• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK FIKTIF SECARA BERLANJUT (Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK FIKTIF SECARA BERLANJUT (Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK)"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK FIKTIF SECARA BERLANJUT

(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) OLEH

JANDRIKARDO SITANGGANG

Berkembangnya bidang perpajakan dalam masyarakat, mempunyai peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan Negara terbesar, namun disisi lain kewajiban pajak juga rentan terhadap berbagai tindak pidana, salah satunya adalah pemalsuan faktur pajak, dalam melakukan tindak pidana tersebut seringkali ditemui unsure perbuatan berlanjut. Penerapan pidana terhadap pelaku perbuatan berlanjut memiliki system pemidanaan yang telah diatur dalam pasal 64 KUHP. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah

pertanggung jawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ? dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana penerbitan pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomnor 143/Pid.B/2012/PN.TK

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Data diperoleh dengan cara wawancara menggunakan pedoman tertulis terhadap

responden yang telah ditentukan. Penelitian dilakukan di wilayah hokum pengadilan negeri kelas IA Tanjung Karang.

(2)

Jandrikardo Sitanggang pelaku tindak pidana penerbitan pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara

nomnor 143/Pid.B/2012/PN.TK. Diketahui bahwa secara garis besar dilakukan dengan cara, mempertimbangkan tingkat kesalahan yang telah dilakukan, pengaruh tindak pidana yang telah dilakukan, ancaman terhadap pasal yang didakwakan, system pemidanaan yang ditentukan dalam pasal yang dilanggar, hal yang meringankan dan hal yang memberatkan, serta fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.

(3)

TINJAUAN YURIDIS PERTANGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK

FIKTIF SECARA BERLANJUT

(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK)

Oleh

Jandrikardo sitanggang

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar

SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

TINJAUAN YURIDIS PERTANGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENERBITAN FAKTUR PAJAK

FIKTIF SECARA BERLANJUT

(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) (Skripsi)

Oleh

Jandrikardo Sitanggang Npm : 1112011191

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN Halaman

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 9

E. Sistematika Penulisan ... 15

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum ... 17

B. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 20

C. Tinjauan tentang Pertanggungjawaban Pidana ... 25

D. Gambaran Umum tentang Perpajakan ... 27

E. Tinjauan tentang Perbuatan Berlanjut (Voortgezette Handeling) ... 30

F. Tinjauan tentang Putusan Hakim ... 33

G. Dasar Pertimbangan Hakim ... 37

III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 39

B. Sumber dan Jenis Data ... 40

C. Penentuan Populasi dan Sampel... 42

D. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data... 42

(8)

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Narasumber ... 45

B. Gambaran Umum Putusan Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ... 46

C. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak secara Berlanjut dalam Perkara Nomor

143/Pid.B/2012/PN.TK ... 47

D. Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana terhadap Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak secara Berlanjut dalam Perkara Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK... 57

V. PENUTUP

Simpulan ... 71

(9)

MOTTO

Tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan dengan sungguh sungguh, tuhan akan memberikan yang terbaik

(10)

PERSEMBAHAN

Segala piji syukur kepada allah SWT yang selalu memberikan rahmad, hidayah, dan karunianya, kupersembahkan karya kecilku ini kepada :

Orang tua tercinta yang selalu sabar membimbing dalam setiap nafas kehidupanku, yang selalu mencurahkan kasih sayang, doa yang tiada henti setiap

saat dan setiap waktu dalam menanti keberhasilanku.

Saudara tercinta, Bang Ali, Uda Bintang, Uda Anggi yang selalalu memberikan semangat, motivasi, yang senantiasa selalu mengisi hari-hari dengan penuh

canda tawa serta doa yang tulus demi kesuksesanku.

Sahabat dan kawan-kawanku dalam almamater tercinta fakultas hukum angkatan 2011, serta orang-orang yang telah menjadi perantara turunnya pertolongan

allah SWT kepadaku dalam penyusunan skripsi ini.

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 8

Januari 1993 Anak Pertama (Tunggal) dari pasangan Alex

Sitanggang dan Marintan Sembiring.

Jenjang pendidikan penulis dimulai pada Taman

Kanak-kanak aisyiyah Klaten yang diselesaikan pada tahun 1999, lulus Sekolah Dasar

Negeri 3 Pasuruan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1

Penengahan yang diselesaikan pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas

Negeri 4 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2011.

Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum

Universitas Lampung, penulis juga telah melaksanakan KKN (Kuliah Kerja

Nyata) di Kel. Karang Maritim Kec. Panjang Kota Bandar Lampung pada tahun

(12)

SANWACANA

Alhamdulliahi robbil’alamin, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan

rahmad, hidayah, petunjuk dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini, dengan judul Tinjauan Yuridis

Pertangungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif

Secara Berlanjut(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK) sebagai salah satu

syarat dalam mencapai gelar Sarjana Hukum dan menyelesaikan pendidikan pada

Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Segala kemampuan telah penulis curahkan guna menyelesaikan skripsi ini,

namum penulis menyadari dalam penyusunan hingga selesainya skripsi ini tidak

terlepas dari bantuan, bimbingan, dorongan dan saran yang diberikan berbagai

pihak. Untuk itu penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bpk Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Haryanto, M.S. selaku rektor Universitas

Lampung.

2. Bpk Prof. Dr. Heriyandi, S.H.,M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Lampung.

3. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H.,M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana

(13)

4. Ibu Dr. Nikmah Rosidah, S.H., M.H selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktunya dan mencurahkan segenap pemikirannya untuk

membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Firganefi, S.H.,M.H. selaku selaku pembimbing II yang telah

meluangkan waktunya dan mencurahkan segenap pemikirannya untuk

membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibu Dr. Erna Dewi, SH, MH.selaku Pembahas I atas kritik, saran, koreksi, dan

masukannya dalam penulisan skripsi ini.

7. Bpk Rinaldy Amrullah, SH, MH. selaku Pembahas II atas kritik, saran, koreksi,

dan masukannya dalam penulisan skripsi ini.

8. Ibu Rini Fathonah, SH, MH.selaku Dosen Pembimbing Akademik atas arahan

dan bimbingan selama penulis menjalani masa perkuliahan hingga selesainya

skripsi ini.

9. Bapak dan ibu dosen Fakultas Hukum Unversitas Lampung yang telah

mencurahkan segenap kesabaran dan kemampuan dalam mendidik penulis

selama menjalani masa perkuliahan.

10. Seluruh karyawan Fakultas Hukum Universitas Lampung, Pak Narto, Mbak

Dian, Mbak Yani, Mbak Yanti, Mbak Sri, Kyai Zamroni, Kyai Apri, dan

karyawan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah

membantu penulis selama menjalani masa perkuliahan.

11. Sri Widyastuti, SH selaku Hakim pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang

yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu penulis dalam

(14)

12. M. Fahruldin, S.H.selaku Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung

yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu penulis dalam

menyelesaikan penulisan skripsi ini.

13. Orang tuaku yang aku cintai seumur hidupku, yangselalu mencurahkan do’a,

kasih sayang, motivasi dan kesabarannya dalam membimbing penulis.

14. Sahabat terbaikku yang selalu menemani dalam suka maupun duka, Abul,

Benjol, Oop, Ejak, Edo, Efran, Acol, Dwi, Apis, Rio, Dina, Waang, Arizona,

Komeng, Eyu, Budi, Yoga, Dimas, Januardi, Keyek, Sampose, Alan, Dob,

Ase, Vijay, Bayu, Kebon, Yogi, Apri, Fatur, Dedek, Alex, Dinan, semoga

kebersamaan kita selalu menjadi cerita terbaik di masa depan.

15. Thanks berat untuk kawan-kawan tercantikku, Puput, Santi, Adel, Dini,

Dedek, Vina, Uwo, Wanda, Wina, Diah, Shinta, Mely, Garnis, Mia, Yeyen,

Ncim, Ulan, lanjutkan perjuanganmu sebagai wanita.

16. Kawan-kawan seperjuangan Fakultas yang telah menemaniku dalam belajar

dan mendampingiku dalam keceriaan, Eko Gums, Udin, Topan, Jimmy,

Yasir, Patra, Duchan, Yan Bastian, Manto, Mat Riswan, Adit, Andi, Edo,

Okto, Komang, Adi, Kadek, Eka, Abin, Doyok, Fajri, Nurul, Feni, Gita,

Lany, Weni, Anggi, Erika, Resty.

17. Seluruh anggota Rascal Community, semoga kita selalu menjadi yang

terbaik.

18. Almamaterku tercinta.

19. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan sumbangsih pemikiran

(15)

20. Seseorang dimasa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang yang telah

memberikan semangat, dorongan, inspirasi dalam mendewasakan penulis.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi masyarakat, bangsa, dan

Negara, para mahasiswa, dan pihak-pihak lain yang membutuhkan terutama bagi

penulis. Saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan dan akhir

kata penulis ucapkan terima kasih.

Bandar Lampung, Agustus 2015

Penulis,

(16)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional yang dilaksanakan

secara berkesinambungan meliputi seluruh bidang kehidupan, maka masyarakat

Indonesia senantiasa mengalami perkembangan yang seiring dengan

perkembangan dan kemajuan jaman. Berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan

nasional, maka dalam penyelenggaraan pemerintahan negara diperlukan suatu

sumber pendapatan yang dipergunakan untuk pembiayaan pemerintahan negara

yang dituangkan dalam bentuk Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Pajak

merupakan salah satu sumber penerimaan negara sebagai bentuk kontribusi wajib

kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung

dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tugas pemerintah pada prinsipnya berusaha dan bertujuan untuk menciptakan

kesejahteraan bagi rakyatnya, oleh sebab itu pemerintah harus tampil kedepan dan

turut campur tangan, bergerak aktif dalam bidang kehidupan masyarakat, terutama

bidang perekonomian guna tercapainya kesejahteraan rakyat, demi berhasilnya

(17)

2

Guna meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dan untuk lebih memberikan

kepastian hukum serta mengantisipasi perkembangan di bidang teknologi

informasi dan perkembangan yang terjadi dalam ketentuan-ketentuan material di

bidang perpajakan, disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan

profesionalisme aparatur perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi

perpajakan, dan meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak maka

diterbitkanUndang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan, dilandasi falsafah Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalamnya

tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan

kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak sebagai kewajiban kenegaraan. Norma

tersebut termaktub dalam Pasal 23A Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “Pajak

dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan

undang-undang”.

Terbitnya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan, maka sistem pemungutan pajak di Indonesia mengalami perubahan

yang sangat mendasar, baik dari sisi ciri maupun coraknya yaitu :

1. Bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dan pengabdian serta peran serta Wajib Pajak secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembeayaan negara dan pembangunan nasional;

(18)

3

pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan;

3. Anggota masyarakat wajib pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan kegotong-royongan nasional melalui sitem menghitung, memperhitungkan dan membayar sendiri pajak yang terhutang (Self Assessment), sehingga melalui sistem ini pelaksanaan administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi, terkendali, sederhana dan mudah dipahami oleh anggota masyarakat.1

Melekatnya kewajiban bagi wajib pajak untuk membayar pajak kepada negara

tidak menutup kemungkinan dirasa sebagai beban bagi beberapa wajib pajak,

sehingga timbul suatu kehendak untuk melakukan tindakan-tindakan yang

dimaksudkan untuk meminimalkan beban pajak secara melawan hukum.

Berkembangnya bidang perpajakan dalam masyarakat, mempunyai peranan yang

sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan negara terbesar, namun

disisi lain kewajiban pajak juga rentan terhadap berbagai tindak pidana, salah

satunya adalah pemalsuan faktur pajak.

Contoh kasus yang terjadi di Bandar Lampung pada tahun 2012 dan telah diputus

oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang dengan nomor perkara

143/Pid.B/2012/PN.TK, adapun kronologis kejadian tindak pidana tersebut adalah

sebagai berikut :

Pada tahun 2008 terdakwa Alex Sitanggang pendiri CV.Susilo Jaya Persada selaku pihak pertama menjalin kerjasama dengan PT.Virya Mitra Sejahtera perusahaan milik saksi Ronny Hadisaputra selaku pihak kedua, dimana pihak pertama melaksanakan dan bertanggung jawab penuh atas kewajiban perpajakan yang terkait dalam kegiatan importasi yang dilaksanakan oleh pihak kedua berupa laporan pajak bulanan (SPT Masa Bulanan) dan laporan SPT Tahunan. Bahwa pihak pertama berhak mendapatkan imbalan sebesar Rp.600.000 (enam ratus ribu rupiah) per

1 Salamun, AT, Pajak, Citra dan Pembaharuannya, Revisi dari Buku Pajak, Citra dan Bebannya, Jakarta, PT.

(19)

4

dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dikeluarkan atas nama CV.Susilo Jaya Persada.

Bahwa pada bulan Juli 2008, saksi Nurjadi Limbri, Sulung Sukri, dan Lim Lie Tjien memesan barang dan berbelanja barang di luar negeri, dan meminta bantuan kepada saksi Ronny Hadisaputra selaku pemilik PT.Virya Mitra Sejahtera untuk memasukkan barang belanjaan tersebut ke Indonesia melalui CV.Susilo Jaya Persada milik terdakwa Alex Sitanggang. Bahwa terhitung sejak tanggal 2 Juli 2008 sampai dengan 5 mei 2009 saksi Ronny Hadisaputra melakukan import barang melalui CV.Susilo Jaya Persada ke Pelabuhan Panjang Bandar Lampung sebanyak 376 kali sesuai dengan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Teluk Betung.

Bahwa berkaitan dengan hal tersebut, maka terdakwa Alex Sitanggang selaku direktur sekaligus pemilik CV.Susilo Jaya Persada berkewajian menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) setiap bulannya kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Teluk Betung yang berisi antara lain rincian Faktur Pajak yang diterbitkan, Daftar Pajak Masukan, dan penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Terhadap Faktur Pajak yang diterbitkan oleh terdakwa tidak berdasarkan pada transaksi jual beli barang dan atau jasa sesuai dengan nama Barang Kena Pajak sebagaimana yang tercantum dalam Faktur Pajak, atas dasar tersebut maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang memutus terdakwa terbukti melanggar ketentua Pasal 39A huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Jo. Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 4 (empat) bulan dan denda sebesar Rp. 8.288.484.205 (Delapan Milyar Dua Ratus Delapan Puluh Delapan Juta Empat Ratus Delapan Puluh Empat Ribu Dua Ratus Lima Rupiah) yang apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 4 (empat) bulan. 2

2

(20)

5

Berdasarkan uraian kronologis tersebut dapat diketahui bahwa telah terjadi tidak

pidana faktur pajak fiktif yang dilakukan oleh perusahaan secara berlanjut, yang

dilakukan terhitung sejak tanggal 2 Juli 2008 sampai dengan 5 mei 2009.

Ketentuan mengenai perbuatan berlanjut diatur dalam Pasal 64 KUHP, adapun

rumusan dari ketentuan Pasal 64 KUHP adalah sebagai berikut :

(1) Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau

pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang

sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan yang memuat

ancaman pidana pokok yang paling berat.

(2) Demikian pula hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang yang

dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan

menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak.

(3) Akan tetapi, jika orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam

Pasal 364, 373, 379, dan 407 ayat (1), sebagai perbuatan berlanjut dan nilai

kerugian yang ditimbulkan jumlahnya melebihi dari tiga ratus tujuh puluh

lima rupiah, maka ia dikenakan aturan pidana tersebut dalam Pasal 362, 372,

378, dan 406.

Pertanggungjawaban pidana merupakan bentuk perbuatan dari pelaku tindak

pidana terhadap kesalahan yang dilakukannya, dengan demikian terjadinya

pertanggungjawaban pidana karena ada kesalahan yang merupakan tindak pidana

yang dilakukan oleh seseorang, dan telah ada aturan yang mengatur tindak pidana

(21)

6

1. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang

buruk sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum;

2. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik

dan buruknya perbuatan tadi.3

Penegakan hukum merupakan upaya yang dilakukan agar berfungsinya

norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku hubungan hukum dalam

kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kedudukan hukum selalu memiliki

peran dalam tatanan masyarakat, mulai tingkat yang paling sederhana sampai

tingkat yang kompleks, perlunya penegakan hukum tersebut ditujukan demi

terwujudnya ketertiban yang memiliki hubungan erat dengan keadaan umum

masyarakat, dimana ketertiban ini merupakan syarat pokok bagi adanya

masyarakat yang teratur dalam kehidupannya.

Penerapan pidana sebagaimana dimaksud dalam perkara nomor

143/Pid.B/2012/PN.TK perlu untuk diadakan suatu tinjauan yuridis guna

mengetahui mekanisme pemidanaan terhadap tindak pidana yang dilakukan secara

berlanjut. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka penulis tertarik

untuk menganalisis dan menuangkan dalam bentuk tulisan yang berbentuk skripsi

dengan judul “Tinjauan Yuridis Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak

Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut (Studi Putusan Nomor

143/Pid.B/2012/PN.TK)”.

3

(22)

7

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas maka

permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah :

a. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan

faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor

143/Pid.B/2012/PN.TK ?

b. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana

terhadap pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut

dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK ?

2. Ruang Lingkup

Untuk membahas permasalahan dalam skripsi ini agar tidak terlalu meluas dan

salah penafsiran maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian terhadap kajian

hukum pidana dan hukum acara pidana, khususnya tentang tinjauan yuridis

pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif

secara berlanjut (Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK). Adapun ruang

lingkup kajian dalam penulisan ini adalah mengenai pertanggungjawaban pidana

dan mekanisme penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana faktur pajak

(23)

8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

a. Mengetahui dan memahami secara jelas mengenai pertanggungjawaban pidana

pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam

perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK.

b. Mengetahui dan memahami dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan

pidana terhadap pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara

berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK.

2. Kegunaan Penelitian

Bertitik tolak dari tujuan penelitian atau penulisan skripsi itu sendiri, penelitian ini

mempunyai dua kegunaan yaitu dari sisi teoritis dan praktis, adapun kegunaan

keduanya dalam penelitian ini adalah :

a. Kegunaan Teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memperluas cakrawala serta dapat menjadi

bahan referensi dan dapat memberikan masukan-masukan disamping

undang-undang dan peraturan perundang-undang-undang-undangan terkait bagi penegak hukum, lembaga

permasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan

(24)

9

Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut

(Studi Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK).

b. Kegunaan Praktis

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritis dan rujukan

bagi penegak hukum, masyarakat, dan pihak-pihak terkait dalam menangani

permasalahan tindak pidana pencurian, selain itu sebagai informasi dan

pengembangan teori dan tambahan kepustakaan bagi praktisi maupun akademisi.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang merupakan abstraksi dari hasil

pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan

identifikasi dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti.4

KUHP tidak memberikan penjelasan secara jelas mengenai apa yang dimaksud

dengan pertanggungjawaban pidana, namun KUHP memberikan pengecualian

terhadap seseorang yang tidak dapat dituntut pertanggungjawaban pidana apabila

orang tersebut melakukan perbuatan pidana yang diatur dalam Pasal 44 KUHP,

yakni “barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau

jiwa yang terganggu karena penyakit tidak dipidana”.

4

(25)

10

Menurut Roeslan Saleh, dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal

pertanggungjawaban, perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarangnya

perbuatan, apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga

dipidana, tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu

memang mempunyai kesalahan atau tidak, apabila orang yang melakukan

perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu dia akan

dipidana.5

Menurut Moeljatno, kesalahan dalam hukum pidana ada 2 (dua) macam yaitu

sengaja (dolus/opzet) dan kealpaan (culpa).

a. Kesengajaan (dolus/opzet)

Ada 3 (tiga) kesengajaan dalam hukum pidana yaitu:

1) Kesengajaan untuk mencapai suatu kesengajaan yang dimaksud/tujuan/dolus directs;

2) Kesengajaan yang belum mengandung suatu tujuan melainkan diserta keinsyafan, bahwa suatu akibat pasti akan terjadi (kesengajaan dengan kepastian);

3) Kesengajaan seperti sub di atas tetapi disertai keinsyafaan hanya ada kemungkinan (bukan kepastian), bahwa sesuatu akibat akan terjadi kesengajaan dengan kemungkinan/dolus eventualis).

b. Kurang hati-hati (kealpaan/culpa)

Kurang hati-hati (kealpaan/culpa) arti alfa adalah kesalahan pada umumnya, tetapi dalam ilmu pengetahuan mempunyai arti teknis yaitu suatu macam kesalahan pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan yaitu kurang berhati-hati sehingga berakibat yang tidak disengaja terjadi.6

5 Roeslan Saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, Jakarta, Ghalia Indonesia,1982,

hlm 75

6 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawabannya dalam Hukum Pidana, Yogyakarta, Bina

(26)

11

Menurut Roeslan Saleh, tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan

terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidak bersifat

melawan hukum, maka lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu

harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, dan kemudian semua

unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang

dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidanannya

terdakwa maka terdakwa haruslah :

a) Melakukan perbuatan pidana;

b) Mampu bertanggung jawab;

c) Dengan kesengajaan atau kealpaan, dan

d) Tidak adanya alasan pemaaf. 7

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatur mengenai perbarengan dalam

bab VI Pasal 63 sampai dengan Pasal 71, ketentuan mengenai perbarengan tindak

pidana pada dasarnya ialah suatu ketentuan mengenai bagaimana cara

menyelesaikan perkara dan menjatuhkan pidana (sistem penjatuhan pidana). Pasal

64 Ayat (1) KUHP menyatakan bahwa “Jika antara beberapa perbuatan, meskipun

masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya

sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, maka

hanya diterapkan satu aturan pidana; jika berbeda-beda, yang diterapkan yang

memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.”

7

(27)

12

Peradilan adalah suatu pelaksanaan hukum dalam hal konkrit karena adanya

tuntutan hak, yang fungsinya dijalankan oleh suatu badan yang berdiri sendiri dan

diadakan oleh negara serta bebas dari pengaruh apa atau siapapun dengan cara

memberikan putusan yang bersifat mengikat dan bertujuan mencegah. Pada waktu

diputuskan tentang bagaimana atau apa hukum yang berlaku untuk suatu kasus,

maka pada waktu itulah hukum mencapai puncaknya.

Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara merupakan

mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati oleh semua pihak

tanpa kecuali, sehingga tidak ada satu pun pihak yang dapat mengintervensi

hakim dalam menjalankan tugasnya tersebut. Hakim dalam menjatuhkan putusan,

harus mempertimbangkan banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan perkara

yang sedang diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan pelaku,

sampai kepentingan pihak korban maupun keluarganya serta mempertimbangkan

pula rasa keadilan masyarakat.

Teori tujuan pemidanaan pada umumnya ada 3 (tiga) teori yang sering digunakan

dalam mengkaji tentang tujuan permidanaan yaitu :

1. Tujuan pemidanaan menurut teori Absolut/pembalasan, antara lain :

a. Tujuan pemidanaan hanyalah sebagai pembalasan;

b. pembalasan adalah tujuan utama dan didalamnya tidak mengandung sarana-sarana untuk tujuan lain seperti kesejahteraan masyarakat; c. kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pemidanaan; d. pidana harus sesuai dengan kesalahan si pelanggar;

(28)

13

2. Tujuan pemidanaan menurut teori relative/tujuan, antara lain :

a. Tujuan pemidanaan adalah pencegahan;

b. pencegahan bukan sebagai tujuan akhir tapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat;

c. hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada pelaku saja, misalnya kesengajaan atau kelalaian yang memenuhi syarat untuk adanya pidana;

d. pemidanaan harus ditetapkan berdasarkan tujuan sebagai alat pencegahan kejahatan;

e. pemidanaan melihat kedepan, atau bersifat prospektif.

3. Tujuan pemidanaan menurut teori integratif/gabungan, teori ini menganggap pemidanaan sebagai unsur penjeraan dibenarkan tetapi tidak mutlak dan harus memiliki tujuan untuk membuat si pelaku dapat berbuat baik dikemudian hari 8

2. Konseptual

Kerangka konseptual adalah merupakan kerangka yang menggambarkan

hubungan antara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti

yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti atau di inginkan.9

Kerangka konseptual yang diketengahkan akan dibatasi pada konsepsi pemakaian

istilah-istilah dalam penulisan ini yaitu Tinjauan Yuridis Pertanggungjawaban

Pidana Pelaku Tindak Pidana Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut

(Studi Kasus Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK). Adapun pengertian dari

istilah tersebut adalah:

8

Nandang Sambas, Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010, hlm 15-16.

9

(29)

14

a. Pertanggungjawaban pidana adalah dilihat dari sudut terjadinya suatu tindakan

yang terlarang, seseorang akan dipidana atas tindakan-tindakan tersebut apabila

tindakan tersebut bersifat melawan hukum, dilihat dari sudut kemampuan

bertanggungjawab, maka hanya seseorang yang mampu bertanggungjawab

yang dapat dipidana.10

b. Tindak pidana adalah perbuatan atau tindakan yang dapat dikenakan hukuman

karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang.11

c. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena

pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak atau penyerahan jasa

kena pajak 12

d. Perbuatan berlanjut adalah Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing

merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa

sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.13

10

Kanter E.Y & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerpannya, 2002, Storia Grafika, Jakarta, hlm, 249

11

Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2010, hlm 45 12

Pasal 1 Angka 23 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

13

(30)

15

E. Sistematika Penulisan

Guna mempermudah pemahaman terhadap skripsi ini secara keseluruhan, maka

disajikan penulisan sebagai berikut :

I. PENDAHULUAN

Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang penulisan skripsi,

permasalahan dan ruang lingkup penulisan skripsi, tujuan dan kegunaan

penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Merupakan bab tinjauan pustaka sebagai pengantar dalam memahami

pengertian-pengertian umum tentang pokok-pokok bahasan yang merupakan tinjauan yang

besifat teoritis yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan studi

perbandingan antara teori dan praktek

III. METODE PENELITIAN

Merupakan bab yang memberikan penjelasan tentang langkah-langkah yang

digunakan dalam pendekatan masalah serta uraian tentang sumber-sumber data,

pengolahan data dan analisis data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Merupakan jawaban atas pembahasan dari pokok masalah yang akan dibahas

yaitu Tinjauan Yuridis Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana

Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Secara Berlanjut (Studi Kasus Putusan Nomor

(31)

16

V. PENUTUP

Bab ini merupakan hasil dari pokok permasalahan yang diteliti yaitu merupakan

kesimpulan dan saran-saran dari penulis yang berhubungan dengan permasalahan

(32)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana

1. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana

Belanda yaitu strafbaar feit yang terdiri dari tiga kata, yakni straf yang

diterjemahkan dengan pidana dan hukum, baar yang diterjemahkan dengan dapat

atau boleh, dan feit yang diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran,

dan perbuatan.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak memberikan penjelasan mengenai

apa yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri, biasanya tindak pidana

disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum.

Istilah stafbaar feit atau kadang disebut sebagai delict (delik) diterjemahkan ke

dalam bahasa indonesia dengan berbagai istilah.

Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam

dengan pidana, di mana pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang

bersifat aktif yaitu melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh

undang-undang, dan perbuatan yang bersifat pasif yaitu tidak berbuat sesuatu yang

sebenarnya diharuskan oleh hukum.1

1

(33)

18

Tindak pidana dibagi menjadi dua bagian yaitu :

a. Tindak pidana materil (materiel delict).

Tindak pidana yang dimaksudkan dalam suatu ketentuan hukum pidana (straf)

dalam hal ini dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan suatu akibat

tertentu, tanpa merumuskan wujud dari perbuatan itu.Inilah yang disebut tindak

pidana material (materiel delict).

b. Tindak pidana formal (formeel delict).

Apabila perbuatan tindak pidana yang dimaksudkan dirumuskan sebagai wujud

perbuatan tanpa menyebutkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu, inilah

yang disebut tindak pidana formal (formeel delict).2

Adapun beberapa pengertian tindak pidana dalam arti (strafbaarfeit) menurut

pendapat ahli adalah sebagai berikut :

Moeljatno mendefinisikan perbuatan pidana sebagai perbuatan yang dilarang oleh

suatu aturan hukum, larangan mana disertai sanksi yang berupa pidana tertentu

bagi barang siapa melanggar larangan tersebut, larangan ditujukan kepada

perbuatan (suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang),

sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian

itu.3

Wirjono Prodjodikoro menjelaskan hukum pidana materiil dan formiil sebagai

berikut:

2

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2002 hlm 126

3

(34)

19

a. Penunjuk dan gambaran dari perbuatan-perbuatan yang diancam dengan

hukum pidana.

b. Penunjukan syarat umum yang harus dipenuhi agar perbuatan itu merupakan

perbuatan yang menbuatnya dapat di hukum pidana.

c. Penunjuk jenis hukuman pidana yang dapat dijatuhkan hukum acara pidana

berhubungan erat dengan diadakannya hukum pidana, oleh karena itu

merupakan suatu rangkaian yang memuat cara bagaimana badan-badan

pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan dan pengadilan

bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana.4

Pompe menjelaskan pengertian tindak pidana menjadi dua definisi, yaitu :

a. Definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma yang

dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk

mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.

b. Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian yang oleh peraturan

undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.5

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana

4

Laden Marpaung, Azas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta 2005, hlm 21 5

(35)

20

Tinjauan tindak pidana terkait unsur-unsur tindak pidana dapat dibedakan dari dua

sudut pandang yaitu :

a. Sudut Teoritis

Unsur tindak pidana adalah :

1. Perbuatan;

2. Yang dilarang (oleh aturan hukum);

3. Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan).

b. Sudut Undang-Undang

1. Unsur tingkah laku: mengenai larangan perbuatan.

2. Unsur melawan hukum: suatu sifat tercelanya dan terlarangannya dari satu perbuatan, yang bersumber dari undang-undang dan dapat juga bersumber dari masyarakat.

3. Unsur kesalahan: mengenai keadaan atau gambaran batin orang sebelum atau pada saat memulai perbuatan.

4. Unsur akibat konstitutif: unsur ini terdapat pada tindak pidana materiil (materiel delicten) atau tindak pidana akibat menjadi syarat selesainya tindak pidana, tindak pidana yang mengandung unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana, dan tindak pidana dimana akibat merupakan syarat terpidananya pembuat.

5. Unsur keadaan yang menyertai: unsur tindak pidana berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan.

6. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana: unsur ini hanya terdapat pada tindak pidana aduan yaitu tindak pidana yang hanya dapat dituntut pidana jika ada pengaduan dari yang berhak mengadu.

7. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana: unsur ini berupa alasan untuk diperberatnya pidana, dan bukan unsur syarat untuk terjadinya atau syarat selesainya tindak pidana sebagaimana pada tindak pidana materiil.

(36)

21

9. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana: unsur kepada siapa rumusan

tindak pidana itu ditujukan tersebut, contoh; “barangsiapa” (bij die) atau

“setiap orang”.

10. Unsur objek hukum tindak pidana: tindak pidana ini selalu dirumuskan unsur tingkah laku atau perbuatan.

11. Unsur syarat tambahan memperingan pidana: unsur ini berupa unsur pokok yang membentuk tindak pidana, sama dengan unsur syarat tambahan lainnya, seperti unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana. 6

Setiap Tindak Pidana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang dibagi menjadi dua

macam unsur, yakni unsur-unsur subyektif dan unsur-unsur obyektif.

Lamintang menjelaskan mengenai unsur-unsur subjektif dan objektif dalam suatu

tindak pidana, yaitu :

Unsur-unsur subyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :

1) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).

2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang

dimaksud di dalam Pasal 53 Ayat 1 KUHP.

3) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedache raad , misalnya terdapat di

dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.

4) Perasaan takut atau vress, antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana

Pasal 308 KUHP.

6

Adami Chazawi, Op. Cit, hlm 79-80

(37)

22

Unsur-unsur obyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :

1) Sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid.

2) Kualitas dari si pelaku.

3) Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan

sesuatu sebagai kenyataan.7

B. Tinjauan tentang Pertanggungjawaban Pidana

Sistem pertanggungjawaban pidana dalam KUHP menganut asas kesalahan

sebagai salah satu asas disamping asas legalitas, pertanggungjawaban pidana

merupakan bentuk perbuatan dari pelaku tindak pidana terhadap kesalahan yang

dilakukannya, dengan demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena

ada kesalahan yang merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang, dan

telah ada aturan yang mengatur tindak pidana tersebut.

Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai

toerekenbaarheid, criminal responbility, criminal liability. Pertanggungjawaban

pidana dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka atau

terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi

atau tidak, dengan perkataan lain apakah terdakwa akan dipidana atau dibebaskan.

Jika ia dipidana, harus ternyata bahwa tindakan yang dilakukan itu bersifat

melawan hukum dan terdakwa mampu bertanggung jawab, kemampuan tersebut

memperlihatkan kesalahan dari petindak yang berbentuk kesengajaan atau

7

(38)

23

kealpaan, artinya tindakan tersebut tercela tertuduh menyadari tindakan yang

dilakukan tersebut.8

Bilamana hendak menghubungkan petindak dengan tindakannya dalam rangka

mempertanggungjawab pidanakan petindak atas tindakannya, agar supaya dapat

ditentukan pemidanaan kepada petindak harus diteliti dan dibuktikan bahwa :

a. subjek harus sesuai dengan perumusan undang-undang;

b. terdapat kesalahan pada petindak;

c. tindakan itu bersifat melawan hukum;

d. tindakan itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang – Undang

(dalam arti luas);

e. dan dilakukannya tindakan itu sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan

lainnya yang ditentukan dalam undang –undang.9

Menurut Ruslan Saleh, tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan

terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidak bersifat

melawan hukum, maka lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu

harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, dan kemudian semua

unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang

dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidanannya

(39)

24

c) Dengan kesengajaan atau kealpaan, dan

d) Tidak adanya alasan pemaaf. 10

C. Gambaran Umum tentang Perpajakan

Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,

menyatakan bahwa “Pajak dan pungutan lain untuk keperluan negara diatur

dengan Undang-undang”, pasal ini merupakan landasan konstitusional sebagai

dasar hukum perpajakan di Indonesia.

Pasal 1 Angka 1 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan

Umum dan Tata Cara Perpajakan, memberikan pengertian bahwa yang dimaksud

dengan pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh pribadi

atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak

mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan sebesar-besarnya bagi

kemakmuran rakyat.

Hukum pajak atau disebut juga sebagai hukum fiskal menurut Santoso

Brotodihardjo adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi

wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan

menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui kas negara,

sehingga merupakan bagian dari hukum publik, yang mengatur

hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau badan-badan (hukum) yang

berkewajiban membayar pajak (selanjutnya sering disebut wajib pajak).11

10

Roeslan Saleh, Op.Cit, hlm 75 11

(40)

25

Sedangkan menurut Bohari, hukum pajak adalah suatu kumpulan

peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak

dan rakyat sebagai pembayar pajak”, dengan kata lain hukum pajak menerangkan:

a. Siapa –siapa wajib pajak (subyek pajak);

b. Obyek-obyek apa yang dikenakan pajak (obyek pajak);

c. Kewajiban mereka terhadap pemerintah;

d. Timbulnya dan hapusnya hutang pajak;

e. Cara penagihan pajak dan

f. Cara mengajukan keberatan dan banding pada Pengadilan Pajak.12

Menurut Santoso Brotodihardjo, ada beberapa teori untuk memberikan dasar

terhadap pemungutan pajak oleh negara yaitu sebagai berikut :

1. Teori Asuransi

Adalah termasuk tugas negara untuk melindungi orang dan segala

kepentingannya, keselamatan dan keamanan jiwa maupun

hartabendanya. Sebagaimana halnya setiap perjanjian asuransi (pertanggungan) maka untuk

perlindungan tersebut diperlukan pembayaran premi, dan dalam hal ini, pajak inilah yang dianggap sebagai preminya.

2. Teori Kepentingan

Teori ini menekankan bahwa pembagian beban pajak pada penduduk seluruhnya harus didasarkan atas kepentingan orang masing-masing dalam tugas pemerintah (yang bermanfaat baginya), termasuk juga perlindungan atas jiwa orang-orang itu berserta harta bendanya. Maka sudah selayaknyalah bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk menunaikan kewajibannya, dibebankan kepada mereka.

3. Teori Gaya Pikul

Teori ini pada hakekatnya mengandung kesimpulan bahwa dasar keadilan pemungutan pajak adalah terletak dalam jasa-jasa yang diberikan oleh negara pada warganya, yaitu perlindungan atas jiwa dan harta bendanya. Untuk keperluan perlindungan ini diperlukan biaya yang

12

(41)

26

harus dipikul oleh segenap orang yang menikmati perlindungan itu, yaitu dalam bentuk pajak.

4. Teori Kewajiban Mutlak

Negara sebagai organisasi dari golongan dengan memperhatikan syarat-syarat keadilan, bertugas menyelenggarakan kepentingan umum dan karenanya dapat dan harus mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan, termasuk juga tindakan-tindakan dalam bidang pajak.

5. Teori Gaya Beli

Teori ini tidak mempersoalkan asal mulanya negara memungut pajak, melainkan hanya melihat pada akibatnya, dan dapat memandang akibat yang baik itu sebagai dasar keadilannya.13

Adanya kekuatan hukum mengikat dalam bentuk undang-undang menjadikan

pajak memiliki sifat dasar dipaksakan yang berarti apabila wajib pajak tidak

memenuhi kewajiban pembayaran pajak, maka dapat dikenai sanksi terhadapnya.

Munculnya tindak pidana di bidang perpajakan, didasarkan pada kaidah hukum

pajak yang berupaya membedakan dalam bentuk kesalahan seperti “karena

kelalaian” atau “dengan kesengajaan”. Adanya pembedaan tersebut tergantung

pada niat dari pelaku untuk mewujudkan perbuatannya yang tergolong dalam

kaidah hukum pajak. Tindak pidana di bidang perpajakan muncul karena

didasarkan pada niat pelakunya saat melaksanakan tugas dan kewajiban

masing-masing.

Terhadap wajib pajak yang melanggar kewajiban pajak akan dikenai sanksi sesuai

pada ketentuan Pasal 38, Pasal 39 Ayat (1) dan (2) dan Pasal 39A

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan yang berupa sanksi pidana.

13

(42)

27

D.Tinjauan tentang Perbuatan Berlanjut (Voortgezette Handeling)

Pada dasarnya ketentuan mengenai perbuatan berlanjut merupakan bagian dari

ketentuan mengenai ketentuan mengenai perbarengan tindak pidana, Perbarengan

tindak pidana diatur dalam bab VI Pasal 63 KUHP sampai dengan Pasal 71

KUHP, ketentuan mengenai perbarengan tindak pidana pada dasarnya ialah suatu

ketentuan mengenai bagaimana cara menyelesaikan perkara dan sistem

penjatuhan pidana.

Menurut Roeslan Saleh, ada dua alasan pembentuk undang-undang dalam hal

menghendaki agar beberapa tindak pidana atau perbarengan tindak pidana

(concursus) diadili secara serentak dan diputus dalam satu putusan pidana dan

tidak dijatuhkan sendiri-sendiri dengan memperhitungkan sepenuhnya ancaman

pidana pada masing-masing tindak pidana yang dilakukan tersebut, artinya agar

tindak pidana yang terjadi dalam perbarengan terebut tidak dipidana sepenuhnya

sesuai ancaman masing-masing pidana tersebut, ialah adanya pertimbangan

psikologis dan pertimbangan dari segi kesalahan.14

Perbuatan berlanjut diatur dalam Pasal 64 KUHP, rumusan dari isi Pasal 64

KUHP tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau

pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang

sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan yang memuat

ancaman pidana pokok yang paling berat.

14

(43)

28

(2) Demikian pula hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang yang

dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan

menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak.

(3) Akan tetapi, jika orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam

Pasal 364 KUHP, 373 KUHP, 379 KUHP, dan 407 Ayat (1) KUHP, sebagai

perbuatan berlanjut dan nilai kerugian yang ditimbulkan jumlahnya melebihi

dari tiga ratus tujuh puluh lima rupiah, maka ia dikenakan aturan pidana

tersebut dalam Pasal 362 KUHP, 372 KUHP, 378 KUHP, dan 406 KUHP.

Mengenai apa yang dimaksud dengan perbuatan yang berlanjut pada rumusan ayat

pertama, pada dasarnya adalah beberapa perbuatan baik berupa pelanggaran

maupun kejahatan, yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang

sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan yang berlanjut.

Perbuatan berlanjut terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan baik

kejahatan maupun pelanggaran dan perbuatan-perbuatan tersebut ada

hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan

berlanjut.

Perbuatan disini adalah berupa perbuatan yang melahirkan tindak pidana, bukan

semata-mata perbuatan jasmani atau juga bukan perbuatan yang menjadi unsur

tindak pidana, antara perbuatan yang satu dengan perbuatan lainnya harus ada

hubungan yang sedemikian rupa, namun demikian ada sedikit keterangan di dalam

Memorie van Toelichting (MvT) Belanda mengenai pembuatan Pasal ini, yaitu

(44)

29

terlarang, dan bahwa suatu kejahatan yang berlanjut itu hanya dapat terjadi dari

sekumpulan tindak pidana yang sejenis. Adapun ciri pokok dari perbuatan

berlanjut ialah :

1. Adanya satu keputusan kehendak si pembuat;

2. Masing-masing perbuatan harus sejenis;

3. Tenggang waktu antara perbuatan-perbuatan itu tidak terlalu lama.15

Sistem pemberian pidana bagi perbuatan-perbuatan berlanjut menggunakan sistem

absorbsi, yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana terberat, dan bilamana

berbeda-beda maka dikenakan pidana pokok yang terberat, Pasal 64 Ayat (2)

KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata

uang, sedangkan Pasal 64 Ayat (3) KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal

kejahatan-kejahatan ringan yang terdapat dalam Pasal 364 KUHP (pencurian

ringan), 373 KUHP (penggelapan ringan), Pasal 407 KUHP (perusakan barang

ringan), yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut.16

.

15

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, Hlm 130 16

(45)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,

sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau

beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisanya.1

Pendekatan masalah yang digunakan penulis dalam penulisan ini menggunakan

pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yuridis

normatif dilakukan dengan mempelajari, melihat, dan menelaah mengenai

beberapa hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas-asas hukum yang

berkenaan dengan permasalahan yaitu mengenai tinjauan yuridis

pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penerbitan faktur pajak fiktif

secara berlanjut (Studi Kasus Putusan Nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK).

Pendekatan yuridis empiris adalah pendekatan masalah dengan menelaah hukum

dalam kenyataan baik berupa penilaian, pendapat, sikap yang dimaksudkan untuk

memperoleh pemahaman tentang pokok bahasan yang jelas mengenai gejala dan

objek yang sedang diteliti, digunakan metode wawancara dengan Hakim, Kepala

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Karang, disamping itu juga dilakukan

wawancara terhadap Dosen Fakultas Hukum yang berfungsi sebagai pembantu

dalam menganalisis skripsi ini. Jenis dan sifat penelitian yang dilakukan oleh

penulis adalah penelitian yang bersifat analisis.

1

(46)

31

B. Sumber dan Jenis Data

Menurut Soerjono Soekanto, data adalah sekumpulan informasi yang dibutuhkan

dalam pelaksanaan suatu penelitian yang berasal dari berbagai sumber,

berdasarkan sumbernya, data terdiri dari data lapangan dan data kepustakaan.2

Data yang dipergunakan dalam penelitian guna penulisan skripsi ini adalah :

1. Data Primer

Data primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari lapangan

penelitian dengan melakukan wawancara kepada responden, yaitu Hakim

Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Tanjung Karang, dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung untuk

mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai bahan hukum yang

berhubungan dengan penelitian, data sekunder terdiri dari bahan hukum

primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

a. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat mengikat

yang terdiri dari :

2

(47)

32

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo Undang-Undang Nomor 73

Tahun 1958 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana.

3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan

Tata Cara Perpajakan

b. Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang bersifat

menjelaskan bahan hukum primer yang meliputi literatur-literatur,

makalah-makalah, putusan pengadilan negeri tanjung karang perkara

nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK, dan lain-lain yang mempunyai relevansi

dengan permasalahan yang sedang diteliti.

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu

(48)

33

C. Penentuan Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari objek pengamatan atau objek penelitian.3 Untuk

menentukan sampel dari populasi yang akan diteliti, digunakan metode purposive

sampling yaitu dalam menentukan sampel disesuaikan dengan tujuan yang hendak

dicapai dan dianggap telah mewakili populasi.

Responden dalam penulisan ini sebanyak 3 (tiga) orang yaitu :

1. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang : 1 Orang

2. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tanjung Karang : 1 Orang

3. Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung : 1 Orang

Jumlah : 3 Orang

D. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Metode Pengumpulan Data

Dalam upaya mengumpulkan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis

menggunakan prosedur studi lapangan dan studi kepustakaan.

a. Studi kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder. Studi kepustakaan

dilakukan dengan cara membaca, mengutip hal-hal yang dianggap penting dan

perlu dari beberapa peraturan perundang-undangan, literatur, dan bahan-bahan

tertulis lainnya yang berkaitan dengan materi pembahasan.

3

(49)

34

b. Studi Lapangan

Studi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer. Studi lapangan

dilakukan dengan cara mengadakan wawancara (interview) dengan responden.

Wawancara dilakukan secara langsung dengan mengadakan tanya jawab secara

terbuka dan mendalam untuk mendapatkan keterangan atau jawaban yang utuh

sehingga data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapan. Metode wawancara

yang digunakan adalah standartisasi interview dimana hal-hal yang akan

dipertanyakan telah disiapkan terlebih dahulu (wawancara terbuka). Studi

lapangan dilakukan di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang.

2. Metode Pengolahan Data

Data yang terkumpul melalui kegiatan pengumpulan data yang kemudian diproses

melalui pengolahan dan peninjauan data dengan melakukan :

a. Evaluasi data, yaitu data yang diperoleh diperiksa untuk mengetahui apakan

masih terdapat kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan, serta apakah

data tersebut sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas.

b. Klasifikasi data, yaitu pengelompokan data yang telah dievaluasi menurut

bahasanya masing-masing setelah dianalisis agar sesuai dengan permasalahan.

c. Sistematisasi data, yaitu melakukan penyusunan dan penempatan data pada tiap

(50)

35

E. Analisis Data

Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, kemudian dilakukan

analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif dilakukan dengan cara

menguraikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk

kalimat-kalimat yang disusun secara sistematis, sehingga dapat diperoleh gambaran yang

jelas tentang masalah yang akan diteliti, sehingga ditarik suatu kesimpulan dengan

berpedoman pada cara berfikir induktif, yaitu suatu cara berfikir dalam

mengambil kesimpulan secara umum yang didasarkan atas fakta-fakta yang

(51)

V. PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat

ditarik simpulan sebagai berikut :

1. Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku penerbitan faktur pajak fiktif

secara berlanjut dalam perkara nomor 143/Pid.B/2012/PN.TK pada dasarnya

terletak pada kemampuan terdakwa untuk mempertanggungjawabkan

perbuatan yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan ketentuan Pasal

44 KUHP, yakni “barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya

atau jiwa yang terganggu karena penyakit tidak dipidana”. Disamping itu

pertanggungjawaban pidana terjadi karena adanya kesalahan dari pelaku yang

meliputi kesengajaan dan kelalaian, selanjutnya perbuatan yang dilakukan

oleh pelaku tindak pidana harus bersifat melawan hukum serta dapat

dibuktikan bahwa pelaku mampu bertanggung jawab dan tidak adanya alasan

pemaaf, terhadap perbuatan berlanjut, maka dalam hal pertanggungjawaban

pidana dapat diterapkan kepada terdakwa dengan mengacu pada ketentuan

Pasal 64 Ayat (1) KUHP “Jika antara beberapa perbuatan, meskipun

masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian

(52)

63

diterapkan satu aturan pidana, jika berbeda-beda, yang diterapkan yang

memuat ancaman pidana pokok yang paling berat”.

2. Dasar pertimbangan hakim dalam penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak

pidana penerbitan faktur pajak fiktif secara berlanjut dalam perkara nomor

143/Pid.B/2012/PN.TK diketahui bahwa secara garis besar dilakukan dengan

cara, merumuskan pembuktian dalam perkara tersebut guna menentukan

apakah terpenuhi atau tidak seluruh unsur yang didakwakan oleh Jaksa

Penuntut Umum, kemudian ditentukan apakah perbuatan yang dilakukan oleh

terdakwa adalah pelanggaran hukum atau bukan, setelah diketahui bahwa

perbuatan tersebut melanggar hukum, maka Hakim akan menentukan

kemampuan terdakwa dalam mempertanggungjawabkan segala perbuatan

yang dilakukan. Jenis pidana yang dijatuhkan mempertimbangkan meliputi,

tingkat kesalahan yang telah dilakukan, pengaruh tindak pidana yang telah

dilakukan, ancaman terhadap pasal yang didakwakan, sistem pemidanaan

yang ditentukan dalam pasal yang dilanggar, hal yang meringankan dan hal

yang memberatkan, serta fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.

Berdasarkan dasar pertimbangan tersebut, penjatuhan pidana yang dilakukan

oleh hakim didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar yang

mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang

relevan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan

dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam proses

(53)

64

jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi para

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Ashofa, Burhan. 2001.Metode Penelitian Hukum. Jakarta. PT Rineka Cipta.

AT, Salamun. 1993. Pajak, Citra dan Pembaharuannya, Revisi dari Buku Pajak, Citra danBebannya.Jakarta, PT. Bina Rena Pariwara.

Atmasasmita, Romli. 1996. Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice, System Perspektif, Eksistensialisme, dan Abolisinisme). Bandung. Alumni.

Bohari. 1984.Pengantar Perpajakan. Ujung Pandang. Ghalia Indonesia.

Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana. Jakarta. PT Raja Grafindo.

--- 2007. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

E.Y, Kanter & S.R. Sianturi. 2002. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerpannya.Jakarta. Storia Grafika.

Hamzah, Andi. 2001.Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta. Rineka Cipta.

Harahap, M. Yahya. 2003. Pembahasan Pemarsalahan dan Penerapan KUHP. Jakarta. Sinar Grafika.

Lamintang. 1997.Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Jakarta. Citra Aditya Bakti.

Manan, Bagir. 2005.Sistem Peradilan Berwibawa. Yogyakarta. FH UII Press.

Moeljatno. 2002.Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawabannya dalam Hukum Pidana,Yogyakarta, Bina Aksara,

---. 1986.Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta. Bina Aksara.

(55)

Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Nawawi , Barda Arief. 2002. Kebijakan Hukum Pidana. Bandung PT. Citra Aditya Bakti.

Pajar, J Widodo. 2010. Litigasi dan Bantuan Hukum. Bandar Lampung. Universitas Lampung.

Prasetyo, Teguh. 2010. Hukum Pidana. Jakarta. PT Raja Grafindo.

Rifai, Ahmad. 2010. Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta. Sinar Grafika.

Sambas, Nandang. 2010. Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia.

Yogyakarta. Graha Ilmu.

Santoso, R. Brotodihardjo. 1991. Pengantar Hukum pajak. Bandung. Eresco.

Saleh, Roeslan. 1983. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana dua pengertian dasar dalam hukum pidana.Jakarta. Aksara Baru.

---. 1982. Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana.

Jakarta. Ghalia Indonesia.

Soekanto, Soerjono. 1986.Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. UI Press.

--- dan Sri Mamuji. 2004.Penelitian Hukum Normatif. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Sudarto. 1997.Hukum dan Hukum Pidana. Bandung. Alumni.

Zainal , A. Abidin Farid. 1995. Hukum Pidana I. Jakarta. Sinar Grafika.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo Undang-Undang No. 73 Tahun 1958 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Referensi

Dokumen terkait