GAMBARAN CINTA REMAJA AUTIS
SKRIPSI
Disusun oleh :
Angga Bayu Pamungkas
(08810148)
FAKULTAS PSIKOLOGI
GAMBARAN CINTA REMAJA AUTIS
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang
Sebagai salah satu persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi
Disusun oleh :
Angga Bayu Pamungkas
NIM 08810148FAKULTAS PSIKOLOGI
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi telah diuji oleh Dewan Penguji Tanggal 11 Agustus 2012
Dewan Penguji
Ketua Penguji : Dr. Diah Karmiyati, M.Si ( )
Anggota Penguji : 1. M. Salis Yuniardi, M.Psi ( )
: 2. Adhyatman Prabowo, M.Si ( )
: 3. Ni’matuzaharoh, S.Psi.,M.Si ( )
Mengesahkan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpakan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir dengan judul “Gambaran Cinta Remaja Autis”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, saya banyak mendapat bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermamfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kepada ALLAH SWT yang memberi ku semua yang ku inginkan dan ku miliki.
2. Dra.Cahyaning Suryaningrum, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah.
3. Dr. Diah Karmiyati M.Si selaku pembimbing I dan M.Salis Yuniardi, M.Psi selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberi arahan yang sangat berguna, hingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
4. Dra. Siti Suminarti M.Si selaku dosen wali yang telah mendukung dan memberi arahan sejak awal perkuliahan hingga selesai skripsi ini dan seluruh dosen-dosen Fakultas Psilokogi yang telah memberikan ilmunya..
5. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMP LABORATORIUN UM MALANG, Pak Hasim guru inklusi SMP LAB, Pak Budi Staf Diknas Malang, Ibu Roy Kepala Yayasan terapis autis, mbak Nia yang telah memberikan ijin dan memfasilitasi bagi saya untuk melakukan penelitian.
6. Papa, Mama, Upik, Agum, Fanny yang selalu memberikan dukungan, do’a dan kasih sayang sehingga saya termotivasi menyelesaikan skripsi ini.
7. Fadly, vika, dina ode, may ritha, ibnu, chibi uve, mas rozi, mbak diah, cince, justin, imam, diedin, tante fidya, wahab, riadh, ali para sahabat dan semua teman psikologi angkatan 2008 yang selalu memberikan semangat untuk terdorong menyelesaikan skripsi ini.
Saya menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat saya harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya pembaca pada umumnya.
Malang, 11 Agustus 2012
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN... ii
LEMBAR PERSETUJUAN... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
KATA PENGANTAR... v
INTISARI... vii
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR LAMIRAN... xi
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang... 1
B.Rumusan Masalah... 7
C.Tujuan Penelitian... 7
D.Manfaat Penelitian... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Cinta... 8
1. Pengertian Cinta... 9
2. Komponen Cinta... 10
3. Isi Cinta... 11
4. Macam-macam Bentuk Cinta... 12
B.Remaja Autis... 12
1. Pengertian Remaja Autis... 12
2. Kreteria Gangguan Autis... 16
3. Gejala-gejala Autis... 17
5. Karakeristik Penyandang Autis... 18
6. Faktor Penyebab Autis... 19
7. Emosi Positif Autis... 20
8. Pola Emosi Autis... 21
C.Cinta Remaja Autis... 23
1. Pengertian Cinta Remaja Autis... 23
BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian... 25
B.Batasan Istilah... 25
1. Cinta... 26
2. Remaja Autis... 26
C.Subjek Penelitian Dan Informan... 26
D.Tempat Dan Waktu Penelitian... 26
E. Instrumen Penelitian... 27
F. Teknik Pengumpulan Data... 27
G.Teknik Analisa Data... 28
H.Keabsahan Data... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Subjek... 30
B.Deskripsi Data... 31
C.Analisa Data... 34
D.Pembahasan... 36
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan... 40
B.Saran... 41
DAFTAR PUSTAKA... 43
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Inform Consent...45
LAMPIRAN 2 Diagnosa...48
LAMPIRAN 3 Guide Wawancar...50
LAMPIRAN 4 Guide Observasi...52
LAMPIRAN 5 Jadwal Turun Lapangan...53
DAFTAR PUSTAKA
Ardi. Primasari., Yuniarti, Kwartarini Wahyu. (2012). What make teenagers happy? An exploratory study using indigenous psychology approach. Center for Indigenous & Cultural Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.
Azwar. Saifuddin, (2010). Metode Penelitian. Pustaka Pelajar, Jogyakarta
Beuker Synnve Schjølberg. Karin T.,Kari Kveim Lie Rogier Donders Martijn Lappenschaar, Sophie H. N. Swinkels JanK. Buitelaar (2012). The Structure of Autis Spectrum Disorder Symptoms in the General Population at 18 Months. Article.Springerlink.com. Netherlands.
CR, Synder & Shane J. Lopez,. (2007). Positif Psikology:The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths. SAGE Publications Thousand, London, New Delhi.
Dayakisni, T., & Hudania, . (2009). Psikologi Sosial (Ed. revisi). Malang : UMM Press DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual ) 1994.
Friedman & Schustack,. (2008). Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Edisi Ketiga Jilid1. Erlangga Jakarta.
Friedman & Schustack,. (2008). Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Edisi Ketiga Jilid2. Erlangga Jakarta.
Ginanjar, Diana. S (2005). Perkembangan Remaja Terhadap Pendidikan Seks dan Aktifitas Seksualnya (Penelitian, Universitas Sumatra Utara).
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan (Ed.Lima) Ciracas, Jakarta: Erlangga. Mappiare Andi, (1982). Psikologi Remaja. Usaha Nasional. Surabaya.
Nevid Jeffrey S., Rathus Spencer A., Greene Beverly, (2002). Pikologi Abnoemal. Edisi lima, jilid2. Erlangga Jakarta.
Naber Fabienne B. A. Irina E. Poslawsky, Marinus H. Van IJzendoorn Herman van Engeland, Marian J. Bakermans-Kranenburg. (2012). Brief Report: Oxytocin Enhances Paternal Sensitivity to a Child with Autism: A Double-Blind With in-Subject Experiment with In tranasally Administered Oxytocin. Article.Springer link.com. Netherlands.
Ramdhani, Neila & Thiomina, Retty (2007). Mengenali pola emosi anak-anak autistik (Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah mada).
Ramdhani Neila, Retty Thiomina, Bambang Nur Prastowo4, Sri Suning Kusumawardhani,. (2009). Advance Help for Mentoring Autistic Disorder: Software AHMAD untuk melatih ekspresi emosi anak-anak autistic. (Penelitian, Universitas Gadjah mada).
Santrock Jhon W., (2002). Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Edisi Lima Jilid2,Erlangga Jakarta
Ulfa, Maria. (2008) Pebertas pada anak autis yang beranjak remaja (Skripsi, Fakultas Psikologi Muhammadiyah Malang, Jawa Timur).
____, Anon. (2009). Jurnal Remaja. Universitas Sumatra Barat. http://kesos.unpad.ac.id/. ( diakses tanggal 17 Desember 2011 ).
http://nasional.kompas.com/read/2009/12/21/11102245/Jumlah.Anak.Autis.Meningkat. (Diakses tanggal 15 Desember 2011).
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Cinta bagian terindah manusia yang menjadi dasar kehidupan. Karena merupakan dasar kehidupan, manusia menemukan dan mendapatkan cintanya dengan cara apapun. Sesuai dengan penjelasan Abraham Maslow mengenai teori motivasi, dimana cinta merupakan salah satu tingkatan dari hirarki pada manusia (Hauck, 1993).
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah cinta itu: apakah rasa suka (liking) dan cinta (love) itu sama? Apakah cinta hanya suatu perasaan suka yang intens (mendalam) ataukah suatu yang lain sama sekali dari rasa suka? Pertanyaan-pertanyaan ini telah mengusik para ahli psikologi bertahun-tahun lamanya. Perbedaan yang paling dasar adalah diantara Companionate Love (cinta persahabatan) dan Passionate atau Romantic Love (cinta birahi). Companionate Love adalah afeksi yang kita rasakan terhadap seseorang yang kehidupanya saling berjalin dengan kehidupan kita. Perbedaan diantara rasa suka dan Companionate Love barangkali dalam kedalaman perasaan kita dan derajat keterlibatan kita dengan seseorang. Sementara Passionate Love adalah suatu yang sama sekali lain (Dayakisni dan Hudaniah,2009).
Dayakisni dan Hudaniah (2009) Menyatakan bahwa Passionate Love berbeda dengan rasa suka dalam beberapa hal : Pertama, rasa suka berkaitan sangat kuat dengan adanya ganjaran, Passionate Love kelihatannya lebih merangsang fantasi dan hadiah yang dibayangkan yang mungkin melebihi ganjaran yang sebenarnya diterima ; Kedua sementara rasa suka dan Companionate Love biasanya timbuh atau berkembang pesat dalam jangka waktu yang lama, Passionate Love sebaliknya semakin memudar dengan berjalannya waktu. Sebab Passionate Love berkembang pesat pada saat masih baru dan belum ada kepastian dari pada sudah kenal dan dapat diprediksi ; Ketiga, rasa suka secara konsisten berhubungan dengan perasaan dan pikiran yang posiif tetapi Passionate Love hampir selalu berhubungan denagn konflik emosi, sebagaimana diperlihatkan oleh remaja yang seringkali bertanya apakah hal yang mungkin untuk mencintai dan membenci seseorang pada waktu yang bersamaan.
manusia dengan orang lain sebagai makhluk sosial, dimana komunikasi sebagai jalinan tersebut. Dimana kita menyukai sesuatu, mendambahnya dan tertarik kepadanya maka dapat dikatakan kita sedang merasakan cinta atau jatuh cinta. Sedangkan menurut pakar Psikologi Robert Sternberg (1987) cinta adalah sebuah kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan.
Cinta ialah suatu prilaku yang diharapkan bisa didapat untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan manusia, cinta merupakan salah satu hakikat kehidupan dan banyak bentuk-bentuk cinta yang dirasakan manusia bisa salah satu atau bisa lebih dari satu cinta yang dirasakan manusia tersebut. Cinta tersebut didapat dari lawan jenis yang diharapkan oleh seseorang yang merasakan cinta.
Cinta sebagai salah satu aspek yang terpenting dalam membawa hawa positif pada setiap manusia dan berperan dalam menuju suatu kebahagian dan kesuksesan menjadi satu objek yang penting untuk dipelajari. Cinta sulit terdefinisikan, karena sifatnya yang abstrak membuat kajian tentang cinta masih sulit untuk dibahas secara ilmiah. Mengkaji cinta sama halnya dengan mengkaji sebuah bentuk jiwa, maka ilmu yang sesuai adalah ilmu kejiwaan atau psikologi. Psikologi sebagai ilmu memiliki ruang khusus untuk membahas bagaimana cinta. Cinta membuat kita mampu mengatasi keterasingan kita dari orang lain, tetapi dengan intergritas individu kita.
Cinta bukan hanya dirasakan oleh orang-orang dewasa saja tetapi juga dirasakan remaja bahkan diseluruh dunia. Cintalah yang membuat remaja menjadi tertarik pada lawan jenis, apapun rela dilakukan oleh remaja yang sedang jatuh cinta untuk mendapatkan balasan cinta yang diberikan dari lawan jenis. Remaja madya (middle adolescent) sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya.
Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan (Anon.,2011).
Pada umumnya masa remaja adalah dimana mereka mengalami pubertas. Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual. Masa puber juga merupakan periode yang unik dan khusus yang ditandai dengan perubahan-perubahan perkembangan tertentu yang tidak terjadi dalam rentang kehidupan. Perubahan fisik pada masa puber mempengaruhi semua bagian tubuh, baik eksternal maupun internal. Sehingga juga mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis seorang anak. Meskipun akibatnya biasanya sementara, namun cukup meninbulkan perubahan dalam pola perilaku, sikap, dan kepribadian (Hurlock, 1980).
Hasil penelitian (Ardi dan Wahyu, 2012) menunjukkan bahwa ada tiga unsur sumber kebahagiaan remaja, yaitu: (1) hubungan dengan orang lain (50,1%) yang terdiri dari peristiwa tentang keluarga mereka, hubungan dengan teman, dan kegiatan yang terkait untuk mencintai dan dicintai, (2) pemenuhan diri (32,67%) terdiri dari kegiatan yang terkait dengan prestasi, penggunaan waktu luang, dan uang, (3) hubungan dengan Allah (9,63%) terdiri dari peristiwa rohani yang melibatkan hubungan antara remaja dan dewa.
Cinta yang dialami oleh remaja disebut dengan istilah “cinta monyet”. Namun itu semua yang dirasakan dan dilakukan oleh remaja yang normal. Berbeda dengan apa yang dirasakan dan dilakukan oleh remaja yang mengalami autis. Secara fisik mereka sama dengan remaja normal lainnya. Dimana remaja autis juga sama seperti remaja normal lainya mereka mengalami pubertas dan ketertarikan dengan lawan jenis. Remaja autis yang mengalami penyimpangan perkembangan fungsi kognisi, emosi dan psikomotorik. Perkembangan mereka menjadi terganggu terutama dalam komunikasi, interaksi dan prilaku.
Ketika remaja autis berhadapan dengan lawan jenis akankah mereka bisa mengekspresikan cintanya dan bagaimana bentuk interaksi dengan lawan jenis yang dilatarbelakangi cinta. Adanya faktor luar yang mempengaruhi remaja autis untuk mengekspesi diri, seperti perhatian yang diberikan dari lawan jenis dari sinilah remaja autis akan membalas perhatianya dan akan membentuk hubungan interaksi dengan lawan jenis. Kesimpulkan peneliti pada istilah autis adalah suatu gangguan perkembangan dan kelainan yang ditunjukan dengan perkembangan yang menyimpang pada anak-anak yang disebabkan karena kerusakan otak sehingga mengganggu fungsi kognitif, emosi, dan psikomotorik, terutama pada perkembangan kominikasi, interaksi, dan prilaku.
persentasenya di Indonesia. Penelitian yang intensif di dunia medis pun dilakukan oleh para ahli. Di mulai dari hipotesis sederhana sampai sampai kepenelitian klinis kelanjutan.
Hasil penelitian menunjukan satu dari 150 bayi di Indonesia kini menderita autis. Laporan terakhir badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2005 pun memperlihatkan hal serupa, yang mana perbandingan anak autis dengan anak normal diseluruh dunia, termasuk Indonesia telah mencapai 1:100. Menurut sebuah hasil penelitian, tingkat prevalensi dari autisme ini diperkirakan empat sampai lima per 10.000 anak mengalami gangguan autis. Beberapa penelitian yang mengunakan definisi luas dari autis memperkirakan 10 sampai 11 dari 10.000 anak mengalami gangguan autis (Ulfa,2008).
Gangguan perkembangan mengalami peningkatan dibeberapa tahun terakhir ini, diperjelas dengan data statistik mengenai penyandang autisme, yaitu bila 10-20 tahun yang lalu jumlah penyandang autis hanya 2-4 per 10.000 anak, tiga tahun belakangan jumlah tersebut meningkat menjadi 15-20 anak atau 1 per 500 anak. Tiga tahun belakangan, di AS ditemukan 20-60 anak, kira-kira 1/200 atau 1/250 anak (Maulana, 2008). Hal serupa juga dikemukakan oleh Budhiman (2000) yaitu “ Bila sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autis dipekirakan satu per 5.000 anak, saat ini meningkat menjadi satu per 500 anak” (www.kesos.unpad.ac.id).
Sedangkan menurut dr. Melly Budhiman, SpKj, data yang muncul di beberapa media menyebutkan bahwa pada tahun 1987 rasio jumlah orang dengan autisme adalah 1:5.000. pada tahun 2007 di AS menurut laporan Center for Disease Control memiliki rasio autisme 1:150 (diantara 150 anak, ada satu anak autis). Sementara di inggris sendiri disebutkan rasionya yaitu 1:100. Dari data yang sudah muncul dibeberapa media terlihat semakain lama semakin tinggi orang dengan autisme (Pontianak Pos,20 April 2008).
Walaupun belum ada data resmi mengenai jumlah penyandang autistik di Indonesia, namun lembaga sensus di Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2004 di Indonesia terdapat 475.000 anak dengan ciri Autistik (Ramdhani, Thiomina, Prastowo, dan Kusumawardhani, 2009). Terdapat kemungkinan besar bahwa hingga pada tahun 2011 ini semakin bertambah. Informasi mengenai perkembangan jumlah penyandang Autisme kenyataannya meningkat pesat. Data terbaru dari Centre for Disease Control and Prevention Amerika Serikat menyebutkan, kini 1 dari 110 anak disana menderita autis. Angka ini naik 57 persen dari data tahun 2002 yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak (www.kompas.com, 21 Desember 2009).
yang ditandai dengan variasi dalam tiga domain gejala, yaitu defisit dalam interaksi sosial, defisit dalam verbal dan non-verbal komunikasi, dan stereotypies dan pola perilaku yang kaku (DSM-IV) (American Psychiatric Association, 1994).
Sedangkan diagnosis gangguan autistik membutuhkan adanya gejala pada ketiga domain, diagnosis gangguan Aspergerí menuntut defisit dalam interaksi sosial dan stereotypies dan pola perilaku yang kaku, tapi tidak ada masalah klinis yang signifikan dalam bahasa awal dan komunikasi. Diagnosis PDD-NOS, sebuah subthres hold atau manifestasi atipikal autisme, biasanya dibuat atas dasar defisit dalam komunikasi sosial dalam teraction, verbal dan nonverbal atau perilaku kaku dan stereotip yang tidak memenuhi set lengkap kriteria diagnostik untuk autisme (Buitelaar dan van der Gaag 1998; Buitelaaretal 1999;. American Psychiatric Association 1994).
Sinyal-sinyal dari anak autis tidak selalu mudah untuk memahami, atau mereka memicu respon orang tua yang memadai bagi anak-anak biasanya berkembang, tetapi tidak untuk anak autis. Kesulitan-kesulitan dalam interaksi sosial achild dengan autisme sering dilaporkan oleh orang tua dari bulan-bulan pertama kehidupan childí itu, jauh sebelum anak menerima diagnosis autisme (Lord, 1995).
Melalui observasi yang dilakukan peneliti, perilaku dan ekspresi yang muncul untuk menunjukan rasa tertarik pada lawan jenis. Seorang remaja perempuan yang memberikan pandangan kosong pada seorang teman laki-lakinya. Sedangkan remaja laki-laki yang menderita autis sering kali memandangi teman perempuanya seperti berbicara tetapi tidak jelas dan berbincang seakan sudah kenal lama.
Secara umum, tidak dapat dipungkiri bahwasanya masalah yang dialami remaja penderita autis sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua untuk mengajarkan prilaku yang seharunya. Remaja penderita autis apabila tidak ditangani dengan baik, akan semakin memperparah kondisi sang remaja hingga masa dewasa nantinya. Banyak kalangan yang harus dilibatkan, mulai dari orang tua, dokter, perawat anak autis, dan faktor lingkungan. Untuk menjadikan remaja autis menjadi layaknya remaja normal yang membutukan cinta sesama hingga dewasa. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk meneliti perilaku dan ekspresi emosi positif (senang dan sayang) dan faktor-faktor yang mempengaruhi remaja autis berperilaku dalam menghasilkan emosi positif (senang dan sayang) kepada lawan jenis. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitiannya adalah “Gambaran Cinta Remaja
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut :
Bagaimana gambaran cinta remaja autis pada lawan jenis?
C.Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran cinta remaja autis pada lawan jenis.
D.Manfaat
1. Secara teoritis
Diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan konsep ilmu dibidang psikologi perkembangan dan klinis.
2. Secara praktis