KELAS SOSIAL DAN GAYA HIDUP MATERIALISME
PADA REMAJA SMU DI JAKARTA SELAT AN
Oleh:
SURYAN! .
..
NIM. 99190161;32'1;.
1 •...FAKULTAS PSIKOLOG!
UNIVERSITAS !SLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
HUBUNGAN ANTARA KELAS SOSIAL DENGAN
GAYA HIDUP MATERIALISME
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Psikologi
Oleh : Suryani
NIM :3919016132
Di Bawah Bimbingan:
Pembimbing
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNI\IERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul "Kelas Sosial dan Gaya Hidup Materialis pada Remaja SMU di Jakarta Selatan" telah diujikan dalam Sidang Munaqasah Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Februari
2004 Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.
f<etua merangkap anggota
Ora. Hj. Netty Hartati, M.Si. · NIP. 150.021.5938
Penguji I
Ora. Afidah Mas'ud. NIP. 150. 228. 775
Sidang Munaqasah
Sekretaris erangkap anggota
Pembimbing
. /
Penguji II
Prof. Hamdan Yasun, M.Sc
ABSTRAK
Suryani. Hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme. (2004) . Skripsi. Jakarta. Fakultas Psikologi UJN Syarif Hidayatullah Jakarta, Februari 2004.
Diseluruh belahan dunia, masyarakat pada umumnya didasari oleh adanya orientasi nilai terhadap sesuatu yang dianggap penting dan paling berharga. Dan bagi individu-individu sebagai anggota masyarakat tersebut akan
memperoleh kedududkan yang lebih tinggi dari pada yang lain ketika ia
memiliki sesuatu yang diagungkan tersebut. Umumnya masyarakat Indonesia memberikan penilaian yang tinggi tehadap benda-benda material, maka anggota masyarakat yang memiliki kekayaan terbesarlah yang menduduki posisi teratas dan terhormat dalam masyarakat tersebut. Dan nilai ini jugalah yang menjadi sumber terbentuknya kelas atau lapisan dalam masyarakat dalam bentuk hirarkis. Pada masing-masing kelas atau lapisan sosial dimana frekuensi interaksi mereka cukup tinggi, maka disadari atau tidak akan
tercipta aturan, norma dan nilai tersendiri yang tanpa disadari menggiring anggota masyarakatnya untuk patuh atau menjadi konfrom akan hal tersebut.
Dan aturan, norma dan nilai tersebut berfungsi sebagai pembentuk atau sebagai sesutu yng dapat mempengaruhi adanya perubahan kepribadian, pola interaksi, pola fikir yang dengan begitu berarti akan berpengaruh terhadap pola hidup (gaya hidup) anggotanya, dimana ketika dalam
masyarakat pada umumnya menilai tinggi dan lebih berorientasi pada materi maka tanpa disadari gaya hidup individu-individu sebagai anggotanya juga berorientasi kepada materi. Dimana gaya hidup materialis dapat difahami secara sederhana sebagai pola atau rumusan individu dalam menghabiskan waktu dan menggunakan uangnya. Berdasarkan gambaran dan alasan
tersebutlah peneliti mengasumsikan bahwa ada hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme.
Penelitian ini akan menjawab pertanyaan mengenai "Adakah hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme remaja ?". Untuk itu penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sedangkan dalam prosesnya penelitian ini mengambil populasi remaja berstatus pelajar SMUN 34 Jakarta Selatan, sedangkan untuk proses metode perolehan sampelnya
menggunakan probability sampling, yang berarti bahwa setiap siswa SMUN di Jakarta Selatan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi subjek penelitian jika mereka memiliki karakteristik yang sama dengan subjek
mana saja yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek penelitian yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini digunakan dua buah skala, skala pertama adalah skala kelas sosial dan yang kedua adalah skala materialism. Untuk perolehan datanya, penelitian ini dilakukan dalam dua yakni tahap uji coba yang dilakukan di SMUN 46, dan tahap penelitian yang sebenarnya, yang dilakukan di SMUN 34. Untuk pengolahan datanya digunakan product moment Pearson untuk melihat daya pembeda dari masing-masing aitem, dan menggunakan Alpha Cronbach untuk mengukur reliabilitas dari aitem dari kedua skala penelitian yang digunakan.
Dari proses pengolahan data menunjukan hasil bahwa tidak ada hubungan antara kelas sosial dengan gaya hidup materialisme. Hasil penelitian ini diperoleh melalui analisa data yang menggunakan rumus Chi-Kuadrat dengan perolehan hasil Xh 2 < Xt2 yang berarti ho diterima dan hi ditolak.
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada dua faktor yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap terciptanya gaya hid up materialisme seseorang dibandingkan kelas sosial yakni yang pertama adalah kesadaran kelas sosial (peran kelas sosial), yang kedua adalah konsumerisme. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperbesar jumlah sampel agar dapat digeneralisasikan tidak hanya untuk remaja pada tempat dilakukannya penelitian itu saja, akan tetapi juga berlaku untuk remaja secara keseluruhan.
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang Maha Kuasa atas segala penciptaan alam
semesta. Kuasa bagi-Nya berikan kelapangan dan kesulitan bagi siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Maha besar Allah atas apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SWA, abadilah segala keteladanan yang semoga selalu
memotivasi seluruh pengikutnya untuk mentauladaninya hingga akhir zaman.
Proses pengembangan diri telah mengantarkan penulis pada tahapan dimana diperlukan keteguhan dan ketegaran selama proses penyelesaian skripsi ini. Dan dalam proses penyelesaian skripsi ini tentunya penulis banyak menemui hambatan yang sulit untuk dilalui tanpa dukungan, motivasi,
bantuan dan doa dari semua fihak. Kiranya patut bagi penulis mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT selalu terucapkan atas terselesaikannya
penyusunan skripsi ini. Teriring ucapan terimakasih terucapkan, khususnya kepada:
1. Ora. Hj. Netty Hartati, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi dan Ors. Ahmad Syahid, M.Ag, selaku dosen pembimbing akademik , Bpk. Rahman dan lbu Tya, serta seluruh dosen pengajar yang telah memimbing dan memberikan pengajaran selama ini.
2. Ors. Asep Haerul Gani, Psi. dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan motivasi, membantu dan meluangkan waktu, tenaga, fikiran hingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Aby (Alm) dan Umy yang selalu berusaha memberikan yang terbaik juga yang selalu berdoa untuk kebaikan putra-putrinya. Dan yang
kakak-kakakku semua yang sejak kecil hingga kini dan nanti selalu menjaga dan mengiringi perjalanan hidupku dengan kasih sayang serta selalu memberikan bantuan moril dan material. Bersyukur aku memiliki kalian sebagai saudara-keluargaku. Untuk kakak Syahid yang membantu dan mengantar ke sekolah-sekolah, ke kampus dll. Tnx's & Semoga Tuhan membelas kebaikanmu Ka'.
4. Segenap pendiri dan pengurus lsYA, Tante Lia (Almh), Mba.Daesy, mas. Koko. mas.Agus, dan teman-teman pengurus lainnya serta seluruh anggota ls YA atas kesempatan, motivasi dan kerja sama juga pengertiannya hingga terselesaikannya sekripsi ini.
5. Semua sahabatku yang selalu ada untuk saling berbagi dan mengiringi langkahku menuju cita-cita kita bersama, untuk Ari, Ima, Nisa, Anis, Eva, Emma, Ai, Hudan, Daniel, Deden, Sapik, Jay, Dian, Farida,Neny,
Tnx's God I found u as my best friend!!. Untuk Lilies, Edo,
Muf ,Chotimah, Reny, Eva f. dan seluruh angkatan '99 yang tidak disebutkan satu persatu, terimakasih atas motivasi, bantuan dan kebersamaan kita. Untuk sabry-na Tnx's, Keep on Moving Rini! 6. Sobat-sobatku di angkatan 2000 Echi and the genk, lyank, Rif, Adi,
dkk, Untuk angkatan 2001 Hanum, HQ, Makky, Yeyen, Evan, Dana, Tia, dan semua adik kelas lainnya, tnx's atas motivasi dan doa kalian. Tetaplah menjadi sahabat sejati bagi siapa saja. Tuk sobat sejati ku di the nine stars, Ocha, Dilla, Zila, llal, Ina, Ip, Tyty, Dathi, tetap kompak !! 7. Untuk SMUN 46 dan SMUN 34 Jakarta Selatan, atas kesempatan dan
kerja samanya dalam proses penelitian dan terselesaikannya skripsi ini. Terima Kasih atas segala motivasi, bantuan dan doanya, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian. Dan semoga skripsi ini bermanfaat. Amin.
DAFTAR ISi
Abstraksi ... .
Kata pengantar ... iii
Daftar isi ... vii
Daftar Tabel dan Bagan ... ix
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
Q
Latar Belakang Masalah ... 11.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 11
1.2.1 Pembatasan Masalah ... 11
1.2.2 Perumusan Masalah ... 12
1. 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .. .. . . .. .. .. . .. . . ... 12
1.4 Sistematika Penulisan ... 13
(BA13V
KAJIAN TEORl ... 152. 1 Deskripsi Teoritik ... 15
2. 1. 1. Pengertian Kelas social ... 15
2.1.2. Faktor pembentuk mobilitas social ... 21
2 .. 2. Pengertian gaya hidup materialisme ... 34
2.2.1.1. Pengertian gaya hid up ... 34
2 .. 2.2. Pengertian materialisme ... 37
2 .. 2.2.1. Pengukuran gaya hidup materialisme ... 44
2 .. 3. Pengertian remaja ... .47
2 .. 3.1. Ciri-ciri remaja ... 50
2 .. 3.2. Materi sebagai Symbol status bagi remaja ... 58
2.1.3.3. Perilaku konsumsi remaja sebagai anggota masyarakat. ... 65
J
-BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ... 67
3.1. Disain Penelitian ... . ··· ... 68
3.2. Pengumpulan Data ... . . ... 68
3.2.1. Populasi dan Sampel. ... . . ... 68
3.2.2. Metode dan lnstrumen ... 70
3.2.3. Teknik Pengumpulan Data ... 76
3.2.4. Analisa Data... . . .... .. .. .. .... .... ... ... . ... 78
3.3. Main Study... . ... . . ... .79
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 81'.
4.1. Gambaran Umum Responden ... 81
4.1.1. Berdasarkan kelas sosial. ... 81
4.1.2. Berdasarkan materialisme.. ... .. .... ... ... .... .. . .. ... 82
4.13. Hubungan antara kelas sosial dengan gaya hid up materialisme ... 83
BAB 5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1: Kesimpulan... .. ... 91
5.2. Diskusi ... 92
5.3. Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL DAN BAGAN
DAFTAR TABEL
BAB 2
[image:10.595.57.459.150.568.2]Ta be I 2. 1. : Tabel karakteristik kelas sosial ... 30
Tabel 2.2. : Tabel Kisi-kisi kelas sosial. ... 31
Tabel 2.3. : Tabel karakteristik materialisme ... 45
BAB3 Tabel 3.1. : Tabel penghitungan skala materialisme ... 71
Tabel 3.2. : Sebaran butir skala kelas sosial ... 72
Tabel 3.3. : Sebaran butir materialisme ... 73
Tabel 3.4. : Sebaran aitem kelas sosial yang valid ... 73
Tabel 3.5. : Sebaran aitem materialisme yang valid ... 74
BAB4 Tabel 4.1. : Sebaran sampel berdasarkan kelas sosial ... 81
Tabel 4.2. : Sebaran sampel berdasarkan gaya hidup materialisme ... 82
Tabel 4.3. : Sebaran sampel berdasarkan faktor materialisme ... 83
Tabel 4.4. : Sebaran sampel berdasarkan kode ... 84
Tabel 4.5. : Tabel silang ... 86
DAFTAR BAGAN
BAB 1
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah
Manusia pada umumnya di!ah·r{.an seorang diri, akan tetapi pada kehidupan
selanjutnya tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sulit hidup tanpa orang lain.
Setiap individu merniliki berbagai keinginan dan kebutuhan yang ingin
dipenuhi bahkan harus terpenuhi Untuk itulah manusia membutuhkan orang
lain, dimana setiap individu melakukan interaksi dan negosiasi dengan
lingkungannya demi tercapai kebutuhan dan keinginannya.
lnteraksi yang dilakukan tersebut tanpa disadari seolah membentuk
individu-individu yang saling berinteraksi tadi saolah menjadi sebuah
ke!ompok-kelompok dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam sebuah rnasyarakat.
Adapun hal yarig dapat rnernbedakan inclividu-individu dalam sebuah
masyarakat sarigatlah beragam, semua ini tergantung pad a apa yang
dianggap bernilai tinggi dalam masyaraknt tersebut. Hal yang dianggap
penting dan bernilai tinggi dalam sebuah masyarakat akan menempatkan hal
tersebut sertci individu yang meniilikinya memperoleh kedudukan yang tinggi
Bila saja dalam sebuah masyara'<at lebih menghargai kekayaan material dari
pada pendidikan, maka anggota masyarakat yang memiliki kekayaan material
yang berlimpahlah yang menduduki posisi terhormat dan teratas
dibandingkan dengan anggota masyarakat yang berpendidikan tinggi. Gejala
tersebui menimbulkan pengelompokan dan kelas ataupun lapisan-lapisan
dalam masyarakat.
Sejak zaman refolusi perancis pada masa kepemimpinan Lois ke XIV telah
ditemukan bahwa adanya perbedaan kedudukan individu sebagai anggota
masyarakat yang terdiri dari kaum bangsawan yang kaya raya, pedagang
dan kaum yang beranggotakan individu yang tid3k memiliki harta benda.
Maka jelaslah bahwc; clalam sebuah masyarakat, disadari ataupun tidak
dengan serta merta individu sebagai anggota masyarakat memperoleh
bahkan memiliki kedudukan atau lapisan dalam tingkatan-tingkatan yang
berbeda s'"suai dengan apa yang dianggap lebih dihargai atau dinilai tinggi
oleh mas\1arakat tersebut.
Terbaginya individu dalam masyarakat pada sebuah tingkatan-tingkatan yang
berbeda, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan anggota
masyarakatnya. Mulai dari adanya perubahan atau pergeseran nilai dalam
kepribadian, aktivitas, minat maupun pendapat hingga pada pola konsumsi
Semua l1a, ini terjadi dikarenakan rnasyarakat sehagar ternpal her·kumpulr1ya
individu-individu dari berbagai /atar belakang yang berbeda rnerniliki interfensr
dan kekuasaan yang cukup besar dalam proses i<ehidupan individu-individu
sebagai anggotanya.
Contohnya masyarakat Indonesia, yang pada umumnya menganggap
kepemilikc.n harta benda ber/impah merupakan ha/ yang terpenting dalam
hidupnya. Benda-benda berbentuk material diyakini sebagai suatu peralatan
atau perlengkapan yang dapat memudahkan seseorang da/a,11 menjalankan
kehidupannya. Contohnya saja orang yang membeli dan memiliki berida
material seperti mobil, motor, mesin cuci, lemari es, TV, computer, telepon
selular, dan lain sebagainya. Secara fungsional, peralatan ini memang sangat
bermanfaat dan memenuhi keb:.ituhan serta menambah mobilitas dari
kelangsungan l1idup manusia.
Bukan hanya itu, ketika berdasarkan sejarah perkembangan teknologi dan
ilmu pengetahuan, pengembangan, kemajuan serta penemuan-penemuan.
baru di berbagai bidang kehidupan ditujukan untuk memudahkan
kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia di dunia secara kese/uruhan.
Begitupun dengan tujuan utama dari pembangunan di bidang ekonomi yakni
memungkinkan seseorang untuk mencapai taraf hidup yang /ayak. Dari
berusaha memperoleh kesejahteraan dengan berbaga1 cara untuk
memperoleh beragam macam benda material yang diyakini dapat
mempermudah dan mensejahterakan kehidupannya.
Bila dilihat dari perilaku konsumen da!am m&ngkonsumsi, pada awalnya
mungkin orang-orang membeli atau mengkonsumsi beragam produk barang
hanya karena kebutuhan, hanya untuk sekedar mempertahankan hidup atau
untuk lebih rnempermudah diri mereka da/am menja/ankan kehidupan. Akan
tetapi semua bergeser ketika persaingan tadi terjadi dan berlaku bagaikan
virus yang merubah gaya hidup, po/a fikir dan orientasi nilai bagi kehidupan
orang-orang secara umurn. Perubahan tersebut menimbulkan
kegemaran-kegemaran, kebutuhan serta keinginari dan harapan-harapan baru., yang
d1sadari ataupun tidak memotivasi para konsurnen untuk dapat mernenu/1inya.
Yang menjadi pertimbangan bagi para konsumen bukan Jagi berhenti pada
titik terpenuhinya ks..,c1tuhan atau "yang penting ada dan dapat bertahan
hidup". Akan tetapi lebih dari itu, orang-orang sudah mulai berfikir dan
merubah pertimbangan dari kegiatan membeli atau konsumsinya pada
hal-hal yang dahulu tidak begitu diperhatikan atau menjadi prioritas, seperti
misalnya bentuk, warna, harga, r,1erek ataupun makna simbolik dan nilai dari
James F. Engle, Roger D. Blackwell dan Paul W. Miniard (1995) menyatakan
bahwa pertimbangan pembeli lebih berdasarkan pada fungsi, bentuk, dan
"arti" dari sebuah produk yang akan dibelinya. Juga tak lepas dari masalah
kebutuhan dan keinginan serta harapan konsumen dalam membeli produk
tersebut.
Dimana :nasyarakat memiliki interfensi yang kuat dalam perilaku
individu-individu yang menjadi anggotanya. Begitupun dalam hal konsumsi, system
kemasyarakatan sangat mempengaruhi individu-individu sebagai anggotanya
dalam perilaku konsumsi, karena masyarakatlah yang menilai dan
memegang kendali untuk dapat mernproyeksikan, memberi gambaran serte
menunjukkan bagaimana mereka ingin menjadi, atau masyarakat dengan
individu-inrlividu yang seperti apa yang ada didalamnya.
5
Dan hal ini berimbas pada tingkat dan jenis kabutuhan, keinginan, kehidupan
sosial, gaya hidup, serta pola fikir sekaligus aplikasi nilai dan norma
kehidupan individu sebagai anggota dalam lingkungan masyarakatnya. Bila
individu-individu yang ada didalamnya i11gin diakui, diterima dan iadi bagian
atau bahkan ingin memperoleh kedudukan yang setara bal1ka11 lebih, maka
individu-individu tersebut seharusnyalah konform terhadap peraturan yang
Contohnya saja, masalah komunikasi pada masyarakat moderen bukanlah
masa/ah yang besar karena yang perlu dilakukan sangat/ah mudah dan cepat,
seirir.g dengan kemajuan teknologi yang ada. Bila orang-orang di zaman dulu
menggum1kan a/at telekomunikasi yang seadanya, sekarang masyarakat
moderen baru akan puas bi/a mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan
d1manapun r.1ereka butuh dan inginkan. Contohnya saja pada artikel yang
ditulis seorang jurnalis dalam /1eadline yang berjudul "Ponse/ anda cermin
anda", Mobile Community Magazine, edisi july 2003, yang menggambarkan
betapa ponsel yang ada sekarang dapat dikatakan telah memenuhi
kebutuhan dan keingirsn konsu;nen.
Meski pada awalnya ponsel dig•Jnaka'l oleh orang-orang dengan tingkat
sosial, tinskat kesibukan dan segala kompleksit2.s yang bertaraf tinggi,
karena hc:rga, merek, dan fariasi yang ada saat itu masih tergolong terbatas.
Bcrbeda keadaannya di era moderenisasi ini ketatnya persaingan dan
kompetisi pasar menjadikan produk ini tersegmentasi Tidak hanya dari harga,
bentuk, dan fungsi saja, tapi juga disesuaikail dengan jenis kegiatan, minat ,
bahkan ponsel yang dimilikinya dapat dijadikan sebagai symbol personal atau
dapat digunakan untuk mengungkapkan seperti apa orang yang memiliki
Atau dalam contoh lain, dalam tidang periklanan, hampir seluruh iklan yang
dibuat mengetenaghkan atau menonjolkan kelemahan orang, maksudnya
adalah ketika orang menyadari kekurangannya dan menyadari untuk
menutupi atau memenuhi kebutuhan dan kelemahannya tersebut, dimana ·
orang-orang tersebut akan membeli dan mengkonsumsi bahkan menjadi
loyal terhadap produk yang dalam iklannya menjanjikan pemenuhan
kebutuhan dan keinginan serta menghilangkan kelemahan para konsumen
tad'.
7
Contoh dala<n keseharian dimana dituntut komformitas terhadap apa yang
dianggap penting oleh lingkungan sosialnya. Misalnya saja dalam hal mode
pakaian, sebagai masyarakat muda, remaja selalu ingin menjadi beda dari
kalangan manapun, tidak peduli dari status sosial tinggi ataupun rendah
remaja tetap remaja. Bagi mereka pal<aian yang mereka kenakan haruslah
mencerminkan kepribadian mereka, tetapi yang lebih penting adalah mode
pakaian yang yang mereka kenakan haruslah sesuai dengan teman
sebayanya, dan kebanyakan meref;a untuk 111asalah mode pakaian berkiblat
pada mode luar negri. Sedangkan yang dikenakan orang luar negri tersebut
tentunya memiliki harga yang mahal dengan menok-merek terkenal dan mode
yang selalu upjate, sesuai den9an karakteristiknya remaja Pdak peduli
orang-orang luar nE'.gri yang diy&kininya selalu membawa perubahan yang
sangat mengerti jiwa dan kebutuhan mereka.
Secara l0gika, bagi remaja dari kalangan kelas sosisal tingkat atas, hal itu
tidak masala/1, artinya mereka dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya
untuk menjadi setara dengan apa yang mereka ingin menjadi. Tapi tidak
untuk remaja yang memiliki kelas sosial yang menengah bawah terutama
remaja di .ingkat >osial yang rendah. Ajaibnya adalah rasionalisasi tersebut
terpatahkan mentah-mentah, karena pada kenyataannya kemajuan teknologi
dan kreatifnya para produsen membuat sesuatu yang awalnya tampak
irrasional menjadi hal yang rasional dan sederhana saja. Remaja kalangan
menegah - bawah, tampak tidak jauh berbeda dengan remaja di l:alangan
alas.· Mesl<i mereka mungkin membeli pakaian dengan merek berbeda a tau
dengan merek yang palsu atau dikenal dengan istilah "pembajakkan", yang
penting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat sama, satara, dan
secara tidak langsung menaikan status sosial mereka di masyarakat terutama
dikalangan teman sebayanya.
Begitulah kenyataan yang ada, dalam pergaulan sehari-hari sama saja,
dimana remaja dengan segala kompleksitas kepribadiannya, mereka bergaul,
berkelompok, saling berbagi seolah menjadi bagian dari kehidupan teman
sebayanya, dimana pada masa itu seseorang dinilai dan dipandang dari apa
tersebut di tole- k oleh teman sebayanya c.dalah sebuah hukuman yang sangat
berat bagi mereka, begitupun dengan penolakan atau diragukan
keheradaannya dalam artian kemampuan dan eksistensinya di masyarakat
juga merupakan suatu musibah yang sangat berat dan sulit diterima.
9
Berdasarkan contoh-contoh diatas, maka benarlah kiranya ungkapan Fromm,
(1976 : 8) bahwa masyarakat modereri mengidentifikasi dan menunjukkan
status sosial mereka dengan ungkapan atau prinsip "/am = what I have and
what I consume", atau dalam prinsiµ lain yang diadopsi dari Descrates's yakni
cogito ・イセQP@ sum yang dapat diartikan rnenjadi I shop, therefore I am.
Ungkapan dan ヲッイュセjゥ。@ ini menunjukkan usaha pemilikan benda material
yang di konsurr,si konsumen memiliki makna simbolik atas apa yang mereka
korsumsi. Mereka yekin bahwa kepemilikannya memainkan peran penting
dalam kehidupan sehari-hari. Dimana cara pandang mereka jadi terpengaruh
dan orientasinya bukan lagi pc.0a benda yang dimiliki orang lain atau dirinya
sendiri, tetapi lebih ke;:iada maksud atau symbol status yang mereka ingin
tunjukkan.
Sedangkan makna symbolik yang diharapkan dari kepemilikan benda-benda
material bagi para remaja adalah sebagai persona dalam menjalani tugas
perkembangannya. Dimana minat dan aktifitas serta pendapat-pendapat dan
10
sebagai proses pencarian jati diri, identitas dan pengembangan d'ri mereka.
Ketika semua dirasakan benar-benar bisa dijadikan sebagai proses
aktualisasi diri dan memberi kepuasan seka:igus dapat menggambarkan
status social dan menaikan harga ciiri, hal ini lambat laun akan menjadi
kebiasaan yang kemudian diinternalisasikan hingga menjadi pilihannya dalam
menjalankan kehidupanya.
Remaja yang awa/nya tidak begitu menilai ber.da-benda material atau
perilaku hedonis sebagai suatu yang di2nggap penting atau sebagai
keharusan, cepat ataupun lambat akan mulai menginternalisasi nilai-nilai
yang dianggap penting bagi ke/ompok sosialnya tersebut. Sebut saja seperti
contoh-co itoh sebelumnya seperti ponsel. Kadang atau memang bila mereka
sadari betul fungsi dari ponsel atau bergaya pakaian yang ュ・イセォ。@ pilih atau
miliki tidak sepenuhnya atau tidak seluruhnya mereka butuhkan atau inginkan.
0
Dengan begitt.:lah remaja bahkan masya,·akat secara luas menjadi
materialism, dimana mereka saling bersaing untuk menjadi lebih tinggi
tingkatannyo dalam ke/ompok sosialnya, dengan sela/u iri atau tidak senang
bila orang lain lebih darinya, dan tidak mau berbagi dengan ornng lain,
karena merel;a ingin hanya dirinya/ah yang rnenjadi terbaik dan tersukses
11
"I think all things say something about you. It maight be 'I don't care' or it
might be 'I think I'm .wonderful - take a good look at me', but I think everyone
finds their balance by buying tile things that reflect them best".
( Denis Lew;s, dalam Helga Dittmar, 1992)
Berdasarkan penjabaran dan contoh diatas serta kenyataan lain yang serupa
itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengangkat masalah apakah
seseorang bergaya hidup materialis dipengaruhi oleh latar belakang kelas
sosial yang berbeda atau tidak. Dan untuk itulah penelitian ini menga.1gkat
judul:
"Hubungan antara Kelas Sosial terhadap Gaya Hidup Materialisme"
1.2. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.2.1. Pembatasan Masalah
Kelas sosial yang dimaksudkan adalah pembagian anggota masyarakat
kedalam kelas-kelas berupa ting:<atan atau hirarkis, dimana individu atauptm
keluarga yang ada didalamnya saling berbagi nilai-nilai, gaya hidup, minat
dan perilaku yang dapat dikategorikan dalam bentuk prestise dan esteem
Sedangkan materialisme yang dimaksud adalah nilai multidimensional dalam
diri remaja yang meliputi possessiveness, envv (displeasure at someone else
possessing something), non-generousity (unwillingness to give or share
possessions), centrality, dan memiliki benda material diyakini sebagai sumber
kebahagiaan.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja yang berada di
lingkungan perkotaan, dalam hal ini Jakarta. Dengan rata-rata usia antara
lrrna belas sampai delapan belas tahur. (15 - 17 tahun ).
1.2.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masa/ah diatas, maka masalah yang_ akan dibahas
dalam f18nelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
Adakan hubungan antara kelas sosial terhdap gaya hidup materialisme ?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Pen-?litian
Mengacu pada latar belakang dan perumusan masalah penelitian ini, maka
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya
v
Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya
wawasan mengenai perilaku konsumsi yang dilaKukan remaja, untuk
menamba:i wawaasan tentang bagaimana perilaku remaja sesuai tahap
perkembangan serta proses pembentukan pola hidup mereka yang dilatar
belakangi oleh l<e/as sosial yang berbeda. Dan diharapkan pula dapat
menambah pengetahuah dan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai
perilaku remaja sehubungan denqan dirinya sebagai konsumen terlebih
sebagai anggota masyarakat.
1.4. Sistematika Penulisan
13
Penulisan skripsi ini berpedoman pada sistematika penulisan American
Psycho/ogycal Association (APA Style). Untuk memudahkan penulisan skripsi
ini, penulis menyusunnya dalarn bentuk beberapa bab sebagai berikut:
BAB 1
BAB 2
0
: Pendahuluan. Berisi latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
:l<ajian Teori. Bab ini membahas teori-teori yang berhubungan
dengan penelitian ini, yakni teori tentang kelas sosial,
BAf::l 3
BAB4
BAB 5
kelas sosial, pengL<kuran kelas social, teori tentang gaya hidup
materialis, pengertian gaya hidup, faktor pembentuk gaya hidup,
macam-macar gaya hidup, pengertian materialif.me, faktor
pembentuk materialisme, pengukuran materialisme, teori
tentang rerr.aja, pengertian remaja, tugas perkembangan
remaja. minai remaja, remaja dalam tinjauan perilaku konsumen,
kerangka berfikir dan pengajuan hipotesa.
:Metodo;ogi Penelitian. Bab ini mengurai tentang metodologi
penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpi/an
data, metode pengolal1an data, metode pengolehan data, pilot
syudy, main study dan nasil penelitian.
: Hasil Penelitian. Terdiri dari gambaran umum subjek penelitian,
analisis data dan hasil penelitian.
BAB2
KAJIAN TEORI
Dalam penelitian ini akan melakukan kajian teoritik yang terdiri dari
pengertian kelas sosial dan stratifikasi sosial, faktor pembentuk dan perubah
kelas sosial, pengertian gaya hidup materialis, faktor pembentuk dan perubah
gaya hidup materialism.
2. 1. Oeskripsi Teoritik
2.1.1.Pengertian Kelas Sosial
Kelas sosial yang ada pada suatu masyarakat lebih di dasari oada ortientasi
nilai yang diangqap penting cialam kelompok sosial atau masyarakat secara
luas. Dan dalam kelas sosial pada hakikatnya mewujudkan system
keduclukan-kedudukan pokok dalam masyarakat yang disebut class-system
(Ronald Freedman, fa:mos H. Haweley, Warner S. Landeeker, Horece M.
Miner dalam Soerjono Soekanto 1990:260).
Loudon dan Della Bitta (1988 : 236) mendefinisikan kelas sosial sebagai berikut:
G. Schiffman Jan Leslie Lazar Kanuk (1994 : 276) menyatakan :
Concept of social class is used to assign individuals or families to a social class ;,ategory. Social Class is defined as the division of membera of a society into a hierarchy of distinct status classes, so that members of each class have relatively of the same status and r:Jembers of all other classes have either more or less status.
Disini kelas sosial di gunakan untuk pengkategorian individu atau family
daiam kelas sosia/. Kelas sosial didefinisikan sebagai pernbagian
masyarakat kedalam tingkatan-tingkatan status yang sama, dengan begitu I (1
anggota dari masing-masing kelas sosialnya memiliki status yang relatif sama,
dan tidak menutup kemungkinan adanya penirigkatan atau peurunan status
scsial bagi seluruh tingl(atan atau ke:as sosialnya.
Definisi senada di ungkapkan oleh Engle. Blackwell, dan Miniard (1995: 681) :
"SociE.I Class is defined as relatively permanent and homogeneous divisions in a society into which individuals or families sharing similar values, lifestyle. interests, and behavior can be categorized".
Lebih lanjut Engle, Blackwell dc:r. Miniard (1995) menyatakan bahwa kelas
sosial mengacu pada pr"ngelompokan orang yang sama dalam perilaku
mereka berdasarkan posisi ekonomi mereka di dalam pasar. Keanggotaan
kelas ada dan dapat di deskripsikan sebagai kategori statistic entah
II
Kemudian Max Weber, bersama dengan Karl Marx dalam Engle, Blackwell
dan Miniard (1995 · 681 ), dapat dianggap sebagai bapak teori kelas sosial,
menjelaskan perbedaan antara kela;:; sosial dan kelompok status sebagai
0
berikut :
"With some over-simplification, one might thus say that "classes" are stratified according to their relations in the production and acquisition of goods,
wheares "status groups" are stratified according lo the principles of their consumption of goods as represented by special "style of life".
Dan J.Paul Peter dan Jerry C. Olson (2002: 341) lebih lanjut menyatakan bahwa:
"Social class refers to a national status hierarchy by which groups and individuals are distinguished in term cf esteem and prestige".
Berdasarkan teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa kelas セッウゥ。ャ@ sebagai
pembagian anggota masyarakat kedalam kelas-kelas dalam bentuk tingkatan
atau hirarkis, dimana individu atau keluarga yang ada didalamnya saling
berbagi nilai-r.ilai yang sama, gayci hiduo, minat, dan perilaku yang dapat
dikategorikan dalam bentuk prestise dan esteem (penghargaan dan
penghormatan).
Beberapa tokoh memahami kelas sosial dengan istilah stratifikasi sosial.
Yang pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, adapun pengertian
strat1fikasi social itu sendiri adalah seperti yang diungkapkan para ahli
dibawah ini.
lo
Manusia di muka bumi ini pada hakikatnya sam2-sederaJat. Tetapi pada
kenyataannya dalam kehidupan kelompok-kelompok sosial tidaklah demikian
(Robin William, 1960 dalam soerjono Soekarito, 1990: 254). Disadari bahwa
kenyataannya beberpa orang dalam kelompok sosisal te1ientu lebih tampak
"sepadan-sederajat" dengan posisi atau :<edudukan"yang lebih tinggi
dibandingkan dengan orang iain yang nampak lebih mempunyai kedudukan
yang lebih rendah padahal mereka berada dalam kelompok sosial yang sama.
Seorang filosof, Aries Toteles dalam Soerjono Soekanto (1990: 251)
mengatakan bahwa di dalam Negara tardapat tiga unsur, yaitu mereka yang
kaya sekali, yang melarat, dan yang barada di tengah-tengahnya. Hal tesebut
membuktikan bahw:;i sejak zaman itu dan sebelumnya, orang telah mengakui
adanya startifikasi sosial yang memiliki tingkata:i-tingkatan dari bawah keatas.
Max Heller, 1981: 766-795 dalam James F. Engle, Roger D. Blacekwell dan
Paul W. Miniard (1995: 123) menyatakan stratifikasi sosial terjadi untuk
mengembangkan dan me;estarikan identitas sosial kolektif di dalam dunia
Sedangkan berdasarkan asal kata dan beberapa pendapat tokoh mengenai
stratif;kasi sosial dan hubungannya dengan perilaku konsumsi dapat di
definisikan sebagai berikut :
Kata stratification berasal dari kata stratum (jamak dari strata) yang berarti
lapisan. Pritim A. Sorokin, 1959 dalam Soerjono Soekanto,(1990:252) menyatakan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau
masyarakat dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirnrkis). Perwujudannya
adalah kelas yang lebih tinggi dan kelas yang lebih rendah.
Selanjutnya Sorokin menyatakan bahwa das2r dan inti dari lapisan
masyarakat adalah karena tidak adanya keseimbangan dalam pembagian
hak aan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan
pengaruhnya diantara anggota-a,1ggota masyarakat.
Sedangkan Loudon dan Della Bitta (1988 : 236) menyatakan bahwa :
"Social Stratification", is the general term whereby people in a society into higher and lower social potitions, which produces a hierarchy of respect or pre::tige.
Berdasrkan teor: diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial sebagai
pembedaan penduduk yang dibe:ituk oleh orang-orang yang ':Jerada dalam
masyarakat itu sendiri, 0edangkan bentuk dari stratifikasi sosial adalah
sebuah tingkatan-tinQkatan atau hirarkis dari bawah keatas berdasarkan
prestise dan respek.
20
Stratifikasi sosial tidak saja mempengaruhi bagaimana suatu tingkat atau
str·ata sosiai menunjukkan perbedaan-perbedaan di antara masyarakat dan
membagi masyarakat kedalam tingkc.tan-tingkatan yang terbeda, tetapi juga
memberikan makna simbolis Ji daiamnya bahwa pada setiap tingkatan
memiliki stereotype dan juga status yang berbeda sekaligus status yang
mempengaruhi mereka dalam menjalar1kan kehidupanny2 sesuai
tingkatannya masing-masing.
Dalam kaitannya der:::an perilaku konsumen stratifikasi sosial
memperlihatkan perbedaan dalam perilaku konsumsinya, yakni dapat dilihat
dari segi ekonomi, politik, hukum, agama, keluarga, dan pendidikan mereka.
Dalam stratifikasi juga dikenal adanya mobilitas atau pergerakan tingkatan
atau strata sosial yang di tunjukkan oleh meningkat atau menuwnnya status
individu-individu sebagai anggota masyarakat, yang terjadi di dalam strata i(u
sendiri (intra) atau antar strata atau bahkan dari generasi kegenerasi dalam
populasi atau pangsa pasar khususnya (dalam Engle, dkk., 1995).
Hal ini juga dapat diartikan akan adanya pe/uans; yang besar dalam mobilitas
status sosial yang dapat menaikkan ataupun menurunkan strata sosial
atau cara individu anggota masyarakat melakukan konsumsi yang dapat
merubah statusnya dalam masyarakat atau kelornpok sosialnya dengan
keputusan-keputusan yang diambil dalam proses konsumsi, dan ha/ ini juga
me.11pengaruhi gaya hidup individu-individu sebagai bagaian atau di/uar
strata terten!u.
.'.I
Stratifikasi sosial terjadi untuk rr.engembangkan dan me/est11rikan identitas
sosial kolektif d: dalam dunia yang dicirikan oleh ketidak samaan ekonomi
yang mudah menyebar (Max Heiler, 1981 :766-795 dalam Engle, dkk., 1995 :
123). Studi ilmicih mengenai strc:tifikasi sosial di Amerika dimulai pada tahun
1920-an dan 1930-an dengan deskripsi kelas sosial dikota-kota kecil New·
England dan U1e South.
2.1.1. Fak,or Terciptanya Mobilitas Sosial
2.1.1.1. Kebudayaan
Masyarakat. dimana tempat berkumpulnya orang-orang yang saling
berinteraksi, dengan latar belakang usia, jenis kelamin, /apisan sosial, ras,
etnik, dan sebagainya dijadikan sebagai ajang bertukar ide-ide, kepercayaan,
perbedaan ataupun kesamaan yang mereka miliki bersama yang kemudian
dianut, diinternaiisasiknn dalam kesehariannya hingga akhirnya
dikonseptualisasikan kedalam sesuatu yang mereka sebut l<ebudayaan.
(dalam J.Peter & Olson, 2002).
Kebudayaan meliput berbagai elemen, baik secara abstrak maupun yang
berbentuk material. Elemen yang abstrak meliputi nilai-nilai, ide-ide, tipe-tipe
kepribadian, dan konsep-konsep seperti religiusitas. Sedangkan elemen
material meliputi benda-benda seperti mobil, buku-buku, computer, bangunan,
dan oerbagai perkakas rumah tangga, dan lebih spesifiknya lagi seperti levi's
501 jeans atau kumpulan CD dari Mar·ia Carey dan lain sebagair1ya.
Kebuda'jaan melengkapi manusia dengan sense (perasaan) dari sebuah
identitas dan juga memberi pengertian terhadap perilaku-perilaku yang dapat
diterima oleh rnasyarakat. Beberapa dari sikap dan perilaku yang lebil1
penting, yang di pengaruhi oleh budaya rnenurut Philip R. Harris dan Robert
T. Moran, 1937, dalam Engle, dkk, (1995: 611) adalah sebagai berikut:
1). Sens of self and space, 2). Communication and language, 3). Dress and
appearanre, 4). Food and feeding habits, 5). Time and time r:onsciousness
6). Relationships (family, organizations, government, and so an), 7). Values
and norms, 8). Belifes an1 attitudes, 9). Mental a1id learning, 10). Work habits
Dan dalam hubungannya dengan konsumsi, ke sepuluh sikap dan perilaku di
atas adalah sebagai suatu yang dapat dan memeng di pelajari masyarakat '
agar mereka dapat diterima daiam masyarakat atau lingkungan sosialnya,
dan semua itu adalat:! bagian atau sebuah aplikasi dari makna sebuah
kebudayaan. Dengan begitu sikap dan perilaku d; atas berpengaruh bagi
keh:dupan indivudu-iridividu sebagai anggota rnasyarakat dalarn berbagai hal
terrnasuk di dalarnnya adalah dalam sikap dan perilaku mereka dalam pola
hidup materialismenya.
Kebudayaan juga l.Jerpengaruh terhadap peniiaian individu dan masyarakat
secara umum mengenai proses konsumsi dengan memberikan makna pada
barang dan jas<l. Dalam sebuah literatur pemesaran be/um lama ini berfokus
pada makna kognitif, fungsi simbolik, dan sejarah budaya dari sebuah produk
yang muncul di dalam suatu konsep yang disebut semantik produk atau
semiotik, studi tentang kualitas simbolik dari sebuah produk (Ruby R.
Dholakia dan Sidney J. Levy, 1987 dalam Engle, dkk., 1994).
Lebih lanjut kebudayaan dalam kaitannya dengan perilaku konsumsi adalah.
dengan adanya produk-produk yang mengandung makna-makna (meanings)
melalui dunia periklanan, system fashion, kehadiran pedangan-pedangang
eceran, dan beberapa cara lain yang tidak di pengaruhi oleh pelaku pasar
tapi tidak penting untuk perkembangan konsumen dalam tahapan-tahapan
individua! mengembangkan makna me/alui pemilikan, pertukaran,
pengurusan, dan ritual pelepasan (Grant McCracken, 1986, dalam Engle,
dkk., 1995: 618) .
.Jadi, kebudayaan berpengaruh tentang tP.rciptanya pembagian masyarakat
keda/am lapisan-lapisan atau hirarkis, alasan mengapa orang-orang membeli
atau mengkonsumsi, juga alasan pemilihan po/a hidup•masing-masing
anggota masyarakat tentunya.
2.1.1.2. Simbol Status
Simbol status diartikan sebagai penjelasan mengenai gambaran keduduka11
seseorang dalam masyarakatnya. Dimana personal status-nya diperoleh
tergantung pada reputasi seseorang di dalam komunitasnya dan pada
judgement terhadap seseorang tadi yang dibuat oleh orang-orang lain dalam
komunitasnya. Baik personal ataupun simbol status diperoleh dari kelas-kelas
sosial yang membahas mengenai "apa yang orang-orang dalam
ma3yarakatnya menyatakan siapa mereka".
Sedangkan definisi dari syMbol status sebagaimar.a diungkapkan Soerjono
Kedudukan seseorang yang melekat padanya dapat terlihat pada kehidupan sehari-harinya melalui ciri-ciri tertentu yang dalam sosiologi disebut juga prestise-simbol. Ciri-ciri tersebut seolah-olah sudah menjadi bagian hidupnya yang tc-lah institutionalized atau bahkan internalized .
Adapun ciri-ciri yang dianggap sebagai simbol status misalnya saja cara
berpakaian, pergaulan, cara mengisi waktu senggang, memiiih tempat
berlibur, tempat tinggal, cara dan corak menghias runiah kediaman, memilih
kendaraan, memilih sekolah, dan seterusnya ,dalam Soerjono Soekanto,
(1990).
Simbol status dalam Neil J. Smelser, 1973 dinyatakan : "Symbol-status is a
clear expression of one's positior. in sociaty's". Pengertian yang tidak jauh
berbeda di ungkapkan dalam Hurlock (1980 : 223) tentang simbol status :
"yaitu merupa/(an symbol prestise yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya Jebih tinggi atau mempunyai status yang lebih tinggi dalam kelompok".
g・イ、。ウ。セォ。ョ@ pengertian atau definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa simbol
status adalah ciri-ciri •-,rtentu yang dapat menggambarkan kedudukan yang
melekat dalam diri individu sebagai anggota masyarakat yang juga dapat
dalam kelompok atau lingkungan masyarakalnya. Jadi simbol status
rnerupakar1 unsur yang ada dalarn /'elas sosial yang keberadaannya
dipengaruhi juga oleh kebudayaan, yang juga berfungsi sebagai faktor
terciptanya rnobilitas sosial seseorang yang lebih diaktualisasikan melalui
materialisme seseorang.
Sebagaimana pendapat beberapa ah/i mengenai bagaimana simbol status
sangat dirasakan penting dalam sebuah po/a interaksi yang sangat
berpengaruh pnda pola hidup (gaya hidup) seseorang, diantaranya adalah
sebagaimana yang diungkapk:r1 oleh Fromm (1978:25) bahwa :
"In culture in whicl1 thr. supreme goal is to have-and to have more and
more-.. how can there be an alternative between having and being? On the confrf!ry, ti would seem that the very essence of being is having; that if one "has" nothing, one "is" nothing.
2.1.2. Faktor Pembentuk Kelas Sosial
Berdasarkan penelitian yang dilakuakan Joseph Kahl (dalarn Engel, dkk,
1995), terdapat variable-variabel terpenting sebagai penentu status dan kelas
sosial seseorang dalam masyarakat, seperti : prestasi pribadi, interaksi,
Pekerjaan dan pendapatan. Pekerjaan dan pendapatan sebuah ke/uarga
memang besar pengaruhnya dciiam menentukan kelas sosial seseorang
sebagai anggota kelua<ga dan anggota masyarakat pada umumnya. A:<:an
tetapi harus pula disadari bahwa pendapatan tidak /angsung menentukan
kelas sosial seseorang.
Contohnya saja seorang remaja yang berprofesi sebagai pengamen.
misa/nya mungkin memperoleh pendapatan yang lebih besar dari pada
rernaja sebagai pelajar pada umumnya tanpa bekerja. Namun, pelaj2r tanpa
penghasilan tersebut umumnya memiliki kelas sosial yang lebih tinggi
dibandingkan pengamen yang memiliki uang atau penghasilan yang besar.
Adapun yang faktor yang menent11kan kelas dan status sosial seseorang
dalam masyarakat adalah sebagai berikut :
Pekerjaan. Analisis ko,1sumen mempertir.ibangkan bahwa pekerjaan sebagai indikator tunggal terb.aik mengenai kelas sosial. Pekerjaan yang di lakukan
oleh konsumen sangat mempengaruhi gaya hidup mereka dan merupakan
satu-satunya basis terpenting untuk mencapai prestise, kehormatan dan
Prestasi pribadi. Status seseorang juga dapat di penga·uhi oleh keberhasilannya yang berhubungan dengan status orang lain di dalam
pekerja yang sama - oleh prestRsi pribadi individu.
I nteraksi. Orangmerasa senang bi la mereka berada bersarna orang deng< n
nilai dan perilaku yang sama. Sebagai contoh ungkapan "siapa yang
mengundang siapa untuk datan!;; kepesta ulang tahunnya". Oalarn ha! ini,
keanggotaan kelompok dan interaksi di anggap sebagai determinasi utama
dari kelas sosial seseorang. lnteraksi sosial biasanya terbatas pada kelas
:o;osial langsung seseorang, walaupun peluang ada untuk kontak yang lebih
luas.
Pemilikan. Pemilikkan adalah symbol kean9gotraan kelas. TicJak hanya
jumlah, tet8pi sifat pilihan yang di buat.
Nilai. Kepercayaan bersarna rnengena1 bagairnana orang harus berperilaku
ini 2da/ah arti dari nilai. Dan nilai dapat rnenunjukkan kelas sosial di rnana
seseorang termasuk di dalamnya. Ketika kelompok orang berbagi
29
menghubungkan banyak sifat spesifik, adalah mungkin untuk menggolongkan
individu 01 dalam kelompok dengan tingkat dimana ia memiliki nilai ini.
Kesadaran Ke/as. Ke/as sosial seseorang ditunjukkan hingga jangkawan tertentu dengan berapa sadar or::mg bersangkuta;i akan kela.> sosial di dalam
suatu masyarakat. lndividu yang relative sadar akan perbedaan kelas akan
Jebih mungkin beasal dart kelas yang lebih tinggi, walaupun individu dari
kelas sosial yang lebih rendah mungkir lebih sadar akan realitas kelas
sosialnya secara keseluruhan. Oa;i kesadaran akan kelas sosialnya tersebut
membuat individu dari kelas sosial tinggi cenderung berusaha
memrertahankan statusnya di masyarakat, dan kesadaran bagi individu yang
berada di kelas sosial yang rendah akan cenderung berfungsi sebagai
pemicu timbulnya motivasi mereka untuk meraih kelas sosial yang lebih tinggi
atau berusaha mendapatkan status berdasarkan achieve-status dalam Engle,
dkk ' (1994 • 125-129)
Dalam penelitian ini aspek-aspek atau faktor yang digunakan sebagai
patokan atau ukuran terhadap tergolongmya remaja oalam suatu kelas sosial
tertentu, diadopsi dari pengertia.1 kelas sosial yang didefinisikan sebagai
pembagian masyarakat kedalam bagian-bagian yang sama dan relative
30
berbagai nilai, gaya hidup, minat dan kegiatan yang dapat dikategorisasikan
relative sama. (Engle, Blackwell, & Miniard, 1995 :681).
Dan kebanyakan ahli seperti colmen dalam J.P.Peter & Olson. (2002).
Engle.dkk, (1995) serta beberapa ahli lain yang menyatakan bahwa kelas
sosial terbagi menjadi upper. middle dan lower class, memiliki karakteristik
masing-masing, エ・ョエセN[ァ@ apa yang dinilai penting, berharga, tentang apa yang
mernbuat mereka lebih dihorrnati. tentang bagaimana minat dar1 opini mereka
tentang diri dan lingkungannya, dan lain sebagainya. Adapun perbedaan
ataupun persamaan dari masing--masing kelas sosial dapat dilihat dalarn
tabel berikut :
iNo.
I
FAKTOR1 1
1.
I
Nilai• I
I
I!
I
I
I
I
I
I
I
f _ _ j_ _ _ _ _
Tabel 2.1. : KarakterisUi' kelas sosial
Kls. Sos. Tinggi=i Kls. Sos. Sedang - Uang, karena
1 - Prestasi I jabatan
mereka tergolong
i
sangat penting. orang yang lcyal / - Rumah, karena dalamュ・ョセᆬ。イ@
J tamu akan datang1 kan uang untuk
I
I sewaktu-waktu dansesuatu yan9 tidak
I
memberi penilaian. begitu penting.I
- Pendidikan yang 1
1 ·
·1 berkualitas clan
semua yang 1
f Kls. Sos. Rendah
---1
\ - TerpenuhinyaI
. I
f kebutuhan primer dan f
I I
I
sekunder atau dalam 1
, hirarky need marsllow
I
:
--
:I
terpenuhinyak1,butt;hanI
dasar/ biologis dan · rasa aman.
I
I
berkaitan den_g_a_n_ll [image:43.595.40.470.116.686.2]31
1---r
I !
MMMMMMMMMMMMMセMMMMMMゥ@
' I
I -
Impulsive, yang'
/ ditampakan pada
i
\ cara be!anja
i1 npuls1venya.
i I
12.
i
Gaya HidupI
\ 3. ! Minat dan - Belanja benda-\ Keg!atan yang
I benda (symbol
dapat di 1 material) yang kategorisasikan dapat menunjukan
kelas social tinggi mereka.
L__
I - 'Tvieiakukan
I
:. sesuatu yang
i
benar"' I sesuaiI
aluran danI
semestinya.'
' - Segala sesuatu
': vane sedang
' -
-: popu!er/ trend
dengan membeli dan mernilikinya.
- Gaya hidup monoton,
I
segaia sesuatu yang \
dilakukan dan dimiliki hampir tidak berubah dari hari i<e hari .
i
- Ba!anja impulsivei yang di tampaka11 pada /
i
loyalitas tinggi II
terhadapュ・イ・ォMュ・セ・ォ@
/local.i
Sedangkan mengenai bagaimana masing-m2sing kelas sosial menanggapi
atau merespon hal-hal yang dinilai penting, berharga, dan seterusnya diatas,
d0pat dilihat bagaimana karakteristik yang beragam dari masing-masing
kelas sosial menanggapi atau meresponnya dapat dirangkum dalam kisi-kisi
[image:44.595.26.454.101.519.2]yang dapat dilil1at dalam tab/ berikut •
Tabel 2.2. : Ciri-ciri masing-masing kelas social
( Sumber Engle, Blackwell & Miniard.1995 :690)
iFakt_o_r ______ Kls. Sos. TinQgi---:-TKls.Sos. Sedang
/ 1. NILA! * Cenderung sangat
r
* Cenderung lebih!
Uang tr·">S cl;il;1111 ャゥNセイョゥャャ@/ . pell!.JQUnaan uang • Menghabiskan uang
' * Menghabiskan untuk hal-f1al yang / uang untuk l1al-l1JI
I
relative lebih pen ting.I Kls.Sos. Rendall
- I
I
* Tidak memiliki---i
r kccendcrungan yang
I
nyata, sangat irit dalarnPendidikan
Prestasi/jabatan
Rurnah
I
yang tidak penting.I
I
.
* Prioritas utan ia . dalam memilihI
,
sekolah adalah: 1.SekolahI
terkendl/reputasi baikI
2.Fasilitas /engkap ; 3.Mutu be/ajari
r.1engajarnya baiki,
·i' * P/J iidak ter/a/u
penting dan bukan
I
'
hal yangmernbanggakan.
I ·
Penilaian orangI
terhadap rumahnya 1 tidak begitu penting.I
* Rumail seb2gai svmbo/ status.
I
I
* Prioritas utama mernilih sekolah adalah mutu be/ajar
mengajarnya baik, dan telah diakui
kebaikannya.
• P/j ditur1juKan dengan kecakapannya dalam suatu bidang tertentu. • Dapat meningkatkan 1 status.
I
• Penamµilan rumal1 sangat penting dan penilaian orang tentang rumilhny;:i sangat penting.
* Rumah sebagai tempat tingga/.
r .
1l
* Tidak memiliki criteria 1 khusus dalam rnemilih seko/ah.
I "
• 0angat pent1ng,.
sebagai sesuatu yang dapat menaikan hargaI
diri.I
I
* Peni/aian orangI
tentang rurnahnyaI menimbulkan respon
I
yang sangat sensitiveI
* Rumah benar-benar sebaga' tempat tingga/.
I
I
IKebutuhan primer
I
* Kebutuhan terpenting adalahI
pemenuhan kebutuhan tertier,* kebutuhan yang paling penting untuk
I
dipenuhiI
•
Kebutuhan yangI
uatarna harus dipenuhi adalahkebutuhan'
I
ヲNMMMMMMセᄋᄋセMMセMMMM
1 2.GAYA HIDUP
I Impulsive dalarn
I
helanja'
I
sku11der dan terakhir pemenuhan
kebutuhan primer
; adalahkebutul1an
i skunder dan tert1er
I
dalam porsi yang /ebihI
sedikit, sedangkan 1 kebutuhan yang i terakhir kebutuhanprimer.
! primer, dan skunder 1
1
da/arn porsi yang lebih . sed'kit, terakhir baru
I
kebutuhan tertier.i
\_
____
セᄋセMMMMMMᄋMMMᄋᄋᄋ@
* Harnpir tidak * Hampir selalu
l
* Jarang rnelakukanpernal1 rnelakukian periimbangan dalarn
rnenggunakan pertirnbangan saat
1 belanja
pertimbangan yang ingin belanja.
I
* Cenderung boros matang da/am * Cenderung lebih saat punya uang saja.belanja. · hernat
I
* Jarang sekali*Boros * Keinginannya tidak keinginannya h.arus
*Yang diinginkan harus dirniliki , tercapar
I
harus dirniliki :
I
Melakukan
I
sesuatu dengan benar MonotonI
I
!
* Cenderung tidak
i
* Mematuhi aturan, memperdulikan i ィオセオュ@ dan norma yang aturan,hukum dan !, berlaku.norma.
'33
I •
Kurang memahami / aturan, hukum dan I norma lebih: dikarenakan ketidak
!I fahamannya terhadap
hal itu.
I
i
* Sangat beragam : • Keragarnan ! * Monoton, cenderung l kegiatannya, dan kegiatannya tidakI
t1dak mengalamii
kebanyakan : begitu banyak, dan . perubahan dan har: keI
dihabiskan diluar ritme antara diluar dan J hari, dan banyak nab1s[ rumah. di rumah sama. \ l<an waktu di rurnah.
---
MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMセM
セセM
* Impulsive dalam 1 * Cenderung lebih tidak
I
* lmpulsiv disaat punya3.MINAT Belanja barang-barang yang merupakan symbol status Memiliki dan rnembeli segala sesuatu yang sedang populer
Belanja impulsive merupakan lwsenangan sesaat yang tidak akan di lewatkan saat punya uang.
belanja sesuatu '1 impulsive, penuh ! uang saja, kurang
yang merupakan pertimbangan dalam
I
dapat mengontrol symbol status dan , pengeluaran. pengeluaran.tidak dapat · 1
I
mengontrol pengeluaran.* Segala sesuat:.i yang sedang populer hanya sekedar untuk diketahui bukan dimiliki.
• Cenderung ikut-, ikulanikut-, segala sesualu
yang sedang populer sangat menarik untuk • di ketahui apalagi ' dirniliki.
* Belanja impulsive : • Belanja impulsive di tidak dilakukan saat
i
1akukan sesekali saja. punya uang saja.i •
Belanja impulsive * Belanja impulsiveI
lebih kepada mood dan lebih kep;Jda mood : jarang dikarnakan bukan kondisii
kondisi keuangan.ォ・オセ⦅イQァ。ョN@ _____ [_ ________ _
I
I • Memiliki kcinginan
!
yang cukup besaruntuk memiliki segala sesuatu yang s3dang populer tetapi masih dapat menyesuaikan dengan keuangan. • Belanja impulsive mcrupakan kenikmatan sesaat yang tidak akan dilewatkan saat punya uang.
i •
Belanja impulsive lebih pada2.2. GAYA HIDUP MATERIALIS
Materialisme deipat difahami sebagai salah satu ragam pola hidup (gaya
hidup) seseorang, maka untuk lebih memudahkan pemahaman tentang arti
gaya hidup materialis, 'erlebih dulu dibahas mengenai gaya hidup
sehubungan dengan matuialis dan perilaku konsumsinya.
2.2.1. Definisi Gaya Hidup
Gaya_ hidup telah didefinisikan dalam berbagai 3egi dan cara, dan dalam
penelitian tentang perilaku konsumen, gaya hidup diartikan sebagai sebuah
konsep popular yang digunakan untuk mengerti perilaku konsumen,
barangkali ini disebabkan gaya hidup lebih menyeluruh (contemporer) di
bandingkan dengan kepribadiRn (personality) dan lebih komperhensif
dibandingkan nilai (values), (Engle, BlackNell, dan Miniard, 1995: 448).
"How one lives·: definisi inilah yang diungkapkan dalam Fred D. Reynolds
dan William R. Darden, 1972 : 258) dan ini merupakan pengertian yang
sangat sederhana dari sebuah konsep gaya hidup. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa gaya hidup dapat digunakan untuk menggan:barkan
35
Gaya h;dU!J juga dapat digunakan untuk menggambarkan individu, kelompok
kecil yang terjalin interaksi didalamnya, dan juga kelompok-kelompok yang
lebih besar dari orang-orang atau kumpulan yang ada.
Jadi, konsep gaya hidup berarti "seperangkat ide-ide yang sangat jelas dan
nyata dari kepribadian individu ataupun orang-orang yang ada di dalam
sebuah masyarakat".
Gaya hidup memang bukan istilah baru dikenal tetapi ap/ikasinya dalam
bidang perilaku konsumen baru bElakangan ini banyak di gunakan. Alfred
Adler (dalam Loudon & Della Bitti1, 1993 : 118) menggunakan istilah style of life mengacu pada tujuan yang ditetapk2n oleh seorang bagi dirinya sendiri ·
dan cara-cara yang di gunakan untuk rr:encapai tujuannya tersebut.
Dengan konsepnya mengenai style of life, Adler berusaha untuk menjelaskan
"keunikan seseorang", Juga sebagai prinsip system dimana kepribadian
individual berfungsi; keseluruhanlah yang memerintah bagian-bagiannya.
l<eunikan seseorang dinyat3kan dengan prinsip iciiografik (Hall & Lindzey,
Loudon dan Della Bitta (1993: 118) kemudian memandang gaya hidup dalam
hubungnya dengan perilaku konsumen sebagai berikut :
" a unique pattern of living which influences and is reflected by one's
consumtion behavior".
Menurut Engle, Blackwell dan Miniard (1995 : 449) mendefinisikan gaya
hid up : "Lifestyle is summery construct defined as patterns in which people
live and spend time and money".
Teori gaya hidup didasarkan pada suatu terori perilaku manusia yang
dikemukakan oleh George Kelly. Kelly mengatakan bahwa manusia mencoba
meramal dan mengontrol hidupnya. Untuk itulah orang-orang tersebut
membentuk konstruk atau pola guna mengurai peristiwa-peristiwa yang akan
terjadi dimasa mendatang atau di sekitarnya dan menggunakan konstruk
tersebut untuk menginterpretasikan, mengkonseptualisasikan dan
meramalkan kejadian-kejadian yang af<an datang. Sejumlah orang memiliki
konstruk atau pola intepretasi bidang yang brbeda dari individu lain, sehingga
37
Kemudian Kottler (1997: 180), ュセQョァ。エ。ォ。ョZ@ "A person lifestyle is the
person's pattern of living on the world as expressed in the person'sactivity,
interests, and opinion. Lifestyle portrays the person interesting with his or her
environment"_
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat dis1mpulkan bahwa gaya hidup
adalah pola atau rumusan ind:vidu dalam menjalankan kehidupannya
termasuk dalam hal menggunakan waktu dan uangnya yang direfleksikan
melalui aktivitas, minat, dan opini-pendapatnya berdasark2n hasil
interaksinya secara me'lyeluruh dengan lingkungannya_
2.2.1.1. GAYA HIDUP MATERIALISME
Ruang dan waktu dalam perjalanan hidup dipandang sebagai dimensi yang
memberikan penawaran dan tuntutan yang terus berubah, hingga akhirnya
memerlukan jawaban dan pemenuhan yang beragam. Dalam kehidupan ini,
seseorang hidup di pengaruhi oleh berbagai hal, dan salah satu hal
terpentingnya adalan nilai yang dihadirkan berbeda, dan berkembang pada
setiap zamani:iya.
Kasali ('1998), menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku
seseorang dan salah sc:.tu imbasnya akan mempengaruhi perilakunya 0alam
busana, bahan bacaan, perangkat, dan barang-barang lainnya yang berbeda
dengan mereka yang berorientasi pada keluarga atau sosial.
Menurut Hawkins, Bast, dan Coney (1992 : 15) gaya hidup dalam hubungannya
dengan kebutuhan atau sikap yang akan menentukan proses-proses konsumsi
dalam berbagai situasi yang dihadapi konsumen, yang meliputi tahapan seperti
pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi dan seleksi, pemilihan toko
dan pembelanjaan termasuk proses pembelian produk. Situasi-situasi yang hadir
dan dihadapi konsumen tersebutlah yang kemudian akan mempengaruhi gaya
hidupnya. seperti terli'1at pada gambar berikut:
Kcbutuhan I siKap
Mar:l:eting Activities
l..r.aming (Memory)
Perception -...---.._
Motive;;
-\
Caya !Iidup _ _ Dernographi
Konsun1en
Persorality / /
\\social
S!JtuB
Emotion
efcrence GroupHoUBehold
Situasl
II>-
Pcngcnalan Masalai'
'
I
l'cncadan iョヲッイュ。ウQ[Nセゥ@ャセ@
Evalnasi & Sclcksi----: ._. Pcrnilih;1n 'J"oko ..._\: Pcrnbclian+
Proses Postpurch;1sc
Bagan 2.1 : Gaya Hidup Sebagai Pusat Dari Proses Konsumsi
JC)
Gambar diatas menje!askan mengenai bagaimana kebutuhan, sikap yang
mempengaruhi keputusan da!am konsumsi, pilihan konsumen, perilaku dan
penga!aman yang dapat mengurangi, memrertahanka,1 atau merubah gaya
hidup seseorang, dan juga gaya hidup konsumen itu sendiri merupaka suatu
rangkaian atau mata rantai yang saling terkait dan saling memperaruhi.
Kemudian gaya hidup juga dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang
berfungsi sebagai karakteristik ya1g secara individual melekat yang dibentuk
dan terbentuk mela/ui interaksi sosial selama orang iru mengalami
::ierpindahan sik'us hidup, seperti emosi, kepribadian, motivasi, persepsi,
pembelajaran, aktivitas pemasaran, budaya, nilai, demographi, status sosial,
dan kelompok rujukan (references group) Seperti yang di tunjukkan da/am
gambar berikut :
Bagan 2.2 : Gaya hidup konsumen dan keputusan konsumsi (sumber:
consumer behavior, Hawkins, dkk, 1992: 15)
Need I Attitude
Consumer
lifestyle
..,.
___
--\Influences Consumer Decision Making
[Consumer c1'1oice
I
[image:52.595.28.475.552.659.2]-40
Dan bila kita ingin melihat nilai yang menjadi orientasi seseorang dalam
hidupnya, maka de.pat dilihat dan difahami berdasarkan dari
keputusan-keputusan yang di ambil dalam menentukan segala aktivitas, minat, dan
pendapat-pend1patnya dalam segala hal yang dianggap perlu atau
dibutuhkan dalam menilai dirinya ataupCJn dalam menilai atau berpandangan
terhadap orang lain. Dalam memahami perilaku l\onsumen dapat d'pandang
dari berbagai sisi dan dari beberapa tokoh, Engle, Blackwell, dan Miniard
(1995 : 3) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai kegiatan individu dalam
menilai, memperoleh, mengmakai, ataupun membuang barang atau jasa
yang di dalamnya termasuk proses-proses keputusan yang mendahului dan
yang menyertai tindakan atau perilaku tersebut.
Gaya hidup secara umum dapat digunakan untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan berbagai jenis produk , sedangkan gaya l1idup dengan merek
セNー・ウゥヲゥォ@ atau image merek dapat rnembantu penempatan kembali
(respositioning) produk-produk yang sudah ada (Hawkins, Best dan Coney,
1992 ). Dan gaya hidup masing-masing individu sebagai anggota keluarga,
atau anggota kelompok dan seb&gai anggota masyarakat akan memberi
warna kepada gaya hidup keluarga, kelompok bahkan masyarakat
kebutuhan dan sikap seseorang, perilaku seseorang dalam membeli serta
dalam cara memanfaatkan dan membelanjakan uang dan wal<tunya.
41
Menurut Mowen, 1987 : 189, dan Hawkins, dkk., 1992 :5, 15, 325, 328, dala;n
M. C. Oetami Prasajadaningsih (1998 : 35), bahwa gaya hid up di tentuKan
oleh keputusan-keputusan yang >'adar maupun yang bawah sadar. Seringkali
orang membuat pi!ihan dengan penuh kesadaran '.entang dampak pilihannya
terhadap gaya hidup, tetapi secara umum orang t1dak sadar akan meluasnya
keputi..san-keputusan yang dipengaruhi oleh gaya hidup terbarunya atau
gaya hidup yang diinginkan. dimana mereka "ingin menjadi"
Penelitian-penelitian mengenai gaya hidup telah banyak dilakuakan
peneliti-peneliti terdahuli, diantaranya sebagai berikut :
Program dari SRI International berusaha menggabungkan gaya hidup
dengan nilai yang dinamakan VALS (Value And Lifestyle). Prograrr. generasi
kedua· dalam segmentasi VALS, dimana konsumen dibagi dalam sembilan
segmen berdasarkan dua dimensi, yakni dimensi psikologis dengan tiga
kategori (principle- one'lted, status-oriented, and action-oriented), dan
dimensi sumber-sumber mengenai tingkat sumber yang dibutuhkan (minimal
resources and abudan resources). Kesembilan segmen pada VALS kedua
42
Experiencers, dan Makers (Wells & Prensky, 1996, dalam Loundon dan Della
Bitta, 1988 ). VALS merupakan pendekatan komersial mengenai pengukuran
gaya hidup dan psikografik yang terkenal. WISH-TV di Indianapolis
mer:.Jpakan salah satu pengguna VALS kedua untuk mengklasifikasikan
konsumen pemirsa, sehingga stasiun televise tersebut dapat memberikan
masukan r::ada fihak pemasang iklan mengenai produk yang sesuai uantuk
diiklankan di WISH. Dan juga pembuat mobil mewah yang mentargetkan
model barunya kepada "Actuallizers", serta suatu perusahaan m