• Tidak ada hasil yang ditemukan

Study Invasive Alien Insects and Plants Species in Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Study Invasive Alien Insects and Plants Species in Indonesia"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN SPESIES SERANGGA DAN TUMBUHAN

ASING INVASIF DI WILAYAH PEMERIKSAAN

KARANTINA PERTANIAN DI JAKARTA

RAHMA SUSILA HANDAYANI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2014

(4)

RINGKASAN

RAHMA SUSILA HANDAYANI. Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta. Dibimbing oleh PUDJIANTO dan SRI SUDARMIYATI TJITROSOEDIRDJO.

Badan Karantina Pertanian (BARANTAN) sedang mengembangkan tugas untuk mencegah masuk dan menyebarnya spesies asing invasif di Indonesia. Penelitian ini menganalisis spesies asing invasif yang menjadi Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), pemasukannya secara sengaja melalui impor, dan pemasukan secara tidak sengaja melalui kontaminasi produk tumbuhan impor. Hal ini dilakukan untuk menginventaris serangga dan tumbuhan yang menjadi OPTK dan kontaminan, serta tumbuhan impor yang menjadi spesies asing invasif, selanjutnya dipelajari potensi invasif serta keberadaannya di Indonesia.

Penelitian ini difokuskan pada spesies serangga dan tumbuhan. Data diperoleh dari inventarisasi daftar OPTK, pengambilan contoh produk pertanian dan kehutanan impor seperti benih atau selain benih untuk diidentifikasi spesies kontaminannya, hasil intersepsi BARANTAN tahun 2010-2011, koleksi intersepsi pada Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Tanjung Priok dan Soekarno Hatta, survei tanaman ke nursery di Jabodetabek dan Karawang. Sebagai tambahan adalah data impor BARANTAN tahun 2010-2011 berupa spesies benih, tanaman hidup, dan biji bukan benih yang berpotensi tumbuh. Seluruh hasil inventarisasi disandingkan dengan daftar spesies serangga dan tumbuhan invasif pada Global Invasive Species Database (GISD). Spesies yang sama adalah spesies invasif yang kemudian dikaji mengenai bioekologi, sejarah invasi, dan dampaknya. Spesies yang tidak terdaftar di dalam GISD dilakukan pencarian informasi tentang potensi invasifnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies asing invasif yang merupakan target OPTK ada 12 spesies serangga dan 3 spesies gulma. Pemasukan spesies asing invasif melalui kontaminasi produk impor ada 5 spesies serangga dan 37 spesies tumbuhan. Agrilus sulcicollis dan Megacyllene robiniae merupakan serangga invasif yang belum terdapat di Indonesia dan tidak termasuk di dalam daftar OPTK maupun GISD. Ada 5 spesies tumbuhan invasif yang sebelumnya tidak dilaporkan di Indonesia yaitu Cirsium vulgare, Cirsium arvense (OPTK kategori A1) Centaurea melitensis, Lepidium virginicum, dan Melilotus albus. Spesies tumbuhan yang diimpor dan dari hasil survei menunjukkan terdapat 18 spesies tumbuhan berpotensi invasif. Satu dari 18 spesies tersebut memiliki kesamaan nama spesies OPTK kategori A2 (Asystasia gangetica subsp. micrantha). Spesies-spesies yang diketahui belum ada di Indonesia dari hasil penelitian ini, dapat menjadi informasi sebagai bahan penetapan target pemantauan, target IAS, dan revisi daftar OPTK. Pengelolaan spesies invasif di pre-border perlu ditingkatkan dengan membuat target pemeriksaan spesies invasif, peningkatan kemampuan identifikasi, peningkatan standar penerimaan terhadap kualitas impor, dan penerapan standar Sanitary and Phytosanitary Measures yang sebaik-baiknya.

(5)

SUMMARY

RAHMA SUSILA HANDAYANI. Study Invasive Alien Insects and Plants Species in Indonesia. Supervised by PUDJIANTO and SRI SUDARMIYATI TJITROSOEDIRDJO.

Agricultural Quarantine Agency (AQA) is developing a duty to prevent the entry and spread of invasive alien species in Indonesia. This study was conducted to analyze the potency of alien species listed in quarantine pests, introduction intentionally through import, and introduction unintentionally through contamination of imports plant products to become invasive and quarantine pest, its revenue through import intentionally, and unintentionally income through contamination of plant products imports. This is done to make an inventory of invasive alien species, to know the character of invasive and existence in Indonesia.

This study has focus on the species of insects and plants. Data were obtained from the inventory insects and plants listed as quarantine pests, sampling of imported agricultural and forestry products such as seed or non-seed to detect and identify contaminant species, the results AQA interception in 2010-2011, collection of interception at Agricultural Quarantine of Tanjung Priok Sea Port and Soekarno Hatta Air Port, as well as survey of plants to the nursery in Jabodetabek and Karawang. In addition, the data of imported living plants, seeds and non-seeds in 2010-2011 BARANTAN were also analyzed. All data were compared to the list of invasive species in Global Invasive Species Database (GISD). The dentified that were listed in GISD were classified as invasive species, and then were studied their bioecology, historical invasion, and impact. Species that are not included in the list of GISD performed invasive potential of information retrieval.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)
(8)
(9)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Fitopatologi

KAJIAN SPESIES SERANGGA DAN TUMBUHAN

ASING INVASIF DI WILAYAH PEMERIKSAAN

KARANTINA PERTANIAN DI JAKARTA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

(10)

Penguji pada Ujian Tesis: Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, MSc.

(11)

Judul Tesis : Kajian Spesies Serangga dan Tumbuhan Asing Invasif di Wilayah Pemeriksaan Karantina Pertanian di Jakarta

Nama : Rahma Susila Handayani NIM : A352100144

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Pudjianto, MSi Ketua

Dr Sri Sudarmiyati T., MSc Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Fitopatologi

Dr Ir Sri Hendrastuti Hidayat, MSc

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian: 24 Februari 2014

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta, Laboratorium Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok, Jl. Sambu, No. 9, Baranangsiang, Bogor dan Laboratorium Herbarium-SEAMEO BIOTROP. Adapun tema dari penelitian ini yaitu pembelajaran spesies serangga dan tumbuhan asing invasif diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi kegiatan perlindungan pertanian di Indonesia secara umum. Sumber dana penelitian dan pendidikan pascasarjana penulis ini berasal dari Anggaran DIPA tahun 2010 Badan Karantina Pertanian-Jakarta.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing Dr Ir Pudjianto, MSi dan Dr Sri Sudarmiyati Tjitrosoedirdjo, MSc atas kesabarannya dalam membimbing penulis hingga selesainya tesis ini. Ungkapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu dan Bapak tercinta serta Kakak dan Adik yang selalu memberikan motivasi serta semangat saat melakukan penelitian. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di Wilayah Kerja Karantina Pertanian Kantor Pos Bogor, Ibu Trisnasari, Bapak Hermawan, Bapak Iman suryaman, Bagus Seta Chandra W., Epriyanto serta rekan-rekan lainnya yang telah banyak membantu penulis dalam melakukan penelitian dan penyelesaian tesis ini.

Penulis berharap, semoga tesis ini bermanfaat bagi pembacanya.

Bogor, Februari 2014

(14)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vii

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 3

2 TINJAUAN PUSTAKA 4

Spesies Asing Invasif (IAS) 4

Karantina Pertanian di Indonesia 8

3 METODE 10

Tempat dan Waktu 10

Bahan 10

Alat 10

Metode Pelaksanaan 11

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14

Kelompok Serangga 14

Kajian Spesies Serangga Asing Invasif yang Terdaftar sebagai

OPTK Indonesia 14

Kajian Spesies Serangga Kontaminan yang Berpotensi Invasif di

Indonesia 20

Kelompok Tumbuhan 27

Kajian Spesies Tumbuhan Asing Invasif yang Terdaftar sebagai

OPTK Indonesia 27

Kajian Spesies Tumbuhan Kontaminan yang Berpotensi Invasif

di Indonesia 30

Kajian Spesies Tumbuhan Impor yang Berpotensi Invasif

di Indonesia 42

Pengelolaan spesies asing invasif di Pre-Border 48

5 SIMPULAN DAN SARAN 49

DAFTAR PUSTAKA 50

LAMPIRAN 57

(15)

DAFTAR TABEL

1 Spesies serangga invasif yang tergolong OPTK 14 2 Lima negara asal barang impor dengan tingkat temuan kontaminasi

serangga dan tumbuhan asing tertinggi di tahun 2010 dan 2011 21 3 Lima produk pertanian impor tahun 2010 dan 2011 yang sering

terkontaminasi spesies serangga dan tumbuhan asing 22 4 Lima famili serangga dari Ordo Coleoptera yang sering

mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 dan 2011 23 5 Serangga yang sering ditemukan mengontaminasi kedelai impor di

tahun 2010 dan 2011 23

6 Status spesies serangga asing yang belum ada di Indonesia

mengontaminasi produk pertanian impor 24

7 Daftar spesies tumbuhan asing invasif yang merupakan OPTK

kelompok gulma di Indonesia 28

8 Biji tumbuhan yang sering mengontaminasi produk kedelai impor di

tahun 2010 dan 2011 31

9 Spesies tumbuhan asing invasif yang terdaftar di GISD dan ditemukan

mengontaminasi produk pertanian impor 33

10 Spesies tumbuhan asing kontaminan yang telah menjadi invasif di

Indonesia 35

11 Spesies tumbuhan asing yang berpotensi invasif hasil survei ke nursery

di Jabodetabek dan Karawang 43

12 Benih dan bibit tumbuhan impor tahun 2010-2011 yang terdaftar

sebagai spesies invasif di dalam GISD 44

DAFTAR GAMBAR

1 Imago Anthonomus grandis perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop stereo

ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s) 16

2 Imago Ceratitis capitata perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi

2000-C, kamera AxioCam ERc5s) 17

3 Imago Trogoderma granarium perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskops stereo

ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s) 20

4 Proporsi ordo serangga yang mengontaminasi produk pertanian impor

tahun 2010 dan 2011 22

(16)

DAFTAR GAMBAR (lanjutan)

6 Imago Megacylene robiniae perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus

1000HS) 26

7 Imago Pyrrhidium sanguineum betina dan jantan (paling kanan) perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS

Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS) 27

8 Tanaman Asystasia gangetica subsp. micrantha (Sumber: foto oleh

Rahma, kamera Canon Ixus 1000HS) 29

9 Proporsi famili tumbuhan yang mengontaminasi produk pertanian

impor tahun 2010 dan 2011 30

10 Polong dan biji melilotus albus perbesaran 10x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskops stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam

ERc5s) 40

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil intersepsi serangga dan tumbuhan kontaminan pada produk pertanian impor dari Amerika Serikat tahun 2010 dan 2011 57 2 Data pelaksanaan deteksi-identifikasi spesies serangga dan tumbuhan

kontaminan pada sampel produk pertanian impor serta jadwal survei 62 3 Beberapa foto serangga hasil hasil deteksi dan identifikasi pada produk

pertanian impor 83

4 Beberapa foto dan deskripsi biji kontaminan hasil deteksi dan

identifikasi pada produk pertanian impor 85

5 Beberapa foto biji tumbuhan asing hasil deteksi dan identifikasi pada

produk pertanian impor 88

6 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih, dan hasil tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa

olahan periode tahun 2010 100

7 Impor produk pertanian berupa tanaman hidup, benih, dan hasil tanaman hidup bukan benih, hasil tanaman mati diolah, dan tanpa

(17)
(18)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Spesies asing invasif yang lebih dikenal dengan invasive alien species (IAS) menurut McNeely (2001) adalah spesies, subspesies, atau varietas yang masuk ke dalam suatu ekosistem bukan habitat aslinya baik secara langsung maupun tidak langsung, menetap, dan bereproduksi sehingga dapat menjadi agen pengubah dan mengancam ekosistem, habitat, keanekaragaman hayati, merugikan ekonomi dan kesehatan manusia. Sekarang ini IAS telah menjadi perhatian publik sejak adanya perjanjian KTT Bumi yang ditandai oleh Convention on Biological Diversity (CBD) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Prinsip utama perjanjian tersebut adalah memperhatikan kondisi lingkungan dalam rangka pembangunan ekonomi. Artikel ke-8 (h) di dalam CBD menyatakan bahwa setiap negara perlu mencegah introduksi, mengendalikan, dan memusnahkan spesies-spesies asing yang dapat mengancam ekosistem, habitat, dan spesies lainnya (Lopian 2005). Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati maka Indonesia merativikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati atau CBD melalui Undang-undang No. 5 tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai keanekaragaman hayati (Indrawan et al. 2007).

Pelaksanaan perlindungan dari IAS merupakan mandat dari CBD dan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) terhadap International Plant Protection Convention (IPPC) karena peran pencegahan introduksi spesies asing lebih sesuai dengan peran IPPC (Lopian 2005). Spesies yang bersifat invasif dapat berupa: (1) bakteri, virus, cendawan, parasit; (2) hewan liar; (3) serangga dan invertebrata lain; (4) organisme pengganggu ekosistem laut; dan (5) gulma, (Australian Goverment Department of Sustainability, Environment, Water, Population, and Communities 2010). Serangga dan gulma merupakan bagian dari kelompok organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang keberadaannya dapat dilihat secara makroskopis atau mata telanjang. Dua kelompok OPT ini juga merupakan sebagian dari target pemeriksaan karantina yang tercantum dalam daftar OPT-Karantina (OPTK). Menurut Lopian (2005), tidak semua serangga OPTK merupakan spesies invasif. Oleh karena itu, penelitian ini lebih mengutamakan pada bahasan serangga sebagai hama dan tumbuhan yang berpotensi menjadi gulma.

Serangga yang dapat menjadi invasif dalam suatu ekositem umumnya dapat berperan sebagai predator, polinator, dan hama. Hama merupakan yang paling umum sebagai perusak. Sebagai contoh: kutu putih Paracoccus marginatus merupakan serangga asli dari Mexico yang dilaporkan telah masuk dan menjadi invasif di Indonesia dan India (Muniappan et al. 2008). Kutu putih ini sangat merugikan secara ekonomi khususnya pada tanaman pepaya.

(19)

2

Tumbuhan invasif memiliki karakter yang sama dengan gulma (Tjitrosoedirdjo 2010). Tumbuhan yang memiliki karakter gulma yang baik menjadi tumbuhan invasif yang berbahaya (Zihmdal 2007). Di Indonesia, gulma dapat terjadi di ekosistem pertanian dan ekosistem non-pertanian (Tjitrosoedirdjo 2010). Keberadaan gulma di lingkungan pertanian antara lain dapat mengganggu sistem produksi pertanian, mengontaminasi produk pertanian sehingga mempengaruhi kualitas produksi, dan sebagai agens penyebaran OPT (Radosevich et al. 2007).Menurut Ujiyani (2009), spesies invasif Bromus tectorum ditemukan mengontaminasi komoditas pertanian yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 yang merupakan salah satu OPTK kategori A1 (belum ada di Indonesia). B. tectorum dilaporkan menginvasi dan menyebabkan area pertumbuhan Artemisia tridentata sebagai sumber pakan hebivora di Amerika Utara menjadi lebih mudah terbakar (Radosevich et al. 2007).

(20)

3 Pencegahan masuk IAS ke wilayah Indonesia lebih berkaitan dengan peranan karantina pertanian. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lopian (2005) bahwa IAS berhubungan dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Sebagian besar OPTK merupakan IAS, dan IAS yang merugikan secara ekonomi pada tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan OPTK. Tupoksi karantina pertanian di Indonesia selama ini masih terbatas pada OPTK/HPHK berdasarkan UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, PP No. 14 tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan, dan PP No. 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan. Pengembangan tugas karantina dimulai tahun 2009 yaitu menangani keamanan pangan. Karantina terus melakukan pengembangan peran sesuai dengan perkembangan aturan di dunia, seperti peranannya yang terkait dengan IAS. Badan Karantina Pertanian (BARANTAN) dan FAO serta SEAMEO-BIOTROP berkolaborasi mempersiapkan program kerja

Strengthening Quarantine Control System for Invasive Alien Species (IAS)” beberapa diantaranya menyiapkan peraturan dan pengembangan kapasitas kelembagaan meliputi sistem manajemen informasi (BARANTAN 2011). Penelitian ini berkaitan dengan program kerja karantina tersebut sehingga diharapkan dapat memberikan informasi mengenai IAS yang diperkirakan dapat berada di wilayah Indonesia. Penelitian ini mengutamakan ruang lingkup pada beberapa wilayah layanan pemeriksaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Tumbuhan di Jakarta yaitu Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Karawang, dan Tangerang (Kementan 2010). Selain itu, target yang menjadi bahan pengamatan ini dikhususkan pada serangga hama di ekosistem pertanian, kehutanan, dan serangga gudang, sedangkan untuk tumbuhan meliputi tanaman hias, cover crop, dan biji tumbuhan kontaminan yang berpotensi menjadi gulma.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan untuk inventarisasi serangga dan tumbuhan yang menjadi OPTK dan kontaminan, serta tumbuhan impor yang menjadi IAS dan mempelajari kriteria potensi IAS di Indonesia melalui kajian taksonomi, biologi, daerah asal, dan sejarah invasi. Kajian tersebut dilakukan terhadap spesies yang invasif di ekosistem pertanian maupun ekosistem non-pertanian.

Manfaat Penelitian

(21)

4

2

TINJAUAN PUSTAKA

Spesies Asing Invasif (IAS)

Pengertian IAS

Istilah spesies asing invasif ini dikenal pertama kali melalui pertemuan para ahli lingkungan yaitu dalam CBD yang diorganisasikan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Earth Summit tahun 1992 dan lebih dikenal dengan Invasive Alien Spesies (IAS) (Tjitrosoedirdjo 2010). Spesies asing invasif menurut McNeely et al. (2001) adalah spesies introduksi baik secara langsung maupun tidak langsung, menetap dan bereproduksi sehingga dapat menjadi agen pengubah dan mengancam ekosistem, habitat, keanekaragaman hayati, merugikan ekonomi dan kesehatan manusia. IAS dapat berupa tumbuhan, hewan, patogen, dan organisme lain yang asing dalam ekosistem, yang menyebabkan kerugian secara ekonomi, kerusakan lingkungan dan bahkan dapat mengganggu kesehatan manusia, khususnya berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, termasuk penurunan dan penghilangan spesies asli melalui kompetisi, pemangsaan, atau transmisi patogen dan terganggunya ekosistem lokal serta fungsi ekosistem (CBD 2009c). Menurut Australian Goverment Department of Sustainability, Environment, Water, Population, Communities (2010), spesies invasif merupakan spesies yang terjadi, sebagai akibat dari aktivitas manusia, diluar distribusi normalnya, dipertimbangkan merugikan lingkungan, pertanian dan sumber daya lain. Spesies invasif ini meliputi: (1) patogen dan parasit; (2) hewan liar; (3) serangga dan invertebrata lain; (4) OPT di ekosistem laut; serta (5) gulma.

Proses Invasi

Invasi merupakan perluasan geografis dari suatu spesies pada daerah yang sebelumnya tidak ada spesies tersebut. Tidak semua organisme yang masuk ke dalam suatu wilayah/habitat baru menjadi invasi. Terkadang invasi dapat terjadi kegagalan, tetapi invasi yang berhasil adalah peristiwa yang jarang. Invasi yang berhasil memerlukan bahwa spesies itu sampai kesitu, mapan, bereproduksi, menyebar, dan mengintegrasikan diri dengan anggota lain dari komunitas yang diinvasi (Tjitrosoedirdjo 2010). Tiga fase mayor invasi tanaman menurut Raizada (2007) yaitu introduksi, kolonisasi, dan naturalisasi. Hill (2008) menyatakan suatu yang berbeda bahwa satu spesies harus dapat melalui enam fase untuk berhasil menetap di lokasi baru. Hasil dari setiap fase memiliki keterkaitan kemungkinan berhasil dan setiap fase harus diselesaikan sebelum pindah ke fase berikutnya. Oleh karena itu, satu spesies harus melalui semua fase untuk berhasil melakukan invasi yaitu: fase introduksi, fase bertahan secara individu, fase memasuki lingkungan yang sesuai untuk bertahan jangka panjang, fase sukses bereproduksi secara individu, fase sukses berkompetisi, dan fase perluasan dan penyebaran populasi.

(22)

5 untuk makanan dan habitat, menyebar melalui lingkungan barunya, populasi meningkat, dan membahayakan ekosistem yang diintroduksinya (CBD 2009a).

Ada 4 tahapan proses invasi tumbuhan yang idealistik menurut Tjitrosoedirdjo (2010), yaitu:

1. Berada di daerah baru

Tahapan ini merupakan periode pemeliharaan, seperti untuk tumbuhan yang dibudidayakan dan tanaman hias, sedangkan untuk tumbuhan lain merupakan periode dorman.

2. Mapan secara spontan

Periode telah menghasilkan 1 generasi dalam daerah baru tersebut tanpa bantuan manusia.

3. Mapan secara permanen

Periode telah membentuk populasi dan mampu bertahan di daerah baru tersebut.

4. Persebaran di daerah baru tersebut telah tuntas

Periode telah terjadi invasi di seluruh lokasi yang cocok untuk pertumbuhannya sebagai implikasi sebaran baru telah tercapai.

Keberhasilan invasi tergantung spesies dan kemudahan invasi dari habitat. Kemampuan spesies menginvasi meliputi karakter sejarah kehidupan, sebaran asli secara geografis luas, dan pola taksonomi. Kemudahan invasi dari habitat peran pengrusakan dan peran keanekaragaman hayati, dan ketersediaan sumber daya alam. Pengelolaan yang baik terhadap organisme dapat meminimalkan terjadinya invasi.

Kriteria Tumbuhan Invasif

Tumbuhan invasif, salah satunya adalah gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang efisien dan berhasil di tempat ia tumbuh. Keberhasilannya ditentukan oleh karakter biologi (Tjitrosoedirdjo et al. 2011).

Karakter biologis gulma ideal (Baker 1974 di dalam Tjtrosoedirdjo et al. 2011), yaitu:

1. Syarat perkecambahan dapat terpenuhi oleh berbagai lingkungan

2. Biji mempunyai viabilitas yang lama dan perkecambahan bersifat diskontinyu

3. Pertumbuhan yang cepat dari fase vegetatif sampai ke taraf pembungaan 4. Terus menerus memproduksi biji sepanjang kondisi lingkungan

memungkinkan

5. Self-compatible, tetapi tidak autogami atau apomixis penuh

6. Perkawinan silang; bila terjadi tidk memerlukan polinator khusus ataupun angin.

7. Produksi biji sangat tinggi, dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan 8. Produksi biji dapat terjadi dalam rentang kondisi lingkungan yang lebar,

toleran, dan plastis.

9. Teradaptasi untuk penyebaran jarak jauh maupun jarak dekat

10. Apabila berupa tumbuhan tahunan, reproduksi vegetatif sangat subur, atau dapat ber-regenerasi dari fragmentasi

(23)

6

12. Mempunyai kemampuan berkompetisi antar spesies dengan alat khusus (roset, mencekik tumbuhan lain, dan alelopati)

Tingkat keinvasifan suatu spesies sangat beragam. Tingkat invasi tumbuhan ditentukan dengan mengevaluasi karakteristik biologis dan ekologis terhadap kriteria yang mencakup persyaratan menetap (established), tingkat pertumbuhan dan kemampuan berkompetisi, metode reproduksi, dan mekanisme pemencaran (Weiss dan Laconis 2002).

Karakter keinvasifan tumbuhan dapat diprediksi. Prediksi utama tingkat keinvasifan menurut Rejmanek (2001) sebagai berikut:

1. Memiliki kebugaran yang konstan baik secara individu maupun populasi di berbagai lingkungan.

2. Ukuran genom yang kecil, umumnya berkaitan dengan masa generasi yang pendek, peridoe juvenile yang pendek, ukuran benih yang kecil, membuat naungan yang cepat, tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi

3. Keinvasifan spesies tumbuhan berkayu dihubungkan dengan ukuran masa biji yang ringan, periode penghasilan biji yang panjang, periode juvenil yang pendek, dan periode pembentukan buah yang panjang

4. Dapat disebarkan oleh vertebrata

5. Spesies yang merupakan invasif di daerah sebaran aslinya 6. Dapat bereproduksi secara vegetatif

7. Tumbuhan asing berasal dari genus asing dan lebih invasif daripada di habitat aslinya

8. Spesies tidak memiliki simbiosis mutualisme yang spesifik

9. Tumbuhan komunitas yang tidak berbahaya secara natural atau semi natural akan lebih menginvasi tumbuhan yang tinggi

10. Penyebaran spesies asing umumnya tergantung pada aktivitas manusia. Menurut (Weber 2003) tumbuhan invasif dapat berasal dari jenis tanaman hias, tumbuhan untuk pengendali erosi, tumbuhan berkayu, pakan ternak, tanaman pangan, tumbuhan pelindung, dan masih banyak lagi jenis yang belum dikenal. Kriteria Serangga Invasif

Serangga merupakan bagian dari taksonomi Kingdom Animal yang memiliki tubuh beruas-ruas dan bertungkai 3 pasang. Peranan serangga di dalam suatu ekosistem antara lain sebagai bahan makanan serangga lain, herbivor, predator, polinator, pesaing, vektor, parasit, parasitoid, dekomposer atau detrivor. Invasif dapat berpengaruh terhadap perekonomian dan lingkungan secara langsung melalui pemakanan dan persaingan, sedangkan cara tidak langsung seperti penyebaran patogen.

Karakteristik yang mencirikan spesies serangga invasif menurut Worner (2002) antara lain: berasosiasi dengan aktivitas manusia sehingga dapat menyebar luas di wilayah aslinya, kelimpahan tinggi di wilayah aslinya, memiliki kemampuan peningkatan populasi yang tinggi, berperan pada kondisi yang luas, memiliki daya pencar yang besar, siklus hidup menyesuaikan lingkungan yang baru secara cepat, memiliki reproduksi dengan berbagai cara, dan memiliki keragaman genetik yang tinggi.

(24)

7 terkait dengan habitat buatan manusia, kisaran inang yang luas, dan kemampuan sebagai vektor penyakit. Faktor lain yang dapat mendukung keinvasifan serangga adalah faktor kondisi dan habitat. Faktor kondisi berupa tersedianya kesempatan bagi spesies serangga untuk muncul dan menang dalam persaingan pemanfaatan sumber daya. Habitat yang diperlukan adalah habitat yang telah mengalami gangguan atau kerusakan. Habitat yang demikian rentan terhadap invasi (Worner 2002).

Penyebaran IAS

Penyebaran spesies asing dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Proses penyebaran IAS secara sengaja dapat dipicu dengan adanya globalisasi. Globalisasi telah mendorong peningkatan perdagangan, transportasi, perjalanan dan wisatawan. Hal ini dapat menjadi fasilitas untuk masuk dan tersebarnya spesies asing ke suatu area. Jika habitat baru merupakan habitat yang memadai habitat asli spesies tersebut, memungkinkan spesies tersebut untuk bertahan dan bereproduksi. Suatu spesies menjadi invasif harus mampu berkompetisi dengan organisme asli untuk makanan dan habitat, menyebar melalui lingkungan barunya, meningkatkan populasi, dan membahayakan ekosistem yang diintroduksinya (CBD 2009a). Penyebaran IAS secara tidak sengaja dapat berupa adanya organisme yang menjadi kontaminan atau menginvestasi komoditas pertanian yang diedarkan.

Dampak Negatif IAS

Faktor yang dapat menyebabkan terganggunya keanekaragaman hayati di suatu kawasan, salah satunya adalah pengaruh spesies asing (eksotik). Spesies asing yang mempunyai daya adaptasi tinggi dan bersifat invasif mampu mengubah ekosistem lokal (Shiva et al. dalam Kumalasari 2006). Kerugian yang

diakibatkan oleh IAS bervariasi tergantung spesies dan lingkungannya. E. crassipes yang awalnya sebagai tanaman hias di aquarium, sekarang

menyebabkan kerugian secara ekonomi dan mengganggu ekosistem air. Tumbuhan ini diketahui menjadi berbahaya setelah 30 tahun dari pemasukannya (Tjitrosoedirdjo 2007). Mikania micrantha dari Amerika Selatan dapat merusak ekosistem hutan di Indonesia dengan cara merambati kanopi sehingga menghambat pertumbuhan vegetasi asli (Tjitrosoedirdjo & Subiakto 2010). Penghambatan pertumbuhan dan perusakan keanekaragaman hayati menyebabkan kerugian secara ekonomi. Sebagai contoh: P. marginatus merusak tanaman pepaya dengan cara menusuk dan menghisap cairan tanaman dan membentuk koloni yang padat sehingga menghambat fotosintesis dan pertumbuhan tanaman tersebut. Dampak dari introduksi P. marginatus memiliki kontribusi terhadap penurunan produksi pepaya di wilayah kecamatan Sukaraja (Bogor) hingga mencapai 58%, tetapi terjadi peningkatan biaya produksi 46% akibat penggunaan pestisida. Petani mengalami kerugian sekitar 14.2 juta ton/ha (Ivakdalam 2010).

(25)

8

dihasilkan dapat menginterfensi tumbuhan lain sehingga dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tanaman lain. Gulma tersebut dapat menyebabkan alergi dan mengganggu kesehatan manusia (ISSG 2011). Spesies invasif lebih umum diketahui berasal dari spesies asing yang masuk, menetap dan berkembang biak di negara lain. Ada sedikit pengecualian bahwa spesies dapat menjadi invasif di daerah sebaran aslinya, seperti Imperata cyliandrica dan Phragmites vallatoria yang merupakan spesies invasif asli di Indonesia (Tjirosoedirdjo 2007).

Karantina Pertanian di Indonesia

Landasan Hukum Karantina Pertanian Terkait dengan IAS

Badan Karantina Pertanian mempunyai tugas pokok dan fungsi terkait pencegahan masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina/hama dan penyakit hewan karantina dengan dasar UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, PP No. 14 tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan, dan PP No. 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan. Karantina mulai mengembangkan tugas sesuai dengan peraturan dunia yaitu dengan mengawasi keamanan pangan pada tumbuhan atau bahan asal tumbuhan segar tahun 2009 sebagai implementasi Peraturan Menteri Pertanian No. 27 /Permentan/PP.340/5/ Tahun 2009 juncto Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 38/Permentan/PP.340/8/2009. Peraturan yang terkait dengan spesies invasif di Indonesia masih dalam proses pembentukan, tetapi karantina telah menyiapkan berbagai sarana dan konsep untuk pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan spesies invasif. Pembentukan peraturan IAS didasarkan pada tindak lanjut ratifikasi Indonesia terhadap peraturan CBD. Persiapan pembentukan peraturan dan sistem informasi tentang IAS tersebut melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak di lingkungan instansi maupun lembaga penelitian serta lembaga pendidikan. Seperti halnya IPB, SEAMEO-BIOTROP, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Karantina Ikan, Badan Penelitian Dan Pengembangan (Litbang) Kehutanan, Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI, dan Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Tindakan Karantina Pertanian Berkaitan dengan IAS

(26)
(27)

10

3

METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Soekarno-Hatta (Jakarta), di Laboratorium BBKP Tanjung Priok-Wilayah Kerja Kantor Pos Bogor dan di Herbarium SEAMEO-BIOTROP, Bogor. Pengambilan sampel dan survei dilakukan pada bulan September 2011 sampai dengan Januari 2012.

Bahan

Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil deteksi dan identifikasi spesies serangga dan tumbuhan kontaminan pada sampel produk pertanian impor dan hasil survei nursery yang dipertimbangkan banyak melakukan importasi tanaman hias, tanaman penutup tanah, dan tanaman pelindung. Data sekunder diperoleh dari data pemasukan tanaman hidup dan benih yang terekam di dalam database Eplaq System BARANTAN tahun 2010-2011, data intersepsi yang terekam di dalam database Eplaq System BARANTAN tahun 2010-2011, data koleksi biji tumbuhan dan serangga hasil intersepsi di BBKP Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta, dan data koleksi media pembawa OPT/OPTK impor di BBKP Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta. Selain itu, data yang digunakan berupa daftar spesies OPTK kelompok serangga dan gulma yang tertera pada Lampiran Peraturan Menteri Pertanian nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Spesies Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dan data spesies serangga dan tumbuhan invasif internasional yang ada pada Global Invasive Species Database (GISD) tahun 2011 [http://www.issg.org/database/welcome/].

Serangga yang menjadi bahan penelitian berupa arthropoda dari Kelas Insekta yang menjadi hama gudang, hama di ekosistem hutan, dan di ekosistem pertanian. Tumbuhan yang menjadi bahan kajian penelitian berupa benih atau bibit tanaman hias, tanaman penutup tanah, rumput-rumputan, dan biji tumbuhan yang mengontaminasi media pembawa OPT/OPTK (dalam penelitian ini disebut produk pertanian impor).

Alat

(28)

11 Metode Pelaksanaan

Pengambilan Sampel

Sampel produk pertanian impor diambil untuk dilakukan deteksi dan identifikasi spesies serangga dan biji kontaminan. Produk pertanian tersebut berupa tanaman hidup dan benih, hasil tanaman hidup bukan benih, dan hasil tanaman mati yang tidak diolah atau telah diolah. Sampel hasil tanaman mati yang diolah atau tidak diolah seperti beras, tepung jagung, bungkil kedelai, kayu, dan lain sebagainya. Sampel hasil tanaman hidup bukan benih, contoh jagung, kedelai, kacang tanah yang pemasukannya tidak dipergunakan sebagai benih atau untuk ditanam.

Sampel produk pertanian impor yang berupa tanaman hidup dan benih yaitu tanaman hias, rumput-rumputan, kelapa sawit, dan tanaman penutup tanah diperoleh dari laboratorium Karantina Tumbuhan di BBKP Tanjung Priok dan BBKP Soekarno-Hatta. Pengambilan sampel benih biji-bijian dilakukan sesuai dengan panduan pada pedoman teknis pengambilan sampel biji-bijian untuk benih yang dikeluarkan oleh BARANTAN tahun 2007, sedangkan untuk pelaksanaan pengambilan sampel non-benih mengadopsi dan memodifikasi dari pedoman tersebut. Ukuran sampel yang digunakan bergantung pada jenis produk pertanian impor, jumlah produk pertanian yang diimpor, jenis kemasan, ukuran kemasan, jumlah kemasan, dan alat yang digunakan untuk pengambilan sampel. Jenis kemasan yang dimaksud adalah kemasan dalam bentuk kantong/kontainer dan curah. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Sampel produk pertanian impor yang dipergunakan minimum 200 g dan maksimum 5 000 g.

Sampel yang berupa hasil tanaman hidup bukan benih, dan hasil tanaman mati yang tidak diolah atau telah diolah diperoleh dari Depo Arcola, Depo Transporindo, laboratorium Karantina Tumbuhan di BBKP Tanjung Priok dan BBKP Soekarno-Hatta. Sampel diambil selama penelitian berlangsung dengan periode 1 minggu sekali.

Pendeteksian dan Identifikasi Spesies Kontaminan pada Sampel Produk Pertanian Impor

Sampel produk pertanian impor yang diperoleh, kecuali tanaman hidup dilakukan pemaparan sampel. Sampel yang diperoleh diletakkan dan dipaparkan di dalam nampan plastik. Selanjutnya, sampel diperiksa untuk dideteksi organisme kontaminannya dengan memilah antara sampel dan kontaminan menggunakan kuas dan spatula di bawah magnifier lamp. Kontaminan kelompok serangga dapat berupa bagian tubuh serangga atau stadia serangga, sedangkan untuk kelompok tumbuhan ditemukan berupa biji. Hal ini tidak menutup kemungkinan jika ditemukan bagian dari tanaman yang dapat diidentifikasi untuk menentukan spesies. Hasil pendeteksian kontaminan diletakkan di dalam cawan petri, kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop stereo. Setelah teridentifikasi spesies yang ditemukan dicatat.

(29)

12

organisme yang terbawa pada sampel. Organisme yang ditemukan selanjutnya dilakukan identifikasi morfologi dan dicatat.

Identifikasi morfologi dilakukan dengan mencocokkan morfologi organisme kontaminan dengan master koleksi, buku identifikasi, kunci identifikasi on-line, master koleksi, dan CD-ROM CABI 2007 atau menanyakan spesies organsime tersebut dengan pakarnya.

Survei ke Nursery

Survei dilakukan pada enam wilayah layanan pemeriksaan UPT Karantina Tumbuhan yang ada di Jakarta. UPT tersebut yaitu BBKP Tanjung Priok dan BBKP Soekarno-Hatta. Adapun wilayah layanan pemeriksaan UPT tersebut yang digunakan survei adalah Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Karawang, dan Tangerang (Peraturan Menteri Pertanian nomor 56/Permentan/ OT.140/9/2010 tentang pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan di luar tempat pemasukan dan pengeluaran). Informasi lokasi nursery diperoleh dari pencarian di internet, informasi dari BBKP Tanjung Priok-Soekarno Hatta, dan informasi dari pihak lain. Lokasi survei di Jakarta (Griya Dina Nursery dan Toko Trubus Bintaro), Bogor (Top Nursery), Bekasi (Anisa Adenium Nursery dan R & D Nursery), Tangerang (Flora Alam Sutra dan Bunga Desa Nursery), Depok (PT. Godong Ijo Nursery), dan di Karawang (PT. Benara Nursery).

Survei difokuskan pada tanaman hias, tanaman penutup tanah, dan tanaman pelindung. Survei dilakukan dengan melakukan interview kepada pemilik mengenai importasi tanaman hias yang dilakukan dan jenisnya.

Kelompok Serangga

Kajian spesies OPTK kelompok serangga yang berpotensi invasif. Daftar OPTK Kategori A1 (yang belum ada di Indonesia) dan A2 (yang sudah ada di Indonesia dengan wilayah sebaran terbatas) diseleksi dan dikumpulkan khusus spesies yang termasuk kelompok serangga baik OPTK ekosistem pertanian dan OPTK tanaman kayu/hutan. Daftar tersebut disandingkan dengan daftar spesies serangga invasif dari GISD khusus kelompok serangga. Selanjutnya, spesies yang sama dari hasil penyandingan dilakukan kajian informasi bioekologi, dampak, daerah asal, deskripsi, status keberadaan di Indonesia, sebaran geografi, dan taksonomi.

Kajian spesies serangga kontaminan yang berpotensi invasif. Kajian serangga kontaminan ini menggunakan bahan yang berasal dari spesies hasil deteksi dan identifikasi, hasil intersepsi kelompok serangga dari database Eplaq Sytem BARANTAN tahun 2010-2011, hasil koleksi serangga intersepsi dari BBKP Tanjung Priok. Selanjutnya, semua data tersebut digabungkan dan kemudian disandingkan dengan data spesies serangga invasif dari GISD. Spesies yang sama dilakukan kajian informasi seperti metode sebelumnya.

(30)

13

Kelompok Tumbuhan

Kajian spesies OPTK kelompok gulma yang berpotensi invasif. Daftar spesies gulma yang ada di dalam lampiran OPTK baik kategori A1 dan A2 dikumpulkan dan selanjutnya disandingkan dengan daftar spesies tumbuhan invasif dari GISD. Spesies yang sama dalam kedua daftar dilakukan kajian informasi bioekologi, dampak, daerah asal, deskripsi, status keberadaan di Indonesia, sebaran geografi, dan taksonomi.

Kajian spesies biji tumbuhan kontaminan yang berpotensi invasif. Bahan yang digunakan dalam kajian ini adalah spesies hasil deteksi dan identifikasi, spesies intersepsi kelompok serangga yang terekam di database Eplaq Sytem BARANTAN tahun 2010-2011, dan spesies biji tumbuhan hasil koleksi intersepsi dari BBKP Tanjung Priok. Selanjutnya, data tersebut digabungkan dan disandingkan dengan data spesies tumbuhan invasif dari GISD. Spesies yang sama dilakukan kajian informasi seperti metode sebelumnya. Spesies biji tumbuhan kontaminan yang tidak terdaftar GISD dilakukan kajian status mengenai keberadaannya di Indonesia serta peranannya.

(31)

14

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kelompok Serangga

Kajian Spesies Serangga Asing Invasif yang Terdaftar sebagai OPTK Indonesia

Spesies serangga yang terdaftar sebagai OPTK di dalam Lampiran Keputusan Kepala BARANTAN No 28/Kpts/HK.060/1/2009 Tahun 2009 berjumlah 226 spesies yang termasuk kategori A1 dan 33 spesies yang termasuk kategori A2. Spesies serangga yang terdaftar di dalam GISD tahun 2011 yang telah di up date tahun 2011 berjumlah 86 spesies. Hasil penyandingan spesies pada daftar OPTK tahun 2011 dengan daftar GISD diperoleh 11 spesies berpotensi invasif tergolong OPTK kategori A1 dan 1 spesies yang tergolong OPTK kategori A2 (Tabel 1). OPTK yang berpotensi invasif didominasi ordo Coleoptera. Spesies serangga OPTK yang terdaftar invasif pada umumnya merupakan hama pada tanaman kayu/kehutanan dan hama lapangan tanaman pangan dan hortikultura, sedangkan untuk hama gudang hanya 1 spesies yang terdaftar sebagai OPTK yang berpotensi invasif yaitu Trogoderma granarium.

Aturan nasional selalu berkembang sesuai perkembangan aturan dunia, daftar OPTK harus selalu diperbarui. Penetapan daftar OPTK di Indonesia pada umumnya berjalan setiap 3 tahun (Hermawan 20 Februari 2012, komunikasi pribadi), tetapi pada 29 Desember 2011 bertepatan dengan proses penelitian ini, telah terbit Peraturan Menteri Pertanian nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Perubahan daftar

Tabel 1. Spesies serangga invasif yang tergolong OPTK*)

No. Spesies Kategori Ordo Famili

1. Agrilus planipennis A1 Coleoptera Buprestidae 2. Anoplophora glabripennis A1 Coleoptera Cerambycidae 3. Anthonomus grandis A1 Coleoptera Curculionidae

4. Bactrocera tryoni A1 Diptera Tephritidae

5. Ceratitis capitata A1 Diptera Tephritidae

6. Coptotermes formosanus A1 Isoptera Rhinotermitidae

7. Hypanthria cunea A1 Lepidotera Arctidae

8. Ips typographus A1 Coleoptera Scolytidae

9. Icerya purchasi A2 Hemiptera Margarodidae

10. Lymantria dispar A1 Lepidoptera Lymantriidae

11. Sirex noctilio A1 Hymenoptera Siricidae

12. Trogoderma granarium A1 Coleoptera Dermestidae *)

(32)

15 OPTK tersebut, mencantumkan adanya spesies serangga mengalami perubahan daftar OPTK. Total serangga terdaftar OPTK yaitu 229 spesies, terjadi penambahan 6 spesies, dan terjadi perubahan status kategori ada 2 spesies (Bactrocera neohumeralis dan Heterobostrychus aequalis).

Penambahan spesies pada daftar OPTK terdiri atas 2 spesies kategori A1 (Caliothrips masculinus dan Chaetosiphon fragaefolii) dan 4 spesies kategori A2 (B. occipitalis, Pineus boerneri, Sexava nubila, dan, Thosea monolancha). Perubahan daftar OPTK pada tahun 2011 tidak menunjukkan perbedaan hasil spesies OPTK yang berpotensi invasif dengan pada daftar OPTK 2009. Presentase spesies OPTK yang merupakan invasif kurang lebih 3.5%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua spesies OPTK merupakan spesies invasif seperti yang dinyatakan oleh Lopian (2005).

Agrilus planipennis. Serangga ini merupakan salah satu serangga kumbang

metalik penggerek kayu yang lebih dikenal dengan sebutan Emerald ash borer (EAB). Kumbang ini menjadi invasif dan asli China Timur Laut, Korea, Jepang, dan Rusia. Tubuh imago tidak ada spot, pronotum berwarna hijau keemasan, elitra dan sternit abdomen berwarna hijau, tergit abdomen berwarna tembaga keunguan, pigidium berbentuk cekung seperti duri, dan panjang tubuh 13 mm (Zablotny 2008). Serangan awal A. planipennis sangat sulit untuk dideteksi tetapi dapat dicirikan bahwa tanaman yang terserang kumbang ini tidak mengeluarkan getah

atau cairan dan terbentuk lubang pada pohon seperti huruf “D” sebagai tempat

keluarnya imago. Pendeteksian serangan A. planipennis dapat dilakukan ketika serangan tinggi atau pohon telah mati. Larva menyerang floem dan menggerek lapisan kambium, umumnya serangan dengan pola zigzag. Larva bersifat kanibal terutama pada kepadatan populasi yang tinggi. Imago tertarik pada cahaya, tetapi akan jatuh atau pura-pura mati ketika ada bahaya dan kembali terbang. Imago aktif pada kanopi yang terpapar cahaya dan pada kondisi suhu lebih dari 25 °C. Satu generasi dihasilkan dalam kurun 1 tahun (Wang et al. 2010).

Kumbang ini membuat koloni dan serangannya menyebabkan kematian pepohonan ash, terutama tanaman genus Fraxinus di daerah perkotaan dan hutan. Selain itu, tanaman yang diserang adalah tanaman hias dan pohon yang ada di tepi jalan dan kebun (EPPO 2005).

Anoplophora glabripennis. Kumbang penggerek kayu terbesar di Asia

(33)

16

bertahan hidup pada kisaran suhu 3-39 °C dan jantan pada suhu 2-38 °C. Suhu optimum untuk fekunditas maksimum adalah 23-24 °C. Telur cepat menetas pada suhu 29 °C dan presentase penetasan tertinggi pada suhu 23 °C (Keena 2006). Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan monitoring dan eradikasi (EPPO 2013b).

Anthonomus grandis. Kumbang moncong asli dari Meksiko hingga

Amerika Tengah dan menjadi invasif di USA. Ukuran tubuhnya 6-7 mm, berambut kasar dan moncong melengkung. Elitra beralur dan dipenuhi rambut kaku (Gambar 1). Kumbang ini memakan dan berkembang hanya pada kapas dan tanaman malvaceous. Di daerah beriklim sedang, A. grandis dorman bereproduksi tanpa makan sepanjang musim dingin dan akan kembali aktif hingga kapas berbunga. Di daerah sub tropik dan tropik, imago aktif secara periodik selama musim panas dan musim kapas tidak bereproduksi, dan kumbang akan makan dan bereproduksi setelah tersedia inang yang sesuai. Serangan A. grandis menyebabkan berkurangnya produksi kapas. Pengendalian yang dapat dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida pada daun dan bunga (ISSG 2011).

Bactrocera tryoni. Lalat buah ini dikenal sebagai Q-fly dan QFF yang umum ditemui pada area kota dan hortikultura di Australia Timur. Serangga ini sangat merusak sebagian besar buah-buahan, dan merugikan secara ekonomi. Panjang tubuhnya 7 mm dengan panjang sayap 10-12 mm. Imago berwarna cokelat kemerahan. Imago sepanjang hidupnya dapat meletakkan telur sampai dengan ratusan butir. Perkembangan telur menjadi larva sangat cepat sehingga dapat merusak buah dalam beberapa hari. Inang utama seperti apel, kopi, jambu biji, lemon, mangga, kenanga, pepaya dan tomat serta masih banyak lagi jenis buah impor yang menjadi inang lalat tersebut. Q-fly telah dilaporkan menyerang 60 jenis tanaman liar. Lalat ini mampu beradaptasi pada kisaran iklim yang luas. Lalat mampu bertahan pada suhu -2 ºC sampai dengan 25 ºC bahkan lebih, lalat ini tidak mati pada lokasi yang mengalami musim gugur yang bersuhu -4.5 ºC. Pengendalian dilakukan dengan melakukan kombinasi penyemprotan umpan yang diberi insektisida, menjaga kebersihan di kebun, dan pelepasan jantan mandul (ISSG 2011).

(34)

17

Ceratitis capitata. Hama utama yang menyerang lebih dari 300 inang yang berbeda, terutama pada buah daerah beriklim sedang dan subtropik. Lalat menginvasi di beberapa negara dan penyebab utama kehilangan hasil bagi petani buah. C. capitata memiliki toleransi yang tinggi pada suhu dingin daripada lalat buah lainnya. Selain secara ekonomi, serangan lalat ini menyebabkan penurunan estetika (ISSG 2011). Ukuran imago lalat 3.5-5 mm, dengan corak semburat cokelat kekuningan pada tungkai, abdomen, dan sayap. Tanda pada sayap mempunyai karakteristik khusus (Gambar 2). Tengah kepala ke bawah terdapat seta berwarna putih, mata ungu kemerahan, terdapat rambut di sekitar oceli. Apikal skutelum berwarna hitam. Siklus hidup kurang lebih 1 bulan dan imago dapat hidup mencapai 2 bulan. Kisaran suhu perkembangan yang sesuai antara 13 °C dan 28 °C. Pengendalian dapat dilakukan dengan memasang perangkap dengan umpan yang dikominasikan dengan insektisida malathion (EPPO 2011). Kisaran suhu perkembangan lalat buah yang demikian dan kelimpahan inang berupa buah-buahan sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia sehingga perlu kewaspadaan keberadaan C. capitata di Indonesia mengingat kerugian yang diakibatkannya.

Coptotermes formosanus. Rayap yang banyak ditemukan di daerah subteranian. Rayap ini menyukai daerah kelambaban tinggi dan tersedia kayu. Hama ini bersifat agresif sehingga mampu bersaing dengan spesies lain. Rayap mampu hidup pada suhu 17-32 °C. Pengendalian tidak dapat dilakukan secara tuntas karena faktor koloni yang besar dan berada di dalam tanah. Rayap memakan bahan yang terdapat selulosa. Serangga ini dapat berpindah tempat dengan menginfestasi galangan kapal. Panjang tubuh 4-5 mm. Alate beukuran 12-15 mm. Kerugian yang diakibatkan serangan rayap ini yaitu menyebabkan kerugian ekonomi yang dikeluarkan untuk biaya pengendalian, berkuranngnya persediaan bahan bangunan dari kayu, mampu bersaing dengan spesies rayap yang asli di USA. Pengendalian dapat dilakukan dengan mengawetkan kayu menggunakan creosote dan garam anorganik, termitisida, dan umpan beracun Gambar 2 Imago Ceratitis capitata perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi

(35)

18

(CABI 2013). Indonesia sangat sesuai untuk perkembangbiakan C. formosanus karena suhu yang mendukung dan kelimpahan kayu di Indonesia.

Hypanthria cunea. Serangga ini asli Amerika Utara, menyebabkan kerusakan di area pertanian dan kerusakan keanekaragaman hayati. Serangga bersifat polifagus dan menyerang lebih dari 100 spesies tanaman inang. Serangga ini lebih menyukai inang cottonwood dan chokecherry. Satu tahun dapat terjadi 1 hingga 2 generasi tergantung lokasi. Larva hidup secara gregarius dan sebagai fase perusak (Davis 2011). Di Amerika, suhu optimum untuk perkembangan serangga ini yaitu 22-25 °C dengan kelembaban 70-80%. Serangga ini menyerap menyerang daun hingga gundul. Telur diletakkan 293-1 892 butir selama 1-2 hari (CABI 2013).

Iceriya purchasi. Serangga ini menyebabkan hilangnya cairan pada tanaman sehingga daun dan buah berumur muda menjadi gugur serta kematian cabang dan beberapa tanaman. Keberadaan serangga ini dapat memicu pertumbuhan cendawan jelaga hitam yang menutupi permukaan daun sehingga menghalangi proses fotosintesis. Serangga ini asli Australia dan telah menyebar di beberapa daerah Galapagos (ISSG 2011). Tubuh serangga ini berwarna oranye kecokelatan, dengan tungkai, antena dan rambut tubuh berwarna hitam, serta panjang tubuh 10 mm. Umur jantan lebih pendek daripada betina. Ciri khas serangga ini adalah mempunyai 2 spirakel pada abdomen, dan 3 citracices dan seta yang berwarna hitam. Hama ini telah ada di Indonesia di wilayah Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Papua Barat (CABI 2013).

Ips typographus. Serangga ini asli Eropa dan Asia. Kumbang ini berwarna

cokelat gelap, mengkilat, dan berambut. Tubuhnya berukuran 4.5-5.5 mm, antena berbentuk clavate, dan kepala berada di bawah pronotum. Ciri khusus terletak pada posterior di bagian elitra, dengan ujung seperti penyok dan tepi penyokan terdapat empat tonjolan seperti gerigi, tonjolan ketiga lebih membulat dan besar. Imago betina mampu memproduksi telur 30-80 butir dengan ukuran kurang dari 1 mm. Larva tidak bertungkai. Awalnya, imago jantan menyerang pohon dengan menularkan cendawan Ceratocystis polonica untuk menanggulangi reaksi kimia pada cairan tanaman, kemudian mempersiapkan diri untuk kawin dengan mengeluarkan sex feromon untuk menarik betina di dalam pohon dan selanjutnya betina bereproduksi di dalam pohon. Kondisi lingkungan yang sesuai akan mendukung perkembangan hama dan umumnya 1 generasi tercapai dalam 2-2.5 bulan. Suhu yang rendah dapat menghambat perkembangan hama tersebut. Perkembangan hama yang cepat mencirikan keinvasifan dengan menghasilkan 4-6 generasi per tahun dan itu tergantung pada kondisi lingkungan yang mendukung. Suhu maksimum imago beraktivitas terbang pada 25-30 ºC (CABI 2013). Wabah serangan hama ini mengakibatkan kerugian 30 juta meter kubik pohon cemara di Jerman, dan baru-baru ini serangan hama berserta adanya angin kencang menyebabkan kerugian 7 juta meter kubik pohon cemara di Norwegia dan Swedia (USDA 2013).

(36)

19 kekuningan. Serangga ini mengalami periode dormansi dan mampu bertahan pada suhu antara -30 dan -31.7 ºC. Ada 2 strain L. dispar yaitu strain Asia dan strain Eropa. Strain Asia lebih invasif daripada strain Eropa. Kemampuan terbang L. dispar strain Asia mencapai 25 mil untuk meletakkan telur, sehingga memungkinkan penyebaran yang agresif. Larva instar terakhir mengonsumsi daun paling banyak (85% dari total konsumsi). Wabah berlangsung 2 sampai 4 tahun dan kemudian mati. Kematian umumnya disebabkan serangan virus, parasit, predator, kelaparan, dan kondisi iklim yang tidak menguntungkan. Hama ini menyerang 500 spesies tumbuhan. Serangan dapat menyebabkan kematian pohon mencapai 30-40%. Rambut-rambut serangga ini menyebabkan alergi kulit, mata, dan pernafasan (Fabel 2000). Penyebaran alami juga dapat dilakukan oleh larva instar terkahir yang dapat berjalan hingga 100 m (ISSG 2011). Sebagian inang hama ini merupakan spesies tanaman yang dibudidayakan di Indonesia sehingga perlu diwaspadai pemasukan L. dispar karena kondisi lingkungan di Indonesia sangat mendukung perkembangbiakannya.

Sirex noctilio. Tabuhan asli Eropa ini memiliki resiko invasif yang tinggi.

Di beberapa bagian Asia, tabuhan yang bersimbiosis dengan cendawan Amylostereum areolatum menyebabkan kematian 80% pohon pinus. Ukuran tubuh S. noctilio adalah 12-34 mm, berwarna biru gelap metalik. Tungkai depan dan tengah berwarna kuning atau merah kecokelatan, dan tungkai belakang berwarna hitam. Sayap berwarna kuning. Tabuhan ini mampu beradaptasi pada keragaman suhu dan kelembaban yang luas. Inang utama yang diserang tabuhan ini adalah Pinus spp. Tabuhan dapat terbawa melalui impor palet (ISSG 2011).

(37)

20

Kajian Spesies Serangga Kontaminan yang Berpotensi Invasif di Indonesia Hasil intersepsi dari BARANTAN menunjukkan bahwa ada 5 negara asal produk pertanian impor yang memiliki urutan frekuensi tertinggi yang memiliki andil dalam pemasukan spesies serangga dan tumbuhan asing secara tidak sengaja ke Indonesia. Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki andil pemasukan organisme asing terbanyak ke Indonesia (Tabel 2). Produk pertanian impor dari negara maju tidak menjamin bahwa kualitas produk pertanian dalam hal kebersihan dan kesehatan tanaman akan selalu baik. Adapun organisme serangga dan tumbuhan kontaminan pada berbagai produk pertanian impor dari Amerika Serikat tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Lampiran 1. Produk pertanian impor yang paling sering ditemukan serangga dan tumbuhan asing kontaminan adalah kedelai (Tabel 3). Serangga yang mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 dan 2011 pada umumnya berasal dari Ordo Coleoptera yaitu lebih dari 75% (Gambar 4). Hasil intersepsi BARANTAN tahun 2010 banyak menemukan serangga yang tidak diidentifikasi karena yang ditemukan hanya berupa bagian dari tubuh dan atau stadia serangga. Umumnya serangga yang ditemukan merupakan hama tetapi ada satu spesies yang termasuk agens hayati berupa parasitoid di penyimpanan. Parasitoid tersebut dari Ordo Hymenoptera yaitu Anisopteromalus calandrae.

Ordo Coleoptera yang sering mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 ada 18 famili, sedangkan di tahun 2011 ada 12 famili. Famili Nitidulidae sering ditemukan mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010, sedangkan di tahun 2011 sering ditemukan organisme dari Famili Tenebrionidae (Tabel 4). Hal ini disebabkan produk pertanian impor di tahun 2010 berupa mayoritas produk pertanian yang lembab atau mengandung air dan mudah membusuk, seperti bawang merah, edamame, bawang putih, dan lain-lain. Produk tersebut merupakan inang yang disukai serangga Famili Nitidulidae karena beberapa serangga dari famili ini memakan getah tumbuhan dan cairan pada buah (Government of Canada, Canadian Grain Commission 2013a), tetapi famili ini juga dapat menyerang produk simpanan yang kering. Produk pertanian

Gambar 3. Imago Trogoderma granarium perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi Penerimaan BBKP Tanjung Priok, foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera AxioCam ERc5s)

(38)

21 kering yang dimpor di tahun 2010 banyak yang berbentuk remahan dan sedikit yang berbentuk biji, tetapi di tahun 2011 didominan dengan biji-bijian utuh dan remahan. Famili Nitidulidae merupakan hama sekunder. Biji yang sering diserang di penyimpanan umumnya biji yang telah berlubang atau mengalami kerusakan sebelumnya atau berupa remahan. Famili Tenebrionidae umumnya menyerang biji-bijian yang utuh dan stabil di penyimpanan, meskipun sebagian inang ada yang menyukai tepung atau remahan. Serangga Famili Tenebrionidae umumnya menjadi hama primer. Hal ini yang menyebabkan Famili Tenebrionidae lebih banyak ditemukan pada produk pertanian impor di tahun 2011 yang mayoritas bentuknya berupa biji (Government of Canada, Canadian Grain Commission 2013b).

Hasil intersepsi yang terekam di database Eplaq Sytem BARANTAN pada umumnya kurang dapat menunjukkan jenis produk pertanian yang terbawa atau terkontaminasi serangga maupun tumbuhan asing karena berdasarkan nomor registrasi permohonan masuk. Satu kali permohonan yang masuk terkadang terdiri atas 2 atau lebih jenis produk pertanian dan bahkan rekaman data produk impor tidak mencukupi ruangan yang telah disediakan di aplikasi. Untuk lebih detail dan rinci hasil intersepsi hanya dapat diperoleh dari hasil intersepsi di setiap UPT Karantina Pertanian.

Tabel 2 Lima negara asal barang impor dengan tingkat temuan kontaminasi serangga dan tumbuhan asing tertinggi di tahun 2010 dan 2011*)

Tahun Negara Frekuensi (kali)

Persentase temuan

(%)

Jumlah kontaminan (organisme)

Impor Temuan Serangga Tumbuhan

2010 Amerika Serikat 10 646 351 3.30 23 21

(39)

22

Tabel 3 Lima produk pertanian impor tahun 2010 dan 2011 yang sering terkontaminasi spesies serangga dan tumbuhan asing*)

Tahun Produk pertanian Frekuensi temuan (kali)

2010 Kedelai (Soybean) 219

Bawang merah (Shallot) 109

Beras (Rice) 61

Kayu oak merah

(Round log/red oak logs) 57

Kedelai muda (Edamame) 52

2011 Kedelai (Soybean) 125

Beras (Rice) 78

Jagung (Corn) 17

Beras menir (Broken rice) 12 Bungkil jagung (Corn kernel) 9 *)

Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.

2010

2011

(40)

23 Tabel 4 Lima famili serangga dari Ordo Coleoptera yang sering

mengontaminasi produk pertanian impor di tahun 2010 dan 2011*)

Famili serangga Frekeunsi temuan (kali)

Tahun 2010 Tahun 2011

Anobiidae 51 27

Cucujidae 48 23

Curculionidae 30 37

Nitidulidae 219 28

Tenebrionidae 108 77

*) Sumber: dihitung dari database Eplaq Sytem BARANTAN.

Kedelai yang diimpor pada tahun 2010, terkontaminasi serangga OPTK kategori A1 yaitu Sitophilus granarius (Tabel 5). Seluruh hasil intersepsi menunjukkan bahwa ada 3 spesies serangga asing invasif yang terdaftar sebagai OPTK kategori A1 (Tabel 6). Adanya temuan spesies tersebut baik dalam keadaan mati maupun hidup, sebagai tindakan antisipasi penyebaran spesies yang tahan terhadap perlakuan di negara asal maka di Indonesia telah dilakukan tindakan perlakuan terhadap produk pertanian yang terkontaminasi tersebut.

Tabel 5 Serangga yang sering ditemukan mengontaminasi kedelai impor di tahun 2010 dan 2011*)

Negara asal Nama organisme serangga kontaminan Frekeunsi temuan (kali)

2010 2011

Amerika Serikat Ahasverus advena 2 1

Alphitobius diaperinus 1 -

Araecerus fasciculatus 2 -

Callosobruchus maculatus 2 2

Cryptolestes ferrugineus 3 1

Cryptolestes sp. 1 -

Liposcelis sp. 1 -

Oryzaephilus surinamensis 1 -

Sitophilus granarius 1 -

Cryptolestes ferrugineus 1 -

Tribolium castaneum 2 -

Kanada Oryzaephilus surinamensis 2 -

Tribolium sp. 1 -

(41)

24

Pendeteksian dan identifikasi spesies asing secara langsung dilakukan pada 31 produk pertanian impor dari berbagai negara yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Priok dan bandara Soekarno-Hatta. Keseluruhan hasil pengamatan menunjukkan adanya 156 organisme asing yang terdiri atas kelompok tumbuhan 137 organisme dan kelompok serangga 19 organisme (Lampiran 2). Beberapa foto serangga kontaminan terdapat pada Lampiran 3. Sembilan belas organisme serangga kontaminan terdiri atas 15 spesies, 1 genus, 1 famili, dan 2 ordo. Jumlah organisme asing terbanyak ditemukan pada kedelai impor dari Amerika Serikat yaitu 48 organisme. Kelompok serangga yang terdeteksi mayoritas merupakan serangga gudang kosmopolitan. Ada beberapa serangga yang merupakan hama pada kayu yaitu A. sulcicollis, M. robiniae, dan P. sanguineum. Dua diantara hama kayu tersebut merupakan serangga yang berpotensi invasif, sedangkan P. sanguineum merupakan spesies yang terancam punah (Tabel 6). Data koleksi yang bersumber dari kegiatan intersepsi untuk kelompok serangga tidak ada yang menunjukkan OPTK atau spesies yang berpotensi invasif. Data koleksi serangga yang ada di BBKP Soekarno-Hatta terbatas dari hasil pemantauan sehingga data koleksi serangga intersepsi hanya diperoleh dari BBKP Tanjung Priok.

Tabel 6 Status spesies serangga asing yang belum ada di Indonesia Agrilus sulcicollis Kayu log oak

merah/ Jerman

Identifikasi Invasif Megacyllene robiniae Kayu log oak

merah/ Jerman

Identifikasi Invasif Pyrrhidium sanguineum Kayu log oak

merah/ Jerman

Identifikasi Terancam punah Ceratitis capitata*) Longan fresh/

Thailand

Intersepsi tahun 2010

Invasif Kurma/Mesir

Sirex noctilio*) Kayu (Logs)/ Amerika Serikat

Intersepsi tahun 2010

Invasif Trogoderma granarium*) Soybean Meal/

Argentina Sitophilus granarius**) Kedelai/ Amerika

Serikat

(42)

25

A. sulcicollis. Serangga ini merupakan kumbang yang lebih dikenal dengan European oak borer (EOB). Ukuran tubuh 7 mm, warna biru metalik, dan elitra mengkilap (Gambar 5). Rincian deskripsi seperti pada laporan Jendek dan Grebenniko (2009). Siklus hidup mencapai 1 hingga 2 tahun. Imago menyerang batang dan pohon yang berdaging tebal dan lemah. Telur diletakkan di bawah kulit kayu. Larva hidup dan menyerang bagian antara floem dan kulit kayu, sehingga membuat pohon mudah terbakar. Serangga ini asli Eropa dan di Asia meliputi Azerbaijan, Georgia, dan Kazakhstan tetapi kemungkinan yang dilaporkan di Asia ialah A. buresi. Serangga ini lebih menyerang oak. Selain itu, dapat menyerang Fagus sylvatica, Castanea. Spesies ini pernah dikoleksi di Kanada menggunakan perangkap pada pohon Quercus rubra, Sticky-trapp pada Carya cordiformis, dan perangkap di pohon Fraxinus sp. Kumbang A. sulcicollis diketahui invasif di Kanada, yakni di Ontario Selatan. Serangga ini diperkirakan telah masuk Ontario pada tahun 1995 (Jendek dan Grebenniko 2009). Spesies ini memiliki genus yang sama pada spesies invasif yang terdaftar dalam GISD yaitu A. planipennis. Spesies ini belum ada laporan yang menyatakan keberadaannya di Indonesia.

Gambar 5 Imago Agrilus sulcicollis perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)

Megacyllene robiniae. Locust borer, merupakan sebutan nama untuk kumbang berwarna hitam, dengan garis berwarna kuning melintang pada toraks, dan di setiap elitra terdapat pola “V” berwarna kuning sehingga jika elitra

(43)

26

Serikat (Karren 2003). Menurut Ciesla (2011) serangga ini menyebar di Amerika Utara, Kanada Selatan, dan USA. Inang utamanya ialah Robinia pseudoacacia dan dapat menyerang kultivar Genus Robiniae lainnya seperti R. neomexicana. Pohon yang rentan terhadap serangan hama ini adalah pohon yang tingginya kurang dari 6 in, pohon yang vigornya melemah, pohon yang sakit, pohon pada kondisi kering dan kurang gizi (Karren 2003). Serangga ini termasuk dalam daftar spesies invasif yang telah menetap di Oregon tahun 2000 (Nugent et al. 2005). Selain M. robiniae berpotensi merusak, kriteria potensi invasif juga didukung oleh keinvasifan inangnya. R. pseudoacacia merupakan spesies invasif. Tanaman ini telah dibudidayakan khususnya di Jawa yang lebih dikenal dengan sebutan Jati Unggul. Tumbuhan ini pernah dilaporkan invasif di Amerika Selatan, Australia, Bostwana, beberapa negara bagian Amerika Utara, beberapa negara bagian Eropa, Israel, Namibia, New Zealand, dan Turki (CABI 2013), tetapi belum ada pelaporan tentang hama tersebut di Indonesia. Invasi yang diakibatkan tumbuhan ini berdampak menghambat pertumbuhan tanaman asli dan mempengaruhi komposisi tumbuhan di dalam ekosistem. Selain itu, R. pseudoacacia mampu memfiksasi nitrogen dan keberadaannya menyebabkan peningkatan kadar nitrogen di perairan (Sabdo 2000). Perlu kewaspadaan tinggi masuknya hama M. robiniae ke Indonesia karena dapat merusak R. pseudoacacia yang dibudidayakan di Indonesia. Meskipun R. pseudoacacia dibudidayakan di Indonesia perlu perhatian khusus cara pengelolaan yang baik dalam skala budi daya agar tidak menjadi invasif di Indonesia.

Pyrrhidium sanguineum. Longhorned beetle merupakan kumbang yang menyerang kayu dan cabang tebal yang baru mati yang terpapar matahari atau bagian batang oak. Larva menggerek kayu dan membuat jalur datar di bawah kulit kayu. Hidupnya bergantung pada ketersediaan kayu dan cabang tebal yang mati. Kumbang ini dilaporkan bertahan hidup pada habitat hutan yang memiliki proporsi kayu tegakan hutan yang tinggi seperti di bagian Timur dari Småland dan Öland pusat. Kumbang telah menyebabkan masalah pada limbah pemotongan Gambar 6 Imago Megacyllene robiniae perbesaran 6.5x (Sumber: foto oleh

Rahma, mikroskop stereo ZEISS Stemi 2000-C, kamera Canon Ixus 1000HS)

16

Gambar

Tabel 1.  Spesies serangga invasif yang tergolong OPTK
Gambar 3. Imago Trogoderma granarium perbesaran 6.5x (Sumber: Koleksi
Tabel 2   Lima negara asal barang impor dengan tingkat temuan kontaminasi *)
Tabel 3  Lima produk pertanian impor tahun 2010 dan 2011 yang sering terkontaminasi spesies serangga dan tumbuhan asing*)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis mengenai implementasi CITES dalam mengendalikan perdagangan ikan Napoleon Wrasse sebagai spesies yang terancam punah di

Hasil validasi model menunjukkan bahwa model yang dibangun berdasarkan Analisis Regresi Logistik Biner menghasilkan 3 (tiga) kelas kesesuaian habitat kirinyuh yaitu pada

Hasil validasi model menunjukkan bahwa model yang dibangun berdasarkan Analisis Regresi Logistik Biner menghasilkan 3 (tiga) kelas kesesuaian habitat kirinyuh yaitu pada

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) yang disebabkan oleh Bovine herpesvirus -1 (BHV-1) diketahui telah menyerang ternak sapi di Indonesia dengan sebaran penyakit

Uji heteroskedastisitas menunjukkan variable independen dalam model, yakni return pasar, size (SMB) dan book-to-market value (HML) tidak ada yang signifikan pada

Sedangkan untuk pengaruh variabel makro ekonomi domestik (nilai tukar mata uang, tingkat suku bungadan inflasi) di Indonesia dan Malaysia ternyata memiliki pengaruh yang

dari negara maju yang masuk ke Indonesia tidak terkontrol sehingga dampak negatifnya juga tidak diketahui. b) Ada beberapa produk tanaman transgenik pangan yang

Trans Indonesia Superkoridor Tasikmalaya diperoleh informasi bahwa masih ada beberapa pegawai yang tidak disiplin dalam melakukan pekerjaannya, hal ini dapat terlihat dari beberapa