LAMPIRAN 1
No. Aitem1 Aitem2 Aitem3 Aitem4 Aitem5 Aitem6 Aitem7 Jenis
Kelamin Frekuensi Durasi
Kemamp
uan Rutin Pendidikan Persepsi
1 5 5 5 5 5 5 5 Lk < 7 kali 2 - 4 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Seorang Musisi
56 5 5 5 5 5 5 5 Pr < 7 kali 2 - 4 jam Bisa tdk rutin Tidak Pernah Seorang Musisi
57 5 5 5 3 5 3 3 Pr >14 kali 4 - 6 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Bukan Seorang Musisi
58 5 3 5 5 4 3 4 Pr 7 - 14 kali 2 - 4 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Bukan Seorang Musisi
59 4 4 4 3 4 3 3 Lk 7 - 14 kali 2 - 4 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Bukan Seorang Musisi
60 4 5 5 5 4 5 5 Lk >14 kali 2 - 4 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Bukan Seorang Musisi
61 4 4 5 5 4 4 5 Lk 7 - 14 kali 2 - 4 jam Tdk bisa tdk rutin Tidak Pernah Bukan Seorang Musisi
62 4 4 4 5 3 4 5 Pr < 7 kali 2 - 4 jam Bisa tdk rutin Tidak Pernah Seorang Musisi
No. Aitem1 Aitem2 Aitem3 Aitem4 Aitem5 Aitem6 Aitem7 Jenis
Kelamin Frekuensi Durasi
Kemamp
uan Rutin Pendidikan Persepsi
1 5 4 5 3 4 5 4 Lk >14 kali 2 - 4 jam Bisa rutin Pernah Seorang Musisi
58 4 4 4 3 3 3 3 Pr >14 kali 4 - 6 jam Bisa rutin Tidak Pernah Seorang Musisi
59 3 4 4 3 4 5 4 Pr 7 - 14 kali 2 - 4 jam Bisa rutin Pernah Seorang Musisi
60 4 4 4 4 4 5 4 Pr >14 kali > 6 jam Bisa rutin Pernah Seorang Musisi
LAMPIRAN 2
Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur MERE
Reliability Statistiks
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
Item-Total Statistiks
Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Squared Multiple Correlation
Cronbach's Alpha if Item
Deleted
Item1 21.79 15.641 .733 .571 .780
Item2 21.93 15.995 .675 .480 .790
Item3 21.74 16.090 .593 .482 .802
Item4 22.17 18.356 .274 .193 .854
Item5 22.33 17.487 .450 .222 .824
Item6 21.78 14.528 .749 .685 .773
Item7 21.98 16.579 .592 .406 .803
Scale Statistiks
Mean Variance Std. Deviation N of Items
LAMPIRAN 3
1. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
MERE_NonMusisi MERE_Musisi
N 63 61
Normal Parametersa,,b Mean 27.59 29.10 Std. Deviation 4.047 3.187 Most Extreme Differences Absolute .104 .111
Positive .104 .077 Negative -.087 -.111 Kolmogorov-Smirnov Z .824 .864 Asymp. Sig. (2-tailed) .506 .444
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
2. Uji Deskriptif variabel MERE
Variabel N Min Max Mean SD
MERE 124 19 35 28,35 3,74
3. Uji Deskriptif aspek MERE
Descriptive Statistiks
MERE N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Affect 124 10 20 16.88 2.222
Cognitive 124 6 15 11.45 2.077
Internal 124 8 15 11.99 1.760
A. Perbandingan mean data penelitian berdasarkan data demografi, pengalaman bermusik dan persepsi diri.
1. Berdasarkan Usia
Usia Mean N Std. Dev. % of Total N 18 - 27 tahun 28.37 84 3.546 67,7% 28 - 33 tahun 28.68 25 4.259 20,1%
34 - 40 tahun 27.73 15 4.079 12%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
2. Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Mean N Std. Deviation % of Total N
Laki-laki 29.11 63 3.370 50.8%
Perempuan 27.57 61 3.964 49.2%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
3. Berdasarkan Frekuensi mendengarkan musik dalam seminggu
Frekuensi
dengar musik Mean N Std. Deviation % of Total N < 7 kali 25.80 10 5.678 9.7% 7 -14 kali 27.47 47 3.647 36.3%
> 14 kali 29.36 67 3.059 54.0%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
< 2 jam 24.89 27 3.683 21.8% 2 - 4 jam 29.37 59 3.242 47.6% 4 - 6 jam 28.93 29 3.229 23.4% > 6 jam 30.22 9 2.224 7.3%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
5. Berdasarkan Kemampuan memainkan alat musik
Kemampuan
main musik Mean N Std. Deviation % of Total N Tidak Bisa 27.43 35 4.428 29.0%
Bisa 28.72 89 3.391 71.0%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
6. Berdasarkan Pengalaman mengikuti pendidikan musik
Pendidikan
musik Mean N Std. Deviation % of Total N Tidak Pernah 27.89 73 3.978 58.9%
Pernah 29.02 51 3.295 41.1%
Total 28.35 124 3.740 100.0%
7. Berdasarkan Rutinitas memainkan musik
Rutin_main Mean N Std. Deviation % of Total N
Tdk rutin 27.51 70 4.136 55.6%
Rutin 29.44 54 2.859 44.4%
8. Berdasarkan persepsi diri
Persepsi diri Mean N Std. Deviation % of Total N
Bukan Musisi 27.17 66 3.789 53.2%
Musisi 29.71 58 3.212 46.8%
B. Perbandingan mean berdasarkan kombinasi data demografi, pengalaman bermusik dan persepsi diri
1. Uji statistik perbandingan mean jenis kelamin dengan usia
Jenis_kelamin Usia Mean N Std. Deviation
Laki-laki
2. Uji statistik perbandingan mean jenis kelamin dengan status bermusik
Jenis_kelamin Status_Bermusik Mean N Std. Deviation
3. Uji statistik perbandingan mean jenis kelamin dengan pengalaman bermusik
Jenis_kelamin
_main_musik Mean N Std. Deviation
Laki-laki
4. Uji statistik perbandingan mean jenis kelamin dengan persepsi diri
Jenis_kelamin Persepsi_ttg_diri Mean N Std. Deviation
Laki-laki
5. Uji statistik perbandingan mean jenis kelamin dengan keaktifan mendengarkan musik
Jenis_kelamin
Frekuensi_d
engarmusik Mean N Std. Deviation
Laki-laki
< 7 kali 35.00 1 .
7 -14 kali 28.58 26 3.828
6. Uji statistik perbandingan mean status bermusi dengan usia
MERE * Status_Bermusik * Usia MERE
Status_Bermusik Usia Mean N Std. Deviation
Bukan Musisi 18 - 27 tahun 27.61 38 4.077
7. Uji statistik status bermusik dengan pengalaman bermusik
Status_Bermusik
Kemampuan
_main_musik Mean N Std. Deviation
Bukan Musisi Tidak Bisa 27.43 35 4.428
Bisa 27.79 28 3.583
Total 27.59 63 4.047
Musisi Bisa 29.15 61 3.240
Total 29.15 61 3.240
Total Tidak Bisa 27.43 35 4.428
Bisa 28.72 89 3.391
Total 28.35 124 3.740
Status_Bermusik Rutin_main Mean N Std. Deviation
Bukan Musisi Tdk rutin 27.26 54 4.194
Rutin 29.56 9 2.297
Total 27.59 63 4.047
Musisi Tdk rutin 28.38 16 3.810
Rutin 29.42 45 3.011
Total 29.15 61 3.240
Total Tdk rutin 27.51 70 4.110
Rutin 29.44 54 2.886
Total 28.35 124 3.740
8. Uji statistik berdasarkan status bermusik dengan persepsi diri
Total 27.59 63 4.047
9. Uji statistik perbandingan mean status bermusik dengan keaktifan mendengarkan musik
Status_Bermusik
Frekuensi_d
engarmusik Mean N Std. Deviation
> 6 jam 32.33 3 2.517
Total 27.59 63 4.047
Musisi < 2 jam 25.63 8 3.068
2 - 4 jam 29.75 28 3.099
4 - 6 jam 29.74 19 3.177
> 6 jam 29.17 6 1.169
Total 29.15 61 3.240
Total < 2 jam 24.89 27 3.683
2 - 4 jam 29.37 59 3.242
4 - 6 jam 28.93 29 3.229
> 6 jam 30.22 9 2.224
LAMPIRAN 4
PETUNJUK PENGISIAN
Berikut disajikan sejumlah pernyataan disertai alternatif respon pada kolom di sebelah kanan
pernyataan. Anda diminta untuk memberi tanda (X) pada alternatif respon yang paling sesuai dengan diri anda, mengkuti panduan sebagai berikut :
STS : pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan anda
TS : pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan anda
N : pernyataan tersebut Kadang Sesuai - Kadang Tidak Sesuai dengan anda
S : pernyataan tersebut Sesuai dengan anda
SS : pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan anda
Meskipun begitu, sebisa mungkin hindari memilih pilihan jawaban (N ) .
Mohon baca dan pahami setiap pernyataan dengan cermat sebelum menuliskan jawaban. Selamat mengerjakan.
1. Ketika suasana hati saya sedang tidak baik, saya menjadi lebih sering mendengarkan musik
2. Musik tertentu dapat membuat perasaan saya menjadi lebih baik
3. Dalam 3 bulan belakangan, musik yang paling sering didengarkan untuk membantu perasaan saya menjadi lebih baik adalah :
5. Saya suka mendengarkan lagu-lagu terbaru
6. Ketika menghadapi masa-masa sulit, saya menjadi lebih sering mendengarkan musik tertentu
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2000). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Azwar. (2002). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Bhawana, Arya. (2011). Gender Differences in SIS –I Profile of Normal
Population. Journal of Projective Psychology and Mental Health, 18 (1)
Bigand, E., dan Poulin-Charronnat, B. (2006). Are we "experienced listeners"? A
review of the musical capacities that do not depend on formal musical
training. Cognition, 100 (1), 100-130
Chamorro-Premuzic, T., & Furnham, A. (2007). Personality and music: Can traits
explain how people use music in everyday life? British Journal of
Psychology, 98, 175-185.
Chin, T. C., & Rickard, N. S. (2012). Re-conceptualizing ‘musicianship’: Music
performance and training through to music reception and engagement. In
N. S. Rickard & K. McFerran
Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta : Penerbit Best Publisher.
Djohan. (2010). Respons Emosi Musikal. Bandung : Lubuk Agung.
DeNora, T. (1999). Music as a technology of the self. Poetics, 27, 31-56.
DeNora, T. (2000). Music in everyday life. Cambridge, UK: Cambridge
UniversityPress.
Dana L. Strait, Nina Kraus. (2009). Musical experience and neural efficiency:
effects of training on subcortical processing of vocal expressions of
Dana L. Strait dan Nina Kraus. (2014). Music enrichment programs improve the
neural encoding of speech in at-risk children. The Journal of Neuroscience
34, (36)
Dvir, T., Eden, D., Avolio, B. J., & Shamir, B. (2002). Impact of transformational
leadership on follower evelopment and performance: A field experiment.
The Academy of Management Journal, 45, 735-744.
Elliott , D. (1995). Music matters: A new philosophy of music education. Oxford,
UK: Oxford University Press.
Field, A. (2009). Discovering statistics using IBM SPSS statistics. London: Sage
Publications.
Folkman, Susan dan Lazarus, Richard (1987). Transactional theory and research
on emotions and coping. European Journal of Personality, 1, (3), 141–169
Folkman, Susan dan Lazarus, Richard (1987). Age differences in stress and
coping processes. Psychol Aging. 2(2):171-84.
Groarke, J. M., Hogan, M. J. (2015) Enhancing wellbeing: An emerging model of
the adaptive functions of music listening. Psychology of Music.
Gross, J.J. (1999). Emotion regulation : past, present, future. Cognition &
Emotion, 13, 551-573.
Gross, J.J. (2001). Emotion regulation in adulthood : timing is everything. Current
Directions in Psychological Science, 10, 214-219.
Gross, J.J. (2007). Handbook of Regulation Emotion. New York: Guilford Press
Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion
regulation processes: Implications for effect, relationships, and well-being.
Journal of Personality and Social Psychology, 85, 348-362.
Helena, Vitulić dan Simona Prosen. (2014). Different perspectives on emotion
Helena, vitulic dan Prosen, Simona. (2015). Coping and emotional regulation
strategies in adulthood: specificities regarding age, gender and level of
education. Faculty of education. Ljublijana
Hurlock, E. B. (1993). Perkembangan Anak Jilid 2. Terjemahan oleh Thandrasa.
Jakarta: PT. Erlangga
Krumhansl, C.L. (1995). Effects of musical context on similarity and expectancy.
Systematische Musikwissenschaft (Systematic Musicology), 3, 211-250
North, A. C., Hargreaves, D. J., & Hargreaves, J. J. (2004). Use of music in
everyday life. Music Perception, 22, 1-77.
North, A. C., Hargreaves, D. J., & O’Neill, S. A. (2000). The importance of music to adolescents. British Journal of Educational Psychology, 70, 255-272.
Rickard, & Chin. (2012). The Music Use (MUSE) Questionnaire: A instrument to
measure engagement in music. Music Perception , 29 (4), 429-446.
Sloboda, J. A. (2005). Exploring the musical mind. New York: Oxford University
Press.
Sloboda, J. A. (2010). Music in everyday life: The role of emotions. In P. N.
Juslin & J. A. Sloboda (Eds.), Handbook of music and emotion: Theory,
research, applications (pp. 493-514). New York: Oxford University Press.
Sloboda, J. A., O’Neill, S. A., & Ivaldi, A. (2001). functions of music in everyday life: an exploratory study using the experience sampling method. Musicae
25 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran music engagement untuk
meregulasi emosi pada individu yang melakukan aktifitas mendengarkan
muspengguna musik. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif
untuk menggambarkan hasil penelitian.
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah music engagement untuk
meregulasi emosi (MERE).
B. Definisi Operasional
1. Music engagement untuk meregulasi emosi (MERE)
Music engagement untuk meregulasi emosi (MERE) adalah keterlibatan
individu dalam menggunakan musik untuk mengelola kondisi emosinya.
Keterlibatan untuk meregulasi emosi diukur berdasarkan aktifitas bermusik yang
dilakukan untuk meregulasi emosi, yakni mendengarkan musik (receptive);
fungsi musik yang digunakan dalam meregulasi emosi (fungsi kognitif dan
afektif); dan motivasi menggunakan musik baik dari dalam diri maupun dari luar
dengan menggunakan pengukuran Music Engagement Style-I: Cognitive and
Emotional Regulation(MES-I: CER) dari alat ukur The Music Use Questionnaire
(MUSE) oleh Rickard dan Chin (2012).
C. Subjek Penelitian
1. Populasi
Karakteristik populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Berusia 18-40 tahun
b. Tingkat pendidikan minimal SMA
2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 124
orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan memilih sebagian dari
populasi, yakni di Kota Medan. Teknik yang digunakan adalah incidental
sampling, dimana hanya individu yang kebetulan dijumpai atau yang dapat
dijumpai saja yang diselidiki sesuai karakter penelitian. Metode ini
merupakan metode sampling non probability sampling/ non-randomized
sampling, sehingga tidak semua individu dalam populasi memiliki
kesempatan yang sama untuk dapat dipilih menjadi anggota sampel (Hadi,
2000). Keterbatasan dari teknik sampling ini adalah tidak mengetahui
jumlah populasi, sehingga hasil kesimpulan tidak bisa digeneralisasi
27 D. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
kuisioner yang berbentuk self-report.
1. Alat Ukur MERE
Music engagement untuk meregulasi emosi (MERE) diukur dengan
menggunakan alat ukur yang dimodifikasi dari Music engagement Style-I:
Cognitive and emotional regulation (MES-I: CER) dari The Music Use (MUSE)
oleh Rickard dan Chin (2012). Pengukuran menggunakan alat ukur model
Likert yang berjumlah 7 aitem dengan 5 pilihan jawaban yaitu: Sangat Sesuai
(SS), Sesuai (S), Kadang sesuai – kadang tidak sesuai (N), Tidak Sesuai (TS),
Sangat Tidak Sesuai (STS). Nilai setiap pilihan bergerak dari 1 sampai 5,
dengan bobot penilaian : SS = 5, S = 4, N = 3, TS = 2, dan STS = 1.
Adapun blue print untuk alat ukur MERE dapat dilihat pada tabel berikut:
2. Kategorisasi Alat Ukur
Kategorisasi digunakan untuk menempatkan individu dalam
kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum
berdasar atribut yang diukur kontinum jenjang (Azwar, 2012). Peneliti
menggunakan kategorisasi 5 jenjang berdasarkan nilai hipotetik alat ukur
(Min= 7; Max= 35; Mean= 21; SD= 4,66). Kategorisasi digambarkan pada
tabel berikut :
Tabel 3.2 Norma Kategorisasi Alat Ukur
Norma Kategorisasi 5 Jenjang Norma Alat Ukur Kategori
X > Mean + 1,5 SD X > 27,99 Sangat Tinggi
Mean + 0,5 SD < X ≤ Mean + 1,5 SD 23,33 < X ≤ 27,99 Tinggi
Mean –0,5 SD < X ≤ Mean + 0,5 SD 18,67 < X ≤ 23,33 Sedang
Mean –1,5 SD < X ≤ Mean – 0,5 SD 14,01 < X ≤ 18,67 Rendah
X ≤ Mean – 1,5 SD X ≤ 14,01 Sangat Rendah
E. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Penelitian ini menggunakan alat ukur yang dimodifikasi dari alat ukur
yang berbahasa Inggris. Untuk menjaga validitas isi, maka penerjemahan dari
29 diperkuat lagi dengan melakukan analisa aitem melalui professional judgement
oleh dosen pembimbing serta mempertimbangkan nilai inter-item consistency.
2. Reliabilitas
Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal
yang prosedurnya hanya memerlukan satu kali pengenaan tes kepada sekelompok
individu sebagai partisipan. Pendekatan ini dipandang ekonomis, praktis, dan
memiliki efisiensi yang tinggi (Azwar, 2002). Teknik yang digunakan untuk
pengukuran reliabilitas alat ukur penelitian ini adalah teknik koefisien Alpha
Cronbach.
3. Hasil Uji Coba Alat Ukur
Untuk melihat daya beda aitem, dilakukan analisa uji coba dengan
menggunakan aplikasi komputer SPSS 17.0 for Windows, kemudian nilai
corrected item total correlation yang diperoleh dengan Person Product Moment
menggunakan taraf kepercayaan 95% dengan nilai critical item = 0,30. .
Alat ukur disebar kepada 60 orang secara acak yang ditemui oleh peneliti.
Hasil analisis menunjukkan bahwa 6 aitem memiliki koefisien korelasi aitem
total sebesar ≥ 0.30. Terdapat satu aitem yang memiliki koefisien korelasi aitem
sebesar 0,27. Namun berdasarkan pertimbangan Professional Judgement aitem
tersebut tetap digunakan.
Hasil perhitungan reliabilitas alat ukur MERE menghasilkan nilai
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan
penelitian, pelaksanaan penelitian, dan pengolahan data.
1. Persiapan Penelitian
Dalam tahapan persiapan ini, hal yang dilakukan oleh peneliti adalah:
a. Adaptasi dan Modifikasi alat ukur
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Music
Engagement Style-I dalam The Music Use Questionnaire (MUSE) yang
dibuat oleh Rickard dan Chin (2012) dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Peneliti kemudian melakukan alih bahasa ke Bahasa Indonesia melalui salah
satu Lembaga Penerjemah yang ada di Kota Medan. Setelah mendapatkan
hasil terjemahan, peneliti kemudian meminta pertimbangan Profesional
Judgment yang dalam hal ini adalah pembimbing skripsi peneliti. Hal ini
dilakukan untuk mengadaptasi alat ukur agar membentuk kalimat dalam
Bahasa Indonesia yang baik dan benar, mudah dipahami dan kontennya
sesuai dengan budaya populasi penelitian.
Selanjutnya peneliti melalui pertimbangan Profesional Judgment
melakukan modifikasi alat ukur dengan menambahkan beberapa aitem. Hal
31 b. Evaluasi alat ukur
Setelah alat ukur dimodifikasi, peneliti memberikan alat ukur kepada
beberapa orang yang sengaja ditemui untuk mengisi alat ukur. Peneliti
kemudian menanyakan apa yang dirasakan respenden ketika mengisi alat
ukur, dan juga meminta pendapat serta kritik mengenai konten dan tampilan
fisik alat ukur. Hal ini bertujuan untuk menemukan kekurangan dan
kelemahan dari alat ukur, yang kemudian dijadikan bahan pertimbangan
untuk mengevaluasi kembali alat ukur melalui Profesional Judgement.
c. Revisi alat ukur
Setelah melakukan evaluasi, peneliti melakukan perbaikan alat ukur
dan kemudian menguji coba alat ukur dengan menyebarkan secara acak
kepada orang-orang yang berada di sekitar peneliti. Peneliti kemudian
melakukan uji validitas dan reliabilitas untuk mengevaluasi aitem dalam alat
ukur. Hasil uji tersebut menjadi perbaikan akhir untuk menyusun alat ukur
penelitian yang utuh untuk diberikan kepada subjek penelitian.
2. Pelaksanaan Penelitian
Setelah mengevaluasi dan melakukan perbaikan alat ukur yang telah diuji
coba, peneliti melakukan pengambilan data dari tanggal 26 Juni – 8 Juli 2016.
Peneliti melakukan pengambilan data dengan dua cara, yaitu dengan pengisian
kuesioner secara manual (paper and pencil) dan juga secara digital menggunakan
3. Pengolahan Data Penelitian
Setelah data semua subjek terkumpul dan hasil skor MERE diperoleh, maka
data diolah dengan menggunakan aplikasi komputer SPSS versi 17 for windows
dan Microsoft Office Excel 2007.
G. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah secara kuantitatif dengan
analisis statistik deskriptif. Analisis data pada penelitian ini menggunakan bantuan
33 BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan analisa hasil penelitian sesuai
dengan data yang diperoleh dari lapangan. Bab ini dimulai dengan menyajikan data
gambaran umum responden penelitian, hasil penelitian, beserta pembahasan hasil
penelitian.
A. Gambaran Umum Responden Penelitian
Sebelum melakukan analisa data, terlebih dahulu diuraikan gambaran
responden penelitian berdasarkan demografi (usia dan jenis kelamin),
berdasarkan keaktifan mendengarkan musik (frekuensi dan durasi), latar
belakang dan pengalaman bermusik (status bermusik, pendidikan/kursus musik,
kemampuan memainkan alat musik dan rutinitas memainkan musik), serta
persepsi responden tentang dirinya sebagai seseorang musisi atau bukan
seorang musisi.
Tabel 4.1 Gambaran umum responden penelitian
No. Responden penelitian N %
1
Demografi Usia
18 – 27 tahun 84 67,7%
28 – 33 tahun 25 20,2%
Jenis Kelamin
4 Persepsi Persepsi diri
Seorang Musisi 58 46.8%
Bukan Seorang
Musisi 66 53.2%
Dari data di atas responden penelitian dapat dilihat berdasarkan
demografi, keaktifan mendengarkan musik, latar belakang dan pengalaman
bermusik, serta persepsi diri mengenai status bermusik.
35 responden yang berusia 34-40 tahun sebanyak 15 orang (12,1%). Berdasarkan
jenis kelamin, responden laki-laki yang mengikuti penelitian ini sebanyak 64
orang (50,8%) dan perempuan sebanyak 61 orang (49,2%).
Berdasarkan frekuensi mendengarkan musik, responden yang melakukan
aktifitas mendengarkan musik rata-rata kurang dari tujuh kali dalam seminggu
sebanyak 12 orang (19,7%), sekitar tujuh hingga empat belas kali dalam
seminggu sebanyak 45 orang (36,3%), dan lebih dari 14 kali dalam seminggu
sebanyak 67 orang (54%). Sedangkan berdasarkan durasi mendengarkan musik
dalam sehari, responden penelitian yang mendengarkan musik rata-rata kurang
dari 2 jam dalam sehari sebanyak 27 orang (21,6%), sekitar 2 hingga 4 jam
sehari sebanyak 59 orang (47,9%), sekitar 4 hingga 6 jam sehari sebanyak 29
orang (23,4%), dan yang lebih dari 6 jam dalam sehari sebanyak 9 orang,
(7,1%).
Berdasarkan pengalaman mengikuti pendidikan musik, responden
penelitian yang pernah mengikuti pendidikan musik sebanyak 51 orang
(41,2%), dan yang tidak pernah mengikuti pendidikan musik sebanyak 73 orang
(58,8%). Berdasarkan kemampuan memainkan alat musik, sebanyak 89 orang
(71,7%) menyatakan diri bisa memainkan alat musik, sedangkan 35 orang
(28,3%) lainnya menyatakan tidak bisa. Sebanyak 55 orang diantaranya
(44,4%) menyatakan rutin memainkan musik, dan 69 orang (55,6%)
Berdasarkan persepsi diri mengenai status bermusiknya, sebanyak 58
(46,8%) responden memandang dirinya dan menyatakan bahwa ia adalah
seorang musisi. Selebihnya sebanyak 66 orang (53,2%) menyatakan dirinya
bukan seorang musisi.
B. Hasil Penelitian
1. Gambaran Music Engagement untuk Meregulasi Emosi (MERE)responden
penelitian
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada data penelitian,
didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.2 Hasil uji deskriptif variabel MERE
Variabel N Min Max Mean SD
MERE 124 19 35 28,35 3,74
Hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa secara umum responden
penelitian menunjukkan rata-rata MERE sebesar 28,35 dan SD = 3,74. Hasil
ini menunjukkan bahwa secara rata-rata responden penelitian terlibat dalam
aktifitas mendengarkan musik untuk mengelola kondisi emosinya.
37 Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada data penelitian,
didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.3 Perbandingan mean hipotetik dan mean empirik
Mean Hipotetik Mean Empirik keterangan
MERE 21 28,35 Xh< Xe
Fungsi Afektif 12 16,88 Xh< Xe
Kognitif 9 11,45 Xh< Xe
Motivasi Intrinsik 9 11,99 Xh< Xe
Ekstrinsik 12 16,34 Xh< Xe
Hasil di atas menunjukkan bahwa secara rata-rata MEREpada
responden penelitian dalam menggunakan musik untuk meregulasi emosinya
(Xemp.= 28,35) lebih tinggi dari perkiraan alat ukur (Xhip.=21). Dengan kata
lain, secara rata-rata keseluruhan responden penelitian ini sangat terlibat
dalam aktifitas mendengarkan musik untuk mengelola kondisi emosinya.
Berdasarkan aspek fungsi musik dalam meregulasi emosi, secara rata-rata
responden penelitian yang terlibat dengan aktifitas mendengarkan musik
untuk meregulasi emosinya lebih meyakini bahwa musik dapat berpengaruh
terhadap emosi (X= 16,88) dan kognitifnya (X= 11,45) dibandingkan
perkiraan alat ukur (X=12; X= 9).Berdasarkan motivasi penggunaan musik,
secara rata-rata responden penelitian lebih terlibat menggunakan musik
karena adanya dorongan dari dalam diri dan juga adanya tujuan yang ingin
3. Kategorisasi Data Penelitian
Berdasarkan norma kategorisasi alat ukur MERE, responden
penelitian dapat dikategorikan sebagai berikut :
Tabel 4.4 Kategorisasi responden penelitian
Norma Kategorisasi N (%) Kategori
X > 27,99 70 (56,45%) Sangat Tinggi
23,33 < X ≤ 27,99 32 (25,80%) Tinggi
18,67 < X ≤ 23,33 22 (17,74%) Sedang
14,01 < X ≤ 18,67 - Rendah
X ≤ 14,01 - Sangat Rendah
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden
penelitian masuk kedalam kategori MERE Sangat Tinggi sebanyak 70
orang (56,45%), artinya sebagian besar responden penelitian sangat terlibat
dengan aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya.
Sebanyak 32 orang (25,80%) masuk ke dalam kategori MERE Tinggi.
Selebihnya, sebanyak 22 orang (17,74%) masuk ke dalam kategori sedang.
Tidak ada responden penelitian yang masuk ke dalam kategori MERE
Rendah dan Sangat Rendah.
39 Hasil uji statistik deskriptif variabel MERE berdasarkan usia dan jenis
kelamin didapatkan sebagai berikut :
Tabel 4.5 Gambaran MERE berdasarkan data demografi
Demografi Mean
Hasil diatas menunjukkan bahwa berdasarkan usia dan jenis kelamin,
responden penelitian ini memiliki music engagement yang Tinggi dan
Sangat Tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa responden penelitian dari usia
18 hingga 40 tahun baik laki-laki maupun perempuan sangat terlibat
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Laki-laki dalam
penelitian ini memiliki keterlibatan yang lebih tinggi dengan aktifitas
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya dibandingkan
perempuan. Jika dilihat dari fungsi penggunaan musik, laki-laki secara
rata-rata lebih meyakini musik dapat berpengaruh terhadap emosinya
dibandingakan perempuan. Motivasi ekstrinsik laki-laki lebih tinggi
dibandingkan perempuan, dengan kata lain faktor dari luar diri individu
lebih berperan terhadaplaki-laki untuk meregulasi emosinya dibandingkan
5. Berdasarkan keaktifan mendengarkan musik
Hasil uji statistik deskriptif variabel MERE berdasarkan data frekuensi
mendengarkan musik dalam seminggu dan durasi mendengarkan musik
dalam sehari didapat sebagai berikut :
Tabel 4.6 Gambaran MERE berdasarkan keaktifan mendengarkan musik
Demografi Mean
Berdasarkan keaktifan mendengarkan musik yaitu frekuensi
mendengarkan musik dalam seminggu dan durasi mendengarkan musik
dalam sehari, responden penelitian ini memiliki rata-rata MERE Tinggi dan
Sangat Tinggi. Berdasarkan frekuensi mendengarkan musik, secara
rata-rata individu yang mendengarkan musik lebih dari 14 kali dalam seminggu
menunjukkan MERE yang Sangat Tinggi (X= 29,36) dibandingkan
responden yang mendengarkan musik kurang dari 14 kali seminggu (X=
27,73; X= 25,08). Sedangkan berdasarkan durasi, secara rata-rata
41 penelitian yang mendengarkan music rata-rata kurang dari 2 jam dalam
sehari tetap menunjukkan rata-rata MERE yang Tinggi.
6. Berdasarkan latar belakang dan pengalaman bermusik
Hasil uji statistik deskriptif variabel MERE berdasarkan data status
bermusik, pengalaman mengikuti pendidikan musik, kemampuan
memainkan alat musik, dan rutinitas dalam memainkan musik didapatkan
sebagai berikut :
Tabel 4.7 Gambaran MERE berdasarkan latar belakang dan pengalaman bermusik
Pengalaman bermusik Mean
Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan status bermusik, baik musisi
maupun non-musisi yang mengikuti penelitian ini secara rata-rata sangat
terlibat dalam aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya.
Namun keterlibatan musisi (X= 29,02) lebih tinggi dari pada non-musisi
Berdasarkan pengalaman mengikuti pendidikan musik, baik yang
pernah maupun belum pernah mengikuti pendidikan musik secara rata-rata
sangat terlibat dalam aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi
emosinya. Namun keterlibatan responden penelitian yang pernah mengikuti
pendidikan musik (X= 29,02) lebih tinggi dari pada non-musisi yang
mengikuti penelitian ini. (X= 27,89)
Berdasarkan kemampuan memainkan alat musik, baik responden yang
menyatakan diri bisa memainkan musik baik maupun yang menyatakan diri
tidak bisa memainkan musik secara rata-rata sangat terlibat dalam aktifitas
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Namun keterlibatan
responden penelitian yang menyatakan diri bisa memainkan alat musik (X=
28,73) lebih tinggi dibandingkan responden yang menyatakan diri tidak
bisa memainkan alat musik (X= 27,44).
Berdasarkan rutinitas memainkan alat musik, baik responden yang
menyatakan diri rutin memainkan musik baik maupun yang menyatakan
diri tidak rutin memainkan musik secara rata-rata sangat terlibat dalam
aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Namun
keterlibatan responden penelitian yang menyatakan diri rutin memainkan
43 7. Berdasarkan Persepsi Diri
Hasil uji statistik deskriptif variabel MERE berdasarkan persepsi
individu mengenai status bermusiknya didapatkan sebagai berikut :
Tabel 4.8 Gambaran MERE berdasarkan persepsi diri
Persepsi Mean
MERE Kategori
Fungsi Motivasi
Kog. Afek. Int. Ekst.
Sebagai seorang musisi 29,26 (ST) 12.22 17.50 12.40 17.33
Bukan seorang musisi 27,58 (T) 10.77 16.33 11.64 15.47
Berdasarkan persepsi diri, responden penelitian yang merasa dirinya
sebagai seorang musisi dan bukan seorang musisi sama-sama memiliki
keterlibatan yang tinggi dalam mendengarkan musik untuk meregulasi
emosinya. Namun responden penelitian yang menganggap dirinya adalah
seorang musisi secara rata-rata memiliki keterlibatan yang lebih tinggi
(X=29,26) dibandingkan yang tidak merasa dirinya seorang musisi (X=
27,58). Secara rata-rata baik fungsi kognitif dan fungsi afektif dari
penggunaan musik lebih tinggi pada responden yang merasa dirinya adalah
seorang musisi dibandingkan yang tidak.
8. Gambaran responden penelitian berdasarkan demografi, pengalaman
Tabel 4.9 Gambara MERE berdasarkan kombinasi data demografi, latar belakang dan pengalaman serta persepsi diri
Mean MERE
Status bermusik Pendidikan
musik Kemampuan Rutinitas Persepsi
45 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa responden penelitian yang
berjenis kelamin laki-laki dalam penelitian ini menunjukkan rata-rata MERE
dengan kategori Tinggi dan Sangat Tinggi, baik berdasarkan usia, latar
belakang dan pengalaman bermusik, dan persepsi diri. Hasil ini
menunjukkan bahwa secara rata-rata responden laki-laki dalam penelitian
ini sangat terlibat dalam aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi
emosinya.
Berdasarkan status bermusik, responden laki-laki dalam peneitian ini
hampir secara keseluruhan menunjukkan rata-rata MERE dengan kategori
Sangat Tinggi, hanya responden laki-laki yang berusia 34-40 tahun dan
berstatus non-musisi menunjukkan rata-rata MERE dengan kategori Tinggi.
Hasil yang sama juga didapatkan pada responden laki-laki ditinjau dari
pengalaman mengikuti pendidikan bermusik yang menunjukkan rata-rata
music engagement dengan kategori Sangat Tinggi kecuali pada responden
yang berusia 34-40 tahun dan tidak pernah mengikuti pendidikan musik
yang masuk kedalam kategori MERE Tinggi.
Berdasarkan kemampuan memainkan musik, responden laki-laki
dalam penelitian ini menunjukkan rata-rata MERE yang Sangat Tinggi baik
pada yang menyatakan diri mampu memainkan musik maupun tidak.
Namun jika ditinjau dari rutinitas memainkan alat musik, secara rata-rata
responden laki-laki yang menyatakan diri rutin memainkan musik (X=
30,00/ST) lebih tinggi dibandingkan yang menyatakan diri tidak rutin
Pada responden penelitian yang berjenis kelamin perempuan, secara
rata-rata berdasarkan rentang usia, pengalaman bermusik, dan persepsi peran
bermusik, menunjukkan skor rata-rata MERE dengan kategori Tinggi dan
Sangat Tinggi. Hasil ini menggambarkan bahwa perempuan yang mengikuti
penelitian ini secara rata-rata sangat terlibat dengan aktifitas mendengarkan
musik untuk meregulasi emosinya.
Jika ditinjau dari status bermusik, musisi perempuan secara rata-rata
menunjukkan rata-rata MERE yang Sangat Tinggi, kecuali yang berada
dalam rentang usia 34-40 tahun yang menunjukkan kategori MERE Tinggi.
Sedangkan non-musisi perempuan menunjukkan rata-rata MERE Tinggi.
Hasil ini menggambarkan bahwa secara rata-rata musisi perempuan lebih
terlibat dengan aktifitas mendengarkan musik dibandingkan non-musisi
perempuan yang mengikuti penelitian ini.
Rata-rata MERE pada responden perempuan yang pernah mengikuti
pendidikan musik (X= 28, 46), menyatakan diri mampu memainkan musik
(X= 28,59), rutin memainkan musik (X= 28,37), dan merasa dirinya adalah
seorang musisi (X= 29,00), masing-masing secara rata-rata lebih tinggi
dibandingkan responden yang tidak pernah mengikuti pendidikan musik
(X= 26,82), menyatakan diri tidak bisa (X= 26,00) dan tidak rutin
memainkan musik (X= 27,21), dan merasa dirinya bukan seorang musisi
47 keterlibatan perempuan dalam menggunakan musik untuk meregulasi
emosinya.
Berdasarkan keaktifan (frekuensi dan durasi) mendengarkan musik,
rata-rata responden penelitian menunjukkan skor MERE yang Tinggi dan
Sangat Tinggi, kecuali pada responden yang merasa dirinya bukan musisi
dan mendengarkan musik kurang dari 7 kali dalam seminggu yang
menunjukkan kategori MERE Sedang (X=22,71). Rata-rata MERE dengan
kategori sedang juga terdapat pada responden yang mendengar musik
kurang dari 7 kali dalam seminggu dan tidak lebih dari dua jam dalam sehari
(X= 22,00). Responden penelitian yang mendengarkan musik rata-rata lebih
dari 14 kali dalam seminggu menunjukkan MERE dengan kategori Sangat
Tinggi baik jika ditinjau dari status bermusik, pengalaman pendidikan
musik, kemampuan dan rutinitas memainkan musik, dan persepsi diri.
Responden penelitian yang mendengar musik kurang dari dua jam
dalam sehari menunjukkan rata-rata MERE dengan kategori Tinggi kecuali
pada responden yang berusia 28-33 tahun baik laki-laki (X= 23,00) maupun
perempuan (X= 22,00), pada responden perempuan yang berusia 33-40
tahun (X= 23,00), dan juga pada responden yang kurang dari 7 kali
mendengarkan musik dalam seminggu (X= 22,00) menunjukkan rata-rata
MERE kategori Sedang, Sedangkan responden yang mendengar musik
lebih dari dua jam dalam sehari memiliki rata-rata MERE dengan kategori
Sangat Tinggi baik yang ditinjau dari pengalaman bermusik, demografi dan
Data hasil mengenai persepsi diri menunjukkan bahwa ada
responden yang memenuhi kriteria musisi namun memandang dirinya bukan
seorang musisi. Responden ini menunjukkan rata-rata MERE yang Tinggi
(X= 27,70), yang musisi yang tetap memandang dirinya sebagai musisi
menunjukkan rata-rata MERE yang lebih tinggi dengan yang masuk ke
dalam kategori Sangat Tinggi (X= 29,43). Sebaliknya ada pula responden
yang tidak termasuk ke dalam kriteria musisi, namun memandang dirinya
sebagai musisi dengan menunjukkan rata-rata MERE yang Sangat Tinggi
(X= 31,71) dalam mendengar musik untuk meregulasi emosi. Dengan kata
lain, responden non-musisi yang merasa dirinya sebagai seorang musisi
sangat terlibat mendengarkan musik untuk meregulasi emosnya
dibandingkan non-musisi yang tetap merasa dirinya memang bukan musisi
(X= 27,07).
C. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden penelitian ini secara
rata-rata lebih terlibat dalam aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi
emosinya (X= 28,35) dibandingkan perkiraan rata-rata alat ukur (X= 21). Dengan
kata lain, responden penelitian ini secara rata-rata lebih terlibat menggunakan
musik untuk membantu mengelola kondisi emosinya melalui aktifitas
49 menunjukkan keterlibatan yang tinggi, selebihnya sebanyak 22 orang (17,74%)
cukup terlibat dalam menggunakan music untuk meregulasi emosinya. Tidak ada
responden penelitian yang kurang terlibat atau yang tidak terlibat sama sekali
dalam menggunakan music untuk meregulasi emosinya.
Hasil di atas menunjukkan bahwa secara rata-rata keseluruhan responden
penelitian sangat terlibat dalam menggunakan musik untuk mengelola kondisi
emosinya, bahkan tidak ada yang menunjukkan keterlibatan yang rendah atau
tidak terlibat sama sekali dengan musik. Hasil ini menggambarkan saat ini musik
sangat populer digunakan untuk meregulasi emosi, dan hal ini juga menguatkan
hasil penelitian lain yang menyatakan bahwa musik saat ini menjadi strategi yang
sangat banyak dilakukan oleh kebanyakan orang untuk mengelola kondisi emosi,
mood atau perasaan individu (Claes, 2009; Sloboda, 2010; Schafer, 2015)
Rickard dan Chin (2012) menyatakan bahwa individu yang memiliki music
engagement untuk meregulasi emosi yang tinggi lebih memungkinkan dapat
mengarahkan emosinya kepada kondisi emosi yang diinginkan dan juga dapat
mencapai kemampuan kognitif yang lebih baik dengan melakukan aktifitas
mendengarkan musik. Dengan kata lain, semakin tinggi engagement individu
untuk mencapai fungsi kognitif dan fungsi afektif dari musik, maka semakin
tinggi pula kemungkinan individu dapat meregulasi emosi dan mencapai
kemampuan kognitifnya dengan lebih baik. Sehingga dengan demikian responden
penelitian ini juga berpotensi dapat mengelola kondisi emosinya dan bahkan
Secara rata-rata, fungsi afektif dan fungsi kognitif penggunaan musik oleh
responden penelitian ini lebih tinggi dari perkiraan alat ukur. Hal ini
mengindikasikan bahwa responden penelitian melibatkan musik dalam meregulasi
emosinya karena meyakini bahwa musik dapat mempengaruhi emosinya dan juga
kemampuan kognitifnya. Hasil ini sejalan dengan North, dkk. (2000) yang
menyatakan bahwa mendengarkan musik merupakan cara yang efektif untuk
meregulasi emosi, meningkatkan afek positif, dan juga menurunkan afek negative;
untuk arousal and mood regulation (Schafer dkk, 2013); dan untuk menurunkan
emosi negatif, sering juga digunakan untuk relaksasi, serta sebagai pengiring
aktifitas sehari-hari manusia dalam melaksanakan pekerjaannya
(Chamoro-Premuzic and Furnham, 2007).
Keyakinan bahwa musik musik dapat berfungsi terhadap kemampuan
kognitif dan emosinya dapat meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan
kemampuan berpikir dan mempelajari pengetahuan (Chamorro-Premuzic dan
Furnham, 2007), mengelola emosi baik untuk meningkatkan pengalaman
emosional (Gabrielson, 2010), meningkatkan afek positif maupun menurunkan
afek negatif (North, dkk., 2000). Hasil di atas juga menunjukkan bahwa proses
meregulasi emosi melibatkan kombinasi fungsi kognitif dan afektif dalam menilai
dan merespon situasi atau peristiwa yang sedang dihadapi individu yang
mempengaruhi kondisi emosinya.
51 menunjukkan keterlibatan dengan musik didorong oleh faktor dari dalam diri (X=
11,99) dan juga dari luar diri (X= 16,34) yang lebih tinggi dari perkiraan alat
ukur. Keterlibatan dengan musik yang didorong oleh faktor dari dalam diri
individu terbentuk karena adanya komitmen personal yang mendalam dengan
musik (Sloboda, 2005). Sedangkan keterlibatan dengan musik yang didorong oleh
faktor dari luar muncul karena adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau
mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, individu yang termotivasi
menggunakan musik untuk meregulasi emosinya karena adanya kebutuhan yang
muncul dari diri individu untuk menggunakan musik untuk mengelola kondisi
emosinya dan juga karena didorong oleh keyakinan bahwa musiklah yang dapat
membantu individu untuk mengelola kondisi emosinya.
Berdasarkan jenis kelamin, hasil menunjukkan keterlibatan responden
dengan aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosi baik laki-laki
maupun perempuan sama-sama tinggi, namun dalam hal ini laki-laki lebih lebih
terlibat dibandingkan responden perempuan. Jika ditinjau lebih lanjut, hasil ini
dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal
strategi regulasi emosi. Penelitian Bhawana (2015) mendapati bahwa perempuan
menggunakan strategi meregulasi emosi yang lebih banyak dibandingkan
laki-laki. Helene (2013) dalam penelitiannya mendapati bahwa perempuan mencoba
mempengaruhi emosinya dengan melakukan aktifitas fisik, mencari dukungan
sosial bahkan menggunakan makanan dalam meregulasi emosinya. Sehingga hal
berpotensi melakukan proses strategi regulasi emosi selain aktifitas mendengarkan
musik.
Berdasarkan usia, responden penelitian merupakan individu yang berusia
dalam masa perkembangan dewasa awal dalam rentang usia 18-40 tahun. Secara
rata-rata, responden penelitian yang berusia 18-27 tahun dan 28-33 tahun
menunjukkan keterlibatan yang sangat tinggi dengan aktifitas mendengarkan
musik untuk meregulasi emosinya. Responden yang berusia 34-40 tahun sedikit
lebih rendah namun tetap menunjukkan terlibatan yang tinggi dengan musik untuk
meregulasi emosinya. Hasil ini menunjukkan bahwa secara rata-rata responden
penelitian ini yang berada dalam masa perkembangan dewasa awal sangat terlibat
dalam aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya.
Individu dalam masa perkembangan dewasa awal lebih aktif dalam
menemukan strategi untuk mengelola emosi pada situasi yang sedang
dihadapinya, termasuk dengan menggunakan musik. Bhawana (2015) dalam
penelitiannya mendapati bahwa orang dewasa mengarahkan perhatian dari situasi
mempengaruhi emosinya kepada hal-hal lain dengan menggunakan strategi
regulasi emosi Reappraisal, yakni melakukan penilaian ulang terhadap suatu
situasi yang mempengaruhi emosinya. Ia mendapati bahwa dewasa awal lebih
mampu melakukan Reappraisal terhadap situasi yang sedang dihadapinya.
Sedangkan individu yang berada dalam rentang usia 34-40 tahun yang akan
53 sedikit lebih rendah dibandingkan rentang usia yang sebelumnya. Vitulic dan
Prosen (2015) dalam penelitiannya mendapati bahwa individu dalam masa
perkembangan dewasa yang lebih tua cenderung meregulasi emosinya dengan
cara menyembunyikan emosi yang dirasakan (suppression), namun strategi ini
pada dewasa yang lebih matang tidak berkorelasi dengan kondisi distress.
Sehingga dapat diketahui bahwa hasil di atas dapat dipengaruhi oleh masa
perkembangan dewasa madya merupakan individu yang lebih matang dan sudah
mulai memikirkan kehidupan generasi selanjutnya dan kehidupannya di masa
datang sehingga hal ini mempengaruhi strategi regulasi emosi yang digunakan.
Berdasarkan tingkat keaktifan mendengarkan music (frekuensi dan durasi
mendengarkan musik), secara rata-rata individu yang mendengarkan musik lebih
dari 14 kali dalam seminggu menunjukkan keterlibatan yang sangat tinggi
dibandingkan responden yang mendengarkan musik kurang dari 14 kali seminggu.
Sedangkan berdasarkan durasi, secara rata-rata responden penelitian yang
mendengarkan musik dari 2 jam hingga lebih dari 6 jam secara rata-rata sangat
terlibat dalam menggunakan musik untuk meregulasi emosinya. Responden
penelitian yang mendengarkan music rata-rata kurang dari 2 jam dalam sehari
tetap menunjukkan rata-rata keterlibatan yang tinggi dalam menggunakan music
untuk meregulasi emosinya.
Hasil diatas sejalan dengan temuan Rickard (2007), dimana MES-I: CER
memiliki korelasi yang sangat kuat dengan frekuensi dan durasi mendengarkan
musik. Dengan kata lain, semakin sering dan semakin lama seseorang
menggunakan musik untuk meregulasi emosinya. Sebaliknya, semakin tinggi
keterlibatan seseorang menggunakan musik untuk meregulasi emosinya, maka
semakin tinggi pula frekuensi dan durasi seseorang mendengarkan musik.
Rickard and Chin (2007) juga menemukan korelasi positif music
engagement untuk meregulasi emosi dengan ERQ-Reappraisal. Reappraisal
merupakan salah satu bentuk dari proses cognitive change dalam regulasi emosi,
yang melibatkan kemampuan kognitif untuk mengubah penilaian seseorang
terhadap suatu situasi (Gross, 2002). Hubungan tersebut menggambarkan bahwa
semakin aktif seseorang menggunakan musik untuk meregulasi emosinya, maka
semakin meningkat pula kemampuannya mengubah penilaian terhadap situasi
yang sedang dihadapi sehingga dapat membantu mengelola emosinya.
Berdasarkan status bermusik, keterlibatan musisi (X= 29,02) lebih tinggi
dari pada non-musisi (X= 27,89). Akan tetapi, baik musisi maupun non-musisi
yang mengikuti penelitian ini secara rata-rata lebih terlibat dalam aktifitas
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Hasil ini menggambarkan
bahwa latar belakang individu sebagai musisi atau non-musisi tidak terlalu
mempengaruhi keterlibatan individu dalam aktifitas mendengarkan musik untuk
meregulasi emosinya. Hal yang sama juga dapat dilihat berdasarkan pengalaman
individu dalam aktifitas bermusik.
Berdasarkan pengalaman mengikuti pendidikan/pelatihan/kursus musik,
55 responden penelitian yang tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut, namun
responden yang tidak memiliki pengalaman pendidikan musik juga tetap terlibat
dengan aktifitas mendengarkan musik dengan kategori keterlibatan yang tinggi.
Secara rata-rata, responden penelitian yang menyatakan diri mampu
memainkan alat musik memiliki keterlibatan yang sangat tinggi. dalam aktifitas
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Demikian pula jika melihat
rutinitas memainkan alat musik, didapatkan bahwa secara rata-rata responden
yang rutin memainkan alat musik dalam penelitian ini memiliki keterlibatan yang
sangat tinggi dengan aktifitas mendengarkan musik untuk meregulasi emosi.
Responden penelitian yang menyatakan diri tidak rutin memainkan alat musik
masuk ke dalama kategori tinggi, artinya responden ini juga tetap terlibat dengan
aktifitas bermusik untuk meregulasi emosi.
Dana Strait dan Nina Kraus (2014) dalam penelitiannya mendapati bahwa
terdapat bukti biologis dari oberservasi perilaku yang mengindikasikan
pengalaman latihan musik dapat meningkat kemampuan mempersepsikan emosi
yang disampaikan dari musik khususnya melalui vocal, dan juga meningkatkan
peran subcortical dalam mengenali emosi yang disampaikan dalam aktifitas
mendengarkan lagu. Chamoro-Premuzic and Furnham (2007) juga menyatakan
bahwa individu yang memiliki pengalaman aktifitas bermusik production (seperti
menulis musik yang dilakukan oleh musisi, memainkan musik, berlatih musik,
menampilkan permainan musik) memiliki kemungkinan lebih terlibat dengan
musik untuk fungsi analytical, yang lebih fokus pada struktur musik. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya pengalaman aktifitas menganalisis struktur musik selain
untuk meregulasi emosi.
Dengan demikian hasil-hasil di atas menunjukkan bahwa beberapa
pengalaman individu dalam aktifitas bermusik berpotensi memiliki pengaruh
terhadap individu dalam meregulasi emosinya dengan menggunakan musik.
Namun hal ini perlu diteliti lebih lanjut untuk melihat seberapa signifikan
variabel-variebel tersebut dapat berpengaruh terhadap keterlibatan individu dalam
menggunakan music untuk meregulasi emosinya.
Keterlibatan responden dalam aktifitas mendengarkan musik untuk
meregulasi emosi juga dilihat berdasarkan pandangan responden terhadap dirinya
sendiri apakah ia merasa seorang musisi atau bukan musisi. Hasil menunjukkan
bahwa terdapat responden penelitian yang berstatus Non-musisi mempersepsikan
dirinya sebagai musisi (N= 7), dan ditemukan bahwa responden ini sangat terlibat
secara aktif menggunakan musik untuk meregulasi emosinya (X= 31,71),
dibandingkan Non Musisi yang tetap menganggap dirinya bukan seorang musisi
(X= 27,07). Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden non-musisi dalam
penelitian ini yang menganggap dirinya adalah seorang musisi lebih
memungkinkan dapat mencapai tujuan regulasi emosinya dengan lebih baik. Hal
ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mendalami variabel yang dapat mempengaruhi
57 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan music engagement untuk meregulasi
emosi pada responden penelitian ini tergolong tinggi. Hal ini
menggambarkan bahwa responden penelitian menggunakan musik untuk
mengelola kondisi emosinya. Keterlibatan yang tinggi dalam penggunaan
musik untuk meregulasi emosi disertai dengan adanya keyakinan individu
terhadap fungsi musik yang dapat berpengaruh pada kondisi emosi dan
kognitifnya. Dengan kata lain kombinasi fungsi afektif dan fungsi kognitif
dari penggunaan musik sama-sama terlibat dalam proses meregulasi emosi
seseorang. Baik motivasi dari dalam dan luar diri individu sama-sama
berperan dalam mendorong responden penelitian untuk menggunakan
musik dalam proses meregulasi emosinya.
Jika ditinjau dari data demografi dan pengalaman responden
penelitian, baik berdasarkan status bermusik, pengalaman mengikuti
pendidikan musik, kemampuan dan rutinitas dalam memainkan musik,
responden penelitian juga menunjukkan keterlibatan yang tergolong tinggi.
Akan tetapi terdapat perbedaan dalam beberapa faktor seperti jenis kelamin,
responden laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini menunjukkan
dibandingkan responden perempuan. Demikian pula berdasarkan status
bermusik, pengalaman mengikuti pendidikan musik, kemampuan
memainkan musik dan rutinitas memainkan musik, responden penelitian
sama-sama menunjukkan keterlibatan yang tergolong tinggi dalam aktifitas
mendengarkan musik untuk meregulasi emosinya. Akan tetapi responden
yang berstatus sebagai musisi, yang pernah mengikuti pendidikan musik,
dan yang menyatakan diri mampu dan rutin memainkan musik
menunjukkan rata-rata keterlibatan yang lebih tinggi dibandingkan
responden yang bukan seorang musisi, yang tidak pernah mengikuti
pendidikan musik, dan yang menyatakan diri tidak bisa dan tidak rutin
memainkan musik. Selain itu terdapat pula non-musisi yang menyatakan
dirinya sebagai seorang musisi dan menunjukkan tingkat keterlibatan yang
sangat tinggi dalam aktifitas mendengarkan music untuk meregulasi
emosinya.
B. Saran
1. Saran Metodologis
a. Penelitian ini menggunakan populasi yang sangat luas sehingga
penelitian selanjutnya disarankan memperbanyak jumlah
responden penelitian untuk meningkatkan kesahihan penelitian
dalam menggeneralisasi hasil penelitian pada populasi.
59 melihat hubungan atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi
music engagement untuk meregulasi emosi.
2. Saran Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau data
tambahan untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya
mengenai psikologi musik dalam kaitannya dengan emosi dan
kognitif.
b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua orang dapat
menggunakan musik untuk meregulasi emosi terlepas dari latar
belakang dan statusnya dalam aktifitas bermusik. Hasil ini dapat
menjadi pendukung praktisi psikologi musik, baik pendidikan
maupun penggunaan klinis seperti terapi musik, bahwa musik
dapat digunakan sebagai media terapi tanpa harus
mempertimbangkan latar belakang individu dalam aktifitas
bermusik.
c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden penelitian yang
mempersepsikan diri sebagai seorang yang mampu memproduksi
musik dapat membantu meningkatkan keterlibatan dirinya dengan
musik. Hal ini dapat dilakukan oleh penikmat musik yang bukan
berlatar belakang sebagai seorang musisi untuk dapat
meningkatkan keterlibatannya dengan musik sehingga lebih
terbantu mencapai manfaat penggunaan musik yang lebih baik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Music Engagement untuk Meregulasi Emosi
1. Defenisi
Music engagement untuk meregulasi emosi adalah keterlibatan individu
dengan musik yang bertujuan untuk mengelola dan mengarahkan kondisi emosi
(Rickard dan Chin, 2012; Gross, 2000). Music engagement untuk meregulasi emosi
merupakan hubungan antara individu dengan suatu aktifitas bermusik yang
merefleksikan keterlibatan seseorang dengan musik untuk dapat mengelola dan
mengatur kondisi emosinya (Russell, Ainley & Frydenberg, 2005; Reeve, 2004).
Regulasi emosi adalah kemampuan mengendalikan kondisi emosi (Gross, 2007);
mengenal, mengevaluasi dan membatasi respon emosi (Thompson, 2000);
menyatakan regulasi emosi adalah suatu kemampuan menerima, mempertahankan
dan mengendalikan instensitas dan lamanya emosi yang dirasakan (Gottman dalam
Wilson, 1999).
Rickard dan Chin (2012) mengemukakan bahwa music engagement
ditunjukkan dengan adanya aktifitas yang dilakukan dengan menggunakan musik dan
9
Sedangkan sikap terhadap musik merupakan penilaian individu terhadap fungsi yang
dirasakan dari penggunaan musik dan pertimbangan penggunaan musik untuk
meregulasi emosi, dan motivasi mendengarkan musik dari luar diri maupun dalam
diri individu.
2. Aspek-aspek music engagement untuk meregulasi emosi
Adapun aspek music engagement untuk meregulasi dalam Rickard dan Chin
(2012) antara lain sebagai berikut :
a. Aktifitas bermusik
Terdapat dua aktifitas bermusik yang didasarkan pada proses bermusik, yaitu
:
1) Proses productive, merupakan aktifitas menghasilkan, memainkan dan
menampilkan permainan musik. Kemampuan memproduksi musik
dipengaruhi oleh hasil latihan memainkan musik secara teratur, baik melalui
pendidikan formal maupun nonformal dalam jangka waktu yang lama.
2) Proses receptive, merupakan proses menerima informasi dari musik yang
dilakukan dengan mendengarkan musik, menikmati musik, dan membuat arti
dari suatu lagu. Receptive membutuhkan kemampuan menginterpretasi
informasi suara (audio) yang berpengaruh pada pemaknaan dan keyakinan
seseorang terhadap musik yang didengarkan (Elliot, 1995).
Kedua aktifitas bermusik baik memproduksi maupun mendengarkan musik
lebih memungkinkan seseorang menerima informasi dari musik bukan hanya
sekedar merasakan emosi dari musik yang didengar, namun juga untuk
mendapatkan pesan melalui emosi yang dirasakan dari musik tersebut. North,
dkk (2000) dalam penelitiannya mendapati bahwa aktifitas mendengarkan musik
merupakan cara yang lebih efektif untuk meregulasi emosi. Rickard dan Chin
(2012) juga menyatakan bahwa aktifitas mendengarkan musik efektif
meningkatkan afek positif dan menurunkan afek negatif. Sehingga dalam
penelitian ini proses yang dilakukan untuk meregulasi emosi adalah aktifitas
mendengarkan musik (receptive).
b. Fungsi penggunaan musik
Secara umum, terdapat beberapa fungsi penggunaan musik dalam kehidupan
sehari-hari manusia, yaitu :
1) Fungsi kognitif, menurut Chamorro-Premuzic dan Furnham (2007) musik
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan intelektual, sebagai media mempelajari
suatu pengetahuan, dan juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir.
Pemenuhan kebutuhan intelektual yang dimaksud adalah seperti menganalisis
komposisi musik yang kompleks dan menganalisa struktur musik. Musik juga
dapat membantu manusia dalam proses berpikir (Schafer, 2013). Selain itu
11
2) Fungsi afektif, merupakan fungsi penggunaan musik untuk mengelola afek,
baik untuk meningkatkan afek positif maupun menurunkan afek negatif
(North, dkk., 2000); meningkatkan pengalaman emosional dan spiritual
(Gabrielson, 2010); mengontrol kondisi mood, dan juga meningkat self
awareness yang dapat membantu mengelola perasaan (Schafer, 2013).
Sloboda (2001) mengungkapkan bahwa musik berkaitan erat dengan
perubahan suasana hati dan dapat menghasilkan ketenangan. Selain itu musik
juga digunakan untuk tujuan relaksasi (Chamorro dan Furnham, 2007).
3) Fungsi sosial, digunakan sebagai media komunikasi sosial (Chin dan Rickard,
2012); dan sebagai indentitas diri dalam kelompok maupun antar kelompok
(North, dkk., 2000). Selain itu musik juga berfungsi untuk menghilangkan
rasa kesepian dalam diri seseorang; menciptakan suatu interaksi sosial pada
individu-individu, bahkan dapat membentuk suatu ikatan dalam kelompok
sosial ketika individu-individu yang berkumpul memiliki selera musik yang
sama (North dan Hargreaves, 2007).
4) Fungsi Fisik, berfungsi untuk sistem motorik manusia (Freeman dalam Chin,
2012). Musik digunakan untuk mengekspresikan diri melalui gerakan tubuh
seperti tarian dan senam. Musik juga berfungsi untuk meningkatkan daya
tahan tubuh, menghilangkan rasa bosan atau lelah pada saat melakukan latihan
digunakan sebagai alat terapi, seperti treatment untuk gangguan motorik
seperti neurodegenerative disorders dan stroke (Pacchetti, 2000).
Fungsi penggunaan musik yang terlibat dalam proses meregulasi emosi
adalah kombinasi fungsi afektif dan fungsi kognitif. Proses meregulasi emosi
melibatkan kemampuan kognitif dalam menilai dan merespon situasi atau
peristiwa yang sedang dihadapi individu yang mempengaruhi kondisi emosinya
(Gross, 1998). Menurutnya terdapat dua strategi regulasi emosi, yaitu (1)
reappraisal, yang merupakan strategi regulasi emosi yang dilakukan dengan
mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih positif dalam menafsirkan atau
menginterpretasi suatu peristiwa yang menimbulkan emosi. (2) suppression,
yang merupakan cara mengelola respon emosi dengan menghambat ekspresi
emosi berlebihan yang meliputi ekspresi wajah, nada suara dan perilaku.
Strategi ini efektif untuk menghambat respon emosi yang berlebihan, namun
tidak dapat membantu mengurangi emosi yang dirasakan.
Penelitian Rickard dan Chin (2012) mendapati bahwa music
engagement untuk meregulasi emosi berkorelasi kuat dengan strategi regulasi
emosi Reapprasial. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk dapat mengarahkan
atau mengontrol kondisi emosinya, individu melakukan strategi meningkatkan