• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN GAYA O BRIEN DAN GAYA ORTOD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN GAYA O BRIEN DAN GAYA ORTOD"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 PERBANDINGAN GAYA O’BRIEN DAN GAYA ORTODOK

TERHADAP HASIL BELAJAR TOLAK PELURU

(Siswa Kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang Tahun Pelajaran 2014/2015)

Achmad Fauzi

Email :[email protected]

ABSTRAK

Melihat dari perlombaan-perlombaan pada cabang atletik terutama pada nomor tolak peluru tingkat MTs pada ajang Porseni kenapa yang sering digunakan dalam perlombaan tersebut selalu gaya Ortodoks (menyamping) bukan gaya O’brien (membelakangi), hal ini dikarenakan guru mata pelajaran lebih memilih gaya Ortodoks

dan sering diajarkan kepada peserta didiknya, dibandingkan gaya O’Brien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan antara perbandingan gayaO’brien dengan gaya Ortodoks terhadap hasil belajar tolak peluru, sehingga dari kedua gaya tersebut dapat diketahui hasil belajar siswa.

Penelitian ini menggunakan penelitian kausal komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 120 Siswa dan terbagi dalam 4 kelas yaitu VIIIa dengan 30 siswa, VIIIb dengan 30 siswa, VIIIc dengan 30 siswa dan VIIId dengan 30 siswa. Melalui teknik random sampling diperoleh sampel yaitu sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII yang berjumlah 60 siswa. Desain penelitian ini menggunakan rancangan yang hanya Posttest yaitu kausal komparativ yang menggunakan dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B. Setelah selesai pembelajaran kedua kelompok tersebut diberikan posttest untuk pengumpulan data. Analisis awal mengunakan hipotesis dengan bantuan program komputer SPSS20 (Statistical Product and Service Solution).

Uji hipotesis peneliti menggunakan uji t (independent sample t-test). Berdasarkan output SPSS, uji t (independent sample t-test) dengan taraf signifikan 0.002 dengan batas bawah yang ditentukan yaitu sebesar 0.05 diperoleh t hitung = 3.231

dan t tabel = 2,0017. Daerah penerimaan H0 adalah jika t hitung<2,0017, jelas bahwa H0

ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbandingan antara gaya

O’brien dan gaya Ortodoks terhadap hasil belajar tolak peluru dengan media bermain (siswa kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang Tahun Pelajaran 2014/2015).

Kata Kunci: Gaya O`brien dan Gaya Ortodoks, Hasil Belajar Tolak Peluru.

ABSTRACT

(2)

2 This research uses a causal comparative research. The population in this study were all eighth grade students of MTs Salafi Syafi'iyah 2014/2015 school year, amounting to 120 students and is divided into four classes, namely VIIIA with 30 students, with 30 students VIIIB, VIIIC with 30 students and VIIId with 30 students. Through random sampling technique was obtained sample is a sample in this study is a class VIII of 60 siswa.Desain this study using posttest only design that is causally komparativ that uses two groups: group A and group B. After completion of learning both groups given the posttest for data collection. Preliminary analysis using the hypothesis with the aid of a computer program SPSS20 (Statistical Product and Service Solutions).

Test our hypotheses using a t-test (independent sample t-test). Based on SPSS output, t test (independent sample t-test) with significance level 0002 with the specified lower limit of 0.05 is obtained t = 3231 and t table = 2.0017. H0adalah reception area if t <2.0017, it is clear that H0 is rejected. It can be concluded that there is no comparison between the style and style Orthodox O'brien on learning outcomes shot put with media play (eighth grade students of MTs Salafi Syafi'iyah Bandung Diwek Jombang academic year 2014/2015).

Keywords : O'Brien Style and Style Orthodox, Learning Outcomes Shot Put.

A. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan keseluruhan terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka membantu anak didik agar menjadi manusia terdidik sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan berkaitan erat dengan hal yang ingin dicapai dalam program pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan nasional berkaitan erat dengan filsafat Negara yang dianutnya.

Pendidikan Nasional merupakan akar dari kemajuan suatu bangsa sesuai dengan Pancasila serta dengan UUD 1945. hal ini sesuai dengan UUD 1945 yang mengamanatkan :

“Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan pemerintah merupakan badan pengurus pendidikan yang bertugas menyelenggarakan pendidikan Nasional yang diatur oleh Undang, yaitu Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional”.

Secara konseptual pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup peserta didik. Pendidikan jasmani menurut Kristiyandaru (2010:33) adalah bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang serasi, selaras dan seimbang.

Perkembangan Pendidikan dijaman sekarang ini meningkat sangat pesat lebih khususnya di Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, banyak cara-cara atau strategi-strategi yang digunakan para pendidik untuk menjadikan proses belajar mengajar lebih menarik dan menyenangkan. Seperti proses belajar mengajar menggunakan modifikasi olahraga, atau juga proses belajar mengajar menggunakan suatu media pembelajaran agar peserta didik lebih tertarik dan berminat pada penyampaian materi atau praktek lapangan.

(3)

3 sehat bagi peserta didik. Jadi, secara sederhana ini mengandung makna bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang terpadu dari pendidikan yang menyeluruh, Soemosasmito (1993:8).

Menurut Hamarlik (2011:28), belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Jadi lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau ditemukan sebelumnya akan tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi.

Sekolah sebagai salah satu lembaga formal memiliki tugas dan wewenang menyelenggarakan proses pendidikan, salah satu pendidikan yang diadakan di sekolah adalah pendidikan jasmani. Pendidikan Jasmani hakekatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perceptual, kognitif, dan emosional, sehingga tercipta proses belajar mengajar yang baik dan dapat menciptakan hasil yang baik.

Jika dilihat dari definisi belajar tersebut, maka penelti juga menyimpulkan bahwa belajar merupakan suatu tindakan sadar yang dilakukan seseorang dengan tujuan dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Atletik (athletics) adalah sekumpulan olahraga yang meliputi lari, jalan, lempar dan lompat, yang telah menjadi aktivitas olahraga tertua dalam peradaban manusia. Olahraga ini, dalam budaya Inggris dan beberapa Negara lain, dikenal dengan istilah track and field, yang artinya “lintasan dan lapangan”, (Winendra, 2008:4).

Olahraga atletik sering dianggap sebagai “induk” dari olahraga. Sebab, atletik terdiri dari unsur-unsur gerak utama yang mendasari banyak cabang olahraga, yaitu lari, jalan, lompat, dan lempar. Didalam atletik salah satu nomor yang sering diajarkan dalam proses belajar mengajar salah satunya adalah tolak peluru, dalam tolak peluru ada 2 gaya yaitu gaya O’brien dan gaya Ortodoks, (Winendra, 2008:61). Dari hasil observasi dan wawancara mengapa ketika melihat perlombaan-perlombaan pada cabang atletik terutama pada nomor tolak peluru tingkat MTs pada ajang Porseni kenapa yang sering digunakan dalam perlombaan tersebut selalu gaya Ortodoks (menyamping) bukan gaya O’brien (membelakangi), hal ini dikarenakan guru mata pelajaran lebih memilih gaya Ortodok dan sering diajarkan kepada peserta didiknya, dibandingkan gaya O’Brien. Peserta didik cenderung lebih memilih gaya Ortodok, karena gaya ini lebih mudah dibandingkan gaya O’brien, padahal menurut Winendra (2008:61), diantara dua teknik tersebut yang mampu memberikan hasil tolakan terjauh adalah teknik menolak dengan awalan mundur atau O’brien.

(4)

4

B. LANDASAN TEORI

Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan mental yang tidak dapat diamati dari luar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang tersebut. Hasil belajar hanya bisa diamati, jika seseorang menampakan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar. Karenanya, berdasarkan perilaku yang ditampilkan dapat ditarik kesimpulan bahwa sesorang telah belajar. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka, responya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responya menurun, (Dimyati dan mudjiono 2011:9).

Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan yang membantu memfasilitasi belajar. Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru. Dengan tujuan untuk membantu siswa agar ia dapat belajar dengan mudah. Maka dalam pembelajaran itu diharapkan semua komponen dapat mengerti dan memahami tugas dan kewajiban masing-masing, sehingga pembelajaran itu berjalan dengan hasil yang maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan dan dicita-citakan, sehingga siswa merasa puas dengan pembelajaran itu.

Dalam pembelajaran ada beberapa teori yang digunakan untuk meraih tujuan dari suatu pembelajaran. Secara umum, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan.

Tujuan pembelajaran itu dapat mengetahui proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu seberapa jauh keefektifan dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan, (Sudjana, 2004:4).

Manfaat pembelajaran yaitu bagi guru dapat mengetahui kemampuan dirinya sebagai pengajar, baik kekurangan maupun kelebihannya. Bagi siswa hasil penilaian mengenai cara belajar, kesulitan belajar, dan hubungan sosial dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan upaya dan motivasi belajar yang lebih baik lagi, (Sudjana, 2004:159-160).

Atletik

Atletik (athletics) adalah sekumpulan olahraga yang meliputi lari, jalan, lempar dan lompat, yang telah menjadi aktivitas olahraga tertua dalam peradaban manusia. Olahraga ini, dalam budaya Inggris dan beberapa Negara lain, dikenal dengan istilah track and field, yang artinya ‘lintasan dan lapangan’. Seorang olahragawan yang menekuni olahraga atletik disebut dengan atlet (athlete).

Olahraga atletik sering dianggap sebagai “induk” dari olahraga. Sebab, atletik terdiri dari unsur-unsur gerak utama yang mendasari banyak cabang olahraga, yaitu lari, jalan, lompat, dan lempar.

(5)

5

Tolak Peluru

Secara teknis, tolak peluru berbeda dengan nomor lempar lainnya. Olahraga ini menguji kekuatan atlet untuk menolakkan peluru sejauh mungkin. Disebut tolak peluru karena atlet harus mendorong, bukan melempar, objek berbentuk peluru dengan satu tangan saja. Peluru terbuat dari bola besi. Selain kekuatan tangan, kecepatan gerakan dan koordinasi tubuh sangat penting untuk menciptakan daya yang maksimal saat mendorong/menolak peluru.

Perlombaan tolak peluru, setiap atlet diberi kesempatan tiga kali untuk melakukan tolakan. Dari semua atlet yang tampil, delapan atlet terbaik akan dipilih dan diminta untuk melakukan tiga kali lemparan lagi. Atlet yang berhasil melontarkan peluru terjauh, dialah pemenangnya. Tolakan dianggap gugur bila peluru tidak mendarat di wilayah tolakan yang telah ditentukan, atau jika atlet melangkah keluar dari lingkaran.

Alat yang digunakan dalam perlombaan tolak peluru hanya berupa bola besi dengan berat yang disesuaikan dengan kelas yang diperlombakan. Untuk perlombaan tingkat International senior, laki-laki menolak peluru seberat 7,26 kg dan perempuan menolak peluru seberat 4 kg.

Perlombaan atletik yang diperuntukkan bagi pelajar atau anak-anak, berat peluru yang dipergunakan lebih ringan, berkisar antara 3,25-6 kg untuk laki-laki dan 2,72-4 kg untuk perempuan.

Ukuran bola besi atau peluru berbeda-beda, disesuaikan dengan berat peluru tersebut. Dalam perlombaan laki-laki, diameter bola besi seberat 7,26 kg berkisar 110-130 mm, peluru dengan berat 6 kg sekitar 105-125 mm, dan peluru seberat 3,25 kg berdiameter 90-105 mm. Adapun dalam perlombaan perempuan, diameter bola besi seberat 4 kg adalah 95-110 mm dan peluru seberat 2,72 kg berdiameter 85-95 mm.

Tolak Peluru Gaya O’Brien

Secara sederhana, teknik menolak Gaya O’brien terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

1. Sikap awal memegang peluru

Peluru diletakkan di pangkal jari-jari telapak tangan. Jari telunjuk, jari tengah, dan jari kelingking merupakan titik tolak yang utama daya membantu proses tolakan. Dengan jari-jari merapat, kelingking dan ibu jari menjaga kedudukan peluru diletakkan di depan bahu, ditulang selangka. Sementara itu, tulang rahang bawah ditempelkan pada leher.

2. Gerakan awalan

Posisi badan atlet membelakangi daerah tolakan. Bagi penolak dengan tangan kanan, berat badannya harus berada di atas kaki kanan dengan cara membungkukkan badannya ke depan. Kaki kiri digeser ke belakang, dengan ujung kaki masih berpijak. Sikut lengan kiri ditekuk di depan dada. Badan harus rileks untuk menjaga keseimbangan badan.

3. Gerakan memutar

(6)

6 4. Gerakan menolak peluru

Kaki kanan menumpu kuat di tanah. Badan masih membelakangi daerah tolakan, bersiap untuk menolak. Kemudian, lutut diluruskan untuk menghasilkan daya tolakan yang kuat sambil memutar badan ke depan ke arah daerah tolakan. Dilanjutkan dengan dorongan atau tolakan kuat tangan kanan kearah atas dengan sudut tolakan lebih kurang 45°.

5. Gerakan lanjutan dan sikap akhir

Setelah peluru terlontar, kaki kanan mendarat sejajar dengan kaki kiri. Kedua kaki menjaga keseimbangan badan agar tidak jatuh ke depan. (Winendra, 2008:62).

Tolak Peluru Gaya Ortodoks

Cara melakukan adalah sebagai berikut :

1. Sikap awal berdiri menyamping dengan sector tolakan berada disector kiri tubuhnya, lutut kaiki kanan ditekuk, sedangkan kaki kiri diluruskan ke belakang. Berat badan berada pada kaki kanan dengan pandangan mata ke depan.

2. Tangan kanan memegang peluru yang diletakkan di atas bahu kanan menempel pada rahang, sedangkan tangan kiri diangkat ditekuk di depan wajah kiri berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh.

3. Gerakan akan menolak, yaitu kaki kiri diangkat kemudian diputarkan ke arah kiri sebanyak 2-3 kali putaran kemudian kaki kiri berpijak disebelah kaki kanan. 4. Kaki kiri digeser kesamping kiri sambil kaki kanan juga digeser mengikuti arah

kaki kiri bergeser.

5. Waktu kedua kaki digeser ke kiri, peluru dilemparkan dengan cara tangan kanan yang memegang peluru didorong kearah depan atas, jalannya peluru berbentuk parabola diikuti pandangan mata kearah jalannya peluru.

6. Sikap akhir, berat badan berada di kaki kanan diusahakan tubuh tidak ke luar dari lingkaran, (Walpaperhd99 : 2013).

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik dan benar.

(7)

7

C. METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian menggunakan kausal komparatif yanghanya Post-test, pada kedua kelompok ini dipakai untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan menemukan sebab akibatnya.

Suatu penelitian ada variabel-variabel yang harus diketahui. Variabeladalah suatu konsep yang memiliki variabilitas atau keragaman yang menjadi fokus penelitian (Maksum, 2012:29). Variabel dapat digolongkan menjadi variabel bebas dan varibel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi, sementara variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi, (Maksum, 2012:30).

Variabel bebas yang dimaksud peneliti adalah pengaruh gayaOrtodok dan gaya

O’brien. Sedangkan Variabel terikat yang dimaksud peneliti adalah hasil belajar dari kedua gaya tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas, dalam pengambilan nilai (Post-test)penelitian kali ini adalah melakukan gayaO’brien dan gaya Ortodoks.

Dalam hal ini rencana penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitiankausal komparatifkarena dalam penelitian ini hanya bertujuan untuk membandingkan antara gaya O’brien dan gaya Ortodoks terhadap hasil belajar tolak peluru, sehingga dari kedua gaya tolak peluru tersebut dapat terukur hasil belajar siswa.

Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah tes tolak peluru gayaO’brien dan gaya Ortodok. Ketentuan-ketentuan tes dengan menggunakan tes tolak peluru gaya tersebut yaitu :

Untuk mengukur kemampuan tolak peluru gaya O’brien dan gaya Ortodoks, terutama untuk membandingkan hasilnya. Peluit, roll meter, lapangan tolak peluru, blangko penilaian, peluru.

Seorang penghitung sekaligus pencatat seberapa jauh hasil tolakan dan menilai ketepatan melakukan gaya.

cara pemberian nilai dengan cara, siswa diberikan tes tolak peluru gaya O’brien dan juga tes tolak peluru gaya Ortodoks yang dinilai yaitu jarak tolakannya dan ketepatan melakukan gayanya. Siswa diberikan kesempatan melakukan tes sebanyak 2 kali lalu diambil hasil terbaiknya. Setelah seluruh siswa melakukan tes tolak peluru gaya O’brien dan juga gaya Ortodoks, hasil tolakan akan dikonversi menjadi nilai menggunakan PAN (Penilaian Acuan Norma).

PAN (Penilaian Acuan Norma) dengan rumus statistik sebagai berikut :

Nilai Skor Nilai Skor

(8)

8 Keterangan :

M = Mean (rata-rata) SD = Standard Deviasi

Sedangkan untuk penilaian ketepatan melakukan gayaO’briendan gaya

Ortodoksmenggunakan rubrik penilaian yang tertera dalam RPP (Rencana Pelaksaaan Pembelajaran).

Penilaian akhir menggabungkan nilai jarak tolakan dan nilai ketepatan melakukan gayaO’briendangaya Ortodoks kemudian dibagi dua.

NA = N +N Keterangan : NA = Nilai Akhir

N1 = Nilai jarak tolakan

N2 = Nilai ketepatan melakukan gaya

Prosedur Penelitian

Suatu penelitian memerlukan prosedur penelitian agar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan lebih sistematis dan jelas dalam pelaksanaannya. Peneliti melaksanakan penelitian ini dilakukan selama 2 minggu dengan 4 kali pertemuan.Adapun pada penelitian ini peneliti melakukan penelitian selama 4 pertemuan, berikut ini adalah uraian penelitiannya :

1. Pertemuan pertama, peneliti melakukan pemberian materi tolak peluru gayaO’brien.

2. Pertemuan kedua, peneliti masih memberikan materi tolak peluru gayaO’briendan setelah materi diberikan dilanjutkan dengan melakukan Posttest dengan melakukan tes tolak peluru untuk pengambilan nilai.

3. Pertemuan ketiga, peneliti melakukan pemberian materi tolak peluru gayaOrtodoks.

4. Pertemuan keempat, peneliti masih memberikan materi tolak peluru gayaOrtodoks

dan setelah materi diberikan dilanjutkan dengan melakukan Posttest dengan melakukan tes tolak peluru untuk pengambilan nilai.

Langkah-langkah pelaksanaan tes tolak peluru gaya O’brien dan gaya Ortodoks: 1. Siswa berbaris sambil menunggu kesempatan tes.

2. Siswa yang melakukan tes dipanggil berdasarkan nomor urut.

Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data sehingga data-data tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan. Analisis yang digunakan adalah uji-t dengan syarat sempel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 20. Dari hasil perhitungan menggunakan SPSS 20 diketahui seberapa signifikan perbedaan antara gayaO’brien dengan gaya Ortodoks

sehingga dengan hasil output SPSS 20 tersebut dapat diketahui hasil belajar mana yang lebih baik.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

(9)

9 disajikan berupa data yang diperoleh dari hasil skor tes tolak peluru gaya O’brien dan tes tolak peluru gaya Ortodoks pada siswa kelas VIIIMTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang. Adapun yang menjadi sampel penelitian pada penelitian ini yaitu siswa kelas VIII yang berjumlah 60 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok.

Perhitungan analisis data ini peneliti menggunakan perhitungan statistik program komputer SPSS20 (Statistical Product and Service Solution).Setelah dilakukan perhitungan rata-rata dari hasil penelitian dapat diketahui pada tabel sebagai berikut:

4.1 Tabel Descriptives Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Nilai 60 1.56 6.71 3.7702 1.58457

Valid N (listwise) 60

Dari hasil tolakan diatas dapat diketahui rata-rata yaitu 3,77 dan Standar Deviasi yaitu 1,58. Perhitungan rata-rata dan Standar deviasi mengunakan bantuan program

SPSS20 (Statistical Product and Service Solution).

Dalam penentuan dari hasil jauhnya tolakan menjadi nilai digunakan PAN (Penilaian Acuan Norma) dengan Rumus sebagai berikut :

Nilai Skor Nilai Skor

100 M + (2,25 x SD) 50 M – (0,25 x SD)

90 M + (1,75 x SD) 40 M – (0,75 x SD)

80 M + (1,25 x SD) 30 M – (1,25 x SD)

70 M + (0,75 x SD) 20 M – (1,75 x SD)

60 M + (0,25 x SD) 10 M – (2,25 x SD)

Keterangan : M : Mean (rata-rata) SD : Standar Deviasi

Dari rumus diatas maka dapat dihasilkan acuan nilai sebagai berikut :

Nilai Skor Nilai Skor

100 3,77+ (2,25 x 1,58) 4,02 + 4 = 7,32 90 3,77+ (1,75 x 1,58) 4,02 + 3,11 = 6,53 80 3,77+ (1,25 x 1,58) 4,02 + 2,22 = 5,74 70 3,77+ (0,75 x 1,58) 4,02 + 1,33 = 4,95 60 3,77+ (0,25 x 1,58) 4,02 + 0,44 = 4,16 50 3,77– (0,25 x 1,58) 4,02 – 0,44 = 3,37 40 3,77– (0,75 x 1,58) 4,02 – 1,33 = 2,58 30 3,77– (1,25 x 1,58) 4,02 – 2,22 = 1,00 20 3,77– (1,75 x 1,58) 4,02 – 3,11 = 0,91 10 3,77– (2,25 x 1,58) 4,02 – 4 = 0,21 3,38 – 4,16 = 60

4,17 – 4,95 = 70 4,96 – 5,74 = 80 5,75 – 6,53 = 90 ≥ 6,54 = 100

≤ 0,21 = 10 0,22 – 0,91 = 20 0,92 – 1,00 = 30 1,01 – 2,58 = 40 2,59 – 3,37 = 50

Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah data yang dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas digunakan pada skor awal dari masing-masing sampel. Dari perhitungan SPSS20 for windows menggunakan uji normalitas

(10)

10 signifikansi dari nilai hitung Kolmogorov-Smirnov (Asymp.sig) berada diatas nilai alpha (5%) atau 0,05 maka H1 diterima dan Ho ditolak.

Sedangkan jika nilai signifikansi dari nilai hitung Kolmogorov-Smirnov di atas nilai alpha (5%) atau 0.05 maka H1 ditolak dan Ho diterima. Berikut hasil output

pengujian normalitas dengan menggunakan SPSS 20 for windows: 4.4 Tabel uji normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kelompok_a Kelompok_b

N 30 30

Normal Parametersa,b Mean 68.283 58.167

Std. Deviation 13.2793 10.8511

Most Extreme Differences

Absolute .146 .188

Positive .103 .188

Negative -.146 -.112

Kolmogorov-Smirnov Z .799 1.027

Asymp. Sig. (2-tailed) .546 .242

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa nilai hitung Kolmogorov-Smirnov dan nilai Asymp sig. (2- tailed). Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov dan Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu kelompok A sebesar 0,546 dan kelompok B sebesar 0,242 lebih besar dari nilai alpha� = 0,05. Jadi data hasil tolak peluru gayaO’briendan gaya Ortodokspadasiswa kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang berdistribusi normal dan layak dilakukan untuk pengujian selanjutnya.

Uji Homogenitas

Tujuan dilakukan uji homogenitas pada penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah data mempunyai varians yang homogen atau tidak. Dalam penghitungan uji homogenitas yang menjadi bahan kajian perhitungan yaitu skor dari masing-masing tes hasil belajar tolak peluru gaya O’briendan gaya Ortodoks pada siswa kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang dengan kriteria pengujian : jika hasil nilai thitung berada diatas nilai alpha (5%) atau 0,05 maka H1 diterima dan Ho ditolak.

Berikut hasil output pengujian homogenitas dengan menggunakan SPSS 20 for windows:

4.5 Tabel uji homogenitas

Test of Homogeneity of Variance

Levene Statistic df1 df2 Sig.

Nil ai

Based on Mean 1,704 1 58 ,197

Based on Median 1,696 1 58 ,198

Based on Median and with adjusted df 1,696 1 55,727 ,198

Based on trimmed mean 1,653 1 58 ,204

(11)

11 dipergunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan uji-t. berikut output hasil uji t dengan menggunakan bantuan program SPPS 20 for windows:

4.6 Tabel Independent Samples Test

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel diatas maka dapat diketahui bahwa nilai thitung dilihat di Equal variances assumedsebesar 3.231. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak karena nilai thitung3.231> nilai ttabel2,0017.

Demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbandingan antara gaya O’brien dengan gaya Ortodoks terhadap hasil belajar tolak peluru pada siswa kelas VIII MTs Salafiyah Safi’iyah Bandung Diwek JombangTahun Pelajaran 2014/2015.

Pembahasan

Hasil belajar dari gayaO’brien menunjukkan bahwa nilai jauhnya tolakan lebih baik dibandingkan gaya Ortodok, dikarenakan gaya O’brien lebih mendapatkan tenaga yang besar dan akurat, untuk kekurangan gaya O’brien adalah sulit dilakukan karena sebagian besar guru penjaskes pada tingkat MTs memilih yang mudah atau yang sering diajarkan adalah gaya Ortodoks.

Berdasarkan penghitungan yang diperoleh hasil belajar siswa kelas VIII dari pengujian hipotesis penelitian ini dilihat pada outputSPSS yang menyatakan nilai thitung

sebesar3.231 dengan nilai ttabel sebesar 2,0017. Hal ini berarti nilai thitung lebih dari

ttabel.Selain itu taraf signifikan sebesar 0,002 dimana hasil itu di bawah batas yang

ditentukan yaitu sebesar 0,05 sehingga dengan demikian hasil pengujian menunjukkan penolakan Ho. Karena Ho ditolak maka H1 diterima, sehingga hipotesis penelitian yang

(12)

12

E. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hasil penelitian tentang perbandingan gaya O’brien dan gaya Ortodoks terhadap hasil belajar tolak pelurupada siswa kelas VIII MTs Salafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang tahun pelajaran 2014/2015 adalah yang paling bagus dan mendapatkan hasil tolakan terjauh yaitu gaya O’brien. Dikarenakan gaya ini dapat meningkatkan prestasi pada peserta didik dan kekurangan gaya ini jarang diajarkan pada peserta didik tingkat MTs karena sulit dipraktekkan, karena guru memilih gaya yang termudah tapi hasil yang kurang maksimal yaitu gaya Ortodoks.

Berdasarkan hasil penelitian dan uji-t yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbandingan dari hasil belajar tolak peluru pada peserta didik kelas VIII MTs Slafiyah Syafi’iyah Bandung Diwek Jombang dengan nilai thitung3.231dan pada ttabel 2,0017. Dengan taraf signifikan sebesar 0,05. Dengan

demikian untuk thitung>ttabelberakibat terjadi penolakan pada Hosehingga H1diterima.

Saran

Berdasarkan simpulan diatas, maka saran-saran yang perlu diungkapkan :

1. Maka dari itu seorang guru dapat menentukan gaya tolak peluru mana yang dapat digunakan jika siswanya mengikuti suatu perlombaan agar dapat menghasilkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

2. Memberikan sebuah keyakinan siswa bahwa mereka bisa melakukan tolak peluru

gayaO’brien (membelakangi) dengan baik tentu dengan bersungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Winendra. 2008. Seri Olahraga Atletik. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik).Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik).Jakarta : Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Dimyati dan Mudjiono. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Hamarlik. Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar.Jakarta : PT Bumi Aksara.

Kristiyandaru. Advendi. 2010. Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga.

Surabaya : Unesa University Press.

Maksum, Ali. 2012. Metodologi Penelitian dalam Olahraga. Surabaya : UNESA.

Pengantar). Bandung : Alfabeta.

Rahmadan Pohan http://rahmadanypohan.blogspot.com/2012/05/pan-pap-dalam-evaluasi-pembelajaran.html

Sidik, Zafar. 2013. Mengajar dan Melatih Atletik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Soemosasmito. Soenardi. 1993. Pendidikan Jasmani Tujuan dan Strategi, Rencana dan

Penyajian, Evaluasi dan Supervisi. Surabaya : University Press IKIP Surabaya. Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja

Rosdakarja.

Taniredja, Tukiran dan Hidayati Mustafidah. 2012. Penelitian Kuantitatif (Sebuah

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif yang bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh Penerapan Aturan Etika terhadap Profesionalisme Auditor, (2) pengaruh

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode linier regression dangan weighted moving average (WMA) untuk mengetahui tingkat akurasi antara kedua metode tersebut

Dalam menjawab pertanyaan pada rumusan masalah maka penelitian ini merupakan penelitian komparatif/perbandingan yaitu membandingkan manakah yang lebih akurat antara

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan antara perbankan syariah dalam hal ini adalah bank syariah yang telah berdiri lebih dari lima tahun dengan bank

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ex post facto ini adalah kausal komparatif (causal comparative) yang bertujuan untuk meneliti sebab-akibat yaitu akibat

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kausal komparatif yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan kausal komparatif yaitu melihat apakah terdapat perbedaan

Dan penelitian kausal komparatif merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih yang bertujuan