DEWAN PERWAKILAN DAERAH MASA KINI
Mata Kuliah:
Hukum Tata Lembaga Negara
Dosen:
Dr. Hernadi Affandi, S.H.,LL.M.
Disusun Oleh:
Mega Yulanda
110110130280
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (disingkat DPD RI atau DPD), sebelum
2004 disebut Utusan Daerah, adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui
Pemilihan Umum.
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) lahir pada tanggal 1 Oktober 2004, ketika 128 anggota
DPD yang terpilih untuk pertama kalinya dilantik dan diambil sumpahnya. Pada awal
pembentukannya, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh DPD. Tantangan tersebut
mulai dari wewenangnya yang dianggap jauh dari memadai untuk menjadi kamar kedua
yang efektif dalam sebuah parlemen bikameral, sampai dengan persoalan kelembagaannya
yang juga jauh dari memadai. Tantangan-tantangan tersebut timbul terutama karena tidak
banyak dukungan politik yang diberikan kepada lembaga baru ini.
Keberadaan lembaga seperti DPD, yang mewakili daerah di parlemen nasional,
sesungguhnya sudah terpikirkan dan dapat dilacak sejak sebelum masa kemerdekaan.
Gagsan tersebut dikemukakan oleh Moh. Yamin dalam rapat perumusan UUD 1945 oleh
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).[2]
Gagasan-gagasan akan pentingnya keberadaan perwakilan daerah di parlemen, pada
awalnya diakomodasi dalam konstitusi pertama Indonesia, UUD 1945, dengan konsep
utusa daerah di dala Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang bersanding dengan
utusa golo ga da a ggota Dewa Perwakila Rakyat DPR . Hal tersebut diatur dala Pasal 2 UUD 1945, ya g e yataka bahwa MPR terdiri atas a ggota DPR dita bah
dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara pemilihan dan syarat menjadi anggota DPD?
2. Apa fungsi, tugas dan kewenangan anggota DPD?
3. Apa hak dan kewajiban dari anggota DPD?
4. Bagaimana kelemahan DPD yang ada pada saat ini?
C. TUJUAN
1. Mengetahui cara pemilihan anggota DPD dan juga mengetahui syarat menjadi
anggota DPD.
2. Mengetahui fungsi, tugas dan wewenang anggota DPD.
3. Mengetahui hak dan kewajiban dari anggota DPD.
BAB II
PEMBAHASAN
A. CARA PEMILIHAN DAN SYARAT MENJADI ANGGOTA DPD
Pasal 22 E UUD 1945 amandemen ke tiga menjelaskan bahwa, pemilihan umum
diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dari pasal
tersebut dapat dilihat bahwa anggota DPD dipilih melalui sebuah pemilihan.
Jika kita melihat pada pasal 22 C ayat (1) UUD 1945 amandemen ke tiga yang
menyebutkan bahwa anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui
pemilihan umum, hal ini menjelaskan bahwa sebagai perwakilan daerah, anggota DPD
merupakan perwakilan dari rakyat daerah provinsi. Anggota DPD pun dipilih langsung oleh
rakyat provinsi yang bersangkutan. Hal ini berarti hanya penduduk yang berdomisili yang
dapat menjadi calon dan dipilih menjadi anggota DPD. Selain itu hak memilih juga hanya
berlaku dalam wilayah provinsi yang bersangkutan.
Dalam hal pemilihan langsung anggota DPD sebenarnya memiliki beberapa kelemahan.1
Salah satunya adalah dalam hal mutu kualitas orang yang nantinya akan terpilih menjadi
anggota DPD. Bisa saja orang terpilih nantinya sebenarnya tidak memiliki kualitas yang
cukup baik sebagai perwakilan dari rakyat. Kemungkinan yang terpilih hanyalah mereka
yang memiliki tingkat popularitas yang tinggi, oleh karena itu ia bias terpilih menjadi
anggota DPD. Jika calon anggota DPD hanya dipilih karena popularitasnya dan bukan
kualitasnya, hal ini akan berakibat pada penampilan dan kemampuan orang tersebut dalam
menjalankan tugas dan wewenangnya sebangai anggota DPD. Kelemahan ini dapat diatasi
melalui system seleksi calon dan berbagai persyaratan hukum yang harus dipenuhi
(kompetensi dan integritas).2 Diharapkan dengan adanya seleksi terhadap calon anggota
DPD, nantinya anggota DPD yang terpilih memang telah memiliki kualitas yang matang
sebagai perwakilan rakyat.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012, BAB VII, Bagian Kesatu tentang
Persyaratan Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Pasal 51
menulis syarat bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah
Warga Negara Indonesia (WNI) yang memenuhi persyaratan, sebagai berikut:
1. Telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.
2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia.
5. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah
menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau pendidikan lain yang sederajat.
6. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
7. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
8. Sehat jasmani dan rohani.
9. Terdaftar sebagai pemilih.
10.Bersedia bekerja penuh waktu.
11.Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, pegawai negeri sipil,
anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia,
direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara
dan/atau badan usaha milik daerah atau badan lain yang anggarannya bersumber dari
keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat
ditarik kembali.
12.Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris,
dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat
menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota
DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
13.Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi,
komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau
badan usaha milik daerah serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan
negara.
14.Menjadi anggota Partai Politik Peserta Pemilu.
15.Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; dan
16.Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.
Banyaknya jumlah anggota DPD turut diatur oleh undang-undang. Hal ini tercantum
dalam pasal 22 C ayat (2) UUD 1945 yang telah diamandemen. Anggota DPD dari setiap
provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota DPD tidak lebih dari sepertiga anggota
DPR.
B. FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG DPD
FUNGSI DPD:3
a) pengajuan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah kepada DPR;
b) ikut dalam pembahasan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah,hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;
3 Pasal 248 ayat (1) Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
c) pemberian pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang
anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak,pendidikan, dan agama;
d) pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah,
pembentukan,pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.
Tugas dan Wewenang DPD:4
a) mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah kepada DPR;
b) ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan hal
sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
c) menyusun dan menyampaikan daftar inventaris masalah rancangan
undang-undang yang berasal dari DPR atau Presiden yang berkaitan dengan hal
sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
d) memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang
APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan,
dan agama;
e) dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai
otonomi daerah,pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya
ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama;
f) menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai
otonomi daerah,pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
4 Pasal 249 ayat (1) Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
ekonomi lainnya, pelaksanaan undang-undang APBN, pajak, pendidikan, dan
agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti;
g) menerima hasil pemeriksaan atas keuangan negara dari BPK sebagai bahan
membuat pertimbangan kepada DPR tentang rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan APBN;
h) memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota BPK; dan
i) menyusun program legislasi nasional yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
C. HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA DPD
a) mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang
berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;
5 Pasal 257 Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
6 Pasal 256 Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan
b) ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah;
c) memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pembahasan rancangan undang-undang
tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak pendidikan, dan agama;
d) melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah,
pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan\ pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN,
pajak, pendidikan, dan agama.
Anggota DPD berkewajiban:7
a) memegang teguh dan mengamalkan Pancasila;
b) melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan
menaati peraturan perundang-undangan;
c) mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
d) mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok, golongan,
dan daerah;
e) menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara;
f) menaati tata tertib dan kode etik;
g) menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain;
h) menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat; dan
i) memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada masyarakat di
daerah yang diwakilinya.
7 Pasal 258 Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan
D. KELEMAHAN DPD
Masih terdapat kelemahan didalam structural Dewan Perwakilan Daerah yang biasa
disebut DPD. Khususnya dalam pelaksanaan fungsi dan wewenang dari DPD. Menurut saya
DPD sejauh ini hanya sebagai badan pelengkap dari DPR, bahkan DPD terlihat hanya sebagai
badan yang membantu DPR dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.
Contoh dalam hal membuat undang. DPD hanya membuat rancangan
undang-undang saja. Hal ini dapat dilihat dari ketentuan pasal 22 D ayat (1) UUD 1945. Selanjutnya
rancangan itu akan diserahkan kepada DPR untuk ditindak lanjuti. DPD tidak diikut sertakan
dalam pembahasan rancangan undang-undang tersebut. Yang terlibat hanyalah pemerintah
dan DPR.Dalam hal ini DPD dianggap sebagai semacam biro perancang undang-undang DPR.
Bagaimana mungkin rancangan undang-undang yang berasal dari DPD, tetapi DPD tidak
mempunyai hak membahasnya dengan pemerintah.
Contoh lain adalah dalam hal bahwa DPD tidak mempunyai hak untuk menolak terhadap
suatu rancangan undang-undang. Padahal di dunia ini badan sepeti DPD diberikan hak
menolak (seperti House of Lords di Inggris), bahkan hak melakukan perubahan-perubahan.8
Pengaturan tentang DPD dalam perubahan UUD 1945 tidak mencerminkan gagasan
membentuk system perwakilan dua kamar. DPD lebih nampak sebagai badan komplementer
DPR.9 Padahal pada mulanya pembentukan DPD dimaksudkan dalam rangka mereformasikan
struktur parlemen Indonesia menjadi dua kamar (bicameral) yang terdiri atas DPR dan DPD.
Dengan struktur bicameral itu diharapkan proses legislasi dapat diselenggarakan
berdasarkan system double check yang memungkinkan representasi kepentingan seluruh
rakyat secara relative dapat disalurkan dengan basis yang lebih luas.10 DPR merupakan
cermin representasi politik (political representation), sedangkan DPD mencerminkan prinsip
representasi territorial atau regional (regional representation).11
8 Bagir Manan, DPR,DPD, dan MPR dalam UUD 1945 Baru, Yogyakarta: FH UII PRESS, 2003, hlm. 66
9 Rosjidi Ranggawidjaja, HUKUM TENTANG LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA, Bandung: Bagian Hukum
Tata Negara FH UNPAD, 2012
10Jimly Asshiddie, Perkembangan Dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006, hlm. 138
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (disingkat DPD RI atau DPD), sebelum
2004 disebut Utusan Daerah, adalah lembaga tinggi negara dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi
yang dipilih melalui Pemilihan Umum.
Pasal 22 C ayat (1) UUD 1945 amandemen ke tiga yang menyebutkan bahwa anggota
Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. Anggota
DPD dipilih langsung oleh rakyat provinsi yang bersangkutan.
Fungsi, tugas dan wewenang anggota DPD serta hak dan kewajibannya diatur dalam UU
no. 17 tahun 2014 (UU MD3 Terbaru)
Masih terdapat kelemahan didalam structural DPD. Khususnya dalam pelaksanaan
fungsi dan wewenang dari DPD. DPD sejauh ini hanya sebagai badan pelengkap dari
DPR, bahkan DPD terlihat hanya sebagai badan yang membantu DPR dalam
menjalankan tugas dan wewenangnya.
SARAN
Perlu melakukan perubahan lagi UUD 1945 karena masih terdapat kelemahan didalam
structural Dewan Perwakilan Daerah yang biasa disebut DPD. Khususnya dalam
pelaksanaan fungsi dan DPD. Hal ini dimaksudkan agar DPD benar-benar memiliki
kekuatan penting didalam structural fungsi dan wewenangnya. Menurut saya DPD
sejauh ini hanya sebagai badan pelengkap dari DPR, bahkan DPD merupakan badan yang
membantu DPR dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. DPD dianggap sebagai
semacam biro perancang undang DPR. Bagaimana mungkin rancangan
undang-undang yang berasal dari DPD, tetapi DPD tidak mempunyai hak membahasnya dengan
DAFTAR PUSTAKA
Manan, Bagir, 2003, DPR,DPD, dan MPR dalam UUD 1945 Baru, Yogyakarta: FH UII PRESS Asshiddie, Jimly, 2006, Perkembangan Dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. Jakarta:
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI
Ranggawidjaja, Rosjidi, 2012, HUKUM TENTANG LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA, Bandung: Bagian Hukum Tata Negara FH UNPAD
Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan