Lampiran 2
94
Lampiran 3
Lampiran 4
96
Lampiran 5
Lampiran 6
98
Lampiran 7
Lampiran 8
100
Lampiran 9
DAFTAR PUSTAKA
Collins, Peter. (1998). Changing Ideals in Modern Architecture, 1750-1950. Montreal: McGill-Queen’s University Press
Curtis, William J. R. (1996). Modern Architecture since 1900 (third edition). London: Phaidon.
Duncan, Alastair. (1994). Art Nouveau. London: Thames & Hudson.
Charleson, Andrew W. (2005). Structure as Architecture. Oxford : Elsevier.
Juwana, Jimmy S. Sistem bangunan tinggi, Erlangga, Jakarta, 2005.
Johnson, The theory of architecture, organic architecture, U.K, 1991.
Ginting Nurlisa, Wahid Julaihi., Exploring Identity’s Aspect of Continuity of Urban Heritage Tourism, Procedia - Social and Behavioral Sciences, Dec, 2014, Vol 1 no-01.
Ginting Nurlisa, Handinoto, Kawasan pusat kota lama dalam perkembangan sejarah perkotaan, Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 33, No.1, Juli 2005: 34 – 42.
Ginting Nurlisa, Koray ozcan, Cultural Heritage Conservation, Procedia – Social and Behavioral Sciences 140, 2014: 138 – 144.
Gurney paragon. (www.gurneyparagon.com, diakses 27 April 2015)
What is Organic Architecture? (n.d.).(www.organic-architecture.org diakses tanggal 27 April 2015)
Puri mansion apartment. (www.purimansinapartment.com, diakses 28 April 2015)
18
BAB III
SIMILARITY FEELING
Studi kasus yang dipilih perancang pada proyek tentunya memiliki nilai-nilai positif yang dapat diambil untuk di implementasikan pada tahap berikutnya, seperti menentukan jumlah ruangan, penataan ruang, organisasi ruang, struktur bangunan, teknologi bangunan yang dipakai, tampak bangunan, sirkulasi kendaraan, kepekaan seorang arsitek terhadap lingkungan sekitar bangunan dan serta potensi-potensi yang diterapkan pada bangunan.
Penambahan fasilitas yang dipilih perancang untuk lokasi Royale Heritage adalah apartemen dengan upper class. Pemilihan apartemen upper class dikarenakan lokasi berada pada lokasi bersejarah dikota Medan dan kebutuhan akan apartemen di kota Medan sangat tinggi. Pengertian apartemen menurut Stein (1967), sebuah ruangan atau beberapa susunan dalam beberapa jenis yang memiliki kesamaan dalam suatu bangunan yang digunakan sebagai rumah tinggal. Menurut Endy Marlina (2008) dalam bukunya yang berjudul perancangan bangunan komersial mengatakan bahwa, apartemen adalah bangunan yang membuat beberapa grup hunian, yang berupa rumah flat atau petak bertingkat yang diwujudkan untuk mengatasi masalah perumahan akibat kepadatan tingkat hunian dari keterbatasan lahan dengan harga yang terjangkau di perkotaan.
dapur dan kamar mandi, setiap penghuni akan saling berbagi fasilitas yang ada pada apartemen, sirkulasi vertikal berupa tangga dan lift, sedangkan sirkulasi horizontalnya berupa koridor, setiap unit mendapatkan jendela yang menghadap keluar bangunan dan pada apartemen mewah terdapat penambahan ruang-ruang seperti ruang kerja, ruang tamu, foyer, ruang rias dan lainnya.
Klasifikasi apartemen Endy Marline (2008) yaitu tipe studio yang mengutamakan efisiensi penggunaan ruang-ruang dan hanya tersedia ruangan tanpa sekat, tipe dua ruang tidur berkapasitas 3-4 orang dan tipe tiga ruang tidur berkapasitas 4-5 orang.
20
Gambar 3.1 Perspektif Apartemen Puri Mansion (2015) (sumber : www.apartemenpurimansion.info)
Gambar 3.2 Peta lokasi apartemen Puri Mansion (sumber: investproperti.com)
tengah perkotaan dengan suasana hamparan ruang terbuka hijau yang subur seperti di surga (Purimansion Apartemen, 2014).
Kota Jakarta yang merupakan kota metropolitan dan sekaligus ibukota negara yang sangat padat aktifitasnya, mengakibat perkembangan apartement sangat berkembang pesat (Purimansion Apartemen, 2014). Sehingga arsitek dan developer pada proyek ini bekerjasama menciptakan hunian apartemen yang tidak melupakan akan ruang terbuka hijau, serta dilengkapi 51 fasilitas bintang lima untuk kenyamanan penghuni apartemen (gambar 3.3).
Gambar 3.3 Fasilitas apartemen Puri Mansion (sumber: Apartemenpurimansion.info)
22
Leisure Pool, Children’s Pool, Water play, Pool Loungers, Party Deck, Gourmet Tents, Table Tennis Void Deck, Scent Garden, Jogging Trail, Multi purpose Void Deck, Fitness Station, Lap Pool, Floating Cabanas, Hammock Court, Gymnasium, E-deck to Basement Stairs, Reflective pool, Indoor Pool, Indoor Pool Deck, Butterfly Garden (sumber: Apartmentpurimansion.info).
Konsep ‘luxurious Living’ juga diterapkan pada apartemen ini dengan fasilitas yang super lengkap di dalam kawasanya dan memiliki desain Full Glasses Eksterior. Apartement Puri Mansion memiliki 4 tower yang terdiri dari Tower Amethyst, Tower Beryl, Tower Crystal, Tower Diamond. Setiap tower memiliki 39 lantai dan view yang berbeda-beda (gambar 3.4).
Gambar 3.4 Masterplan Apartemen Puri Mansion (sumber: Apartemenpurimansion.info)
bedroom, 4 tipe tiga bedroom dan pada lantai 10 s/d lantai 17 dilengkapi dengan sky garden (gambar 3.5). jadi total unit apartemen setiap towernya adalah 1120 unit. Dikarenakan persaingan proyek apartemen yang sangat pesat serta kebutuhan masyarakat kota Jakarta akan sebuah hunian vertikal yang berkelas, arsitek dan developer sangat yakin akan total unit yang diberikan pada setiap towernya.
Gambar 3.5 Denah lantai tower (sumber: www.apartemenpurimansion.com)
24
Apartemen yang dipilih untuk studi kasus proyek sejenis yang kedua adalah Trillium Apartemen yang berlokasi di Jalan Pemuda, Surabaya dan berada di pusat bisnis kota Surabaya (gambar 3.6). Apartemen ini dirancang oleh Gunawangsa Group dan selesai pada tahun 2012 (Gunawangsa Group, 2012). Perancang tertarik dengan kasus apartemen yang ada di Surabaya ini, karena letaknya yang sangat strategis yang berada pada pusat dan di jantung Central Business District (CBD) kota Surabaya yang sibuk dan hidup. Serta lokasi yang berdekatan dengan akses ke Stasiun Kereta Api Gubeng dan dikelilingi pusat perbelanjaan ternama kota Surabaya. Trillium Apartemen merupakan salah satu apartemen berkelas di kota Surabaya (gambar 3.7).
Gambar 3.7 Peta lokasi apartemen Trilium (sumber: www.apartementrilium.com)
Dalam perencanaan pembangunan apartement yang berada pada lahan seluas 5 hektar, arsitek dan developer yang menangani proyek ini menjadikan apartement ini di minati dan menjadi sebagai investasi yang sangat potensial. Apartemen ini memiliki konsep ‘The new Iconic Landmark’ dengan maksud menjadikan satu ikon baru kota Surabaya dengan desain yang mewah dan nyaman serta didesain sebagai representasi pencapaian level baru atas kesuksesan hidup di perkotaan (Gunawangsa Group, 2014).
26
Meeting room, Multifuction hall, Swimming pool, Kid’s pool, Jacuzi dan Sauna, Children’s play area (gambar 3.8 dan gambar 3.9).
Gambar 3.8 Fasilitas swimming pool 2014 (sumber: Apartementrilium.com)
Gambar 3.9 Denah fasilitas apartemen Trilium (sumber: apartementrilium.com)
didesain untuk menghadirkan kenyamanan, keamanan & privasi yg tinggi dengan luas mulai 45-123 m2. Unit Apartement dibagai menjadi beberapa tipe yaitu 1 Bedroom, 2 Bedroom, 3 Bedroom dan 3 Bedroom plus. Setiap unit apartemen memiliki city view dan pool view (gambar 3.10 dan gambar 3.11).
28
Gambar 3.11 Denah unit 3 bedroom plus (kiri) dan denah unit 3 bedroom (kanan) (sumber: apartementrilium.com)
Dari studi kasus apartemen, nilai positif yang dapat diambil adalah Lokasi yang berada dekat dengan akses ke stasiun kereta api, serta pembangunan proyek pada sebuah kota metropolitan terbesar kedua dapat meningkat perkembangan kota Surabaya. Dikarenakan kota Surabaya mempunyai perencanaan kota yang hampir sama dengan kota Medan.
BAB IV
TO KNOW MORE
Urban design guidelines dan programing sangat diperlukan dalam proses perancangan. Sebab, dalam Urban design gudielines akan di desain fasilitas pendukung dan peraturan pada Royale Heritage dan lingkungannya, serta pada programing akan ditentukan program ruang yang akan dibuat pada apartemen. Pada apartemen hal yang perlu diperhatikan adalah perhitungan jumlah unit apartemen, jumlah parkir kendaraan dan fasilitas-fasilitas apa saja yang akan diperlukan untuk pemilik unit apartemen.
30
Gambar 4.1 Lokasi Royale Heritage
Kota Medan diharuskan memiliki lebih banyak lagi apartemen dengan fasilitas yang lengkap, Jika dibandingkan dengan kota Surabaya. Ditinjau berdasarkan konteks lingkungan sekitar Royale Heritage, sebuah apartemen kelas atas sangat sesuai dengan lingkungannya. Maka perancang mengambil keputusan agar bangunan yang dirancang bersifat Apartement kelas atas. Sebab, Apartemen dengan kelas atas tentunya mempunyai fasilitas yang lengkap dan dapat memberi kenyamanan pada peghuni apartemen. Sehingga, kota Medan dapat bersaing dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia dan meningkatkan nilai historis pada bangunan bersejarah yang berada pada lokasi Royale Heritage.
disekelilingnya akan mempunyai nilai historis yang mahal. Dikarenakan sebuah hotel dan apartement berkelas hadir di lokasi.
Untuk menjadikan lokasi Royale Heritage dan lingkungan sekitar lebih teratur, perancang mendesain beberapa jalan yang dapat terakses ke lokasi Royale Heritage. Berdasarkan Tata ruang kota Medan tahun 2010, lebar Jalan Sutomo adalah 16,5 meter. Perancang merencanakan Jalan Sutomo menjadi satu arah dan mempunyai empat jalur kendaraan (gambar 4.2). Lebar Jalan Veteran adalah 10,8 meter, perancang merencanakan Jalan Veteran menjadi satu arah dan mempunyai tiga jalur kendaraan (gambar 4.3). Lebar Jalan Martinus Lubis adalah 8 meter, perancang merencanakan Jalan Martinus Lubis menjadi satu arah dan mempunyai dua jalur kendaraan (gambar 4.4). Lebar Jalan Seram adalah 5 meter, perancang merencanakan Jalan Seram menjadi satu arah dan mempunyai satu jalur kendaraan (gambar 4.5). Pada bagian kiri dan kanan jalan terdapat pedestrian bagi pejalan kaki dengan lebar 2 meter yang dilengkapi dengan marka jalan dan dilengkapi dengan jalur penyandang disabilitas. Setiap jalan dilengkapi dengan marka jalan.
32
Gambar 4.3 Jalan Veteran (kiri) dan perencanaan Jalan Veteran (kanan)
Gambar 4.4 Jalan Martinus Lubis (kiri) dan perencanaan Jalan Martinus (kanan)
Gambar 4.5 Jalan Seram (kiri) dan perencanaan Jalan Seram (kanan)
merencanakan pemberian halte pada sisi Jalan Veteran (gambar 4.6) dan agar lingkungan sekitar terhindar dari sampah perancang merencanakan pada setiap sudut pedestrian jalan akan tersedia tempah sampah (gambar 4.7).
Gambar 4.6 Letak halte (kiri) dan bentuk halte (kanan)
Gambar 4.7 Contoh tempat sampah
34
dijadikan sebagai plaza (gambar 4.9) dan Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dijadikan sebagai ruang publik (gambar 4.10).
Gambar 4.8 Peta RUTRK Medan Perjuangan
Gambar 4.10 Perencanaan Gedung RRI
Dikarenakan perancang bertujuan untuk menjadikan Royale Heritage sebagai ruang publik bagi masyarakat kota Medan. Pada lokasi Royale Heritage perancang akan merencanakan tiga taman tematik dan open space, yaitu Gedung Nasional Garden merupakan point of view lokasi Royale Heritage (gambar 4.11), Royale Garden taman tebesar di lokasi Royale Heritage (gambar 4.12) dan Royale Solace Garden merupakan taman One stop entertainment (gambar 4.13). Setiap taman memiliki ciri khas yang berbeda-beda.
36
Gambar 4.12 Royale Garden
Gambar 4.13 Royale Solace Garden
Selain ruang publik berupa taman dan plaza, pada lokasi Royale Heritage juga terdapat pasar traditional yang berkonsep modern yang menyediakan pasar sayur, buah, daging dan seafood, kuliner dan cendramata. Pada pasar tersedia 500 display, yang berukuran 2 x 2 meter (gambar 4.14).
Pada lokasi Royale Heritage perancang merencanakan area parkir kendaraan yang dilengkapi dengan vallet parking, parkir sepeda motor, parkir sepeda (gambar 4.15) dan parkir penyandang disabilitas (gambar 4.16).
Gambar 4.15 Area parkir Royale Heritage
Gambar 4.16 Parkir khusus penyandang disabilitas
38
Diperhitungkan pada tahun 2020 jumlah populasi kota Medan mencapai 2.691.322 jiwa. Perancang mengasumsikan 1 kepala keluarga terdiri dari 4 anggota keluarga sehingga pada tahun 2020 terdapat 597.830 kepala keluarga. Berdasarkan dari website pemerintah kota Medan terdapat 501.712 kepala keluarga pada tahun 2010. Peningkatan jumlah keluarga per tahun kota Medan mencapai 1%, sehingga pada tahun 2020 jumlah kepala keluarga yang ada di kota Medan mencapai 572.058 jiwa.
Pada tahun 2020 jumlah kekurangan hunian berkisar 25.972 hunian. Perancang berasumsi yang akan menempati apartemen di kota Medan sekitar 10% maka sekitar 2597 keluarga. Perancang berasumsi yang akan menempati apartemen di kota Medan sekitar 10% maka sekitar 2597 keluarga. sedangkan yang akan menempati apartemen dilokasi Royale Heritage sekitar 259 unit (10%). Total unit apartemen yang direncanakan untuk disewakan atau dijual adalah 259 unit atau 259 kepala keluarga.
Tabel 4.1 Tipe unit apartemen berjudul "Sistem Bangunan Tinggi", setiap 100 unit terdapat 1 lift penumpang sehingga apartemen ini dilengkapi dengan 3 lift penumpang dan setiap 300 unit terdapat 1 lift servis, sedangkan untuk parkir kendaraan, perancang mengasumsikan terdapat 230 tempat parkir kendaraan roda 4 dan 74 tempat parkir kendaraan roda 2. Tinggi bangunan yang di rancang oleh perancang yaitu 25 lantai sekitar 90 meter dari permukaan tanah.
40
BAB V
GIVING ALTERATION
Sebuah kalimat yang tepat untuk judul perencanaan rancangan dan konsep untuk bentukan massa perencanaan disekitar tapak yang digunakan oleh perancang adalah kalimat “ Solace Paradise “. Kata ‘Solace’ memiliki arti dalam bahasa Indonesia adalah ‘kenyamanan’ atau sesuatu yang menghibur. Sedangkan kata ‘Paradise’ memiliki arti dalam bahasa indonesia adalah ‘Surga’. Jadi apabila kedua kata tersebut digabung akan menjadi ‘Solace Paradise’ yang memiliki sebuah pengertian yaitu sesuatu tempat yang nyaman dan menghibur seperti di surga.
Ide konsep dari kalimat tersebut berawal dari tujuan perencanaan pembangunan fasilitas tambahan pada lokasi Royale Heritage. Tentunya tujuan dari perencanaan agar dapat meningkatkan jumlah kunjungan dan memberikan sebuah hunian ekslusif di tengah perkotaan dengan ruang terbuka hijau yang nyaman. Tujuan lain dari perencanaan pembangunan, agar lokasi Royale Heritage menjadi salah satu daerah yang sangat komersial dan menjadi salah satu daerah ruang terbuka publik dengan kaya akan sejarahnya bagi kota Medan. Sehingga sejarah yang terdapat pada lokasi tidak akan dilupakan dan dapat menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung serta untuk melihat bangunan bersejarah yang menjadi kebanggan kota Medan.
Royale Heritage, secara tidak langsung dengan penambahan fasilitas apartemen menjadi daya tarik tersendiri pada lokasi, sekaligus untuk memberikan kebutuhan akan hunian nyaman yang berada di kehidupan perkotaan kota Medan. Tujuan lain dari perencanaan pembangunan apartemen agar lokasi Royale Heritage semakin bernilai.
Pendekatan teori arsitektur yang digunakan dalam konsep perancangan bangunan pada lokasi Royale Heritage adalah arsitektur organik. Menurut Johnson (1991) dalam bukunya “The Theory of Architecture” mengatakan bahwa “arsitektur organik merupakan arsitektur yang dilihat bagaikan atau seperti alam dalam hal kemiripannya dengan organisme baik dari segi harmoni, karakter, dan kesatuan, atau karena wujud dan strukturnya berasal dari bentuk-bentuk alam dan berpadu dengan alam, atau meniru proses-proses atau hasil keluaran alam dalam hal ini alam dapat mengatur sesuatu, bereaksi dengan gaya-gaya lingkungan, gaya gravitasi, mengalami proses yang disebut dengan bertumbuh, berbunga, dan berbiji, kemudian pada akhirnya mengalami kematian dan dapat memulai segalanya kembali” (Johnson, 1991).
42
dengan bentuk bentuk ekspresif yang berpengaruh pada psikologi manusia (Pearson, 2009).
Menurut Ganguly (2008) dalam artikelnya yang berjudul “What is Organic in Architecture” mendefinisikan arsitektur organik merupakan hasil dari perasaan akan kehidupan, seperti integritas, kebebasan, persaudaraan, harmoni, keindahan, kegembiraan dan cinta. Arsitektur organik merupakan sebuah filosofi arsitektur yang menjunjung harmoni antara lingkungan hidup manusia dan dunia alam melalui pendekatan desain. Arsitektur organik terintegrasi dengan baik dengan tapak dan memiliki sebuah kesatuan, komposisi yang saling berkaitan, berisi bangunan-bangunan dan lingkungan sekitarnya. Arsitektur organik mendeskripsikan ekspresi individualitas serta mengeksplorasi kebutuhan kita agar selalu terhubung dengan alam. Arsitektur organik merupakan sebuah interpretasi prinsip-prinsip alam yang dijadikan bentuk. Arsitektur organik biasanya puitis, radikal, aneh dan secara lingkungan dapat dikenali, banyak segi, fleksibel dan mengejutkan. Arsitektur organik mengharmonisasikan antara ruang luar dan ruang dalam (Ganguly, 2008).
manusia sebagai makhluk yang hidup dan kreatif (What is Organic Architecture, n.d.).
Dalam arsitektur organik, arsitektur tidak hanya dilihat sebagai ekspresi dari kehidupan budaya dan sosial, tetapi juga dilihat sebagai sesuatu yang mempengaruhi kehidupan dalam dan luar dari manusia. Dalam pengertian ini, manusia dilihat sebagai sesuatu yang memiliki fisik, psikologi dan spiritual, terhubungi oleh lingkungannya. Di kala arsitektur secara garis besar didominasi oleh ekonomi, teknik dan peraturan-peraturan, arsitektur organik berjuang untuk pendekatan menyeluruh yang juga terdiri dari aspek ekologis, budaya dan aspek spiritual (What is Organic Architecture, n.d.).
Frank Lloyd Wright (1869-1959) yang disebut sebagai bapak arsitektur organik , menulis essai pertama tentang subyek ini sekitar tahun 1910 (Pearson, 2009). Frank Lloyd Wright mendeskripsikan apa yang ia maksud dengan arsitektur organik dalam essainya yang berjudul “In the Cause of Architecture” pada tahun 1914, “...by organic architecture I mean an architecture that develops from within outward in harmony with the conditions of its being as distinguished from one that is applied from without” (Collins, 1998, p. 152).
44
memiliki pengertian yaitu bentuk. Jika mengacu pada kedua kata tersebut, maka penggabungan kata antara bio dan morph menghasilkan pengertian yaitu bentuk kehidupan, atau tepatnya, bentuk kehidupan organik. Pengertian biomorfik sendiri adalah sebuah bentuk atau objek dekoratif yang berdasarkan atau menyerupai organisme hidup. Lebih jauh lagi, biomorfik merupakan sebuah representasi grafis dari organisme yang dihasilkan oleh komputer (Concise Oxford English Dictionary).
Dapat dikatakan bahwa arsitektur biomorfik merupakan arsitektur organik yang lebih menitikberatkan pada sisi bentuk yang merujuk pada bentuk-bentuk alam, dapat berupa peniruan bentuk secara eksplisit atau berupa abstraksi dari bentuk-bentuk alam. Karakteristik arsitektur biomorfik yang paling nyata yaitu adanya penggunaan garis tidak lurus, dengan argumen yang diucapkan oleh Gaudi, bahwa tidak ada garis lurus di alam ini (Gaudi, 2008).
Konsep bentuk pada arsitektur organik bisa jadi merupakan sebuah menerapan arsitektur metafora. Salah satu konsep yang muncul pada arsitektur organik yaitu keyakinan bahwa bentuk-bentuk organik adalah bentuk yang paling ideal untuk sebuah bangunan “green” (Edwards, 2001). Hampir semua bangunan hingga hari ini memiliki bentuk linear, padahal hukum fisika yang menentukan kedinamisan dari cairan, panas, cahaya, suara dan gaya (tekanan) kebanyakan bekerja secara non-linear. Sementara bangunan dengan bentuk kurvilinear dapat menyesuaikan dengan hukum alam tersebut dan memberikan wujud atau bentuk optimum yang lebih efisien, ekonomis, dan sesuai untuk iklim lokal dan kondisi lingkungan (Pearson, 2009).
Sebuah bentuk atau objek dekoratif yang digunakan untuk perencanaan pada bentuk bangunan, perancang terinspirasi dari bentuk sebuah “pulau”. Penggambaran pada sebuah pulau memiliki tiga komponen utama yang sangat penting yaitu laut, pantai dan tumbuhan. Tentunya tumbuhan yang tumbuh pada sebuah pulau kebanyakan berupa pohon kelapa. Analogi yang dipakai untuk bentuk bangunan adalah sebuah pulau ditengah perkotaan yang mempunyai berbagai permasalahan lingkungan dan padatnya aktifitas perkotaan yang dilambangkan sebagai laut yang luas dimana didalamnya terdapat kehidupan biota laut. Bentuk massa bangunan yang dilambangkan sebagai pantai dan pohon kelapa, dimana sebuah pantai dan pohon akan memberikan dampak positif bagi lingkungan perkotaan (gambar 5.1).
46
dikarenakan lokasi site yang berada pada pusat perkotaan, minim akan ruang terbuka hijau dan tingkat polusi udara yang lumayan tinggi. Bangunan ini nantinya akan menjadi salah satu ruang terbuka hijau di kota Medan, Serta dapat memberikan efek “green” dan dapat mengurangi polusi udara bagi lingkungan sekitarnya.
Gambar 5.1 inspirasi analogi bentuk pada bangunan
dijadikan sebagai convention hall dan gedung nasional yang dijadikan sebagai museum dan restaurant. Dikarenakan apartemen memiliki sebuah kehidupan dan lingkungan yang lebih ekslusif, maka podium apartemen dinaikkan ke lantai 3 yang bersifat semi publik. Sehingga dapat diakses oleh kendaraan langsung dari lantai ground. Pada lantai ini terdapat beberapa fasilitas pendukung kebutuhan apartemen. Kemudian semakin keatas terdapat unit hunian apartemen yang bersifat private dan Area parkir khusus apartemen diletakkan pada bagian basement (gambar 5.2 dan gambar 5.3).
Gambar 5.2 Penzoningan pada tapak
48
Setelah pembagian zona pada tapak, tahap selanjutnya adalah penerapan teori arsitektur kepada bentuk bangunan. Objek atau bentuk yang digunakan oleh perancang adalah sebuah pulau dengan pohon kelapa. Pulau dengan pohon kelapa sebagai analogi yang digunakan untuk pendekatan arsitektur organik (gambar 5.4). jika dilihat secara seksama pada gambar, pulau yang dimaksud merupakan letak podium yang berada pada bagian atas sehingga bentuk podium seakan melayang dan pohon kelapa dilambangkan pada kedua tower apartemen. Nantinya apartemen memberikan sebuah oase ditengah perkotaan dan memberikan hunian bagi masyarakat kota dengan suasana kesegaran ruang hijau. Serta Royale Heritage akan memberikan sebuah ruang publik dan ruang terbuka hijau bagi kehidupan di perkotaan. Sehingga bangunan bersejarah yang berada pada lokasi akan mejadi lebih bernilai dan masyarakat (wisatawan) akan tertarik untuk berkunjung ke Royale heritage.
Perancang merencanakan ruang terbuka hijau pada lokasi tapak. Tempat yang cocok dijadikan untuk ruang terbuka hijau adalah pada bagian depan gedung nasional, berada diantara Gedung Nasional, Gedung Olahraga dan pasar yang menjadi ruang publik. Serta berada pada lingkungan apartemen yang berada di lantai 3 (gambar 5.5) Sehingga pada lantai ground hampir seluruhnya dijadikan sebagai ruang publik, hal ini bertujuan agar bangunan-bangunan bersejarah dan ruang publik yang nantinya akan direncanakan pada siteplan akan lebih menyatu (gambar 5.6).
Gambar 5.5 Blockplan apartemen TOWER
50
Gambar 5.6 Siteplan
Gambar 5.7 Denah lantai Ground
52
Sehingga lokasi Royale heritage dan beberapa penambahan fasilitas didalamnya memiliki keharmonisan dengan tapak dan memberikan sebuah area hijau di sebuah perkotaan yang juga peduli akan lingkungan
Kendaraan pengunjung Royale Heritage, tamu hotel dan tamu apartemen akan masuk melalui satu pintu masuk utama. Tetapi yang membedakannya untuk tamu hotel dan apartemen dari pintu masuk utama akan langsung menuju ke lantai 3 untuk drop off, sehingga sirkulasi kendaraannya tidak bergabung dengan pengunjung yang pasar dan ruang publik yang ada di lantai ground (gambar 5.7). Kendaraan untuk penghuni apartemen akan langsung masuk melalui satu pintu masuk basement melalui Jalan Sutomo yang hanya digunakan bagi penghuni apartemen. Perancang ingin memberikan kenyaman yang akan diberikan nantinya kepada pemilik hunian apartemen, sehingga lebih aman dan bersifat private (gambar 5.5).
Gambar 5.8 Konsep sistem struktur bangunan
54
Gambar 5.9 Blok massa bagunan
Selanjutnya mengelaborasikan tema dan kebutuhan ruang pada apartemen dalam perencanaan ruang setiap lantai atau denah skematik. Agar area apartement lebih ekslusif dan lebih private demi kenyamanan pemilik hunian apartemen. Perancang merencanakan peletakkan bangunan apartemen berada di lantai 3, sehingga pada pintu masuk utama terdapat dua jalur dimana satu jalur untuk pengunjung yang akan menggunakan fasilitas pada lantai ground dan satu jalur lagi langsung naik ke lantai 3 yang diggunakan untuk drop off apartemen.
Gambar 5.10 Pembagian zona apartemen
56
Gambar 5.12 Pembagian zona secara vertikal
Gambar 5.13 Denah podium
Gambar 5.14 Jalur pejalan kaki area apartemen
58
melalui Jalan Sutomo dan langsung menuju basement yang bersifat private. Pada lantai podium apartemen yang berada dilantai 3 direncanakan ketika pengunjung tamu apartemen masuk melalui pintu utama pada jalan veteran maka pengunjung langsung naik ke lantai 3 dan akan berhenti pada tempat yang telah disediakan drop off dan terdapat plaza. Kemudian pengunjung akan memasuki bangunan, ketika pengujung masuk ke lantai podium bangunan, perancang merencanakan akan terdapat hall yang memiliki satu receptionist utama.
Gambar 5.15 Denah podium lantai 1 apartemen
Bangunan yang dikelilingi oleh taman membuat suasana apartemen menjadi lebih sejuk dan tenang. Pada bagian luar berdekatan dengan pintu masuk terdapat fasilitas lapangan tenis yang merupakan salah satu fasilitas yang diberikan untuk penghuni apartemen. Serta pada bagian kiri bangunan terdapat taman yang juga sebagai penghubung ke area hotel. Inti bangunan diletakkan pada setiap tower apartemen, pada inti bangunan terdapat 2 lift untuk pemilik hunian apartemen, 1 lift servis, shaft elektrikal, shaft sampah, shaft AHU, shaft air dan tangga darurat. Ketiga lift dapat diakses melalui lantai basement dan tidak dapat diakses melalui lantai ground. Apabila penghuni apartemen ini mengakses ke ruang publik yang berada di lantai ground, perancang merencanakan pemberian eskalator yang bertujuan untuk penghubung antara lantai 1 podium apartemen dengan ruang publik lantai ground.
60
dibedakan dengan perbedaan elevasi lantai. Pada bagian yang lebih tinggi diletakkan Area barbeque, bar, fitness center yang menghadap ke swimming pool, kids pool, sauna dan spa yang menghadap pemandangan kolam air dan taman. Sedangkan pada bagian yang sedikit lebih rendah yang dapat diakses dengan tangga direncanakan peletakkan taman, jogging track dan area bermain anak.
Gambar 5.16 Denah podium lantai 2 apartemen
Gambar 5.17 Denah tipikal unit hunian apartemen
62
Gambar 5.18 Denah arsitektural dan interior ( Tipe 1 bedroom)
Gambar 5.19 Denah arsitektural dan interior ( Tipe 2 bedroom)
Gambar 5.20 Denah arsitektural dan interior (Tipe 3 bedroom)
Setiap tipe unit hunian apartemen memiliki design interior yang berbeda-beda (gambar 5.18, gambar 5.19, dan gambar 5.20). perancang bertujuan calon penghuni akan merasa tertarik dengan tipe unit hunian apartemen yang ditawarkan.
tanaman hijau, Bangunan hotel dan pintu masuk basement apartemen. Bangunan yang terlihat pada potongan A-A merupakan bangunan hotel yang memiliki ketinggian sekitar 88 meter (20 lantai) dan beberapa pertokoan yang memiliki ketinggian 2 lantai (warna biru) dan 3 lantai (warna ungu).
Gambar 5.21 Potongan site A-A
Pada potongan site B-B (gambar 5.22), dapat dikatakan sebagai tampak site dari depan Jalan Veteran. Dimana pada Jalan ini merupakan pintu masuk utama ke Royale Heritage. Bangunan yang dapat terlihat dari potongan B-B yaitu landscape taman, Gedung Nasional dan Gedung Olahraga. Serta Tampak samping hotel dan tampak depan apartemen yang memiliki ketinggian sekitar 20 lantai.
64
Pada potongan site C-C (gambar 5.23), dapat dikatakan sebagai tampak site dari Jalan Martinus Lubis. Pendekatan arsitektural yang digunakan untuk bangunan apartemen merupakan pendekatan arsitektur organik, sehingga perancang ingin menciptakan secara visual bahwa bangunan apartemen terlihat seperti pohon yang tumbuh pada ruang hijau yang menyatu dengan alam dan bangunan bersejarah disekitarnya menjadi lebih hidup, serta meningkatkan jumlah penghuni apartemen dan pengunjung Royale Heritage.
Gambar 5.23 Potongan site C-C
Letak bangunan apartemen yang berada pada lantai 3. Perancang membuat ramp untuk kendaraan dapat langsung naik ke lantai 3. Ramp dengan perbandingan 1:8 sehingga panjang ramp yang diperlukan 28 meter. Pada area basement yang digunakan sebagai daerah untuk servis seperti parkir kendaraan penghuni apartemen dan ruang generator tangki air, ruang genset, sampah, car wash dan beberapa ruang servis lainnya.
Tanpak bangunan merupakan unsur terpenting dalam suatu perancangan, dikarenakan tampak dari suatu bangunan akan mencerminkan apa yang diinginkan atau yang dimaksud oleh perancang kepada orang yang melihat dan menikmati bangunan secara visual. Menurut perancang, apabila bangunan yang dirancang memiliki sebuah tema, maka perancang harus mengaplikasikan tema arsitektur yang dipilih untuk proyek yang sedang dikerjakan dan harus memperhatikan latar belakang proyek yang sedang ditangani agar pengguna bangunan dapat merasakan apa yang telah direncanakan oleh perancang. Seperti tapak, tampak bangunan, sistem penataan ruang dalam bangunan dan lainnya.
66
Pada pembahasan sebelumnya mengenai bentuk dasar bangunan yang telah direncanakan oleh perancang (gambar 5.9). Perancang kemudian mengembangkan bentuk dasar bangunan yang telah ada dan lebih memperkuat tampak dengan analogi yang digunakan sebagai dasar perancangan. Pada ide bentuk sebuah pulau yang mempunyai daratan yang melengkung secara tidak beraturan, perancang menerapkan bentuk pada sisi bangunan podium. Sebuah pulau tentunya mempunyai daratan yang ditumbuhi oleh perpohonan dan tumbuhan hijau salah satunya pohon kelapa, perancang menerapakan analogi bentuk dari pohon kelapa kepada dua tower bangunan. Perancang menganalogikan daun pohon kelapa Pada sisi-sisi tower memiliki kantilever yang berfungsi sebagai roof garden (gambar 5.24) dan perancang menganalogikan batang pohon kelapa pada sisi belakang tower (gambar 5.25).
Gambar 5.25 bentuk massa bangunan
Tampak depan bangunan dilihat dari Jalan Veteran (gambar 5.26) dan tampak belakang bangunan dilihat dari Jalan Seram (gambar 5.27), bangunan apartemen memiliki jumlah 20 lantai yang menggunakan pendekatan arsitektur organik pada tema arsitektur.
68
Gambar 5.27 Tampak belakang bangunan apartemen
Tampak samping kiri dilihat dari Jalan Sutomo (gambar 5.28) dan tampak samping kanan dilihat dari Jalan Martinus Lubis (gambar 5.29), bangunan apartemen yang memiliki jumlah 20 lantai yang menggunakan pendekatan arsitektur organik pada tema arsitektur.
Gambar 5.29 Tampak samping kanan bangunan apartemen
Pada potongan bangunan apartemen A-A dan potongan bangunan apartemen B-B (gambar 5.30 dan 5.31), pada lantai 1 podium apartemen ketika masuk terdapat main lobby yang bersifat publik.
70
Gambar 5.31 Potongan B-B bangunan apartemen
Pada lantai 1 podium juga terdapat area private yang digunakan untuk penghuni apartemen, pada area private ini terdapat Private lobby (gambar 5.32) dan kantor pengelola apartemen. Untuk memasuki area ini hanya penghuni dan staff apartemen yang memiliki private card.
Gambar 5.32 Interior private lobby apartemen
pengunjung apartemen berjalan-jalan disekitar bangunan akan merasakan suasana alami dengan perpohonan dan tumbuhan hijau (gambar 5.33).
Gambar 5.33 Suasana sekitar bangunan
Secara visual bangunan terlihat seperti hamparan ruang terbuka hijau yang ditumbuhi oleh perpohonan dan tumbuhan hijau. Perspektif eksterior bangunan apartemen (gambar 5.34, gambar 5.35, gambar 5.36, gambar 5.37 dan gambar 5.38).
72
Gambar 5.35 Perspektif eksterior bangunan
Gambar 5.36 Pespektif eksterior bangunan
Gambar 5.38 Perspektif eksterior bangunan
74
BAB VI
CONFLICT AND TOLERANCE
Setelah mempresentasikan hasil dari rancangan, diadakan sebuah pengujian konsep rancangan. Adanya saran pada lantai ground, dimana pada lantai ini merupakan zona publik. Sehingga diperlukannya fasilitas publik yang nantinya akan mendukung seluruh aktifitas pada lantai ground. Dikarenakan pada lantai ground terdapat pasar yang difungsikan sebagai salah satu ruang publik, maka diperlukannya fasilitas seperti toilet umum, musholla (mesjid) dan loading dock. Dengan pemberian fasilitas musholla atau mesjid juga dapat sebagai fasilitas pendukung untuk penghuni apartemen seperti pelaksanaan sholat jumat.
Pada lantai basement beberapa shaft seperti shaft plumbing yang harus berdekatan dengan ruang septic tank dan water storage tank, serta shaft listrik harus berdekatan dengan ruang genset. Sehingga penghuni dan pengunjung apartemen dapat menikmati dan dapat merasakan “skenario” yang diinginkan oleh perancang.
Kesimpulan dari presentasi menurut perancang adalah perancang harus memberikan fasilitas pendukung untuk publik seperti toilet umum, musholla (mesjid) dan loading dock untuk pasar pada lantai ground dan peletakkan ruang pada basement yang sesuai.
Pada lantai ground yang digunakan sebagai ruang publik, dimana pada lantai ini terdapat amphiteater, plaza, pasar dan beberapa taman tematik. Pada rancangan sebelumnya, perancang tidak meletakkan fungsi fasilitas publik pada lantai ground (gambar 5.5). Lalu atas saran tersebut perancang mengubah denah lantai ground dengan memebrikan beberapa fasilitas publik seperti toilet umum, musholla dan loading dock untuk pasar (gambar 6.1)
Gambar 6.1 Denah lantai ground (setelah diperbaiki)
76
yaitu aliran listrik langsung dan generator. Guna dari MCB adalah sebagai pemindahan arus listrik pada saat terjadi pemadaman listrik. Dari MCB kemudian didistribusikan ke panel listrik induk dan dari panel induk akan didistribusikan ke setiap lantai dan ruangan yang ada pada bangunan (gambar 6.2).
Gambar 6.2 Skema pendistribusian listrik pada bangunan apartemen
Gambar 6.3 Skema pendistribusian air pada bangunan apartemen
78
Berikut merupakan diagram aksonometri pada bangunan apartemen, yaitu diagram jalur sirkulasi unit hunian apartemen (gambar 6.4).
Gambar 6.4 Sirkulasi pada area unit hunian (private)
Gambar 6.5 Sistem elektrikal
80
bangunan pada apartemen menggunakan sistem struktur rangka kaku (rigid frames) (gambar 6.9).
Gambar 6.6 Tangga kebakaran
Gambar 6.8 Sistem utilitas air kotor
Gambar 6.9 Sistem struktur
82
Gambar 6.10 Detail dinding basement apartemen
Apartement memiliki sebuah kolam renang yang berada di lantai 2 podium. Yang hanya digunakan oleh penghuni apartemen. Kolam renang memiliki kedalam 2 meter dan untuk kid’s pool hanya 1 meter (gambar 6.11).
Gambar 6.11 Potongan kolam renang apartemen.
pada lantai 9, lantai 14 dan lantai 18. Pada roof garden ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan hijau dan perpohonan.
Gambar 6.12 Detail roof garden
Potongan prinsip bangunan apartement pada penggunaan clading atau shading, yang bertujuan untuk menghalangi masuknya sinar matahari secara langsung. Dengan balok induk sebesar 40 x 80 cm dan plat lantai 12 cm, serta menggunakan rangka alumunium (gambar 6.13). Potongan prinsip penggunan double skin pada sisi bangunan (gambar 6.14).
84
BAB VII
GET READY
Pada tahap ini, setelah perancang menyelesaikan rancangan yang telah direncanakan dari awal rancangan, kemudian perancang menyusun gambar-gambar untuk di presentasikan. Perancang akan menceritakan keseluruhan bagaimana konsep bangunan tercipta dan pembagian zona pada tapak, pembagian lantai dan pembagian modul kolom (lampiran 1). Lalu perancang akan menceritakan tentang siteplan dengan bentukan massa dan potongan pada site (lampiran 2). Serta perancang akan menjelaskan beberapa diagram aksonometri pada bangunan dan denah pada lantai ground (lampiran 3).
Denah lantai podium apartemen yang berada pada lantai 3, sehingga dari pintu masuk dapat langsung menuju ke lantai 3. Serta denah lantai basement yang merupakan zona private yang hanya digunakan penghuni apartemen dan fasilitas pedukung penghuni apartemen pada lantai 2 podium apartemen (lampiran 4).
Denah-denah per lantai apartemen serta tampak, potongan, detail pada bangunan apartemen yang merupakan salah satu fokus utama dalam penjelasan nantinya (lampiran 5, lampiran 6 dan lampiran 7).
86
Maket bangunan yang dibuat oleh perancang merupakan maket monocrome, sehingga pada maket dapat terlihat suasana sekitar bangunan dan betukan massa apartemen dan beberapa fungsi lainnya seperti hotel, Gedung Nasional dan convention center (gambar 7.1).
Gambar 7.1 Maket bangunan
BAB VIII
TAKE ME DOWN TO PARADISE
Tema dari arsitektur yang digunakan pada bangunan adalah Arsitektur Organik. Analogi bentuk yang digunakan dari sebuah pulau yang memiliki sebuah pohon kelapa, karena tujuan dari pembangunan atau perencanaan bangunan apartement pada lokasi Royale heritage untuk memberikan sebuah value pada lokasi Royale heritage dengan beberapa bangunan bersejarahnya yaitu Gedung Nasional dan Gedung olahraga, dan membuat kawasan yang dulunya merupakan bekas dari pusat kota Medan akan bangkit kembali. Serta memberikan hunian bernuansa alami di tengah kota dan menjadikan Royale Heritage sebagai ruang publik bagi kota Medan. Dengan tujuan tersebut nantinya akan meningkatkan kunjungan wisatawan lokal mancanegara ke kota Medan.
Bentuk bangunan apartemen terbagi menjadi 3 bagian yaitu dua lantai podium yang bersifat publik dan dua tower yang merupakan unit hunian apartemen yang bersifat private. Bentukan massa tower merupakan analogi dari pohon kelapa, tetapi perancang tidak menggunakan bentuk tersebut secara utuh melainkan hanya sebagian bentuknya saja. Serta pada lantai ground merupakan ruang publik, dimana lokasi menjadi lebih harmoni terhadap tapak, lingkungan dan bangunan sekitarnya.
88
fasilitas untuk penghuni apartemen. Fasilitas yang terdapat pada area ini adalah kolam renang, kid’s pool, gym, jogging track, barbeque area, drink bar, garden, sauna dan spa.
Pada lantai 1 (satu) podium apartemen terdapat dua area yaitu area publik dan area private. Apabila pengunjung atau penghuni apartemen masuk pada pintu entrance apartemen, dua lobby yaitu main lobby yang bersifat publik dan private lobby yang hanya khusus untuk penghuni dan staff apartemen. Private lobby berfungsi apabila penghuni apartemen atau pemilik hunian bertemu dengan tamunya dapat berada pada area ini, tentunya harus ada persetujuan dari pemilik hunian dengan pihak apartemen atau receptionist. Pada lantai ini terdapat beberapa fasilitas pendukung yaitu restaurant, bookstore, mini market, klinik 24 jam, laundry, cafe, coffee shop, salon, atm center, money changer, retail shop, tennis court, vallet parking, taxi parking, meeting room dan multifunction hall untuk kapasitas 100 orang.
Pada bangunan apartemen terdapat dua pintu masuk yaitu pintu masuk melalui Jalan Veteran yang langsung menuju lantai 3 sebagai tempat untuk drop off dan pintu masuk khusus penghuni apartemen yaitu basement yang langsung melalui Jalan Sutomo.
90
EPILOG
Dalam tahap perancangan pada lokasi Royale Heritage, perancang melihat bangunan bersejarah yaitu Gedung Nasional dan Gedung Olahraga menjadi sebuah nilai yang berharga bagi lokasi. Lokasi ini akan dibangkitkan dan dikembangkan kembali, sehingga sejarahnya tidak akan terlupakan. Untuk lebih meningkatkan nilai pada lokasi Royale Heritage dan dengan berbagai pertimbangan perkembangan kota Medan kedepannya. Perancang menambahkan fasilitas bangunan komersil yaitu apartemen pada lokasi Royale heritage.
Pada lokasi Royale Heritage terdapat dua bangunan bersejarah yaitu Gedung Nasional dan gedung Olahraga, yang nantinya akan menjadi area publik bagi kota Medan. Area publik akan diletakkan kesulurhan pada lantai ground lokasi Royale Heritage. Serta untuk bangunan apartemen akan berada di lantai 3 (tiga), sehingga pengunjung dari pintu masuk ke lokasi bisa dapat langsung menuju ke lantai 3 (tiga). Pada apartemen akan bernuansa alam dengan peletakkan landscape pada area sekitar bangunan, sehingga dapat memberikan kenyamanan pada penghuni apartemen.
BAB II
FIRST IMPRESSION
Hal yang pertama dirasakan perancang ketika sampai pada lokasi,
perancang melihat kondisi lokasi yang tadinya merupakan bekas dari pusat kota
Medan terlihat tidak tertata dan terawat (Pemkomedan, 2013). Pada lokasi
terdapat dua bangunan bersejarah yaitu bangunan nasional pemuda (gambar 2.1)
dan gedung olah raga (gambar 2.2) yang merupakan tempat berkumpulnya para
putra dan putri bangsa Indonesia yang berjuang pada masa kemerdekaan
indonesia dahulu (Hadinoto, 1996). Kedua bangunan tersebut terlihat tidak
terawat sehingga beberapa bagian bangunanya sudah hancur dan tidak berfungsi
lagi.
13
Gambar 2.2 Tampak depan Gedung Olahraga
Lingkungan sekitar juga terdapat bangunan bangunan bersejarah lainnya
yaitu Tugu Apolo Medan Area yang merupakan lambang dari pertempuran Medan
Area (gambar 2.3). Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) merupakan tempat
yang menyiarkan dan menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia
(Suyana, 2002), fasad keseluruhan bangunannya hampir hancur (gambar 2.4).
Ketiga bangunan tersebut juga tidak terawat bahkan tidak ditangani oleh pihak
pemerintah kota Medan dan kurangnya kepeduliannya masyarakat sekitar.
Gambar 2.4 Gedung Radio Republik Indonesia (RRI)
Sebagian bangunan pemerintah yang di gunakan masyarakat sebagai
tempat tinggal menjadikan tempat ini terlihat kumuh dan tidak terawat dan
masyarakat sekitar tidak ingin membersihkan atau merawat bangunan tersebut,
hanya menggunakannya untuk tinggal dan sampah mereka buang secara
sembarangan.
Lokasi berada pada pertemuan dua jalan yaitu Jalan Sutomo dan Jalan
Veteran. Kedua jalan tersebut tidak memiliki lampu lalu lintas dan jalur pejalan
kaki. Banyaknya angkutan umum yang berhenti disembarang tempat. Sehingga
mengakibatkan kepadatan kendaraan bermotor dan sirkulasi kendaraan menjadi
tidak teratur (gambar 2.5). Pada peta, area merah merupakan kepadatan lalu lintas
kendaraan pada Jalan Sutomo dan Jalan Veteran (gambar 2.6).
15
Gambar 2.6 Peta analisa Jalan Sutomo dan Jalan Veteran
Pada lingkungan sekitar terdapat pasar tradisional yang menyebar luas dari
Jalan Veteran hingga Jalan H.M Yamin (gambar 2.7 dan gambar 2.8) Masyarakat
sekitar banyak bekerja sebagai pedagang, dengan sistem tradisional. Preman, kuli
angkut barang, dan pemulung sampah. Masyarakat pada site bersifat heterogen
(lebih dari satu suku) namun sifat mereka telah menyatu dan berbaur menjadi
satu.
Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa pedagang yang berjualan pada
pasar tersebut, diketahui bahwa pasar tersebut tidak dikelola oleh pemerintah
tetapi mereka membayar uang penyewaan kepada pihak yang bukan dari
pemerintahan dan dapat dinyatakan pasar tersebut merupakan pasar liar. Parkir
yang tidak teratur bagi kendaraan yang melalui daerah ini dan pasar yang
menyebar bagai jamur, awalnya merupakan pasar liar yang akhirnya menjadi legal
Aktivitas pasar berlangsung mulai dari pukul lima pagi sampai pukul
sembilan pagi. Sehingga para pedagang yang berjualan di pasar tersebut
meninggalkan begitu banyak sampah yang membuat lingkungan sekitar site
menjadi kotor dan berbau (gambar 2.9) Dapat dinyatakan dari segi kenyamanan
dan keamanan pada lokasi sangat kurang.
Gambar 2.7 Peta analisa zona pasar traditional
Gambar 2.8 Kondisi pasar sekitar site
17
Gambar 2.9 Kondisi sampah pasar sekitar site
Pada lokasi tidak terdapat parkir kendaraan pengunjung pasar hanya dapat
berjalan dan tidak terdapat halte sehingga kendaraan bermotor bebas melintas
pada lokasi serta tidak terdapatnya toilet umum. Secara tidak langsung lokasi
tersebut kotor,macet dan beberapa jalannya rusak. Prilaku masyarakat sekitar site
masih bersifat tradisional, dimana mereka hidup dikawasan sekitar pasar
tradisional dan kegiatan mereka yang masih bersifat sosial. Kegiatan yang
berlangsung sekitar site seperti lalu lintas angkot, interaksi sosial, jual beli di
pasar tradisional. Namun disana terdapat beberapa tempat yang di jadikan basis
(markas) preman yang menjadikan pasar tersebut sebagai tempat pencaharian
mereka melalui pungutan liar maupun retribusi parkir.
Survey ke lokasi perancangan (studi lapangan) oleh perancang dalam
berbagai aspek yang terdapat pada lokasi Royale Heritage telah dilakukan.
Tahapan selanjutnya dalam proses perancangan penambahan fasilitas pada lokasi
adalah studi kasus proyek sejenis. Pencarian studi kasus proyek sejenis akan
BAB 1
INTRODUCING
Pada kesempatan ini, perancang mendapatkan tugas dengan tema besar
yaitu “Sustainablity Architecture dan Simbiosis”. Pengertian dari tema besar tersebut menurut perancang adalah arsitektur berkelanjutan dan hubungan antara
dua fungsi atau lebih yang saling menguntungkan, memiliki tujuan untuk
menyelamatkan manusia dan lingkunganya serta menunjukkan komitmen kota
kepada lingkungan untuk mempercepat pencapaian tujuan kota dalam melindungi,
mengkonservasi, dan meningkatkan sumber-sumber lingkungan di daerah. Hal
yang tidak boleh dilupakan dari Arsitektur berkelanjutan dan simbiosis adalah
penggunaan lahan secara efisien serta membuat interkasi kedua elemen menjadi
saling menguntungkan (Brundtland, 1987).
Tentunya dari tema yang diberikan, tugas ini berlokasi pada pelestarian
kawasan yang memiliki nilai historis di kota Medan. Mengingat keadaan
pembangunan yang besar volumenya serta semakin parahnya kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh pembangunan tersebut dan dapat merubah
perilaku manusia didalamnya yang membuat lingkungan menjadi rusak telah
terjadi di kota Medan. Banyak kawasan-kawasan yang mempunyai nilai historis di
kota Medan kurangnya pemeliharaan, sehingga kawasan tersebut rusak dan
terlupakan.
Daerah yang berpotensi untuk dijadikan tempat perencanaan daerah
6
Nasional Pemuda dan Gedung Olahraga. Sebab kedua bangunan tersebut
merupakan salah satu bangunan bersejarah terpenting yang ada di kota Medan.
Kedua bangunan tersebut juga berada pada kawasan bersejerah yang merupakan
bekas pusat kota Medan (Pemkomedan, 2014), disekelilingnya juga terdapat
beberapa bangunan bersejarah seperti Gedung Radio Republik Indonesia (RRI)
dan Tugu Medan Area.
Bangunan-bangunan yang memiliki nilai historis tentunya dapat dijadikan
suatu potensi yang dapat dikembangkan baik dari pihak pemerintah kota maupun
pihak swasta untuk bersama-sama atau menjadi pelopor dalam mengubah sebuah
paradigma (cara berfikir) masyarakat yang hidup di perkotaan agar tidak merusak
bangunan bersejarah dan melupakan sejarah karena bangunan bersejarah tersebut
dapat dijadikan sebuah potensi (Graham at al, 2000). Salah satu penyelesaian pada
kawasan bangunan bersejarah dapat dijadikan sebagai Public Space atau ruang terbuka untuk berinteraksi sosial.
Contoh kasus nyata dimana kawasan yang memiliki nilai historis dijadikan
sebagai potensi baik dalam bidang pariwisata maupun bidang bisnis adalah
Gurney Paragon di Penang, Malaysia (gambar 1.1). Pada kawasan ini terdapat bangunan bersejarah Chapel yang dikelilingi oleh Shopping mall, cafe, hotel dan
apartment. Kawasan ini ramai dikunjungi oleh wisatawan maupun masyarakat sekitar, karena memiliki tempat yang cukup luas sehingga orang-orang dapat
berkumpul dan menikmati suasana yang ada dikawasan tersebut. Wisatawan juga
dapat berkeliling disekitar bangunan dengan pemandangan langsung ke laut dan
mall serta pertujukan musik yang dilaksanakan pada malam hari (Tourismpenang, 2014). Hal ini dapat direalisasikan karena pemerintah Malaysia dan pihak swasta
bersama-sama ingin meningkatkan nilai dari bangunan bersejarah di Gurney Paragon yang memiliki potensi dilihat dari berbagai bidang.
Gambar 1.1 Gurney Paragon (Penang, Malaysia) (Sumber: Gurneyparagon.com)
Berdasarkan tema “ Sustainablity Architecture dan Simbiosis” merupakan salah satu potensi untuk meningkatkan minat wisatawan dan masyarakat sekitar
untuk berkunjung ke suatu lokasi dan untuk menikmati bangunan-bangunan yang
mempunyai nilai historis dengan pemanfaatan “Urban Heritage Space for Public” selain untuk pendapatan kota, untuk meningkatkan bangunan yang memiliki nilai
historis di kota Medan serta dapat memberikan ruang terbuka publik di kota
Medan. Menurut perancang, Urban Heritage Space for Public di artikan per-kata yaitu Urban yang memiliki arti kota, Heritage memiliki arti sejarah, Space
memiliki arti ruang, dan Public memiliki arti publik (umum). Pengertian secara keseluruhannya adalah menjadikan bangunan bersejarah sebagai ruang publik di
8
Medan. Jika di elaborasikan antara tema “Sustainablity Architecture dan Simbiosis” dan “Urban heritage Space for Public” adalah bagaimana mempertahankan bangunan bersejarah yang ada sebagai potensi untuk membuat
interaksi antara kedua elemen masyarakat perkotaan dengan linkungannya
menjadi saling menguntungkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan
sejarah serta memberikan suatu ruang untuk terjalinnya aktivitas atau interaksi
sosial antar masyarakat yang ada di kota Medan (Concise Oxford English Dictionary).
Menurut perancang, Seiring dengan perkembangan zaman pembangunan
yang terjadi di wilayah kota Medan kebanyakan kurang memperhatikan
lingkungan, dalam merancang desain bangunan tidak sesuai dengan konteks
lingkungan sekitar. Hal ini justru dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan
di kehidupan perkotaan serta dapat memberikan dampak negatif bagi
manusiannya sendiri. Pada wilayah kota Medan diperlukanya suatu tempat atau
kehadiran ruang terbuka publik di tengah padatnya kehidupan di perkotaan yang
diharapkan dapat menjadi inspirasi dan ruang gerak positif bagi seluruh
masyarakat yang hidup diperkotaan.
Dari pihak pemerintah kota Medan menjadikan bangunan-bangunan
bersejarah yaitu mencakup lingkungan sekitar gedung Nasional Pemuda dan
gedung Olah raga menjadi pelestarian kawasan (Pemkomedan, 2015). Gedung
Nasional Pemuda dan Gedung Olah Raga merupakan bangunan yang memiliki
dan tetap mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Karena kedua bangunan ini berada
di kawasan sejarah bekas pusat kota Medan.
Pada zaman dahulu, Gedung Nasional yang dibangun pada tahun 1950
merupakan bangunan yang dibangun menggunakan hasil patungan donatur dan
sejumlah tokoh masyarakat. Gedung Nasional dibangun oleh SM Amin Nasution
sebagai gubsu pertama kota medan pada tahun 1954 dengan dana swadaya
masyarakat. Gagasan itu sudah ada sejak 1935 dengan luas lahan 5.290 ha.
Gedung ini dulunya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya pemuda-pemuda
yang berjuang pada saat kemerdekaan (Hadinoto, 1996).
Serta menurut Lukman Sinar, 1996, Gedung Olahraga didirikan sekitar
tahun 1960. Nama lain dari gedung ini adalah GOR Veteran karena terletak di
Jalan Veteran. Dari gedung ini banyak lahir olahragawan yang mengharumkan
bangsa. Gedung ini berfungsi sebagai tempat pertandingan olahraga dunia dan
pertunjukan musik. Kedua bangunan ini berada pada kawasan Medan perjuangan
(gambar 1.2) merupakan kawasan bersejarah dimana dulu merupakan pusat kota
medan sebelum dipindahkan ke Merdeka Walk.
10
Penambahan beberapa fasilitas dan bangunan bersejarah sebagai potensi
yang direncanakan pada kawasan pelestarian kota Medan diharapakan dapat
menjadi sebuah ruang terbuka hijau dan ruang gerak aktif bagi masyarakat kota
Medan. Dari segi perkembangan kota yang semakin berkembang penambahan
fasilitas sangat perlu pada lokasi ini. Fasilitas-fasilitas yang direncanakan oleh
perancang yang sesuai dengan lokasi pelestarian kawasan Gedung Nasional dan
Gedung Olahraga adalah bangunan dengan fungsi hotel dan apartemen. Tujuan
dari perencanaan penambahan fasilitas hotel dan apartemen, agar dapat membuat
lokasi semakin bernilai serta dapat mengundang wisatawan dan masyarakat untuk
mengenali nilai-nilai sejarah yang terdapat pada lokasi bekas pusat kota Medan
jaman dahulu.
Perencanaan bangunan bersejarah Gedung Nasional dan Gedung Olahraga
sebagai potensi, perancang merencanakan akan ada ruang publik dengan fungsi
pasar, taman, dan plaza. Gedung pertunjukan akan direncanakan pada Gedung Olahraga serta museum pada Gedung Nasional. Masyarakat dan wisatawan yang
berkunjung ke Kawasan pelestarian ini diharapkan dapat menikmati bangunan
bersejarah Gedung Nasional dan Gedung Olahraga secara keseluruhan dengan
penataan landscape yang baik sesuai dengan tema dan konsep yang telah
direncanakan oleh perancang. Sehingga para pengunjung dapat menikmati dengan
nyaman bangunan-bangunan bersejarah yang ada pada lokasi dan lingkungan
sekitarnya.
Diharapkan dengan penambahan fasilitas berupa hotel, apartement,
gerak positif bagi kehidupan perkotaan yang ada di kota Medan. Sehingga dengan
penambahan fasilitas ini sedikitnya dapat memberikan dampak positif bagi
masyarakat yang hidup pada kepadatan kota Medan dan juga pemanfaatan
bangunan-bangunan bersejarah sebagai salah satu daya tarik bagi pengunjung
yang dapat berhasil sesuai dengan perencanaan perancang.
Pengetahuan perancang tentang kondisi dan potensi lahan yang mendasari
perencanaan perancangan fasilitas pada lokasi. Selajutnya, perancang melakukan
survey ke lokasi yang bertujuan agar perancang lebih dapat merasakan suasana
xvi
ABSTRAK
Perkembangan perkotaan yang pesat di zaman modern dewasa ini, membuat banyaknya bangunan kota menjadi semakin kehilangan identitasnya. Hal ini dikarenakan oleh keegoisan dari setiap bangunan-bangunan pencakar langit yang tidak memiliki keharmonisan pada tapak dan lingkunganya. Suatu kawasan kota perlu memperhatikan warisan sejarah sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya dalam dimensi ruang untuk mencapai kawasan kota yang lebih baik. Bangunan bersejarah merupakan salah satu produk yang menjadikannya sebagai sumber pendapatan untuk menambah devisa melalui kunjungan wisatawan. Pelestarian bangunan bersejarah yang terdapat di kawasan-kawasan yang terdapat di kota Medan merupakan langkah yang sangat tepat untuk dilaksanakan. Kawasan yang padat memungkinkan hunian vertikal sangat diperlukan oleh kota Medan. Dengan penambahan fasilitas Apartemen pada lokasi Royale Heritage
yaitu merupakan kawasan lama pusat kota Medan. Tema yang dipilih oleh perancang adalah Solace Paradise. Dengan penambahan fasilitas apartemen dapat memberikan sebuah hunian nyaman dan tenang seperti sebuah surga di tengah perkotaan yang padat akan aktivitasnya. Serta dapat merevitalisasikan atau membangkitkan kembali kawasan Royale Heritage, dimana terdapat dua bangunan bersejarah yaitu Gedung Nasional dan Gedung Olahraga. Pendekatan perancangan menggunakan arsitektur organik. Perancang menganalogikan bangunan apartemen dengan dua tower sebagai “Pulau”, dimana bentuk kedua
tower dianalogikan sebagai pohon kelapa dan podium apartemen sebagai sebuah pulau dengan tumbuhan hijau. Perancang bertujuan ingin membuat kawasan
Royale heritage semakin lebih bernilai dan mahal. Serta memberikan sebuah ruang publik dan hunian berkelas pada kota Medan.
Kata kunci: Kawasan bersejarah, kota Medan, Solace Paradise, Royale Heritage, Apartemen.
ABSTRACT
The expansion of urban developments nowadays has made a lot of city buildings to lose their true identity. Caused by the ego of each urban skyscraper which has paid no interest in harmony of environment and site. An area of the city needs to consider the legacy of history as an effort to utilize resources in a spatial dimension to achieve a better area of town. The historic building is one source of income to supplement foreign exchange of visits to foreign tourists. Preservation of historic buildings in these areas contained in Medan is a very appropriate step to be implemented. The need for vertical housing is required in Medan city. With the addition of a apartment to the location of Royale Heritage is the old downtown area of Medan city. The selected theme is Solace Paradise. With the addition of apartment can provide a comfortable and quiet dwelling like a paradise in the middle of dense urban activities. Can be revitalized or revive of Royale Heritage. where there are two historic buildings, namely Gedung Nasional and Gedung Olahraga. The completion of this building design uses Organic Architecture. Designer analogizes of apartemen building with two towers is “an island”, mass of the towers analogy “coconut tree” and the platform of apartment analogy “island with the greenery”. Designer is intended to make Royale Heritage increasingly more expensive and valuable. provide a public space and a residential class in Medan city.
SOLACE PARADISE
SKRIPSI
OLEH
YOGA PRADISTYA
110406116
DEPARTEMEN ARSITEKTUR USU
FAKULTAS TEKNIK
SOLACE PARADISE
SKRIPSI
OLEH
YOGA PRADISTYA
110406116
DEPARTEMEN ARSITEKTUR USU
FAKULTAS TEKNIK
SOLACE PARADISE
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur
Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
Oleh
YOGA PRADISTYA
110406116
DEPARTEMEN ARSITEKTUR USU
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PERNYATAAN
SOLACE PARADISE
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 14 Juli 2015
v
Judul Skripsi : SOLACE PARADISE
Nama Mahasiswa : Yoga pradistya Nomor Pokok : 110406116
Departemen : Arsitektur
Tanggal Lulus:
Koordinator Skripsi,
Ir. N Vinky Rahman, MT NIP. 196606221997021001
Ketua Departemen Arsitektur,
Ir. N Vinky Rahman, MT NIP. 196606221997021001 Menyetujui
Dosen Pembimbing,
Telah diuji pada
Tanggal: 14 Juli 2015
Panitia Penguji Skripsi
Ketua Komisi Penguji : Ir. Nurlisa Ginting, M. Sc, Ph.D
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan berkat-nya, akhirnya perancang dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Arsitektur pada Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Pada kesempatan kali ini, perancang ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya penulisan skripsi ini, mereka adalah:
1. Ibu Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, Ph.D., selaku dosen Pembimbing yang telah membantu memberikan petunjuk, motivasi dan pengarahan dalam penulisan skripsi dan telah membimbing dalam proses perancangan mata kuliah Perancangan Arsitektur 6.
2. Ibu Hilma Tamiami F, ST, MSc, Ph.D., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi.
3. Bapak Ir. Bauni Hamid, M.Des, Ph.D., selaku dosen yang telah membantu memberikan pengarahan dalam proses perancangan mata kuliah Perancangan Arsitektur 6.
4. Bapak Ir. Tavip Kurniadi Mustafa, IAI. selaku profesional arsitek yang telah membimbing dalam proses perancangan mata kuliah Perancangan Arsitektur 6.
5. Kedua orang tua saya yang telah memberikan semangat, dorongan dan tetap mencurahkan kasih sayang untuk menyelesaikan studi dan skripsi. 6. Kakak tersayang, Fara Fajrina, SE., untuk semua hal yang telah diberikan
baik moril maupun materil.
7. Nenek tersayang yang telah memberikan kasih sayang dan mendoakan untuk menyelesaikan studi dan skripsi.
8. Keluarga Iriyadi, atas masukan dan dukungan yang telah diberikan.