HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA AWAL

17  21  Download (2)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA AWAL

SKRIPSI

Oleh: Andira Dwi Putri

NIM : 06810183

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji Pada tanggal 5 Februari 2011

Dewan penguji

Ketua penguji : Dra Tri Dayakisni, Msi ( )

Anggota Penguji : 1. Diana Savitri H, S. Psi, M.Psi ( )

2. Dra. Siti Suminarti F, M.si ( )

3. Lindayani P, S.Psi , M.Psi ( )

Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, Puji Syukur kehadirat ALLAH S.W.T yang telah memberikan kemudahan penulis menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Kepercayaan Diri Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja” ini dengan lancar tanpa hambatan dan kesulitan yang berarti. Amin…

Skripsi ini dapat diselesaikan karena adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

1. Drs. Tulus Winarsunu, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dra. Tri Dayakisni M.Si selaku pembimbing 1, yang selalu membimbing dengan sabar dan memberikan semangat penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Diana Savitri Hidayati, S.Psi, M.Psi selaku pembimbing II, yang dengan sabar dan bijak telah memberikan bimbingan, arahan, dan saran-saran yang berharga dan sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.

4. Drs.H. Abdul Madjid, MM, M.pd, selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Candi Sidoarjo atas kesediaan tempat dan bantuannya dalam proses penelitian.

5. Subyek penelitianku siswa siswi SMP Negeri 1 Candi kelas I dan II. Terima kasih kiranya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibunda tersayang, Umiati Rahayu, dan Ayahanda, Subandi. Terimakasih banyak atas dukungan kalian berdua. Terimakasih karena selama ini selalu sabar dan mendoakanku agar dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

7. Mertuaku Baiq Suhaini dan Lalu Muh.Naim. Terima kasih atas doa dan semangat yang tiada henti diberikan selama ini.

8. Suamiku Tercinta. Lalu Saepul Jahar. Terimakasih atas kesabaran, dukungan dan perhatian yang selama ini kamu berikan. Dan Buah Hatiku Lalu Umar Al Faruq. 9. Diah kakakku, terimakasih untuk semangat dan dukungannya selama ini.

(4)

11. Teman-teman seperjuangan, Puspa, Ariks, Sukmi, Wenny, Lastri, Wida, Arumici, Shinta, Siska, Tyar, Nida, Luluk.

12. Semua teman-teman Psikologi kelas D angkatan 2006 dan semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat penulis sebut satu persatu.

Sebagai penutup penulis menyadari bahwa tugas akhir yang sederhana ini masih jauh dari sempurna untuk itu kritikan dan saran sangat penulis harapkan guna kesempurnaan karya sederhana ini. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Malang, 2 Februari 2011 Penulis,

(5)

DAFTAR ISI

1. Pengertian Penyesuaian Diri ... 8

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri ... 9

3. Bentuk-Bentuk Penyesuaian Diri ... 11

4. Ciri-Ciri Penyesuaian Diri ... 11

5. Karakteristik Penyesuaian Diri .. ... 12

B. Kepercayaan Diri ... 13

1. Pengertian Kepercayaan Diri … ... 13

2. Ciri-Ciri Rasa Percaya Diri ... 14

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri ... 16

C. Remaja ... 17

1. Pengertian Remaja . ... 17

2. Ciri-Ciri Remaja Awal . ... 18

3. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja . ... 20

D. Hubungan Kepercayaan Diri Dengan penyesuaian Diri Pada Remaja.. 22

(6)

F. .. Hipotesis Kerja ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A. Rancangan Penelitian ... 26

B. Variabel Penelitian ... 26

1. Identifikasi Variabel Penelitian ... 26

2. Definisi Opersional ... 27

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 27

D. Jenis Data ... 28

E. Instrumen Penelitian ... 29

F. Prosedur Penelitian ... 32

G. Validitas dan Reliabilitas Alat ukur ... 33

A. Uji Validitas ... 33

B. Reliabilitas ... 36

H. Metode Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Deskripsi data ... 38

B. Analisa data ... 39

C. Pembahasan ... 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 44

A. Kesimpulan ... 44

B. Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Petunjuk Pengisian Skala ... 50

Lampiran 2. Skala I ... 51

Lampiran 3. Skala II ... 53

Lampiran 4. Data Tryout Skala Kepercayaan Diri ... 55

Lampiran 5. Data Tryout Skala Penyesuaian Diri ... 59

Lampiran 6. Uji Reliabilitas dan Validitas Indikator Kepercayaan Diri ... 73

Lampiran 7. Uji Reliabilitas dan Validitas Keseluruhan Kepercayaan Diri ... 79

Lampiran 8. Uji Reliabilitas dan Validitas Indikator Penyesuaian Diri ... 80

Lampiran 9. Uji Reliabilitas dan Validitas Keseluruhan Kepercayaan Diri ... 89

Lampiran 10. Hasil Validiitas Variabel X dan Variabel Y ... 91

Lampiran 11. Correlation ... 92

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Afiatin, T. dan Andayani B. 1996. Konsep diri, harga diri dan kepercayaaan diri remaja. Jurnal Psikologi. No.2, 23-30

Afiatin. T dan Martaniah, M. 1998. Meningkatkan kepercayaan diri remaja melalui konseling kelompok. Psikologika, No.6/Th III

Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Azwar, S. 2004. Metode penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

, S. 2006. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Bungin, B. 2008. Metodologi penelitian kuantitatif : komunikasi, ekonomi, dan kebijakan publik serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Jakarta : Kencana

Fahmi, M. 1977. Kesehatan jiwa : dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, jilid I. Jakarta : Bulan Bintang

, M. 1982. Penyesuaian diri pengertian dan peranannya dalam kesehatan mental. Jakarta: Bulan Bintang

Fatimah, E. 2006. Psikologi perkembangan : perkembangan peserta didik. Bandung : Pustaka Setia

Gerungan. 2002. Psikologi sosial. Bandung: PT. Refika Aditama

Gunarsa, S. D. 1995. Psikologi perkembangan. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia

, S. D. 2004. Psikologi praktis: anak, ramaja dan keluarga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia

(9)

Hakim, T. 2002. Mengatasi rasa tidak percaya diri. Jakarta: Puspaswara

Hurlock, E. B. 2002. Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga

, E. B. 1974. Personality development. New Delhi: Mc Graw Hill Publishing Company YLTP

, E. B. 1978. Adolescent development. New York: Graw Hill Int.

Kerlinger, F. N. 1996. Asas-asas penelitian behavioral. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Mu’tadin, Z. 2002. Penyesuaian diri remaja. Jakarta: Team e-psikologi. (Online). URL : http://www.e-psikologi.com/social/120910.htm

Poerwanti, E. 1998. Dimensi-dimensi riset ilmiah. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang

Santrock, John. W. 2003. Adolescence : Perkembangan remaja. Jakarta : Erlangga

Sujanto, A. 2001. Psikologi kepribadian. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Surachmad, W. 1980. Perkembangan pribadi dan kesehatan mental. Bandung: Jemmars

. 1980. Psikologi pemuda. Bandung: Jemmars

Walgito, B. 1983. Psikologi sosial: suatu pengantar. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta

Winarsunu, T. 2006. Statistik dalam penelitian psikologidan pendidikan. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang Press

Willis, S. S. 2008. Remaja dan masalahnya. Mengupas berbagai bentuk kenakalan remaja seperti narkoba, free sex dan pemecahannya. Bandung: Alfabeta

(10)
(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja awal sering disebut sebagai masa peralihan. Karena pada saat

ini individu sedang mengalami peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada

masa ini mereka tidak sepenuhnya seorang anak-anak. Namun mereka belum

sepenuhnya dewasa. Bila anak memasuki masa remaja, mereka tidak menyadari

bahwa suatu tahap perkembangan baru telah dimasukinya. Perubahan yang paling

menonjol dan diamati adalah perubahan fisiknya. Anak yang telah menginjak masa

remaja biasanya kurang menyadari perkembangan fisik yang dialaminya (Hurlock,

2002)

Sebagai suatu peralihan, masa remaja awalpun ditandai dengan ketidak-

seimbangan emosi serta gejolak-gejolak yang dapat menimbulkan keresahan baik

bagi remaja awal sendiri ataupun pada lingkungan keluarga, sekolah, maupun

masyarakat. Perubahan ini dapat diamati dalam berbagai cara, bentuk atau jenis yang

semuanya menunjukkan adanya perbedaan yang satu dengan yang lain, yaitu

perubahan minat, nilai-nilai, pola perilaku dan perubahan sosial (Hurlock, 2002)

Remaja sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya berkelompok

diharapkan dapat berinteraksi dengan yang lain agar dapat dikatakan sebagai

individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sesuai dengan tahap

perkembangan dan usianya. Maka mereka akan cenderung menjadi remaja yang

mudah bergaul, lebih hangat, dan terbuka dengan orang lain dalam situasi dan

kondisi apapun. Dimana dengan tahap perkembangan remaja akan cenderung

menjadi remaja yang mudah bergaul dengan memiliki rasa percaya diri dan sikap

terbuka dalam kehidupannya.

Dalam upaya mencapai keberhasilan dalam interaksi dengan orang lain dan

lingkungannya, manusia diharapkan dapat mengerti dan memahami orang lain. Oleh

karena itu, seringkali seorang individu dihadapkan pada keharusan untuk mengubah

dan menyesuaikan diri terhadap orang lain, agar dirinya dapat diterima baik oleh

(12)

2

merupakan interaksi individu yang secara terus-menerus dengan dirinya, orang lain,

dan dengan dunianya.

Menurut Atwater (1983) penyesuaian diri adalah suatu perubahan yang

dialami seseorang untuk mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang

lain dan lingkungan di sekitarnya. Karakteristik penyesuaian diri yang baik yang

harus dimiliki oleh seseorang, menurut Haber dan Runyon (1984) adalah memiliki

persepsi yang akurat terhadap realitas atau kenyataan, mampu mengatasi atau

menangani tekanan atau kecemasan, memiliki citra diri yang positif, mampu untuk

mengekspresikan perasaan, dan memiliki hubungan interpersonal yang baik.

Pada dasarnya dalam penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu

penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Penyesuaian pribadi adalah kemampuan

individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis

antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya

sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai

dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak

adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggung jawab, dongkol, kecewa, atau tidak

percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya

kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas,

rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Sedangkan penyesuaian sosial

adalah keberhasilan seseorang untuk menyesuaiakan diri terhadap orang lain pada

umumnya dan terhadap kelompoknya pada khususnya ( Mu’tadin, 2002)

Penyesuaian diri dimana di dalamnya terdapat penyesuaian pribadi dan

penyesuaian sosial besar pengaruhnya bagi pembentukan manusia menjadi matang

atau dewasa. Pertentangan-pertentangan yang terjadi antara seorang remaja pada satu

pihak dengan teman-teman sekelompoknya pada pihak lain, umumnya tidaklah

terlalu kuat jika dibandingkan dengan pertentangan antara remaja dengan orang tua.

Penyesuian diri remaja dalam kelompok teman sebaya umumnya terjadi dalam

kelompok besar yang heterogen: minat, sikap dan sifat, usia dan jenis kelamin yang

berbeda. Dalam kelompok besar semacam itu, remaja menyesuaikan diri dengan cara

lebih banyak mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok.

Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah karena remaja itu sendiri merasa

(13)

3

yang menyangkut kelompok yang terjadi menyangkut hal yang sangat prinsip bagi

seorang remaja, maka seorang remaja akan mencari bentuk lain. Penyesuaian diri

yang dijalani pertama adalah dengan usaha mempengaruhi teman-teman bergaul

mereka. Jika usaha ini mengalami kegagalan remaja yang bersangkutan dipaksa

untuk menerima kenyataan bahwa diantara dirinya dengan beberapa anggota terdapat

beberapa perbedaan yang tidak dapat dipadukan.

Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja,

ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali

mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian

diri atau ganguan perilaku (Fuhrmann, 1990)

Menurut Fahmi (1977) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi

penyesuaian diri seseorang yaitu penyesuaian kebutuhan pokok dan kebutuhan

pribadi, kebebasan-kebebasan dan keterampilan yang dapat membantunya dalam

pemenuhan kebutuhan yang mendesak, pengenalan diri, penerimaan diri, kelincahan

dan penyesuauian dan persesuaian.

Seseorang yang memiliki penerimaan diri yang baik akan mendorong

seseorang untuk bekerja dan menyesuaiakan diri dengan anggota masyarakat dan

akan membawanya kepada sukses, yang sesuai dengan kemampuannya, tanpa

berusaha bekerja dibidang yang tidak mungkin ia mencapai kesuksesan karena

kemampuannya tidak mengizinkan (Fahmi, 1977).

Selain itu dalam penyesuaian diri terdapat salah satu faktor lain yang

mempengaruhi yaitu pengenalan diri. Sesungguhnya pengenalan orang akan dirinya

merupakan salah satu syarat pokok dalam penyesuaian diri yang baik (Fahmi, 1977).

Penilaian terhadap diri harus didasarkan atas pengenalan yang objektif dan jujur

terhadap diri. Orang yang jujur terhadap dirinya, tidak akan sampai menjadi angkuh

yang palsu dan tidak pula menyimpang kepada rendah diri yang tidak benar.

Dari uraian di atas, peneliti berpendapat remaja yang memiliki penerimaan

diri dan pengenalan diri yang baik terhadap dirinya akan menerima segala kelebihan

maupun kekurangan yang ada dalam dirinya. Dua hal tersebut apabila dimiliki oleh

(14)

4

terhadap dirinya dan menentukan seberapa tinggi harga dirinya sehingga akan

memunculkan kepercayaan diri pada remaja.

Pfeiffer ( dalam Hurlock, 2002 ) mengatakan bahwa pada masa remaja akan

muncul keprihatinan perubahan fisiknya. Dia mengatakan bahwa hanya sedikit

remaja yang mengalami karteksis atau merasa puas dengan bentuk tubuhnya.

Ketidakpuasan hanya dialami beberapa bagian tubuh tertentu dan hal ini kebayakan

dialami oleh remaja yang memiliki kurang rasa percaya diri. Kegagalan mengalami

karteksis tubuh menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik

dan kurang harga diri dan percaya diri selama masa remaja. Sesuai dengan yang telah

dilakukan sejumlah peneliti (dalam Santrock, 2003) yang telah menemukan bahwa

penampilan fisik merupakan suatu kontribusi yang sangat berpengaruh pada rasa

percaya diri.

Menurut Afiatin dan Martaniah (1998) kepercayaan diri merupakan aspek

kepribadian manusia yang berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang

dimilikinya. Afiatin dan Martaniah, mengambarkan bahwa orang yang mempunyai

kepercayaan diri ciri-cirinya: individu merasa yakin terhadap tindakan yang

dilakukan, individu merasa diterima oleh kelompoknya, dan individu percaya sekali

terhadap dirinya serta memiliki ketenangan sikap. Individu yang memiliki rasa

percaya diri dalam lingkungan sosial selalu bersifat terbuka, terus-terang, berani

mengambil tantangan dan berani menjelaskan ide -ide ataupun pilihan-pilihannya.

Rasa percaya diri dapat berkembang baik sesuai porsinya jika remaja dapat

melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik, dimana tugas

perkembangan masa remaja diantaranya yaitu mencapai hubungan yang lebih matang

dengan teman sebaya dan menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara

efektif. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya

pengaruh kelompok teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan

sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai dalam

dukungan dan penolakan sosial (Afiatin dan Martaniah, 1998 ).

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, biasanya tingkat percaya diri

seseorang mempunyai peranan yang besar dalam menentukan tingkat keberhasilan

seseorang menjalani kehidupannya secara keseluruhan. Orang dengan percaya diri

(15)

5

dihadapinya dengan memanfaatkan kemampuannya yang ada secara optimal

daripada orang yang percaya dirinya rendah (http://www.siutao.com).

Berkaitan dengan kepercayaan diri, terdapat faktor penentu dalam pribadi

seseorang untuk membentuk percaya diri diantaranya pemahaman seseorang

terhadap kelebihan yang dimiliki dan melahirkan keyakinan diri yang kuat dan

memanfaatkan kelebihannya serta pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap

kelemahan yang dimiliki agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau sulit untuk

menyesuaikan diri. (Durbin, 1997).

Menurut Gunarsa (1987) terdapat beberapa hal yang mempengaruhi

penyesuaian diri yaitu sikap yang pemalu, pendiam, tidak banyak bicara, sukar

mengemukakan pendapat, persepsi terhadap kebutuhan.

Menurut pendapat peneliti dari uraian di atas, sukar mengemukakan

pendapat dan sikap yang pemalu merupakan ciri dari individu yang kurang percaya

diri. Dengan demikian kepercayaan diri memiliki hubungan dalam diri individu

dalam melakukan penyesuaian diri. Dapat dikatakan pula kepercaayaan diri menjadi

faktor pendukung atau pembangun individu untuk melakukan penyesuaian diri

dengan baik. Dan ada kalanya dengan kepercayaan diri dapat membangun

penyesuaian diri pada remaja.

Berikut terdapat beberapa hasil penelitian terdahulu mengenai penyesuaian

diri diantaranya adalah penelitian Amalia dan Rachmawati menunjukkan adanya

hubungan positif yang sangat signifikan antara body image dengan penyesuaian diri

sosial pada remaja. Hubungan antara kedua variabel ini menunjukkan bahwa

semakin tinggi body image seseorang maka akan semakin tinggi pula penyesuaian

diri sosialnya dan sebaliknya semaki rendah body image seseorang maka akan

semakin rendah pula penyesuaian diri sosialnya.

Penelitian Tufaha menjelaskan hasil penelitian secara keseluruhan bahwa

tidak terdapat hubungan yang positif antara variabel obesitas dan harga diri. Dan

memperlihatkan terdapat hubungan positif antara varibel harga diri dengan

penyesuaian diri remaja putri di Pondok Pesantren Persis Bangil. Juga

memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif antara varibel obesitas dengan

(16)

6

Penelitian Widianti menyatakan terdapat hubungan positif antara konsep

diri dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Darul Hadlonah Rembang. Dan

penelitian Novikarisma menyatakan adanya arah hubungan yang positif yaitu semakin

tinggi keyakinan diri akademik maka penyesuaian diri siswa tahun pertama sekolah asrama SMA Pangudi Luhur van Lith Muntilan akan semakin baik, sebaliknya semakin rendah keyakinan diri akademik maka penyesuaian diri akan semakin buruk.

Dari beberapa hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas dapat

disimpulkan bahwa penyesuaian diri memiliki hubungan dengan body image,

obesitas, harga diri, konsep diri, dan keyakinan diri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti berasumsi bahwa remaja dimana dalam kehidupan sehari-hari dituntut untuk dapat melakukan penyesuaian diri yang baik dalam berinteraksi dengan lingkungannya dibutuhkan kepercayaan diri. Karena rasa percaya diri adalah satu diantara aspek-aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan

adanya kepercayaan diri dalam diri remaja dapat dijadikan faktor pendukung remaja

dalam melakukan penyesuaian diri yang baik.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul:

“Hubungan Antara Kepercayaan DiriDengan Penyesuaian diri Pada Remaja”.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan diatas tersebut, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan

yaitu “Apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian diri pada

remaja?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

kepercayaan diri dengan penyesuaian diri pada remaja.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi jawaban mengenai adanya

hubungan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian diri pada remaja, sehingga

(17)

7

1. Manfaat Teoritis

Sebagai sarana untuk mengaplikasikan teori-teori dalam psikologi,

khususnya psikologi sosial dalam menjelaskan fenomena psikologis yaitu hubungan

kepercayaan diri dengan penyesuaian diri pada remaja.

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis yang dapat diharapkan dari penelitian ini adalah

dapat dipergunakan oleh remaja dalam penyesuaian dirinya di sekolah ataupun di

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...