• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelas sosial dan gaya hidup materialisme pada remaja SMU di Jakarta Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kelas sosial dan gaya hidup materialisme pada remaja SMU di Jakarta Selatan"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

KELAS SOSIAL DAN GAYA HIDUP MATERIALISME

PADA REMAJA SMU DI JAKARTA SELAT AN

Oleh:

SURYAN! .

..

NIM. 99190161;32'1;.

1 •...

FAKULTAS PSIKOLOG!

UNIVERSITAS !SLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

HUBUNGAN ANTARA KELAS SOSIAL DENGAN

GAYA HIDUP MATERIALISME

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Oleh : Suryani

NIM :3919016132

Di Bawah Bimbingan:

Pembimbing

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNI\IERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul "Kelas Sosial dan Gaya Hidup Materialis pada Remaja SMU di Jakarta Selatan" telah diujikan dalam Sidang Munaqasah Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Februari

2004 Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.

f<etua merangkap anggota

Ora. Hj. Netty Hartati, M.Si. · NIP. 150.021.5938

Penguji I

Ora. Afidah Mas'ud. NIP. 150. 228. 775

Sidang Munaqasah

Sekretaris erangkap anggota

Pembimbing

. /

Penguji II

Prof. Hamdan Yasun, M.Sc

(4)

ABSTRAK

Suryani. Hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme. (2004) . Skripsi. Jakarta. Fakultas Psikologi UJN Syarif Hidayatullah Jakarta, Februari 2004.

Diseluruh belahan dunia, masyarakat pada umumnya didasari oleh adanya orientasi nilai terhadap sesuatu yang dianggap penting dan paling berharga. Dan bagi individu-individu sebagai anggota masyarakat tersebut akan

memperoleh kedududkan yang lebih tinggi dari pada yang lain ketika ia

memiliki sesuatu yang diagungkan tersebut. Umumnya masyarakat Indonesia memberikan penilaian yang tinggi tehadap benda-benda material, maka anggota masyarakat yang memiliki kekayaan terbesarlah yang menduduki posisi teratas dan terhormat dalam masyarakat tersebut. Dan nilai ini jugalah yang menjadi sumber terbentuknya kelas atau lapisan dalam masyarakat dalam bentuk hirarkis. Pada masing-masing kelas atau lapisan sosial dimana frekuensi interaksi mereka cukup tinggi, maka disadari atau tidak akan

tercipta aturan, norma dan nilai tersendiri yang tanpa disadari menggiring anggota masyarakatnya untuk patuh atau menjadi konfrom akan hal tersebut.

Dan aturan, norma dan nilai tersebut berfungsi sebagai pembentuk atau sebagai sesutu yng dapat mempengaruhi adanya perubahan kepribadian, pola interaksi, pola fikir yang dengan begitu berarti akan berpengaruh terhadap pola hidup (gaya hidup) anggotanya, dimana ketika dalam

masyarakat pada umumnya menilai tinggi dan lebih berorientasi pada materi maka tanpa disadari gaya hidup individu-individu sebagai anggotanya juga berorientasi kepada materi. Dimana gaya hidup materialis dapat difahami secara sederhana sebagai pola atau rumusan individu dalam menghabiskan waktu dan menggunakan uangnya. Berdasarkan gambaran dan alasan

tersebutlah peneliti mengasumsikan bahwa ada hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme.

Penelitian ini akan menjawab pertanyaan mengenai "Adakah hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme remaja ?". Untuk itu penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sedangkan dalam prosesnya penelitian ini mengambil populasi remaja berstatus pelajar SMUN 34 Jakarta Selatan, sedangkan untuk proses metode perolehan sampelnya

menggunakan probability sampling, yang berarti bahwa setiap siswa SMUN di Jakarta Selatan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi subjek penelitian jika mereka memiliki karakteristik yang sama dengan subjek

(5)

mana saja yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek penelitian yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini digunakan dua buah skala, skala pertama adalah skala kelas sosial dan yang kedua adalah skala materialism. Untuk perolehan datanya, penelitian ini dilakukan dalam dua yakni tahap uji coba yang dilakukan di SMUN 46, dan tahap penelitian yang sebenarnya, yang dilakukan di SMUN 34. Untuk pengolahan datanya digunakan product moment Pearson untuk melihat daya pembeda dari masing-masing aitem, dan menggunakan Alpha Cronbach untuk mengukur reliabilitas dari aitem dari kedua skala penelitian yang digunakan.

Dari proses pengolahan data menunjukan hasil bahwa tidak ada hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme. Hasil penelitian ini diperoleh melalui analisa data yang menggunakan rumus Chi-Kuadrat dengan perolehan hasil Xh 2 < Xt2 yang berarti ho diterima dan hi ditolak.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada dua faktor yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap terciptanya gaya hid up materialisme seseorang dibandingkan kelas sosial yakni yang pertama adalah kesadaran kelas sosial (peran kelas sosial), yang kedua adalah konsumerisme. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperbesar jumlah sampel agar dapat digeneralisasikan tidak hanya untuk remaja pada tempat dilakukannya penelitian itu saja, akan tetapi juga berlaku untuk remaja secara keseluruhan.

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang Maha Kuasa atas segala penciptaan alam

semesta. Kuasa bagi-Nya berikan kelapangan dan kesulitan bagi siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Maha besar Allah atas apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi

Muhammad SWA, abadilah segala keteladanan yang semoga selalu

memotivasi seluruh pengikutnya untuk mentauladaninya hingga akhir zaman.

Proses pengembangan diri telah mengantarkan penulis pada tahapan dimana diperlukan keteguhan dan ketegaran selama proses penyelesaian skripsi ini. Dan dalam proses penyelesaian skripsi ini tentunya penulis banyak menemui hambatan yang sulit untuk dilalui tanpa dukungan, motivasi,

bantuan dan doa dari semua fihak. Kiranya patut bagi penulis mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT selalu terucapkan atas terselesaikannya

penyusunan skripsi ini. Teriring ucapan terimakasih terucapkan, khususnya kepada:

1. Ora. Hj. Netty Hartati, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi dan Ors. Ahmad Syahid, M.Ag, selaku dosen pembimbing akademik , Bpk. Rahman dan lbu Tya, serta seluruh dosen pengajar yang telah memimbing dan memberikan pengajaran selama ini.

2. Ors. Asep Haerul Gani, Psi. dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan motivasi, membantu dan meluangkan waktu, tenaga, fikiran hingga terselesaikannya skripsi ini.

3. Aby (Alm) dan Umy yang selalu berusaha memberikan yang terbaik juga yang selalu berdoa untuk kebaikan putra-putrinya. Dan yang

(7)

kakak-kakakku semua yang sejak kecil hingga kini dan nanti selalu menjaga dan mengiringi perjalanan hidupku dengan kasih sayang serta selalu memberikan bantuan moril dan material. Bersyukur aku memiliki kalian sebagai saudara-keluargaku. Untuk kakak Syahid yang membantu dan mengantar ke sekolah-sekolah, ke kampus dll. Tnx's & Semoga Tuhan membelas kebaikanmu Ka'.

4. Segenap pendiri dan pengurus lsYA, Tante Lia (Almh), Mba.Daesy, mas. Koko. mas.Agus, dan teman-teman pengurus lainnya serta seluruh anggota ls YA atas kesempatan, motivasi dan kerja sama juga pengertiannya hingga terselesaikannya sekripsi ini.

5. Semua sahabatku yang selalu ada untuk saling berbagi dan mengiringi langkahku menuju cita-cita kita bersama, untuk Ari, Ima, Nisa, Anis, Eva, Emma, Ai, Hudan, Daniel, Deden, Sapik, Jay, Dian, Farida,Neny,

Tnx's God I found u as my best friend!!. Untuk Lilies, Edo,

Muf ,Chotimah, Reny, Eva f. dan seluruh angkatan '99 yang tidak disebutkan satu persatu, terimakasih atas motivasi, bantuan dan kebersamaan kita. Untuk sabry-na Tnx's, Keep on Moving Rini! 6. Sobat-sobatku di angkatan 2000 Echi and the genk, lyank, Rif, Adi,

dkk, Untuk angkatan 2001 Hanum, HQ, Makky, Yeyen, Evan, Dana, Tia, dan semua adik kelas lainnya, tnx's atas motivasi dan doa kalian. Tetaplah menjadi sahabat sejati bagi siapa saja. Tuk sobat sejati ku di the nine stars, Ocha, Dilla, Zila, llal, Ina, Ip, Tyty, Dathi, tetap kompak !! 7. Untuk SMUN 46 dan SMUN 34 Jakarta Selatan, atas kesempatan dan

kerja samanya dalam proses penelitian dan terselesaikannya skripsi ini. Terima Kasih atas segala motivasi, bantuan dan doanya, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian. Dan semoga skripsi ini bermanfaat. Amin.

(8)

DAFTAR ISi

Abstraksi ... .

Kata pengantar ... iii

Daftar isi ... vii

Daftar Tabel dan Bagan ... ix

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

Q

Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 11

1.2.1 Pembatasan Masalah ... 11

1.2.2 Perumusan Masalah ... 12

1. 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .. .. . . .. .. .. . .. . . ... 12

1.4 Sistematika Penulisan ... 13

(BA13V

KAJIAN TEORl ... 15

2. 1 Deskripsi Teoritik ... 15

2. 1. 1. Pengertian Kelas social ... 15

2.1.2. Faktor pembentuk mobilitas social ... 21

2 .. 2. Pengertian gaya hidup materialisme ... 34

2.2.1.1. Pengertian gaya hid up ... 34

2 .. 2.2. Pengertian materialisme ... 37

2 .. 2.2.1. Pengukuran gaya hidup materialisme ... 44

2 .. 3. Pengertian remaja ... .47

2 .. 3.1. Ciri-ciri remaja ... 50

2 .. 3.2. Materi sebagai Symbol status bagi remaja ... 58

2.1.3.3. Perilaku konsumsi remaja sebagai anggota masyarakat. ... 65

(9)

J

-BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ... 67

3.1. Disain Penelitian ... . ··· ... 68

3.2. Pengumpulan Data ... . . ... 68

3.2.1. Populasi dan Sampel. ... . . ... 68

3.2.2. Metode dan lnstrumen ... 70

3.2.3. Teknik Pengumpulan Data ... 76

3.2.4. Analisa Data... . . .... .. .. .. .... .... ... ... . ... 78

3.3. Main Study... . ... . . ... .79

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 81'.

4.1. Gambaran Umum Responden ... 81

4.1.1. Berdasarkan kelas sosial. ... 81

4.1.2. Berdasarkan materialisme.. ... .. .... ... ... .... .. . .. ... 82

4.13. Hubungan antara kelas sosial dengan gaya hid up materialisme ... 83

BAB 5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1: Kesimpulan... .. ... 91

5.2. Diskusi ... 92

5.3. Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

DAFTAR TABEL

BAB 2

[image:10.595.57.459.150.568.2]

Ta be I 2. 1. : Tabel karakteristik kelas sosial ... 30

Tabel 2.2. : Tabel Kisi-kisi kelas sosial. ... 31

Tabel 2.3. : Tabel karakteristik materialisme ... 45

BAB3 Tabel 3.1. : Tabel penghitungan skala materialisme ... 71

Tabel 3.2. : Sebaran butir skala kelas sosial ... 72

Tabel 3.3. : Sebaran butir materialisme ... 73

Tabel 3.4. : Sebaran aitem kelas sosial yang valid ... 73

Tabel 3.5. : Sebaran aitem materialisme yang valid ... 74

BAB4 Tabel 4.1. : Sebaran sampel berdasarkan kelas sosial ... 81

Tabel 4.2. : Sebaran sampel berdasarkan gaya hidup materialisme ... 82

Tabel 4.3. : Sebaran sampel berdasarkan faktor materialisme ... 83

Tabel 4.4. : Sebaran sampel berdasarkan kode ... 84

Tabel 4.5. : Tabel silang ... 86

(11)

DAFTAR BAGAN

(12)
(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Manusia pada umumnya di!ah·r{.an seorang diri, akan tetapi pada kehidupan

selanjutnya tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sulit hidup tanpa orang lain.

Setiap individu merniliki berbagai keinginan dan kebutuhan yang ingin

dipenuhi bahkan harus terpenuhi Untuk itulah manusia membutuhkan orang

lain, dimana setiap individu melakukan interaksi dan negosiasi dengan

lingkungannya demi tercapai kebutuhan dan keinginannya.

lnteraksi yang dilakukan tersebut tanpa disadari seolah membentuk

individu-individu yang saling berinteraksi tadi saolah menjadi sebuah

ke!ompok-kelompok dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam sebuah rnasyarakat.

Adapun hal yarig dapat rnernbedakan inclividu-individu dalam sebuah

masyarakat sarigatlah beragam, semua ini tergantung pad a apa yang

dianggap bernilai tinggi dalam masyaraknt tersebut. Hal yang dianggap

penting dan bernilai tinggi dalam sebuah masyarakat akan menempatkan hal

tersebut sertci individu yang meniilikinya memperoleh kedudukan yang tinggi

(14)

Bila saja dalam sebuah masyara'<at lebih menghargai kekayaan material dari

pada pendidikan, maka anggota masyarakat yang memiliki kekayaan material

yang berlimpahlah yang menduduki posisi terhormat dan teratas

dibandingkan dengan anggota masyarakat yang berpendidikan tinggi. Gejala

tersebui menimbulkan pengelompokan dan kelas ataupun lapisan-lapisan

dalam masyarakat.

Sejak zaman refolusi perancis pada masa kepemimpinan Lois ke XIV telah

ditemukan bahwa adanya perbedaan kedudukan individu sebagai anggota

masyarakat yang terdiri dari kaum bangsawan yang kaya raya, pedagang

dan kaum yang beranggotakan individu yang tid3k memiliki harta benda.

Maka jelaslah bahwc; clalam sebuah masyarakat, disadari ataupun tidak

dengan serta merta individu sebagai anggota masyarakat memperoleh

bahkan memiliki kedudukan atau lapisan dalam tingkatan-tingkatan yang

berbeda s'"suai dengan apa yang dianggap lebih dihargai atau dinilai tinggi

oleh mas\1arakat tersebut.

Terbaginya individu dalam masyarakat pada sebuah tingkatan-tingkatan yang

berbeda, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan anggota

masyarakatnya. Mulai dari adanya perubahan atau pergeseran nilai dalam

kepribadian, aktivitas, minat maupun pendapat hingga pada pola konsumsi

(15)

Semua l1a, ini terjadi dikarenakan rnasyarakat sehagar ternpal her·kumpulr1ya

individu-individu dari berbagai /atar belakang yang berbeda rnerniliki interfensr

dan kekuasaan yang cukup besar dalam proses i<ehidupan individu-individu

sebagai anggotanya.

Contohnya masyarakat Indonesia, yang pada umumnya menganggap

kepemilikc.n harta benda ber/impah merupakan ha/ yang terpenting dalam

hidupnya. Benda-benda berbentuk material diyakini sebagai suatu peralatan

atau perlengkapan yang dapat memudahkan seseorang da/a,11 menjalankan

kehidupannya. Contohnya saja orang yang membeli dan memiliki berida

material seperti mobil, motor, mesin cuci, lemari es, TV, computer, telepon

selular, dan lain sebagainya. Secara fungsional, peralatan ini memang sangat

bermanfaat dan memenuhi keb:.ituhan serta menambah mobilitas dari

kelangsungan l1idup manusia.

Bukan hanya itu, ketika berdasarkan sejarah perkembangan teknologi dan

ilmu pengetahuan, pengembangan, kemajuan serta penemuan-penemuan.

baru di berbagai bidang kehidupan ditujukan untuk memudahkan

kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia di dunia secara kese/uruhan.

Begitupun dengan tujuan utama dari pembangunan di bidang ekonomi yakni

memungkinkan seseorang untuk mencapai taraf hidup yang /ayak. Dari

(16)

berusaha memperoleh kesejahteraan dengan berbaga1 cara untuk

memperoleh beragam macam benda material yang diyakini dapat

mempermudah dan mensejahterakan kehidupannya.

Bila dilihat dari perilaku konsumen da!am m&ngkonsumsi, pada awalnya

mungkin orang-orang membeli atau mengkonsumsi beragam produk barang

hanya karena kebutuhan, hanya untuk sekedar mempertahankan hidup atau

untuk lebih rnempermudah diri mereka da/am menja/ankan kehidupan. Akan

tetapi semua bergeser ketika persaingan tadi terjadi dan berlaku bagaikan

virus yang merubah gaya hidup, po/a fikir dan orientasi nilai bagi kehidupan

orang-orang secara umurn. Perubahan tersebut menimbulkan

kegemaran-kegemaran, kebutuhan serta keinginari dan harapan-harapan baru., yang

d1sadari ataupun tidak memotivasi para konsurnen untuk dapat mernenu/1inya.

Yang menjadi pertimbangan bagi para konsumen bukan Jagi berhenti pada

titik terpenuhinya ks..,c1tuhan atau "yang penting ada dan dapat bertahan

hidup". Akan tetapi lebih dari itu, orang-orang sudah mulai berfikir dan

merubah pertimbangan dari kegiatan membeli atau konsumsinya pada

hal-hal yang dahulu tidak begitu diperhatikan atau menjadi prioritas, seperti

misalnya bentuk, warna, harga, r,1erek ataupun makna simbolik dan nilai dari

(17)

James F. Engle, Roger D. Blackwell dan Paul W. Miniard (1995) menyatakan

bahwa pertimbangan pembeli lebih berdasarkan pada fungsi, bentuk, dan

"arti" dari sebuah produk yang akan dibelinya. Juga tak lepas dari masalah

kebutuhan dan keinginan serta harapan konsumen dalam membeli produk

tersebut.

Dimana :nasyarakat memiliki interfensi yang kuat dalam perilaku

individu-individu yang menjadi anggotanya. Begitupun dalam hal konsumsi, system

kemasyarakatan sangat mempengaruhi individu-individu sebagai anggotanya

dalam perilaku konsumsi, karena masyarakatlah yang menilai dan

memegang kendali untuk dapat mernproyeksikan, memberi gambaran serte

menunjukkan bagaimana mereka ingin menjadi, atau masyarakat dengan

individu-inrlividu yang seperti apa yang ada didalamnya.

5

Dan hal ini berimbas pada tingkat dan jenis kabutuhan, keinginan, kehidupan

sosial, gaya hidup, serta pola fikir sekaligus aplikasi nilai dan norma

kehidupan individu sebagai anggota dalam lingkungan masyarakatnya. Bila

individu-individu yang ada didalamnya i11gin diakui, diterima dan iadi bagian

atau bahkan ingin memperoleh kedudukan yang setara bal1ka11 lebih, maka

individu-individu tersebut seharusnyalah konform terhadap peraturan yang

(18)

Contohnya saja, masalah komunikasi pada masyarakat moderen bukanlah

masa/ah yang besar karena yang perlu dilakukan sangat/ah mudah dan cepat,

seirir.g dengan kemajuan teknologi yang ada. Bila orang-orang di zaman dulu

menggum1kan a/at telekomunikasi yang seadanya, sekarang masyarakat

moderen baru akan puas bi/a mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan

d1manapun r.1ereka butuh dan inginkan. Contohnya saja pada artikel yang

ditulis seorang jurnalis dalam /1eadline yang berjudul "Ponse/ anda cermin

anda", Mobile Community Magazine, edisi july 2003, yang menggambarkan

betapa ponsel yang ada sekarang dapat dikatakan telah memenuhi

kebutuhan dan keingirsn konsu;nen.

Meski pada awalnya ponsel dig•Jnaka'l oleh orang-orang dengan tingkat

sosial, tinskat kesibukan dan segala kompleksit2.s yang bertaraf tinggi,

karena hc:rga, merek, dan fariasi yang ada saat itu masih tergolong terbatas.

Bcrbeda keadaannya di era moderenisasi ini ketatnya persaingan dan

kompetisi pasar menjadikan produk ini tersegmentasi Tidak hanya dari harga,

bentuk, dan fungsi saja, tapi juga disesuaikail dengan jenis kegiatan, minat ,

bahkan ponsel yang dimilikinya dapat dijadikan sebagai symbol personal atau

dapat digunakan untuk mengungkapkan seperti apa orang yang memiliki

(19)

Atau dalam contoh lain, dalam tidang periklanan, hampir seluruh iklan yang

dibuat mengetenaghkan atau menonjolkan kelemahan orang, maksudnya

adalah ketika orang menyadari kekurangannya dan menyadari untuk

menutupi atau memenuhi kebutuhan dan kelemahannya tersebut, dimana ·

orang-orang tersebut akan membeli dan mengkonsumsi bahkan menjadi

loyal terhadap produk yang dalam iklannya menjanjikan pemenuhan

kebutuhan dan keinginan serta menghilangkan kelemahan para konsumen

tad'.

7

Contoh dala<n keseharian dimana dituntut komformitas terhadap apa yang

dianggap penting oleh lingkungan sosialnya. Misalnya saja dalam hal mode

pakaian, sebagai masyarakat muda, remaja selalu ingin menjadi beda dari

kalangan manapun, tidak peduli dari status sosial tinggi ataupun rendah

remaja tetap remaja. Bagi mereka pal<aian yang mereka kenakan haruslah

mencerminkan kepribadian mereka, tetapi yang lebih penting adalah mode

pakaian yang yang mereka kenakan haruslah sesuai dengan teman

sebayanya, dan kebanyakan meref;a untuk 111asalah mode pakaian berkiblat

pada mode luar negri. Sedangkan yang dikenakan orang luar negri tersebut

tentunya memiliki harga yang mahal dengan menok-merek terkenal dan mode

yang selalu upjate, sesuai den9an karakteristiknya remaja Pdak peduli

(20)

orang-orang luar nE'.gri yang diy&kininya selalu membawa perubahan yang

sangat mengerti jiwa dan kebutuhan mereka.

Secara l0gika, bagi remaja dari kalangan kelas sosisal tingkat atas, hal itu

tidak masala/1, artinya mereka dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya

untuk menjadi setara dengan apa yang mereka ingin menjadi. Tapi tidak

untuk remaja yang memiliki kelas sosial yang menengah bawah terutama

remaja di .ingkat >osial yang rendah. Ajaibnya adalah rasionalisasi tersebut

terpatahkan mentah-mentah, karena pada kenyataannya kemajuan teknologi

dan kreatifnya para produsen membuat sesuatu yang awalnya tampak

irrasional menjadi hal yang rasional dan sederhana saja. Remaja kalangan

menegah - bawah, tampak tidak jauh berbeda dengan remaja di l:alangan

alas.· Mesl<i mereka mungkin membeli pakaian dengan merek berbeda a tau

dengan merek yang palsu atau dikenal dengan istilah "pembajakkan", yang

penting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat sama, satara, dan

secara tidak langsung menaikan status sosial mereka di masyarakat terutama

dikalangan teman sebayanya.

Begitulah kenyataan yang ada, dalam pergaulan sehari-hari sama saja,

dimana remaja dengan segala kompleksitas kepribadiannya, mereka bergaul,

berkelompok, saling berbagi seolah menjadi bagian dari kehidupan teman

sebayanya, dimana pada masa itu seseorang dinilai dan dipandang dari apa

(21)

tersebut di tole- k oleh teman sebayanya c.dalah sebuah hukuman yang sangat

berat bagi mereka, begitupun dengan penolakan atau diragukan

keheradaannya dalam artian kemampuan dan eksistensinya di masyarakat

juga merupakan suatu musibah yang sangat berat dan sulit diterima.

9

Berdasarkan contoh-contoh diatas, maka benarlah kiranya ungkapan Fromm,

(1976 : 8) bahwa masyarakat modereri mengidentifikasi dan menunjukkan

status sosial mereka dengan ungkapan atau prinsip "/am = what I have and

what I consume", atau dalam prinsiµ lain yang diadopsi dari Descrates's yakni

cogito ・イセQP@ sum yang dapat diartikan rnenjadi I shop, therefore I am.

Ungkapan dan ヲッイュセjゥ。@ ini menunjukkan usaha pemilikan benda material

yang di konsurr,si konsumen memiliki makna simbolik atas apa yang mereka

korsumsi. Mereka yekin bahwa kepemilikannya memainkan peran penting

dalam kehidupan sehari-hari. Dimana cara pandang mereka jadi terpengaruh

dan orientasinya bukan lagi pc.0a benda yang dimiliki orang lain atau dirinya

sendiri, tetapi lebih ke;:iada maksud atau symbol status yang mereka ingin

tunjukkan.

Sedangkan makna symbolik yang diharapkan dari kepemilikan benda-benda

material bagi para remaja adalah sebagai persona dalam menjalani tugas

perkembangannya. Dimana minat dan aktifitas serta pendapat-pendapat dan

(22)

10

sebagai proses pencarian jati diri, identitas dan pengembangan d'ri mereka.

Ketika semua dirasakan benar-benar bisa dijadikan sebagai proses

aktualisasi diri dan memberi kepuasan seka:igus dapat menggambarkan

status social dan menaikan harga ciiri, hal ini lambat laun akan menjadi

kebiasaan yang kemudian diinternalisasikan hingga menjadi pilihannya dalam

menjalankan kehidupanya.

Remaja yang awa/nya tidak begitu menilai ber.da-benda material atau

perilaku hedonis sebagai suatu yang di2nggap penting atau sebagai

keharusan, cepat ataupun lambat akan mulai menginternalisasi nilai-nilai

yang dianggap penting bagi ke/ompok sosialnya tersebut. Sebut saja seperti

contoh-co itoh sebelumnya seperti ponsel. Kadang atau memang bila mereka

sadari betul fungsi dari ponsel atau bergaya pakaian yang ュ・イセォ。@ pilih atau

miliki tidak sepenuhnya atau tidak seluruhnya mereka butuhkan atau inginkan.

0

Dengan begitt.:lah remaja bahkan masya,·akat secara luas menjadi

materialism, dimana mereka saling bersaing untuk menjadi lebih tinggi

tingkatannyo dalam ke/ompok sosialnya, dengan sela/u iri atau tidak senang

bila orang lain lebih darinya, dan tidak mau berbagi dengan ornng lain,

karena merel;a ingin hanya dirinya/ah yang rnenjadi terbaik dan tersukses

(23)

11

"I think all things say something about you. It maight be 'I don't care' or it

might be 'I think I'm .wonderful - take a good look at me', but I think everyone

finds their balance by buying tile things that reflect them best".

( Denis Lew;s, dalam Helga Dittmar, 1992)

Berdasarkan penjabaran dan contoh diatas serta kenyataan lain yang serupa

itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengangkat masalah apakah

seseorang bergaya hidup materialis dipengaruhi oleh latar belakang kelas

sosial yang berbeda atau tidak. Dan untuk itulah penelitian ini menga.1gkat

judul:

"Hubungan antara Kelas Sosial terhadap Gaya Hidup Materialisme"

1.2. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.2.1. Pembatasan Masalah

Kelas sosial yang dimaksudkan adalah pembagian anggota masyarakat

kedalam kelas-kelas berupa ting:<atan atau hirarkis, dimana individu atauptm

keluarga yang ada didalamnya saling berbagi nilai-nilai, gaya hidup, minat

dan perilaku yang dapat dikategorikan dalam bentuk prestise dan esteem

(24)

Sedangkan materialisme yang dimaksud adalah nilai multidimensional dalam

diri remaja yang meliputi possessiveness, envv (displeasure at someone else

possessing something), non-generousity (unwillingness to give or share

possessions), centrality, dan memiliki benda material diyakini sebagai sumber

kebahagiaan.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja yang berada di

lingkungan perkotaan, dalam hal ini Jakarta. Dengan rata-rata usia antara

lrrna belas sampai delapan belas tahur. (15 - 17 tahun ).

1.2.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masa/ah diatas, maka masalah yang_ akan dibahas

dalam f18nelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

Adakan hubungan antara kelas sosial terhdap gaya hidup materialisme ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Pen-?litian

Mengacu pada latar belakang dan perumusan masalah penelitian ini, maka

tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya

(25)

v

Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya

wawasan mengenai perilaku konsumsi yang dilaKukan remaja, untuk

menamba:i wawaasan tentang bagaimana perilaku remaja sesuai tahap

perkembangan serta proses pembentukan pola hidup mereka yang dilatar

belakangi oleh l<e/as sosial yang berbeda. Dan diharapkan pula dapat

menambah pengetahuah dan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai

perilaku remaja sehubungan denqan dirinya sebagai konsumen terlebih

sebagai anggota masyarakat.

1.4. Sistematika Penulisan

13

Penulisan skripsi ini berpedoman pada sistematika penulisan American

Psycho/ogycal Association (APA Style). Untuk memudahkan penulisan skripsi

ini, penulis menyusunnya dalarn bentuk beberapa bab sebagai berikut:

BAB 1

BAB 2

0

: Pendahuluan. Berisi latar belakang masalah, pembatasan dan

perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan

sistematika penulisan.

:l<ajian Teori. Bab ini membahas teori-teori yang berhubungan

dengan penelitian ini, yakni teori tentang kelas sosial,

(26)

BAf::l 3

BAB4

BAB 5

kelas sosial, pengL<kuran kelas social, teori tentang gaya hidup

materialis, pengertian gaya hidup, faktor pembentuk gaya hidup,

macam-macar gaya hidup, pengertian materialif.me, faktor

pembentuk materialisme, pengukuran materialisme, teori

tentang rerr.aja, pengertian remaja, tugas perkembangan

remaja. minai remaja, remaja dalam tinjauan perilaku konsumen,

kerangka berfikir dan pengajuan hipotesa.

:Metodo;ogi Penelitian. Bab ini mengurai tentang metodologi

penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpi/an

data, metode pengolal1an data, metode pengolehan data, pilot

syudy, main study dan nasil penelitian.

: Hasil Penelitian. Terdiri dari gambaran umum subjek penelitian,

analisis data dan hasil penelitian.

(27)
(28)

BAB2

KAJIAN TEORI

Dalam penelitian ini akan melakukan kajian teoritik yang terdiri dari

pengertian kelas sosial dan stratifikasi sosial, faktor pembentuk dan perubah

kelas sosial, pengertian gaya hidup materialis, faktor pembentuk dan perubah

gaya hidup materialism.

2. 1. Oeskripsi Teoritik

2.1.1.Pengertian Kelas Sosial

Kelas sosial yang ada pada suatu masyarakat lebih di dasari oada ortientasi

nilai yang diangqap penting cialam kelompok sosial atau masyarakat secara

luas. Dan dalam kelas sosial pada hakikatnya mewujudkan system

keduclukan-kedudukan pokok dalam masyarakat yang disebut class-system

(Ronald Freedman, fa:mos H. Haweley, Warner S. Landeeker, Horece M.

Miner dalam Soerjono Soekanto 1990:260).

Loudon dan Della Bitta (1988 : 236) mendefinisikan kelas sosial sebagai berikut:

(29)

G. Schiffman Jan Leslie Lazar Kanuk (1994 : 276) menyatakan :

Concept of social class is used to assign individuals or families to a social class ;,ategory. Social Class is defined as the division of membera of a society into a hierarchy of distinct status classes, so that members of each class have relatively of the same status and r:Jembers of all other classes have either more or less status.

Disini kelas sosial di gunakan untuk pengkategorian individu atau family

daiam kelas sosia/. Kelas sosial didefinisikan sebagai pernbagian

masyarakat kedalam tingkatan-tingkatan status yang sama, dengan begitu I (1

anggota dari masing-masing kelas sosialnya memiliki status yang relatif sama,

dan tidak menutup kemungkinan adanya penirigkatan atau peurunan status

scsial bagi seluruh tingl(atan atau ke:as sosialnya.

Definisi senada di ungkapkan oleh Engle. Blackwell, dan Miniard (1995: 681) :

"SociE.I Class is defined as relatively permanent and homogeneous divisions in a society into which individuals or families sharing similar values, lifestyle. interests, and behavior can be categorized".

Lebih lanjut Engle, Blackwell dc:r. Miniard (1995) menyatakan bahwa kelas

sosial mengacu pada pr"ngelompokan orang yang sama dalam perilaku

mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka di dalam pasar. Keanggotaan

kelas ada dan dapat di deskripsikan sebagai kategori statistic entah

(30)

II

Kemudian Max Weber, bersama dengan Karl Marx dalam Engle, Blackwell

dan Miniard (1995 · 681 ), dapat dianggap sebagai bapak teori kelas sosial,

menjelaskan perbedaan antara kela;:; sosial dan kelompok status sebagai

0

berikut :

"With some over-simplification, one might thus say that "classes" are stratified according to their relations in the production and acquisition of goods,

wheares "status groups" are stratified according lo the principles of their consumption of goods as represented by special "style of life".

Dan J.Paul Peter dan Jerry C. Olson (2002: 341) lebih lanjut menyatakan bahwa:

"Social class refers to a national status hierarchy by which groups and individuals are distinguished in term cf esteem and prestige".

Berdasarkan teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa kelas セッウゥ。ャ@ sebagai

pembagian anggota masyarakat kedalam kelas-kelas dalam bentuk tingkatan

atau hirarkis, dimana individu atau keluarga yang ada didalamnya saling

berbagi nilai-r.ilai yang sama, gayci hiduo, minat, dan perilaku yang dapat

dikategorikan dalam bentuk prestise dan esteem (penghargaan dan

penghormatan).

(31)

Beberapa tokoh memahami kelas sosial dengan istilah stratifikasi sosial.

Yang pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, adapun pengertian

strat1fikasi social itu sendiri adalah seperti yang diungkapkan para ahli

dibawah ini.

lo

Manusia di muka bumi ini pada hakikatnya sam2-sederaJat. Tetapi pada

kenyataannya dalam kehidupan kelompok-kelompok sosial tidaklah demikian

(Robin William, 1960 dalam soerjono Soekarito, 1990: 254). Disadari bahwa

kenyataannya beberpa orang dalam kelompok sosisal te1ientu lebih tampak

"sepadan-sederajat" dengan posisi atau :<edudukan"yang lebih tinggi

dibandingkan dengan orang iain yang nampak lebih mempunyai kedudukan

yang lebih rendah padahal mereka berada dalam kelompok sosial yang sama.

Seorang filosof, Aries Toteles dalam Soerjono Soekanto (1990: 251)

mengatakan bahwa di dalam Negara tardapat tiga unsur, yaitu mereka yang

kaya sekali, yang melarat, dan yang barada di tengah-tengahnya. Hal tesebut

membuktikan bahw:;i sejak zaman itu dan sebelumnya, orang telah mengakui

adanya startifikasi sosial yang memiliki tingkata:i-tingkatan dari bawah keatas.

Max Heller, 1981: 766-795 dalam James F. Engle, Roger D. Blacekwell dan

Paul W. Miniard (1995: 123) menyatakan stratifikasi sosial terjadi untuk

mengembangkan dan me;estarikan identitas sosial kolektif di dalam dunia

(32)

Sedangkan berdasarkan asal kata dan beberapa pendapat tokoh mengenai

stratif;kasi sosial dan hubungannya dengan perilaku konsumsi dapat di

definisikan sebagai berikut :

Kata stratification berasal dari kata stratum (jamak dari strata) yang berarti

lapisan. Pritim A. Sorokin, 1959 dalam Soerjono Soekanto,(1990:252) menyatakan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau

masyarakat dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirnrkis). Perwujudannya

adalah kelas yang lebih tinggi dan kelas yang lebih rendah.

Selanjutnya Sorokin menyatakan bahwa das2r dan inti dari lapisan

masyarakat adalah karena tidak adanya keseimbangan dalam pembagian

hak aan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan

pengaruhnya diantara anggota-a,1ggota masyarakat.

Sedangkan Loudon dan Della Bitta (1988 : 236) menyatakan bahwa :

"Social Stratification", is the general term whereby people in a society into higher and lower social potitions, which produces a hierarchy of respect or pre::tige.

Berdasrkan teor: diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial sebagai

pembedaan penduduk yang dibe:ituk oleh orang-orang yang ':Jerada dalam

masyarakat itu sendiri, 0edangkan bentuk dari stratifikasi sosial adalah

(33)

sebuah tingkatan-tinQkatan atau hirarkis dari bawah keatas berdasarkan

prestise dan respek.

20

Stratifikasi sosial tidak saja mempengaruhi bagaimana suatu tingkat atau

str·ata sosiai menunjukkan perbedaan-perbedaan di antara masyarakat dan

membagi masyarakat kedalam tingkc.tan-tingkatan yang terbeda, tetapi juga

memberikan makna simbolis Ji daiamnya bahwa pada setiap tingkatan

memiliki stereotype dan juga status yang berbeda sekaligus status yang

mempengaruhi mereka dalam menjalar1kan kehidupanny2 sesuai

tingkatannya masing-masing.

Dalam kaitannya der:::an perilaku konsumen stratifikasi sosial

memperlihatkan perbedaan dalam perilaku konsumsinya, yakni dapat dilihat

dari segi ekonomi, politik, hukum, agama, keluarga, dan pendidikan mereka.

Dalam stratifikasi juga dikenal adanya mobilitas atau pergerakan tingkatan

atau strata sosial yang di tunjukkan oleh meningkat atau menuwnnya status

individu-individu sebagai anggota masyarakat, yang terjadi di dalam strata i(u

sendiri (intra) atau antar strata atau bahkan dari generasi kegenerasi dalam

populasi atau pangsa pasar khususnya (dalam Engle, dkk., 1995).

Hal ini juga dapat diartikan akan adanya pe/uans; yang besar dalam mobilitas

status sosial yang dapat menaikkan ataupun menurunkan strata sosial

(34)

atau cara individu anggota masyarakat melakukan konsumsi yang dapat

merubah statusnya dalam masyarakat atau kelornpok sosialnya dengan

keputusan-keputusan yang diambil dalam proses konsumsi, dan ha/ ini juga

me.11pengaruhi gaya hidup individu-individu sebagai bagaian atau di/uar

strata terten!u.

.'.I

Stratifikasi sosial terjadi untuk rr.engembangkan dan me/est11rikan identitas

sosial kolektif d: dalam dunia yang dicirikan oleh ketidak samaan ekonomi

yang mudah menyebar (Max Heiler, 1981 :766-795 dalam Engle, dkk., 1995 :

123). Studi ilmicih mengenai strc:tifikasi sosial di Amerika dimulai pada tahun

1920-an dan 1930-an dengan deskripsi kelas sosial dikota-kota kecil New·

England dan U1e South.

2.1.1. Fak,or Terciptanya Mobilitas Sosial

2.1.1.1. Kebudayaan

Masyarakat. dimana tempat berkumpulnya orang-orang yang saling

berinteraksi, dengan latar belakang usia, jenis kelamin, /apisan sosial, ras,

etnik, dan sebagainya dijadikan sebagai ajang bertukar ide-ide, kepercayaan,

(35)

perbedaan ataupun kesamaan yang mereka miliki bersama yang kemudian

dianut, diinternaiisasiknn dalam kesehariannya hingga akhirnya

dikonseptualisasikan kedalam sesuatu yang mereka sebut l<ebudayaan.

(dalam J.Peter & Olson, 2002).

Kebudayaan meliput berbagai elemen, baik secara abstrak maupun yang

berbentuk material. Elemen yang abstrak meliputi nilai-nilai, ide-ide, tipe-tipe

kepribadian, dan konsep-konsep seperti religiusitas. Sedangkan elemen

material meliputi benda-benda seperti mobil, buku-buku, computer, bangunan,

dan oerbagai perkakas rumah tangga, dan lebih spesifiknya lagi seperti levi's

501 jeans atau kumpulan CD dari Mar·ia Carey dan lain sebagair1ya.

Kebuda'jaan melengkapi manusia dengan sense (perasaan) dari sebuah

identitas dan juga memberi pengertian terhadap perilaku-perilaku yang dapat

diterima oleh rnasyarakat. Beberapa dari sikap dan perilaku yang lebil1

penting, yang di pengaruhi oleh budaya rnenurut Philip R. Harris dan Robert

T. Moran, 1937, dalam Engle, dkk, (1995: 611) adalah sebagai berikut:

1). Sens of self and space, 2). Communication and language, 3). Dress and

appearanre, 4). Food and feeding habits, 5). Time and time r:onsciousness

6). Relationships (family, organizations, government, and so an), 7). Values

and norms, 8). Belifes an1 attitudes, 9). Mental a1id learning, 10). Work habits

(36)

Dan dalam hubungannya dengan konsumsi, ke sepuluh sikap dan perilaku di

atas adalah sebagai suatu yang dapat dan memeng di pelajari masyarakat '

agar mereka dapat diterima daiam masyarakat atau lingkungan sosialnya,

dan semua itu adalat:! bagian atau sebuah aplikasi dari makna sebuah

kebudayaan. Dengan begitu sikap dan perilaku d; atas berpengaruh bagi

keh:dupan indivudu-iridividu sebagai anggota rnasyarakat dalarn berbagai hal

terrnasuk di dalarnnya adalah dalam sikap dan perilaku mereka dalam pola

hidup materialismenya.

Kebudayaan juga l.Jerpengaruh terhadap peniiaian individu dan masyarakat

secara umum mengenai proses konsumsi dengan memberikan makna pada

barang dan jas<l. Dalam sebuah literatur pemesaran be/um lama ini berfokus

pada makna kognitif, fungsi simbolik, dan sejarah budaya dari sebuah produk

yang muncul di dalam suatu konsep yang disebut semantik produk atau

semiotik, studi tentang kualitas simbolik dari sebuah produk (Ruby R.

Dholakia dan Sidney J. Levy, 1987 dalam Engle, dkk., 1994).

Lebih lanjut kebudayaan dalam kaitannya dengan perilaku konsumsi adalah.

dengan adanya produk-produk yang mengandung makna-makna (meanings)

melalui dunia periklanan, system fashion, kehadiran pedangan-pedangang

eceran, dan beberapa cara lain yang tidak di pengaruhi oleh pelaku pasar

tapi tidak penting untuk perkembangan konsumen dalam tahapan-tahapan

(37)

individua! mengembangkan makna me/alui pemilikan, pertukaran,

pengurusan, dan ritual pelepasan (Grant McCracken, 1986, dalam Engle,

dkk., 1995: 618) .

.Jadi, kebudayaan berpengaruh tentang tP.rciptanya pembagian masyarakat

keda/am lapisan-lapisan atau hirarkis, alasan mengapa orang-orang membeli

atau mengkonsumsi, juga alasan pemilihan po/a hidup•masing-masing

anggota masyarakat tentunya.

2.1.1.2. Simbol Status

Simbol status diartikan sebagai penjelasan mengenai gambaran keduduka11

seseorang dalam masyarakatnya. Dimana personal status-nya diperoleh

tergantung pada reputasi seseorang di dalam komunitasnya dan pada

judgement terhadap seseorang tadi yang dibuat oleh orang-orang lain dalam

komunitasnya. Baik personal ataupun simbol status diperoleh dari kelas-kelas

sosial yang membahas mengenai "apa yang orang-orang dalam

ma3yarakatnya menyatakan siapa mereka".

Sedangkan definisi dari syMbol status sebagaimar.a diungkapkan Soerjono

(38)

Kedudukan seseorang yang melekat padanya dapat terlihat pada kehidupan sehari-harinya melalui ciri-ciri tertentu yang dalam sosiologi disebut juga prestise-simbol. Ciri-ciri tersebut seolah-olah sudah menjadi bagian hidupnya yang tc-lah institutionalized atau bahkan internalized .

Adapun ciri-ciri yang dianggap sebagai simbol status misalnya saja cara

berpakaian, pergaulan, cara mengisi waktu senggang, memiiih tempat

berlibur, tempat tinggal, cara dan corak menghias runiah kediaman, memilih

kendaraan, memilih sekolah, dan seterusnya ,dalam Soerjono Soekanto,

(1990).

Simbol status dalam Neil J. Smelser, 1973 dinyatakan : "Symbol-status is a

clear expression of one's positior. in sociaty's". Pengertian yang tidak jauh

berbeda di ungkapkan dalam Hurlock (1980 : 223) tentang simbol status :

"yaitu merupa/(an symbol prestise yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya Jebih tinggi atau mempunyai status yang lebih tinggi dalam kelompok".

g・イ、。ウ。セォ。ョ@ pengertian atau definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa simbol

status adalah ciri-ciri •-,rtentu yang dapat menggambarkan kedudukan yang

melekat dalam diri individu sebagai anggota masyarakat yang juga dapat

(39)

dalam kelompok atau lingkungan masyarakalnya. Jadi simbol status

rnerupakar1 unsur yang ada dalarn /'elas sosial yang keberadaannya

dipengaruhi juga oleh kebudayaan, yang juga berfungsi sebagai faktor

terciptanya rnobilitas sosial seseorang yang lebih diaktualisasikan melalui

materialisme seseorang.

Sebagaimana pendapat beberapa ah/i mengenai bagaimana simbol status

sangat dirasakan penting dalam sebuah po/a interaksi yang sangat

berpengaruh pnda pola hidup (gaya hidup) seseorang, diantaranya adalah

sebagaimana yang diungkapk:r1 oleh Fromm (1978:25) bahwa :

"In culture in whicl1 thr. supreme goal is to have-and to have more and

more-.. how can there be an alternative between having and being? On the confrf!ry, ti would seem that the very essence of being is having; that if one "has" nothing, one "is" nothing.

2.1.2. Faktor Pembentuk Kelas Sosial

Berdasarkan penelitian yang dilakuakan Joseph Kahl (dalarn Engel, dkk,

1995), terdapat variable-variabel terpenting sebagai penentu status dan kelas

sosial seseorang dalam masyarakat, seperti : prestasi pribadi, interaksi,

(40)

Pekerjaan dan pendapatan. Pekerjaan dan pendapatan sebuah ke/uarga

memang besar pengaruhnya dciiam menentukan kelas sosial seseorang

sebagai anggota kelua<ga dan anggota masyarakat pada umumnya. A:<:an

tetapi harus pula disadari bahwa pendapatan tidak /angsung menentukan

kelas sosial seseorang.

Contohnya saja seorang remaja yang berprofesi sebagai pengamen.

misa/nya mungkin memperoleh pendapatan yang lebih besar dari pada

rernaja sebagai pelajar pada umumnya tanpa bekerja. Namun, pelaj2r tanpa

penghasilan tersebut umumnya memiliki kelas sosial yang lebih tinggi

dibandingkan pengamen yang memiliki uang atau penghasilan yang besar.

Adapun yang faktor yang menent11kan kelas dan status sosial seseorang

dalam masyarakat adalah sebagai berikut :

Pekerjaan. Analisis ko,1sumen mempertir.ibangkan bahwa pekerjaan sebagai indikator tunggal terb.aik mengenai kelas sosial. Pekerjaan yang di lakukan

oleh konsumen sangat mempengaruhi gaya hidup mereka dan merupakan

satu-satunya basis terpenting untuk mencapai prestise, kehormatan dan

(41)

Prestasi pribadi. Status seseorang juga dapat di penga·uhi oleh keberhasilannya yang berhubungan dengan status orang lain di dalam

pekerja yang sama - oleh prestRsi pribadi individu.

I nteraksi. Orangmerasa senang bi la mereka berada bersarna orang deng< n

nilai dan perilaku yang sama. Sebagai contoh ungkapan "siapa yang

mengundang siapa untuk datan!;; kepesta ulang tahunnya". Oalarn ha! ini,

keanggotaan kelompok dan interaksi di anggap sebagai determinasi utama

dari kelas sosial seseorang. lnteraksi sosial biasanya terbatas pada kelas

:o;osial langsung seseorang, walaupun peluang ada untuk kontak yang lebih

luas.

Pemilikan. Pemilikkan adalah symbol kean9gotraan kelas. TicJak hanya

jumlah, tet8pi sifat pilihan yang di buat.

Nilai. Kepercayaan bersarna rnengena1 bagairnana orang harus berperilaku

ini 2da/ah arti dari nilai. Dan nilai dapat rnenunjukkan kelas sosial di rnana

seseorang termasuk di dalamnya. Ketika kelompok orang berbagi

(42)

29

menghubungkan banyak sifat spesifik, adalah mungkin untuk menggolongkan

individu 01 dalam kelompok dengan tingkat dimana ia memiliki nilai ini.

Kesadaran Ke/as. Ke/as sosial seseorang ditunjukkan hingga jangkawan tertentu dengan berapa sadar or::mg bersangkuta;i akan kela.> sosial di dalam

suatu masyarakat. lndividu yang relative sadar akan perbedaan kelas akan

Jebih mungkin beasal dart kelas yang lebih tinggi, walaupun individu dari

kelas sosial yang lebih rendah mungkir lebih sadar akan realitas kelas

sosialnya secara keseluruhan. Oa;i kesadaran akan kelas sosialnya tersebut

membuat individu dari kelas sosial tinggi cenderung berusaha

memrertahankan statusnya di masyarakat, dan kesadaran bagi individu yang

berada di kelas sosial yang rendah akan cenderung berfungsi sebagai

pemicu timbulnya motivasi mereka untuk meraih kelas sosial yang lebih tinggi

atau berusaha mendapatkan status berdasarkan achieve-status dalam Engle,

dkk ' (1994 • 125-129)

Dalam penelitian ini aspek-aspek atau faktor yang digunakan sebagai

patokan atau ukuran terhadap tergolongmya remaja oalam suatu kelas sosial

tertentu, diadopsi dari pengertia.1 kelas sosial yang didefinisikan sebagai

pembagian masyarakat kedalam bagian-bagian yang sama dan relative

(43)

30

berbagai nilai, gaya hidup, minat dan kegiatan yang dapat dikategorisasikan

relative sama. (Engle, Blackwell, & Miniard, 1995 :681).

Dan kebanyakan ahli seperti colmen dalam J.P.Peter & Olson. (2002).

Engle.dkk, (1995) serta beberapa ahli lain yang menyatakan bahwa kelas

sosial terbagi menjadi upper. middle dan lower class, memiliki karakteristik

masing-masing, エ・ョエセN[ァ@ apa yang dinilai penting, berharga, tentang apa yang

mernbuat mereka lebih dihorrnati. tentang bagaimana minat dar1 opini mereka

tentang diri dan lingkungannya, dan lain sebagainya. Adapun perbedaan

ataupun persamaan dari masing--masing kelas sosial dapat dilihat dalarn

tabel berikut :

iNo.

I

FAKTOR

1 1

1.

I

Nilai

• I

I

I

!

I

I

I

I

I

I

I

f _ _ j_ _ _ _ _

Tabel 2.1. : KarakterisUi' kelas sosial

Kls. Sos. Tinggi=i Kls. Sos. Sedang - Uang, karena

1 - Prestasi I jabatan

mereka tergolong

i

sangat penting. orang yang lcyal / - Rumah, karena dalam

ュ・ョセᆬ。イ@

J tamu akan datang

1 kan uang untuk

I

I sewaktu-waktu dan

sesuatu yan9 tidak

I

memberi penilaian. begitu penting.

I

- Pendidikan yang 1

1 ·

·1 berkualitas clan

semua yang 1

f Kls. Sos. Rendah

---1

\ - Terpenuhinya

I

. I

f kebutuhan primer dan f

I I

I

sekunder atau dalam 1

, hirarky need marsllow

I

:

--

:

I

terpenuhinyak1,butt;han

I

dasar/ biologis dan · rasa aman.

I

I

berkaitan den_g_a_n_ll [image:43.595.40.470.116.686.2]
(44)

31

1---r

I !

MMMMMMMMMMMMMセMMMMMMゥ@

' I

I -

Impulsive, yang

'

/ ditampakan pada

i

\ cara be!anja

i1 npuls1venya.

i I

12.

i

Gaya Hidup

I

\ 3. ! Minat dan - Belanja benda-\ Keg!atan yang

I benda (symbol

dapat di 1 material) yang kategorisasikan dapat menunjukan

kelas social tinggi mereka.

L__

I - 'Tvieiakukan

I

:. sesuatu yang

i

benar"' I sesuai

I

aluran dan

I

semestinya.

'

' - Segala sesuatu

': vane sedang

' -

-: popu!er/ trend

dengan membeli dan mernilikinya.

- Gaya hidup monoton,

I

segaia sesuatu yang \

dilakukan dan dimiliki hampir tidak berubah dari hari i<e hari .

i

- Ba!anja impulsive

i yang di tampaka11 pada /

i

loyalitas tinggi I

I

terhadap

ュ・イ・ォMュ・セ・ォ@

/local.

i

Sedangkan mengenai bagaimana masing-m2sing kelas sosial menanggapi

atau merespon hal-hal yang dinilai penting, berharga, dan seterusnya diatas,

d0pat dilihat bagaimana karakteristik yang beragam dari masing-masing

kelas sosial menanggapi atau meresponnya dapat dirangkum dalam kisi-kisi

[image:44.595.26.454.101.519.2]

yang dapat dilil1at dalam tab/ berikut •

Tabel 2.2. : Ciri-ciri masing-masing kelas social

( Sumber Engle, Blackwell & Miniard.1995 :690)

iFakt_o_r ______ Kls. Sos. TinQgi---:-TKls.Sos. Sedang

/ 1. NILA! * Cenderung sangat

r

* Cenderung lebih

!

Uang tr·">S cl;il;1111 ャゥNセイョゥャャ@

/ . pell!.JQUnaan uang • Menghabiskan uang

' * Menghabiskan untuk hal-f1al yang / uang untuk l1al-l1JI

I

relative lebih pen ting.

I Kls.Sos. Rendall

- I

I

* Tidak memiliki

---i

r kccendcrungan yang

I

nyata, sangat irit dalarn
(45)

Pendidikan

Prestasi/jabatan

Rurnah

I

yang tidak penting.

I

I

.

* Prioritas utan ia . dalam memilih

I

,

sekolah adalah: 1.Sekolah

I

terkendl/reputasi baik

I

2.Fasilitas /engkap ; 3.Mutu be/ajar

i

r.1engajarnya baik

i,

·i' * P/J iidak ter/a/u

penting dan bukan

I

'

hal yang

mernbanggakan.

I ·

Penilaian orang

I

terhadap rumahnya 1 tidak begitu penting.

I

* Rumail seb2gai svmbo/ status.

I

I

* Prioritas utama mernilih sekolah adalah mutu be/ajar

mengajarnya baik, dan telah diakui

kebaikannya.

• P/j ditur1juKan dengan kecakapannya dalam suatu bidang tertentu. • Dapat meningkatkan 1 status.

I

• Penamµilan rumal1 sangat penting dan penilaian orang tentang rumilhny;:i sangat penting.

* Rumah sebagai tempat tingga/.

r .

1

l

* Tidak memiliki criteria 1 khusus dalam rnemilih seko/ah.

I "

• 0angat pent1ng,

.

sebagai sesuatu yang dapat menaikan harga

I

diri.

I

I

* Peni/aian orang

I

tentang rurnahnya

I menimbulkan respon

I

yang sangat sensitive

I

* Rumah benar-benar sebaga' tempat tingga/.

I

I

I

Kebutuhan primer

I

* Kebutuhan terpenting adalah

I

pemenuhan kebutuhan tertier,

* kebutuhan yang paling penting untuk

I

dipenuhi

I

Kebutuhan yang

I

uatarna harus dipenuhi adalahkebutuhan

'

I

ヲNMMMMMMセᄋᄋセMMセMMMM

1 2.GAYA HIDUP

I Impulsive dalarn

I

helanja

'

I

sku11der dan terakhir pemenuhan

kebutuhan primer

; adalahkebutul1an

i skunder dan tert1er

I

dalam porsi yang /ebih

I

sedikit, sedangkan 1 kebutuhan yang i terakhir kebutuhan

primer.

! primer, dan skunder 1

1

da/arn porsi yang lebih . sed'kit, terakhir baru

I

kebutuhan tertier.

i

\_

____

セᄋセMMMMMMᄋMMMᄋᄋᄋ@

* Harnpir tidak * Hampir selalu

l

* Jarang rnelakukan

pernal1 rnelakukian periimbangan dalarn

rnenggunakan pertirnbangan saat

1 belanja

pertimbangan yang ingin belanja.

I

* Cenderung boros matang da/am * Cenderung lebih saat punya uang saja.

belanja. · hernat

I

* Jarang sekali

*Boros * Keinginannya tidak keinginannya h.arus

*Yang diinginkan harus dirniliki , tercapar

I

harus dirniliki :

I

(46)

Melakukan

I

sesuatu dengan benar Monoton

I

I

!

* Cenderung tidak

i

* Mematuhi aturan, memperdulikan i ィオセオュ@ dan norma yang aturan,hukum dan !, berlaku.

norma.

'33

I •

Kurang memahami / aturan, hukum dan I norma lebih

: dikarenakan ketidak

!I fahamannya terhadap

hal itu.

I

i

* Sangat beragam : • Keragarnan ! * Monoton, cenderung l kegiatannya, dan kegiatannya tidak

I

t1dak mengalami

i

kebanyakan : begitu banyak, dan . perubahan dan har: ke

I

dihabiskan diluar ritme antara diluar dan J hari, dan banyak nab1s

[ rumah. di rumah sama. \ l<an waktu di rurnah.

---

MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMセM

セセM

* Impulsive dalam 1 * Cenderung lebih tidak

I

* lmpulsiv disaat punya

3.MINAT Belanja barang-barang yang merupakan symbol status Memiliki dan rnembeli segala sesuatu yang sedang populer

Belanja impulsive merupakan lwsenangan sesaat yang tidak akan di lewatkan saat punya uang.

belanja sesuatu '1 impulsive, penuh ! uang saja, kurang

yang merupakan pertimbangan dalam

I

dapat mengontrol symbol status dan , pengeluaran. pengeluaran.

tidak dapat · 1

I

mengontrol pengeluaran.

* Segala sesuat:.i yang sedang populer hanya sekedar untuk diketahui bukan dimiliki.

• Cenderung ikut-, ikulanikut-, segala sesualu

yang sedang populer sangat menarik untuk • di ketahui apalagi ' dirniliki.

* Belanja impulsive : • Belanja impulsive di tidak dilakukan saat

i

1akukan sesekali saja. punya uang saja.

i •

Belanja impulsive * Belanja impulsive

I

lebih kepada mood dan lebih kep;Jda mood : jarang dikarnakan bukan kondisi

i

kondisi keuangan.

ォ・オセ⦅イQァ。ョN@ _____ [_ ________ _

I

I • Memiliki kcinginan

!

yang cukup besar

untuk memiliki segala sesuatu yang s3dang populer tetapi masih dapat menyesuaikan dengan keuangan. • Belanja impulsive mcrupakan kenikmatan sesaat yang tidak akan dilewatkan saat punya uang.

i •

Belanja impulsive lebih pada
(47)

2.2. GAYA HIDUP MATERIALIS

Materialisme deipat difahami sebagai salah satu ragam pola hidup (gaya

hidup) seseorang, maka untuk lebih memudahkan pemahaman tentang arti

gaya hidup materialis, 'erlebih dulu dibahas mengenai gaya hidup

sehubungan dengan matuialis dan perilaku konsumsinya.

2.2.1. Definisi Gaya Hidup

Gaya_ hidup telah didefinisikan dalam berbagai 3egi dan cara, dan dalam

penelitian tentang perilaku konsumen, gaya hidup diartikan sebagai sebuah

konsep popular yang digunakan untuk mengerti perilaku konsumen,

barangkali ini disebabkan gaya hidup lebih menyeluruh (contemporer) di

bandingkan dengan kepribadiRn (personality) dan lebih komperhensif

dibandingkan nilai (values), (Engle, BlackNell, dan Miniard, 1995: 448).

"How one lives·: definisi inilah yang diungkapkan dalam Fred D. Reynolds

dan William R. Darden, 1972 : 258) dan ini merupakan pengertian yang

sangat sederhana dari sebuah konsep gaya hidup. Lebih lanjut dijelaskan

bahwa gaya hidup dapat digunakan untuk menggan:barkan

(48)

35

Gaya h;dU!J juga dapat digunakan untuk menggambarkan individu, kelompok

kecil yang terjalin interaksi didalamnya, dan juga kelompok-kelompok yang

lebih besar dari orang-orang atau kumpulan yang ada.

Jadi, konsep gaya hidup berarti "seperangkat ide-ide yang sangat jelas dan

nyata dari kepribadian individu ataupun orang-orang yang ada di dalam

sebuah masyarakat".

Gaya hidup memang bukan istilah baru dikenal tetapi ap/ikasinya dalam

bidang perilaku konsumen baru bElakangan ini banyak di gunakan. Alfred

Adler (dalam Loudon & Della Bitti1, 1993 : 118) menggunakan istilah style of life mengacu pada tujuan yang ditetapk2n oleh seorang bagi dirinya sendiri ·

dan cara-cara yang di gunakan untuk rr:encapai tujuannya tersebut.

Dengan konsepnya mengenai style of life, Adler berusaha untuk menjelaskan

"keunikan seseorang", Juga sebagai prinsip system dimana kepribadian

individual berfungsi; keseluruhanlah yang memerintah bagian-bagiannya.

l<eunikan seseorang dinyat3kan dengan prinsip iciiografik (Hall & Lindzey,

(49)

Loudon dan Della Bitta (1993: 118) kemudian memandang gaya hidup dalam

hubungnya dengan perilaku konsumen sebagai berikut :

" a unique pattern of living which influences and is reflected by one's

consumtion behavior".

Menurut Engle, Blackwell dan Miniard (1995 : 449) mendefinisikan gaya

hid up : "Lifestyle is summery construct defined as patterns in which people

live and spend time and money".

Teori gaya hidup didasarkan pada suatu terori perilaku manusia yang

dikemukakan oleh George Kelly. Kelly mengatakan bahwa manusia mencoba

meramal dan mengontrol hidupnya. Untuk itulah orang-orang tersebut

membentuk konstruk atau pola guna mengurai peristiwa-peristiwa yang akan

terjadi dimasa mendatang atau di sekitarnya dan menggunakan konstruk

tersebut untuk menginterpretasikan, mengkonseptualisasikan dan

meramalkan kejadian-kejadian yang af<an datang. Sejumlah orang memiliki

konstruk atau pola intepretasi bidang yang brbeda dari individu lain, sehingga

(50)

37

Kemudian Kottler (1997: 180), ュセQョァ。エ。ォ。ョZ@ "A person lifestyle is the

person's pattern of living on the world as expressed in the person'sactivity,

interests, and opinion. Lifestyle portrays the person interesting with his or her

environment"_

Berdasarkan beberapa teori diatas dapat dis1mpulkan bahwa gaya hidup

adalah pola atau rumusan ind:vidu dalam menjalankan kehidupannya

termasuk dalam hal menggunakan waktu dan uangnya yang direfleksikan

melalui aktivitas, minat, dan opini-pendapatnya berdasark2n hasil

interaksinya secara me'lyeluruh dengan lingkungannya_

2.2.1.1. GAYA HIDUP MATERIALISME

Ruang dan waktu dalam perjalanan hidup dipandang sebagai dimensi yang

memberikan penawaran dan tuntutan yang terus berubah, hingga akhirnya

memerlukan jawaban dan pemenuhan yang beragam. Dalam kehidupan ini,

seseorang hidup di pengaruhi oleh berbagai hal, dan salah satu hal

terpentingnya adalan nilai yang dihadirkan berbeda, dan berkembang pada

setiap zamani:iya.

Kasali ('1998), menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku

seseorang dan salah sc:.tu imbasnya akan mempengaruhi perilakunya 0alam

(51)

busana, bahan bacaan, perangkat, dan barang-barang lainnya yang berbeda

dengan mereka yang berorientasi pada keluarga atau sosial.

Menurut Hawkins, Bast, dan Coney (1992 : 15) gaya hidup dalam hubungannya

dengan kebutuhan atau sikap yang akan menentukan proses-proses konsumsi

dalam berbagai situasi yang dihadapi konsumen, yang meliputi tahapan seperti

pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi dan seleksi, pemilihan toko

dan pembelanjaan termasuk proses pembelian produk. Situasi-situasi yang hadir

dan dihadapi konsumen tersebutlah yang kemudian akan mempengaruhi gaya

hidupnya. seperti terli'1at pada gambar berikut:

Kcbutuhan I siKap

Mar:l:eting Activities

l..r.aming (Memory)

Perception -...---.._

Motive;;

-\

Caya !Iidup _ _ Dernographi

Konsun1en

Persorality / /

\\social

S!JtuB

Emotion

efcrence Group

HoUBehold

Situasl

II>-

Pcngcnalan Masalai

'

'

I

l'cncadan iョヲッイュ。ウQ[Nセゥ@

ャセ@

Evalnasi & Sclcksi----: ._. Pcrnilih;1n 'J"oko ..._\: Pcrnbclian

+

Proses Postpurch;1sc

Bagan 2.1 : Gaya Hidup Sebagai Pusat Dari Proses Konsumsi

(52)
[image:52.595.25.452.170.548.2]

JC)

Gambar diatas menje!askan mengenai bagaimana kebutuhan, sikap yang

mempengaruhi keputusan da!am konsumsi, pilihan konsumen, perilaku dan

penga!aman yang dapat mengurangi, memrertahanka,1 atau merubah gaya

hidup seseorang, dan juga gaya hidup konsumen itu sendiri merupaka suatu

rangkaian atau mata rantai yang saling terkait dan saling memperaruhi.

Kemudian gaya hidup juga dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang

berfungsi sebagai karakteristik ya1g secara individual melekat yang dibentuk

dan terbentuk mela/ui interaksi sosial selama orang iru mengalami

::ierpindahan sik'us hidup, seperti emosi, kepribadian, motivasi, persepsi,

pembelajaran, aktivitas pemasaran, budaya, nilai, demographi, status sosial,

dan kelompok rujukan (references group) Seperti yang di tunjukkan da/am

gambar berikut :

Bagan 2.2 : Gaya hidup konsumen dan keputusan konsumsi (sumber:

consumer behavior, Hawkins, dkk, 1992: 15)

Need I Attitude

Consumer

lifestyle

..,.

___

--\

Influences Consumer Decision Making

[Consumer c1'1oice

I

[image:52.595.28.475.552.659.2]
(53)

-40

Dan bila kita ingin melihat nilai yang menjadi orientasi seseorang dalam

hidupnya, maka de.pat dilihat dan difahami berdasarkan dari

keputusan-keputusan yang di ambil dalam menentukan segala aktivitas, minat, dan

pendapat-pend1patnya dalam segala hal yang dianggap perlu atau

dibutuhkan dalam menilai dirinya ataupCJn dalam menilai atau berpandangan

terhadap orang lain. Dalam memahami perilaku l\onsumen dapat d'pandang

dari berbagai sisi dan dari beberapa tokoh, Engle, Blackwell, dan Miniard

(1995 : 3) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai kegiatan individu dalam

menilai, memperoleh, mengmakai, ataupun membuang barang atau jasa

yang di dalamnya termasuk proses-proses keputusan yang mendahului dan

yang menyertai tindakan atau perilaku tersebut.

Gaya hidup secara umum dapat digunakan untuk melihat

kemungkinan-kemungkinan berbagai jenis produk , sedangkan gaya l1idup dengan merek

セNー・ウゥヲゥォ@ atau image merek dapat rnembantu penempatan kembali

(respositioning) produk-produk yang sudah ada (Hawkins, Best dan Coney,

1992 ). Dan gaya hidup masing-masing individu sebagai anggota keluarga,

atau anggota kelompok dan seb&gai anggota masyarakat akan memberi

warna kepada gaya hidup keluarga, kelompok bahkan masyarakat

(54)

kebutuhan dan sikap seseorang, perilaku seseorang dalam membeli serta

dalam cara memanfaatkan dan membelanjakan uang dan wal<tunya.

41

Menurut Mowen, 1987 : 189, dan Hawkins, dkk., 1992 :5, 15, 325, 328, dala;n

M. C. Oetami Prasajadaningsih (1998 : 35), bahwa gaya hid up di tentuKan

oleh keputusan-keputusan yang >'adar maupun yang bawah sadar. Seringkali

orang membuat pi!ihan dengan penuh kesadaran '.entang dampak pilihannya

terhadap gaya hidup, tetapi secara umum orang t1dak sadar akan meluasnya

keputi..san-keputusan yang dipengaruhi oleh gaya hidup terbarunya atau

gaya hidup yang diinginkan. dimana mereka "ingin menjadi"

Penelitian-penelitian mengenai gaya hidup telah banyak dilakuakan

peneliti-peneliti terdahuli, diantaranya sebagai berikut :

Program dari SRI International berusaha menggabungkan gaya hidup

dengan nilai yang dinamakan VALS (Value And Lifestyle). Prograrr. generasi

kedua· dalam segmentasi VALS, dimana konsumen dibagi dalam sembilan

segmen berdasarkan dua dimensi, yakni dimensi psikologis dengan tiga

kategori (principle- one'lted, status-oriented, and action-oriented), dan

dimensi sumber-sumber mengenai tingkat sumber yang dibutuhkan (minimal

resources and abudan resources). Kesembilan segmen pada VALS kedua

(55)

42

Experiencers, dan Makers (Wells & Prensky, 1996, dalam Loundon dan Della

Bitta, 1988 ). VALS merupakan pendekatan komersial mengenai pengukuran

gaya hidup dan psikografik yang terkenal. WISH-TV di Indianapolis

mer:.Jpakan salah satu pengguna VALS kedua untuk mengklasifikasikan

konsumen pemirsa, sehingga stasiun televise tersebut dapat memberikan

masukan r::ada fihak pemasang iklan mengenai produk yang sesuai uantuk

diiklankan di WISH. Dan juga pembuat mobil mewah yang mentargetkan

model barunya kepada "Actuallizers", serta suatu perusahaan m

Gambar

tabel berikut :
Tabel 2.2. : Ciri-ciri masing-masing kelas social
Gambar diatas menje!askan mengenai bagaimana kebutuhan, sikap yang
Tabel 3.1.: Penskoran skala materialisme
+7

Referensi

Dokumen terkait

Proposal Tesis yang berjudul “ PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI, GAYA HIDUP, DAN ETNISITASITASTERHADAP OBESITAS PADA REMAJA DI SURAKARTA ” ini adalah karya

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Konsumsi Fast Food Waralaba Modern dan Tradisional pada Remaja Siswa SMU Negeri di Jakarta Selatan.. (Dibimbing oleh

Saya suka bekerja kelompok dengan teman lain saat mendapatkan tugas dari guru5. Saya memiliki banyak teman tidak hanya di

[r]

Kebanyakan dari mahasiswa yang memiliki handphone Blackberry menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka, seperti mencari teman baru, mencari suasana

Saya mengerti bahwa guru lebih suka siswa hanya diam mendengarkan saat proses belajar mengajar di kelas karena guru ingin siswa berkonsentrasi penuh pada pelajaran.. Saya

Saya akan dengan senang hati membantu jika ada teman yang meminta saya untuk menjelaskn tentang hal yang belum dipahami oleh teman saya.. Apabila diberi pekerjaan rumah oleh guru,

Hangout rupanya tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sosial untuk mempererat hubungan antar teman atau keluarga, tetapi hangout juga merupakan pemuasan hasrat bagi