• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji daya Hambat Ekstrak Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Uji daya Hambat Ekstrak Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.)"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK

PAKU POHON (

Cyathea contaminans

(

Hook

.)

Copel

. )

TERHADAP JAMUR

Microsporum gypseum

SECARA

In Vitro

SKRIPSI

Oleh:

Citra Dewi Turnip 091201143 Teknologi Hasil Hutan

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

ABSTRAK

CITRA DEWI TURNIP. Uji Daya Hambat Ekstrak Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) Terhadap Jamur Microsporum gypseum secara In Vitro. Dibimbing oleh: RIDWANTI S.HUT.,MP. dan Dra.HERAWATY GINTING M.Si.,Apt.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daya hambat ekstrak paku pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) terhadap Microsporum gypseum, yaitu jamur penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode pencadang kertas. Ekstrak umbi paku pohon diencerkan pada taraf konsentrasi 500 mg/ml; 400 mg/ml; 300mg/ml; 200mg/ml; 100mg/ml, hingga 10 mg/ml untuk diuji daya hambatnya terhadap M. gypseum. Masing-masing cawan petri dimasukkan 0,1 ml inokulum, ditambahkan 15 ml media Potato Dextrose Agar steril yang telah dicairkan dan ditunggu hingga suhu mencapai 450C, selanjutnya masing-masing pencadang kertas yang telah direndam pada ekstrak berbagai konsentrasi selama 15 menit, ditaruh diatas media, diinkubasi pada suhu 20-250 C selama 48 jam. Diameter daerah hambat disekitar pencadang kertas diukur menggunakan jangka sorong. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali. Dilakukan blanko dengan menggunakan DMSO4.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh nyata ekstrak paku pohon terhadap daya hambat jamur M. gypseum yang dimulai pada konsentrasi 400 mg/ml dan daya hambat paling kecil pada konsentrasi ekstrak 300 mg/ml. Konsentrasi terkecil merupakan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Kata kunci: Cyathea contaminans (Hook.) Copel., ekstrak paku pohon,

(3)

ABSTRACT

CITRA DEWI TURNIP. Inhibition Test of Extract Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) To Fungi Microsporum gypseum In Vitro. Supervised by: RIDWANTI S.Hut., MP. and Dra.HERAWATY GINTING M.Sc., Apt.

This study aims to determine the effect of inhibition extract paku pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) to fungi Microsporum gypseum, the fungus causes skin disease, horn or keratin-eating substances, as well as damage the nails and hair. The method of the study was in vitro test by paper disc method. The extracts were diluted into concentrations of 500 mg / ml, 400 mg / ml; 300mg/ml; 200mg/ml; 100mg/ml, until 10 mg / ml for M. gypseum tests respectively. Each petri dish added 0.1 ml of inoculum was added 15 ml of Potato Dextrose Agar media that has been thawed sterile and wait until the temperature reaches 450C, respectively disc subsequent paper that has been soaked in various concentrations of extract for 15 minutes, put on the media , incubated at a temperature of 20-250 ° C for 48 hours. Inhibitory regions surrounding diameter of disc was measured using calipers paper. Tests carried out 3 times. Performed using DMSO4 blank.

The results showed a significant effect on paku pohon extract the inhibition of fungal M. gypseum which starts at a concentration of 400 mg / ml and the smallest inhibition at concentrations of 300 mg extract / ml. The smallest concentration is the value of Minimum Inhibitory Concentration (MIC).

Keywords: Cyathea contaminans (Hook.) Copel., extract Paku pohon, M. gypseum.

(4)

RIWAYAT HIDUP

Citra Dewi Turnip dilahirkan di Pematang Siantar, pada tanggal 2 Pebruari 1991 dari bapak Sumardi Turnip dan ibu Kartini Napitupulu. Penulis merupakan anak pertama dari enam bersaudara.

Tahun 2003 penulis lulus dari SD San Francesco Balige, tahun 2006 lulus dari SMP Budhi Dharma Balige, tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Balige dan pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian ini. Hasil penelitian ini berjudul “Uji daya Hambat Ekstrak Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) ”.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Ridwanti Batubara S.Hut., MP dan Dra. Herawaty Ginting selaku

ketua dan anggota komisi pembimbing penulis yang telah memberi bantuan, arahan, bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.

2. Ibu Dra. Erly Sitompul M.Si., Apt. atas bantuannya selama di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara.

3. Kedua orang tua tersayang Sumardi Turnip dan Kartini Napitupulu serta adik penulis (Indah Turnip, Nadine Turnip, Bintang Turnip, Yakob Turnip, Daniel Turnip) dan abang penulis (Julkifli Gultom) yang selalu memberi doa, dukungan materi, dan semangat serta motivasi.

4. Teman-teman 1 Tim yaitu, Samuel Silaban, Wilna Hasibuan, dan Ayu Surbakti.

5. Teman-teman tersayang Lia Tarigan, Ulinar Pasaribu, Yossica Panjaitan,

(6)

6. Semua staf pengajar dan keluarga besar program studi kehutanan khususnya Teknologi Hasil Hutan 2009 yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian hingga akhir skripsi ini.

7. Staf Laboratorium Fitokimia dan asisten Laboratorium Mikrobiologi (Nulika Silalahi, dan Hetty Hulu).

Penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

(7)

DAFTAR ISI

Pembuatan Ekstrak Etanol Umbi Paku Pohon (C. contaminans) secara Maserasi ... 15

Pembuatan Media ... 15

Pembuatan Agar Miring ... 16

Pembuatan Stok Kultur ... 17

Penyiapan Inokulum Jamur / Mikroba Uji ... 17

Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Etanol Paku Pohon (C. contaminans) dengan Berbagai Konsentrasi ... 17

Metode Pengujian Efek Antijamur secara In Vitro ... 17

Analisis Data ... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Tanaman ... 19

(8)

Uji Daya Hambat Ekstrak Paku Pohon

terhadap M. gypseum secara In Vitro ... 21

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 24

Saran ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 25

(9)

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Hasil Rata-rata Pengukuran Diameter Daerah Hambatan

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Gambar Ekstrak Etanol Paku Pohon ... 20 2. Diagram Batang Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Gambar Tanaman Paku Pohon (C. contaminans) ... 29 2. Bagan Penelitian... 30 3. Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat Ekstrak Paku Pohon

terhadap Jamur M. gypseum ... 31 4. Sidik Ragam Pengukuran Diameter Hambat Ekstrak Paku Pohon

terhadap Jamur M. gypseum ... 31 5. Uji Duncan Pengukuran Diameter Hambat Ekstrak Paku Pohon

terhadap Jamur M. gypseum ... 31 6. Gambar Daya Hambat Ekstrak Etanol Umbi Paku Pohon

(12)

ABSTRAK

CITRA DEWI TURNIP. Uji Daya Hambat Ekstrak Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) Terhadap Jamur Microsporum gypseum secara In Vitro. Dibimbing oleh: RIDWANTI S.HUT.,MP. dan Dra.HERAWATY GINTING M.Si.,Apt.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daya hambat ekstrak paku pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) terhadap Microsporum gypseum, yaitu jamur penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode pencadang kertas. Ekstrak umbi paku pohon diencerkan pada taraf konsentrasi 500 mg/ml; 400 mg/ml; 300mg/ml; 200mg/ml; 100mg/ml, hingga 10 mg/ml untuk diuji daya hambatnya terhadap M. gypseum. Masing-masing cawan petri dimasukkan 0,1 ml inokulum, ditambahkan 15 ml media Potato Dextrose Agar steril yang telah dicairkan dan ditunggu hingga suhu mencapai 450C, selanjutnya masing-masing pencadang kertas yang telah direndam pada ekstrak berbagai konsentrasi selama 15 menit, ditaruh diatas media, diinkubasi pada suhu 20-250 C selama 48 jam. Diameter daerah hambat disekitar pencadang kertas diukur menggunakan jangka sorong. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali. Dilakukan blanko dengan menggunakan DMSO4.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh nyata ekstrak paku pohon terhadap daya hambat jamur M. gypseum yang dimulai pada konsentrasi 400 mg/ml dan daya hambat paling kecil pada konsentrasi ekstrak 300 mg/ml. Konsentrasi terkecil merupakan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Kata kunci: Cyathea contaminans (Hook.) Copel., ekstrak paku pohon,

(13)

ABSTRACT

CITRA DEWI TURNIP. Inhibition Test of Extract Paku Pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) To Fungi Microsporum gypseum In Vitro. Supervised by: RIDWANTI S.Hut., MP. and Dra.HERAWATY GINTING M.Sc., Apt.

This study aims to determine the effect of inhibition extract paku pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) to fungi Microsporum gypseum, the fungus causes skin disease, horn or keratin-eating substances, as well as damage the nails and hair. The method of the study was in vitro test by paper disc method. The extracts were diluted into concentrations of 500 mg / ml, 400 mg / ml; 300mg/ml; 200mg/ml; 100mg/ml, until 10 mg / ml for M. gypseum tests respectively. Each petri dish added 0.1 ml of inoculum was added 15 ml of Potato Dextrose Agar media that has been thawed sterile and wait until the temperature reaches 450C, respectively disc subsequent paper that has been soaked in various concentrations of extract for 15 minutes, put on the media , incubated at a temperature of 20-250 ° C for 48 hours. Inhibitory regions surrounding diameter of disc was measured using calipers paper. Tests carried out 3 times. Performed using DMSO4 blank.

The results showed a significant effect on paku pohon extract the inhibition of fungal M. gypseum which starts at a concentration of 400 mg / ml and the smallest inhibition at concentrations of 300 mg extract / ml. The smallest concentration is the value of Minimum Inhibitory Concentration (MIC).

Keywords: Cyathea contaminans (Hook.) Copel., extract Paku pohon, M. gypseum.

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis yang memiliki kelembaban tinggi dan merupakan tempat yang cocok bagi mikroorganisme kecil seperti jamur untuk berkembangbiak yang memungkinkan akan merugikan sebagian manusia. Jamur Microsporum gypseum dapat berkembang pada bagian kulit manusia yang menyebabkan penyakit kulit yang tidak membahayakan namun cukup mengganggu. Perlu diketahui bahwa jamur M. gypseum merupakan jamur penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut. Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan- lapisan kulit mulai dari stratum korneurm sampai dengan stratum basalis. Jamur M. gypseum merupakan salah satu jenis dermatofita geofilik yang hidup di tanah dan dapat menimbulkan radang yang moderat pada manusia (Jawetz et al., 1996).

(15)

Amerika Serikat jumlah pengguna tumbuhan dan produk tumbuhan obat juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat (Suganda, 2002). Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar nomor 2 di dunia setelah Negara Brazil, Indonesia sangat kaya akan sumber-sumber bahan yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai obat tradisional. Hal ini merupakan peluang yang harus dapat dimanfaatkan karena hampir 119 senyawa obat modern merupakan hasil pengembangan dari senyawa yang terdapat dalam tanaman obat (Djauhariya dan Hernani, 2004).

Salah satu tumbuhan dan merupakan hasil produk hutan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional adalah tanaman paku pohon (C. contaminans) dari suku Cyatheaceae yang telah lama dikenal dan digunakan masyarakat. Pengetahuan dari masyarakat, paku pohon dapat dijadikan sebagai obat gatal-gatal ataupun penyakit yang menyerang pada bagian kulit manusia, yaitu dengan memanfaatkan bagian umbi dari batang yang berwarna putih dengan menggiling halus dan mengoleskan pada bagian kulit yang terserang penyakit. Pengetahuan masyarakat tentang manfaat dari umbi paku pohon tersebut tidak berkembang dan hanya digunakan sebagai obat tradisional saja yang mungkin hanya diketahui beberapa orang sekitar wilayah tumbuh paku pohon tersebut. Peneliti sebelumnya telah melakukan riset dan mengetahui bahwa paku pohon memiliki kandungan senyawa kimia alkaloida, triterpenoid, dan flavonoid (Nababan, 2009).

(16)

dijadikan sebagai dasar untuk meneliti lebih dalam daya guna dari paku pohon tersebut.

Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antijamur dari ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum.

Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fitofarmaka dan memberikan informasi tentang daya hambat dari ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum.

Hipotesis

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Paku Pohon

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi dan merupakan tumbuhan yang banyak jenisnya di hutan tropis Indonesia. Tumbuhan paku dapat ditemui di daerah yang lembab, di bawah pohon, di pinggir sungai, di lereng-lereng terjal, di pegunungan, bahkan ada yang menempel di batang pohon. Tumbuhan paku yang tumbuh di muka bumi ada sekitar 10.000 jenis tumbukan paku. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Tubuhnya dapat dibedakan dengan jelas antara akar, batang dan daun. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembab (Indah, 2009).

(18)

Tanaman paku pohon ini biasanya berhabitus terna dan jenis ini merupakan tumbuhan paling banyak yang ditemukan. Jenis ini tumbuh tersebar di seluruh kawasan yang diamati mulai 1060 – 1240 meter di atas permukaan laut, dan biasanya terdapat di hutan yang telah dibuka dan ditempat-tempat terbuka, khususnya di dekat sungai. Jenis ini ditemukan pada ketinggian 200-1600 mdpl. Daerah penyebarannya diseluruh kawasan Malaysia dan di Semenanjung India (Tjitrosoepomo, 1991).

a. Sinonim

Nama lain dari paku pohon ( Cyathea contaminans (Hook.) Copel ) adalah Polypodium contaminans Wall. Cat., Alsophila glauca J. Sm., A. contaminans Wall. Ex Hook., A. acuta Presl., A. smithiana Presl dan A. clementis Copel (Depkes, 1995).

b. Nama daerah

Nama daerah tumbuhan ini di Sumatera Utara adalah tanggiang, di daerah Jawa biasa disebut pakis arjun, pakis galar, pakis oleng, sedangkan orang Sunda menyebutnya paku pohon, paku papan, paku tihang bodas atau paku tihang. Di Malaya disebut paku gajah (Depkes, 1995).

c. Sistematika Tumbuhan

Menurut Tjitprosoepomo (1991) tanaman paku pohon dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

(19)

Famili : Polypodiales Genus : Cyathea

Spesies : Cyathea contaminans ( Hook.) Copel. d. Kandungan Kimia

Adapun kadar minyak atsiri pada daun paku pohon adalah 0,01%, sedangkan pada bagian batang tidak diperoleh minyak atsiri. Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia dari paku pohon diperoleh adanya senyawa golongan alkaloida, triterpenoid, dan flavonoid (Nababan, 2009).

Ekstrak

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut tertentu (Depkes, 2000). Menurut Harborne (1987), ragam ekstraksi tergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang diisolasi. Alkohol adalah pelarut serbaguna yang baik untuk ekstraksi pendahuluan. Ada beberapa metode yang digunakan untuk melakukan ekstraksi,yaitu:

a. Maserasi

(20)

b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus menerus sampai diperoleh ekstrak (Ditjen POM, 2000).

c. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM, 2000).

d. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM, 2000).

e. Digesti

(21)

Jamur Microsporum gypseum

Jamur termasuk tumbuh-tumbuhan filum thallophyta yang tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Jamur tidak bisa mengisap makanan dari tanah dan tidak mempunyai klorofil sehingga tidak bisa mencerna makanan sendiri oleh karenanya hidup sebagai parasit atau saprofit pada organisme yang lain. Jamur tergolong Eumycota (Eumycetes) dan dibedakan menjadi empat kelas yaitu Phycomycetes yang dibedakan menjadi Zygomycetes dan Oomycetes; Ascomycetes; Basidiomycetes dan Deuteromycetes (Fardiaz, 1992).

Penyakit yang disebabkan oleh jamur disebut mikosis. Jamur dikatakan bersifat heterotrop karena memerlukan energy untuk tetap bertahan hidup yang diperoleh dari jasad organisme lain. Berbeda dengan tumbuhan yang memiliki sifat autotrop yang dapat memperoleh energi sendiri dengan mengolah karbondioksida, air , dengan adanya bantuan dari energy matahari (Gandahusada SS dkk, 2004).

Adapun M. gypseum merupakan cendawan keratophilik geofilik. Kelembaban, pH, dan kontaminasi faeces menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Mikroorganisme ini memiliki dinding sel yang mengandung kitin bersifat heterotrof, menyerap nutrient melalui dinding sel dan mengekskresikan enzim-enzim ekstraseluker ke lingkungannya (Indrawati, 2006).

Klasifikasi Microsporum gypseum menurut Wicaksana (2008) adalah sebagai berikut:

(22)

Ordo : Onygenales

Famili : Arthrodermataceae Genus : Microsporum

Spesies : Microsporum gypseum

Jamur M. gypseum dapat ditularkan secara langsung baik melalui epitel kulit, rambut yang mengandung jamur, ataupun dari tanah. Penyakit yang disebabkan oleh jamur ini dapat diobati dengan beberapa bahan obat seperti:

• Flukonazol

Flukonazol merupakan bahan yang diisolasi dari Pennicillium janczewski dan mempunyai antidermatofita. Flukonazol secara klinis berguna untuk pengobatan infeksi dermatofit pada kulit, rambut, dan, kuku. Biasanya diperlukan terapi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan (Brooks et al, 2005).

• Terbinafine

Terbinafine adalah zat allylamin yang telah dibuktikan efektif dan aman untuk terapi infeksi dermatofit. Meskipun ia tidak aktif untuk menanggulangi candidiasis seperti preparat azol, namun ia efektif untuk menanggulangi dermatofitosis.

• Ketokonazol

(23)

demikian, pemakaian preparat ini dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan feminisasi, terkadang hepatotoksisitas sirosis.(Ganiswana, 1999).

• Itrakonazol

Itrakonazol adalah preparat azol yang secara ekstensif telah diujicoba di Eropa dan Afrika Selatan. Itrakonazol memiliki kekuatan antifungi yang lebih kuat dibandingkan dengan ketokonazol.

• Amphotericin B.

Preparat ini berbeda dengan preparat obat antifungi lainnya. Ia menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel yang sedang matang. Mekanisme kerja dari amphoterisin B adalah dengan berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membrane sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap ada pada sel. Namun demikian, pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia oleh antibiotik ini menjadi salah satu penyebab efek toksiknya (Moschella dan Hurley,1992)

Kulit Manusia

Kulit normal memiliki tiga lapisan yaitu epidermis, dermis dan jaringan subkutan. Epidermis mempunyai sel basal yang terus membelah untuk mempertahankan lapisan epitel berlapis. Lapisan ini adalah pelindung primer antara lingkungan luar dan dalam tubuh yaitu mencegah masuknya bakteri atau senyawa racun bersama dengan dermis, melindungi struktur bagian dalam trauma ( Wicaksana, 2008).

(24)

Dermis mengandung pembuluh darah, gelembung limfe, gelembung rambut, kelenjar lemak (sebasea), kelenjar keringat, otot dan serabut saraf. Daerah atas dari dermis terdapat papillae membentuk lapisan papilla yang berhubungan ke dalam epidermis. Lapisan subkutan (hypodermis) merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak (Anief, 1997).

Uji Aktivitas Antijamur

Suatu zat dikatakan antijamur jika zat tersebut dapat membasmi jamur pada umumnya, khususnya yang bersifat patogen bagi manusia. Uji aktivitas antijamur merupakan suatu cara untuk mengetahui kerentanan jamur terhadap antijamur. Beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas antijamur in vitro antara lain adalah pH lingkungan, komponen media, stabilitas zat antijamur, ukuran inokulum, masa inkubasi, dan aktivitas metabolisme mikroorganisme (Frazier dan Westhoff, 1988).

Untuk menguji aktivitas dari antijamur tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu:

• Metode dilusi

Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Tahap akhir dimasukkan antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz et al, 1995).

• Metode difusi

(25)

padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik (Jawetz et al, 1995).

• Metode turbidimetri

(26)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga bulan Juli 2013. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Tahap penelitian meliputi penyiapan bahan, pembuatan ekstrak. Pengujian aktivitas anti jamur dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas. Parameter yang dilihat adalah besarnya diameter hambat pertumbuhan jamur.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, autoklaf (Fisons), blender (Philips), Freeze Dryer (Moduli), incubator (Fiber Scientific), jangka sorong, jarum ose, kompor (Sharp), Laminar Air Flow Cabinet ( Astec HLF 1200L), lemari pendingin (Toshiba), mikroskop (Olimpus cx31), neraca kasar (Sun), neraca listrik (Vibra AJ), oven (Memmert), penangas air (Yenaco), pinset, pipet mikro (Eppendorf), rotary evaporator (Haake D), pencadang kertas, kertas perkamen, tissue, pH meter (Tran Instrumen), spektrofotometer visibel (Dynamic).

(27)

Posedur Penelitian

Pengambilan Sampel Tanaman

Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan dengan tanaman yang sama dari daerah yang lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi paku pohon (C. contaminans) yang masih segar berwarna putih, yang diambil dari Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara.

Determinasi Tanaman

Identifikasi tanaman paku pohon dilakukan di Herbarium Medanense, Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

Pembuatan Simplisia

Umbi paku pohon yang telah dikumpulkan sebanyak 2,5 kg, dicuci bersih dengan air mengalir, kemudian ditiriskan lalu disebarkan diatas kertas perkamen hingga airnya terserap, setelah itu bahan ditimbang. Kemudian dimasukkan ke dalam lemari pengering dengan suhu 40-500C. Proses pengeringan dilakukan sampai umbi paku pohon mudah diremukkan. Simplisia yang telah kering disortasi kering yaitu memisahkan dengan benda-benda asing. Simplisia diserbuk dengan menggunakan blender. Serbuk disimpan dalam kantung plastik untuk mencegah pengaruh lembab dan pengotoran lainnya.

Sterilisasi Alat

(28)

1700C selama 2 jam. Media disterilkan di autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit. Jarum ose dan pinset dengan lampu Bunsen (Lay, 1994).

Pembuatan Ekstrak Etanol Umbi Paku Pohon secara Maserasi

Sebanyak 250 g simplisia yang telah diserbukkan dimasukkan kedalam wadah tertutup, lalu dimaserasi dengan 1875 ml pelarut etanol 80% selama 5 hari, terlindung dari cahaya matahari sambil sering diaduk, diperas dengan kain flannel. Lalu ampas ditambahkan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 625 ml, kemudiaan didiamkan selama 2 hari dan dienap tuang. Maserat diuapkan dengan bantuan alat penguap rotary evaporator pada temperatur tidak lebih 400C dan dikeringkan dengan freeze dryer pada suhu -400C sampai diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).

Pembuatan Media

• Pembuatan Larutan NaCl 0,9 %

Komposisi : Natrium Klorida 9 gr Air suling 1000 ml Cara Pembuatan:

Ditimbang Natrium Klorida 9 gr lalu dilarutkan dalam air suling sedikit demi sedikit dalam labu ukur 1000 ml sampai larut sempurna. Lalu ditambahkan air suling sampai garis tanda. Disterilkan di autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit.

• Pembuatan Potato Dextrose Agar (PDA)

Komposisi : Dektrosa 20 gr

(29)

pH 5,6 ± 0,2 Cara pembuatan:

Sebanyak 39 gr campuran bahan diatas disuspensikan ke dalam 1 liter air suling steril. Dipanaskan di atas penangas air sampai bahan larut sempurna. Dalam keadaan panas larutan tersebut dituangkan ke dalam tabung reaksi steril, ditutup, disterilkan dalam autoklaf pada temperatur 1210Cselama 15 menit. Pembuatan Agar Miring

Ke dalam tabung reaksi yang steril dimasukkan 3 ml media PDA steril, didiamkan pada temperatur kamar sampai membeku pada posisi miring membentuk sudut 450. Kemudian disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 50C.

Pembuatan Stok Kultur

Satu koloni jamur diambil dengan menggunakan jarum ose steril, lalu ditanam pada media Potato Dextrose Agar dengan cara menggores. Kemudian di inkubasi dalam inkubator pada suhu 36-370C selama 18-24 jam (Ditjen POM, 1995).

Penyiapan Inokulum Jamur / Mikroba Uji

Koloni jamur diambil dari stok kultur dengan jarum Ose steril lalu disuspensikan dalam tabung reaksi berisi 10 ml larutan NaCl 0,9%. Kemudian diukur kekeruhan larutan pada panjang gelombang 580 nm sampai diperoleh transmitan 25% (Ditjen POM, 1995).

Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Paku Pohon dengan Berbagai Konsentrasi Ekstrak etanol ditimbang 5 g dilarutkan dengan DMSO4 hingga 10 ml

(30)

selanjutnya sampai diperoleh ekstrak dengan konsentrasi 400 mg/ml; 300mg/ml; 200mg/ml; 100mg/ml, 90mg/ml; 80 mg/ml; 70 mg/ml; 60 mg/ml; 50 mg/ml; 40 mg/ml; 30 mg/ml; 20 mg/ml; 10 mg/ml.

Metode Pengujian Efek Anti Jamur Secara In Vitro

Cawan petri dimasukkan 0,1 ml inokulum, kemudian ditambahkan 15 ml media PDA steril yang telah dicairkan dan ditunggu hingga suhu mencapai 450C, dihomogenkan dan dibiarkan sampai media memadat. Selanjutnya masing-masing pencadang kertas yang telah direndam pada ekstrak berbagai konsentrasi selama 15 menit, ditaruh diatas media. Kemudian diinkubasi pada suhu 20-250 C selama 48 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar pencadang kertas diukur dengan menggunakan jangka sorong. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali. Dilakukan blanko dengan menggunakan DMSO4 (Ditjen POM,1995).

Analisis Data

Analisi data digunakan untuk menguji pengaruh ekstrak paku pohon terhadap daya hambat jamur M. gypseum, maka dil;akukan analisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial. Model statistik yang digunakan (Hanafiah,2005) adalah:

αi = Pengaruh konsentrasi ekstrak paku pohon ke-i

βj = Pengaruh waktu pengamatan ke-j

(αβ)ij = Pengaruh pemberian ekstrak paku pohon pada interaksi antara konsentrasi ekstrak paku pohon dan waktu pengamatan ke – j

(31)
(32)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Determinasi Tanaman

Identifikasi tumbuhan yang digunakan dilakukan di Herbarium Medanense, Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, hasilnya adalah paku pohon Cyathea contaminans (Hook.) Copel., Family Cyatheaceae. Ekstrak Etanol Umbi Paku Pohon secara Maserasi

Pembuatan zat antijamur dari paku pohon diperoleh dengan proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan komponen yang diinginkan dari suatu bahan. Proses ekstraksi adalah akibat dari adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan cairan ekstraksi di luar sel. Bahan pelarut yang mengalir ke dalam ruang sel akan menyebabkan protoplasma membengkak, dan bahan kandungan sel akan terlarut sesuai dengan kelarutannya (Voigt, 1994).

(33)
(34)

Larutan Uji Ekstrak Paku Pohon dengan Berbagai Konsentrasi

Pembuatan larutan uji ekstrak paku pohon dengan berbagai konsentrasi, pelarut yang digunakan yaitu DMSO4 yang merupakan pelarut yang setara dengan

etanol 96%. Pelarut yang digunakan bukan pelarut etanol 96%, dikarenakan ekstrak kental yang akan diencerkan tidak larut dalam etanol 96% sehingga diganti dengan pelarut DMSO4. Ekstrak paku pohon dilarutkan mulai dari

konsentrasi 500 mg/ml hingga 100 mg/ml, dan pengenceran tidak dilanjutkan sampai konsentrasi 10 mg/ml karena pada tahap orientasi pengujian konsentrasi 100 mg/ml menunjukkan tidak adanya daya hambat dari ekstrak.

Uji Daya Hambat Ekstrak Paku Pohon Terhadap Microsporum gypseum secara In Vitro

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode difusi agar dengan menggunakan pencadang kertas. Parameter yang diukur adalah zona hambat disekitar pencadang kertas yang digunakan. Hasil uji daya hambat antijamur menunjukkan bahwa ekstrak paku pohon dapat menghambat pertumbuhan jamur M. gypseum. Hasil pengukuran diameter daerah hambat dapat dilihat pada tabel satu berikut.

Tabel 1. Hasil Rata-rata Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Pertumbuhan M. gypseum oleh Ekstrak Paku Pohon

Konsentrasi Ekstrak DMSO4 (mg/ml) Diameter Daya Hambat (mm) *

500 19,13

(35)

Gambar 2. Diagram Batang Hasil Pengukuran Diameter Daya Pertumbuhan Jamur M. gypseum dengan Metode Maserasi.

Hasil pada tabel 1. diatas terlihat bahwa konsentrasi ekstrak yang memberikan hambatan terhadap jamur M. gypseum adalah dimulai pada konsentrasi ekstrak 400 mg/ml yaitu sebesar 15,8 mm. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditunjukan pada konsentrasi 300 mg/ml yaitu sebesar 11,9 mm yang artinya daya hambat dari ekstrak tersebut terhadap jamur M. gypseum sangat kecil, dan pada konsentrasi 200 mg/ml tidak menunjukkan adanya daya hambat dari ekstrak, diikuti pada blanko DMSO4 tidakmenunjukkan adanya daya hambat

terhadap jamur. Daya hambat ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum pada konsentrasi rendah tidak adanya daya hambat, disebabkan karena senyawa kimia yang bersifat antijamur yang terdapat pada ekstrak dalam jumlah sedikit. Ekstrak dapat dikatakan sebagai antijamur yang sangat efektif jika diameter daya hambatan lebih dari 14 mm hingga 16 mm (Ditjen POM, 1995).

Hasil analisis statik dengan uji one way anova pada ekstrak paku pohon dengan α (0,05) ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh nyata (signifikan)

0

500 400 300 200 100 Blanko

d

(36)

menunjukkan bahwa setiap perlakuan berada pada kolom subset yang berbeda. Konsentrasi yang disarankan yaitu pada konsentrasi 500 mg/ml, dimana diameter daya hambat terhadap jamur semakin besar.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Sitorus (2009), ekstrak metanol belimbing manggis tidak dapat menghambat jamur Microsporum gypseum. Hal ini disebabkan karena golongan senyawa kimia yang terdapat dalam buah belimbing manis yaitu senyawa fenol yang berkhasiat sebagai antibakteri saja tetapi tidak berkhasiat sebagai antijamur. Bakteri memiliki spora yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh, sedangkan jamur memiliki spora yang berfungsi untuk reproduksi aseksual dan seksual sehingga memperbanyak pertumbuhan jamur. Hal tersebut menyebabkan senyawa flavonoid tersebut tidak mampu menghambat pertumbuhan jamur.

(37)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Ekstrak umbi paku pohon (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.) dengan kandungan senyawa kimia flavonoida, triterpenoid, dan alkaloida, memiliki daya hambat terhadap M. gypseum dan peningkatan konsentrasi 400 mg/ml, 500 mg/ml diikuti dengan adanya penambahan diameter zona hambat pada setiap variasi konsentrasi.

Saran

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Anief, N. 1997. Formulasi Obat Topikal Dengan Dasar Penyakit Kulit. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Brooks, G.F., Butel, Janet S., Morse, Stephen A. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Pertama. Salemba Medika. Jakarta.

.

Dasuki, U.A. 1991. Sistemik Tumbuhan Tinggi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Materi Medika Indonesia. Jilid VI. Depkes RI. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan pertama. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Djauhariya, E. dan Hernani. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Seri Agrisehat. Jakarta.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Frazier, W.C. dan Westhoff, D.C. 1988. Food Microbiology. McGraw-Hill Book

Company. New York.

Gandahusada, S.S., Pribadi W., Ilahude H.D. 2004. Parasitologi Kedokteran Edisi III. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Ganiswarna, S. 1999. Farmakologi dan Terapi. Edisi keempat. Gaya Baru. Jakarta.

Hanafiah, K. A. 2005. Rancangan Percobaan:Teori dan Aplikasi. PT Grafindo Persada. Jakarta.

(39)

Henry, J.B. 2001. Clinical Diagnosis And Management By Laboratory Method. 21st. Philadelphia: WB. Saunders Company. pp: 1182-1183.

Indah, N. 2009. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah. IKIP PGRI. Jember. Indrawati G, Wellyzar S, editor. 2006. Mikologi: Dasar dan Terapan. Edisi

pertama. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Jawetz, E. Melnick J.L. dan Adelberg E.A. 1995. Review of Medical Microbiology. Los Altos, California: Lange Medical Publication. Pages 227-230.

Lay, W.B. 1994. Analisis Mikrobiologi di Laboratorium. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Moschella H. 1994. Dermatology. 3nd Ed Vol One. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Nababan, T. 2009. Eksplorasi Dan Skrining Fitokimia Tumbuhan Obat Yang Dimanfaatkan Oleh Masyarakat Sekitar Taman Hutan Rakyat (TAHURA) Bukit Barisan., Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sitorus, A. 2009. Karakterisasi Simpisia DanSrining Fitokimia Serta Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Metanol Buah Belimbing Manis (Averrhoa carambola Linn.). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.

Suganda, A. 2002. Standarisasi Simplisia, Ekstrak, dan Produk Obat Bahan Alam, dalam Sukrasno, Adnyana, I. K., Damayanti, S (Tim Redaksi), Prosiding Simposium Standarisasi Jamu dan Fitofarmaka; Meningkatkan Jamu dan Fitofarmaka menjadi Obat Pilihan, Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, Bandung.

Sulistyawati, D. dan Mulyati, S. 2009. Uji Aktivitas Antijamur Infusa Daun Jambu Mete ( Anacardium occidentale, L.) Terhadap Candida albicans. Biomedika.2(1)

Tjitprosoepomo, G. 1991. Taksonomi Tumbuhan (schizophyta, thallophyta, bryophyte, pteridophyta). Gadjah Mada University press. Yogyakarta. Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gajah mada University Press,

Yogyakarta : 563, 564.

(40)

Wattimena, G. A. 1991. Bioteknologi Tanaman, Pusat Antar Universitas. Penerbit ITB. Bogor.

Wicaksana, I Gede Andrie. 2008. Microsporum gypseum. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

(41)
(42)

Lampiran 2. Bagan Penelitian

Dicuci dari pengotor sampai bersih

Ditiriskan dan ditimbang

Diiris tipis-tipis

Dikeringkan dalam lemari pengering

Dihaluskan

Dimaserasi dengan etanol 80%

Dipisahkan dan dimaserasi ulang

Dipekatkan dengan rotary evaporator

Dipekatkan dengan fresh dryer Umbi Paku Pohon

Umbi Paku Pohon

Simplisia

Simplisia Serbuk

Maserat Ampas

(43)

Lampiran 3. Hasil pengukuran diameter hambat ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum

Konsentrasi Ekstrak DMSO4

(mg/ml)

Diameter Daya Hambat (mm)

1 2 3

Lampiran 4. Sidik ragam pengukuran diameter hambat ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum

Sumber

Keterangan: * = berpengaruh nyata

Lampiran 5. Uji Duncan pengukuran diameter hambat ekstrak paku pohon terhadap jamur M. gypseum

(44)

Lampiran 6. Gambar Daya Hambat Ekstrak Etanol Umbi Paku Pohon Terhadap M. gypseum

A

B Keterangan:

(45)

Lampiran 7. Gambar Ekstrak Etanol Berbagai Konsentrasi

A

B Keterangan:

A. Larutan ekstrak paku pohon konsentrasi 500 mg/ml, 400 mg/ml, 300 mg/ml

Gambar

Gambar 1. Ekstrak Etanol Paku Pohon
Tabel 1. Hasil Rata-rata Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Pertumbuhan M. gypseum oleh Ekstrak Paku Pohon
Gambar 2. Diagram Batang Hasil Pengukuran Diameter Daya Pertumbuhan   Jamur M.  gypseum dengan Metode Maserasi

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian uji daya hambat ekstrak buah kelor terhadap pertumbuhan jamur candida albicans menggunakan media nutrien agar dan nutrien broth serta dilakukan dengan cara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun ketepeng cina ( Cassia alata L.) pada berbagai konsentrasi terhadap pertumubuhan jamur

Terbentuknya daerah yang bening ini karena ekstrak daun durian memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur, sehingga dalam kurun waktu 24 jam terbentuk zona

Ekstrak daun sirsak (Annona murcata L.) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dengan rerata diameter zona hambat sebesar 12,5 mm yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rumput laut ( Gracilaria sp. ) tidak memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.. Kata kunci: uji daya hambat,

Dari penelitian uji daya hambat ekstrak buah pare (Momordica charantia L) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dimana metode yang digunakan adalah metode difusi

Cawan petri II, diameter zona hambat yang terbentuk pada area kertas saring ekstrak daun sirsak sebesar 12 mm, zona hambat yang terbentuk pada area kertas

Pada uji daya hambat dengan menggunakan konsentrasi daun salam dinyatakan tidak dapat menghambat jamur Candida albicans dapat dilihat dari tidak adanya zona