SUMBANGAN LARI 30 METER DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

130  106  Download (13)

Full text

(1)

SUMBANGAN LARI 30 METER DAN DAYA LEDAK OTOT

TUNGKAI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH

GAYA JONGKOK

SKRIPSI

diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata I

untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Hadi Purwanto

6301911015

PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

(2)

ii ABSTRAK

Hadi Purwanto. 2013. Sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Skripsi. Jurusan PKLO. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Kumbul Slamet Budiyanto, S.Pd, M.Kes. Suratman, S.Pd, M.Pd

Kata Kunci : Lari daya ledak lompat jauh

Latar belakang masalah. Siswa SDN 2 Pendem belum berprestasi tinggi dalam lompat jauh. Alasan pemilihan judul karena lompat jauh unik gerakannya, menarik untuk dikaji, dipertandingkan saat POPDA, OOSN, PON, Sea Games, Asian Games, Olimpiade dan belum ada penelitian serupa di SDN 2 Pendem tahun 2013.

Rumusan masalah 1. Apakah ada dan seberapa besar sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok? 2. Apakah ada dan seberapa besar sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok? 3. Apakah ada dan seberapa besar sumbangan lari30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode survei tes, populasi siswa putra kelas V SDN 2 Pendem berjumlah 16, teknik totalsampling. Jumlah sampel 16 siswa. Variabel bebas lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai, variabel terikat lompat jauh gaya jongkok.

Hasil analisis data, ada sumbangan yang signifikan sebesar 78,70 % lari 30 meter,58,60 % daya ledak otot tungkai, 85,30 % lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

(3)
(4)
(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

OTTOM

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan

orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajad " (Al-Mujadalah :11)

PERSEMBAHAN :

Untuk ibuku Taslamah, bapakku Khamdiri, ibu mertuaku Mas’amah, istriku Uswatun Nasiroh,

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.

Keberhasilan penulis dalam menyusun skripsi ini atas bantuan dan

dorongan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan

penulis menjadi mahasiswa UNNES.

2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah

memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan

skripsi.

3. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah

memberikan dorongan dan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

4. Kumbul Slamet Budiyanto, S.Pd, M.Kes selaku dosen Pembimbing Utama

yang telah sabar dan teliti dalam memberikan petunjuk dan membimbing

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.

5. Suratman, S.Pd. M.Pd selaku dosen pembimbing pendamping yang telah

sabar dan teliti dalam memberikan petunjuk, dorongan dan semangat

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

6. Bapak dan Ibu dosen Jurusan PKLO FIK UNNES yang telah memberikan

bekal ilmu dan pengetahuan kepada penulis hingga dapat menyelesaikan

(7)

vii penelitian.

8. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan dorongan dan selalu setia menjadi motivator abadi bagi penulis sehingga dapat terselesaikannya penulisan skripsi ini.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penelitian untuk penulisan skripsi. Atas segala bantuan dan pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis, penulis mendoakan semoga amal dari setiap tetes keringat yang saudara teteskan mendapat Ridho dan berkah yang melimpah dari Allah SWT.

Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya..

Semarang, Agustus 2013

(8)

viii

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori dan Kerangka Berfikir ... 7

2.1.1 Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 7

2.1.2 Faktor Fisik Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 15

2.1.3 Kerangka Berfikir ... 19

2.2 Hipotesis ... 20

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 22

3.2 Variabel Penelitian ... 23

3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 24

3.4 Instrumen Penelitian ... 25

3.5 Prosedur Penelitian ... 32

3.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penelitian ... 33

3.7 Teknik Analisis Data ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 39

(9)

ix Tabel

3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Lari 30 meter……….. 30

3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Daya Ledak Otot Tungkai………. 30

3.3 Hasil Uji Validitas Lompat Jauh Gaya Jongkok ... . 31

3.4 Hasil Uji Reliabilitas Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 32

4.1 Hasil Data Kasar Lari 30 Meter ... 39

4.2 Hasil Data Kasar Daya Ledak Otot Tungkai ... 40

4.3 Hasil Data Kasar Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 41

4.4 Hasil Tabulasi Skor Kasar Menjadi Skor T ... 42

4.5 Hasil Perhitungan Data Statistik Deskriptif Berdasar Skor T ... 43

4.6 Hasil Perhitungan Uji Normalitas ... 44

4.7 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas ... 44

4.8 Hasil Perhitungan Uji Linieritas Garis Regresi ... 45

4.9 Hasil Perhitungan Uji Keberartian Model Garis Regresi ... 46

4.10 Hasil Perhitungan Analisis Korelasi ... 46

(10)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar

2.1 Fase Lari Awalan ... 10

2.2 Fase Bertolak/ Bertumpu... 12

2.3 Fase Melayang Gaya Jongkok ... 13

2.4 Fase Mendarat ... 15

3.1 Desain Penelitian ... 23

3.2 Lari 30 Meter. ... 26

3.3 Daya Ledak Otot Tungkai ... 27

3.4 Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 29

(11)

xi Lampiran

1. Salinan Surat Keputusan Ketua Jurusan Mengenai Usulan Dosen

Pembimbing Skripsi ... 57

2. Salinan Surat Keputusan Dekan Mengenai Penetapan Pembimbing Skripsi ... 58

3. Salinan Surat Ijin Penelitian ... 59

4. Rekomendasi Penelitian ... 60

5. Daftar Petugas Pembantu Pelaksanaan Penelitian ... 61

6. Instrumen Penelitian ... 62

7. Uji coba Instrumen ... 67

8. Daftar Sampel Dan Hasil Penelitian Skor Kasar ... 80

9. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Skor Kasar ... 83

10. Tabulasi Skor Kasar Menjadi T-Skor ... 84

11. Hasil Pengolahan Data Penelitian ... 85

12. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ……… 97

13. Sertifikat Kalibrasi ... 98

(12)
(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Nomor lompat dalam atletik terdiri dari lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit dan lompat tinggi galah. Dari jenis-jenis lompat tersebut, lompat jauh mempunyai gerakan yang sangat indah, menarik untuk selalu diamati dan menarik untuk dikaji. Lompat jauh dipertandingkan dalam Popda, Pon, Sea Games, Asian Games, dan Olimpiade. Pelaksanaan lompat jauh harus mempertimbangkan empat fase gerakan yaitu awalan, tolakan, melayang di udara dan pendaratan.

Untuk mencapai prestasi tinggi dikembangkan berbagai gaya lompat jauh. Gaya lompat jauh dilihat saat melayang di udara. Menurut IAAF (2000:90-92) ada beberapa macam gaya lompat jauh, diantaranya : 1) gaya jongkok, 2) gaya menggantung (hang style/ sneeper), 3) gaya berjalan di udara (walking in the air). Kemajuan teknologi dimungkinkan gaya lompat jauh semakin berkembang. Saat ini yang paling digemari pelompat top dunia menggunakan gaya berjalan di udara. Agar bisa melakukan lompat jauh gaya berjalan di udara dengan baik sebaiknya menguasai lompat jauh gaya jongkok terlebih dahulu.

Lompat jauh gaya jongkok merupakan gaya paling mudah dilakukan dan sebagai dasar agar bisa menguasai gaya yang lain. Karena itu gaya jongkok sangat cocok diberikan untuk anak-anak. Awalan lari sekencang mungkin, melakukan tolakan dengan kuat, melayang di udara dengan sikap seperti orang jongkok dan mendarat menggunakan dua kaki secara bersamaan.

(14)

2

Faktor fisik pendukung lompat jauh gaya jongkok diantaranya adalah lari 30 meter dan daya ledak. Melakukan lompat jauh gaya jongkok didahului dengan berlari yang sangat cepat. Berlari yang sangat cepat sangat membutuhkan kemampuan lari 30 meter. Lari 30 meter inti dari kecepatan lari. Bertumpu atau melakukan tolakan membutuhkan daya ledak otot tungkai yang baik. Daya ledak otot tungkai yang baik berpengaruh pada tingginya lompatan yang akhirnya berpengaruh pada jauhnya lompatan.

(15)

secara optimal jika unsur-unsur penunjangnya seperti kecepatan dan kekuatan ditumbuhkembangkan dengan baik. Upaya peningkatan daya ledak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kontraksi otot, kecepatan gerak dalam mengatasi hambatan, koordinasi kekuatan berbagai macam otot dan panjang pengungkit (Guyton, AC, 1991 : 72). Berorientasi pada komponen daya ledak sebagai salah satu komponen yang sangat diperlukan pada pelaksanaan lompat, Berger (dalam Waluyo, 1994 : 3) mengatakan bahwa untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan dan daya ledak dapat dicapai melalui latihan-latihan sehingga yang dilatih akan meningkatkan kemampuannya. Latihan daya ledak dititikberatkan pada sekelompok otot yang digunakan untuk bekerja. Latihan daya ledak dapat dilakukan secara efektif dan efesien jika pelaksanaan latihan menyerupai dengan bentuk-bentuk gerak olahraga yang ditekuni. Hal ini dimaksudkan agar atlet yang menjalani latihan dapat menerima rangsangan dari luar sesuai dengan kesiapan yang dimiliki, terutama atlet yang masih muda usia dan muda pengalaman. Pemberian materi latihan yang disesuaikan dengan kesiapan diri atlet, akan meningkatkan dan memantapkan keterampilan atau kemampuan atlet yang bersangkutan. Daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk mengatasi sesuatu hambatan dengan kecepatan kontraksi yang tinggi (Harre, 1982 : 16). Daya ledak adalah kemampuan sebuah otot atau sekolompok otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kekuatan dan kecepatan tinggi dalam satu gerak yang utuh (Suharno HP, 1984 : 11). Dalam penelitian ini daya ledak yang dimaksud adalah daya ledak otot tungkai.

(16)

4

melaksanakan latihan fisik secara rutin. Namun belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi lompat jauh. Berorientasi pada teori pada paragraf 1 sampai 6 dan fenomena, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul : Sumbangan Lari 30 Meter Dan Daya Ledak Otot Tungkai Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok.

Alasan pemilihan judul 1. Lompat jauh sangat unik gerakannya dan menarik untuk dikaji. 2. Lompat jauh dipertandingkan saat POPDA, POPNAS, OOSN, PORKAB, PORPROV, PON, Sea Games, Asian Games, Olimpiade, KEJURKAB ATLETIK, KEJURPROV ATLETIK, dan KEJURNAS ATLETIK 3. Lari 30 meter unsur terpenting kecepatan berpengaruh pada prestasi lompat jauh. 4. Daya ledak otot tungkai sangat berpengaruh pada prestasi lompat jauh 5. Belum ada penelitian serupa di SDN 2 Pendem tahun 2013.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

(17)

jauh gaya jongkok. Sumbangan faktor mental terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

1.3 PEMBATASAN MASALAH

Berdasarkan kajian pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : apakah ada dan seberapa besar sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok ?

1.4 RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.4.1 Apakah ada dan seberapa besar sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok?

1.4.2 Apakah ada dan seberapa besar sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok?

1.4.3 Apakah ada dan seberapa besar sumbangan lari30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok?

1.5 TUJUAN PENELITIAN

Berkaitan dengan hasil penelitian yang akan dicapai, maka tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk :

(18)

6

1.5.2 Untuk mengetahui ada dan besarnya sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

1.5.3 Untuk mengetahui ada dan besarnya sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

1.6 MANFAAT PENELITIAN

1.5.4 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberi sumbangan positif kepada kemajuan lompat jauh gaya jongkok di Jepara.

1.5.5 Manfaat Praktis

(19)

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

2.1 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

2.1.1 Lompat Jauh Gaya Jongkok

Lompat jauh termasuk nomor cabang olahraga atletik, yang secara teknis maupun pelaksanaan berbeda dengan nomor lompat yang lain seperti lompat tinggi, lompat jangkit dan lompat tinggi galah. Pelaksanaan lompat jauh, seorang pelompat akan berusaha melompat dengan bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya untuk mendarat di bak lompat sejauh-jauhnya tanpa menyalahi aturan yang berlaku. Lompatan merupakan bagian penting dalam gerak manusia. Melompat merupakan salah satu bagian dari olahraga atletik, yang selalu diperlombakan dalam kejuaraan baik tingkat nasional, regional maupun internasional. Yusuf Adi Sasmita (1992 : 64) menyatakan lompat jauh adalah bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya untuk mendarat di bak lompat sejauh-jauhnya.

Ballesteros (1979 : 54) menyatakan bahwa lompat jauh adalah hasil dari kecepatan horizontal yang dibuat sewaktu dari awalan dengan daya vertical yang dihasilkan dari kaki tolak. Hasil (Resultante) dari kedua gaya tersebut menentukan gerak parabola dari pusat gravitasi. Kecepatan lari awalan dan besarnya sudut tolakan merupakan komponen yang menentukan jarak lompatan. Jonath dkk dalam Ade Mardiana, Purwadi dan Wira Indra Satya (2009:2.59) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa dua pertiga hasil lompat jauh bergantung pada ancang-ancang/awalan dan hanya sepertiga bergantung pada

(20)

8

tenaga lompat. Kemudian dikatakannnya bahwa pelompat jauh yang baik harus secepat pelari, mempunyai daya sprint pelompat tinggi dan irama pelari gawang.

Setelah pelompat menolak pada balok tumpu, maka melayanglah pelompat tersebut. Pada saat melayang, badan pelompat dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan yang disebut “Daya tarik bertitik tangkap pada suatu titik yang

dinamakan dengan titik berat badan (Yusuf Adisasmita, 1992 : 65)”. Titik berat

badan letaknya kira-kira pada pinggang sedikit di bawah pusar. Berkaitan dengan tolakan, semakin kuat seorang pelompat menoloak atau semakin tinggi hasil tolakan, akan membawa titik berat badan semakin lama di udara, sehingga hasil lompatan akan semakin jauh.

Lintasan gerak titik berat badan pada waktu melayang di udara tidak dapat berubah. Hal ini sama dengan benda yang dilemparkan, akan melambung menurut garis tertentu dan jatuh sesuai dengan kekuatan lemparannya. Lintasan tersebut disebut dengan lintasan parabola, yang tidak dapat diubah bila tidak ada kekuatan lain yang mempengaruhinya dari luar.

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama di udara yang dilakukan dengan kecepatan dengan satu kaki yaitu untuk untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Lompat jauh mempunyai unsur-unsur yang sangat penting yaitu : a) kecepatan horizontal (kecepatan dari awalan), b) kecepatan vertical (kecepatan saat bertolak), c) lintasan perjalanan titik pusat grafitasi, d) tahap melayang (PB PASI, 1993 : 22).

(21)

Teknik-teknik dalam lompat jauh adalah : 1) awalan (approach run), 2) tolak (take off), 3) sikap badan di udara (action on the air), dan 4)sikap mendarat (landing) (Hay, 1978 : 412). Yusuf Adisasmita (1992 : 64) menyatakan bahwa lompat jauh terdiri dari unsur-unsur awalan, tumpuan, melayang, dan mendarat. Keempat unsur ini merupakan satu kesatuan yaitu urutan gerakan lompay yang tidak terputus. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hasil lompatan itu dipengaruhi oleh kecepatan lari awalan, kekuatan kaki tumpu, dan koordinasi waktu melayang di udara dan mendarat di bak lompat.

Pelaksanaan teknik tersebut tidak dapat dipisahkan antar satu dengan yang lainnya. Karena gerakan tersebut merupakan gerakan yang berurutan dari gerakan awal ke gerakan berikunya, atau dari awalan dilanjutkan menolak, melayang dan mendarat (Tamsir Riyadi, 1985 : 95)

2.1.1.1 Awalan (ancang-ancang)

Awalan atau ancang-ancang dalam lompat jauh merupakan suatu bentuk gerakan atau hal yang sangat prinsip, berupa gerak lari cepat. Ballesteros (1979 : 57) menyatakan bahwa lari awalan dilakukan dengan sangat cepat jarak kurang dari 40 meter. Pada pelaksanaan lari awalan hampir tidak ada perbedaan cara dan sikap lari pada langkah-langkah lari awalan lompat jauh.

(22)

10

Berkaitan dengan awalan dalam lompat jauh, Tamsir Riyadi (1985 : 95) menyatakan beberapa cara yang perlu dicermati dalam melakukan awalan dalam lompat jauh yaitu : 1) jarak awalan tergantung pada kemampuan masing-masing atlet, 2) posisi permulaan saat berdiri pada titik awalan dapat seperti nomor lompat yang lain (salah satu kaki di depan atau sejajar). Hal ini tergantung pada keseimbangan masing-masing pelompat, cara mengambil awalan dari lari pelan semakin dipercepat (sprint), 3) setelah mencapai kecepatan maksimal, maka kira-kira 3-4 langkah terakhir sebelum bertumpu gerakan lari dilepas begitu saja tanpa mengurangi kecepatan yang telah dicapai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar 1 berikut ini :

Gambar 2.1 Fase saat melakukan lari awalan/ ancang-ancang Sumber : IAAF,(2000:88)

2.1.1.2 Tolakan atau tumpuan (take off)

(23)

bertumpu. Pada sat tersebut, pelompat berpindah keadaan dari lari ke melayang. Agar dapat melayang lebih jauh dan lebih tinggi, selain disebabkan dari kecepatan dari awalan, juga diperlukan tambahan tenaga dari kekuatan kaki tumpu yaitu daya lompat dari tungkai dan kaki yang disetai dengan ayunan lengan dan tungkai ayun.

Ketepatan seseorang pelompat jauh yang melakukan tolakan atau tumpuan memegang peran penting dalam keberhasilan lompatan. Tolakan atau tumpuan yang salah (fault) akan dinyatakan gagal atau diskualifikasi. Adapun maksud dari kesalahan tersebut adalah kaki yang digunakan untuk menumpu melewati atau menyentuh tanah yang tedekat dengan bak pasir atau melebihi papan tolak.

Berkaitan dengan tolakan atau tumpuan dalam melaksanakan lompat jauh (Tamsir Riyadi, 1986: 96) menjelaskan beberapa cara pelaksanaan tolakan yang bebar yaitu : a) tolakan dilakukan dengan kaki yang kuat, b) sesaat akan betumpu sikap badan agak condong ke belakang (jangan berlebihan), hal ini sangat membantu timbulnya lambungan yang lebih baik yaitu sekitar 30˚, c)

bertumpu sebaiknya tepat pada balok tumpu, ujung kaki tidak melewati atau menginjak tepi balok yang terdekat dengan bak pasir, dan d) saat bertumpu kedua lengan ikut diayunkan ke depan atas.

(24)

12

Titik berat badan terletak di atas kaki tumpu, lompatan yang dihasilkan akan ke atas saja, sedangkan yang dibutuhkan adalah lompatan ke atas tinggi ke depan. Sebaliknya jika langkah terakhir terlalu pendek, akan berakibat lompatan yang rata karena pelompat terlalu cepat melampaui tungkai tumpuannya, sehingga pelompat seolah-olah tidak naik dari tanah ataupun melayang. Pelaksanaan lompat jauh memerlukan ketinggian lompatan. Kesalahan yang banyak terjadi adalah para pelompat tidak memperoleh ketinggian pada lompatannya sehingga jatuhnya relatif pendek.

Pelaksanaan tolakan agar memperoleh hasil yang baik tanpa mengorbankan kecepatan awalan dilakukan dengan cara sudut badan saat bertumpu atau menolak tidak condong ke depan seperti pada lari sprint, tetapi juga tidak terlalu tengadah seperti pada lompat tinggi. Berat badan sedikit di depan titik tumpu. Gerak atau ayunan lengan dilakukan untuk membantu agar ketinggian hasil tolakan bertambah tinggi sehingga badan seolah-olah melayang di udara, dan pandangan mata yang naik berfungsi sebagai kemudi. Hal-hal tersebut dilakukan pada prinsipnya adalah untuk mendapatkan hasil tolakan yang relatif tinggi dan jatuhan atau pendaratan yang jauh.

(25)

2.1.1.3 Melayang di udara (walking in the air)

Melayang di udara pada nomor lompat jauh diperoleh setelah pelaksanaan tolakan. Naiknya badan setelah melakukan tolakan tersebut (melayang), sering kali dilalaikan oleh para pelompat, karena pelompat sering tidak memberi waktu lagi untuk memperoleh tenaga lompatan. Hal ini terjadi karena otot tungkai tumpu tergesa-gesa digerakkan untuk mempersiapkan pendaratan dengan tidak meluruskan kaki tumpu dengan benar.

Pelurusan kaki tumpu dengan cepat dimaksudkan untuk memperoleh ketinggian saat melayang. Pada waktu naik (melayang) badan harus dalam keadaan rileks atau santai (tidak kaku) dan melakukan gerakan menjaga keseimbangan untuk memberikan pendaratan yang lebih sempurna.

Gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang) dalam lompat jauh bisa disebut gaya lompatan, adapun cara atau gaya yang lazim digunakan pada pelaksanaan lompat jauh yaitu : a) gaya jongkok, b) gaya menggantung (schnepper/ the hang), c) gaya jalan di udara (walking in the air).

(26)

14

2.1.1.4 Mendarat (landing)

Mendarat atau pendaratan merupakan bagian akhir dari pelaksanaan lompat jauh. Secara sepintas bagian mendarat tampak mudah dilakukan. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses mendarat nomor lompat jauh yaitu : a)dilakukan dengan dua kaki, b) sebelum tumit menyentuh pasir, kedua kaki harus benar-benar diluruskan ke depan. Usahakan agar jarak kedua kaki tidak berjauhan, jarena dapat mengurangi jauhnya lompatan, c) untuk menghindari saat mendarat tidak jatuh pada pantat (terduduk), setelah tumit berpijak pada pasir kedua lutut segera ditekuk dan dibiarkan badan condong dan jatuh ke depan, dan d) setelah berhasil melakukan pendaratan, jangan kembali ke tempat awalan atau melewati daerah pendaratan yang terletak antara bekas pendaratan dengan papan tolak atau papan tumpu.

Berorientasi pada pelaksanaan lompat jauh yang terdiri dari awalan, tolakan, melayang dan mendarat sebagai satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan gerak lompat jauh dipengaruhi oleh aspek koordinasi gerak. Aspek koordinasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1) faktor kondisi, terutama kecepatan, tenaga lompat dan tujuan yang diarahkan kepada keterampilan, 2) faktor teknik ancang-ancang, persiapan lonpat, fase melayang di udara dan pendaratan (Benhard Gunter, 1986 : 45)

(27)

Gambar 2.4 Fase mendarat Sumber : IAAF,(2000:93) 2.1.1.5 Gerakan lanjutan

Gerakan lanjutan sebagai penyeimbang setelah melakukan lompatan. Setelah mendarat dengan dua kaki secara bersamaan, berat badan dipindahkan ke arah depan atau samping badan, jaga keseimbangan badan. Setelah keseimbangan badan baik, dilanjutkan dengan berjalan ke arah depan atau samping keluar dari bak lompat. Jangan kembali ke tempat awalan atau melewati daerah pendaratan yang terletak antara bekas pendaratan dengan papan tolak atau papan tumpu.

2.1.2 Faktor Fisik Lompat Jauh Gaya Jongkok 2.1.2.1 Lari 30 meter

(28)

16

Kecepatan menurut Lynn (dalam Waluyo, 1994 : 12) diartikan sebagai jarak persatuan waktu yaitu kecepatan diukur menggunakan satuan jarak dan satuan waktu. Pengertian lain tentang kecepatan disampaikan oleh Mathews (dalam Waluyo, 1994 : 17) sebagai suatu kemampuan bersyarat untuk menghasilkan gerakan tubuh dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Berdasarkan pada beberapa pengertian tentang kecepatan yang disampainkan oleh para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan merupakan suatu kemampuan tubuh untuk dapat menggerakkan semua sistem dalam melawan beban atau hambatan pada jarak tertentu dalam waktu yang relatif cepat atau singkat.

Berorientasi pada pengertian tentang kecepatan dan penerapannya dalam aktivitas olahraga, unsur kecepatan merupakan salah satu unsur yang penting dalam mencapai hasil (prestasi) optimal. Implikasi kecepatan berupa kecepatan reaksi sebagian, sedangkan kecepatan gerak adalah kecepatan gerak anggota tubuh secara keseluruhan dalam menempuh jarak tertentu seperti lari.

(29)

marathon. Di samping itu ada lari yang dilakukan secara beregu (nomor lari estafet), lari gawang, dan lari halang rintang (Aip Syarifudin, 1992 : 20).

Penerapan lain tentang lari juga dibutuhkan pada nomor lompat jauh. Lari pada lompat jauh dilakukan sebagai awalan dalam melakukan lompatan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Lompat jauh sebenarnya adalah lari dengan kecepatan dan menumpu. Jadi seorang pelompat akan berhasil melompat apabila larinya cepat dan kemudian diikuti oleh tumpuan yang tepat dan kuat pada balok tumpu. Oleh karena itu seseorang yang ingin mencapai hasil baik dalam lompatannya, dituntut suatu lari awalan yang cepat dengan langkah-langkah yang tepat. Kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi pada hasil lompatan. Ini berarti kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67). Agar dapat melakukan gerakan atau berlari dengan cepat dalam melakukan lari awalan, maka dalam latihan harus berlatih kecepatan. Berlatih kecepatan yang terpenting adalah berlatih lari 30 meter

2.1.2.2 Daya ledak otot tungkai

Daya ledak adalah kombinasi dari kecepatan maksimal dan kekuatan maksimal. Daya ledak ini harus ditunjukkan oleh perpindahan tubuh (dalam lompat jauh) melintasi udara, dimana otot harus mengeluarkan kekuatan dengan kecepatan yang tinggi agar dapat membawa tubuh atau obyek pada saat pelaksanaan gerak tubuh untuk dapat mencapai suatu jarak (Janssen, 1983 : 167)

(30)

18

seorang atlet untuk mengatasi suatu hanbatan dengan kecepatan kontraksi yang tinggi. Daya ledak ini diperlukan di beberapa gerak asiklis, misalnya pada atlet seperti melempar, lompat tinggi atau lompat jauh (Harre, 1982 : 16). FoV (dalam Waluyo, 1994 : 12) mengemukakan daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk menampilkan kerja maksimal persatu waktu.

Daya ledak atau explosive power adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimal yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya. Untuk kerja kekuatan maksimal yang dilakukan dalam waktu singkat ini tercermin seperti dalam aktivitas lompat tinggi, lompat jauh, tolak peluru, angkat besi, serta gerak lain yang bersifat eksplosif.

Daya ledak adalah kemampuan olahragawan untuk mengatasi tahanan dengan suatu kecepatan kontraksi tinggi (Herre, 1982 : 102). Daya ledak merupakan hasil perpaduan dari kekuatan dan percepatan pada kontruksi otot (Bompa, 1983 : 231, FoV, 1988: 144). Daya ledak merupakan salah satu dari komponen gerak yang sangat penting untuk melakukan aktivitas yang sangat berat karena dapat menentukan seberapa kuat orang memukul, seberapa jauh orang dapat melempar, seberapa cepat orang dapat berlari dan lainnya. Radcliffe dan Ferentions (1985 : 1-33) menyatakan bahwa daya ledak adalah faktor utama dalam pelaksanaan segala macam keterampilan gerak dalam berbagai cabang olahraga. Berdasarkan pada definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dua unsur penting yang menentukan kualitas daya ledak adalah kekuatan dan kecepatan.

(31)

beratkan pada kekuatan, b) meningkatkan kecepatan tanpa mengabaikan kekuatan atau menitik beratkan pada kecepatan, c) meningkatkan kedua-duanya sekaligus, kekuatan dan kecepatan dilatih secara simultan (Jassen, Schultz dan Bangertes, 1984 : 17).

Latihan kombinasi antara kekuatan dan kecepatan merupakan latihan untuk meningkatkan kualitas kondisi fisik dengan tujuan utama meningkatkan daya ledak. Latihan tersebut memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap nilai dinamis jika dibandingkan dengan latihan kekuatan saja. Apapun dalam pengembangan daya ledak, beban latihan tidak boleh terlalu berat sehingga gerak yang dilakukan dapat berlangsung cepat dan frekuensinya banyak (Pyke, 1980 : 75).

2.1.3 Kerangka Berfikir

Melakukan lompat jauh tidak bisa dilakukan seenaknya, karena lompat jauh merupakan suatu rangkaian aktivitas atau gerak yang gerakan satu dengan gerakan yang lainnya saling berhubungan dan membutuhkan koordinasi gerakan yang tinggi, juga dengan teknik yang tinggi. Selain teknik atau rangkaian gerakan lompat jauh, faktor penentu keberhasilan atau prestasi lompat jauh juga tidak bisa terlepas dari komponen kondisi fisik yaitu : Lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai.

(32)

20

larinya cepat. Oleh karena itu seorang pelompat yang ingin mencapai hasil yang baik dalam lompatannya dituntut suatu lari awal yang cepat dengan langkah-langkah tetap, supaya dalam bertumpu pada balok tumpuan dengan cepat. Dan menghasilkan lompatan yang jauh ..

Semakin cepat 30 meter pelompat semakin jauh hasil lompatan, semakin lambat 30 meter pelompat semakin dekat hasil lompatan. Diduga adanya hubungan yang positif antara lari 30 meter dengan hasil lompat jauh gaya jongkok.

2.1.3.2 Sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok

Daya ledak otot tungkai selain digunakan dalam lari awalan juga digunakan dalam melakukan tolakan pada balok tumpu pada saat melakukan lompat jauh. Setelah pelompat bertumpu pada balok tumpuan, agar pelompat dapat melayang lebih jauh, selain dari kecepatan lari awal, dibutuhkan tambahan tenaga dari tumpuan kaki tumpu, yaitu daya lompatan dari tungkai dan kaki yang disertai dengan ayunan lengan dan tungkai ayun. Bila daya ledak tinggi hasil lompatan semakin jauh. Bila daya ledak rendah hasil lompatan semakin dekat. Semakin tinggi daya ledak semain jauh hasil lompatan, semakin rendah daya ledak semakin dekat hasil lompatan. Diduga adanya sumbangan yang positif antara daya ledak otot tungkai dengan hasil lompat jauh gaya jongkok.

2.1.3.3 Sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

Diduga adanya sumbangan yang positif antara lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

(33)

Berdasarkan kerangka berfikir maka hipotesis yang diambil adalah:

2.2.1 Ada sumbangan yang signifikan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

2.2.2 Ada sumbangan yang signifikan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

(34)

22

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 JENIS DAN DESAIN PENELITIAN

Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Pengambilan data yang digunakan adalah metode survei. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:153) pada umumnya survei merupakan cara pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu yang bersamaan. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah survei tes. Tes dilakukan meliputi tes lari sejauh 30 meter, tes daya ledak otot tungkai dengan standing board jump, dan tes lompat jauh gaya jongkok.

Desain penelitian yang digunakan adalah desain korelasi (correlational design). Menurut Suharsimi Arikunto (2010:90) desain (design) penelitian adalah rencana atau rancangan yang dibuat oleh peneliti, sebagai ancar-ancar kegiatan, yang akan dilakukan.

Khomsin (2008:116 – 120) berpendapat rancangan penelitian adalah pola hubungan antar variabel yang akan diteliti. Atau diartikan pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis dan teknik analisis setatistika yang akan digunakan.

Dalam penelitian ini rancangan penelitian korelasi, dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Dua variabel bebas lari 30 meter disebut X1, daya ledak otot tungkai disebut X2, dan satu variabel terikat lompat jauh gaya jongkok

(35)

disebut Y. Untuk mencari hubungan X1 dengan Y, X2 dengan Y menggunakan teknik korelasi sederhana/ tunggal, sedangkan untuk mencari hubungan X1 dan X2 secara bersama-sama dengan Y menggunakan korelasi ganda Khomsin (2008:119). Untuk mencari sumbangan X1 terhadap Y, X2 terhadap Y menggunakan R Square sederhana/ tunggal, sedangkan untuk mencari sumbangan X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y menggunakan R Square ganda.

Adapun desain yang dimaksud terlihat pada gambar berikut ini :

1.

r

X1 – Y 2.

r

X2 – Y 3.

r

X12 – Y

Gambar 3.1 Desain Penelitian Sumber: Khomsin (2008:116 – 120)

3.2 VARIABEL PENELITIAN

Definisi operasional variabel adalah konsep tentang rumusan variabel penelitian sebagai dasar pegangan dalam mengukur data penelitian. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi Arikunto (2010:159) mendefinisikan variabel sebagai

(36)

24

gejala yang bervariasi. Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Variabel dibedakan menjadi dua: 1. Variabel Kuantitatif 2. Variabel Kualitatif.

Sugiyono (2009: 38) berpendapat variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya.

Hitch dan Farhadi (1981) dalam Sugiyono (2009:38) menyatakan secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan orang atau satu objek dengan objek lain.

Frakel dan Wallen (1990) dalam Khomsin (2008:110) berpendapat variabel dapat diartikan sebagai suatu konsep benda yang bervariasi.

Tujuan penjabaran definisi operasional variabel adalah untuk menghindari kesalahpahaman pengertian tentang variabel yang menjadi kajian dalam pelaksanaan penelitian. Variabel penelitian yang akan diambil meliputi 1. Lari 30 meter 2. Daya ledak otot tungkai 3. Hasil lompat jauh gaya jongkok

Variabel yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini meliputi : 3.2.1 Variabel Bebas

3.2.1.1 Lari 30 meter.

3.2.1.2 Daya ledak otot tungkai.

3.2.2 Variabel Terikat : hasil lompat jauh gaya jongkok.

3.3 POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENARIKAN SAMPEL

(37)

Pendem Jepara Tahun 2013, berbadan sehat berusia 10 sampai 12 tahun berjumlah 16 siswa.

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diselidiki, yang generalisasinya (kesimpulannya) dikenakan terhadap semua individu atau populasi. Suharsimi Arikunto (1996: 120) menyatakan bahwa : “untuk sekedar ancar-ancar, maka apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya berupa penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjek besar dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidak-tidaknya dari : 1) kemampuan penelitian dilihat dari waktu, 2) sempit luasnya pengawasan dari setiap subjek karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data, 3) besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, jika sampelnya besar hasilnya akan baik. Sampel yang menjadi subjek adalah seluruh siswa putra kelas V SDN 2 Pendem Jepara berbadan sehat berusia 10 sampai 12 tahun berjumlah 16 siswa.

Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Dikatakan sampel total karena masing-masing anggota populasi sekaligus bertindak menjadi anggota sampel penelitian.

3.4 INSTRUMEN PENELITIAN

Data penelitian dikumpulkan dengan meliputi 3 (tiga) kali kegiatan atau tahap pengukuran, meliputi kegiatan sebagai berikut :

3.4.1 Tes Lari 30 Meter

(38)

aba-26

aba siaaap testee bersiap-siap lari, selanjutnya pada aba-aba “ya” diserta kibaran bendera, testee berlari secepat-cepatnya ke arah finish. Skor yang diperoleh testee adalah waktu aba-aba “ya” sampai melewati garis finish. Sarana prasarana yang digunakan 1. Stop watch, 2. Bendera start, 3. Garis pembatas lintasan, 4. Garis batas start, 5. Garis batas finish, 6. Rol meter, 7.Lintasan lari.

Gambar 3.2 Lari 30 meter

Sumber:TKJI Untuk Anak Umur 10 – 12 tahun (1999:3)

Validitas menurut S Nasution (2006:74) adalah alat pengukur dikatakan valid jika alat itu mengukur apa yang harus diukur oleh alat itu. Meter valid karena mengukur jarak, timbangan valid karena mengukur berat. Bila timbangan tidak mengukur berat tetapi hal yang lain maka timbangan itu tidak valid.

Reliabilitas menurut S Nasution (2006:77) adalah suatu alat pengukur dikatakan reliabel bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menyatakan hasil yang sama. Alat yang reliabel secara konsisten memberi hasil ukur yang sama.

(39)

Jasmani dan Rekreasi (1999: 3) Validitas sebesar 0,884 dan Reliabilitas sebesar 0,911.

3.4.2 Tes Daya Ledak Otot Tungkai Menggunakan Tes Loncat Jauh Tanpa Awalan Atau Standing Broad Jump Test.

Tes daya ledak dilakukan dengan cara testee berdiri di belakang garis tolakan dengan posisi kaki selebar bahu. Persiapan untuk melompat, testee mengayun kedua lengan ke belakang dan menekuk kedua lutut (fleksi sendi lutut). Lompatan dilakukan secara silmultan dan bersamaan dengan pelurusan kedua lutut (ekstensi sendi lutut) dan disertai ayunan lengan ke depan ke arah depan.

Pelaksanaan tes dilakukan 3 kesempatan. Adapun perhitungan dengan mengukur jauhnya jarak antara pendaratan kaki dengan garis tolakan. Hasil tertinggi dari ketiga tes merupakan skor yang diperoleh masing-masing testee

(40)

28

Sarana prasarana yang digunakan 1. Rol meter, 2. Garis pembatas awalan lompatan, 3. Cangkul, 4. Kayu atau bilah perata pasir bak lompat, 5. Bak lompat.

Validitas menurut S Nasution (2006:74) adalah alat pengukur dikatakan valid jika alat itu mengukur apa yang harus diukur oleh alat itu. Meter valid karena mengukur jarak, timbangan valid karena mengukur berat. Bila timbangan tidak mengukur berat tetapi hal yang lain maka timbangan itu tidak valid.

Reliabilitas menurut S Nasution (2006:77) adalah suatu alat pengukur dikatakan reliabel bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menyatakan hasil yang sama. Alat yang reliabel secara konsisten memberi hasil ukur yang sama.

Validitas dan Reliabilitas daya ledak otot tungkai menurut Aahper (1965:174) dalam Nurhasan dan Hasanudin Cholil (2007:174) adalah Validitas sebesar 0,607 dan Reliabilitas sebesar 0,963.

3.4.3 Tes Lompat Jauh Gaya Jongkok

Pelaksanaan tes lompat jauh dilakukan dengan secara testee melompat pada bak lompat diawali dengan lari awalan, tolakan, melayang, dan mendarat. Pelaksanaan dilakukan dengan 3 kali kesempatan. Pengukuran hasil lompatan adalah diukur pada papan tolak sampai dengan batas awal pendaratan yang terdekat dengan papan tolak, sesuai dengan peraturan yang berlaku dengan lompat jauh. Hasil terbaik dari ketiga pelaksanaan tes lompat jauh merupakan skor yang diperoleh masing-masing testee.

(41)

karena mengukur jarak, timbangan valid karena mengukur berat. Bila timbangan tidak mengukur berat tetapi hal yang lain maka timbangan itu tidak valid.

Reliabilitas menurut S Nasution (2006:77) adalah suatu alat pengukur dikatakan reliabel bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menyatakan hasil yang sama. Alat yang reliabel secara konsisten memberi hasil ukur yang sama.

Gambar 3.4 Lompat jauh gaya jongkok Sumber : IAAF :(2000:90)

Sarana dan prasarana yang digunakan 1. Roll meter, 2. Balok tumpuan, 3. Cangkul, 4. Kayu atau bilah perata pasir bak lompat, 5. Bak lompat jauh. 3.4.4 Hasil Uji Coba Instrumen

(42)

30

Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Lebih lanjut lagi menurut Uma Sekaran dalam Duwi Priyatno (2013:30) bahwa pengambilan keputusan uji reliabilitas menggunakan cronbach’s Alpha dengan

ketentuan sebagai berikut : Cronbach’s alpha < 0,60 = reliabilitas buruk;

Cronbach’s alpha 0,60 -0,79 = reliabilitas diterima; Cronbach’s alpha 0,80 =

reliabilitas baik. Sedangkan menurut Nunnally yang dikutip oleh Imam Ghazali dalam Duwi Priyatno (2013:30) dapat dikatakan reliabilitas > 0,600, dimana 0,600 adalah standarisasi nilai Reliabilitas menurut pernyataan dari Nunnally. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen dari 10 siswa putra kelas III SDN 2 Bucu Jepara sebagai sebagai berikut :

3.4.4.1 Tes lari 30 meter

Adapun secara visual hasil uji validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Tabel uji validitas dan reliabilitas tes lari 30 meter

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,995 3

Sumber : Pengolahan data menggunakan SPSS 21

Khasil cronbach’s alpha adalah 0,995 > 0,600, maka alat ukur dinyatakan

reliabel.

3.4.4.2 Tes daya ledak otot tungkai

Adapun secara visual hasil uji validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2 Tabel uji validitas dan reliabilitas tes daya ledak otot tungkai

(43)

Cronbach's Alpha N of Items

,803 2

Sumber : Pengolahan data menggunakan SPSS 21

Karena hasil cronbach’s alpha adalah 0,803 > 0,600, maka alat ukur dinyatakan

reliabel.

3.4.4.1 Tes lompat jauh gaya jongkok

Tes lompat jauh gaya jongkok dilaksanakan Pada hari Selasa tanggal 11 Juni 2013 bertempat di SDN 2 Bucu Sampel 10 siswa putra kelas III SDN 2 Bucu. Adapun tata cara tes lompat jauh gaya jongkok sebagai berikut : 1) Persiapan siswa dibariskan sesuai urutan nomor dada.Siswa melompat satu persatu sesuai nomor urut. 2) Kesempatan melompat 3 kali. 3) Hasil lompatan diambil yang terjauh. 4) Siswa dinyatakan berhasil melakukan lompatan bila kaki tumpuan bertolak pada balok tumpuan atau sebelum balok dan jatuh pada bak pasir. 5) Pengukuran jarak lompatan dihitung dari balok tumpu sampai jatuhnya anggota tubuh di bak pasir yang paling belakang. 6) Bila ada siswa melompat sedangkan petugas tidak melihat, maka siswa tersebut diberi kesempatan lagi. 7)Hasil lompatan yang berhasil dicatat dalam satuan ukuran meter dengan dua angka di belakang koma. 8) Dalam mencatat hasil lompatan siswa yang gagal, diberi tanda silang.

Gambar Lompat Jauh Gaya Jongkok Sumber: Depdikbud (1994:147)

(44)

32

Tabel 3.3 Tabel uji validitas lompat jauh gaya jongkok Correlations

item1 Skrortotal

item1

Pearson Correlation 1 1,000**

Sig. (2-tailed) ,000

N 10 10

Skrortotal

Pearson Correlation 1,000** 1

Sig. (2-tailed) ,000

N 10 10

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Karena hasil r hitung 1,000 > 0,707, maka alat ukur dinyatakan valid.

Tabel 3.4 Tabel uji reliabilitas lompat jauh gaya jongkok

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,993 3

Sumber : Pengolahan data menggunakan SPSS 21

Karena hasil cronbach’s alpha adalah 0,993 > 0,600, maka alat ukur dinyatakan

reliabel.

3.5 PROSEDUR PENELITIAN

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data penelitain ini adalah sebagai berikut:

3.5.2 Tahap Awal

1. Menyelesaikan masalah perijinan penelitian ke Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES setelah Proposal Penelitian disetujui oleh Ketua Jurusan PKLO dan penetapan dosen pembimbing.

2. Menyusun jadwal penelitian, mempersiapkan alat tulis menulis, alat tes dan pengukuran, dan petugas lapangan

(45)

1. Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan pengambilan data berupa tes dan pengukuran

2. Siswa melakukan tes dan pengkuran lari sprint 30 meter, lompat jauh tanpa awalan, lompat jauh gaya jongkok engan awalan.

3. Petugas lapangan mencatat hasil tes dan pengukuran dalam blangko yang telah dipersiapkan

3.5.4 Tahap Penyelesaian

1. Setelah data terkumpul kemudian ditabulasikan

2. Penyusunan skripsi mengikuti tata cara penulisan yang ditentukan oleh FIK UNNES Semarang

3. Hasil penulisan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk didiskusikan

4. Hasil diskusi dicatat sebagai bahan perbaikan skripsi 5. Skripsi siap diujikan

3.6 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENELITIAN

Sebelum penelitian dilaksanakan perlu ditetapkan faktor-faktor, variabel-variabel atau kondisi-kondisi yang perlu dikontrol (dikendalikan), yang akan mempengaruhi hasil penelitian. Faktor-faktor tersebut adalah faktor internal dan ekstern.

3.6.2 Faktor Internal

Yang dimaksud faktor internal adalah faktor yang ada pada diri subjek yang meliputi:

(46)

34

Kesungguhan hati pada setiap individu berbeda atau tidak sama. Hal ini akan mempengaruhi terhadap hasil tes dan pengukuran. Untuk menghindari hal tersebut penulis langsung memberikan anjuran untuk melakukan tes dan pengukuran dengan sungguh-sungguh.

3.6.2.2 Kehadiran

Faktor kehadiran merupakan faktor yang juga mendapatkan perhatian penulis karena jika subjek tidak hadir, maka jumlah subjek akan berkurang berarti data yang diperoleh akan berkurang. Oleh karena itu sehari sebelum pelaksanaan tes, para subjek diingatkan untuk datang tepat waktu pada hari yang telah disepakati.

3.6.2.3 Kemampuan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan subjek terhadap tes dan pengukuran akan berbeda. Mungkin ini akan menjadi kendala terhadap unjuk kerja. Untuk menghadapi hal tersebut penulis memberi masukan kepada subjek untuk tidak terpengaruh akan hasil tes dan pengukuran yang dicapai oleh peserta lain karena setiap individu memiliki batas kemampuan yang berbeda. 3.6.2.4 Kesehatan

Faktor kesehatan para subjek sangat berpengaruh terhadap hasil tes dan pengukuran terutama kurangnya istirahat dan asupan makanan yang bergizi. Untuk itu sebelum pelaksanaan tes dan pengukuran, penulis mengingatkan para subjek untuk selalu menjaga kesehatannya.

3.6.3 Faktor Eksternal

Yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor di luar sampel. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi hasil penelitian ini meliputi:

(47)

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah roll meter dangan panjang 50 meter untuk mengukur jauhnya lompatan standing broad jump dan stop watch untuk mengukur kecepatan.

3.6.3.2 Petugas pengambilan data

Kesalahan manusia (human eror) adalah salah satu kendala yang sering terjadi dalam pengambilan data penelitian. Untuk mengantisipasi hal itu, terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang penggunaan alat tes kepada para petugas pengambil data untuk mengurangi tingkat kesalahan.

3.6.3.3 Cuaca dan tempat

Tes dan pengukuran dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 Juni 2013 pukul 07.00 – 09.00 WIB di lapangan Bangsri Jepara. Cuaca pada saat itu sangat cerah.

3.7 TEKNIK ANALISIS DATA

Pelaksanaan uji hipotesis penelitian, setelah data diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dianalisis dengan teknik regresi. menganalisis data melalui computer dengan program SPSS Sukardi (2008:164). Program yang digunakan adalah SPSS 21. Menurut Sukardi (2008:164-165) data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat di masukkan dalam program SPSS dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(48)

36

gambar-gambar yang menunjukkan informasi tertentu, misalnya open file (membuka data), save (menyimpan data), dan print (menghasilkan printout); tanda gambar tersebut dapat digunakan untuk instruksi yang diperlukan sesuai keinginan guru secara cepat. Di samping itu tabel data pada layar tersebut dapat di isi dengan memberi nama variabel satu, variabel dua, dan seterusnya dengan nama variabel yang sesuai dengan nama program. 2. Pada bagian kiri bawah layar ada dua macam intruksi yaitu variable view dan

data view. Variable view memberikan intruksi yang berkaitan dengan informasi data. Informasi tersebut diantaranya name, data, type, width, decimal, label, values numeric, missing, column, align, dan measure. Data view memberikan intruksi apabila hendak memasukkan skor maupun data deskripsi yang bukan skor.

3. Setelah variable view di isi sesuai dengan keadaan data yang diperoleh di lapangan langkah selanjutnya adalah memasukkan skor data dalam data view dengan cara mengklik data view dan layar akan menempilkan tabel data.

4. Setelah data dimasukkan dalam tabel dapat menganalisis data sesuai dengan keperluan misalnya untuk tujuan deskriptif. Komputer akan langsung bekerja sesuai dengan tampilan.

(49)

1. Rumus yang digunakan untuk lari 30 meter adalah:

2. Rumus yang digunakan untuk daya ledak otot tungkai adalah:

3. Rumus yang digunakan untuk lompat jauh gaya jongkong adalah:

Adapun uji persyaratan tersebut untuk mengetahui kelayakan data tersebut meliputi :

3.7.2 Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan dianalisis. Adapun uji normalitas menggunakan Chi Kuadrat (χ²).

Kriteria uji χ² hitung χ² > tabel, data dinyatakan normal. Sebaliknya apabila χ²

hitung < χ² tabel maka data dilakukan tidak normal. 3.7.3 Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui seragam tidaknya nariasi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama dalam penelitian. Uji homogenitas varians dihitung dengan menggunakan uji Berleet. Langkah-langkah uji Barlett adalah sebagai berikut :

a. Mencari variasi dari masing-masing golongan dengan rumus Σ฀ ²

b. Mencari variasi gabungan dengan rumus S² = [Σ(n –1) S฀ ² / Σ(n –1) c. Mencari harga B dengan rumus

(50)

38

Harga χ² hitung dikonsultasikan dengan harga χ² tabel dengan DK = ,

dimana n adalah banyaknya golongan atau variabel pada huruf signifikan 5 %. Jika harga χ² hitung ≤χ² tabel berarti distribusi data homogeny, sebaliknya jika χ²

hitung ≥χ² tabel berarti distribusi data tidak homogen. 3.7.4 Uji Linieritas Dan Uji Keberartian Regresi

Uji linieritas dimaksudkan untuk menguji apakah data yang diperoleh linier atau tidak. Jika ada linier, maka dapat dilanjutkan dengan uji parametric dengan teknik regresi. Namun jika tidak ada linier, digunakan uji regresi non linier.

Uji keberartian model regresi dimaksudkan untuk menguji apakah data yang diperoleh pada prediktor dapat digunakan sebagai peramalan kriteria ataukah tidak. Jika data prediktor berarti, maka dapat dipergunakan sebagai peramalan, sedangkan jika data prediktor tidak berarti sebagai konsekuensinya tidak dapat dipakai sebagai peramalan kriteria.

3.7.5 Uji regresi dengan persamaan Y= α+bV

Berkaitan dengan pengujian hipotesis, maka untuk memudahkan uji atau analisis penelitian, maka disusun hipotesis nihil sebagai berikut :

a. Tidak ada sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok (rV฀Y = 0)

b. Tidak ada sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh

gaya jongkok (rVೣY = 0)

c. Tidak ada sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

4.1.1 Deskripsi Data

Dalam penelitian ini menggunakan metode survei tes, variabel yang diukur adalah lari 30 meter, daya ledak otot tungkai dan hasil lompat jauh. Sebagai variabel bebas untuk hasil lompat jauh terdiri dari lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai, maka perlu disamakan terlebih dahulu dengan distandarkan menggunakan Z skor dan transformasi ke skor T. Sutrisno Hadi (1990: 267).

4. Rumus yang digunakan untuk lari 30 meter adalah:

5. Rumus yang digunakan untuk daya ledak otot tungkai adalah:

6. Rumus yang digunakan untuk lompat jauh gaya jongkok adalah:

Adapun hasil perhitungan statistik deskriptif dapat dilihat seperti tabel-tabel sebagai berikuHasil pengambilan data kasar variabel X1 lari 30 meter

sebagai berikut:

Tabel 4.1 Data kasar lari 30 meter

No Nama Lari 30 meter Terbaik

I II III

1 Muhammad Deva AS 5,97 6,47 6,11 5,97

(52)

40

Hasil pengambilan data kasar variabel X2 daya ledak otot tungkai sebagai

berikut:

Tabel 4.2 Data kasar daya ledak otot tungkai

(53)

11 Didik Afriyanto 1,75 1,68 1,62 1,75

Hasil pengambilan data kasar variabel Ylompat jauh gaya jongkok sebagai berikut:

Tabel 4.3 Data kasar lompat jauh gaya jongkok

(54)

42 ditabulasi menjadi skor T. Sebagai berikut:

Tabel 4.4 Hasil Tabulasi Skor Kasar Menjadi Skor T

(55)

Hasil perhitungan statistik deskriptif dapat dilihat seperti tabel-tabel sebagai berikut:

Tabel 4.5 Rangkuman hasil perhitungan data statistik deskriptif berdasar skor T

Lari30 meter Daya Ledak Otot

Tungkai Lompat Jauh

Mean 49,9994 50 50

Standar. Dev 10,00011 10,00014 10,00066

Maks 69,98 69,30 69,12

Min 34,84 25,93 31,46

N 16 16 16

Tabel 4.5 di atas menyajikan hasil pengukuran lari 30 meter, daya ledak otot tungkai setelah dikonversi ke Skor-T. untuk variabel lari 30 meter N = 16, nilai tertingginya sebesar = 69,98 dan nilai terendah sebesar = 34,84 , mean = 49,9994 standar deviasi = 10,00011 . Untuk variabel daya ledak otot tungkai N = 16 , hasil tertinggi = 69,30 , terendah = 25,93 , mean = 50 , standar deviasi = 10,00014. Untuk hasil lompat jauh N = 16 hasil tertinggi = 69,12 , terendah = 31,46 , mean = 50 , standar deviasi = 10,00066.

4.1.2 Hasil Uji Persyaratan Analisis

Dari hasil perhitungan statistik deskriptif seperti terlihat pada tabel 4.1 hingga 4.5, dilanjutkan dengan uji persyaratan analisis hipotesis yang meliputi beberapa langkah sebagai berikut :

4.1.2.1 Uji normalitas data

(56)

44

Tabel 4.6 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Normalitas

Variabel Signifikansi Keterangan

Lari 30 meter 0,947 > 0,05 Normal

Daya Ledak Otot Tungkai 0,825 > 0,05 Normal

Hasil Lompat Jauh 0,943 > 0,05 Normal

Berdasarkan hasil analisis yang tercantum pada tabel 4.6 terlihat bahwa masing- masing variabel yaitu variabel lari 30 meter, daya ledak otot tungkai serta hasil lompat jauh, subjek penelitian penyebaran distribusi datanya dalam keadaan normal sehingga dapat dilanjutkan dengan uji parametrik.

4.1.2.2 Uji homogenitas

Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan Chi-Kuadrat seperti tercantum dalam tabel 4.7.

Tabel 4.7 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Homogenitas

Variabel Signifikansi Keterangan

Lari 30 meter 1,000 > 0,05 Homogen

Daya Ledak Otot Tungkai 1,000 > 0,05 Homogen

Hasil Lompat Jauh 1,000 > 0,05 Homogen

Dari tabel 4.7 nampak bahwa variabel penelitian lari 30 meter, daya ledak otot tungkai dan hasil lompat jauh adalah homogen. Analisis yang digunakan untuk variabel homogen adalah regresi linier, sedangkan yang tidak homogen menggunakan analisis non linier.

(57)

Uji linieritas ini dimaksudkan untuk melihat ada tidaknya sumbangan antara prediktor yaitu variabel-variabel lari 30 meter (X1), daya ledak otot tungkai (X2), dengan prestasi hasil lompat jauh sebagai variabel (Y). Dalam uji linieritas garis regresi ini dengan melihat nilai F dengan ketentuan sebagai berikut : Jika Fhitung ≥ Ftabel Linier. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Linieritas Garis Regresi

Variabel Fhitung Signifikansi Keterangan

Lari 30 meter 51,690 000 < 0,05 Linier

Daya Ledak Otot Tungkai 19,786 0,001 < 0,05 Linier

Hasil uji linieritas antara X1dan Y diperoleh Fhitung sebesar 51,690 X2 dan

Y diperoleh Fhitung sebesar 19,786, berdasarkan hasil perhitungan, maka variabel

prediktor penelitian yang variabel lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai dinyatakan linier.

4.1.2.4 Uji keberartian model garis regresi

Uji Keberartian Model Garis Regresi dilakukan untuk mengatahui apakah persamaan garis regresi yang diperoleh signifikan atau tidak, untuk digunakan sebagai prediksi harga kriterium. Uji dilakukan dilakukan dengan uji t. kriteria uji dinyatakan berarti jika hasil thitung X1 dan X2 ≥ ttabel dinyatakan tidak linier. Hasil

(58)

46

lari 30 meter, daya ledak otot tungkai dinyatakan signifikan dan dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan pelaksanaan lompat jauh.

Tabel 4.9 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Keberartian Model Garis Regresi

Variabel thitung Signifikansi Keterangan

Lari 30 Meter 4,850 000 < 0,05 Signifikan Daya Ledak Otot Tungkai 2,405 0,032 < 0,05 Signifikan

4.1.3 Hasil Analisis Data

Hasil uji prasyarat analisis menunjukkan bahwa variabel bebas dan terikat mempunyai distribusi normal dan homogen, dengan bukti semua nilai signifikan masing-masing variabel lebih besar dari 0,05, dan nilai regresi chi squair lebih besar dari 0,05. Masing-masing variabel menpunyai sumbangan yang signifikan. Ini terbukti pada uji hipotesis

4.1.4 Uji Hipotesis

4.1.4.1 Analisis regresi tunggal

Analisis regresi tunggal ini dimaksudkan untuk menguji sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok, daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Berdasarkan ketentuan dan perhitungan diperoleh hasil seperti tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Rangkuman Hasil Perhitungan Analisis Korelasi

Variabel Lari 30

meter

Daya ledak otot

tungkai Hasil lompat jauh

Lari 30 Meter 1 0,861 0,887

Daya Ledak Otot Tungkai 0,861 1 0,765

Hasil Lompat Jauh 0,887 0,765 1

(59)

1) Sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok (X1 terhadap Y).

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa rhitung X1 terhadap Y = 0,887

(signifikansi 0,000), sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “Tidak ada sumbangan lari 30 meter dengan hasil lompat jauh Ditolak”. Berdasarkan pada hasil tersebut dinyatakan ada sumbangan yang signifikan sebesar 78,70 % lari 30 meter terhadap lompat jauh gaya jongkok

2) Sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok (X2 terhadap Y).

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa rhitung ≥ X2 dengan Y = 0,765

(signifikansi 0,000), sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “Tidak ada

sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh, Ditolak.

Berdasarkan pada hasil tersebut dinyatakan ada sumbangan yang signifikan sebesar 58,60 % daya ledak otot tungkai dengan lompat jauh gaya jongkok. 4.1.4.2 Analisis regresi ganda

Tabel 4.11 Rangkuman Hasil Perhitungan Regresi Ganda

Variabel Fhitung Signifikansi Keterangan

Lari 30 Meter

Daya ledak otot tungkai Hasil lompat jauh

37,569 0,000 < 0,05 Signifikan

(60)

48

Charts

Gambar 4.1 Histogram

Berdasarkan perhitungan yang ada dalam tabel 4.10 dan 4.11 dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Sumbangan lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok (X1 terhadap Y).

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa rhitung X1 dengan Y = 0,887 (signifikansi 0,000), sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “Tidak ada sumbangan lari 30 meter dengan hasil lompat jauh Ditolak”. Berdasarkan pada hasil tersebut dinyatakan ada sumbangan yang signifikan sebesar 78,70 % lari 30 meter dengan lompat jauh gaya jongkok.

2) Sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok (X2 dengan Y).

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa rhitung ≥ X2 dengan Y = 0,765

(signifikansi 0,000), sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “Tidak ada

sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh, Ditolak.

(61)

3) Sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap lompat jauh gaya jongkok.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Fhitung sebesar 37,569

signifikansi 0,000, sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “Tidak ada sumbangan lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh, Ditolak. Berdasarkan pada hasil tersebut dinyatakan ada sumbangan yang signifikan sebesar 85,30 % lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap lompat jauh gaya jongkok.

4.2 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil penelitan ini menunjukkan lari 30 meter memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Lari 30 meter berpengaruh terhadap cepatnya awalan. Dengan awalan yang cepat ada dorongan yang besar ke depan yang berpengaruh terhadap jauhnya lompatan. Semakin cepat lari 30 meter semakin jauh hasil lompat jauh gaya jongkok, semakin lambat lari 30 meter semakin dekat hasil lompat jauh gaya jongkok.

Daya ledak otot tungkai memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Daya ledak otot tungkai berpengaruh terhadap hasil tolakan, tingginya lompatan dan jauhnya lompatan. Semakin tinggi lompatan semakin jauh hasil lompat jauh gaya jongkok. Semakin tinggi daya ledak otot tungkai semakin jauh hasil lompat jauh gaya jongkok, semakin rendah daya ledak otot tungkai semakin dekat hasil lompat jauh gaya jongkok.

(62)

50

semakin jelek lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai dekat hasil lompat jauh gaya jongkok.

Perhitungan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa :

1. Ada sumbangan yang signifikan sebesar 78,70 % lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

2. Ada sumbangan yang signifikan sebesar 58,60 % daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

3. Ada sumbangan yang signifikan sebesar 85,30 % lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

Dari uraian di atas terdapat komponen faktor utama yang meliputi lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai yang menunjukkan sumbangan yang linier terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Kedua faktor komponen kondisi fisik tersebut mempunyai sumbangan yang signifikan terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

Hasil analisis korelasi tunggal dan ganda, regresi tunggal dan ganda menunjukkan bahwa taraf signifikasi 5% terdapat sumbangan yang signifikan antara variabel lari 30 meter (X1) dan daya ledak otot tungkai (X2) dengan variabel hasil lompat jauh (Y). hal ini terlibat dari Fhitung lebih besar dari Ftabel.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan hasil lompat jauh gaya jongkok dapat diartikan bahwa seorang pelompat jauh dituntut memiliki lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai yang baik.

(63)

ledak otot tungkai mempunyai sumbangan yang signifikan terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Hal ini ditunjukkan bahwa sumbangan lari 30 meter (X1) terhadap hasil lompat jauh (Y) signifikan atau bermakna karena thitung = 4,850

atau dengan nilai signifikansi 0,00 ≤ 0,05. Sumbangan daya ledak otot tungkai (X2) terhadap hasil lompat jauh (Y) signifikan atau bermakna karena thitung = 2,405

dengan nilai signifikan 0,032 ≤ 0,05. Sedangkan signifikasi atau keberartian lari 30 meter (X1) daya ledak otot tungkai (X2) terhadap hasil lompat jauh (Y)

terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dinyatakan bahwa ada sumbangan yang signifikan sebesar 78,70 % lari 30 meter terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

Hasil uji hipotesis ke-2 yaitu ada sumbangan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. (X2 terhadap Y). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa r hitung ≥ rtabel terhadap Y = 0,765 ≥ r 0,426 (signifikansi

0,000), sehingga hipotesis nihil yang menyatakan “tidak ada sumbangan yang

signifikan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok “ditolak. Berdasar pada hasil tersebut dinyatakan ada sumbangan yang

(64)

52

Uji Hipotesis ke-3 yaitu ada sumbangan lari 30 meter dan daya otot tungkai terhadap lompat jauh gaya jongkok (X1 dan X2 terhadap Y). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Fhitung sebesar 37,569>4,494 sehingga

dapat dinyatakan sumbangan X1 dan X2 dengan Y adalah signifikan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa ada sumbangan yang signifikan sebesar 85, 30 % lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok. Hasil ini dinyatakan hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima yakni lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai yang baik menunjang keberhasilan dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok. Dapat diartikan bahwa lari 30 meter dan daya ledak otot tungkai mempunyai sumbangan yang signifikan terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok gaya jongkok. Selain kedua faktor tadi ternyata masih ada faktor fisik lain yang tidak diteliti yang memberikan sumbangan sebesar 14,70 % terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok.

Figure

Tabel
Tabel p.9
Gambar                                                                                         2.1 Fase Lari Awalan ................................................................................

Gambar 2.1

Fase Lari Awalan ................................................................................ p.10
Gambar 2.1 Fase saat melakukan lari awalan/ ancang-ancang Sumber : IAAF,(2000:88)

Gambar 2.1

Fase saat melakukan lari awalan/ ancang-ancang Sumber : IAAF,(2000:88) p.22
Gambar 2.2 Fase bertolak/ bertumpu  Sumber : IAAF,(2000:89)

Gambar 2.2

Fase bertolak/ bertumpu Sumber : IAAF,(2000:89) p.24
Gambar 2.3 Fase melayang gaya jongkok  Sumber : IAAF,(2000:90)

Gambar 2.3

Fase melayang gaya jongkok Sumber : IAAF,(2000:90) p.25
Gambar 2.4 Fase mendarat

Gambar 2.4

Fase mendarat p.27
Gambar 3.1 Desain Penelitian  Sumber: Khomsin (2008:116 – 120)

Gambar 3.1

Desain Penelitian Sumber: Khomsin (2008:116 – 120) p.35
Gambar 3.2 Lari 30 meter   Sumber:TKJI Untuk Anak Umur 10 – 12 tahun (1999:3)

Gambar 3.2

Lari 30 meter Sumber:TKJI Untuk Anak Umur 10 – 12 tahun (1999:3) p.38
Gambar 3.3 Daya ledak otot tungkai  Sumber Sukarman  (1987:17)

Gambar 3.3

Daya ledak otot tungkai Sumber Sukarman (1987:17) p.39
Gambar 3.4 Lompat jauh gaya jongkok  Sumber : IAAF :(2000:90)

Gambar 3.4

Lompat jauh gaya jongkok Sumber : IAAF :(2000:90) p.41
Tabel 3.1  Tabel uji validitas dan reliabilitas tes lari 30 meter

Tabel 3.1

Tabel uji validitas dan reliabilitas tes lari 30 meter p.42
Gambar Lompat Jauh Gaya Jongkok

Gambar Lompat

Jauh Gaya Jongkok p.43
Tabel 3.3   Tabel uji validitas lompat jauh gaya jongkok

Tabel 3.3

Tabel uji validitas lompat jauh gaya jongkok p.44
Tabel 3.4   Tabel uji reliabilitas lompat jauh gaya jongkok

Tabel 3.4

Tabel uji reliabilitas lompat jauh gaya jongkok p.44
Tabel 4.1 Data kasar lari 30 meter

Tabel 4.1

Data kasar lari 30 meter p.51
tabel sebagai berikuHasil pengambilan data kasar variabel X1 lari 30 meter

tabel sebagai

berikuHasil pengambilan data kasar variabel X1 lari 30 meter p.51
Tabel 4.2 Data kasar daya ledak otot tungkai

Tabel 4.2

Data kasar daya ledak otot tungkai p.52
Tabel 4.3 Data kasar lompat jauh gaya jongkok

Tabel 4.3

Data kasar lompat jauh gaya jongkok p.53
Tabel 4.4 Hasil Tabulasi Skor Kasar Menjadi Skor T

Tabel 4.4

Hasil Tabulasi Skor Kasar Menjadi Skor T p.54
Tabel 4.5 di atas menyajikan hasil pengukuran lari 30 meter, daya ledak

Tabel 4.5

di atas menyajikan hasil pengukuran lari 30 meter, daya ledak p.55
Tabel 4.6 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Normalitas

Tabel 4.6

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Normalitas p.56
Tabel 4.7 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Homogenitas

Tabel 4.7

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Homogenitas p.56
Tabel 4.8 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Linieritas Garis Regresi

Tabel 4.8

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Linieritas Garis Regresi p.57
Tabel 4.9 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Keberartian Model Garis Regresi

Tabel 4.9

Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Keberartian Model Garis Regresi p.58
Gambar 3.2 Lari 30 meter   Sumber:TKJI Untuk Anak Umur 10 – 12 tahun (1999:3)

Gambar 3.2

Lari 30 meter Sumber:TKJI Untuk Anak Umur 10 – 12 tahun (1999:3) p.74
Gambar 3.4 Lompat jauh gaya jongkok ( IAAF :2000)

Gambar 3.4

Lompat jauh gaya jongkok ( IAAF :2000) p.77
Tabel 3.1  Tabel uji validitas tes lari 30 meter

Tabel 3.1

Tabel uji validitas tes lari 30 meter p.78
Gambar 10 Standing Board Jump Test

Gambar 10

Standing Board Jump Test p.80
Gambar Lompat Jauh Gaya Jongkok

Gambar Lompat

Jauh Gaya Jongkok p.81

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in