• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pembuatan Teh Jepang dalam Chanoyu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Karakteristik Pembuatan Teh Jepang dalam Chanoyu"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM

CHANOYU

CHANOYU DE NO OCHA NO TSUKURI KATA NO

TOKUCHO

KERTAS KARYA

Dikerjakan

O

l

e

h

Agustina Wulandari

NIM 112203001

PROGRAM STUDI D III BAHASA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM

CHANOYU

CHANOYU DE NO OCHA NO TSUKURI KATA NO

TOKUCHO

KERTAS KARYA

Kertas Karya ini diajukan kepada Panitia Ujian Program Pendidikan Non-Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam bidang studi Bahasa Jepang.

Dikerjakan

OLEH :

AGUSTINA WULANDARI

Pembimbing, Pembaca,

NIM. 112203001

Zulnaidi, SS, M. Hum Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum Nip 196708072004011001 Nip. 196009191988031001

PROGRAM STUDI D III BAHASA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PENGESAHAN

Diterima oleh

Diploma III dalam studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara Medan, Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III

dalam Bidang Studi Bahasa Jepang.

Pada :

Tanggal :

Hari :

Program Diploma III Sastra Budaya

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara

Dekan,

Dr. Syahron LubiS, M. A

Panitia Ujian : Tanda Tangan

Nip. 1951101319760031001

1. Zulnaidi, SS. M. Hum ( )

2. Zulnaidi, SS. M. Hum ( )

3. Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum ( )

(4)

Disetujui Oleh :

Program Diploma Sastra dan Budaya

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara

Medan

Program Studi D III Bahasa Jepang

Ketua,

Zulnaidi, SS. M. Hum

Medan, Juli 2014

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas berkat dan karunianya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini yang berjudul, “KARAKTERISTIK

PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM CHANOYU”. Meskipun banyak

kesulitan dalam penulisan kertas karya ini karena pengetahuan penulis yang

tebatas, tetapi berkat bimbingan, bantuan dan arahanndari berbagai pihak, maka

penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.

Dalam kertas karya ini, penulis banyak menerima bantuan dan dukungan

dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Zulnaidi. SS. M.Hum selaku Ketua Jurusan Program Studi Bahasa

Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Zulnaidi. SS. M.Hum selaku Dosen Pembimbing yang dengan

ikhlas meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan pengarahan

kepada penulis sampai kertas karya ini dapat diselesaikan.

4. Dosen Pembaca Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum

5. Bapak Drs. Nandi S. selaku Dosen Wali.

6. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara.

7. Teristimewa kepada Orangtua, Bapak Marwan Yatim dan Ibu tercinta Hari

Sundari atas dukungan moral dan kasih sayang dan cinta kalian yang tanpa

(6)

8. Buat saudaraku ( Abang Joko dan Abang Eko ).

9. Buat Bapak Arianto yang selalu memberi dukungan, motivasi dan

semangat.

10.Buat Teman-teman seperjuangan Mahasiswa Bahasa Jepang Fakultas Ilmu

Budaya Angkatan 2011.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan dan

dukungan nya selama ini. Mudah-mudahan kertas karya ini berguna dan

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Mei 2014

Penulis,

Agustina Wulandari

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….i

DAFTAR ISI……….iii

BAB I PENDAHULUAN………...1

1.1 Alasan Pemilihan Judul………..1

1.2 Pembatasan Masalah………..2

1.3 Tujuan Penulisan………2

1.4 Metode Penelitian………3

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG TEH JEPANG………..………...4

2.1 Sejarah Teh Jepang…..………4

2.2 Fungsi Teh bagi Masyarakat Jepang……….8

2.3 Jenis-jenis Teh Jepang………...10

2.4 Jenis-jenis Peralatan………..13

BAB III KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM CHANOYU..……….…….16

3.1Persiapan Pembuatan Teh………...……….16

3.2Penyeduhan Teh…...………...17

3.3Penyajian Teh…………..………...18

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN……….20

4.1 Kesimpulan……….20

4.2 Saran………21

DAFTAR PUSTAKA

(8)

ABSTRAK

KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM

CHANOYU

Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh

dibawa masuk ke jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti tang. Pada masa

itu teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip teh oolong

yang dikenal sekarang ini. Teh belum banyak dinikmati di banyak kalangan

sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer. Teh dibuat dengan

cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama

Buddha.

Setelah itu di zaman kamakura pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan

ajaran zen di jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari

tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran zen menjadi populer sebagai unsur utama

dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana

sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh. Pada masa itu perangkat

minum teh dari dinasti tang dinilai dengan harga tinggi, lalu acara minum teh

menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara

mewah menggunakan perangkat minum teh dari tiongkok.

Dalam pembuatan teh jepang, teh disiapkan secara khusus oleh orang yang

mendalami seni upacara minum teh. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam

(9)

dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan

musim dan status tamu yang diundang.

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni

dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan

tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama,

apresiasi peralatan pembuatan teh dan cara meletakkan benda seni di dalam

ruangan dan berbagai pengetahuan seni secara umum.

Upacara minum teh di Jepang banyak mengandung makna kehidupan.

Setiap prosesi yang ada dalam upacara minum teh di Jepang mengandung setiap

makna. Dalam upacara pembuatan teh antara tamu dan penerima tamu harus

member hormat. Pemberian kue manis atau okashi harus dihabiskan oleh tamu.

Dalam penyeduhan teh, pada saat Tea Master membuat teh, setiap gerakan yang

dilakukan harus dilakukan secara hati-hati dan sabar. Dalam penyajian teh

meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan harus

dipastikan bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut menghadap ke arah

tamu. Karena tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi

tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk teh agar posisi motif

menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih dan menghormati.

Pembuatan teh jepang hanya menggunakan salah satu dari beberapa jenis

teh yang ada. Jenis teh jepang ada bermacam-macam yaitu gyokuro, matcha,

sencha, genmaicha, kabusecha, bancha, houjicha, dan kukicha. Tetapi jika

(10)

yang dipakai adalah jenis matcha. Matcha adalah teh hijau berkualitas tinggi yang

(11)
(12)
(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Alasan Pemilihan Judul

Jepang merupakan salah satu negara yang perkembangannya semakin

pesat, baik dalam teknologi maupun kebudayaan. Selain banyak memproduksi

barang yang berkualitas jepang juga gencar memperkenalkan kebudayaannya.

Contohnya adalah merangkai bunga jepang ( ikebana ), pembuatan teh jepang,

pakaian kimono. Pembuatan teh jepang telah menjadi salah satu bagian penting

dari tradisi jepang. Pembuatan teh jepang adalah ritual tradisional jepang dalam

menyajikan teh untuk tamu.

Dalam pembuatan teh jepang, teh disiapkan secara khusus oleh orang yang

mendalami seni upacara minum teh. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam

mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan

dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan

musim dan status tamu yang diundang.

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni

dalam arti luas. Pembuatan teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan

rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi

peralatan pembuatan teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan dan

berbagai pengetahuan seni secara umum.

Pembuatan teh jepang hanya menggunakan salah satu dari beberapa jenis teh

(14)

genmaicha, kabusecha, bancha, houjicha, dan kukicha. Tetapi jika melaksanakan

pembuatan teh tidak sembarangan jenis teh yang dipakai. Jenis teh yang dipakai

adalah jenis matcha. Matcha adalah teh hijau berkualitas tinggi yang digiling

menjadi bubuk teh dan dipakai untuk upacara minum teh.

Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan juga sebagia

perasa untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional yang ada di

jepang ( wagashi ). Untuk melaksanakan pembuatan teh sebaiknya harus paham

dan mengerti tentang jenis-jenis peralatan yang dipakai atau digunakan dalam tata

cara pembuatan teh. Jenis-jenis peralatan yang digunakan adalah chakin, chawan,

natsume, chasaku, chasen, hishaku, fukusa, kaishi, kensui, hishaku, dan futa oki.

Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk membahas tentang karakteristik

pembuatan teh jepang dalam chanoyu.

1.2Pembatasan Masalah

Dalam kertas karya ini penulis hanya membatasi permasalahan mengenai,

karakteristik pembuatan teh jepang dalam chanoyu. Sebelum penjelasan pada bab

III, penulis membatasi permasalahan mengenai sejarah teh jepang, fungsi teh bagi

masyarakat jepang, jenis-jenis teh jepang dan jenis-jenis peralatan.

1.3Tujuan Penulisan

Tujuan Penulisan Kertas Karya ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memberikan pengetahuan umum tentang karakteristik

(15)

2. Untuk menambah wawasan generasi muda dan mengenal kebudayaan

tentang jenis-jenis teh jepang, jenis-jenis peralatan dan tata cara

pembuatan teh jepang.

3. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang jenis-jenis teh jepang,

jenis-jenis peralatan dan tata cara pembuatan teh jepang.

1.4Metode Penelitian

Dalam penulisan kertas karya ini penulis menggunakan metode

deskriptif yaitu mengumpulkan data dari informasi baik melalui internet

maupun dengan cara membaca buku atau referensi-referensi yang berkaitan

dengan judul kertas karya. Setelah semua data terkumpul, kemudian disusun

(16)

BAB 2

GAMBARAN UMUM

TENTANG TEH JEPANG

2.1 Sejarah Teh Jepang

Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari

yang menulis buku berjudul Ch'a Ching ( 茶经 ) atau Chakyō ( bahasa Inggris:

Classic of Tea ). Buku ini merupaka

menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh. Produksi

teh dan tradisi minum teh dimulai seja

Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klas

menulis tentang

pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi

Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi

minum teh di Jepang. Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil

setengah matang miri

cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama

Buddha. Teh belum banyak dinikmati sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat

menjadi populer. Di

ajaran

Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama

(17)

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum

berkembang di

Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha,

permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang

diminum.Pada masa itu, perangkat minum teh dar

harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa

mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi

populer di kalanga

menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini

dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh

Jepang yang bernamMenurut Jukō, minuman keras dan perjudian

harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan

sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang

dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal usul upacara

minum teh alira

Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota

bernamdeshi ) yang bernama

Wabicha ala Rikyū menjadi populer di

kalangan

berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin ole

(18)

Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya

kalangan samurai dan Daimyōcha untuk pembuatan teh gaya daimyō.

Sampai di awal

kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki

pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan

membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat

pembuatan teh. Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari pembuatan

teh disambut dengan tangan terbuka oleh alira

) dan pecahan aliran Senke.

Kepopuleran pembuatan teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak

sehingga perlu diatur dengan suatu sistem

lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni

tradisional Jepang ) dan

) dan murid senior Joshinsai yang

bernama

memperkenalkan metode baru belajar pembuatan teh yang disebut

Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama

dengan metode Shichijishiki.

Berbagai aliran pembuatan teh berusaha menarik minat semua orang untuk

belajar pembuatan teh, sehingga kebiasaan minum teh makin populer di seluruh

(19)

serius seperti sedang bermain-main. Sebagian guru pembuatan teh berusaha

mencegah kemunduran dalam pembuatan teh jepang dengan menekankan

pentingnya nilai spiritual dalam pembuatan teh jepang.

Pada waktu itu, kuil

penting dalam memperkenalkan nilai spiritual pembuatan teh sekaligus

melahirkan prinsiteh aliran Rikyū.

Di akhir Keshogunan Tokugawa

sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan

prosedur sistematis yang riil seperti otemae ( teknik persiapan, penyeduhan,

penyajian teh ) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi

yang bersifat

Memasuki akhir

masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan

pembuatan teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang

mulai menaruh perhatian pada te

Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang

banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga

sebagai

(20)

Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom

berbagai aliran pembuatan teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai

aliran pembuatan teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era

Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh

pengusaha sukses seperti

berbagai aliran upacara minum teh.Pada ta

The Book of Tea di

2.2. Fungsi Teh bagi Masyarakat Jepang

Dalam kehidupan sehari-hari kita pastinya telah akrab dengan minuman

yang satu ini. Seduhan daun Teh merupakan minuman yang sangat familiar yang

telah dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai belahan dunia manapun terutama di

asia sendiri. Teh merupakan tanaman daun yang tumbuh di daerah tropis dan

subtropis serta memiliki berbagai jenis dan yang paling umum digunakan ada 3

macam teh yaitu teh oolong, teh hitam, dan teh hijau.

Salah satu teh yang sangat terkenal dan paling banyak dikonsumsi adalah

Teh hijau, jenis teh ini sangat diminati setiap orang terutama oleh sebagian besar

masyarakat Jepang dan juga di Cina. Dalam proses pengolahannya teh ini hanya

melewati proses pemanasan sampai pengeringan dengan tujuan warna hijau pada

daun teh dapat di pertahankan sehingga daun terlihat masih hijau segar walaupun

sudah di jemur.

Sedangkan teh oolong lebih merupakan sebuah jenis campuran antara teh

(21)

merupakan antioksidan yang secara alamiah ada di dalam sayur-sayuran,

buah-buahan, dan minuman seperti teh dan anggur yang sangat bagus untuk menangkal

radikal bebas yang didapatkan dari pengaruh lingkungan dan cuaca. Orang yang

mengkonsumsi minuman teh secara rutin bisa dapat hidup lebih sehat dikarenakan

teh dapat menekan kemungkinan resiko stroke jauh lebih besar sampai 70% lebih,

mampu mengontrol kolesterol dan hipertensi yang berlebihan.

Dikutip dari berbagai sumber, banyak diketahui bahwa para peneliti di

seluruh dunia meyakini bahwa polifenol yang dikenal sebagai Cathecin yang

terdapat pada teh hijau membantu tubuh manusia melawan sel kanker dan tumor

walaupun belum ada penelitian yang jauh lebih mendalam akan hal tersebut. Teh

juga bisa digunakan untuk detoksifikasi berbagai racun yang tersimpan didalam

liver dengan antioksidan yang  dimilikinya. Kandungan antioksidan didalamnya

mencegah berbagai penyakit seperti penuaan dini, kanker, penyakit jantung dan

diabetes.

Manfaat teh juga sebenarnya untuk menunjang kinerja otak agar lebih

baik. Memang belum ada penelitian yang pasti mengenai hal tersebut, namun

rata-rata setiap orang yang mengkonsumsi teh selalu merasa lebih rileks dan nyaman.

Jadi sebenarnya manfaat teh itu sangatlah baik untuk kesehatan, sehingga teh bisa

dijadikan minuman sehari-hari yang sehat. Para ahli menyarankan untuk

mengkonsumsi teh 3 gelas perhari atau lebih supaya manfaatnya benar-benar

(22)

2.3 Jenis-Jenis Teh Jepang

Jepang memiliki beragam jenis teh yang baik untuk kesehatan. Sebagian

orang mungkin sudah sangat mengenal seperti apa teh jepang ini. Teh dari jepang

ini disebut dengan “Ocha” yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama “Teh

hijau”. Teh hijau ( ryokucha ) adalah teh yang sangat umum di Jepang, maka

apabila di Jepang sana kita menyebut “teh” ( ocha ) maka kemungkinan besar

yang dimaksud pastilah teh hijau, dan baru bisa disebut atau dikatakan sebagai teh

jepang ( nihoncha ). Setiap Teh memiliki harga yang berbeda tergantung dari

tanaman-nya itu sendiri.

Berikut adalah Jenis-jenis dari Teh Jepang :

a. Gyokuro

Gyokuro adalah Teh ini masuk dalam kategori teh hijau berkualitas

tinggi, teh ini teh terpilihdari daun teh kelas atas atas yang disebut Tencha.

Teh dinamakan Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun

teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai

aroma yang sangat harum. Biasanya pada proses produksi, teh ini ditutupi

dengan sebilah bambu karena akan menghasilkan klorofil dari daun teh

yang lebih banyak. Oleh karena itulah, teh ini memberikan rasa lebih kaya

dibandingkan teh lainnya.

b. Matcha

(23)

bubuk yang biasa digunakan dalam ritual pembuatan teh di Jepang.

Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan sebagai perasa

untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional Jepang (

wagashi ), berbagai permen dan cokelat.

c. Sencha

Sencha adalah Teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat

dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari. Teh sencha memiliki

kulitas tinggi, dengan rasa hampir mirip dengan bayam.

d. Genmaicha

Genmaicha adalah merupakan teh hijau dengan biji beras yang

sudah di panggang. Pada awalnya, teh ini muncul karena adanya legenda

hamba Genmai, yaitu seorang samurai terkenal asal Negeri Sakura ini.

Dirinya dengan sengaja menumpahkan beberapa kernel beras dalam teh

tuannya. Meski melanggar, sang tuan ternyata sangat menikmati teh wangi

tersebut. Nama yang diberikan untuk teh inipun bermaksud memberi

hormat pada peraciknya.

e. Kabusecha

Kabusecha adalah sejenis teh sencha yang daunnya dilindungi

untuk beberapa lama dari terpaan sinar matahari sebelum dipanen. Aroma

(24)

f. Bancha

Bancha adalah teh kasar yang dibuat dari panenan yang kedua kali

antara musim panas dan musim gugur. Daun teh untuk teh bancha

biasanya lebih besar dari daun teh sencha dan aromanya tidak begitu

harum. Bancha menjadi versi teh yang berkualitas rendah ketimbang

sencha karena teh ini memiliki rasa pahit yang tajam meskipun sudah

diberi pemanis sebelum di konsumsi. Teh inipun merupakan label teh

paling standar di Jepang.

g. Hojicha

Hojicha adalah Teh yang dibuat dari daun teh bancha yang

dipanggang dan digongseng di atas penggorengan atau di dalam oven,

dimana rasa inilah yang menimbulkan aroma halus dan punya rasa

bersahaja.

h. Kukicha

Kukicha adalah Teh berkualitas rendah dari daun teh bercampur

tangkai daun teh. Teh ini dibuat dengan cara dipanggang selama empat

kali, dimana bisa diubahnya menjadi warna cokelat gelap. Apalagi rasa

pedas dari rasa ranting teh ini melengkapi makanan pedas.

(25)

2.4 Jenis-Jenis Peralatan

Upacara minum teh merupakan ritual tradisional Jepang dalam menyajikan

teh untuk tamu. Pada zaman dahulu disebut chado atau chanoyu yang berkembang

terutama dari pengaruh Buddhisme Zen. Dalam pembuatan teh jepang selayaknya

dilakukan di dalam ruang bertatami dan di dalam ruangan tersebut tersedia tempat

khusus air untuk membuat teh yaitu tungku yang selalu menyala dan terdapat

mizusashi ( tempat air panas ) yang terisi dengan air mendidih. Ruang tersebut

diatur dengan sedemikian rupa oleh tuan rumah beserta dengan semua perabot

yang berada di dalamnya seperti kakejiku ( lukisan dinding ), chabana ( bunga

hias ) dan mangkuk keramik untuk memenjakan tamu.

Berikut ini merupakan alat-alat dan bahan yang digunakan pada

pembuatan teh jepang :

a. Chakin

Chakin adalah Kain putih kecil persegi panjang atau kain rami

yang digunakan untuk menyeka mangkuk teh atau sebagai penahan

mangkuk teh.

b. Chawan ( mangkuk teh )

Chawan adalah Mangkuk teh yang tersedia dalam berbagai ukuran

(26)

c. Natsume ( peti teh )

Natsume adalah Peti teh atau wadah yang mempunyai penutup

kecil untuk tempat teh bubuk yang digunakan dalam pembuatan teh

jepang. Natsume ( peti teh ) tersedia dalam berbagai ukuran dan berbagai

macam bentuk.

d. Chasaku ( sendok teh )

Chasaku adalah Sendok panjang yang terbuat dari bambu namun

ada juga yang dibuat dari gading atau kayu yang berfungsi untuk

mengambil bubuk teh.

e. Chasen ( pengocok teh )

Chasen adalah Alat yang di gunakan untuk mencampur teh bubuk

dengan air panas di dalam chawan. Chasen umumnya terbuat dari bambu.

f. Hishaku ( sendok air )

Hishaku adalah Sendok panjang yang berfungsi untuk mengambil

air panas dari tempat air panas ( mizusashi ) selama upacara teh di

lakukan.

g. Fukusa

Fukusa adalah Sapu tangan untuk membersihkan peralatan teh

yang kotor, seperti chasaku ( sendok teh ), chasen ( pengocok teh ), dan

(27)

h. Kaishi

Kaishi adalah Tisu yang digunakan untuk membersihkan pinggiran

chawan ( mangkuk teh ) setelah tamu meminum teh.

i. Futa oki

Futa oki adalah Tempat untuk menaruh gayung, fukusa, chakin,

(28)

BAB III

KARAKTERISTIK PEMBUATAN TEH JEPANG DALAM

CHANOYU

Halaman berikut ini mengupas prosedur untuk pembuatan teh jepang dalm

chanoyu.

3.1. Persiapan Pembuatan Teh

Dalam persiapan membuat teh jepang, sebelum tamu memasuki

ruang teh sebaiknya lepaskan jam tangan, cincin dan perhiasan lainnya,

karena mungkin dapat saja menggores perkakas teh ketika memegangganya.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami cara pembuatan teh

dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusu untuk minum teh yang

disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam

mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih

lukisan dinding ( kakejiku ), bunga ( chabana ), dan mangkuk keramikyang

sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang. Sebelum teh disajikan

anda akan ditawarkan untuk memakan keu manis atau okashi. Memakan kue

ini tidak menggunakan sumpit tapi seperti tusukan bambu. Setelah itu

sebelum pembuatan teh dilakukan terdapat beberapa perlengkapan yang

sudah disiapkan seperti 1 tungku besar hitam, 1 mangkuk disebut cahawan

dan 1 wadah berisi bubuk matcha disebut dengan natsume, salah satu dari

(29)

terbuat dari bambu disebut chasen, lalu sendok kayu yang panjang pipih

untuk mengambil bubuk teh disebut chasaku dan sendok air yang juga terbuat

dari bambu. Dari teknik persiapan saja sudah berbeda dengan teknik

persiapan membuat teh di Indonesia. Di Negara kita hanya mempersiapkan 1

buah gelas, 1 buah sendok, gula dan air panas serta bubuk teh.

3.2 Penyeduhan Teh

Dalam penyeduhan teh, setelah semua peralatan telah disiapkan

mulailah untuk membuat teh jepang Ambil mangkok teh dengan tangan

kanan anda, geser ke arah kanan anda dan letakkan mangkok kemudian pada

wadah teh di depan kendi air sehingga ketiga benda itu membentuk segitiga.

Kembali ke ruang persiapan ( Mizuya ) dan bawa keluar tempat air yang

tidak digunakan, pegang dengan tangan kiri anda. Setelah memasuki ruang

teh, berbalik, berlutut dan letakkan tempat air bekas di depan anda dan tutup

pintu. Pegang tempat air sisa dengan tangan kiri, berjalan ke arah tikar tuan

rumah dan duduklah, letakkan tempat air sisa di samping anda. Ambil sendok

di tangan kiri anda dan letakkan di depan anda dengan tangan kanan anda

menyentuh bagian ujungnya. Ambil sendok dari temapt air sisa dengan

tangan kanan anda dan letakkan diluar tikar tuan rumah di sekitar sudut

tangan kanan bagian bawah dari lubang api. Letakkan sendok ke bawah,

kemudian mendunduk ke arah tamu, yang akan menuunduk juga kepada

anda. Pindahkan tempat air sisa ke depan dan arahkan tubuh anda untuk

(30)

ke sisi kanan dan letakkan di bawah di depan lutut anda. Pindahkan sendok

ke tangan kanan anda, pegang seperti memegang pensil, dan ambil satu

sendok penuh air panas dari ketel. Tuangkan secukupnya ke dalam mangkok

untuk mencampur teh ke dalam pasta kental, kemudian kembalikan kelebihan

air ke dalam ketel dan letakkan sendok, angkat ke atas pada ketel.

Dengan pengaduk teh, campurkan teh secara perlahan dan secara

berirama hingga halus. Pindahkan pengaduk ke sisi kiri dari mangkok. Ambil

sendok dan ambil satu scoop penuh air. Pegang pengaduk di atas mangkok

dengan tanggan kiri, tuangkan air panas secukupnya diatas pengaduk dan

masukkan ke dalam mangkok untuk membuat volume teh yang sesuai untuk

sejumlah tamu yang hadir ( tiga shipo per orang ). Letakkan sendok kembali

ke rim dari ketel. Campurkan teh sekali lagi hingga halus sempurna, setelah

itu mulailah mengocok teh menggunakan pengocok teh atau chasen. Semakin

lama mengocok semakin tidak pahit pula teh tersebut.

3.3 Penyajian Teh

Dalam penyajian teh, setelah teh dibuat lalu disuguhkan kepada

tamu dengan mangkuk teh dimana motif mangkuk menghadap tamu

sebagai tanda penghormatan kepada tamu untuk mengambil mangkuk teh.

Meminum teh pun tidak bisa sembarangan langsung seruput. Mangkuk teh

yang disajikan diletakkan dengan sangat hati-hati, Karena yang

(31)

baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi

tersebut. Maka runut tata cara meminum teh yang sudah disajikan adalah

Menunduk memberi hormat dahulu setelah teh disajikan dihadapan kita

setelah itu mengambil mangkuk teh dengan tangan kanan dan

meletakkannya di telapak tangan kiri dan memutar mangkuk teh searah

jarum jam sebanyak 3 kali lalu minumnya bisa sedikit-sedikit atau

langsung dihabiskan putar kembali cawan 3 kali searah jarum jam lalu

meletakkannya kembali. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk

teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih

dan menghormati. “Bahwa upacara minum teh itu sakral sifatnya.

Sekaligus menggambarkan bahwa “yang penting bukan ketika teh dihirup

melainkan bagaimana proses membuatnya”. Dalam proses pembuatan teh

lalu menghidangkannya dengan aturan yang gemulai alami membuat kita

teringat “diri”, teringat alam, teringat perjalanan hidup, teringat darimana

kita datang da ke arah mana kita pergi. Harmoni, keseimbangan adalah

“jalan hidup” yang setiap kali harus di rawat, ditata, dilatih dalam proses

(32)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari hasil penulisan, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami cara pembuatan

teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh

yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam

mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih

), da

sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.

2. Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni

dalam arti l uas. Cara pembuatan teh mencerminkan kepribadian dan

pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara

berpikir

meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (

dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran

upacara minum teh yang dianut.

3. Seni pembuatan teh jepang memerlukan pendalaman selama

bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu

yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus

mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan

(33)

4. Pada prinsipnya pembuatan teh pada chanoyu memiliki keistimewaan dan

tata cara tertentu dalam persiapan , penyeduhan teh dan penyajian teh.

4.2 Saran

Sebaiknya hasil karya tulis yang sederhana ini semoga dapat menjadikan

referensi bagi pembaca yang ingin mendalami chanoyu khususnya pembuatan teh

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Tanaka, Sendo.1973.The Tea Ceremony.Tokyo.Kodansha Internasional Ltd

Puspita Sari, Heny Fitria dan Fujiwara, Takeo.2012.Ngomong Jepang

Gampang.Jakarta : Tangga pustaka

Bungin, Burhan.2011.Metodologi penelitian

kuantitatif:komunikasi,ekonomi,dan kebijkakan publik serta ilmu-ilmu

sosiallainnya.Jakarta : kencana

http:/

http://browsing-gambar.blogspot.com/2011/08/macam-macam-ocha-teh-Jepang.html

http://Sukinojapan.blogspot.com/2013/06/alat-alat-yang-di-gunakan-dalam.html

(35)

LAMPIRAN

Gambar ( a ) Gyokuro

(36)

Gambar ( c ) Sencha

(37)

Gambar ( e ) Kabusecha

(38)

Gambar ( g ) Hojicha

Gambar

Gambar ( a ) Gyokuro
Gambar ( c ) Sencha
Gambar ( e ) Kabusecha
Gambar ( g ) Hojicha

Referensi

Dokumen terkait

Jika dilihat dari kondisi ruangan upacara minum teh yang sangat sederhana, para peserta juga tidak diharuskan untuk mengikuti tata cara dan. aturan-aturan seperti pada upacara

Adanya pengaruh konsentrasi ekstrak daun teh pada pembuatan telur asin rebus terhadap jumlah bakteri, kemungkinan karena larutan ekstrak daun teh yang digunakan dalam pembuatan

Budaya Jepang tersebut diantaranya adalah huruf Jepang yang khas, pakaian yang unik, cara orang Jepang memberi salam, cara makan dan cara minum.. Salah satu

1) Powdery, kecacatan yang terjadi akibat terdapat banyak bubuk teh yang lolos pada mesh 60 (lubang mesh paling kecil), sehingga bubuk teh memiliki banyak

Kita tidak mungkin memisahkan budaya dari kosakata yang digunakan dalam budaya tersebut (Wahyuni, 2017). Saat ini, jika tidak ada bahasa, peradaban bahkan bisa mati. Ini

Bahasa formal ini digunakan untuk menghormati para tamu bahwa mereka sangatlah penting dalam upacara minum teh ini dan penyaji teh akan memberikan yang terbaik terhadap para

Dengan penambahan bubuk kayu secang dan bubuk pada bubuk teh daun pegagan diharapkan dapat dihasilkan minuman teh fungsional dengan aroma, warna, dan cita rasa yang baik.. Untuk