Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD

91  12  Download (1)

Teks penuh

(1)

RANCANGAN AKUISISI DATA FREKUENSI DETAK JANTUNG BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGUKUR

DENYUT JANTUNG DENGAN DISPLAY LCD

SKRIPSI

ALEXANDER S D MANIHURUK NIM. 040801003

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

RANCANGAN AKUISISI DATA FREKUENSI DETAK JANTUNG BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI PENGUKUR

DENYUT JANTUNG DENGAN DISPLAY LCD

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar sarjana sains

ALEXANDER S D MANIHURUK NIM. 040801003

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

ABSTRACT

The application of temperature controlling can be met in many fields. The purpose of this final assignment is the result of temperature in plant can be set and presented in computer. The program that will be used is the program that is used occassionally for a microcontroller, that is Assembler language and also AT Command and as a temperature detector that would be displayed on the monitor by using a Visual Basic Program.

This system works by detecting temperature that is displayed by LM 35 on the monitor, continously. If temperature rises, the microcontroller I would report the event to microcontroller II. Then microcontroller II will then activate a particular relay to send short message and cellular phone to the user.

(4)

ABSTRAK

Aplikasi pengendalian suhu banyak ditemui dalam berbagai bidang. Tujuan dari tugas akhir ini adalah hasil suhu di ruangan bisa di set dan ditampilkan di komputer. Program yang dimanfaatkan adalah program yang sering digunakan untuk mikrokontroller yaitu bahasa Assembler dan juga menggunakan program AT Command, dan sebagai penampil suhuh di komputer menggunakan program Visual Basic.

Cara kerja sistem ini adalah suhu yang di dideteksi oleh LM 35 akan ditempilkan di komputer secara terus-menerus. Jika terjadi lonjakan suhu maka mikrokontroller 1 akan melaporkannya ke mikrokontroller 2. Lalu mikrokontroller 2 akan mengaktifkan relay-relay tertentu untuk mengirimkan pesan singkat dari telepon selular 1 ke telepon selular pengguna. Lonjakan suhu yang dideteksi berkisar dari 35oC - 50oC dan seterusnya.

(5)
(6)

DAFTAR ISI

Bab III Perancangan Sistem 3.1. Rangkaian Power Supply (PSA) 30

3.2. Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51 31

(7)

3.4. Rangkaian Filter 35

Bab IV Pengujian dan Analisa Sistem 4.1. Pengujian Elektrode 62

Bab V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan 77

5.2 Saran 78

DAFTAR PUSTAKA

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Sinyal Jantung oleh Elektrokardiograf 8 Tabel 2.2 Fungsi masing-masing Pin pada Port 3 18

Tabel 2.3 Fungsional Pin IC LM358 20

Tabel 2.4 Keterangan Pin Out LCD 24

Tabel 4.1 Pengujian penguatan IC LM358 65 Tabel 4.2 Konversi angka ke bilangan hexsa 70 Tabel 4.3 Pengujian Pada Lengan Kanan 73 Tabel 4.4 Pengujian pada Lengan Kiri 73 Tabel 4.5 Pengujian pada Kedua Lengan 73

Tabel 4.6 Pengujian pada Dada 74

Tabel 4.7 Pengujian pada Kaki Kiri 74

Tabel 4.8 Pengujian pada Kaki Kanan 74

Tabel 4.9 Pengujian pada Kedua Kaki 75

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1. Sistem Konduksi Jantung yang Normal 5

Gambar 2.2 Alur peredaran darah 6

Gambar 2.3 Grafik ECG 8

Gambar 2.4 Gambar Elektrode 10

Gambar 2.5 Gelombang keluaran pada saat depolarisasi dan repolarisasi 11

Gambar 2.6 Dwikutub muatan sel 12

Gambar 2.7 Tegangan dinding sel 12

Gambar 2.8 IC Mikrokontroler AT89S51 17

Gambar 2.9 IC LM358 19

Gambar 2.10 Interferensi tegangan jala-jala pada pengukuran signal biopotensial 20

Gambar 2.11 Timer 555 Monostabil 23

Gambar 2.12 LCD Type LMB162AFC 24

Gambar 2.13 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE) 28

Gambar 2.14 ISP- Flash Programmer 3.7 29

Gambar 3.1 Rangkaian Power Supplay (PSA) 30 Gambar 3.2 Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51 32 Gambar 3.3 Siklus gelombang Detak Jantung Normal 34

Gambar 3.4 Rangkaian penguat LM358 34

Gambar 3.5 Sinyal gelombang setelah dikuatkan 35 Gambar 3.6 Filter dan penguatan bertahap 36 Gambar 3.7 Sinyal difilter dan dikuatkan 37

Gambar 3.8 Bentuk penyearah gelombang dengan filter kapasitor 38 Gambar 3.9 Sinyal detak jantung dengan penyearah setengah gelombang 38

Gambar 3.10 Rangkaian penyearah setengah gelombang 39

Gambar 3.11 Rangkaian detektor puncak 39

Gambar 3.12 Grafik detektor sinyal 40

Gambar 3.13 Rangkaian Komparator 41

Gambar 3.14 Perbandingan sinyal detak jantung oleh komparator 41

Gambar 3.15 Timer 555 Monostabil 42

Gambar 3.16 Perubahan frekuensi ke gelombang persegi 43 Gambar 3.17 Perubahan sinyal oleh Timer 555 43 Gambar 3.18 Rangkaian Mikrokontroler dengan LCD 44

Gambar 3.19 Diagram Blok Rangkaian 45

Gambar 3.20 Flowchart 60

(10)

Gambar 4.4 Elektrode direkatkan pada Lengan kanan 65

Gambar 4.5 Low Pass Filter 66

Gambar 4.6 High Pass Filter 66

Gambar 4.7 Penyearah setengah gelombang dengan pemotongan 0,6 volt 67 Gambar 4.8 Tegangan keluaran detector puncak 67 Gambar 4.9 Perbandingan sinyal detak jantung oleh komparator 68 Gambar 4.10 Siklus gelombang denyut jantung dengan frekuensi 130Hz 69

Gambar 4.11 Skematik LCD 69

Gambar 4.12 Mikrokontroler terhubung dengan LCD 70

Gambar 4.13 Keluaran LCD 72

(11)

ABSTRACT

The application of temperature controlling can be met in many fields. The purpose of this final assignment is the result of temperature in plant can be set and presented in computer. The program that will be used is the program that is used occassionally for a microcontroller, that is Assembler language and also AT Command and as a temperature detector that would be displayed on the monitor by using a Visual Basic Program.

This system works by detecting temperature that is displayed by LM 35 on the monitor, continously. If temperature rises, the microcontroller I would report the event to microcontroller II. Then microcontroller II will then activate a particular relay to send short message and cellular phone to the user.

(12)

ABSTRAK

Aplikasi pengendalian suhu banyak ditemui dalam berbagai bidang. Tujuan dari tugas akhir ini adalah hasil suhu di ruangan bisa di set dan ditampilkan di komputer. Program yang dimanfaatkan adalah program yang sering digunakan untuk mikrokontroller yaitu bahasa Assembler dan juga menggunakan program AT Command, dan sebagai penampil suhuh di komputer menggunakan program Visual Basic.

Cara kerja sistem ini adalah suhu yang di dideteksi oleh LM 35 akan ditempilkan di komputer secara terus-menerus. Jika terjadi lonjakan suhu maka mikrokontroller 1 akan melaporkannya ke mikrokontroller 2. Lalu mikrokontroller 2 akan mengaktifkan relay-relay tertentu untuk mengirimkan pesan singkat dari telepon selular 1 ke telepon selular pengguna. Lonjakan suhu yang dideteksi berkisar dari 35oC - 50oC dan seterusnya.

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Meningkatnya gangguan kesehatan pada tubuh manusia tidak terlepas dari cara kerja dari jantung kita.Apabila kesehatan kita terganggu maka jantung dapat memberi tahu secara klinis keadaan tubuh kita.Ketidakpastian tingkat kesehatan tubuh kita maka perlu memonitor kesehatan tubuh kita. Dengan memonitor denyut jantung maka kita dapat mengetahui tingkat kesehatan kita yang paling dasar. Dengan alat yang dirancang ini,keadaan kesehatan tubuh dapat dipantau secara langsung dengan meniru cara kerja Elektrokardiograf (EKG).

(14)

Sebagai pengendali utama yang digunakan adalah perangkat lunak Assembler yang diisikan ke dalam mikrokontroller yang secara langsung menampilkan data yang didapat yang diproses pada LCD.

Untuk pengambilan data dari denyut jantung pada tubuh perlu sekali mengetahui cara kerja dasar jantung.Jantung adalah organ penting dalam tubuh manusia yang difungsikan untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Darah yang dipompa ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah membawa zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Pemompaan darah dipicu oleh simpul Simpul sinoatrial (SA) yang terdapat di sebelah serambi kiri jantung. Untuk mengetahui aktivitas elektris otot jantung diperlukan pencatatan atau perekaman dari permukaan tubuh.

(15)

I.2 Batasan Masalah

Alat pendeteksi denyut jantung ini mengambil data dari frekuensi denyut jantung kemudian menampilkannya di LCD.Data yang dikirimkan LCD berupa data digital yang telah diubah oleh rangkaian pengkondisi sinyal yang sebelumnya data analognya didapat dari elektrode yang berfungsi sebagai sensor frekuensi denyut jantung.

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Mengaplikasikan elektrode sebagai alat elektris pengambilan data denyut jantung manusia yang relatif lebih sering dipakai dalam alat medis kedokteran sekarang ini.

2. Untuk mengintegrasikan sistem akuisisi data denyut jantung pada pengukuran denyut jantung manusia sehingga dapat memaksimalkan kerja dari alat ukur denyut jantung yang biasa dipakai dalam dunia kedokteran.

3. Mengaplikasikan mikrokontoler AT89S51 sebagai pengontrol akuisisi data elektris denyut jantung secara sistematis

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Perancangan instrumen yang terjangkau secara biaya dan dapat diaplikasikan pada puskesmas-puskesmas di daerah-daerah yang kekurangan alat medis. 2. Pendeteksian dini penyakit/kelainan jantung dapat memperbesar keberhasilan

pengobatan/terapi.

(16)

I.5 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dan pemahaman maka penulis membuat sistematika pembahasan bagaimana sebenarnya prinsip kerja dari alat ini sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB II. LANDASAN TEORI

Landasan teori, dalam bab ini dijelaskan tentang teori pendukung yang digunakan untuk pembahasan dan cara kerja dari rangkaian Teori pendukung itu antara lain tentang mikrokontroler AT89S51 (hardware dan software), bahasa program yang digunakan, serta cara kerja dari bagian – bagian rangkaian , dan komponen yang lainnya.

BAB III. PERANCANGAN SISTEM

Berisi tentang tahapan-tahapan perancangan sistem, sampai diperoleh suatu diagram blok yang merupakan gambaran dari keseluruhan sistem sehingga dapat menjalankan fungsi yang kita inginkan.

BAB IV. PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

Berisi tentang pengujian dan analisis sistem/rangkaian pada penelitian ini.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar

Jantung adalah organ muskular yang berfungsi sebagai pompa ganda sistem kardiovaskular. Sisi kanan jantung memompa darah ke paru-paru sedangkan sisi kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung mempunyai empat ruangan, serambi kanan dan kiri, bilik kanan dan kiri. Serambi berdinding tipis sedangkan bilik berdinding lebih tebal dengan bilik kiri berdinding paling tebal karena dia memompa darah ke seluruh tubuh.Jantung terbuat dari jaringan otot khusus yang tidak terdapat dimanapun di seluruh tubuh. Lapisan pertama disebut endokardium yang berfungsi sebagai bagian dalam jantung. Lapisan kedua disebut miokardium yaitu otot utama jantung yang melaksanakan pemompaan untuk mensirkulasikan darah. Epikardium adalah lapisan ketiga otot jantung, tipis merupakan membrane proteksi yang menutup sebelah luar jantung. Pada bagian atas serambi kanan terdapat simpul sinoatrial (SA).

(18)

Simpul SA inilah yang menimbulkan rangsangan yang menyebabkan jantung terkontraksi. Simpul atrioventrikular (AV) terletak pada dinding yang membatasi serambi kanan dan bilik kanan. Simpul ini berfungsi menghantarkan impuls dari serambi ke bilik. Impuls dari simpul AV kemudian diteruskan ke seluruh bilik melalui berkas His. Pada ujung berkas His terdapat banyak cabang. Cabang-cabang ini disebut serat Purkinye. Serat-serat Purkinye bertugas meneruskan impuls dari berkas His ke seluruh otot bilik. Bilik kemudian berkontraksi sehingga darah dipompa keluar dari bilik dan mengalir dalam sistem peredaran darah. Sistem konduksi jantung yang normal dapat dilihat pada Gambar 2.1

Pertama kali darah dari pembuluh darah vena masuk ke Atrium Kanan, kemudian menuju ke Ventrikel Kanan, kemudian menuju ke Paru–Paru, dimana dalam paru-paru ini terjadi pertukaran udara dari CO2 ke O2. Dari paru-paru darah menuju ke Atrium Kiri, kemudian menuju ke Ventrikel Kiri. Setelah itu darah dipompa menuju ke seluruh tubuh dan kepaladimana melalui pembuluh darah Aorta. Pembuluh darah Aorta sendiri terdiri dari berbagai cabang dimana urutan pembuluh yang terbesar sampai terkecil adalah: Arteri, Arteriol, dan Kapiler. Gambar dari alur tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2. Frekuensi kerja denyut jantung itu dasarnya ditentukan oleh frekuensi aliran darah yang masuk dalam jantung yang berasal dari vena yang mana kondisinya berbanding lurus dan juga faktor – faktor luar. Pada aliran darah inilah terjadi tegangan aksi yang menghasilkan perubahan tegangan pada dinding sel.

(19)

Tegangan aksi adalah perubahan tegangan dinding dari nilai normalnya. Perubahan tegangan dinding ini berlangsung sangat cepat, kemudian tegangan dinding kembali pada nilai normalnya yaitu –90 mV. Perubahan tegangan dinding terjadi jika permeabilitas dinding terhadap Natrium dan Kalium meningkat. Perubahan permeabilitas dinding dapat terjadi jika dinding sel tereksitasi oleh aliran arus ionis atau jika ada energi yang diberikan dari luar. Peningkatan permeabilitas dinding terhadap Natrium menyebabkan ion-ion Na+ berdifusi ke dalam sel. Pada saat yang sama ion K+ yang konsentrasinya lebih tinggi di dalam sel selama sel dalam keadaan istirahat, berdifusi ke luar sel. Tetapi difusi ion K+ ini tak secepat ion Na+ , akibatnya di dalam sel hanya tertimbun muatan +20 mV. Tegangan ini disebut tegangan aksi (potensial aksi). Keadaan ini dinamakan depolarisasi. Setelah ion Na+ mencapai keseimbangan yang baru dan dinding kembali tidak permeabel terhadap Na+, ion Na+ tidak dapat lagi berdifusi masuk ke dalam sel. Sebaliknya mekanisme pompa natrium memompa Na+ ke luar sel dengan cepat sehingga tegangan di dalam sel turun dan akhirnya kembali ke nilai normalnya yaitu –90 mV, peristiwa ini dinamakan repolarisasi. Repolarisasi dipercepat oleh peningkatan permeabilitas Kalium yang menyebabkan difusi ke luar dinding. Tegangan aksi ini akan merangsang dinding-dinding di sekitarnya dan mengakibatkan perambatan tegangan aksi.

Proses perubahan tegangan ini bisa dianalisa dengan adanya rekaman perubahan tegangan atau disebut rekaman ECG (Elektrokardiograf). Dengan alat yang dirancang ini,keadaan kesehatan tubuh dapat dipantau secara langsung dengan meniru cara kerja Elektrokardiograf (EKG). Elektrokardiograf merupakan peralatan medis yang berfungsi untuk mengukur biopotensial jantung. Elektrokardiograf normal terdiri atas gelompang P, kompleks QRS, dan gelombang T dengan tampilan grafik sesuai dengan namanya Elektrokardiogram.

(20)

teknologi akuisisi data yang digunakan dalam menjamin keakuratan data pasien yang diterima. Standarisasi dalam rekaman ECG yaitu 25 mm/detik untuk kecepatan rekaman dan 10mm/mVolt untuk amplitudo. Sinyal hasil deteksi jantung yang normal oleh elektrokardiograf sebagai berikut ;

Gelombang EKG Amplitude EKG Interval Durasi P <0,3mV P - R 0,12 – 0,20 dtk R 1,6 – 3 mV Q - T 0,35 – 0,44 dtk Q 25 % dari R S - T 0,05 – 0,15 dtk T 0,1 -0,5 mV Q - R -S 0,06 – 0,10 dtk

Tabel 2.1 Sinyal Jantung oleh Elektrokardiograf

Rekaman ini biasanya tampak pada kertas grafik ECG yang biasanya dipakai pada alat kedokteran terdahulu.Untuk lebih jelasnya grafik normal jantung sebagai berikut ;

Gambar 2.3 Grafik ECG

Pada dasarnya ada tiga teknik yang digunakan dalam elektrokardiografi, yaitu:

1. Standard clinical ECG.

Teknik ini menggunakan 10 elektroda (12 lead) yang ditempatkan pada titik-titik tubuh tertentu. Teknik ini dipakai untuk menganalisa pasien.

2. Vectorcardiogram.

(21)

3. Monitoring ECG.

Teknik ini menggunakan 1 atau 2 elektroda yang ditempatkan pada titik-titik tubuh tertentu. Teknik ini digunakan untuk memonitor pasien dalam jangka panjang.

Jadi yang digunakan dalam teknik perekaman dalam penulisan ini adalah teknik monitoring ECG. Monitoring denyut jantung dapat dilakukan menggunakan teknik langsung (direct) ataupun tidak langsung (indirect). Secara langsung dilakukan dengan mensensor pada jantung itu sendiri. Sedangkan secara tidak langsung dengan memanfaatkan pembuluh darah, yaitu dengan melakukan sadapan atau sensor pada aliran darah tersebut. Alat ini menggunakan monitoring secara tidak langsung dengan elektrode sebagai sensor dengan tegangan input 10μV - 20mV. Pada tulisan ini akan dirancang dan dibuat sistem pendeteksi dan penghitung frekuensi detak jantung berbasis mikrokontroler AT89S51 yang menggunakan 2 (dua) buah elektrode. Pada sistem ini mikrokontroler AT89S51 bekerja berdasarkan masukan dari rangkaian pendeteksi detak jantung berupa sinyal potensial listrik tubuh bukan berupa grafik seperti pada alat Elektrokardiograf. Sinyal akan dikuatkan melalui penguat dan melalui filter, penyearah setengah gelombang, detector puncak, timer 555, dan selanjutnya ke mikrokontroler. Mikrokontroler akan menambahkan dan menampilkan angka pada layar LCD pada setiap detak jantung yang terdeteksi. Dengan dirancang dan direalisasikannya perangkat akuisisi data frekuensi detak jantung berbasis mikrokontroler AT89S51 ini, diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui frekuensi detak jantung secara umum menjadi lebih cepat dan mudah dilakukan.Dalam sistem ini pengendali utama yang digunakan adalah mikrokontroler AT89S51.

Seperti kita ketahui bahwa mikrokontroler pada umumnya memiliki dua buah memori, yaitu:

1. ROM (Read Only Memory), dimana isinya tidak akan berubah meskipun IC kehilangan catu daya. Memori ini digunakan sebagai memori penyimpanan program.

(22)

2.2. Perangkat Keras

2.2.1. Elektrode

Elektrode adalah sensor/tranduser yang mengubah energi ionis dari sinyal jantung menjadi energi elektris untuk akuisisi dan pengolahan datanya. Transducer ini dipakai dengan menggunakan interface jelly electrode-electrolyte. Dengan menggunakan elektroda Ag/AgCl mengurangi noise dengan frekuensi rendah pada sinyal detak jantung yang terjadi karena pergerakan.

Elektrode ini ditempelkan pada permukaan kulit pasien pada lokasi yang sudah ditentukan yang disebut sandapan atau leads. Elektrode yang dipakai adalah jenis tempel dengan bahan dari perak klorida (AgCl). Fungsi dasar dari elektroda adalah mendeteksi sinyal kelistrikan jantung yaitu ion-ion yang berjalan pada seluruh tubuh sesuai pergerakan darah oleh jantung. Cara kerja transducer ini adalah untuk mengkonversi informasi biologis menjadi sinyal elektrik yang dapat diukur. Gambar di bawah memperlihatkan beberapa contoh sensor dari bahan tersebut yaitu :

(23)

Gambar 2.5 Gelombang keluaran pada saat depolarisasi dan repolarisasi

Gambar diatas memperlihatkan proses perubahan ion-ion pada permukaan tubuh dengan proses depolarisasi dan repolarisasi jantung. Pada saat kedua proses itu terjadi perubahan ion-ion tubuh yang pada saat penyadapan oleh elektrode menampilkan grafik denyut jantung.

2.2.1.1 Electric Dipole

(24)

Gambar 2.6 Dwikutub muatan sel

2.2.1.2 Otot Sel

Gambar dibawah memperlihatkan satu sel otot beristirahat. Satu mekanisme pengangkutan aktif dalam sel membran memelihara satu eksis positif Na++ dan Ca++ ion di atas/terhadap diluar, dan satu ekses dari ion Cl- negatif di dalam. Artinya ada satu beda potensial melintasi membran. Dalam jantung, itu adalah secara tipikal 70 mV untuk sel-sel atrial dan 90 mV untuk ventricular sel-sel.

Gambar 2.7 Tegangan dinding sel

(25)

keseimbangan. Nilai keseimbangan ini ternyata adalah satu ekses kecil ion positif di dalam sel, memberi suatu potensial di dalam sel sekitar +20 mV; hal ini dipelajari dalam persamaan Nernst dalam suatu kelas Chemistry yang memberikan nilai keseimbangan ini.

Beda potensial ini di sebelah kiri dari sel menyebabkan bagian dari sel bersebelahan membran untuk dengan cara sama pecah/roboh, yang pada gilirannya menyebabkan bagian bersebelahannya untuk pecah/roboh. Dengan begitu satu gelombang dari usapan depolarisasi sepanjang sel dari kiri ke kanan dengan satu kecepatan vr sebagai memperlihatkan. Sekarang momen dwikutub individual melintasi membran sel tidak membatalkan satu sama lain keluar, dan ada satu momen dwikutub dari penunjukan sel dalam arah/arahan dari gelombang depolarisasi. Ketika seluruhnya depolarised, Ca positif++ konsentrasi ion di dalam sel pergi dari 5×10-7 M ke/pada 5×10-6 M. Ca++ catalyses hidrolisis dari ATP oleh myosin di dalam sel, kemudian secara harafiah merebut protein actin juga di dalam sel, menyebabkan sel untuk mengontrak.

Dalam ini depolarisasi keadaan bagian ada momen dwikutub individual melintasi membran, penunjukan waktu ini dari diluar ke dalam, hanya perihal beristirahat sel otot setiap dwikutub momen adalah ditunda oleh satu di sisi lain sel sehingga total momen dwikutub adalah nol. Setelah sekitar 250 ms membran sel mulai berfungsi lagi, pemompaan positif ion diluar dan ion negatif di dalam sel. Dengan begitu satu gelombang repolarisasi mengikuti gelombang depolarisasi. Menggambar satu gambar serupa dengan adalah satu depolarisasi sel di atas bisa meyakinkan anda bahwa ada satu total dwikutub momen berhubungan dengan gelombang repolarisasi itu di titik dalam arah kebalikan pada kecepatan dari gelombang.

2.2.2. Mikrokontroler AT89S51

(26)

yang lebih banyak namun hanya membutuhkan ruang kecil serta dapat diproduksi secara massal (dalam jumlah banyak) sehingga harga menjadi lebih murah (dibandingkan mikroprosesor). Sebagai kebetuhan pasar, mikrokontroler hadir untuk memenuhi selera industri dan para konsumen akan kebutuhan dan keinginan alat-alat bantu dan mainan yang lebih canggih.

Ilustrasi yang mungkin bisa memberikan gambaran yang jelas dalam penggunaan mikrokontroler adalah aplikasi mesin tiket dalam arena permainan yang saat ini terkenal di Indonesia. Jika kita sudah selesai bermain, maka akan diberikan suatu nilai, nilai inilah yang menentukan berapa jumlah tiket yang bisa diperoleh dan jika dikumpulkan dapat ditukar dengan berbagai macam hadiah. Sistem tiket ini ditangani dengan mikrokontroler, karena tidak mungkin menggunakan computer PC yang harus dipasang disamping (atau di belakang) mesin permainan yang bersangkutan.

Selain sistem tiket, kita juga dapat menjumpai aplikasi mikrokontroler dalam bidang pengukuran jarak jauh atau yang dikenal dengan system telemetri. Misalnya pengukuran disuatu tempat yang membahayakan manusia, maka akan lebih nyaman jika dipasang suatu system pengukuran yang bisa mengirimkan data lewat pemancar dan diterima oleh stasiun pengamatan dari jarak yang cukup aman dari sumbernya. Sistem pengukuran jarak jauh ini jelas membutuhkan suatu system akuisisi data sekaligus system pengiriman data secara serial (melalui pemancar), yang semuanya itu bisa diperoleh dari mikrokontroler yang digunakan.

(27)

ukurannya relatif lebih besar, sedangkan RAM digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara, termasuk register-register yang digunakan pada mikrokontroler yang bersangkutan.

2.2.3. Konstruksi AT89S51

Mikrokontrol AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor,1 resistor dan 1 kristal serta catu daya 5 Volt. Kapasitor 10 mikro-Farad dan resistor 10 Kilo Ohm dipakai untuk membentuk rangkaian reset. Dengan adanya rangkaian reset ini AT89S51 otomatis direset begitu rangkaian menerima catu daya. Kristal dengan frekuensi maksimum 24 MHz dan kapasitor 30 piko-Farad dipakai untuk melengkapi rangkaian oscilator pembentuk clock yang menentukan kecepatan kerja mikrokontroler.

Memori merupakan bagian yang sangat penting pada mikrokontroler. Mikrokontroler memiliki dua macam memori yang sifatnya berbeda.

Read Only Memory (ROM) yang isinya tidak berubah meskipun IC kehilangan catu daya. Sesuai dangan keperluannya, dalam susunan MCS-51 memori penyimpanan progam ini dinamakan sebagai memori progam.

Random Access Memori (RAM) isinya akan sirna begitu IC kehilangan catu daya, dipakai untuk menyimpan data pada saat progam bekerja. RAM yang dipakai untuk menyimpan data ini disebut sebagai memori data.

(28)

Jenis memori yang dipakai untuk Memori Program AT89S51 adalah Flash PEROM, program untuk mengendalikan mikrokontroler diisikan ke memori itu lewat bantuan alat yang dinamakan sebagai AT89S51 Flash PEROM Programmer. Memori Data yang disediakan dalam chip AT89S51 sebesar 128 byte, meskipun hanya kecil saja tapi untuk banyak keperluan memori kapasitas itu sudah cukup. Sarana Input/Ouput yang disediakan cukup banyak dan bervariasi. AT89S51 mempunyai 32 jalur Input/Ouput. Jalur Input/Ouput paralel dikenal sebagai Port 1 (P1.0..P1.7) dan Port 3 (P3.0..P3.5 dan P3.7).

AT89S51 dilengkapi UART (Universal Asyncronous Receiver/ Transmiter) yang biasa dipakai untuk komunikasi data secara seri. Jalur untuk komunikasi data seri (RXD dan TXD) diletakan berhimpitan dengan P1.0 dan P1.1 di kaki nomor 2 dan 3, seningga kalau sarana input/ouput yang bekerja menurut fungsi waktu. Clock penggerak untaian pencacah ini bisa berasal dari oscillator kristal atau clock yang diumpan dari luar lewat T0 dan T1. T0 dan T1 berhimpitan dengan P3.4 dan P3.5, sehingga P3.4 dan P3.5 tidak bisa dipakai untuk jalur input/ouput parelel kalau T0 dan T1 dipakai.

AT89S51 mempunyai enam sumber pembangkit interupsi, dua diantaranya adalah sinyal interupsi yang diumpankan ke kaki INT0 dan INT1. Kedua kaki ini berhimpitan dengan P3.2 dan P3.3 sehingga tidak bisa dipakai sebagai jalur input/output parelel kalau INT0 dan INT1 dipakai untuk menerima sinyal interupsi.

(29)

Gambar 2.8 IC Mikrokontroler AT89S51

Deskripsi pin-pin pada mikrokontroler AT89S51 :

VCC (Pin 40) Suplai tegangan

GND (Pin 20) Ground

Port 0 (Pin 39-Pin 32)

(30)

multiplex address/data, port ini akan mempunyai internal pull up. Pada saat flash progamming diperlukan eksternal pull up, terutama pada saat verifikasi program.

Port 2 (Pin 21 – pin 28)

Port 2 berfungsi sebagai I/O biasa atau high order address, pada saat mengaksememori secara 16 bit. Pada saat mengakses memori 8 bit, port ini akan mengeluarkan isi dari P2 special function register. Port ini mempunyai internal pull up dan berfungsi sebagai input dengan memberikan logika 1. Sebagai output, port ini dapat memberikan output sink keempat buah input TTL.

Port 3 (Pin 10 – pin 17)

Port 3 merupakan 8 bit port I/O dua arah dengan internal pullup. Port 3 juga mempunyai fungsi pin masing-masing, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.2 Fungsi masing-masing Pin pada Port 3 Nama pin Fungsi

Reset akan aktif dengan memberikan input high selama 2 cycle.

ALE/PROG (pin 30)

(31)

PSEN (pin 29)

Progam store enable digunakan untuk mengakses memori progam eksternal.

EA (pin 31)

Pada kondisi low, pin ini akan berfungsi sebagai EA yaitu mikrokontroler akan menjalankan progam yang ada pada memori eksternal setelah sistem direset. Jika kondisi high, pin ini akan berfungsi untuk menjalankan progam yang ada pada memori internal. Pada saat flash progamming, pin ini akan mendapat tegangan 12 Volt.

XTAL1 (pin 19)

Input untuk clock internal.

XTAL2 (pin 18) Output dari osilator.

2.2.4 Penguat

Penguat operasional (op-amp) merupakan kumpulan puluhan transistor dan resistor dalam bentuk satu chip IC. Op-Amp merupakan komponen aktif linear yang merupakan penguat gandeng langsung (direct coupling), dengan penguatan terbuka (open gain) yang sangat besar dan dapat dipakai untuk menjumlahkan, mengalikan, membagi, mendifferensialkan, serta mengintegralkan tegangan listrik. IC Op-Amp sering dipakai untuk perhitungan-perhitungan analog, instrumentasi, maupun berbagai macam aplikasi kontrol. IC LM358 didesain secara sempurna dalam hal penggunaan dua buah Op-Amp secara bersamaan dalam satu chip. IC inilah yang dipakai dalam perancangan sistem alat.

(32)

No Pin Fungsi

1 Keluaran A (Output A)

2 Masukan membalik (Input inverting)

3 Masukan Tak membalik (Input non-inverting)

4 Dihubungkan dengan terminal negatif pencatu daya (V-) 5 Masukan Tak membalik (Input non-inverting)

6 Masukan membalik (Input inverting) 7 Keluaran B (Output B)

8 Dihubungkan dengan terminal positif pencatu daya (V+)

Tabel 2.3 Fungsional Pin IC LM358

IC Op-Amp LM358 memiliki keunggulan dalam pemakaian daya yang lebih rendah, kemampuan penggunaan saluran input yang berkorelasi dengan saluran pentanahan, dapat dicatu menggunakan mode catu daya tunggal maupun catu daya ganda.

Di dalam tubuh manusia, selain biopotential, terdapat signal-signal lain yang dapat turut terukur dan mengganggu pengukuran dan penguatan oleh IC LM358. Signal gangguan yang terbesar datang dari interference sumber tegangan listrik jala-jala (PLN) yang disebabkan oleh efek kapasitansi antara tubuh manusia dengan jaringan tegangan listrik yang ada disekitar tubuh.

(33)

Selain itu, loncatan elektron pada pekerjaan penyolderan perangkat listrik, dapat menjadi gangguan yang cukup besar pada pengukuran signal biopotential. Pengaruh gangguan dari luar tidak akan turut diperkuat oleh LM358 karena gangguan tersebut berpengaruh sama pada input positif dan input negative differential amplifier.

2.2.5 Filter

Ada dua tipe Filter yang dipakai yaitu Low Pass Filter (LPF) dan High Pass Filter (HPF). Rangkaian ini berfungsi untuk menyaring atau membatasi pita frekwensi yang bisa melewatinya. Pada High Pass Filter ,filter ini membuang gangguan yang berasal dari pergerakan antara pasien dengan elektroda. Sinyal derau tersebut mempunyai frekuensi yang rendah sehingga system ini EKG ini dirancang mempunyai batas frekuensi 0,5 Hz. Untuk Low Pass Filter sinyal EKG mempunyai amplitudo yang relatif sangat kecil sehingga rentan bercampur dengan derau yang tidak dikehendaki. Untuk High Pass Filter bekerja pada gangguan dari sinyal otot dan interferensi gelombang elektromagnetik yang cenderung berada pada frekuensi tinggi. Filter ini digunakan untuk mendapatkan batas atas dari jangkauan frekuensi sinyal EKG yang akan diamati (150 Hz). Frekuensi yang berada di atas frekuensi cut-off (fc) akan mengalami peredaman.

2.2.6 Penyearah Setengah Gelombang

(34)

2.2.7 Detektor Puncak

Rangkaian detektor puncak (peak detector) adalah rangkaian yang terdiri dari hubungan seri sebuah dioda dengan kapasitor yang menghasilkan output, secara teori, berupa tegangan DC yang sama dengan amplitudo puncak (Vp) tegangan AC sebagai input. Rangkaian ini identik dengan penyearah setengah gelombang dengan sebuah kapasitor. Keluran puncak dari rangkaian ini adalah nilai maksimum dari sinyal input.

2.2.8 Komparator

Komparator merupakan sebuah pembanding yang membandingkan tegangan isyarat pada satu masukan dengan suatu tegangan acuan pada masukan yang lain. Keluarannya berubah diantara batas-batas yang ditetapkan oleh tegangan - tegangan jenuh +Vsat dan –Vsat. Jika kita menginginkan tegangan keluaran dari komparator menjadi negatif ketika tegangan acuan terlampaui, maka tegangan acuan dihubungkan ke terminal positif. Sinyal masukannya dihubungkan ke terminal negatif.

2.2.9 Pewaktu 555 Monostabil Multivibrator

(35)

ditentukan oleh sebuah tahanan dan kapasitor yang dihubungkan ke pewaktu IC. Di akhir selang penentuan waktu, keluarannya kembali ke tingkat rendah.

Gambar 2.11 Timer 555 Monostabil

2.2.10 Kontruksi LCD

(36)

data dimana teks ini yang harus ditampilkan pada layar. RW adalah pin Read/Write. Pada saat pin RW berlogika rendah, informasi pada jalur data berupa pengiriman data ke LCD (write). Sedangkan ketika pin RW berlogika tinggi, berarti sedang dilaksanakan pengambilan data dari LCD (read). Sedangkan untuk jalur data terdiri dari delapan bit, data ini disebut DB0, DB1, DB2, DB3, DB4, DB5, DB6 dan DB7.

No Nama Pin Deskripsi

6 E Enable Clock LCD, logika 1 setiap kali pengiriman atau pembacaan data

7 D0 Data Bus 0

Hitachi) Tegangan positif backlight 16 Katoda (Kabel merah untuk LCD

Hitachi) Tegangan negatif backlight

Tabel 2.4 Keterangan Pin Out LCD

(37)

2.3. Perangkat Lunak

2.3.1. Bahasa Assembly MCS-51

Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi pada bahasa ini hanya ada 51 instruksi. Instruksi –instruksi tersebut antara lain :

1. Instruksi MOV

Perintah ini merupakan perintah untuk mengisikan nilai ke alamat atau register tertentu. Pengisian nilai dapat secara langsung atau tidak langsung.

Contoh pengisian nilai secara langsung MOV R0,#20h

Perintah di atas berarti : isikan nilai 20 Heksadesimal ke register 0 (R0). Tanda # sebelum bilangan menunjukkan bahwa bilangan tersebut adalah nilai. Contoh pengisian nilai secara tidak langsung

MOV 20h,#80h ...

... MOV R0,20h

Perintah di atas berarti : isikan nilai yang terdapat pada alamat 20 Heksadesimal ke register 0 (R0).

Tanpa tanda # sebelum bilangan menunjukkan bahwa bilangan tersebut adalah alamat.

2. Instruksi DJNZ

Decreament Jump If Not Zero (DJNZ) ini merupakan perintah untuk mengurangi nilai register tertentu dengan 1 dan lompat jika hasil pengurangannya belum nol. Contoh ,

MOV R0,#80h

Loop: ... ...

(38)

R0 -1, jika belum 0 lompat ke loop, jika R0 = 0 maka program akan meneruskan ke perintah pada baris berikutnya.

3. Instruksi ACALL

Instruksi ini berfungsi untuk memanggil suatu rutin tertentu. Contoh :

Instruksi RETURN (RET) ini merupakan perintah untuk kembali ke rutin pemanggil setelah instruksi ACALL dilaksanakan. Contoh,

ACALL TUNDA

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu. Contoh, Loop:

... ...

JMP Loop

6. Instruksi JB (Jump if bit)

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu, jika pin yang dimaksud berlogika high (1). Contoh,

Loop:

(39)

7. Instruksi JNB (Jump if Not bit)

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu, jika pin yang dimaksud berlogika Low (0). Contoh,

Loop:

JNB P1.0,Loop ...

8. Instruksi CJNZ (Compare Jump If Not Equal)

Instruksi ini berfungsi untuk membandingkan nilai dalam suatu register dengan suatu nilai tertentu. Contoh,

Loop:

...

CJNE R0,#20h,Loop

...

Jika nilai R0 tidak sama dengan 20h, maka program akan lompat ke rutin Loop. Jika nilai R0 sama dengan 20h,maka program akan melanjutkan instruksi selanjutnya..

9. Instruksi DEC (Decreament)

Instruksi ini merupakan perintah untuk mengurangi nilai register yang dimaksud dengan 1. Contoh,

MOV R0,#20h R0 = 20h

...

DEC R0 R0 = R0 – 1

...

10.Instruksi INC (Increament)

Instruksi ini merupakan perintah untuk menambahkan nilai register yang dimaksud dengan 1. Contoh,

MOV R0,#20h R0 = 20h

...

INC R0 R0 = R0 + 1

(40)

2.3.2. Software 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE)

Instruksi-instruksi yang merupakan bahasa assembly tersebut dituliskan pada sebuah editor, yaitu 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE). Tampilannya seperti di bawah ini.

Gambar 2.13 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE)

Setelah program selesai ditulis, kemudian di-save dan kemudian di-Assemble (di-compile). Pada saat di-assemble akan tampil pesan peringatan dan kesalahan. Jika masih ada kesalahan atau peringatan, itu berarti ada kesalahan dalam penulisan perintah atau ada nama subrutin yang sama, sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu sampai tidak ada pesan kesalahan lagi.

(41)

2.3.3 Software Downloader

Untuk mengirimkan bilangan-bilangan heksadesimal ini ke mikrokontroller digunakan software ISP- Flash Programmer 3.7 yang dapat didownload dari internet. Tampilannya seperti gambar,

Gambar 2.14 ISP- Flash Programmer 3.7

(42)

BAB III

PERANCANGAN DAN REALISASI SOFTWARE

3.1 Rangkaian Power Supplay (PSA)

Rangkaian ini berfungsi untuk mensupplay tegangan ke seluruh rangkaian yang ada. Rangkaian PSA yang dibuat terdiri dari satu keluaran, yaitu 5 volt, keluaran 5 volt digunakan untuk mensupplay tegangan ke rangkaian mikrokontroler dan penguat LM358 dan rangkaian multivibrator monostabil,. Rangkaian power supplay ditunjukkan pada gambar 3.1 berikut ini :

Gambar 3.1 Rangkaian Power Supplay (PSA)

(43)

3.2 Rangkaian Minimum Mikrokontroller AT89S51

Mikrokontroler (Pengendali mikro) adalah system mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip. Mikrokontroler berbeda dari mikroprosesor serba guna yang digunakan dalam sebuah PC, karena sebuah mikrokontroler umumnya telah berisi komponen pendukung sistem minimal mikroprosesor, yakni memori, register dan antarmuka I/O yang terintegrasi bersama mikroprosesornya sendiri dalam sebuah chip. MCS-51 adalah salah satu keluarga mikrokontroler produksi ATMEL. Mikrokontroler MCS-51 yang digunakan pada penelitian ini ialah AT89S51, dengan konfigurasi kaki seperti gambar dibawah Spesifikasi mikrokontroler ini ialah:

1. Memiliki CPU(Central Processing Unit) 8 bit.

2. Oscilator internal dengan rangkaian tambahan untuk pewaktu. 3. RAM internal 256 byte.

4. Flash Memory untuk menyimpan program sebesar 8 Kbyte. 5. In-System Programable(ISP) Flash Memory.

6. Memiliki 32 buah jalur I/O yang programable. 7. Memiliki 2 buah Timer 16 bit.

8. Mendukung 9 buah sumber interrupt.

9. Memiliki kanal serial UART yang programable.

(44)

Pada penelitian ini, AT89S51 berfungsi untuk menampung sinyal hasil dari pengkondisi sinyal yang terdiri dari sejumlah rangkaian seperti : penguat sinyal,low pass filter dan high pass filter ,penguat setengah gelombang ,rangkaian threshold (Detektor Puncak), rangkaian komparator, rangkaian pewaktu 555 monostabil ,selanjutnya mengirimkan sinyal tersebut ke port serial. Mikrokontroler AT89S51 berfungsi menampilkan nilai frekuensi yang telah diproses oleh rangkaian pengkondisi sinyal. Sinyal akan diterima pada port P1.7 dan disesuaikan sesuai dengan program yang diinginkan untuk keluaran pada LCD.

Mikrokontroler ini memiliki 32 port I/O, yaitu port 0, port 1, port 2 dan port 3. Pin 32 sampai 39 adalah Port 0 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit untuk keluaran pada LCD. Pin 26 sampai 28 juga adalah bagian port 2 yang berfungsi untuk tampilan di LCD . Pin 40 dihubungkan ke sumber tegangan 5 volt. Dan pin 20 dihubungkan ke ground.

Rangkaian mikrokontroler ini menggunakan komponen kristal 12 MHz sebagai sumber clocknya. Nilai kristal ini akan mempengaruhi kecepatan mikrokontroler dalam mengeksekusi suatu perintah tertentu.Pada pin 9 dihubungkan dengan sebuah kapasitor 10 uF yang dihubungkan ke positip dan sebuah resistor 10 Kohm yang dihubungkan ke ground. Kedua komponen ini berfungsi agar program pada mikrokontroler dijalankan beberapa saat setelah power aktif. Lamanya waktu antara aktifnya power pada IC mikrokontroler dan aktifnya program adalah sebesar perkalian antara kapasitor dan resistor tersebut. Jika dihitung maka lama waktunya adalah :

t = R x C = 10 KΩ x 10 µF = 1 m detik

Jadi 1 mili detik setelah power aktif pada IC kemudian program aktif.

(45)

mikrokontroler tersebut, dapat diketahui apakah rangkaian minimum tersebut sudah bekerja dengan baik atau tidak.

Jika LED yang terhubug ke Pin 17 sudah bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan, maka rangkaian minimum tersebut telah siap digunakan. Namun setelah seluruh rangkaian disatukan, LED yang terhubung ke in 17 ini tidak digunakan lagi.

3.3 Rangkaian Penguat

Penguat yang sesuai untuk menggabungkan dua buah sinyal dari masing-masing elektroda yang dipakai dalam alat ini adalah penguat LM358.Dengan penguatan terbuka (open gain) yang sangat besar dan dapat dipakai untuk menjumlahkan, mengalikan, membagi, mendifferensialkan, serta mengintegralkan tegangan listrik maka dapat dipakai untuk menguatkan sinyal elektrode sebagai transduser. Penguat diperlukan untuk memperbesar amplituda sinyal. Sinyal yang harus dikuatkan berupa sinyal yang biasa didapat EKG dengan gelombang P,Q,R,S yang mempunyai amplitudo rendah seperti pada gambar :

Gambar 3.3 Siklus Gelombang Detak Jantung Normal

(46)

bisa diubah sesuai kondisi pasien saat pengukuran. Agar dapat diolah mikrokontroler maka sinyal detak jantung dari tubuh harus diperkuat sehingga amplituda sinyal akan menjadi maksimal 5 Volt dari detak jantung yang didapat antara 0,18V sampai 0,27V dari penguat ini.

Gambar 3.4 Rangkaian Penguat LM358

Pada rangkaian ini dipakai IC LM358 dengan kombinasi sebagai penguat intrumentasi. Menghitung besar penguatan penguat instrumentasi secara teori yaitu:

Gain (A) = 1 + (R2/R1) = 1 + (100/1)

= 101

(47)

Gambar diatas memperlihatkan gelombang sinyal detak jantung tidak konstan antara 10μV-20mV pada tubuh sehingga penguatan sesuai perubahan biopotensial tubuh menghasilkan gelombang dengan noise yang relatif tinggi. Pada gambar tidak tampak noise yang berarti dengan penguatan dan hold sinyal yang hanya mengambil beberapa siklus denyut jantung.

3.4 Rangkaian Filter

Ada dua jenis filter yang akan digunakan dalam desain ini, yaitu High Pass Filter (HPF) dan Low Pass Filter (LPF). HPF berfungsi untuk meredam frekuensi rendah dan melewatkan frekuensi tinggi dengan batas frekuensi yang diinginkan yang disebut frekuensi cut off.

LPF berfungsi untuk meredam frekuensi tinggi dan melewatkan frekuensi rendah dengan batas yang diinginkan. Frekuensi cut off adalah ditentukan oleh rumus:

Dengan merujuk pada standar klinis ECG bahwa bandwidth ECG yang digunakan adalah 0,05-150 Hz, maka HPF yang akan digunakan adalah HPF dengan frekuensi cut off sebesar 0,05 Hz dan LPF yang digunakan adalah LPF dengan frekuensi cut off sebesar 130 Hz. Pada LPF maka ditentukan :

Oleh karena itu untuk komponen analog R dan C dapat diberi nilai: Rhp = 100KΩ, Chp = 30µF

(48)

Untuk komponen analog R dan C-nya dapat diberi nilai: Rlp = 1.2MΩ, Clp = 1nF

Gambar 3.6 Filter dan penguatan bertahap Tejadi penguatan :

A = 1 + (10k/1) = 11

Pada filter juga terjadi penguatan yang akan memperbesar total penguatan menjadi 1000 kali (standar EKG) dengan penggabungan kedua penguatan ini maka didapat penguatan : 101 x 11 ( pre amplifier pada filter) = 1111 kali.Penguatan total akan menguatkan sinyal denyut jantung dari 10μV-20mV sampai 1000 kali sehingga sinyal dapat diproses pada rangkaian timer 555 dan rangkaian mikrokontroler.

(49)

3.5 Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang

Gambar dibawah adalah rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor C yang paralel terhadap beban R. Ternyata dengan filter ini bentuk gelombang tegangan keluarnya bisa menjadi rata. Gambar 3.5.1 menunjukkan bentuk keluaran tegangan DC dari rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor. Garis b-c kira-kira adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu, dimana pada keadaan ini arus untuk beban R1 dicatu oleh tegangan kapasitor.

Sebenarnya garis b-c bukanlah garis lurus tetapi eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan kapasitor.

Gambar 3.8 Bentuk penyearah gelombang dengan filter kapasitor

(50)

Gambar 3.9 Sinyal detak jantung dengan penyearah setengah gelombang

Penyearah setengah gelombang hanya memancarkan setengah siklus dari sinyal denyut jantung dan menghilangkan sisanya dengan batas keluaran sampai nol volt. Siklus setengah masukannya tersebut bisa juga mengalami penguatan atau pelemahan atau juga tetap tak berubah besarnya, tergantung pada pemilihan tahanan dan penempatan diode dalam rangkaian Op-amp,maka dibuat penguat pembalik yang bisa diubah menjadi penyearah gelombang setengah linear dengan menambahkan dua dioda.

Gambar 3.10 Rangkaian penyearah setengah gelombang

3.6 Rangkaian Thresold (Detektor Puncak)

(51)

dihasilkan adalah hasil pengurangan dari amplitudo puncak tegangan AC sebagai input dengan tegangan buka dioda sebesar 0,6V.

Gambar 3.11 Rangkaian Detektor Puncak

Gambar 3.12 Grafik detektor sinyal

Dari grafik rangkaian detektor puncak diatas jelas terlihat bahwa besar tegangan DC outputnya tidak sama dengan amplitudo puncak (Vp) sinyal masukan, yaitu : V = Vp – V = 2,7 – 0,6 = 2,1V. Dengan menggabungkan rangkaian penjepit DC positif di depan rangkaian detektor puncak maka akan didapatkan rangkaian detektor puncak ke puncak yang outputnya, secara teori, berupa tegangan DC sebesar 2 kali amplitudo puncak (2Vp) tegangan AC sebagai input.

out D

Sama seperti rangkaian detektor puncak, output dari rangkaian detektor puncak ke puncak ini juga dipengaruhi oleh tegangan buka dioda.

Untuk rangkaian penjepit DC positif dapat kita ketahui outputnya, yaitu : Vout = Vin - V = 2,7 - 0,6 = 2,1V. Output rangkaian penjepit DC positif ini kemudian dijadikan sebagai input rangkaian detektor puncak, yang juga merupakan output rangkaian detektor puncak ke puncak, yang besarnya adalah :

(peak-to-peak) D

Vout(peak-to-peak detector) = Vin(peak-to-peak) - VD

(52)

3.7 Rangkaian Komparator

Rangkaian komparator ini menggunakan LM324 karena dalam IC ini mempunyai 4 buah op-amp dan cukup untuk membuat rangkaian komparator ini. Kegunaan dari rangkaian ini adalah untuk mengubah data analog yang dihasilkan oleh rangkaian sensor frekuensi menjadi data digital yang terdiri dari 0 volt dan 5 volt (0 atau 1) sehingga dapat di proses oleh mikrokontroler, karena mikrokontroler tidak dapat memproses data analog.

Output dari sensor frekuensi yang dipakai yaitu electrode, dalam bentuk tegangan dengan range perubahan 1,8V – 2,7V (idealnya 0 – 5 volt) , output tersebut menjadi input komparator dan dibandingkan dengan Vreferensi (Vref) yang didapat antara 1,8V – 2,7 volt yaitu 2 volt.Apabila tegangan input sensor frekuensi lebih besar dari tegangan referensinya (Vref) maka Vout-nya menjadi 0 volt,sebaliknya jika tegangan input sensor frekuensi lebih kecil dibandingkan dengan referensi(Vref) maka Vout-nya menjadi 2 volt.Vout dari rangkaian komparator ini menjadi inputan data buat rangkaian mikrokontroler.

.

(53)

Gambar 3.14 Perbandingan sinyal detak jantung oleh komparator

Dengan menggunakan komparator LM324 maka tegangan sinyal yang dihasilkan oleh rangkaian penguat akan dibandingkan dengan tegangan dari potensiometer. Tegangan potensiometer tersebut bervariasi antara 0 volt sampai 5 volt DC.

Pada saat tegangan sinyal berada dibawah tegangan potensiometer maka output dari komparator LM324 adalah +5V sehingga terdapat arus yang mengalir pada R7 (470). Apabila tegangan sinyal lebih tinggi daripada tegangan potensiometer maka output dari LM324 adalah 0 volt. Dalam kondisi ini tidak ada arus yang mengalir pada R7.

3.8 Rangkaian Pewaktu 555 Monostabil

(54)

Gambar 3.15 Timer 555 Monostabil

Gambar 3.16 Perubahan frekuensi ke gelombang persegi

(55)

3.9 Rangkaian LCD

Pada rangkaian LCD ini, data yang diterima melalui port serial dengan menggunakan salah satu port mikrokontroler yaitu port 3.7.Dari mikrokontroler akan dikonversikan ke dalam angka tetapi sebelumnya pada program yang ada pada mikrokontroler mengeksekusi program yang menampilkan huruf sebagai tanda untuk data denyut jantung. Setiap perubahan data yang diterima oleh mikrokontroler akan diolah dan dieksekusi ke rangkaian LCD dengan siklus waktu tunda 10 ms .Waktu tunda ini diatur pada program Assembly yang ada pada mikrokontroler sebagai otak pengaturan data denyut jantung.

(56)

3.10 Blok Diagram Sistem

Untuk mendeteksi frekuensi denyut jantung yang akan diolah menjadi bentuk digital perlu dilakukan perubahan akuisisi data denyut jantung maka dirancanglah alat yang sesuai dengan diagram blok dibawah.

Gambar 3.19 Diagram Blok Rangkaian

Adapun fungsi dari masing-masing blok dari system yang dirancang Berikut ini adalah prinsip kerja blok diagram yaitu

• Elektrode diletakkan pada tubuh ,pada tangan atau kaki untuk mendapatkan Sinyal/frekuensi denyut jantung.

• Sinyal/frekuensi yang didapat diteruskan ke rangkaian penguat sinyal untuk memperbesar/menguatkan sinyal dari elektrode sehingga bisa mentrigger pewaktu 555.

(57)

• Pada penyearah setengah gelombang hanya memancarkan setengah siklus dari suatu isyarat dan menghilangkan sisanya dengan batas keluaran sampai nol volt.

• Rangkaian detektor puncak terdiri dari sebuah dioda, kapasitor dan resistor. Rangkaian ini identik dengan penyearah setengah gelombang dengan sebuah kapasitor. Keluaran puncak dari rangkaian ini adalah nilai maksimum dari sinyal input.

• Komparator merupakan sebuah pembanding yang membandingkan tegangan isyarat pada satu masukan dengan suatu tegangan acuan pada masukan yang lain. Keluarannya berubah diantara batas-batas yang ditetapkan oleh tegangan-tegangan jenuh +Vsat dan –Vsat.

• Pewaktu yang dipakai adalah pewaktu 555 multivibrator monostabil (satu tembakan), dimana tegangan keluarannya rendah (Low=0) sampai sebuah pulsa pemicu yang menuju negatif diterapkan ke pewaktu tersebut, kemudian keluarannya beralih menjadi tinggi (High=1). Waktu ketika keluarannya tinggi ditentukan oleh sebuah tahanan dan kapasitor yang dihubungkan ke pewaktu IC. Di akhir selang penentuan waktu, keluarannya kembali ke tingkat rendah.

• Rangkaian mikrokontroler berfungsi untuk mengeksekusi tegangan input yang didapat dari pewaktu 555 sehingga memberikan keluaran (output) sesuai program yang diberikan dan ditampilan di LCD.

(58)
(59)

3.12 Perangkat Lunak

Bahasa pemograman yang digunakan pada penelitian ini mernggunakan program Assembly. Program Assembly merupakan program tingkat rendah atau sederhana yang paling banyak digunakan pada chip mikrokontroller.Perangkat lunak yang digunakan mencakup berbagai fungsi yaitu :

a) Prosedur perangkat keras , seperti pengiriman logika pengendali sinyal dari electrode ke LCD.

b) Prosedur pengolah data, meliputi pembacaan data atau sinyal dari electrode dan mengirimkannya ke LCD.

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)

delay:

mov r3,#10 dly:

mov r2,#255 djnz r2,$ djnz r3,dly ret

tunda:

mov r7,#15 tnd:

mov r6,#255 td:

(71)

3.13 Flowchart

Gambar 3.20 Flowchart

(72)
(73)

BAB IV

PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

4.1 Pengujian Elektrode

Pengujian pada rangkaian ini dapat dilakukan dengan menghubungkan rangkaian ini dengan rangkaian penguat menggunakan IC LM358 dan power supply 5 volt. Dan hasil keluaran sinyal elektrode dengan penguat ini ditampilkan dengan menggunakan jack audio pada tampilan PC dengan menggunakan software menghasilkan gelombang denyut jantung keluaran seperti pada gambar. Dengan gelombang keluaran tidak sebagus dengan gelombang denyut jantung pada alat elektrokardiograf tapi menampilkan bahwa penguat telah bekerja dengan baik.

(74)

Gambar 4.2 Elektrode direkatkan pada tubuh

(75)

Setelah elektrode menempel pada permukaan tubuh pada layar tampak penguatan berserta noise dikarenakan pada setting program penampil sinyal denyut jantung.

4.2 Pengujian Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51

Pengujian pada bagian ini dilakukan untuk mengetahui apakah rangkaian mikrokontroller telah berjalan baik atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan menghubungkan P3.7 dengan LED sebagai indikator, seperti pada gambar sebelumnya, dimana anoda LED dihubungkan ke resistor kemudian dihubungkan ke sumber tegangan 5 volt dan katoda LED dihubungkan ke P3.7. Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan program sederhana ke mikrokontroller. Programnya sebagai berikut:

Setb P3.7

Perintah di atas akan memberikan logika high ke P3.7. dari hasil pengujian didapatkan tegangan pada P3.7 sebesar 5,2 volt dan LED dalam keadaan mati. Instruksi berikutnya adalah:

Clr P3.7

Perintah di atas akan memberikan logika low ke P3.7. dari hasil pengujian didapatkan tegangan pada P3.7 sebesar 0,1 volt dan LED dalam keadaan nyala. Dengan demikian, maka rangkaian mikrokontroler telah berjalan dengan baik.

4.3 Pengujian Rangkaian Penguat

(76)

LM 358 bekerja pada tegangan 5 volt. Elektrode mendeteksi biopotensial tubuh yang berubah-ubah dan memeberi keluaran pada penguat. Keluaran penguat ini dapat dilihat pada mutlimeter digital, dari hasil pengujian didapatkan data sebagai berikut:

No Organ Tubuh Hasil Penguatan 1 Lengan Kiri 0,21 V

2 Lengan Kanan 0,22 V 3 Kedua Lengan 0,23 V

4 Dada 0,23 V

5 Kaki Kiri 0,19 V

6 Kaki Kanan 0,20 V 7 Kedua Kaki 0,19 V

Tabel 4.1 Pengujian penguatan IC LM358

Gambar 4.4 Elektrode direkatkan pada Lengan kanan

4.4 Pengujian Rangkaian Filter

(77)

Kedua rangkaian dihubungkan dengan penguat dengan frekuensi masukan dari elektrode. Dengan power supply 5 volt dan indikator LED telah menyala maka filter telah bekerja dengan tampilan keluaran pada osiloskop seperti gambar dibawah.

Gambar 4.5 Low Pass Filter

Gambar 4.6 High Pass Filter

4.5 Pengujian Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang

(78)

Gelombang pada dioda terlihat lebih kecil karena 0,6 volt terpotong untuk konduktansi dioda saat arah maju. Selama masih menggunakan rangkaian arah maju setengah gelombang negatif tetap terpotong.

Gambar 4.7 Penyearah setengah gelombang dengan pemotongan 0,6 volt

4.6 Pengujian Rangkaian Thresold (Detektor Puncak)

Pengujian rangkaian ini dilakukan dengan menghubungkan dengan rangkaian setengah gelombang yang telah memotong gelombang negatif dan keluaran hanya gelombang positif. Dengan gelombang positif sebagai masukan rangkaian detector puncak hanya membandingkan tegangan puncak ke puncak untuk mendapatkan tegangan keluaran untuk rangkaian pembanding atau komparator

Vout = Vin(peak-to-peak) - V = 5 - 0,6 = 4,4 V D

(79)

4.7 Pengujian Rangkaian Komparator

Pada rangkaian diuji dengan menghubungkan dengan power supply 5 volt dan sinyal input masukan dari rangkaian detector puncak. Pada rangkaian ini apabila tegangan yang masuk pada Vref lebih besar daripada tegangan yang masuk pada Vin maka Vout akan mengeluarkan tegangan 0 volt. Dan sebaliknya bila tegangan yang masuk pada Vref lebih kecil dari pada Vin maka Vout akan mengeluarkan tegangan 5 volt.

Gambar 4.9 Perbandingan sinyal detak jantung oleh komparator

4.8 Pengujian Rangkaian Pewaktu 555 Monostabil

(80)

Gambar 4.10 Siklus gelombang denyut jantung dengan frekuensi 130Hz

4.9 Pengujian Rangkaian LCD

Modul LCD Character dapat dengan mudah dihubungkan dengan mikrokontroler seperti AT89S51. LCD yang akan dihubungkan ini mempunyai lebar display 2 baris 16 kolom atau biasa disebut sebagai LCD Character 2x16, dengan 16 pin konektor, yang didifinisikan sebagai berikut:

Gambar 4.11 Skematik LCD

(81)

Gambar 4.12 Mikrokontroler terhubung dengan LCD

Dari hasil pengujian diperoleh data yang harus dikirimkan ke port serial untuk menampilkan angka desimal adalah sebagai berikut:

Angka Data yang dikirim 1 0EDH 2 19H 3 89H 4 0C5H 5 83H 6 03H 7 0E9H 8 01h 9 81H 0 21H

(82)

Semua hasil frekuensi denyut jantung akan dikonversikan dalam bilangan heksa dan dikirim ke LCD. Program yang diisikan pada mikrokontroler untuk menampilkan nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:

(83)

Write_data:

setb P3.6 ; P3.6 = RS =1

mov P0,R1 ; P0 = D7 s/d D0 = R1 setb P3.7 ; P3.7 =EN = 1

call delay ; call delay time clr p3.7 ; P3.7 =EN = 0 ret

;

delay: mov R0,#0

delay1:mov R7,#0fh djnz R7,$

djnz R0,delay1 ret

; end

Gambar 4.13 Keluaran LCD

(84)

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 1.74%

Tabel 4.3 Pengujian Pada Lengan Kanan

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 1,87%

(85)

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 2,06%

Tabel 4.5 Pengujian pada Kedua Lengan

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 1,88%

(86)

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 2,10%

Tabel 4.7 Pengujian pada Kaki Kiri

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 2,29%

(87)

No Alat Monitor

Denyut Jantung Manual

Persentase

Rata-rata persentase relative error (%) 2,55%

Tabel 4.9 Pengujian pada Kedua Kaki

Persentase Relative Error (%) Alat Monitor Denyut Jantung

Lengan Kaki

Total rata-rata persentase relative error keseluruhan 2,07%

(88)
(89)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil kesimpulan perancangan alat hingga pengujian dan pembahasan sistem maka penulis dapat menarik kesimpulan, antara lain :

1. Keberhasilan dalam pengukuran sinyal denyut jantung sangat dipengaruhi oleh pemasangan dam penempatan elektroda.

2. Hasil pengujian masih menunjukkan adanya gangguan pada sinyal detak jantung yang didapatkan. Derau yang tampak sebagai sinyal harmonisasi pada sinyal detak jantung kemungkinan besar disebabkan oleh interferensi sinyal jala-jala.

3. Hasil pengujian pada rangkaian pengkondisi sinyal pendeteksi detak jantung belum sesuai dengan adanya error tetapi sensifitas alat pendeteksi denyut jantung ini sudah dapat digunakan dan dikembangkan.

(90)

5.2 Saran

Setelah melakukan penelitian diperoleh beberapa hal yang dapat dijadikan saran untuk dapat dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu:

a. Sebaiknya digunakan sensor yang mampu mendeteksi detak jantung yang lebih sensitif dan memiliki noise (derau) yang sedikit.

b. Penggunaan rangkaian filter dengan orde yang lebih tinggi untuk memperbaiki kualitas sinyal yang didapat.

c. Untuk tampilan yang lebih baik, sebaiknya digunakan LCD yang lebih mudah pengaturan tampilannya agar dapat diproduksi dan dijual ke masyarakat banyak yang memerlukannya.

d. Sebaiknya alat ini digunakan pada alat kedokteran karena tidak menggunakan air raksa (merkuri) sehingga bebas dari resiko terkena radiasi logam berat karena jika tensimeter air raksa bisa retak/pecah tabungnya. Maka merkuri yang terdapat pada tabung dapat terhirup manusia dan menyebabkan gangguan fungsi otak.

(91)

DAFTAR PUSTAKA

Agfianto, 2002, Belajar Mikrokontroler AT89C51/52/55 Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama Penerbit: Gava Media, Yogyakarta,

Agfianto, 2002, Teknik Antarmuka Komputer: Konsep dan Aplikasi, Edisi Pertama, Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta,

Andi, 2003, Panduan Praktis Teknik Antarmuka dan Pemrograman Mikrokontroler AT89S51, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta

Chistoper M.T. et.al. Design and Implementation of a Single Chanel ECG Amplifier with DSP Post-Processing in Matlab. (PDF file).

Firmansyah, D., 2003, Akuisisi Data EKG Berbasis Komputer, UGM,Yogyakarta. Suhata, Aplikasi Mikrokontroler Sebagai Pengendali Peralatan Elektronik via Line

Telepon, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2004. http://www.atmel.com datasheet AT89S51

http://www.philips.com datasheet LM358

http://www.analog.com/library/analogDialogue/archieves/37-11/ecg

http://www.cs.wright.edu Electrocardiogram-I

http://www.fineprint.com/ ELEKTROKARDIOGRAM

Figur

Tabel 2.2 Fungsi masing-masing Pin pada Port 3

Tabel 2.2

Fungsi masing-masing Pin pada Port 3 p.30
Gambar 2.9  IC LM358

Gambar 2.9

IC LM358 p.31
Gambar 2.10  Interferensi tegangan jala-jala pada pengukuran signal biopotensial

Gambar 2.10

Interferensi tegangan jala-jala pada pengukuran signal biopotensial p.32
Gambar 2.11 Timer 555 Monostabil

Gambar 2.11

Timer 555 Monostabil p.35
Gambar 2.12  LCD Type LMB162AFC

Gambar 2.12

LCD Type LMB162AFC p.36
Tabel 2.4  Keterangan Pin Out LCD

Tabel 2.4

Keterangan Pin Out LCD p.36
Gambar  2.14  ISP- Flash Programmer 3.7

Gambar 2.14

ISP- Flash Programmer 3.7 p.41
Gambar 3.2  Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51

Gambar 3.2

Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51 p.43
Gambar 3.4  Rangkaian Penguat LM358

Gambar 3.4

Rangkaian Penguat LM358 p.46
Gambar 3.6  Filter dan penguatan bertahap

Gambar 3.6

Filter dan penguatan bertahap p.48
Gambar 3.8 Bentuk penyearah gelombang dengan filter kapasitor

Gambar 3.8

Bentuk penyearah gelombang dengan filter kapasitor p.49
Gambar 3.11  Rangkaian Detektor Puncak

Gambar 3.11

Rangkaian Detektor Puncak p.51
Gambar 3.17 Perubahan sinyal oleh Timer 555

Gambar 3.17

Perubahan sinyal oleh Timer 555 p.54
Gambar 3.18 Rangkaian Mikrokontroler  dengan LCD

Gambar 3.18

Rangkaian Mikrokontroler dengan LCD p.55
Gambar 3.19 Diagram Blok Rangkaian

Gambar 3.19

Diagram Blok Rangkaian p.56
Gambar 3.20 Flowchart

Gambar 3.20

Flowchart p.71
Gambar 4.1 Sinyal detak jantung sebelum elektrode direkatkan pada tubuh

Gambar 4.1

Sinyal detak jantung sebelum elektrode direkatkan pada tubuh p.73
Tabel 4.1 Pengujian penguatan IC LM358

Tabel 4.1

Pengujian penguatan IC LM358 p.76
Gambar 4.10 Siklus gelombang denyut jantung dengan frekuensi 130Hz

Gambar 4.10

Siklus gelombang denyut jantung dengan frekuensi 130Hz p.80
Gambar 4.12 Mikrokontroler terhubung dengan LCD

Gambar 4.12

Mikrokontroler terhubung dengan LCD p.81
Tabel 4.2 Konversi angka ke bilangan hexsa

Tabel 4.2

Konversi angka ke bilangan hexsa p.81
Gambar  4.13 Keluaran LCD

Gambar 4.13

Keluaran LCD p.83
Tabel 4.4 Pengujian pada Lengan Kiri

Tabel 4.4

Pengujian pada Lengan Kiri p.84
Tabel 4.3 Pengujian Pada Lengan Kanan

Tabel 4.3

Pengujian Pada Lengan Kanan p.84
Tabel 4.6  Pengujian pada Dada

Tabel 4.6

Pengujian pada Dada p.85
Tabel 4.5 Pengujian pada Kedua Lengan

Tabel 4.5

Pengujian pada Kedua Lengan p.85
Tabel 4.8  Pengujian pada Kaki Kanan

Tabel 4.8

Pengujian pada Kaki Kanan p.86
Tabel 4.7  Pengujian pada Kaki Kiri

Tabel 4.7

Pengujian pada Kaki Kiri p.86
Tabel 4.10 Persentase relative error hasil penelitian

Tabel 4.10

Persentase relative error hasil penelitian p.87
Gambar 4.14 Keseluruhan sistem alat

Gambar 4.14

Keseluruhan sistem alat p.88

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD Latar Belakang Masalah Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD Batasan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Konsep Dasar Perangkat Keras Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD Rangkaian Power Supplay PSA Rangkaian Minimum Mikrokontroller AT89S51 Rangkaian Penguat Rangkaian Filter Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang Rangkaian Thresold Detektor Puncak Rangkaian Komparator Rangkaian Pewaktu 555 Monostabil Rangkaian LCD Blok Diagram Sistem Perangkat Lunak Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD Flowchart Pengujian Elektrode Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD Pengujian Rangkaian Minimum Mikrokontroler AT89S51 Pengujian Rangkaian Penguat Pengujian Rangkaian Filter Pengujian Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang Pengujian Rangkaian Thresold Detektor Puncak Pengujian Rangkaian Komparator Pengujian Rangkaian Pewaktu 555 Monostabil Pengujian Rangkaian LCD Rancangan Akuisisi Data Frekuensi Detak Jantung Berbasis Mikrokontroler AT 89S51 Sebagai Pengukur Denyut Jantung Dengan Display LCD