KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM
CHANOYU
CHANOYU DE NO OCHA NO TSUKURI KATA NO
TOKUCHO
KERTAS KARYA
Dikerjakan
O
l
e
h
Agustina Wulandari
NIM 112203001
PROGRAM STUDI D III BAHASA JEPANG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM
CHANOYU
CHANOYU DE NO OCHA NO TSUKURI KATA NO
TOKUCHO
KERTAS KARYA
Kertas Karya ini diajukan kepada Panitia Ujian Program Pendidikan Non-Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam bidang studi Bahasa Jepang.
Dikerjakan
OLEH :
AGUSTINA WULANDARI
Pembimbing, Pembaca,
NIM. 112203001
Zulnaidi, SS, M. Hum Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum Nip 196708072004011001 Nip. 196009191988031001
PROGRAM STUDI D III BAHASA JEPANG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENGESAHAN
Diterima oleh
Diploma III dalam studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara Medan, Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III
dalam Bidang Studi Bahasa Jepang.
Pada :
Tanggal :
Hari :
Program Diploma III Sastra Budaya
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara
Dekan,
Dr. Syahron LubiS, M. A
Panitia Ujian : Tanda Tangan
Nip. 1951101319760031001
1. Zulnaidi, SS. M. Hum ( )
2. Zulnaidi, SS. M. Hum ( )
3. Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum ( )
Disetujui Oleh :
Program Diploma Sastra dan Budaya
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara
Medan
Program Studi D III Bahasa Jepang
Ketua,
Zulnaidi, SS. M. Hum
Medan, Juli 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas berkat dan karunianya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini yang berjudul, “KARAKTERISTIK
PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM CHANOYU”. Meskipun banyak
kesulitan dalam penulisan kertas karya ini karena pengetahuan penulis yang
tebatas, tetapi berkat bimbingan, bantuan dan arahanndari berbagai pihak, maka
penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.
Dalam kertas karya ini, penulis banyak menerima bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Zulnaidi. SS. M.Hum selaku Ketua Jurusan Program Studi Bahasa
Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Zulnaidi. SS. M.Hum selaku Dosen Pembimbing yang dengan
ikhlas meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan pengarahan
kepada penulis sampai kertas karya ini dapat diselesaikan.
4. Dosen Pembaca Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum
5. Bapak Drs. Nandi S. selaku Dosen Wali.
6. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara.
7. Teristimewa kepada Orangtua, Bapak Marwan Yatim dan Ibu tercinta Hari
Sundari atas dukungan moral dan kasih sayang dan cinta kalian yang tanpa
8. Buat saudaraku ( Abang Joko dan Abang Eko ).
9. Buat Bapak Arianto yang selalu memberi dukungan, motivasi dan
semangat.
10.Buat Teman-teman seperjuangan Mahasiswa Bahasa Jepang Fakultas Ilmu
Budaya Angkatan 2011.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan dan
dukungan nya selama ini. Mudah-mudahan kertas karya ini berguna dan
bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2014
Penulis,
Agustina Wulandari
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……….i
DAFTAR ISI……….iii
BAB I PENDAHULUAN………...1
1.1 Alasan Pemilihan Judul………..1
1.2 Pembatasan Masalah………..2
1.3 Tujuan Penulisan………2
1.4 Metode Penelitian………3
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG TEH JEPANG………..………...4
2.1 Sejarah Teh Jepang…..………4
2.2 Fungsi Teh bagi Masyarakat Jepang……….8
2.3 Jenis-jenis Teh Jepang………...10
2.4 Jenis-jenis Peralatan………..13
BAB III KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM CHANOYU..……….…….16
3.1Persiapan Pembuatan Teh………...……….16
3.2Penyeduhan Teh…...………...17
3.3Penyajian Teh…………..………...18
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN……….20
4.1 Kesimpulan……….20
4.2 Saran………21
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM
CHANOYU
Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh
dibawa masuk ke jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti tang. Pada masa
itu teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip teh oolong
yang dikenal sekarang ini. Teh belum banyak dinikmati di banyak kalangan
sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer. Teh dibuat dengan
cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama
Buddha.
Setelah itu di zaman kamakura pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan
ajaran zen di jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari
tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran zen menjadi populer sebagai unsur utama
dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana
sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh. Pada masa itu perangkat
minum teh dari dinasti tang dinilai dengan harga tinggi, lalu acara minum teh
menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara
mewah menggunakan perangkat minum teh dari tiongkok.
Dalam pembuatan teh jepang, teh disiapkan secara khusus oleh orang yang
mendalami seni upacara minum teh. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam
dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan
musim dan status tamu yang diundang.
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni
dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan
tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama,
apresiasi peralatan pembuatan teh dan cara meletakkan benda seni di dalam
ruangan dan berbagai pengetahuan seni secara umum.
Upacara minum teh di Jepang banyak mengandung makna kehidupan.
Setiap prosesi yang ada dalam upacara minum teh di Jepang mengandung setiap
makna. Dalam upacara pembuatan teh antara tamu dan penerima tamu harus
member hormat. Pemberian kue manis atau okashi harus dihabiskan oleh tamu.
Dalam penyeduhan teh, pada saat Tea Master membuat teh, setiap gerakan yang
dilakukan harus dilakukan secara hati-hati dan sabar. Dalam penyajian teh
meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan harus
dipastikan bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut menghadap ke arah
tamu. Karena tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi
tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk teh agar posisi motif
menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih dan menghormati.
Pembuatan teh jepang hanya menggunakan salah satu dari beberapa jenis
teh yang ada. Jenis teh jepang ada bermacam-macam yaitu gyokuro, matcha,
sencha, genmaicha, kabusecha, bancha, houjicha, dan kukicha. Tetapi jika
yang dipakai adalah jenis matcha. Matcha adalah teh hijau berkualitas tinggi yang
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Alasan Pemilihan JudulJepang merupakan salah satu negara yang perkembangannya semakin
pesat, baik dalam teknologi maupun kebudayaan. Selain banyak memproduksi
barang yang berkualitas jepang juga gencar memperkenalkan kebudayaannya.
Contohnya adalah merangkai bunga jepang ( ikebana ), pembuatan teh jepang,
pakaian kimono. Pembuatan teh jepang telah menjadi salah satu bagian penting
dari tradisi jepang. Pembuatan teh jepang adalah ritual tradisional jepang dalam
menyajikan teh untuk tamu.
Dalam pembuatan teh jepang, teh disiapkan secara khusus oleh orang yang
mendalami seni upacara minum teh. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam
mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan
dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan
musim dan status tamu yang diundang.
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni
dalam arti luas. Pembuatan teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan
rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi
peralatan pembuatan teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan dan
berbagai pengetahuan seni secara umum.
Pembuatan teh jepang hanya menggunakan salah satu dari beberapa jenis teh
genmaicha, kabusecha, bancha, houjicha, dan kukicha. Tetapi jika melaksanakan
pembuatan teh tidak sembarangan jenis teh yang dipakai. Jenis teh yang dipakai
adalah jenis matcha. Matcha adalah teh hijau berkualitas tinggi yang digiling
menjadi bubuk teh dan dipakai untuk upacara minum teh.
Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan juga sebagia
perasa untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional yang ada di
jepang ( wagashi ). Untuk melaksanakan pembuatan teh sebaiknya harus paham
dan mengerti tentang jenis-jenis peralatan yang dipakai atau digunakan dalam tata
cara pembuatan teh. Jenis-jenis peralatan yang digunakan adalah chakin, chawan,
natsume, chasaku, chasen, hishaku, fukusa, kaishi, kensui, hishaku, dan futa oki.
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk membahas tentang karakteristik
pembuatan teh jepang dalam chanoyu.
1.2Pembatasan Masalah
Dalam kertas karya ini penulis hanya membatasi permasalahan mengenai,
karakteristik pembuatan teh jepang dalam chanoyu. Sebelum penjelasan pada bab
III, penulis membatasi permasalahan mengenai sejarah teh jepang, fungsi teh bagi
masyarakat jepang, jenis-jenis teh jepang dan jenis-jenis peralatan.
1.3Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan Kertas Karya ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan pengetahuan umum tentang karakteristik
2. Untuk menambah wawasan generasi muda dan mengenal kebudayaan
tentang jenis-jenis teh jepang, jenis-jenis peralatan dan tata cara
pembuatan teh jepang.
3. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang jenis-jenis teh jepang,
jenis-jenis peralatan dan tata cara pembuatan teh jepang.
1.4Metode Penelitian
Dalam penulisan kertas karya ini penulis menggunakan metode
deskriptif yaitu mengumpulkan data dari informasi baik melalui internet
maupun dengan cara membaca buku atau referensi-referensi yang berkaitan
dengan judul kertas karya. Setelah semua data terkumpul, kemudian disusun
BAB 2
GAMBARAN UMUM
TENTANG TEH JEPANG
2.1 Sejarah Teh Jepang
Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari
yang menulis buku berjudul Ch'a Ching ( 茶经 ) atau Chakyō ( bahasa Inggris:
Classic of Tea ). Buku ini merupaka
menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh. Produksi
teh dan tradisi minum teh dimulai seja
Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klas
menulis tentang
pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi
Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi
minum teh di Jepang. Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil
setengah matang miri
cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama
Buddha. Teh belum banyak dinikmati sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat
menjadi populer. Di
ajaran
Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama
Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum
berkembang di
Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha,
permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang
diminum.Pada masa itu, perangkat minum teh dar
harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa
mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi
populer di kalanga
menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini
dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh
Jepang yang bernamMenurut Jukō, minuman keras dan perjudian
harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan
sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang
dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal usul upacara
minum teh alira
Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota
bernamdeshi ) yang bernama
Wabicha ala Rikyū menjadi populer di
kalangan
berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin ole
Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya
kalangan samurai dan Daimyōcha untuk pembuatan teh gaya daimyō.
Sampai di awal
kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki
pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan
membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat
pembuatan teh. Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari pembuatan
teh disambut dengan tangan terbuka oleh alira
) dan pecahan aliran Senke.
Kepopuleran pembuatan teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak
sehingga perlu diatur dengan suatu sistem
lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni
tradisional Jepang ) dan
) dan murid senior Joshinsai yang
bernama
memperkenalkan metode baru belajar pembuatan teh yang disebut
Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama
dengan metode Shichijishiki.
Berbagai aliran pembuatan teh berusaha menarik minat semua orang untuk
belajar pembuatan teh, sehingga kebiasaan minum teh makin populer di seluruh
serius seperti sedang bermain-main. Sebagian guru pembuatan teh berusaha
mencegah kemunduran dalam pembuatan teh jepang dengan menekankan
pentingnya nilai spiritual dalam pembuatan teh jepang.
Pada waktu itu, kuil
penting dalam memperkenalkan nilai spiritual pembuatan teh sekaligus
melahirkan prinsiteh aliran Rikyū.
Di akhir Keshogunan Tokugawa
sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan
prosedur sistematis yang riil seperti otemae ( teknik persiapan, penyeduhan,
penyajian teh ) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi
yang bersifat
Memasuki akhir
masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan
pembuatan teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang
mulai menaruh perhatian pada te
Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang
banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga
sebagai
Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom
berbagai aliran pembuatan teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai
aliran pembuatan teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era
Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh
pengusaha sukses seperti
berbagai aliran upacara minum teh.Pada ta
The Book of Tea di
2.2. Fungsi Teh bagi Masyarakat Jepang
Dalam kehidupan sehari-hari kita pastinya telah akrab dengan minuman
yang satu ini. Seduhan daun Teh merupakan minuman yang sangat familiar yang
telah dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai belahan dunia manapun terutama di
asia sendiri. Teh merupakan tanaman daun yang tumbuh di daerah tropis dan
subtropis serta memiliki berbagai jenis dan yang paling umum digunakan ada 3
macam teh yaitu teh oolong, teh hitam, dan teh hijau.
Salah satu teh yang sangat terkenal dan paling banyak dikonsumsi adalah
Teh hijau, jenis teh ini sangat diminati setiap orang terutama oleh sebagian besar
masyarakat Jepang dan juga di Cina. Dalam proses pengolahannya teh ini hanya
melewati proses pemanasan sampai pengeringan dengan tujuan warna hijau pada
daun teh dapat di pertahankan sehingga daun terlihat masih hijau segar walaupun
sudah di jemur.
Sedangkan teh oolong lebih merupakan sebuah jenis campuran antara teh
merupakan antioksidan yang secara alamiah ada di dalam sayur-sayuran,
buah-buahan, dan minuman seperti teh dan anggur yang sangat bagus untuk menangkal
radikal bebas yang didapatkan dari pengaruh lingkungan dan cuaca. Orang yang
mengkonsumsi minuman teh secara rutin bisa dapat hidup lebih sehat dikarenakan
teh dapat menekan kemungkinan resiko stroke jauh lebih besar sampai 70% lebih,
mampu mengontrol kolesterol dan hipertensi yang berlebihan.
Dikutip dari berbagai sumber, banyak diketahui bahwa para peneliti di
seluruh dunia meyakini bahwa polifenol yang dikenal sebagai Cathecin yang
terdapat pada teh hijau membantu tubuh manusia melawan sel kanker dan tumor
walaupun belum ada penelitian yang jauh lebih mendalam akan hal tersebut. Teh
juga bisa digunakan untuk detoksifikasi berbagai racun yang tersimpan didalam
liver dengan antioksidan yang  dimilikinya. Kandungan antioksidan didalamnya
mencegah berbagai penyakit seperti penuaan dini, kanker, penyakit jantung dan
diabetes.
Manfaat teh juga sebenarnya untuk menunjang kinerja otak agar lebih
baik. Memang belum ada penelitian yang pasti mengenai hal tersebut, namun
rata-rata setiap orang yang mengkonsumsi teh selalu merasa lebih rileks dan nyaman.
Jadi sebenarnya manfaat teh itu sangatlah baik untuk kesehatan, sehingga teh bisa
dijadikan minuman sehari-hari yang sehat. Para ahli menyarankan untuk
mengkonsumsi teh 3 gelas perhari atau lebih supaya manfaatnya benar-benar
2.3 Jenis-Jenis Teh Jepang
Jepang memiliki beragam jenis teh yang baik untuk kesehatan. Sebagian
orang mungkin sudah sangat mengenal seperti apa teh jepang ini. Teh dari jepang
ini disebut dengan “Ocha” yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama “Teh
hijau”. Teh hijau ( ryokucha ) adalah teh yang sangat umum di Jepang, maka
apabila di Jepang sana kita menyebut “teh” ( ocha ) maka kemungkinan besar
yang dimaksud pastilah teh hijau, dan baru bisa disebut atau dikatakan sebagai teh
jepang ( nihoncha ). Setiap Teh memiliki harga yang berbeda tergantung dari
tanaman-nya itu sendiri.
Berikut adalah Jenis-jenis dari Teh Jepang :
a. Gyokuro
Gyokuro adalah Teh ini masuk dalam kategori teh hijau berkualitas
tinggi, teh ini teh terpilihdari daun teh kelas atas atas yang disebut Tencha.
Teh dinamakan Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun
teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai
aroma yang sangat harum. Biasanya pada proses produksi, teh ini ditutupi
dengan sebilah bambu karena akan menghasilkan klorofil dari daun teh
yang lebih banyak. Oleh karena itulah, teh ini memberikan rasa lebih kaya
dibandingkan teh lainnya.
b. Matcha
bubuk yang biasa digunakan dalam ritual pembuatan teh di Jepang.
Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan sebagai perasa
untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional Jepang (
wagashi ), berbagai permen dan cokelat.
c. Sencha
Sencha adalah Teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat
dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari. Teh sencha memiliki
kulitas tinggi, dengan rasa hampir mirip dengan bayam.
d. Genmaicha
Genmaicha adalah merupakan teh hijau dengan biji beras yang
sudah di panggang. Pada awalnya, teh ini muncul karena adanya legenda
hamba Genmai, yaitu seorang samurai terkenal asal Negeri Sakura ini.
Dirinya dengan sengaja menumpahkan beberapa kernel beras dalam teh
tuannya. Meski melanggar, sang tuan ternyata sangat menikmati teh wangi
tersebut. Nama yang diberikan untuk teh inipun bermaksud memberi
hormat pada peraciknya.
e. Kabusecha
Kabusecha adalah sejenis teh sencha yang daunnya dilindungi
untuk beberapa lama dari terpaan sinar matahari sebelum dipanen. Aroma
f. Bancha
Bancha adalah teh kasar yang dibuat dari panenan yang kedua kali
antara musim panas dan musim gugur. Daun teh untuk teh bancha
biasanya lebih besar dari daun teh sencha dan aromanya tidak begitu
harum. Bancha menjadi versi teh yang berkualitas rendah ketimbang
sencha karena teh ini memiliki rasa pahit yang tajam meskipun sudah
diberi pemanis sebelum di konsumsi. Teh inipun merupakan label teh
paling standar di Jepang.
g. Hojicha
Hojicha adalah Teh yang dibuat dari daun teh bancha yang
dipanggang dan digongseng di atas penggorengan atau di dalam oven,
dimana rasa inilah yang menimbulkan aroma halus dan punya rasa
bersahaja.
h. Kukicha
Kukicha adalah Teh berkualitas rendah dari daun teh bercampur
tangkai daun teh. Teh ini dibuat dengan cara dipanggang selama empat
kali, dimana bisa diubahnya menjadi warna cokelat gelap. Apalagi rasa
pedas dari rasa ranting teh ini melengkapi makanan pedas.
2.4 Jenis-Jenis Peralatan
Upacara minum teh merupakan ritual tradisional Jepang dalam menyajikan
teh untuk tamu. Pada zaman dahulu disebut chado atau chanoyu yang berkembang
terutama dari pengaruh Buddhisme Zen. Dalam pembuatan teh jepang selayaknya
dilakukan di dalam ruang bertatami dan di dalam ruangan tersebut tersedia tempat
khusus air untuk membuat teh yaitu tungku yang selalu menyala dan terdapat
mizusashi ( tempat air panas ) yang terisi dengan air mendidih. Ruang tersebut
diatur dengan sedemikian rupa oleh tuan rumah beserta dengan semua perabot
yang berada di dalamnya seperti kakejiku ( lukisan dinding ), chabana ( bunga
hias ) dan mangkuk keramik untuk memenjakan tamu.
Berikut ini merupakan alat-alat dan bahan yang digunakan pada
pembuatan teh jepang :
a. Chakin
Chakin adalah Kain putih kecil persegi panjang atau kain rami
yang digunakan untuk menyeka mangkuk teh atau sebagai penahan
mangkuk teh.
b. Chawan ( mangkuk teh )
Chawan adalah Mangkuk teh yang tersedia dalam berbagai ukuran
c. Natsume ( peti teh )
Natsume adalah Peti teh atau wadah yang mempunyai penutup
kecil untuk tempat teh bubuk yang digunakan dalam pembuatan teh
jepang. Natsume ( peti teh ) tersedia dalam berbagai ukuran dan berbagai
macam bentuk.
d. Chasaku ( sendok teh )
Chasaku adalah Sendok panjang yang terbuat dari bambu namun
ada juga yang dibuat dari gading atau kayu yang berfungsi untuk
mengambil bubuk teh.
e. Chasen ( pengocok teh )
Chasen adalah Alat yang di gunakan untuk mencampur teh bubuk
dengan air panas di dalam chawan. Chasen umumnya terbuat dari bambu.
f. Hishaku ( sendok air )
Hishaku adalah Sendok panjang yang berfungsi untuk mengambil
air panas dari tempat air panas ( mizusashi ) selama upacara teh di
lakukan.
g. Fukusa
Fukusa adalah Sapu tangan untuk membersihkan peralatan teh
yang kotor, seperti chasaku ( sendok teh ), chasen ( pengocok teh ), dan
h. Kaishi
Kaishi adalah Tisu yang digunakan untuk membersihkan pinggiran
chawan ( mangkuk teh ) setelah tamu meminum teh.
i. Futa oki
Futa oki adalah Tempat untuk menaruh gayung, fukusa, chakin,
BAB III
KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM
CHANOYU
Halaman berikut ini mengupas prosedur untuk pembuatan teh jepang dalm
chanoyu.
3.1. Persiapan Pembuatan Teh
Dalam persiapan membuat teh jepang, sebelum tamu memasuki
ruang teh sebaiknya lepaskan jam tangan, cincin dan perhiasan lainnya,
karena mungkin dapat saja menggores perkakas teh ketika memegangganya.
Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami cara pembuatan teh
dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusu untuk minum teh yang
disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam
mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih
lukisan dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramikyang
sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang. Sebelum teh disajikan
anda akan ditawarkan untuk memakan keu manis atau okashi. Memakan kue
ini tidak menggunakan sumpit tapi seperti tusukan bambu. Setelah itu
sebelum pembuatan teh dilakukan terdapat beberapa perlengkapan yang
sudah disiapkan seperti 1 tungku besar hitam, 1 mangkuk disebut cahawan
dan 1 wadah berisi bubuk matcha disebut dengan natsume, salah satu dari
terbuat dari bambu disebut chasen, lalu sendok kayu yang panjang pipih
untuk mengambil bubuk teh disebut chasaku dan sendok air yang juga terbuat
dari bambu. Dari teknik persiapan saja sudah berbeda dengan teknik
persiapan membuat teh di Indonesia. Di Negara kita hanya mempersiapkan 1
buah gelas, 1 buah sendok, gula dan air panas serta bubuk teh.
3.2 Penyeduhan Teh
Dalam penyeduhan teh, setelah semua peralatan telah disiapkan
mulailah untuk membuat teh jepang Ambil mangkok teh dengan tangan
kanan anda, geser ke arah kanan anda dan letakkan mangkok kemudian pada
wadah teh di depan kendi air sehingga ketiga benda itu membentuk segitiga.
Kembali ke ruang persiapan ( Mizuya ) dan bawa keluar tempat air yang
tidak digunakan, pegang dengan tangan kiri anda. Setelah memasuki ruang
teh, berbalik, berlutut dan letakkan tempat air bekas di depan anda dan tutup
pintu. Pegang tempat air sisa dengan tangan kiri, berjalan ke arah tikar tuan
rumah dan duduklah, letakkan tempat air sisa di samping anda. Ambil sendok
di tangan kiri anda dan letakkan di depan anda dengan tangan kanan anda
menyentuh bagian ujungnya. Ambil sendok dari temapt air sisa dengan
tangan kanan anda dan letakkan diluar tikar tuan rumah di sekitar sudut
tangan kanan bagian bawah dari lubang api. Letakkan sendok ke bawah,
kemudian mendunduk ke arah tamu, yang akan menuunduk juga kepada
anda. Pindahkan tempat air sisa ke depan dan arahkan tubuh anda untuk
ke sisi kanan dan letakkan di bawah di depan lutut anda. Pindahkan sendok
ke tangan kanan anda, pegang seperti memegang pensil, dan ambil satu
sendok penuh air panas dari ketel. Tuangkan secukupnya ke dalam mangkok
untuk mencampur teh ke dalam pasta kental, kemudian kembalikan kelebihan
air ke dalam ketel dan letakkan sendok, angkat ke atas pada ketel.
Dengan pengaduk teh, campurkan teh secara perlahan dan secara
berirama hingga halus. Pindahkan pengaduk ke sisi kiri dari mangkok. Ambil
sendok dan ambil satu scoop penuh air. Pegang pengaduk di atas mangkok
dengan tanggan kiri, tuangkan air panas secukupnya diatas pengaduk dan
masukkan ke dalam mangkok untuk membuat volume teh yang sesuai untuk
sejumlah tamu yang hadir ( tiga shipo per orang ). Letakkan sendok kembali
ke rim dari ketel. Campurkan teh sekali lagi hingga halus sempurna, setelah
itu mulailah mengocok teh menggunakan pengocok teh atau chasen. Semakin
lama mengocok semakin tidak pahit pula teh tersebut.
3.3 Penyajian Teh
Dalam penyajian teh, setelah teh dibuat lalu disuguhkan kepada
tamu dengan mangkuk teh dimana motif mangkuk menghadap tamu
sebagai tanda penghormatan kepada tamu untuk mengambil mangkuk teh.
Meminum teh pun tidak bisa sembarangan langsung seruput. Mangkuk teh
yang disajikan diletakkan dengan sangat hati-hati, Karena yang
baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi
tersebut. Maka runut tata cara meminum teh yang sudah disajikan adalah
Menunduk memberi hormat dahulu setelah teh disajikan dihadapan kita
setelah itu mengambil mangkuk teh dengan tangan kanan dan
meletakkannya di telapak tangan kiri dan memutar mangkuk teh searah
jarum jam sebanyak 3 kali lalu minumnya bisa sedikit-sedikit atau
langsung dihabiskan putar kembali cawan 3 kali searah jarum jam lalu
meletakkannya kembali. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk
teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih
dan menghormati. “Bahwa upacara minum teh itu sakral sifatnya.
Sekaligus menggambarkan bahwa “yang penting bukan ketika teh dihirup
melainkan bagaimana proses membuatnya”. Dalam proses pembuatan teh
lalu menghidangkannya dengan aturan yang gemulai alami membuat kita
teringat “diri”, teringat alam, teringat perjalanan hidup, teringat darimana
kita datang da ke arah mana kita pergi. Harmoni, keseimbangan adalah
“jalan hidup” yang setiap kali harus di rawat, ditata, dilatih dalam proses
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KesimpulanDari hasil penulisan, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami cara pembuatan
teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh
yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam
mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih
), da
sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.
2. Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni
dalam arti l uas. Cara pembuatan teh mencerminkan kepribadian dan
pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara
berpikir
meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (
dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran
upacara minum teh yang dianut.
3. Seni pembuatan teh jepang memerlukan pendalaman selama
bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu
yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus
mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan
4. Pada prinsipnya pembuatan teh pada chanoyu memiliki keistimewaan dan
tata cara tertentu dalam persiapan , penyeduhan teh dan penyajian teh.
4.2 Saran
Sebaiknya hasil karya tulis yang sederhana ini semoga dapat menjadikan
referensi bagi pembaca yang ingin mendalami chanoyu khususnya pembuatan teh
DAFTAR PUSTAKA
Tanaka, Sendo.1973.The Tea Ceremony.Tokyo.Kodansha Internasional Ltd
Puspita Sari, Heny Fitria dan Fujiwara, Takeo.2012.Ngomong Jepang
Gampang.Jakarta : Tangga pustaka
Bungin, Burhan.2011.Metodologi penelitian
kuantitatif:komunikasi,ekonomi,dan kebijkakan publik serta ilmu-ilmu
sosiallainnya.Jakarta : kencana
http:/
http://browsing-gambar.blogspot.com/2011/08/macam-macam-ocha-teh-Jepang.html
http://Sukinojapan.blogspot.com/2013/06/alat-alat-yang-di-gunakan-dalam.html
LAMPIRAN
Gambar ( a ) Gyokuro
Gambar ( c ) Sencha
Gambar ( e ) Kabusecha
Gambar ( g ) Hojicha