Abstrak
TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK FIKTIF SECARA BERLANJUT
(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) OLEH
JANDRIKARDO SITANGGANG
Berkembangnya bidang perpajakan dalam masyarakat, mempunyai peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan Negara terbesar, namun disisi lain kewajiban pajak juga rentan terhadap berbagai tindak pidana, salah satunya adalah pemalsuan faktur pajak, dalam melakukan tindak pidana tersebut seringkali ditemui unsure perbuatan berlanjut. Penerapan pidana terhadap pelaku perbuatan berlanjut memiliki system pemidanaan yang telah diatur dalam pasal 64 KUHP. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah
pertanggung jawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ? dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana penerbitan pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomnor 143/Pid.B/2012/PN.TK
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Data diperoleh dengan cara wawancara menggunakan pedoman tertulis terhadap
responden yang telah ditentukan. Penelitian dilakukan di wilayah hokum pengadilan negeri kelas IA Tanjung Karang.
Jandrikardo Sitanggang pelaku tindak pidana penerbitan pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara
nomnor 143/Pid.B/2012/PN.TK. Diketahui bahwa secara garis besar dilakukan dengan cara, mempertimbangkan tingkat kesalahan yang telah dilakukan, pengaruh tindak pidana yang telah dilakukan, ancaman terhadap pasal yang didakwakan, system pemidanaan yang ditentukan dalam pasal yang dilanggar, hal yang meringankan dan hal yang memberatkan, serta fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.
TINJAUAN YURIDIS PERTANGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK
FIKTIF SECARA BERLANJUT
(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK)
Oleh
Jandrikardo sitanggang
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
TINJAUAN YURIDIS PERTANGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK
FIKTIF SECARA BERLANJUT
(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) (Skripsi)
Oleh
Jandrikardo Sitanggang Npm : 1112011191
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN Halaman
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 7
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 9
E. Sistematika Penulisan ... 15
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum ... 17
B. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 20
C. Tinjauan tentang Pertanggungjawaban Pidana ... 25
D. Gambaran Umum tentang Perpajakan ... 27
E. Tinjauan tentang Perbuatan Berlanjut (Voortgezette Handeling) ... 30
F. Tinjauan tentang Putusan Hakim ... 33
G. Dasar Pertimbangan Hakim ... 37
III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 39
B. Sumber dan Jenis Data ... 40
C. Penentuan Populasi dan Sampel... 42
D. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data... 42
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Narasumber ... 45
B. Gambaran Umum Putusan Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ... 46
C. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak secara Berlanjut dalam Perkara Nomor
143/Pid.B/2012/PN.TK ... 47
D. Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana terhadap Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak secara Berlanjut dalam Perkara Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK... 57
V. PENUTUP
Simpulan ... 71
MOTTO
Tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan dengan sungguh sungguh, tuhan akan memberikan yang terbaik
PERSEMBAHAN
Segala piji syukur kepada allah SWT yang selalu memberikan rahmad, hidayah, dan karunianya, kupersembahkan karya kecilku ini kepada :
Orang tua tercinta yang selalu sabar membimbing dalam setiap nafas kehidupanku, yang selalu mencurahkan kasih sayang, doa yang tiada henti setiap
saat dan setiap waktu dalam menanti keberhasilanku.
Saudara tercinta, Bang Ali, Uda Bintang, Uda Anggi yang selalalu memberikan semangat, motivasi, yang senantiasa selalu mengisi hari-hari dengan penuh
canda tawa serta doa yang tulus demi kesuksesanku.
Sahabat dan kawan-kawanku dalam almamater tercinta fakultas hukum angkatan 2011, serta orang-orang yang telah menjadi perantara turunnya pertolongan
allah SWT kepadaku dalam penyusunan skripsi ini.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 8
Januari 1993 Anak Pertama (Tunggal) dari pasangan Alex
Sitanggang dan Marintan Sembiring.
Jenjang pendidikan penulis dimulai pada Taman
Kanak-kanak aisyiyah Klaten yang diselesaikan pada tahun 1999, lulus Sekolah Dasar
Negeri 3 Pasuruan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
Penengahan yang diselesaikan pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas
Negeri 4 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2011.
Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Lampung, penulis juga telah melaksanakan KKN (Kuliah Kerja
Nyata) di Kel. Karang Maritim Kec. Panjang Kota Bandar Lampung pada tahun
SANWACANA
Alhamdulliahi robbil’alamin, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan
rahmad, hidayah, petunjuk dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini, dengan judul Tinjauan Yuridis
Pertangungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif
Secara Berlanjut(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) sebagai salah satu
syarat dalam mencapai gelar Sarjana Hukum dan menyelesaikan pendidikan pada
Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Segala kemampuan telah penulis curahkan guna menyelesaikan skripsi ini,
namum penulis menyadari dalam penyusunan hingga selesainya skripsi ini tidak
terlepas dari bantuan, bimbingan, dorongan dan saran yang diberikan berbagai
pihak. Untuk itu penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bpk Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Haryanto, M.S. selaku rektor Universitas
Lampung.
2. Bpk Prof. Dr. Heriyandi, S.H.,M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Lampung.
3. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H.,M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana
4. Ibu Dr. Nikmah Rosidah, S.H., M.H selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktunya dan mencurahkan segenap pemikirannya untuk
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Firganefi, S.H.,M.H. selaku selaku pembimbing II yang telah
meluangkan waktunya dan mencurahkan segenap pemikirannya untuk
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Ibu Dr. Erna Dewi, SH, MH.selaku Pembahas I atas kritik, saran, koreksi, dan
masukannya dalam penulisan skripsi ini.
7. Bpk Rinaldy Amrullah, SH, MH. selaku Pembahas II atas kritik, saran, koreksi,
dan masukannya dalam penulisan skripsi ini.
8. Ibu Rini Fathonah, SH, MH.selaku Dosen Pembimbing Akademik atas arahan
dan bimbingan selama penulis menjalani masa perkuliahan hingga selesainya
skripsi ini.
9. Bapak dan ibu dosen Fakultas Hukum Unversitas Lampung yang telah
mencurahkan segenap kesabaran dan kemampuan dalam mendidik penulis
selama menjalani masa perkuliahan.
10. Seluruh karyawan Fakultas Hukum Universitas Lampung, Pak Narto, Mbak
Dian, Mbak Yani, Mbak Yanti, Mbak Sri, Kyai Zamroni, Kyai Apri, dan
karyawan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis selama menjalani masa perkuliahan.
11. Sri Widyastuti, SH selaku Hakim pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang
yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu penulis dalam
12. M. Fahruldin, S.H.selaku Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung
yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu penulis dalam
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
13. Orang tuaku yang aku cintai seumur hidupku, yangselalu mencurahkan do’a,
kasih sayang, motivasi dan kesabarannya dalam membimbing penulis.
14. Sahabat terbaikku yang selalu menemani dalam suka maupun duka, Abul,
Benjol, Oop, Ejak, Edo, Efran, Acol, Dwi, Apis, Rio, Dina, Waang, Arizona,
Komeng, Eyu, Budi, Yoga, Dimas, Januardi, Keyek, Sampose, Alan, Dob,
Ase, Vijay, Bayu, Kebon, Yogi, Apri, Fatur, Dedek, Alex, Dinan, semoga
kebersamaan kita selalu menjadi cerita terbaik di masa depan.
15. Thanks berat untuk kawan-kawan tercantikku, Puput, Santi, Adel, Dini,
Dedek, Vina, Uwo, Wanda, Wina, Diah, Shinta, Mely, Garnis, Mia, Yeyen,
Ncim, Ulan, lanjutkan perjuanganmu sebagai wanita.
16. Kawan-kawan seperjuangan Fakultas yang telah menemaniku dalam belajar
dan mendampingiku dalam keceriaan, Eko Gums, Udin, Topan, Jimmy,
Yasir, Patra, Duchan, Yan Bastian, Manto, Mat Riswan, Adit, Andi, Edo,
Okto, Komang, Adi, Kadek, Eka, Abin, Doyok, Fajri, Nurul, Feni, Gita,
Lany, Weni, Anggi, Erika, Resty.
17. Seluruh anggota Rascal Community, semoga kita selalu menjadi yang
terbaik.
18. Almamaterku tercinta.
19. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan sumbangsih pemikiran
20. Seseorang dimasa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang yang telah
memberikan semangat, dorongan, inspirasi dalam mendewasakan penulis.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi masyarakat, bangsa, dan
Negara, para mahasiswa, dan pihak-pihak lain yang membutuhkan terutama bagi
penulis. Saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan dan akhir
kata penulis ucapkan terima kasih.
Bandar Lampung, Agustus 2015
Penulis,
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional yang dilaksanakan
secara berkesinambungan meliputi seluruh bidang kehidupan, maka masyarakat
Indonesia senantiasa mengalami perkembangan yang seiring dengan
perkembangan dan kemajuan jaman. Berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan
nasional, maka dalam penyelenggaraan pemerintahan negara diperlukan suatu
sumber pendapatan yang dipergunakan untuk pembiayaan pemerintahan negara
yang dituangkan dalam bentuk Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Pajak
merupakan salah satu sumber penerimaan negara sebagai bentuk kontribusi wajib
kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung
dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Tugas pemerintah pada prinsipnya berusaha dan bertujuan untuk menciptakan
kesejahteraan bagi rakyatnya, oleh sebab itu pemerintah harus tampil kedepan dan
turut campur tangan, bergerak aktif dalam bidang kehidupan masyarakat, terutama
bidang perekonomian guna tercapainya kesejahteraan rakyat, demi berhasilnya
2
Guna meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dan untuk lebih memberikan
kepastian hukum serta mengantisipasi perkembangan di bidang teknologi
informasi dan perkembangan yang terjadi dalam ketentuan-ketentuan material di
bidang perpajakan, disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan
profesionalisme aparatur perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi
perpajakan, dan meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak maka
diterbitkanUndang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, dilandasi falsafah Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalamnya
tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan
kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Norma
tersebut termaktub dalam Pasal 23A Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “Pajak
dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan
undang-undang”.
Terbitnya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, maka sistem pemungutan pajak di Indonesia mengalami perubahan
yang sangat mendasar, baik dari sisi ciri maupun coraknya yaitu :
1. Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dan pengabdian serta peran serta Wajib Pajak secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembeayaan negara dan pembangunan nasional;
3
pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan;
3. Anggota masyarakat wajib pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotong-royongan nasional melalui sitem menghitung, memperhitungkan dan membayar sendiri pajak yang terhutang (Self Assessment), sehingga melalui sistem ini pelaksanaan administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi, terkendali, sederhana dan mudah dipahami oleh anggota masyarakat.1
Melekatnya kewajiban bagi wajib pajak untuk membayar pajak kepada negara
tidak menutup kemungkinan dirasa sebagai beban bagi beberapa wajib pajak,
sehingga timbul suatu kehendak untuk melakukan tindakan-tindakan yang
dimaksudkan untuk meminimalkan beban pajak secara melawan hukum.
Berkembangnya bidang perpajakan dalam masyarakat, mempunyai peranan yang
sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan negara terbesar, namun
disisi lain kewajiban pajak juga rentan terhadap berbagai tindak pidana, salah
satunya adalah pemalsuan faktur pajak.
Contoh kasus yang terjadi di Bandar Lampung pada tahun 2012 dan telah diputus
oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang dengan nomor perkara
143/Pid.B/2012/PN.TK, adapun kronologis kejadian tindak pidana tersebut adalah
sebagai berikut :
Pada tahun 2008 terdakwa Alex Sitanggang pendiri CV.Susilo Jaya Persada selaku pihak pertama menjalin kerjasama dengan PT.Virya Mitra Sejahtera perusahaan milik saksi Ronny Hadisaputra selaku pihak kedua, dimana pihak pertama melaksanakan dan bertanggung jawab penuh atas kewajiban perpajakan yang terkait dalam kegiatan importasi yang dilaksanakan oleh pihak kedua berupa laporan pajak bulanan (SPT Masa Bulanan) dan laporan SPT Tahunan. Bahwa pihak pertama berhak mendapatkan imbalan sebesar Rp.600.000 (enam ratus ribu rupiah) per
1 Salamun, AT, Pajak, Citra dan Pembaharuannya, Revisi dari Buku Pajak, Citra dan Bebannya, Jakarta, PT.
4
dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dikeluarkan atas nama CV.Susilo Jaya Persada.
Bahwa pada bulan Juli 2008, saksi Nurjadi Limbri, Sulung Sukri, dan Lim Lie Tjien memesan barang dan berbelanja barang di luar negeri, dan meminta bantuan kepada saksi Ronny Hadisaputra selaku pemilik PT.Virya Mitra Sejahtera untuk memasukkan barang belanjaan tersebut ke Indonesia melalui CV.Susilo Jaya Persada milik terdakwa Alex Sitanggang. Bahwa terhitung sejak tanggal 2 Juli 2008 sampai dengan 5 mei 2009 saksi Ronny Hadisaputra melakukan import barang melalui CV.Susilo Jaya Persada ke Pelabuhan Panjang Bandar Lampung sebanyak 376 kali sesuai dengan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Teluk Betung.
Bahwa berkaitan dengan hal tersebut, maka terdakwa Alex Sitanggang selaku direktur sekaligus pemilik CV.Susilo Jaya Persada berkewajian menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) setiap bulannya kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Teluk Betung yang berisi antara lain rincian Faktur Pajak yang diterbitkan, Daftar Pajak Masukan, dan penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Terhadap Faktur Pajak yang diterbitkan oleh terdakwa tidak berdasarkan pada transaksi jual beli barang dan atau jasa sesuai dengan nama Barang Kena Pajak sebagaimana yang tercantum dalam Faktur Pajak, atas dasar tersebut maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang memutus terdakwa terbukti melanggar ketentua Pasal 39A huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Jo. Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 4 (empat) bulan dan denda sebesar Rp. 8.288.484.205 (Delapan Milyar Dua Ratus Delapan Puluh Delapan Juta Empat Ratus Delapan Puluh Empat Ribu Dua Ratus Lima Rupiah) yang apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 4 (empat) bulan. 2
2
5
Berdasarkan uraian kronologis tersebut dapat diketahui bahwa telah terjadi tidak
pidana faktur pajak fiktif yang dilakukan oleh perusahaan secara berlanjut, yang
dilakukan terhitung sejak tanggal 2 Juli 2008 sampai dengan 5 mei 2009.
Ketentuan mengenai perbuatan berlanjut diatur dalam Pasal 64 KUHP, adapun
rumusan dari ketentuan Pasal 64 KUHP adalah sebagai berikut :
(1) Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau
pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang
sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan yang memuat
ancaman pidana pokok yang paling berat.
(2) Demikian pula hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang yang
dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan
menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak.
(3) Akan tetapi, jika orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam
Pasal 364, 373, 379, dan 407 ayat (1), sebagai perbuatan berlanjut dan nilai
kerugian yang ditimbulkan jumlahnya melebihi dari tiga ratus tujuh puluh
lima rupiah, maka ia dikenakan aturan pidana tersebut dalam Pasal 362, 372,
378, dan 406.
Pertanggungjawaban pidana merupakan bentuk perbuatan dari pelaku tindak
pidana terhadap kesalahan yang dilakukannya, dengan demikian terjadinya
pertanggungjawaban pidana karena ada kesalahan yang merupakan tindak pidana
yang dilakukan oleh seseorang, dan telah ada aturan yang mengatur tindak pidana
6
1. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang
buruk sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum;
2. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik
dan buruknya perbuatan tadi.3
Penegakan hukum merupakan upaya yang dilakukan agar berfungsinya
norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku hubungan hukum dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kedudukan hukum selalu memiliki
peran dalam tatanan masyarakat, mulai tingkat yang paling sederhana sampai
tingkat yang kompleks, perlunya penegakan hukum tersebut ditujukan demi
terwujudnya ketertiban yang memiliki hubungan erat dengan keadaan umum
masyarakat, dimana ketertiban ini merupakan syarat pokok bagi adanya
masyarakat yang teratur dalam kehidupannya.
Penerapan pidana sebagaimana dimaksud dalam perkara nomor
143/Pid.B/2012/PN.TK perlu untuk diadakan suatu tinjauan yuridis guna
mengetahui mekanisme pemidanaan terhadap tindak pidana yang dilakukan secara
berlanjut. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka penulis tertarik
untuk menganalisis dan menuangkan dalam bentuk tulisan yang berbentuk skripsi
dengan judul “Tinjauan Yuridis Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak
Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut (Studi Putusan Nomor
143/Pid.B/2012/PN.TK)”.
3
7
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup
1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas maka
permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah :
a. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan
faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor
143/Pid.B/2012/PN.TK ?
b. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana
terhadap pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut
dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ?
2. Ruang Lingkup
Untuk membahas permasalahan dalam skripsi ini agar tidak terlalu meluas dan
salah penafsiran maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian terhadap kajian
hukum pidana dan hukum acara pidana, khususnya tentang tinjauan yuridis
pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif
secara berlanjut (Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK). Adapun ruang
lingkup kajian dalam penulisan ini adalah mengenai pertanggungjawaban pidana
dan mekanisme penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana faktur pajak
8
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
a. Mengetahui dan memahami secara jelas mengenai pertanggungjawaban pidana
pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam
perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK.
b. Mengetahui dan memahami dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan
pidana terhadap pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara
berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK.
2. Kegunaan Penelitian
Bertitik tolak dari tujuan penelitian atau penulisan skripsi itu sendiri, penelitian ini
mempunyai dua kegunaan yaitu dari sisi teoritis dan praktis, adapun kegunaan
keduanya dalam penelitian ini adalah :
a. Kegunaan Teoritis
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memperluas cakrawala serta dapat menjadi
bahan referensi dan dapat memberikan masukan-masukan disamping
undang-undang dan peraturan perundang-undang-undang-undangan terkait bagi penegak hukum, lembaga
permasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan
9
Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut
(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK).
b. Kegunaan Praktis
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritis dan rujukan
bagi penegak hukum, masyarakat, dan pihak-pihak terkait dalam menangani
permasalahan tindak pidana pencurian, selain itu sebagai informasi dan
pengembangan teori dan tambahan kepustakaan bagi praktisi maupun akademisi.
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual
1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang merupakan abstraksi dari hasil
pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan
identifikasi dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti.4
KUHP tidak memberikan penjelasan secara jelas mengenai apa yang dimaksud
dengan pertanggungjawaban pidana, namun KUHP memberikan pengecualian
terhadap seseorang yang tidak dapat dituntut pertanggungjawaban pidana apabila
orang tersebut melakukan perbuatan pidana yang diatur dalam Pasal 44 KUHP,
yakni “barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau
jiwa yang terganggu karena penyakit tidak dipidana”.
4
10
Menurut Roeslan Saleh, dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal
pertanggungjawaban, perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarangnya
perbuatan, apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga
dipidana, tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu
memang mempunyai kesalahan atau tidak, apabila orang yang melakukan
perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu dia akan
dipidana.5
Menurut Moeljatno, kesalahan dalam hukum pidana ada 2 (dua) macam yaitu
sengaja (dolus/opzet) dan kealpaan (culpa).
a. Kesengajaan (dolus/opzet)
Ada 3 (tiga) kesengajaan dalam hukum pidana yaitu:
1) Kesengajaan untuk mencapai suatu kesengajaan yang dimaksud/tujuan/dolus directs;
2) Kesengajaan yang belum mengandung suatu tujuan melainkan diserta keinsyafan, bahwa suatu akibat pasti akan terjadi (kesengajaan dengan kepastian);
3) Kesengajaan seperti sub di atas tetapi disertai keinsyafaan hanya ada kemungkinan (bukan kepastian), bahwa sesuatu akibat akan terjadi kesengajaan dengan kemungkinan/dolus eventualis).
b. Kurang hati-hati (kealpaan/culpa)
Kurang hati-hati (kealpaan/culpa) arti alfa adalah kesalahan pada umumnya, tetapi dalam ilmu pengetahuan mempunyai arti teknis yaitu suatu macam kesalahan pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan yaitu kurang berhati-hati sehingga berakibat yang tidak disengaja terjadi.6
5 Roeslan Saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, Jakarta, Ghalia Indonesia,1982,
hlm 75
6 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawabannya dalam Hukum Pidana, Yogyakarta, Bina
11
Menurut Roeslan Saleh, tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan
terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidak bersifat
melawan hukum, maka lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu
harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, dan kemudian semua
unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang
dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidanannya
terdakwa maka terdakwa haruslah :
a) Melakukan perbuatan pidana;
b) Mampu bertanggung jawab;
c) Dengan kesengajaan atau kealpaan, dan
d) Tidak adanya alasan pemaaf. 7
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatur mengenai perbarengan dalam
bab VI Pasal 63 sampai dengan Pasal 71, ketentuan mengenai perbarengan tindak
pidana pada dasarnya ialah suatu ketentuan mengenai bagaimana cara
menyelesaikan perkara dan menjatuhkan pidana (sistem penjatuhan pidana). Pasal
64 Ayat (1) KUHP menyatakan bahwa “Jika antara beberapa perbuatan, meskipun
masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya
sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, maka
hanya diterapkan satu aturan pidana; jika berbeda-beda, yang diterapkan yang
memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.”
7
12
Peradilan adalah suatu pelaksanaan hukum dalam hal konkrit karena adanya
tuntutan hak, yang fungsinya dijalankan oleh suatu badan yang berdiri sendiri dan
diadakan oleh negara serta bebas dari pengaruh apa atau siapapun dengan cara
memberikan putusan yang bersifat mengikat dan bertujuan mencegah. Pada waktu
diputuskan tentang bagaimana atau apa hukum yang berlaku untuk suatu kasus,
maka pada waktu itulah hukum mencapai puncaknya.
Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara merupakan
mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati oleh semua pihak
tanpa kecuali, sehingga tidak ada satu pun pihak yang dapat mengintervensi
hakim dalam menjalankan tugasnya tersebut. Hakim dalam menjatuhkan putusan,
harus mempertimbangkan banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan perkara
yang sedang diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan pelaku,
sampai kepentingan pihak korban maupun keluarganya serta mempertimbangkan
pula rasa keadilan masyarakat.
Teori tujuan pemidanaan pada umumnya ada 3 (tiga) teori yang sering digunakan
dalam mengkaji tentang tujuan permidanaan yaitu :
1. Tujuan pemidanaan menurut teori Absolut/pembalasan, antara lain :
a. Tujuan pemidanaan hanyalah sebagai pembalasan;
b. pembalasan adalah tujuan utama dan didalamnya tidak mengandung sarana-sarana untuk tujuan lain seperti kesejahteraan masyarakat; c. kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pemidanaan; d. pidana harus sesuai dengan kesalahan si pelanggar;
13
2. Tujuan pemidanaan menurut teori relative/tujuan, antara lain :
a. Tujuan pemidanaan adalah pencegahan;
b. pencegahan bukan sebagai tujuan akhir tapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat;
c. hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada pelaku saja, misalnya kesengajaan atau kelalaian yang memenuhi syarat untuk adanya pidana;
d. pemidanaan harus ditetapkan berdasarkan tujuan sebagai alat pencegahan kejahatan;
e. pemidanaan melihat kedepan, atau bersifat prospektif.
3. Tujuan pemidanaan menurut teori integratif/gabungan, teori ini menganggap pemidanaan sebagai unsur penjeraan dibenarkan tetapi tidak mutlak dan harus memiliki tujuan untuk membuat si pelaku dapat berbuat baik dikemudian hari 8
2. Konseptual
Kerangka konseptual adalah merupakan kerangka yang menggambarkan
hubungan antara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti
yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti atau di inginkan.9
Kerangka konseptual yang diketengahkan akan dibatasi pada konsepsi pemakaian
istilah-istilah dalam penulisan ini yaitu Tinjauan Yuridis Pertanggungjawaban
Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut
(Studi Kasus Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK). Adapun pengertian dari
istilah tersebut adalah:
8
Nandang Sambas, Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010, hlm 15-16.
9
14
a. Pertanggungjawaban pidana adalah dilihat dari sudut terjadinya suatu tindakan
yang terlarang, seseorang akan dipidana atas tindakan-tindakan tersebut apabila
tindakan tersebut bersifat melawan hukum, dilihat dari sudut kemampuan
bertanggungjawab, maka hanya seseorang yang mampu bertanggungjawab
yang dapat dipidana.10
b. Tindak pidana adalah perbuatan atau tindakan yang dapat dikenakan hukuman
karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang.11
c. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena
pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak atau penyerahan jasa
kena pajak 12
d. Perbuatan berlanjut adalah Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing
merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa
sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.13
10
Kanter E.Y & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerpannya, 2002, Storia Grafika, Jakarta, hlm, 249
11
Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2010, hlm 45 12
Pasal 1 Angka 23 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
13
15
E. Sistematika Penulisan
Guna mempermudah pemahaman terhadap skripsi ini secara keseluruhan, maka
disajikan penulisan sebagai berikut :
I. PENDAHULUAN
Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang penulisan skripsi,
permasalahan dan ruang lingkup penulisan skripsi, tujuan dan kegunaan
penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Merupakan bab tinjauan pustaka sebagai pengantar dalam memahami
pengertian-pengertian umum tentang pokok-pokok bahasan yang merupakan tinjauan yang
besifat teoritis yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan studi
perbandingan antara teori dan praktek
III. METODE PENELITIAN
Merupakan bab yang memberikan penjelasan tentang langkah-langkah yang
digunakan dalam pendekatan masalah serta uraian tentang sumber-sumber data,
pengolahan data dan analisis data.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Merupakan jawaban atas pembahasan dari pokok masalah yang akan dibahas
yaitu Tinjauan Yuridis Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut (Studi Kasus Putusan Nomor
16
V. PENUTUP
Bab ini merupakan hasil dari pokok permasalahan yang diteliti yaitu merupakan
kesimpulan dan saran-saran dari penulis yang berhubungan dengan permasalahan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana
1. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana
Belanda yaitu strafbaar feit yang terdiri dari tiga kata, yakni straf yang
diterjemahkan dengan pidana dan hukum, baar yang diterjemahkan dengan dapat
atau boleh, dan feit yang diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran,
dan perbuatan.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak memberikan penjelasan mengenai
apa yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri, biasanya tindak pidana
disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum.
Istilah stafbaar feit atau kadang disebut sebagai delict (delik) diterjemahkan ke
dalam bahasa indonesia dengan berbagai istilah.
Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam
dengan pidana, di mana pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang
bersifat aktif yaitu melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh
undang-undang, dan perbuatan yang bersifat pasif yaitu tidak berbuat sesuatu yang
sebenarnya diharuskan oleh hukum.1
1
18
Tindak pidana dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Tindak pidana materil (materiel delict).
Tindak pidana yang dimaksudkan dalam suatu ketentuan hukum pidana (straf)
dalam hal ini dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan suatu akibat
tertentu, tanpa merumuskan wujud dari perbuatan itu.Inilah yang disebut tindak
pidana material (materiel delict).
b. Tindak pidana formal (formeel delict).
Apabila perbuatan tindak pidana yang dimaksudkan dirumuskan sebagai wujud
perbuatan tanpa menyebutkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu, inilah
yang disebut tindak pidana formal (formeel delict).2
Adapun beberapa pengertian tindak pidana dalam arti (strafbaarfeit) menurut
pendapat ahli adalah sebagai berikut :
Moeljatno mendefinisikan perbuatan pidana sebagai perbuatan yang dilarang oleh
suatu aturan hukum, larangan mana disertai sanksi yang berupa pidana tertentu
bagi barang siapa melanggar larangan tersebut, larangan ditujukan kepada
perbuatan (suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang),
sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian
itu.3
Wirjono Prodjodikoro menjelaskan hukum pidana materiil dan formiil sebagai
berikut:
2
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2002 hlm 126
3
19
a. Penunjuk dan gambaran dari perbuatan-perbuatan yang diancam dengan
hukum pidana.
b. Penunjukan syarat umum yang harus dipenuhi agar perbuatan itu merupakan
perbuatan yang menbuatnya dapat di hukum pidana.
c. Penunjuk jenis hukuman pidana yang dapat dijatuhkan hukum acara pidana
berhubungan erat dengan diadakannya hukum pidana, oleh karena itu
merupakan suatu rangkaian yang memuat cara bagaimana badan-badan
pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan dan pengadilan
bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana.4
Pompe menjelaskan pengertian tindak pidana menjadi dua definisi, yaitu :
a. Definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma yang
dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk
mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.
b. Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian yang oleh peraturan
undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.5
2. Unsur-Unsur Tindak Pidana
4
Laden Marpaung, Azas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta 2005, hlm 21 5
20
Tinjauan tindak pidana terkait unsur-unsur tindak pidana dapat dibedakan dari dua
sudut pandang yaitu :
a. Sudut Teoritis
Unsur tindak pidana adalah :
1. Perbuatan;
2. Yang dilarang (oleh aturan hukum);
3. Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan).
b. Sudut Undang-Undang
1. Unsur tingkah laku: mengenai larangan perbuatan.
2. Unsur melawan hukum: suatu sifat tercelanya dan terlarangannya dari satu perbuatan, yang bersumber dari undang-undang dan dapat juga bersumber dari masyarakat.
3. Unsur kesalahan: mengenai keadaan atau gambaran batin orang sebelum atau pada saat memulai perbuatan.
4. Unsur akibat konstitutif: unsur ini terdapat pada tindak pidana materiil (materiel delicten) atau tindak pidana akibat menjadi syarat selesainya tindak pidana, tindak pidana yang mengandung unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana, dan tindak pidana dimana akibat merupakan syarat terpidananya pembuat.
5. Unsur keadaan yang menyertai: unsur tindak pidana berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan.
6. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana: unsur ini hanya terdapat pada tindak pidana aduan yaitu tindak pidana yang hanya dapat dituntut pidana jika ada pengaduan dari yang berhak mengadu.
7. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana: unsur ini berupa alasan untuk diperberatnya pidana, dan bukan unsur syarat untuk terjadinya atau syarat selesainya tindak pidana sebagaimana pada tindak pidana materiil.
21
9. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana: unsur kepada siapa rumusan
tindak pidana itu ditujukan tersebut, contoh; “barangsiapa” (bij die) atau
“setiap orang”.
10. Unsur objek hukum tindak pidana: tindak pidana ini selalu dirumuskan unsur tingkah laku atau perbuatan.
11. Unsur syarat tambahan memperingan pidana: unsur ini berupa unsur pokok yang membentuk tindak pidana, sama dengan unsur syarat tambahan lainnya, seperti unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana. 6
Setiap Tindak Pidana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang dibagi menjadi dua
macam unsur, yakni unsur-unsur subyektif dan unsur-unsur obyektif.
Lamintang menjelaskan mengenai unsur-unsur subjektif dan objektif dalam suatu
tindak pidana, yaitu :
Unsur-unsur subyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :
1) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).
2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang
dimaksud di dalam Pasal 53 Ayat 1 KUHP.
3) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedache raad , misalnya terdapat di
dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.
4) Perasaan takut atau vress, antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana
Pasal 308 KUHP.
6
Adami Chazawi, Op. Cit, hlm 79-80
22
Unsur-unsur obyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :
1) Sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid.
2) Kualitas dari si pelaku.
3) Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan
sesuatu sebagai kenyataan.7
B. Tinjauan tentang Pertanggungjawaban Pidana
Sistem pertanggungjawaban pidana dalam KUHP menganut asas kesalahan
sebagai salah satu asas disamping asas legalitas, pertanggungjawaban pidana
merupakan bentuk perbuatan dari pelaku tindak pidana terhadap kesalahan yang
dilakukannya, dengan demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena
ada kesalahan yang merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang, dan
telah ada aturan yang mengatur tindak pidana tersebut.
Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai
toerekenbaarheid, criminal responbility, criminal liability. Pertanggungjawaban
pidana dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka atau
terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi
atau tidak, dengan perkataan lain apakah terdakwa akan dipidana atau dibebaskan.
Jika ia dipidana, harus ternyata bahwa tindakan yang dilakukan itu bersifat
melawan hukum dan terdakwa mampu bertanggung jawab, kemampuan tersebut
memperlihatkan kesalahan dari petindak yang berbentuk kesengajaan atau
7
23
kealpaan, artinya tindakan tersebut tercela tertuduh menyadari tindakan yang
dilakukan tersebut.8
Bilamana hendak menghubungkan petindak dengan tindakannya dalam rangka
mempertanggungjawab pidanakan petindak atas tindakannya, agar supaya dapat
ditentukan pemidanaan kepada petindak harus diteliti dan dibuktikan bahwa :
a. subjek harus sesuai dengan perumusan undang-undang;
b. terdapat kesalahan pada petindak;
c. tindakan itu bersifat melawan hukum;
d. tindakan itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang – Undang
(dalam arti luas);
e. dan dilakukannya tindakan itu sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan
lainnya yang ditentukan dalam undang –undang.9
Menurut Ruslan Saleh, tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan
terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidak bersifat
melawan hukum, maka lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu
harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, dan kemudian semua
unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang
dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidanannya
24
c) Dengan kesengajaan atau kealpaan, dan
d) Tidak adanya alasan pemaaf. 10
C. Gambaran Umum tentang Perpajakan
Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,
menyatakan bahwa “Pajak dan pungutan lain untuk keperluan negara diatur
dengan Undang-undang”, pasal ini merupakan landasan konstitusional sebagai
dasar hukum perpajakan di Indonesia.
Pasal 1 Angka 1 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, memberikan pengertian bahwa yang dimaksud
dengan pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat.
Hukum pajak atau disebut juga sebagai hukum fiskal menurut Santoso
Brotodihardjo adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi
wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan
menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui kas negara,
sehingga merupakan bagian dari hukum publik, yang mengatur
hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau badan-badan (hukum) yang
berkewajiban membayar pajak (selanjutnya sering disebut wajib pajak).11
10
Roeslan Saleh, Op.Cit, hlm 75 11
25
Sedangkan menurut Bohari, hukum pajak adalah suatu kumpulan
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak
dan rakyat sebagai pembayar pajak”, dengan kata lain hukum pajak menerangkan:
a. Siapa –siapa wajib pajak (subyek pajak);
b. Obyek-obyek apa yang dikenakan pajak (obyek pajak);
c. Kewajiban mereka terhadap pemerintah;
d. Timbulnya dan hapusnya hutang pajak;
e. Cara penagihan pajak dan
f. Cara mengajukan keberatan dan banding pada Pengadilan Pajak.12
Menurut Santoso Brotodihardjo, ada beberapa teori untuk memberikan dasar
terhadap pemungutan pajak oleh negara yaitu sebagai berikut :
1. Teori Asuransi
Adalah termasuk tugas negara untuk melindungi orang dan segala
kepentingannya, keselamatan dan keamanan jiwa maupun
hartabendanya. Sebagaimana halnya setiap perjanjian asuransi (pertanggungan) maka untuk
perlindungan tersebut diperlukan pembayaran premi, dan dalam hal ini, pajak inilah yang dianggap sebagai preminya.
2. Teori Kepentingan
Teori ini menekankan bahwa pembagian beban pajak pada penduduk seluruhnya harus didasarkan atas kepentingan orang masing-masing dalam tugas pemerintah (yang bermanfaat baginya), termasuk juga perlindungan atas jiwa orang-orang itu berserta harta bendanya. Maka sudah selayaknyalah bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk menunaikan kewajibannya, dibebankan kepada mereka.
3. Teori Gaya Pikul
Teori ini pada hakekatnya mengandung kesimpulan bahwa dasar keadilan pemungutan pajak adalah terletak dalam jasa-jasa yang diberikan oleh negara pada warganya, yaitu perlindungan atas jiwa dan harta bendanya. Untuk keperluan perlindungan ini diperlukan biaya yang
12
26
harus dipikul oleh segenap orang yang menikmati perlindungan itu, yaitu dalam bentuk pajak.
4. Teori Kewajiban Mutlak
Negara sebagai organisasi dari golongan dengan memperhatikan syarat-syarat keadilan, bertugas menyelenggarakan kepentingan umum dan karenanya dapat dan harus mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan, termasuk juga tindakan-tindakan dalam bidang pajak.
5. Teori Gaya Beli
Teori ini tidak mempersoalkan asal mulanya negara memungut pajak, melainkan hanya melihat pada akibatnya, dan dapat memandang akibat yang baik itu sebagai dasar keadilannya.13
Adanya kekuatan hukum mengikat dalam bentuk undang-undang menjadikan
pajak memiliki sifat dasar dipaksakan yang berarti apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban pembayaran pajak, maka dapat dikenai sanksi terhadapnya.
Munculnya tindak pidana di bidang perpajakan, didasarkan pada kaidah hukum
pajak yang berupaya membedakan dalam bentuk kesalahan seperti “karena
kelalaian” atau “dengan kesengajaan”. Adanya pembedaan tersebut tergantung
pada niat dari pelaku untuk mewujudkan perbuatannya yang tergolong dalam
kaidah hukum pajak. Tindak pidana di bidang perpajakan muncul karena
didasarkan pada niat pelakunya saat melaksanakan tugas dan kewajiban
masing-masing.
Terhadap wajib pajak yang melanggar kewajiban pajak akan dikenai sanksi sesuai
pada ketentuan Pasal 38, Pasal 39 Ayat (1) dan (2) dan Pasal 39A
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan yang berupa sanksi pidana.
13
27
D.Tinjauan tentang Perbuatan Berlanjut (Voortgezette Handeling)
Pada dasarnya ketentuan mengenai perbuatan berlanjut merupakan bagian dari
ketentuan mengenai ketentuan mengenai perbarengan tindak pidana, Perbarengan
tindak pidana diatur dalam bab VI Pasal 63 KUHP sampai dengan Pasal 71
KUHP, ketentuan mengenai perbarengan tindak pidana pada dasarnya ialah suatu
ketentuan mengenai bagaimana cara menyelesaikan perkara dan sistem
penjatuhan pidana.
Menurut Roeslan Saleh, ada dua alasan pembentuk undang-undang dalam hal
menghendaki agar beberapa tindak pidana atau perbarengan tindak pidana
(concursus) diadili secara serentak dan diputus dalam satu putusan pidana dan
tidak dijatuhkan sendiri-sendiri dengan memperhitungkan sepenuhnya ancaman
pidana pada masing-masing tindak pidana yang dilakukan tersebut, artinya agar
tindak pidana yang terjadi dalam perbarengan terebut tidak dipidana sepenuhnya
sesuai ancaman masing-masing pidana tersebut, ialah adanya pertimbangan
psikologis dan pertimbangan dari segi kesalahan.14
Perbuatan berlanjut diatur dalam Pasal 64 KUHP, rumusan dari isi Pasal 64
KUHP tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau
pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang
sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan yang memuat
ancaman pidana pokok yang paling berat.
14
28
(2) Demikian pula hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang yang
dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan
menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak.
(3) Akan tetapi, jika orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam
Pasal 364 KUHP, 373 KUHP, 379 KUHP, dan 407 Ayat (1) KUHP, sebagai
perbuatan berlanjut dan nilai kerugian yang ditimbulkan jumlahnya melebihi
dari tiga ratus tujuh puluh lima rupiah, maka ia dikenakan aturan pidana
tersebut dalam Pasal 362 KUHP, 372 KUHP, 378 KUHP, dan 406 KUHP.
Mengenai apa yang dimaksud dengan perbuatan yang berlanjut pada rumusan ayat
pertama, pada dasarnya adalah beberapa perbuatan baik berupa pelanggaran
maupun kejahatan, yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang
sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan yang berlanjut.
Perbuatan berlanjut terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan baik
kejahatan maupun pelanggaran dan perbuatan-perbuatan tersebut ada
hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan
berlanjut.
Perbuatan disini adalah berupa perbuatan yang melahirkan tindak pidana, bukan
semata-mata perbuatan jasmani atau juga bukan perbuatan yang menjadi unsur
tindak pidana, antara perbuatan yang satu dengan perbuatan lainnya harus ada
hubungan yang sedemikian rupa, namun demikian ada sedikit keterangan di dalam
Memorie van Toelichting (MvT) Belanda mengenai pembuatan Pasal ini, yaitu
29
terlarang, dan bahwa suatu kejahatan yang berlanjut itu hanya dapat terjadi dari
sekumpulan tindak pidana yang sejenis. Adapun ciri pokok dari perbuatan
berlanjut ialah :
1. Adanya satu keputusan kehendak si pembuat;
2. Masing-masing perbuatan harus sejenis;
3. Tenggang waktu antara perbuatan-perbuatan itu tidak terlalu lama.15
Sistem pemberian pidana bagi perbuatan-perbuatan berlanjut menggunakan sistem
absorbsi, yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana terberat, dan bilamana
berbeda-beda maka dikenakan pidana pokok yang terberat, Pasal 64 Ayat (2)
KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata
uang, sedangkan Pasal 64 Ayat (3) KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal
kejahatan-kejahatan ringan yang terdapat dalam Pasal 364 KUHP (pencurian
ringan), 373 KUHP (penggelapan ringan), Pasal 407 KUHP (perusakan barang
ringan), yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut.16
.
15
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, Hlm 130 16
III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,
sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau
beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisanya.1
Pendekatan masalah yang digunakan penulis dalam penulisan ini menggunakan
pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yuridis
normatif dilakukan dengan mempelajari, melihat, dan menelaah mengenai
beberapa hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas-asas hukum yang
berkenaan dengan permasalahan yaitu mengenai tinjauan yuridis
pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif
secara berlanjut (Studi Kasus Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK).
Pendekatan yuridis empiris adalah pendekatan masalah dengan menelaah hukum
dalam kenyataan baik berupa penilaian, pendapat, sikap yang dimaksudkan untuk
memperoleh pemahaman tentang pokok bahasan yang jelas mengenai gejala dan
objek yang sedang diteliti, digunakan metode wawancara dengan Hakim, Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Karang, disamping itu juga dilakukan
wawancara terhadap Dosen Fakultas Hukum yang berfungsi sebagai pembantu
dalam menganalisis skripsi ini. Jenis dan sifat penelitian yang dilakukan oleh
penulis adalah penelitian yang bersifat analisis.
1
31
B. Sumber dan Jenis Data
Menurut Soerjono Soekanto, data adalah sekumpulan informasi yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan suatu penelitian yang berasal dari berbagai sumber,
berdasarkan sumbernya, data terdiri dari data lapangan dan data kepustakaan.2
Data yang dipergunakan dalam penelitian guna penulisan skripsi ini adalah :
1. Data Primer
Data primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari lapangan
penelitian dengan melakukan wawancara kepada responden, yaitu Hakim
Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Tanjung Karang, dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung untuk
mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai bahan hukum yang
berhubungan dengan penelitian, data sekunder terdiri dari bahan hukum
primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
a. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat mengikat
yang terdiri dari :
2
32
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo Undang-Undang Nomor 73
Tahun 1958 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana.
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan
b. Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang bersifat
menjelaskan bahan hukum primer yang meliputi literatur-literatur,
makalah-makalah, putusan pengadilan negeri tanjung karang perkara
nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK, dan lain-lain yang mempunyai relevansi
dengan permasalahan yang sedang diteliti.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu
33
C. Penentuan Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan dari objek pengamatan atau objek penelitian.3 Untuk
menentukan sampel dari populasi yang akan diteliti, digunakan metode purposive
sampling yaitu dalam menentukan sampel disesuaikan dengan tujuan yang hendak
dicapai dan dianggap telah mewakili populasi.
Responden dalam penulisan ini sebanyak 3 (tiga) orang yaitu :
1. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang : 1 Orang
2. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Karang : 1 Orang
3. Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung : 1 Orang
Jumlah : 3 Orang
D. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data
1. Metode Pengumpulan Data
Dalam upaya mengumpulkan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis
menggunakan prosedur studi lapangan dan studi kepustakaan.
a. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder. Studi kepustakaan
dilakukan dengan cara membaca, mengutip hal-hal yang dianggap penting dan
perlu dari beberapa peraturan perundang-undangan, literatur, dan bahan-bahan
tertulis lainnya yang berkaitan dengan materi pembahasan.
3
34
b. Studi Lapangan
Studi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer. Studi lapangan
dilakukan dengan cara mengadakan wawancara (interview) dengan responden.
Wawancara dilakukan secara langsung dengan mengadakan tanya jawab secara
terbuka dan mendalam untuk mendapatkan keterangan atau jawaban yang utuh
sehingga data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapan. Metode wawancara
yang digunakan adalah standartisasi interview dimana hal-hal yang akan
dipertanyakan telah disiapkan terlebih dahulu (wawancara terbuka). Studi
lapangan dilakukan di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang.
2. Metode Pengolahan Data
Data yang terkumpul melalui kegiatan pengumpulan data yang kemudian diproses
melalui pengolahan dan peninjauan data dengan melakukan :
a. Evaluasi data, yaitu data yang diperoleh diperiksa untuk mengetahui apakan
masih terdapat kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan, serta apakah
data tersebut sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas.
b. Klasifikasi data, yaitu pengelompokan data yang telah dievaluasi menurut
bahasanya masing-masing setelah dianalisis agar sesuai dengan permasalahan.
c. Sistematisasi data, yaitu melakukan penyusunan dan penempatan data pada tiap
35
E. Analisis Data
Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, kemudian dilakukan
analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif dilakukan dengan cara
menguraikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk
kalimat-kalimat yang disusun secara sistematis, sehingga dapat diperoleh gambaran yang
jelas tentang masalah yang akan diteliti, sehingga ditarik suatu kesimpulan dengan
berpedoman pada cara berfikir induktif, yaitu suatu cara berfikir dalam
mengambil kesimpulan secara umum yang didasarkan atas fakta-fakta yang
V. PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat
ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku penerbitan faktur pajak fiktif
secara berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK pada dasarnya
terletak pada kemampuan terdakwa untuk mempertanggungjawabkan
perbuatan yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan ketentuan Pasal
44 KUHP, yakni “barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya
atau jiwa yang terganggu karena penyakit tidak dipidana”. Disamping itu
pertanggungjawaban pidana terjadi karena adanya kesalahan dari pelaku yang
meliputi kesengajaan dan kelalaian, selanjutnya perbuatan yang dilakukan
oleh pelaku tindak pidana harus bersifat melawan hukum serta dapat
dibuktikan bahwa pelaku mampu bertanggung jawab dan tidak adanya alasan
pemaaf, terhadap perbuatan berlanjut, maka dalam hal pertanggungjawaban
pidana dapat diterapkan kepada terdakwa dengan mengacu pada ketentuan
Pasal 64 Ayat (1) KUHP “Jika antara beberapa perbuatan, meskipun
masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian
63
diterapkan satu aturan pidana, jika berbeda-beda, yang diterapkan yang
memuat ancaman pidana pokok yang paling berat”.
2. Dasar pertimbangan hakim dalam penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak
pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor
143/Pid.B/2012/PN.TK diketahui bahwa secara garis besar dilakukan dengan
cara, merumuskan pembuktian dalam perkara tersebut guna menentukan
apakah terpenuhi atau tidak seluruh unsur yang didakwakan oleh Jaksa
Penuntut Umum, kemudian ditentukan apakah perbuatan yang dilakukan oleh
terdakwa adalah pelanggaran hukum atau bukan, setelah diketahui bahwa
perbuatan tersebut melanggar hukum, maka Hakim akan menentukan
kemampuan terdakwa dalam mempertanggungjawabkan segala perbuatan
yang dilakukan. Jenis pidana yang dijatuhkan mempertimbangkan meliputi,
tingkat kesalahan yang telah dilakukan, pengaruh tindak pidana yang telah
dilakukan, ancaman terhadap pasal yang didakwakan, sistem pemidanaan
yang ditentukan dalam pasal yang dilanggar, hal yang meringankan dan hal
yang memberatkan, serta fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.
Berdasarkan dasar pertimbangan tersebut, penjatuhan pidana yang dilakukan
oleh hakim didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar yang
mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang
relevan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan
dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam proses
64
jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi para
DAFTAR PUSTAKA
Ashofa, Burhan. 2001.Metode Penelitian Hukum. Jakarta. PT Rineka Cipta.
AT, Salamun. 1993. Pajak, Citra dan Pembaharuannya, Revisi dari Buku Pajak, Citra danBebannya.Jakarta, PT. Bina Rena Pariwara.
Atmasasmita, Romli. 1996. Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice, System Perspektif, Eksistensialisme, dan Abolisinisme). Bandung. Alumni.
Bohari. 1984.Pengantar Perpajakan. Ujung Pandang. Ghalia Indonesia.
Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana. Jakarta. PT Raja Grafindo.
--- 2007. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
E.Y, Kanter & S.R. Sianturi. 2002. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerpannya.Jakarta. Storia Grafika.
Hamzah, Andi. 2001.Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta. Rineka Cipta.
Harahap, M. Yahya. 2003. Pembahasan Pemarsalahan dan Penerapan KUHP. Jakarta. Sinar Grafika.
Lamintang. 1997.Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Jakarta. Citra Aditya Bakti.
Manan, Bagir. 2005.Sistem Peradilan Berwibawa. Yogyakarta. FH UII Press.
Moeljatno. 2002.Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawabannya dalam Hukum Pidana,Yogyakarta, Bina Aksara,
---. 1986.Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta. Bina Aksara.
Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Nawawi , Barda Arief. 2002. Kebijakan Hukum Pidana. Bandung PT. Citra Aditya Bakti.
Pajar, J Widodo. 2010. Litigasi dan Bantuan Hukum. Bandar Lampung. Universitas Lampung.
Prasetyo, Teguh. 2010. Hukum Pidana. Jakarta. PT Raja Grafindo.
Rifai, Ahmad. 2010. Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta. Sinar Grafika.
Sambas, Nandang. 2010. Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia.
Yogyakarta. Graha Ilmu.
Santoso, R. Brotodihardjo. 1991. Pengantar Hukum pajak. Bandung. Eresco.
Saleh, Roeslan. 1983. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana dua pengertian dasar dalam hukum pidana.Jakarta. Aksara Baru.
---. 1982. Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana.
Jakarta. Ghalia Indonesia.
Soekanto, Soerjono. 1986.Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. UI Press.
--- dan Sri Mamuji. 2004.Penelitian Hukum Normatif. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
Sudarto. 1997.Hukum dan Hukum Pidana. Bandung. Alumni.
Zainal , A. Abidin Farid. 1995. Hukum Pidana I. Jakarta. Sinar Grafika.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo Undang-Undang No. 73 Tahun 1958 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan