• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH REFERENCE PRICE DAN ACTUAL PRICE TERHADAP PERCEIVED VALUE DAN WILLINGNESS TO BUY (Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store di Kota Surakarta )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS PENGARUH REFERENCE PRICE DAN ACTUAL PRICE TERHADAP PERCEIVED VALUE DAN WILLINGNESS TO BUY (Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store di Kota Surakarta )"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

ANALISIS PENGARUH REFERENCE PRICE DAN ACTUAL PRICE TERHADAP PERCEIVED VALUE DAN WILLINGNESS TO BUY (Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store

di Kota Surakarta )

Skripsi

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat

untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh :

RONI SUTANTO

NIM. F1208552

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul:

ANALISIS PENGARUH

REFERENCE PRICE

DAN

ACTUAL

PRICE

TERHADAP

PERCEIVED VALUE

DAN

WILLINGNESS TO BUY

(Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store di Kota Surakarta )

Telah disetujui dan diterima oleh pembimbing skripsi

Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, 4 Agustus 2010

Disetujui dan diterima oleh

Pembimbing

Haryanto, SE, MSi

(3)

commit to user

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima dengan baik oleh tim penguji Skripsi Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

Surakarta, September 2010

Tim Penguji Skripsi

1. Drs. Heru Purnomo, MM Sebagai Ketua (………)

NIP. 195701221986031003

2. Haryanto, SE,MSi. Sebagai Pembimbing (………)

NIP. 197403092006041001

3. Drs. Dwi Hastjarja, MM. Sebagai Sekretaris (………)

(4)

commit to user

iv

Motto

Saya yakin, frustasi dan kegagalan masa lalu saya merupakan suatu dasar

pemahaman untuk menciptakan suatu kehidupan baru yang saya nikmati sekarang.

(Anthony Robbins)

Salah satu kekuatan terbesar di dunia adalah kekuatan pikiran yang difokuskan.

(Mark Victor Hansen)

Apa pun pasti dapat diraih, selagi pikiran Anda mampu membayangkan dan

meyakininya.

(5)

commit to user

v

Persembahan

Karya ini kupersembahkan teruntuk :

o Ayah dan Bunda tercinta

o Saudara-saudara tercinta : L. Royani, N. Rochani, Restu Wijaya, Rahayu Kusumawati

o Keluarga Mangkuyudan : Fitria Ramadhani, Anissa Herawati, H.Heru Purnomo, Hj.Ardeati

o Teman-teman terbaikku : Ajid Yudha Perdana, Jiwo Sapto Margiono, Novita Moddy

Pratiwi, Reshinta Zvesdanova, Nugroho Mahmudi Rochani, Atmoko Abi Nubli, Indra

Maulana, Evans Yogo Pramundito

o Rekan-rekan S1 Swadana Transfer 08 UNS, Keluarga Alumni Gadjah Mada, Keluarga

Alumni SMA N 1 SOLO, Paguyuban Putra Putri Solo

o Keluarga besar PT. AMCA, Hotel Sanashtri, PT. Megah Tama Berjangka dan Solo Business

School - STIE Surakarta

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum, Wr., Wb.

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang

senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul ”ANALISIS PENGARUH REFERENCE PRICE

DAN ACTUAL PRICE TERHADAP PERCEIVED VALUE DAN WILLINGNESS TO

BUY (Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store di

Kota Surakarta )”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana

Ekonomi Jurusan Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus

dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu,

baik secara langsung maupun secara tidak langsung hingga selesainya skripsi ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis haturkan kepada:

1. Bpk Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak. selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ibu Dra. Endang Suhari, M.Si. selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Bpk Reza Rahardian, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas

(7)

commit to user

vii

4. Bpk Haryanto, S.E., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia

meluangkan waktu untuk membimbing, memberi saran, masukan serta kesabaran

kepada penulis hingga selesainya skripsi ini.

5. Bpk Drs. Soenarjanto, M.Si. selaku pembimbing akademik

6. Bapak dan Ibu dosen serta segenap karyawan FE UNS.

7. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini.

Oleh karena itu segala masukan, kritik dan saran yang membangun akan menjadikan

skripsi ini menjadi lebih berarti.

Wassalammu’alaikum, Wr.,Wb.

Surakarta, Juli 2010

Penulis

(8)

commit to user

viii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAKSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

(9)

commit to user

ix

1. Harga ... 9

2. Perceived Quality ... 11

3. Perceived Sacrifice ... 15

4. Perceived Value ... 16

5. Willingness to Buy ... 19

6. Redemption Effort ... 20

B. Penelitian Terdahulu ... 21

C. Kerangka Pemikiran ... 25

D. Hipotesis ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN ... 30

A. Desain Penelitian ... 30

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 31

C. Definisi Operasional ... 34

D. Sumber Data ... 37

E. Metode Pengumpulan Data ... 38

F. Pengujian Insturmen Penelitian ... 38

G. Analisis Data ... 48

H. Pretest ... 48

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 51

(10)

commit to user

x

B. Analisis Instrumen Penelitian ... 58

C. Analisis Model Struktural ... 62

1. Uji Kecukupan Sampel ... 63

2. Uji Normalitas ... 63

3. Uji Outlier ... 65

4. Uji Goodness of Fit ... 68

5. Modifikasi Model ... 72

6. Uji Hipotesis ... 74

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 78

E. Implikasi Teori ... 81

F. Implikasi Praktis / Manajerial ... 82

BAB V. PENUTUP ... 85

A. Kesimpulan ... 85

(11)

commit to user

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel III. 1 Tabel Hasil Analisis Faktor Pretest ... 49

Tabel III. 2 Tabel Hasil Uji Reliabilitas Pretest ... 50

Tabel IV. 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .. 52

Tabel IV. 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia ... 53

Tabel IV. 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 54

Tabel IV. 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penghasilan ... 55

Tabel IV. 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 56

Tabel IV. 6 Distribusi Frekuensi Merek yang Dibeli Responden ... 57

Tabel IV. 7 Tabel Hasil Analisis Faktor I ... 59

Tabel IV. 8 Tabel Hasil Analisis Faktor II ... 60

Tabel IV. 9 Tabel Hasil Uji Reliabilitas ... 62

Tabel IV. 10 Tabel Hasil Uji Normalitas ... 64

Tabel IV. 11 Tabel Multivariate Outlier I ... 66

Tabel IV. 12 Tabel Multivariate Outlier II ... 67

Tabel IV. 13 Tabel Hasil Goodness of Fit Model Struktural ... 69

Tabel IV. 14 Tabel Hasil Goodness of Fit Model Struktural Setelah Modifikasi Model ... 73

(12)

commit to user

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar II. 1 The Original Model Price-Perceived Quality ... 21

Gambar II. 2 Price-Perceived Quality Extended Model ... 23

Gambar II. 3 The Revised Price-Perceived Quality Conceptualization ... 25

Gambar II. 4 Kerangka Pemikiran ... 26

Gambar IV.1 Persamaan Model Struktural Awal ... 68

(13)

commit to user

ABSTRAKSI

ANALISIS PENGARUH REFERENCE PRICE DAN ACTUAL PRICE TERHADAP PERCEIVED VALUE DAN WILLINGNESS TO BUY (Studi pada Promo Diskon 50% Produk Fashion Matahari Department Store

di Kota Surakarta )

RONI SUTANTO NIM. F1208552

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Apakah reference price

berpengaruh positif terhadap perceived quality? (2) Apakah actual price berpengaruh positif terhadap perceived sacrifice? (3) Apakah perceived quality berpengaruh positif terhadap perceived value? (4) Apakah perceived sacrifice berpengaruh negatif terhadap perceived value? (5) Apakah perceived value berpengaruh positif terhadap

willingness to buy? (6) Apakah redemption effort berpengaruh negatif terhadap

perceived value?

Responden penelitian ini adalah 195 pelanggan Matahari Department Store di Kota Surakarta. Pengumpulan data dengan menggunakan metode kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling dengan metode

purposive sampling berdasarkan kriteria : mengetahui promo diskon 50%, pernah melakukan pembelian, berusia lebih dari 18 tahun dan pendidikan minimal SMA.

Model ini diuji dengan menggunakan metode SEM (Structural Equation Modeling) dengan bantuan program AMOS versi 7.0.

Hasil analisis menunjukkan bahwa besarnya nilai indeks Goodness of fit

adalah: Chi-square = 173.958, probability level = 0.088, df = 150, CMIN/DF = 1.160, GFI = 0.924, AGFI = 0.893, TLI = 0.977, CFI = 0.982 dan RMSEA = 0.029. Estimasi parameter menunjukkan bahwa jalur analisis yang memiliki CR lebih besar dari +1,96 pada signifikansi 5% adalah (1) pengaruh perceived quality terhadap

perceived value, (2) pengaruh redemption effort terhadap perceived value, (3) pengaruh perceived value terhadap willingness to buy. Sedangkan pengaruh antara harga terhadap perceived sacrifice dan perceived quality serta pengaruh antara

perceived sacrifice terhadap perceived value didapatkan hasil nilai CR kurang dari +1,96 pada signifikansi 5% sehingga harga tidak berpengaruh signifikan terhadap

perceived sacrifice dan perceived quality serta perceived sacrifice tidak berpengaruh pada perceived value.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, apabila perusahaan ingin meningkatkan willingness to buy dari konsumen, maka dapat dilakukan dengan cara menurunkan redemption effort dan meningkatkan perceived quality yang terbentuk dari faktor non-harga. Pada penelitian ini potongan harga 50% tidak mempengaruhi penurunan perceived sacrifice dan peningkatan perceived value

(14)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan pemasaran oleh perusahaan adalah mempengaruhi

konsumen agar membeli produk yang ditawarkannya. Persaingan dalam dunia

usaha merupakan suatu kondisi yang harus dihadapi oleh perusahaan - perusahaan

baik dalam skala lokal maupun multinasional. Pertumbuhan perekonomian yang

cepat berdampak pada persaingan yang ketat bagi para pelaku bisnis sehingga

menuntut setiap manajemen perusahaan untuk lebih cermat dalam menentukan

strategi pemasaran agar dapat memenangkan persaingan (Hardiwan dan Mahdi,

2005). Perusahaan perlu mengembangkan produk yang menarik dan disukai

konsumen serta menyediakan layanan. Kemudian, perusahaan perlu menciptakan

iklan yang baik untuk produk tersebut dalam menjualnya ke konsumen dengan

harga bersaing yang memungkinkan bisnis untuk mendapatkan keuntungan

(Dodds et al, 1991).

Perusahaan akan berusaha dan berlomba untuk menarik konsumen

sebanyak mungkin dengan berbagai cara yang memungkinkan. Strategi

perusahaan dalam bersaing menarik pelanggan sering dihubungkan dengan

(15)

commit to user

advantage yang kuat agar mampu bertahan di kancah persaingan usaha.

Competitive advantage suatu perusahaan dapat dicapai melalui dua strategi yaitu

strategi diferensiasi produk dan strategi harga. Strategi diferensiasi digunakan

suatu perusahaan dengan menciptakan produk yang sama sekali unik di pasar

yang ada. Sedangkan strategi harga digunakan perusahaan dengan mendesain dan

menjual produk-produk dengan harga yang lebih rendah dari para pesaing.

Dalam perkembangannya, strategi harga menjadi strategi andalan

beberapa perusahaan. Harga digunakan perusahaan untuk mempengaruhi perilaku

konsumen (Chapman dan Wahlers, 1999). Secara umum, harga (Price)

menggambarkan sumber daya ekonomi yang harus dikeluarkan oleh konsumen

dalam memperoleh suatu produk sehingga semakin tinggi harga akan

mengakibatkan semakin tingginya tingkat pengorbanan konsumen. Harga

merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan

pendapatan sedangkan Product, Promotion dan Place merupakan pengeluaran

perusahaan. Harga juga merupakan salah satu elemen bauran yang paling

fleksibel, dimana dapat diubah dengan cepat (Kotler dan Keller, 2006).

Dalam menentukan kebijakan harga yang tepat, perusahaan harus mampu

mengidentifikasi faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap harga.

Menetapkan sebuah harga berarti bagaimana mempertautkan sebuah produk

dengan aspirasi sasaran pasar mengenai kebutuhan, keinginan, dan harapan

(16)

commit to user

untuk memperoleh actual price yang lebih rendah dari reference price. Actual

price adalah harga yang dibayar konsumen untuk medapatkan sebuah produk

(Chapman dan Wahlers, 1999). Reference price adalah harga standar yang dipakai

konsumen untuk menilai harga suatu produk. Apabila actual price lebih rendah

dari reference price maka konsumen memperoleh harga yang murah dan apabila

konsumen memperoleh actual price yang lebih tinggi daripada reference price

maka konsumen memperoleh harga yang mahal. Reference price merupakan

konsep yang subjektif, artinya bisa berbeda sebagai referensi untuk setiap

konsumen dan tidak harus sama dengan harga sebenarnya di pasar (Wirawan,

2007).

Monroe (1979) dalam Dodds, et al (1991) pada model penelitiannya yang

pertama mengenai Conceptual Relationship of Price Effect menjelaskan

faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perceived value dari seorang konsumen,

dimana perceived value ini akan mampu mempengaruhi willingness to buy.

Faktor utama yang mempengaruhi perceived value adalah perceived quality dan

perceived sacrifice. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa tingkat harga

mengindikasikan tingkat pengorbanan (sacrifice) konsumen dalam membeli suatu

produk dan sekaligus sebagai mengindikasikan tingkat kualitas atas suatu produk.

Semakin tinggi harga, konsumen akan mempersepsikan kualitas menjadi semakin

tinggi sehingga perceived value konsumen juga semakin meningkat atas suatu

(17)

commit to user

tingkat pengorbanan konsumen atas sumber daya ekonominya untuk

mendapatkan suatu barang sehingga akan mengurangi perceived value konsumen

atas suatu produk.

Penelitian yang dilakukan oleh Chapman dan Wahlers (1999)

menunjukkan bahwa reference price berpengaruh positif terhadap perceive

quality dan actual price berpengaruh positif terhadap perceived sacrified. Hal

tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi reference price yang diterima

konsumen atas suatu produk akan meningkatkan perceived quality oleh konsumen

atas suatu produk dan semakin tinggi actual price yang akan dibayarkan

konsumen akan meningkatkan perceived sacrified oleh konsumen atas suatu

produk. Dari indikasi tersebut diperoleh hubungan positif antara harga dengan

perceived quality dan perceived sacrifice. Semakin tinggi harga maka semakin

tinggi pula perceived quality dan perceived sacrifice. Dengan semakin redahnya

harga maka akan menurunkan perceived quality dan perceived sacrifice oleh

konsumen atas suatu produk.

Harga yang berpengaruh positif terhadap Perceived quality dan perceived

sacrifice akan mempengaruhi perceived value. Perceived quality dan perceived

sacrifice bersifat trade-off dalam pengaruhnya terhadap perceived value.

Perceived value yang baik atas sebuah produk adalah apabila perceived quality

atas produklebih besar dari perceived sacrifice atas produk. Selain itu, perceived

(18)

commit to user

yang diperlukan oleh konsumen untuk mendapatkan suatu produk. Semakin tinggi

redemption effort konsumen atas suatu produk maka semakin rendah perceived

value konsumen atas suatu produk. Sebaliknya, semakin rendah usaha redemption

effort maka semakin tinggi perceived value konsumen atas suatu produk. Semakin

tinggi perceived value atas suatu produk maka semakin tinggi pula niat pembelian

konsumen terhadap suatu produk (Chapman dan Wahlers, 1999).

Penelitian yang dilakukan oleh Chapman dan Wahlers (1999) tersebut

meneliti mengenai niat pembelian CD Player pada mahasiswa pemasaran di

Mid-Western University, United States. Penelitian tersebut dijadikan sebagai basis

replikasi dari penelitian ini. Dalam penelitian ini, penulis mengangkat produk

fashion yang dijual di Matahari Department Store sebagai objek penelitian dan

Kota Surakarta sebagai populasinya.

Department Store merupakan tempat belanja yang semakin diminati oleh

konsumen. Kelebihan yang dimiliki department store dibandingkan dengan pasar

tradisional atau toko biasa adalah karena department store memberikan

keleluasaan kepada konsumen untuk memilih barang-barang yang diminati

dengan berbagai alternatif pilihan dari harga, merek, ukuran dan kualitas dari

barang yang dibutuhkan. Tempat yang bersih, nyaman, rapi, teratur, pelayanan

yang baik serta fasilitas yang mendukung seperti restoran dan arena bermain

(19)

commit to user

Semakin banyaknya department store yang beroperasi di Indonesia

mengakibatkan munculnya persaingan yang ketat dalam menarik konsumen baru

maupun mempertahankan konsumen lama yang telah menjadi pelanggan agar

tidak berpaling ke department store yang lain. Beberapa cara agar dapat menarik

konsumen untuk berbelanja di department store antara lain dengan pemberian

hadiah langsung, promo bundling, kupon berhadiah dan potongan harga atau

diskon. Kunci keberhasilan department store adalah bagaimana department store

berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen termasuk berusaha

untuk memberikan kualitas dan harga terbaik melalui program diskon dan

potongan harga. Bagi PT. Matahari Putra Prima, pemilik Matahari Department

Store (MDS) yang menguasai 50 persen bisnis eceran di Indonesia dan memiliki

141 gerai (Afianto, 2006), gejala tersebut menuntut bisnisnya untuk mampu

bersaing dengan para kompetitornya dalam memberikan nilai lebih kepada para

pelanggannya. Salah satu alternatif penciptaan nilai lebih bagi para pelanggan

adalah dengan diadakannya promo potongan harga 50% pada beberapa produk

fashion di Matahari Department Store.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti permasalahan

ini dengan judul ”Analisis pengaruh reference price dan actual price terhadap

(20)

commit to user

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini

dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah reference price yang ditetapkan Matahari Department Store

berpengaruh pada perceived quality?

2. Apakah actual price yang ditetapkan Matahari Department Store berpengaruh

pada perceived sacrifice?

3. Apakah perceived quality berpengaruh pada perceived value?

4. Apakah perceived sacrifice berpengaruh pada perceived value?

5. Apakah perceived value berpengaruh pada willingness to buy?

6. Apakah redemption effort berpengaruh pada perceived value?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini

adalah :

1. Untuk menganalisis pengaruh reference price yang ditetapkan Matahari

Department Store pada perceived quality.

2. Untuk menganalisis pengaruh actual price yang ditetapkan Matahari

(21)

commit to user

3. Untuk menganalisis pengaruh perceived quality pada perceived value.

4. Untuk menganalisis pengaruh perceived sacrifice pada perceived value.

5. Untuk menganalisis pengaruh perceived value pada willingness to buy.

6. Untuk menganalisis pengaruh redemption effort terhadap perceived value.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian analisis pengaruh reference price dan actual price

terhadap perceived value dan willingness to buy pada produk fashion di Matahari

Department Store ini memberikan manfaat kontribusi praktis, yakni perusahaan

dapat mengetahui format penetapan harga yang sesuai untuk menarik respon

positif dari konsumen. Adapun manfaat teoritisnya adalah untuk memberikan

pengetahuan bagi kalangan akademik mengenai pengaruh reference price dan

actual price terhadap perceived value dan willingness to buy pada produk fashion.

Selanjutnya, hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai sumber

referensi untuk penelitian sejenis. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat

memberikan tambahan informasi bagi peneliti berikutnya yang mengambil topik

yang sama serta bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang

(22)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Harga

Kotler (2000) mendefinisikan harga sebagai jumlah nilai yang

dikeluarkan konsumen untuk manfaat memiliki dan menggunakan suatu

produk atau jasa. Sedangkan menurut Stanton (1994), harga adalah nilai yang

disebutkan dalam rupiah dan sen atau medium moneter lainnya sebagai alat

tukar. Harga adalah salah satu elemen marketing mix yang sangat

mempengaruhi konsumen dalam membeli suatu produk karena konsumen

sangat peka dengan perubahan harga produk. Harga adalah satu-satunya

elemen marketing mix yang menghasilkan pendapatan. Sedangkan dari

perspektif konsumen, harga adalah sesuatu yang dikorbankan untuk

mendapatkan suatu produk (Kotler dan Keller, 2006).

Harga seringkali digunakan pemasar untuk mempengaruhi perilaku

konsumen. Harga juga dipakai sebagai salah satu ukuran pengorbanan

konsumen dalam melakukan pembelian (Chapman dan Wahlers, 1999). Selain

sebagai ukuran pengorbanan konsumen dalam mendapatkan suatu produk,

harga juga dipakai sebagai indikator penentu kualitas produk karena produk

(23)

commit to user

(Agarwal dan Teas, 2001). Namun, apabila perusahaan menetapkan harga

yang terlalu tinggi, konsumen akan beralih atau mempertimbangkan produk

lain dengan harga yang lebih terjangkau untuk dibeli sehingga dalam

menentukan harga produknya, produsen hendaknya memperhatikan

kemampuan membeli dari konsumen yang menjadi segmen produknya

tersebut.

Sutanto (2006) memaparkan bahwa harga merupakan indikator dari

jumlah pengorbanan yang dibutuhkan oleh konsumen untuk membeli produk,

namun di sisi lain harga merupakan indikator tingkat kualitas. Semakin tinggi

tingkat harga maka semakin tinggi ukuran moneter yang harus dikorbankan

konsumen, sehingga harga akan mengurangi keinginan untuk membeli. Pada

saat yang sama, kenaikan harga akan meningkatkan persepsi kualitas

konsumen pada barang tersebut dan konsekuensinya akan meningkatkan

keinginan untuk membeli produk.

Harga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam setiap

transaksi pembelian dan harga menggambarkan alokasi sumber daya ekonomi

yang harus dikeluarkan oleh konsumen dengan ekspektasi imbalan berupa

nilai jasa dan kepuasan yang akan diberikan oleh produk tersebut (Sutanto,

2006).

Harga referensi (reference price) adalah harga standar yang dipakai

(24)

commit to user

referensi adalah harga standar yang digunakan untuk menentukan apakah

harga suatu produk mahal atau murah. Harga referensi merupakan konsep

yang subjektif, artinya bisa berbeda untuk setiap konsumen dan tidak harus

sama dengan harga yang sebenarnya di pasar (Wirawan, 2007). Terdapat tiga

teori yang mendasari harga referensi, yaitu :

a. Adaptation-Level Theory (Helson dalam Wirawan, 2007). Menurut teori

ini, ketika seorang individu mendapat suatu rangsangan, individu tersebut

akan menilai rangsangan tersebut relatif terhadap rangsangan yang

diterimanya di masa lalu.

b. Assimilation-Contrast Theory (Sherif, Taub and Hovland dalam Wirawan,

2007). Menurut teori ini, seorang individu tidak akan merasakan

perbedaan antara rangsangan yang diterimanya saat ini dan masa lalu

apabila selisih antara rangsangan tersebut tidak berarti baginya.

c. Prospect Theory (Kahneman and Tversky dalam Wirawan, 2007).

Menurut teori ini, reaksi individu terhadap suatu rangsangan akan lebih

sensitif apabila individu tersebut merasa dirugikan dibanding ketika

individu tersebut merasa diuntungkan.

2. Perceived Quality

Kualitas secara luas dapat didefinisikan sebagai keunggulan atau mutu

(25)

commit to user

penilaian konsumen tentang keunggulan dan mutu yang baik dari sebuah

produk (Zeithaml, 1988). Persepsi kualitas menurut Agarwal dan Teas (2001)

adalah estimasi tentang keunggulan suatu produk. Sedangkan, menurut

Chapman dan Wahlers (1999) persepsi kualitas adalah kepercayaan konsumen

terhadap keseluruhan kualitas suatu produk. Selain itu persepsi kualitas juga

dapat diartikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau

keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan maksud yang

diharapkan. Persepsi kualitas produk atau jasa secara keseluruhan akan

berpengaruh secara langsung terhadap keputusan pembelian konsumen,

apabila persepsi kualitas positif maka akan mendorong keputusan pembelian

dan menciptakan loyalitas akan tetapi jika persepsi kualitas negatif maka

produk tidak akan disukai dan akan cepat hilang dari pasar.

Olson dan Jacoby (1972) dalam Zeithaml (1988) membagi atribut

yang menunjukan kualitas menjadi dua yaitu:

1. Kualitas intrinsik, mencakup komposisi suatu produk. Misalnya: atribut

kualitas intrinsik untuk minuman seperti rasa, warna, tekstur, dan derajat

kemanisannya.

2. Kualitas ekstrinsik, berhubungan dengan produk tetapi bukan menjadi

bagian dari produk fisik itu sendiri. Misalnya: harga, nama, dan merek, di

mana tidak bersifat khas produk dan bisa berfungsi sebagai indikator

(26)

commit to user

Besaran harga sebagai salah satu faktor ekstrinsik dalam persepsi

konsumen dapat mencerminkan kualitas produk itu sendiri. Harga yang

melekat pada produk dapat mencerminkan kualitas produk itu sendiri

(Monroe, 1990). Nagle dan Holden (1995) menyatakan bahwa harga untuk

jenis produk-produk tertentu bukan berarti besaran uang yang dikeluarkan

tetapi kualitas yang sangat prima dari produk tersebut dan bahkan mempunyai

arti yang lebih bagi pemilik produk tersebut.

Menurut Nagle dan Holden (1995), konsumen menggunakan harga

sebagai indikator kualitas dengan kondisi sebagai berikut :

a. Konsumen percaya ada perbedaan kualitas diantara berbagai merek dalam

satu kategori.

b. Konsumen percaya kualitas yang rendah dapat membawa risiko yang

lebih besar

c. Konsumen tidak memiliki informasi lain kecuali merek terkenal sebagai

referensi dalam mengevaluasi kualitas sebelum melakukan pembelian.

Mengacu pada pendapat David A. Garvin, dimensi perceived quality

dibagi menjadi tujuh (David, 1996 dalam Durianto, Sugiarto, Tony, 2001)

yaitu:

a. Kinerja

Melibatkan berbagai karakteristik operasional utama, misalnya

(27)

commit to user

kemudi dan kenyamanan. Karena faktor kepentingan pelanggan berbeda

satu sama lain, seringkali pelanggan mempunyai sikap yang berbeda

dalam menilai atribut-atribut kinerja tersebut

b. Pelayanan

Mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan terkait dengan

produk yang dipasarkan.

c. Ketahanan

Mencerminkan daya tahan produk tersebut, apakah produk tersebut

tahan lama atau tidak.

d. Keandalan

Konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu

pembelian ke pembelian berikutnya.

e. Karakteristik Produk

Fitur-fitur yang terdapat pada suatu produk yang membedakannya

dari produk pesaingnya dan fitur tersebut bisa menjadi nilai lebih di mata

konsumen.

f. Kesesuaian dengan Spesifikasi

Merupakan pandangan mengenai kualitas proses manufaktur

(28)

commit to user

g. Hasil

Mengarah pada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam

dimensi sebelumnya. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan “hasil

akhir” produk yang baik maka kemungkinan produk tersebut tidak akan

mempunyai atribut kualitas lain yang penting.

3. Perceived Sacrifice

Persepsi pengorbanan adalah hal-hal yang menurut konsumen harus

diberikan atau dikorbankan untuk mendapatkan suatu produk baik finansial

atau non finansial. Pengorbanan yang dimaksud dapat dibedakan menjadi

pengorbanan materi dan non materi (Zeithaml dan Bitner, 1996). Pengorbanan

materi tidak hanya berkisar pada harga pembelian namun juga biaya lain

untuk mendapatkan produk tersebut (Monroe, 1990).

Menurut Monroe dan Krishnan dalam Chapman dan Wahlers (1999),

perceived sacrifice adalah perasaan untuk memberikan sesuatu. Persepsi

pengorbanan dari seorang konsumen akan semakin besar jika pengorbanan

yang dilakukan untuk mendapatkan produk tersebut semakin besar. Jadi

persepsi pengorbanan konsumen terhadap suatu produk akan berbanding lurus

dengan pengorbanan yang dilakukan untuk mendapat produk tersebut (Kotler,

(29)

commit to user

4. Perceived Value

Nilai suatu produk menurut Kotler (2000) adalah rasio antara apa yang

konsumen dapatkan, meliputi keuntungan fungsional dan keuntungan

emosional, dengan apa yang konsumen berikan untuk mendapatkan produk

tersebut atau sering disebut biaya pembelian produk.

Perceived value adalah evaluasi menyeluruh dari kegunaan suatu

produk yang didasari oleh persepsi konsumen terhadap sejumlah manfaat

yang akan diterima dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan atau

secara umum dipikirkan konsumen, dikenal dengan istilah “value for money”, “best value”, dan “you get what you pay for” (Morris dan Morris, 1990).

Menurut Chapman dan Wahlers (1999), perceived value adalah nilai yang

diterima konsumen terhadap suatu produk atau jasa yang merupakan trade-off

antara benefit yang diterima dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk

memperoleh barang tersebut. Perceived value suatu produk akan menjadi

pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan produk mana yang akan

dibeli. Jika perceived value suatu produk tinggi maka konsumen akan tertarik

untuk membeli produk tersebut. Untuk menghasilkan perceived value yang

tepat bagi konsumen, perusahaan hendaknya memperhatikan kriteria evaluasi

kualitas produk atau jasa yang ditawarkan.

Menurut Zeithaml dan Bitner (1996) pengertian harga dan nilai dari

(30)

commit to user

a. Value is low price

Kelompok konsumen yang menganggap bahwa harga murah

merupakan value yang paling tinggi bagi mereka sedangkan kualitas

sebagai value dengan tingkatan kepentingan yang lebih rendah. Strategi

harga yang harus dilakukan :

1) Odd pricing, yaitu dengan menggunakan harga yang tidak biasa

digunakan umum, misalnya diskon 49%.

2) Synchro pricing, yaitu memberikan harga dengan faktor-faktor

pembeda yang menyebabkan sensitivitas harga meningkat, misalnya

place, timing dan quality.

3) Penetration pricing, yaitu menetapkan harga rendah terutama pada

saat introduction untuk menstimulasi konsumen melakukan trial.

4) Discounting, yaitu memberikan potongan harga untuk menciptakan

sensitivitas terhadap harga sehingga tercipta pembelian.

b. Value is whatever I want in a product or service

Konsumen dalam kelompok ini, value diartikan sebagai manfaat

atau kualitas yang diterima bukan semata harga saja atau value adalah

sesuatu yang dapat memuaskan keinginan. Strategi harga yang harus

(31)

commit to user

1) Prestige pricing, yaitu penetapan harga premium untuk menjaga

image sebagai produk dengan kualitas yang sangat baik dan

memberikan image berbeda bagi yang memiliki atau

menggunakannya.

2) Skimming pricing, yaitu menetapkan harga yang lebih tinggi dari

rata-rata kesediaan untuk membayar, umumnya pada saat produk tersebut

dalam tahap perkenalan. Produk tersebut mempunyai nilai lebih

dibanding produk sebelumnya serta didukung dengan biaya promosi

yang tinggi.

c. Value is quality I get for the pricing I pay

Konsumen pada kelompok ini mempertimbangkan value adalah

kualitas yang diterima sesuai dengan besar harga yang dibayarkan.

Strategi harga yang harus dilakukan adalah :

1) Value pricing, yaitu strategi harga yang banyak digunakan dengan cara

menciptakan value lebih, dari aspek manfaat atau besaran yang didapat

dibandingkan dengan harga itu sendiri.

2) Market segmentation pricing, yaitu bentuk strategi harga, dengan

memberikan harga berbeda-beda sesuai dengan segmen yang didasari

(32)

commit to user

d. Value is what I get, for what I give

Dalam kelompok ini konsumen menilai value berdasarkan

besarnya manfaat yang diterima dibandingkan dengan pengorbanan yang

dikeluarkan.

1) Price framing, yaitu strategi harga dengan memberikan tarif yang

berbeda-beda sesuai dengan kelompok berdasarkan besarnya manfaat

yang diterima.

2) Price bundling, yaitu strategi harga dimana value dari harga akan

tercipta apabila memberikan harga untuk dua jasa atau produk yang

saling komplemen.

Dari empat kelompok konsumen dapat disimpulkan bahwa value dari

harga merupakan suatu persepsi yang didapat dari hasil evaluasi keseluruhan

tentang manfaat yang dirasakan dibandingkan dengan yang seharusnya

diterima.

5. Willingness to Buy

Minat untuk membeli merupakan ketertarikan yang membuat calon

pembeli berhasrat atau berminat membeli produk. Keinginan untuk membeli

memiliki hubungan secara positif dengan persepsi nilai. Pada saat konsumen

menilaibahwa pengorbanan yang dilakukan pada saat membeli produk sesuai

(33)

commit to user

akan cenderung untuk membeli produk tersebut (Zeithaml, 1988). Chapman

dan Wahlers (1999) mengemukakan bahwa minat membeli didefinisikan

sebagai keinginan konsumen untuk membeli suatu produk. Konsumen akan

memutuskan produk yang akan dibeli berdasarkan persepsinya terhadap

produk tersebut berkaitan dengan kemampuan produk tersebut dalam

memenuhi kebutuhannya. Willingness to buy dipengaruhi oleh nilai tambah

suatu produk, dimana biaya yang dikeluarkan seimbang dengan keuntungan

yang akan diperoleh (Grewal, et al, 1998)

Semakin tinggi atau semakin bagus persepsi konsumen terhadap nilai

suatu produk, maka minat membeli terhadap suatu produk tersebut juga

semakin tinggi. Keinginan pembeli untuk membeli secara positif berhubungan

dengan pendapatan dan nilai transaksi (Maxwell, 2001).

6. Redemption Effort

Redemption effort merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh

konsumen dalam rangka untuk membeli atau untuk mengkonsumsi sebuah

produk (Chapman dan Wahlers, 1999). Nilai transaksi dapat dikurangi dengan

jumlah usaha pelunasan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya. Selain

itu usaha pelunasan juga akan mempengaruhi perilaku pembelian konsumen.

Hal ini didukung dengan riset yang dilakukan oleh Tat and Schwepker, Jr.

(34)

commit to user

dilakukan dengan memperoleh harga terendah menggunakan kupon diskon

ataupun rabat.

B. Penelitian Terdahulu

1. Original Model (Price-Perceived Quality Model)

Hubungan antara harga dan kualitas produk telah mendapat perhatian

dari peneliti pemasaran, terutama sejak pertengahan 1980. Model konseptual

diusulkan oleh Monroe dan Krishnan dalam Chapman dan Wahlers (1999)

menjelaskan tentang pengaruh harga pada persepsi konsumen tentang kualitas

produk, pengorbanan keuangan, persepsi nilai, dan keinginan untuk membeli.

Sumber: Chapman dan Wahlers (1999)

Gambar II.1

The Original Model Price-Perceived Quality

Model ini mengindikasikan bahwa price mempunyai pengaruh positif

terhadap perceived quality konsumen seperti halnya mempunyai pengaruh

positif terhadap perceived sacrifice konsumen. Dengan kata lain model ini

(35)

commit to user

menyarankan bahwa jika harga naik, persepsi kualitas dan pengorbanan juga

akan naik. Model ini juga menyarankan bahwa perceived quality akan

mempunyai pengaruh positif terhadap perceived value konsumen untuk

produk dan perceived sacrifice mempunyai pengaruh negatif pada perceived

value. Oleh karena itu, selama persepsi kualitas lebih besar dari persepsi

pengorbanan, konsumen akan mempunyai persepsi nilai yang positif untuk

produk. Model ini juga mengindikasikan bahwa ada hubungan positif antara

perceived value konsumen terhadap willingness to buy dari konsumen.

Semakin tinggi persepsi nilai dari konsumen maka semakin tinggi pula

keinginan membeli dari konsumen.

2. The Extended Price-Perceived Quality Model

Situasi pembelian yang tidak dijelaskan dalam penelitian original

price-perceived quality adalah ketika actual price diberi potongan harga, yaitu

ketika pembeli dihadapkan pada reference price (harga biasa) dan harga jual

produk. Thaler dalam Chapman dan Wahlers (1999) mengembangkan model

untuk pertimbangan dan pemilihan oleh konsumen. Pertimbangan pertama

oleh konsumen adalah nilai yang ditawarkan dan kemudian memutuskan

apakah akan melakukan pembelian atau tidak. Nilai yang diperoleh konsumen

ketika transaksi akan tergantung seberapa besar perbedaan antara persepsi

keuntungan dibandingkan dengan persepsi pengorbanan. Berdasarkan dari

(36)

commit to user

memperluas original price-perceived quality model dengan menambah situasi

dimana reference price dan discounted price disajikan kepada konsumen.

Sumber: Chapman dan Wahlers (1999)

Gambar II.2

Price-Perceived Quality Extended Model

Model perluasan menyatakan bahwa konsumen mempunyai persepsi

kualitas dan pengorbanan berdasarkan tingginya reference price dan

konsumen juga memperoleh perception of sacrifice berdasarkan actual price

terendah (harga diskon). Acquisition value adalah gambaran dari nilai bersih

yang diperoleh dari selisih actual price yang dibebankan dan persepsi

keuntungan dalam memperoleh produk. Monroe dan Chapman dalam

Chapman dan Wahlers (1999) menyatakan bahwa acquisition value adalah

(37)

commit to user

(perceived value) diperoleh dari acquisition value ditambah transaction value.

Transaction value dapat dikurangi oleh jumlah redemption effort yang

diperlukan dalam memperoleh kesepakatan. Seperti yang telah digambarkan

di model, perception of value positif akan membuat willingness to buy.

3. A Revision of the Extended Price-Perceived Quality Model

Menurut Chapman dan Wahlers (1999) perceived quality adalah

persepsi manfaat yang dihasilkan dari memperoleh produk. Perceived

sacrifice adalah persepsi dari pengorbanan keuangan untuk memperoleh

produk. Perceived value adalah selisih antara persepsi manfaat dan persepsi

pengorbanan keuangan.

Pada the extended price-perceived quality model ditunjukan adanya

reference price, perceive a monetary sacrifice konsumen. Karena konsumen

mengetahui bahwa mereka tidak perlu membayar sejumlah uang yang

diindikasikan dari reference price, seharusnya tidak perlu adanya persepsi

pengorbanan yang berhubungan dengan reference price pada pembelian

tersebut. Oleh karena itu seharusnya tidak ada perceived sacrifice reference

price pada model. Alasan inilah yang mengusulkan adanya revisi untuk

original extension of the price-perceived quality model (Chapman dan

(38)

commit to user

Sumber: Chapman dan Wahlers (1999)

Gambar II.3

The Revised Price-Perceived Quality Conceptualization

C. Kerangka Pemikiran

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk meneliti hubungan antara

reference price dan actual price dengan perceived value dan willingness to buy.

Penelitian ini merupakan bentuk replikasi dari the revised price-perceived quality

conceptualization oleh Chapman dan Wahler (1999). Sebagai variabel bebas dari

penelitian ini adalah reference price dan actual price. Dalam hubungan antara

variabel bebas dengan variabel perceived value, dihubungkan dengan variabel

perceived quality dan perceived sacrifice. Selain itu juga terdapat variabel lain

yang mempengaruhi perceived value yaitu redemption effort. Sebagai variabel

(39)

commit to user

dependen yaitu willingness to buy dimana willingness to buy ini sangat

dipengaruhi oleh perceived value.

Sumber: Chapman dan Wahlers (1999)

Gambar II.4

Kerangka Pemikiran

D. Hipotesis

1. Reference price, actual price, perceived quality dan perceived sacrifice.

Menurut Dodds Monroe, dan Grewal (1991) harga dapat merupakan

indikator dari jumlah pengorbanan yang dibutuhkan untuk membeli suatu

produk dan indikator dari tingkatan kualitas. Semakin tinggi harga, semakin

tinggi pula persepsi kualitas dan konsekuensi keinginan membeli yang lebih

(40)

commit to user

yang harus dikorbankan untuk membeli barang, dan mengurangi keinginan

untuk membeli.

Konsumen menggunakan harga sebagai indikator dari kualitas suatu

produk karena konsumen percaya bahwa harga pasar ditentukan oleh

kekuatan permintaan dan penawaran yang kompetitif. Oleh karena itu, jika

konsumen percaya bahwa harga dan kualitas mempunyai hubungan yang

positif menunjukkan bahwa konsumen menggunakan harga sebagai indikator

dari kualitas (Grewal and Krishnan, 1998).

Persepsi pengorbanan (perceived sacrifice) berdasarkan pada actual

price yang harus dibayar sehingga apabila actual price yang dibayar

konsumen berkurang maka jumlah dari perceived sacrifice juga akan

berkurang. (Chapman dan Wahlers, 1999).

H1 : Reference price berpengaruh positif terhadap perceived quality.

H2 : Actual price berpengaruh positif terhadap perceived sacrifice.

2. Perceived qualiy, perceived sacrifice dan perceived value.

Chapman dan Wahlers (1999) menyatakan bahwa perceived quality

didefinisikan sebagai keuntungan yang diperoleh konsumen ketika

memperoleh suatu produk, perceived sacrifice didefinisikan sebagai persepsi

seberapa pengorbanan moneter yang dikeluarkan dalam memperoleh produk,

dan perceived value adalah selisih antara persepsi keuntungan yang

(41)

commit to user

dalam Chapman dan Wahlers (1999) menyatakan bahwa perceived quality

mempunyai pengaruh positif pada persepsi konsumen terhadap nilai produk,

dengan demikian perceived quality terbesar adalah perceived value terbesar

pula. Sedangkan perceived sacrifice akan mempunyai pengaruh negatif

terhadap perceived value konsumen, dengan demikian semakin besar

pengorbanan untuk memperoleh produk, maka perceived value semakin

rendah.

H3 : Perceived quality berpengaruh positif terhadap perceived value.

H4 : Perceived sacrifice berpengaruh negatif terhadap perceived value.

3. Perceived value dan willingness to buy

Dalam proses pembelian, konsumen memperhitungkan perceived

value dari produk yaitu antara keuntungan yang diharapkan dan pengorbanan

yang dibutuhkan. Kemudian konsumen membandingkan antara perceived

value dengan alternatif lain yang tersedia, yang selanjutnya akan memutuskan

membeli produk tersebut atau tidak (Iglesias dan Guillen, 2004). Szybillo and

Jacoby dalam Dodds, et al (1991) menyatakan bahwa perceived value akan

meningkat ketika harga meningkat di bawah batas harga terendah yang masih

diterima konsumen sampai ke tingkatan harga yang masih diterima di dalam

jangkauan penerimaan harga konsumen. Persepsi pada nilai secara langsung

akan mempengaruhi willingness to buy. Dengan demikian, semakin besar

(42)

commit to user

H5 : Perceived value berpengaruh positif terhadap willingness to buy.

4. Redemption effort dan perceived value

Menurut Chapman dan Wahlers (1999) nilai transaksi dapat di kurangi

dengan jumlah redemption effort yang dibutuhkan dalam memperoleh

kesepakatan. Semakin besar usaha yang dilakukan konsumen dalam

mengambil keuntungan pada diskon yang ditawarkan, maka semakin rendah

persepsi nilai yang berkaitan dengan penawaran.

(43)

commit to user

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian difokuskan pada tujuan studi, dimensi waktu, unit analisis,

pengukuran, dan lingkungan (setting) penelitian.

1. Tujuan Studi

Studi ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena dalam bentuk

hubungan antar-variabel. Hubungan antar-variabel yang dimaksud adalah

reference price dan actual price terhadap perceived quality dan perceived

sacrifice dimana kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh terhadap

perceived value dan willingness to buy. Selain itu juga terdapat redemption

effort yang mempunyai pengaruh terhadap perceived value.

2. Dimensi Waktu

Berdasarkan dimensi waktu, penelitian ini dikategorikan dalam

penelitian cross sectional. Hal ini berarti bahwa penelitian mengambil data

pada satu kurun waktu teretentu, sehingga penelitian ini tidak bisa

(44)

commit to user

3. Unit analisis

Unit analisis adalah tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama

tahap analisis data selanjutnya (Sekaran, 2003). Unit analisis penelitian ini

adalah individual warga Kota Surakarta sehingga apabila penelitian ini

diaplikasikan pada konteks yang berbeda diperlukan kecermatan dari peneliti

terhadap karakteristik yang distudi.

4. Pengukuran

Pengukuran adalah pemberian nilai properti dari suatu objek.

Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Skala likert

merupakan skala yang digunakan untuk mengukur respon subjek ke dalam

beberapa point skala dengan interval yang sama (Jogiyanto, 2004).

5. Lingkungan (setting) penelitian

Lingkungan (setting) dalam penelitian ini adalah berupa studi

lapangan dengan subjek penelitian penduduk Kota Surakarta.

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau

subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

(45)

commit to user

2004). Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk Kota Surakarta yang

mengetahui dan pernah membeli produk fashion dengan promo 50% di

Matahari Department Store. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk kota

Surakarta berjumlah 534.540 jiwa (2007). Populasi yang menjadi target dalam

penelitian adalah konsumen pria dan wanita yang berusia minimal 18 tahun.

Batas usia minimal 18 tahun merupakan usia dewasa secara psikologis,

sehingga responden diasumsikan telah memiliki kedewasaan dalam berpikir

dan menentukan pilihan.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian kecil dari populasi yang akan diteliti dalam

penelitian, sampel harus dapat mewakili dan mencerminkan populasinya

(Sekaran, 2000). Menurut Roscoe seperti dikutip Sekaran (2000), ukuran

sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah jumlah yang tepat untuk riset

pada umumnya. Peneliti menentukan ukuran sampel sebesar 200 sehingga

telah melampaui batas minimum dan diharapkan ukuran sampel telah lebih

baik. Selain itu, ukuran sampel sebesar 200 juga telah memenuhi syarat

kecukupan sampel dalam Structural Equation Modelling (SEM) dengan

metode Maximum Likelihood (ML). Jumlah sampel yang diperlukan untuk

pengujian model dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modelling)

(46)

commit to user

minimum adalah 5 observasi untuk setiap estimeted parameter (Hair et al,

1998).

Responden dalam penelitian ini adalah penduduk Kota Surakarta

dimana responden memperoleh pengetahuan mengenai promo diskon 50%

produk fashion di Matahari Department Store dari lampiran yang disertakan

dalam kuesioner. Agar responden dapat terdefinisi dengan lebih jelas lagi,

maka peneliti menggunakan dua kriteria responden yaitu :

1. Responden berpendidikan minimal SMA dan berusia minimal 18 tahun.

Kriteria ini digunakan karena dalam penelitian perilaku konsumen, orang

yang memiliki pendidikan minimal SMA dan berusia minimal 18 tahun

dianggap sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir yang

lebih objektif. Selain itu kriteria ini dimasukkan agar item pengukuran

kuesioner dapat dipahami secara jelas maksudnya oleh responden.

2. Responden adalah orang yang memiliki pengalaman atas produk secara

langsung, memiliki pengetahuan yang cukup atas produk dan merasakan

keuntungan dan kerugian produk yang telah dibeli sebelumnya. Kriteria

ini digunakan karena berkaitan dengan seluruh variabel yang digunakan

(47)

commit to user

3. Teknik Sampling

Teknik yang digunakan untuk memperoleh responden dalam

penelitian ini adalah teknik non probability sampling dengan metode

purposive sampling. Teknik non probability sampling berarti bahwa tidak

semua elemen populasi mempunyai kesempatan untuk dipilih menjadi sampel

(Sekaran, 2000). Teknik purposive sampling dimaksudkan karena sampel

yang digunakan dalam penelitian dipilih dengan sengaja berdasarkan kriteria

yang ditetapkan oleh peneliti (Sekaran, 2000).

C. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi yang dengan jelas mengartikan suatu

variabel dengan menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu

untuk mengukur variabel tersebut. Berikut ini adalah definisi operasional dari

variabel-variabel dalam penelitian ini.

a. Reference Price

Reference price didefinisikan sebagai harga standar yang dipakai oleh

konsumen dalam menilai harga suatu produk (Wirawan, 2007). Reference

price dioperasionalisasi dengan menggunakan indikan-indikan sebagai

berikut: (1) Harga yang sangat mahal, (2) Harga lebih mahal dibanding harga

(48)

commit to user

menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai dengan 5=

sangat setuju).

b. Actual price

Actual price didefinisikan sebagai harga yang harus dibayarkan untuk

membeli produk (Chapman dan Wahlers, 1999). Actual price

dioperasionalisasi dengan menggunakan indikan-indikan sebagai berikut: (1)

Harga promo sangat mahal, (2) Harga promo lebih mahal dibanding harga

lain, (3) Harga promo yang sangat tinggi. Indikan-indikan tersebut diukur

dengan menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai

dengan 5= sangat setuju).

c. Perceived quality

Perceived quality didefinisikan sebagai penilaian konsumen tentang

keunggulan dan mutu. Perceived quality dioperasionalisasi dengan

menggunakan indikan-indikan sebagai berikut: (1) Desain yang baik. (2)

Kualitas bahan yang baik dan (3) Keawetan. Indikan-indikan tersebut diukur

dengan menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai

dengan 5= sangat setuju).

d. Perceived Value

Perceived value didefinisikan sebagai evaluasi kegunaan suatu produk

(49)

commit to user

dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan (Morris dan Morris, 1990).

Perceived value dioperasionalisasi dengan menggunakan indikan-indikan

sebagai berikut: (1) Uang yang dikeluarkan sebanding dengan nilai yang

diperoleh, (2) Kemungkinan bahwa produk merupakan pilihan yang baik, dan

(3) Uang yang dikeluarkan sebanding dengan kualitas produk.

Indikan-indikan tersebut diukur dengan menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat

tidak setuju sampai dengan 5= sangat setuju).

e. Willingness to Buy

Willingness to buy didefinisikan sebagai keinginan konsumen untuk

membeli suatu produk (Chapman dan Wahlers, 2000). Willingness to buy

dalam penelitian ini lebih ditekankan pada keinginan konsumen untuk

melakukan pembelian kembali produk fashion Matahari Department Store dan

dioperasionalisasi dengan menggunakan indikan-indikan sebagai berikut: (1)

Kemungkinan akan membeli, (2) Niatan untuk membeli, dan (3) Rencana

untuk membeli. Indikan-indikan tersebut diukur dengan menggunakan 5 point

skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai dengan 5= sangat setuju).

f. Redemption Effort

Redemption effort didefinisikan sebagai usaha-usaha yang dilakukan

oleh konsumen dalam rangka membeli atau mengkonsumsi sebuah produk

(50)

commit to user

menggunakan indikan-indikan sebagai berikut: (1) Kerelaan untuk membeli

dalam jumlah tertentu (2) Kerelaan untuk menunda pembelian tanpa promo,

dan (3) Kerelaan untuk antre. Indikan-indikan tersebut diukur dengan

menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai dengan 5=

sangat setuju).

g. Perceived Sacrifice

Perceived sacrifice didefinisikan sebagai perasaan untuk memberikan

sesuatu (Chapman dan Wahlers, 1999). Perceived sacrifice dioperasionalisasi

dengan menggunakan indikan-indikan sebagai berikut: (1) Pengorbanan

finansial tinggi saat membeli produk, (2) Harga promo mahal, dan (3) Jumlah

uang yang dibayarkan adalah banyak. Indikan-indikan tersebut diukur dengan

menggunakan 5 point skala Likert (1= sangat tidak setuju sampai dengan 5=

sangat setuju).

D. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

sekunder. Data primer didapat dari survey pada beberapa responden. Survey

adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan

pertanyaan-pertanyaan kepada konsumen individu (Jogiyanto, 2004) dan menggunakan

(51)

commit to user

responden yang dianggap dapat memberikan informasi secara tepat. Dalam

kuesioner, responden diberikan lampiran mengenai informasi promo diskon 50%

pada produk fashion di Matahari Department Store. Hal tersebut dilakukan agar

responden memperoleh informasi mengenai promo tersebut. Data sekunder dalam

penelitian ini adalah data yang diperoleh dari literatur yang berkaitan dengan

objek penelitian khususnya mengenai hubungan antara reference price, actual

price dengan perceived value dan willingness to buy.

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik

kuesioner. Kuesioner adalah kumpulan pertanyaan tertulis yang dirumuskan

sebelumnya dimana responden mencatat jawaban, biasanya dalam alternatif yang

disusun secara cukup tertutup (Sekaran, 2003). Kuesioner yang dijadikan acuan

adalah kuesioner yang digunakan oleh Chapman dan Wahlers (1999) dan Yoo,

Dhontu, Lee (2000).

F. Pengujian Instrumen Penelitian

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu

kuesioner (Ghozali, 2005). Validitas merupakan kemampuan dari sebuah

(52)

commit to user

et al, 1998). Suatu kuesioner dikatakan valid atau sah jika pertanyaan pada

kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur

oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2005).

Teknik analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan analisis faktor atau Confimatory Factor Analysis (CFA),

dengan bantuan software SPSS for windows versi 15. Analisis faktor

merupakan cara yang digunakan untuk mengidentifikasi variabel dasar atau

faktor yang menerangkan pola hubungan dalam suatu himpunan variabel

observasi. Pada CFA, apabila masing-masing indikator merupakan indikator

pengukur konstruk maka akan memiliki factor loading yang tinggi. Factor

loading yang lebih besar dari + 0.30 dianggap memenuhi level minimal dan

sangat disarankan besar factor loading adalah + 0.40. Apabila factor loading

mencapai + 0.50 maka item tersebut sangat penting dalam

menginterpretasikan konstruk yang diukur (Hair et al, 1998).

Pengujian validitas dengan menggunakan teknik CFA harus melihat

output dari rotated component matrix yang harus terekstrak secara sempurna.

Jika masing-masing item pertanyaan belum terekstrak secara sempurna, maka

proses pengujian validitas dengan Factor Analysis harus diulang dengan cara

(53)

commit to user

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah sebuah indikasi pada stabilitas dan konsistensi

dengan konsep pengukuran instrumen dan membantu untuk menerima

pengukuran yang lebih baik (Sekaran,2003). Reliabilitas adalah sebuah

penerimaan pada derajat yang konsisten antara pengukuran yang multiple

pada sebuah variabel (Hair et al., 1998). Selain itu, reliabilitas menyangkut

ketepatan alat ukur. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika

jawaban seseorang terhadap suatu pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari

waktu ke waktu (Ghozali, 2005). Suatu variabel dikatakan reliable jika

Cronbach Alpha ( ) > 0,60 (Ghozali, 2005). Hal serupa juga dikemukakan

oleh Hair et al., 1998, bahwa data dapat dikatakan reliable jika Cronbach

Alpha () di atas 0,60 atau 0,70.

Pengujian reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha dengan bantuan

software SPSS for Windows versi 15. Reliabilitas dari suatu alat pengukuran

mencerminkan apakah suatu pengukuran terbebas dari masalah (error),

sehingga memberikan hasil pengukuran yang konsisten pada kondisi yang

berbeda pada masing-masing item dalam instrumen (Sekaran, 2000).

Penelitian yang baik apabila nilai cronbach alpha sebagai berikut:

(54)

commit to user

3) Cronbach Alpha < 0,6 : reliabilitas buruk

c. Pengujian Model Struktural

1) Uji Kecukupan Sampel

Karena teknik analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini

adalah teknik analisis dengan pendekatan SEM dimana jumlah sampel

yang memenuhi tidak dapat ditentukan sebelum dilakukan analisis uji

kecukupan sampel, maka peneliti menggunakan jumlah sampel yang

disyaratkan yaitu sebanyak minimum 100 sampel atau minimum 5 kali

jumlah parameter yang diestimasi (Hair, et.al., 1998).

2) Uji Normalitas

Dalam SEM terutama bila diestimasi dengan teknik maximum

likelihood menyaratkan sebaiknya asumsi normalitas pada data terpenuhi.

Untuk menguji asumsi normalitas maka digunakan nilai z statistik untuk

skewness dan kurtosisnya. Curran, et. al., membagi distribusi data menjadi

3 bagian, yaitu:

a. Normal jika nilai skewness di bawah 2 dan nilai kurtosis di bawah 7.

b. Moderately non-normal, yaitu besarnya data yang tidak normal adalah

sedang. Nilai skewness antara 2 sampai 3 dan nilai kurtosis antara 7

(55)

commit to user

c. Extremely non-normal, yaitu distribusi data yang tidak normal sangat

besar. Nilai skewness di atas 3 dan nilai kurtosis di atas 21.

3) Uji Outliers

Outliers adalah observasi yang muncul dengan nilai-nilai ekstrim

baik secara univariate dan multivariate yaitu observasi yang muncul

karena kombinasi karakteristik unik yang dimilikinya dan terlihat sangat

jauh berbeda dari observasi-observasi lainnya (Ferdinand, 2005). Dalam

analisis multivariate adanya outliers dapat diuji dengan nilai statistik

Chi-square (x2) terhadap nilai mahalanobis distance square pada tingkat

signifikansi 0,001 dengan degree of freedom sejumlah variabel yang

digunakan dalam penelitian (Hair et al., 1998). Apabila terdapat observasi

yang mempunyai nilai mahalanobis distancesquare yang lebih besar dari

Chi-square maka observasi tersebut dikeluarkan dari analisis. Umumnya

perlakuan terhadap outliers adalah dengan mengeluarkannya dari data dan

tidak diikutsertakan dalam perhitungan berikutnya. Bila tidak terdapat

alasan khusus untuk mengeluarkan outliers, maka observasi dapat

Gambar

Gambar II. 1 The Original Model Price-Perceived Quality  .........................  21
Gambar II.1
Gambar II.2
Gambar II.3
+7

Referensi

Dokumen terkait