HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN DENGAN PERILAKU MENABUNG PADA PEKERJA USIA DEWASA AWAL

78 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN DENGAN

PERILAKU MENABUNG PADA PEKERJA USIA DEWASA AWAL

SKRIPSI

Oleh : Nurul Wahidah 201210230311009

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

ii

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN DENGAN

PERILAKU MENABUNG PADA PEKERJA USIA DEWASA AWAL

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu

persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Oleh : Nurul Wahidah 201210230311009

FAKULTAS PSIKOLOGI

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Skripsi : Hubungan persepsi terhadap masa pensiun dengan perilaku menabung pada pekerja usia dewasa awal

2. Nama Peneliti : Nurul Wahidah

3. NIM : 201210230311009

4. Fakultas : Psikologi

5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang 6. Waktu Penelitian : 7 – 20 Januari 2016

Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji pada tanggal 30 April 2016 Dewan Penguji

Ketua Penguji : Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si ( ) Anggota Penguji : 1. Susanti Prasetyaningrum, M.Psi ( )

2. Ni’matuzahroh S.Psi., M.Si ( )

3. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi ( )

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si Susanti Prasetyaningrum, M.Psi

Malang, 30 April 2016 Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(4)

iv

SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan dibawah ini :

Nama : Nurul Wahidah

Nim : 201210230311009

Fakultas /Jurusan : Psikologi

Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul :

Hubungan Persepsi terhadap Masa Pensiun dengan Perilaku Menabung Pada Pekerja Usia Dewasa Awal

1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan sumbernya 2. Hasil tulisan karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan

Hak bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapat sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku

Malang, 30 April 2016 Mengetahui

Ketua Program Studi Yang Menyatakan

(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Persepsi terhadap Masa Pensiun dengan Perilaku Menabung pada Pekerja Usia Dewasa Awal” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Bapak Zakarija Achmad S.Psi, M.Si selaku dosen pembimbing 1 dan Ibu Susanti Prasetyaningrum M.Psi selaku dosen pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Bapak Muhammad Shohib, S.Psi, M.Si selaku dosen yang banyak membantu dalam penelitian mengenai Psikologi Ekonomi.

4. Ibu Diana Savitri Hidayati, M.Psi selaku dosen wali yang telah memberikan nasihat, dukungan, dan motivasi kepada penulis mulai dari awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bentuk pencurahan wawasan akademik dan wawasan moral kepada penulis.

6. Staff Tata Usaha Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang terima kasih karena telah banyak membantu dalam hal administrasi.

7. Ayahanda Alm. Aminur, ibunda Hamidah, adinda Nur Hidayat Tsani, serta keluarga besar H. Asnawi dan Alm. H. Achmad sebagai kekuatan luar biasa penulis hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk do’a, kasih sayang serta segala dukungannya.

8. Heru Jayadi yang selalu memberikan kasih sayang, perhatian, doa dan dukungan dari awal perkuliahan hingga saat ini.

9. Risa Septiana, Amynindya Pramulyanti, Yunita Rachmawati, Rena Hidayati, Rizky Amelia atas segala nasihat, omelan, kesabaran, kasih sayang. Semoga persahabatan ini dapat terus terjalin.

(6)

vi

11.Laboratorium Fakultas Psikologi beserta asisten, untuk setiap dukungan dan bantuan selama ini.

12.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah banyak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada penulis.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan dan mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya atas segala yang telah mereka berikan kepada penulis dengan suatu harapan bahwa kesuksesan dan keberhasilan selalu ada dalam diri kita. Aamiin.

Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, begitupun apa yang penulis tulis masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapakan. Penulis berharap semoga ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan kepada pembaca.

Malang, 30 April 2016 Penulis

(7)

vii

DAFTAR ISI

COVER ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL...viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAK ... 1

PENDAHULUAN ... 2

LANDASAN TEORI ... 6

Perilaku Menabung ... 6

Persepsi Masa Pensiun ... 7

Hubungan Persepsi Masa Pensiun dengan Perilaku Menabung ... 10

Hipotesa ... 12

METODE PENELITIAN... 13

Rancangan Penelitian ... 13

Subjek Penelitian ... 13

Variabel dan Instrumen Penelitian ... 13

Prosedur Penelitian dan Analisa Data Penelitian ... 14

HASIL PENELITIAN ... 15

DISKUSI ... 17

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 19

REFERENSI ... 20

(8)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Indeks Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 14

Tabel 2. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 15

Tabel 3. Deskripsi Responden Berdasarkan Usia ... 15

Tabel 4. Deskripsi Responden Berdasarkan Status... 15

Tabel 5. Identifikasi Skor Skala Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 16

Tabel 6. Identifikasi Skor Skala Perilaku Menabung ... 16

(9)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I

Skala Try Out Persepsi terhadap Masa Pensiun dan Perilaku Menabung

Skala Try Out Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 24

Skala Try Out Perilaku Menabung ... 26

LAMPIRAN II Analisa Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Validitas dan Reliabilitas Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 29

Indeks Validitas dan Reliabilitas Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 31

Validitas dan Reliabilitas Perilaku Menabung ... 31

Indeks Validitas dan Reliabilitas Perilaku Menabung ... 32

LAMPIRAN III Blue Print Skala Persepsi Terhadap Masa Pensiun dan Perilaku Menabung Blue print skala Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 34

Blue print skala Perilaku Menabung... 36

LAMPIRAN IV Skala Penelitian Skala Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 43

Skala Perilaku Menabung ... 45

LAMPIRAN V Tabulasi Data Penelitian Tabulasi Data Penelitian Persepsi Terhadap Masa Pensiun ... 47

Tabulasi Data Penelitian Perilaku Menabung ... 56

LAMPIRAN VI Uji Asumsi Normalitas Data ... 66

Linieritas ... 69

(10)

1

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN DENGAN

PERILAKU MENABUNG PADA PEKERJA USIA DEWASA AWAL

Nurul Wahidah

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang nurulwhdh24@gmail.com

Pensiun merupakan masa yang alamiah dialami pekerja apabila telah mencapai batas usia pensiun. Setiap pekerja memiliki persepsi berbeda dalam mengartikan pensiun. Menabung dapat dijadikan salah satu solusi untuk menghadapi perubahan finansial pada masa pensiun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap masa pensiun dengan perilaku menabung pada pekerja usia dewasa awal. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional dengan subjek penelitian berjumlah 250 karyawan swasta usia 20 – 40 tahun di Kota Balikpapan. Metode pengambilan data menggunakan skala persepsi terhadap masa pensiun dan skala perilaku menabung yang dianalisis melalui korelasi

product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin positif persepsi terhadap masa pensiun maka semakin tinggi perilaku menabung, begitu pula sebaliknya (p = 0.000, r = 0.478) dengan sumbangan efektif variabel persepsi terhadap masa pensiun dengan perilaku menabung sebesar 22.84%.

Kata kunci : persepsi terhadap masa pensiun, perilaku menabung, pekerja usia dewasa awal

Retirement is the natural time which is experienced by the employees if they have reached the limit of retired age. Employees has different perception about retirement. Saving can be be chosen as one of the solutions to face the financial change in the retirement time. The aim of this research is to find out the relationship between the perception about retirement time and saving behavior toward employee in the early mature age. This research is the correlational quantitative research with the research subject is 250 employees in the range age of 20 - 40 years in Balikpapan. The method of obtaining data used the perception scale toward retirement time and saving behavior scale which are analyzed through product moment correlation. The result shows that the more positive perceptions about retirement of the higher savings behavior, and vice versa (p = 0.000, r = 0.478) with the effective variable contribution of the perception about retirement time with saving behavior in amount of 22.84%.

Keywords: The perception toward retirement time, saving behavior, employee in the early

(11)

2

Proses kehidupannya individu selalu mengalami sebuah siklus dimana akan adanya peningkatan dan penurunan dalam perkembangan fisik, kognitif maupun psikologis pada waktu tertentu sesuai dengan masa perkembangan yang dijalani. Proses kehidupan seorang individu dimulai dari masa janin dalam kandungan, terlahir sebagai bayi, dan terus mengalami berbagai perkembangan menuju masa dewasa, hingga akhir usianya menjelang kematian. Menurut Santrock (2012) untuk masa dewasa itu sendiri terbagi 3, diantaranya masa dewasa awal (usia 21– 40 tahun), masa dewasa menengah (usia 41 – 60 tahun), dan masa dewasa akhir (usia 61 – kematian). Dan untuk pekerja produktif itu sendiri masuk dalam tahapan masa dewasa awal.

Menurut Santrock (2012) puncak performa fisik terjadi antara usia 19 hingga 26 tahun. Sejak usia pertengahan dua puluh hingga akhir dewasa awal, individu juga sering mencari kestabilan untuk karier awal mereka di bidang tertentu. Mereka mungkin bekerja keras untuk meningkatkan karier dan memperbaiki keadaan finansial mereka. Selain itu, secara kognitif puncak kreativitas individu diraih di masa dewasa sekitar pada usia empat puluhan, setelah itu mengalami penurunan. Pada tahapan usia ini, manusia mengalami perubahan yang signifikan di dalam hidupnya, hal ini dapat dilihat pada tuntutan yang diharapkan dari dewasa muda untuk menjalani peran-peran baru dalam hidupnya. Karena hal inilah, tepat apabila usia dewasa awal merupakan usia yang produktif bagi seorang pekerja dalam kehidupan kariernya.

Bagi individu yang bekerja, akan mendapatkan upah dari hasil kerjanya. Seperti yang telah tercatat dalam UU Ketenagakerjaan Pasal 88 ayat 1 No 13 Tahun 2003 yang berbunyi, “Setiap pekerja / buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Hal demikian dilakukan sebagai bentuk kewajiban dari pihak pemilik lapangan pekerjaan untuk memberikan apresiasi atau imbal balik terhadap kinerja dari pekerja. Namun nyatanya masih saja adanya demo yang dilakukan para buruh atau pekerja di Jakarta kepada pihak Pemerintah untuk menuntut berbagai hal, diantaranya kenaikan upah minimum sebesar 25% pada tahun 2016 serta adanya jaminan pensiun untuk para pekerja. Hal ini dikarenakan semakin butuhnya masyarakat menuntut kesejahteraan bagi kehidupannya baik ketika bekerja maupun setelah memasuki pensiun nanti (Praditya dalam (Liputan6.com, 31 Agustus 2015)).

Penelitian yang dilakukan di Malaysia oleh Ibrahim, Isa & Ali (2012) mendapatkan hasil bahwa tingkat kesadaran karyawan Malaysia dianggap masih rendah mengenai tabungan pensiun. Banyak dari mereka yang kurang memahami mengenai pentingnya tabungan untuk pensiun. Mereka hanya menyadari kebutuhan untuk menabung untuk pensiun nanti ketika mereka memiliki cukup uang untuk membiayai pengeluaran masa depan mereka. Sehingga hal ini menyebabkan banyak pensiunan harus kembali memasuki pasar kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ketika pensiun nanti. Memang ketika berbicara mengenai tabungan pensiun lebih mudah mengatakannya dibanding untuk menjalaninya, namun hal itu bisa diubah dengan dukungan dari semua pihak serta upaya gigih untuk melakukannya. Setidaknya individu harus mampu memahami tentang pentingnya menabung bagi kehidupan.

(12)

3

karena untuk menghadapi hal-hal darurat (sakit, menganggur), cadangan kebutuhan, masa tua atau pensiun, kebutuhan anak-anak, membeli rumah atau barang yang tahan lama dan untuk liburan.

Jika menilik lebih dalam proses dalam bekerja bukan merupakan proses yang singkat hanya terjadi sehari dua hari. Individu akan menjalani proses bekerja selama bertahun-tahun, selama membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Proses yang dijalani itu juga akhirnya akan membawa pada masa pensiun apabila telah tiba waktunya. Rata-rata usia pensiun pekerja yaitu usia 56 tahun untuk pekerja swasta (Undang Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional) atau tergantung pada peraturan yang ada dalam perusahaan dimana ia bekerja dan 58 tahun untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) (PP RI Nomor 21 Tahun 2014). Jika merujuk berdasarkan teori perkembangan, usia tersebut masuk dalam masa perkembangan dewasa akhir. Adapun ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya antara lain : perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam sistem saraf dan penampilan. Ciri-ciri usia lanjut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang buruk daripada yang baik dan kepada kesengsaraan daripada kebahagiaan (Hurlock (dalam Jahja, 2011)).

Dari perubahan yang terjadi pada individu yang telah memasuki usia dewasa akhir, ditambah pula pada masa ini individu mulai memasuki masa pensiun, sehingga memunculkan berbagai persepsi mengenai diri individu yang akan menjalani kehidupan pasca pensiun. Karena hal ini, muncullah anggapan-anggapan pada individu bahwa masa pensiun merupakan tanda seseorang sudah tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi karena produktivitas yang sudah menurun. Hal ini disebabkan karena munculnya rasa pesimis akibat ketidaksiapan menghadapi masa pensiun karena merasa kondisi fisik semakin lemah, menderita berbagai penyakit, cepat lupa, dan penampilan menjadi tidak menarik (Paidi, 2013).

Setiabudi & Maruta (2015) mengatakan bahwa setiap orang yang memasuki masa pensiun memiliki sudut pandang yang berbeda dan dengan berbagai perasaan. Pensiun dapat menimbulkan depresi ketika yang bersangkutan kehilangan identitas diri, kenyamanan, dan penghasilannya. Namun pensiun juga dapat memberikan perasaan puas atas pencapaian pribadi ketika yang bersangkutan merasa sehat dan bahagia karena keberadaannya diakui. Itulah saat ketika ia merasa telah memberikan sumbangsih yang lebih besar bagi keluarganya dan bagi masyarakat.

(13)

4

Pada masa ini, tidak semua individu mampu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi semua perubahan yang terjadi dalam dirinya tersebut. Karena persiapan yang kurang inilah akhirnya akan berdampak pada kehidupan individu setelah masuk pada masa pensiun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nuraini (2013), bahwa dalam menghadapi masa pensiun bukan merupakan hal yang mudah dan seringkali dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan seseorang di masa yang akan datang sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi yang menjalaninya. Kecemasan itu muncul ketika individu merasa akan terjadi perubahan peran, nilai dan pola hidup individu secara menyeluruh. Bagi individu yang belum siap menghadapi pensiun dan menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan psikologis, finansial dan sosial yang mungkin terjadi akan menganggap bahwa pensiun merupakan suatu periode kepahitan, kegetiran dan sesuatu yang mengancam, karena terpaksa harus kehilangan hal-hal yang pernah menjadi miliknya.

Penelitian lain di lakukan oleh Prasojo (2011), dari penelitian yang membandingkan kecemasan dalam menghadapi pensiun pada pegawai Kementrian Agama di Kabupaten Banjarnegara yang memiliki istri bekerja serta tidak bekerja ternyata lebih tinggi kecemasan bagi pegawai yang memiliki istri juga bekerja. Seharusnya hal ini tidak terjadi karena mengingat bahwa istri mereka juga seorang pekerja yang akan membantu finansial keluarga. Namun, kecemasan ini justru lebih besar dirasakan karena beberapa kemungkinan, diantaranya : kondisi ekonomi yang belum mapan, secara mental belum siap menerima pensiun, merasa masih sehat dan mampu bekerja serta berkurangnya penghasilan dan merasa malu karena isterinya masih bekerja.

Jika merujuk dari kedua penelitian tersebut, salah satu faktor yang menyebabkan masa pensiun merupakan suatu masa yang identik dengan munculnya kecemasan-kecemasan yaitu akibat kurangnya persiapan dalam menghadapinya. Namun menariknya, tidak sedikit pula individu yang memiliki persepsi positif dalam menanggapi tentang masa pensiun. Beberapa dari mereka mempersepsikan dengan datangnya masa pensiun akan menambah intensitas waktu berkumpul dengan anggota keluarga yang dahulu pernah tersita karena kesibukan bekerja, serta dapat lebih meningkatkan kesehatan karena berkurangnya beban kerja yang dihadapi. Hal ini semua tergantung kesiapan individu dalam menghadapi masa pensiun sewaktu masih aktif bekerja dahulu. Berdasarkan hasil penelitian Yunian (2013), dapat disimpulkan bahwa post power syndrome yang dialami anggota Badan Pembina Pensiunan Pegawai (BP3) Pelindo berada pada kategori rendah karena tidak lepas dari peran organisasi BP3 Pelindo dalam melakukan agenda kegiatan yang sangat berguna dan bermanfaat sehingga anggotanya bisa menjalani pensiun dengan tenang dan bahagia.

(14)

5

Dari kedua persepsi tentang masa pensiun ini, persepsi negatif inilah yang akan mendatangkan kecemasan-kecemasan bagi karyawan yang akan menghadapi masa pensiun. Sehingga tidak sedikit pengaruh dari persepsi ini akan membuat individu merasa bahwa pensiun merupakan masa keterpurukan. Pilihan mengenai hidup seperti apa yang akan dijalani seseorang ketika pensiun tergantung pada bagaimana dia mempersiapkan masa pensiunnya. Semakin baik seseorang mempersiapkan diri menghadapi perubahan ini, semakin sukses dan nyaman masa pensiunnya, dan semakin banyak kesilapan yang dapat dihindari menurut Setiabudi & Maruta (2015).

Persepsi negatif yang sering muncul ketika memasuki masa pensiun salah satunya finansial yang menurun sehingga tidak mampunya memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga lagi. Finansial yang menurun disebabkan karena ketika sudah memasuki masa pensiun, hal itu berarti telah berakhir pemasukan wajib untuk memenuhi kebutuhan bulanan seperti waktu dahulu bekerja. Ini ditambah pula kurangnya persiapan karyawan sejak masa bekerja khususnya dalam hal finansial. Jahja (2011) mengatakan bahwa dengan berkurangnya pendapatan setelah pensiun, membuat mereka terpaksa harus menghentikan atau mengurangi kegiatan yang dianggap menghamburkan uang. Sehingga akibatnya harus ada strategi baru dalam hal pengelolaan finansial untuk dapat tetap menjalankan roda perekonomian di keluarga.

Masa pensiun tidak datang secara tiba-tiba, sehingga ada banyaknya waktu yang dapat di lakukan untuk melakukan persiapan sebelum menghadapi masa tersebut. Karena masa pensiun rata-rata akan masuk pada usia dewasa madya dan akhir, di mana pada masa itu kemampuan fisik maupun kognitif akan mulai menurun di bandingkan dengan masa dewasa awal, sehingga penting untuk mempersiapkan datangnya masa pensiun tidak hanya ketika akan memasuki masa itu. Persiapan itupun dapat di lakukan sejak awal bekerja, yaitu ketika usia individu memasuki dunia kerja pada tahapan dewasa awal, untuk menghindari segala kemungkinan terburuk yang akan di hadapi pada masa pensiun.

(15)

6

Perilaku Menabung

Dari sudut pandang Psikologi, tabungan merupakan sebuah proses pengambilan keputusan dan menabung sebagai kegiatan rutin untuk tercapainya sebuah tujuan (dana pensiun, membeli sesuatu, memberi hadiah) (Lewis, Webley & Furnham 195; Warneryd, 1999). Menurut Lea, Tarpy & Webley (1987) secara ekonomi menabung merupakan menggunakan uang yang tidak di gunakan untuk konsumsi, dengan cara menyimpan di suatu tempat (teko, kaos kaki lama, saku, bank, dll). Sedangkan secara psikologi menabung adalah proses tidak menghabiskan uang untuk periode saat ini untuk digunakan di masa depan. Perilaku menabung merupakan gabungan dari persepsi tentang kebutuhan masa depan, keputusan menabung dan tindakan penghematan. Di sisi lain orang cenderung untuk mendefinisikan tabungan sebagai investasi, menempatkan uang di rekening bank, berspekulasi dan bermain dari hipotik (Warneryd dalam (Thung, et al. (2012)). Jadi dapat disimpulkan perilaku menabung yaitu sebuah upaya untuk menyimpan uang yang tidak digunakan untuk konsumsi dengan tujuan dan jangka waktu tertentu.

Motif Menabung

Menurut Keynes (dalam Shohib (2010) ada 8 motif yang berbeda dalam menabung yaitu : (1) Precaution (tindakan pencegahan), berimplikasi pada menambah cadangan untuk menghadapi keadaan yang tidak terduga; (2) Foresight (tinjauan masa depan), untuk mengantisipasi perbedaan antara pendapatan dengan pengeluaran belanja di masa depan (the life-cycle motive); (3) Calculation (perhitungan), ingin memperoleh keununtungan (bunga uang); (4) Improvement (perbaikan), meningkatkan standar hidup untuk waktu yang lama; (5) Independence (kebebasan), menunjukkan adanya kebutuhan akan kebebasan dan memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu; (6) Enterprise (usaha), adanya kebebasan untuk menanamkan uang ketika ia memungkinkan (mendukung); (7) Pride (kebanggaan), lebih tertuju pada menempatkan uang untuk ahli waris (the bequest motive); dan (8) Avarice (keserakahan harta) atau kekikiran yang sesungguhnya.

Warneryd (dalam Shohib (2010)) menyatakan ada 4 motif menabung dan ia menekankan bahwa seseorang dapat menabung untuk satu atau lebih motif pada saat yang sama. Pada level yang pertama adalah menabung sebagai kebiasaan yang terus menerus. Kondisi ini tidak terkait dengan tujuan yang spesifik. Yang kedua sering disebut motif tindakah pencegahan yang terkait dengan kondisi ketidakpastian di masa depan. Motif yang ketiga adalah motif mewariskan, artinya tabungan yang digunakan setelah terjadinya kematian dalam keluarga dan yang keempat adalah motif profit yang berarti keinginan untuk memperoleh tambahan pendapatan dari tabungan yang dimiliki. Hasil dari analisis multiple regressi menunjukkan bahwa motivasi menabung sebagai kebiasaan yang berkelanjutan dan tindakan pencegahan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap total varian uang yang ditabung.

(16)

7

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menabung

Menurut Lea, Tarpy dan Webley (1987) berikut adalah faktor-faktor yang menentukan perilaku menabung, diantaranya :

1. Pendapatan

Tinggi rendahnya tabungan akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan seseorang. Orang dengan pendapatan tinggi memiliki kecenderungan menabung dalam jumlah besar.

2. Kekayaan

Kekayaan adalah simpanan yang terkumpul. Kekayaan sangat berhubungan dengan tingkat pendapatan, dan tingkat kekayaan akan mempengaruhi besarnya tabungan, dengan banyak menabung akan lebih meningkatkan jumlah kekayaan.

3. Perencanaan pensiun dan keamanaan sosial

Bentuk lain dari kekayaan adalah keanggotaan dalam perencanaan pensiun, dan pensiun dipercaya dapat melengkapi pendapatan masa datang. Sesuai dengan hipotesa bahwa tujuan menabung adalah untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Dengan kata lain perencanaan pensiun merupakan bentuk dari menabung.

4. Suku bunga

Tingginya suku bunga akan menjadi hadiah bagi meningkatnya perilaku menabung. Peningkatan suku bunga mempunyai efek pengganti dan efek pendapatan bagi para penabung.

5. Inflasi

Faktor lain yang dapat digunakan untuk membuat analisa rasional sederhana yang berpengaruh kepada menabung adalah inflasi. Tingginya inflasi akan menurunkan tabungan, namun terdapat fakta lain yang menunjukkan bahwa inflasi dapat meningkatkan perilaku menabung, faktor yang mendukung kenyaat ini adalah bahwa tujuan orang menabung adalah untuk membuat persediaan konsumsi masa depan. 6. Status ekonomi

Kondisi ekonomi umum yang terjadi akan berpengaruh kepada pendapatan penduduk atau kesejahteraannya, dengan kata lain kondisi ekonomi juga mempunyai sejumlah efek tidak langsung beberapa diantaranya mengingkatkan tabungan sekaligus menurunkannya.

7. Usia

Usia mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap menabung, sebelum orang mencapai puncak pendapatan orang akan lebih banyak meminjam daripada menabung. Pada usia tengah baya mereka akan membayar pinjaman dan menabung sebagai persiapan untuk masa pensiun.

8. Karakteristik perorangan

Disisi yang termasuk didalamnya adalah kepribadian, kelas sosial, dan tingkat pendidikan, dimana ketiga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang untuk melakukan kegiatan menabung.

Persepsi Masa Pensiun

(17)

8

dan memberi makna. Jadi persepsi adalah suatu proses kognitif dalam pengelolaan informasi terhadap suatu stimulus yang tidak jelas dari lingkungan agar menjadi stimulus yang berarti melalui proses penginderaan.

Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Walgito (2003) antara lain :

1. Faktor internal : Faktor individu. Mengenai keadaan individu yang dapat mempengaruhi hasil persepsi datang dari dua sumber, yaitu yang berhubungan dengan segi kejasmanian, dan yang berhubungan dengan segi psikologis. Bila sistem fisiologisnya terganggu, hal tersebut akan berpengaruh dala persepsi seseorang. Sedangkan segi psikologisnya antara lain mengenai pengalaman, perasaan, kemampuan berpikir, kerangka acuan, motivasi akan berpengaruh pada seseorang dalam mengadakan persepsi.

2. Faktor eksternal : 1) Faktor stimulus. Agar stimulus dapat dipersepsi, maka stimulus harus cukup kuat, stimulus harus melampaui ambang stimulus, yaitu kekuatan stimulus stimulus yang minimal tetapi sudah dapat menimbulkan kesadaran, sudah dapat dipersepsi oleh individu. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam persepsi. 2) Faktor lingkungan. Objek dan lingkungan yang melatarbelakangi objek merupakan kebulatan atau kesatuan yang sulit dipisahkan. Objek yang sama dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.

Bentuk – Bentuk Persepsi

Menurut Robbins (2002), bentuk - bentuk persepsi ada dua, yaitu : 1. Persepsi Positif

Penilaian individu terhadap suatu objek atau informasi dengan pandangan yang positif atau sesuai dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada.

2. Persepsi Negatif

Persepsi individu terhadap objek atau informasi tertentu dengan pandangan yang negatif, berlawanan dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada.

Schwartz (dalam Hurlock, 2009: 417) berkata bahwa pensiun dapat merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup baru. Pensiun selalu menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan, nilai dan perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu. Perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang penting dalam hidup seorang individu yang tadinya bekerja menjadi tidak bekerja, berkurangnya penghasilan, berkurangnya interaksi dan relasi serta meningkatnya waktu luang. Masa pensiun merupakan suatu masa yang alamiah akan terjadi bagi pekerja.

Persepsi positif terhadap masa pensiun adalah penilaian individu terhadap masa pensiun dan segala hal perubahan yang akan mengikutinya dengan pandangan yang positif. Bentuk persepsi positif terhadap masa pensiun, Rini (2001) antara lain :

1. Meningkatkan kesehatan dengan berkurangnya beban tekanan yang harus dihadapi

(18)

9

3. Pensiun tidak menyebabkan orang menjadi cepat tua dan mudah sakit karena justru berpotensi meningkatkan kesehatan karena semakin bisa mengatur waktu untuk berolahraga

4. Dapat meluangkangkan waktu lebih banyak untuk kehidupan sosial di masyarakat Persepsi pensiun negatif penilaian individu terhadap masa pensiun dan segala hal perubahan yang akan mengikutinya dengan pandangan yang negatif. Bentuk persepsi negatif terhadap masa pensiun, Rini (2001) antara lain :

1. Kehilangan status dan penghormatan 2. Kekurangan finansial

3. Kehilangan berbagai fasilitas dan kemudahan

4. Ketersisihan dari pergaulan lama dan perasaan menjadi tua

5. Merasa sudah tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi karena usia tua dan produktivitas makin menurun

Pekerja Usia Dewasa Awal

Berdasarkan UU RI No 13 Tahun 2003 tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Sehingga pekerja merupakan merupakan seseorang yang mampu melakukan pekerjaan yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain serta mendapatkan upah dari pekerjaan yang ia lakukan.

Mappiare (1983) menjelaskan bahwa masa dewasa yaitu suatu masa kemasakan kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil ajar latih yang di tunjang kesiapan. Sedangkan Hurlock (dalam Jahja (2011) mengartikan masa dewasa adalah masa pencarian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen, dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru, yang berada pada kisaran usia 21 – 40 tahun.

Ciri – Ciri Dewasa Awal

(19)

10

meluas, (9) Masa penyesuaian diri dengan hidup baru karena ketika seseorang telah mencapai masa dewasa berarti ia harus lebih bertanggung jawab karena pada masa ini ia sudah mempunyai peran ganda. (peran sebagai orang tua dan pekerja), serta (10) Masa kreatif karena pada masa ini seseorang bebas untuk berbuat apa yang diinginkan. Namun kreativitas tergantung pada minat, potensi dan kesempatan.

Hubungan antara Persepsi terhadap Masa Pensiun dengan Perilaku Menabung pada Pekerja Dewasa Awal

Seorang pekerja akan memasuki masa pensiun apabila usianya telah mencapai batasan usia pensiun yang ditetapkan oleh instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Dalam mempersepsikan masa pensiunnya pun berbeda-beda, ada pekerja yang mempersepsikan masa pensiun secara positif ada pula yang negatif. Perbedaan persepsi ini dikarenakan ada banyaknya faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan persepsi.

Hal ini sesuai dengan pendapat Walgito (2003), bahwa faktor-faktor yang menentukan persepsi diantaranya ada faktor internal dan eksternal. Faktor internal sendiri yaitu mencakup apa yang ada dalam diri individu, seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor stimulus itu sendiri serta faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung. Pekerja dewasa awal jelas belum merasakan masa pensiun, karena usia mereka yang masih jauh untuk menuju masa pensiun. Namun sejak saat ini mereka sudah dapat mempersepsikan seperti apa masa pensiun karena beberapa faktor yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satunya yang mempengaruhi yaitu lingkungan. Apabila individu berada pada lingkungan dimana didalamnya merupakan orang-orang yang menjalani pensiun dengan hal-hal yang kurang menyenangkan, seperti harus menjalani masa pensiun dengan keadaan fisik yang sakit karena usia yang juga semakian menua, ditambah dengan kesulitan keuangan, serta harus bergantung dengan anggota keluarga lain. Dan sebaliknya, apabila berada dilingkungan mereka yang menjalani pensiun dengan menyenangkan, dapat berkumpul dengan anggota keluarga lebih lama, dapat lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, serta masih memiliki keadaan finansial yang baik salah satunya dengan cara wirausaha.

Dari kedua keadaan yang terjadi di lingkungan tersebut akhirnya akan berpengaruh tentang cara individu dalam mempersepsikan masa pensiun. Bagi yang berada di lingkungan dengan orang-orang yang menjalani pensiun dengan tidak menyenangkan akan memberikan sumbangan pemikiran bagi individu akan cenderung mempersepsikan masa pensiun secara negatif, yaitu masa yang kepahitan serta sulit untuk dijalani, begitu pula sebaliknya. Akan ada yang mempersepsikan pensiun merupakan masa yang menyenangkan dan sangat ditunggu. Robbins (2002) penyebab munculnya persepsi negatif seseorang dapat muncul karena adanya ketidakpuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya ketidaktahuan individu serta tidak adanya pengalaman individu terhadap objek yang dipersepsikan dan sebalinya, penyebab munculnya persepsi positif seseorang karena adanya kepuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya pengetahuan individu, serta adanya pengalaman individu terhadap objek yang dipersepsikan.

(20)

11

persepsi yang indah dan bahagia terlebih dahulu, barulah membuat rencana-rencana untuk kehidupan di masa pensiun. Mereka yang memiliki persepsi pensiun secara positif akan menerima bahwa masa pensiun tidak hanya mengenai tentang berhenti bekerja yang disebabkan oleh faktor usia, namun lebih berfikiran bahwa pensiun merupakan suatu fase yang memang harus dilalui oleh setiap individu. Sehingga dalam prosesnya juga individu akan merasa lebih bahagia dalam menuju masa pensiun.

Walgito (2003) menjelaskan salah satu faktor internal yang mempengaruhi persepsi yaitu keadaan psikologis. Dimana keadaan psikologis sangat berperan dalam proses interpretasi atau penafsiran terhadap stimulus, sehingga sangat mungkin persepsi seorang individu akan berbeda dengan individu lain meskipun objek / stimulusnya sama. Individu yang sudah mempersepsikan pensiun secara negatif, akan merasa datangnya pensiun sebagai hal yang menakutkan karena berbagai perubahan yang akan dihadapi sehingga akan memunculkan perasaan cemas. Kecemasan merupakan perasaan yang wajar dirasakan oleh siapa saja. Lubis (2009) menjelaskan bahwa kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berfikir tentang sesuatu tidak menyenangkan yang akan terjadi. Sehingga persepsi mengenai pensiun yang negatif ini jelas berkaitan dengan perasaan cemas yang dirasakan oleh individu karena ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan yang akan terjadi pada masa pensiun salah satunya berdasarkan faktor pengalaman dari orang lain tersebut. Dan sebaliknya hal ini berbeda dengan individu yang mempersepsikan pensiun secara positif.

Kecemasan tersebut muncul karena ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan yang akan terjadi. Namun hal tersebut bisa dihindari karena salah satu elemen kunci untuk bisa menjalani masa pensiun dengan sukses adalah persiapan. Orang yang telah membuat persiapan untuk masa pensiunnya cenderung lebih sukses beradaptasi pada perubahan dalam hidupnya (Lo & Brown, 1999; Sterns & Gray, 1999, dalam Cavanaugh, 2006). Sutanto dan IsmulCokro (2008) mengemukakan beberapa aspek persiapan dan kesiapan yang merupakan kebutuhan utama untuk mempersiapkan masa pensiun, yaitu : kesiapan materi finanasial, kesiapan fisik, kesiapan mental dan emosi, dan kesiapan seluruh keluarga.

(21)

12

Kerangka Berfikir

Hipotesa

Hipotesis dalam penelitian ini adalah persepsi terhadap masa pensiun memiliki hubungan yang negatif dengan perilaku menabung pada pekerja usia dewasa awal. Artinya bahwa semakin positif persepsi seseorang mengenai pensiun, maka perilaku menabung akan rendah. Sebaliknya yaitu semakin negatif persepsi seseorang mengenai pensiun maka akan semakin meningkatkan perilaku menabungnya.

menuju masa pensiun dengan mengalir menghadapi perubahan di masa pensiun Kecemasan tinggi karena takut dalam

(22)

13

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan suatu karakteristik dari suatu variabel yang nilai-nilainya dinyatakan dalam bentuk angka, kemudian temuan penelitian tersebut menggunakan statistik berserta analisisnya (Sugiyono, 2014).

Desain penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Dimana penelitian korelasional mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi ataupun variabel lain (Suryabrata, 2005). Alasan peneliti menggunakan penelitian korelasional karena penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel, yaitu variabel persepsi terhadap masa pensiun dan perilaku menabung.

Subyek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah 250 orang pekerja yang memiliki karakteristik usia dewasa awal (20-40 tahun) (Santrock, 2012), berdomisili di Kota Balikpapan, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, serta merupakan karyawan tetap pada perusahaan swasta. Karena jumlah populasi dengan kriteria tersebut di Kota Balikpapan yang tidak diketahui secara pasti, sehingga peneliti menggunakan nonprobability sampling yaitu dengan cara menetapkan ciri-ciri yang mewakili populasi yang telah ditentukan.

Jenis nonprobability sampling yang digunakan adalah quota sampling yaitu teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan, sebelum jumlah kuota terpenuhi maka penelitian belum dianggap selesai (Sugiyono, 2014).

Variabel dan Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Adapun yang menjadi variabel bebas (X) yaitu persepsi terhadap masa pensiun dan variabel terikatnya (Y) adalah perilaku menabung. Persepsi tentang masa pensiun adalah proses untuk mengartikan tentang masa pensiun yang di pengaruhi oleh faktor internal individu (keadaan psikologis dan kemampuan berfikir) dan faktor eksternal (pengalaman orang lain dan lingkungan) sehingga tercipta pandangan terhadap masa pensiun baik persepsi yang positif maupun negatif. Sedangkan perilaku menabung adalah tinggi rendahnya upaya yang dilakukan dalam menyisihkan uang yang tidak digunakan untuk konsumsi demi kebutuhan di masa depan dengan komitmen untuk melakukannya serta didukung dengan cara penghematan terhadap penggunaan uang.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan skala. Menurut Sugiyono (2014), skala penelitian merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Ada banyak jenis skala yang digunakan dalam penelitian, namun pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis skala likert.

(23)

14

pernyataan-pernyataan disusun berdasarkan teori Hurlock (2009) bahwa objek yang dapat mempengaruhi persepsi terhadap masa pensiun yaitu keadaan fisik, finansial, serta sosial yang terdiri dari 37 item.

Untuk perilaku menabung menggunakan skala yang diadaptasi dari Thung, C. M., et al

(2012) yang menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban, antara lain : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Instrumen ini berisi pernyataan disusun dari aspek perilaku menabung yaitu persepsi terhadap kebutuhan masa depan, keputusan menabung dan tindakan penghematan dari 8 item.

Tabel 1. Indeks Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Skala Jumlah item

yang diujikan Jumlah item valid Indeks validitas reliabilitas Indeks Skala persepsi

Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas pada Tabel 1, dapat dijelaskan bahwa hasil uji validitas pada skala persepsi terhadap masa pensiun, dari 42 item pernyataan yang diuji cobakan, diperoleh item valid sebanyak 37 item dan item gugur sebanyak 5 item. Nilai validitas yang di peroleh yaitu sebesar 0,212 - 0,639 dengan reliabilitas sebesar 0,897. Kemudian hasil uji coba skala perilaku menabung, dari 8 item pernyataan diperoleh keseluruhan item dinyatakan valid. Dan diperoleh tingkat reliabilitas 0,776 dengan nilai validitas sebesar 0,379 – 0,620.

Prosedur dan Analisis Data

(24)

15

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada 250 orang karyawan tetap pada perusahaan swasta dengan usia 20 – 40 tahun di Kota Balikpapan, diperoleh gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut :

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 250 subjek penelitian ini jumlah responden yang memiliki jenis kelamin laki-laki sebanyak 143 orang (57.2%) dan responden yang memiliki jenis kelamin perempuan sebanyak 107 orang (42.8%). Tidak menunjukkan bahwa proporsi jenis kelamin dari subjek penelitian tidak memiliki perbedaan yang tinggi.

Tabel 3. Deskripsi Responden Berdasarkan Usia rentang usia 20 – 29 tahun sebanyak 158 orang (63.2 %), yang rentang usia 30 – 40 tahun sebanyak 85 orang (34 %) serta yang memiliki rentang usia 41 – 50 tahun sebanyak 7 orang (2.8 %).

(25)

16

Tabel 5. Identifikasi Skor Persepsi Terhadap Masa Pensiun

Berdasarkan norma skoring yang sudah ditentukan diawal pada tabel 5 untuk melihat persepsi subjek penelitian terhadap masa pensiun didapatkan hasil bahwa dari 250 subjek penelitian yang memiliki persepsi positif terhadap masa pensiun berjumlah 247 subjek atau sekitar 98.8% dari keseluruhan subjek. Dan yang cenderung memiliki persepsi negatif terhadap masa pensiun yaitu sebanyak 3 subjek penelitian atau sekitar 1.2%.

Tabel 6. Identifikasi Skor Skala Perilaku Menabung

Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa subjek penelitian yang masuk dalam kategori perilaku menabung sangat rendah terdapat 2 subjek atau 0.8%, dalam kategori rendah ada 10 subjek atau sekitar 4%, mewakili kategori sedang sebanyak 135 subjek atau sebesar 54%, kemudian mewakili kategori tinggi ada sekitar 68 subjek yaitu sekitar 27.2%, serta yang termasuk dalam kategori sangat tinggi ada 35 subjek dengan persentase sebesar 14%.

Tabel 7. Korelasi Antara Persepsi terhadap Masa Pensiun Dengan Perilaku Menabung

R r2 Sig. Keterangan Kategori

0.478 0.2284 0.000 Sig < 0.05 Signifikan

Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa hasil analisis uji korelasi product moment – pearson

diperoleh koefisien korelasi r = 0.478 dengan nilai p = 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan dengan arah korelasi positif yang signifikan karena nilai signifikan 0.000 < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan ada hubungan positif antara persepsi terhadap masa pensiun dengan perilaku menabung yang berarti hipotesa peneliti pun di tolak. Dengan besar sumbangan korelasi dari kedua variabel sejumlah 22.84 %.

Kategori Interval Frekuensi Persentase

Persepsi Positif

Persepsi Negatif 93 - 148 37 – 92 247 3 98.8% 1.2%

(26)

17

DISKUSI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan dengan arah korelasi positif yang signifikan antara persepsi terhadap masa pensiun dengan perilaku menabung pada pekerja usia dewasa awal di Kota Balikpapan dengan sumbangan korelasi sebesar 22.84% (p = 0.000, r = 0.478, r2 = 0.2284). Hal ini menjelaskan bahwa semakin positif persepsi terhadap masa pensiun maka akan semakin tinggi perilaku menabung para pekerja. Dan sebaliknya apabila semakin negatif persepsi terhadap masa pensiun maka perilaku menabungnya akan semakin rendah pula. Sehingga dalam penelitian ini, hipotesis yang diajukan peneliti ditolak. Hipotesa yang diajukan yaitu hubungan persepsi masa pensiun dengan perilaku menabung yaitu negatif, namun hasil penelitian menunjukkan arah korelasi yang sebaliknya.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan asumsi dasar peneliti yang mengatakan bahwa ketika munculnya persepsi negatif mengenai masa pensiun, maka akan menimbulkan kecemasan khususnya dalam hal finansial bagi para pekerja sehingga membuat mereka mengurangi kecemasan tersebut dengan berupaya melakukan tindakan preventif yaitu menabung lebih tinggi jauh sebelum memasuki masa pensiun agar ketika memasuki masa pensiun tidak akan mengalami permasalahan finansial. Dan tidak sejalan dengan survey yang dilakukan oleh HSBC (2013) kepada lebih dari 1000 orang di Singapura bahwa 66% responden mengatakan bahwa membutuhkan 2/3 dari penghasilannya sekarang agar dapat hidup nyaman di masa pensiun. Karena menurut mereka kesulitan keuangan dan kesehatan yang buruk merupakan hal yang paling ditakuti di masa pensiun.

Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan fakta bahwa mayoritas subjek penelitian mempersepsikan pensiun secara positif. Hal ini dilihat dari skor persepsi mereka terhadap masa pensiun bahwa lebih banyak pekerja yang memiliki persepsi positif sebanyak 247 subjek (98.8%) dibandingkan dengan mereka yang memiliki persepsi negatif hanya sebanyak 3 orang subjek (1.2%). Karakteristik subjek penelitian yang mayoritas telah memiliki persepsi positif terhadap masa pensiun sehingga tidak ada keberagaman datamenjadi salah satu hambatan dalam pengujian hipotesa, sehingga hipotesa yang peneliti ajukan ditolak.

Survey sederhana juga dilakukan kepada pekerja swasta di Kota Balikpapan untuk mengetahui persepsi mereka mengenai masa pensiunnya nanti dan didapatkan data bahwa mayoritas dari mereka saat ini mempersepsikan pensiun merupakan masa yang menyenangkan, karena dengan datangnya pensiun mereka dapat beristirahat dari bekerja, berkumpul lebih banyak dengan keluarga, serta dapat memulai untuk berwirausaha. Perubahan paradigma ini terjadi karena beberapa faktor, diantaranya persiapan yang diberikan oleh perusahaan berupa pengetahuan untuk berwirausaha ketika sudah pensiun nanti, serta semakin banyaknya pengalaman dari orang lain yang sudah menjalani pensiun dengan menyenangkan karena telah mampu sukses berwirausaha pada saat pensiun.Jika melihat dari perilaku menabung juga lebih banyak pekerja yang menabungnya tinggi (54%) dibanding yang rendah (4%). Dan mereka menyadari, untuk dapat mewujudkan pensiun sesuai dengan harapannya yaitu membutuhkan persiapan yang matang pula, salah satunya yaitu persiapan finansial sejak saat ini.Temuan-temuan tersebut akan penulis bahas berdasarkan beberapa pendapat dari penelitian sebelumnya.

(27)

18

sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung. Bila dikaitkan dengan kemampuan berfikir pada subjek penelitian ini yaitu terjadi peningkatan kemampuan befikir dibandingkan dengan dahulu. Bagi pekerja saat ini, pensiun bukanlah suatu hal yang menakutkan lagi karena semakin banyaknya informasi yang mereka ketahui mengenai pensiun serta mulai pahamnya mereka tentang cara mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun. Sehingga karena itulah berpengaruh terhadap persepsi mereka yang positif terhadap masa pensiun.

Penelitian lain oleh Pradono dan Purnamasari (2010) memperkuat bahwa individu yang berpikiran positif tentunya akan memandang masa pensiun sebagai suatu hal yang positif. Hal ini karena individu yang berfikiran positif lebih memiliki kesiapan mental dan emosi yang baik sehingga akan mampu beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan sekitarnya. Ini bertujuan untuk mendapatkan penerimaan dan perhatian dari lingkungannya dengan baik. Bila dikaitkan dengan hasil penelitian ini yaitu individu yang mampu berfikir secara positif serta yakin akan masa pensiunnya, akan semakin berusaha mewujudkan pensiun sesuai dengan keinginannya. Upaya-upaya yang ia lakukan saat ini guna untuk tetap dapat merasakan kenyamanan ketika pensiun nanti. Salah satunya yaitu dengan menabung untuk tetap mempertahankan kestabilan finansial di keluarga. Ini juga bertujuan agar individu tetap dapat diterima oleh masyarakat meskipun sudah berstatus bukan pekerja lagi.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa subjek penelitian yang berusia lebih muda (rentang usia 20 – 30 tahun) berjumlah lebih banyak dibandingkan dengan subjek penelitian yang berusia lebih tua (rentang usia 31 – 40 tahun). Berdasarkan Lea, Tarpy & Webley (1987) salah satu faktor yang meningkatkan perilaku menabung yaitu usia. Dimana individu yang berusia lebih tua akan semakin meningkatkan perilaku menabungnya untuk persiapan menuju masa pensiun, berbeda dengan individu yang masih berusia muda. Mereka yang masih muda cenderung akan lebih banyak untuk meminjam uang daripada untuk menabung apabila mereka belum mencapai puncak pendapatannya.

Fakta lain yang bisa menjelaskan hasil penelitian ini seperti diungkapkan oleh Hurlock (1994), yaitu status ekonomi yang baik yang dapat memungkinan seseorang untuk hidup dengan nyaman dan menikmati hal-hal yang baik di masa pensiun. Penelitian di Jerman yang dilakukan oleh Van Rooij, Lusardi & Alessi (2011) mendapatkan hasil bahwa reponden yang memikirkan lebih mengenai pensiun tidak hanya menganggap bahwa menabung itu penting, namun mereka juga akan menabung lebih dari biasanya. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian ini yaitu lebih banyaknya subjek penelitian yang perilaku menabungnya tinggi, dibandingkan yang rendah. Ini karena mereka sadar bahwa menabung merupakan hal yang penting, terlebih untuk mempersiapkan masa pensiunnya. Anggapan bahwa dengan kecukupan finansial yang baik akan memberikan kenyamanan bagi mereka ketika pensiun nanti sehingga semakin meningkatkan perilaku menabung mereka jauh sebelum memasuki masa pensiun.

(28)

19

subjek penelitian. Hal ini karena naluri orang tua yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, serta karena mereka yang memiliki pengalaman lebih dalam bekerja. Karena itu pula kemudian mereka bagikan kepada subjek penelitian dengan tujuan agar lebih mempersiapkan hal-hal yang penting untuk menghadapi pensiun. Salah satunya yaitu berupa kesiapan finansial. Peran orang tua dan keluarga merupakan sosok berpengaruh yang dekat dengan kehidupan subjek penelitian, sehingga lebih mudah untuk pendapat yang mereka ajukan untuk diterima oleh subjek penelitian. Sehingga salah satu faktor ini cukup berpengaruh bagi subjek tentang bagaimana ia mempersepsikan pensiunnya serta upaya subjek dalam mempersiapkan pensiunnya nanti.

Dari penelitian ini, ada beberapa faktor internal dan eksternal subjek yang tidak dapat dikendalikan dalam penelitian ini, misalnya faktor lingkungan. Individu yang berada didalam lingkungan yang memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya persiapan pensiun akan berpengaruh pula pada upaya individu untuk mempersiapkan pensiunnya dengan baik. Lingkungan yang seperti itu akan memberikan dukungan sosial yang tinggi sehingga akan meningkatkan optimisme individu pula dalam mempersepsikan pensiun secara positif. Selain itu ada faktor pengalaman dari orang lain yang dapat mempengaruhi upaya individu dalam persiapan pensiun. Pengalaman orang lain yang kurang menyenangkan ketika memasuki masa pensiun dapat menjadi pelajaran bagi individu agar tidak mengulangi hal yang serupa lagi. Oleh karena itu penting untuk mempersiapkan berbagai hal untuk menghadapi pensiun. Dan faktor lain yang mempengaruhi yaitu faktor sosial. Dimana pekerja yang sadar bahwa ketika pensiun nanti tidak ingin menyusahkan anak serta keluarganya karena fisik yang sudah finansial yang menurun, maka akan meningkatkan upaya menabungnya sejak saat ini. Dengan harapan ketika pensiun nanti mereka dapat tetap menikmati kehidupan secara mandiri tanpa bergantung dan menyusahkan orang lain.

Keterbatasan dari penelitian ini yaitu dalam penetapan usia subjek penelitian yang merupakan pekerja usia dewasa awal (20 – 40 tahun), yang berdasarkan penelitian cenderung positif persepsinya mengenai masa pensiun karena masih jauh memikirkan tentang masa pensiun sehingga kecemasan yang dirasakan pun juga masih rendah sehingga berpengaruh terhadap hasil penelitian ini. Kondisi ini terjadi karena penyebaran skala yang tidak merata karena lebih banyak yang mengisi skala merupakan subjek penelitian yang berusia lebih muda, yaitu pada rentang 20 - 30 tahun dibandingkan mereka yang berada pada rentang usia 31 - 40 tahun.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

(29)

20

memberikan pelatihan untuk menjadi wirausaha agar pekerja memiliki bekal ilmu yang cukup untuk menjadi wirausahawan setelah pensiun nanti. Dan bagi pekerja untuk lebih memperkaya informasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan masa pensiun, sehingga diharapkan dapat lebih paham dengan segala perubahan yang akan terjadi dan mempersiapkan segala sesuatunya agar dapat mewujudkan pensiun seperti yang diharapkan. Serta meningkatkan perilaku menabung mulai saat ini sebagai upaya untuk mempertahankan finasial pada masa pensiun agar tidak mengalami permasalahan terkait perubahan finansial nantinya.

Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan topik yang sama disarankan untuk menggunakan metode penelitian yang berbeda agar dapat memperkaya kajian-kajian mengenai perilaku menabung. Selain itu, peneliti yang selanjutnya yang akan menggunakan variabel penelitian ini diharapkan untuk lebih memperhatikan usia subjek penelitian misalnya menggunakan subjek penelitian dengan usia dewasa tengah (40 – 60 tahun) serta menggunakan subjek penelitian dengan status pekerjaan bukan karyawan tetap.

REFERENSI :

Ajiboye, O, E., (2011). The pension reform act 2004 and well-being of Nigeria retirees: a sociological evaluation of its provisions. Nigeria: International journal of humanities and social science. Accessed on December 27, 2015 from http://www.ijhssnet.com/journals/Vol_1_No_21_Special_Issue_December_2011/ 32.pdf.

Hanurawan, F. (2012). Psikologi sosial (suatu pengantar). Malang: Remaja Rosdakarya. Hurlock, E.B. (2009).Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang

kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Ibrahim, D., Isa Z, M., & Ali, N. (2012). Malaysian savings behavior towards retirement planning. Research Journal. Singapore: IACSIT Press. Accessed on December 28, 2015 from www.ipedr.com/vol28/20-ICEMM2012-T10003.pdf.

Jahja, Y. (2011). Psikologi perkembangan. Jakarta: Kencana.

Jhingan, M. L. (1975). Ekonomi pembangunan dan perencanaan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Katona, G. (1951). Psychological analysis of economic behavior. United states of America: McGraw-Hill.

(30)

21

Kintaninani, A. (2013). Kebermaknaan hidup karyawan dalam menghadapi pensiun. Skripsi, Program Sarjana (S1) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta.

Lea, S. E. G., Tarpy, R. M., & Webley, P. (1987). The individual in the economy. United States of America: Cambridge University Press.

Lubis, N M. (2009). Depresi tinjauan psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mappiare, A. (1983). Psikologi orang dewasa. Surabaya: Usaha Nasional.

Nuraini, D. E. (2013). Kecerdasan emosi dan kecemasan menghadapi masa pensiun pada PNS. eJournal Psikologi, 1, 330-331. Diakses tanggal 28 Oktober, 2015 dari diakses pada 6 Agustus, 2015 dari http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/02/eJournal%20%20Psikologi%20(02-27-14-01-42-03).pdf.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2014. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang Mencapai Batas Usia Pensiun Bagi Pejabat Fungsional. Diakses

pada tanggal 7 Juni, 2015 dari

http://perpusnas.go.id/iFileDownload.aspx?ID=Attachment%5CProdukHukum%5CP P%2021%202014%20Pensiun%20Fungsional.PDF.

Praditya I, I. (31 Agustus 2015). Buruh bakal demo besar-besaran, ini komentar pengusaha.

Di akses pada 20 November 2015, dari Liputan 6.com.

Pradono, G.S. & Purnamasari, S. E. (2010).Hubungan antara penyesuaian diri dengan kecemasan dalam menghadapi masa pensiun pada Pegawai Negeri Sipil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Jurnal.Diunduh pada tanggal 3 Desember 2015 dari http://fpsi.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/Agustus_2010_Santi-Esterlita-P.pdf.

Prasojo, B, D. (2011). Kecemasan menghadapi masa pensiun pada pegawai Kementrian Agama yang istrinya bekerja dan tidak bekerja (studi komparatif pada pegawai Kementrian Agama Kabupaten Banjarnegara). Skripsi, Program Sarjana (S1) Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Rini, J. F. (2001). Pensiun dan pengaruhnya. Diakses pada tanggal 10 Mei 2016, dari www.e-psikologi.com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=191

Robbins. P.S. (2002).Prinsip-prinsip perilaku organisasi. Jakarta : Erlangga.

(31)

22

Setiabudi, T., & Maruta, J. (2015). Pensiun gaul. 7 langkah jitu mempersiapkan PHK, VRP atau pensiun. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Shohib, M. (2010, Maret). Struktur secara hirarki motif menabung (translate). Dikutip pada 25 Oktober, 2015, dari http://mshohib.staff.umm.ac.id/files/2010/03/Motif-menabung.pdf

Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r & d. Bandung : Alfabeta Sutarto, J. Tito dan C. Ismul Cokro.(2009). Pensiun bukan akhir segalanya.Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Thung, C, M., et. al. (2012). Determinants of saving behaviour among the university students in Malaysia. Journal. Malaysia: University Tunku Abdul Rahman.

Undang – Undang Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 13 Pasal 88 Ayat 1 Tahun 2003 Tentang: Pengupahan. Diakses pada tanggal 26 Desember, 2015 dari http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2003_13.pdf.

Undang– UndangKetenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 13 Pasal 1 Tahun 2003Tentang: Ketenagakerjaan. Diakses pada tanggal 26 Desember, 2015 dari http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2003_13.pdf.

Van Rooij, M., Lusardi, A., & Alessie, R., (2011). Financial literacy and retirement planning in the Neterlands. Journal of Economic Psychology, fourthcoming. Diakses pada tanggal

22 Januari, 2016 dari

http://www.dnb.nl/en/binaries/231%20Financial%20Literacy%20and%20Retirement %20Planning%20in%20the%20Netherlands_tcm47-225547.pdf

Walgito, B. (2003). Psikologi sosial (suatu pengantar) edisi IV. Yogyakarta: ANDI.

(32)

23

(33)

24

SKALA TRY OUT PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN

No Pernyataan Pilihan Jawaban

STS TS S SS

1. Kondisi keuangan keluarga saya akan tetap stabil meskipun saya sudah pensiun nanti

2. Berkurangnya aktifitas pada masa pensiun akan membuat fisik saya mudah sakit

3. Saya selalu mengkhawatirkan masalah keuangan yang akan terjadi ketika pensiun nanti

4. Pensiun membuat kesempatan saya untuk mengikuti berbagai kegiatan di masyarakat lebih banyak

5. Melakukan pengelolaan keuangan secara baik sejak saat ini akan bermanfaat bagi kehidupan saya setelah pensiun nanti

6. Kekuatan fisik saya yang menurun setelah pensiun nanti membuat saya tidak mampu melakukan banyak aktifitas lagi 7. Pensiun bukan merupakan halangan bagi saya untuk tetap

mencari rezeki untuk keluarga

8. Datangnya pensiun memberikan kesempatan untuk pekerja lain menempati posisi saya saat ini

9. Semua penyakit di tubuh saya akan bermunculan ketika saya pensiun nanti

10. Pensiun akan membuat saya bisa lebih banyak berkontribusi untuk masyarakat

11. Pensiun merupakan masa untuk saya bermalas-malasan

12. Perubahan kondisi keuangan keluarga merupakan hal yang wajar 13. Kekhawatiran saya nanti ketika pensiun adalah saya tidak

memiliki bawahan lagi seperti pada saat ini

14. Silaturahmi saya akan tetap baik kepada rekan kerja saya saat ini meskipun sudah pensiun nanti

15. Masa-masa pensiun nanti akan saya habiskan di rumah sakit karena kondisi fisik yang mulai sakit-sakitan

(34)

25

17. Masalah keuangan setelah pensiun nanti dapat saya hidari dengan pengelolaan dana pensiunan secara baik

18. Teman-teman saya menjadi sedikit ketika saya pensiun nanti 19. Berwirausaha adalah kegiatan yang tidak meyakinkan

keberhasilannya untuk masa pensiun nanti

20. Kondisi fisik saya yang tetap sehat ketika pensiun nanti membuat saya semakin senang untuk berinteraksi dengan orang lain

21. Pensiun nanti akan saya manfaatkan untuk berkumpul dengan teman-teman lama saya dulu

22. Saya mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarga saya yang akan mengalami penurunan setelah pensiun nanti

23. Kesibukan saya ketika pensiun nanti akan saya isi dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah

24. Saya khawatir kehidupan saya ketika pensiun nanti hanya untuk menyusahkan keluarga saya

25. Saya akan menghabiskan uang pensiunan saya nanti untuk berfoya-foya dengan keluarga

26. Fisik yang sehat ketika pensiun nanti membuat saya tetap mampu beraktifitas seperti biasa

27. Solusi untuk masalah keuangan ketika saya pensiun nanti adalah dengan cara berhutang

28. Saya akan mengalami kesulitan untuk menjalin silaturahmi lagi dengan rekan kerja saat ini ketika pensiun nanti

29. Saya khawatir ketika pensiun nanti tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga lagi karena keuangan yang pas-pasan

30. Dengan menjaga pola hidup sehat sejak saat ini, saya yakin ketika pensiun nanti saya dapat terhindar dari berbagai penyakit 31. Dukungan dari anggota keluarga justru akan membuat kehidupan

saya pada masa pensiun nanti akan semakin mudah saya jalani 32. Saya tidak siap posisi saya saat ini akan digantikan dengan

pekerja lain ketika saya pensiun

33. Saya akan mencoba berwirausaha ketika pensiun nanti

(35)

26

tidak mengetahui aktifitas apa yang dapat saya lakukan untuk mengisi kesibukan sehari-hari

35. Dengan datangnya pensiun saya memiliki waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan anggota keluarga

36. Fisik yang mulai lemah ketika pensiun nanti membuat saya minder untuk berinteraksi dengan orang lain

37. Saya khawatir akan di remehkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak memiliki pekerjaan lagi ketika pensiun nanti

38. Salah satu menjaga kesehatan fisik setelah masa pensiun nanti adalah saya harus tetap menjaga pola hidup sehat sejak saat ini 39. Untuk mengisi waktu luang ketika pensiun nanti saya akan

melakukan hobi yang dulu tidak pernah saya lakukan ketika masih bekerja

40. Datangnya pensiun akan membuat saya merasa menjadi manusia yang tidak berguna lagi di keluarga saya

41. Perubahan kondisi keuangan ketika pensiun nanti yang berbeda dengan saat ini merupakan sesuatu yang sangat saya khawatirkan 42. Pensiun bukan menjadi penghalang bagi saya untuk tetap

melakukan banyak aktifitas fisik

SKALA TRY OUT PERILAKU MENABUNG

No Pernyataan Pilihan Jawaban

SS S TS STS

1. Saya menabung secara teratur untuk masa depan SS S TS STS

2. Untuk menghemat, saya sering membandingkan harga sebelum saya melakukan pembelian

SS S TS STS

3. Untuk menghemat, saya sering mempertimbangkan kebutuhan saya sebelum saya melakukan pembelian

SS S TS STS

4. Untuk menghemat, saya selalu berhati-hati untuk memenuhi anggaran bulanan

SS S TS STS

5. Saya selalu memiliki persediaan uang untuk keadaan darurat SS S TS STS

(36)

27

pengeluaran saya

7. Saya menabung untuk mencapai tujuan tertentu SS S TS STS

(37)

28

LAMPIRAN II

(38)
(39)
(40)

31

yang diujikan Jumlah item valid Indeks validitas reliabilitas Indeks Skala persepsi

terhadap masa pensiun

(41)

32

Item5 28,41 14,063 ,379 ,768

Item6 28,54 12,231 ,620 ,725

Item7 28,04 14,200 ,456 ,757

Item8 28,50 12,899 ,414 ,769

Skala Jumlah item

yang diujikan Jumlah item valid Indeks validitas reliabilitas Indeks Skala perilaku

(42)

33

LAMPIRAN III

(43)

34 persepsi individu mengenai masa pensiun berdasarkan keadaan sosial, finansial dan kognitif. persepsikan terhadap masa pensiun yaitu keadaan fisik, finansial, dan sosial. Masa pensiun merupakan masa yang penuh dengan perubahan dan yang paling mendasar yaitu perubahan pada ketiga hal tersebut, sehingga hal tersebut membawa pengaruh terhadap persepsi individu mengenai masa pensiunnya.

a. Keadaan fisik : Usia pensiun yang masuk pada tahapan usia perkembangan menuju dewasa akhir membawa perubahan fisik individu. Kemampuan fisik yang mulai menurun berpengaruh terhadap aktifitas individu yang berhubungan dengan fisik.

b. Keadaan finansial : Keadaan finansial individu yang bekerja dan sudah pensiun jelas mengalami berbagai perubahan. Jika semasa bekerja individu akan mendapatkan pemasukan rutin sebagai bentuk upah atas hasil kerjanya, namun ketika individu sudah memasuki masa pensiun maka pemasukan finansial rutin itupun akan berubah.

c. Keadaan sosial : Perubahan peran dari seorang pekerja menjadi pensiunan akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial individu. Menjadi seorang pekerja yang memiliki berbagai rutinitas bekerja setiap harinya dan bertemu dengan berbagai rekan kerja akan berubah ketika sudah memasuki masa pensiun. Dibutuhkan dukungan dari orang terdekat dan keluarga untuk membantu proses adaptasi tersebut.

F. Pengertian Persepsi terhadap Masa Pensiun

(44)

35

G. Blueprint

No Aspek Objek Persepsi Item Total Item

Fav Unfav

1 Kognitif Keadaan Fisik 15, 18, 21, 25, 33,

34, 37 6, 10, 29, 31 11

Keadaan Finansial 2, 3, 7, 11, 12, 14,

28 17, 20, 22, 24, 36 12

Keadaan Sosial 1, 4, 5, 9, 16, 26,

30 8, 13, 19, 23, 27, 32, 35 14

Jumlah 21 16 37

H. Skoring

Berikut ini adalah scoring untuk pernyataan yang favorable : 1. Jika pernyataan Sangat Sesuai(SS) maka bernilai 4 2. Jika pernyataan Sesuai (S) maka bernilai 3

3. Jika pernyataan Tidak Sesuai(TS) maka bernilai 2

4. Jika pernyataan Sangat Tidak Sesuai(STS) maka bernilai 1

Berikut ini adalah scoring untuk pernyataan yang unfavorable : 1. Jika pernyataan Sangat Sesuai(SS) maka bernilai 1 2. Jika pernyataan Sesuai (S) maka bernilai 2

3. Jika pernyataan Tidak Sesuai(TS) maka bernilai 3

4. Jika pernyataan Sangat Tidak Sesuai(STS) maka bernilai 4

Norma skoring skala persepsi terhadap masa pensiun

Kategori Interval

Figur

Tabel 7. Korelasi Antara Persepsi Terhadap  Masa Pensiun Dengan Perilaku Menabung ... 16
Tabel 7 Korelasi Antara Persepsi Terhadap Masa Pensiun Dengan Perilaku Menabung 16 . View in document p.8
Tabel 1. Indeks Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Tabel 1 Indeks Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian . View in document p.23
Tabel 3. Deskripsi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 3 Deskripsi Responden Berdasarkan Usia . View in document p.24
Tabel 4. Deskripsi Responden Berdasarkan Status
Tabel 4 Deskripsi Responden Berdasarkan Status . View in document p.24
Tabel 2. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 2 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin . View in document p.24
Tabel 6. Identifikasi Skor Skala Perilaku Menabung
Tabel 6 Identifikasi Skor Skala Perilaku Menabung . View in document p.25
Tabel 5. Identifikasi Skor Persepsi Terhadap Masa Pensiun
Tabel 5 Identifikasi Skor Persepsi Terhadap Masa Pensiun . View in document p.25

Referensi

Memperbarui...