Pengaruh Minuman Isotonik, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

60  12 

Teks penuh

(1)

Pengaruh Minuman Isotonik, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang

Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik

Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

SITI HASYATI 100100341

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Pengaruh Minuman Isotonik, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang

Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik

Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh:

SITI HASYATI 100100341

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

ABSTRAK

Minuman olahraga merupakan minuman yang dianggap mampu mempertahankan kebugaran fisik selama berolahraga. Banyaknya jenis minuman olahraga di pasaran seperti minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C semakin menambah variasi pilihan dalam menentukan jenis minuman yang paling mempengaruhi kebugaran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik dengan metode harvard step test.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan rentang usia 19-22 tahun. Penelitian ini terdiri dari 3 kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 sampel penelitian. Kelompok I, II, dan III masing-masing memperoleh satu jenis minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C.

Hasil penelitian diperoleh rata-rata indeks kesanggupan badan pada kelompok I, II, III, dan IV adalah 43.80, 54.83, 70.58, 57.95. Setelah dilakukan uji hipotesis ditemukan tidak ada pengaruh antara minuman isotonik, beroksigen, dan yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik (p >0.05).

(4)

ABSTRACT

Sport drinks are beverages that are considered able to maintain the physical fitmess during exercise. Among the many types of sports drinks available on the market are isotonic drinks, oxygenated and drinks which contains vitamin C which further adds to the variation in determining the type of beverage choices that most effect physical fitness. This study aims to determine the effect of isotonic drinks, oxygenated and drink which contains vitamin C to physical fitness level by using the harvard step test method.

This is a study with the post-test experimental design. The study population are students of the Medicine Faculty, University of Nort Sumatera with the age range of 19-22 years. The study consists of three variable experimental groups and one control group. Each group consisted of 10 samples. Group I, II, and III, respectively obtained the isotonic beverages, oxygenated and drinks containing vitamin C.

Result showed the average body fitness index in group I, II, III, and IV were 43.80, 54.83, 70.58, 57.95 respectively. The results of the hypothesis test shows that there is no effect between isotonic drinks, oxygenated, and which contains vitamin C to physical fitness (p >0.05).

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas petunjuk ilmu yang diturunkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini yang berjudul “Pengaruh Minuman Isotonik, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara”. Besar harapan penulis, penelitian ini dapat bermanfaat. Penelitian ini bisa diselesaikan atas dukungan dari banyak pihak, kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Diantaranya:

1. dr. Eka Roina Megawati, M.Kes, selaku dosen pembimbing: untuk seluruh waktu, pikiran, dukungan, serta ketulusan hati dalam membimbing tugas Karya Tulis Ilmiah ini.

2. dr. Ariantho Sidasuha Purba, Sp.Pd dan dr. Devira Zahara, Sp.THT selaku dosen penguji Karya Tulis Ilmiah ini, atas kritik dan saran yang membangun.

3. H. Usman Harahap, Ir, MT dan Dra. Hj. Raudhah, Apt, kedua orang tua tersayang, yang dengan sangat tulus mendukung, memberi semangat, dan mendoakan tanpa henti.

4. Nurul Hudhani Harahap, SEI , Zulfadhli Harahap, Amd , saudara kandung penulis serta Arvintona Iskandar Dinata,SIP, abang ipar penulis, yang selalu memberikan semangat, dan doanya kepada penulis.

5. Juliana Sari Harahap, Rizka Amelia Sari, Nursanita Rizka Sembiring, Siti Fathiya, dan Dede Erdina Wirza teman seperjuangan yang telah begitu banyak membantu dan menyemangati dengan tulus selama ini. 6. Sheila Nabila Nasution teman bimbingan yang sama-sama berjuang

(6)

7. Teman-teman seperjuangan yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, namun memberikan dukungan dalam penyusunan proposal maupun penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

Meskipun telah berupaya dan bekerja keras dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis yakin bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis, guna proses penyempurnaan. Semoga penelitian ini pada akhirnya dapat memberi manfaat.

(7)

DAFTAR ISI

(8)

2.5. Elektrolit ... 11

2.6. Minuman Isotonik ... 13

2.7. Minuman Beroksigen ... 13

2.8. Minuman Mengandung vit.C ... 14

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep ... 15

3.2. Definisi Operasionil ... 15

3.3. Hipotesis ... 16

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian ... 17

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

4.3. Populasi dan Sampel ... 17

4.3.1. Populasi ... 17

4.3.2. Besar Sampel ... 17

4.3.3. Faktor Inklusi dan Eksklusi ... 18

4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 18

4.5. Analisis Data ... 19

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian ... 20

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 20

5.1.2. Distribusi Frekuensi ... 20

5.1.3. Hasil Statistik ... 23

(9)

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ... 25

6.2. Saran ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

5.1 Distribusi frekuensi minuman isotonik terhadap IKB ... 19

5.2 Distribusi frekuensi minuman beroksigen terhadap IKB ... 20

5.3 Distribusi frekuensi minuman yang mengandung Vitamin C terhadap IKB ... 20

5.4 Distribusi frekuensi air mineral terhadap IKB ... 21

5.5 Nilai modus IKB setiap kelompok sampel ... 21

5.6 Nilai mean IKB setiap kelompok sampel ... 22

(11)

DAFTAR GAMBAR

(12)

Pengaruh Minuman Isotonik, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang

Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik

Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

SITI HASYATI 100100341

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(13)

ABSTRAK

Minuman olahraga merupakan minuman yang dianggap mampu mempertahankan kebugaran fisik selama berolahraga. Banyaknya jenis minuman olahraga di pasaran seperti minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C semakin menambah variasi pilihan dalam menentukan jenis minuman yang paling mempengaruhi kebugaran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik dengan metode harvard step test.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan rentang usia 19-22 tahun. Penelitian ini terdiri dari 3 kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 sampel penelitian. Kelompok I, II, dan III masing-masing memperoleh satu jenis minuman isotonik, beroksigen dan yang mengandung vitamin C.

Hasil penelitian diperoleh rata-rata indeks kesanggupan badan pada kelompok I, II, III, dan IV adalah 43.80, 54.83, 70.58, 57.95. Setelah dilakukan uji hipotesis ditemukan tidak ada pengaruh antara minuman isotonik, beroksigen, dan yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik (p >0.05).

(14)

ABSTRACT

Sport drinks are beverages that are considered able to maintain the physical fitmess during exercise. Among the many types of sports drinks available on the market are isotonic drinks, oxygenated and drinks which contains vitamin C which further adds to the variation in determining the type of beverage choices that most effect physical fitness. This study aims to determine the effect of isotonic drinks, oxygenated and drink which contains vitamin C to physical fitness level by using the harvard step test method.

This is a study with the post-test experimental design. The study population are students of the Medicine Faculty, University of Nort Sumatera with the age range of 19-22 years. The study consists of three variable experimental groups and one control group. Each group consisted of 10 samples. Group I, II, and III, respectively obtained the isotonic beverages, oxygenated and drinks containing vitamin C.

Result showed the average body fitness index in group I, II, III, and IV were 43.80, 54.83, 70.58, 57.95 respectively. The results of the hypothesis test shows that there is no effect between isotonic drinks, oxygenated, and which contains vitamin C to physical fitness (p >0.05).

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Minuman olahraga untuk konsumsi atlet bukanlah masalah baru. Minuman yang tepat untuk atlet yang sudah diperkenalkan sejak tahun 1970-an, diolah sedemikian rupa sehingga menyerupai kandungan elektrolit dalam tubuh dan dapat digunakan sebagai pengganti cairan tubuh semasa aktivitas olahraga. Seseorang melakukan olahraga jelas akan mengalami pengeluaran keringat dan pengaruhnya berakibat dehidrasi dari tubuh. Biasanya menimbulkan perasaan tidak enak dan dapat menurunkan performa seseorang (Rusip,2006).

Menurut Irawan (2007), semakin meningkatnya energi dan panas yang dihasilkan melalui proses metabolisme dan kontraksi otot saat tubuh sedang berolahraga, cairan yang berada didalam tubuh kemudian akan menjalankan fungsinya sebagai pengatur panas atau termoregultor. Sehingga, apabila proses berkurangnya cairan dalam tubuh pada saat berolahaga ini dibiarkan dalam jangka waktu yang lama dan tidak diimbangi dengan konsumsi cairan yang cukup, maka tubuh akan mengalami dehidrasi. Bahkan beliau mengatakan bahwa, air putih dianggap bukan merupakan larutan yang ideal untuk mengoptimalisasi proses rehidrasi tubuh.

Menurut penelitian oleh Matsui (2002) pula, konsentrasi kalium dan sodium (natrium) yang hilang melalui keringat adalah tinggi berbanding elektrolit lain. Mereka merekomendasikan bahwa suplimentasi sodium adalah penting bagi olahraga dengan intensitas ringan. Sedangkan penambahan mineral tambahan seperti kalsium, magnesium, iron, fosforus, zink, dan kuprum pada diet adalah tidak diperlukan.

Olahraga merupakan tindakan fisik untuk meningkatkan kesehatan atau memperbaiki deformitas fisikal (Dorland’s 2004). Latihan olahraga tidak hanya penting untuk memelihara kebugaran fisik tetapi juga kesehatan mental. Menurut

(16)

efisien yang optimal. Kebugaran fisik juga terkait dengan kemampuan untuk melaksanakan aktifitas fisik pada level sedang hingga berat tanpa mengalami kelelahan yang semestinya serta kemampuan untuk mempertahankannya sepanjang hidup. Dengan adanya kebugaran fisik, tubuh kita sanggup untuk melakukan penyesuaian terhadap beban fisik sehingga dapat menghindari kelelahan yang berlebihan.

Kebugaran fisik terbagi menjadi dua komponen yaitu kebugaran fisik yang terkait dengan kesehatan (health related component) dan kebugaran fisik terkait kemampuan atletis (performance or skill related component). Kebugaran fisik terkait kesehatan mencakup kardiorespirasi, komposisi tubuh, fleksibilitas, kekuatan otot dan ketahanan otot. Kebugaran fisik terkait kemampuan atletis mencakup keseimbangan, waktu reaksi, koordinasi, ketangkasan, dan kekuatan (ACSM, 2008).

Salah satu cara untuk mengukur kebugaran fisik dengan menggunakan metode harvard step test, yaitu dengan cara naik turun bangku dengan tinggi bangku 19” selama maksimal 5 menit. Kebugaran dapat dihitung dengan cara menghitung denyut nadi (Rusip, 2006).

Oleh karena itu, penelitian tentang produk minuman olahraga yang beredar menjadi kebutuhan untuk membuktikan kebenaran manfaat yang dijanjikan oleh produsennya. Hal ini menjadi penting, mengingat masyarakat sangat mudah terpengaruh dengan iklan-iklan yang sedikit saja persuasif meskipun belum jelas kebenaran dari produk yang diiklankan tersebut. Hal ini pula yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh dari minuman olahraga tersebut.

1.2. Rumusan Masalah

(17)

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh minuman isotonik, minuman beroksigen, dan minuman yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan menggunakan metode Harvard Step Test.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh minuman isotonik terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan menggunakan metode harvard step test.

2. Untuk mengetahui pengaruh minuman beroksigen terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan menggunakan metode harvard step test.

3. Untuk mengetahui pengaruh minuman yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan menggunakan metode harvard step test.

4. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian minuman isotonik, minuman beroksigen, dan minuman yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan menggunakan metode harvard step test.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai informasi kepada pembaca tentang perubahan nadi yang terjadi pada saat latihan fisik.

2. Sebagai informasi kepada pembaca tentang manfaat pemberian minuman isotonik, minuman beroksigen maupun minuman yang mengandung vitamin C sebelum latihan fisik terhadap kebugaran fisik. 3. Sebagai panduan kepada masyarakat dalam pemilihan minuman

(18)
(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Olahraga

2.1.1. Definisi Olahraga

Olahraga ialah tindakan fisik untuk meningkatkan kesehatan atau memperbaiki deformitas fisik (Dorland’s 2004). Sedangkan menurut Gale Encyclopedia of Medicine (2008), olahraga adalah aktivitas fisik yang direncanakan, terstruktur, dan dikerjakan secara berulang dan bertujuan memperbaiki atau menjaga kesegaran jasmani.

2.1.2. Jenis-jenis olahraga A. Olahraga aerobik

Olahraga aerobik adalah aktivitas fisik yang dirancang untuk meningkatkan konsumsi oksigen dan meningkatkan fungsi sistem respirasi dan sistem kardiovaskular (Dorland’s 2007). Menurut Sherwood (2001) olahraga aerobik adalah suatu bentuk aktivitas yang melibatkan otot-otot besar dan dilakukan dalam intensitas yang cukup rendah serta dalam waktu yang cukup lama.

Aktifitas fisik yang termasuk olahraga aerobik adalah jalan cepat, jogging atau lari-lari kecil, berenang, atau bersepeda. Intensitas dalam setiap olahraga aerobik akan berbeda-beda. Intensitas adalah usaha yang di berikan setiap orang dalam mengerjakan aktifitas fisik. American Heart association (AHA) menganjurkan, setidaknya dilakukan aktivitas fisik dimana Target Heart Rate

(THR) atau detak jantung yang diinginkan adalah 60-80% dari perkiraan detak jantung maksimal, dilakukan dalam 20-30 menit perharinya dan jumlah hari untuk olahraga dalam seminggu yang dianjurkan adalah 3-7 hari perminggu (AHA,2001).

(20)

a. Warm-up

Pada bagian warm-up atau biasa disebut pemanasan, dilakukan latihan gerakan-gerakan dengan intensitas rendah selama 3-5 menit.

b. Conditioning

Pada bagian ini dilakukan latihan aerobik selama 30-45 menit sampai mencapai detak jantung yang diinginkan (Target Heart Rate).

c. Cool-down

Pada bagian ini dilakukan selama 3-5 menit dengan latihan intensitas rendah untuk menurunkan detak jantung secara perlahan dan mengurangi risiko kecelakaan.

B. Olahraga anaerobik

Olahraga anaerobik adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang memerlukan oksigen dalam pelaksanaannya. Olahraga ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (CDC,2011). Contoh olahraga anaerobik adalah angkat besi, berlari cepat (200 meter atau kurang), lompat tinggi, lompat jauh, push-up, pull-up,dan gimnastik (McGuff, 2000).

Frekuensi olahraga anaerobik dalam seminggu memiliki satu atau dua hari tanpa olahraga diantara hari-hari latihan. Satu set adalah sejumlah repetsi atau perulangan kembali gerakan yang mengandung 12-20 kali repetisi dengan beban ringan dan 8-12 repetisi angkat beban berat untuk masa otot dan terdapat masa

recovery yaitu 0-180 detik di antara dua set (Cleveland, 2011).

(21)

2.2. Kebugaran Fisik

kebugaran fisik adalah suatu kondisi fungsional tubuh yang ditandai dengan kemampuan untuk mentoleransi beban latihan fisik (Robert A.Robergs, steven J.Keteyian, 2003). Sedangkan menurut Sadoso (1992) dalam Sinaga (2004), kebugaran fisik adalah kemampuan fungsional seseorang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari yang relatif cukup berat untuk jangka waktu yang cukup tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan serta masih mempunyai tenaga cadangan untuk melakukan hal-hal yang mendadak, setelah selesai bekerja dapat pulih ke keadaan semula dalam waktu yang relatif singkat pada saat istirahat.

Kebugaran fisik terbagi menjadi dua komponen yaitu kebugaran fisik terkait kesehatan (health related component) dan kebugaran fisik terkait kemampuan atletis (performence or skill related component). Kebugaran fisik terkait kemampuan kesehatan mencakup kebugaran kardiorespirasi, komposisi tubuh, fleksibilitas, kekuatan otot. Kebugaran fisik terkait kemampuan atletis mencakup keseimbangan, waktu reaksi, koordinasi, ketangkasan, kecepatan, dan kekuatan (ACSM, 2008).

Menurut Scott (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran fisik adalah

a. Diet: karbohidrat dan pemasukan cairan

b. Kekuatan / kebolehan: latihan, kemampuan alami, tipe tubuh (IMT), jenis serat otot.

c. Lingkungan: ketinggian, panas, dan kelembaban. d. Fungsi sistem saraf pusat: keinginan dan motivasi. e. Produksi energi: 1. Sumber anaerobik (glikolisis)

2. Sumber aerobik (VO2 max, cardiac output, penghantaran O2, pengambilan O2, mitokondria)

(22)

dengan menggunakan metronome selama 5 menit. Jika sebelum 5 menit sudah merasa lelah, maka istirahat selama 1 menit, lalu hitung denyut nadi selama 30 detik (Rusip, 2006)

Waktu naik turun bangku (detik) x 100 IKB* =

2 X (denyut nadi 1 + denyut nadi 2 + denyut nadi 3)

Penilaian:

< 50 = kesanggupan kurang 50 – 64 = kesanggupan sedang 65 – 79 = kesanggupan cukup 80 – 89 = kesanggupan baik > 90 = kesanggupan sangat baik

Keterangan: *) IndeksKesanggupan Badan

2.3. Masa Pemulihan

(23)

karena selama peningkatan suhu tubuh, terjadi perlambatan penurunan denyut jantung selama masa perbaikan (Scott, 2007).

2.4. Cairan Tubuh 2.4.1. Definisi

Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi cairan ekstraseluler, termasuk plasma darah dan cairan transeluler (Sari, 2010).

2.4.2 Fungsi Cairan Tubuh

Konsumsi cairan yang ideal untuk memenuhi kebutuhan harian bagi tubuh manusia adalah 1 ml air untuk setiap1 kkal konsumsi energi tubuh atau dapat juga diketahui berdasarkan estimasi total jumlah air yang keluar dari dalam tubuh. Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2,5 liter cairan perharinya, sekitar 1,5 liter cairan tubuh keluar melalui urin, 500 ml melalui keringat, 400 ml keluar dalam bentuk uap air melalui proses pernafasan dan 100 ml keluar bersama tinja. Sehingga berdasarkan estimasi ini, konsumsi antara 8-10 gelas (1 gelas = 240ml) biasanya dijadikan pedoman dalam pemenuhan kebutuhan cairan (Irawan, 2007).

Selain berperan dalam proses metabolisme, air yang terdapat di dalam tubuh juga akan memiliki berbagai fungsi penting antara lain sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata, mulut, dan hidung, pelumas dalam cairan sendi tubuh, katalisator reaksi biologik sel, pelindung organ dan jaringan tubuh serta juga akan membantu dalam menjaga tekanan darah dan konsentrasi zat terlarut. Selain itu agar fungsi-fungsi tubuh dapat berjalan dengan normal, air di dalam tubuh juga akan berfungsi sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap berada pada kondisi ideal yaitu ± 37°C (Irawan, 2007).

2.4.3. Komposisi Cairan Tubuh

(24)

1. Air

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen (Sari, 2010).

Air (H20) merupakan komponen utama yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia. Sekitar 55-60% dari total berat badan orang dewasa terdiri dari air atau 70% dari bagian tubuh tanpa lemak. Namun bergantung kepada kandungan lemak dan otot yang terdapat di dalam tubuh, nilai persentase ini dapat bervariasi antara 50-70% dari total berat badan orang dewasa. Tubuh yang mengandung relatif lebih banyak otot mengandung lebih banyak air, sehngga kandungan air pada atlet lebih banyak dibandingka dengan yang bukan atlet (Almatsier, 2009).

Untuk mempertahankan status hidrasi, setiap orang dalam sehari rata-rata memerlukan 2.5 L air. Jumlah tersebut setara dengan cairan yang dikeluarkan tubuh baik berupa keringat, uap air, maupun cairan yang keluar bersama tinja (Irianto,2007).

Pemasukan air dalam tubuh terdiri dari air minum dan air yang terkandung dalam makanan. Air metabolisme diproduksi oleh proses oksidasi dari karbohidrat, protein, dan lemak. Air yang diminum atau air dalam makanan diserap di usus, masuk ke pembuluh darah, beredar ke seluruh tubuh. Di kapiler air difiltrasi ke ruang interstisium, selanjutnya masuk ke dalam sel secara difusi, dan sebaliknya, dari dalam sel keluar kembali. Dari darah difiltrasi di ginjal dan sebagian kecil dibuang sebagai urin, ke saluran cerna dikeluarkan sebagai liur pencernaan (umumnya diserap kembali), ke kulit dan saluran nafas keluar sebagai keringat dan uap air (Sari, 2010).

(25)

Kebutuhan air sangat dipengaruhi aktivitas fisik, suhu lingkungan serta suhu tubuh. Bila udara panas, keringat lebih banyak dihasilkan. Saat berolahraga atau kerja berat, dimana suhu tubuh meningkat, dihasilkan pula keringat yang lebih banyak (Almatsier, 2009).

2. Solut (terlarut)

Elektrolit adalah substansi yang menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasannya untuk saling berikatan satu sama lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion (Horne, 2001).

Kation adalah ion-ion yang membentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraseluler utama adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraseluler utama adalah kalium (K+). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium keluar dan kalium ke dalam (Horne, 2001).

Sedangkan anion adalah ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraseluler utama adalah klorida (Cl-), sedangkan anion intraselulernya utama adalah ion fosfat (PO43-) (Horne, 2001).

2.5. Elektrolit 1) Natrium (Na)

Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular. Sumber utama natrium biasanya berada dalam bentuk garam seperti natrium klorida (NaCl). Hampir seluruh natriu yang dikonsumsi (3 hingga 7 gram sehari) diabsorpsi, terutama di dalam usus halus. Natrium diabsorpsi secara aktif. Natrium yang diabsorpsi dibawa oleh aliran darah ke ginjal. Di sini natrium disaring dan dikembalikan ke aliran darah dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan taraf natrium dalam darah. Setiap kelebihan natrium yang terjadi di dalam tubuh dapat dikeluarkan melalui urin (Almatsier, 2009).

Hampir semua natrium yang terdapat di dalam tubuh akan tersimpan didalam

(26)

Ion natrium juga berada pada cairan intraseluler (ICF) namun dengan konsentrasi lebih kecil yaitu ± 3 mmol/L (Irawan, 2007).

Sebagai kation utama dalam cairan ekstraselular, natrium akan berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, menjaga aktivitas saraf, kontraksi otot dan juga berperan dalam proses absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat-zat gizi lain melalui membran, terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium (Almatsier, 2007). Pada keadaan normal, natrium (Na+) bersama dengan pasangan (terutama klorida, Cl-) akan memberikan kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif osmolalitas di dalam cairan ekstraseluler (Irawan,2007).

2) Kalium

Kalium merupakan kation utama yang terdapat pada cairan intraseluler dengan konsentrasi ± 150 mmol/L. Sekitar 90% dari total kalium tubuh berada dalam kompartemen ini. Sekitar 0.4% dari total kalium tubuh akan terdistribusi ke ruangan vascular yang terdapat pada cairan ekstraseluler dengan konsentrasi 3.5-5.0 mmol /L. Konsentrasi total kalium dalam tubuh diperkirakan sebanyak 2 g/kg berat badan. Namun jumlah ini dapat bervariasi tergantung pada jenis kelamin, umur dan massa otot. Kebutuhan minimum kalium diperkirakan sebesar 782 mg/hari (Irawan, 2007).

Kalium diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Sebanyak 80-90% kalium yang dimakan diekskresikan melalui urin, selebihnya dikeluarkan melalui feses dan sedikit melalui keringat dan cairan lambung (Almatsier, 2009)

Di dalam tubuh kalium akan mempunyai fungsi dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan keseimbangan asam basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca+) dan natrium (Na+), kalium akan berperan dalam transmisi saraf, pengaturan enzim dan kontraksi otot (Almatsier, 2009).

3) Klor (Cl)

(27)

dengan konsentrasi antara 98-106 mmol/L. Konsentrasi ion klorida tertinggi terdapat pada cairan serebrospinal seperti otak atau sumsum tulang belakang, lambung dan juga pankreas (Irawan, 2007).

Sebagai anion utama dalam cairan ekstraseluler, ion klorida juga akan berperan dalam menjaga keseimbangan cairan elektrolit. Selain itu, ion klorida juga mempunyai fungsi fisiologis penting yaitu sebagai pengatur derajat keasaman lambung dan ikut berperan dalam menjaga keseimbangan asam basa tubuh. Bersama dengan ion natrium (Na+), ion klorida juga merupakan ion dengan konsentrasi terbesar yang keluar melalui keringat (Almatsier, 2009).

2.6. Minuman Isotonik

Minuman isotonik adalah minuman yang mempunyai tekanan osmotik sama dengan plasma darah manusia. Dengan demikian, minuman ini dapat secara cepat diserap tubuh setelah diminum. Dalam beberapa tahun terakhir ini, minuman untuk olahragawan atau isotonik berkembang dengan pesat sejalan dengan kebutuhan kegiatan olahraga yang semakin ramai. Pada prinsipnya minuman isotonik ini dirancang untuk mencegah dehidrasi serta untuk memberikan energi yang dapat digunakan dengan cepat (Winarti, 2006).

Sebuah minuman dikatakan isotonik jika minuman tersebut mempunyai osmolaritas sekitar 250 mOsm/L – 340 mOsm/L. Kandungan dalam minuman isotonik adalah elektrolit (Na+, K +, Ca 2+, Mg 2+, Cl -), sedangkan kandungan gula cukup rendah hanya 6% - 7% per 100ml (rata-rata = kurang lebih 26 kkal/ 100ml, kebutuhan orang dewasa = kurang lebih 2100 kkal/hari). Gula dalam hal ini dibutuhkan untuk membantu mempercepat penyerapan elektrolit, dan sudah tentu kandungan yang terbanyak adalah air (Sari, 2010).

2.7. Minuman beroksigen

(28)

melaporkan bahwa dijumpai peningkatan waktu ketahanan sebesar 11% pada latihan fisik yang mengkonsumsi minuman beroksigen (Jenkins et al, 2002).

2.8. Minuman mengandung vitamin C

Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut, Vitamin C mudah rusak karena bersetuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas. Oksidasi dipercepat dengan kehadiran tembaga dan besi. Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup stabil dalam larutan asam (Almatsier, 2009).

Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorbsi adalah 90% untk konsumsi diantara 20 dan 120mg dalam satu hari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram (sebagai pil) hanya diabsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa kesemua jaringan (Almatsier, 2009).

(29)

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :

Variabel Independen Variabel Dependen

3.2. Definisi Operasional

- Latihan fisik pada penelitan ini adalah latihan fisik dengan menggunakan metode

Harvard Step Test.

- Minuman isotonik adalah minuman yang tonisitasnya sama dengan plasma darah.

- Minuman beroksigen adalah minuman yang mengandung molekul oksigen (O2).

- Minuman yang mengandung vitamin C adalah minuman yang mengandung 1000mg vitamin C.

- Air mineral adalah air minuman dalam kemasan yang mengandung senyawa H2O saja.

- Kebugaran fisik dengan metode Harvard Step Test adalah cara yang digunakan untuk mengukur kebugaran fisik dengan cara menghitung denyut nadi setelah naik turun bangku dengan penilaian

< 50 = kesanggupan kurang 50 – 64 = kesanggupan sedang

- Latihan Fisik + Minuman Isotonik

- Latihan Fisik + Minuman beroksigen

- Latihan Fisik + Minuman ber-vitamin C

- Latihan Fisik + Air putih biasa

Kebugaran Fisik Dengan Metode

(30)

65 – 79 = kesanggupan cukup 80 – 89 = kesanggupan baik >90 = kesanggupan sangat baik

Di hitung dengan rumus sederhana:

Waktu naik turun bangku (detik) x 100 IKB* =

2 X (denyut nadi 1 + denyut nadi 2 + denyut nadi 3)

Keterangan: *) Indeks Ketahanan Badan

3.3. Hipotesis

(31)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan post test design. Untuk mengetahui kebugaran fisik setelah pemberian minuman isotonik, minuman beroksigen, minuman yang mengandung vitamin C dan air mineral dengan mengukur denyut nadi sesudah melakukan lathan fisik dengan metode

harvard step test.

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini berlangsung mulai dari September 2013 - Oktober 2013.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki FK USU usia 19-22 tahun.

4.3.2. Besar Sampel

Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Besar sampel minimal menurut Suprapto.J dapat dirumuskan sebagai berikut:

(32)

Dari rumus di atas didapati besar minimal sampel untuk tiap kelompoknya adalah lebih dari 6 orang. Peneliti memutuskan besar sampel dari setiap kelompoknya adalah 10.

4.3.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi

- Laki-laki usia 19-22 tahun

- Indeks massa tubuh (IMT) dalam kisaran normal

- Rutin berolahraga 30-45 menit dengan frekuensi 1-2x seminggu - 2 jam sebelum latihan fisik, subjek sudah makan

Kriteria Eksklusi

- Riwayat penyakit hipertensi, asma, dan kelainan tiroid. - Merokok.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode cosecutive sampling, yaitu penarikan sampel berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro, 2011)

4.4. Teknik Pengumpulan Data

1. Subyek yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang memenuhi keriteria inklusi dan eksklusi.

2. Data dasar subjek meliputi berat badan, tinggi badan, dan usia dicatat dalam satu lembar isian (lampiran).

3. Kemudian secara acak sederhana subyek yang berjumlah 40 orang, di bagi kedalam 4 kelompok, yaitu:

a. 10 orang kelompok perlakuan pertama minum minuman isotonik (merk pocary sweat®).

(33)

c. 10 orang kelompok perlakuan ketiga minum minuman yang mengandung vitamin C (merk you C 1000®).

d. 10 orang kelompok kontrol minum air mineral kemasan.

4. Kemudian dilakukan pengukuran denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh, kemudian hasilnya di catat dilembar penelitian.

5. 15 menit sebelum latihan fisik kelompok kontrol di berikan 400cc air putih, kelompok perlakuan pertama di berikan 400cc minuman isotonic, kelompok perlakuan kedua diberikan 400cc minuman beroksigen, dan kelompok perlakuan ketiga diberikan 400cc minuman yang mengandung vitamin C.

6. Latihan fisik menggunakan metode Harvard Step Test degan cara naik turun bangku dengan ketinggian bangku 19” selama 5 menit, dengan kecepatan 120x permenit.

7. Setelah latihan fisik, dihitung kembali denyut nadi pada arteri radialis dipergelangan tangan dari 1 - 1½ menit, 2 - 2½ menit, dan 3 - 3½ menit, lalu dimasukkan ke dalam rumus sederhana:

Waktu naik turun bangku (detik) x 100 IKB* =

2 X (denyut nadi 1 + denyut nadi 2 + denyut nadi 3)

4.5. Analisis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Kemudian diolah dengan menggunakan Statistic Product for Servis Solusion

(34)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorum Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Laboratorium Fisiologi FK USU memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan penelitian, seperti bangku dengan ukuran 19 inch untuk melakukan Harvard Step Test, alat timbangan berat badan, alat pengukur tinggi badan, dan stopwatch. Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terletak di lantai 2 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Gedung Fakultas Kedokteran USU berlokasi di Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru, Jl.Dr.Mansur.

5.1.2. Distribusi Frekuensi Indeks Kebugaran Badan (IKB) Menurut Jenis Minuman

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi minuman isotonik terhadap IKB

Frekuensi Persen (%)

(35)

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi minuman beroksigen terhadap IKB

Frekuensi Persen(%)

Kesanggupan kurang 4 40

Pada tabel 5.2, pada minuman beroksigen terdapat 4 orang memiliki kesanggupan kurang, 3orang memiliki kesanggupan sedang, 2 orang memiliki kesanggupan cukup, dan 1 orang memiliki kesanggupan baik.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi minuman yang mengandung vitamin C terhadap IKB

Frekuensi Persen(%)

Kesanggupan kurang 1 10

Kesanggupan sedang 3 30

Kesanggupan cukup 3 30

Kesanggupan baik 1 10

Kesanggupan sangat baik 2 20

Total 10 100

(36)

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi air mineral terhadap IKB

Frekuensi Persen(%)

Kesanggupan kurang 5 50

Kesanggupan sangat baik 2 20

Total 10 100

Pada tabel 5.4, pada air mineral terdapat 5 orang memiliki kesanggupan kurang, 1orang memiliki kesanggupan sedang, 2 orang memiliki kesanggupan cukup, dan 2 orang memiliki kesanggupan sangat baik.

Tabel 5.5. nilai modus IKB setiap kelompok sampel

Modus IKB Keterangan

Minuman isotonik 1 Kesanggupan kurang

Minuman beroksigen 1 Kesanggupan kurang

Minuman yang mengandung vit.C 3 Kesanggupan cukup

Air mineral 1 Kesanggupan kurang

(37)

Tabel 5.6. nilai mean IKB setiap kelompok sampel

Mean IKB Keterangan

Minuman isotonik 43.80 Kesanggupan kurang

Minuman beroksigen 54.83 Kesanggupan sedang

Minuman yang mengandung vit.C 70.58 Kesanggupan cukup

Air mineral 57.95 Kesanggupan sedang

Pada tabel 5.6, nilai mean IKB sampel yang diberikan minuman isotonik adalah 43.80 yang berarti kesanggupan kurang, nilai mean IKB sampel yang diberikan minuman beroksigen adalah 54.83 yang berarti kesanggupan sedang, nilai mean IKB sampel yang diberikan minuman yang mengandung vitamin C adalah 70.58 yang berarti kesanggupan cukup, sedangkan nilai mean IKB sampel yang diberikan air mineral adalah 57.95 yang berarti kesanggupan sedang. Dari nilai rata-rata IKB yang didapat, terlihat bahwa minuman yang mengandung vitamin C memiliki nilai rata-rata IKB yang paling besar, dan minuman isotonik memiliki nilai rata-rata IKB yang paling kecil.

5.1.3. Hasil Statistik

Tabel 5.7. Uji Analisis Varian Indeks Kebugaran Badan antar kelompok sampel

F Sig.

IKB antar grup 2.651 .063

(38)

5.2. Pembahasan

Hapsari dan Kartini, (2013) menemukan bahwa pemberian minuman karbohidrat elektrolit tidak ada pengaruh terhadap aktivitas fisik pada pekerja suatu perusahaan. Dan ditemukan faktor-faktor lain yang lebih mempengaruhi aktivitas kerja dari pekerja yaitu motivasi, masa kerja, dan keterampilan kerja.

Sari, (2011) menemukan tidak perbedaan yang bermakna dalam hal perubahan nilai-nilai faal paru dan frekuensi nafas sesudah melakukan aktifitas fisik antara kelompok yang minum air beroksigen dengan kelompok yang minum air biasa.

Pada penelitian ini terlihat pada distribusi frekuensi, terlihat bahwa minuman yang mengandung vitamin C memiliki mean yang paling besar dibandingkan dengan minuman isotonik, minuman beroksigen, dan air mineral. Tetapi, setelah dilakukan uji statistik ANOVA memperlihatkan perbedaan yang tidak bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari pemberian minuman terhadap indeks kebugaran badan dari masing-masing kelompok.

(39)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Tidak ada pengaruh pemberian minuman isotonik, minuman beroksigen, dan minuman yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik setelah latihan fisik dengan metode harvard step test pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

6.2. Saran

Adapun saran peneliti berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh minuman isotonik, minuman beroksigen dan minuman yang mengandung vitamin C terhadap kebugaran fisik dengan sampel yang lebih seragam.

(40)

DAFTAR PUSTAKA

AHA, 2011. Obesity Information. Available from:

http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/WeightManagement/O besity/Obesity-Information_UCM_307908_Article.jsp [Accesed 13 Mei 2011].

Almatsier, S., 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

American Collage of Sport Medicine, 2008. ACSM’s Health-Related Physcal Fitness Manual 2nd ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins. Available from: http://ebook30.com/science/medicine/50959/acsr-ns-healthrelated-physical-fitness-assessmdnt-manual.html [Accessed 16 February 2011].

Azhar, N.B.B., 2010. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2007 Mengenai Manfaat Konsumsi Minuman Isotonik Pada Aktifitas Olahraga. Medan: Program Sarjana Universitas Sumatera Utara.

CDC. 2011. Healthy Weight - it's not a diet, it's a lifestyle! Available from: http://www.cdc.gov/healthyweight/physical_activity/index.html [Accesed 6 Mei 2013].

Cleaveland Clinic, 2011. Exercise and Weight Control. Available from: http://my.clevelandclinic.org/heart/prevention/exercise/ex_wtcontrol.aspx [Accesed 13 Mei 2011].

(41)

http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/exercise [Accesed 13 Mei 2011].

Gale Encyclopedia of Medicine, 2008. Exercise. Available from:

http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/exercise [Accesed 6 Mei 2013] .

Guyton, H., 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 11. Jakarta: EGC.

Hapsari, O.B., Kartini, A., 2013. Pengaruh Minuman Karbohidrat Elektrolit Terhadap Produktivitas Kerja. Available from: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc [Accesed june 2013]

Horne, Mima M., 2001. Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa. Edisi Kedua. Jakarta: EGC.

Irawan, A.M., 2007. Cairan Tubuh Elektrolit dan Mineral, Polton Sports

Science and Performance Lab Available from: http://www.pssplab.com. [ Accesed 23 Mei 2013].

Irianto, P.D., 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluaga dan Olahragawan. Andi Yogyakarta, Yogyakarta.

Jenkins, A., Baynard, T., Moreland., Mille, W.C., Fernhall, B., 2002. The Effect of Oxygenated Water on Percent Arterial Oxygen Saturation, Performance, and Recovery during Exercise. Med Sci Sports Exer, 33: 1-14.

(42)

Pakdaman, A, 1985. Oxygen-enriched water andoral oxygen therapy. German Copyright Law: 1-20.

Olivia, W., 2011. Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kebugaran Fisik Pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun Masuk 2010. Medan: Program Sarjana Universitas Sumatera Utara.

Robergs, R.A., Roberts, S.O., 1997. Exercise Physiology-exercise, Performance, and Clinical Appliction: Mosby-Year Book Inc.

Rusip, G., 2009. Pengaruh Pemberian Minuman Berkarbohidrat Berelektrolit Dapat Memperlambat Kelelahan Selama Berolahraga. Available from:

http://repository.usu.ac.id/simple-search?query=gusbakti+rusip&submitx=0&submity=0&submit=Go

Rusip, G., 2009. A Comparative Study On The Physical Fitness Level Using The

Harvard, Sharkey, And Kash Step Test. Available from:

http://repository.usu.ac.id/simple-search?query=gusbakti+rusip&submitx=0&submity=0&submit=Go 

Sari, F., 2011. Perbandingan Pengaruh Minuman Beroksigen Dengan Minuman Air Biasa Terhadap Nilai VEP1, KVP, dan Frekuensi Napas Pada Latihan Fisik. Medan: Program Sarjana Universitas Sumatera Utara.

Sari, F.D.N., 2010. Perilaku Siswa SMA Negeri 1 Binjai Tentang Minuman Isotonik Berelektrolit. Medan: Program Sarjana Universitas Sumatera Utara.

(43)

Scott, K.P., Edward, T.H., 2007. Exercise Physiology Theory and Application to Fitness and Performance. Ed.4. New York: McGraw-Hill.

Sherwood, L., 2001. Keseimbangan Energi dan Pengaturan Suhu. In:Beatricia I. Santoso. ed. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Ed II. Jakarta: EGC. 590-608.

Sinaga, E.,2004. Pengaruh Latihan Senam Aerobik Pada Suhu yang Berbeda Terhadap Kebugaran Jasmani Diukur Berdasarkan Kapasitas

VO2max. Medan: Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Supranto, J., 2000. Teknik Sampling Untuk Survey dan Experimen. Jakarta: PT Rineka Cipta.

(44)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Curriculum vitae

Data Pribadi

Nama : Siti Hasyati

Tempat, Tanggal Lahir : Binjai, 9 Juni 1992

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswa

Agama : Islam

Alamat : Jl. T. A. Hamzah No.182 Binjai, 20741

Riwayat Pendidikan : 1. TK Ahmad Yani Binjai (1997-1998)

2. SD Ahmad Yani Binjai (1998-2004)

3. SMP Negeri 1 Binjai (2004-2007)

4. SMA Negeri 5 Binjai (2007-2010)

5. Perguruan Tinggi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2010-sekarang)

Riwayat Pelatihan : 1. Tahun 2011 Workshop Terapi Cairan dan Manajemen Luka, TBM PEMA FK USU, Medan

2. Tahun 2011 Workshop Sirkumsisi, HMI Kom FK USU, Medan

(45)

PENJELASAN MENGENAI PENELITIAN:

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

Selamat pagi/siang Saudara

Nama saya Siti Hasyati dan saya akan melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Minuman Isotonis, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan manfaat langsung minuman olahraga bagi orang yang melakukan olahraga atau latihan fisik. Dengan diketahuinya hal tersebut, maka ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang penting bagi masyarakat maupun dunia kesehatan.

Jika Saudara bersedia mengikuti penelitian ini maka akan dilakukan serangkaian prosedur terhadap Saudara, di mana Saudara diminta untuk meminum air minum isotonik, atau air minum beroksigen, atau air minum yang mengandung vitamin C, atau air putih biasa, kemudian saya akan menghitung denyut nadi Saudara, dilanjutkan dengan melakukan latihan fisik dengan metode harvard step test selama lebih kurang 5 menit, kemudaian diakhiri dengan penghitungan kembali denyut nadi dan penghitungan dilakukan setiap 30 detik selama 30 detik.

Kami sangat mengharapkan keikut sertaan Saudara dalam penelitian ini, karena selain bermanfaat untuk diri sendiri, juga bermanfaat untuk orang lain. Selama penelitian ini, Saudara tidak dibebankan biaya apapun. Semua data/keterangan dari Saudara bersifat rahasia,tidak diketahui orang lain. Apabila keberatan, Saudara bebas untuk menolak mengikuti penelitian ini. Jika sudah mengerti dan bersedia mengikuti penelitian ini maka Saudara dapat mengisi lembar persetujuan.

(46)

tidak diinginkan yang setelah Saudara mengikuti penelitian ini, maka Saudara dapat menghubungi saya.

Nama : Siti Hasyati

Alamat instansi : FK USU, Jl.dr.Mansur No.5, Medan Alamat rumah : Jl. T. Amir Hamzah 182 Binjai

Handphone : 085762597705

Demikian penjelasan ini saya sampaikan. Atas perhatian dan kesediaan Anda, saya ucapkan terma kasih.

Medan, ... 2013 Peneliti,

(47)

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :

Umur : Alamat : No. Hp :

Setelah mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai penelitian yang “Pengaruh Minuman Isotonis, Minuman Beroksigen, dan Minuman Yang Mengandung Vitamin C Terhadap Kebugaran Fisik Setelah Latihan Fisik Dengan Metode Harvard Step Test Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan setelah mengetahui dan menyadari sepenuhnya risiko yang mungkin terjadi, dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia dengan sukarela menjadi subjek penelitian tersebut dan patuh akan ketentuan-ketentuan yang dibuat peneliti. Jika sewaktu-waktu ingin berhenti, saya berhak untuk tidak melanjutkan mengikuti penelitian ini tanpa ada sanksi apapun.

Medan, ... 2013

Yang Menyatakan Peneliti

( ) (Siti Hasyati)

Saksi

(48)
(49)
(50)

NAMA UMUR LATIHAN FISIK

(60”)

LATIHAN FISIK 1

(30”)

LATIHAN FISIK 2

(30”)

LATIHAN FISIK 3

(30”)

KEBUGARAN BADAN

KELOMPOK

HST36 21 94 73 63 60 43.62 POCARY

HST37 21 81 62 61 60 27.59 POCARY

HST38 22 76 65 60 55 67.78 UC 1000

HST39 21 69 66 57 54 84.74 UC 1000

(51)

DISTRIBUSI FREKUENSI

isotonikkel

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid kesanggupankurang 7 70.0 70.0 70.0

kesanggupansedang 1 10.0 10.0 80.0

kesanggupancukup 2 20.0 20.0 100.0

(52)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid kesanggupankurang 4 40.0 40.0 40.0

kesanggupansedang 3 30.0 30.0 70.0

kesanggupancukup 2 20.0 20.0 90.0

kesanggupansangatbaik 1 10.0 10.0 100.0

Total 10 100.0 100.0

vit.Ckel

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid kesanggupankurang 1 10.0 10.0 10.0

kesanggupansedang 3 30.0 30.0 40.0

kesanggupancukup 3 30.0 30.0 70.0

kesanggupanbaik 1 10.0 10.0 80.0

kesanggupansangatbaik 2 20.0 20.0 100.0

(53)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid kesanggupankurang 5 50.0 50.0 50.0

kesanggupansedang 1 10.0 10.0 60.0

kesanggupancukup 2 20.0 20.0 80.0

kesanggupansangatbaik 2 20.0 20.0 100.0

Total 10 100.0 100.0

UJI NORMALITAS

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

(54)

a. Lilliefors Significance Correction

(55)
(56)
(57)

Descriptives

Statistic Std. Error

IKB Mean 56.8153 3.60541

95% Confidence Interval for

Mean

Lower Bound 49.5226

Upper Bound 64.1079

5% Trimmed Mean 56.1881

Median 54.5100

Variance 519.960

Std. Deviation 22.80263

Minimum 18.63

Maximum 106.38

Range 87.75

Interquartile Range 34.58

Skewness .406 .374

(58)

ANOVA

IKB

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 3668.826 3 1222.942 2.651 .063

Within Groups 16609.612 36 461.378

(59)

Dependent Variable:IKB

(I) jenisminuman (J) jenisminuman

Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

Tukey HSD minumanisotonik minumanberoksigen -11.00100 9.60602 .664 -36.8722 14.8702

minumanvit.C -26.87700* 9.60602 .039 -52.7482 -1.0058

airmineral -14.14700 9.60602 .464 -40.0182 11.7242

minumanberoksigen minumanisotonik 11.00100 9.60602 .664 -14.8702 36.8722

minumanvit.C -15.87600 9.60602 .363 -41.7472 9.9952

airmineral -3.14600 9.60602 .988 -29.0172 22.7252

minumanvit.C minumanisotonik 26.87700* 9.60602 .039 1.0058 52.7482

minumanberoksigen 15.87600 9.60602 .363 -9.9952 41.7472

airmineral 12.73000 9.60602 .553 -13.1412 38.6012

airmineral minumanisotonik 14.14700 9.60602 .464 -11.7242 40.0182

minumanberoksigen 3.14600 9.60602 .988 -22.7252 29.0172

(60)

minumanvit.C -26.87700* 9.60602 .049 -53.6967 -.0573

airmineral -14.14700 9.60602 .897 -40.9667 12.6727

minumanberoksigen minumanisotonik 11.00100 9.60602 1.000 -15.8187 37.8207

minumanvit.C -15.87600 9.60602 .643 -42.6957 10.9437

airmineral -3.14600 9.60602 1.000 -29.9657 23.6737

minumanvit.C minumanisotonik 26.87700* 9.60602 .049 .0573 53.6967

minumanberoksigen 15.87600 9.60602 .643 -10.9437 42.6957

airmineral 12.73000 9.60602 1.000 -14.0897 39.5497

airmineral minumanisotonik 14.14700 9.60602 .897 -12.6727 40.9667

minumanberoksigen 3.14600 9.60602 1.000 -23.6737 29.9657

Figur

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi minuman isotonik terhadap IKB
Tabel 5 1 Distribusi frekuensi minuman isotonik terhadap IKB . View in document p.34
Tabel 5.2. Distribusi frekuensi minuman beroksigen terhadap IKB
Tabel 5 2 Distribusi frekuensi minuman beroksigen terhadap IKB . View in document p.35
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi minuman yang mengandung vitamin C terhadap
Tabel 5 3 Distribusi Frekuensi minuman yang mengandung vitamin C terhadap . View in document p.35
Tabel 5.4. Distribusi frekuensi air mineral terhadap IKB
Tabel 5 4 Distribusi frekuensi air mineral terhadap IKB . View in document p.36
Tabel 5.5. nilai modus IKB setiap kelompok sampel
Tabel 5 5 nilai modus IKB setiap kelompok sampel . View in document p.36
Tabel 5.6. nilai mean IKB setiap kelompok sampel
Tabel 5 6 nilai mean IKB setiap kelompok sampel . View in document p.37
Tabel 5.7. Uji Analisis Varian Indeks Kebugaran Badan antar kelompok sampel
Tabel 5 7 Uji Analisis Varian Indeks Kebugaran Badan antar kelompok sampel . View in document p.37

Referensi

Memperbarui...