ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI IMPOR
INDONESIA
RESTI PRASTIKA DESTIARNI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Permintaan Daging Sapi Impor Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2016
Resti Prastika Destiarni
NIM H351140151
RINGKASAN
RESTI PRASTIKA DESTIARNI. Analisis Permintaan Daging Sapi Impor Indonesia. Dibimbing oleh SUHARNO dan NETTI TINAPRILLA.
Daging sapi merupakan komoditas yang diyakini permintaannya akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan penduduk Indonesia. Hal tersebut juga ditunjukkan dari tren konsumsi penduduk Indonesia yang meningkat setiap tahunnya. Namun peningkatan konsumsi tersebut belum dapat dipenuhi sepenuhnya oleh produksi lokal. Ada defisit antara konsumsi dan produksi daging sapi di Indonesia. Padahal tingkat konsumsi daging sapi penduduk Indonesia masih tergolong rendah sebesar 2.36 kg/kapita/tahun. Adanya defisit pemenuhan kebutuhan daging sapi tersebut mendorong pemerintah untuk melakukan kegiatan impor. Selain itu, Indonesia sebagai salah satu pemain global tidak bisa dilepaskan dari kegiatan perdagangan internasional. Adanya kebijakan swasembada daging sapi yang dilakukan pemerintah diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi impor daging sapi apalagi tren impor daging sapi Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang negatif. Terdapat tiga negara yang menguasai pasar daging sapi impor Indonesia. Ketiga negara tersebut memiliki pangsa rata-rata 84 persen. Secara tidak langsung, Indonesia menggantungkan kebutuhan daging sapi impornya pada tiga negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan analisis untuk menggambarkan keragaan permintaan daging sapi di Indonesia sehingga dapat membantu pemerintah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan impor daging sapi Indonesia. Tujuan penelitian ini secara khusus antara lain: 1) Menganalisis keragaan bisnis komoditas daging sapi di Indonesia; 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan impor daging sapi di Indonesia; dan 3) Menganalisis posisi persaingan tiga negara sumber daging sapi impor Indonesia.
Berdasarkan keragaan produksi daging sapi di Indonesia, jumlah produksi daging sapi di Indonesia meningkat rata-rata sebesar 3.05 persen per tahunnya dengan sentra produksi daging sapi di Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur. Konsumsi daging sapi per kapita Indonesia meningkat dengan tingkat kelajuan konsumsi sebesar 1.40 persen per tahun. Tingkat konsumsi ini diramalkan akan meningkat sebesar 4.8 persen sampai tahun 2024 sehingga kebutuhan daging sapi akan meningkat setiap tahunnya. Adanya fluktuasi harga daging sapi dalam negeri berbanding terbalik dengan ketersediaan pasokan daging sapi dalam negeri. Rata-rata kenaikan harga daging sapi di Indonesia mencapai 13.49 persen dan diprediksi akan terus meningkat jika pasokan daging sapi belum stabil. Salah satu penyebab tingginya harga daging sapi adalah panjangnya rantai pasok daging sapi dari peternak hingga ke tangan konsumen.
dalam negeri yang tinggi dan harga daging sapi impor yang lebih rendah akan menyebabkan peningkatan volume impor.
Berdasarkan hasil analisis permintaan, Australia memiliki pangsa pasar (share) terbesar di pasar daging impor Indonesia. Diikuti oleh Selandia Baru, Rest of World (ROW), dan yang terakhir adalah Amerika Serikat dengan share terkecil. Elastisitas pengeluaran merupakan persentase perubahan pangsa atau share ekspor negara sebagai respon terhadap perubahan total impor Indonesia. Elastisitas pengeluaran Australia paling elastis. Untuk elastisitas harga sendiri, nilai elastisitas semua negara bernilai negatif. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan yang menyatakan bahwa ketika harga suatu komoditas meningkat, maka permintaan atau
share terhadap produk tersebut akan turun. Nilai elastisitas silang antar negara tersebut menunjukkan bahwa komoditas ketiga negara saling bersubstitusi yang artinya antar negara sumber impor saling bersaing.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perlu adanya upaya perbaikan sistem agribisnis komoditas daging sapi di Indonesia. Pemerintah dapat melakukan diversifikasi daging untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi daging sapi sehingga konsumsi daging sapi yang meningkat dapat di diversifikasi pada komoditas daging lainnya. Selain itu, diperlukan kekonsistenan kebijakan dalam bentuk pengawasan yang diambil pemerintah untuk menjamin tidak ada oknum yang memanfaatkan peluang dengan melakukan penyimpangan.
SUMMARY
RESTI PRASTIKA DESTIARNI. The Demand Analysis of Indonesia Imported Meat. Supervised by SUHARNO and NETTI TINAPRILLA.
Meat (meat of bovine) is a commodity which is believed that the demand will increase along the increasing of Indonesian income. It is continously showed from the increasing of consumption trend every year. However, the increasing of that consumption has not been fulfilled yet by domestic production. There is a deficit between Indonesia meat consumption and production. Whereas, meat consumption rate of Indonesian is still low around 2.36 kg/capita/year. The existence of deficit on fulfilling meat needs encourage the government to do importing. Moreover, Indonesia as one of the global player can not be separated from international trade activity. The existence of meat self-sufficient policy, which is conducted by government, is expected to be one of the method to reduce imported meat especially Indonesia imported meat trend shows a negative growth. There are three countries which dominate Indonesia imported meat market. Those countries have share approximately 84 percent. Indirectly, Indonesia rely on the meat needs on those three countries. Based on those statement, it is needed to do analyzing to describe meat demand performance in Indonesia so that it can support the government to find out some factors which affect Indonesia importing activity on meat. In particular, this research is aimed: 1) to analyze business performance of meat commodity in Indonesia; 2) to analyze some factors which affect the demand of imported meat in Indonesia; and 3) to analyze the competitive position from those three countries as the source of Indonesia imported meat.
Based on meat production performance in Indonesia, the amount of meat production in Indonesia increased around 3.05 percent in average per year with the central of meat production in Indonesia is East Java Province. Meat consumption per capita in Indonesia increased with the level of consumption pace around 1.40 percent per year. This consumption level was forcasted to increase reaching 4.8 percent till 2024 so that meat necessity would increase each year. The existance of meat price fluctuation in domestic market was inversely related by the supply of domestic meat. The increasing average of meat price in Indonesia reached 13.49 percent and was predicted to increase if the meat supply was not stable yet. One of the causes on the high meat price was the lenght of meat supply chain from breeders to last consumers
The result of factors analysis which was influenced imported meat demand showed that the factors which was influenced significantly on imported meat volume were the Indonesian consumption level, domestic price, and imported meat price. The higher of meat consumption level in Indonesia would lead to an increasing of imported meat volume especially if it was not balanced with domestic supply. The more expensive of domestic meat price and the cheapest of imported meat price would cause the increasing of import volume.
of Indonesia total import. Australia expenditure elasticity was the most elastic. For own price elasticity, elasticity value from all of imported source countries were negative. It was suitable with demand law which stated that if the price of some commodities increased, demand or share on those commodities would decrease. Cross price elasticity among them showed the commodity from those countries were substituted each other which was meant that there were a competition among them.
The research result showed that it is needed an improving efforts on meat agribusiness system in Indonesia. The Government can do meat diversifying to anticipate the increasing of meat consumption so that the increasing of meat consumption can be diversified on other meat commodities. Beside that, it is needed policies consistency on supervising form which is taken by the government to ensure that noones will take advantages on irregularities.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
Pada
Program Studi Agribisnis
ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI IMPOR
INDONESIA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Topik yang dipilih pada tesis ini ialah permintaan impor, dengan judul tesis yaitu Analisis Permintaan Daging Sapi Impor Indonesia. Penyelesaian tesis ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak sehingga penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada pihak-pihak terkait.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Suharno MAdev dan Dr Ir Netti Tinaprilla MM selaku komisi pembimbing, Dr Ir Rachmat Pambudy MS selaku dosen penguji tesis, serta Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS selaku dosen penguji wakil program studi dan Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis. Selain itu, terima kasih juga penulis ucapkan kepada Program Studi Magister Sains Agribisnis IPB dan pihak terkait yang mendukung kelancaran penulisan tesis ini. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ibu dan seluruh keluarga yang telah bersabar dan senantiasa mendoakan penulis selama menempuh pendidikan magister, khususnya selama proses penyelesaian tesis ini. Terakhir penulis sampaikan terima kasih atas segala dukungan dari teman-teman Magister Sains Agribisnis angkatan 5 selama menempuh pendidikan magister.
Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat dalam pengembangan pendidikan dan pengembangan sektor peternakan khususnya komoditas daging sapi.
Bogor, Oktober 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 5
Tujuan 7
Manfaat 7
Ruang Lingkup Penelitian 8
TINJAUAN PUSTAKA 8
Penelitian Komoditas Daging Sapi 8
Permintaan Impor 9
Analisis AIDS (Almost Ideal Demand System) 12
KERANGKA PEMIKIRAN 13
Kerangka Pemikiran Teoritis 13
Kerangka Pemikiran Operasional 31
METODE PENELITIAN 33
Waktu Penelitian 33
Jenis dan Sumber Data 33
Metode Pengolahan Data Analisis Data 34
HASIL DAN PEMBAHASAN 41
Keragaan Produksi Komoditas Daging Sapi Indonesia 41 Keragaan Konsumsi Komoditas Daging Sapi Indonesia 44 Keragaan Harga dan Rantai Pasok Komoditas Daging Sapi Indonesia 44
Keragaan Impor Daging Sapi Indonesia 47
Keragaan Kebijakan Komoditas Daging Sapi Indonesia 49 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Sapi Impor
Indonesia 53
Tingkat Persaingan Negara Sumber Daging Sapi Impor (Australia,
Selandia Baru, dan Amerika Serikat) 58
Implikasi Kebijakan 62
SIMPULAN DAN SARAN 63
Simpulan 63
Saran 64
DAFTAR PUSTAKA 65
LAMPIRAN 72
DAFTAR TABEL
1 Konsumsi dan defisit daging sapi 2008 – 2012 3 2 Produksi daging sapi nasional 2008 – 2012 3 3 Tren proyeksi konsumsi daging sapi 2017 – 2024 5 4 Impor komoditas daging sapi tahun 2010 – 2013 6
5 Ukuran elastisitas penawaran 23
6 Ukuran elastisitas permintaan 24
7 Jenis dan sumber data pendukung penelitian 34
8 Ukuran-ukuran elastisitas model AIDS 40
9 Hasil estimasi model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging
sapi impor Indonesia 55
10 Hasil estimasi model posisi persaingan negara sumber daging sapi impor
Indonesia 58
11 Pangsa impor dan elastisitas pengeluaran negara sumber impor 60 12 Perhitungan elastisitas harga sendiri negara sumber impor 61 13 Perhitungan elastisitas hargasilang negara sumber impor 61
DAFTAR GAMBAR
1 Keseimbangan konsumen 15
2 Efek substitusi dan efek pendapatan akibat adanya perubahan harga dan penurunan kurva permintaan Marshallian dan permintaan Hicksian 16 3 Hubungan secara umum antara fungsi permintaan Marshallian dan
Hicksian 17
4 Mekanisme terjadinya perdagangan internasional (Salvatore 1997) 18
5 Kerangka pemikiran operasional 32
6 Perkembangan populasi sapi potong di Indonesia tahun 1984 – 2014 41 7 Sentra populasi daging sapi Indonesia 2007 – 2014 42 8 Perkembangan produksi daging sapi Indonesia 43
9 Sentra produksi daging sapi Indonesia 43
10 Perkembangan konsumsi daging sapi Indonesia tahun 1993 – 2014 44 11 Perkembangan harga daging sapi Indonesia 45
12 Rantai pasok ternak daging sapi lokal 45
13 Rantai pasok ternak dan daging sapi impor 46
14 Rantai pasok daging sapi impor 47
DAFTAR LAMPIRAN
1 Estimasi regresi berganda 72
2 Uji asumsi klasik pada model 72
3 Hasil regresi komponen utama 76
4 Hasil uji wald 77
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang penting dalam pemenuhan kebutuhan manusia karena hasil produksi sektor pertanian digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan dasar manusia terutama dalam hal kebutuhan pangan. Sektor pertanian dibagi menjadi beberapa subsektor antara lain subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor kehutanan, subsektor perikanan (terdiri dari perikanan budidaya dan perikanan tangkap), dan subsektor peternakan. Walaupun sektor pertanian penting terutama karena menyangkut kebutuhan pangan, kontribusi sektor pertanian pada PDB (Produk Domestik Bruto) nasional semakin menurun setiap tahunnya. Pada tahun 2013, kontribusi sektor pertanian hanya 12.26 persen (BPS 2015). Selama lima tahun terakhir penurunan kontribusi sektor pertanian rata-rata mencapai 0.3 persen. Di lain pihak, sektor yang paling bertumbuh dengan pesat adalah sektor industri (manufaktur dan non manufaktur).
Penurunan kontribusi tersebut berbeda dengan statistik yang ditunjukkan berdasarkan ketenagakerjaan. Sektor pertanian mampu menyerap sekitar 34.36 persen tenaga kerja dari total angkatan kerja yang ada di Indonesia (Kemenakertrans 2014). Hal tersebut menunjukkan bahwa penduduk Indonesia masih menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian karena kelangsungan dari sektor pertanian secara langsung berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan ketahanan pangan Indonesia.
Ketahanan pangan (Food Security) menurut Undang-undang No. 18 Tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai perorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan menjadi perhatian negara-negara seluruh dunia seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pemenuhan kebutuhan pangan, energi, dan air. Terdapat tiga aspek penting yang harus dipenuhi dalam mewujudkan ketahanan pangan, antara lain ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan. Salah satu sektor pertanian yang menjadi fokus dalam hal membangun ketahanan pangan adalah subsektor peternakan.
Subsektor peternakan merupakan salah satu subsektor yang penting dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Subsektor ini diyakini memiliki potensi sebagai penggerak utama ekonomi nasional (Daryanto 2007). Hal tersebut didasari kepada fakta bahwa: (1) Kuantitas dan keragaman sumber daya peternakan yang besar; (2) Industri sektor peternakan memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri-industri lainnya baik keterkaitan ke belakang maupun kedepan; (3) Industri peternakan berbasis sumber daya lokal (resources based industries) dan (4) Memiliki keunggulan, memiliki keunggulan komparatif dari segi sumber daya ternak (Daryanto 2007), dan memiliki keunggulan kompetitif dari segi komponen biaya tenaga kerja (Daryanto 2009).
upaya pemerintah dengan adanya program swasembada daging sapi. Program swasembada yang dicanangkan oleh pemerintah pada intinya didasari pada keinginan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional secara mandiri. Adanya program swasembada ini diharapkan bahwa konsumsi daging sapi dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri minimal sebanyak 90 persen (on trend), sedangkan sisanya dapat dipenuhi dari impor (Junaidi 2013).
Program swasembada ini sudah direncanakan sejak tahun 2005, lalu diperbarui 2010, dan terakhir 2014 dengan program yang disebut PSDS (Program Swasembada Daging Sapi). Program Swasembada Daging Sapi 2014 merupakan program pemutakhiran dari program swasembada daging 2005 dan 2010 yang tidak berhasil, pemutakhiran yang dilakukan meliputi aspek program, organisasi pelaksana, dokumen pendukung, dan pendanaan (Ashari et al 2012). Pemenuhan pangan berasal dalam negeri disadari semakin penting sebab jika mengandalkan impor dapat menyebabkan ketahanan pangan dalam komoditas daging sapi menjadi lemah jika negara pengekspor tidak bersedia menjual produknya. Menurut Sunari
et al (2010), impor sapi dapat mengganggu agribisnis sapi potong lokal disebabkan: (1) Harga daging sapi impor relatif lebih murah dibandingkan harga daging sapi lokal dan (2) Terdapat pergeseran dari kegiatan impor sapi bakalan menjadi impor sapi siap potong atau daging.
Daging sapi sebagai salah satu produk hasil komoditas peternakan digemari konsumen dengan alasan pertimbangan gizi, status sosial, pertimbangan kuliner, dan pengaruh budaya barat (Jonsen 2004), disamping itu tingkat kecernaan protein daging sapi mencapai 95 – 100 persen dibandingkan kecernaan protein tanaman yang hanya 65 – 75 persen (Aberle et al 2001). Daging sapi memiliki cita rasa yang khas yang tidak bisa disubstitusi dengan daging jenis lain terutama ketika pengonsumsiannya saat memperingati hari besar keagamaan tertentu walaupun harganya mengalami peningkatan (Ilham 2006).
Berdasarkan RPJMN bidang pangan dan pertanian 2015 – 2019, konsumsi daging sapi di Indonesia akan mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut disebabkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk. Selain itu, kenaikan konsumsi daging sapi juga disebabkan oleh citra produk (gengsi), cita rasa, serta pertumbuhan industri pengolahan daging sapi, dan industri pariwisata (hotel dan restoran).
Tabel 1 Konsumsi dan defisit daging sapi 2008 – 2013
Sumber: RPJMN Bidang pangan dan pertanian 2015 – 2019, Badan Pusat Statistik (2014) (diolah) a Terdiri dari konsumsi rumah tangga, penggunaan untuk industri pengolahan, dan tercecer b Produksi daging sapi ex sapi lokal
Konsumsi daging sapi setiap tahunnya menghasilkan angka yang fluktuatif dengan kecenderungan menunjukkan angka laju yang positif, artinya rata-rata konsumsi daging sapi setiap tahunnya meningkat. Tabel 1 menunjukkan jumlah konsumsi daging sapi yang berasal dari konsumen rumah tangga maupun industri dan jumlah produksi daging sapi yang berasal dari sapi potong lokal. Laju produksi yang cenderung lebih tinggi dibandingkan laju konsumsi akan berpengaruh positif terhadap penurunan defisit pemenuhan daging sapi di Indonesia. Defisit daging sapi terbesar terjadi pada tahun 2009 dengan persentase mencapai 48.32 persen namun defisit tersebut berhasil menurun mencapai 21.88 persen pada tahun 2013 yang artinya bahwa dalam waktu empat tahun dengan konsumsi yang meningkat, pemerintah dapat menurunkan tingkat defisit mencapai 45.28 persen. Selama ini defisit konsumsi daging sapi Indonesia dipenuhi oleh komoditas daging sapi impor.
Berdasarkan tabel terlihat bahwa produksi merupakan faktor penting dalam mengurangi defisit yang selanjutnya akan mempengaruhi jumlah daging sapi impor yang masuk ke Indonesia. Semakin meningkatnya produksi, akan mengurangi defisit, dan akan mengurangi jumlah daging sapi yang diimpor oleh pemerintah. Naik turunnya jumlah komoditas impor akan berhubungan dengan besarnya produksi yang sanggup dilakukan oleh Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara jumlah (volume) impor dengan produksi adalah negatif (berlawanan).
Tabel 2 Produksi daging sapi nasional 2008 – 2013
Tahun Sapi lokal Sapi impor Total
Sumber: RPJMN Bidang pangan dan pertanian 2015 – 2019, Badan Pusat Statistik (2014) (diolah)
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa laju peningkatan produksi daging sapi di Indonesia diiringi dengan penurunan laju impor. Pada tahun 2008 – 2013, laju penurunan jumlah impor daging sapi Indonesia mencapai 8.95 persen. Hubungan negatif antara volume impor dan produksi dapat dilihat berdasarkan hasil pada
80 persen dikarenakan adanya pembatasan impor yang diterapkan pemerintah dan rancangan program swasembada daging sapi untuk memenuhi komoditas daging sapi berdasarkan sumber daya lokal. Penurunan impor dapat mendorong dan membuka peluang bagi peternak sapi lokal untuk memproduksi lebih banyak sapi lokal.
Namun pernyataan bahwa peningkatan produksi daging sapi lokal yang sangat cepat merupakan prestasi yang bagus memerlukan pertimbangan lebih lanjut. Peningkatan produksi daging sapi lokal yang sangat cepat sebagai akibat dari pembatasan impor daging sapi dapat mengancam populasi ternak sapi potong di Indonesia jika peningkatan jumlah kelahiran hidup tidak sebanding dengan peningkatan jumlah pemotongannya. Indikasi terancamnya populasi ternak sapi potong antara lain adalah semakin sulit mendapatkan ternak sapi potong jantan dengan bobot hidup 300 kg atau lebih per ekor dan meningkatnya pemotongan ternak sapi potong betina produktif, yang berarti pemusnahan (extinction) sumberdaya ternak sapi potong (RPJMN bidang pangan dan pertanian 2015 – 2019).
Kebijakan pembatasan impor terutama komoditas daging sapi dalam upaya menghindari terancamnya populasi ternak sapi potong hidup harus memperhitungkan dua hal, yaitu: (1) Kebutuhan riil daging sapi untuk konsumsi rumah tangga, rumah makan, hotel, catering, industri pengolahan, dan lain-lain; dan (2) Jumlah kelahiran sapi dan jumlah sapi yang tersedia untuk dipotong. Kesalahan dalam perhitungan pemenuhan kebutuhan daging sapi akan memberikan efek domino di pasar daging sapi Indonesia. Salah satunya adalah timbul kelangkangan daging sapi di pasaran. Kelangkaan ini akan berpengaruh terhadap harga daging sapi. Pada dasarnya, perhitungan kuota impor tersebut harus dilakukan secara cermat agar tidak terjadi kekurangan stok yang menyebabkan kelangkaan dan peningkatan harga maupun kelebihan stok yang menyebabkan pasar domestik jenuh dan dapat menjatuhkan harga daging sapi.
Dengan adanya perdagangan internasional, Indonesia tidak mungkin menghalangi secara absolut komoditas-komoditas yang berasal dari luar negeri untuk masuk bersaing di pasar lokal. Indonesia tidak bisa secara absolut mengelak dari kegiatan impor sebagai konsekuensi Indonesia sebagai salah satu pemain global. Sunari et al (2010) menyatakan bahwa pasar daging sapi Indonesia sebenarnya rentan terhadap pengaruh pasar global karena dipengaruhi oleh penawaran daging sapi, konsumsi dan harga daging sapi lokal, harga riil, jumlah induk dan pemotongan sapi lokal, serta jumlah dan harga daging sapi impor. Apalagi saat ini Indonesia telah menandatangani perjanjian wilayah perdagangan bebas bilateral terutama dengan negara Australia dan Selandia Baru berupa kesepakatan Asean-Australian-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA), dengan menyetujui kesepakatan ini maka tarif impor daging sapi maupun sapi hidup akan dihilangkan atau dengan kata lain daging impor dapat semakin mudah masuk ke Indonesia. Kondisi demikian memperkuat pandangan bahwa sektor peternakan khususnya daging haruslah mengedepankan kepada sumber daya lokal.
Tabel 3 Tren proyeksi konsumsi daging sapi 2017 – 2024
Sumber: Roadmap Pengembangan Sapi Potong Indonesia (Kerjasama Fakultas Peternakan UGM dan APFINDO)
Berdasarkan Tabel 3, konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia diproyeksikan akan meningkat dengan kelajuan rata-rata 4.81 persen. Adanya ketidakseimbangan pemenuhan dan ketersediaan daging sapi di Indonesia membuat pemerintah harus menemukan solusi yang tepat sehingga tidak mengancam keberadaan komoditas lokal Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia melakukan impor daging sapi untuk dapat menjamin pasokan daging sapi bagi masyarakatnya sehingga dari kepastian pasokan tersebut dapat menjamin harga yang terjadi di pasar. Kegiatan impor juga dapat digunakan Indonesia sebagai salah satu sarana membangun dan mendukung industri peternakan untuk selanjutnya dapat memenuhi kebutuhan daging sapi dari produksi lokal. Adanya analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Indonesia melakukan impor daging sapi dapat dijadikan acuan untuk menemukan solusi bagi Indonesia dalam mengurangi impor daging sapi. Perlu dipertanyakan faktor yang mendasari kegiatan tersebut selain fakta bahwa adanya perdagangan bebas yang hampir menghapus hambatan-hambatan suatu negara untuk menjual komoditasnya ke negara lain.
Pengetahuan tersebut dapat membantu pemerintah untuk menemukan solusi yang sesuai untuk dapat memberdayakan sumber daya lokal dan meningkatkan ketahanan pangan Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi. Tercapainya hal tersebut dapat menjadi tolok ukur bagi pemerintah dalam melaksanakan swasembada pada komoditas daging sapi.
Rumusan Masalah
Tabel 4 Impor komoditas daging sapi tahun 2010 – 2013
Sejak tahun 2010, pertumbuhan impor daging sapi Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang negatif dengan penurunan volume impor mencapai 19 persen (berdasarkan Tabel 4). Hal tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia dapat memberdayakan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri. Terkait dengan penurunan volume impor, perlu dilakukan analisis untuk mengetahui faktor apa yang paling signifikan mempengaruhi penurunan impor sehingga Indonesia dapat menemukan solusi berdasarkan faktor tersebut. Terlebih adanya peningkatan taraf hidup penduduk Indonesia akan membuat konsumsi daging sapi diramalkan juga akan meningkat.
Sebelumnya telah dibahas bahwa subsektor peternakan merupakan salah satu penggerak ekonomi nasional karena berbasis sumber daya lokal. Dengan adanya penurunan komoditas daging sapi impor maka sumber daya lokal sebagai pembangun perekonomian negara dapat lebih berperan. Indonesia melakukan kegiatan impor pada dasarnya untuk memenuhi pasokan daging sapi sehingga ketersediaan daging sapi di pasar lokal tetap aman. Namun kegiatan impor jika tidak terkendali akan menimbulkan dampak negatif.
Dampak negatif yang terjadi dari kegiatan impor yang erat kaitannya dengan globalisasi adalah (1) menghambat pertumbuhan sektor industri (2) sektor keuangan semakin tidak stabil (3) memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi semakin meningkatnya impor daging sapi akan membuat perkembangan usaha perternakan rakyat menjadi terdesak sehingga perlu adanya proteksi dari pemerintah untuk mengurangi besarnya impor. Selain proteksi, untuk mengurangi impor dapat dilakukan dengan peningkatan produksi daging sapi lokal. Hal yang harus diperhatikan adalah beberapa tahun belakangan ini Indonesia yang memiliki penduduk keempat terbesar di dunia telah menjadi target pasar dunia. Hasilnya adalah Indonesia sedang mengalami food trap yaitu kecenderungan mengimpor bahan pangan.
Tiga negara terbesar yang melakukan ekspor daging sapi ke Indonesia adalah Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat (USA). Ketiga negara tersebut memiliki rata-rata total pangsa pasar untuk ekspor komoditas daging sapi sebesar 84 persen. Australia menduduki posisi pertama dalam hal jumlah ekspor daging sapi ke Indonesia diikuti Selandia Baru dan Amerika Serikat. Adanya
mulut dan kuku (PMK) ataupun antrax yang biasa terjadi pada ternak sapi. Adanya perjanjian perdagangan bebas terutama antara Australia, Selandia Baru, dan Indonesia sebagai salah satu negara di ASEAN membuat masuknya daging sapi impor akan semakin mudah dalam tahapannya karena berdasarkan perjanjian tersebut akan terjadi reduksi tarif komoditas impor.
Indonesia bisa mendapat masalah baru terkait dengan komoditas daging sapi jika tren penurunan volume impor tidak konsisten. Terutama kebijakan impor daging sapi Indonesia saat ini masih berpusat pada tiga negara yaitu Australia, Amerika Serikat, dan Selandia baru. Hal tersebut akan merugikan Indonesia jika ketergantungan komoditas sudah spesifik mengacu pada suatu negara.
Jika pada tahun 1970-an Indonesia yang diwakili oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mampu melakukan ekspor daging sapi, diharapkan saat ini Indonesia berada di jalur keberhasilan dalam melaksanakan program swasembada daging sapi yang telah direncanakan sejak tahun 2005. Jika Indonesia tidak bisa melakukan penekanan jumlah impor daging sapi akan berakibat pada terganggunya sistem agribisnis sapi potong di Indonesia.
Berdasarkan pemaparan tersebut memunculkan beberapa pertanyaan yang menjadi permasalahan untuk dianalisis. Adapaun pertanyaan penelitian, yaitu: 1. Bagaimana keragaan bisnis komoditas daging sapi di Indonesia?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi permintaan daging sapi impor di Indonesia?
3. Bagaimana posisi persaingan tiga negara sumber daging sapi impor pasar Indonesia?
Tujuan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
1. Menganalisis keragaan bisnis komoditas daging sapi di Indonesia
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan impor daging sapi di Indonesia
3. Menganalisis posisi persaingan tiga negara sumber daging sapi impor Indonesia
Manfaat
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan model ekonometrika untuk menentukan faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi impor dan menentukan posisi persaingan negara pengekspor daging sapi ke Indonesia. Negara pengimpor daging sapi adalah Indonesia sedangkan negara pengekspor adalah Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Ketiga negara tersebut dipilih karena jumlah produk ekspor daging sapi yang masuk ke Indonesia memiliki jumlah yang besar dibandingkan dengan ekspor dari negara-negara lainnya (rest of world). Lingkup penelitian ini meliputi analisis permintaan impor komoditas daging sapi dengan kode SITC Rev 1 0111 (Meat of bovine animals, fresh, chilled, and frozen). Implikasi kebijakan yang dianalisis merupakan kebijakan yang diterapkan di Indonesia sebagai negara pengimpor.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Komoditas Daging Sapi
Daging sapi merupakan salah satu hasil output dari sapi potong. Sapi potong sendiri merupakan komoditas yang tercantum dalam dokumen revitalisasi pertanian sehingga wajar komoditas ini menjadi salah satu komoditas yang diharapkan untuk dapat mencapai swasembada (Ilham 2006). Adanya wacana mewujudkan swasembada daging sapi di Indonesia membuat penelitian tentang komoditas daging sapi berkembang dengan topik penelitian yang saling berkaitan diantaranya analisis kebijakan; analisis permintaan dan penawaran; dan dinamika ketersediaan dan harga serta jaminan keamanan komoditas daging sapi. Analisis yang digunakan dalam melakukan penelitian tentang komoditas daging sapi dapat berupa analisis deskriptif, simulasi model dinamis, maupun analisis statistika. Pada umumnya analisis deskriptif dan simulasi model dinamis dilakukan untuk menganalisis dampak kebijakan terutama kebijakan dalam mewujudkan swasembada daging sapi dan analisis sosial ekonomi pencapaian swasembada daging sapi.
dengan pemerintahan Australia yang mendapat tekanan dari para peternak karena Indonesia merupakan salah satu negara tujuan ekspor daging sapi Australia.
Untuk menganalisis tren harga daging sapi studi kasus daging sapi eceran di dalam negeri, penelitian kementerian perdagangan (2013) menggunakan analisis regresi berganda dengan metode OLS. Pada dasarnya permintaan daging sapi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk sehingga keberlanjutan pasokan sangat diperlukan untuk menstabilkan harga. Permasalahannya adalah produksi daging sapi belum berkesinambungan, sistem pendataan yang belum sempurna, dan sistem distribusi yang belum tertata baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga daging sapi dari sisi permintaan antara lain permintaan dan penawaran daging sapi lokal, permintaan dan penawaran daging sapi impor, selera, dan hari besar keagamaan, sedangkan dari sisi penawaran antara lain harga daging sapi dalam negeri dan impor, jumlah produksi lokal, jumlah populasi, tingkat upah, suku bunga, dan harga riil sapi. Berdasarkan sisi permintaan, faktor yang paling mempengaruhi harga daging sapi adalah permintaan daging sapi sedangkan berdasarkan sisi penawaran adalah harga daging sapi dalam negeri.
Penelitian Ilham (1998) dengan menggunakan pendekatan simultan metode
three stage least squares (3SLS) memaparkan bahwa penawaran daging sapi dari peternakan rakyat dipengaruhi oleh selisih harga daging sapi, dan penawaran dari industri peternakan rakyat; penawaran dari industri peternakan rakyat dipengaruhi oleh harga daging sapi, harga bakalan impor, dan tingkat suku bunga; impor daging sapi dipengaruhi oleh tarif impor; permintaan daging sapi dipengaruhi oleh harga daging sapi dan harga ikan; dan harga daging sapi domestik dipengaruhi oleh harga daging sapi impor, harga ternak sapi, dan penawaran sapi domestik.
Penelitian-penelitian sebelumnya menggambarkan tentang tren harga, permintaan, dan penawaran daging sapi dalam negeri. Permintaan impor daging sapi juga berperan dalam pemenuhan permintaan dalam negeri. Indonesia dalam memenuhi kebutuhan daging sapi yang semakin meningkat mengandalkan penawaran impor dari negara lain salah satunya adalah Australia. Dengan menggunakan pendekatan Error Correction Model (ECM), faktor yang mempengaruhi impor daging sapi Indonesia dalam jangka panjang adalah harga daging sapi impor, harga daging domestik, nilai tukar rupiah, GDP (gross domestic product), dan krisis ekonomi Indonesia 1997 sedangkan dalam jangka pendek, hanya harga daging sapi domestik yang tidak berpengaruh.
Analisis Permintaan Impor
untuk dilakukannya proses produksi suatu komoditas pertanain; dan lebih besarnya permintaan yang terjadi dari sisi konsumen sehingga produksi belum dapat mencukupi semua kebutuhan konsumsi masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan produksi tersebut, pemerintah memiliki berbagai cara, salah satunya dengan impor. Impor merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Adanya permintaan impor dari suatu negara merupakan bentuk perdagangan internasional yang terjadi antara dua negara (bilateral) maupun banyak negara (multilateral).
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, para peneliti mulai menunjukkan ketertarikan untuk menganalisis permintaan impor yang dilakukan suatu negara. Penelitian-penelitian tersebut antara lain mencakup analisis permintaan impor dengan pendekatan multinegara yang dilakukan pada enam negara berkembang (Yunani, Korea, Singapura, Afrika Selatan, Pakistan, dan Filipina) (Bahmani-Oskooee 1998); analisis permintaan impor yang dilakukan berdasarkan kelompok negara seperti negara Amerika Latin dan Karibia (Ozturk and Acaravci 2009), dan negara-negara di Asia Timur (Kim and Lee 2014); analisis permintaan impor yang dilakukan pada dua negara saja seperti Amerika Serikat dan Sri Lanka (Emran and Shilpi 2010), Amerika Serikat dan China (Rifin 2013), atau Jepang dan Korea Selatan (Mutondo and Henneberry 2007); serta analisis permintaan impor yang spesifik dilakukan hanya pada satu negara saja seperti Amerika (Sulgham and Zapata 2006. Babula 2014), Jamaika (Hibbert et al 2012), Swiss (Feleke and Kilmer 2007), Indonesia (Andayani and Tilley 1997. Rifin 2010. Permani 2013. Rifin 2013), dan Jepang (Chang 2000. Chang and Nguyen 2002. Miljkovic and Jin 2006).
Analisis permintaan impor yang melibatkan banyak negara (contoh: enam negara yang dianalisis) cenderung mempertimbangkan bahwa negara tersebut memiliki keadaan ekonomi yang serupa dan merupakan negara yang sedang berkembang. Begitupun dengan analisis impor kelompok negara. Pada analisis permintaan impor dua negara dilakukan berdasarkan kesamaan pasar impor. Penentuan negara tersebut berdasarkan pada kemiripan pasar komoditas impor yang dihadapi. Contohnya pada analisis permintaan impor yang melibatkan Amerika Serikat dan China dengan komoditas pilihan yaitu kelapa sawit yang didatangkan dari Indonesia. Amerika Serikat dan China merupakan pengimpor kelapa sawit terbesar bagi pasar kelapa sawit Indonesia. Sedangkan pada analisis permintaan impor satu negara dilakukan untuk melihat secara spesifik permintaan impor yang terjadi dan pasar impor yang dihadapi di negara tersebut.
Yue 2010. Binuomote et al 2012. Grullon 2012); vector autoregressive (VAR) (Babula 2014), dan vector error correction model (VECM) (Permani 2013. Tirmazee and Naveed 2014); dan terakhir adalah an almost ideal demand system
(AIDS) dengan metode SUR (seeminly unrelated regression) (Oyinho et al 2013. Rifin 2013); dan ada juga yang menggunakan data panel dinamis (Ozturk and Acaravci 2009).
Model regresi linear metode OLS merupakan model yang paling umum digunakan untuk dapat menggambarkan hubungan antara suatu variabel bebas dengan variabel terikatnya. ECM (error corrrection mechanism) merupakan model yang memasukkan penyesuaian untuk melakukan koreksi ketidakseimbangan jangka pendek menuju keseimbangan jangka panjang. Pada umumnya, model dengan ECM digunakan untuk menunjukkan model yang dinamis dengan syarat variabelnya berkointegrasi. Kointegrasi merupakan hubungan jangka panjang antar variabel yang tidak stationer dan menghasilkan kombinasi linear sehingga tercipta kondisi yang stationer. Peubah yang saling berkointegrasi mempunyai hubungan jangka panjang. VAR (vector autoregressive) merupakan sebuah n-persamaan (n-equation) dengan n-variabel (n-variabel) yang masing-masing variabel dijelaskan oleh nilai lag-nya sendiri, serta nilai saat ini dan masa lampaunya (current and past values). Dengan demikian, dalam konteks ekonometrika modern VAR termasuk ke dalam multivariate time series analysis. Metode VAR memerlukan data yang stationer dan berkointegrasi. VECM merupakan bentuk VAR yang terestriksi karena data tidak stationer namun berkointegrasi sehingga sering disebut sebagai sistem VAR bagi deret stationer yang memiliki hubungan kointegrasi namun tidak stationer (Juanda dan Junaidi 2012). Data panel merupakan analisis regresi dengan menggunakan dua macam data yaitu data cross section dan time series (Juanda and Junaidi 2012).
Berbagai model yang berkembang pada dasarnya digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan impor suatu negara. Umumnya para peneliti yang melakukan analisis impor menggunakan dua variabel utama (variabel bebas) yaitu harga impor dan pendapatan negara (Kalyoncu 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Chani (2011) bahwa permintaan impor merupakan suatu fungsi dari aggregate income dan harga relatif. Sebagian besar studi tersebut menemukan hubungan yang negatif antara volume impor dengan harga impor dan positif dengan
income.
Analisis AIDS (Almost Ideal Demand System)
Model AIDS merupakan salah satu model yang bertujuan untuk mengestimasi fungsi permintaan. Model AIDS tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Deaton dan Muellbauer (1980). Model ini merupakan pengembangan dari model permintaan yaitu, model Rotterdam dan model Translog. Kelebihannya adalah model ini memberikan kemampuan pendekatan orde pertama untuk sistem permintaan yang didasarkan pada proporsi (share) anggaran yang merupakan fungsi linear dari log total pendapatan. Hal tersebut mengakomodasi hambatan-hambatan dan teori permintaan seperti aditivitas, homogenitas dan simetri yang dapat diuji secara statistik.
Deaton (1980) mengajukan beberapa karakteristik spesifik dari model AIDS yaitu, (1) model AIDS merupakan pendekatan orde pertama terhadap sembarang fungsi sistem permintaan, (2) dapat memenuhi aksioma perilaku pemilihan komoditas dengan tepat, (3) dapat membuat agregasi dari konsumen tanpa menerapkan kurva engel yang linear dan sejajar, (4) mempunyai bentuk fungsi yang konsisten dengan data pengeluaran rumah tangga yang dimiliki, (5) mudah diestimasi (tidak perlu menggunakan pendugaan non linear), dan (6) dapat digunakan untuk menguji restriksi homogenitas dan simetri melalui hambatan linear terhadap parameter tetapnya. Pada dasarnya karakteristik tersebut telah terpenuhi pada model-model sebelumnya baik model Rotterdam maupun Translog namun kesemuanya tidak terpenuhi secara simultan.
Pada dasarnya, model AIDS merupakan model non linear yang disebabkan oleh adanya penggunaan indeks harga pada modelnya. Untuk mengatasi ketidaklinieran pada parameter dan variabelnya, penggunaan versi linier model AIDS telah diterapkan sebagai pendekatan dalam beberapa penelitian terapan yang lebih dikenal dengan LA/AIDS (Chang dan Nguyen 2002). Namun model tersebut dikritisi karena secara internal tidak konsisten dan kurang dalam menggambarkan pendekatan karakteristik model AIDS sehingga model AIDS nonlinear tersebut tetap digunakan dalam penelitian Chang dan Nguyen (2002). Perkembangan selanjutnya, model AIDS dapat dimodifikasi menjadi model invers atau kebalikan yang identik dengan model AIDS (Grant and Foster 2005) yang menggunakan kuantitas konsumsi sebagai pengganti harga, lalu pengembangan model Quadratic Almost Ideal Demand System (QUADS) yang digunakan untuk menjaga sifat-sifat positif model AIDS, memelihara kekonsistenan kurva Engel (ketidaklinearan kurva Engel), dan pengaruh harga relatif dengan menambahkan bentuk kuadrat dari log pendapatan ke dalam model AIDS (Virgantari 2012).
melalui teknik error correction yang diajukan oleh Engle dan Grenger untuk mengakomodasi kelemahan tersebut. Salah satu penelitian yang menerapkan model AIDS secara dinamis adalah Rifin (2010) dan Yuliastuti et al (2014).
Model AIDS memiliki kelebihan bahwa dengan struktur preferensi yang dibangun melalui model berdasarkan fungsi biaya yang spesifik dimungkinkan dilakukannya agregasi preferensi sampai ke tingkat makro sehingga model tersebut secara umum dapat digunakan untuk menganalisis sistem permintaan baik mikro maupun makro (Mutondo and Henneberry 2007). Beberapa penelitian tersebut bertujuan selain untuk mengestimasi permintaan simultan dari berbagai jenis komoditas juga menganalisis elastisitas masing-masing komoditas yang diestimasi. Model AIDS dapat menganalisis elastisitas pengeluaran, elastisitas sendiri, dan elastisitas silang. Pada umumnya penelitian mengenai konsumsi dengan menggunakan model AIDS dapat menggunakan ketiga jenis data yaitu data cross section, time series, dan panel.
Beberapa tujuan penggunaan model AIDS lainnya adalah digunakan untuk menganalisis perdagangan internasional. Penggunaan model AIDS untuk mengestimasi persaingan antar negara dalam suatu pasar merupakan bentuk pengembangan penggunaan model AIDS. Hal ini didasarkan pada tujuan awal penemuan model AIDS yaitu untuk mengestimasi permintaan secara agregat untuk mengakomodasi model Rotterdam dan model Translog (Deaton dan Muellbauer 1980). Secara khusus model AIDS tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi persaingan negara eksportir di pasar dunia (Chang and Nguyen 2002. Riffin 2013) dan mengestimasi kompetisi impor di suatu negara (Wan et al 2010. Mutondo and Henneberry 2007. Carew et al 2004). Pada umumnya penelitian dengan tujuan menganalisis kompetisi impor atau ekspor suatu negara menggunakan variabel dependen adalah pangsa ekspor atau pangsa impor suatu negara ke dunia atau ke suatu negara tujuan sedangkan variabel independennya umumnya berupa harga asal negara, nilai total dunia dan tetap mengakomodasi indeks harga geometrik Stone. Selain itu beberapa penelitian menggunakan variabel independen kebijakan yang di aproksimasi menggunakan dummy (Wan et al 2010). Hasil dari estimasi parameter variabel tersebut dapat digunakan untuk menghitung beberapa elastisitas seperti elastisitas pengeluaran, sendiri dan silang. Sama halnya pada kasus penggunaannya untuk mengestimasi permintaan konsumen, untuk tujuan perdagangan dapat juga digunakan perbedaan model statis dan dinamis.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Teori Permintaan
tersebut secara fungsional disebut sebagai fungsi permintaan yang dinyatakan sebagai berikut:
Qx = f ( Px, I, S, Pop, Py, U) Keterangan:
Qx = jumlah komoditas X yang diminta I = tingkat pendapatan
Px = harga komoditas X S = selera
Pop = populasi
Py = harga komoditas terkait (substitusi atau komplemen) U = faktor lainnya
Lipsey et al (1995) mendefinisikan permintaan sebagai jumlah komoditas yang diminta oleh konsumen pada harga tertentu. Pengaruh dari variabel terhadap jumlah yang diminta dapat dianalisis satu per satu dengan menganggap variabel lainnya tetap atau cateris paribus namun bukan berarti diabaikan.
Hubungan antara jumlah barang yang diminta dengan tingkat harga tertentu dinyatakan dalam suatu Hukum Permintaan, yang menunjukkan hubungan negatif, yang apabila harga komoditas semakin rendah maka jumlah komoditas yang diminta akan semakin banyak, sebaliknya adanya peningkatan harga akan menurunkan jumlah yang diminta oleh konsumen. Hubungan antara jumlah yang diminta sebagai respon terhadap perubahan harga dapat dinyatakan sebagai kurva permintaan yang memiliki kemiringan negatif. Kurva permintaan dapat memiliki respon yang berbeda terhadap variabel penjelas. Respon tersebut dapat berupa pergerakan sepanjang kurva atau pergeseran kurva. Pergerakan titik sepanjang kurva hanya terjadi akibat perubahan harga, sedangkan pergeseran kurva terjadi akibat adanya perubahan variabel lain selain harga komoditas itu sendiri.
Teori Utilitas
Gambar 1 menunjukkan dua jenis kurva yaitu kurva indiferen dan garis anggaran yang keduanya memiliki slope negatif. Kurva indiferen merupakan kurva yang menunjukkan kombinasi dua komoditas (X dan Y) yang memberikan konsumen kepuasan pada tingkat yang sama. Masing-masing kurva indiferen merupakan wujud tingkat kepuasan konsumen yang apabila semakin jauh dari titik asal maka konsumen memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Kendala yang dihadapi oleh konsumen ditunjukkan oleh garis anggaran. Seorang konsumen berada dalam keseimbangan atau mencapai utilitas maksimum apabila kurva indiferen bersinggungan dengan garis anggaran (pada titik C).
Permintaan Marshallian dan Hicksian
Secara umum teori ekonomi menyatakan bahwa permintaan konsumen dibedakan menjadi dua jenis yaitu permintaan marshallian dan Hicksian. Permintaan marshallian atau disebut juga uncompensated demand diturunkan dari prinsip utilitas dan menganggap bahwa pendapatan konsumen tetap. Permintaan ini mengakomodasi efek substitusi dan efek pendapatan akibat perubahan harga. Permintaan Hicksian atau disebut juga compensated demand diturunkan dari proses minimisasi fungsi pengeluaran dengan kendala tingkat kepuasan. Permintaan ini hanya mengakomodasi efek substitusi akibat dari perubahan harga.
Menurut Varian (2010) pengaruh perubahan harga terhadap keseimbangan kepuasan konsumen secara konsep dapat dianalisis dengan memisahkan efek pendapatan dan substitusi. Pengaruh perubahan harga terhadap jumlah yang diminta secara grafis digambarkan pada Gambar 2 yang menunjukkan bahwa garis anggaran awal konsumen berada pada GA0 dan menyinggung kurva indeferen IC0 dengan titik keseimbangan yaitu E0. Jumlah barang yang dikonsumsi sebanyak XY0. Ketika harga barang X turun maka garis anggaran akan bergeser ke kanan (GA1) dan menyinggung kurva indeferen IC1. Keseimbangan konsumen berubah menjadi E1 dengan jumlah barang yang dikonsumsi XY1. Peningkatan jumlah barang tersebut disebabkan adanya efek substitusi dan pendapatan. Misalkan, turunnya harga barang X akan menyebabkan konsumsi terhadap barang X
0
Gambar 1 Keseimbangan konsumen
Sumber: Baye 2010
X (Komoditas) Y
(Komoditas)
Keseimbangan Konsumen
Kurva Indiferen A
Garis Anggaran
B
meningkat dengan asumsi pendapatan tetap. Sedangkan garis anggaran GA2 sejajar dengan GA1 menyinggung kurva indiferen IC0 pada titik E2 dengan jumlah barang yang dikonsumsi XY2. GA2 menggambarkan gabungan barang yang dapat dibeli dengan pendapatan yang sama besarnya setelah harga barang X turun. Walaupun pendapatan riil tidak berubah keseimbangan konsumen bergeser dari E0 ke E2 yang menyebabkan konsumsi barang X meningkat dari XY0 ke XY2 sedangkan konsumsi barang Y berkurang. Bertambahnya konsumsi barang X (XY0 – XY2) adalah efek substitusi dan XY2 – XY1 adalah efek pendapatan.
Pendekatan permintaan yang berbeda membuat kurva permintaan yang terbentuk juga memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling terlihat adalah kemiringan (slope)dari permintaan Marshallian dan permintaan Hicksian berbeda. Berdasarkan Gambar 2 dapat terlihat bahwa permintaan Marshallian (DM) yang mengakomodasi efek total (efek substitusi dan pendapatan) memiliki kurva yang
X (Komoditas) Y
(Komoditas)
IC0 IC1
GA0 GA2 GA1
XY0 XY2 XY1
E0 E1
E2
0
Gambar 2 Efek substitusi dan efek pendapatan akibat adanya perubahan harga dan Penurunan kurva permintaan Marshallian dan permintaan Hicksian
Sumber: Bangun 2010
Y (Komoditas)
X (Komoditas)
0
E0
E1 E2
DM DH
P0
lebih landai dibandingkan permintaan Hicksian (DH) yang mengakomodasi efek substitusi.
Di lain pihak, teori dualitas menyebutkan bahwa konsumen akan memaksimumkan utilitasnya dari suatu komoditas yang dikonsumsi secara rasional dengan memperhatikan kendala yang dihadapi yaitu anggarannya. Kondisi tersebut dapat dianalisis dengan dua pendekatan yaitu dengan memaksimumkan utilitas terhadap kendala anggaran dan meminimumkan anggaran dengan kendala utilitas yang ingin dicapai oleh konsumen. Fungsi permintaan yang diturunkan dengan memaksimumkan fungsi utilitas disebut sebagai fungsi permintaan Marshallian yang merupakan fungsi dari harga barang dan pendapatan. Sebaliknya fungsi permintaan lain yang diturunkan dari proses minimisasi fungsi anggaran dengan kendala tingkat kepuasan tertentu disebut sebagai fungsi permintaan Hicksian. Fungsi permintaan hicksian merupakan fungsi dari harga barang dan utilitas.
Perdagangan Internasional
Pola perdagangan antar negara disebabkan oleh perbedaan bawaan faktor (factor endowment), yang apabila suatu negara akan mengekspor komoditas yang diproduksinya memerlukan faktor produksi yang secara relatif berlimpah. Dengan demikian perdagangan mendorong sumberdaya ke dalam sektor-sektor yang mempunyai keunggulan komparatif. Kondisi lainnya adalah adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara. Kelebihan permintaan domestik terhadap
Utiliti:
Maksimum U(Xi) Kendala: M = pi . Xi
Permintaan Marshalian XiM = X(pi . M)
Utiliti tidak langsung: V = V(pi . M)
Maksimisasi
Substitusi XiM ke U(Xi)
Pengeluaran: Minimum M = pi . Xi Kendala: U = U(Xi)
Permintaan Hicksian XiH = X(pi . U)
Fungsi pengeluaran minimum:
e = e(pi . U)
Minimisasi
Substitusi XiH ke M
Gambar 3 Hubungan secara umum antara fungsi permintaan Marshallian dan Hicksian
penawaran domestik akan mendorong suatu negara melakukan permintaan impor, sedangkan kelebihan penawaran domestik terhadap permintaan domestik akan mendorong suatu negara untuk melakukan penawaran ekspor. Mekanisme terjadinya permintaan-penawaran domestik dan permintaan impor-penawaran ekspor, secara grafis dapat dilihat pada Gambar 4.
Pada Gambar 4 dapat terlihat bahwa sebelum terjadinya perdagangan internasional, harga di negara A sebesar PA sedangkan di negara B sebesar PB. Penawaran pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih tinggi dari PA sedangkan permintaan di pasar internasional lebih rendah dari PB. Pada saat harga internasional (P*) sama dengan PA maka negara B akan terjadi excess demand
(B). Jika harga internasional sama dengan PB maka di negara A akan terjadi excess supply (A). Dari terbentuknya kurva ES dan ED yang akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional sebesar P*. Dengan adanya perdagangan tersebut, maka negara A akan mengekspor komoditas sebesar X sedangkan di negara B akan mengimpor komoditas sebesar M, yang di pasar internasional sebesar X sama dengan M yaitu Q*.
Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian suatu negara (Salvatore 1997). Hal ini disebabkan dengan adanya perdagangan internasional, perekonomian akan meningkat dan tercipta hubungan atau kerjasama yang saling menguntungkan diantara negara yang melakukan perdagangan. Pada hakikatnya perdagangan internasional merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat suatu negara.
Faktor pertama adanya perdagangan internasional adalah hasrat ingin mengusai tersebut diartikan sebagai keinginan suatu negara untuk menciptakan sebuah negaranya menjadi negara yang kuat tanpa menghiraukan mitra dagangnya. Konsep ini merupakan konsep perdagangan perdagangan pra klasik yang disebut sebagai teori merkantilisme. Pembentukan negara yang kuat diperoleh ketika suatu negara memiliki surplus neraca transaksi berjalan sehingga kegiatan ekspor-impor diletakkan sebagai lokomotif utama yang dipacu oleh suatu negara dan keuntungan negara yang kuat dapat secara langsung merugikan negara lain (zero sum game).
Menurut Markussen (1995) kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah dapat mendorong atau bahkan dapat menghambat perdagangan internasional. Salah satu instrumen yang umumnya digunakan oleh pemerintah adalah kebijakan
Gambar 4 Mekanisme terjadinya perdagangan internasional
hambatan perdagangan yang dapat secara langsung dapat menghambat perdagangan internasional. Kebijakan pajak dan subsidi yang diterapkan oleh pemerintah kepada komoditas atau produk ekspor dapat mendorong adanya perdagangan internasional. Kebijakan pajak konsumsi yang dikenakan ke konsumen dapat menyebabkan berkurangnya konsumsi domestik yang pada akhirnya akan menyebabkan peningkatan ekspor. Selain itu, kebijakan-kebijakan yang diterapkan tersebut dapat menimbulkan efek distorsi pada kesejahteraan masyarakat yang akhirnya akan menyebabkan berkurangnya kesejahteraan masyarakat.
Faktor lain adalah adanya perbedaan dalam sumberdaya baik berupa sumberdaya manusia, alam maupun teknologi. Perbedaan sumberdaya dapat mendorong perdagangan yang dijelaskan oleh konsep keunggulan absolut, komparatif dan disempurnakan oleh teori Heckscer-Ohlin. Konsep tersebut didasarkan pada konsep dasar keunggulan absolut yang dikembangkan oleh Adam Smith. Adam Smith mengemukakan bahwa suatu negara memiliki keunggulan dalam memproduksi suatu produk apabila memiliki keunggulan dalam hal sumberdaya (input) dibandingkan dengan negara lain dan negara tersebut melakukan spesialisasi atas produk tersebut. Namun adanya asumsi yang menyatakan bahwa suatu negara hanya akan unggul akibat adanya faktor input pada negara tersebut, muncullah konsep keunggulan komparatif yang dikembangkan oleh David Ricardo yang menyatakan bahwa suatu negara dapat melakukan perdagangan internasional meskipun negara tersebut tidak memiliki keunggulan absolut untuk memproduksi produk tersebut. Dalam hal ini, suatu negara akan mengekspor komoditas atau produk yang memiliki keunggulan komparatif terbesar dan mengimpor produk yang memiliki kerugian komparatif terkecil dibandingkan dengan negara lain.
Permintaan Impor
Kegiatan impor merupakan kegiatan pembelian sekaligus pemasukan produk yang dilakukan umumnya oleh sebuah pihak (importir dalam negeri) dari luar negeri ke dalam suatu negara. Pada dasarnya alasan utama dilakukannya impor adalah adanya kesenjangan antara kebutuhan dan produksi dalam negeri akan produk tertentu yang produksi dalam negeri cenderung tidak mampu memasok kebutuhan dalam negeri. Seiring dengan semakin terintegrasinya pasar suatu negara memicu perkembangan latar belakang impor dipilih sebagai alternatif pilihan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Beberapa diantaranya adalah harga impor yang lebih kompetitif, kualitas lebih baik hingga peraturan yang mengikat sebagai konsekuensi suatu negara bergabung membentuk suatu integrasi ekonomi.
Permintaan impor suatu negara merupakan selisih antara konsumsi domestik dengan produksi domestik ditambah sisa stok pada tahun yang lalu. Permintaan impor komoditas suatu negara dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mt = Ct – (Qt + St-1) Keterangan:
Mt = Jumlah impor komoditas tertentu pada tahun t
Ct = Jumlah konsumsi domestik komoditas tertentu pada tahun ke-t Qt = Jumlah produksi domestik kmoditi tertentu pada tahun ke-t St-1 = Jumlah stok domestik kmoditi tertentu tahun ke t-1
Permintaan impor, secara umum, dipengaruhi oleh harga komoditas itu sendiri, harga komoditas substitusi impor, tingkat pendapatan negara pengimpor, jumlah penduduk, dan sebagainya. Fungsi permintaan impor dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mt = f (PMt,Yt,PSt, Popt,Zt) Keterangan:
PMt = Harga impor komoditas tertentu pada tahun ke-t Yt = Pendapatan negara pengimpor pada tahun ke-t
PSt = Harga komoditas substitusi dari komoditas impor tertentu pada tahun ke-t Popt = Jumlah penduduk negara pengimpor tahun ke-t
Zt = Faktor-faktor lainnya
Penawaran Ekspor
Penawaran suatu komoditi adalah jumlah komoditi yang bersedia ditawarkan oleh produsen pada suatu pasar dan tingkat harga serta waktu tertentu. Faktor-faktor yang menentukan tingkat penawaran adalah harga jual komoditi yang bersangkutan. Antara harga dan jumlah komoditi yang akan ditawarkan berhubungan secara positif, dengan semua faktor yang lain tetap sama (ceteris paribus). Penawaran ekspor suatu negara merupakan selisih antara produksi domestik dan konsumsi domestik ditambah dengan jumlah stok domestik tahun lalu. Penawaran ekspor suatu komoditi dapat didefinisikan sebagai berikut:
Keterangan:
Xt = Jumlah ekspor komoditi tertentu pada tahun ke-t
Qt = Jumlah produksi domestik komoditi tertentu pada tahun ke-t Ct = Jumlah konsumsi domestik komoditi tertentu pada tahun ke-t St-1 = Jumlah stok domestik komoditi tertentu pada tahun ke t-1
Ekspor yang dilakukan oleh suatu negara bertujuan untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik, sehingga faktor tingkat harga dan nilai tukar mata uang suatu negara akan sangat mempengaruhi tingkat ekspornya. Fungsi penawaran ekspor suatu negara atas komoditi tertentu dapat ditulis sebagai berikut:
Xt = f (Pt,Qt,ERt,Zt) Keterangan:
Pt = Harga ekspor komoditi tertentu pada tahun ke-t Qt = Jumlah produksi komoditi tertentu pada tahun ke-t
ERt = Nilai tukar mata uang negara pengekspor tertentu pada tahun ke-t Zt = Faktor-faktor lainnya
Pembentukan Harga Dunia
Harga terbentuk karena adanya perpotongan antara kurva penawaran-permintaan antara kedua negara yang terlibat dalam perdagangan, sehingga harga relatif menggambarkan kuantitas impor yang diinginkan sama dengan kuantitas ekspor yang ditawarkan. Oleh sebab itu, harga komoditas yang diperdagangkan di dunia (secara internasional) juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi permintaan impor, penawaran ekspor, atau karena pengaruh kedua-duanya secara bersama-sama. Selain itu, harga komoditas di pasar dunia juga dipengaruhi oleh harga tahun sebelumnya. Persamaan harga komoditas di pasar internasional (dunia) dapat ditulis sebagai berikut:
PWt=f(XWt, MWt, PWt-1) Keterangan:
PWt = Harga komoditas tertentu di pasar dunia pada tahun ke t
XWt, = Jumlah ekspor negara pengekspor komoditas tertentu tahun ke t MWt = Jumlah impor negara pengekspor komoditas tertentu tahun ke t PWt-1 = Harga komoditas tertentu di pasar dunia pada tahun ke t-1
Elastisitas Penawaran
Elastisitas penawaran (Es) adalah angka yang menunjukkan berapa persen jumlah barang yang ditawarkan berubah, bila harga berubah satu persen. Elastisitas penawaran juga dapat dikaitkan dengan faktor-faktor atau variabel-variabel lain yang dianggap mempengaruhinya, seperti tingkat bunga, tingkat upah, harga bahan baku, dan harga bahan antara lainnya. Elastisitas penawaran dapat ditulis:
Es= y w atau Es = % ∂
% ∂ = ∂ / ∂ /
Es = * ∂
Beberapa faktor yang menentukan elastisitas penawaran antara lain:
1. Jenis produk; kurva penawaran produk pertanian umumnya inelastis (lambat merespon perubahan harga), sementara kurva penawaran produk industri umumnya elastis (cepat merespon perubahan harga).
2. Sifat perubahan biaya produksi; penawaran akan bersifat inelastis bila kenaikan penawaran hanya dapat dilakukan dengan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi, dan bila penawaran dapat ditambah dengan pengeluaran biaya tambahan yang tidak terlalu besar, penawaran akan bersifat elastis.
3. Jangka waktu; jangka panjang atau jangka pendek. Hampir semua barang (komoditas) memiliki penawaran yang lebih elastis dalam jangka panjang dibandingkan dengan jangka pendeknya karena dalam jangka panjang produsen mampu mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam jangka pendek.
Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang dibeli sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhi nya (ceteris paribus), tiga diantaranya yang penting yaitu harga barang itu sendiri, harga barang lain, dan pendapatan. Elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang itu sendiri disebut elastisitas harga (price elasticity of demand); elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang lain disebut elastisitas silang (cross elasticity); dan yang terkait dengan pendapatan disebut elastisitas pendapatan (income elasticity). 1. Elastisitas harga (price elasticity of demand)
Elastisitas harga (Ep) mengukur berapa persen permintaan terhadap suatu barang (komoditas) berubah jika harganya berubah sebesar satu persen. Dapat ditulis:
Beberapa faktor yang menentukan tingkat elastisitas harga yaitu:
a) Tingkat substitusi; semakin sulit mencari substitusi suatu barang (komoditas), maka permintaan semakin inelastis.
b) Jumlah pemakai; semakin banyak jumlah pemakai, maka permintaan akan suatu barang semakin inelastis.
c) Proporsi kenaikan harga terhadap pendapatan konsumen; semakin besar proporsinya, maka permintaan cenderung lebih elastis.
d) Jangka waktu; tergantung jenis barang (komoditas), durabel atau
nondurabel. Untuk barang (komoditas) yang habis dipakai dalam waktu kurang dari satu tahun (barang tidak tahan lama/nondurable goods), elastisitas harga lebih besar dalam jangka panjang dibandingkan jangka pendek. Sedangkan untuk barang yang masa konsumsinya lebih dari satu tahun (barang tahan lama/durable goods), permintaannya lebih elastis dalam jangka pendek, dibandingkan dengan jangka panjang.
2. Elastisitas silang (cross elasticity)
Ec= y
atau Ec = % ∂ % ∂ =
∂ / ∂ /
Ec = * ∂
∂
3. Elastisitas pendapatan (income elasticity)
Elastisitas pendapatan (Ei) mengukur persentase perubahan permintaan suatu barang (komoditas) sebagai akibat perubahan pendapatan sebesar satu persen. Dapat ditulis:
Ei= y atau Ei = % ∂ % ∂I = ∂ /∂�/I Ei = I * ∂
∂I
Ukuran-Ukuran Elastisitas Penawaran dan Permintaan
Ukuran-ukuran elastisitas penawaran dan artinya, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Ukuran elastisitas penawaran
Besar Elastisitas Istilah Keterangan
Es Inelastis sempurna Jumlah yang ditawarkan tidak berubah (tetap/konstan) dengan adanya perubahan harga.
0 < Es < 1 Inelastis Jumlah yang ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan harga.
Es=1 Elastisitas unit Jumlah yang ditawarkan berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.
1 < Es < ∞ Elastis Jumlah yang ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih besar dari pada perubahan harga.
Es = ∞ Elastis sempurna Berapapun jumlah yang ditawarkan, harga tidak berubah (tetap/konstan).
Sumber: Schaum’s Outline: Mikroekonomi (2006)
Tabel 6 Ukuran elastisitas permintaan
No Besar Elastisitas Istilah Keterangan 1. Elastisitas Harga dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan harga.
c. Ep=1 Elastisitas unit Jumlah yang diminta berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.
a. Ec > 0 (positif) Barang substitusi Kenaikan harga barang substitusi berakibat meningkatnya jumlah berakibat turunnya jumlah yang diminta untuk barang yang
Jumlah yang diminta berubah dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan pendapatan. d. Ei > 1 Barang mewah Jumlah yang diminta naik, saat
pendapatan naik.
Sumber: Schaum’s Outline: Mikroekonomi (2006)
Nilai Tukar
dimana kita bisa memperdagangkan barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain, sehingga nilai tukar riil sering disebut terms of trade. Secara matematis nilai tukar riil dapat dirumuskan sebagai berikut:
Nilai tukar riil =�� �� �� � �; ∈ = � ∗
′
Keterangan:
∈ = Nilai tukar riil
e = Nilai tukar nominal (nilai mata uang pengimpor per mata uang pengekspor)
P = Tingkat harga di negara pengekspor P` = Tingkat harga di negara pengimpor
Jika nilai tukar riil tinggi, maka harga barang-barang di negara pengimpor relatif lebih murah dibanding harga barang-barang di negara pengekspor. Begitupun sebaliknya jika nilai tukar riil rendah, maka harga barang-barang di negara pengimpor relatif lebih mahal dibanding harga barang-barang di negara pengekspor. Dalam perekonomian yang hanya terdapat dua negara (negara I dan II), apresiasi nilai tukar negara II terhadap nilai tukar perdagangan akan meningkatkan permintaan impor barang oleh negara II. Peningkatan ini terjadi karena harga barang di negara II relatif lebih mahal dari pada harga barang di negara I, sehingga kondisi ini akan memacu negara II untuk memenuhi kebutuhan domestiknya dengan meningkatkan impor dari negara I. Permintaan impor yang semakin besar di negara II akan menggeser kurva permintaan di negara tersebut.
Regresi Linear
Analisis regresi adalah teknik statistika yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan-hubungan diantara variabel-variabel. Dalam regresi linear berganda terdapat lebih dari satu variabel yang menjelaskan. Oleh karena itu analisis mengenai ketergantungan satu variabel pada lebih satu variabel yang menjelaskan dikenal sebagai analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Untuk menduga model populasi regresi berganda digunakan metode kuadrat terkecil (Least square method). Suatu statistik dikatakan sebagai penduga parameter yang konsisten apabila ada peluang untuk memperoleh perbedaan statistik dan parameter yang makin mendekati nol bila jumlah individu sampel bertambah banyak. Pendugaan nilai koefisien regresi dengan metode kuadrat terkecil ditujukan untuk mencapai kondisi statistik yang baik. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, metode kuadrat terkecil akan menghasilkan pendugaan yang baik apabila asumsi-asumsi yang mendasarinya terpenuhi.
Model populasi regresi linear berganda dengan data time series dapat dituliskan sebagai berikut:
Yt = α + β1X1t + β2X2t + . . . . + βk Xkt + εt (1)