan petani di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung di dapat dari hasil ladang berpindah dan hasil dari luar ladang

(berburu dan menyadap karet). Setiap petani ladang memiliki luas ladang

antara 0,8 – 1,5 ha. Di setiap lahan ladangnya mereka menanam tanaman

pokok seperti padi dan jagung serta ada pula sayuran. Hasil dari ladang

mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Petani peladang berpindah tidak hanya mengandalkan hidupnya dari

hasil berladang karena pendapatan dari hasil ladang tidak bisa mencukupi

untuk kehidupan rumahtangga mereka per bulannya. Maka, untuk menutupi

kebutuhan rumah tangga petani peladang berpindah melakukan penyadapan

karet sebagai hasil di luar ladang.

Petani peladang berpindah ini melakukan kegiatan berladang ini karena

tradisi yang sudah menjadi adat istiadat masyarakat Dusun Batubulan,

Tanjung Asam, dan Betenung bagi setiap anggota keluarga. Hal ini dilakukan

karena sudah merupakan adat istiadat dimana dalam kegiatan berladang ini

didukung oleh sistem sosial budaya masyarakat yang relatif kuat, sehingga

sampai sekarang sebagian kegiatan ladang berpindah sarat akan makna

sosial, budaya dan religiusitas masih dipraktekkan oleh para peladang.

Masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung

melaksanakan praktek perladangan berpindah disebabkan oleh 2 faktor, yaitu

(1) faktor ekonomi dan (2) faktor budaya. Faktor ekonomi adalah semua

kegiatan perladangan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

keluarga petani, sedangkan faktor budaya merupakan kegiatan perladangan

merupakan salah satu bentuk pembelajaran budaya yang diperoleh dari

nenek moyang leluhurnya dan diyakini paling sesuai dengan kondisi

ekosistem wilayah Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung. Kegiatan

pembukaan ladang ini dilakukan secara tolong menolong. Dalam kegiatan

pembukaan ladang ini terdapat 30-60 orang, mereka melaksanakan kegiatan

ini dalam waktu satu hari. Setiap petani yang membuka ladang harus

menyediakan makanan dalam kegiatan ini sebesar Rp 300.000-Rp 600.000,-.

Pendapatan petani perladangan berpindah per tahun Kecamatan

Nanga Tayap dapat dilihat pada Tabel 5. Setiap tahunnya petani peladang

(30)

3.585.583/tahun, rata-rata dari pendapatan di luar hasil ladang sebesar Rp

5.320.766/tahun, rata-rata pengeluaran dari rumahtangga dan kegiatan

berladang yang dikeluarkan oleh petani sebesar Rp 8.432.316/tahun dan

untuk rata-rata pendapatan bersih petani setiap tahunnya sebesar Rp

474.033/tahun.

Tabel 5. Pendapatan Petani Peladang Berpindah Per Tahun Kecamatan Nanga Tayap

1 4.115.000 8.616.000 12.255.000 476.000

2 2.791.000 4.580.000 6.955.000 416.000

3 3.600.000 5.300.000 8.162.500 737.500

4 2.986.000 4.090.000 6.830.000 246.000

5 2.677.500 5.876.000 7.872.000 681.500

6 2.327.500 7.056.000 8.695.000 688.500

7 8.462.500 5.016.000 12.660.000 818.500

8 4.420.000 5.910.000 10.040.000 290.000

9 5.805.000 3.919.000 8.940.000 784.000

10 4.160.000 7.330.000 9.800.000 1.690.000

11 4.020.000 5.210.000 9.055.000 175.000

12 3.530.000 5.985.000 9.260.000 255.000

13 3.890.000 6.980.000 10.270.000 600.000

14 3.000.000 4.393.000 7.285.000 108.000

15 2.040.000 3.760.000 5.560.000 240.000

16 3.141.000 5.056.000 8.040.000 157.000

17 2.325.000 4.616.000 6.830.000 111.000

18 3.935.000 4.699.000 8.395.000 239.000

19 4.465.000 7.076.000 10.460.000 1.081.000

20 3.105.000 4.335.000 6.950.000 490.000

21 4.720.000 5.116.000 9.065.000 771.000

22 2.425.000 4.710.000 7.015.000 120.000

23 3.285.000 4.571.000 7.280.000 576.000

24 3.210.000 6.284.000 9.360.000 134.000

25 3.190.000 5.770.000 8.765.000 195.000

26 4.139.000 5.930.000 9.475.000 594.000

27 3.319.000 3.990.000 6.655.000 654.000

28 3.504.000 4.914.000 8.060.000 358.000

29 2.190.000 4.393.000 6.150.000 433.000

30 2.790.000 4.142.000 6.830.000 102.000

Jumlah 107.567.500 159.623.000 252.969.500 14.221.000

Rata-rata 3.585.583 5.320.766 8.432.316 474.033

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Pengeluaran petani hanya dari kegiatan berladang setiap tahunnya

(31)

ladang berdasarkan luas ladang yang diolah sebesar Rp 2.542.048/tahun

dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Pendapatan Petani Peladang Berpindah Berdasarkan Luas Ladang Kecamatan Nanga Tayap

Jumlah 107.567.500 16.050.000 76.261.450

Rata-rata 3.585.583 535.000 2.542.048

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Sajogyo menyatakan bahwa untuk mengukur pendapatan per kapita

dapat menggunakan ukuran ekivalen beras kurang dari 240 kg dikategorikan

(32)

bawah garis kemiskinan tersebut diklasifikasikan sebagai penduduk miskin

atau rumah tangga miskin.

Pendapatan per kapita di Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan

Betenung dapat dilihat pada Tabel 7. Masyarakat miskin sekali berkisar

antara 213,84-232,50 kg/kapita/tahun dengan persentase 10%, sedangkan

untuk masyarakat miskin berkisar antara 245,50-317,86 kg/kapita/tahun

dengan persentase 20% dan 70% masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung

Asam dan Betenung termasuk rumahtangga sejahtera dengan konsumsi

beras berkisar antara 360,66-594,69 kg/kapita/tahun. Hal ini menunjukkan

bahwa di Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung termasuk

(33)

Tabel 7. Pendapatan Per Kapita Petani Peladang Berpindah Per Tahun Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

C. Kontribusi Pendapatan Perladangan Berpindah

Kontribusi dari hasil berladang terhadap pendapatan kotor petani setiap

tahunnya berkisar antara 24,804% - 62,785%, sedangkan kontribusi hasil

diluar ladang terhadap pendapatan kotor petani setiap tahunnya berkisar

antara 37,215% - 75,196%. Rata-rata kontribusi dari hasil ladang terhadap

pendapatan kotor setiap tahunnya sebesar 40,401% dan rata-rata kontribusi

(34)

Tabel 8. Kontribusi Hasil Ladang dan Hasil diluar Ladang Terhadap Pendapatan Kotor Petani Setiap Tahun

No

1 4.115.000 8.616.000 12.731.000 32,323 67,677

2 2.791.000 4.580.000 7.371.000 37,865 62,135

3 3.600.000 5.300.000 8.900.000 40,449 59,551

4 2.986.000 4.090.000 7.076.000 42,199 57,801

5 2.677.500 5.876.000 8.553.500 31,303 68,697

6 2.327.500 7.056.000 9.383.500 24,804 75,196

7 8.462.500 5.016.000 13.478.500 62,785 37,215

8 4.420.000 5.910.000 10.330.000 42,788 57,212

9 5.805.000 3.919.000 9.724.000 59,698 40,302

10 4.160.000 7.330.000 11.490.000 36,205 63,795

11 4.020.000 5.210.000 9.230.000 43,554 56,446

12 3.530.000 5.985.000 9.515.000 37,099 62,901

13 3.890.000 6.980.000 10.870.000 35,787 64,213

14 3.000.000 4.393.000 7.393.000 40,579 59,421

15 2.040.000 3.760.000 5.800.000 35,172 64,828

16 3.141.000 5.056.000 8.197.000 38,319 61,681

17 2.325.000 4.616.000 6.941.000 33,497 66,503

18 3.935.000 4.699.000 8.634.000 45,576 54,424

19 4.465.000 7.076.000 11.541.000 38,688 61,312

20 3.105.000 4.335.000 7.440.000 41,734 58,266

21 4.720.000 5.116.000 9.836.000 47,987 52,013

22 2.425.000 4.710.000 7.135.000 33,987 66,013

23 3.285.000 4.571.000 7.856.000 41,815 58,185

24 3.210.000 6.284.000 9.494.000 33,811 66,189

25 3.190.000 5.770.000 8.960.000 35,603 64,397

26 4.139.000 5.930.000 10.069.000 41,106 58,894

27 3.319.000 3.990.000 7.309.000 45,410 54,590

28 3.504.000 4.914.000 8.418.000 41,625 58,375

29 2.190.000 4.393.000 6.583.000 33,268 66,732

30 2.790.000 4.142.000 6.932.000 40,248 59,752

Jumlah Kontribusi Hasil Ladang dan Luar Ladang 1195,283 1804,717 Rata-rata Kontribusi Hasil Ladang dan Luar Ladang 40,259 59,741

(35)

Gambar 1. Persentase kontribusi pendapatan hasil ladang dan luar ladang

Dari Gambar 1 dapat dilihat besar kontribusi pendapatan hasil ladang

sebesar 41% dan hasil di luar ladang sebesar 59%. Hal ini menunjukkan

bahwa pendapatan masyarakat peladang berpindah dari hasil di luar ladang

lebih besar dari hasil ladang sebagai kegiatan pokok masyarakat petani.

D. Potret Perladangan Kecamatan Nanga Tayap 1. Pemanfaatan Hasil Ladang

Di setiap lokasi penelitian orientasi produk dan pemanfaatan hasil

dari ladang berbeda-beda. Hasil yang didapat dari ladang hanya untuk

dikonsumsi oleh sendiri dan jarang untuk dijual. Pohon yang mereka

tebang di lokasi ladang mereka gunakan untuk membuat pondok

peristirahatan, jarang dijual dan untuk kayu bakar mereka gunakan untuk

memasak di pondokan ladang. Kayu bakar ini jarang mereka bawa ke

rumah, hal ini dikarenakan jarak tempuh yang jauh antara rumah petani

dengan ladang.

Hasil getah karet mereka akan jual ke tengkulak-tengkulak dengan

harga Rp 4.000/kg dan buah-buahan (durian, rambutan, jambu, lengkeng

hutan, dukuh dan lain-lain) mereka jual sendiri ke rumah-rumah

penduduk. Dari tiga lokasi penelitian (Dusun Batubulan, Tanjung Asam

dan Betenung) hasil yang dapat dimanfaatkan diantaranya buah, daun,

kayu, dan getah karet.

2. Motivasi Ekonomi Perladangan Berpindah

Menurut Effendi (1984) dalam Gumilar (2004) menyatakan bahwa motivasi ekonomi merupakan suatu kondisi, kekuatan atau dorongan

yang menggerakkan organisasi atau individu untuk mencapai tujuan dari

tingkat tertentu. Motivasi ekonomi berkaitan erat dengan hasil-hasil panen 41%

59%

(36)

yang diperoleh dimana dengan dorongan motivasi ini membuat

responden berusaha keras untuk mengelola lahannya dengan baik

supaya dapat memperoleh hasil panen yang melimpah dan dapat

digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Motivasi ekonomi petani dalam melakukan kegiatan perladangan

berpindah dilakukan untuk membuka lahan hutan guna menanam padi

dan tanaman pangan lainnya, responden yang menyatakan setuju

sebanyak 70% dan sangat setuju sebanyak 30%. Kegiatan perladangan

berpindah di areal kawasan hutan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

hidup, responden yang menyatakan setuju sebanyak 80% dan sangat

setuju 20%. Semua responden 100% menyatakan tidak setuju apabila

hasil yang diperoleh dari perladangan berpindah untuk memenuhi

permintaan pasar. Perladangan berpindah merupakan suatu pekerjaan

utama petani, responden yang menyatakan setuju sebanyak 76,67% dan

sangat setuju 23,33%. Kegiatan berladang memberikan keuntungan yang

besar dibandingkan dengan pekerjaan lain (berburu, menyadap, karet),

semua responden 100% tidak setuju. Perladangan berpindah merupakan

modal hidup yang menyediakan tanaman pangan untuk mencukupi

kebutuhan keluarga, responden menyatakan setuju sebanyak 83,33%

dan sangat setuju 16,67%. Dari kegiatan membuka ladang dapat

menyediakan kayu bakar sebagai sumber energi untuk kebutuhan

sehari-hari, responden yang menyatakan setuju sebanyak 93,33% dan sangat

(37)

Tabel 9. Motivasi Ekonomi Petani Peladang Berpindah

No Jenis Pertanyaan Ekonomi

Distribusi jawaban responden

Kegiatan dari perladangan berpindah dilakukan untuk membuka lahan hutan guna menanam padi dan tanaman pangan lainnya.

21 70 9 30

2 Kegiatan perladangan berpindah di areal kawasan

hutan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 24 80 6 20

3 Hasil dari perladangan berpindah dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar. 30 100

4 Apakah kegiatan perladangan berpindah merupakan suatu kegiatan utama. 23 76,67 7 23,33

5

Apakah perladangan berpindah memberikan kuntungan yang besar dibandingkan dengan pekerjaan lain (berburu, menyadap karet).

30 100

6

Perladangan berpindah merupakan modal hidup yang menyediakan tanaman pangan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

25 83,33 6 16,67

7

Dari kegiatan membuka ladang dapat menyediakan kayu bakar sebagai sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari

28 93,33 2 6,67

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Dalam kegiatan perladangan berpindah perusahaan harus ikut

andil dalam memberikan pengetahuan mengenai cara pembakaran yang

baik supaya tidak melebar sampai ke lahan lain, pengetahuan mengenai

aspek-aspek konservasi serta jenis-jenis tanaman yang bermutu tinggi

sehingga memberikan hasil panen yang baik. Perladangan berpindah ini

sudah menjadi keharusan bagi petani untuk menutupi pengeluaran

mereka setiap tahunnya.

3. Tata Cara Perladangan

Kecamatan Nanga Tayap yang terletak di lembah bukit berhutan

mempunyai keterkaitan yang kuat dengan sistem perladangan berpindah.

Melalui sistem ini masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung terbukti mampu mengarungi perjalanan hidup dan membangun

sistem sosial ekonomi budaya yang kokoh. Aktifitas perladangan

berpindah yang sarat dengan muatan nilai ekonomi, sosial, budaya, dan

religi masih dipraktekkan dalam aktifitas perladangan masyarakat Dusun

Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung. Hal ini tercermin dari beragam

aktifitas perladangan berpindah mulai dari tata cara perladangan,

pembuatan pondok, tata waktu berladang, rotasi perladangan dan sistem

(38)

Aktifitas perladangan di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung layaknya perladangan di wilayah lain. Menurut Nugraha (2005)

tata cara dalam kegiatan perladangan berpindah diantaranya: memilih

lokasi, menebas, membakar, membuat pondok, menugal-menanam,

merumput, dan memanen.

2.1. Memilih Lokasi (Nyari)

Seorang peladang yang akan memilih lokasi haruslah

berkonsultasi dengan tetanggga atau kerabatnya. Mereka

menginformasikan masing-masing lokasi yang akan diladangi pada

tahun ini. Tujuan musyawarah ini agar tidak salah memilih lokasi

ladang yang telah dimiliki oleh petani yang lain sebelumnya dan

tidak terjadi lahan ladang yang masa beranya belum lama. Idealnya

sebuah lahan dapat diladangi adalah waktu bera 5-10 tahun dengan

ketebalan humus 5 cm.

Dalam menentukan lahan yang akan dijadikan ladang

masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung

memiliki beberapa pertimbangan yaitu:

1. Pertimbangan masa bera lahan, yaitu lahan yang melewati

masa bera yang cukup lama akan memiliki tingkat kesuburan

tanah yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan lahan masa

bera pendek, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil panen

yang akan diperoleh.

2. Pertimbangan jarak, yaitu peladang akan memilih jarak lahan

ladang dengan tempat tinggal yang relatif dekat dan mudah

ditempuh. Jarak yang dekat dan akses yang mudah berarti

peladang tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga,

sehingga bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan lain di rumah.

3. Pertimbangan jumlah tenaga kerja yang ada dalam keluarga.

Bagi keluarga yang memiliki anggota rumah tangga banyak

dapat membantu pekerjaan ladang, maka mereka akan memilih

lahan yang memiliki kualitas lahan yang baik dengan ukuran

besar.

4. Pertimbangan intensitas pekerjaan rumah dan sekitar rumah.

(39)

Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung, turut pula

menentukan letak lokasi ladang.

2.2. Menebas (Nuimo)

Nuimo atau menebas adalah aktifitas pemotongan tumbuhan

bawah atau tanaman yang berdiameter kecil yang membentuk

belukar di bawah pohon-pohon besar. Alat yang digunakan dalam

pekerjaan menebas adalah parang. Tujuan utama menebas, yaitu

(1) mematikan tumbuh-tumbuhan agar kering dan dapat dibakar

dengan mudah apabila tiba saatnya membakar ladang, dan (2)

mempersiapkan tempat yang terbuka dan bebas dari semak

belukar, sehingga peladang bisa bekerja menebang pohon-pohon

besar dengan aman.

2.3. Menebang (Nong)

Setelah nuimo selesai dikerjakan, maka mereka akan

melaksanakan tahapan kegiatan nong atau menebang. Proses

penebangan dilakukan pada bulan Juni dan Juli.

2.4. Membakar (Nutung)

Tujuan pembakaran pasca penebangan lahan secara umum

adalah: (1) mengubah tumbuh-tumbuhan yang telah ditebas dan

ditebang menjadi abu, sehingga akan mudah diserap oleh akar-akar

tanaman ladang, (2) mematikan tumbuhan hidup yang masih ada di

ladang, termasuk pohon-pohon yang sulit ditebang pada tahap

nong, dan (3) mencegah tumbuhnya pohon-pohon baru, sehingga akan menghilangkan persaingan bagi tanaman padi ladang untuk

mendapatkan sinar matahari, embun, dan zat besi. Keberhasilan

proses pembakaran lahan ladang setidaknya dipengaruhi oleh 5

faktor, yaitu (1) jenis hutan, (2) pengaruh kelembaban, (3)

pengaruh angin, (4) pengaruh sinar matahari, dan (5)

keterampilan manusia. Gambar lahan ladang yang baru di bakar

(40)

Gambar 2. Pembakaran Lahan untuk dijadikan Ladang

2.5. Membuat Pondok

Pembuatan pondok merupakan salah satu tahapan penting

dalam tata cara perladangan masyarakat. Pondok ladang digunakan

oleh para peladang untuk istirahat, menyimpan peralatan,

memasak, dan memelihara hewan ternak. Ruangan pondok ladang

terbagi dalam 4 ruangan, yaitu ruangan tengah untuk ruang makan,

satu ruang untuk memasak, satu ruang untuk tidur istirahat, dan

satu ruang untuk menyimpan barang-barang peralatan.

Gambar 3. Pondok Peristirahatan di Ladang 2.6. Menugal dan Menanam (Nubuja dan Nanam)

Kegiatan manugal dan menanam dilaksanakan setelah satu

(41)

pada awal musim hujan, karena sistem pengairan perladangan

berpindah sangat bargantung pada air hujan (sistem pengairan

tadah hujan). Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama pada

bulan Agustus-September oleh semua masyarakat yang berladang.

Pada waktu tugal tanam berjumlah antara 30-65 orang tergantung

besar kecilnya lahan. Gambar kegiatan menugal dan menanam

dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.

Gambar 4. Kegiatan Menugal

Gambar 5. Kegiatan Menanam

Jenis tanaman yang ditanam di ladang komoditi utamanya

adalah padi dan jagung serta terdapat juga singkong, umbi-umbian,

palawija dan sayuran (sawi, kangkung, cabe, kencur, kunyit, bayam,

labu, timun, gambas). Padi ditanam di dua tempat yaitu di sawah

(42)

ditanam diladang. Sistem ladang ini disebut ladang Paya (lembab dan terdapat air) dan ladang Natai (tempat kering). Gambar sistem

ladang Paya yang ditanami tanaman padi dapat dilihat pada Gambar 6 dan ladang Natai yang ditanami tanaman padi dan jagung (tumpang sari) Gambar 7.

Gambar 6. Jenis Tanaman Padi di Ladang Paya

Gambar 7. Jenis Tanaman Padi di Ladang Natai

Selain itu juga terdapat pula buah-buahan (durian, rambutan,

jambu, lengkeng hutan, dukuh dan lain-lain), kopi dan karet akan

tetapi di lahan yang berbeda. Lahan yang ditanami buah-buahan,

kopi dan karet adalah lahan yang dulunya dipakai sebagai lahan

(43)

sudah tidak produktif lagi untuk kegiatan berladang baru ditanami

oleh tanaman keras seperti buah-buahan, kopi dan karet. Hal ini

dilakukan sebagai tanda bahwa lahan tersebut sudah ada yang

memilikinya, sehingga lahan ini tidak boleh digunakan tanpa

sepengetahuan dan persetujuan dari petani yang pertama kali

mengelola lahan sebelumnya.

Kegiatan menyadap karet dilakukan pada waktu menunggu

masa panen dari ladang dan pada saat penyiapan lahan untuk

pembukaan ladang biasanya dilakukan oleh perempuan karena

pada waktu penyiapan lahan untuk pembukaan lahan ladang

laki-laki bekerja di ladang untuk menebas dan menebang pohon.

Kegiatan menyadap karet sering dilakukan pada setiap musim

panas. Pada musim kemarau hari efektif untuk menyadap karet

adalah 3 bulan biasanya dalam satu bulannya hanya menyadap

15-20 hari, sedangkan pada waktu musim hujan, hari efektif untuk

menyadap karet adalah 2 bulan setiap bulannya mereka hanya

menyadap 5-10 hari saja.

Gambar 8. Kegiatan Menyadap Karet

2.7. Merumput (Nguru)

Merumput merupakan satu tahap dalam pemeliharaan

ladang. Pemeliharaan ladang meliputi penyiangan rumput dan

pemberantasan hama penyakit. Penyiangan rumput dilakukan pada

bulan ketiga dari penanaman. Pekerjaan merumput ialah kegiatan

(44)

ladang. Dalam pekerjaan merumput, biasanya cukup melakukan

dengan tangan. Tujuan utama merumput adalah mencabut tanaman

pengganggu sampai keakar-akarnya. Oleh karena itu teknik

pencabutan harus dengan genggaman tangan sampai ke batang

terdekat dengan tanah untuk menghindari putusnya batang

tanaman pengganggu dari akarnya, sehingga tanaman pengganggu

tidak dapat tumbuh kembali. Dalam pemberantasan hama penyakit

yang menyerang tanaman ladang mereka biarkan begitu saja

karena kurangnya pengetahuan mengenai cara pemberantasan

hama tersebut.

2.8. Memanen (Ngotom)

Memanen adalah tahap paling penting dari praktek

perladangan, sebab dari hasil panen dapat diukur keberhasilan jerih

payah pekerjaan selama satu tahun. Pada tahap panen masyarakat

bersuka ria dan bersujud syukur kepada Tuhan atas karunia

pemberian hasil panen padi serta melakukan ritual simbah jamu

yaitu upacara untuk para leluhur mereka yang telah meninggal.

Pesta panen di masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan

Betenung dikenal dengan istilah bergendang.

Masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung dalam

melaksanakan kegiatan berladang memiliki tata sebaran waktu. Kegiatan

perladangan paling awal adalah pemilihan lokasi ladang yang dikerjakan selama

satu bulan, yaitu di bulan Mei. Pemilihan bulan Mei sebagai waktu memilih lokasi

ladang, sebab dikaitkan dengan masa panen yang sudah usai. Setelah pemilihan

lokasi dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan proses penebasan

di areal lahan yang dipilih untuk berladang. Tata waktu kegiatan perladangan di

(45)

Tabel 10. Tata Waktu Kegiatan Perladangan di Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung tahun 2005

KEGIATAN PERLADANGAN BULAN DALAM TAHUN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian

Penebasan dilakukan untuk membersihkan semak belukar dan pohon

kecil-kecil di areal ladang. Setelah penebasan selesai kemudian diteruskan dengan

penebangan pohon-pohon besar di lahan ladang. Penebasan dilakukan selama

dua bulan berturut-turut, yaitu dari bulan Juni sampai Juli. Waktu ini sangat

relevan untuk proses penebasan dan pembakaran, sebab diperkirakan belukar

yang ditebas dan pohon yang ditebang akan mengalami pengeringan sebelum

proses pembakaran pada bulan Agustus.

Pembakaran dilakukan pada bulan Agustus, sebab pada bulan ini musim

kemarau mengalami puncaknya sehingga memudahkan proses pembakaran.

Pembakaran yang dilakukan secara baik akan berdampak pada sempurnanya

hasil panen ladang. Abu pembakaran merupakan sumber kesuburan tanah.

Waktu pembakaran hanya satu bulan, yaitu bulan Agustus. Menunggu matinya

api pembakaran, maka peladang membangun pondok ladang di tepi ladang

dekat dengan aliran sungai. Pondok ladang digunakan untuk menyimpan

perlengkapan berladang dan tempat istirahat. Pengerjaan pembuatan pondok

bersamaan dengan pembakaran, yakni bulan Agustus.

Setelah pembakaran usai, kemudian dilanjutkan pengerjaan menugal dan

menanam. Bibit padi yang ditanam di ladang adalah padi lokal yang dipanen

sekitar 5 bulan, mereka mendapatkan bibit dari sisa panen tahun lalu yang

disimpan untuk bibit yang akan ditanam di ladang selanjutnya jadi mereka tidak

pernah membeli bibit untuk ladangnya. Penugalan dan penanaman dilakukan

antara bulan Agustus dan September yang dikerjakan secara bersama-sama.

(46)

pembersihan rumput maupun hama pengganggu. Waktu merumput berlangsung

selama dua bulan antara bulan November dan Desember.

Setelah itu baru masuk tahap akhir perladangan, yaitu proses pemanenan

yang berlangsung 2 bulan, yakni dari bulan Februari sampai dengan Maret.

Setelah perladangan berakhir sampai memanen, maka pola perladangan kembali

berotasi menurut tata urutan perladangan tahun sebelumnya. Selama satu tahun

rotasi kerja perladangan, maka di setiap waktu yang longgar oleh masyarakat

dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan di luar ladang. Masyarakat peladang

Dusun Batubulan, Tanjung Asam, dan Betenung memanfaatkan waktu kosong ini

untuk melakukan pekerjaan menyadap karet, dan berburu di hutan.

Rotasi perladangan memegang peranan penting dalam sistem

perladangan, sebab berkaitan erat dengan kelangsungan siklus ekosistem dalam

suatu wilayah. Rotasi perladangan merupakan masa antara pembukaan lahan

dengan waktu terakhir kali ladang dikerjakan. Masyarakat Dusun Batubulan,

Tanjung Asam dan Betenung mempunyai waktu rotasi ladang antara 5-10 tahun.

Tujuan rotasi ladang yang panjang adalah untuk menjaga kesuburan lahan

ladang, sehingga dapat menghasilkan padi ladang yang melimpah. Tata rotasi

perladangan di tiap tempat berbeda, tergantung tingkat kesuburan lahan dan

(47)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Sumber pendapatan petani perladangan berpindah berasal dari kegiatan

berladang dan kegiatan di luar ladang (menyadap karet, berburu serta

membuat kerajinan dari bambu dan rotan).

2. Rata-rata pendapatan petani perladangan berpindah dari pendapatan

hasil ladang sebesar Rp 3.585.583/tahun, rata-rata dari pendapatan di

luar hasil ladang sebesar Rp 5.320.766/tahun, rata-rata pengeluaran dari

rumah tangga dan kegiatan berladang yang dikeluarkan oleh petani

sebesar Rp 8.432.316/tahun dan untuk rata-rata pendapatan bersih

petani setiap tahunnya sebesar Rp 474.033/tahun. Untuk pengeluaran

petani hanya dari kegiatan berladang setiap tahunnya sebesar Rp

535.000/tahun dan rata-rata pendapatan bersih petani dari hasil ladang

berdasarkan luas ladang yang diolah sebesar Rp 2.542.048/tahun.

Pendapatan per kapita di Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan Betenung

untuk masyarakat miskin sekali berkisar antara 213,84-232,50

kg/kapita/tahun dengan persentase 10%, sedangkan untuk masyarakat

miskin berkisar antara 245,50-317,86 kg/kapita/tahun dengan persentase

20% dan 70% masyarakat Dusun Batubulan, Tanjung Asam dan

Betenung termasuk rumahtangga sejahtera dengan konsumsi beras

berkisar antara 360,66-594,69 kg/kapita/tahun.

3. Persentase kontribusi pendapatan dari kegiatan berladang sebesar 41%,

lebih kecil dari hasil di luar ladang yaitu 59% terhadap pendapatan total

kotor petani.

4. Kegiatan perladangan berpindah merupakan suatu keharusan bagi petani

ladang berpindah untuk menutupi pengeluaran mereka setiap tahunnya.

5. Potret perladangan berpindah di Kecamatan Nanga Tayap hampir sama

dengan perladangan berpindah di daerah lain, akan tetapi ada sedikit

perbedaan dalam hal kepercayaan yang dianut pada acara ritual kegiatan

(48)

B. Saran

1. Perlu adanya penyuluhan mengenai pemberantasan hama penyakit

dalam kegiatan pemeliharaan perladangan berpidah.

2. Perlu adanya lembaga desa yang menampung hasil getah karet.

3. Perlu adanya penelitian mengenai pendapatan nature (yang tidak

diperhitungkan) seperti kayu log, kayu bakar, bibit tanaman yang

digunakan.

4. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pendapatan masyarakat

dari hasil perkebunan karet menyangkut prospek dan kendalanya.

5. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai informasi mengenai bibit

Gambar

Tabel 2.   Luas Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas Lereng
Tabel 3. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kelompok Umur
Tabel 5.  Pendapatan Petani Peladang Berpindah Per Tahun Kecamatan Nanga Tayap
Tabel 6.  Pendapatan Petani Peladang Berpindah Berdasarkan Luas Ladang Kecamatan Nanga Tayap
+7

Referensi

Dokumen terkait

...1) masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dilakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan; 2)

 Pandangan ini mempunyai dua asas yaitu pertama, negara dan badan hukum publik lainnya dapat menggunakan peraturan- peraturan dari hukum perdata, seperti peraturan-peraturan dari

Penguatan kelembagaan yang meliputi kondisi kelembagaan, pemberian dukungan/bantuan kepada lembaga masyarakat dan pengkoordinasian lembaga massyarakat dalam kemitraan

Ada hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis dengan kinerja perawat penatalaksanaan standar praktik professional di ruang mawar merah kelas II RSUD Asembagus

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahawa ekstrak etanol biji alpukat memiliki nilai SPF tertinggi pada konsentarsi 1000 ppm dengan nilai SPF 8,02

Analisis efektivitas Program UPPKS dilakukan dengan membandingkan realisasi jumlah rata-rata efektivitas dari seluruh indikator variabel baik input, proses dan

Walaupun demikian, masih terdapat kemungkinan dan potensi untuk bangkit kembali dari situasi ini antara lain terdapatnya Balai Persuteraan Alam di Bili-Bili Gowa, potensi

Perubahan model pemasaran pariwisata Banyuwangi menjadi hal yang menarik untuk ditelisik lebih jauh sebab dengan penggunaan teknologi, jumlah kunjungan wisatawan