POTENSI LIMBAH DAN TINGKAT EFEKTIVITAS PENEBANGAN
POHON DI HUTAN DATARAN RENDAH TANAH KERING
META FADINA PUTRI
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Potensi Limbah dan Tingkat Efektivitas Penebangan Pohon di Hutan Dataran Rendah Tanah Kering adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2014
Meta Fadina Putri
ABSTRAK
META FADINA PUTRI. Potensi Limbah dan Tingkat Efektivitas Penebangan Pohon di Hutan Dataran Rendah Tanah Kering. Dibimbing oleh UJANG SUWARNA.
Limbah Pemanenan merupakan bagian pohon yang dapat dimanfaatkan namun karena berbagai alasan bagian pohon tersebut ditinggalkan di dalam hutan. Limbah pemanenan berhubungan erat dengan tingkat efektivitas. Semakin tinggi angka tingkat efektivitas maka semakin baik kegiatan pemanenan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur volume limbah, persentase dan sebaran limbah di petak tebang dan TPn, menentukan nilai tingkat efektivitas di Petak BJ 21 IUPHHK-HA PT Dasa Intiga serta menganalisis hubungan antara intensitas tebang pohon, diameter pohon, jenis pohon terhadap volume limbah, hubungan antara pohon layak tebang terhadap pohon yang ditebang. Limbah pemanenan hutan alam yang terdapat pada penelitian kali ini sebesar 18.96 m³/ha yang terdiri dari limbah penebangan sebesar 18.55 m³/ha. Limbah pemuatan sebesar 0.41 m³/ha. Persen limbah pada kegiatan pemanenan hutan pada penelitian ini sebesar 37.63% terdiri atas limbah pada petak tebang sebesar 36.82%, limbah di TPn sebesar 0.81%. Tingkat efektivitas yang terjadi pada penelitian ini adalah sebesar 0.60.
Kata kunci: Limbah, Penebangan pohon, Tingkat efektivitas.
ABSTRACT
META FADINA PUTRI. Logging Waste and Logging Effectiveness Level at Low Land Dry Forest. Supervised by UJANG SUWARNA.
Logging waste is a section of the tree that can be used, but for various reasons this section of the tree is left in the forest. Logging waste is closely related to the effectiveness level. The higher the level of effectiveness indicates better forest harvesting activities. The aim of this research is to measure the volume of waste, percentage, and distribution of logging waste at the logging and loading area, determine the effectiveness level at Area BJ 21 IUPHHK-HA PT Dasa Intiga and also to analyze the correlation between the intensity of logging, tree diameter, tree species towards logging waste, correlation between suitable timber and felled trees. Logging waste from natural forest in this research was 18.96 m³/ha, which consist logging waste of 18.55 m³/ha and loading waste as much as 0.41 m³/ha. The percentage of waste from forest harvesting activities in this research is 37.63 %, which consist of felling waste of 36.82% and waste from loading of 0.81%. The effectiveness level that occurs in this research is 0.60.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Manajemen Hutan
META FADINA PUTRI
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2014
Judul Skripsi : Potensi Limbah dan Tingkat Efektivitas Penebangan Pohon di Hutan Dataran Rendah Tanah Kering
Nama : Meta Fadina Putri NIM : E14100059
Disetujui oleh
Diketahui oleh
Tanggal Lulus:
Dr Ujang Suwarna SHut MScFTrop Pembimbing
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian serta menyusun karya ilmiah yang berjudul “Potensi Limbah dan Tingkat Efektivitas Penebangan Pohon di Hutan Dataran Rendah Tanah Kering” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ujang Suwarna SHut MScFTrop selaku pembimbing yang telah memberikan pengetahuan, bimbingan, arahan dan nasehat berharga kepada penulis. Segenap Pimpinan serta Staf PT Dasa Intiga yang telah menyediakan lokasi dan fasilitas serta membantu proses pengumpulan data selama penelitian.
Terima kasih kepada Papa, Mama, Novia dan Dimas atas doa, kasih sayang serta dukungan moral dan material kepada penulis. Aulia, Dea, Novi, Rara, Nana Dita, Lerfi, Desi, Winda, Rio, Dwi, Advent, Quldino, Maya, Tyas, Kurniawati atas doa dan dukungan. Seluruh teman-teman di Fakultas Kehutanan IPB khususnya teman-teman Manajemen Hutan 47 atas bantuan dan dukungannya selama ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita dan dapat menambah pengetahuan kita.
Bogor, Oktober 2014
DAFTAR ISI
Bentuk dan Ukuran Plot Contoh 3
Prosedur Analisis Data 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Kondisi Umum Lokasi Penelitian 6
Kegiatan Pemanenan Kayu di IUPHHK-HA PT Dasa Intiga 6 Volume Limbah Pemanenan Kayu Berdasarkan Lokasi Terjadinya Limbah 6
Persentase Limbah 9
Hubungan Intensitas Tebang Pohon terhadap Volume Limbah 9 Hubungan Diameter Pohon terhadap Volume Limbah 10
Hubungan Jenis Pohon terhadap Volume Limbah 11
Hubungan Pohon Layak Tebang terhadap Pohon yang Ditebang 11
Tingkat Efektivitas Pemanenan 12
DAFTAR TABEL
1 Potensi limbah di petak tebang 7
2 Volume limbah di TPn 8
3 Persentase limbah pada petak tebang 9
4 Volume limbah berdasarkan jenis pohon 11
5 Tingkat efektivitas pemanenan 13
DAFTAR GAMBAR
1 Desain plot contoh 3
2 Prosedur pelaksanaan penelitian 4
3 Volume limbah berdasarkan intensitas tebang 10
4 Hubungan diameter pohon terhadap volume limbah 11 5 Hubungan antara pohon layak tebang terhadap pohon yang ditebang 12
DAFTAR LAMPIRAN
1 Perhitungan tingkat efektivitas dan persentase limbah 17
2 Peta areal kerja PT Dasa Intiga 18
3 Peta plot penelitian petak BJ 21 19
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanenan hutan merupakan suatu kegiatan mengeluarkan hasil hutan agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanenan hutan khususnya kayu melibatkan serangkaian kegiatan yaitu penebangan, penyaradan, pemuatan dan pengangkutan. Kegiatan pemanenan hutan ini berpotensi meninggalkan limbah di dalam hutan. Limbah pemanenan hutan adalah bagian dari pohon yang ditinggalkan di dalam hutan karena berbagai alasan seperti adanya cacat alami kayu yang berupa bengkok, gerowong dan busuk maupun cacat mekanis yang berupa batang pecah, patah, potongan pangkal dan potongan ujung kayu.
Sastrodimedjo dan Simarmata (1978) menyebutkan bahwa terjadinya limbah tebangan yang cukup besar disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kesalahan dalam melaksanakan teknik penebangan, kesalahan dalam menentukan arah rebah, kesalahan dalam pemotongan batang, manajemen yang kurang baik. Limbah pemanenan ini sering diabaikan oleh pihak perusahaan sebab dianggap menyulitkan dalam pemanfaatannya. Padahal apabila limbah dimanfaatkan maka akan memaksimalkan potensi tegakan.
Limbah pemanenan erat kaitannya dengan tingkat efektivitas. Tingkat efektivitas sering disebut sebagai faktor eksploitasi. Dulsalam (1995) mengatakan bahwa pada hakekatnya faktor eksploitasi sangat erat kaitannya dengan limbah pemanenan kayu. Semakin besar limbah pemanenan kayu yang terjadi maka akan semakin kecil faktor eksploitasi yang didapat. Begitu juga sebaliknya semakin kecil limbah pemanenan kayu maka semakin besar faktor eksploitasinya. Menurut Dulsalam (1988) faktor eksploitasi merupakan perbandingan antara bagian batang yang dimanfaatkan yaitu bagian batang yang sampai di logpond dan siap dipasarkan dengan bagian batang yang diperkirakan dapat dimanfaatkan.
Tingkat efektivitas menunjukkan tingkat efektivitas dari kegiatan pemanenan dan dapat memberikan informasi dalam perencanaan target produksi. Oleh sebab itu diperlukan penelitian mengenai pengukuran potensi limbah dan tingkat efektivitas kegiatan pemanenan hutan di suatu pengusahaan hutan.
Perumusan Masalah
Pemanenan hutan merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi untuk meninggalkan limbah di dalam hutan. Hal ini menyebabkan perlunya data mengenai potensi limbah di areal perusahaan, sehingga pihak manajemen mengetahui potensi limbah dan menentukan langkah yang tepat untuk mengurangi dan memanfaatkan limbah tersebut.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
2
2. Menentukan nilai tingkat efektivitas di Petak BJ 21 IUPHHK-HA PT Dasa Intiga.
3. Menganalisis hubungan antara intensitas tebang pohon, diameter pohon, jenis pohon terhadap volume limbah dan hubungan antara pohon layak tebang terhadap pohon yang ditebang.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak perusahaan maupun pihak luar mengenai volume limbah dan tingkat efektivitas yang disebabkan oleh kegiatan penebangan serta faktor yang mempengaruhi volume limbah.
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Maret 2014 di petak BJ 21 areal perusahaan PT Dasa Intiga, Provinsi Kalimantan Tengah.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah penebangan serta batang kayu yang ditebang.
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pita ukur, meteran, alat tulis,
tally sheet, kalkulator, kamera, Ms. Excel, Ms. Word, Arc GIS Ver 9.3.
Jenis Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapatkan langsung di lapangan yaitu berupa data hasil Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) dan data limbah yang berada di petak tebang serta TPn. Dimensi limbah yang diukur adalah diameter ujung, diameter pangkal dan panjang sortimen limbah. Data sekunder diperoleh dengan melihat arsip/data yang tersedia di lokasi penelitian, yaitu :
1. Letak dan luas areal perusahaan 2. Sejarah pemanenan hutan 3. Jenis tanah
3
Bentuk dan Ukuran Plot Contoh
Plot contoh yang digunakan berbentuk persegi dengan ukuran tiap plot contoh adalah 100x100 m. Plot cotoh dibagi dalam 25 subplot dengan ukuran tiap subplot adalah 20x20 m (Soerianegara dan Indrawan 2012). Pada setiap plot contoh dilakukan pengukuran pohon yang ditebang dengan diameter≥40 cm.
100 m
100 m
20 m
20 m
Gambar 1 Desain plot contoh Keterangan :
20 m =Subplot pengukuran pohon yang ditebang dengan diameter ≥40 cm 20 m
4
Gambar 2 Prosedur pelaksanaan penelitian Penentuan plot contoh
5
Prosedur Analisis Data
Pada saat kegiatan ITSP dilakukan pengukuran pada pohon yang akan ditebang. Pengukuran yang dilakukan adalah diameter dan tinggi bebas cabang. Rumus umum yang digunakan untuk menentukan volume pohon berdiri adalah :
V = Volume tunggak yang ditinggalkan + volume limbah tunggak + volume batang bebas cabang + volume limbah batang bebas cabang + volume limbah batang atas
Setelah kegiatan penebangan, dilakukan pengukuran limbah tunggak, batang bebas cabang dan batang bagian atas. Data hasil pengukuran limbah akan diolah menjadi perhitungan volume limbah. Perhitungan volume limbah menggunakan rumus empiris Brereton, sebagai berikut :
V =
Persentase limbah pemanenan adalah perbandingan antara volume total limbah yang terjadi dengan potensi total kayu yang dipanen (Abidin 1994). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
%L =
Tingkat efektivitas (TE) ditentukan melalui pendekatan indeks tebang, indeks sarad dan indeks angkut (Abidin 1994). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
TE = indeks tebang x indeks sarad x indeks angkut
6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Areal kerja PT Dasa Intiga secara geografis terletak pada koordinat 00o46’ -01o33’ LU dan 114o17’-114o39’ BT. Luas areal IUPHHK-HA PT Dasa Intiga adalah 131 850 Ha yang diperoleh dari beberapa tahap perijinan, sebagai berikut :
1. SK Menhut No 258/KPTS/Um/4/1970 tanggal 29 April 1970 dengan luas areal 272 000 Ha.
2. SK Menhut No 422/Menhut-IV/1993 tanggal 27 Februari 1993 dengan luas areal 189 200 Ha.
3. SK Menhut No 77/KPTS-II/2000 tanggal 22 Desember 2000 dengan luas areal 170 100 Ha.
4. SK Menhut No 440/Menhut-II/ 2009 tanggal 29 Juli 2009 dengan luas areal 131 850 Ha.
(PT Dasa Intiga 2012)
Jenis tanah yang terdapat pada areal PT Dasa Intiga adalah tanah mineral. Tanah mineral pada wilayah ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu tanah podsolik merah kuning dan tanah podsol. Jenis tanah yang mendominasi adalah tanah podsolik merah kuning, perbandingan tanah podsolik merah kuning dan tanah podsol adalah 77.4% dan 22.6%.
Kondisi topografi PT Dasa Intiga secara umum mempunyai bentuk wilayah datar sampai landai dengan kelas kelerengan 0-15%. Ketinggian tempat berkisar antara 100-300 mdpl.
Berdasarkan Schmidt and Fergusson, iklim disekitar areal kerja termasuk tipe iklim A (sangat basah) dengan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 21 833 mm dengan jumlah hari hujan 144 hari sedangkan rata-rata curah hujan bulanan adalah 182 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 12 hari.
Kegiatan Pemanenan Kayu di IUPHHK-HA PT Dasa Intiga
Pemanenan hasil hutan merupakan kegiatan memindahkan hasil hutan dari dalam hutan ke tempat pengelolaan atau penggunannya. Kegiatan pemanenan hasil hutan kayu yang dilakukan adalah penebangan, penyaradan, muat bongkar dan pengangkutan. Sistem pemanenan kayu yang digunakan adalah sistem mekanis yakni dibantu dengan mesin. Kegiatan penebangan dilakukan dengan menggunakan alat bantu chainsaw dan kegiatan penyaradan dilakukan dengan menggunakan bulldozer.
Sebelum kegiatan penebangan, dilakukan kegiatan Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) untuk mengetahui potensi awal tegakan dan kondisi tegakan. Pohon yang akan ditebang adalah pohon dengan diameter≥40 cm dengan kualitas yang baik.
7 rencana jalan sarad. Jalan sarad yang dipilih oleh operator adalah jalan yang paling efisien untuk mengeluarkan kayu dari tegakan.
Pohon yang sudah ditebang dari dalam hutan akan disarad menuju TPn yang berada di pinggir jalan angkutan dengan menggunakan bulldozer. Sebelum diangkut menuju ke TPK, kayu akan diukur terlebih dahulu kemudian dilaporkan dalam bentuk buku LHP (Laporan Hasil Produksi). Setelah buku LHP selesai maka dilakukan kegiatan muat kayu ke atas Logging Truck untuk diangkut ke TPK. PT Dasa Intiga memiliki dua TPK antara yaitu TPK 19 dan TPK 37. Kayu yang sudah diletakkan di TPK antara akan diangkut menuju TPK akhir yaitu
logpond Pepas. Pada logpond Pepas dilakukan pengecekan kondisi kayu yang akan dibeli oleh pembeli.
Volume Limbah Pemanenan Kayu Berdasarkan Lokasi Terjadinya Limbah
Sastrodimedjo dan Simarmata (1981) mengklasifikasikan limbah berdasarkan tempat terjadinya, sebagai berikut :
1. Limbah yang terjadi di areal penebangan yang berupa kelebihan tunggak, bagian batang dari pohon yang rusak, sisa cabang dan ranting. 2. Limbah yang terjadi di tempat pengumpulan kayu sementara (TPn) yang
berupa batang yang tidak memenuhi syarat baik kualitas maupun ukurannya.
3. Limbah yang terjadi di tempat penimbunan kayu (TPK) yang umumnya terjadi karena penolakan oleh pembeli karena log sudah terlalu lama disimpan sehingga busuk, pecah dan terserang jamur.
Limbah pemanenan kayu yang diamati pada penelitian ini berada di petak tebang dan TPn. Limbah yang dihitung adalah limbah di bawah cabang pertama yang berupa limbah tunggak dan sortimen potongan pendek serta limbah perpanjangan batang utama. Volume limbah yang didapatkan dari 69 pohon yang ditebang adalah 185.48 m³ dengan rata-rata volume limbah 2.69 m³/pohon atau 18.55 m³/ha. Potensi limbah penebangan setiap jenis limbah dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Potensi limbah di petak tebang
Jenis limbah Volume Total Rata-rata volume
8
batang bebas cabang dan batang atas. Limbah pada penelitian Sari (2009) adalah 4.66 m³/pohon. Jenis limbah terbesar yang terjadi pada penelitian Sari (2009) adalah batang atas sebesar 2.15 m³/pohon. Jenis limbah yang terbesar pada kedua penelitian adalah batang atas. Terdapat perbedaan rata-rata volume limbah pada kedua penelitian yang disebabkan limbah tunggak serta batang bebas cabang yang ditinggalkan pada IUPHHK-HA PT Austral Byna cukup besar. Hal ini disebabkan oleh kesalahan kegiatan penebangan yang dilakukan operator di petak tebang pada IUPHHK-HA PT Austral Byna yang mengakibatkan tinggi tunggak yang ditinggalkan cukup besar, batang pecah dan patah serta potongan pendek akibat kegiatan trimming.
Tabel 2 Volume limbah di TPn
TPn Nomor plot Volume limbah (m³)
Terdapat tiga TPn yang menampung kayu pada 10 plot contoh yaitu TPn 3 4 dan 5. TPn 3 menampung kayu dari plot contoh 1 2 3 7 dan 8. TPn 4 menampung kayu dari plot contoh 4 5 dan 6 serta TPn 5 menampung kayu dari plot contoh 9 dan 10. Volume limbah pada TPn adalah sebesar 4.10 m³ atau 0.41 m³/ha.
9
Persentase Limbah
Budiaman (2000) menyebutkan bahwa limbah pemanenan kayu adalah kayu bulat berupa bagian batang komersial, potongan pendek, tunggak, cabang dan ranting. Persentase limbah pemanenan kayu adalah perbandingan antara volume total limbah pemanenan kayu terhadap volume total pemanenan kayu (volume batang yang dimanfaatkan ditambah volume limbah pemanenan kayu). Pada Tabel 3 disajikan perbandingan persentase limbah pemanenan kayu pada petak tebang yang terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Matangaran et al. (2013) dan penelitian ini.
Tabel 3 Persentase limbah pada petak tebang
Jenis Limbah Pemanenan Hutan Limbah (%)
Tunggak 6.74b 3.21
Batang Bebas Cabang 15.43b 4.70
Batang Atas Bebas Cabang 11.64b 29.12
Total 33.81b 37.12
b
Sumber: Matangaran et al. (2013)
Tabel 3 menunjukkan perbandingan jumlah limbah yang terjadi pada penelitian ini dengan penelitian Matangaran et al. (2013) yang dilakukan di provinsi Kalimantan Tengah. Persentase limbah kedua penelitian ini cukup berbeda. Persentase limbah terbesar pada penelitian Matangaran et al. (2013) berupa bagian batang bebas cabang sedangkan limbah terbesar penelitian ini berupa bagian batang atas bebas cabang. Limbah batang bebas cabang yang terdapat pada Matangaran et al. (2013) volumenya lebih besar sebab limbah yang berupa batang cacat alami (gerowong, mata kayu, bengkok) dan mekanis pada petak tebang cukup besar sedangkan pada penelitian ini limbah batang bebas cabang berupa potongan pendek akibat pecah pangkal yang disebabkan oleh kesalahan pembuatan takik rebah dan gerowong. Limbah batang atas bebas cabang yang diukur pada Matangaran et al. (2013) merupakan kayu dengan diameter≥30 cm sedangkan pada penelitian ini batang atas bebas cabang yang diukur adalah diameter≥20 cm, sehingga persentase limbah batang atas bebas cabang pada penelitian ini jumlahnya lebih besar daripada yang terdapat pada penelitian Matangaran et al. (2013).
Hubungan Intensitas Tebang Pohon terhadap Volume Limbah
Intensitas pohon yang akan ditebang pada setiap plot contoh penelitian berbeda-beda, dipengaruhi oleh kerapatan tegakan serta banyak pohon dengan diameter≥40 cm dengan kualitas baik yang terdapat di plot contoh.
10
Semakin tinggi tingkat intensitas tebang, maka semakin tinggi limbah pemanenan kayu. Namun pada intensitas tebang dengan jumlah pohon 5 pohon/ha, terjadi penurunan volume limbah yang disebabkan oleh diameter pada kelas intensitas tebang ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan diameter pohon pada kelas intensitas tebang lain. Namun secara garis besar terjadi kenaikan volume limbah.
Hubungan intensitas tebang pohon dengan volume limbah dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3 Volume limbah berdasarkan intensitas tebang
Hubungan Diameter Pohon terhadap Volume Limbah
11
Gambar 4 Hubungan diameter pohon terhadap volume limbah
Hubungan Jenis Pohon terhadap Volume Limbah
Jenis pohon yang ditebang oleh PT Dasa Intiga merupakan famili
Dipterocarpaceae. Jenis pohon yang ditebang yaitu meranti, balau, keruing. Jenis pohon yang banyak ditebang adalah meranti sebanyak 58 pohon sehingga volume limbah yang dihasilkan jenis meranti lebih banyak pula sebesar 151.13m³. Rata-rata volume limbah tiap pohon dicari untuk mengetahui volume limbah setiap jenis pohon. Berdasarkan Tabel 4 rata-rata volume limbah paling besar terdapat pada jenis balau. Hal ini disebabkan oleh jenis balau memiliki sifat yang keras dibandingkan jenis lain sehingga dalam penebangannya terjadi kesulitan yang menimbulkan besarnya limbah
Tabel 4 Volume limbah berdasarkan jenis pohon Jenis Pohon Jumlah Pohon Volume limbah
(m³)
Hubungan Pohon Layak Tebang terhadap Pohon yang Ditebang
Pohon yang ditebang ditentukan dari pohon layak tebang dalam suatu plot contoh, sehingga tidak semua pohon layak tebang akan ditebang. Hal ini bertujuan
1.57
41-50 51-60 61-70 71-80 80 up
12
untuk menyisakan pohon di dalam hutan agar terjaga kelestariannya. Pohon layak tebang adalah pohon dengan diameter≥40 cm, jenis komersial dan kualitas baik. Secara garis besar Gambar 5 menunjukkan peningkatan jumlah pohon yang ditebang pada setiap jumlah pohon yang layak tebang. Terdapat penurunan jumlah pohon yang ditebang pada beberapa jumlah pohon layak tebang, dimana jumlah pohon yang ditebang lebih sedikit padahal jumlah pohon layak tebang cenderung lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh keadan tegakan di sekitar pohon yang akan ditebang cukup rapat serta topografi yang cukup curam, sehingga penebang memilih untuk tidak menebang pohon-pohon tersebut
Gambar 5 Hubungan antara pohon layak tebang terhadap pohon yang ditebang
Tingkat Efektivitas Pemanenan
Tingkat efektivitas kegiatan pemananen kayu sering disebut dengan faktor eksploitasi. Menurut Dulsalam (1995), tingkat efektivitas sangat erat kaitannya dengan limbah pemanenan kayu. Semakin besar limbah pemanenan kayu maka semakin kecil faktor eksploitasi yang didapat, semakin kecil limbah pemanenan kayu maka semakin besar faktor eksploitasinya.
Tingkat efektivitas merupakan perbandingan antara bagian batang yang dimanfaatkan dengan bagian batang yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Tingkat efektivitas didapatkan dari indeks tebang, sarad dan angkut. Indeks tebang pada penelitian ini adalah 0.61, indeks sarad adalah 0.99 dan indeks angkut dianggap 1.00. Tingkat efektivitas yang didapatkan adalah sebesar 0.60. Nilai tingkat efektivitas pada penelitian ini adalah sebesar 0.60, angka tersebut tidak sesuai dengan angka yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan (1989) sebesar 0.7. Besarnya indeks tebang, indeks sarad dan indeks angkut serta tingkat efektivitas pemanenan dapat dilihat pada Tabel 5.
13 Tabel 5 Tingkat efektivitas pemanenan
Plot Indeks tebang Indeks sarad Tingkat efektivitas
1 0.64 0.98 0.62
Solusi untuk mengurangi limbah yang terjadi pada saat penebangan, penyaradan dan angkut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan efektifitas kegiatan pemanenan hutan. Perlu diketahui dahulu faktor yang mempengaruhi limbah untuk meningkatkan efektivitas. Secara umum faktor yang mempengaruhi sebagai berikut :
1. Faktor alam yaitu intensitas tebangan, dimensi kayu, jenis kayu dan kerapatan tegakan
2. Faktor teknis yaitu cara kerja, penguasaan teknik kerja yang baik
Limbah sortimen pada penelitian ini banyak disebabkan oleh pecah pada pangkal yang disebabkan oleh pembuatan takik balas dan rebah yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta pemotongan batang utama yang terlalu rendah, sehingga perlu dilakukan pengawasan oleh mandor tebang agar penebang memperhatikan teknik penebangan yang benar dan pelatihan terhadap para penebang. limbah pemanenan dari volume yang dapat dimanfaatkan adalah 37.63% yang terdiri atas limbah penebangan sebesar 36.82% dan limbah pemuatan sebesar 0.81%. Sebaran limbah pada petak tebang berupa limbah tunggak, sortimen pendek yang merupakan batang bebas cabang serta batang atas bebas cabang yang merupakan perpanjangan batang utama. Sebaran limbah yang berada pada TPn merupakan sortimen pendek dari kegiatan trimming.
14
oleh intensitas tebang pohon, diameter pohon, kerapatan tegakan, jenis pohon. Terdapat hubungan antara pohon layak tebang terhadap pohon yang ditebang.
Saran
Untuk menekan jumlah limbah yang dihasilkan dari kegiatan pemanenan kayu perlu diadakan pelatihan kepada penebang mengenai teknik penebangan yang benar untuk menghindari cacat mekanis serta pemilihan kualitas pohon yang akan ditebang untuk menghindari cacat alami. Adanya pengawasan dari mandor tebang juga akan membuat penebang berhati-hati dalam kegiatan penebangan sehingga limbah yang dihasilkan akan berkurang. Pemanfaatan limbah yang dihasilkan dari kegiatan pemanenan hutan bagi perusahaan dan masyarakat sekitar hutan diperlukan agar limbah tidak sia-sia ditinggalkan di dalam hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin R. 1994. Pengendalian manajemen pengusahaan hutan. Bahan Penataran Manager Logging. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.
Budiaman A. 2000. Kuantifikasi kayu bulat kecil limbah pemanenan pada pengusahaan hutan alam. Jurnal Teknologi Hasil Hutan. 8 (2):34-43.
Direktorat Pengolahan Hasil Hutan Departemen Kehutanan. 1989. Pemanfaatan limbah eksploitasi. Pemanfaatan Limbah Kayu. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.
Dulsalam. 1988. Faktor eksploitasi jenis meranti di Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 5(2):47-49. Dulsalam. 1995. Usaha untuk meminimasi limbah eksploitasi dalam rangka
peningkatan nilai produksi. (Makalah Penunjang Dalam Ekspose Penelitian Hasil Hutan).
Kartika EC. 2004. Kuantifikasi limbah pemanenan kayu pulp dengan metode kayu penuh (Whole Tree System) [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Matangaran JR, Togar LT, Tjetjep UK, Yovi EY. 2000. Studi pemanfaatan limbah pembalakan untuk bahan baku industri dalam rangka pengembangan dan pemasaran hasil hutan. Laporan Akhir Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Bekerjasama Dengan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Matangaran JR, Partiani T, Purnamasari DR. 2013. Faktor eksploitasi dan kuantifikasi limbah kayu dalam rangka peningkatan efisiensi pemanenan hutan alam. Jurnal Bumi Lestari. 13(2):384-393.
Partiani T. 2010. Limbah pemanenan kayu dan faktor eksploitasi di hutan alam PT Salaki Summa Sejahtera Pulau Siberut Sumatera Barat [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
15 Sari RM. 2009. Identifikasi dan pengukuran potensi limbah pemanenan kayu
[Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Sastrodimedjo S, Simarmata SR. 1978. Limbah eksploitasi pada beberapa perusahaan pengusahaan hutan di Indonesia. Laporan LPHH No. 120. Bogor. Sastrodimedjo S, Simarmata SR. 1981. Limbah eksploitasi. Diskusi Industri
Perkayuan. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.
Sinaga M, Dulsalam, Simarmata SR. 1985. Faktor eksploitasi kayu ramin. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 2(3):19-22.
16
17 Lampiran 1 Perhitungan tingkat efektivitas dan persentase limbah
Volume batang siap sarad = volume kayu yang dimanfaatkan
Indeks tebang = � = 314.17 �³
Tingkat efektivitas = indeks tebang x indeks sarad x indeks angkut
= 0.61 x 0.99 x 1.00 = 0.60
Persentase Limbah = �
� +� � � x 100%
Volume Limbah Total = Volume limbah petak tebang+Volume limbah TPn
= 185.48 m³+4.10 m³ = 189.58 m³
Persentase limbah pemanenan = 189.58 m ³
189.58 m³+314.17m ³ x 100%
= 37.63%
Persentase limbah petak tebang = �
18
20
Lampiran 4 Dokumentasi limbah
Limbah tunggak Limbah batang bebas cabang
21
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Medan pada tanggal 09 April 1993 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Patut Sudarsono dan Erdalina Tanjung. Pada tahun 2010 penulis lulus dari SMAN 03 Pekalongan dan pada tahun yang sama lulus seleksi USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB). Penulis memilih Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan yaitu : BEM Fakultas Kehutanan Divisi Budaya Olahraga dan Seni tahun 2012-2013. Panitia Forester Cup tahun 2013 dan Panitia Bina Corps Rimbawan (BCR) Fakultas Kehutanan tahun 2012 Divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi (PDD).