THIN CLIENT SEBAGAI SOLUSI EFISIENSI UNTUK SISTEM ADMINISTRASI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Skripsi
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-1
Diajukan oleh: FAIRUZ SALWINA
20120140116
Kepada
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
ix DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN I ... ii
HALAMAN PENGESAHAN II ...iii
ABSTRAK ... iv
PRAKATA ... v
PERNYATAAN ...viii
DAFTAR ISI ...viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang... 1
1.2.Rumusan Masalah... 3
1.3.Tujuan Penelitian... 4
1.4.Batasan Masalah... 4
1.5.Manfaaat Penelitian...5
1.6.Sistematika Penulisan... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ... 7
2.1. Tinjauan Pustaka...7
2.2. Landasan Teori... 10
2.2.1. Definisi Jaringan ... 10
2.2.2. Virtual Private Server (VPS) ... 11
2.2.3. Hypervisor ... 13
2.2.4. Jaringan Thin Client ... 14
2.2.5. Komunikasi Client-Server pada Jaringan Thin Client ... 15
2.2.6. Arsitektur Client-Server pada Jaringan Thin Client ... 17
2.2.7. Dumb Terminal ... 18
x
2.2.9. vSpace Terminal Server 8.4.0.3B ... 20
BAB III METODOLOGI ... 23
3.1. Lokasi Penelitian... 23
3.2. Peralatan Penelitian... 23
3.2.1. Software ... 23
3.2.2. Hardware ... 24
3.3.Metode Penelitian... 25
3.3.1. Tahap Definisi ... 26
3.3.2. Tahap Perancangan ... 28
3.3.3. Tahap Verifikasi ... 29
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI ... 31
4.1.Tahap Definisi... 31
4.1.1. Keadaan Sistem Saat Ini ... 31
4.1.2. Masalah yang Dihadapi ... 31
4.2.Tahap Perancangan... 32
4.2.1. Arsitektur Jaringan Thin Client ... 32
4.2.2. Pembangunan Jaringan Thin Client... 35
4.3.Tahap Verifikasi...62
4.3.1. Rancangan Penggunaan Perangkat Lunak Pengujian dan Perangkat Lunak Pendukung Aktivitas Pengguna ... 62
4.3.2. Aplikasi Pendukung Aktivitas Produktivitas Kerja Pengguna ... 64
4.3.3. Skenario Pengujian Jaringan Thin Client ... 65
4.3.4. Pengujian dan Pengukuran Kinerja Jaringan Thin Client Berbasis Dumb Terminal dalam Aktivitas Pengguna dengan Microsoft Word 2013 ... 66
4.3.5. Pengujian dan Pengukuran Kinerja Jaringan Thin Client Berbasis Dumb Terminal dalam Aktivitas Pengguna dengan Microsoft Excel 2013 ... 67
4.3.6. Pengujian dan Pengukuran Kinerja Jaringan Thin Client Berbasis Dumb Terminal dalam Aktivitas Pengguna dengan Google Chrome ... 68
xi
4.3.8. Hasil Pengukuran dan Analisa Kinerja Sumber Daya Jaringan Thin Client
untuk Penggunaan Microsoft Excel 2013 ... 75
4.3.9. Hasil Pengukuran dan Analisa Kinerja Sumber Daya Jaringan Thin Client untuk Penggunaan Microsoft Excel 2013 ... 82
4.3.10.Hasil Pengukuran dan Analisa Kinerja Sumber Daya Jaringan Thin Client untuk Penggunaan Microsoft Word 2013, Microsoft Excel 2013, dan Google Chrome ... 90
4.3.11.Hasil Pengukuran Kebutuhan Daya Listrik pada Perangkat Thin Client . 98 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 107
4.1.Kesimpulan... 107
4.2.Saran...107
DAFTAR PUSTAKA ... 109
iv ABSTRAK
Jaringan thin client merupakan pengembangan konsep pemberdayaan jaringan komputer lokal berbasis Green ICT. Model jaringan dumb terminal merupakan salah satu model jaringan thin client yang dikenal saat ini. Model jaringan thin client menawarkan penghematan konsumsi daya dan upaya pendukung teknologi ramah lingkungan. Pada skripsi ini, penulis ingin menawarkan solusi penghematan sumber daya khususnya untuk penggunaan listrik yang ada di lingkup Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan mengganti desktop konvensional dengan perangkat thin client dengan daya rendah yang menggunakan server terpusat. Dengan menggunakan perangkat thin client, diharapkan dapat mengurangi permasalah listrik yang sering terjadi, dengan solusi ini juga diharapkan dapat menghemat pengeluaran keuangan untuk pengadaan desktop konvensional yang diganti dengan perangkat thin client.
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jaringan thin client yaitu salah satu konsep yang dikembangkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur jaringan komputer yang efisien dari sisi
pengelolaan, konsumsi daya, infrastruktur sistem dan biaya. Penerapan jaringan
thin client diaplikasikan dengan mengoptimalkan kinerja komputer pusat atau yang biasa disebut server sebagai media pengolahan, pengoperasian dan pendistribusian data terpadu dari aktivitas yang dilakukan pengguna dengan
perangkat lunak. Maka dari itu, server harus memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perangkat terminal pengguna agar dapat memfasilitasi seluruh
aktivitas pengguna dalam jaringan thin client.
Terdapat model perancangan jaringan thin client yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu, dumb terminal. Model perancangan tersebut memiliki peran yang signifikan dalam era Green ICT. Dumb terminal berperan dalam upaya penghematan konsumsi daya (Valenzsa, 2011) dan ruang yang
dibutuhkan untuk menempatkan perangkat thin client. Perkembangan jaringan dumb terminal mendapat dukungan dengan adanya pengembangan produk terminal pengguna oleh beberapa produsen, seperti DevonIT, Dell, HP,
NComputing Thinstation, NEC, PSG, Qotom dan Sun Ray. Berbagai produsen
2
memiliki konsumsi daya yang begitu rendah dengan ukuran perangkat yang lebih
kecil dari desktop konvensional.
Perangkat terminal pengguna dalam bentuk dumb terminal berperan sebagai penyedia antar muka perangkat masukan dan keluaran bagi pengguna.
Perangkat masukan-keluaran tersebut berperan sebagai pengendali dan media
bentuk aktivitas harian pengguna dengan perangkat lunak.
Kelangsungan kerja pada jaringan dumb terminal sangat bergantung pada protokol dan layanan pendukung komunikasi yang beroperasi pada sistem. Pada
beberapa perangkat dumb terminal, digunakan protokol komunikasi khusus yang dirancang oleh produsen terminal pengguna itu sendiri. Produsen perangkat dumb
terminal NComputing mengembangkan protokol User Extension Protocol (UXP) (NComputing I. , 2010) untuk menyokong komunikasi client-server. UXP hanya dapat mengakomodasi komunikasi jaringan dumb terminal berbasis produk NComputing.
Dalam pengaplikasiannya, perangkat thin client banyak digunakan oleh perusahaan atau instansi untuk menggantikan perangkat PC desktop yang
memiliki kinerja tidak begitu besar. Sebagai contoh, seperti halnya untuk
menjalankan beberapa aplikasi penunjang produktivitas kerja yang ada pada setiap
perusahaan atau instansi.
Aplikasi produktivitas kerja merupakan perangkat lunak yang
mempresentasikan data berupa kombinasi dari dua atau lebih data tunggal (teks,
3
pendistribusian pada perangkat pengguna akan dilakukan dengan perlakuan dan
konsumsi sumber daya jaringan yang berbeda dibandingkan dengan data tunggal.
Fokus penelitian adalah dilakukannya implementasi dan analisis kinerja
sistem terpusat jaringan thin client berbasis dumb terminal untuk mengakomodasi
aktivitas pengguna dengan aplikasi produktifitas kerja. Pengujian dan pengukuran
pada penelitian ini dilakukan dengan mencermati dan menganalisa
parameter-parameter penelitian dan fenomena yang muncul saat aplikasi berbasis teks,
gambar, dan suara dijalankan oleh masing-masing pengguna.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dibutuhkan analisa fokus terhadap
sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Adapun masalah
yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang performa PC client menggunakan dumb terminal untuk menggantikan desktop konvensional?
2. Bagaimana memperkecil kebutuhan daya untuk penggunaan PC client di
lingkup administrasi?
3. Bagaimana menghubungkan perangkat thin client berbasis dumb terminal dengan server yang terletak pada ruangan yang berbeda?
4. Bagaimana meningkatkan efisiensi pengelolaan pada perangkat sistem
administrasi dapat lebih efektif dan efisien dalam segi fleksibilitas,
4 1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian yang berjudul “Thin Client sebagai Solusi Efisiensi untuk
Sistem Administrasi Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta” memiliki
beberapa tujuan, diantaranya:
1. Membangun jaringan komputer lokal dengan menerapkan pemodelan jaringan
thin client berbasis dumb terminal.
2. Mengukur kinerja jaringan thin client berbasis dumb terminal dengan memperhatikan parameter-parameter terkait, seperti: pemakaian CPU,
pemakaian memori, throughput, dan penggunaan daya.
3. Mengamati dan membandingkan perubahan kondisi dari setiap parameter yang
diukur secara periodik.
4. Menentukan infrastruktur server untuk melakukan pemodelan jaringan thin client berbasis dumb terminal menggunakan Hyper-V Server 2012 R2.
1.4. Batasan Masalah
Skripsi ini membahas implementasi dan analisis kinerja infrastruktur
jaringan thin client berbasis dumb terminal. Analisis dari implementasi dilakukan
untuk mempertimbangkan dan menghitung model penggunaan server untuk kinerja server saat melayani aktivitas pengguna dengan aplikasi produktifitas kerja. Server merupakan obyek utama pengukuran kinerja jaringan thin client karena sebagian besar aktivitas pemrosesan dan distribusi data dilakukan oleh
5
Aktivitas pemrosesan yang terjadi pada perangkat terminal tidak
dipertimbangkan karena kecepatan pemrosesan perangkat terminal pengguna lebih
besar dari laju perpindahan data pada media transmisi. Selain itu, penelitian ini
tidak mempertimbangkan Quality of Service (QoS) dari infrastruktur jaringan thin
client.
1.5. Manfaaat Penelitian
Dalam penulisan laporan skripsi ini dikemukakan beberapa manfaat, yaitu:
1. Dapat menjadi acuan pengembangan jaringan thin client untuk penggunaan pada skala yang lebih besar.
2. Dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan perangkat yang diperlukan
untuk meningkatkan sistem administrasi Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.
3. Dapat meningkatkan efisiensi penggunaan perangkat keras untuk memenuhi
standar sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4. Membantu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi kampus berbasis
Green Campus dengan melakukan efisiensi penggunaan daya listrik dalam penggunaan PC.
1.6. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, untuk memudahkan dalam hal penyusunan,
penulis membaginya ke dalam beberapa bab. Adapun sistematika penulisan
6 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang pelaksanaan penelitian secara umum. Pada bab ini
akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tinjauan pustaka dan teori-teori yang berkaitan dengan topik
yang sedang diteliti sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian. Dalam bab
ini dijelaskan mengenai penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
serta teori-teori yang berkaitan dengan thin client berbasis dumb terminal yang dibangun.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai metode dan alat-alat yang digunakan
dalam membangun jaringan thin client berbasis dumb terminal dengan mengacu pada teori-teori penunjang yang telah dijelaskan pada Bab II.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai implementasi sistem dan hasil yang
diperoleh dari hasil pengukuran dan analisis terhadap perubahan kondisi terhadap
kinerja jaringan thin client berbasis dumb terminal selama penilitian berlangsung.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai kesimpulan dari sistem yang dibangun
dan saran yang didapat dari kegiatan penelitian dimana saran tersebut dapat
digunakan untuk pengembangan sistem guna mendukung sistem administrasi
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka
Thin client network merupakan suatu metode organisasi sumber daya komputer personal dalam suatu jaringan dengan memanfaatkan sistem pemroses
yang terintegrasi secara terpadu pada suatu server. Jadi, komputer personal yang
dimiliki pengguna/client cukup membutuhkan modul interface dan perangkat I/O
(monitor, keyboard, mouse, dan perangkat peripheral lain) yang terkoneksi ke server (Valdano, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Fredy Susanto, M. Yusup, dan Andrew
Tirta (2012) yang berjudul “Cloud Computing Sebagai Solusi Efisiensi Dalam
Sistem Pembelajaran Online Pada Perguruan Tinggi” menyimpulkan bahwa Kebutuhan akan efisiensi dalam sebuah Perguruan Tinggi merupakan harga yang
mutlak dalam proses sistem pembelajaran. Begitu pula dalam hal
mempertahankan mutu dalam sistem pembelajaran yang sudah online. Oleh karena itu, peran teknologi yang digunakan dalam menunjang sistem
pembelajaran sangatlah penting terutama dalam pemeliharaan
perangkat-perangkat hardware yang digunakan dalam implementasi sistem pembelajaran online tersebut.
Pada era yang sudah sangat maju ini, terdapat suatu teknologi yang disebut
8
device pengganti PC, yang biasa dikenal dengan nama thin client/mini PC station/NComputing yang berjalan pada sistem operasi Ubuntu. Disinilah letak efisiensi dari teknologi ini di mana device ini tidak memerlukan pemeliharaan (cukup di server saja), yang otomatis jauh menghemat biaya pemeliharaan dan menghemat waktu pemeliharaan, juga sangat hemat daya listrik. Selain itu, dari
sisi sistem operasi yaitu Ubuntu yang merupakan freeware sehingga lebih menghemat cost serta dapat memaksimalkan kinerja dari suatu prosesor host PC.
Caghan Cimen, Yusuf Kavurucu, dan Halit Aydin (2014) mengemukakan
bahwa perkembangan terbaru dalam jaringan dan teknologi hardware (komputasi
awan, virtualisasi, dan lain-lain) telah membuat thin client lebih efisien sehubungan dengan total biaya kepemilikan, administrasi, pemeliharaan,
keamanan dan konsumsi daya. Oleh karena itu, penggunaan thin client dalam pendidikan dibantu komputer telah ditingkatkan secara eksponensial sejak tahun
2010. Dalam penelitiannya, Caghan Cimen, dkk. (2014) menyajikan arsitektur di
sebuah universitas dengan 270 terminal pengguna dan 9 server. Dia menggambarkan perencanaan, desain, pengujian dan implementasi tahapan
arsitektur baru dan menganalisis hasil dari implementasi ini sehubungan dengan
siswa dan staf.
Thin client tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan multimedia dan game. Thin client dirancang untuk efisiensi dan pemanfaatan penuh kemampuan komputasi dari komputer server yang saat ini kekuatannya lebih dari cukup untuk
memenuhi kebutuhan komputasi normal dan di sisi lain menurunkan biaya
9
solusi fat-client. Thin client cocok untuk sebuah sistem yang beban utamanya adalah aplikasi: Browser Internet, Messaging, Office dan image processing skala kecil.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Latifah (2011) dalam skripsi
yang berjudul "Perancangan dan Implementasi Sistem Diskless pada Laboratorium Sekolah Menengah Pertama Negeri 252 Jakarta" mengklaim bahwa
pada sistem jaringan komputer sekolah, diskless masih menjadi alternatif terbaik bila dibandingkan dengan jaringan Local Area Network (LAN) biasa yang cenderung memakan biaya jauh lebih besar. Dengan diskless maka dimungkinkan
membangun suatu jaringan dengan mengurangi ketergantungan terhadap storage lokal dan juga menekan biaya pengadaan suatu jaringan besar. Dalam
penelitiannya dirancang sebuah sistem jaringan yang menggunakan sistem
diskless dengan sistem operasi Windows di jaringan komputer Laboratorium Komputer SMPN 252 Jakarta. Hasil dari verifikasi menunjukkan bahwa
implementasi jaringan komputer berbasis diskless dengan menggunakan teknologi
Citrix Metaframe dan Thinstation di Laboratorium Komputer SMPN 252 Jakarta
dapat berjalan dengan baik dan menghemat pengeluaran untuk upgrade PC.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan tersebut, pemanfataan cloud
10
Begitu juga dengan penilitan ini, thin client diimplementasikan sebagai pengganti
desktop konvensional yang digunakan didalam lingkup sistem administrasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk menghemat penggunaan daya dan
biaya, dan juga diharapkan dapat menambah efisiensi pemeliharaan pada sumber
daya yang digunakan, dalam penelitian ini disebut server.
Adapun perbedaan yang ada yaitu dalam penelitian ini, penulis
menggunakan Microsoft Hyper-V Server 2012 R2 sebagai sistem operasi dasar
pada server, sehingga sehingga sistem operasi yang digunakan sebagai antarmuka
perangkat thin client memiliki spesifikasi yang sama besar dengan server fisik aslinya. Device yang digunakan penulis berbasis dumb terminal yaitu menggunakan NComputing L300. Selain itu, aplikasi yang digunakan oleh
penulis untuk mengelola koneksi server dengan divais thin client menggunakan vSpace Server dari NComputing.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Definisi Jaringan
Menurut Tannenbaum (1981), jaringan komputer adalah suatu kumpulan
interkoneksi dari komputer-komputer yang otonom. Jadi jaringan komputer adalah
sekolompok komputer otonom yang saling dihubungkan satu dengan yang lainnya
menggunakan protokol komunikasi melalui media transmisi, baik melalui media
kabel maupun tanpa kabel (nirkabel), sehingga dapat saling berbagi menggunakan
11 2.2.2. Virtual Private Server (VPS)
VPS (Virtual Private Server) adalah sebuah server yang dibagi menjadi VM (Virtual machines) dimana virtual tersebut merupakan server yang dapat di instal sistem operasi tersendiri. VPS terasa seperti dedicated server yang tidak mempunyai fisik, artinya VPS merupakan teknologi server virtual yang memberikan fungsi layaknya Dedicated Server.
Banyak orang yang menggunakan VPS, bila mana traffic pada website sudah meningkat jauh meninggalkan shared hosting dan upgrade ke VPS. Ada berapa virtualisasi pada VPS yaitu:
1. Open Vz
Open Vz adalah jenis virtualisasi VPS dalam level sistem operasi dan
bekerja dalam shared kernel (berbagi kernel). Merupakan tipe VPS yang paling umum ditawarkan karena tingkat penggunaan resource-nya cukup rendah, tapi ini
mengakibatkan banyak hosting provider menjualnya lebih dari batas seharusnya (overselling). Jadi ada kemungkinan performa VPS anda malah akan turun seiring
banyaknya VPS yang dijual untuk node (server) yang digunakan. OpenVZ tidak bisa menggunakan sistem operasi Windows, jadi apabila ingin menggunakan
Windows dalam VPS maka dapat menggunakan VPS jenis KVM. Sistem operasi
yang ditawarkan umumnya adalah dalam varian Linux.
2. KVM (Kernel-based Virtual Machine)
KVM (Kernel-based Virtual Machine) adalah jenis virtualisasi VPS dalam
12
operasi. Jika memembutuhkan virtualisasi penuh maka KVM adalah jawabannya.
Bila ingin menginstal Windows, BSD atau Solaris maka harus menggunakan
KVM. Karena memiliki akses langsung ke perangkat keras KVM biasanya
memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan OpenVZ dengan jumlah
memori yang sama.
3. Xen HVM (Hardware Virtual Machine)
Xen HVM (Hardware Virtual Machine) merupakan tipe virtualisasi dalam
tingkat kernel, sehingga mirip dengan KVM. Kelebihannya adalah virtualisasi
hardware secara penuh dibanding OpenVZ dan didukung oleh perusahaan Xen. Pada umumnya kalangan korporat lebih memilih teknologi virtualisasi ini dalam
mengelola Virtual Machine-nya. Xen HVM merupakan jenis full virtualization, maka Xen HVM dapat diinstal Windows. Secara popularitas HVM merupakan
teknologi ketiga terpopuler yang ditawarkan di internet.
4. Microsoft Hyper-V
Microsoft Hyper-V adalah jenis virtualisasi VPS yang paling cocok untuk
sistem operasi Windows. Dari sisi harga, Microsoft Hyper-V ini dapat dibilang
VPS dengan harga lebih mahal dibandingkan dengan VPS yang lain. Selain
Windows, sistem operasi seperti BSD, Linux dan Solaris juga dapat diinstal
didalamnya. VPS ini cocok bagi developer yang ingin menyatukan pengelolaan semua virtual machine-nya dalam satu tempat. Apalagi control panel Hyper-V memiliki GUI (Graphical User Interface) yang tentunya akan mempermudah
13 2.2.3. Hypervisor
Hypervisor (disebut juga Virtual Machine Monitor) adalah platform atau aplikasi untuk menjalankan teknik virtualisasi, yang dapat menjalankan beberapa
guest OS di dalam host OS. Secara sederhana, proses virtualisasi dilakukan oleh firmware ini mulai dari berbagi resource yang dimiliki oleh host, hingga mengelola akses antara hardware dengan sistem operasi yang berjalan diatasnya.
Hypervisor dibagi menjadi dua tipe seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2. 1:
Gambar 2. 1 Perbedaan Struktur Dua Tipe Hypervisor 1. Hypervisor tipe 1
14 2. Hypervisor tipe 2
Hypervisor tipe 2 disebut juga sebagai hosted hypervisor. Hypervisor berperan sebagai software yang akan menjalankan dan mengelola virtual machine.
Akses sumber daya hardware-nya harus melewati sebuah sistem operasi terlebih
dahulu.
2.2.4. Jaringan Thin Client
Jaringan thin client merupakan konsep jaringan komputer yang mengoptimalkan sumber daya server untuk melakukan pemrosesan dan distribusi data hasil komputasi dan media kerja aplikasi atau perangkat lunak pengguna
(Natsirudin, 2011) (Research, 2007). Optimalisasi kinerja server untuk melakukan
komputasi akan menekan aktivitas komputasi di sisi pengguna. Sementara itu,
perangkat terminal pengguna berperan sebagai media antar muka perangkat
masukan dan keluaran sistem (Nugraha, Ismail, & Siregar, 2011).
Komputer server akan menyediakan berbagai sumber daya terdistribusi kepada pengguna pada jaringan thin client, meliputi Central Processing Unit (CPU), memori, sistem operasi dan aplikasi. Pengguna dapat mengoperasikan
aplikasi melalui perangkat masukan dan keluaran sebagai media pengendali dan
penampil dengan perantara protokol komunikasi client-server dan layanan terminal server sebagai pemberi akses penggunaan sumber daya server. Alokasi sistem operasi dan perangkat lunak kerja setiap pengguna dilakukan dengan
15
Ada dua model perancangan thin client yang dikenal saat ini, yaitu model
dumb terminal dan diskless. Dumb terminal merupakan model thin client dengan menggunakan perangkat terminal khusus yang dirancang sebagai terminal antar
muka perangkat masukan dan keluaran pengguna. Perangkat dumb terminal umumnya diproduksi secara komersil oleh produsen. Salah satu produsen
perangkat terminal pengguna adalah NComputing. Sementara itu, diskless merupakan model thin client yang menggunakan komputer dengan spesifikasi rendah sebagai terminal perangkat masukan dan keluaran pengguna.
2.2.5. Komunikasi Client-Server pada Jaringan Thin Client
Secara umum, komunikasi yang berlangsung pada jaringan thin client adalah client-server (Nugraha, Ismail, & Siregar, 2011). Server menjadi pusat aktivitas pengguna dalam jaringan thin client dengan menyediakan dan mendistribusikan sumber daya perangkat keras dan perangkat lunak kepada
pengguna dalam jaringan komputer lokal. Sistem operasi dan aplikasi beroperasi
sepenuhnya pada server. Hasil komputasi akan didistribusikan server ke perangkat pengguna. Perangkat terminal pengguna hanya akan memberikan
masukan dan menerima keluaran melalui perangkat masukan dan keluaran
16
Gambar 2. 2 Komunikasi Client-Server pada Jaringan Thin Client
Gambar 2. 2 menunjukkan ilustrasi komunikasi client-server yang berlangsung saat pengguna melakukan aktivitas dengan perangkat lunak kerja
yang tertanam pada server. Permintaan menunjukkan masukan atau sinyal komunikasi yang dibandingkan oleh pengguna, sedangkan tanggapan merupakan
hasil pengolahan data dari aplikasi yang dijalankan pengguna dan sinyal informasi
dari server.
Komunikasi client-server akan diatur oleh protokol aktif yang bekerja pada jaringan thin client, baik saat pembangunan hubungan antar pengguna dengan server maupun komunikasi data saat aktivitas pengguna berlangsung. Aktivitas layanan protokol dapat dikendalikan melalui aplikasi Daemon atau
17
berada pada suatu jaringan thin client. Beberapa protokol yang digunakan pada jaringan thin client, seperti DHCP, BOOTP, TFTP, PXE, RDP, Citrix Metaframe,
dan UXP.
Saat pengguna membuka sesi desktop pada perangkat terminal pengguna dalam jaringan thin client, server akan melakukan inisialisasi terhadap keberadaan
perangkat terminal pengguna. Server yang dilengkapi dengan layanan Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) akan mengalokasikan alamat IP untuk masing-masing perangkat terminal pengguna pada jaringan thin client. Hal ini dapat berlangsung jika pengguna melakukan aktivasi layanan DHCP client pada perangkat terminal pengguna.
Setelah itu, server akan melakukan pengiriman berkas administratif ke setiap perangkat terminal pengguna, seperti bootstrap dan kernel dari sistem operasi, berkas pendukung aktivasi virtual desktop, alamat Domain Name Server
(DNS), alokasi direktori pengguna dan berkas informasi pendukung jaringan thin
client. Hal ini dilakukan agar pengguna mendapat hak akses secara legal untuk memanfaatkan sumber daya terdistribusi pada server.
Akhirnya, pengguna dapat melakukan aktivitas dengan sistem operasi dan
perangkat lunak yang tersedia pada server. Pertukaran informasi yang terjalin saat
aktivitas pengguna berlangsung akan ditenggarai oleh protokol komunikasi PXE
atau UXP pada jaringan thin client.
2.2.6. Arsitektur Client-Server pada Jaringan Thin Client
18
Selain itu, ada juga yang menyebutkan arsitektur jaringan thin client berupa server-based-computing (Kirihata, Sameshima, & Onoyama, 2012) atau diskless-network-computer. Hal ini disebabkan aktivitas dalam jaringan thin client sangat bergantung pada kinerja server dan jaringan yang tersedia pada jaringan lokal. Kegagalan fungsi dari salah satu hal tersebut akan menyebabkan kegagalan fungsi
kerja perangkat pengguna.
Topologi yang digunakan jaringan thin client adalah topologi tree/hirarki pada jaringan thin client. Server akan berperan sebagai pusat aktivitas pengguna yang diilustrasikan terletak pada cabang utama topologi fisik. Server dapat dijadikan perantara akses internet untuk jaringan thin client dengan ketersediaan hubungan dengan gateway internet.
Arsitektur jaringan thin client disusun atas sisi pengguna dan sisi server. Secara fisik, sisi pengguna dilengkapi dengan perangkat masukan dan keluaran
(mouse, keyboard, LCD dan penyuara) serta perangkat terminal thin client. Sementara itu, perangkat server berupa CPU dan perangkat masukan dan keluaran. Perangkat masukan dan keluaran pada server biasanya digunakan hanya
untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan kondisi jaringan.
2.2.7. Dumb Terminal
Pada arsitektur jaringan thin client berbasis dumb terminal, digunakan perangkat terminal khusus pengguna (Kelly, 2012) yang dirancang produsen
secara komersil sebagai media penghubung antara perangkat masukan dan
19
Gambar 2. 3 menunjukkan arsitektur jaringan thin client menggunakan perangkat
dari NComputing.
Gambar 2. 3 Arsitektur Jaringan Thin Client berbasis Dumb Terminal NComputing L300 menggunakan teknologi NUMO System on Chip (SoC)
yang berbasis perangkat chip tunggal dengan kemampuan virtual desktop berbasis
NComputing vSpace dengan kebutuhan daya kecil. Prosesor yang digunakan
NComputing L300 berjenis ARM926EJ-S dual-core (Lowe, 2011) (Holdings, 2012) yang mendukung manajemen bandwidth secara dinamis dan dapat bekerja
dengan beberapa protokol UXP dan H264. Device NComputing L300 dilengkapi dengan ragam antar muka perangkat masukan dan keluaran berbasis koneksi USB
2.0 (NComputing, 2010).
20
kemampuan terbaik. NUMO SoC juga mendukung kinerja sistem berbasis sistem
operasi Linux, Android dan Windows.
NUMO SoC memiliki teknologi Codec H264 dan MJPEG yang mampu memberikan kualitas terbaik untuk menampilkan video pada jaringan berbasis
NComputing vSpace. Kemampuan penampilan keluaran suara yang optimal dapat
dilakukan dengan kemampuan Audio to Digital Converter (ADC) pada antar muka I2S pada perangkat terminal NComputing pengguna.
2.2.8. Perangkat Lunak dan Layanan Pendukung Jaringan Thin Client Berbasis Dumb Terminal
Pada penelitian ini, digunakan perangkat dumb terminal NComputing L300. Ada dua perangkat lunak yang digunakan untuk membangun jaringan thin
client berbasis perangkat NComputing L300, yaitu vSpace Terminal Server dan NComputing Terminal Client.
2.2.9. vSpace Terminal Server 8.4.0.3B
vSpace Terminal Server 8.4.0.3B (NComputing, 2010) merupakan
perangkat lunak untuk membangun terminal server pada jaringan thin client berbasis dumb terminal NComputing. Perangkat lunak ini berfungsi mengatur komunikasi client-server pada jaringan thin client dan memandu akses pengguna terhadap sumber daya perangkat lunak dan perangkat keras pada server. Pada sistem operasi Linux, vSpace ini terdiri dua paket, yaitu vSpace-l dan vSpace-os.
vSpace-l merupakan paket yang berisi library untuk mendukung terminal server.
Sementara itu, vSpace-os merupakan paket yang menyediakan virtual desktop dan
21
vSpace Terminal Server 8.4.0.3B dirancang dalam bentuk yang sederhana,
sehingga mudah untuk melakukan instalasi. Terminal server ini dapat bekerja pada sistem operasi Windows dan Linux. Beberapa versi sistem operasi Windows
yang mendukung vSpace Terminal Server diantaranya Windows XP, Windows 7,
Windows 8.1, Windows Server 2003, Windows Server 2008, Windows Server
2012, Windows Multipoint Server 2011, dan Windows Multipoint Server 2012.
Sementara itu, sistem operasi Linux yang mendukung vSpace Terminal Server,
seperti Ubuntu versi 10.04 dan Ubuntu versi 12.04.
vSpace Terminal Server mampu melayani akses hingga 30 pengguna
secara simultan. Komunikasi client-server yang ditenggarai oleh vSpace Terminal
Server akan bekerja dengan dukungan protokol komunikasi User Extension Protokol (UXP) (Retnawati, 2011). UXP merupakan protokol yang dirancang khusus oleh produsen NComputing untuk melayani aktivitas pengguna pada
jaringan thin client berbasis NComputing.
vSpace Terminal Server merupakan penyedia sesi desktop dari setiap pengguna dalam jaringan dumb terminal berbasis NComputing. vSpace Terminal
Server juga memiliki kemampuan virtualisasi desktop yang memberikan pengalaman aktivitas multimedia yang sangat baik pada setiap sesi desktop pengguna. Kemampuan virtualisasi desktop yang dimiliki oleh vSpace memungkinkan pengguna mendapat presentasi desktop secara layar penuh, kemampuan pemutaran ulang aktivitas multimedia dan kualitas visual terbaik
22
Kemampuan Codec yang diberikan vSpace Terminal Server dapat
mempresentasikan kualitas keluaran suara terbaik untuk setiap pengguna. Selain
itu, Codec ini juga membantu mempresentasikan berbagai tampilan video
berkualitas tinggi dalam berbagai format berkas serta kemampuan untuk
mempercepat proses rendering pemutaran video memberikan kepuasan maksimal
23
BAB III METODOLOGI
3.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Data Center Biro Sistem Informasi dan Prodi Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Adapun waktu penelitian sistem jaringan thin client ini dilaksanakan dari bulan Mei 2016
– Juli 2016.
3.2. Peralatan Penelitian
3.2.1. Software
Untuk membangun sistem jaringan thin client berbasis dumb terminal, pada penelitian ini dibutuhkan beberapa software yang di instal pada virtual private server atau host dimana penulis menggunakan sistem operasi Windows
8.1 seperti yang penulis cantumkan pada Tabel 3. 1.
Tabel 3. 1 Daftar Perangkat Lunak pada Host
No. Perangkat Lunak Versi
1. NComputing vSpace Server for Windows 8.4.0
2. Google Chrome 51.0.2704.103
3. Microsoft Office Professional Plus 2013 15.0.4420.1017
4. Mozilla Firefox 41.0.1
5. Adobe Acrobat Reader DC 15.016.20045
24
No. Perangkat Lunak Versi
7. Adobe Flash Player 22 PPAPI 22.0.0.196
8. WinRAR 5.40 beta 2 5.40
3.2.2. Hardware
Selain perangkat lunak (software), dibutuhkan pula perangkat keras
(hardware) yang digunakan untuk mendukung sistem jaringan thin client berbasis dumb terminal, yaitu Server Lenovo X3650 M5, NComputing L300, serta
perangkat pendukung lainnya seperti monitor, keyboard, mouse, dan kabel LAN. Pada Server Lenovo X3650 M5 ini di bangun server dalam bentuk virtual yang di
manajemen melalui virtualization hypervisor yaitu Hyper-V Manager. Adapun spesifikasi Server Lenovo X3650 M5 dapat dilihat pada Tabel 3. 2.
Tabel 3. 2 Spesifikasi Server Lenovo X3650 M5
No. Item Spesifikasi
1. Model System X3650-M5-D2A
2. CPU Cores 8 CPUs × 2.4 GHz
3. Processor Type Intel Xeon E5-2630v3 4. Processor Socket 2
5. Cores Per Socket 4 6. Logical Processors 8 7. Number of NICs 6
25
Pada sisi pengguna, penulis menggunakan perangkat thin client berbasis dumb terminal NComputing L300 dan perangkat pendukung untuk pengguna.
Detail dari NComputing L300 dan perangkat pendukung lainnya dapat dilihat pada Tabel 3. 3.
Tabel 3. 3 Komponen Perangkat Terminal Pengguna
No. Komponen Perangkat Pengguna Keterangan
1. Perangkat Terminal Pengguna 5 unit NComputing L300
2. Processors Dual Core ARM 926EJ-S 1.1 MIPS 3. Mouse 5 unit Genius Optical Mouse USB 2.0 4. Keyboard 5 unit Genius Keyboard USB 2.0
5. Layar 5 unit LG LCD 15” Screen
3.3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini
mencakup tiga tahap, yang secara umum dimiliki oleh empat paradigma dalam rekayasa perangkat lunak, yaitu Tahap Definisi, Tahap Perancangan, dan Tahap Verifikasi (Pressman, 2002). Tahapan kerja penelitian secara garis besar
26
Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian
3.3.1. Tahap Definisi
Pada tahap ini, dapat diidentifikasi tiga hal yang menjadi dasar dalam perancangan sistem, yaitu:
a. Keadaan Sistem Saat Ini
Pada tahap ini penulis melakukan pengamatan secara langsung ke tempat
27
Muhammadiyah Yogyakarta saat ini, yang mencakup infrastruktur jaringan, dan
protokol jaringan yang dipakai saat ini. b. Masalah yang Dihadapi
Pada tahap ini dijelaskan tentang masalah yang dihadapi oleh jaringan komputer yang berada di seluruh ruangan staf dan pegawai Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta terutama pada banyaknya daya yang digunakan dan penggunaan desktop konvensional yang tidak optimal, dimana setiap staf atau pegawai menggunakan desktop konvensional berbasis Windows untuk melakukan
pekerjaan masing-masing yang dirasa membebani penggunaan daya listrik sehingga sering diberlakukannya pemadaman listrik secara berkala di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Selain itu, karena banyaknya desktop konvensional yang digunakan juga membuat pemeliharaan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Serta adanya perencanaan untuk menambah jumlah komputer client. Maka, penulis ingin melakukan transisi sistem dari sistem desktop
konvensional beralih pada sistem thin client berbasis dumb terminal yang dapat
menjadi solusi dari masalah yang ada. c. Kebutuhan Sistem
Tahap ini akan menjelaskan tentang kebutuhan sistem baik software maupun hardware yang dipakai oleh server maupun client. Penulis menguraikan kebutuhan software pada Tabel 3. 1, sedangkan kebutuhan hardware dapat dilihat
28 3.3.2. Tahap Perancangan
Pada tahap ini didefinisikan mengenai implementasi infrastruktur dan penerapannya yang akan dikelompokkan sebagai berikut:
a. Pembuatan Skema Jaringan
Tahap ini adalah pembuatan skema jaringan thin client berbasis dumb terminal menggunakan Microsoft Hyper-V Server 2012 R2 yang akan
diimplementasikan di jaringan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dimana
penerapan thin client berbasis dumb terminal pada jaringan sistem administrasi staf dan pegawai ini akan mengganti seluruh perangkat desktop konvensional dengan perangkat thin client NComputing L300.
b. Pembangunan Sistem Jaringan
Gambar 3. 2 Prosedur Implementasi Sistem
Setelah dilakukan perancangan sistem dan diketahui komponen-komponen pendukung yang diperlukan untuk membangun jaringan thin client berbasis dumb
terminal menggunakan NComputing L300 sebagai perangkat client-side dan
Microsoft Hyper-V Server 2012 R2 sebagai sistem operasi dasar pada server,
29
dalam melakukan implementasi jaringan thin client berbasis dumb terminal secara
umum dapat dilihat pada Gambar 3. 2.
3.3.3. Tahap Verifikasi
Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap kinerja thin client berbasis dumb terminal yang diimplementasikan untuk aktivitas administratif Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, dengan 4 parameter, yaitu: konsumsi CPU, konsumsi memori, throughput, dan konsumsi daya listrik. Keempat parameter pengukuran dalam pengujian tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Konsumsi CPU
Konsumsi CPU atau CPU usage merupakan parameter yang
mempresentasikan perubahan besar kapasistas CPU yang terpakai dalam satuan waktu untuk melakukan operasi kerja sistem komputer. Perubahan besar
kapasistas CPU biasanya dipresentasikan dalam bentuk persentase dan diukur perubahan setiap kondisinya terhadap waktu. Pada aplikasi pengukuran perubahan
besar kapasistas CPU, jumlah keseluruhan dari jumlah CPU merupakan persentase jumlah rata-rata kapasitas CPU yang terpakai untuk melayani aktivitas pengguna, sistem dan interaksi antara CPU dengan antar muka perangkat masukan
dan keluaran server. Pengukuran besar konsumsi CPU bertujuan untuk meninjau besar kapasistas CPU terpakai pada server untuk melayani aktivitas kerja pengguna dalam jaringan thin client berbasis dumb terminal.
2. Konsumsi Daya
30
waktu untuk melakukan operasi kerja sistem komputer. Pengukuran besar
penggunaan daya bertujuan untuk meninjau besar daya listrik yang digunakan pada perangkat NComputing untuk melayani aktivitas kerja pengguna dalam jaringan thin client berbasis dumb terminal.
3. Konsumsi Memori
Konsumsi memori atau memori usage merupakan parameter yang merepresentasikan jumlah kapasitas memori yang terpakai selama aktivitas komputasi berlangsung dalam suatu komputer. Nilai yang ditunjukkan oleh
aplikasi pengukuran konsumsi memori akan menunjukkan jumlah kapasitas memori utama dan memori swap yang terpakai selama aktivitas pengguna
berlangsung. Pengukuran memory usage bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi dari pengguna kapasitas memori dalam rentang waktu aktivitas pengguna mengoperasikan aplikasi tertentu dalam jaringan thin client.
4. Throughput
Throughput merupakan parameter yang merepresentasikan jumlah data
yang ditransmisikan dari satu pengguna ke pengguna dengan tujuan pada satu waktu. Pada pengamatan ini, throughput merepresentasikan jumlah data yang
ditransmisikan dari server ke pengguna dalam jaringan thin client. Pengukuran throughput bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi terhadap jumlah
31
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI
4.1. Tahap Definisi
4.1.1. Keadaan Sistem Saat Ini
Jaringan komputer yang digunakan untuk sistem administrasi di
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini adalah jaringan LAN tipe
client-server yang masih menggunakan desktop konvensional. Dalam implementasinya,
jaringan komputer yang digunakan untuk sistem administrasi ini menggunakan
segment workgroup yang memungkinkan komputer satu dengan yang lain dapat
berkomunikasi satu sama lain, karena pada jaringan ini telah terkoneksi dengan
internet.
4.1.2.Masalah yang Dihadapi
Saat ini, sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
masih menggunakan desktop konvensional dimana untuk setiap unitnya
membutuhkan konsumsi daya listrik yang terbilang besar. Dari permasalahan
tersebut, Biro Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ingin
mengembangkan jaringan untuk sistem administrasi dengan mengurangi
penggunaan daya listrik dan menekan efisiensi biaya perawatan dan pengadaan
barang. Selain hal tersebut, dikarenakan menggunakan desktop konvensional yang
tidak terpusat dan belum menggunakan sistem operasi yang sama pada setiap
32
harus dilakukan pada perangkat desktop tersebut. Penggunaan sistem operasi yang
tidak seragam juga menjadi kendala. Ada beberapa perangkat staf administrasi
yang masih menggunakan Windows XP, hal tersebut memungkinkan adanya
serangan malware terhadap device tersebut dan menyebar dikarenakan Windows
XP sudah tidak mendapatkan pembaharuan dari Microsoft. Maka dari itu, penulis
ingin mengimplementasikan jaringan thin client pada sistem administrasi di
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sehingga dengan diimplementasikannya
jaringan thin client pada sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, penggunaan desktop konvensional dapat digantikan dengan
penggunaan perangkat thin client yang menggunakan sumber daya lebih sedikit
dan lebih hemat biaya. Sebab pada jaringan thin client berbasis dumb terminal
tidak dibutuhkan komputer client dengan spesifikasi yang tinggi. Komputer client
dapat digantikan dengan perangkat thin client sebagai perangkat antarmuka,
sehingga dapat lebih menghemat anggaran baik dalam penyediannya maupun
dalam perawatannya kedepan.
Jaringan thin client berbasis dumb terminal yang akan dirancang oleh
penulis pada jaringan sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta ini direncanakan menjadi jaringan yang akan digunakan seterusnya
untuk sistem administrasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4.2. Tahap Perancangan
4.2.1. Arsitektur Jaringan Thin Client
Arsitektur jaringan yang dibangun dalam penelitian ini berbasis komputasi
33
bagian pengguna dan bagian server. Sisi pengguna terdiri dari lima perangkat thin
client yang hanya berfungsi sebagai terminal perangkat masukan dan keluaran
pengguna. Perangkat terminal pengguna yang digunakan berbasis prosesor dual
core ARM 926EJ-S 1.1 MIPS dan dilengkapi dengan layar, keyboard, mouse, dan
perangkat keluaran suara. Sisi server yang digunakan pada pengujian berbasis
prosesor Intel® Xeon® processors E5-2630v3 series dan kapasistas TruDDR4
2400MHz Memory 10 GB. Virtual Private Server (VPS) atau host pada server
bertindak sebagai pusat pemrosesan semua aktivitas pengguna dengan perangkat
[image:39.595.130.495.366.629.2]lunak.
Gambar 4. 1 Rancangan Jaringan Thin Client Berbasis Dumb Terminal Server akan terhubung dengan perangkat terminal pengguna melalui
jaringan ethernet 100 Mbps pada jaringan komputer lokal. Komunikasi
34
dalam pengujian ini akan bekerja dengan sistem operasi Windows 8.1 pada host
yang akan digunakan sebagai antarmuka pada perangkat terminal pengguna.
Sedangkan pada server menggunakan sistem operasi Microsoft Hyper-V Server
2012 R2 sebagai media virtualisasi yang dipasang pada perangkat server fisik.
Terdapat dua skema pemasangan perangkat Ncomputing, yaitu centralized
deployment dan branching deployment. Sebelum dilakukan penelitian ini,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sudah mengaplikasikan sistem jaringan
thin client menggunakan skema pemasangan centralized deployment untuk ruang
referensi Fakultas Pertanian dan ruang internet pada perpustakaan pusat. Pada
skema pemasangan centralized deployment, host terletak pada ruangan yang sama
dengan perangkat client dan server host menggunakan PC desktop dengan
spesifikasi dibawah server yang digunakan pada penelitian ini. Skema
[image:40.595.170.449.487.696.2]pemasangan centralized deployment dapat dilihat pada Gambar 4. 2.
35
Pada penelitian ini, penulis menggunakan skema branching deployment
dikarenakan terminal pengguna yang akan diletakkan pada gedung yang berbeda
dengan lokasi server host berada. Skema pemasangan distributed branch
[image:41.595.127.497.243.443.2]deployment dapat dilihat pada Gambar 4. 3.
Gambar 4. 3 Skema Pemasangan Branching Deployment
4.2.2. Pembangunan Jaringan Thin Client
Setelah dilakukan perancangan sistem dan diketahui komponen-komponen
pendukung yang diperlukan untuk membangun jaringan thin client berbasis dumb
terminal dengan menggunakan teknik virtualisasi, maka tahap selanjutnya adalah
pembangunan sistem. Secara umum, langkah-langkah yang dilaksanakan dalam
pembangunan jaringan thin client ini adalah sebagai berikut:
1. Implementasi Microsoft Hyper-V Server pada Server
Pada langkah ini penulis menggunakan Microsoft Hyper-V Server 2012
R2 sebagai sistem operasi pada server sekaligus hypervisor yang termasuk jenis
36
Server terinstal pada server, maka langkah selanjutnya adalah konfigurasi
workgroup, computer name, configure remote management, remote desktop,
pengaturan jaringan, disable firewall, dan enable firewall untuk group policy.
2. Konfigurasi Microsoft Hyper-V Server
A. Konfigurasi Workgroup
Pada menu Server Configuration berbasis CLI yang pada Microsoft
Hyper-V Server, penulis mengubah nama workgroup melalui menu
“Domain/Workgroup” dimana pada tahap selanjutnya penulis memilih workgroup
seperti yang tertera pada Gambar 4. 4. Pada kasus ini, penulis memberi nama
workgroup dengan nama BSI dikarenakan server terletak berada di Data Center
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alasan penulis menggunakan
workgroup dikarenakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta belum
mempunyai domain tersendiri sebagai domain pada server, sehingga penulis
menggunakan workgroup atas seijin dari Biro Sistem Informasi Universitas
37
Gambar 4. 4 Memilih Workgroup B. Mengubah Computer Name
Nama komputer atau computer name merupakan penamaan pada server
yang akan digunakan. Computer name berguna untuk memanggil server untuk
keperluan remote desktop ke server supaya dapat diakses secara jarak jauh. Pada
kasus ini, penulis memberi nama server yang akan digunakan dengan nama HV3
seperti yang tertera pada Gambar 4. 5. sebagai singkatan dari Hypervisor-3
dikarenakan sudah ada server lain yang menggunakan nama beserta urutan
38
Gambar 4. 5 HV3 sebagai Nama Server Hypervisor C. Pengaturan Remote Management
Pengaturan remote management berbeda dengan remote desktop yang juga
akan dikonfigurasi. Remote management berfungsi untuk mengelola server fisik
melalui Hyper-V Manager yang ada pada laptop penulis. Tidak hanya server yang
dapat dikelola melalui Hyper-V Manager, virtual machine yang sudah dibuat di
dalam server juga dapat dikelola. Hal ini memudahkan penulis mengelola dan
memantau kinerja server dan virtual machine dari ruangan yang berbeda dari
ruangan server. Untuk mengaktifkan remote management pada Microsoft
Hyper-V Server, penulis mengaktifkan melalui menu “Configure Remote Management”.
Selain mengaktifkan remote management, penulis juga mengkonfigurasi
ping ke server. Hal ini dilakukan supaya penulis dapat memastikan bahwa server
dalam kondisi hidup ketika akan digunakan, langkah awal untuk melakukan cek
tersebut yaitu dengan melakukan ping ke alamat IP server dari laptop penulis.
39
masih dalam pilihan konfigurasi remote management, penulis mengaktifkan
[image:45.595.112.511.207.408.2]melalui menu “configure server response to ping” seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 4. 6.
Gambar 4. 6 Mengaktifkan Server Response to Ping D. Konfigurasi Remote Desktop
Remote desktop perlu diaktifkan supaya penulis dapat masuk ke antarmuka
server tanpa harus berada langsung di depan server fisik. Server yang terletak di
Data Center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini dapat di-remote melalui
tempat lain. Dengan remote desktop, penulis dapat mengatur konfigurasi yang
dibutuhkan pada server apabila dibutuhkan tanpa perlu datang ke ruang Data
Center. Sebagai contoh penulis akan membuat virtual machine pada server
melalui windows powershell, maka penulis hanya perlu melakukan remote pada
server melalui remote desktop connection untuk mengakses windows powershell
pada server. Untuk mengaktifkan fitur remote desktop pada Microsoft Hyper-V
40
mengaktifkan fitur remote dekstop, maka akan muncul ditawarkan dua pilihan
yaitu; hanya mengijinkan client dengan Network Level Authentication , atau client
dengan remote desktop tanpa Network Level Authentication. Karena di lingkup
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta masih menggunakan workgroup sebagai
penghubung, maka penulis memilih remote desktop tanpa Network Level
Authentication atau less secure seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 7.
Gambar 4. 7 Penggunaan Tipe Remote Desktop Less Secure E. Pengaturan Jaringan
Pada pengaturan jaringan ini, penulis melakukan pengaturan pada kartu
jaringan aktif pada server, memasukkan alamat IP, memasukkan subnet mask,
memasukkan DNS server, memasukkan default gateway berdasarkan IP table
41
Tabel 4. 1 Daftar Distribusi Jaringan untuk Server
IP Address 10.255.88.6 Subnet Mask 255.255.240.0 Default Gateway 10.255.88.1 Preferred DNS 10.0.1.50 Alternate DNS 103.251.180.50
Dalam melakukan pengaturan alamat IP pada Microsoft Hyper-V Server
2012 R2, penulis mengatur melalui menu “Network Setting”. Setelah masuk
kedalam pilihan Network Setting, server akan menampilkan kartu jaringan yang
tersedia. Disini penulis menggunakan kartu jaringan Broadcom NetXtreme
Gigabit Ethernet #3 sebagai kartu jaringan untuk server dengan nomor index 19
seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 8.
Gambar 4. 8 Kartu Jaringan yang Tersedia
Pada kasus ini, penulis memilih alamat IP statik karena penulis sudah
42
penulis perlu memasukkan alamat IP, subnet mask, default gateway, dan alamat
DNS server. Untuk memastikan bahwa server sudah terhubung ke jaringan
internet, dapat dicoba dengan melakukan ping ke www.google.com. Apabila
sudah mendapatkan respon dari uji ping tersebut, maka konfigurasi jaringan yang
dilakukan sudah berhasil. Pengujian jaringan yang berhasil dapat dilihat pada
Gambar 4. 9.
Gambar 4. 9 Ping dari Server ke www.google.com F. Disable Firewall di Microsoft Hyper-V Server
Microsoft Hyper-V Server juga mempunyai firewall seperti sistem operasi
Windows pada umunya. Supaya dapat melakukan remote desktop ke server, maka
penulis harus men-disable firewall yang ada pada Microsoft Hyper-V Server.
Pada langkah ini, penulis menonaktifkan firewall pada Microsoft Hyper-V Server
43
Gambar 4. 10 Antarmuka Windows Powershell G. Menambahkan Username dan Password pada Local Group Policy
Menyimpan password dan username Hyper-V Server pada laptop penulis
dilakukan karena koneksi antara laptop yang digunakan oleh penulis untuk
melakukan remote ke Hyper-V Server menggunakan workgroup, sehingga apabila
hendak melakukan remote desktop ke server, username dan password pada
Hyper-V sudah dikenali terlebih dahulu oleh laptop penulis. Penulis menyimpan
username dan password melalui command prompt sebagaimana dapat dilihat pada
44
Gambar 4. 11 Menyimpan Username dan Password pada Local Group Policy H.Memberikan Ijin Akses Remote Desktop ke Anonymous Logon
Supaya penulis dapat melakukan remote management ke Hyper-V Server
melalui Hyper-V Manager, penulis memberikan ijin kepada user account yang
akan digunakan oleh penulis untuk melakukan pengelolaan melalui Hyper-V
Manager. Hal ini dilakukan karena penulis menggunakan lingkungan workgroup,
sehingga memperbolehkan user account yang tidak dikenal dalam lingkup
workgroup untuk mengakses Hyper-V Manager untuk kepentingan remoting.
Penulis melakukan konfigurasi ini melalui Component Service dengan masuk
45
Gambar 4. 12 Memberikan Ijin Remote Access untuk Anonymous Logon 3. Implementasi Virtual Private Server pada Hyper-V Server
Setelah server berhasil dikonfigurasi dan kartu jaringan sudah terhubung
ke jaringan luar, maka langkah selanjutnya penulis membuat virtual machine yang
akan diinstal Windows 8.1 Pro didalamnya sebagai sistem operasi/antarmuka
yang akan digunakan oleh pengguna. Selain melakukan instalasi Windows 8.1
sebagai virtual machine pada Hyper-V Server, penulis juga melakukan
konfigurasi jaringan pada host tersebut.
Dalam proses instalasi host, penulis menggunakan Windows 8.1 Pro yang
didapatkan dari situs resmi Dreamspark Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
dengan akun pribadi penulis. Proses pemindahan dilakukan menggunakan USB
flashdrive untuk memindahkan master file .iso Windows 8.1 kedalam direktori
46
Setelah master file dipindahkan kedalam direktori server, kemudian
penulis membuat virtual machine baru pada server menggunakan Windows
Powershell seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 13.
Gambar 4. 13 Membuat Virtual Machine Melalui Windows Powershell Perintah tersebut mewakili spesifikasi dari host yang dibuat. Spesifikasi
yang dibuat oleh penulis untuk host dijelaskan pada Tabel 4. 2.
Tabel 4. 2 Spesifikasi VPS/Host pada Virtual Machine
Spesifikasi Host pada Virtual Machine (Windows 8.1 Pro) Nama Virtual Machine Windows
Virtual Hard Disk 200 GB Jumlah Processor 4 core
Memori RAM 10 GB
47 4. Konfigurasi Virtual Private Server
A. Membuat Virtual Switch
Supaya host dapat terhubung ke jaringan melalui kartu jaringan yang aktif
pada server fisik, maka penulis membuat virtual switch melalui Windows
Powershell. Dalam pembuatan virtual switch, penulis menggunakan nama
“Public” sebagai nama virtual switch seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.
14.
Gambar 4. 14 Membuat Virtual Switch Baru
Namun sebelum menentukan bahwa “Function 0” yang akan digunakan
sebagai virtual switch, penulis melihat dari kartu jaringan yang aktif dan
digunakan oleh server fisik sebagai kartu jaringan untuk melakukan akses ke
48
Gambar 4. 15 Melihat Kartu Jaringan yang Aktif
Setelah virtual switch baru berhasil dibuat, maka akan muncul pada daftar
kartu jaringan dengan nama “vEthernet (Public)” sesuai dengan nama yang
penulis berikan pada saat membuat virtual switch seperti yang terlihat pada
Gambar 4. 16.
49
B. Konfigurasi Spesifikasi Virtual Private Server/Host
Kemudian penulis melakukan konfigurasi pada host melalui Hyper-V
Manager dari laptop penulis. Pada host yang diberi nama “Windows” yang dibuat
oleh penulis, penulis memberi 4 core processor pada host yang dibuat.
Selanjutnya penulis memasukkan master .iso yang sebelumnya sudah disimpan
pada direktori C:\Users\Administrator\Downloads sebagai master bootable yang
akan diproses oleh host.
Kemudian untuk kartu jaringan yang digunakan, pada Gambar 4. 17 dapat
dilihat bahwa penulis memilih virtual switch dengan nama “Public” yang
sebelumnya sudah dibuat. Virtual switch “Public” ini merupakan tipe external
sehingga host dapat mengakses jaringan internet luar, dan sebaliknya.
50 5. Konfigurasi Windows 8.1
A. Konfigurasi Computer Name dan Workgroup pada Host
Setelah konfigurasi host selesai, maka sistem operasi siap diinstal pada
host. Langkah instalasi sistem operasi pada host sama seperti instalasi sistem
operasi Windows pada umumnya. Penulis memberi nama komputer untuk
Windows 8.1 pada host tersebut “THIN CLIENT” dan nama workgroup “BSI”
[image:56.595.117.513.317.600.2]seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 18.
Gambar 4. 18 Informasi Sistem Host “Windows” B.Tagging VLAN
Supaya host dapat terhubung dengan jaringan internet luar dengan
menggunakan virtual switch yang sudah dibuat sebelumnya, maka penulis
51
[image:57.595.155.472.206.504.2]Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dapat dilihat pada
Gambar 4. 19 bahwa host dengan nama Windows sudah menggunakan VLAN 11
untuk terhubung ke jaringan melalui virtual switch “Public”.
Gambar 4. 19 Tagging VLAN C.Assign Alamat IP untuk Host
Setelah itu, penulis memberikan alamat IP statik pada host seperti yang
dapat dilihat pada Gambar 4. 20. Alamat IP yang digunakan merupakan alamat IP
52
Gambar 4. 20 Distribusi Jaringan untuk Virtual Machine C. Disable Firewall pada Host
Supaya virtual machine dapat diakses melalui remote desktop, penulis
men-disable firewall pada host seperti yang terlihat pada Gambar 4. 21. Selain itu,
firewall pada sistem operasi yang digunakan sebagai host diatur disable supaya
penulis dapat memantau koneksi jaringan dari laptop penulis ke host
53
Gambar 4. 21 Disable Firewall pada Host D.Allow Remote Desktop pada Host
Selain itu fitur remote desktop juga perlu diaktifkan supaya penulis dan
terminal pengguna diijinkan untuk melakukan remote desktop ke host.
54
Gambar 4. 22 Enable Remote Desktop pada Host
Setelah alamat IP jaringan, firewall, dan remote desktop sudah
dikonfigurasi, untuk melakukan pengujian apakah host sudah dapat mengakses
jaringan luar ataupun sudah diakses, penulis melakukan pengujian dengan ping
55
Gambar 4. 23 Pengujian Ping dari Laptop Penulis ke Host E. Enable Administrator
Penulis mengaktifkan akun Administrator pada Windows 8.1 Pro seperti
yang dapat dilihat pada Gambar 4. 24 untuk keperluan instalasi vSpace Terminal
Server 8.4.0.3B pada host dengan nama Windows yang akan dijadikan sebagai
56
Gambar 4. 24 Mengaktifkan akun Administrator pada Host F. Instalasi Aplikasi Produktivitas Kerja
Penulis juga melakukan instalasi untuk beberapa aplikasi produktivitas
kerja yang biasa digunakan oleh staf administrasi di Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 25. Hal ini juga
57
Gambar 4. 25 Aplikasi Produktivitas Kerja pada Host G. Pembuatan User Account
Setelah vSpace Terminal Server 8.4.0.3B dan aplikasi penunjang
produktivitas kerja berhasil diinstal, kemudia penulis membuat 5 user account
baru dengan role standard seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 26. Lima
user account ini yang akan digunakan pada 5 perangkat terminal pengguna
NComputing. Kemudian penulis memasukkan 5 user account tersebut kedalam
grup Remote Desktop Connection supaya 5 user tersebut mendapatkan hak akses
58
Gambar 4. 26 User Account untuk Terminal Pengguna NComputing H. Copying User Profile
Untuk memudahkan pembuatan profil baru pada masing-masing user,
penulis menggunakan Windows Enabler untuk meng-copy user profile dari
administrator ke setiap user lain tanpa membawa hak akses administrator.
Sebelum penulis meng-copy user profile, penulis menjalankan Windows Enabler
terlebih dahulu dengan “Run as Administrator” dan klik satu kali pada icon tray
Windows Enabler, maka Windows Enabler sudah aktif ditandai dengan label
“ON”. Sebelum profil administrator di-copy pada profil default, folder profil
default dihapus terlebih dahulu. Profil administrator di-copy melalui fitur “User
Profiles” dan diletakkan di folder “Default” yang ada pada direktori C:\Users\
sehingga seluruh user yang ada akan mempunyai profil default sebagaimana profil
pada administrator, dan berlaku juga untuk user baru yang dibuat. Button “Copy
59
Gambar 4. 27 Meng-copy Profil Administrator ke Default
Setelah profil berhasil di-copy, maka penulis menguji dengan login ke
salah satu user baru yang dibuat dengan user profile seperti administrator. Pada
Gambar 4. 28 terlihat ada 5 user account baru yang sudah dibuat dan user account
60
Gambar 4. 28 Lima User yang Sudah Dibuat
Profil yang sama dengan administrator yang penulis maksud disini adalah
tata letak tampilan dan pengaturan tampilan yang sama dengan administrator
seperti yang terlihat pada Gambar 4. 29, sehingga penulis tidak perlu mengatur
ulang tata letak icon dan fitur apa yang ingin ditampilkan. Secara default, user
akan memiliki tampilan yang sama dengan administrator tanpa membuang waktu
61
Gambar 4. 29 User-02 Memiliki User Profile sama dengan Administrator 6. Koneksi NComputing L300 ke Server
Pada sesi uji coba koneksi terminal pengguna NComputing L300 ke server
yang ada di Data Center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menulis
mencoba mengakses host dari ruang tutor prodi Teknologi Informasi gedung F4
lantai 2. Penulis menggunakan 1 terminal pengguna NComputing untuk menguji
62
Gambar 4. 30 Host pada Virtual Machine Diakses dari Gedung yang Berbeda dengan Lokasi Server
4.3. Tahap Verifikasi
Pada tahap verifikasi ini, penulis melakukan pengujian untuk
membuktikan bahwa hasil dari implementasi sistem jaringan thin client berbasis
dumb terminal mencapai tujuan dari yang sudah disebutkan pada subbab tujuan
penelitian.
4.3.1. Rancangan Penggunaan Perangkat Lunak Pengujian dan Perangkat Lunak Pendukung Aktivitas Pengguna
Pada pengujian kinerja jaringan thin client berbasis dumb terminal ini,
penulis menggunakan salah satu fitur yang ada pada Windows yaitu performance
monitor untuk mengukur 3 parameter dari 4 parameter yang akan diuji, yaitu
beban kinerja CPU, konsumsi penggunaan memori RAM, dan juga throughput
jaringan. Selain menggunakan performance monitor sebagai alat pengukuran
63
produktivitas kerja oleh pengguna dalam jaringan thin client, seperti Google
Chrome sebagai web browser, Microsoft Word 2013, dan Microsoft Excel 2013.
Penulis menggunakan 3 aplikasi tersebut sebagai media pengukuran kinerja
dikarenakan 3 aplikasi tersebut merupakan aplikasi yang intensitasnya paling
sering digunakan oleh staf administrasi di Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.
Performance Monitor
Aplikasi performance monitor memungkinkan pengguna untu