Evaluasi Kadar Air Tanah, Bahan Organik dan Liat serta Kaitannya Terhadap Indeks Plastisitas Tanah Pada Beberapa Vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun

Teks penuh

(1)

Lampiran 1. Data Titik Koordinat, Ketinggian Tempat dan vegetasi Pada Tanah Andisol

(2)

Lampiran 2. Data Titik Koordinat, Ketinggian Tempat dan vegetasi Pada Tanah Inceptisol

Kode sampel Titik koordinat Ketinggian

Tempat (m)

Vegetasi

X Y

K1 98o50'46.1 ̎ 2o45'16.9 ̎ 1028 Kopi

K2 98o52'19.9 ̎ 2o45'33.1 ̎ 1013 Kopi

K3 98o52'7.4 ̎ 2o44'59.9 ̎ 1012 Kopi

(3)

Lampiran 3. Kriteria Penilaian Bahan organik tanah Sifat Kimia

Tanah

Sangat Rendah

Rendah Sedang Tinggi Sangat

Tinggi B. Organik

Total (%)

<1.00 1.0-2.0 2.01-3.00 3.01-5.00 >5.00 C. Organik <1.00 1.0-2.0 2.01-3.00 3.01-5.00 >5.00 Sumber: Pusat Penelitian Tanah Bogor (1981)

Lampiran 4. Kriteria Indeks Plastisitas Tanah

Indeks Plastisitas Kriteria/sifat

0 Non plastis

<7 Plastisitas rendah

7-17 Plastisitas sedang

>17 Plastisitas tinggi

(4)

Lampiran 5. Peta Administrasi Kecamatan Pamatang Sidamanik

(5)
(6)

Lampiran 8. Analisis Kerapatan Isi Tanah di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kode sampel tanah Kerapatan isi (BD)

(g/cm3) Kriteria

T1 (Andisol) 0,83 Rendah

T2 (Andisol) 0,86 Rendah

K1 (Andisol) 0,66 Rendah

K2 (Andisol) 0,59 Rendah

K1( Inceptisol) 0,71 Rendah

K2 (Inceptisol 0,69 Rendah

H1 (Andisol) 0,73 Rendah

(7)

Lampiran 9. Analisis Sidik Ragam Variabel Tetap Bahan Organik Pada tanah

a. Variabel Terikat: Indeks Plastisitas b. Predictors: (Konstanta), Bahan Organik

Lampiran 10. Koefisien Variabel Tetap Bahan Organik Pada Tanah Andisol Model Koefisien di bawah

(8)

Lampiran 12. Koefisien Variabel Tetap Kadar Air Pada Tanah Andisol Model Koefisien di bawah

standar

Lampiran 13. Analisis Sidik Ragam Variabel Tetap Kadar Liat Pada tanah Andisol

(9)

Lampiran 15. Analisis Sidik Ragam Variabel Tetap Bahan Organik Pada tanah

Lampiran 16. Analisis Sidik Ragam Variabel Tetap Kadar Air Pada tanah Inceptisol

(10)

Lampiran 18. Analisis Sidik Ragam Variabel Tetap Kadar Liat Pada tanah

(11)

Lampiran 20. Analisis Faktor Analisis Faktor

Total Penjelasan Variansi Total

Komponen Initial Eigenvalues Extraction Sums of

Squared Loadings Total % Variansi Kumulatif % Total % Variansi 1. Bahan

organik 1,645 54,818 54,818 1,645 54,818

2. Kadar

air ,921 30,699 85,517

3. Kadar

liat ,434 14,483 100,000

Penjelasan Variansi Total

Komponen Extraction Sums of Squared Loadings

Kumulatif %

1. Bahan organik 54,818

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor

BPS. 2013. Simalungun Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun.

BPS. 2014. Kecamatan Pamatang Sidamanik Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun.

Braja, M.D., Endah N., dan Mochtar IB .1993.. Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2014. Tanah Andosol di Indonesia Karakteristik, Potensi, Kendala, dan Pengelolaannya untuk Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Foth, H.D. 1994. Dasar- Dasar Ilmu Tanah Edisi Ke Enam. Erlangga. Jakarta. Hakim., Nurhajati., Nyakpa., Y. Lubis. 1986. Dasar- Dasar Ilmu Tanah.

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akadernika Pressindo. Jakarta. 286 hal. Hardiyatmo, H. C. 2010. Mekanika Tanah 1 (Edisi 5). Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta.

Kurnia, U., F. Agus, A. Adimihardja dan A. Darioh. 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor. Lubis, K. L. 2015. Pengantar Fisika Tanah. USU Press. Medan

Moradi, S. 2013. Impacts Of Organic Carbon On Consistency Limits In Different Soil Textures. International Journal of Agriculture and Crop Sciences. Department of Agriculture, Payame Noor Universtiy. Teheran. Vol. 5 (12).

(13)

Mukhlis, Sarifuddin dan H. Hanum. 2011. Kimia Tanah Teori dan Aplikasi. USU - Press. Medan

Pujiyanto. 2007. Penyediaan Bahan Organik Dilaksanakan Perkebunan Kopi dan Kakao. Warta Kopi dan Kakao. 13 (2) 115- 123.

Pramuhadi, G dan Dymaz G.Y.A. 2006. Kekuatan Geser Tanah Pada Berbagai Dosis Pupuk Organik Granular. J. Agrotek Vol.5 (2) : 49-66. IPB Bogor.

Supriyadi,S. 2008. Kandungan Bahan Organik Sebagai Dasar Pengelolaan Tanah di Lahan Kering Madura. Fakultas Pertanaian Unijoyo. Jurnal Embriyo. Vol. 5 (2).

Tan, K. H. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Thiyyakkandi, S and S. Annex. 2011. Effect of Organic Content on Geotechnical Properties of Kuttanad Clay. EJGE. Vol 16: 1653-1663. Bund.U.

Wesley, L. D. 1973. Mekanika Tanah. Badan Penerbit Pustaka Utama. Jakarta. Wiryasa, N. G. A., I,N. S dan Agus, S. W. 2008. Pemanfaatan Lumpur Lapindo

(14)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Penelitian ini dilaksanakan pada lahan beberapa vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun, Laboratorium Fisika Tanah dan Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan Mei 2015 sampai dengan Agustus 2015.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lokasi penelitian skala 1: 100.000 digunakan sebagai peta dasar, sampel tanah yang diambil pada beberapa vegetasi, natrium pirofosfat untuk pengukuran kadar liat tanah, kalium dikromat (K2Cr2O7) untuk pengukuran bahan organik tanah dan bahan kimia

lainnya yang berhubungan dengan analisis laboratorium.

(15)

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan data dilakukan secara sampling dengan metode random sampling sebanyak 60 sampel dengan 6 sampel setiap desa.

Pelaksanaan Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan beberapa tahap. Adapun tahapan kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

Persiapan

Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan pekerjaan di lapangan, terlebih dahulu dilakukan usulan penelitian, pengadaan peralatan, pengadaan peta, studi literatur dan penyusunan rencana kerja di lapangan.

Pelaksanaan

Pekerjaan dimulai dengan survei atau pengecekan lapang, pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan GPS dengan berpedoman pada peta dasar.

Analisis Parameter

Pengambilan Contoh Tanah Terganggu dengan bor tanah atau cangkul. Parameter yang diukur antara lain:

1. Kadar Liat dengan menggunakan metode Hydrometer. 2. Bahan Organik dengan menggunakan metode Walkey-Black 3. Indeks Plastisitas berdasarkan metode Casagrande.

(16)

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada lahan beberapa vegetasi dengan kedalaman 0-30 cm di Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 60 sampel.

Gambar 2. Peta Titik Pengambilan Sampel Tanah Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder atau data lapangan yang terdiri atas jenis tanah, luas areal pertanaman dan serta sistem pengolahan tanah yang diperoleh dari BPS, PTPN IV Tobasari, Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan dan wawancara langsung dengan petani.

Pengolahan Data

(17)

Y= ax + b

Y = Variabel terikat ( indeks plastisitas ) a = koefisien regresi linear sederhana b = intersep dari garis pada sumbu Y

(18)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Kadar Bahan Organik, Kadar Air dan Kadar Liat Pada Lahan Kopi

Hasil analisis bahan organik, kadar air, kadar liat tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 3. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik.

Vegetasi Kopi (K)

Bahan Organik Kadar air Kadar liat --% --

(19)

terendah pada sampel K16 dan K21 yakni 1,647%. Kadar air tertinggi terdapat pada

sampel K14 19,5 % dan terendah pada sampel K7 yakni 1,3 % sedangkan Kadar

Liat tertinggi terdapat pada sampel K18 yakni 44 % dan terendah pada sampel K13

dan K21 yakni 8 %.

Tabel 4. Kadar Bahan organik, Kadar air dan Kadar Liat tanah pada Tanah Inceptisol dengan vegetasi kopi Pamatang Sidamanik.

Vegetasi

Dari Tabel 4 diketahui bahwa kadar bahan organik, kadar air dan kadar liat inceptisol dengan vegetasi kopi rata-rata secara berturut-turut yakni 0,87 %, 9,25 % dan 27 %. Kadar bahan organik tertinggi terdapat pada sampel K2 yakni 1,647

% dan terendah pada sampel K4 yakni 0,253%. Kadar air tertinggi terdapat pada

sampel K4 19,1 % dan terendah pada sampel K2 yakni 1,2 % sedangkan Kadar

Liat tertinggi terdapat pada sampel K1 yakni 38 dan terendah pada sampel K4

yakni 20 %.

Kadar Bahan Organik, Kadar Air dan Kadar Liat Pada Lahan Teh

Hasil analisis bahan organik, kadar air, kadar liat tanah pada tanah andisol dengan vegetasi teh di Kecamatan Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel berikut ini:

(20)

T6 10,7 % dan terendah pada sampel T4 yakni 5,9 % sedangkan Kadar Liat

tertinggi terdapat pada sampel T6 yakni 40% dan terendah pada sampel T2 yakni

14 %.

Tabel 5. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah Pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Kecamatan Pamatang Sidamanik.

Vegetasi Teh (T)

Bahan Organik Kadar air Kadar Liat

--%--

Kadar Bahan Organik, Kadar Air dan Kadar Liat Pada Lahan Hortikultura

Hasil analisis bahan organik, kadar air, kadar liat tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Kecamatan Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel 6:

Dari Tabel 6 diketahui bahwa kadar bahan organik, kadar air dan kadar liat andisol bevegetasi hortikultura rata-rata secara berturut-turut yakni 3,53 %, 10,6 % dan 21,3%. Kadar bahan organik tertinggi terdapat pada sampel K13 yakni 6,97

% dan terendah pada sampel K16 dan K21 yakni 1,647%. Kadar air tertinggi

terdapat pada sampel K14 19,5 % dan terendah pada sampel K7 yakni 1,3 %

sedangkan Kadar Liat tertinggi terdapat pada sampel K18 dan terendah pada

(21)

Tabel 6. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Kecamatan Pamatang Sidamanik.

Vegetasi Hortikultura (H)

Bahan Organik Kadar Air Kadar Liat -- % --

Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Kopi

Hasil analisis indeks plastisitas tanah pada tanah Andisol dan Inceptisol dengan vegetasi kopi di Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel 7:

Dari Tabel 7 diketahui bahwa indeks plastisitas tanah andisol dengan vegetasi kopi rata-rata yakni 6,2 % dan pada tanah inceptisol 6,4 %. Indeks plastisitas tanah tertinggi pada tanah andisol dengan vegetasi kopi terdapat pada sampel K12 yakni 12,355 % dan terendah pada sampel K11 yakni 2,985%. Indeks

(22)

Tabel 7. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dan Inceptisol dengan vegetasi kopi di Pamatang Sidamanik.

Indeks Plastisitas (%)

Vegetasi Andisol Kriteria Inceptisol Kriteria Kopi (K)

Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Teh

Hasil analisis indeks plastisitas tanah pada tanah andisol dengan vegetasi teh di Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel 8:

Dari Tabel 8 diketahui bahwa indeks plastisitas tanah andisol dengan vegetasi teh rata-rata yakni 6,7 %. Indeks plastisitas tanah tertinggi pada tanah andisol dengan vegetasi teh terdapat pada sampel T3 yakni 9,075 % dan terendah

(23)

Tabel 8. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Pamatang Sidamanik.

Vegetasi Teh (T) Indeks Plastisitas (%) Kriteria

T1 8,23 Sedang

Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Hortikultura

Hasil analisis indeks plastisitas tanah pada tanah andisol dengan vegetasi hortikultura di Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel berikut ini

Tabel 9. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Pamatang Sidamanik.

Vegetasi Hortikultura (H) Indeks plastisitas (%) Kriteria

(24)

Dari Tabel 9 diketahui bahwa indeks plastisitas tanah andisol dengan vegetasi hortikultura rata-rata yakni 7,9 %. Indeks plastisitas tanah tertinggi pada tanah andisol dengan vegetasi teh terdapat pada sampel H21 yakni 16,305 % dan

terendah pada sampel H7 yakni 2,28 %. hortikultura di kecamatan Pamatang Sidamanik disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 10. Hubungan Indeks Plastisitas dengan Bahan Organik Tanah Pada Beberapa Vegetasi dan Ordo Tanah Pamatang Sidamanaik.

Tanah Hubungan Linear r2

Andisol Y= 0,288X + 6,271 0,018

Inceptisol Y= 3,964X + 2,979 0,96

Dari Tabel 10 diperoleh bahwa hubungan indeks plastisitas dengan bahan organik pada tanah andisol dan inceptisol Pamatang Sidamanik yakni semakin tinggi kadar bahan organik (X) maka semakin tinggi nilai indeks plastisitas tanah (Y). Pada tanah Inceptisol R2 = 0,96, sehingga terdapat hubungan yang erat antara bahan organik dengan indeks plastisitas meskipun hubungannya tidak terlalu erat.

Tabel 11. Hubungan Indeks Plastisitas dengan Kadar air Tanah Pada Beberapa Vegetasi dan Ordo Tanah Pamatang Sidamanik.

Tanah Hubungan Linear r2

Andisol Y= 0,014X + 7,172 0,001

Inceptisol Y= -0,137X + 7,667 0,308

(25)

tanah (Y) sedangkan pada tanah inceptisol semakin tinggi kadar air (X) maka semakin rendah nilai indeks plastisitas tanah (Y). Pada tanah inceptisol R2 = 0,308, sehingga terdapat hubungan yang erat antara kadar air dengan indeks plastisitas meskipun tidak terlalu erat.

Analisis Faktor

Analisis faktor dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling mempengaruhi indeks plastisitas tanah. Hasil analisis faktor bahan organik, kadar air dan kadar liat dengan indeks plastisitas tanah.

Tabel 12. Analisis pengaruh bahan organik, kadar air dan kadar liat terhadap paling rendah mempengaruhi adalah kadar liat yakni 14,483 %.

Pembahasan

(26)

(2011) yang menyatakan bahwa akumulasi bahan organik merupakaan karakterisitik khas Andisol. Di Andisol banyak humus terakumulasi dan sangat tidak mobil dalam waktu ratusan tahun.

Dari data analisis, kadar bahan organik pada Inceptisol dengan vegetasi kopi yakni rata-rata 0,87 % dan menurut Pusat Penelitian Tanah Bogor (1981) tergolong kriteria sangat rendah. Hal ini terjadi karena Inceptisol tersebut berada pada kemiringan lereng > 30 % sehingga pencucian dan erosi terhadap lapisan atas tingg. Hal ini sesuai pernyataan Arsyad (1989) yang menyatakan bahwa semakin curam lereng juga memperbesar kecepatan aliran permukaan yang dengan demikian memperbesar energi angkut aliran permukaan.

Berdasarkan hasil analisis, Andisol di Kecamatan Pamatang Sidamanik memiliki kadar air tanah rata-rata berkisar antara 7- 10 %. Kadar air ini optimum untuk pertumbuhan tanaman karena berada di kedalaman perakaran efektif tanaman. Hal ini sesuai pernyataan Hakim dkk (1986) yang menyatakan bahwa diantara sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap jumlah air yang tersedia adalah daya hisap (matrik dan osmotik) kedalaman tanah dan pelapisan tanah.

(27)

Dari analisis tanah diperoleh bahwa kadar liat Andisol Pamatang Sidamanik dengan beberapa vegetasi yakni rata-rata 21-27 %. Hal ini karena kandungan liat yang rendah pada Andisol sehingga Andisol memiliki struktur gembur dan mudah dilakukan pengolahan tanah. Hal ini sesuai dengan pernytaan Hakim dkk (1986) yang menyatakan bahwa luas permukaan liat ini tidak saja disebabkan oleh pecahan yang kecil, tetapi juga oleh bentuk lempeng dan adanya permukaan dalam di samp[ing permukaaan luar.

Dari analisis tanah diperoleh bahwa kadar liat Inceptisol Pamatang Sidamanik dengan vegetasi kopi yakni rata-rata 27 %. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hakim dkk (1986) yang menyatakan bahwa luas permukaan liat ini tidak saja disebabkan oleh pecahan yang kecil, tetapi juga oleh bentuk lempeng dan adanya permukaan dalam di sampling permukaaan luar.

Dengan analisis regresi, dapat diketahui bahwa hubungan bahan organik pada tanah Andisol dan Inceptisol yakni semakin tinggi bahan organik maka semakin tinggi indeks plastisitas tanah. Hal ini disebabkan adanya hubungan linear kandungan bahan organik dengan batas cair dan batas plastis tanah Andisol dan Inceptisol. Semakin tinggi kandungan bahan organik maka semakin tinggi indeks plastisitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Moradi (2013) bahwa karbon organik tanah memiliki hubungan linear dengan batas cair, batas plastis dan indeks plastis.

(28)

tinggi dan kadar air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air dalam tanah. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut dalam tanah. Tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka mempunyai luas permukaan lebih besar sehingga kemampuan menahan air tinggi.

Dengan analisis regresi, diketahui bahwa hubungan indeks plasitisitas dengan kadar liat pada tanah andisol dan inceptisol yakni semakin tinggi kadar liat maka semakin rendah indeks plastisitas tanah. Hal ini dikarenakan kadar liat berpengaruh terhadap batas cair dan batas plastis tanah. Tanah andisol dan inceptisol memiliki kadar liat berkisar antara 20-30% sehingga indeks plastis tanah rendah hingga sedang. Hal ni sesuai pernyataan Wesley (1973) bahwa liat terdiri dari butiran-butiran yang sangat kecil dan menunjukkan sifat plastisitas dan kohesi. Kohesi menunjukkan bahwa bagian-bagian bahan itu melekat satu sama lainya, sedangkan plastisitas adalah sifat yang memungkinkan bentuk bahan itu dirubah-rubah tanpa perubahan.

(29)

Indeks plastisitas Andisol rendah karena memiliki batas cair dan batas plastis tinggi serta kaya humus dan liat alofanik sehingga dalam pengolahan tanah tersebut tidak terlalu sulit. Hal ini berpengaruh terhadap sifat fisik dari tanah tersebut. Hal ini sesuai pernyataan Mukhlis (2011) yang menyatakan bahwa Andisol selalu mengandung banyak bahan-bahan non kristalin yang mempengaruhi konsistensi dan secara nyata menyumbang perkembangan sifat fisika tanah yang baik untuk budidaya dan pertumbuhan akar tanaman. Sealin itu, Andisol juga kaya humus dan atau liat alofanik agak lekat hingga tidak lekat dan agak plastis hingga tidak plastis.

Dari analisis faktor diperoleh bahwa bahan organik merupakan faktor yang paling mempengaruhi indeks plastisitas tanah sehingga semakin tinggi kadar bahan organik dalam tanah maka semakin tanah semakin gembur dan mudah diolah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Thiyyakkandi and Annex (2011) bahwa pada kedua tanah (alami dan kering oven) dengan kandungan bahan organik alami diperoleh batas cair dan batas plastis meningkat secara linear dengan meningkatnya kandungan bahan organik tanah.

Kadar air tanah, bahan organik dan kadar liat merupakan faktor yang mempengaruhi indeks plastisitas tanah. Namun, dari analisis data hanya bahan organik yang memiliki hubungan dengan indeks plastisitas tanah. Hal ini terjadi karena ordo tanah yang sebagian besar adalah Andisol dan beragam vegetasi hingga bahan organik tinggi dan mudah dilakukan pengolahan tanah.

(30)
(31)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Indeks plastisitas tanah dari lahan yang ditanami beberapa vegetasi termasuk kriteria rendah.

2. Bahan organik memiliki hubungan sangat erat dengan indeks plastisitas dan bahan organik merupakan faktor paling besar yang mempengaruhi indeks plastisitas tanah.

Saran

(32)

TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Panei/Dolok Pardamean di sebelah utara dan Kecamatan Jorlang Hataran di sebelah selatan. Kemudian di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Girsang Simpangan Bolon dan di sebelah timur dengan Kecamatan Sidamanik.

Luas wilayah Kecamatan Pamatang Sidamanik adalah 137,80 km2. Kecamatan ini terdiri dari 10 desa/nagori yakni Sipolha Horison, Pematang Tambun Raya, Sihaporas, Jorlang Huluan, Bandar Manik, Sait Buttu Saribu, Pematang Sidamanik, Sarimattin, Simattin dan Gorak ( BPS, 2014 ).

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan daerah dengan ketinggian antara 950 - 1100 meter di atas permukaan laut sehingga baik untuk pengembangan tanaman pertanian dan perkebunan. Produk perkebunan yang banyak dihasilkan antara lain teh sedangkan produk pertaniannya antara lain cabai.

(33)

Apabila pengolahan lahan penanaman tanaman teh telah selesai dilakukan, tanah perlu diratakan kembali. Dalam kurun waktu 1,5 atau 2 bulan setelah tanaman ditanam, gulma mulai tumbuh dan perlu disiangi. Penyiangan dengan cara manual perlu diulangi 1 bulan kecuali ada serangan hama dan penyakit. Untuk Tanaman Baru penyiangan di ulang 20 hari sekali.

Pemupukan tanaman teh dapat diberikan melalui 2 cara, yaitu dengan disebar di sekitar tanah dan melalui daun. Pupuk makro dengan jumlah yang cukup besar lebih efektif diberikan lewat tanah. Tanaman teh mempunyai daerah perakaran aktif pada jarak 30-40 cm dari batang utama dengan kedalaman 5-10 cm. Pada daerah akar aktif terjadi penyerapan hara yang intensif maka jarak penempatan pupuk harus 30- 40 cm dari batang perdu teh.

Untuk menjaga lahan tanaman teh dari erosi maka dilakukan penanaman pohon pelindung tetap dan sebaiknya ditanam 1 tahun sebelum atau bersamaan waktu tanaman teh ditanam. Ada 2 macam tanaman pelindung yaitu tanaman pelindung sementara dan tetap. Tanaman pelindung sementara dipakai jenis Crotalaria sp dan Tephrosia sp. Tanaman bersifat ganda karena menambah

(34)

Tabel 1. Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik

No Desa/ Nagori Tanaman Cabai

Luas areal (Ha) Produksi/tahun (ton)

1. Pamatang Tambun Raya 15 250

Sumber : Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kecamatan Pamatang Sidamanik

Pengolahan lahan cabai di Kecamatan Pamatang Sidamanik umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang sederhana seperti cangkul. Lahan petanaman kemudian dibentuk bedengan. Beberapa petani menggunakan mulsa dalam pertanaman. Hal ini dilakukan untuk mempermudah perawatan, efisensi unsur hara dan mengurangi terjadinya erosi. Selain itu, beberapa petani mengolah lahan dengan menggunakan sistem guludan dan tumpang sari dengan beberapa tanaman. Hal ini dilakukan untuk efisiensi lahan dan hasil yang diperoleh lebih bervariasi.

Kadar Air Tanah

Tanah dengan kadar air lebih tinggi dari batas cair maka akan dapat melekat pada alat pengolah tanah dan apabila kadar airnya bertambah lagi maka tanah bersama air akan mengalir (Hardjowigeno, 1995).

(35)

kadar air ini, sejumlah tanah basah dikeringkan dalam oven pada suhu antara 100oC sampai 110oC untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah basah (Hakim, dkk., 1986).

Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air dalam tanah. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut dalam tanah. Air dapat menyerap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi, karena air higroskopik dan air kapiler. Tanah tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat (gram) mempunyai luas pemukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara lebih tinggi (Hardjowigeno, 2003).

Faktor-faktor kadar dan ketersedian air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umumnya bervariasi terutama pada tekstur tanah. Kadar air tanah bertekstur liat > lempung > pasir misalnya pada tegangan 1/3 atm (kapasitas lapang) kadar air tanah pada masing-masing adalah sekitar 55 %. Hal ini terkait dengan pengaruh tekstur terhadap koloid tanah, ruang pori dan luas permukaan adsorbsi, yang makin halus teksturnya dan makin banyak, sehingga makin besar kapasitas simpan airnya. Hasilnya berupa peningkatan kadar dan ketersediaan air tanah ( Hanafiah, 2005).

Bahan Organik

(36)

tanaman, baik berupa daun, batang/cabang, ranting, buah maupun akar, sedangkan sumber sekundernya berupa jaringan organik fauna termasuk kotorannya serta mikroflora (Hanafiah, 2009).

Pengukuran plastisitas pada profil tanah yang berbeda menunjukkan batas plastis yang berbeda antara horizon lapisan atas dan lapisan dibawahnya. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan keberadaan bahan organik pada horizon permukaan (Lubis, 2015).

Kandungan bahan organik tanah akan mempengaruhi porositas tanah sehingga mempengaruhi besar densitas dan kadar air tanah, konsistensi (Braja et al, 1993). Bertambahnya kandungan bahan organik akibat bertambahnya dosis POG menyebabkan bertambahnya porositas tanah sehingga meningkatkan kemampuan tanah memegang molekul air yang ditandai dengan bertambahnya kadar air tanah pada batas plastis dan batas cair (Pramuhadi dan Dymaz, 2006).

Kuantitas dan kualitas input bahan organik akan berpengaruh pada kandungan bahan organik tanah. Substrat organik dengan C/N rasio sempit (<25) menyebabkan dekomposisi berjalan cepat, sebaliknya pada bahan dengan C/N lebar maka mendorong immobilisasi, pembentukan humus, akumulasi bahan organik, dan peningkatan struktur tanah (Supriyadi, 2008).

Indeks Plastisitas Tanah

(37)

keadaan fisik tanah melalui perubahan kadar air. Batas antara perbedaan kondisi plastis berdasarkan kadar air tersebut disebut batas Atterberg (Kurnia ,dkk., 2006).

Menurut Atterberg (1911), indeks plastisitas adalah selisih batas cair dan batas plastis. Indeks plastisitas merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. Karena itu, plastisitas menunjukkan sifat keplastisan tanah. Jika tanah mempunyai PI tinggi, maka mengandung banyak butiran lempung. Jika PI rendah, seperti lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering (Hardiyatmo, 2010).

Pemeriksaan batas-batas Atterberg diperlukan untuk memperoleh garis besar sifat-sifat tanah yang digunakan. Sifat tersebut dapat dilihat dari batas cair, batas plastis dan batas susut. Batas susut tanah merupakan batas dimana jika terjadi pengurangan air lebih lanjut tidak menyebabkan berkurangnya volume tanah atau kadar air batas antara semipadat dengan padat (Wiryasa, dkk., 2008) Padat Semipadat Plastis Cair

Batas susut Batas plastis Batas cair

(38)

Tabel 2 . Nilai Indeks plastisitas

Kandungan bahan organik cenderung meningkat dengan meningkatnya kandungan liat. Ikatan antara liat dan bahan organik melindungi bahan tersebut dari aksi dekomposisi oleh mikroba tanah. Tingginya kandungan liat juga berpotensi tinggi untuk formasi agregat. Agregat makro akan melindungi bahan organik dari mineralisasi lebih lanjut. Pada kondisi iklim yang sama kandungan bahan organik tanah bertekstur halus (berliat) bisa mencapai 2- 4 kali kandungan bahan organik di tanah ( Supriyadi, 2008).

Partikel- partikel liat bersama air perkolasi bergerak dari horizon A dan ditumpukkan (deposit) dizona horizon B. Dengan demikian, kandungan liat ini pada horizon ini adalah tinggi. Terdapatnya kulit-kulit liat (clay skin) atau cutan atau mantel pada permukaan agregat tanah dan pada ruang pori-pori Bt membuktikan transkolasi liat itu memegang peranan penting dalam perkembangan tekstur profil tanah. Tanah dengan 25 % liat misalnya, maka liat monmorillonit akan lebih plastis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 70 % liat yang terdiri dari oksida-oksida berair dari besi dan aluminium (Hakim, dkk., 1986).

(39)

maupun posirif. Pada kondisi biasa liat memperoleh muatan negatif dan pada kondisi tertentu permukaan tepi liat yang patah memperoleh muatan positif ( Tan, 1992).

(40)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian dan perkebunan di Indonesia sebagian besar dialokasikan untuk komoditas ekspor, sehingga dapat memberikan devisa bagi negara maupun daerah penghasil. Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun merupakan salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan diantaranya teh dan palawija (cabai).

Umumnya petani di Kecamatan Pamatang Sidamanik melakukan pengolahan tanah sebelum bertanam. Lahan diolah secara intensif terutama untuk budidaya tanaman palawija. Namun, dalam jangka panjang pengolahan tanah secara intensif dapat berpengaruh menurunkan kualitas tanah, yaitu merusak permukaan tanah.

Sifat tanah yang berhubungan dengan pengolahan tanah adalah sifat fisika tanah yaitu tekstur, struktur, warna tanah, konsistensi, permeabilitas, dan kerapatan lindak (Foth, 1994). Drainase dan kapasitas penyimpanan air, plastisitas, kemudahan ditembus akar dan aerasi semua berkaitan erat dengan kondisi fisik tanah.

(41)

Menurut Kurnia, dkk (2006), penetapan plastisitas tanah khususnya diarahkan untuk mengetahui berat atau ringannya pengolahan tanah terutama jika dilakukan menggunakan mesin pengolah tanah, seperti traktor.

Berdasarkan hasil penelitian Moradi (2013), bahwa penurunan kandungan bahan organik berpengaruh signifikan terhadap penurunan batas plastis tanah. Tekstur tanah berpengaruh signifikan terhadap indeks plastis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh hubungan positif antara karbon organik tanah dengan batas cair, batas plastis dan indeks plastis yang ditemukan linear signifikan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi kadar air tanah, bahan organik dan liat serta kaitannya terhadap indeks plastisitas tanah pada beberapa vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun.

Tujuan percobaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar air tanah dengan indeks plastisitas, bahan organik dengan indeks plastisitas dan liat terhadap indeks plastisitas tanah pada beberapa vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Kegunaan Percobaan

a. Sebagai bahan informasi dalam pengolahan tanah beberapa vegetasi dan bagi pihak yang membutuhkan.

(42)

ABSTRAK

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar air tanah dengan indeks plastisitas, bahan organik dengan indeks plastisitas dan liat dengan indeks plastisitas pada beberapa vegetasi. Penelitian ini dilakukan metode survei. Sampel diambil dengan metode acak berdasarkan jenis vegetasi dengan parameter yang diukur yaitu Kadar Air Tanah, Bahan Organik, Kadar Liat Tanah dan Indeks Plastisitas Tanah. Data diuji dengan analisis regresi dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis regresi linear bahan organik dengan indeks plastisitas memiliki hubungan yang erat dan analisis faktor bahan organik merupakan faktor paling besar yang mempengaruhi indeks plastisitas tanah yakni 54, 818 %.

(43)

ABSTRACT

District of Pamatang Sidamanik was one of area as producer plantantion comodity. This research were to know the relation of soil water content with index plasticity, soil organic matter with index plasticity and clay content with index plasticity at several vegetation. This research was conducted with survey method. These samples taken with random method based on vegetation on the soil. The parameters were determine are soil water content, soil organic matter, clay content and soil index of plasticity. Data was analyzed by regression and faktor analyze. The result from this research showed that regression linear analysis from

soil organic matter with index of plasticity has tight relation (r2 =0,98) and faktor

analiysis from soil organic matter was the greatest fajtor that effecting soil index plasticity that as 54,818 %.

(44)

EVALUASI KADAR AIR TANAH, BAHAN ORGANIK DAN LIAT SERTA KAITANNYA TERHADAP INDEKS PLASTISITAS TANAH PADA BEBERAPA VEGETASI DI KECAMATAN PAMATANG SIDAMANIK

KABUPATEN SIMALUNGUN

SKRIPSI

OLEH:

CANDRA SETIADI 110301148

AGROEKOTEKNOLOGI-ILMU TANAH

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(45)

EVALUASI KADAR AIR TANAH, BAHAN ORGANIK DAN LIAT SERTA KAITANNYA TERHADAP INDEKS PLASTISITAS TANAH PADA BEBERAPA VEGETASI DI KECAMATAN PAMATANG SIDAMANIK

KABUPATEN SIMALUNGUN

SKRIPSI

OLEH:

CANDRA SETIADI 110301148

AGROEKOTEKNOLOGI-ILMU TANAH

Skripsi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

(46)

Judul Penelitian : Evaluasi Kadar Air Tanah, Bahan Organik dan Liat serta Kaitannya Terhadap Indeks Plastisitas Tanah Pada Beberapa Vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun.

Nama : Candra Setiadi

NIM : 110301148

Program Studi : Agroekoteknologi

Minat : Ilmu Tanah

Disetujui oleh: Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

(Dr. Kemala Sari Lubis, SP, MP.) (Ir. Purba Marpaung, S.U.) NIP: 197008311995102001 NIP: 195402051980031003

Mengetahui:

Ketua Program Studi Agroekoteknologi

(47)

ABSTRAK

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar air tanah dengan indeks plastisitas, bahan organik dengan indeks plastisitas dan liat dengan indeks plastisitas pada beberapa vegetasi. Penelitian ini dilakukan metode survei. Sampel diambil dengan metode acak berdasarkan jenis vegetasi dengan parameter yang diukur yaitu Kadar Air Tanah, Bahan Organik, Kadar Liat Tanah dan Indeks Plastisitas Tanah. Data diuji dengan analisis regresi dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis regresi linear bahan organik dengan indeks plastisitas memiliki hubungan yang erat dan analisis faktor bahan organik merupakan faktor paling besar yang mempengaruhi indeks plastisitas tanah yakni 54, 818 %.

(48)

ABSTRACT

District of Pamatang Sidamanik was one of area as producer plantantion comodity. This research were to know the relation of soil water content with index plasticity, soil organic matter with index plasticity and clay content with index plasticity at several vegetation. This research was conducted with survey method. These samples taken with random method based on vegetation on the soil. The parameters were determine are soil water content, soil organic matter, clay content and soil index of plasticity. Data was analyzed by regression and faktor analyze. The result from this research showed that regression linear analysis from

soil organic matter with index of plasticity has tight relation (r2 =0,98) and faktor

analiysis from soil organic matter was the greatest fajtor that effecting soil index plasticity that as 54,818 %.

(49)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Adapun judul dari skripsi ini adalah ” Evaluasi Kadar Air Tanah, Bahan Organik dan Liat serta Kaitannya Terhadap Indeks Plastisitas Tanah

Beberapa Vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten

Simalungun “. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Kemala Sari Lubis, SP, MP. selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Ir. Purba Marpaung, SU. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membantu dan membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Januari 2016

(50)

DAFTAR ISI

Pelaksanaan Penelitian ... 12

Persiapan ... 12

Pelaksanaan ... 12

Analisis Parameter ... 12

Pengambilan sampel ... 13

Pengumpulan data ... 13

Pengolahan dan Analisis Data ... 13

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 15 Kadar Bahan Organik, Kadar Air dan Kadar Liat Pada Lahan Kopi . 16

(51)

Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Kopi ... 19 Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Teh ... 20 Indeks Plastisitas Tanah Pada Lahan Hortikultura ... 21 Hubungan Antara Bahan Organik dengan indeks plastisitas, Kadar Air dengan indeks plastisitas dan Kadar Liat dengan Indeks plastisitas Tanah ... 21 Analisis Faktor ... 22 Pembahasan ... 22 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 28 Saran ... 28

DAFTAR PUSTAKA

(52)

DAFTAR TABEL

3. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik

15

4. Kadar Bahan organik, Kadar air dan Kadar Liat tanah pada Tanah Inceptisol dengan vegetasi kopi Pamatang Sidamanik.

16 5. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah Pada

Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Kecamatan Pamatang Sidamanik

17

6. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Kecamatan Pamatang Sidamanik.

18

7. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dan Inceptisoldengan vegetasi kopi di Pamatang Sidamanik.

18 10. Hubungan Indeks Plastisitas dengan Bahan Organik Tanah

Pada Beberapa Vegetasi di Tanah Andisol dan Inceptisol Pamatang Sidamanaik.

21

11. Hubungan Indeks Plastisitas dengan Kadar air Tanah Pada Beberapa Vegetasi di Tanah Andisol dan Inceptisol Pamatang Sidamanik.

21

12 Analisis pengaruh bahan organik, kadar air dan kadar liat terhadap indeks plastisitas tanah

(53)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Keterangan Hal

1. Data Titik Koordinat, Ketinggian Tempat dan vegetasi Pada Tanah Andisol

31 2. Data Titik Koordinat, Ketinggian Tempat dan vegetasi

Pada Tanah Inceptisol

32 3. Kriteria Penilaian Bahan organik tanah dan Indeks

plastisitas tanah

33

4 Peta Administrasi Pengambilan Sampel Tanah, Peta Kemiringan Lereng dan Peta Jenis Tanah

34

5 Analisis Kerapatan Isi Tanah di Kecamatan Pamatang Sidamanik

36

6. Analisis Regresi 37

Figur

Gambar 2. Peta Titik Pengambilan Sampel Tanah

Gambar 2.

Peta Titik Pengambilan Sampel Tanah p.16
Tabel 3. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik

Tabel 3.

Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi kopi di Kecamatan Pamatang Sidamanik p.18
Tabel 4. Kadar Bahan organik, Kadar air dan Kadar Liat tanah pada Tanah Inceptisol dengan vegetasi kopi Pamatang Sidamanik

Tabel 4.

Kadar Bahan organik, Kadar air dan Kadar Liat tanah pada Tanah Inceptisol dengan vegetasi kopi Pamatang Sidamanik p.19
Tabel 5. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah Pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di  Kecamatan Pamatang Sidamanik

Tabel 5.

Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah Pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Kecamatan Pamatang Sidamanik p.20
Tabel 6. Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di  Kecamatan Pamatang Sidamanik

Tabel 6.

Kadar Bahan Organik, Kadar air dan Kadar liat Tanah pada tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Kecamatan Pamatang Sidamanik p.21
Tabel 7. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dan Inceptisol dengan vegetasi kopi di Pamatang Sidamanik

Tabel 7.

Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dan Inceptisol dengan vegetasi kopi di Pamatang Sidamanik p.22
Tabel 8. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Pamatang Sidamanik

Tabel 8.

Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi teh di Pamatang Sidamanik p.23
Tabel 9. Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Pamatang Sidamanik

Tabel 9.

Indeks Plastisitas Tanah pada Tanah Andisol dengan vegetasi hortikultura di Pamatang Sidamanik p.23
Tabel 12. Analisis pengaruh bahan organik, kadar air dan kadar liat terhadap

Tabel 12.

Analisis pengaruh bahan organik, kadar air dan kadar liat terhadap p.25
Tabel 1. Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik

Tabel 1.

Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik p.34
Tabel 2 . Nilai Indeks plastisitas

Tabel 2 .

Nilai Indeks plastisitas p.38

Referensi

Memperbarui...

Outline : TINJAUAN PUSTAKA