• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Uang Paksa (Dwangsom) Dan Sanksi Administratif Dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Uang Paksa (Dwangsom) Dan Sanksi Administratif Dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Uang Paksa (Dwangsom) Dan Sanksi Administratif Dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara

Oleh

Ivo Pardamean Simanjuntak

Penyelesaian sengketa tata usaha negara yang bersifat administratif adalah suatu prosedur yang dapat ditempuh oleh seseorang atau badan hukum perdata apabila ia tidak puas terhadap putusan tata usaha negara. Banyaknya putusan tata usaha negara yang tidak dipatuhi oleh pejabat tata usaha negara dikarenakan tidak adanya kekuatan eksekutorial dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Pasal 116 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara ayat (4), apabila tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan tata usaha negara yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan atau sanksi administratif. Uang paksa merupakan salah satu tekanan agar orang atau pihak yang dihukum mematuhi atau melaksanakan hukumannya.

Permasalahan yang diteliti adalah bagaimanakah pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap uang paksa, dan bagaimanakah pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap sanksi administratif.

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif. Adapun sumber data yang dalam penelitian ini yaitu data primer berasal dari penelitian pustaka melalui peraturan perundang-undangan, literatur, buku-buku dan dokumen-dokumen resmi.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap uang paksa diperlukan adanya peraturan pelaksana berupa peraturan pemerintah yang mengatur prosedur dan mekanisme pembayaran uang paksa, besaran uang paksa, dan pembebanan uang paksa, dan pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap sanksi administratif memerlukan peraturan pelaksana mengenai jenis sanksi administratif yang dapat dijatuhkan kepada pejabat publik yang tidak bersedia melaksanakan putusan pengadilan tata usaha negara.

(2)

ABSTRACT

JudicialReviewof ImplementationForcedMoney(Dwangsom)and Administrative SanctionsInthe State AdministrativeCourt's Decision

by

IvoPardamean Simanjuntak

Administrative dispute resolution administrative nature is a procedure that can be takenbya person or bodyof civil lawifhe is notsatisfied with thedecision ofthe state administration. The number ofadministrative decisions which have not been followedbyofficials of the state administration due tolack of strengthexecutorial in Act No. 5 of 1986 About the State Administrative Court. InAct No. 9 of 2004 Section 116 verse(4) About the State Administrative Court, if the defendant does not willing to implement the decision of the state administration which has obtained permanent legal force against the concerned officials charged forceful measures in the form of payment of a sum money forced and or administrative sanctions. Forced Money is one of the pressure that person or parties who was sentenced toobeyorcarry out thesentence.

The problems under study is how the implementation of the decision of the administrative court againstthe forced money, andhowthe implementation ofthe decision of the administrative courtagainst theadministrative sanctions. Approach to the problem used in this research is a normative approach. The source of the data in this study are primary data derived from the research literature through legislation, literature, booksandofficial documents.

The results showed that the implementation of the decision of the administrative courtagainst the forced moneynecessaryimplementingregulations in the form of government regulations that govern the procedures and mechanisms of compulsory payments, the amount of money forced, and the imposition of forced money, and enforcement of the administrative court to require administrative sanctions implementing regulations regarding the type of administrative sanctions which can be imposed on public officials who are not willing to implement the decision ofthe administrative court.

(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Parsoburan, Kabupaten Toba Samosir,

Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1991, penulis merupakan anak keenam dari enam bersaudara dari pasangan (alm)

Marudin Simanjuntak, dan Evelina br. Pardosi.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Santo Pius Parsoburan pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama di SMP R. A. Kartini Parsoburan pada tahun

2007 dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Habinsaran pada tahun 2010. Pada Tahun 2010 penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Lampung Fakultas

Hukum melalui Jalur Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat dan kemudian mengambil minat pada bagian Hukum Administrasi Negara. Penulis melaksanakan

(7)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, cinta kasih, serta rahmat dan karuniaNya,

sebagai wujud ungkapan terima kasih dan sayang serta bhakti yang tulus kupersembahkan karya ini teruntuk:

Kedua orang tuaku tercinta serta keluarga yang terus berjuang tanpa lelah, menyayangi dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharap balasan, mendukung,

menyemangati, dan senantiasa berdoa untuk kebahagiaan dan masa depan anaknya.

Kedua pembimbing yang telah membimbing, memberikan masukan, kritik dan saran yang membangun dari awal hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan

baik.

Kakak dan abang tersayang yang selalu memberikan motivasi dalam hidupku dalam menyelesaikan segala urusan.

(8)

MOTO

“Apabila anda berbuat kebaikan pada orang lain, maka anda telah berbuat baik terhadap diri sendiri ”

(Benyamin Franklin)

“Segala sesuatu dicapai melalui serangkaian proses yang harus dilewati dan dihayati dengan penuh kesabaran dan ketekunan disertai doa”

(9)

SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

rahmat dan anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Uang Paksa (Dwangsom) Dan

Sanksi Administratif Dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara”.

Adapun tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat akademis untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Lampung.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak dan

segala sesuatu dalam penulisan skripsi ini jauh dari sempurna mengingat keterbatasan kemampuan penulis

Pada kesempatan, ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum,

Universitas Lampung

2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H., selaku Ketua Jurusan Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum, Universitas Lampung.

3. Ibu Sri Sulastuti, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Utama terima kasih atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam

(10)

4. Ibu Eka Deviani, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Kedua atas

bimbingan dan pengarahannya yang sangat berharga dalam proses penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak Syamsir Syamsu, S.H., M.H., selaku Dosen Pembahas Utama yang telah memberikan kritikan dan masukan yang luar biasa untuk menyempurnakan skripsi ini.

6. Ibu Ati Yuniati, S.H., M.H., selaku Dosen Pembahasa Kedua atas ketersediaannya meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk

memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., Selaku Pembimbing Akademik yang dengan ikhlas telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

8. Seluruh Dosen Fakultas Hukum yang telah mengajar dan memberikan ilmu yang bermanfaat.

9. Teristimewa untuk kedua orang tuaku tersayang, (alm) M.Simanjuntak dan

Mamaku Evelina Pardosi, untuk doa, kasih sayang, dukungan, motivasi, dan pengajaran yang telah kalian berikan dari aku kecil hingga saat ini, yang

begitu berharga dan menjadi modal bagi kehidupan ku.

10. Kakak ku Tiur Simanjuntak dan Dermawaty Simanjuntak dan Abangku R.D Marihot Simanjuntak, T.T.T. Donatus Simanjuntak, Joannes Simanjuntak,

(11)

11. Sahabat-sahabat terbaikku sekaligus saudaraku yang selama empat tahun

terakhir ini menemani dan mengisi hari – hari dihidupku, Reni Oktauli Panjaitan, Abram Sitepu, Adatua Simbolon, Bryan Sipayung, Elyasip

Sembiring, Sanggam Simanullang, Jusuf Purba, Josua Tampubolon, Olfredo Sitorus, Richad Simanungkalit, Ricko Sihaloho, Rio Meliala, Rizal Sinurat, Saut Lumbangaol, Yoga Adrian Ibrahim, Yuri Simatupang, dan Wetson

Rumahorbo, Alex Sitinjak, Bobby Debataraja, Wiliam Sihombing yang tergabung dalam Gerobak Pasir fc, terimakasih untuk saat – saat berharga

yang telah dihadirkan dan kebersamaan kita selama ini, terimakasih telah menjadi semangat dalam penyusunan skripsi ini dan tugas – tugas

diperkuliahan diwaktu kemarin, terimakasih telah mengajarkan arti sebuah persahabatan selama ini kepadaku, kiranya kita bisa menjadi saudara selamanya.

12. Saudara seiman Alumni, Senior, Junior Keluarga Besar Forum Mahasiswa Hukum Kristen (Formahkris), Terima kasih atas doa, dukungan, persahabatan dan kebersamaannya dalam pelayanan kita selama ini,

13. Teman-teman kosan Wisma Resik; Ridho Thamrin, R.C.C. Sagala, Reno Sihombing, Dolly Nababan, Roy Sihombing, Andreas Simbolon, Rio Anggra

Prayuda, Alex Manurung, Lodewick, Rizal Sitorus dan Teman- teman kosan F-17; Batara, Cristian, Sisco, Alber, terimakasih atas persahabatan, kebersamaan, dukungan dan semangat yang selalu kalian berikan.

14. Teman - teman Mahasiswa Fakultas Hukum, yang tidak dapat disebutkan satu persatu terimakasih untuk bantuan, kebersamaan, kekompakan, canda tawa

(12)

perkuliahan ini kita masih tetap jalin komunikasi yang baik, tetap semangat

Viva Justicia Hukum Jaya.

15. Kawan – kawan Kuliah Kerja Nyata (KKN), Anisa Septa Rini, Lestari, Sherly

Yuliana Irmas, Silvi Widya Candra, Jordi Imanda, Eric, Izal, Dio, yang selama 40 hari bersama menjadi keluarga kecil di Desa Suka Cari.

16. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak

membantu sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai.

Apabila terdapat kekurangan dalam penulisan maupun pada penyusunan skripsi ini, maka penulis menerima saran, masukan, dan kritik dari pembaca sebagai

perbaikan skripsi ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bandar Lampung

Penulis

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... ....i

ABSTRACT ... ...ii

HALAMAN JUDUL ... ..iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... ..iv

HALAMAN PENGESAHAN ... ...v

RIWAYAT HIDUP ... ..vi

MOTTO ... .vii

PERSEMBAHAN ... viii

SANWACANA ... ..ix

DAFTAR ISI ... ...x

BAB I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup Penelitian ... 6

1.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Upaya paksa. ... 8

2.2 Pengertian Uang Paksa ... 9

2.3 Sifat Uang Paksa (Dwangsom)... 12

2.4 Jenis Putusann Yang Dapat Dikenakan Uang Paksa ... 13

2.5 Perbedaan Ganti Rugi dan Uang Paksa ... 14

2.6 Beban Pembayaran Uang Paksa ... 14

2.7. Upaya Administratif ... 15

2.7. Sanksi Administratif ... 19

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan masalah ... 20

3.2 Sumber Data dan Jenis data ... 21

3.3 Metode pengumpulan data ... 22

3.4 Analisis Data ... 23

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Ruang Lingkup Peradilan Tata Usaha Negara ... 24

(14)

4.1.2 Sengketa Tata Usaha Negara ... 27

4.1.3 Putusan Tata Usaha Negara ... 28

4.1.4 Eksekusi Putusan Tata Usaha Negara ... 30

4.2 Pelaksanaan Putusan Uang Paksa(Dwangsom) ... 34

4.3 Pelaksanaan Putusan Sanksi Administratif ... 39

BAB V. PENUTUP 5.1 Simpulan ... 43

5.2 Saran ... 44

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Untuk melaksanakan

unsur tersebut diperlukan penegakan hukum supaya hukum menjadi kenyataan. Ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam penegakan hukum yaitu :

kepastian hukum (rechtssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigkeit), dan keadilan (gerechtigkeit).1

Sarana hukum administrasi negara diperlukan untuk memberikan perlindungan

hukum kepada masyarakat dari segala perbuatan administrasi negara, dan disamping itu pada dasarnya juga memberikan perlindungan hukum bagi administrasi negara dalam menjalankan tugas, fungsi dan wewenangnya. Hukum

Administrasi Negara memberikan batasan-batasan keabsahan bagi perbuatan yang dilakukan oleh administrasi negara dan menjamin keadilan bagi masyarakat yang

haknya dirugikan oleh perbuatan administrasi negara tersebut. Hukum Administrasi Negara yang ada pada saat sekarang ini mencakup berbagai pengaturan mengenai pemerintahan, perekonomian, kesejahteraan sosial, otonomi

daerah, kepegawaian, birokrasi, serta peradilan administrasi. Hal ini manjadikan Hukum Administrasi Negara mangatur sebagian besar kegiatan di suatu Negara.

1

(16)

2

Dalam mengelola suatu Negara atau pemerintahan harus mempunyai

batasan-batasan, disinilah muncul asas-asas umum pemerintahan yang baik. Asas adalah norma hukum yang kongkret yang mengatur perilaku kongkret tertentu,dapat

diabstraksikan sebagai norma yang lebih umum, yang lingkupannya lebih luas sedangkan asas hukum mengandung nilai etis tertentu.

Asas-asas Umum Pemerintahan yang baik, diantara lain sebagai berikut:2 1) Asas kepastian hukum

2) Asas keseimbangan

3) Asas kesamaan 4) Asas bertindak cermat

5) Asas motivasi untuk setiap keputusan

6) Asas larangan mencampur-adukan kewenagan 7) Asas kejujuran dalam bertindak

8) Asas larangan bertindak tidak wajar atau bertindak sewenang-wenang 9) Asas pengharapan

10) Asas meniadakan akibat keputusan yang yang batal

11) Asas perlindungan atas pandangan hidup

Asas inilah yang yang harus dijadikan pedoman dalam menjalankan pemerintahan

yang baik bagi pejabat maupun dalam lingkup peradilan, agar mampu menjadi alat yang efisien, efektif, bersih, serta berwibawa, dan dalam menjalankan tugasnya selalu berdasarkan hukum.

Perlindungan hukum bagi masyarakat sangat penting karena di dalam kehidupan masyarakat sering ditemui permasalahan atau sengketa antara individu, baik per

2

Ateng Syafrudin, Butir-butir bahan Telaahan Tentang AAUPL untuk Indonesia, dalam Paulus

Efendi lotulung, “Himpunan Makalah Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik”, (Bandung:

(17)

3

orangan maupun kelompok, dengan Pemerintah yang berkaitan dengan

kebijakan-kebijakan dan Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Pejabat administrasi negara dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyebut sengketa Tata Usaha Negara muncul jika seseorang atau badan hukum

perdata merasa dirugikan, sebagai akibat dikeluarkannya suatu keputusan. Sebagaimana diketahui bahwa, Pejabat Tata Usaha Negara dalam fungsi menyelenggarakan kepentingan dan kesejahteraan umum tidak terlepas dari

tindakan mengeluarkan keputusan, sehingga tidak menutup kemungkinan keputusan tersebut menimbulkan kerugian.

Banyaknya putusan pengadilan tata usaha Negara yang tidak dapat dieksekusi telah menimbulkan pesimisme dan apatisme dalam masyarakat dikarenakan tidak adanya kekuatan eksekutorial dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara. Salah satu yang menyebabkan lemahnya pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha Negara adalah karena tidak terdapatnya lembaga eksekutorial dan kekuatan memaksa dalam pelaksanaan

putusan tersebut sehingga pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha Negara tergantung dari kesadaran dan inisiatif dari pejabat Tata Usaha Negara tersebut.

Dengan penegoran sistem hirarki seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara terbukti tidak efektif dalam pelaksaan putusan pengadilan tata usaha negara.

Kelemahan Peradilan Tata Usaha Negara itu terjadi karena tidak adanya upaya memaksa yang dapat dilakukan terhadap putusan pengadilan Tata Usaha Negara.

(18)

4

pemaksa agar suatu putusan Tata Usaha Negara dapat dilaksanakan oleh para

pihak melalui pengesahan Undang-undanag Nomor 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata

Usaha Negara. Keberadaan Pengadilan Tata Usaha Negara baru akan berwibawa dan ada artinya bagi pencari keadilan, apabila putusan-putusannya dapat

dilaksanakan oleh aparatur Tata Usaha Negara yang bersangkutan sesuai dengan isi diktum Putusan Pengadilan tersebut.

Eksistensi Peradilan Tata Usaha Negara terletak pada ditaatinya atau tidak

kewajiban-kewajiban yang dicantumkan dalam putusan Pengadilan tersebut oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara. Dalam Undang-Undanag Nomor 9 Tahun

2004 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 terdapat perubahan pada Pasal 116 ayat (4) dan ayat (5) yaitu adanya penjatuhan uang paksa (dwangsom) bagi pejabat Tata Usaha Negara yang tidak melaksanakan

putusan yang telah berkekuatan hukum tetap berupa pembayaran uang paksa (dwangsom) dan/atau sanksi administratif serta publikasi di media cetak.

Uang paksa merupakan salah satu tekanan agar orang atau pihak yang dihukum

mematuhi dan melaksanakan hukumannya. Uang paksa (Dwangsom) bukan termasuk hukum pokok, karena meskipun telah ditetapkan sejumlah uang paksa

dalam amar putusan, maka pihak yang kalah tidak perlu membayarnya atau dibebani pembayaran uang paksa tersebut apabila dia mematuhi isi amar putusan tersebut. Kewajiban dwangsom harus dipenuhi apabila pihak yang kalah tidak

mematuhi isi putusan tersebut. Dwangsom sifatnya adalah assesoir, artinya hukuman tambahan sebagai penjaga dan bisa sekaligus sebagai pemaksa agar

(19)

5

Tidak semua putusan Hakim Peradilan Tata Usaha Negara dapat diterapkan uang

paksa, dalam Pasal 116 Ayat (4) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan apabila tergugat tidak bersedia

melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran

sejumlah uang paksa dan atau sanksi administratif. Jadi putusan yang dapat diterapkan uang paksa hanya putusan yang sudah berkekuatan hukum yang tetap. Uang paksa diterapkan (dipaksakan) kepada pejabat apabila ia melawan putusan

Hakim dan hanya bisa diterapkan terhadap perintah melaksanakan perbuatan tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu dan tidak bisa diganti/diwakili orang

lain.

Dalam Ketentuan Pasal 116 ayat (4) undang-undang No.51 Tahun 2009 mengenai uang paksa dan/atau sanksi administratif, yang dimaksud dengan pejabat yang

bersangkutan dikenakan uang paksa atau sanksi administratif dalam ketentuan ini adalah pembebanan berupa pembayaran sejumlah uang yang ditetapkan oleh hakim karena jabatannya yang dicantumkan dalam amar putusan pada saat

memutuskan mengabulkan gugatan penggugat. Dalam ketentuan pasal ini tidak jelas apakah pengenaan uang paksa itu terhadap pribadi pejabat atau terhadap

instansi.

Dalam implementasinya pemberlakuan uang paksa3 masih belum dapat diterapkan sebagaimana mestinya karena menyangkut permasalahan belum adanya produk

hukum yang mengatur tentang prosedur dan mekanisme cara pembayaran uang paksa, terhadap siapa uang paksa itu dibebankan dan sejak kapan uang paksa

3

(20)

6

diberlakukan. Hal ini menyababkan uang paksa belum dapat diterapkan, sehingga

berdampak pada seluruh putusan pengadilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum yang tetap.

Berdasarkan uraian latar belakang tentang uang paksa diatas, peneliti tertarik untuk membuat penelitian dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Penerapan Uang Paksa (Dwangsom) dan Sanksi Administratif dalam Putusan Pengadilan

Tata Usaha Negara

1.2. Permasalahan

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah ;

1) Bagaimana pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap uang

paksa ?

2) Bagaimana pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara terhadap

sanksi administratif ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini merumuskan konsep yuridis pelaksanaan uang paksa di

pengadilan Tata Usaha Negara, sedangkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1) Untuk mengetahui efektifitas penerapan atau pelaksanaan uang paksa di pengadilan tata usaha negara.

2) Untuk mengetahui efektifitas penerapan atau pelaksanaan sanksi administratif di pengadilan tata usaha negara.

(21)

7

1) Secara teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan Hukum Administrasi Negara khususnya yang berkaitan dengan

pelaksanaan uang paksa dan sanksi administratif dalam peradilan tata usaha negara

2) Secara praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan hukum, serta dapat bermanfaat sebagai informasi bagi para

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Upaya Paksa

Untuk terlaksananya suatu putusan terdapat 2 (dua) upaya yang dapat ditempuh

yaitu :

1) Upaya paksa langsung(directe middelen), yaitu penggugat memperoleh

prestasi dari tergugat sesuai dengan apa yang ditentukan atau diperintahkan oleh hakim.

Upaya ini dapat dibedakan dalam 2 (dua) cara, yaitu :

1) Eksekusi riil, yaitu secara langsung tergugat dipaksakan untuk memenuhi apa yang diperintahkan oleh hakim. Cara ini adalah untuk melakukan prestasi yang berupa untuk menyerahkan suatu barang

selain dari uang.

2) Hukuman untuk memenuhi prestasi berupa pembayaran sejumlah uang,

dilaksanakan dengan lebih dulu mengadakan penyitaan barang barang bergerak maupun tidak bergerak milik penggugat, kemudian barang tersebut dilelang dan hasilnya digunakan untuk pembayaran sesuai

(23)

9

1) Upaya paksa tidak langsung(indirecte middelen), yaitu pemenuhan prestasi

tercapai dengan melalui tekanan fisik kepada tergugat agar ia dengan sukarela memenuhi prestasi, upaya ini dikenal dengan dua cara yaitu:

1) Penerapa gijzeling (sandra), yaitu hakim menetapkan bahwa apabila terhukum tidak mau memenuhi prestsi yang ditetapkan maka terhukum

disandra. Penerapan sandra ini dapat diterapakan dalam putusan kondemnatoir. Penerapan sandra sekarang ini tidak diperkenankan sesuai surat edaran Mahkamah Agung RI Nomor 2 Tahun 1964 karena

bertentangan dengan Pancasila.

2) Penerapan Dwangsom, yaitu hakim menetapkan suatu hukuman

tambahan kepada si terhukum untuk membayar sejumlah uang kepada si penggugat didalam hal ini apabila si terhukum tidak memenuhi hukuman pokok, hukuman tambahan dimaksud untuk menekan agar si

terhukum tersebut dengan sukarela memenuhi hukuman pokok.

2.2 Pengertian Uang Paksa

Ketentuan mengenai Uang paksa diatur dalam Pasal 116 ayat (4) Undang-Undang

No. 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Pengertian uang paksa secara umum adalah sejumlah uang yang ditetapkan oleh hakim dalam amar putusan yang dibebankan kepada tergugat dan diberlakukan apabila tergugat tidak

melaksanakan hukuman yang ditetapkan.1

Uang paksa/dwangsom adalah pembayaran sejumlah uang yang dibayar sekaligus

atau dengan cara diangsur kepada orang atau ahli warisannya, atau hukum badan perdata yang dibebankan tergugat (Badan/Pejabat Tata Usaha Negara) karena

1

(24)

10

tidak bersedia melaksanakan Putusan. Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah

berkekuatan hukum tetap (Inkcracht Van Gewijsde) dan hal tersebut menimbulkan kerugian material terhadap orang atau badan hukum perdata.2

Dasar pemberlakuan uang paksa dalam praktik peradilan di Indonesia adalah mengacu pada Pasal 606 a dan pasal 606 b Rv.3

Pasal 606 a. Rv :

“sepanjang suatu putusan hakim mengandung hukuman untuk sesuatu yang lain

dari pada membayar sejumlah uang, maka dapat ditentukan bahwa sepanjang atau

setiap kali terhukum tidak mematuhi hukuman tersebut, olehnya harus diserahkan sejumlah uang yang besarnya ditetapkan dalam putusan hakim dan uang tersebut dinamakan uang paksa”.

Pasal 606 b Rv :

“bila putusan tersebut tidak dipenuhi, maka pihak lawan dari terhukum berwenang

untuk melaksanakan putusan terhadap sejumlah uang paksa yang telah ditentukan tanpa terlebih dahulu memperoleh alas hak baru menurut hukum “

Dari ketentuan tersebut tidak dijelasakan mengenai batasan tuntutan uang paksa,

dengan demikian batasan uang paksa hanya bisa didapatkan dari para doktrin ataupun praktisi hukum yang ada saat ini.

Berikut pengertian/ batasan uang paksa dwangsom menurut para ahli hukum:4 1) Prof. Mr. P.A. Stein, mengemukakan batasan bahwa uang paksa sebagai:

“sejumlah uang yang ditetapkan dalam putusan, hukuman tersebut diserahkan

kepada Penggugat, di dalam hal sepanjang atau sewaktu-waktusi terhukum

2

Bambang Sugiono, Penerapan Upaya Paksa dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara, (Makalah Workshop, Jakarta) , 2004

3Hamdani “.Efektifitas Uang Paksa dalam sanksi Administrasi Negara

(http//:Kiemdhaniinspiration.blogspot.com).diakses pada 16 April 2014. 4

(25)

11

tidak melaksanakan hukuman. Uang paksa ditetapkan di dalam suatu jumlah

uang, baik berupa sejumlah uang paksa sekaligus, maupun setiap jangka waktu atau setiap pelanggaran”.

2) Marcel Some, sesorang guru besar Rijksuniversiteit Gent, Antwerpen-Belgia memberi batasan tentang uang paksa sebagai:

“ suatu hukuman tambahan pada si berhutang tersebut tidak memenuhi

hukuman pokok, hukuman tambahan mana dimaksudkan untuk menekan si berhutang agar supaya dia memenuhi putusan hukuman pokok”

3) Mr. H. Oudelar dengan tegas menyebutkan bahwa uang paksa sebagai : “suatu jumlah uang yang ditetapkan hakim yang dibebankan kepada

terhukum berdasarkan atas putusan hakim dalam keadaaan ia tidak memenuhi suatu hukuman pokok”

4) J.C.T Simorangkir, Drs. Rudy T Erwin, S.H dan J.T Prasetya menyebutkan

uang paksa sebagai:

“Uang yang ditetapkan sebagai hukuman yang harus dibayar karena

perjanjian yang tidak dipunuhi”

5) Prof Subekti S.H. dan Tjitrosoedibio menyebutkan uang paksa itu sebagai: “sebegitu jauh suatu putusan pengadilan memutuskan penghukuman untuk

sesuatu lain daripada untuk membayar sejumlah uang, maka dapatlah ditentukan di dalamnya, bahwa si terhukum tidak/belum memenuhi keputusan tersebut, ia pun wajib membayar sejumlah uang yang ditetapkan dalam

(26)

12

Pengenaan uang paksa merupakan sebagai hukuman atau denda, yang jumlahnya

berdasarkan syarat dalam perjanjian, yang dibayar karena tidak menunaikan, tidak sempurna melaksanakan atau tidak sesuai waktu yang ditentukan, dimana dalam

hal ini berbeda dengan ganti rugi kerusakan, dan pembayaran bunga.5

2.3 Sifat Uang Paksa/ Dwangsom

Dari definisi beserta pengertian uang paksa diatas maka tampak bahwa suatu

dwangsom itu bersifat;

1) Accessoir, artinya dwangsom harus selalu mengikuti hukuman pokok, dengan

artian tidak ada dwangsom tanpa adanya hukuman pokok.6Apabila hukuman pokok telah dilaksanakan oleh terhukum maka dwangsom yang ditetapkan bersama hukuman pokok tadi tidak berkekuatan hukum lagi.

2) Hukuman tambahan, artinya apabila hukuman pokok yang diterapkan oleh hakim tidak dipenuhi oleh tergugat dengan suka rela, maka dwangsom

diberlakukan, dan apabila dwangsom tersebut telah dilaksanakan tidak berarti hukuman pokok telah hapus. Hukumam pokok tidak hapus dengan adanya pelaksanaan dwangsom.

3) Tekanan fisik bagi terhukum, dengan adanya dwangsom yang ditetapkan oleh hakim didalam putusannya, maka si terhukum ditekan secara fisik agar

ia dengan suka rela memenuhi hukuman pokok yang ditetapkan.

5

Ridwan HR, “Hukum Administrasi Negara,” (Jakarta,Rajawali Press, 2006). hal-331 6

Harifin A.Tumpa, “Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) dan Implementasinya di

(27)

13

2.4 Jenis Putusan yang Dapat Dikenakan Uang Paksa

Dari macam isi dan sifat putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut tidak semua putusan dapat dikenakan uang paksa melainkan hanya putusan putusan

yang memenuhi syarat saja, antara lain 7:

1) Putusan yang menyatakan gugatan dikabulkan.

yaitu apabila dari hasil pemeriksaan di persidangan ternyata dalil-dalil dari posita gugatan Penggugat telah terbukti secara formal maupun materiil dan telah dapat mendukung petitum yang dikemukakan Penggugat

2) Putusan yang bersifat condemnatoir,

Putusan yang berisi penghukuman / kewajiban melakukan tindakan tertentu

kepada pihak yang kalah.

3) Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht Van Gewijsde), yaitu putusan pengadilan yang tidak dapatditerapkan upaya hukum lagi terhadap putusan tersebut.

Dalam konteks Undang-undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Putusan yang bersifat condemnatoir adalah berupa :

1) kewajiban mencabut keputusan TUN yang dinyatakan batal/ tidak sah. 2) kewajiban menerbitkan keputusan TUN pengganti/ baru.

3) kewajiban mencabut dan menerbitkan keputusan TUN baru. 4) kewajiban membayar ganti rugi, dan

5) kewajiban melaksanakan rehabilitasi, dalam sengketa kepegawaian.

7

Ujang Abdullah,“Penerapan Upaya Paksa Berupa Pembayaran Uang Paksa”.

(28)

14

2.5 Perbedaan Ganti Rugi dan Uang Paksa

Ganti rugi dalam Pengadilan Tata Usaha Negara diatur dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara pasal 53 ayat (1) dan Pasal

97 ayat (10). Ganti rugi adalah merupakan jenis hukuman pokok yang dibebankan kepada pihak yang terbukti melakukan perbuatan hukum, atau melakukan inkar

janji (wanprestasi), sementara uang paksa hanya merupakan hukuman tambahan. Ganti rugi adalah cara pemenuhann atau kompensasi hak oleh pengadilan yang diberikan kepada satu pihak yang menderita kerugian oleh pihak lain yang

melakukan kalalaian atau kesalahan sehingga menyebabkan kerugian tersebut. Beban pembayaran ganti rugi telah diputuskan dalam amar putusan oleh hakim,

sehingga jumlah tersebut harus dipenuhi. Pengenaan uang paksa merupakan alternatif untuk tindakan nyata, yang berarti sebagai sanksi tambahan.

Persoalan hukum yang dihadapi dalam pengenaan dwangsom sama dengan

pelaksanaan nyata. Uang paksa biasanya dicantumkan dalam petitum gugatan dengan alasan agar tergugat mau melaksanakan isi putusan pengadilan.

2.6 Beban Pembayaran Uang Paksa

Mengenai beban pertanggung jawaban uang paksa, kepada siapa uang paksa tersebut dibebankan, dikenal dua teori dalam menyelesaikan masalah ini :

1) Teori Fautes Personalies, teori ini menyatakan bahwa kerugian pihak ketiga itu dibebankan kepada pejabat yang karena tindakannya mengakibatakan

kerugian.

2) Teori Fautes de service, teori menyatakan bahwa kerugian kepada pihak ketiga dibebankan kepada instansi pejabat yang bersangkutan apabila

(29)

15

2.7 Upaya Administratif

Menurut sistem hukum administrasi negara, penyelesaian Tata Usaha Negara ada yang bersifat “administratif” suatu prosedur yang dapat ditempuh oleh seseorang

atau badan hukum perdata, apabila ia tidak puas terhadap putusan tata usaha negara. Prosedur tersebut dilakukan dilingkungan intern pemerintahan sendiri

mengenai upaya administrasi, sebagaimana tertulis dalam Pasal 48 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara , “Dalam hal suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diberi wewenang oleh atau berdasarkan

peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan secara administratif sengketa Tata Usaha Negara tertentu, maka sengketa Tata Usaha Negara tersebut harus diselesaikan melalui upaya administratif yang tersedia”

Upaya administratif menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku ada 2 (dua) cara:

1) Banding Administratif (Administratief beroep)

Banding Administratif adalah penyelesaian upaya administrasi yang dilakukan oleh instansi atasan pejabat yang mengeluarkan keputusan tata usaha negara

tersebut atau instansi yang lainnya dari badan atau pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan ke putusan tata usaha negara.

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diberi wewenang menyelesaikan sengketa administratif seperti yang dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka

(30)

16

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia”.

Selanjutnya ada upaya administratif dilingkungan intern pemerintahan sendiri

tersebut berkaitan dengan sistem “Fungsional control” atau “Pengawasan

melekat” dari pejabat atasan kepejabat bawahannya , baik yang bersifat prefentif

maupun refresif yang bersifat represif antara lain tindakan pembatalan atau pencabutan terhadap “Beschikking” yang telah diputuskan oleh pejabat

bawahannya.

Menurut ketentuan Pasal 48 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dinyatakan:

“Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang bersangkutan digunakan”.

Apabila upaya administratif ditempuh semuanya, sedangkan yang bersangkutan menderita kerugian atau tidak puas, dapat mengajukan gugatan sengketa Tata Usaha Negara tersebut ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang berwenang,

memeriksa, memutus dan menyelesaikannya dalam peradilan tingkat pertama dan bukan dalam tingkat banding, seperti dimaksud dalam Pasal 51 ayat (3)

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,

“Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa,

memutus dan menyelesaikan di tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48”.

Dengan adanya upaya administrasi terhadap sengketa Tata Usaha Negara tertentu,

(31)

17

surat gugatan sengketa Tata Usaha Negara, apakah sengketa Administratif

tersebut mengandung upaya administratif, atau tidak. Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara, jika seluruh

upaya administratif yang telah tersedia itu dilampaui, maka terhadap gugatan Tata Usaha Negara yang bersangkutan, pengadilan harus menyatakan tidak diterima.

2) Keberatan

Keberatan merupakan penyelesaian Keputusan Tata Usaha Negara tersebut harus dilakukan sendiri oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan

Keputusan itu. Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara yang bersifat “yuridis” atau dari segi hukumnya sesuai dengan asas negara hukum Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka yang berwenang menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara adalah Peradilan Tata Usaha Negara (Administratif rechtspraak) yang mampu menegakkan keadilan, kebenaran, dan kepastian

hukum, sehingga dapat memberikan pengayoman kepada masyarakat, khususnya dalam hubungan antar badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan masyarakat. Secara formal, Peradilan Tata Usaha Negara berfungsi menilai dan menguji dari

segi hukumnya (toetsingrecht) terhadap tindakan hukum atau hubungan hukum, atau pejabat yang dirumuskan dalam suatu Beschikking Tata Usaha Negara,

apakah bertentangan dengan hukum. Apabila bertentangan dengan hukum, pengadilan berwenang membatalkannya atau menyatakannya tidak sah, serta

berwenang apabila memerintahkan kepada Badan atau Pejabat yang bersangkutan untuk mencabut kembali dan menerbitkan yang baru sesuai ketentuan hukum yang berlaku, namun terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut

(32)

18

tingkat penyelesaian sengketa, mengingat upaya hukum yang ditempuh sudah

melalui upaya administratif.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai

Negeri Sipil, diatur bahwa kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin, kepadanya dapat dikenakan hukuman disiplin atau sanksi administratif antara lain

berupa:

1) penurunan pangkat 2) pembebasan dari jabatan

3) pemberhentian dengan hormat, dan 4) pemberhentian tidak dengan hormat

Dari beberapa jenis sanksi tersebut sebenarnya dapat dipilih, mana yang paling tepat diterapkan dalam penjatuhan sanksi administratif.

Hukuman disiplin yang berupa penurunan pangkat yang setingkat lebih rendah,

ditetapkan untuk masa sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan, dan untuk paling lama 1 (satu) tahun setelah hukuman penurunan pangkat selesai maka pangkat pegawai negeri sipil yang bersangkutan dengan sendirinya kembali pada pangkat

yang semula. Hukuman disiplin yang berupa pembebasan dari jabatan organik. Pembebesan dari jabatan berarti pula pencabutan segala wewenang yang melekat

pada jabatan itu. Selama pembebasan dari jabatan, pegawai negeri sipil yang bersangkutan menerima penghasilan penuh kecuali tunjangan jabatan.

Pegawai negeri sipil yang yang dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian

dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai pegawai negeri sipil, apabila memenuhi syarat masa kerja dan usia pensiun menurut peraturan

(33)

19

2.8 Sanksi Administratif

Sanksi administratif adalah hukuman yang ditetapkan oleh hakim berisi perintah kepada atasan tergugat atau pejabat yang berwenang menghukum agar tergugat

dijatuhi hukuman administratif dalam hal tergugat tidak melaksanakan hukuman yang ditetapkan dalam putusan.8

Sanksi administratif dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang

perubahan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara tidak dijelaskan secara rinci.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang –Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Pasal 116 ayat (7) disebutkan ketentuan mengenai besaran

uang paksa, jenis sanksi administratif, dan tata cara pelaksanaan pembayaran uang paksa dan/atau sanksi administratif diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan tata usaha negara akan diumumkan pada media massa cetak setempat oleh panitera. Disamping diumumkan pada media massa cetak setempat, ketua pengadilan harus

mengajukan hal ini kepada Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintah tertinggi untuk memerintahkan pejabat tersebut melaksanakan putusan

pengadilan, dan kepada lembaga perwakilan rakyat untuk menjalankan fungsi pengawasan.

8

legal draft peraturan pemerintah tentang uang paksa

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Masalah

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada

metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau berupa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisanya1. Tipe

penelitian ini sendiri bersifat deskriptif, karena merupakan penggambaran dan pemaparan dari ketentuan norma yang berlaku, dikaitkan dengan doktrin yang ada serta kenyataan yang berlangsung saat ini.

Pendekatan masalah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan normatif terapan. Pokok kajian dalam normatif-terapan adalah pelaksanaan atau implementasi ketentuan hukum positif dan kontrak secara faktual pada setiap

peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam normatif terapan terdapat gabungan 2 (dua) tahap

kajian yaitu :

1) Tahap yang pertama adalah kajian mengenai hukum normatif yang berlaku.

2) Tahap kedua adalah penerapan pada peristiwa in contreto guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penerapan tersebut dapat diwujudkan melalui perbuatan nyata dan dokumen hukum. Hasil penerapan akan menciptakan

1

(35)

21

pemahaman realisasi pelaksanaan ketentuan hukum normatif secara patut

atau tidak.

Pendekata normatif merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara

mendekati permasalahan dari segi hukum, membahas kemudian mengkaji buku-buku, ketentuan perundang-undangan yang telah ada dan yang ada hubunganya dengan masalah yang akan dibahas. Pendekatan yuridis normatif dimaksudkan

sebagai upaya memahami persoalan dengan tetap berada berada atau bersandarkan pada lapangan hukum.

3.2 Sumber Data dan Jenis Data

Jenis data dapat dilihat dari sumbernya, dapat dibedakan antara data yang diperoleh langsung dari masyarakat dan data yang diperoleh dari bahan pustaka.2

Untuk mendapatkan data atau jawaban yang tepat dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan yang meliputi :

1) Bahan hukum primer, yaitu data normatif yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang meliputi :

1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara.

2) Undang Nomor 9 tahun 2004 tentang perubahan

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. 3) Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang perubahan kedua atas

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara.

2

(36)

22

2) Bahan hukum sekunder

Bersumber dari bahan-bahan hukum yang dapat membantu dalam menganalisa serta memahami permasalahan dalam penelitian dan diperoleh dengan cara studi

dokumen, mempelajari permasalahan dari penerapan uang paksa di peradilan tata usaha negara berbagai sumber hukum primer lainnya yang berhubungan dengan

masalah penelitian. 3) Bahan hukum tersier

Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan tambahan atau dukungan data

yang telah ada pada bahan hukum primer dan bahan sekunder. Bahan hukum tersier yang digunakan adalah buku-buku, literatur, makalah, kamus hukum,

Kamus Besar Bahasa Indonesia dan bahan-bahan lainnya yang berkaitan dengan materi ditambah lagi dengan kegiatan pencarian data menggunakan internet.

3.3 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah.

1) Studi kepustakaan

Dilakukan dengan cara membaca, menelaah, memahami dan mengutip hal-hal

yang berkaitan dengan permasalahan yang teliti. 2) Studi lapangan

Studi lapangan yang dimaksud dalam hal ini adalah hanya sebagai data tambahan

(37)

23

2) Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan untuk mempermudah analisis data yang telah diperoleh sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Adapun pengolahan data yang

dimaksud meliputi tahapan sebagai berikut:

1) Pemeriksaan Data, yaitu memeriksa kembali mengenai kelengkapan,

kejelasan dan kebenaran data yang telah diterima serta relevansinya dalam penelitian. Dalam penelitian ini data-data berupa peraturan perundang-undangan, dan literatur atau buku karya ilmiah yang relevan dengan

permasalahan yang akan dibahas.

2) Klasifikasi Data, yaitu kegiatan penetapan data menurut kelompok-kelompok

yang telah ditetapkan dalam rangka memperoleh data yang benar-benar diperlukan dan akurat untuk dianalisis lebih lanjut.

3) Sistematika Data, yaitu melakukan penyusunan data secara sistematis sesuai

jenis data dan pokok bahasan dengan maksud memudahkan dengan menganalisa data tersebut.

3.4 Analisis Data

Setelah pengolahan data selesai, dilakukan analisis data secara kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan dengan cara mengkonstruksikan data dalam bentuk uraian

kalimat yang tersusun secara sistematis sesuai dengan pokok bahasan dalam penelitian ini, sehingga memudahkan untuk dimengerti guna menarik kesimpulan tentang masalah yang diteliti. Kemudian akan dilakukan penarikan kesimpulan

secara induktif, yaitu suatu cara berfikir yang didasarkan pada fakta-fakta yang bersifat umum guna memperoleh gambaran yang jelas mengenai jawaban dari

(38)

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut, bahwa:

1) Pelaksanaan putusan uang paksa dalam suatu putusan Hakim di Pengadilan

Tata Usaha Negara terhadap uang paksa dwangsom di Pengadilan Tata Usaha Negara sampai saat ini belum bisa terlaksana secara efektif dikarenakan tidak adanya peraturan mengenai pelaksanaan uang paksa, besaran uang paksa,

penjatuhan uang paksa, prosedur maupun mekanisme dan cara pembayaran uang paksa, dan kurangnya partisipasi aktif dari tergugat untuk mengikut sertakan uang paksa dalam petitum gugatan.

2) Pelaksanaan sanksi administratif di pengadilan tata usaha negara masih belum bisa terlaksana secara efektif dikarenakan tidak adanya peraturan pelaksana

mengenai jenis sanksi administratif yang dapat dijatuhkan kepada pejabat publik yang tidak bersedia melaksanakan putusan pengadilan tata usaha negara dan kurangnya kesadaran dari pejabat publik untuk melaksanakan

(39)

44

5.2 Saran

Sebagai upaya untuk meningkatakan pelaksanaan uang paksa dan sanksi administratif di Peradilan Tata Usaha Negara untuk saat ini yang sangat

diperlukan adalah dibuatnya produk hukum berupa Peraturan Pemerintah untuk mengatur prosedur dan mekanisme pembayaran uang paksa (dwangsom), seperti

berapa besaran uang paksa yang boleh dijatuhkan dalam sehari, dan jenis sanksi administratif yang dapat dijatuhkan dalam putusan. Serta Hakim perlu berperan aktif dalam mengawasi suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rozali. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara,Jakarta.Rajawali Pers.1992

Atmosudirdjo,Prajudi. “Hukum Administrasi Negara”,Jakarta.Ghalia Indonesia. 1994 Fachrudin, Irfan. “Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan

Pemerintah ” Bandung. PT.Alumni.2004

Hadjon, Philipus M. “Pengantar Hukum Administrasi Indonesia”Yogyakarta.Gajah Mada University Press. 1995

HR, Ridwan. Hukum Administrasi Negara,Jakarta, Rajawali Press 2006

Marbun, SF. Peradilan administrasi, Yogyakarta,.Liberty. 1988

Mertokusumo, Sudikno. Mengenal hukum (suatu pengantar), cetakan pertama Yogyakarta Liberty 2003

---. Hukum Acara Perdata Indonesia” Yogyakarta: Liberty, 1988

Mulyadi, Lilik. Tututan Uang Paksa (Dwangsom Dalam Teori dan Praktik), Jakarta, Djambatan. 2001

Triwulan, Titik dan Widodo, Ismu Gunodi. “Hukum Tata Usaha Negara dan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara”. Jakarta. Kencana. 2011

Tumpa, Harifin A. Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) dan Implementasinya di Indonesia, Jakarta , Kencana. 2010

Soekanto, Soerjono. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Universitas Indonesia. Press. Jakarta

(41)

Syafrudin,Ateng. Butir-butir bahan Telaahan Tentang AAUPL untuk Indonesia,

dalam Paulus Efendi lotulung, “Himpunan Makalah Asas-asas Umum

Pemerintahan yang Baik”, Bandung. Citra Aditya Bakti. 1994

Wiyono,R. S.H, “Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara”, Jakarta. Sinar Grafika. 2013

UNDANG-UNDANG

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara

Undang-undang No. 9 Tahun 2004 Tentang perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun. 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara

Undang- undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang perubahan kedua Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 Tentang Peraturan Disiplin Pegawai

Negeri Sipil

Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil

INTERNET

Hamdani. Efektifitas Uang Paksa dalam sanksi Administrasi Negara

http//Kiemdhaniinspiration.blogspot.com. diakses pada 16 April 2014 legal draft peraturan pemerintah tentang uang paksa dan sanksi administratif

(http:hery-judge.blogspot.com?2010_03_01_archive.html) diakses pada tanggal 11 Agustus 2013)

(42)

SUMBER LAIN

Bima, (2012) Analisi Yuridis Tentang Lembaga Paksa (Dwangsom) Sebagai Sanksi Administratif Dalam Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tantang

Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta , Universitas Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden >80% memiliki tahap proses pengambilan keputusan yang baik yaitu proses pengenalan kebutuhan, pencarian informasi,

Bahwa tidak semua ketentuan pada Pasal 116 ayat (4) Undang-undang nomor 51 tahun 2009 dapat diterapkan dalam eksekusi putusan di Peradilan Tata Usaha Negara, hal ini

Walaupun pemburukan yang jelas dan bertahap mungkin tidak ditemukan pada semua kasus, gejala neurologis fokal adalah lebih sering pada demensia vaskular dibandingkan

<is>Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan iireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk

Perangkat lunak aplikasi multimedia merupakan Perangkat lunak aplikasi multimedia merupakan aplikasi‐aplikasi yang dibuat oleh personal atau organisasi untuk pengguna

Saya/Kami sedar dan akur bahawa saya/kami bertanggungjawab sepenuhnya untuk menunjukkan tapak cadangan yang sah seperti yang dicadangkan oleh pemohon di dalam permohonan

Teaching Speaking at MA Terpadu Al-Anwar Durenan Trenggalek Academic Year 2013/2014. Skripsi Jurusan Tadris Bahasa Inggris, IAIN Tulungagung. Pembimbing: Nanik Sri Rahayu,

Opsi ini sungguh dasariah karena selain menuntun seorang agen untuk bertindak secara bebas sambil mempertangungjawabkan nilai moral yang universal, dalam opsi ini seseorang