Dilaksanakan di
Garuda Plaza Medan, Sumatera Utara
Rabu, 3 Agustus 2016
atas kerja sama:
Asosiasi LPTK Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Penerbit:
Muhammadiyah University Press
Universitas Muhammadiyah Surakarta
iii
, Wr. Wb.
Allah SWT, atas rahmad dan hidayah-Nya sehingga Prosiding Seminar Nasional
Pendidikan yang berkemajuan dan Menggembirakan ini dapat diterbitkan. Sholawat dan
salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
kemjuan ilmu dan teknologi.
Seminar Nasional dengan tema
Jati Diri LPTK PTM untuk Pendidikan yang
Berkemajuan dan Menggembirakan
ini diselenggarakan pada tanggal 3 Agustus 2016
di Hotel Garuda Plaza, Medan atas kerjasama Asosiasi LPTK Perguruan Tinggi
Muhammadiyah (ALPTK PTM), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
(UMSU).
Prosiding ini berisi sekumpulan makalah dari berbagai LPTK Perguruan Tinggi
Muhammdiyah di Indonesia yang telah dipresentasikan dan didiskusikan pada seminar
ini. Seminar Nasional Pendidikan yang Berkemajuan dan Menggembirakan
(The
Progressive and Fun Education National Seminar)
ini 2016 ini direncanakan akan
dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membuka wawasan guna mengembangkan
kualitas pendidikan dan Sumber Daya Pendidikan di LPTK PTM. Seminar ini juga
memberikan kesempatan bagi para pemakalah yang merupakan akademisi dan peneliti
untuk menyampaikan gagasan fundamental, mendiseminasikan hasil-hasil penelitian
atau kajian kritis terhadap pendidikan di Indonesia Timur.
Hasil dari diseminasi ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran
yang kritis guna meningkatkan kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM)
di LPTK PTM melalui pendidikan. Seminar Nasional Pendidikan yang Berkemajuan
dan Menggembirakan ini terbagi ke dalam delapan
Akhirnya, Panitia Seminar Nasional Pendidikan yang Berjemajuan dan
Menggembirakan tahun 2016 mengucapkan terima kasih kepada para pembicara,
pemakalah, moderator serta berbagai pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini
sehingga acara ini dapat berjalan dengan baik
r. Wb.
Medan, 3 Agustus 2016
iv
Sejak awal berdirinya, jati diri LPTK PTM fokus berhimat untuk ummat dan
berkarya untuk mencerdaskan bangsa. Hal demikian sejalan dengan rumusan tujuan
Muhammadiyah pada awal berdirinya tahun 1912 oleh KHA Dahlan difokuskan pada
dua hal pokok. Pertama, menyebarkan pengajaran Kajeng Nabi Muhammad saw kepada
penduduk bumi putera di dalam residensi Yogyakarta. Kedua, untuk memajukan hal
agama kepada anggota-anggotanya. Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu
dipantulkan melalui perubahan rumusan tujuannya, istilahnya sekarang peninjauan
visi-misi atau peninjauan kurikulum sekolah. Tepatnya tahun 1921 atau delapan tahun
setelah berdirinya Muhammadiyah maka hasil peninjauan kembali tujuan itu
dirumuskan untuk (a) memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran
agama Islam di Hidia Nederland (: Hidia Belanda) dan (b) memajukan dan
menggembirakan cara kehidupan sepanjang kemauan agama Islam kepada
lid-lidnya
(segala sekutunya).
Dalam konteks perkembangan global yang lebih didominasi oleh kemajuan dan
capaian perkembangan teknologi komunikasi-informasi-komputasi maka arah dan
perkembangan pengelolaan pendidikan yang dapat memikat hati masyarakat tidak bisa
melepaskan diri dari paradigma persyarikatan Muhammadiyah, yaitu berkemajuan dan
menggembirakan. Sebuah rumusan dasar yang mengandung nilai historis dan futuris
yang sangat luar biasa.
Berkaitan dengan filosofi dan histori yang mendasari didirikannya Persyarikatan
Muhammadiyah tersebut dan khususnya melalui dakwah pendidikan berinstitusi LPTK
PTM, maka dipandang sangat beralasan diselenggarakannya kegiatan seminar secara
berkelanjutan untuk menggali jati diri, sejarah, desain, dan pengembangan pendidikan
dalam bentuk
Seminar Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan
(
The 1
stProgressive and Fun Education Seminar
). Forum seminar ini dijadwalkan berlangsung
minimal satu tahun sekali dan dilaksanakan secara berantai di dan antar LPTK PTM di
seluruh Indonesia.
v
ini. Terima kaksih kepada Bapak rektor UMSU dan civitas akademika lainnya yang
telah memberikan bantuan secara penuh terhadap kegiatan ini. Akhirnya,
jazakummullah khoiron katsiron
Alhamdul
Medan, 3 Agustus 2016
Ketua ALPTK PTM,
vi
No
Nama Pembahas
Lembaga
1.
Prof. Dr. Budi Murtiyasa
Universitas Muhammadiyah Surakarta
2.
Dr. Ponco Jari
Universitas Muhammadiyah Malang
3.
Dr. Sofyan Anif
Universitas Muhammadiyah Surakarta
4.
Dr. Edy Sukardi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
5.
Dr. Anam Sutopo
Universitas Muhammadiyah Surakarta
6.
Dr. Djalal Fuadi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
7.
Dr. Tri Kinasih Handayani
Universitas Ahmad Dahlan
vii
Pengantar Panitia
...
i
Sambutan Ketua ALPTK PTM
... iii
Daftar Pembahas
... vi
Daftar Isi
... vii
REALISASI DISIPLIN POSITIF MELALUI PEMBELAJARAN AUTENTIK DI SD
MUHAMMADIYAH 16 SURAKARTA ...
Siti Zuhriah Ariatmi, Suprihanto ... 1
PENGARUH PENGALAMAN MENGAJAR TERHADAP KOMPETENSI GURU
(LEMBAGA PENDIDIKAN NON PROFIT)
Romauli Nainggolan ... 7
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PELAKSANAAN PRAKTIKUM ANATOMI
HEWAN PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS TAHUN AKADEMIK 2013/2014
Endang Setyaningsih, Rio Taufiq Nugroho, Dwi Prasetyo ... 14
PENANAMAN NILAI MORAL ANAK USIA DINI MELALUI PENDEKATAN
COGNITIVE SOCIAL LEARNING
Alif Muarifah ... 33
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BERBASIS ISU-ISU
KONTROVERSIAL MEDIA MASSA UNTUK MENGEMBANGKAN SIKAP DEMOKRATIS
DAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA DI SMK NEGERI 9 SURAKARTA TAHUN 2016
Ahmad Muhibbin, Margiyono ... 44
PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DIDIK
Robie Fanreza, Munawir Pasaribu ... 55
PENDIDIKAN INKLUSIF ANAK USIA DINI
Widya Masitah ... 61
PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK BERBASIS
TEKNOLOGI SESUAI DENGAN GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK
Hernawan Sulistyanto, Irma Yuliana ... 75
USE OF HEURISTIC STRATEGIES TO INCREASE THE ABILITY OF MATHEMATICAL
PROBLEM SOLVING
Uus Kusdinar ... 84
PENGGUNAAN SOFTWARE GEOGEBRA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS
(PELATIHAN UNTUK GURU-GURU SMP MUHAMMADIYAH SUKOHARJO)
Mohamad Waluyo... 90
DAMPAK STRATEGI PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP
HASIL BELAJAR
Muhammad N Kholid, Ika Rachmawati WS, Sutama ... 97
viii
USING A ROLE PLAYING STRATEGY IN COLLABORATION WITH ACTIVE DEBATE
FOR DEVELOPING LEARNING INTEREST IN CIVIC EDUCATION LEARNING PROCESS
Yulianto Bambang Setyadi, Rejeki Trismantyasi ... 119
BERPIKIR ANALOGIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH
MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA
Irwani Zawawi ... 124
MODEL PEMBELAJARAN ISICARD-MATCH UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI
AKTIF DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA
SISWA SMP
Sutan Syahrir Zabda, Siti Nurkayati ... 136
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE STAD DIKOLABORASIKAN DENGAN GALLERY WORK
Uswatun Khasanah, Harina Fitriyani ... 150
LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE EFFORTS IN MAKING FUN LEARNING
Sumaryati ... 158
GROUNDING VISION OF BUILDING PROGRESSIVE EDUCATION
Sri Tutur Martaningsih, Ika Maryani ... 164
MODEL PENGUATAN KARAKTER MELALUI PERKULIAHAN KEPRAMUKAAN
PADA MAHASISWA PPKN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU LULUSAN
Sri Arfiah, Bambang Sumardjoko, Agus Prasetyo ... 171
PENUMBUHAN BUDI PEKERTI MELALUI GERAKAN LITERASI SEKOLAH
Triwati Rahayu ... 179
EVALUASI PROGRAM ADIWIYATA DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH PEDULI
DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN DI SDN NOGOPURO YOGYAKARTA
Trikinasih Handayani ... 184
PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN STRATEGI TGT DAN NHT
TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI KEAKTIFAN PESERTA DIDIK
Sri Sutarni, Agung Rosyidi... 191
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
MATEMATIS PADA MATA KULIAH ALJABAR MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN
MODEL PEMBELAJARAN TIPE THINK TALK WRITE
Widayati ... 203
SNPT- AND KKNI-BASED CURRICULUM ORGANIZATION
Zainal Arifin, Laili Etika Rahmawati ... 212
KESULITAN-KESULITAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP) MATA PELAJARAN PENDIDKAN
KEWARGANEGARAAN (PKn) KURIKULUM 2013 DI SMP SE KOTA YOGYAKARTA
Susena, Triwahyuningsih, Supriyadi, dan Dikdik Baehaqi Arief ... 220
IDENTIFIKASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA BUKU PELAJARAN
AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR
ix
DEVELOPMENT STRATEGY OF INSTRUMENT TEST ASSESSMENT FOR
THE HIGHER ORDER THINKING STUDENTS
Laili Etika Rahmawati, Siti Kholifatul Hasanah, Anggraeni Dwi Sulistyowati ... 241
PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI KINERJA LABORATORIUM
UNTUK MAHASISWA CALON PENDIDIK BIOLOGI
Billyardi Ramdhan, Syane Triwulandari, Suhendar, Aa Juhanda ... 247
ANALISIS PEMANFAATAN M-LEARNING DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI
BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI FKIP UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Suranto ... 257
MENCARI FORMAT BARU PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA PADA
ERA GLOBALISASI
Ahmad... 265
ONLINE SOCIAL MEDIA AMONG STUDENTS
Moh. Chairil Asmawan ... 277
METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI RAUDHATUL ATHFAL/TAMAN
KANAK-KANAK
Zulkarnein Lubis ... 283
PROFILE OF DAILY TEST SENIOR HIGH SCHOOL BIOLOGY TEACHER MADE OF
MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA IN 2015/2016 ACADEMIC YEAR
Hariyatmi, Fitri Marsiyah ... 295
PEMBELAJARAN BERBASIS EDUTAINMENT UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN
BELAJAR SISWA
Juli Maini Sitepu ... 304
PENGELOLAAN KELAS BERBASIS MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL DALAM
UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR MAHASISWA DALAM
PEMBELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1
Titik Asmawati, Roro Yayuk Fitrianingrum, Novita Elysia ... 311
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR STATISTIKA BERBASIS INFORMATION AND
COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT)
Hamidah Suryani Lukman, Astri Sutisnawati ... 318
DESAIN DAN PERENCANAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
TINGKAT SEKOLAH DASAR
Indra Prasetia ... 326
PARADIGMA PENDIDIKAN BERPENCIRI SEBAGAI PILAR PENDIDIKAN BEREPUTASI
DALAM MENGHADAPI TANTANGAN KOMPUTASI-INFORMASI-KOMUNIKASI GLOBAL
Harun Joko Prayitno ... 334
EVALUASI PELAKSANAAN KELAS UNGGULAN DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
FISIKA UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA
Dian Artha Kusumaningtyas, Eko Nursulistiyo ... 341
PEDAGOGI HARAPAN: TELAAH PADA PENDIDIKAN DI INDONESIA
x
INTERPERSONAL COMMUNICATION OF THE PRINCIPAL AS EFFORTS TO DEVELOP
CHARACTER EDUCATION
Achmad Fathoni , Anatri Desstya ... 359
PENGUATAN IDENTITAS MAHASISWA CALON TENAGA PENDIDIK
MUHAMMADIYAH
Wahdan Najib Habiby ... 366
ANALISIS KESESUIAN INSTRUMEN SUMATIF DENGAN TUJUAN KOGNITIF
PEMBELAJARAN MATA KULIAH EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR DI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
Nani Aprilia ... 372
BUILDING THE CHARACTER OF ENTREPRENEURSHIP FOR PRE-SCHOOL
STUDENTS THROUGH SCIENCE
LeonitaSiwiyanti ... 377
TAHAPAN DAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN BELAJAR SISWA
SEKOLAH DASAR (UPAYA PEMAKNAAN DEVELOPMENT TASK)
Ichsan Anshory AM, Erna Yayuk, Dyah Worowirastri E ... 383
KAN LINGKUNGAN
BELAJAR YANG MENYENANGKAN
Aryati Prasetyarini ... 390
IMPLEMENTASI PROGRAM ADIWIYATA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
DI KOTA YOGYAKARTA
Novi Febrianti, Nani Aprilia... 396
MODEL PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK SEKOLAH DASAR BERBASIS TEORI
PERKEMBANGAN ANAK
Muhammad Abduh, Murfiah Dewi Wulandari ... 403
MEMBANGUN KARAKTER SISWA MELALUI PEMBELAJARAN HUMANIS RELIGIUS
DI SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS KOTTABARAT SURAKARTA
Minsih ... 412
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AKTIF,
INOVATIF , KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAIKEM)
Hotma Siregar ... 420
PENDIDIKAN MEMANDIRIKAN DAN MENDEWASAKAN PADA SEKOLAH
BERBASIS AGAMA ISLAM MELALUI KURIKULUM 2013
Jamila ... 429
UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MAHASISWA MELALUI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENILAIAN AUTENTIK PADA
MATAKULIAH ANALISA KOMPLEKS
Zainal Azis ... 439
MODEL PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KOMBINASI STRATEGI
EVERYONE IS A TEACHER HERE DENGAN ANSWER GALLERY PADA
PEMBELAJARAN PPKNDI SMP MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA TAHUN 2016
xi
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN
BIOLOGI UAD MELALUI MODEL BELAJAR PROBLEM BASED LEARNING PADA
MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN
Trianik Widyaningrum ... 457
PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) PADA TEKS
NEGOSIASI
Roni Sulistiyono ... 464
DISIPLIN POSITIF; MEMBENTUK KARAKTER TANPA HUKUMAN
Nur Hidayat, Danarti, Sri Darwati ... 471
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN INKLUSI BAGI PESERTA DIDIK ABK DI
MI MUHAMMADIYAH PK KARTASURA
Saring Marsudi, Winda Hastuti ... 478
PENGENALAN URBAN HEAT ISLAND PADA PESERTA DIDIK SEBAGAI UPAYA
MITIGASI BENCANA KLIMATOLOGIS DI KOTA SURAKARTA
Siti Azizah Susilawati, Baharudin Syaiful Anwar, Nanda Khoirunisa ... 486
ANXIETY : APA DAN BAGAIMANA?
Dwi Astuti... 495
KEEFEKTIFAN MODEL PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BIOLOGI
PASCA SERTIFIKASI BERBASIS PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN
(PKB) DI KARESIDENAN SURAKARTA
Sofyan Anif ... 500
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA CALON
GURU MELALUI PEMBELAJARAN INVESTIGASI
Harina Fitriyani, Uswatun Khasanah ... 511
METODE STORYTELLING SEBAGAI TINDAKAN PREVENSI KEKERASAN SEKSUAL
PADA ANAK
Choiriyah Widyasari ... 519
PENDIDIKAN KARAKTER SEJAK USIA DINI YANG MENYENANGKAN
Ijah Mulyani Sihotang ... 527
PERAN PENDIDIK SEBAGAI ROLE MODEL DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER
PESERTA DIDIK
Pirman Ginting ... 532
PENERAPAN CLASSROOM LANGUAGE DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
INGGRIS DI SMP
Mandra Saragih ... 538
PENDIDIKAN USIA DINI MELALUI AGAMA DAN SASTRA
Winarti ... 543
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PERSPEKTIF PRAGMATIK
Andi Sadapotto, Muhammad Hanafi ... 548
ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTERMATA KULIAH ANALISIS
KURIKULUM DAN MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA
xii
MEDIA DIORAMA DAN SEMPOA (DIOPOA) PADA MATERI PENGOLAHAN DATA
Yulia Maftuhah Hidayati, Fitri Kurniawan, Muhammad Ryan Ikhsanudin ... 565
TENGAH
Suharjo, Puji Lestari, Muhammad Khanif... 570
PERAN PERMAINAN MUSIK FEELING BAND TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSI
ANAK
Junita Dwi Wardhani, M.Ed ... 578
PEMBELAJARAN MODA DALAM JARINGAN (MODA DARING)
Mhd. Isman ... 586
PENGGUNAAN MEDIA KOMIK MELALUI METODE LEARNING STARTS WITH A
QUESTION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
Henny Zurika Lubis dan Rodiatul Hasanah ... 589
INTERNASIONALISASI PERGURUAN TINGGI; STUDI MULTISITUS PADA
PERGURUAN TINGGI ISLAM DI YOGYAKARTA
Djalal Fuadi ... 594
MENINGKATKAN ENGAGEMENT SISWA SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR
M. Fahmi Johan Syah ... 608
ANALISIS TENTANG ANAK HIPERAKTIF DAN UPAYA MENGATASINYA
PADA SISWA KELAS III SD MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA TAHUN
AJARAN 2015/2016
Putri Pangesti Rahayu, Suwarno ... 612
EFEKTIVITAS PENILAIAN TERJEMAHAN KARYA SASTRA:
PERSPEKTIF FUNGSIONAL
Anam Sutopo ... 617
KAJIAN KEMANDIRIAN SEKOLAH DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH
KESULITAN-KESULITAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP) MATA
PELAJARAN PENDIDKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) KURIKULUM
2013 DI SMP SE KOTA YOGYAKARTA
Susena, Triwahyuningsih, Supriyadi, dan Dikdik Baehaqi Arief
Program Studi PPKN FKIP UAD
Civic Education designed as a subject in school, includes the dimensions of cognitive, affective, and psychomotoric, that are confluent or mutual penetration and integrated within the context of the substance of ideas, values, concepts and moral. In praxis, there are many constraints and limitations. There are indications: Civics teacher competency lack of understanding and sometimes confused in developing the teaching learning process. The teaching learning process is less interesting, so boring learning activities for students, etc. This study is aimed to map the problems, particularly regarding to the difficulties of teachers in developing learning tools of civics in school. This research is survey research (exploration) that took the subject of Civics teacher at Junior High School (SMP), which is located in the city of Yogyakarta. The data are collected by distributing questionnaires to be filled by the Civics teachers. Data analysis was performed through the stages of data collection and analysis using the methods of inductive logical thinking, interpret a phenomenon that comes from the perception of teachers, and connect with one another in order to obtain a systematic description of the problem. The results showed that the Civics teacher at junior high schools in the city of Yogyakarta, has difficulties making lesson plan (RPP) based on 2013 curriculum. Difficulties preparing RPP may include: (1) administrative difficulties in the process and the lack of mastery of the development principle; (2). Teachers have difficulties in reviewing the syllabus, identification of learning materials, define and formulate learning objectives, the development of learning activities, elaboration of assessments, and allocation of time, as well as a source of learning.
Keywords: difficulty teachers; Civics lesson plan.
ABSTRAK: Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dirancang sebagai mata pelajaran di sekolah, memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psikhomotorik, bersifat konfluen atau saling penetrasi dan terintegrasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral. Dalam praksis/pelaksanaannya banyak mengalami kendala dan keterbatasan, diantaranya terdapat indikasi-indikasi: kompetensi guru PKn yang nampak kurang paham dan kadang mengalami kebingungan dalam mengembangkan pembelajarannya, kurang menariknya kegiatan pembelajaran sehingga membosankan siswa, dsb. Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan diskripsi tentang peta permasalahan, khususnya mengenai kesulitan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di sekolah. Jenis nelitian ini termasuk penelitian survey (eksplorasi) yang mengambil subyek para Guru PKn di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berlokasi di kota Yogyakarta. Data dihimpun dengan cara menyebarkan kuesioner untuk diisi oleh para guru pengasuh mata pelajaran PKn. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan dan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara berfikir logis induktif, memaknai suatu gejala yang bersumber dari persepsi guru, dan menghubungkan satu dengan lainnya sehingga diperoleh suatu diskripsi yang sistamtis mengenai permasalahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru PKn pada SMP-SMP di kota Yogyakarta tidak terlepas dari berbagai kesulitan yang bervariasi dalam menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) mata pelajaran PKn berbasis Kurikulum 2013. Kesulitan-kesulitan menyusun RPP yang dimaksud meliputi: (1) Kesulitan administrasi pada proses dan lemahnya penguasaan prinsip-prinsip pengembangan; (2). Kesulitan guru dalam menentukan langkah-langkah mengkaji silabus, identifikasi materi
220
220
pembelajaran, menentukan dan merumuskan tujuan pembelajaran, pengembangan kegiatan pembelajaran, penjabaran jenis penilaian, dan alokasi waktu, serta sumber belajarnya.
Kata kunci: kesulitan guru; rencana pelaksanaan pembelajaran PKn.
PENDAHULUAN
PKN dirancang sebagai mata
pelajaran yang memuat dimensi-dimensi
kognitif, afektif, dan psikhomotorik
terintegrasi dalam konteks substansi ide,
nilai, konsep dan moral. Sesuai tujuan PKn
untuk keperluan pembentukan warga negara
yang baik
(to be good citizen),
banyak pihak
berharap PKn menjadi pionir dalam
nation
and character building),
dan lagi
belakangan ini disebut-sebut pula sebagai
mata pelajaran yang syarat dengan misi
pendidikan karakter. Dalam realitasnya,
implementasi pembelajaran PKn pada
berbagai jenis dan jenjang pendidikan
sekolah, menghadapi banyak kendala dan
keterbatasan sehingga pembelajaran PKn
selama ini terkesan konvensional, lebih
menekankan
dimensi
kognitif,
pengelolaannya belum kondusif, belum
produktif,
dan
belum
memberikan
kontribusi teoritis maupun praktek-praktek
pembiasaan perilaku anak didik.
pembelajaran dan penilaian dalam PKn
lebih
menekankan
pada
dampak
instruksional
(instructional effects)
yang
terbatas pada penguasaan materi (content
mastery) atau dengan kata lain hanya
(Dasim Budimansyah, 2010:142)
Idealnya pembelajaran PKn dapat
menggerakkan minat dan aktivitas peserta
didik. Skenario pembelajaran PKn disusun
untuk dapat melatih anak dalam
mengembangkan
pengetahuan
(civic
knowledge)
sehingga anak suka berfikir
kritis, mengembangkan aspek afektif untuk
menumbuhkan komitmen atau kepedulian
(civic disposition),
dan mengembangkan
kemampuan partisipatif
(civic skill)
dalam
menghadapi berbagai masalah kehidupan
masyarakat bangsa dan negara
,
Pilihan
strategi, metode dan teknik pembelajaranya
hendaknya selektif dan dikembangkan
sesuai tujuan serta bahan ajar yang logis
dan realistis bagi kehidupan anak didik.
Dalam praksisnya pada umumnya skenario
pembelajaran PKn di sekolah-sekolah masih
memperlihatkan model konvensionalnya,
sebagai
ada nya, belum atau tidak
dirancang dengan inovasi-inovasi baru oleh
para guru.
Pembaharuan kurikulum berkaitan
dengan kompetensi guru. Gejala kurang
sehatnya praksis pembelajaran di
sekolah-sekolah termasuk dalam hal ini menyangkut
pembelajaran PKn, oleh pemerintah
direspon dengan memperbaharui kurikulum.
Upaya pembaharuan dilakukan secara
besar-besaran Kurikulum KTSP diperbaharui
dengan Kurikulum 2013.
Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional,
pemerintah mengagendakan aksi terkait
dengan kurikulum berupa penataan dan dan
(Harian Kompas, 19 Sep 2014: 6).
Perbedaan utamanya, bahwa kurikulum
2013 berbasis pada pembelajaran saintifik.
kurikulum sebelumnya, yaitu: pendekatan
Nov.2014). Dalam kaitannya dengan
perubahan ini, persoalan utamanya adalah
kesulitan yang dialami guru. Dilansir oleh
harian Kompas,
khirnya guru
menjadi bingung, meraba-raba bak berjalan
di tempat gelap. Diklat kurikulum tak selalu
menambah paham hanya menambah materi
ke sekolah. Diklat perlu ditingkatkan
mutunya, sebaliknya pendampingan formal
administrasi dikurangi karena memberatkan.
Kami semakin repot melayani permintaan
data dan mengisi instrument dari berbagai
pihak . (Lily Halim, Kompas, 26 November
2014:6). Dalam kenyataan, perubahan
kurikulum tidak diikuti kesiapan guru.
total 2,4 juta guru SD, SMP, SMA, SMK,
sebanyak 1.397.000 guru diantaranya telah
dilatih untuk menjalankan kurikulum 2013.
Meski demikian, di lapangan, guru tetap
dituntut untuk lebih proaktif dalam
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar221
The Progressive and Fun Education Seminar221
The Progressive and Fun Education SeminarKurikulum 2013. (Kompas, 9 September
2014:10). Persoalan ini dialami pula oleh
para guru PKn. Pengembangan
model-model pembelajarannya, baik dalam
perencanaan
maupun
pelaksanaannya
menemui masalah.
PKn dipersepsikan sebagai salah
satu mata pelajaran yang syarat dengan
nilai-nilai karakter yang penting untuk
mendorong siswa mengenal dirinya sebagai
makhluk sosial. PKn sebagai pendidikan
karakter, memiliki substansi pengetahuan
yang sangat urgen untuk membangun cara
berfikir, bersikap dan berbuat, yang
mendorong
siswa
mengembangkan
kemampuan diri sendiri dan dalam
berinteraksi sosial. Secara langsung PKn
dapat menumbuhkan kesadaran menjadi
warga negara yang baik, yakni memiliki
pengetahuan, komitmen dan kecakapan
yang dilandasi nilai-nilai kebangsaan dan
berjiwa patriotis, dsb. Dalam prakteknya,
PKn yang diunggulkan/dianggap bisa
mengatasi krisis bangsa, tetapi cenderung
diremehkan oleh banyak pihak. diantaranya,
bahwa mata pelajaran PKn tidak menjadi
mata pelajaran yang diujikan secara nasional
menjadi kendala dalam pembentukan
karakter siswa. Salah satu akibatnya adalah
kurangnya perhatian dari peserta didik
maupun pihak penyelenggara sekolah.
Terlepas dari pro dan kontra efektifitas ujian
nasional itu, banyak para peserta didik
maupun pihak sekolah memandang bahwa
mata pelajaran yang di ujikan secara
nasionallah yang lebih mendapatkan
penekanan, sehingga banyak para peserta
didik menganggap PKn kurang penting
dibandingkan mata pelajaran yang diujikan
secara nasional.
Dari sejumlah masalah diantaranya
adanya pembelajaran PKn yang pada
umumnya masih menekankan aspek
kognitif, praksis pembelajarannya yang
konvensional,
tidak
kondusif/tidak
produktif,
banyak
guru
kurang
paham/kebingungan
dalam
sistem
pembelajaran, PKn yang dirasakan kurang
menarik para siswa, dsb. Tulisan ini
mencoba mengungkap kesulitan-kesulitan
guru dalam mengembangkan pembelajaran
PKn. Mengingat luasnya permasalahan,
tulisan ini membatasi diri dalam
pengungkapan masalah, yakni pada sekitar
kompetensi guru penyusunan perencanan
pembelajaran, khususnya dalam hal
penyusunan
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) PKn SMP-SMP di kota
Yogyakarta, sehingga masalahnya dapat
dirumuskan sbb.: Dalam mengembangkan
pembelajaran PKN khususnya dalam hal
penyusunan RPP PKn, apa
kesulitan-kesulitan guru ?
Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan diskripsi tentang peta
kedalaman dan keluasan permasalahan
kesulitan-kesulitan
guru
dalam
mengembangkan pembelajaran PKn di
sekolah.
PKn penuh dengan muatan
nilai-nilai afektif/moral untuk keperluan
pembentukan warga negara yang baik
(to be
good citizen).
PKn memiliki dimensi luas.
Dasim (2010:141) mengemukakan bahwa
konfigurasi atau kerangka sistemik PKN
dibangun di atas tiga paradigma, yakni
pardigma
kurikuler,
teoritik,
dan
programatik, yakni:
1.
PKn secara kurikuler dirancang sebagai
subyek pembelajaran yang bertujuan
mengembangkan potensi indiividu agar
menjadi warga negara yang berakhlak
mulia, cerdas partisipatif, dan
bertanggung jawab
2.
PKn secara teoritik dirancang sebgai
subyek pembelajaran yang memuat
dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan
psikomotorik yang bersifat konfluen
atau saling penetrasi dan terintegrasi
dalam konteks substansi ide, nilai,
konsep
dan
moral
Pancasila,
kewarganegaraan yang demokratis, dan
bela Negara
3.
PKn secara programatik dirancang
sebagai subyek pembelajaran yang
menekankan pada isi yang mengusung
nilai-nilai (
content-embedding values
)
dan pengalaman belajar (
learning
experiences
)dalam bentuk berbagai
222
222
perilaku yang perlu diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Sebagai sebuah mata pelajaran
disekolah, guru memiliki peran yang
utaama, sehingga diperlukan kompetensi
keahlian dan keprofsian. Pada dimensi
kompetensi professional atau akademik,
kemampuan guru dapat diamati dari
aspek-aspek berikut ini:
1.
Menguasai materi, struktur, konsep,
dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang
diampu
2.
Menguasai standar kompetensi dan
kompetensi
dasar
mata
pelajaran/bidang pengembangan yang
diampu.
3.
Mengembangkan materi pelajaran
yang diampu secara kreatif.
4.
Mengembangkan keprofesian secara
berkelanjutan dengan melakukan
tindakan reflektif.
5.
Memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan
diri.
(PLPG,
2012:30)
Sesuai Perpres Nomor 5 Tahun
2010 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional, pemerintah
mengagendakan berupa penataan dan
penyempurnaan kurikulum yang ada.
Kurikulum PKn juga mengalami perubahan,
yakni dari kurikulum KTSP 2006 menjadi
Kurikulum 2013. Perubahan kurikulum
membawa pengaruh besar terhadap proses
Kritik atas
pelaksanaan kurikulum 2013 antara lain
pendekatan integrative yang digunakan
dalam kurikulum yang memadukan materi
tentang spiritual, sikap social, pengetahuan
Kompas,19 Sep 2014:
6).
Sebagai mata pelajaran di sekolah
setiap proses pembelajaran memerlukan
perencanaan. Demikian pula setiap guru
PKn dituntut memiliki kemampuan
menyusun perencanaan pembelajaran.
pendidikan
berkewajiban
menyusun
Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara
Permendiknas No. 41/2007 tentang standar
Proses disebutkan:
Perencanaan proses pembelajaran
meliputi silabus dan renccana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
memuat identitas mata pelajaran,
Standar Kompetensi, Kompetensi
Dasar (KD), indicator pencapaian
kompetensi, tujuaan pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, materi ajar,
alokasi waktu, metode pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, penilaian hasil
belajar, dan sumber belajar.
Jadi seorang guru, termasuk guru
mata pelajaran PKn dituntut untuk memiliki
kompetensi
menyusun
perencanaan
pembelajaran
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam jenis
penelitian
survey,
yang
bertujuan
mengidentifikasikan sejumlah kesulitan
guru dalam mengembangkan pembelajaran
PKn di SMP yang didiskripsikan secara
kualitatif.
Pemilihan lokasi penelitian di
seluruh SMP Kota Yogyakarta memiliki
pertimbangan
bahwa
sekolah-seolah
dimaksud dapat dijadikan parameter untuk
melihat
permasalahan
pengembangan
pembelajaran PKn, karena memiliki
aksesibilitas yang relatif tinggi, sebagian
besar telah melaksanakan Kurikulum 2013,
dan tingkat permasalahan yang dihadapi
relatif lebih kompleks. Penelitian dilakukan
selama kurang lebih dua bulan, yakni Juni
dan Juli 2015.
Objek penelitian ini berupa
pengamatan tentang kesulitan-kesulitan
perencanaan pengembangan pembelajaran
PKn SMP berbasis Kurikulum 2013 pada
SMP sebagai obyek penelitian dapat dirinci,
yakni meliputi kesulitan-kesulitan dalam
hal: (1) Perumusan Tujuan; (2) Pemilihan
Strategi / Metode ( Model/ Startegi / Metode
/Teknik)
Pembelajaran
PKn;
(3)
Pengembangan Bahan Ajar dan sumber
belajar; (4) Skenario pembelajaran
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar223
The Progressive and Fun Education Seminar223
The Progressive and Fun Education Seminar(Saintifik); (5) Pemilihan media; dan (6)
Penilaian Pembelajaran
Subjek penelitian meliputi semua
guru PKn di seluruh SMP se Kota
Yogyakarta baik sekolah negeri maupun
swasta yang masih melaksanakan kurikulum
KTSP
maupun
Kurikulum
2013.
Pengumpulan data dilakukan dengan
kuessioner dan dokumentasi. Peneliti
berhasil menghimpun data dari 30 orang
guru PKn. Dokumentasi terutama berupa
catatan/data tentang dokumen pembelajaran
(RPP), latar belakang sosial dan pendidikan
para responden.
Analisis data dilakukan dengan
memberikan makna atas gejala-gejala yang
ditemukan, dihubungkan satu dengan
lainnya hingga diperoleh informasi
pengetahuan
yang
utuh/konseptual
(diskriptif). Diskripsi dimaksud berupa peta
permasalahan pengembangan pembelajaran
PKn yang dibangun melalui cara berfikir
logis induktif bersumber pada persepsi atau
pendapat subyek dan gejala yang
teridentifikasi.
PEMBAHASAN
1.
Proses
Penyusunan
Rencana
Pembelajaran
Penyusunan
RPP
mata
pelajaran PKn pada SMP-SMP di Kota
Yogyakarta, dilakukan pada awal
semester oleh sebagian besar (25
orang) guru dan sebagian (16 orang)
lainnya pada awal tahun. Kesulitan,
terutama adanya: materi yang terlalu
banyak, kesulitan membagi waktu,
menentukan kedalaman ranah tujuan,
dan mengembangkan pendekatan dan
metode pembelajaran, dan hanya ada
dua orang guru yang merasa tidak
mengalami kesulitan di atas.
Terdapat sebagian besar (28
orang) guru menyusun RPP secara
mandiri, sebagian (10 orang) lainnya
secara kelompok melalui MGMP PKn,
dan sebagian lainnya menyusun secara
mandiri dan secara kelompok.
Kesulitan-kesulitan
yang
dapat
ditemukan
meliputi:
menyusun
penilaiannya, ada tambahan muatan
materi dari Yayasan, sisipan terkait
gejala alam, menentukan RPP yang
cocok
dengan
siswa,
dan
perkembangan materi ajar.
Dalam hal dilakukannya
supervisi terhadap RPP, sebagian besar
(20 orang) guru PKn yang menjawab
bahwa RPP selalu dilakukan supervisi,
lainnya (6 orang) mengatakan RPP
tidak disupervisi, dan (4 orang) tidak
berpendapat. Dari hasil supervisi RPP
dapat ditemukan ada RPP yang tidak
sesuai/selaras
dengan
silabus.
Kesulitan-kesulitannya,
diantaranya
karena alasan: Guru bidang studi PKn
membuat
RPP
hanya
sendiri,
Supervisor sibuk sehingga fungsi
pembinaan
pengawalan
berjalan
kurang optimal, Kepala Sekolah
tidak/belum tentu menguasai materi,
Dalaam hal terrakhir ini bisa dipahami
bahwa secara fungsional pimpinan
sekolah kiranya cukup menguasai
prinsip umum saja, karena tidaklah
mungkin kepala sekolah yang juga
sebagai guru suatu bidang studi dapat
menguasai semua materi mata
pelajaran.
Dari
sisi
supervisi
membutuhkan metode alternatif yang
bisa mengatasi keterbatasan, seperti
menyampaikan
laporan
hasil
penyusunan RPP secara berkelanjutan.
2.
Prinsip
Pengembangan
Rencana
Pembelajaran
Seluruh guru menyusun RPP
berdasarkan silabus dari Kemendikbud
RI, yakni menurunkan dari silabus.
Kesulitan utamanya adalah silabus
sering berubah-ubah. Muatan lokal
tidak mendapatkan tempat, atau guru
tidak bisa memasukkan muatan lokal,
karena materi sudah sangat padat.
Menyusun
RPP
dengan
mempertimbangkan kebutuhan anak
didik, dilakukan sebagian besar (21
orangg) guru, tetapi (5 orang) lainnya,
RPP tidak mempertimbangkannya.
Kesulitan guru adalah: menghadapi
tingkat kemampuan anak
berbeda-224
224
beda, kebutuhan anak heterogen, waktu
yang tersedia, karakter kelas belum
nampak, latar belakang siswa, imtak
siswa beragam, perbedaan lokasi,
menentukan RPP yang cocok dengan
setiap siswa, sulit/tidak mudah
membuat RPP dengan memperhatikan
individu siswa.
Menyusun RPP dengan prisip
dapat mendorong partisipasi aktif siswa
dilaksanakan sebagian besar (28 orang)
guru, tetapi ada (2 orang) guru yang
tidak memperhatikan prisip tersebut.
Kesulitan guru adalah menghadapi
kenyataan bahwa tidak semua siswa
dapat aktif, motivasi anak berbeda,
siswa pemalu, dan tidak mudah
menghafal anak.
Menyusun RPP dengan prinsip
menumbuhkan budaya membaca dan
menulis, dilakukan mayoritas guru.
Hanya ada sebagian kecil (3 orang)
belum
mempraktekkannya.
Kesulitannya meliputi: guru yang
tidak/belum mampu membudidayakan
membaca, anak malas membaca dan
menulis, alokasi waktu kurang, tata
bahasa penulisan perlu ditingkatkan,
literatur terbatas, kurang kreaktifnya
anak, tingkat partisipasi siswa berbeda,
dan anak kurang tanggap.
Menyusun RPP yang memuat
kesempatan tindak lanjut, perbaikan
proses dan hasil belajar siswa,
Sebagian besar guru PKn di wilayah
Yogyakarta belum mempertimbangkan
prinsip ini. Hanya ada sedikit (7 orang)
guru saja yang mepertimbangknnya.
Kesulitan mengimplikasikan prinsip
ini, ditemukan adanya siswa kurang
perhatian,
kemampuan
siswa,
menganalisa hasil, siswa mudah bosan
mengulang materi yang sama, tidak
semua siswa langsung dapat mengerti
tentang materi-materi karena masing
individu mempunyai daya tanggap
yang berbeda-beda. Dalam hal ini,
sebaiknya dirancang pembelajaran
perbaikan. Diperoleh data, sebagian
besar (24 orang) guru menggunakan
waktu jam pelajaran untuk perbaikan
pembelajaran, sebagian (13orang) lagi
di luar jam pelajaran. Dalam
menggunakan jam pelajaran untuk
perbaikan pembelajaran, kesulitannya
adalah keterbatasan waktu, alokasi
waktu, dan ketersediaan waktu yang
kurang sehingga mengurangi jam
KBM, dan sering berbenturan dengan
jam mata pelajaran lain. Kesulitan jika
perbaikan di luar jam pembelajaran,
sering berbenturan dengan jadwal
siswa yang padat, baik les mata
pelajaran lain maupun kegiatan ekstra
kurikuler, dan les di luar sekolah.
RPP yang disusun berkaitan
dengan KI dan KD terpadu, materi,
kegiatan, penilaian, dan sumber belajar
dalam satu keutuhan pengalaman
belajar sudah dilakukan oleh sebagian
besar (27 orang) guru, dan sebagian
kecil (3 orang) guru saja yang belum
memperhatikannya.
Kesulitannya
berupa: belum memahami karena baru
satu semester, merasa perlu waktu
panjang untuk memahami kurikulum
2013, peserta berbeda satu sama lain
kemampuannya
karena
inputnya
beragam, sehingga dengan pendekatan
berbagai cara kemampuan siswa
ditingkatkan, sangat membutuhkan
waktu, tenaga, pikiran dan kreativitas
guru.
RPP yang disusun dengan
prinsip
untuk
mengkondisikan
pembelajaran tematik telah dilakukan
oleh guru sebagian (19 orang) guru,
sebagian yang lain belum menerapkan
prinsip diatas. Beberapa kesulitannya
adalah materi yang terlalu luas,
kemampuan siswa kurang, sulit
merancang mengajak siswa dalam
proses.
Menyusun
RPP
telah
mempertimbangkan
penggunaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK) telah dilakukan mayoritas (27
orang) guru PKN, hanya beberapa (3
orang)
guru
yang
belum
mempertimbangkannya.
Adapun
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar225
The Progressive and Fun Education Seminar225
The Progressive and Fun Education Seminarkesulitannya adalah disiplin mencari
sumber materi pembelajaran masih
rendah sehinga siswa masih perlu
dipacu.
3.
Langkah-langkah
Pengembangan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
a.
Mengkaji Silabus
Mengkaji silabus sebelum
menyusun RPP telah dilakukan
sebagian besar (28 orang) guru,
hanya ada dua orang guru yang
tidak mengkaji silabus terlebih
dahulu sebelum menyusun RPP.
Langkah-langkah
pembelajaran
dalam RPP meliputi:
1)
Mengamati
Sebagian besar (26
orang) guru telah menerapkan
kurikulum
2013
sesuai
tahapannya, pertama yaitu
mengamati, namun demikian
ada 4 guru yang belum
melakukan tahapan pertama ini.
Kesulitannya:
Kurikulum
masih KTSP, siswa kurang
konsentrasi,
menyiapkan
gambar yang akan diamati
peserta didik, mengembangkan
tayangan yang selalu dituntut
menarik, persiapan dan waktu,
adang-kadang saja, media
pembelajaran terbatas, perlu
waktu untuk menyiapkan, dan
guru kurang memahami.
2)
Menanya
Merancang
RPP
dengan melaksanakan tahapan
kedua, yaitu menanya sebagian
besar (26 orang) guru telah
melaksanakan, hanya sebagian
kecil (4 orangg) guru yang
tidak menggunakan tahapan
kedua ini. Kesulitan-kesulitan
yang didapatkan adalah masih
menggunakan KTSP, Siswa
Ragu, menyusun kalimat yang
mudah dimengerti, siswa masih
malu, pertanyaan tidak sesuai,
mendorong siswa bertanya,
3)
Mengumpulkan Informasi
Menerapkan langkah
mengumpulkan informasi dam
penyusunan
RPP
sesuai
kurikulum
2013
telah
dilakukan oleh sebagian besar
(26 orangg) guru, dan (4
orangg)
lainnya
belum
menerapkan langkah ketiga ini.
Kesulitan-kesulitan
yang
didapatkan
di
lapangan
meliputi: Masih KTSP, jika
memakai internet lama, siswa
kurang minat, harus dengan
waktu cukup, literatur yang
memadai, siswa kurang aktif
karena banyak masalah, perlu
koordinasi siswa, monoton,
komplek, dan terbatasnya
informasi.
4)
Mengolah Informasi
Pengembangan RPP
berdasarkan kurikulum 2013
menerapkan tahap ke empat
adalah mengolah informasi
terdapat sebagian besar (26
orang) guru yang telah
melakukannya, hanya sedikit (4
orang)
yang
belum
menerapkannya. Kendalanya
masih KTSP, kemampuan
siswa kurang, dibutuhkan
partisipasi setiap siswa, perlu
koordinasi dengan siswa,
mengkoordinasi
siswa,
menganalisis hasil.
5)
Mengkomunikasikan
informasi hasil belajar
Pengembangan RPP
sesuai
kurikulum
2013
menerapkan tahap ke lima,
yakni
mengkomunikasikan
informasi hasil belajar, telah
dilakukan sebagian besar (26
orang) guru, dan sedikit (4
orang) guru yang tidak
merancang
tahapan
ini.
Kesulitan yang ditemukan
adalah
sekolah
masih
menggunakan
KTSP,
kurangnya keberanian dan
226
226
partisipasi
siswa,
diskusi
monoton, kemampuan siswa
kurang, anak kurang tanggap.
b.
Mengidentifikasi
Materi
Pembelajaran
Langkah identifikasi materi
pembelajaran yang menunjang KD
dalam
pengembangan
RPP
diperoleh data bahwa bahwa
sebagian besar (28 orang) guru
telah melakukannya, hanya ada
sedikit (2 orang) guru yang tidak
melakukan identifikasi materi
pembelajaran. Kesulitan yang
dialami guru, yakni waktu tdak
memadai, buku-buku penunjang
kurang lengkap, dampaknya materi
singkat.
Sedangkan dalam proses
memilih materi pembelajaran
dengan
memperhatikan
pertimbangan-pertimbangan
potensi siswa, budaya asal, dan
lingkungan sebagian besar (24
orang)
guru
telah
melaksanakannya,
sedangkan
sedikit (6 orang) saja lainnya yang
tidak
mempertimbangkan.
Kesulitan
yang
menyertai,
diantaranya: anak kurang lengkap,
peserta didik sangat heterogen,
ketersediaan bahan sesuai waktu,
mengukur kondisi karakter peserta
didik,
tidak
mudah
untuk
memenuhi potensi setiap anak,
lingkungan kurang mendukung,
banyak peserta didik dari keluarga
broken sehingga sulit untuk
memilih materi,
Secara standar proses
bersifat keheterogenan input adalah
suatu realitas tetapi dalam proses
justru
diarahkan
mengalami
perubahan sehingga out put sesuai
SK dan KD.
c.
Menentukan Tujuan
Menentukn
tujuan
pembelajaran untuk setiap KD pada
setiap pertemuan dalam RPP,
terdapat sebagian besar (27 orang)
guru, dan terdapat 4 orang guru
yang
tidak
menentukan
pembelajaran untuk setiap KD pada
setiap
pertemuan.
Hal
ini
disebabkan adanyya kegiatan tatap
muka berkelanjutan, sehingga tiap
KD tidak harus ditetapkan kegiatan
pembelajarannya dalam RPP.
Menyusun RPP dengan
menetukan tujuan mengacu pada
indikator, sebagian besar (26 orang)
guru yang telah menentukan tujuan
mengacu pada indikator, sedangkan
sedikit (4 orang) lainnya tidak
demikian. Kesulitannya terutama
karena kesempatan terbatas.
1)
Merumuskan Tujuan
Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan
guru menyebutkan:
a)
Peserta didik (
Audience
)
Sebagian besar (24
orang) guru merumuskan
tujuan pada RPP yang
menyebutkan peserta didik,
sedangkan sedikit lainnya
tidak
menyebutkannya.
Kesulitan yang dialami
guru adanya fakta bahwa
tiap
kelas
berbeda
kemampuan anak.
b)
Aspek kemampuan peserta
didik (
Behavior
)
Sebagian besar (24
orang) guru merumuskan
tujuan
pembelajaran
dengan
menyebutkan
aspek kemampuan peserta
didik, sedikit (4 orang)
lainnya tidak menyebutkan
aspek kemampuan peserta
didik dalam merumuskan
tujuan pembelajaran, dan
tidak ditemukan data
kesulitannya
c)
Pesyaratan (
Condition
)
Dalam merumuskan
tujuan
pembelajaran
sebagian besar (21 orang)
guru telah menyebutkan
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar227
The Progressive and Fun Education Seminar227
The Progressive and Fun Education Seminarpersyaratan
(condition),
sementara sebagian (7
orang)
lainnya
tidak
menyebutkan persyaratan
tersebut.
d)
Ukuran tingkat
keberhasilan (
Degree
)
Sebagian besar (26
orangg)
guru
telah
merumuskan
tujuan
dengan
menyebutkan
ukuran
tingkat
keberhasilan dalam RPP,
terdapat sedikit (2 orang)
guru
yang
tidak
menyebutkan
ukuran
tingkat keberhasilan dalam
merumuskan
tujuan
pembelajaran.
Adapun
kesulitannya
adalah
kemampuan setiap peserta
didik
berbeda-beda
sehingga perlu
diulang-ulang, potensi peserta didik
kurang,
ukuran
pada
penillaian sangat rumit.
Pada dasarnya perbedaan
apapun dalam proses
pembelajaran
dipersyaratkan pada akhir
proses
pembelajaran
memiliki
kompetensi
minimal
yang
sama,
dengan demikian variasi
kompetensi sifatnya adalah
siapa saja dan sebaran
seperti apa yang bisa
mencapai diatas pasing
grade
dan
akhirnya
pebedaan itu muncul dalam
kenbutuhan waktu yang
diperlukan.
d.
Merumuskan
Kegiatan
Pembelajaran dalam RPP
1)
Sebagian besar (25 orang)
guru telah merancang kegiatan
pembelajaran
dengan
melibatkan proses mental dan
fisik peserta didik, sedikit (4
orang) saja yang belum
melibatkan proses mental dan
fisik siswa. Kesulitannya
adalah bisa tidak sesuai
(diusahakan untuk sama), bila
di jam terakhir, kerja
kelompok selalu mengubah
tempat duduk makan waktu.
2)
Merancang
kegiatan
pembelajaran dalam RPP yang
melibatkan interaksi:
(a)
melibatkan antar peserta
peserta didik (28 orang); (b)
melibatkan interaksi peserta
didik dengan guru (27 orang);
(c) melibatkan interaksi antara
lingkungan dan sumber belajar
(26). Kesulitannya banyak
karakter yang dititipkan.
3)
Sebagian besar (19 orang)
guru dalam pengembangan
RPP dengan memasukkan
perlunya
kegiatan
pembelajaran yang dapat
membantu para guru agar lebih
professional, sementara sedikit
(7 orang) lainnya menyatakan
tidak
memasukkannya.
Kesulitannya adalah tidak
semua guru mau menerima
masukan, kemampuan kami
sama-sama, kesibukan
masing-masing,
keterbatasan
kesempatan, kemampuan saya
kurang, yang lain sudah
professional.
4)
Mengembangkan
langkah
kegiatan pembelajaran dalam
RPP agar peserta didik dapat
melakukan kegiatan seperti di
silabus dan siswa dapat aktif,
hamper semua guru telah
melaksanakan, hanya ada satu
guru yang menyatakan tidak,
Adapun kesulitannya adalah:
padatnya waktu yang dialami
guru,
tidak
mudah
mengaktifkan siswa yang
tingkat kecerdasan
berbeda-beda, pengetahuan masih
terbatas.
228
228
e.
Penjabaran Jenis Penilaian dalam
RPP
Hampir semua (28 orang)
guru telah menjabarkan jenis-jenis
penilaian dalam RPP, hanya sedikit
(2 orang) guru yang belum
menjabarkannya.
Kesulitannya
adalah
seringnya
ulangan,
banyaknya materi, kurang teliti.
Penilaian yang dirancang
oleh guru meliputi tes tertulis
maupun lisan, terdapat 28 orang
guru yang telah merancang bentuk
penilaian tersebut, tetapi ada juga (2
orang)
guru
yang
tidak
merancangnya.
Kesulitannya
adalah: membuat soal, menentukan
bobot soal, waktu lama, tidak dapat
memperhatikan
siswa
karena
terfokus pada siswa yang sedang
melakukan tes, anak tidak baca
buku, sulit menghafal, memakan
waktu banyak untuk tes lisan, harus
beberapa kali pertemuan, untuk tes
tertulis tidak masalah, untuk tes
lisan peserta didik tidak dapat
dipastikan dapat menjawab.
Sebagian besar (28 orang)
guru melakukan penjabaran jenis
penilaian dalam RPP yang non tes
seperti dalam bentuk pengamatan
kerja, pengukuran sikap, penilaian
hasil karya berupa tugas, proyek
dan atau produk, penggunaan
portofolio dan penilaian diri hampir,
hanya sedikit (2 orang) guru yang
tidak melakukannya. Adapun
kesulitan-kesulitannya
meliputi:
hanya mampu satu point dalam satu
pokok bahasan, terlalu banyak
aspek yang harus dinilai, membuat
portofolio.
f.
Menetukan Alokasi Waktu
Seluruh (30 orang) guru
menentukan alokasi waktu pada
setiap KD. Kesuliran yang dialami
guru adalah luas materi dan
kemampuan
siswa
yang
diharapkan.
g.
Menentukan Sumber Belajar
Sebagian
besar
telah
menggunakan rujukan, objek atau
bahan dan sumber belajar yang
digunakan
dalam
kegiatan
pembelajaran menggunakan baik
buku paket (28 orang), majalah (27
orang), dan yang menggunakan dan
surat kabar (28 orang). Kesulitan
yang dihadapi yaitu tidak semua
buku ada di perpustakaan, minat
baca anak kurang dan lebih tertarik
IT/Media elektronik, keterbatasan
buku paket dan buku teks lain yang
relevan.
Demikian pula mayoritas
(26 orang) guru telah menjadikan
lingkungan fisik, alam, sosial, dan
budaya sebagai sumber belajar.
Hanya 4 guru yang tidak
menggunakan lingkungan fisik,
alam, sosial dan budaya sebagai
sumber belajar. Kesulitannya adalah
membutuhkan waktu banyak, tidak
memiliki sumber yang tepat,
memerlukan waktu dan biaya bila
berkunjung ke instansi, harus siap
biaya dan waktu, menjadi pekerjaan
rumah (PR).
KESIMPULAN
1.
Kesulitan dalam proses menyusun
perencanaan Pembelajaran PKN,
dialami para guru, meliputi soal:
memerlukan waktu lama; tidak
mudahnya memahami kedalaman
ranah tujuan; memilih pendekatan;
bahan ajar memerlukan penyelarasan
dengan silabus, tambahan, dan
perkembangan materi; dan supervisi.
2.
Kesulitan penerapan prinsip-prinsip
pengembangan RPP:
a.
Dalam proses pembuatan RPP
berdasarkan
silabus
dari
Kemendikbud RI dilakukan
seluruh guru, kesulitan berkaitan
dengan: Silabus yang
berubah-ubah; tingkat kemampuan anak
berbeda-beda, kesesuaian dengan
kebutuhan
anak
karena
heterogenitas atau keberagaman,
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar229
The Progressive and Fun Education Seminar229
The Progressive and Fun Education Seminarketersediaan waktu, latar
belakang
anak,
mengenali
karakter kelas, sulitnya membuat
RPP per individu.
b.
Menyusun RPP yang dapat
mendorong partisipasi aktif siswa
telah dilakukan sebagian besar
guru, tetapi ada guru yang tidak
mengembangkannya.
Kesulitannya, berkenaan dengan
keaktifan, motivasi, sifat pemalu,
dan kemampuan hafalan anak.
c.
Sebagian besar guru dalam
menyusun
RPP
mempertimbangkan
kebutuhan
peserta
didik,
kesulitannya
menyangkut kebutuhan anak yang
heterogen dan tidak mudahnya
menyesuaikan.
d.
Mayoritas guru sudah membuat
RPP yang dapat menumbuhkan
budaya membaca dan menulis,
kesulitannya berkaitan dengan
lemahnya kemampuan guru,
kemalasan anak, alokasi waktu,
ketersdiaan litteratur, partisipasi,
dan kreatifitas anak.
e.
Guru-guru
belum
banyak
mempertimbangkan kesempatan
tindak lanjut, perbaikan proses
dan
hasil
belajar
siswa.
Kesulitannya terutama lemahnya
kemampuan penguasaan bahan
ajar, dan daya tanggap siswa
f.
Perbaikan pembelajaran oleh
sebagian besar guru menggunakan
waktu jam pelajaran, dan sebagian
lainnya di luar jam pelajaran,
kesulitan berupa keterbatasan
waktu sehingga harus mengurangi
jam kegiatan pembelajaran intra
dan ekstra kurikuler, serta les
siswa.
g.
Sebagian
besar
guru
mengembangkan KI dan KD
terpadu,
materi,
kegiatan,
penilaian, dan sumber belajar
dalam
menyusun
RPP.
Kesulitannya: belum memahami
sehingga perlu waktu; input yang
beragam;
memerlukan
penguasaan pendekatan, waktu,
tenaga, pikiran dan kreativitas
guru
a.
RPP
yang
telah
mengkondisikan pembelajaran
tematik telah susun oleh
sebagian guru, sebagian yang
lain belum. Kesulitannya
adalah materi yang terlalu luas,
kemampuan siswa kurang, sulit
mengajak siswa.
b.
Mayoritas guru menyusun RPP
dengan penggunaan Teknologi
Informasi dan Komunikasi
(TIK). Kesulitannya adalah
memacu disiplin siswa.
3.
Kesulitan
langkah-langkah
Pengembangan RPP :
a.
Mengkaji Silabus
1)
Sebagian besar guru telah
mengkaji silabus sebelum
menyusun RPP,
a)
Kesulitannya
mengembangkan
langkah-langkah
pembelajaran dalam RPP
meliputi: (1)
mengamat
i:
kurikulum masih KTSP,
konsentrasi
siswa,
penyiapan
gambar,
tayangan yang menarik,
waktu, media terbatas,
pemahaman guru; (2)
menanya
:
kurikulum
masih
menggunakan
KTSP; keraguan siswa
menyusun kalimat, siswa
masih malu, pertanyaan
tidak sesuai, dan sulit
mendorong
siswa
bertanya;
(3)
mengumpulkan
informasi
: KTSP, jika
memakai internet lama
loading
, siswa kurang
minat, waktu, literature
kurang memadai, siswa
kurang
aktif,
perlu
koordinasi
siswa,
230
230
monoton, komplek, dan
terbatas informasi; (4)
mengolah
informasi
:
masih
KTSP,
kemampuan
siswa,
dibutuhkan
partisipasi
setiap
siswa,
perlu
koordinasi antar siswa;
(5)
mengkomunikasikan
informasi hasil belajar
:
masih KTSP, keberanian
dan partisipasi siswa
kurang, diskusi monoton,
anak kurang tanggap.
b)
Guru
mengalami
kesulitan
dalam
mengidentifikasi materi
pembelajaran,
diantaranya; kurangnya
waktu,
buku-buku
penunjang, materi yang
singkat
mengharuskan
ada
tugas
siswa.
Kesulitan dalam proses
memilih
materi
pembelajaran: data anak
kurang lengkap, peserta
didik
heterogen,
ketersediaan bahan sesuai
waktu,
mengukur
karakter dan potensi anak,
lingkungan
kurang
mendukung,
banyak
peserta
didik
dari
keluarga
broken home.
2)
Merumuskan
tujuan,
kesulitannya: menentukan
tatap muka berkelanjutan,
perumusan
keruntutan
kompetensi pada dataran
operasional
yang
menimbulkan
kesulitan
pemberian
kesempatan
secara individu yang terukur.
a.
Kesulitan
dalam
merumuskan
tujuan
meliputi: (a) menetapkan
keterliibatan peserta didik
(
Audience
): tiap kelas
berbeda
kemampuan,
kemampuan anak didik
tidak sama; (b) aspek
kemampuan peserta didik
(
Behavior
):
tidak
ditemukan; (c) Pesyaratan
(
Condition
):
tidak
ditemukan; (d) Ukuran
tingkat
keberhasilan
(
Degree
):
kemampuan
setiap
peserta
didik
berbeda-beda sehingga
perlu
diulang-ulang,
potensi peserta didik
kurang, dan ukuran pada
penillaian sangat rumit.
3)
Mengembangkan Kegiatan
Pembelajaran dalam RPP
a)
Dalam
RPP
yang
merancang
kegiatan
pembelajaran melibatkan
proses mental dan fisik
peserta didik dilakukan
seluruh guru.
b)
Sebagian besar guru
merancang RPP untuk
kegiatan kerja kelompok
yang
melibatkan
interaksi: (a) antar peserta
didik telah dilakukan
guru; (b) antar peserta
didik dengan guru; (c)
interaksi
antara
lingkungan dan sumber
belajar, tetapi sebagian
kecil guru ada yang tidak
merangcangnya.
Kesulitannya
banyak
karakter yang dititipkan
c)
Pembangan
kegiatan
pembelajaran
d)
Menyusun RPP yang
membantu para guru
lainnya
agar
dapat
professional,
telah
dilakukan sebagian besar
guru, tetapi sebagian kecil
lainnya
tidak
merancangnya.
Kesulitannya tidak semua
guru mau menerima
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar231
The Progressive and Fun Education Seminar231
The Progressive and Fun Education Seminarmasukan, beranggapan
kemampuan kami
sama-sama, kesibukan
masing-masing,
keterbatasan
kesempatan, kemampuan
responden kurang, yang
lain sudah professional.
Dalam
hal
menata
kegiatan agar peserta
didik dapat melakukan
kegiatan seperti di silabus
dan siswa dapat aktif,
semua
guru
telah
melaksanakan, hanya ada
satu guru yang tidak
mengelolanya.
Kesulitannya:
belum
maksimal,
keterbatasan/padatnya
waktu, sulit mengaktifkan
siswa yang memiliki
tingkat
kecerdasan
berbeda-beda,
pengetahuan
masih
terbatas,
perlu
dikembangkan,
4)
Penjabaran Jenis Penilaian
dalam RPP
Sebagian besar guru
telah menjabarkan jenis
penilaian dalam RPP,
sementara ada guru yang
belum menjabarkan jenis
penilaian dalam RPP.
Kesulitannya
adalah
seringnya
ulangan,
banyaknya materi, kurang
teliti.
a.
Sebagian besar guru
merancang
penilaian
yang tes tertulis maupun
lisan, tetapi ada sedikit
guru
yang
belum
merancang
penilaian
dalam
RPP
yang
meliputi tes tertulis
maupun
lisan.
Kesulitannya
pada:
membuat
soal,
menentukan bobot soal,
waktu lama, tidak dapat
memperhatikan siswa
karena terfokus pada
siswa yang sedang
melakukan tes, anak
tidak baca buku, sulit
menghafal, memakan
waktu yang banyak
untuk tes lisan harus
beberapa
kali
pertemuan, untuk tes
tertulis tidak masalah,
untuk tes lisan peserta
didik
tidak
dapat
menjawab.
b.
Demikian
pula
penjabaran
jenis
penilaian non tes dalam
bentuk
pengamatan
kerja, pengukuran sikap,
penilaian hasil karya
berupa tugas, proyek
dan
atau
produk,
penggunaan portofolio
dan
penilaian
diri
hampir seluruh guru
menjabarkannya,
walaupun ada pula guru
yang tidak menjabarkan
penilaian
non
tes
tersebut. Kesulitannya
meliputi : hanya mampu
satu point dalam satu
pokok bahasan, terlalu
banyak aspek yang
harus dinilai, membuat
portofolio.
5)
Menetukan Alokasi Waktu
Seluruh
guru
menentukan alokasi waktu
pada setiap Kompetensi
Dasar,
kesulitannya:
menyangkut
luasnya
materi dan kemampuan
siswa.
6)
Menentukan Sumber Belajar
Sebagian besar telah
menggunakan
rujukan,
objek dan/atau bahan dan
sumber
belajar
yang
232
232
digunakan dalam kegiatan
pembelajaran, baik buku
paket, majalah, dan surat
kabar. Kesulitan yang
dihadapi yaitu tidak emua
buku ada di perpustakaan,
minat baca anak rendah
kurang.
Dalam
hal
menjadikan
lingkungan
fisik, alam, sosial, dan
budaya sebagai sumber
belajar,
kesulitannya
adalah
membutuhkan
waktu, dan sumber yang
tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, Dasim. 2010.
Penguatan
Pendidikan
Kewarganegaraan
Untuk
Membangun
Karakter
Bangsa
. Bandung: Widya Aksara
Press.
Khoiru Ahmadi, dkk. 2011.
Strategi
Pembelajaran Berorientasi KTSP
.
Penerbitt:
Prestasi
Pustaka
Publisher
Konsorsium Sertifikasi Guru UNY. 2013.
Modul
PLPG
Kebijakan
Pengembangan Profesi Guru
.
Yogyakarta: UNY
Mulyasa, E. 2013.
Pengembangan dan
Implementasi Kurikulum 2013
.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mursalin,
Zainal.
2010.
Realitas
Pendidikan Nasional Indonesia
Tanpa Pendidikan Pancasila
Makalah
disampaikan
dalam
Seminar Nasional Pendidikan
Pancasila di UAD
.
Yogyakarta:
UAD
Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013
tentang Perubahan PP No. 19
Tahun 205 tentang Standar
Nasional Pendidikan
Peraturan
Menteri
Pendidikan
dan
Kebudayaan No. 81A Tahun 2013
tentang Implementasi Kurikulum.
Somantri,
Menggagas
Pembaharuan Pendidikan IPS
.
Bandung: Kerjasama PT Remaja
Rosdakarya dengan FPIPS dan PPs
Universitas Pendidikan Indonesia.
Winataputra, Udin S. 2001.
Jatidiri
Pendidikan
Kewarganegaraan
Sebagai
Wahana
Sistemik
Pendidikan Demokrasi: Suatu
Kajian Konseptual Dalam Konteks
Pendidikan IPS.
Disertasi PPS UPI:
tidak diterbitkan.
... 2010.
Himpunan Peraturan Tentang
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Majelis Dikdasmen PWM DIY
UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional
Kompas, 19 September 2014
Kompas, 9 September 2014
The Progressive and Fun Education Seminar The Progressive and Fun Education Seminar233
The Progressive and Fun Education Seminar233
The Progressive and Fun Education Seminar