• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin ( Studi Kasus : Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin ( Studi Kasus : Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah)"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SKALA USAHA TERHADAP PENDAPATAN

USAHATANI PENGOLAHAN IKAN ASIN

(Studi Kasus : Desa Hajoran, Kec. Pandan, Kab. Tapanuli Tengah)

SKRIPSI

OLEH :

LINE O.R HUTABARAT 080309059

PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGARUH SKALA USAHA TERHADAP PENDAPATAN

USAHATANI PENGOLAHAN IKAN ASIN

(Studi Kasus : Desa Hajoran, Kec. Pandan, Kab. Tapanuli Tengah)

SKRIPSI

OLEH :

LINE O.R HUTABARAT 080309059

PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui oleh : Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, MS Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA NIP : 194608021973011001 NIP : 197008272008122001

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

Line Octavia Romauli Hutabarat (080309059), dengan judul Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin ( Studi Kasus : Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – Januari 2013 dan dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, MS dan Ibu Sri Fajar Ayu, SP,. MM,. DBA.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi per kilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan, untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap jumlah curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan, untuk mengetahui perbedaan nilai tambah (value added) per kilogram yang diperoleh sebagai akibat proses pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha pengolahan dalam jangka waktu satu bulan, dan untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap pendapatan usahatani pengolahan ikan asin per kilogram dalam jangka waktu satu bulan.

Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu di Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan pertimbangan bahwa daerah ini dengan pertimbangan bahwa daerah penelitian memiliki produksi ikan asin yang cukup besar dan merupakan daerah penghasil ikan terbesar yang berasal dari daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden. Data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Tapanuli Tengah dan instansi atau lembaga yang terkait dalam penelitian ini.

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh rataan total biaya produksi

pengolahan ikan asin per kilogram pada skala usaha kecil sebesar Rp. 12.378,626/bulan, skala usaha menengah sebesar Rp. 10.732,693/bulan dan

skala usaha besar yaitu sebesar Rp. 10.038,329/bulan. Rataan curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha kecil sebesar 45,7 lalu skala usaha menengah sebesar 45,7 dan skala usaha besar yaitu sebesar 45,22. Rataan nilai tambah (value added) yang diperoleh petani per kilogram dari usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil Rp. 11.443, skala usaha menengah Rp. 10.747 dan skala usaha besar yaitu Rp. 10.454. Rataan pendapatan yang diperoleh petani per kilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil Rp. 9.868 skala usaha menengah Rp. 9.720 dan skala usaha besar yaitu Rp. 9.616.

(4)

RIWAYAT HIDUP

LINE OCTAVIA ROMAULI HUTABARAT, lahir di Sibuluan III pada tanggal 12 Oktober 1990. Anak kedua dari empat bersaudara dari keluarga (Alm) S. Hutabarat dan T. Hutagalung.

Pendidikan yang ditempuh penulis adalah:

1. Tahun 1996 masuk Sekolah Dasar di SD Sw. Santa Melania, Sarudik dan tamat tahun 2002.

2. Tahun 2002 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Fatima 2, Sarudik dan tamat tahun 2005.

3. Tahun 2005 masuk Sekolah Menegah Atas di SMA Negeri 1 Sibolga dan tamat tahun 2008.

4. Tahun 2008 diterima di Program Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN.

5. Bulan Juli-Agustus 2012 mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Bagan Asahan Pekan Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan. 6. Bulan Desember 2012 – Januari 2013 melakukan penelitian skripsi di

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat memulai, menjalani dan mengakhiri masa perkuliahan dengan menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “ PENGARUH SKALA USAHA TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PENGOLAHAN IKAN ASIN “ (Studi Kasus: Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah) sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul sampai ujian akhir.

2. Sri Fajar Ayu, SP,. MM,. DBA selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul sampai ujian akhir.

3. Dr.Ir.Salmiah, M.S selaku Ketua Program Studi Agribisnis FP USU.

4. Dr.Ir.Satia Negara Lubis, M.Ec selaku sekretaris Program Studi Agribisnis FP USU.

5. Para dosen dan staf pegawai Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU.

(6)

Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis hanturkan kepada

ayahanda (Alm) S. Hutabarat dan ibunda T. Hutagalung, oppung tercinta M. Br Pardede serta saudaraku yaitu Kakak Selly B.M Hutabarat, Amd., Adik

Bernad M.J Hutabarat, dan Adik Vita T.L Hutabarat, atas kasih sayang, nasehat, motivasi serta dukungan baik secara moril maupun materil yang diberikan kepada penulis selama menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.

Terima kasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman di Jurusan Agribisnis dan PKP stambuk 2008 terkhusus buat M_WIL (Melfrianti, Winda, Indriani), Septria, Nora, The Bunga (Neny, Mega Mei, Nova), Dina, Ance, Reni, teman-teman AOC dan Sparkling Girls, dan adik-adik Je Qrois In Dieu, Ekklesia Dominique, dan Body of Christ yang telah banyak membantu serta memberikan dukungan bagi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu Penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Semoga skripsi ini bermanfaat. Terima Kasih.

Medan, 17 Mei 2013

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... ...vi

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka ... 7

2.2 Landasan Teori ... 13

2.3 Kerangka Pemikiran ... 16

2.4 Hipotesis Penelitian ... 18

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 19

3.2 Metode Pengambilan Sampel ... 19

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 20

3.4 Metode Analisis Data ... 20

3.5 Defenisi dan Batasan Operasional ... 24

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK PENGUSAHA SAMPEL 4.1 Deskripsi Desa Hajoran, Kecamatan Pandan ... 26

4.2 Karakteristik Pengusaha sampel ... 29

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengaruh Skala Usaha Terhadap Total Biaya Produksi Usahatani Pengolahan Ikan Asin ... 31

(8)

5.4 Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin ... 53

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 56 6.2 Saran ... 57 DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1. Kecamatan Penghasil Ikan Asin di Kabupaten Tapanuli Tengah ... 19

2. Desa Penghasil Ikan Asin di Kabupaten Tapanuli Tengah ... 19

3. Ditribusi Penggunaan Lahan di Desa Hajoran ... 27

4. Komposisi Penduduk Desa Hajoran Berdasarkan Jenis Kelamin ... 28

5. Karakteristik Pengusaha Sampel di Desa Hajoran ... 29

6. Jumlah Bahan Baku yang Diolah dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 32

7. Biaya Bahan Baku dalam dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 33

8. Jumlah Bahan Pembantu (Garam) yang Digunakan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 34

9. Biaya Bahan Pembantu (Garam) dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 36

10. Biaya Tenaga Kerja dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 39

11. Biaya Penyusutan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 42

(10)

13. Biaya Pengemasan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 46 14. Biaya Pembelian Minyak Tanah dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 48 15. Rataan Total Biaya Produksi dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 49 16. Curahan Tenaga Kerja dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan ... 51 17. Rataan Nilai Tambah (Value Added) Usahatani Pengolahan Ikan Asin

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Lampiran

1. Karakteristik Pengusaha Usahatani Pengolahan Ikan Asin

2. Jenis Ikan yang Diolah menjadi Ikan Asin berdasarkan Besarnya Skala Usaha

3. Harga Bahan Baku Ikan Asin 4. Biaya Bahan Pembantu (Garam)

5. Biaya Tenaga Kerja dalam Usaha Tani Pengolahan Ikan Asin

6. Alat-Alat yang Digunakan oleh Pengusaha Usahatani Pengolahan Ikan Asin

7. Daya Tahan Alat-Alat dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

8. Biaya Pembelian Alat-alat yang Digunakan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

9. Biaya Penyusutan Alat-alat (per buah) dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin dalam Jangka Waktu Satu Bulan

10. Total Biaya Penyusutan Alat-Alat dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin per Bulan

11. Total Biaya Transportasi Usahatani Pengolahan Ikan Asin

12. Total Biaya Pengemasan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

13. Total Biaya Pembelian Minyak Tanah dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin

(12)

15. Total Pemakaian Tenaga Kerja Dalam Keluarga dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

16. Total Pemakaian Tenaga Kerja Luar Keluarga dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

17. Curahan Tenaga Kerja dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

18. Nilai Tambah Usahatani Pengolahan Ikan Asin

19. Pendapatan yang Diperoleh dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

20. Anova Total Biaya Produksi Usahatani Pengolahan Ikan Asin berdasarkan Skala Usaha

21. Anova Curahan Tenaga Kerja Usahatani Pengolahan Ikan Asin berdasarkan Skala Usaha

22. Anova Nilai Tambah Usahatani Pengolahan Ikan Asin berdasarkan Skala Usaha

(13)

ABSTRAK

Line Octavia Romauli Hutabarat (080309059), dengan judul Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin ( Studi Kasus : Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – Januari 2013 dan dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, MS dan Ibu Sri Fajar Ayu, SP,. MM,. DBA.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi per kilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan, untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap jumlah curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan, untuk mengetahui perbedaan nilai tambah (value added) per kilogram yang diperoleh sebagai akibat proses pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha pengolahan dalam jangka waktu satu bulan, dan untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap pendapatan usahatani pengolahan ikan asin per kilogram dalam jangka waktu satu bulan.

Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu di Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan pertimbangan bahwa daerah ini dengan pertimbangan bahwa daerah penelitian memiliki produksi ikan asin yang cukup besar dan merupakan daerah penghasil ikan terbesar yang berasal dari daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden. Data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Tapanuli Tengah dan instansi atau lembaga yang terkait dalam penelitian ini.

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh rataan total biaya produksi

pengolahan ikan asin per kilogram pada skala usaha kecil sebesar Rp. 12.378,626/bulan, skala usaha menengah sebesar Rp. 10.732,693/bulan dan

skala usaha besar yaitu sebesar Rp. 10.038,329/bulan. Rataan curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha kecil sebesar 45,7 lalu skala usaha menengah sebesar 45,7 dan skala usaha besar yaitu sebesar 45,22. Rataan nilai tambah (value added) yang diperoleh petani per kilogram dari usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil Rp. 11.443, skala usaha menengah Rp. 10.747 dan skala usaha besar yaitu Rp. 10.454. Rataan pendapatan yang diperoleh petani per kilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil Rp. 9.868 skala usaha menengah Rp. 9.720 dan skala usaha besar yaitu Rp. 9.616.

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penanganan ikan setelah penangkapan atau pemanenan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual ikan yang maksimal. Salah satu faktor yang menentukan nilai jual ikan dan hasil perikanan yang lain adalah tingkat kesegarannya. Tingkat kesegaran ikan ini sangat terkait dengan cara penanganan ikan. Kesegaran ikan tidak dapat ditingkatkan, tetapi hanya dapat dipertahankan. Oleh karenanya, sangat penting untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi setelah ikan mati. Dengan demikian, dapat dilakukan tindakan penanganan yang baik dalam upaya mempertahankan kesegaran ikan (Junianto, 2003).

Prinsip pengolahan ikan pada dasarnya bertujuan melindungi ikan dari pembusukan atau kerusakan. Pembusukan terjadi akibat perubahan yang disebabkan oleh mikroorganisme dan perubahan-perubahan lain yang sifatnya merugikan. Selain untuk menghambat dan menghentikan aktivitas enzim maupun mikroorganisme, pengolahan juga bertujuan untuk memperpanjang daya awet dan mendiversifikasi produk olahan hasil perikanan (Adawyah, 2008).

(15)

hanya berfungsi untuk menjaga mutu produk perikanan tetapi juga berfungsi untuk mempertahankan nilai ekonomi yang dimilikinya (Widodo, 2006).

Menurut Edy (2011) kelemahan yang dimiliki oleh ikan dirasakan sangat menghambat usaha pemasaran hasil perikanan dan tidak jarang menimbulkan kerugian besar, terutama pada saat produksi ikan melimpah. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan daya simpan dan daya awet produk perikanan pada pascapanen melalui proses pengolahan maupun pengawetan. Adapun tujuan utama proses pengawetan dan pengolahan ikan adalah :

1. Mencegah proses pembusukan pada ikan terutama pada saat produksi melimpah.

2. Meningkatkan jangkauan pemasaran ikan.

3. Melaksanakan diversifikasi pengolahan produk-produk perikanan.

4. Meningkatkan pendapatan nelayan atau petani ikan sehingga terangsang untuk melipatgandakan produksi.

Untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil ikan, mengingat ikan mudah busuk, perlu dibuat alternatif pengolahan atau pengawetan guna memperpanjang masa simpan dan masa distribusinya. Bisa dengan cara pembekuan, pengalengan, pengasinan, pemindangan, atau pengasapan ( Anonimus, 2007 ).

Ikan hasil pengolahan dan pengawetan umumnya sangat disukai oleh masyarakat karena produk akhirnya mempunyai ciri-ciri khusus yakni perubahan sifat-sifat daging seperti bau (odour), rasa (flavour), bentuk (appearance) dan tekstur ( Edy, 2011).

(16)

dekat dengan negara Asean yang merupakan pasaran potensial untuk produksi perikanan, Sumatera Utara mempunyai daerah perairan yang cukup luas (perairan Zone Ekonomi Eksklusif) terutama di perairan pantai darat, sumbangan sub sektor perikanan dalam perekonomian cukup besar. Pada beberapa kota pantai di Sumatera Utara kegiatan perekonomian didominasi oleh usaha perikanan.

(Erizal, 1991)

Menurut Erizal (1991), hasil ikan olahan nelayan Sumatera Utara yang berupa ikan asin, telah lama dikenal oleh masyarakat konsumen. Bahkan penyebarannya telah menembus beberapa kota besar di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pengolahan ikan sudah merupakan usaha yang cukup berkembang di Sumatera Utara.

Kondisi geografis kabupaten Tapanuli Tengah yang berbatasan dengan lautan menjadi faktor utama berkembangnya perusahaan industri di bidang usaha pengasinan ikan. Kecamatan Pandan merupakan pusat pengasinan ikan di kabupaten Tapanuli Tengah, yaitu sebanyak 100 perusahaan atau sekitar 64,52 % dari total perusahaan pengasinan ikan. Pada tahun 2009, perusahaan industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja di kabupaten Tapanuli Tengah adalah industri pengasinan ikan, yang menyerap tenaga kerja sebanyak 775 orang. (Badan Pusat Statistik, 2010).

(17)

dijual dalam bentuk segar dan ada yang dijual untuk diolah menjadi ikan olahan. Ikan yang diolah menjadi ikan asin ini diperoleh dari hasil budidaya ikan (tambak) bahkan yang dibeli dari nelayan. Banyaknya ikan yang diolah tergantung dari hasil yang didapat dari laut. Ketika produksi ikan melimpah, maka semakin banyak ikan yang diolah menjadi ikan asin.

Dalam usahatani pengolahan ikan asin diperlukan tenaga kerja dalam pengerjaan pengolahan ikan. Tenaga kerja yang diperlukan dalam kegiatan usahatani pengolahan ikan asin berbeda-beda berdasarkan banyaknya jumlah ikan yang diolah. Karena semakin banyak ikan yang diolah, maka semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Hal ini juga akhirnya mempengaruhi total biaya produksi, karena tenaga kerja termasuk ke dalam komponen biaya produksi pengolahan ikan asin.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan olah Dumora (2002) di Kelurahan Belawan Bahari, Kecamatan Medan Belawan, Kotamadya Medan, Sumatera Utara, jenis pekerjaan yang menyerap tenaga kerja untuk usahatani pengolahan ikan asin di daerah yang bersangkutan adalah pembelian, pembelahan, pencucian dan penggaraman, penjemuran, dan penjualan. Umumnya tenaga kerja untuk pencucian dan penggaraman, pembelian dan penjualan bersifat tenaga kerja tetap, dan untuk pembelahan dan penjemuran menggunakan tenaga kerja tidak tetap. Menurut Dumora (2002) skala usaha yang lebih efisien dalam menggunakan tenaga kerja adalah skala usaha menengah karena HKP per bulannya lebih sedikit dari skala usaha kecil dan skala usaha besar.

(18)

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh besarnya skala usaha terhadap total biaya produksi dalam usahatani pengolahan ikan asin per kilogram dalam jangka waktu satu bulan?

2. Bagaimana pengaruh besarnya skala usaha terhadap jumlah curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan ?

3. Apakah ada perbedaan nilai tambah (value added) yang diperoleh sebagai akibat proses pengolahan ikan asin berdasarkan besarnya skala usaha per kilogram dalam jangka waktu satu bulan ?

4. Bagaimana pengaruh skala usaha terhadap pendapatan usahatani pengolahan ikan asin per kilogram dalam jangka waktu satu bulan ?

C. Tujuan penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah :

1. Untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi per kilogram yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin dalam jangka waktu satu bulan.

(19)

3. Untuk mengetahui perbedaan nilai tambah (value added) per kilogram yang diperoleh sebagai akibat proses pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha pengolahan dalam jangka waktu satu bulan.

4. Untuk mengetahui pengaruh skala usaha terhadap pendapatan usahatani pengolahan ikan asin per kilogram dalam jangka waktu satu bulan.

D. Kegunaan penelitian

1. Sebagai bahan informasi bagi pengusaha pengolahan ikan asin untuk meningkatkan usahanya supaya lebih efisien.

2. Sebagai bahan informasi bagi para pengambil keputusan untuk perbaikan pengolahan ikan asin.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA

PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Tinjauan Pustaka

Ikan merupakan sumber protein hewani dan juga memiliki kandungan gizi yang

tinggi di antaranya mengandung mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh. Protein

dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pengganti sel-sel tubuh kita yang telah

rusak. Selain air, protein merupakan bagian utama dari susunan (komposisi) tubuh

kita (Junianto, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian, ternyata daging ikan mempunyai komposisi kimia air ( 60,0 – 80,0 %) ; protein (18,0 – 30, 0 %) ; lemak (0,1 – 2,2 %) ; karbohidrat (0,0 – 1,0 %) ; vitamin dan sisanya mineral (Adawyah, 2008).

Ikan adalah salah satu di antara bahan makanan protein yang paling mudah mengalami pembusukan (perishable). Oleh karena itu, sangat diperlukan tindakan yang tepat dan cermat di dalam pencegahan pembusukan tersebut, mulai dari saat penangkapan sampai tiba di tangan konsumen. Tindakan yang dimaksud adalah berupaa pengawetan dan pengolahan seperti pengasinan, pengeringan, perebusan, pembekuan, dan pengasapan (Mulyadi. 2005).

(21)

Kekurangan yang terdapat pada ikan dapat menghambat usaha pemasaran hasil perikanan, tidak jarang menimbulkan kerugian besar terutama di saat produksi ikan melimpah. Oleh karena itu, diperlukan proses pengolahan untuk menambah nilai, baik dari segi gizi, rasa, bau, bentuk, tekstur, maupun daya awet. (Adawyah, 2008).

Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Tanpa adanya kedua proses tersebut, peningkatan produksi ikan yang telah dicapai selama ini akan sia-sia, karena tidak semua produk perikanan dapat dimanfaatkan oleh konsumen dalam keadaan baik. Pengolahan dan pengawetan bertujuan mempertahankan mutu dan kesegaran ikan selama mungkin dengan cara menghambat atau menghentikan sama sekali penyebab kemunduran mutu (pembusukan) maupun penyebab kerusakan ikan, agar ikan tetap baik sampai ke tangan konsumen ( Edy, 2011).

Pengawetan ialah perbuatan mengawet, agar bahan yang diawet itu dapat tahan disimpan lama, sebaliknya pengolahan adalah perbuatan mengolah bahan yang bersangkutan menjadi bahan olahan, tetapi belum tentu bahan olahan ini menjadi awet ( Soeseno, 1981)

(22)

yang ada dalam daging ikan akan berkurang sehingga ikan menjadi kering dan awet. Masih banyak lagi faktor alami lainnya yang dimanfaatkan untuk pengolahan ikan (Adawyah, 2008).

Menurut Soeseno (1981) bagaimana pun cara pengawetan yang dilakukan, semuanya memerlukan pengerjaan pendahuluan. Pengerjaan pendahuluan sebelum pengawetan, umumnya berupa :

a. Mencuci ikan yang baru datang, untuk menghilangkan kotoran-kotoran luar dan lendir yang masih ada.

b. Menyiangi ikan seperlunya (yaitu membuang bagian-bagian yang tidak berguna), seperti isi perut dan insang. Kadang-kadang juga kepala, sisik dan sirip.

c. Membantal dan membelah ikan (mengiris dagingnya pada salah satu sisinya, kemudian membukanya ke atas). Bila ikan memang tebal dan besar.

d. Membasuh (mencuci sekali lagi) ikan-ikan yang sudah disiangi dan dibantal. e. Meniriskan (mengerus) ikan yang sudah bersih, supaya kering “tus” (kering

air)

Pengawetan ikan terdiri dari dua proses yaitu proses penggaraman dan proses pengeringan. Adapun tujuan utama dari penggaraman sama dengan tujuan proses pengawetan atau pengolahan lainnya, yaitu untuk memperpanjang daya tahan dan daya simpan ikan. Ikan yang mengalami proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat atau membunuh bakteri penyebab kebusukan pada ikan. (Edy, 2011).

(23)

sebagai media pengawet, baik yang berbentuk kristal maupun larutan. Selama proses penggaraman, terjadi penetrasi garam ke tubuh ikan dan keluarnya cairan dari tubuh ikan karena perbedaan konsentrasi. Selama proses penggaraman berlangsung terjadi penetrasi garam ke dalam tubuh ikan dan keluarnya cairan dari tubuh ikan karena adanya perbedaan konsentrasi. Cairan tersebut dengan cepat akan melarutkan kristal garam atau mengencerkan larutan garam. Bersamaan dengan keluarnya cairan dari dalam tubuh ikan, partikel garam pun masuk ke dalam tubuh ikan (Adawyah, 2008).

Menurut Edy (2011) pada dasarnya metode penggaraman ikan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :

1. Penggaraman Kering (Dry Salting)

Penggaraman kering dapat digunakan baik untuk ikan yang berukuran besar maupun kecil. Penggaraman ini menggunakan garam berbentuk kristal. Ikan yang akan diolah ditaburi garam lalu disusun secara berlapis-lapis. Setiap lapisan ikan diselingi lapisan garam. Selanjutnya lapisan garam akan menyerap keluar cairan di dalam tubuh ikan, sehingga kristal garam berubah menjadi larutan garam yang dapat merendam seluruh lapisan ikan.

2. Penggaraman Basah (Wet Salting)

(24)

3. Penggaraman Campuran (Kench Salting)

Penggaraman ikan dengan cara ini hampir serupa dengan penggaraman kering. Bedanya, metode ini tidak menggunakan bak kedap air. Ikan hanya ditumpuk dengan menggunakan keranjang. Untuk mencegah supaya ikan tidak dikerumuni oleh lalat, hendaknya seluruh permukaan ikan ditutup dengan lapisan garam.

Ikan yang telah mengalami proses penggaraman, sesuai dengan prinsip yang berlaku akan mempunyai daya simpan tinggi karena garam dapat berfungsi menghambat atau menghentikan reaksi autolisis dan membunuh bakteri yang terdapat di dalam tubuh ikan (Adawyah, 2008).

Untuk mendapatkan ikan asin yang bermutu baik harus digunakan garam murni, yaitu garam dengan kandungan NaCl cukup tinggi (95%) dan sedikit sekali mengandung elemen-elemen yang dapat menimbulkan kerusakan (Magnesium dan Calsium), seperti yang dijumpai pada garam rakyat. Ikan asin yang diolah dengan menggunakan garam murni memiliki daging berwarna putih kekuning-kuningan dan lunak. Jika dimasak, rasa ikan asin ini seperti ikan segar.

(Edy, 2011).

Pengeringan ikan sebagai salah satu cara pengawetan yang paling mudah, mudah dan merupakan cara pengawetan yang tertua. Dilihat dari segi penggunaan energi, pengeringan dengan sinar matahari dapat dianggap tidak memerlukan biaya sama sekali (Adawyah, 2008).

(25)

dapat berhenti. Dengan demikian, ikan dapat disimpan cukup lama sebagai bahan makanan ( Tim Penulis PS, 2008).

Pengeringan ikan ini umumnya disertai dengan penggaraman sehingga ikan kering itu terasa asin. Maksud dari penggaraman sebelum ikan dikeringkan yaitu untuk menyerap air dari permukaan ikan dan mengawetkannya sebelum tercapai tingkat kekeringan serta dapat menghambat aktivitas mikroorganisme selama proses pengeringan berlangsung. Batas kadar air yang diperlukan dalam tubuh ikan kira-kira 20-35% agar perkembangan mikroorganisme pembusuk bisa terhenti (Rahardi, 1998).

Apabila lingkungan tidak memenuhi syarat, maka produk ikan asin sering mengalami kerusakan selama dalam penyimpanan. Kualitas ikan dan kondisi ruang penyimpanan yang akan digunakan perlu diperhatikan. Tingkat kesegaran ikan sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri. Selain itu, cara penanganan, sanitasi, faktor biologis, temperatur lingkungan, alat pengangkutan ikan dan ruang penyimpanan harus mendapat perhatian pula karena dapat mempengaruhi mutu ikan asin yang dihasilkan (Adawyah, 2008).

(26)

B. Landasan Teori

Skala usaha dapat dilihat dari besarnya modal yang ditanamkan, kelengkapan sarana dan prasarana, sumber daya manusia serta jumlah produksi yang dihasilkan ( Daelami, 2001 ).

Skala usaha dalam suatu sistem usaha tani dapat dilihat dari biaya tetap, biaya variabel, total nilai penjualan, luas areal tanam dan jumlah satuan ternak. Perhitungan biaya setiap luasan areal tanam atau satuan ternak dapat dilakukan untuk melihat perbedaan efisiensi di antara petani yang mengusahakan komoditas serupa. Skala usaha juga dapat diukur dengan melihat luas areal yang diusahakan oleh petani atau satuan ternak yang dimiliki peternak. Dalam sistem usaha yang terintegrasi, kombinasi komponen usaha tani tersebut menentukan besarnya usaha ( Anonimus, 2011 ).

Skala usaha pengolahan ikan asin dibagi atas tiga bagian, yaitu skala usaha

kecil, skala usaha menengah dan skala usaha besar. Dikatakan skala usaha kecil

karena mengolah ikan dibawah 1000 kg ( < 1000 kg) per bulannya. Dikatakan

sebagai skala usaha menengah karena mengolah ikan sebanyak 1000 kg – 2000 kg

per bulannya, dan dikatakan skala usaha besar karena mengolah ikan lebih besar dari

2000 kg ( > 2000 kg) per bulannya.

(Dinas Kelautan dan Perikanan Tapanuli Tengah, 2011).

Biaya produksi merupakan semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut ( Sukirno, 2005).

(27)

masa produksi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang habis dalam satu kali produksi (Rahardi, 1998).

Dalam proses produksi terkandung hubungan antara tingkat penggunaan faktor-faktor produksi dengan produk atau hasil yang akan diperoleh. Hal ini disebut dengan hubungan antara input dan output. ( Suratiyah, 2009 ).

Biasanya hasil perhitungan angka koefisien Ec ( elastisitas biaya) adalah positif. Sebab hampir dapat dipastikan dalam skala produksi berapapun jika output mau diperbesar jumlahnya, maka jumlah biayanya makin bertambah besar. Dan hampir tidak mungkin bersifat negatif. Artinya jika produksi diperbesar tidak mungkin justru total biaya makin kecil. Hanya saja perhitungan biaya jika dihitung dengan biaya per unit, maka sangat bisa terjadi apabila produksi diperbesar jumlahnya akan menyebabkan biaya per unitnya lebih rendah dibandingkan dengan biaya per unit pada volume produksi sebelumnya.

( Muslich, 1997).

Hubungan di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya dinamakan fungsi produksi. Faktor-faktor produksi dapat dibedakan kepada empat golongan yaitu tenaga kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan. Di dalam teori ekonomi, di dalam menganalisis mengenai produksi, selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi yang belakangan dinyatakan ( tanah, modal, dan keahlian keusahawanan ) adalah tetap jumlahnya. Hanya tenaga kerja dipandang sebagai faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya ( Sukirno, 2005).

(28)

usahatani keluarga ( family farms ), khususnya tenaga kerja petani beserta keluarganya ( Suratiyah, 2009 ).

Fungsi produksi memperlihatkan hubungan yang terjadi antara berbagai input faktor produksi dan output perusahaan. Dengan teknologi tertentu, semakin banyak input pekerja dan modal yang digunakan semakin besar output yang dihasilkan (Sumarsono, 2009).

Tenaga kerja dalam hal petani merupakan faktor penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi komoditas pertanian.Tenaga kerja harus mempunyai kualitas berpikir yang maju seperti petani yang mampu mengadopsi iniovasi-inovasi baru, terutama dalam menggunakan teknologi untuk pencapaian komoditas yang bagus sehingga nilai jual tinggi. Penggunaan tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja adalah besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai (Rahim, 2008).

Jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan besarnya skala usaha yang akan dijalankan. Biasanya tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap. Tenaga kerja tetap sehari-hari mengelola dan setiap saat berada di lokasi. Selebihnya pekerjaan yang sifatnya temporer, dikerjakan oleh tenaga kerja tidak tetap atau buruh harian yang upahnya dihitung per hari (Daelami, 2001).

Pengaruh tenaga kerja terhadap produksi tidak sama pada setiap cabang produksi juga dalam satu cabang produksi itu sendiri. Keadaan itu bergantung pada usaha produksi apakah ia padat karya ( labor intensive ) atau padat modal (capital intensive) ( Daniel, 2004 ).

(29)

Kerja Pria) baik yang berasal dari dalam keluarga maupun dari luar keluarga, besarnya curahan tenaga kerja ini dihitung dalam konversi :

1. Tenaga Kerja Pria berumur > 15 tahun = 1 HKP 2. Tenaga Kerja Wanita berumur > 15 tahun = 0,8 HKP 3. Tenaga Kerja Anak-anak berumur 10 – 15 tahun = 0,5 HKP (Daniel, 2002).

Perusahaan mempekerjakan seseorang karena seseorang itu membantu memproduksi barang dan jasa untuk dijual kepada masyarakat konsumen. Pertambahan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja, tergantung dari pertambahan permintaan masyarakat terhadap barang yang diproduksinya.

(Sumarsono, 2009).

Menurut Hayami (1987) dalam Buletin Ekonomi Perikanan, nilai tambah adalah pertambahan nilai yang terjadi karena suatu komoditi mengalami suatu pengolahan, pengangkutan, dan penyimpanan dalam suatu proses produksi (penggunaan / pemberian input fungsional).

C. Kerangka Pemikiran

(30)

Proses produksi ikan asin dibagi ke dalam 3 strata skala usaha, yaitu skala usaha kecil, skala usaha menengah, dan skala usaha besar. Besarnya skala usaha ini di lihat dari banyaknya jumlah bahan baku yang diolah menjadi ikan asin.

Dalam proses produksi ikan asin tidak lepas dari biaya produksi. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha adalah biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, biaya tenaga kerja, biaya transportasi, dan biaya penyusutan alat dan biaya air. Besarnya total biaya produksi yang dikeluarkan ketika memproduksi ikan asin tergantung dari besarnya skala usaha pengolahan ikan asin.

Dalam pengolahan ikan asin, membutuhkan curahan tenaga kerja yang berbeda dalam setiap skala usaha. Hal itu dapat diketahui, yaitu semakin besar skala usaha pengolahan, maka semakin banyak tenaga kerja yang digunakan.

(31)

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran

D. Hipotesis Penelitian

1. Ada pengaruh besarnya skala usaha terhadap total biaya produksi usahatani pengolahan ikan asin per kilogram.

2. Ada pengaruh besarnya skala usaha terhadap jumlah curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin.

3. Ada perbedaan nilai tambah (value added) yang diperoleh dari usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan besarnya skala usaha per kilogram.

4. Ada pengaruh besarnya skala usaha terhadap pendapatan usahatani pengolahan ikan asin per kilogram.

Pengolahan Ikan Asin

Skala Usaha Menengah Skala Usaha

Kecil

Skala Usaha Besar

- Total Biaya Produksi - Curahan

Tenaga Kerja

- Total Biaya Produksi - Curahan

Tenaga Kerja

- Total Biaya Produksi - Curahan

Tenaga Kerja

Nilai Tambah Nilai Tambah Nilai Tambah

(32)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian dipilih secara purposive yaitu di desa Hajoran, Kecamatan Pandan dengan pertimbangan bahwa daerah penelitian memiliki produksi ikan asin yang cukup besar dan merupakan daerah penghasil ikan terbesar yang berasal dari daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 Kecamatan Penghasil Ikan Asin di Kabupaten Tapanuli Tengah

No Kecamatan Jumlah ikan yang diolah

(Kg/Bulan)

1 Kecamatan Pandan 2.550 kg/bulan

2 Kecamatan Sarudik 1.382 kg/bulan

3 Kecamatan Tapian Nauli 1.412 kg/bulan

4 Kecamatan Sorkan 1.447 kg/bulan

5 Kecamatan Barus 1.502 kg/bulan

6 Kecamatan Andam Dewi 150 kg/bulan

Tabel 3.2 Desa Penghasil Ikan Asin di Kecamatan Pandan

No Desa Jumlah ikan yang diolah

(Kg/Bulan)

1 Desa Hajoran 1.750 kg/bulan

2 Kelurahan Pandan 500 kg/bulan 3 Kelurahan Lubuk Tukko 250 kg/bulan

(33)

3.2 Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha yang mengolah ikan asin bukan nelayan. Populasi dikelompokkan ke dalam 3 strata berdasarkan jumlah bahan baku yang diolah (ikan segar) sehingga dihasilkan ikan asin dalam waktu satu bulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden, dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan lebih dahulu. Data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait seperti Kantor Kepala Desa, Dinas Perikanan dan Kelautan, dan buku-buku pendukung pendukung penelitian ini

3.4 Metode Analisis Data

(34)

Untuk menghitung jumlah kuadrat antar kelompok (SSb) dapat menggunakan rumus :

Keterangan :

T : Total X masing-masing kelompok G : Total X keseluruhan

n : Jumlah sampel masing-masing kelompok N : Jumlah sampel keseluruhan

Untuk menghitung jumlah kuadrat antar kelompok (SSw) dapat menggunakan rumus :

Keterangan :

SSmk : Jumlah kuadrat simpangan masing-masing kelompok

Untuk menghitung jumlah kuadrat total dapat dengan rumus di bawah ini.

Apabila SSb dan SSw telah diketahui besarnya, maka SSt dapat dihitung dengan :

(35)

Untuk menghitung derajat kebebasan dapat dihitung dengan rumus di bawah ini :

Keterangan :

MSb : deviasi rata-rata kuadrat antar kelompok MSW : deviasi rata-rata kuadrat dalam kelompok SSb : Variabilitas antar kelompok

SSw : Variabilitas dalam kelompok dk SSb : Derajat kebebasan untuk SSb dk SSw : Derajat kebebasan untuk SSw dk SSt : Derajat kebebasan untuk SSt

n : Jumlah sampel masing-masing kelompok k : Banyaknya kelompok

Sehingga untuk menghitung F hitung dapat menggunakan rumus di bawah ini :

Dimana :

(36)

Kriteria Uji Fisher (Uji F) satu arah dengan tingkat kepercayaan 95% adalah : F Hitung ≤ F Tabel, maka H0 diterima

F Hitung ≥ F Tabel, maka H1 diterima

Untuk hipotesis II mengenai curahan tenaga kerja digunakan dengan analisis deskriptif dengan melihat pembagian tenaga kerja yang digunakan dalam usaha ini dan dianalisis dengan menggunakan one way anova.

Untuk hipotesis III mengenai nilai tambah (value added) dianalisis dengan menggunakan one way anova dan juga menggunakan rumus sebagai berikut :

NT = NP – ( NBB + NBP ) Dimana :

NT : Nilai Tambah (Rp/Kg)

NP : Nilai Produksi Hasil olahan (Rp/Kg) NBB : Nilai Bahan Baku (Rp/Kg)

NBP : Nilai Bahan Penunjang yang digunakan dalam proses produksi (Rp/Kg) Jika :

NP > NBB + NBP, artinya nilai tambah tinggi NP < NBB + NBP, artinya nilai tambah rendah (Suryana, 1990)

(37)

Pd = TR – TC Keterangan :

Pd : Pendapatan (Rp)

TR : Total Revenue / Total Penerimaan (Rp) TC : Total Cost / Total Biaya (Rp)

3.5 Defenisi dan Batasan Operasional 3.6.1 Defenisi

a. Pengolahan ikan asin adalah proses pengolahan dari ikan segar menjadi ikan olahan melalui proses pengasinan.

b. Skala usaha adalah besarnya usaha pengolahan dilihat dari banyaknya jumlah bahan baku yang diolah menjadi ikan asin.

c. Biaya produksi merupakan semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang akan diproduksikan perusahaan tersebut.

d. Biaya total adalah keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan. e. Curahan tenaga kerja adalah besarnya tenaga kerja efektif yang

dipakai.

(38)

g. Pendapatan adalah besarnya penerimaan bersih yang diterima petani dalam usahatani pengolahan ikan asin.

3.6.2 Batasan Operasional

a. Daerah penelitian adalah Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah.

b. Waktu penelitian adalah pada tahun 2013

c. Ikan yang diteliti adalah ikan laut yang diolah menjadi ikan asin.

(39)

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK

PENGUSAHA SAMPEL

4.1 Deskripsi Desa Hajoran, Kecamatan Pandan A. Kondisi Geografis

1. Letak dan Luas Desa

Desa Hajoran terletak di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Secara administrasi Desa Hajoran mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

─ Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kalangan

─ Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Aek Horsik

─ Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sipange

─ Sebelah Barat berbatasan dengan Laut / Samudera

Desa Hajoran berada pada ketinggian antara 0-800 m di atas permukaan laut, dan terletak di jalur lintas antara Kecamatan Sarudik dan Kecamatan Badiri. Desa Hajoran ini berjarak 6 km dari kantor Camat Pandan.

Desa Hajoran memiliki luas wilayah 6,24 km², dan terdiri dari 6 Dusun, dengan perincian sebagai berikut :

1. Dusun I Muaranibung Mudik 2. Dusun II Muaranibung Hilir 3. Dusun III Hajoran

(40)

2. Penggunaan Lahan

Sebahagian besar lahan yang ada di Desa Hajoran dimanfaatkan oleh penduduk untuk pemukiman. Secara rinci pemanfaatan lahan di Desa Hajoran dapat dilihat pada Tabel IV.1 berikut :

Tabel IV.1 Distribusi penggunaan Lahan di Desa Hajoran No Jenis Penggunaan Lahan Persentase

1 Perumahan/Pemukiman 76,740 %

2 Kolam/Perebusan/Perikanan 16,868 %

3 Ladang/Perkebunan 1,250 %

4 Sawah/Pertanian 2,425 %

5 Perkantoran/Sarana Sosial

a. Kantor Desa 0,003 %

b. Puskesmas Pembantu 0,004 %

c. 2 unit Mesjid 0,030 %

d. 3 unit Musholla 0,020 %

e. 1 unit Gereja 0,010 %

f. 2 unit Gedung SD 0,050 %

g. 4 unit PAUD/TK 0,035 %

h. 2 unit MDA 0,030 %

i. Pasar Desa 0,030 %

j. Jalan Umum/Jalan Desa 2,082 %

k. Saluran Irigasi 0,423 %

Total 100 %

Sumber : Kantor Desa Hajoran, 2012

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari segi sarana pendidikan tersedia di desa ini yaitu SD dan PAUD/TK, dari sarana ibadah dapat dilihat tersedianya tempat beribadah untuk masyarakat, dari segi sarana kesehatan hanya tersedia puskesmas pembantu di desa tersebut.

B. Kondisi Demografis 1. Jumlah Penduduk

(41)

Dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), Desa Hajoran dihuni oleh 1532 kepala keluarga.

2. Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk Desa Hajoran berdasarkan jenis kelamin terlihat pada Tabel IV.2 berikut :

Tabel IV.2 Komposisi Penduduk Desa Hajoran Berdasarkan Jenis Kelamin

No Nama Dusun Laki-laki Perempuan Total

1 Dusun I Muaranibung Mudik 535 524 1059

2 Dusun II Muaranibung Hilir 752 736 1488

3 Dusun III Hajoran 761 746 1507

4 Dusun IV Bugis 531 521 1052

5 Dusun V Batulobang 572 556 1128

6 Dusun VI Aek Garut 410 402 812

Total 3561 3485 7046

Sumber : Kantor Desa Hajoran,2011 3. Kondisi Sosial Ekonomi

Desa Hajoran merupakan Desa Perikanan. Maka oleh karena itu hasil ekonomi warga dan mata pencaharian warga sebahagian besar adalah nelayan. Selebihnya adalah PNS, TNI/Polri, Pedagang, dan lain-lain.

4. Kondisi Sosial Budaya

Kehidupan sosial budaya Desa Hajoran masih tetap dilakukan, yaitu setiap warga masyarakat hampir selalu melakukan upacara adat yang berhubungan dengan siklus hidup manusia seperti adat kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian. Selain itu, tradisi sedekah bumi, bersih desa, dan semacamnya juga masih dilakukan setiap tahun

5. Sarana dan Prasarana

(42)

jalan raya/umum (jalan Provinsi). Jenis jalan yang ada di Desa Hajoran adalah jalan aspal dan jalan bebatuan, yang dimana kondisi kedua jenis jalan tersebut cukup baik.

Sarana transportasi yang paling sering digunakan warga masyarakat adalah sarana transportasi umum seperti angkutan kota (angkot), angkutan desa (angdes) bus, dan lain-lain.

Jaringan listrik dari PLN sudah tersedia di Desa Hajoran ini, sehingga hampir semua rumah tangga menggunakan tenaga listrik untuk memenuhi keperluan penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

4.2 Karakteristik Petani Sampel

Karakteristik petani sampel dalam penelitian meliputi besarnya skala usaha, umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dan pengalaman bertani. Hal itu dapat dilihat pada tabel IV.3 berikut :

Tabel IV.3 Karakteristik Pengusaha Sampel di Desa Hajoran

URAIAN Satuan Rentang

Umur Tahun 29 - 65

Pengalaman Mengolah Ikan

Asin Tahun 0,3 - 38

Jumlah Tanggungan Orang 1 - 11

Produksi Kg 200 - 15.000

Sumber : Analisis Data Primer ( Lampiran 1)

(43)

Pengalaman dalam mengolah ikan asin yaitu antara 3 bulan sampai 11 tahun. Hal ini berarti ada pengusaha yang baru mulai mengolah ikan. Ini menunjukkan masih ada sebagian pengusaha yang memiliki pengalaman yang sedikit dalam mengelola usahatani pengolahan ikan asin.

Jumlah tanggungan keluarga berkisar antara 1 – 11 orang. Hal ini menunjukkan ada pengusaha yang hanya membiaya 1 orang anggota keluarga dan ada juga pengusaha yang membiayai sampai dengan 11 orang anggota keluarga. Hal ini menunjukkkan jumlah tanggungan responden cukup bervariasi.

(44)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pengaruh Skala Usaha Terhadap Total Biaya Produksi Usahatani Pengolahan Ikan Asin

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha selama proses produksi untuk menghasilkan suatu output. Skala usaha yang diteliti dalam penelitian ini adalah skala usaha yang pembagiannya berdasarkan banyaknya ikan yang diolah dalam jangka waktu satu bulan. Dalam penelitian ini skala usaha dibagi menjadi tiga bagian, yaitu skala usaha kecil, skala usaha menengah, dan skala usaha besar.

Komponen-komponen biaya produksi yang dikeluarkan untuk usahatani pengolahan ikan asin ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan, biaya transpotasi, biaya pengemasan, dan biaya pembelian minyak tanah.

A. Biaya Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan segar. Jenis ikan yang diolah menjadi ikan asin umumnya ikan yang diperoleh dari tempat penjualan ikan (Tangkahan) seperti ikan Balatuaceh, ikan Buncilak, ikan Maning, ikan Budu, ikan Selar, ikan Teri dan lain-lain. Bahan baku ikan yang diolah oleh pengolah ikan asin ada yang terdiri dari satu jenis ikan saja, namun ada pengolah ikan asin yang mengolah lebih dari satu jenis ikan.

(45)

Semakin banyak ikan yang ada di Tangkahan maka semakin banyak ikan yang akan diolah menjadi ikan asin.

Jumlah bahan baku yang diolah berdasarkan besarnya skala usaha dapat dilihat pada tabel V.1 :

Tabel V.1. Jumlah Bahan Baku yang Diolah dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

Nomor Sampel

Skala Usaha Kecil

Nomor Sampel

Skala Usaha Menengah

Nomor Sampel

Skala Usaha Besar

1 750 Kg 1 2.000 Kg 1 10.000 Kg

2 700 Kg 2 2.000 Kg 2 7.000 Kg

3 500 Kg 3 2.000 Kg 3 10.000 Kg

4 200 Kg 4 2.000 Kg 4 15.000 Kg

5 1.000 Kg 5 2.000 Kg 5 7.000 Kg

6 1.000 Kg 6 2.000 Kg 6 6.000 Kg

7 1.000 Kg 7 1.500 Kg 7 2.400 Kg

8 800 Kg 8 1.500 Kg 8 5.000 Kg

9 1.000 Kg 9 1.500 Kg 9 3.000 Kg

10 1.000 Kg 10 2.000 Kg 10 5.000 Kg

Rataan 795 Kg Rataan 1.850 Kg Rataan 7.040 Kg Sumber : Analisis Data Primer ( Lampiran 1)

(46)

Tabel V.2. Biaya Bahan Baku dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan Nomor

Sampel

Skala Usaha Kecil

Nomor Sampel

Skala Usaha Menengah

Nomor Sampel

Skala Usaha Besar 1 7.500.000 1 15.200.000 1 86.500.000 2 6.515.000 2 21.100.000 2 51.950.000

3 6.700.000 3 20.000.000 3 96.000.000

4 2.000.000 4 16.250.000 4 153.750.000

5 10.600.000 5 19.250.000 5 71.750.000

6 10.150.000 6 21.100.000 6 38.000.000

7 7.950.000 7 11.500.000 7 24.000.000

8 8.200.000 8 8.250.000 8 40.750.000

9 10.000.000 9 14.300.000 9 28.500.000

10 9.300.000 10 20.250.000 10 32.500.000 Rataan 7.891.500 Rataan 16.720.000 Rataan 62.370.000 Sumber : Analisis data primer (Lampiran 3)

Dari tabel V.2 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya bahan baku terbesar berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan terdapat pada skala usaha besar yaitu sebesar Rp. 62.370.000 diikuti dengan skala usaha menengah sebesar Rp. 16.720.000 dan kemudian diikuti oleh skala usaha kecil sebesar Rp. 7.891.500.

B. Biaya Bahan Pembantu

Proses pengolahan ikan asin di daerah penelitian masih bersifat tradisional. Hal ini dapat dilihat dari bahan pembantu yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin di daerah penelitian. Bahan pembantu yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin adalah garam. Tujuan pemakaian garam adalah agar ikan menjadi lebih awet dan tahan disimpan untuk beberapa waktu, selain itu dengan adanya garam ikan yang diolah menjadi asin sehingga disebut ikan asin.

(47)

Tabel V.3. Jumlah Bahan Pembantu (Garam) yang Digunakan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

Skala

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 4)

(48)

jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha besar yaitu sebanyak 24,5 sak lalu diikuti oleh skala usaha menengah sebanyak 13,1 sak dan skala usaha kecil sebanyak 4,5 sak.

Banyaknya garam yang dipakai dalam usahatani pengolahan ikan asin bervariasi. Semakin besar skala usaha pengolahan ikan asin, maka semakin banyak garam yang akan digunakan. Selain semakin besar skala usaha, pemakaian garam juga tergantung dari jenis ikan yang akan diolah. Penggunaan garam pertama kali adalah pada saat ikan yang telah dibeli dari tangkahan sampai di tempat pengolahan. Kemudian penggaraman yang selanjutnya adalah pada saat perebusan.

Garam yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin di daerah penelitian dapat dibeli dari toko atau grosir yang ada di daerah penelitian. Umumnya semua pemilik usahatani pengolahan ikan asin membeli garam tersebut pada toko yang ada di daerah penelitian. Harga beli dari garam bervariasi sekitar Rp 55.000 – Rp 70.000 per sak nya.

(49)

Tabel V.4. Biaya Bahan Pembantu (Garam) dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

(50)

C. Biaya Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin ini berasal dari tenaga kerja dalam keluarga dan dari luar keluarga. Banyaknya tenaga kerja yang digunakan tergantung dari jumlah ikan yang diolah. Pemakaian tenaga kerja dalam usahatani pengolahan ikan asin terbagi atas tujuh jenis pekerjaan yaitu : pembelian, pemilihan, pembelahan, penggaraman, perebusan, penjemuran dan pengemasan (pengotakan).

Untuk tenaga kerja dalam pembelian bahan baku tidak diikutsertakan dalam biaya tenaga kerja. Karena pembelian bahan baku dikerjakan oleh pemilik usaha dan hanya mengeluarkan biaya untuk transportasi. Jadi biaya untuk pembelian bahan baku dimasukkan dalam biaya transportasi.

Pemakaian tenaga kerja ini disesuaikan dengan jenis ikan yang akan diolah. Karena ada jenis ikan ketika dalam proses pengolahan memerlukan pemilihan dulu, bahkan ada jenis ikan yang harus memerlukan pembelahan baru kemudian diolah menjadi ikan asin. Dan ada juga jenis ikan yang tidak perlu dibelah terlebih dahulu tetapi langsung direbus sebelum dijemur.

(51)

penggaraman, perebusan, bahkan sampai penjemuran dihitung dalam satu bagian. Jadi untuk perhitungannya bila ada tenaga kerja yang mengerjakan dua jenis pekerjaan itu juga termasuk dalam satu bagian. Jadi tenaga kerja tersebut mengolah ikan dari mulai membelah ikan sampai ikan selesai dijemur. Upah untuk tenaga kerjanya berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 55.000 per keranjang. Sedangkan untuk pengemasan ada yang tidak memakai tenaga kerja dan ada juga yang memerlukan tenaga kerja dan sistem upah yang digunakan adalah dihitung perkotak. Upah untuk pengemasan ini berkisar antara Rp. 4.000 – Rp. 5.000 per kotaknya.

(52)

Tabel V.5. Biaya Tenaga Kerja dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan Skala

(53)

D. Biaya Penyusutan

Alat-alat yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin adalah : 1. Pelantaran yaitu rak penjemuran dengan rak-rak berbentuk persegi

panjang dan di atas pelantaran inilah akan diletakkan rinti.

2. Rinti, yang terbagi dalam dua jenis yaitu rinti panjang dan rinti pendek. Rinti ini berbentuk tikar yang terbuat dari anyaman bambu atau pelepah daun rumbia. Rinti inilah yang diletakkan di atas pelantaran sebagai tempat ikan untuk diletakkan ketika dijemur.

3. Plastik penutup digunakan untuk menutup ikan pada saat hujan turun atau saat malam hari. Tujuannya agar ikan tidak basah baik itu saat hujan atau pada saat malam hari sehingga ikan tidak menjadi busuk. 4. Kanca adalah wadah aluminium yang kedap air dan berbentuk tabung.

Kanca ini digunakan untuk merebus ikan sebelum ikan dikeringkan / dijemur.

5. Serok dan tangguk digunakan untuk mengaduk ikan yang direbus dalam kanca. Serok dan tangguk ini juga digunakan untuk menggangkat ikan dari kanca ke atas rinti untuk kemudian dijemur.

6. Petak terbuat dari kayu berbentuk persegi yang kegunaannya sama dengan rinti yaitu tempat untuk menjemur ikan. Walaupun sebenarnya petak ini lumayan jarang dipakai.

7. Pisau digunakan untuk membelah ikan.

8. Talenan kayu digunakan sebagai alas ketika ikan dibelah.

(54)

10.Timbangan. Timbangan ini terdiri dari tiga jenis seperti timbangan duduk, timbangan gantung, dan timbangan kecil. Timbangan ini digunakan untuk menimbang ikan asin yang sudah dikemas dalam kardus untuk siap dipasarkan.

11.Plongki terbuat dari anyaman bambu yang bentuknya seperti sekop. Plongki ini digunakan khusus hanya untuk ikan teri.

12.Jaring digunakan sebagai alas untuk tempat menjemur ikan teri. Jaring ini diletakkan di atas rinti. Jaring ini digunakan untuk mempermudah dalam penjemuran dan pengumpulan ikan teri setelah ikan ini kering. 13.Kayu api digunakan untuk memasak.

Setiap peralatan yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin memiliki jangka waktu (daya tahan). Daya tahan dari peralatan yang digunakan oleh pemiliki usahatani pengolahan ikan asin ini terhitung berapa lama pemakaian alat-alat tersebut hingga saat ini. Hal ini yang menyebabkan bervariasinya daya tahan setiap peralatan yang digunakan.

Rumus untuk biaya penyusutan adalah :

(55)

Tabel V.6. Biaya Penyusutan dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan Nomor

(56)

E. Biaya Transportasi

Umumnya pemilik usaha pengolahan ikan asin membeli bahan baku ke tangkahan (tempat penjualan ikan). Pemilik usaha pengolahan ikan asin menggunakan angkutan umum dan kemudian menggunakan becak. Waktu yang ditempuh untuk pembelian bahan baku untuk ikan asin adalah kurang lebih 30 menit – 45 menit. Untuk membawa bahan baku yang telah dibeli maka pemilik usaha menggunakan becak barang, dengan biaya antara Rp 15.000 - Rp. 30.000 per keranjang ikan.

Selain ongkos becak bahan baku, ada juga biaya angkut ikan (bahan baku) di tangkahan. Biaya angkut ini ada dua jenis. Biaya angkut yang pertama adalah biaya mengangkat ikan dari tempat pembelian ke becak barang yang akan mengangkut ikan ke tempat pengolahan. Biaya yang dikenakan adalah Rp.4000 per keranjang. Dan biaya angkut yang kedua yaitu setelah ikan (bahan baku) sampai di tempat pemilik ikan asin, ada juga dikeluarkan biaya angkut dari atas becak barang ke tempat pengolahan ikan asin. Biaya yang dikenakan adalah Rp.3000 per keranjang.

(57)
(58)

F. Biaya Pengemasan

Biaya pengemasan yang dimaksudkan di sini adalah biaya pembelian kotak yang nantinya akan sebagai tempat ikan asin dikemas sebelum dijual kepada pembeli, tari rafia yang digunakan untuk mengikat karton yang berisi tumpukan ikan asin. Kotak yang digunakan dalam pengemasan ikan asin terdiri atas tiga jenis ukuran, yaitu ukuran kecil, sedang dan besar. Biaya tenaga kerja untuk pengemasan ini tidak dimasukkan ke dalam biaya pengemasan. Karena upah tenaga kerja dalam pengemasan ini sudah dimasukkan dalam biaya tenaga kerja di atas.

(59)
(60)

G. Biaya Pembelian Minyak Tanah

Biaya pembelian minyak tanah ini adalah untuk menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli minyak tanah yang digunakan untuk merebus ikan sebelum ikan dijemur. Pembelian minyak tanah tidak termasuk ke dalam bahan pembantu karena tidak semua jenis ikan yang diolah menjadi ikan asin harus dimasak (rebus) terlebih dahulu. Selain itu yang dimaksud dengan bahan pembantu adalah bahan tambahan yang dipakai langsung dalam proses pengolahan. Hal inilah yang membuat minyak tanah tidak termasuk ke dalam bahan pembantu.

(61)

Tabel V.9. Biaya Pembelian Minyak Tanah dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

Skala Usaha

No.

Sampel Bahan Baku (Kg) Biaya Pembelian Minah

(62)

H. Total Biaya Produksi

Total biaya produksi merupakan penjumlahan dari semua biaya yang dikeluarkan mulai dari biaya bahan baku sampai biaya pembelian minyah tanah.

Dari tabel V.10 dapat dilihat bahwa rataan total biaya produksi tertinggi berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha besar yaitu sebesar Rp. 71.670.838,674 lalu diikuti dengan skala usaha menengah sebesar Rp. 20.058.697,127 dan skala usaha kecil sebesar Rp. 9.526.363,892.

(63)
(64)

Pemakaian analisis data dengan one way anova bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan nyata di antara ketiga skala usaha terhadap total biaya produksi, curahan tenaga kerja, nilai tambah dan pendapatan usahani pengolahan ikan asin.

Berdasarkan analisis data dengan one way anova maka digunakan hipotesis sebagai berikut :

H0 : Tidak ada pengaruh skala usaha terhadap jumlah biaya produksi usahatani pengolahan ikan asin

H1 : Ada pengaruh skala usaha terhadap jumlah biaya produksi usahatani pengolahan ikan asin

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh F hitung > dari F tabel yaitu 4,878 > 3,35, maka H1 diterima (Lampiran 20)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh skala usaha terhadap jumlah biaya produksi usahatani pengolahan ikan asin.

2. Pengaruh Skala Usaha Terhadap Curahan Tenaga Kerja Usahatani Pengolahan Ikan Asin

(65)

berdasarkan besarnya skala usaha dalam usahatani pengolahan ikan asin dapat dilihat pada tabel V.11 berikut:

Tabel V.11. Total Pemakaian Tenaga Kerja Dalam Keluarga dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

Skala Usaha No. Sampel Bahan Baku (Kg) TOTAL TKDK

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 15)

(66)

hampir pada semua jenis pekerjaan yang telah disebutkan di atas. Total pemakaian tenaga kerja luar keluarga berdasarkan besarnya skala usaha dalam usahatani pengolahan ikan asin dapat dilihat pada tabel V.12 berikut:

Tabel V.12. Total Pemakaian Tenaga Kerja Luar Keluarga dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

(67)

Curahan tenaga kerja dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan dapat dilihat pada tabel V.13.

Tabel V.13. Curahan Tenaga Kerja dalam Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

Skala

(68)

Dari tabel V.13 dapat dilihat bahwa rataan curahan tenaga kerja berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha besar yaitu sebesar 45,22 lalu skala usaha menengah sebesar 45,7 dan skala usaha kecil sebesar 45,7.

Berdasarkan analisis data dengan one way anova maka digunakan hipotesis sebagai berikut :

H0 : Tidak ada pengaruh skala usaha terhadap curahan tenaga kerja usahatani pengolahan ikan asin.

H1 : Ada pengaruh skala usaha terhadap curahan tenaga kerja usahatani pengolahan ikan asin.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh F hitung < dari F tabel yaitu 2,097 < 3,35, maka H0 diterima (lampiran 21).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh skala usaha terhadap curahan tenaga kerja usahatani pengolahan ikan asin.

(69)

3. Perbedaan Nilai Tambah (Value Added) Usahatani Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha

Pengolahan ikan segar menjadi ikan olahan seperti ikan asin memiliki berbagai keuntungan antara lain tidak bukan untuk memperpanjang daya awet ikan dan mencegah proses pembusukan pada ikan terutama pada saat produksi melimpah, meningkatkan jangkauan pemasaran ikan karena didukung dengan daya tahan ikan asin, adanya perubahan dari segi rasa dan tekstur ikan yang disukai oleh pembeli, serta nilai jual ikan yang semakin meningkat.

Nilai tambah adalah nilai produk olahan dikurangi dengan nilai bahan baku dan nilai bahan pembantu. Nilai tambah merupakan pertambahan nilai suatu komoditi akibat adanya suatu perlakuan tertentu pada komoditi. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah adalah melalui proses pengolahan.

(70)

Tabel V.14. Rataan Nilai Tambah (Value Added) dalam Usahatani

Pengolahan Ikan Asin Berdasarkan Skala Usaha dalam Jangka Waktu Satu Bulan

(71)

Dari tabel V.14 dapat dilihat bahwa rataan nilai tambah tertinggi berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha besar yaitu Rp. 48.559.600 diikuti dengan skala usaha menengah Rp. 14.084.200 dan skala usaha kecil Rp. 6.343.800.

Dari tabel V.14 dapat dilihat bahwa rataan nilai tambah tertinggi yang diperoleh petani per kilogram berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil yaitu Rp. 11.443 diikuti dengan skala usaha menengah Rp. 10.747 dan skala usaha besar Rp. 10.454

Berdasarkan analisis data dengan one way anova maka digunakan hipotesis sebagai berikut :

H0 : Tidak ada perbedaan nilai tambah yang diperoleh dalam usahatani pengolahan ikan asin per kilogram.

H1 : Ada perbedaan nilai tambah yang diperoleh dalam usahatani pengolahan ikan asin per kilogram.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh F hitung < dari F tabel yaitu 0,249 < 3,35, maka H0 diterima (lampiran 22).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan nilai tambah yang diperoleh dalam usahatani pengolahan ikan asin.

4. Pengaruh Skala Usaha Terhadap Pendapatan Usahatani Pengolahan Ikan Asin

(72)

Rendemen ikan asin merupakan hal yang harus diperhatikan pengusaha, karena tinggi atau rendahnya rendemen mempengaruhi penerimaan yang akan diterima oleh pengusaha. Perbedaan rendemen ikan asin dipengaruhi oleh tingkat kekeringan ikan dan jumlah penggunaan bahan pembantu (garam).

Di daerah penelitian usahatani pengolahan ikan asin, harga jual dari ikan asin tersebut ditentukan oleh si penjual yaitu si pengusaha. Harga yang diberikan itu tergantung dari kualitas dari ikan asin yang dihasilkan, hal itu bisa di lihat dari kondisi ikan asin yang hendak dijual. Harga yang dikenakan oleh pengusaha berbeda tergantung dari jenis ikan yang diolah.

Pendapatan usahatani pengolahan ikan asin dapat diketahui dari besarnya penerimaan usahatani pengolahan ikan asin dikurangi dengan seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses pengolahan ikan asin. Pendapatan bersih yang diperoleh oleh petani diketahui dari besarnya penerimaan usahatani pengolahan ikan asin dikurangi dengan seluruh biaya usahatani ditambah dengan biaya tenaga kerja dalam keluarga. Besarnya pendapatan yang diperoleh dalam usahatani pengolahan ikan asin tergantung dari banyaknya jumlah ikan yang diolah dan harga jual dari ikan asin tersebut.

(73)
(74)

Dari tabel V.15 dapat dilihat bahwa rataan pendapatan tertinggi yang diperoleh petani berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha besar yaitu Rp. 44.344.661 diikuti dengan skala usaha menengah Rp. 12.742.303 dan skala usaha kecil Rp. 5.565.136.

Dari tabel V.15 dapat dilihat bahwa rataan pendapatan tertinggi yang diperoleh petani perkilogram berdasarkan skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah skala usaha kecil yaitu Rp. 9.868 diikuti dengan skala usaha menengah Rp. 9.720 dan skala usaha besar Rp. 9.616.

Berdasarkan analisis data dengan one way anova maka digunakan hipotesis sebagai berikut :

H0 : Tidak ada pengaruh besarnya skala usaha pada pendapatan perkilogram yang diterima dalam usahatani pengolahan ikan asin.

H1 : Ada pengaruh besarnya skala usaha pada pendapatan perkilogram dalam usahatani pengolahan ikan asin.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh F hitung < dari F tabel yaitu 0,018 < 3,35 maka H0 diterima (lampiran 23).

(75)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Total biaya produksi pengolahan ikan asin per kilogram pada skala usaha kecil sebesar Rp. 12.378,626/bulan, skala usaha menengah sebesar Rp. 10.732,693/bulan dan skala usaha besar yaitu sebesar Rp. 10.038,329/bulan.

Berdasarkan analisis anova untuk melihat pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi dalam usahatani pengolahan ikan asin didapati bahwa ada pengaruh skala usaha terhadap total biaya produksi usahatani pengolahan ikan asin per kilogram.

2. Rataan curahan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani pengolahan ikan asin berdasarkan besarnya skala usaha dalam jangka waktu satu bulan adalah pada skala usaha kecil sebesar 45,7 lalu skala usaha menengah sebesar 45,7 dan skala usaha besar yaitu sebesar 45,22. Berdasarkan analisis anova untuk melihat pengaruh skala usaha terhadap curahan tenaga kerja dalam usahatani pengolahan ikan asin didapati bahwa tidak ada pengaruh skala usaha terhadap curahan tenaga kerja usahatani pengolahan ikan asin

Gambar

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran
Tabel 3.1 Kecamatan Penghasil Ikan Asin di Kabupaten Tapanuli Tengah
Tabel IV.1 Distribusi penggunaan Lahan di Desa Hajoran
Tabel IV.2 Komposisi Penduduk Desa Hajoran Berdasarkan Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

1 penyediaan jasa surat menyurat 1

Nilai ini merupakan kelengkapan usulan penilaian dan penetapan angka kredit yang bersangkutan dalam rangka kenaikan jabatan fungsional/ pangkat. Yogyakarta,

• How to sustain: link with UN, financial organizations, development organizations.. Programme at

PENGARUH PEMBERIAN INSENTIF, PENGALAMAN KERJA, DAN SEMANGAT KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (Studi Kasus Pada Karyawan Bagian Produksi PT. Trijaya..

Data pendukung yang perlu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perancangan pembuatan detektor ini adalah penelitian terdahulu yang relevan serta mencakup

The diameter of the sun is more than one hundred times the diameter of the earth, and its volume is more than one million times the volume of the earth.. It looks much (35)___

• Keluarga Besar Perpustakaan IAIN Sunan Ampel Surabaya yang memberikan kesempatan pada penulis untuk melakukan praktek kerja lapangan, Pak Abu, Bu Nurul Fitriyah, Bu Rini,

“Bentuk pelayanan prima yang kita berikan kepada wakif seperti lembaga kita menerima jemput ZISWAF di rumah si wakif jadi pewakif tidak perlu repot-repot dateng