• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB I PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan: a. Dapat menjelaskan kembali kelompok ilmu

b. Dapat menjelaskan kembali pengertian ilmu pendidikan.

c. Dapat membedakan ilmu pendidikan dalam bidang kajian filsafat ilmu

1.1. Kelompok Ilmu

Filsafat yang pada mulanya meliputi semua ilmu yang ada pada masa itu, telah berkembang menjadi berbagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Berdasarkan pada sumber, sifat atau karakteristik dan susunannya, orang membuat klasifikasi terhadap ilmu-ilmu yang ada. Menurut pembagian klasik, ilmu dibedakan atas ilmu-ilmu kealaman (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Di Indonesia berdasarkan Undang-undang pokok pendidikan tentang perguruan tinggi no 22 tahun 1961, Ilmu-ilmu dibagi dalam empat kelompok, yaitu (1) Ilmu agama/krohanian, 2) ilmu kebudayaan, 3) ilmu sosial dan 4) Ilmu eksakta dan teknik.

(2)

peningkatan kualitas manusia, yang meliputi kualitas mental spiritual, kualitas fisik dan kualitas intelektual. Dengan demikian hasil dari proses pendidikan yakni manusia yang berkualitas, merupakan pemeran dalam berbagai aktivitas sosial, baik dalam bidang ekonomi, hukum , sosial politik maupun bidang ketatanegaraan. Hal ini menunjukkan adanya kaitan antara ilmu pendidikan dengan ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian tidak berarti bahwa kaitan antara ilmu pendidikan dengan ilmu-ilmu lainnya tidak penting.

(3)

A. Ilmu Alam

Berikut ini diberikan beberapa pandangan tentang science atau sains yang dapat berarti pengetahuan ilmiah pada umumnya, tertapi dapat pula berarti ilmu yang mempelajari tentang alam saja atau ilmu kealaman. Dengan mencermati pandangan-pandangan ini dapat ditentukan mana yang termasuk ilmu pada umumnya dan mana yang termasuk ilmu kealaman.

Connant dalam science, man and society menyatakan bahwa masyarakat awam memandang science sebagai aktivitas manusia yang bekerja dalam laboratorium yang penemuannya memungkinkan berjalannya industri modern dan pembuatan obat secara besar-besaran. Connan juga mengemukakan bahwa science merupakan serangkaian konsep dan skema konseptual yang dikembangkan sebagai hasil eksperimen dan observasi yang berguna bagi observasi dan eksperimen selanjutnya.

Suppe seorang ahli fisika berpendapat bahwa science adalah pengetahuan tentang alam (natural world) yang di[peroleh dari interaksi indra dengan dunia tersebut.

(4)

Pengetahuan tentang masyarakat dan tingkah laku timbul kemudian, dan dalam perkembangannya ini juga dipelajari menggunakan langkah yang ilmiah pula. Dengan demikian kemudian pengetahuan tentang masyarakat dipandang sebagai ilmu juga.

Sebagai mahluk jasmani dan rohani, mausia memiliki beragai kebutuhan yang kebanyakan harus dilakukan bersama orang lain secara kerjasama. Kebutuhan tersebut disamping kebutuhan biologis juga memerlukan kebutuhan emosional antara lain kasih sayang, pengakuan penghargaan pengertian rasa aman dan aktualisasi diri. Sebagai individu manusia memiliki keinginan, aspirasi dan motivasi. Sebagai mahluk sosial yang memiliki interelasi, interaksi dengan anggota lain dengan masyarakat. Hubungan yang komplek antar individu dan kelompok dibahas dalam studi ilmu sosial yang meliputi sosiologi, ilmu ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.

(5)

Data kualitatif disamping diperoleh dengan observasi perlu digunakan angket dan/ atau wawancara. Misalnya wawancara harus dilakukan terhadap responden yang mewakili kelompok masyarakat pengunjung puskesmas tertentu untuk mengetahui kualitas pelayanannya kepada para pasien. Sebaliknya model wawancara dan angket tidak dapat digunakan dalam penelitian bidang kimia atau fisika. Jadi ilmiah tidaknya suatu metode tergantung dari sifat atau karakteristik penelitian itu sendiri.

Dalam penelitian bidang sosial meskipun digunakan eksperimen dengan metode kuantitatif, namun observasi perlu harus dilakukan sebagai pengecekan silang. Hal ini disebabkan karena jawaban manusia terhadap pertyanyaan yang diajukan melalui angket atau wawancara tidak sesuai dengan tingkah laku sebenarnya.

(6)

celscius dan pada tekanan udara 1 atm dimana penelitian itu dilakukan, pasti akan mendidih. Sebaliknya generalisasi hasil penelitian sosial misalnya” kekuasaan itu cenderung kepada korupsi atau power tends to corrupt” menunjukkan bahwa masih mungkin terjadi kekecualian. Hal ini disebabkan karena sukar sekali untuk mendapatkan siatusi yang betul-betul sama di berbagai tempat penelitian.

1.2. Ilmu Pendidikan.

Ilmu Pendidikan merupakan ilmu terapan yang terutama melibatkan psikologi dan sosiologi. Bidang-bidang studi lain seperti fisika, kimia, biologi, matematika, sejarah, ekonomi, bahasa juga dapat terkait dengan ilmu pendidikan dan merupakan ilmu pendidikan bidang-bidang studi tertentu yang biasa dikenal sebagai pendidikan bidang studi saja seperti pendidikan sejarah, pendidikan olahraga, pendidikan ekonomi dan lain-lain.

(7)

berkembang, para ilmuwan mengkomunkasikan hasil penelitiannya kepada sesama ilmuwan melalui eksplanasi ilmiah. Pada saat itu diberikan sanggahan dan diajukan pertanyaan-pertanyaan melalui diskusi. Hasil penelitian yang merupakan bahan kajian produk sains ini ditransfer pada khalayak termasuk peserta ddidik dan perguruan tinggi. Kegiatan ini merupakan transfer pengetahuan (tranfer of knowlwdge) dari ilmuwan kepaa peserta didik.

Setelah ilmu pendidikan berkembang, tranfer pengetahuan kepada peserta didik dilakukan oleh guru dan merupakan tanggung jawab guru. Dengan demikian kaitan antara ketiga unsur yakni bahan kajian, guru dan peserta didik dalam proses belajar mengajar makin penting. Lee Shulman dari Stanford University menyatakan bahwa pengembangan pengetahuan guru dalam kaitannya dengan pengajaran meliputi tiga kategori yakni bahan kajian (subject matter) pedagogi dan kurikulum (Trowbridge dan Bybee, 1990)

(8)

disebut pedagogue, dan sejak abad ke 19 pedagogi merupakan ilmu dan seni mengajar.

Adapun bahan kajian (subject matter) atau materi subyek yang harus menjadi pengetahuan guru tidak hanya sekedar informasi dan fakta dari disiplin ilmu tertentu, tetapi juga meliputi struktur substantif dan struktur sintatik dari disiplin ilmu tesebut. Pengetahuan substansial (substantial knowledge) menunjuk pada pemahaman tentang bagaiaman konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip suatu disiplin ilmu itu diatur atau diorganisasikan, sedangkan struktur sintatik disiplin ilmu menunjuk pada cara-cara ilmuwan menentukan kebenaran (truth) dan kekeliruan(falsehood) serta validitas dan invaliditasnya.

(9)

Dimensi lain dari pengetahuan pedagogi ialah pemahaman tentang apa yang membuat suatu konsep mudah atau sukar dipahai oleh peserta didik, misalnya miskonsepsi apa yang mungkin timbul tentang suatu fenomena. Prakonsepsi apa yang telah dimiliki peseta didik tentang dunia nyata atau lingkungan mereka.

Seorang guru dituntut pula untuk memiliki pengetahuan tentang kurikulum. Hal ini penting agar ia dalam melaksanakan pengajaran berdasarkan tindakan pedagogik yang dipilih juga mengkaitkan konsep-konsep tertentu dengan konsep-konsep lain dari disiplin lain atau dengan fenomena yang telah diketahui oleh peserta didik.

(10)

International Chemical Society juga mempunyai divisi pendidikan kimia yang membahasa tentang pendidikan kimia di berbagai jenjang pendidikan kimia, termasuk di berbagai jurusan di perguruan tinggi. Kedua, bila ditinjau dari sudut pandang ilmu pendidikan maka pendidikan bidang studi termasuk dalam lingkup ilmu pendidikan dengan bidang kajian yang khas dengan disiplin ilmu tersebut.

Secara filsafati bahasan tentang ilmu pendidikan akan terkait dengan hakekat pendidikan nasioal. UU No 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional mengisyaratkan bahwa pendidikan berusaha menyiapkan individu-individu yang bermoral, berjiwa pancasila, berkepribadian dan berkebudayaan Indonesia disamping mengembangkan segi kognitif individu peserta ddidik tersebut.

Literatur-literatur pendidikan umumnya menyebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk menghasilkan manusia yang dalam perilakunya dinlai baik oleh lingkungannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan nasional merupakan pendidikan yang berusaha membantuk manusia Indonesia seutuhnya dengan mengembangkan segi mental, spiritual dan intelektual seseorang secara seimbang.

(11)

Dalam setiap ilmu dibahas perkembangan ilmu, pengembangan konsep kaitan antar konsep-konsep, pembentukan teori-teori baru melalui penelitian dan lain-lain. Demikian pula untuk setiap ilmu dikembangkan pendekatan dan metodologinya masing-masing yang dikenal dengan istilah logika internal. Akan tetapi hal-hal yang sifatnya mendasar dan pandangan menyeluruh tentang imu tertentu dikaji oleh filsafat ilmu bersangkutan. Pada hakekatnya kajian dalam filsafat ilmu meliputi ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu tersebut.

A. Ontologi.

Ontologi membahas tentang hakekat ilmu, pandangan-pandangan terhadap hakekat ilmu, termasuk pandangan-pandangan terhadap sifat atau ciri ilmu tersebut yang dapat berkembang sesuai perkembangan pemikiran manusia.

(12)

pandangan dari para filsuf, penguasa atau pemuka agama, ia akan dijatuhi hukuman. Contoh pada abad 16 iyakini oleh para penguasa dan pemimpin gereja di Italia bahwa alam semesta berpusat pada bumi (Geosentris). Matahari, bulan dan bintang bergerak mengelilingi bumi. Panangan ini berasal dari Ptolemaeus (100-178 M), seorang ilmuwan ahli astronomi dan matematika dari Alexandria. Lebih dari 141abad kemudian Copernicus (1473-1543), seorang ahli astronomi Polandia memperkenalkan pendapatnya bahwa pusat alam semesta adalah matahari (Heliosentris). Pandangan ini didukung oleh Galileo Galilei (1564-1642) seorang ahli astronomi dan ahli fisika Italia melalui penelitiannya yang menggunakan teleskop. Karena pandangan Galileo ini dianggap melawan pendapat gereja yang masih menganut teori Ptolemaeus, maka Galileo diasingkan hingga akhir hayatnya.

(13)

pada ilmuwan karena hasil penelitiannya menghancurkan umat manusia. Ilmu secara berangsur-angsur menjadi tidak bebas nilai dan para ilmuwan mulai memikirkan kegunaan produk sains yakni hukum, teori da konsep untuk kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia.

Dewasa ini para ilmuwan harus memilih obyek penelitian yang tidak melanggar etika. Misalnya tidak etis untuk meneliti bagaimana bentuk bayi yang dilahirkan dari manusia dengan gorila melalui metode bayi tabung.

B. Epistemologi

Epistemologi secara operasional membahas apa sarana dan bagaimana memperoleh pengetahuan atau ilmu tertentu. Yang terkait dengan epistemologi antara lain adalah logika, filsafat, bahasa, anlisis wacana dan matematika. Pengembangan ilmu dilakukan oleh ilmuwan melalui penelitian ilmiah sebagai sarananya.

(14)

Dalam epistemologi dibahas perbedaan paradigma antara peneliti dalam sains dan dalam ilmu sosial. Paradigma penelitian seorang ilmuwan adalah pandangannya tentang penelitian yang memberikan pedoman bagi para ilmuwn tersebut dalam melakukan penelitian-penelitian ilmiahnya. Ada dua paradigma yang merupakan dua kutub yaitu paradigma positivistik atau scientific paradigm dan paradigma naturalistik. Padanan dari scientific paradigm adalah paradigma ilmiah, namun tidak berarti bahwa paradigma yang lain tidak ilmiah. Pra ilmuwan yang memiliki paradigma positivitik yakni yang melakukan penelitian bidang ilmu kealaman memandang realitas sebagai fragmen-fragmen yang mudah diisolasi dari lingkungannya. Yang diteliti merupakan obyek dari peneliti dan tidak ada saling ketergantungan. Di lain pihak para peneliti bidang sosial memiliki paradigma naturalistik, karena fenomena yang dikaji harus bersifat wajar atau alami. Persoalan di masyarakat memiliki multikausal, sangat kompleks dan selalu ada interelasi antar peneliti dengan yang diteliti. Yang diteliti biasanya disebut subyek penelitian bukan obyek penelitian.

(15)

ilmiah. Di samping itu para pendidikan menggunakan hasil penelitian ilmiah untuk dijadikan sains sekolah yang dipilih dan disesuaikan dengan perkembangan intelektual peserta didik. Sain sekolah ini yang kedalamannya berbeda antara jenjang masing-masing sekolah, diolah secara pedagogik oleh guru dan merupakan eksplanasi pedagogik. Adapun persyaratan utama tyang harus diperhatikan oleh guru ialah bahwa eksplanasi pedagogik tidak bertentangan dengan eksplanasi ilmiah. Jadi seorang guru harus mengusai materi yang akan diajarkan dengan baik melalui penyerapan terhadap materi yang dikemukakan oleh para ilmuwan.

C. Aksiologi

(16)

diarahkan pada proses-proses untuk meningkatkan mutu produk.

Dewasa ini hasil penelitian ilmuwan sangat diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Misalnya penelitian alam bidang kimia menghasilkan bahan untuk membentuk plastik yang dibuat dalam industri. Kebanyakan plastik tidak dapat dimusnahkan kecuali dengan dibakar. Maka terjadilah timbunan sampah plastik. Para ilmuwan kemudian memikirkan bagaimana dapat membuat bahan pembentuk plastik yang dapat dihancurkan oleh mikroorganisme. Untuk menyelesaikan masalah tersebut dilakukan penelitian lagi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

(17)

Daftar Bacaan Utama:

Anna Poedjiadi (1999), Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik, Bandung, Penerbit Yayasan Cendrawasih.

Referensi

Dokumen terkait

12.15-13.00 Geografi Biologi Seni Budaya PKn TIK Agama Fisika Sejarah Indonesia Kepangudiluhuran Antropologi Matematika IPA Bahasa Inggris Prakarya Ekonomi Bahasa Mandarin

 Mata kuliah dasar keahlian : demografii psikologi sosial, ekonomi, sosiologi, logika, bahasa, fisika, kimia, matematika, biologi, anatomi- fisiologi, biokimia,

Sementara, jenis lomba untuk siswa SMA meliputi bidang Matematika, Fisika, Kimia, Informatika/Komputer, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, dan Bidang Geografi.. Pada siswa

Termasuk dalam tipe ilmu-ilmu kealaman adalah ilmu-ilmu seperti ilmu-ilmu fisika, kimia dan biologi, serta ilmu-ilmu khusus lain yang merupakan pengkhususan lebih lanjut ataupun

Pada pengolahan nilai raport, diinput 11 nilai mata pelajaran yang didapat oleh siswa yaitu Matematika, Ekonomi, Fisika, Kimia, Biologi, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,

1) Ilmu-ilmu yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan teknologi adalah ilmu-ilmu dasar yaitu, ilmu fisika, ilmu kimia, biologi, dan matematika. 2) Ilmu-ilmu dasar fisika,

Pemetaan Kualitas Pendidikan Kota Dumai Berdasarkan Nilai Uji Kompetensi Guru Bidang Ilmu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ekonomi Akutansi.

CAPAIAN PEMBELAJARAN KK-1 : Mampu menggunakan pengetahuan matematika, ilmu fisika, ilmu kimia dan dan/atau biologi yang terkait dengan proses, sistem pemrosesan, dan peralatan yang