• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV _ SKRIPSI - Telaah Kitab Adab Al’Alim wa Al Muta’allim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB IV _ SKRIPSI - Telaah Kitab Adab Al’Alim wa Al Muta’allim"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

39

DALAM KITABADAB AL 'ALIM WA AL MUTA'ALLIM

A. Biografi K.H. Hasyim Asy'ari

1. Latar Belakang Keluarga K.H. Hasyim Asy'ari

Beliau bernama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy'ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim yang bergelar Pangeran Benawa bin Abdurrahman yang bergelar Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fattah bin Maulana Ishaq, ayahanda Raden Paku Ainul Yaqin yang dikenal dengan Sunan Giri.1

Berbeda dengan pendapat di atas, salah satu putra K.H. Hasyim Asy'ari yang bernama Akarhanaf menelusuri garis silsilah dari garis ibu. Menurutnya, garis silsilah K.H. Hasyim Asy'ari adalah Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pengeran Benawa bin Jaka Tingkir bin Prabu Brawijaya VI Raja Majapahit terakhir.2 Dari kedua pendapat tersebut, tampak terjadi perbedaan jalur silsilah setelah Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadi Wijaya. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa Kerajaan Islam Jawa berusaha menampilkan diri sebagai kelanjutan dari Kerajaan Majapahit. Pendapat lain menelusuri moyang K.H. Hasyim Asy'ari sampai kepada pemimpin Syi'ah, Imam Ja'far Shadiq bin Imam Muhammad Baqir melalui keluarga Syaiban.3

Muhammad Hasyim lahir di Desa Gedang, sekitar dua kilometer sebelah utara Kota Jombang pada tanggal 24 Dzulqa'dah 1287 H yang

1

Muhammad Hasyim Asy'ari,Adab Al 'Alim Wa Al Muta'allim,(Jombang : Maktabah Turots, tt), hal. 3

2

Lathifatul Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama, Biografi K.H. Hasyim Asy'ari(Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2001) Cet.2, hal. 15

3

(2)

bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871 M dari pasangan Asy'ari dan Halimah.4

Ayahanda K.H. Hasyim Asy'ari sebelumnya merupakan santri terpandai Kyai Utsman. Ilmu akhlak beliau sangat mengagumkan Kyai Utsman sehingga dinikahkan dengan putri Sang Kyai yang bernama Halimah. Ibunda K.H. Hasyim Asy'ari merupakan anak pertama dari tiga saudara laki-laki dan dua perempuan. Adapun K.H. Hasyim Asy'ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara yaitu Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Sampai umur lima tahun, Muhammad Hasyim dalam asuhan orangtua sekaligus kakeknya di Pesantren Gedang. Suasana tersebut tidak diragukan lagi mempengaruhi Muhammad Hasyim kecil yang sederhana dan rajin belajar.5

2. Latar Belakang Pendidikan K.H. Hasyim Asy'ari

Pendidikan K.H. Hasyim Asy'ari sama dengan yang dialami oleh kebanyakan santri muslim seusianya. Pendidikan awal beliau diperoleh dari bimbingan ayahanda sampai usian 15 tahun. Beliau mendapat pelajaran dasar-dasar tauhid, fiqh, tafsir dan hadits. Kemudian meneruskan studi ke beberapa pesantrem di Jawa dan Madura, yaitu Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura dan Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo.6

K.H. Hasyim Asy'ari belajar tata bahasa dan sastra Arab, fiqh dan sufisme dari Kyai Khalil dari Bangkalan selama 3 tahun, sebelum memfokuskan diri dalam fiqh selama dua tahun di bawah bimbingan Kyai Ya'qub di Pesantren Siwalan Panji.7

K.H. Hasyim Asy'ari kemudian pergi ke Hijaz untuk melanjutkan pelajarannya. Di Mekah, K.H. Hasyim Asy'ari belajar di bawah bimbingan

4

Rohinah M Noor,K.H. Hasyim Asy'ari; Memodernisasi NU dan Pendidikan Islam,(Jakarta, Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu, 2010), Cet.1, hal.12

5

Ibid.

6

Ibid.,hal. 23

7

(3)

Syaikh Mahfudz dari Termas, seorang ulama Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhari di Mekah. K.H. Hasyim Asy'ari juga mendapat ijazah untuk mengajar Sahih Bukhari dari Syaikh Mahfudz. Di bawah bimbingan beliau pula, K.H. Hasyim Asy'ari juga belajarTariqah Qadiriyyah dan Naqsyabandiyah. Syaikh Mahfudz dari Syaikh Nawawi Al Bantani dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas, seorang ulama sufi pertama yang menggabungkan ajaranTariqah QadiriyyahdanNaqsyabandiyah.8

Guru-guru K.H. Hasyim Asy'ari yang lain adalah Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama-ulama terkenal pada masa itu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perkembangan keilmuan K.H. Hasyim Asy'ari juga didorong oleh kaum intelektual Muslim internasional.9

3. Pemikiran dan Karya K.H. Hasyim Asy'ari a. Teologi (Tauhid)

K.H. Hasyim Asy'ari menulis tentang Ahlusunnah Wal Jama'ah dalam kitab beliau yang berjudul Al Risalah Al Atawhidiyyah (Kitab tentang Teologi) danAl Qala'id fi Bayan ma Yajib min Al 'Aqaid (Syai-syair dalam menjelaskan mengenai kewajiban menurut aqidah). menurut K.H. Hasyim Asy'ari, merujuk pada kitab Risalah AL Qushairiyyah, ada tiga tingkatan dalam mengartikan keesaan Tuhan. Tingkatan pertama adalah pujian terhadap keesaan Tuhan, tingkatan kedua meliputi pengetahuan dan pengertian mengenai keesaan Tuhan, dan tingkatan ketiga tumbuh dari perasaan terdalam mengenai Hakim Agung (Al Haq).10

Menurut K.H. Hasyim Asy'ari, Ahlu Al Sunnah adalah ulama dalam bidang tafsir Al Qur'an, sunah Rasul dan fiqh yang tunduk pada tradisi Rasul dan Khulafa Al Rasyidin. Beliau menyatakan bahwa

8

Ibid.,hal. 24

9

Lathiful Khuluq, Op. Cit.,hal 27

10

(4)

sampai sekarang ulama tersebut termasuk mereka yang mengikuti madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hambali.11Sedangkan istilah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah berasal dari sebuah hadits.

:

:

:

)

(

Rosululloh saw bersabda : demi Tuhan yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku nanti akan pecah menjadi73 golongan, satu golongan masuk surga dan yang 72 golongan akan masuk neraka, seorang sahabatbertanya “ siapakah mereka yang masuk surga itu, ya Rosulalloh ? “ Rosul menjawab “ Mereka itu

adalahAhlus Sunnah walJama’ah. ( H. R. Imam Thabrani ). Muslim tradisionalis juga menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal

Jama’ah untuk membedakan dengan Muslim modernis, walaupun mereka juga menerima formulasi Al Asy'ariyyah dan Al Maturidiyyah, namun Muslim tradisionalis mengakui keabsahan sufi ortodoks sebagaimana yang diajarkan oleh Junai Al Baghdadi dan AL Ghazali.12

Dalam kennyataannya, ada tiga kepercayaan Ahlus Sunnah wal

Jama’ahketika itu.

1) Al Tawasut, yang berarti bahwa seorang muslim harus berbuat secara moderat dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini berdasarkan Al Qur'an.

)

:

(

11

Ibid.,hal. 46

12

(5)

Dan demikianlah , telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi(pula) atas kamu. Dan tidaklah Kami jadikan kiblat yang telah ada engkau atasnya, melainkan supaya Kami ketahui siapa yang mengikut Rasul dari siapa yang berpaling atas dua tumitnya. Dan memanglah berat itu kecuali atas orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan tidaklah Allah akan menyia-nyiakan iman kamu. Sesungguhnya Allah terhadap manusia adalah Penyantun lagi Penyayang (Q.S. Al Baqarah : 143)

2) Al I'tidal, yang berarti bahwa muslim harus menegakkan keadilan.

)

:

(

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

3) Al Tawazun, berarti seorang muslim harus menunjukkan keseimbangan dalam semua perbuatan.

)

(

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan/keseimbangan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.13

b. Sufisme (Tasawwuf)

K.H. Hasyim Asy'ari menulis pemikiran beliau tentang sufisme dalam kitabAl Durar Al Munthathirah 'an Al Masail Al Tis'a Asyarah (Mutiara Tercecer Tentang Sembilan Belas Masalah) dan kitab Al Tibyan fi Al Nahy 'an Muqta'at Al Arham wa Al Aqarib wa Al Akhwan

13

(6)

(Penjelasan mengenai Larangan Memutus Hubungan Kerabat dan Teman).14

Pemikiran sufi K.H. Hasyim Asy'ari bertujuan memperbaiki perilaku umat Islam secara umum dan dalam banyak hal merupakan perulangan prinsip-prinsip sufisme Al Ghazali.15 Menurut K.H. Hasyim Asy'ari, ada empat aturan yang harus dilakukan jika seseorang ingin disebut sebagai pengikut suatuthariqah.

1) Menghindari penguasa yang tidak melaksanakan keadilan.

2) Menghormati yang bersungguh-sungguh meraih kebahagiaan di akhirat.

3) Menolong orang miskin

4) Melaksanakan shalat berjamaah.16 c. Fiqh

Sejalan dengan pemikiran muslim tradisionalis, K.H. Hasyim Asy'ari menganggap bahwa mengikuti salah satu dari empat madzhab adalah sangat penting. Beliau mengemukakan hal tersebut dalam Muqadimah Al Qanun Al Asasi Al NAhdlah Al 'Ulama (Pengantar terhadap Aturan Dasar Nahdlatul Ulama). Beliau juga menyatakan bahwa mengikuti selain empat madzhab adalah salah dan sesat. Dalam menjelaskan penolakan beliau terhadap madzhab-madzhab selain empat madzhab, beliau berkata :

Ulama dari Madzhab Syafi'i menjelaskan mengapa dilarang mengikuti madzhab selain empat madzhab sunni, ini karena pendapat-pendapat pemimpin madzhab selain itu tidak bisa dianggap benar yang disebabkan ajaran yang diwariskan dari para pemimpin madzhab kepada mereka ke generasi berikutnya tidak dapat dijaga keotentikan dan keasliannya.17

14

Ibid.

15

Ibid.,hal. 53

16

Ibid.

17

(7)

d. Pendidikan

Pemikiran pendidikan K.H. Hasyim Asy'ari sejatinya lebih menitikberatkan pada persoalan hati. Sehingga yang menjadi perhatian dalam menuntut ilmu adalah niat yang tulus ikhas dan hanya mengharap ridla Tuhan.18

Di sisi lain, pemikiran K.H. Hasyim Asy'ari adalah mengetengahkan nilai-nilai estetis yang bernafaskan sufistik. Hal ini nampak dalam pandangan beliau bahwa keutamaan ilmu yang sangat istimewa adalah bagi orang yang benar-benarlillahi ta'ala.Di samping itu, ilmu dapat diraih bilamana jiwa orang yang mencari ilmu tersebut suci dan bersih dari segala macam sifat yang tercela dan aspek-aspek duniawi.19

K.H. Hasyim Asy'ari memandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak lepas dari pendidikan akhlak atau moralitas. Sehingga penekanan terhadap moralitas adalah tujuan utama dalam kaitannya dengan pendidikan, baik pendidikan secara formal maupun informal.20

Dengan demikian, terlihat jelas bahwa sosok K.H. Hasyim Asy'ari mempunyai perhatian khusus terhadap penyebaran ilmu dan pendidikan. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan sarana penting dalam mensosialisasikan keutamaan dan kebersihan jiwa serta pikiran, termasuk sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.21

18

Rohinah M Noor,Op. Cit.,hal. 78

19

Ibid.,hal. 79

20

Ibid.,

21

(8)

Adapun karya-karya K.H. Hasyim Asy'ari yang berhasil dipublikasikan mencakup berbagai macam disiplin ilmu dan ditulis menggunakan bahasa Arab dan bahasa Jawa.22Di antara karya-karya beliau adalah sebagai berikut : a. Adab al-alim wal Muta'allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta'limihi(Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar)

b. Al Tanbihat Al Wajibah Liman Yasna' Al Maulid bi Al Munkarat (Peringatan bagi Orang yang Merayakan Maulid yang Munkar)

c. Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid'ah)

d. Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW) e. Al Durrar Al Munqatirah fi Al Masail Tits'a 'Asyara(Mutiara berharga

tentang Masalah Sembilanbelas)

f. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama

(Empat Puluh Hadits yang Berhubungan dengan Dasar Jam'iyah Nahdlatul Ulama)

g. Muqadimah Al Qanun Al Asasi Al NAhdlah Al 'Ulama (Pengantar terhadap Aturan Dasar Nahdlatul Ulama)

h. Al Risalah Al Tawhidiyyah(Kitab tentang Teologi)

i. Al Qala'id fi Bayan ma Yajib min Al 'Aqaid (Syai-syair dalam menjelaskan mengenai kewajiban menurut aqidah)23

4. Wafat K.H. Hasyim Asy'ari

Pada suatu petang menjelang maghrib pada bulan Ramadhan, datang utusan Jendral Soedirman dan Bung Tomo, sedangkan K.H. Hasyim Asy'ari

22

Muhammad Ilzam Syah Almutaqi, Konsep Pendidikan Akhlak menurut Hasyim Asy'ari dalam Kitab Ada Al 'Alim wa Al Muta'llim,(Salatiga: STAIN SALATIGA, 2013), hal. 35

23

(9)

telah bersiap-siap mengajar para santri beliau. Akhirnya beliau menemui kedua utusan tersebut. Keduanya menyampaikan pesan yang bunyinya meminta K.H. Hasyim Asy'ari memberikan perlawanan total terhadap Belanda. Mendengar pesan tersebut, K.H. Hasyim Asy'ari sekonyong-konyong menyebut Masya Allah berulang-ulang sembari memegangi kelapa dan beliau pun pingsan.24 Menyadari kondisi K.H. Hasyim Asy'ari, pihak keluarga segera memanggil dokter Angka Nitisastro. Dan pada tanggal 7 September 1947 dini hari pukul 03.45 waktu setempat K.H. Hasyim Asy'ari wafat dalam usia 76 tahun.25dan dimakamkan di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur, pesantren yang didirikan oleh beliau pada tahun 1899.26

B. Konsep Etika Belajar dan Mengajar K.H. Hasyim Asy'ari dalam Kitab Adab Al

‘Alim Wa Al Muta’allim.

1. Etika Peserta Didik terhadap dirinya

a. Membersihkan hati dari setiap sesuatu yang memiliki unsur menipu, kotor, rasa dendam, iri hati, keyakinan buruk dan perilaku buruk.

b. Memperbaiki niat dalam mencari ilmu dengan tujuan mencari ridla Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan ajaran-Nya, menerangi hati, menghiasi batinnya dan mendekatkan diri kepada Allah.

c. Sesegera mungkin memperoleh ilmu di waktu belia dan memanfaatkan setiap waktu dalam sisa umurya.

d. Menerima apa adanya (qana'ah) dalam hal makanan dan pakaian.

e. Membagi waktu, baik malam maupun siang dalam menggunakan kesempatan untuk belajar.

f. Mengurangi makan dan minum.

24

Rohinah M Noor,Op. Cit.,hal. 16

25

http://id.wikipedia.org/wiki/Hasjim_Asy'ari, diunggah pada tanggal 11 Mei 2015 pada pukul 10.15 WIB

26

(10)

g. Berperilaku wira'i (menjaga diri dari perbuatan makruh dan syubhat), berhati-hati dalam setiap perilaku serta mengutamakan hal-hal yang halal dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhannya demi menerangi hati serta kelayakan menerima ilmu dan manfaat ilmu. h. Mengurangi menggunakan bahan makanan yang menyebabkan

tumpulnya pikiran dan panca indra.

i. Mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan pikirannya.

j. Meninggalkan pergaulan, demi sesuatu yang lebih penting bagi penuntut ilmu terlebih dengan lawan jenis, khususnya jika terlalu banyak bermain serta sedikit menggunakan akal pikirannya.27

2. Etika Peserta Didik terhadap Pendidik

a. Terlebih dahulu berfikir dan meminta dipilihkan Allah (istikharah) kepada siapa akan mengambil ilmu (belajar) serta mempelajari budi pekerti darinya dan diutamakan seseorang yang ahli dibidangnya.

b. Bersungguh-sungguh mencari guru yang memiliki perhatian khusus terhadap ilmu syari'at serta dipercaya oleh para guru pada zamannya. c. Taat kepada guru dalam semua masalah serta tidak keluar dari nasehat

dan aturannya.

d. Mamandang guru dengan pandangan memuliakan serta berkayakinan guru memiliki derajat yang sempurna.

e. Mengetahui hak guru serta tidak melupakan jasa-jasanya dan mendoakan guru, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah wafat.

f. Bersabar terhadap kerasnya guru serta perilaku yang kurang menyenangkan.

g. Tidak menghadap guru di selain majelis ilmu (ruang belajar), kecuali meminta ijin terlebih dahulu, baik guru sedang sendiri ataupun dengan orang lain.

27

(11)

h. Duduk di hadapan guru dengan penuh tata krama, seperti duduk bersimpuh di atas kedua lututnya, atau duduk layaknya tasyahud akhir tanpa meletakkan kedua tangan di atas pahanya, atau duduk bersila dengan penuh rendah hati dan tenang.

i. Memperbaiki cara bertutur kata kepada guru.

j. Ketika mendengar guru menyebutkan hukum suatu masalah atau hikmah dari cerita atau melantunkan syair, sedangkan murid telah hafal dengan itu ssemua, hendaknya memperhatikan dan seketika menampakkan kegembiraan seakan-akan belum pernah mendengarnya sama sekali. k. Tidak mendahului guru dalam menjelaskan masalah atau menjawab

persoalan.

l. Ketika guru memberikan sesuatu, hendaknya murid mengambilnya dengan tangan kanan.28

3. Etika Peserta Didik terhadap Pelajaran

a. Memulai pelajaran dengan pelajaran yang sifatnya fardlu 'ain. Dan hendaknya memulai dengan empat cabang ilmu; yaitu ilmu (tauhid) tentang dzat Allah, ilmu tentang shifat Allah, ilmu fiqh, dan ilmu (tasawuf) tentangahwal,maqamat,godaan dan tipu daya nafsu.

b. Selanjutnya mempelajari ilmu tentang kitab Allah.

c. Sejak awal menahan diri serta tidak terjebak dalam masalah yang masih terdapat perbedaan pandangan dan persepsi di antara para ulama.

d. Mengoreksi bacaannya sebelum menghafalkan, baik kepada guru atau kepada seseorang yang lebih mumpuni.

e. Berangkat lebih awal demi mempelajari ilmu, terlebih ilmu hadits.

f. Ketika dirasa mampu menjelaskan apa yang telah dihafalkannya dan mampu mengurai kejanggalan-kejanggalannya, maka diperkenankan untuk beralih kepada pembahasan yang lebih luas dengan serta terus menerus menelaah.

g. Mengikuti diskusi bersama guru dalam setiap pelajaran dan pembacaan ilmu, apabila memungkinkan.

28

(12)

h. Apabila menghadiri majelis guru, hendaknya mengucapkan salam kepada yang hadir serta mengkhususkan penghormatan kepada guru.

i. Tidak segan-segan menanyakan persoalan yang dianggap sulit atau sesuatu yang sulit difahami dengan menggunakan tutur kata yang baik dan penuh sopan santun.

j. Menunggu gilirannya (antrian) dan hendaknya tidak menyerobot giliran yang lain tanpa kerelaan darinya.

k. Duduk dihadapan guru dengan menjaga kesopanan.

l. Menekuni satu pelajaran dan tidak beralih kepada pelajaran yang lain sampai benar-benar telah menuntaskannya.29

4. Etika Pendidik terhadap dirinya

a. Selalu muraqabah (merasa di awasi) Allah, baik dalam keadaan kesendirian ataupun tidak

b. Selalu berlaku khauf (takut akan siksa Allah) dalam setiap perilaku, perkataan dan perbuatan.

c. Senantiasa bersikap tenang d. Selalu berperilakuwira'i e. Berperilaku rendah hati

f. Bersikapkhusu'(merendahkan diri) kepada Allah

g. Menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.

h. Tidak menjadikan ilmunya sebagai perantara untuk mencapai keuntungan duniawi.

i. Tidak memuliakan putra penguasa dunia.

j. Berakhlak dengan zuhuddunia serta mengambil sedikit dari dunia hanya sekedar memenuhi kebutuhan.

k. Menjauhkan diri dari pekerjaan yang hina dan merendahkan diri. l. Menjauhkan diri dari tempat yang hina meskipun jauh dari keramaian. m. Menjaga diri dengan melaksanakan syi'ar islam dan menunaikan hukum

Islam seperti menunaikan ibadah shalat di masjid.

29

(13)

n. Bertindak dengan menampakkan sunah serta menjauhi bid'ahdan hal-hal yang mengandung kemaslahatan orang Islam dengan jalan yang baik dalam segi ajaran, kebiasaan dan watak.

o. Menjaga kesunahan-kesunahan agama, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan.

p. Bergaul dengan etika yang mulia.

q. Membersihkan lahir dan batinya dari perilaku buruk

r. Senantiasa semangat dalam mencapai perkembangan keilmuan dan bersungguh-sungguh dalam setiap aktifitas ibadahnya.

s. Mengambil pelajaran dan hikmah apapun dari setiap orang tanpa membeda-bedakan status.

t. Menyibukkan diri dengan penyusun pelajaran dan mengumpulkannya30 5. Etika Pendidik terhadap Pelajaran.

a. Datang ke tempat mengajar dalam keadaan suci dari hadats dan bersih dari kotoran serta memakai pakaian yang terbaik sesuai dengan keadaan. b. Ketika hendak keluar dari rumah (menuju tempat mengajar), hendaknya

berdoa dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad.

c. Ketika sampai di tempat mengajar, hendaknya memberikan salam kepada yang telah hadir kemudian duduk menghadap kiblat apabila memungkinkan serta pada tempat yang tampak oleh seluruh yang hadir. d. Memulai pelajaran dengan membaca ayat Al Qur'an dengan mengharap

keberkahan.

e. Jika mata pelajarannya banyak, hendaknya mendahulukan pelajaran yang lebih mulia dan lebih penting.

f. Tidak mengeraskan suara melebihi kebutuhan. g. Menjaga kondisi kelas dari kegaduhan.

h. Ketika di tanya tentang sesuatu yang tidak diketahui, maka dijawab dengan tidak tahu atau tidak mengerti.31

30

Ibid.,hal 55-70

31

(14)

6. Etika Pendidik terhadap Peserta Didik

a. Mengajar dan mendidik dengan maksud mencari ridla Allah SWT, menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, serta melestarikan kebaikan umat dengan meperbanyak ilmuwan.

b. Tidak tercegah untuk melakukan pengajaran hanya karena ketiadaan niat yang ikhlas dari murid.

c. Menyukai berperilaku kepada peserta didik layaknya menyukai hal tersebut pada diri sendiri.

d. Mempermudah menyampaikan pengajaran dengan ungkapan yang baik dalam pemahaman peserta didik.

e. Bersungguh-sungguh dalam pengajaran dan memberi kepahaman pada peserta dengan mencurahkan daya upaya serta menjelaskan materi tanpa berlebihan, panjang lebar, memberatkan hati dan yang melampaui batas-batas hafalan

f. Meminta peserta didik mengulangi hafalan pada sebagian wakttunya. g. Ketika peserta didik mempelajari materi di atas ketentuan atau di luar

kemampuannya, maka pendidik menasehati dengan lemah lembut.

h. Tidak menonjolkan salah satu peserta didik dalam hal perhatian dan kasih sayang.

i. Mengabsen kehadiran peserta didik dan memanggil yang tidak hadir dengan panggilan yang baik serta mengetahui latar belakang peserta didik dan mendoakan mereka.

j. Membiasakan diri dalam berperilaku, seperti mengucapkan salam, bertutur kata yang baik, tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

k. Senantiasa memperbaiki hati dan perilaku peserta didik dengan sesuatu yang tidak memberatkan, baik dalam orientasi belajar ataupun yang berkaitan dengan harta bendanya.

(15)

m. Rendah hati kepada peserta didik selama menjalankan kewajiban-kewajibanya kepada Allah.

n. Memanggil setiap peserta didik dengan panggilan yang disenangi dan menghormati terlebih kepada yang lebih senior.32

C. Analisis terhadap Relevansi Konsep Etika Belajar dan Mengajar K.H. Hasyim Asy'ari dalam KitabAdab Al ‘Alim Wa Al Muta’allim

Pandangan K.H. Hasyim Asy'ari tentang kehidupan selalu berorientasi pada landasan Islam yang bersumber pada wahyu di samping dalil-dalil naqliyah dan pendekatan diri melalui cara sufi.33 Selain itu, K.H. Hasyim Asy'ari memandang bahwa keberhasilan proses belajar-mengajar tidak lepas dari pendidikan akhlak atau moralitas.34 Dan ini terbukti dengan karya beliau yang berupa risalah khusus yang membahas mengenai konsep kependidikan disusun secara khusus dalam kitabAdab Al 'Alim wa Al Muta'allim.35

Sedangkan belajar dan mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang akan selalu berlangsung dengan melibatkan unsur subyek atau pihak-pihak sebagai aktor penting. Aktor penting tersebut dinamakan pula sebagai subyek penerimadi satu pihak dansubyek pemberidi pihak yang lain. Dalam prakteknya, subyek penerima adalah peserta didik, sedangkan subyek pemberi adalah pendidik.36

Atas pertimbangan hal tersebut, analisis terhadap relevansi konsep etika belajar dan mengajar K.H. Hasyim Asy'ari dalam kitab Adab Al ‘Alim Wa Al

Muta’allimpeneliti coba untuk mengelompokkan substansi dari etika bagi subyek pendidikan, baik subyek pemberi atau subyek penerima, dan tidak secara terpisah, dengan harapan akan lebih mudah mendapatkan gambaran relevansinya dengan dunia pendidikan, khususnya di Indonesia.

32

Ibid.,hal. 81-95

33

Rohinah M Noor,Op. Cit.,hal. 19

34

Ibid.,hal. 79

35

Ibid.

36

(16)

1. Niat Ikhlas

Ketulusan niat diberlakukan bukan hanya untuk subyek pemberi namun juga subyek penerima dalam suatu proses belajar mengajar. Dalam kitab Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim karya K.H. Hasyim Asy'ari, proses etika bagi peserta didik sebagai subyek penerima didahului dengan membersihkan hati dari berbagai macam keburukan seperti dengki hati, akidah yang buruk dan pikiran kotor. Hal ini bertujuan agar mudah menerima ilmu dan menjaganya.37

Selanjutnya peserta didik memperbaiki maksud dan tujuannya dalam mencari ilmu seperti mengharap ridla Allah, menghidupkan ajaran syari'at dan mendekatkan diri kepda Allah SWT serta tidak bermaksud untuk tujuan duniawi seperti memperoleh jebatan, harta, atau agar dimuliakan orang lain.

Sedangkan bagi pengajar sebagai subyek pemberi, tahapan dalam memperoleh nilai ketulusan niat juga dapat dengan jelas dilihat pada kitab Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim karya K.H. Hasyim Asy'ari. Didahului dengan selalu muraqabah (merasa diawasi Allah SWT) dan khauf (takut akan siksa Allah SWT), baik dalam keadaan kesendirian atau tidak, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Selanjutnya selalu menjadikan Allah SWT sebagai tempat mengadu dan tidak menjadikan ilmu yang dimiliki sebagai sarana memperoleh keuntungan duniawi seperti jabatan, harta, pengikut, atau terkenal dan keutamakan di antara yang lain.38

Selain itu, pengajar hendaknya berniat mencari ridla Allah, mengebarkan ilmu, menghidupkan syariat, serta melestarikan kebaikan umat dengan memperbanyak ilmuwan.39

37

Muhammad Hasyim Asy'ari,Loc.Cit.

38

Ibid.,hal. 56

39

(17)

Pentingnya peran niat didasari oleh ketergantungan suatu amal perbuatan terhadap niat dari amal perbuatan tersebut, seperti dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW.40

:

:

.

.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab

radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung

niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang

ditujunya”(H.R. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Al Zarnuji berpendapat bahwa buruknya niat dapat menjadikan amal ibadah hanya menjadi perbuatan duniawi tanpa imbalan pahala. Begitu pula sebaliknya, niat yang baik akan menjadikan suatu pekerjaan yang tampaknya biasa dapat mengandung muatan ibadah jika didasari oleh niat yang benar.41

:

.

Dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam: Banyak perbuatan yang tampaknya perbuatan dunia menjadi amal akhirat disebabkan baiknya niat, dan banyak amal yang tampaknya amal akhirat menjadi perbuatan dunia disebabkan buruknya niat.

40

Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi,Al Arba'in Al Nawawi, (Semarang : Maktabah Al 'Alwiyyah, tt), hal. 5

41

(18)

2. Tawadlu(Rendah Hati)

Konsep rendah diri yang dirumuskan K.H. Hasyim Asy'ari bagi peserta didik sebagai subyek penerima diungkapkan dengan kewajiban untuk memandang seorang pendidik dengan pandangan yang mengagungkan atau memuliakan dan berkeyakinan bahwa pendidik memiliki derajat yang sempurna, karena dengan demikian lebih memberikan dampak kemanfaatan pada ilmu yang diperoleh. Dan secara teknis praktisnya, peserta didik tidak boleh memanggil nama, tetapi memanggil dengan sebutan bapak guru. Bahkan penyebutan pendidik ketika ketiadaannya tidak diperbolehkan kecuali disertai dengan hal-hal yang mengindikasikan untuk memuliakan42

Di satu sisi, pendidik yang berperan sebagai subyek pemberi harus memiliki rasa rendah hati pula, dibarengi dengankhusyu', bersikap tenang.43

)

:

(

"Dan berendah hatilah kamu terhadap orang yang beriman"(Q.S. Al Hijr : 88)

Hal ini senada dengan pendapat Al Ghazali yang mengatakan bahwa ilmu hanya dapat diperoleh dengan rendah hati (tawadlu) dan mendengarkan guru.44

Lebih lanjut, Al Ghazali memberikan contoh tentang apa yang terjadi di antara para SahabtRadlia Allah 'anhu. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas yang menata kuda dan pelana demi Zaid ibn Tsabit karena mamandang Zaid ibn Tsabit sebagai orang yang berilmu, sementara Zaid ibn Tsabit mencium tangan Ibnu Abbas karena Ibn 'Abbas adalah ahl bait (keluarga Nabi Muhammad SAW).45

42

Muhammad Hasyim Asy'ari,Op.Cit.,hal. 30

43

Ibid.,hal. 56

44

Abu Hamid Ahmad ibn Muhammad Al Ghazali,Ihya 'Ulum Al Din,(Beirut : Dar Al Kotob Al 'Ilmiyah, 2004),Juz 1, hal. 53

45

(19)

3. Qana'ahdanZuhud(Hidup Sederhana)

K.H. Hasyim Asy'ari menyebutkan bahwa Peserta didik hendaknya berperilaku qana'ah dengan tujuan untuk menjaga hati dari banyak berangan-angan dan memperoleh kandungan hikmah dalam mencari ilmu. Hal ini berdasarkan pada ungkapan Imam Syafi'i.46

:

Imam Al Syafi’i telah berkata: “Orang yang mencari ilmu tidak akan

bisa merasa bahagia, apabila ketika mencari ilmu disertai dengan ketinggian hati dan kehidupan yang serba cukup, akan tetapi orang-orang yang mencari ilmu dengan perasaan hina, rendah hati,

kehidupan yang serba sulit dan menjadi pelayan para ulama’, dialah

orang yang bisa merasakan kebahagiaan"

Di antara contoh berprilaku qana'ah adalah dengan mengurangi makan dan minum, di mana K.H Hasyim Asy'ari menjadikan hal tersebut sebagai etika tersendiri bagi peserta didik dalam belajar. Beliau berpendapat bahwa makanan berlebih dapat menyebabkan berat untuk melakukan ibadah.47

Sikap qana'ah yang menjadi etika seorang peserta didik sebagai subyek penerima diimbangi oleh sikap zuhud yang menjadi etika pendidik sebagai subyek pemberi. K.H Hasyim Asy'ari mengungkapkan bahwa seorang pendidik harus berperilaku zuhud, dan hanya mengambil sekedarnya saja.48

Mengenai qana'ah dan zuhud, K.H. Hasyim Asy'ari berlandaskan pada sabda Nabi Muhammad SAW.

)

(

46

Muhammad Hasyim Asy'ari,Op.Cit.,hal. 26

47

Ibid.

48

(20)

"Kemuliaan bagi orang yang qana'ah dan kehinaan bagi orang yang tamak" (H.R. At Thabrabi)

4. Wira'i

Berperilaku wira'i di sini merupakan sikap kehati-hatian terhadap perkara yang bersifatsyubhat(tidak jelas kehalalanya), bahkan haram dalam segala aspek perilaku kehidupan49

Peserta didik harus berperilaku wira'i dan berhati-hati dalam setiap perilaku serta mengutamakan hal-hal yang halal dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhannya demi menerangi hati serta kelayakan menerima ilmu dan manfaat ilmu.50

Disamping perilaku wira'i harus dimiliki oleh peserta didik, K.H. Hasyim Asy'ari juga mengungkapkan akan kewajiban pendidik untuk bersikap wira'i.51 Dengan demikian, perilaku menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik bukan hanya sekedar materi pelajaran, namun juga sebagai percontohan langsung dari seorang pendidik. Sehingga keteladanan dalam dunia pendidikan akan tetap terjaga dan berkembang dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi Muhammad SAW dan Surat Al Ahzab ayat 21.

)

(

"Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi SAW tidak mewariskan dinar ataupun dirham (kekayaan), sebaliknya mereka mewariskan ilmu." (H.R. Abu Dawud)

)

:

(

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah

(suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap

49

Muhammad Ilzam Syah Almutaqi,Op. Cit.,hal. 60

50

Muhammad Hasyim Asy'ari,Op.Cit.,hal. 27

51

(21)

(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut

Allah.”(QS. Al-Ahzaab: 21)

Al Zarnuji berpendapat bahwa peserta didik yang berperilaku wira'i ilmunya akan lebih bermanfaat, dan belajarnya lebih mudah. Dan di antara perilaku wira'i adalah menghindari kenyang, makan berlebih, banyak tidur dan banyak bicara.52

5. Keseriusan dalam belajar mengajar

Dalam konsep keseriusan dalam belajar mengajar yang dirumuskan K.H. Hasyim Asy'ari bagi peserta didik terlihat dalam kitab Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim yang menjadikannya permulaan etika yang berkaitan dengan pemilihan seorang pengajar.

Diawali dengan keseriusan dalam memilih pendidik yang sesuai dalam bidangnya, memiliki sifat kasih sayang, menjaga kehormatan, dan baik metode pengajaran dan pemahamannya.53 Dan beliau juga mengungkapkan dalam kitab Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim sebagai berikut :

:

"Diriwayatkan dari sebagian ulama’ salaf: 'Ilmu iniadlah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian'”.

Selanjutnya, diikuti dengan kepatuhan terhadap peraturan dan tidak keluar dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam belajar mengajar.54

Sedangkan bagi pengajar, konsep keseriusan mengajar terlihat dalam bab ke-tujuh di mana disebutkan bahwa seorang pendidik harus bersungguh-sungguh dalam pengajaran dan memberi kepahaman dengan mencurahkan

52

Ibrahim ibn Isma'il Az Zarnuji,Op. Cit.,hal. 50

53

Muhammad Hasyim Asy'ari,Op.Cit.,hal. 30

54

(22)

daya upaya serta tidak berlebihan dan memberatkan hingga melampaui batas-batas hafalan/materi.55

Sementara Al Zarnuji berpendapat dengan mengutip ungkapan ulama bahwa barang siapa yang mencari sesuatu hal kemudian bersungguh-sungguh maka akan mendapatkannya.56 Hal ini bersdasarkan firman Allah SWT

)

:

(

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat" (Q.S. Al Ankabut : 69) 6. Membagi waktu.

K.H. Hasyim Asy'ari dalam kitab Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim juga memperhatikan bagaimana subyek pendidikan memanfaatkan waktu belajar mengajar. Meskipun secara teknis masih bersifat global, namun lebih terperinci dibandingkan denganAl Zarnujiyang membahas tentang motivasi dan kesungguhan belajar dalam satu bab khusus tanpa memberi contoh secara praktis.57

Tahap awal yang dirumuskan oleh K.H. Hasyim Asy'ari adalah peserta didik harus berusaha sesegera mungkin memperoleh ilmu diwaktu masih belia dan memanfaatkan umurnya. Jangan sampai tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangan-angan, karena setiap waktu yang terlewati tidak mungkin diganti ataupun ditukar. Seorang pelajar harus meninggalkankan urusan-urusan yang merepotkan yang mampu dilakukan, juga hal-hal yang bisa menghalangi kesempurnaan mencari ilmu, serta mengerahkan segenap kemampuan dan

bersungguh-55

Ibid.,hal. 85

56

Ibrahim ibn Isma'il Az Zarnuji,Op. Cit.,hal. 22

57

(23)

sungguh dalam menggapai keberhasilan agar tidak menjadi pemutus jalan proses belajar.58

Selanjutnya, peserta didik harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tidak ada nilainya.59

Selain itu, K.H. Hasyim Asy'ari juga memberikan pedoman pembagian waktu. Waktu sahur digunakan untuk menghafalkan. Waktu pagi digunakan untuk membahas pelajaran. Waktu tengah hari (siang) digunakan untuk menulis. Waktu malam digunakan untuk meninjau ulang dan mengingat pelajaran.60

Selain membagi waktu untuk belajar, K.H. Hasyim Asy'ari juga menginggung waktu tidur. Seorang pelajar hedaknya mengurangi waktu tidurnya selama tidak berbahaya bagi jiwa dan raganya. Dan tidurnya tidak lebih dari delapan jam dalam sehari semalam.61

SedangkanAl Zarnuji dalamTa'lim Al Muta'allim fi Thariq Al Ta'lim mengategorikan bangun malam sebagai etika seorang peserta didik. Hal ini dikarenakan beliau berpendapat bahwa di waktu malam tedapat suatu keberkahan bagi para pencari ilmu.62

7. Belajar Mengajar secara Bertahap.

Seorang peserta didik memulai belajar dengan ilmu fardlu 'ain. Dengan demikian, setidaknya ada empat cabang ilmu yang harus dipelajari oleh peserta didik, yaitu ilmu tauhid tentangdzat Allah, ilmu tentangshifat Allah, ilmufiqhdan ilmutasawuf.63

58

Muhammad Hasyim Asy'ari,Op.Cit.,hal.25

59

Ibid.,hal. 26

60

Ibid.

61

Ibid.,hal. 27

62

Ibrahim ibn Isma'il Az Zarnuji,Op. Cit.,hal. 24

63

(24)

Selanjutnya, mempelajari ilmu tentang kitab Allah, seperti tafsir dan kemudian mempelajari mata pelajaran yang lain sepertihadits, ushul, nahwu dan sharaf. meskipun demikian, hendaknya pelajaran tersebut tidak membuat meninggalkan untuk menjaga membaca Al Qur'an.64

Meskipun demikian, tahapan belajar mengajar bukan hanya tentang materi saja yang menjadi perhatian K.H. Hasyim Asy'ari. Beliau juga memperhatikan keampuan peserta didik dalam belajar. Hal tersebut terlihat dalam nungkapan beliau bahwa peserta tidak boleh disibukkan dengan hal-hal yang masih dalam perselisihan di antara para ulama.65

Sebelum berpindah atau melanjutkan pelajarannya, peserta didik hendaknya menguji kebenaran hafalannya (tashhih).66 Selanjutnya, apabila dirasa telah mampu menguasai satu materi dan bisa menjelaskan sertamemahami kesulitan-kesulitannya, peserta didik baru diperkenankan untuk beralih ke pelajaran berikutnya.67

Di pihak lain, pendidik yang berperan sebagai subyek pemberi pun harus memberikan pengajaran secara bertahap. Seperti apabila dalam pengajaran memiliki muatan mata pelajaran yang banyak, pendidik harus mendahulukan mata pelajaran yang lebih mulia dan lebih penting. Dalam Adab Al 'Alim wa Al Muta'allim, K.H. Hasyim Asy'ari memberikan permisalan yang hendaknya diajarkan terlebih dulu oleh pendidik, yaitu Ilmu Tafsir, kemudian Hadits, kemudianUshul Al Din, kemudian Ushul Al Fiqh, kemudian Kitab Madzhab (fiqh), kemudianAl Nahwdan yang terakhir ilmu-ilmu yang dapat digunakan untuk membersihkan jiwa.68

64

Ibid.

65

Ibid.,hal. 46

66

Ibid.

67

Ibid.,hla. 47

68

Referensi

Dokumen terkait

Konsep dari perancangan sebuah film yang akan penulis buat adalah film yang dimana pada salah satu adegan penulis ingin Memunculkan visual efek dalam sebuah adegan di film,

kajian ini bertujuan untuk (1) mengenal pasti peranan perhubungan awam hijau dalam usaha mempromosi teknologi hijau, (2) mengenal pasti strategi perhubungan awam yang diamalkan

Etiologi dari campak adalah measles virus (MV) atau virus campak yang merupakan agen penyebab dengan proses replikasi terjadi di organ limfoid dan menyebabkan kematian pada anak

Santunan Kematian Masyarakat Pandeglang atau disingkat dengan SAKTI MAPAN merupakan program Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam rangka memberikan jaminan sosial

Unit Kontrol Dasar OptionButton – Contoh txtHasil Name Caption TextBox1 txtAsli 0 Name Caption TextBox1 lblHasil Hasil Convert Name Caption Label1 lblAsli Nilai Asli Name Caption

Hasil tersebut dapat diartikan bahwa UD Nabila dapat melakukan pemesanan sebanyak 21 kali dalam setahun dengan kuantitas pembelian optimal sebanyak 1.403,44 Kg

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis kepada Bapak Rudi Sinamo, S.Pd (Kepala Bidang Pariwisata Kabupate Pakpak Bharat) penulis menarik kesimpulan

Seni rupa modern dan kontemporer dalam konteks ini adalah seni yang berkembang selaras dengan pemikiran rasional, memiliki konsep orisinalitas, kebaruan (novelty) hingga