• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesulitan kesulitan Guru dalam Mengemban

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kesulitan kesulitan Guru dalam Mengemban"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dilaksanakan di

Garuda Plaza Medan, Sumatera Utara

Rabu, 3 Agustus 2016

atas kerja sama:

Asosiasi LPTK Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Penerbit:

Muhammadiyah University Press

Universitas Muhammadiyah Surakarta

(3)
(4)

iii

, Wr. Wb.

Allah SWT, atas rahmad dan hidayah-Nya sehingga Prosiding Seminar Nasional

Pendidikan yang berkemajuan dan Menggembirakan ini dapat diterbitkan. Sholawat dan

salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah

kemjuan ilmu dan teknologi.

Seminar Nasional dengan tema

Jati Diri LPTK PTM untuk Pendidikan yang

Berkemajuan dan Menggembirakan

ini diselenggarakan pada tanggal 3 Agustus 2016

di Hotel Garuda Plaza, Medan atas kerjasama Asosiasi LPTK Perguruan Tinggi

Muhammadiyah (ALPTK PTM), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Universitas

Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

(UMSU).

Prosiding ini berisi sekumpulan makalah dari berbagai LPTK Perguruan Tinggi

Muhammdiyah di Indonesia yang telah dipresentasikan dan didiskusikan pada seminar

ini. Seminar Nasional Pendidikan yang Berkemajuan dan Menggembirakan

(The

Progressive and Fun Education National Seminar)

ini 2016 ini direncanakan akan

dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membuka wawasan guna mengembangkan

kualitas pendidikan dan Sumber Daya Pendidikan di LPTK PTM. Seminar ini juga

memberikan kesempatan bagi para pemakalah yang merupakan akademisi dan peneliti

untuk menyampaikan gagasan fundamental, mendiseminasikan hasil-hasil penelitian

atau kajian kritis terhadap pendidikan di Indonesia Timur.

Hasil dari diseminasi ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran

yang kritis guna meningkatkan kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM)

di LPTK PTM melalui pendidikan. Seminar Nasional Pendidikan yang Berkemajuan

dan Menggembirakan ini terbagi ke dalam delapan

Akhirnya, Panitia Seminar Nasional Pendidikan yang Berjemajuan dan

Menggembirakan tahun 2016 mengucapkan terima kasih kepada para pembicara,

pemakalah, moderator serta berbagai pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini

sehingga acara ini dapat berjalan dengan baik

r. Wb.

Medan, 3 Agustus 2016

(5)

iv

Sejak awal berdirinya, jati diri LPTK PTM fokus berhimat untuk ummat dan

berkarya untuk mencerdaskan bangsa. Hal demikian sejalan dengan rumusan tujuan

Muhammadiyah pada awal berdirinya tahun 1912 oleh KHA Dahlan difokuskan pada

dua hal pokok. Pertama, menyebarkan pengajaran Kajeng Nabi Muhammad saw kepada

penduduk bumi putera di dalam residensi Yogyakarta. Kedua, untuk memajukan hal

agama kepada anggota-anggotanya. Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu

dipantulkan melalui perubahan rumusan tujuannya, istilahnya sekarang peninjauan

visi-misi atau peninjauan kurikulum sekolah. Tepatnya tahun 1921 atau delapan tahun

setelah berdirinya Muhammadiyah maka hasil peninjauan kembali tujuan itu

dirumuskan untuk (a) memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran

agama Islam di Hidia Nederland (: Hidia Belanda) dan (b) memajukan dan

menggembirakan cara kehidupan sepanjang kemauan agama Islam kepada

lid-lidnya

(segala sekutunya).

Dalam konteks perkembangan global yang lebih didominasi oleh kemajuan dan

capaian perkembangan teknologi komunikasi-informasi-komputasi maka arah dan

perkembangan pengelolaan pendidikan yang dapat memikat hati masyarakat tidak bisa

melepaskan diri dari paradigma persyarikatan Muhammadiyah, yaitu berkemajuan dan

menggembirakan. Sebuah rumusan dasar yang mengandung nilai historis dan futuris

yang sangat luar biasa.

Berkaitan dengan filosofi dan histori yang mendasari didirikannya Persyarikatan

Muhammadiyah tersebut dan khususnya melalui dakwah pendidikan berinstitusi LPTK

PTM, maka dipandang sangat beralasan diselenggarakannya kegiatan seminar secara

berkelanjutan untuk menggali jati diri, sejarah, desain, dan pengembangan pendidikan

dalam bentuk

Seminar Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan

(

The 1

st

Progressive and Fun Education Seminar

). Forum seminar ini dijadwalkan berlangsung

minimal satu tahun sekali dan dilaksanakan secara berantai di dan antar LPTK PTM di

seluruh Indonesia.

(6)

v

ini. Terima kaksih kepada Bapak rektor UMSU dan civitas akademika lainnya yang

telah memberikan bantuan secara penuh terhadap kegiatan ini. Akhirnya,

jazakummullah khoiron katsiron

Alhamdul

Medan, 3 Agustus 2016

Ketua ALPTK PTM,

(7)

vi

No

Nama Pembahas

Lembaga

1.

Prof. Dr. Budi Murtiyasa

Universitas Muhammadiyah Surakarta

2.

Dr. Ponco Jari

Universitas Muhammadiyah Malang

3.

Dr. Sofyan Anif

Universitas Muhammadiyah Surakarta

4.

Dr. Edy Sukardi

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

5.

Dr. Anam Sutopo

Universitas Muhammadiyah Surakarta

6.

Dr. Djalal Fuadi

Universitas Muhammadiyah Surakarta

7.

Dr. Tri Kinasih Handayani

Universitas Ahmad Dahlan

(8)

vii

Pengantar Panitia

...

i

Sambutan Ketua ALPTK PTM

... iii

Daftar Pembahas

... vi

Daftar Isi

... vii

REALISASI DISIPLIN POSITIF MELALUI PEMBELAJARAN AUTENTIK DI SD

MUHAMMADIYAH 16 SURAKARTA ...

Siti Zuhriah Ariatmi, Suprihanto ... 1

PENGARUH PENGALAMAN MENGAJAR TERHADAP KOMPETENSI GURU

(LEMBAGA PENDIDIKAN NON PROFIT)

Romauli Nainggolan ... 7

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PELAKSANAAN PRAKTIKUM ANATOMI

HEWAN PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS TAHUN AKADEMIK 2013/2014

Endang Setyaningsih, Rio Taufiq Nugroho, Dwi Prasetyo ... 14

PENANAMAN NILAI MORAL ANAK USIA DINI MELALUI PENDEKATAN

COGNITIVE SOCIAL LEARNING

Alif Muarifah ... 33

MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BERBASIS ISU-ISU

KONTROVERSIAL MEDIA MASSA UNTUK MENGEMBANGKAN SIKAP DEMOKRATIS

DAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 9 SURAKARTA TAHUN 2016

Ahmad Muhibbin, Margiyono ... 44

PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DIDIK

Robie Fanreza, Munawir Pasaribu ... 55

PENDIDIKAN INKLUSIF ANAK USIA DINI

Widya Masitah ... 61

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK BERBASIS

TEKNOLOGI SESUAI DENGAN GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK

Hernawan Sulistyanto, Irma Yuliana ... 75

USE OF HEURISTIC STRATEGIES TO INCREASE THE ABILITY OF MATHEMATICAL

PROBLEM SOLVING

Uus Kusdinar ... 84

PENGGUNAAN SOFTWARE GEOGEBRA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS

(PELATIHAN UNTUK GURU-GURU SMP MUHAMMADIYAH SUKOHARJO)

Mohamad Waluyo... 90

DAMPAK STRATEGI PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP

HASIL BELAJAR

Muhammad N Kholid, Ika Rachmawati WS, Sutama ... 97

(9)

viii

USING A ROLE PLAYING STRATEGY IN COLLABORATION WITH ACTIVE DEBATE

FOR DEVELOPING LEARNING INTEREST IN CIVIC EDUCATION LEARNING PROCESS

Yulianto Bambang Setyadi, Rejeki Trismantyasi ... 119

BERPIKIR ANALOGIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH

MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA

Irwani Zawawi ... 124

MODEL PEMBELAJARAN ISICARD-MATCH UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI

AKTIF DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA

SISWA SMP

Sutan Syahrir Zabda, Siti Nurkayati ... 136

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE STAD DIKOLABORASIKAN DENGAN GALLERY WORK

Uswatun Khasanah, Harina Fitriyani ... 150

LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE EFFORTS IN MAKING FUN LEARNING

Sumaryati ... 158

GROUNDING VISION OF BUILDING PROGRESSIVE EDUCATION

Sri Tutur Martaningsih, Ika Maryani ... 164

MODEL PENGUATAN KARAKTER MELALUI PERKULIAHAN KEPRAMUKAAN

PADA MAHASISWA PPKN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU LULUSAN

Sri Arfiah, Bambang Sumardjoko, Agus Prasetyo ... 171

PENUMBUHAN BUDI PEKERTI MELALUI GERAKAN LITERASI SEKOLAH

Triwati Rahayu ... 179

EVALUASI PROGRAM ADIWIYATA DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH PEDULI

DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN DI SDN NOGOPURO YOGYAKARTA

Trikinasih Handayani ... 184

PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN STRATEGI TGT DAN NHT

TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI KEAKTIFAN PESERTA DIDIK

Sri Sutarni, Agung Rosyidi... 191

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

MATEMATIS PADA MATA KULIAH ALJABAR MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN

MODEL PEMBELAJARAN TIPE THINK TALK WRITE

Widayati ... 203

SNPT- AND KKNI-BASED CURRICULUM ORGANIZATION

Zainal Arifin, Laili Etika Rahmawati ... 212

KESULITAN-KESULITAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN RENCANA

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP) MATA PELAJARAN PENDIDKAN

KEWARGANEGARAAN (PKn) KURIKULUM 2013 DI SMP SE KOTA YOGYAKARTA

Susena, Triwahyuningsih, Supriyadi, dan Dikdik Baehaqi Arief ... 220

IDENTIFIKASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA BUKU PELAJARAN

AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR

(10)

ix

DEVELOPMENT STRATEGY OF INSTRUMENT TEST ASSESSMENT FOR

THE HIGHER ORDER THINKING STUDENTS

Laili Etika Rahmawati, Siti Kholifatul Hasanah, Anggraeni Dwi Sulistyowati ... 241

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI KINERJA LABORATORIUM

UNTUK MAHASISWA CALON PENDIDIK BIOLOGI

Billyardi Ramdhan, Syane Triwulandari, Suhendar, Aa Juhanda ... 247

ANALISIS PEMANFAATAN M-LEARNING DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI

BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI FKIP UNIVERSITAS

MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Suranto ... 257

MENCARI FORMAT BARU PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA PADA

ERA GLOBALISASI

Ahmad... 265

ONLINE SOCIAL MEDIA AMONG STUDENTS

Moh. Chairil Asmawan ... 277

METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI RAUDHATUL ATHFAL/TAMAN

KANAK-KANAK

Zulkarnein Lubis ... 283

PROFILE OF DAILY TEST SENIOR HIGH SCHOOL BIOLOGY TEACHER MADE OF

MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA IN 2015/2016 ACADEMIC YEAR

Hariyatmi, Fitri Marsiyah ... 295

PEMBELAJARAN BERBASIS EDUTAINMENT UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN

BELAJAR SISWA

Juli Maini Sitepu ... 304

PENGELOLAAN KELAS BERBASIS MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL DALAM

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR MAHASISWA DALAM

PEMBELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1

Titik Asmawati, Roro Yayuk Fitrianingrum, Novita Elysia ... 311

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR STATISTIKA BERBASIS INFORMATION AND

COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT)

Hamidah Suryani Lukman, Astri Sutisnawati ... 318

DESAIN DAN PERENCANAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

TINGKAT SEKOLAH DASAR

Indra Prasetia ... 326

PARADIGMA PENDIDIKAN BERPENCIRI SEBAGAI PILAR PENDIDIKAN BEREPUTASI

DALAM MENGHADAPI TANTANGAN KOMPUTASI-INFORMASI-KOMUNIKASI GLOBAL

Harun Joko Prayitno ... 334

EVALUASI PELAKSANAAN KELAS UNGGULAN DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

FISIKA UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA

Dian Artha Kusumaningtyas, Eko Nursulistiyo ... 341

PEDAGOGI HARAPAN: TELAAH PADA PENDIDIKAN DI INDONESIA

(11)

x

INTERPERSONAL COMMUNICATION OF THE PRINCIPAL AS EFFORTS TO DEVELOP

CHARACTER EDUCATION

Achmad Fathoni , Anatri Desstya ... 359

PENGUATAN IDENTITAS MAHASISWA CALON TENAGA PENDIDIK

MUHAMMADIYAH

Wahdan Najib Habiby ... 366

ANALISIS KESESUIAN INSTRUMEN SUMATIF DENGAN TUJUAN KOGNITIF

PEMBELAJARAN MATA KULIAH EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR DI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

Nani Aprilia ... 372

BUILDING THE CHARACTER OF ENTREPRENEURSHIP FOR PRE-SCHOOL

STUDENTS THROUGH SCIENCE

LeonitaSiwiyanti ... 377

TAHAPAN DAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN BELAJAR SISWA

SEKOLAH DASAR (UPAYA PEMAKNAAN DEVELOPMENT TASK)

Ichsan Anshory AM, Erna Yayuk, Dyah Worowirastri E ... 383

KAN LINGKUNGAN

BELAJAR YANG MENYENANGKAN

Aryati Prasetyarini ... 390

IMPLEMENTASI PROGRAM ADIWIYATA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

DI KOTA YOGYAKARTA

Novi Febrianti, Nani Aprilia... 396

MODEL PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK SEKOLAH DASAR BERBASIS TEORI

PERKEMBANGAN ANAK

Muhammad Abduh, Murfiah Dewi Wulandari ... 403

MEMBANGUN KARAKTER SISWA MELALUI PEMBELAJARAN HUMANIS RELIGIUS

DI SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS KOTTABARAT SURAKARTA

Minsih ... 412

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AKTIF,

INOVATIF , KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAIKEM)

Hotma Siregar ... 420

PENDIDIKAN MEMANDIRIKAN DAN MENDEWASAKAN PADA SEKOLAH

BERBASIS AGAMA ISLAM MELALUI KURIKULUM 2013

Jamila ... 429

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MAHASISWA MELALUI

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENILAIAN AUTENTIK PADA

MATAKULIAH ANALISA KOMPLEKS

Zainal Azis ... 439

MODEL PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KOMBINASI STRATEGI

EVERYONE IS A TEACHER HERE DENGAN ANSWER GALLERY PADA

PEMBELAJARAN PPKNDI SMP MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA TAHUN 2016

(12)

xi

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN

BIOLOGI UAD MELALUI MODEL BELAJAR PROBLEM BASED LEARNING PADA

MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN

Trianik Widyaningrum ... 457

PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) PADA TEKS

NEGOSIASI

Roni Sulistiyono ... 464

DISIPLIN POSITIF; MEMBENTUK KARAKTER TANPA HUKUMAN

Nur Hidayat, Danarti, Sri Darwati ... 471

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN INKLUSI BAGI PESERTA DIDIK ABK DI

MI MUHAMMADIYAH PK KARTASURA

Saring Marsudi, Winda Hastuti ... 478

PENGENALAN URBAN HEAT ISLAND PADA PESERTA DIDIK SEBAGAI UPAYA

MITIGASI BENCANA KLIMATOLOGIS DI KOTA SURAKARTA

Siti Azizah Susilawati, Baharudin Syaiful Anwar, Nanda Khoirunisa ... 486

ANXIETY : APA DAN BAGAIMANA?

Dwi Astuti... 495

KEEFEKTIFAN MODEL PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BIOLOGI

PASCA SERTIFIKASI BERBASIS PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

(PKB) DI KARESIDENAN SURAKARTA

Sofyan Anif ... 500

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA CALON

GURU MELALUI PEMBELAJARAN INVESTIGASI

Harina Fitriyani, Uswatun Khasanah ... 511

METODE STORYTELLING SEBAGAI TINDAKAN PREVENSI KEKERASAN SEKSUAL

PADA ANAK

Choiriyah Widyasari ... 519

PENDIDIKAN KARAKTER SEJAK USIA DINI YANG MENYENANGKAN

Ijah Mulyani Sihotang ... 527

PERAN PENDIDIK SEBAGAI ROLE MODEL DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER

PESERTA DIDIK

Pirman Ginting ... 532

PENERAPAN CLASSROOM LANGUAGE DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

INGGRIS DI SMP

Mandra Saragih ... 538

PENDIDIKAN USIA DINI MELALUI AGAMA DAN SASTRA

Winarti ... 543

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PERSPEKTIF PRAGMATIK

Andi Sadapotto, Muhammad Hanafi ... 548

ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTERMATA KULIAH ANALISIS

KURIKULUM DAN MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA

(13)

xii

MEDIA DIORAMA DAN SEMPOA (DIOPOA) PADA MATERI PENGOLAHAN DATA

Yulia Maftuhah Hidayati, Fitri Kurniawan, Muhammad Ryan Ikhsanudin ... 565

TENGAH

Suharjo, Puji Lestari, Muhammad Khanif... 570

PERAN PERMAINAN MUSIK FEELING BAND TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSI

ANAK

Junita Dwi Wardhani, M.Ed ... 578

PEMBELAJARAN MODA DALAM JARINGAN (MODA DARING)

Mhd. Isman ... 586

PENGGUNAAN MEDIA KOMIK MELALUI METODE LEARNING STARTS WITH A

QUESTION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Henny Zurika Lubis dan Rodiatul Hasanah ... 589

INTERNASIONALISASI PERGURUAN TINGGI; STUDI MULTISITUS PADA

PERGURUAN TINGGI ISLAM DI YOGYAKARTA

Djalal Fuadi ... 594

MENINGKATKAN ENGAGEMENT SISWA SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR

M. Fahmi Johan Syah ... 608

ANALISIS TENTANG ANAK HIPERAKTIF DAN UPAYA MENGATASINYA

PADA SISWA KELAS III SD MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA TAHUN

AJARAN 2015/2016

Putri Pangesti Rahayu, Suwarno ... 612

EFEKTIVITAS PENILAIAN TERJEMAHAN KARYA SASTRA:

PERSPEKTIF FUNGSIONAL

Anam Sutopo ... 617

KAJIAN KEMANDIRIAN SEKOLAH DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH

(14)

KESULITAN-KESULITAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP) MATA

PELAJARAN PENDIDKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) KURIKULUM

2013 DI SMP SE KOTA YOGYAKARTA

Susena, Triwahyuningsih, Supriyadi, dan Dikdik Baehaqi Arief

Program Studi PPKN FKIP UAD

[email protected]

Civic Education designed as a subject in school, includes the dimensions of cognitive, affective, and psychomotoric, that are confluent or mutual penetration and integrated within the context of the substance of ideas, values, concepts and moral. In praxis, there are many constraints and limitations. There are indications: Civics teacher competency lack of understanding and sometimes confused in developing the teaching learning process. The teaching learning process is less interesting, so boring learning activities for students, etc. This study is aimed to map the problems, particularly regarding to the difficulties of teachers in developing learning tools of civics in school. This research is survey research (exploration) that took the subject of Civics teacher at Junior High School (SMP), which is located in the city of Yogyakarta. The data are collected by distributing questionnaires to be filled by the Civics teachers. Data analysis was performed through the stages of data collection and analysis using the methods of inductive logical thinking, interpret a phenomenon that comes from the perception of teachers, and connect with one another in order to obtain a systematic description of the problem. The results showed that the Civics teacher at junior high schools in the city of Yogyakarta, has difficulties making lesson plan (RPP) based on 2013 curriculum. Difficulties preparing RPP may include: (1) administrative difficulties in the process and the lack of mastery of the development principle; (2). Teachers have difficulties in reviewing the syllabus, identification of learning materials, define and formulate learning objectives, the development of learning activities, elaboration of assessments, and allocation of time, as well as a source of learning.

Keywords: difficulty teachers; Civics lesson plan.

ABSTRAK: Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dirancang sebagai mata pelajaran di sekolah, memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psikhomotorik, bersifat konfluen atau saling penetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral. Dalam praksis/pelaksanaannya banyak mengalami kendala dan keterbatasan, diantaranya terdapat indikasi-indikasi: kompetensi guru PKn yang nampak kurang paham dan kadang mengalami kebingungan dalam mengembangkan pembelajarannya, kurang menariknya kegiatan pembelajaran sehingga membosankan siswa, dsb. Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan diskripsi tentang peta permasalahan, khususnya mengenai kesulitan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di sekolah. Jenis nelitian ini termasuk penelitian survey (eksplorasi) yang mengambil subyek para Guru PKn di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berlokasi di kota Yogyakarta. Data dihimpun dengan cara menyebarkan kuesioner untuk diisi oleh para guru pengasuh mata pelajaran PKn. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan dan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara berfikir logis induktif, memaknai suatu gejala yang bersumber dari persepsi guru, dan menghubungkan satu dengan lainnya sehingga diperoleh suatu diskripsi yang sistamtis mengenai permasalahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru PKn pada SMP-SMP di kota Yogyakarta tidak terlepas dari berbagai kesulitan yang bervariasi dalam menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) mata pelajaran PKn berbasis Kurikulum 2013. Kesulitan-kesulitan menyusun RPP yang dimaksud meliputi: (1) Kesulitan administrasi pada proses dan lemahnya penguasaan prinsip-prinsip pengembangan; (2). Kesulitan guru dalam menentukan langkah-langkah mengkaji silabus, identifikasi materi

220

220

(15)

pembelajaran, menentukan dan merumuskan tujuan pembelajaran, pengembangan kegiatan pembelajaran, penjabaran jenis penilaian, dan alokasi waktu, serta sumber belajarnya.

Kata kunci: kesulitan guru; rencana pelaksanaan pembelajaran PKn.

PENDAHULUAN

PKN dirancang sebagai mata

pelajaran yang memuat dimensi-dimensi

kognitif, afektif, dan psikhomotorik

terintegrasi dalam konteks substansi ide,

nilai, konsep dan moral. Sesuai tujuan PKn

untuk keperluan pembentukan warga negara

yang baik

(to be good citizen),

banyak pihak

berharap PKn menjadi pionir dalam

nation

and character building),

dan lagi

belakangan ini disebut-sebut pula sebagai

mata pelajaran yang syarat dengan misi

pendidikan karakter. Dalam realitasnya,

implementasi pembelajaran PKn pada

berbagai jenis dan jenjang pendidikan

sekolah, menghadapi banyak kendala dan

keterbatasan sehingga pembelajaran PKn

selama ini terkesan konvensional, lebih

menekankan

dimensi

kognitif,

pengelolaannya belum kondusif, belum

produktif,

dan

belum

memberikan

kontribusi teoritis maupun praktek-praktek

pembiasaan perilaku anak didik.

pembelajaran dan penilaian dalam PKn

lebih

menekankan

pada

dampak

instruksional

(instructional effects)

yang

terbatas pada penguasaan materi (content

mastery) atau dengan kata lain hanya

(Dasim Budimansyah, 2010:142)

Idealnya pembelajaran PKn dapat

menggerakkan minat dan aktivitas peserta

didik. Skenario pembelajaran PKn disusun

untuk dapat melatih anak dalam

mengembangkan

pengetahuan

(civic

knowledge)

sehingga anak suka berfikir

kritis, mengembangkan aspek afektif untuk

menumbuhkan komitmen atau kepedulian

(civic disposition),

dan mengembangkan

kemampuan partisipatif

(civic skill)

dalam

menghadapi berbagai masalah kehidupan

masyarakat bangsa dan negara

,

Pilihan

strategi, metode dan teknik pembelajaranya

hendaknya selektif dan dikembangkan

sesuai tujuan serta bahan ajar yang logis

dan realistis bagi kehidupan anak didik.

Dalam praksisnya pada umumnya skenario

pembelajaran PKn di sekolah-sekolah masih

memperlihatkan model konvensionalnya,

sebagai

ada nya, belum atau tidak

dirancang dengan inovasi-inovasi baru oleh

para guru.

Pembaharuan kurikulum berkaitan

dengan kompetensi guru. Gejala kurang

sehatnya praksis pembelajaran di

sekolah-sekolah termasuk dalam hal ini menyangkut

pembelajaran PKn, oleh pemerintah

direspon dengan memperbaharui kurikulum.

Upaya pembaharuan dilakukan secara

besar-besaran Kurikulum KTSP diperbaharui

dengan Kurikulum 2013.

Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional,

pemerintah mengagendakan aksi terkait

dengan kurikulum berupa penataan dan dan

(Harian Kompas, 19 Sep 2014: 6).

Perbedaan utamanya, bahwa kurikulum

2013 berbasis pada pembelajaran saintifik.

kurikulum sebelumnya, yaitu: pendekatan

Nov.2014). Dalam kaitannya dengan

perubahan ini, persoalan utamanya adalah

kesulitan yang dialami guru. Dilansir oleh

harian Kompas,

khirnya guru

menjadi bingung, meraba-raba bak berjalan

di tempat gelap. Diklat kurikulum tak selalu

menambah paham hanya menambah materi

ke sekolah. Diklat perlu ditingkatkan

mutunya, sebaliknya pendampingan formal

administrasi dikurangi karena memberatkan.

Kami semakin repot melayani permintaan

data dan mengisi instrument dari berbagai

pihak . (Lily Halim, Kompas, 26 November

2014:6). Dalam kenyataan, perubahan

kurikulum tidak diikuti kesiapan guru.

total 2,4 juta guru SD, SMP, SMA, SMK,

sebanyak 1.397.000 guru diantaranya telah

dilatih untuk menjalankan kurikulum 2013.

Meski demikian, di lapangan, guru tetap

dituntut untuk lebih proaktif dalam

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

221

The Progressive and Fun Education Seminar

221

The Progressive and Fun Education Seminar
(16)

Kurikulum 2013. (Kompas, 9 September

2014:10). Persoalan ini dialami pula oleh

para guru PKn. Pengembangan

model-model pembelajarannya, baik dalam

perencanaan

maupun

pelaksanaannya

menemui masalah.

PKn dipersepsikan sebagai salah

satu mata pelajaran yang syarat dengan

nilai-nilai karakter yang penting untuk

mendorong siswa mengenal dirinya sebagai

makhluk sosial. PKn sebagai pendidikan

karakter, memiliki substansi pengetahuan

yang sangat urgen untuk membangun cara

berfikir, bersikap dan berbuat, yang

mendorong

siswa

mengembangkan

kemampuan diri sendiri dan dalam

berinteraksi sosial. Secara langsung PKn

dapat menumbuhkan kesadaran menjadi

warga negara yang baik, yakni memiliki

pengetahuan, komitmen dan kecakapan

yang dilandasi nilai-nilai kebangsaan dan

berjiwa patriotis, dsb. Dalam prakteknya,

PKn yang diunggulkan/dianggap bisa

mengatasi krisis bangsa, tetapi cenderung

diremehkan oleh banyak pihak. diantaranya,

bahwa mata pelajaran PKn tidak menjadi

mata pelajaran yang diujikan secara nasional

menjadi kendala dalam pembentukan

karakter siswa. Salah satu akibatnya adalah

kurangnya perhatian dari peserta didik

maupun pihak penyelenggara sekolah.

Terlepas dari pro dan kontra efektifitas ujian

nasional itu, banyak para peserta didik

maupun pihak sekolah memandang bahwa

mata pelajaran yang di ujikan secara

nasionallah yang lebih mendapatkan

penekanan, sehingga banyak para peserta

didik menganggap PKn kurang penting

dibandingkan mata pelajaran yang diujikan

secara nasional.

Dari sejumlah masalah diantaranya

adanya pembelajaran PKn yang pada

umumnya masih menekankan aspek

kognitif, praksis pembelajarannya yang

konvensional,

tidak

kondusif/tidak

produktif,

banyak

guru

kurang

paham/kebingungan

dalam

sistem

pembelajaran, PKn yang dirasakan kurang

menarik para siswa, dsb. Tulisan ini

mencoba mengungkap kesulitan-kesulitan

guru dalam mengembangkan pembelajaran

PKn. Mengingat luasnya permasalahan,

tulisan ini membatasi diri dalam

pengungkapan masalah, yakni pada sekitar

kompetensi guru penyusunan perencanan

pembelajaran, khususnya dalam hal

penyusunan

Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) PKn SMP-SMP di kota

Yogyakarta, sehingga masalahnya dapat

dirumuskan sbb.: Dalam mengembangkan

pembelajaran PKN khususnya dalam hal

penyusunan RPP PKn, apa

kesulitan-kesulitan guru ?

Penelitian ini bertujuan untuk

mendapatkan diskripsi tentang peta

kedalaman dan keluasan permasalahan

kesulitan-kesulitan

guru

dalam

mengembangkan pembelajaran PKn di

sekolah.

PKn penuh dengan muatan

nilai-nilai afektif/moral untuk keperluan

pembentukan warga negara yang baik

(to be

good citizen).

PKn memiliki dimensi luas.

Dasim (2010:141) mengemukakan bahwa

konfigurasi atau kerangka sistemik PKN

dibangun di atas tiga paradigma, yakni

pardigma

kurikuler,

teoritik,

dan

programatik, yakni:

1.

PKn secara kurikuler dirancang sebagai

subyek pembelajaran yang bertujuan

mengembangkan potensi indiividu agar

menjadi warga negara yang berakhlak

mulia, cerdas partisipatif, dan

bertanggung jawab

2.

PKn secara teoritik dirancang sebgai

subyek pembelajaran yang memuat

dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan

psikomotorik yang bersifat konfluen

atau saling penetrasi dan terintegrasi

dalam konteks substansi ide, nilai,

konsep

dan

moral

Pancasila,

kewarganegaraan yang demokratis, dan

bela Negara

3.

PKn secara programatik dirancang

sebagai subyek pembelajaran yang

menekankan pada isi yang mengusung

nilai-nilai (

content-embedding values

)

dan pengalaman belajar (

learning

experiences

)dalam bentuk berbagai

222

222

(17)

perilaku yang perlu diwujudkan dalam

kehidupan sehari-hari.

Sebagai sebuah mata pelajaran

disekolah, guru memiliki peran yang

utaama, sehingga diperlukan kompetensi

keahlian dan keprofsian. Pada dimensi

kompetensi professional atau akademik,

kemampuan guru dapat diamati dari

aspek-aspek berikut ini:

1.

Menguasai materi, struktur, konsep,

dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran yang

diampu

2.

Menguasai standar kompetensi dan

kompetensi

dasar

mata

pelajaran/bidang pengembangan yang

diampu.

3.

Mengembangkan materi pelajaran

yang diampu secara kreatif.

4.

Mengembangkan keprofesian secara

berkelanjutan dengan melakukan

tindakan reflektif.

5.

Memanfaatkan teknologi informasi dan

komunikasi untuk berkomunikasi dan

mengembangkan

diri.

(PLPG,

2012:30)

Sesuai Perpres Nomor 5 Tahun

2010 Tentang Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Nasional, pemerintah

mengagendakan berupa penataan dan

penyempurnaan kurikulum yang ada.

Kurikulum PKn juga mengalami perubahan,

yakni dari kurikulum KTSP 2006 menjadi

Kurikulum 2013. Perubahan kurikulum

membawa pengaruh besar terhadap proses

Kritik atas

pelaksanaan kurikulum 2013 antara lain

pendekatan integrative yang digunakan

dalam kurikulum yang memadukan materi

tentang spiritual, sikap social, pengetahuan

Kompas,19 Sep 2014:

6).

Sebagai mata pelajaran di sekolah

setiap proses pembelajaran memerlukan

perencanaan. Demikian pula setiap guru

PKn dituntut memiliki kemampuan

menyusun perencanaan pembelajaran.

pendidikan

berkewajiban

menyusun

Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara

Permendiknas No. 41/2007 tentang standar

Proses disebutkan:

Perencanaan proses pembelajaran

meliputi silabus dan renccana

pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang

memuat identitas mata pelajaran,

Standar Kompetensi, Kompetensi

Dasar (KD), indicator pencapaian

kompetensi, tujuaan pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, materi ajar,

alokasi waktu, metode pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, penilaian hasil

belajar, dan sumber belajar.

Jadi seorang guru, termasuk guru

mata pelajaran PKn dituntut untuk memiliki

kompetensi

menyusun

perencanaan

pembelajaran

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam jenis

penelitian

survey,

yang

bertujuan

mengidentifikasikan sejumlah kesulitan

guru dalam mengembangkan pembelajaran

PKn di SMP yang didiskripsikan secara

kualitatif.

Pemilihan lokasi penelitian di

seluruh SMP Kota Yogyakarta memiliki

pertimbangan

bahwa

sekolah-seolah

dimaksud dapat dijadikan parameter untuk

melihat

permasalahan

pengembangan

pembelajaran PKn, karena memiliki

aksesibilitas yang relatif tinggi, sebagian

besar telah melaksanakan Kurikulum 2013,

dan tingkat permasalahan yang dihadapi

relatif lebih kompleks. Penelitian dilakukan

selama kurang lebih dua bulan, yakni Juni

dan Juli 2015.

Objek penelitian ini berupa

pengamatan tentang kesulitan-kesulitan

perencanaan pengembangan pembelajaran

PKn SMP berbasis Kurikulum 2013 pada

SMP sebagai obyek penelitian dapat dirinci,

yakni meliputi kesulitan-kesulitan dalam

hal: (1) Perumusan Tujuan; (2) Pemilihan

Strategi / Metode ( Model/ Startegi / Metode

/Teknik)

Pembelajaran

PKn;

(3)

Pengembangan Bahan Ajar dan sumber

belajar; (4) Skenario pembelajaran

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

223

The Progressive and Fun Education Seminar

223

The Progressive and Fun Education Seminar
(18)

(Saintifik); (5) Pemilihan media; dan (6)

Penilaian Pembelajaran

Subjek penelitian meliputi semua

guru PKn di seluruh SMP se Kota

Yogyakarta baik sekolah negeri maupun

swasta yang masih melaksanakan kurikulum

KTSP

maupun

Kurikulum

2013.

Pengumpulan data dilakukan dengan

kuessioner dan dokumentasi. Peneliti

berhasil menghimpun data dari 30 orang

guru PKn. Dokumentasi terutama berupa

catatan/data tentang dokumen pembelajaran

(RPP), latar belakang sosial dan pendidikan

para responden.

Analisis data dilakukan dengan

memberikan makna atas gejala-gejala yang

ditemukan, dihubungkan satu dengan

lainnya hingga diperoleh informasi

pengetahuan

yang

utuh/konseptual

(diskriptif). Diskripsi dimaksud berupa peta

permasalahan pengembangan pembelajaran

PKn yang dibangun melalui cara berfikir

logis induktif bersumber pada persepsi atau

pendapat subyek dan gejala yang

teridentifikasi.

PEMBAHASAN

1.

Proses

Penyusunan

Rencana

Pembelajaran

Penyusunan

RPP

mata

pelajaran PKn pada SMP-SMP di Kota

Yogyakarta, dilakukan pada awal

semester oleh sebagian besar (25

orang) guru dan sebagian (16 orang)

lainnya pada awal tahun. Kesulitan,

terutama adanya: materi yang terlalu

banyak, kesulitan membagi waktu,

menentukan kedalaman ranah tujuan,

dan mengembangkan pendekatan dan

metode pembelajaran, dan hanya ada

dua orang guru yang merasa tidak

mengalami kesulitan di atas.

Terdapat sebagian besar (28

orang) guru menyusun RPP secara

mandiri, sebagian (10 orang) lainnya

secara kelompok melalui MGMP PKn,

dan sebagian lainnya menyusun secara

mandiri dan secara kelompok.

Kesulitan-kesulitan

yang

dapat

ditemukan

meliputi:

menyusun

penilaiannya, ada tambahan muatan

materi dari Yayasan, sisipan terkait

gejala alam, menentukan RPP yang

cocok

dengan

siswa,

dan

perkembangan materi ajar.

Dalam hal dilakukannya

supervisi terhadap RPP, sebagian besar

(20 orang) guru PKn yang menjawab

bahwa RPP selalu dilakukan supervisi,

lainnya (6 orang) mengatakan RPP

tidak disupervisi, dan (4 orang) tidak

berpendapat. Dari hasil supervisi RPP

dapat ditemukan ada RPP yang tidak

sesuai/selaras

dengan

silabus.

Kesulitan-kesulitannya,

diantaranya

karena alasan: Guru bidang studi PKn

membuat

RPP

hanya

sendiri,

Supervisor sibuk sehingga fungsi

pembinaan

pengawalan

berjalan

kurang optimal, Kepala Sekolah

tidak/belum tentu menguasai materi,

Dalaam hal terrakhir ini bisa dipahami

bahwa secara fungsional pimpinan

sekolah kiranya cukup menguasai

prinsip umum saja, karena tidaklah

mungkin kepala sekolah yang juga

sebagai guru suatu bidang studi dapat

menguasai semua materi mata

pelajaran.

Dari

sisi

supervisi

membutuhkan metode alternatif yang

bisa mengatasi keterbatasan, seperti

menyampaikan

laporan

hasil

penyusunan RPP secara berkelanjutan.

2.

Prinsip

Pengembangan

Rencana

Pembelajaran

Seluruh guru menyusun RPP

berdasarkan silabus dari Kemendikbud

RI, yakni menurunkan dari silabus.

Kesulitan utamanya adalah silabus

sering berubah-ubah. Muatan lokal

tidak mendapatkan tempat, atau guru

tidak bisa memasukkan muatan lokal,

karena materi sudah sangat padat.

Menyusun

RPP

dengan

mempertimbangkan kebutuhan anak

didik, dilakukan sebagian besar (21

orangg) guru, tetapi (5 orang) lainnya,

RPP tidak mempertimbangkannya.

Kesulitan guru adalah: menghadapi

tingkat kemampuan anak

berbeda-224

224

(19)

beda, kebutuhan anak heterogen, waktu

yang tersedia, karakter kelas belum

nampak, latar belakang siswa, imtak

siswa beragam, perbedaan lokasi,

menentukan RPP yang cocok dengan

setiap siswa, sulit/tidak mudah

membuat RPP dengan memperhatikan

individu siswa.

Menyusun RPP dengan prisip

dapat mendorong partisipasi aktif siswa

dilaksanakan sebagian besar (28 orang)

guru, tetapi ada (2 orang) guru yang

tidak memperhatikan prisip tersebut.

Kesulitan guru adalah menghadapi

kenyataan bahwa tidak semua siswa

dapat aktif, motivasi anak berbeda,

siswa pemalu, dan tidak mudah

menghafal anak.

Menyusun RPP dengan prinsip

menumbuhkan budaya membaca dan

menulis, dilakukan mayoritas guru.

Hanya ada sebagian kecil (3 orang)

belum

mempraktekkannya.

Kesulitannya meliputi: guru yang

tidak/belum mampu membudidayakan

membaca, anak malas membaca dan

menulis, alokasi waktu kurang, tata

bahasa penulisan perlu ditingkatkan,

literatur terbatas, kurang kreaktifnya

anak, tingkat partisipasi siswa berbeda,

dan anak kurang tanggap.

Menyusun RPP yang memuat

kesempatan tindak lanjut, perbaikan

proses dan hasil belajar siswa,

Sebagian besar guru PKn di wilayah

Yogyakarta belum mempertimbangkan

prinsip ini. Hanya ada sedikit (7 orang)

guru saja yang mepertimbangknnya.

Kesulitan mengimplikasikan prinsip

ini, ditemukan adanya siswa kurang

perhatian,

kemampuan

siswa,

menganalisa hasil, siswa mudah bosan

mengulang materi yang sama, tidak

semua siswa langsung dapat mengerti

tentang materi-materi karena masing

individu mempunyai daya tanggap

yang berbeda-beda. Dalam hal ini,

sebaiknya dirancang pembelajaran

perbaikan. Diperoleh data, sebagian

besar (24 orang) guru menggunakan

waktu jam pelajaran untuk perbaikan

pembelajaran, sebagian (13orang) lagi

di luar jam pelajaran. Dalam

menggunakan jam pelajaran untuk

perbaikan pembelajaran, kesulitannya

adalah keterbatasan waktu, alokasi

waktu, dan ketersediaan waktu yang

kurang sehingga mengurangi jam

KBM, dan sering berbenturan dengan

jam mata pelajaran lain. Kesulitan jika

perbaikan di luar jam pembelajaran,

sering berbenturan dengan jadwal

siswa yang padat, baik les mata

pelajaran lain maupun kegiatan ekstra

kurikuler, dan les di luar sekolah.

RPP yang disusun berkaitan

dengan KI dan KD terpadu, materi,

kegiatan, penilaian, dan sumber belajar

dalam satu keutuhan pengalaman

belajar sudah dilakukan oleh sebagian

besar (27 orang) guru, dan sebagian

kecil (3 orang) guru saja yang belum

memperhatikannya.

Kesulitannya

berupa: belum memahami karena baru

satu semester, merasa perlu waktu

panjang untuk memahami kurikulum

2013, peserta berbeda satu sama lain

kemampuannya

karena

inputnya

beragam, sehingga dengan pendekatan

berbagai cara kemampuan siswa

ditingkatkan, sangat membutuhkan

waktu, tenaga, pikiran dan kreativitas

guru.

RPP yang disusun dengan

prinsip

untuk

mengkondisikan

pembelajaran tematik telah dilakukan

oleh guru sebagian (19 orang) guru,

sebagian yang lain belum menerapkan

prinsip diatas. Beberapa kesulitannya

adalah materi yang terlalu luas,

kemampuan siswa kurang, sulit

merancang mengajak siswa dalam

proses.

Menyusun

RPP

telah

mempertimbangkan

penggunaan

Teknologi Informasi dan Komunikasi

(TIK) telah dilakukan mayoritas (27

orang) guru PKN, hanya beberapa (3

orang)

guru

yang

belum

mempertimbangkannya.

Adapun

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

225

The Progressive and Fun Education Seminar

225

The Progressive and Fun Education Seminar
(20)

kesulitannya adalah disiplin mencari

sumber materi pembelajaran masih

rendah sehinga siswa masih perlu

dipacu.

3.

Langkah-langkah

Pengembangan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

a.

Mengkaji Silabus

Mengkaji silabus sebelum

menyusun RPP telah dilakukan

sebagian besar (28 orang) guru,

hanya ada dua orang guru yang

tidak mengkaji silabus terlebih

dahulu sebelum menyusun RPP.

Langkah-langkah

pembelajaran

dalam RPP meliputi:

1)

Mengamati

Sebagian besar (26

orang) guru telah menerapkan

kurikulum

2013

sesuai

tahapannya, pertama yaitu

mengamati, namun demikian

ada 4 guru yang belum

melakukan tahapan pertama ini.

Kesulitannya:

Kurikulum

masih KTSP, siswa kurang

konsentrasi,

menyiapkan

gambar yang akan diamati

peserta didik, mengembangkan

tayangan yang selalu dituntut

menarik, persiapan dan waktu,

adang-kadang saja, media

pembelajaran terbatas, perlu

waktu untuk menyiapkan, dan

guru kurang memahami.

2)

Menanya

Merancang

RPP

dengan melaksanakan tahapan

kedua, yaitu menanya sebagian

besar (26 orang) guru telah

melaksanakan, hanya sebagian

kecil (4 orangg) guru yang

tidak menggunakan tahapan

kedua ini. Kesulitan-kesulitan

yang didapatkan adalah masih

menggunakan KTSP, Siswa

Ragu, menyusun kalimat yang

mudah dimengerti, siswa masih

malu, pertanyaan tidak sesuai,

mendorong siswa bertanya,

3)

Mengumpulkan Informasi

Menerapkan langkah

mengumpulkan informasi dam

penyusunan

RPP

sesuai

kurikulum

2013

telah

dilakukan oleh sebagian besar

(26 orangg) guru, dan (4

orangg)

lainnya

belum

menerapkan langkah ketiga ini.

Kesulitan-kesulitan

yang

didapatkan

di

lapangan

meliputi: Masih KTSP, jika

memakai internet lama, siswa

kurang minat, harus dengan

waktu cukup, literatur yang

memadai, siswa kurang aktif

karena banyak masalah, perlu

koordinasi siswa, monoton,

komplek, dan terbatasnya

informasi.

4)

Mengolah Informasi

Pengembangan RPP

berdasarkan kurikulum 2013

menerapkan tahap ke empat

adalah mengolah informasi

terdapat sebagian besar (26

orang) guru yang telah

melakukannya, hanya sedikit (4

orang)

yang

belum

menerapkannya. Kendalanya

masih KTSP, kemampuan

siswa kurang, dibutuhkan

partisipasi setiap siswa, perlu

koordinasi dengan siswa,

mengkoordinasi

siswa,

menganalisis hasil.

5)

Mengkomunikasikan

informasi hasil belajar

Pengembangan RPP

sesuai

kurikulum

2013

menerapkan tahap ke lima,

yakni

mengkomunikasikan

informasi hasil belajar, telah

dilakukan sebagian besar (26

orang) guru, dan sedikit (4

orang) guru yang tidak

merancang

tahapan

ini.

Kesulitan yang ditemukan

adalah

sekolah

masih

menggunakan

KTSP,

kurangnya keberanian dan

226

226

(21)

partisipasi

siswa,

diskusi

monoton, kemampuan siswa

kurang, anak kurang tanggap.

b.

Mengidentifikasi

Materi

Pembelajaran

Langkah identifikasi materi

pembelajaran yang menunjang KD

dalam

pengembangan

RPP

diperoleh data bahwa bahwa

sebagian besar (28 orang) guru

telah melakukannya, hanya ada

sedikit (2 orang) guru yang tidak

melakukan identifikasi materi

pembelajaran. Kesulitan yang

dialami guru, yakni waktu tdak

memadai, buku-buku penunjang

kurang lengkap, dampaknya materi

singkat.

Sedangkan dalam proses

memilih materi pembelajaran

dengan

memperhatikan

pertimbangan-pertimbangan

potensi siswa, budaya asal, dan

lingkungan sebagian besar (24

orang)

guru

telah

melaksanakannya,

sedangkan

sedikit (6 orang) saja lainnya yang

tidak

mempertimbangkan.

Kesulitan

yang

menyertai,

diantaranya: anak kurang lengkap,

peserta didik sangat heterogen,

ketersediaan bahan sesuai waktu,

mengukur kondisi karakter peserta

didik,

tidak

mudah

untuk

memenuhi potensi setiap anak,

lingkungan kurang mendukung,

banyak peserta didik dari keluarga

broken sehingga sulit untuk

memilih materi,

Secara standar proses

bersifat keheterogenan input adalah

suatu realitas tetapi dalam proses

justru

diarahkan

mengalami

perubahan sehingga out put sesuai

SK dan KD.

c.

Menentukan Tujuan

Menentukn

tujuan

pembelajaran untuk setiap KD pada

setiap pertemuan dalam RPP,

terdapat sebagian besar (27 orang)

guru, dan terdapat 4 orang guru

yang

tidak

menentukan

pembelajaran untuk setiap KD pada

setiap

pertemuan.

Hal

ini

disebabkan adanyya kegiatan tatap

muka berkelanjutan, sehingga tiap

KD tidak harus ditetapkan kegiatan

pembelajarannya dalam RPP.

Menyusun RPP dengan

menetukan tujuan mengacu pada

indikator, sebagian besar (26 orang)

guru yang telah menentukan tujuan

mengacu pada indikator, sedangkan

sedikit (4 orang) lainnya tidak

demikian. Kesulitannya terutama

karena kesempatan terbatas.

1)

Merumuskan Tujuan

Pembelajaran

Dalam merumuskan tujuan

guru menyebutkan:

a)

Peserta didik (

Audience

)

Sebagian besar (24

orang) guru merumuskan

tujuan pada RPP yang

menyebutkan peserta didik,

sedangkan sedikit lainnya

tidak

menyebutkannya.

Kesulitan yang dialami

guru adanya fakta bahwa

tiap

kelas

berbeda

kemampuan anak.

b)

Aspek kemampuan peserta

didik (

Behavior

)

Sebagian besar (24

orang) guru merumuskan

tujuan

pembelajaran

dengan

menyebutkan

aspek kemampuan peserta

didik, sedikit (4 orang)

lainnya tidak menyebutkan

aspek kemampuan peserta

didik dalam merumuskan

tujuan pembelajaran, dan

tidak ditemukan data

kesulitannya

c)

Pesyaratan (

Condition

)

Dalam merumuskan

tujuan

pembelajaran

sebagian besar (21 orang)

guru telah menyebutkan

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

227

The Progressive and Fun Education Seminar

227

The Progressive and Fun Education Seminar
(22)

persyaratan

(condition),

sementara sebagian (7

orang)

lainnya

tidak

menyebutkan persyaratan

tersebut.

d)

Ukuran tingkat

keberhasilan (

Degree

)

Sebagian besar (26

orangg)

guru

telah

merumuskan

tujuan

dengan

menyebutkan

ukuran

tingkat

keberhasilan dalam RPP,

terdapat sedikit (2 orang)

guru

yang

tidak

menyebutkan

ukuran

tingkat keberhasilan dalam

merumuskan

tujuan

pembelajaran.

Adapun

kesulitannya

adalah

kemampuan setiap peserta

didik

berbeda-beda

sehingga perlu

diulang-ulang, potensi peserta didik

kurang,

ukuran

pada

penillaian sangat rumit.

Pada dasarnya perbedaan

apapun dalam proses

pembelajaran

dipersyaratkan pada akhir

proses

pembelajaran

memiliki

kompetensi

minimal

yang

sama,

dengan demikian variasi

kompetensi sifatnya adalah

siapa saja dan sebaran

seperti apa yang bisa

mencapai diatas pasing

grade

dan

akhirnya

pebedaan itu muncul dalam

kenbutuhan waktu yang

diperlukan.

d.

Merumuskan

Kegiatan

Pembelajaran dalam RPP

1)

Sebagian besar (25 orang)

guru telah merancang kegiatan

pembelajaran

dengan

melibatkan proses mental dan

fisik peserta didik, sedikit (4

orang) saja yang belum

melibatkan proses mental dan

fisik siswa. Kesulitannya

adalah bisa tidak sesuai

(diusahakan untuk sama), bila

di jam terakhir, kerja

kelompok selalu mengubah

tempat duduk makan waktu.

2)

Merancang

kegiatan

pembelajaran dalam RPP yang

melibatkan interaksi:

(a)

melibatkan antar peserta

peserta didik (28 orang); (b)

melibatkan interaksi peserta

didik dengan guru (27 orang);

(c) melibatkan interaksi antara

lingkungan dan sumber belajar

(26). Kesulitannya banyak

karakter yang dititipkan.

3)

Sebagian besar (19 orang)

guru dalam pengembangan

RPP dengan memasukkan

perlunya

kegiatan

pembelajaran yang dapat

membantu para guru agar lebih

professional, sementara sedikit

(7 orang) lainnya menyatakan

tidak

memasukkannya.

Kesulitannya adalah tidak

semua guru mau menerima

masukan, kemampuan kami

sama-sama, kesibukan

masing-masing,

keterbatasan

kesempatan, kemampuan saya

kurang, yang lain sudah

professional.

4)

Mengembangkan

langkah

kegiatan pembelajaran dalam

RPP agar peserta didik dapat

melakukan kegiatan seperti di

silabus dan siswa dapat aktif,

hamper semua guru telah

melaksanakan, hanya ada satu

guru yang menyatakan tidak,

Adapun kesulitannya adalah:

padatnya waktu yang dialami

guru,

tidak

mudah

mengaktifkan siswa yang

tingkat kecerdasan

berbeda-beda, pengetahuan masih

terbatas.

228

228

(23)

e.

Penjabaran Jenis Penilaian dalam

RPP

Hampir semua (28 orang)

guru telah menjabarkan jenis-jenis

penilaian dalam RPP, hanya sedikit

(2 orang) guru yang belum

menjabarkannya.

Kesulitannya

adalah

seringnya

ulangan,

banyaknya materi, kurang teliti.

Penilaian yang dirancang

oleh guru meliputi tes tertulis

maupun lisan, terdapat 28 orang

guru yang telah merancang bentuk

penilaian tersebut, tetapi ada juga (2

orang)

guru

yang

tidak

merancangnya.

Kesulitannya

adalah: membuat soal, menentukan

bobot soal, waktu lama, tidak dapat

memperhatikan

siswa

karena

terfokus pada siswa yang sedang

melakukan tes, anak tidak baca

buku, sulit menghafal, memakan

waktu banyak untuk tes lisan, harus

beberapa kali pertemuan, untuk tes

tertulis tidak masalah, untuk tes

lisan peserta didik tidak dapat

dipastikan dapat menjawab.

Sebagian besar (28 orang)

guru melakukan penjabaran jenis

penilaian dalam RPP yang non tes

seperti dalam bentuk pengamatan

kerja, pengukuran sikap, penilaian

hasil karya berupa tugas, proyek

dan atau produk, penggunaan

portofolio dan penilaian diri hampir,

hanya sedikit (2 orang) guru yang

tidak melakukannya. Adapun

kesulitan-kesulitannya

meliputi:

hanya mampu satu point dalam satu

pokok bahasan, terlalu banyak

aspek yang harus dinilai, membuat

portofolio.

f.

Menetukan Alokasi Waktu

Seluruh (30 orang) guru

menentukan alokasi waktu pada

setiap KD. Kesuliran yang dialami

guru adalah luas materi dan

kemampuan

siswa

yang

diharapkan.

g.

Menentukan Sumber Belajar

Sebagian

besar

telah

menggunakan rujukan, objek atau

bahan dan sumber belajar yang

digunakan

dalam

kegiatan

pembelajaran menggunakan baik

buku paket (28 orang), majalah (27

orang), dan yang menggunakan dan

surat kabar (28 orang). Kesulitan

yang dihadapi yaitu tidak semua

buku ada di perpustakaan, minat

baca anak kurang dan lebih tertarik

IT/Media elektronik, keterbatasan

buku paket dan buku teks lain yang

relevan.

Demikian pula mayoritas

(26 orang) guru telah menjadikan

lingkungan fisik, alam, sosial, dan

budaya sebagai sumber belajar.

Hanya 4 guru yang tidak

menggunakan lingkungan fisik,

alam, sosial dan budaya sebagai

sumber belajar. Kesulitannya adalah

membutuhkan waktu banyak, tidak

memiliki sumber yang tepat,

memerlukan waktu dan biaya bila

berkunjung ke instansi, harus siap

biaya dan waktu, menjadi pekerjaan

rumah (PR).

KESIMPULAN

1.

Kesulitan dalam proses menyusun

perencanaan Pembelajaran PKN,

dialami para guru, meliputi soal:

memerlukan waktu lama; tidak

mudahnya memahami kedalaman

ranah tujuan; memilih pendekatan;

bahan ajar memerlukan penyelarasan

dengan silabus, tambahan, dan

perkembangan materi; dan supervisi.

2.

Kesulitan penerapan prinsip-prinsip

pengembangan RPP:

a.

Dalam proses pembuatan RPP

berdasarkan

silabus

dari

Kemendikbud RI dilakukan

seluruh guru, kesulitan berkaitan

dengan: Silabus yang

berubah-ubah; tingkat kemampuan anak

berbeda-beda, kesesuaian dengan

kebutuhan

anak

karena

heterogenitas atau keberagaman,

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

229

The Progressive and Fun Education Seminar

229

The Progressive and Fun Education Seminar
(24)

ketersediaan waktu, latar

belakang

anak,

mengenali

karakter kelas, sulitnya membuat

RPP per individu.

b.

Menyusun RPP yang dapat

mendorong partisipasi aktif siswa

telah dilakukan sebagian besar

guru, tetapi ada guru yang tidak

mengembangkannya.

Kesulitannya, berkenaan dengan

keaktifan, motivasi, sifat pemalu,

dan kemampuan hafalan anak.

c.

Sebagian besar guru dalam

menyusun

RPP

mempertimbangkan

kebutuhan

peserta

didik,

kesulitannya

menyangkut kebutuhan anak yang

heterogen dan tidak mudahnya

menyesuaikan.

d.

Mayoritas guru sudah membuat

RPP yang dapat menumbuhkan

budaya membaca dan menulis,

kesulitannya berkaitan dengan

lemahnya kemampuan guru,

kemalasan anak, alokasi waktu,

ketersdiaan litteratur, partisipasi,

dan kreatifitas anak.

e.

Guru-guru

belum

banyak

mempertimbangkan kesempatan

tindak lanjut, perbaikan proses

dan

hasil

belajar

siswa.

Kesulitannya terutama lemahnya

kemampuan penguasaan bahan

ajar, dan daya tanggap siswa

f.

Perbaikan pembelajaran oleh

sebagian besar guru menggunakan

waktu jam pelajaran, dan sebagian

lainnya di luar jam pelajaran,

kesulitan berupa keterbatasan

waktu sehingga harus mengurangi

jam kegiatan pembelajaran intra

dan ekstra kurikuler, serta les

siswa.

g.

Sebagian

besar

guru

mengembangkan KI dan KD

terpadu,

materi,

kegiatan,

penilaian, dan sumber belajar

dalam

menyusun

RPP.

Kesulitannya: belum memahami

sehingga perlu waktu; input yang

beragam;

memerlukan

penguasaan pendekatan, waktu,

tenaga, pikiran dan kreativitas

guru

a.

RPP

yang

telah

mengkondisikan pembelajaran

tematik telah susun oleh

sebagian guru, sebagian yang

lain belum. Kesulitannya

adalah materi yang terlalu luas,

kemampuan siswa kurang, sulit

mengajak siswa.

b.

Mayoritas guru menyusun RPP

dengan penggunaan Teknologi

Informasi dan Komunikasi

(TIK). Kesulitannya adalah

memacu disiplin siswa.

3.

Kesulitan

langkah-langkah

Pengembangan RPP :

a.

Mengkaji Silabus

1)

Sebagian besar guru telah

mengkaji silabus sebelum

menyusun RPP,

a)

Kesulitannya

mengembangkan

langkah-langkah

pembelajaran dalam RPP

meliputi: (1)

mengamat

i:

kurikulum masih KTSP,

konsentrasi

siswa,

penyiapan

gambar,

tayangan yang menarik,

waktu, media terbatas,

pemahaman guru; (2)

menanya

:

kurikulum

masih

menggunakan

KTSP; keraguan siswa

menyusun kalimat, siswa

masih malu, pertanyaan

tidak sesuai, dan sulit

mendorong

siswa

bertanya;

(3)

mengumpulkan

informasi

: KTSP, jika

memakai internet lama

loading

, siswa kurang

minat, waktu, literature

kurang memadai, siswa

kurang

aktif,

perlu

koordinasi

siswa,

230

230

(25)

monoton, komplek, dan

terbatas informasi; (4)

mengolah

informasi

:

masih

KTSP,

kemampuan

siswa,

dibutuhkan

partisipasi

setiap

siswa,

perlu

koordinasi antar siswa;

(5)

mengkomunikasikan

informasi hasil belajar

:

masih KTSP, keberanian

dan partisipasi siswa

kurang, diskusi monoton,

anak kurang tanggap.

b)

Guru

mengalami

kesulitan

dalam

mengidentifikasi materi

pembelajaran,

diantaranya; kurangnya

waktu,

buku-buku

penunjang, materi yang

singkat

mengharuskan

ada

tugas

siswa.

Kesulitan dalam proses

memilih

materi

pembelajaran: data anak

kurang lengkap, peserta

didik

heterogen,

ketersediaan bahan sesuai

waktu,

mengukur

karakter dan potensi anak,

lingkungan

kurang

mendukung,

banyak

peserta

didik

dari

keluarga

broken home.

2)

Merumuskan

tujuan,

kesulitannya: menentukan

tatap muka berkelanjutan,

perumusan

keruntutan

kompetensi pada dataran

operasional

yang

menimbulkan

kesulitan

pemberian

kesempatan

secara individu yang terukur.

a.

Kesulitan

dalam

merumuskan

tujuan

meliputi: (a) menetapkan

keterliibatan peserta didik

(

Audience

): tiap kelas

berbeda

kemampuan,

kemampuan anak didik

tidak sama; (b) aspek

kemampuan peserta didik

(

Behavior

):

tidak

ditemukan; (c) Pesyaratan

(

Condition

):

tidak

ditemukan; (d) Ukuran

tingkat

keberhasilan

(

Degree

):

kemampuan

setiap

peserta

didik

berbeda-beda sehingga

perlu

diulang-ulang,

potensi peserta didik

kurang, dan ukuran pada

penillaian sangat rumit.

3)

Mengembangkan Kegiatan

Pembelajaran dalam RPP

a)

Dalam

RPP

yang

merancang

kegiatan

pembelajaran melibatkan

proses mental dan fisik

peserta didik dilakukan

seluruh guru.

b)

Sebagian besar guru

merancang RPP untuk

kegiatan kerja kelompok

yang

melibatkan

interaksi: (a) antar peserta

didik telah dilakukan

guru; (b) antar peserta

didik dengan guru; (c)

interaksi

antara

lingkungan dan sumber

belajar, tetapi sebagian

kecil guru ada yang tidak

merangcangnya.

Kesulitannya

banyak

karakter yang dititipkan

c)

Pembangan

kegiatan

pembelajaran

d)

Menyusun RPP yang

membantu para guru

lainnya

agar

dapat

professional,

telah

dilakukan sebagian besar

guru, tetapi sebagian kecil

lainnya

tidak

merancangnya.

Kesulitannya tidak semua

guru mau menerima

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

231

The Progressive and Fun Education Seminar

231

The Progressive and Fun Education Seminar
(26)

masukan, beranggapan

kemampuan kami

sama-sama, kesibukan

masing-masing,

keterbatasan

kesempatan, kemampuan

responden kurang, yang

lain sudah professional.

Dalam

hal

menata

kegiatan agar peserta

didik dapat melakukan

kegiatan seperti di silabus

dan siswa dapat aktif,

semua

guru

telah

melaksanakan, hanya ada

satu guru yang tidak

mengelolanya.

Kesulitannya:

belum

maksimal,

keterbatasan/padatnya

waktu, sulit mengaktifkan

siswa yang memiliki

tingkat

kecerdasan

berbeda-beda,

pengetahuan

masih

terbatas,

perlu

dikembangkan,

4)

Penjabaran Jenis Penilaian

dalam RPP

Sebagian besar guru

telah menjabarkan jenis

penilaian dalam RPP,

sementara ada guru yang

belum menjabarkan jenis

penilaian dalam RPP.

Kesulitannya

adalah

seringnya

ulangan,

banyaknya materi, kurang

teliti.

a.

Sebagian besar guru

merancang

penilaian

yang tes tertulis maupun

lisan, tetapi ada sedikit

guru

yang

belum

merancang

penilaian

dalam

RPP

yang

meliputi tes tertulis

maupun

lisan.

Kesulitannya

pada:

membuat

soal,

menentukan bobot soal,

waktu lama, tidak dapat

memperhatikan siswa

karena terfokus pada

siswa yang sedang

melakukan tes, anak

tidak baca buku, sulit

menghafal, memakan

waktu yang banyak

untuk tes lisan harus

beberapa

kali

pertemuan, untuk tes

tertulis tidak masalah,

untuk tes lisan peserta

didik

tidak

dapat

menjawab.

b.

Demikian

pula

penjabaran

jenis

penilaian non tes dalam

bentuk

pengamatan

kerja, pengukuran sikap,

penilaian hasil karya

berupa tugas, proyek

dan

atau

produk,

penggunaan portofolio

dan

penilaian

diri

hampir seluruh guru

menjabarkannya,

walaupun ada pula guru

yang tidak menjabarkan

penilaian

non

tes

tersebut. Kesulitannya

meliputi : hanya mampu

satu point dalam satu

pokok bahasan, terlalu

banyak aspek yang

harus dinilai, membuat

portofolio.

5)

Menetukan Alokasi Waktu

Seluruh

guru

menentukan alokasi waktu

pada setiap Kompetensi

Dasar,

kesulitannya:

menyangkut

luasnya

materi dan kemampuan

siswa.

6)

Menentukan Sumber Belajar

Sebagian besar telah

menggunakan

rujukan,

objek dan/atau bahan dan

sumber

belajar

yang

232

232

(27)

digunakan dalam kegiatan

pembelajaran, baik buku

paket, majalah, dan surat

kabar. Kesulitan yang

dihadapi yaitu tidak emua

buku ada di perpustakaan,

minat baca anak rendah

kurang.

Dalam

hal

menjadikan

lingkungan

fisik, alam, sosial, dan

budaya sebagai sumber

belajar,

kesulitannya

adalah

membutuhkan

waktu, dan sumber yang

tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2010.

Penguatan

Pendidikan

Kewarganegaraan

Untuk

Membangun

Karakter

Bangsa

. Bandung: Widya Aksara

Press.

Khoiru Ahmadi, dkk. 2011.

Strategi

Pembelajaran Berorientasi KTSP

.

Penerbitt:

Prestasi

Pustaka

Publisher

Konsorsium Sertifikasi Guru UNY. 2013.

Modul

PLPG

Kebijakan

Pengembangan Profesi Guru

.

Yogyakarta: UNY

Mulyasa, E. 2013.

Pengembangan dan

Implementasi Kurikulum 2013

.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mursalin,

Zainal.

2010.

Realitas

Pendidikan Nasional Indonesia

Tanpa Pendidikan Pancasila

Makalah

disampaikan

dalam

Seminar Nasional Pendidikan

Pancasila di UAD

.

Yogyakarta:

UAD

Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013

tentang Perubahan PP No. 19

Tahun 205 tentang Standar

Nasional Pendidikan

Peraturan

Menteri

Pendidikan

dan

Kebudayaan No. 81A Tahun 2013

tentang Implementasi Kurikulum.

Somantri,

Menggagas

Pembaharuan Pendidikan IPS

.

Bandung: Kerjasama PT Remaja

Rosdakarya dengan FPIPS dan PPs

Universitas Pendidikan Indonesia.

Winataputra, Udin S. 2001.

Jatidiri

Pendidikan

Kewarganegaraan

Sebagai

Wahana

Sistemik

Pendidikan Demokrasi: Suatu

Kajian Konseptual Dalam Konteks

Pendidikan IPS.

Disertasi PPS UPI:

tidak diterbitkan.

... 2010.

Himpunan Peraturan Tentang

Pendidikan Dasar dan Menengah.

Majelis Dikdasmen PWM DIY

UU No. 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional

Kompas, 19 September 2014

Kompas, 9 September 2014

The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar

233

The Progressive and Fun Education Seminar

233

The Progressive and Fun Education Seminar

Referensi

Dokumen terkait

Keluhan kesulitan ( Contoh: Belum mampu membuat RPP, Menangani siswa bandel, administrasi ,

Hasil analisis dari data tes dan wawancara terhadap subyek dalam pembuatan soal berpikir tingkat tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa calon guru

Poin penting berikutnya yang menjadi fokus penelitian adalah kegiatan mengajar guru di dalam kelas berdasarkan kurikulum 2013. Keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran

Poin penting berikutnya yang menjadi fokus penelitian adalah kegiatan mengajar guru di dalam kelas berdasarkan kurikulum 2013. Keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran

Menurut Roqib & Nurfuadi (2020) bahwa keberhasilan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh mutu profesionalisme seorang guru. Peran guru merupakan sosok utama

Hasil analisis RPP guru biologi, ada beberapa aspek yang menunjukan kesulitan guru biologi dalam proses perecanaan diantaranya: 1) Perangkat awal yang menunjukan guru masih

Dari hasi penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa peserta didik pada jumlah 30 orang kelas 8 di MTs NU Nurul Huda Semarang sebagian besar sudah bisa membaca

lima orang guru masing-masing mendapat skor 4 sangat baik, dan Pada siklus kedua kedua puluh guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya.. sepuluh orang guru mendapat skor 3