HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN KOMITMEN GURU
SEKOLAH BILINGUAL DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh :
EQI MARDHANI
NIM : 041301015
FAKULTAS PSIKOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan jembatan menuju kesuksesan. Siapapun yang hidup di
dunia ini, berhak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Oleh sebab itu tidak
salah rasanya jika setiap orangtua menjadi sangat hati-hati dalam menentukan
sekolah untuk buah hatinya (Republika, 2007). Salah satu pilihan orangtua saat ini
adalah sekolah bertaraf internasional. Sekolah bertaraf internasional yang tepat
dengan era globalisasi saat ini adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan
dengan kurikulum berstandar internasional, namun juga menekankan nilai-nilai
akhlak yang mulia kepada anak didiknya. Sehingga dihasilkan insan cendekia
dengan akhlak yang terpuji (Ronny Preslysia-Public Relations Officer dikutip dari
Republika, 2007).
Sekolah bertaraf internasional biasanya menggunakan dua bahasa dalam
proses belajar dan mengajarnya, hal ini biasa disebut dengan sekolah bilingual.
Sekolah bilingual merupakan suatu bentuk pengajaran dimana semua komponen
di dalam sekolah itu diterapkan atau dijalankan dalam dua bahasa yang berbeda
satu sama lainnya. Biasanya bahasa mayoritas dan bahasa minoritas (Wikipedia,
2005).
Sekarang ini ada banyak sekolah bilingual di Indonesia, yaitu sekolah yang
bilingual tersebut adalah karena pendidikan sudah dijadikan sebagai bisnis yang
bisa mendatangkan keuntungan. Bisnis francise sekolah cepat mendatangkan
keuntungan, tidak pernah rugi, dan cepat balik modal. Untuk menarik minat
masyarakat maka ditambahkanlah kurikulum dari luar negeri dan penggunaan
bahasa Inggris di sekolah tersebut. Hal ini akan melambungkan harga yang harus
dibayar oleh orangtua yang ingin anaknya sekolah di sekolah bilingual. Sehingga
sekolah jenis ini terkenal dengan sekolah yang mahal (Netto, 2007).
Menjamurnya sekolah bilingual disebabkan banyaknya peminat, sehingga
kepentingan bisnis lebih diutamakan. Pihak sekolah berupaya keras
mendatangkan tenaga pengajar warga negara asing agar orangtua siswa yakin
anaknya telah masuk ke sekolah bilingual (Netto, 2007).
Harga yang mahal untuk masuk sekolah bilingual ini tidak serta merta diiringi
dengan kualitas yang bagus pula. Banyak sekolah bilingual yang ada di Indonesia
yang kualitas para pengajarnya masih diragukan. Banyak pihak sekolah yang asal
saja dalam memilih guru, asalkan guru tersebut warga negara asing, maka dia bisa
menjadi guru, walaupun tidak punya latar belakang bidang pendidikan sekalipun.
Tidak jarang guru diambil dari warga negara asing yang kehabisan uang di
Jakarta, tidak jarang yang mengajar di kursus-kursus bahasa Inggris, atau turis
yang tinggal di Jalan Jaksa Jakarta. Mereka pun banyak yang hanya tamatan SMA
saja (Netto, 2007).
Banyaknya sekolah bilingual yang bermunculan juga terjadi di Kota Medan.
Sejak beberapa tahun belakangan ini banyak sekolah yang menawarkan sistem
adalah Chandra Kusuma School. Sekolah ini mempekerjakan guru-guru yang bisa
berbahasa Inggris. Guru-guru tersebut tidak harus memiliki latar belakang ilmu
pendidikan, asalkan sesuai dengan kriteria yang diajukan oleh pihak sekolah.
Selain guru-guru yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Chandra
Kusuma School juga mendatangkan beberapa guru asing dari beberapa negara,
seperti Belanda.
Guru adalah orang yang profesional, artinya secara formal mereka disiapkan
oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara
khusus untuk memperoleh kompetensi seorang guru yang meliputi pengetahuan,
keterampilan, kepribadian, serta pengalaman dalam bidang pendidikan. Keadaan
yang ada di Chandra Kusuma School ini sesungguhnya belumlah ideal, karena
masih adanya guru-guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan
(Wibowo, 2002).
Guru-guru sekolah bilingual yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang
pendidikan akan mengalami hambatan dalam menghadapi siswanya, terutama
dalam pemilihan dan penggunaan kata-kata dalam mengajar. Banyak siswa yang
lambat dalam belajar dan mengerjakan tugas di kelas disebabkan siswa tersebut
tidak mengerti kalimat yang diucapkan oleh gurunya. Siswa seperti mendengar
kata-kata asing yang tidak jelas dan hanya beberapa kata yang mereka mengerti.
Guru yang melihat siswanya lambat mengerjakan tugas langsung menganggap
siswanya tersebut pemalas. Keadaan ini menunjukkan bahwa guru tersebut tidak
mengenai keadaan dan lingkungan pendidikan, khususnya pendidikan untuk
siswanya (Netto, 2007).
Kemampuan seorang guru untuk bisa menghadapi siswa-siswanya
berhubungan dengan self-efficacy yang dimiliki oleh guru tersebut (Hoy &
Woolfolk dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy merupakan kepercayaan pada satu
kemampuan untuk mengatur dan melaksanakan bagian dari aktivitas yang
dibutuhkan untuk menghasilkan tujuan yang diinginkan (Bandura, 1997).
Self-efficacy merupakan suatu keyakinan dalam diri seseorang bahwa ia mampu
melakukan tugas tertentu. Keyakinan akan self-efficacy mempengaruhi pemilihan
perilaku, usaha, dan ketekunan seseorang. Self-efficacy dapat menentukan
bagaimana perasaan seseorang, cara berfikir, dan berperilaku (Bandura, 1997).
Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari
prestasi yang diterima siswa dan juga akan mempengaruhi motivasi siswa dalam
belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor
yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika
siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran,
Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).
Self-efficacy adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dan memutuskan
tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self-efficacy
merupakan mediator terbesar untuk tingkah laku manusia dan perubahan tingkah
laku. Kepercayaan individu memberikan pengaruh pada tingkah laku, motivasi,
Selanjutnya, Bandura (1997) juga menyatakan bahwa self-efficacy berguna
untuk melatih kontrol terhadap stressor. Hal ini berhubungan dengan profesi guru
yang seringkali menimbulkan ketegangan. Banyaknya waktu yang dihabiskan
untuk menangani masalah-masalah siswa membuat guru frustasi dan depresi
(Santrock, 2004).
Seorang guru yang efektif memiliki kepercayaan diri akan self-efficacy yang
dimilikinya dan tidak membiarkan emosi negatif mengurangi motivasinya dalam
mengajar. Guru yang efektif menunjukkan sikap yang positif dan antusias dalam
kelas. Sikap ini akan menularkan pada siswa dan akan membantu mereka
merasakan bahwa kelas adalah tempat yang mereka inginkan (Santrock, 2004).
Self-efficacy yang dimiliki seorang guru disebut sebagai self-efficacy guru
(teacher efficacy). Self-efficacy guru merupakan penilaian seorang guru terhadap
kemampuannya untuk menghasilkan suatu hasrat bagi siswa untuk mencapai
tujuan pelajaran, meskipun diantara siswanya ada yang mengalami kesulitan
dalam belajar atau tidak termotivasi untuk belajar (Tschannen-Moran & Woolfolk
Hoy, dalam Henson, 2001).
Kemudian Ashton dan Webb (dalam Pintrich, 2002) menyatakan bahwa
self-efficacy guru merupakan kepercayaan seorang guru mengenai kemampuannya
untuk membantu siswanya dalam belajar. Self-efficacy guru akan mempengaruhi
self-efficacy tipe yang sama dari aktivitas yang memberikan dampak pada siswa,
misalnya pemilihan aktivitas, usaha, ketahanan, dan prestasi. Hoy dan Woolfolk
(dalam Pintrich, 2002) menyatakan bahwa self-efficacy guru merupakan
belajar untuk bisa belajar, hal ini merupakan salah satu karakteristik personal dari
guru yang berhubungan dengan prestasi siswa.
Guru dengan self-efficacy yang tinggi cenderung untuk mencoba
metode-metode instruksi, mencari metode-metode mengajar tambahan, dan melakukan percobaan
dengan materi instruksional (Allinder, dalam Henson, 2001). Guru yang memiliki
self-efficacy yang tinggi juga akan lebih mengembangkan aktivitas yang
menantang, membantu siswa untuk sukses, dan bertahan dengan siswa yang
mengalami masalah dalam belajar. Guru dengan self-efficacy yang tinggi
menyukai lingkungan kelas yang positif, mendukung ide-ide siswa, dan
menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa (Ashton & Webb, dalam
Pintrich, 2002). Teori efficacy memprediksikan bahwa guru dengan
self-efficacy tinggi bekerja lebih keras dan bertahan lebih lama ketika menghadapi
siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini karena guru percaya pada dirinya
dan siswa-siswanya.
Ashton dan Webb (dalam Pintrich, 2002) mengungkapkan bahwa guru dengan
self-efficacy yang rendah mungkin menghindari untuk merencanakan aktivitas
yang mereka yakini melampaui kemampuan mereka, tidak bertahan dengan siswa
yang mengalami kesulitan, melakukan sedikit usaha untuk menemukan
materi-materi pengajaran, dan tidak mengulang pelajaran dengan cara yang bisa
membuat siswa lebih mengerti.
Namun demikian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga oleh
komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat
menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan
kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh
terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias
(dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa
komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam
kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.
Louis dan Coladarci (dalam Jeffros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa
self-efficacy guru secara langsung mempengaruhi komitmen guru. Komitmen guru
mengalami perubahan dan pengurangan ketika guru merasa tidak sukses, dimana
ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah. Perasaan tersebut
mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk memengaruhi proses
belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan misi dan standar
internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan untuk berprestasi
mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).
Nias (1981, dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) menyatakan
bahwa komitmen merupakan suatu bagian yang digunakan seseorang untuk
menjelaskan dirinya dan orang lain. Komitmen menunjukkan siapa yang peduli,
berdedikasi, dan siapa yang mengerjakan pekerjaan dengan serius. Beberapa guru
melihat komitmen mereka sebagai bagian dari identitas profesionalnya, hal ini
menjelaskan mereka dan pekerjaannya dimana mereka menikmati pekerjaannya
itu (Elliot & Crosswell, 2001). Sebagian guru lainnya menganggap bahwa
kegiatan mengajar akan menghabiskan waktu hidupnya (Nias, 1981, dalam
komitmen mereka dengan sekolah, seperti hanya untuk bertahan di sekolah
tersebut. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk meninggalkan
profesinya tersebut (Teacher Commitment and Engagemant, 2007).
Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru
akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi
kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan
ketidakmampuan mereka untuk mempengaruhi proses belajar siswa (Joffres &
Haughey, 2001).
Komitmen guru bisa dipertinggi atau dikurangi dari beberapa faktor seperti
tingkah laku siswa, kolega dan dukungan administratif, dukungan orang tua siswa,
dan undang-undang pendidikan nasional (Day, 2000; Louis, 1998; Riehl & Sipple,
1996; Tsui & Cheng, 1999). Tingkat komitmen guru ini merupakan faktor
penentu dari kesuksesan pendidikan.
Fresko, dkk (dalam Joffres & Haughey, 2001) menyatakan bahwa komitmen
guru merupakan hal yang penting dalam menentukan keefektifan sekolah dan
kepuasan guru. Penelitian menemukan bahwa tingkat komitmen yang rendah akan
mengakibatkan penurunan prestasi siswa, tingkat absensi yang tinggi, dan
meningkatnya turnover guru (Kushman, Reyes & Fuller, Rosenholtz, dalam
Joffres & Haughey, 2001).
Menurut Wibowo (2002) seorang guru harus mempunyai komitmen tinggi
untuk dapat meningkatkan keterampilan yang memungkinkan, yaitu keterampilan
dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah, berpikir kreatif, kritis, produktif,
Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa komitmen seorang
guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam mengajar, dimana hal ini
berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan keberhasilannya dalam
mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy
mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika berhadapan dengan
masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga. Keadaan di sekolah bilingual
memerlukan usaha yang lebih dari sekolah biasa. Di sekolah bilingual guru
diwajibkan menguasai bahasa Inggris karena proses belajar mengajar disampaikan
dalam bahasa Inggris. Siswa yang dihadapi juga terkadang berasal dari negara
lain, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi guru dan mungkin akan
mempengaruhi emosi dan ketahanan guru dalam menghadapi siswanya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melihat apakah ada hubungan antara
self-efficacy guru dengan komitmen guru sekolah bilingual di Kota Medan.
B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara self efficacy dengan
komitmen guru sekolah bilingual di Kota Medan.
C. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini memiliki dua manfaat, yaitu manfaat praktis dan manfaat
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dalam bidang
psikologi, khususnya psikologi pendidikan, mengenai self-efficacy dan komitmen
guru, serta memberi sumbangan pemikiran bagi penelitian selanjutnya
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
pembaca, guru dan orangtua tentang sekolah bilingual berkaitan dengan
self-efficacy dan komitmen guru di sekolah bilingual yang diharapkan dapat berguna
untuk membantu dalam membina para guru sekolah bilingual di Kota Medan.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I : Pendahuluan, berisi penjelasan mengenai latar belakang
permasalahan, tujuan, manfaat dan sistematika penelitian.
Bab II : Landasan teori, berisi teori dan hasil penelitian yang digunakan
menjadi landasan penelitian. Dalam penelitian ini akan digunakan
teori self-efficacy dari Bandura (1997) dan teori komitmen guru
dalam Pugach (2006). Pada bab ini akan dijelaskan juga mengenai
sekolah bilingual dan hubungan antara self-efficacy dengan
komitmen guru pada sekolah bilingual.
Bab III : Metode penelitian, berisi identifikasi variabel penelitian, definisi
operasional, populasi dan sampel yang akan diteliti, metode
penentuan sampel, alat ukur yang akan digunakan, prosedur
Bab IV : Analisa dan interpretasi hasil penelitian, berisi tentang hasil
penelitian, pengolahan data, dan interpretasi hasil penelitian.
Bab V : Kesimpulan, diskusi dan saran, berisi kesimpulan yang berusaha
menjawab masalah yang dikemukakan berdasarkan hasil
penelitian. Kemudian berdasarkan kesimpulan dan diskusi akan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KOMITMEN GURU 1. Pengertian komitmen guru
Komitmen guru merupakan penafsiran internal seorang guru tentang
bagaimana mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka (Solomon,
2007). Secara umum komitmen mengacu pada satu tingkatan penerimaan dalam
organisasi. Komitmen menjelaskan hasil yang disetujui dari sebuah keputusan
atau meminta dan membuat sebuah usaha yang baik untuk menjalankan keputusan
tersebut secara efektif (Yulk, 2002 dalam Solomon, 2007).
Rosenholtz (dalam Solomon, 2007), menyatakan bahwa komitmen lebih
mengacu kepada pengaturan dan manajemen tugas dan perputaran di dalam
organisasi daripada kualitas personal seseorang dalam lingkungan kerja.
Komitmen merupakan subjek dari ketertarikan dalam organisasi yang membuat
pekerja lebih suka menetap di dalam organisasi (Reichers, 1985 dalam Solomon,
2007).
Menurut Riehl dan Sipple (dalam Solomon, 2007) komitmen guru memiliki
efek positif terhadap prestasi siswa di sekolah. Pengertian tentang komitmen guru
berbeda-beda berdasarkan konteks analisanya. Komitmen merupakan keadaan
psikologis yang mengidentifikasikan suatu keterbukaan individual yang
Komitmen guru dimaknai sebagai komitmen guru merupakan faktor penentu
yang mempengaruhi proses pengajaran dan belajar siswa (Reyes & Rosenholtz,
dalam Solomon, 2007).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
komitmen guru adalah penafsiran internal seorang guru tentang bagaimana
mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka yang ditandai dengan
keinginan untuk menetap di dalam organisasi dan terlibat dalam pekerjaan, serta
keinginan untuk mempengaruhi proses belajar siswa.
2. Aspek-aspek komitmen guru
Pugach (2006) menjelaskan lima aspek dari komitmen guru, yaitu sebagai
berikut :
a. Belajar dari berbagai sumber ilmu pengetahuan
Apa yang didapatkan selama seorang guru menjalankan pendidikannya akan
memberikan dasar bagi guru tersebut untuk mengajar, dimana hal tersebut
diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri guru untuk memulainya. Tetapi
apapun profesinya tidaklah mungkin untuk mempelajari semua hal yang
berkaitan. Tidak mungkin seorang guru mendapatkan semua informasi dari
pendidikan formal yang dijalaninya. Seorang guru diharapkan bisa memulai
dengan tingkat kompetensi yang pasti dalam menciptakan kelas, menyusun
instruksi, dan bekerja bersama siswa untuk mendukung pelajaran mereka. Untuk
unggul dalam profesi ini, untuk menunjukkan bahwa seorang guru mengerjakan
tugasnya dengan serius dan sungguh-sungguh, dan untuk menantang diri guru itu
mengajar merupakan pengalaman belajar yang berkelanjutan selama masa
perjalanan karir guru tersebut.
Seorang guru telah memiliki pengalaman tentang mengajar selama ia menjadi
siswa dulu, tetapi pengalaman itu sangat berbeda jika dilihat dari perspektif
profesional. Guru belajar mengajar dari latar belakang personal dan
pengalamannya, dari persiapan profesionalnya, dari pengalaman mengajarnya,
dari saran orang lain tentang mengajar, dari pendidikan formal untuk guru, dan
dari program pengembangan profesional.
Pendidikan formal yang diterima seorang guru hanya permulaan dari
pertumbuhan dan perkembangan kehidupan profesinya. Seorang guru yang
berpengalaman tahu bahwa belajar bagaimana mengajar tidak berawal dan
berakhir ketika mereka menyelesaikan program pendidikan gurunya. Mereka tahu
bahwa mereka tidak mengetahui segalanya dan bekerja dengan banyak siswa yang
saling berbeda dengan kebutuhan yang berbeda-beda pula yang memberikan
tantangan tanpa henti. Untuk menjadi guru yang bisa menghadapi tantangan
tersebut guru diharapkan untuk terus belajar.
Untuk menambah pengetahuannya guru hendaknya juga belajar dari praktek
mengajarnya dan dari interaksi dengan orang lain, berhubungan dengan proses
mengajar mereka (Donovan, 2000 dalam Pugach, 2006).
Tinjauan kritis yang akan dihadapi dengan sumber ilmu pengetahuan dari
pertumbuhan profesional seorang guru dan mengembangkan ilmu tersebut dalam
1) Pertama, guru yang melihat diri mereka sebagai pelajar yang siap belajar dari
para siswanya. Siswa memiliki banyak hal yang bisa diajarkan kepada guru
tentang kehidupan mereka di dalam maupun di luar sekolah, tentang
bagaimana mereka belajar, tentang kehidupan mereka, dan tentang sebaik apa
guru telah mengajar berdasarkan pengertian guru tentang tugas yang telah
dikerjakan oleh siswanya.
2) Kedua, guru yang melihat diri mereka sebagai model pembelajaran yang
penting bagi siswa-siswa mereka. Mengenal bahwa ada hal baru dalam
belajar, dimana belajar memiliki nilai, dan bersama dengan siswa-siswa
mereka guru bisa mencoba pendekatan baru dalam mengajar sebagai cara
dalam belajar.
3) Pada akhirnya, guru membuat pilihan mengenai apa yang mereka lakukan
untuk belajar pada tempat pertama. Apakah seorang guru tertarik untuk fokus
pada isi pelajaran baru, metode mengajarnya, apakah guru akan bersikap
fleksibel dalam mengajar, semua ini berhubungan dengan penempatan
rangkaian pelajaran sepanjang karir seorang guru dan menggambarkannya
dalam sumber ilmu pengetahuan yang beragam.
b. Menjalankan kurikulum dengan bertanggung jawab
Kurikulum merupakan salah satu hal yang utama dimana tujuan yang berbeda
dari setiap sekolah terletak. Seorang guru harus memiliki akses dengan kurikulum
formal, dengan materi instruktusional formal dan buku panduan dalam bekerja.
Tetapi walaupun seorang guru telah mengetahui dan menjalankan kurikulum,
bagaimana mengajar. Dengan kata lain, ketika guru menjalankan materi dari
kurikulum, guru tidak mengetahui cara untuk mengajar.
Seorang guru harus bisa menjalankan kurikulum dengan menyeluruh dan
mendalam, guru bisa nyaman dengan kurikulum tersebut, kurikulum tersebut
menarik bagi siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar.
Komitmen profesional untuk menggunakan kurikulum secara bertanggung
jawab mengandung arti bahwa guru tidak hanya mengetahui apa yang ada di
dalam kurikulum tersebut, tetapi juga berpikir secara aktif mengenai cara terbaik
dalam mengajar dengan kurikulum tersebut yang bertujuan untuk menbuat siswa
menjadi mandiri. Sepanjang karir seorang guru, mereka menghadapi tantangan
yang belum pernah dihadapi sebelumnya dengan menyeimbangkan isi kurikulum
dengan memberi kuasa pada siswa mereka. Guru yang dihadapkan dengan pilihan
tentang apakah mudah menjalani kurikulum atau melakukan pekerjaan dengan
menghubungkan kurikulum dengan kehidupan siswa, dengan memberikan
pengertian dan alasan untuk belajar topik dan tantangan yang baru.
c. Menggantikan batasan-batasan yang dimiliki dengan batasan umum yang
lebih beranekaragam
Ketika seorang guru tidak terbiasa dengan bahasa dan budaya siswanya atau
ketika guru tersebut bertempat tinggal di luar komunitas para siswa yang
diajarnya, maka gur tersebut harus menjebatani budaya dan berbedaan ekonomi
sosial tidak hanya dengan siswa tetapi juga dengan keluarga siswa.
Tidak hanya masalah budaya yang harus diperhatikan oleh guru, tetapi guru
siswa yang mengalami disorientasi seksual. Masing-masing dari perbedaan
sangatlah unik, menuntut guru untuk keluar dari kenyamanan hidupnya selama ini
untuk menantang kepercayaannya dan potensial bias, dan untuk menciptakan
ruangan kelas dimana tidak ada siswa yang dikucilkan.
Tindakan yang dipilih guru di dalam kelas untuk menghormati perbedaan
yang ada dapat mempengaruhi kesuksesan ataupun kegagalan yang akan diterima
siswa. Apakah guru akan melihat perbedaan sebagai aset yang akan memperkaya
kelas mereka atau guru akan menghargai perbedaan yang dihadapinya. Apakah
mereka akan komit sebagai guru untuk mempercayai potensi dari masing-masing
siswanya, untuk memberikan kepada setiap siswa dengan tantangan pengalaman
sekolah dan kemungkinan untuk tumbuh, daripada hanya memnyukai siswa yang
memiliki latar belakang yang sama dengan dirinya.
d. Membicarakan kebutuhan pribadi siswa dalam lingkungan kelas dan sekolah
Pada bagian komitmen ini, guru harus mengerti bahwa mengajar bukan hanya
terdiri dari kegiatan pasif yang terjadi di dalam kelas, membuka buku, dan
membaca petunjuk untuk kegiatan selanjutnya di depan kelas. Terampil,
menjalankan pekerjaan sebagai guru dengan aktif untuk menjadi gambaran
bagaimana memotivasi dan terlibat dalam proses belajar siswanya. Mereka
dengan sukarela mencari dan mengimplementasikan metode mengajar yang akan
memungkinkan guru untuk menjangkau seluruh siswanya. Hal ini sering diartikan
sebagai sebuah kebijaksanaan yang menggabungkan seluruh kelas, kelas kecil,
dan kerja individual. Mengajar yang hanya untuk merata-ratakan siswa tidak
Guru yang membicarakan dengan serius kebutuhan akan siswanya secara aktif
membutuhkan seorang penasehat untuk mereka dan membuat pilihan untuk
mencari sumber dan solusi dari masalah-masalah sehingga kesuksesan bisa
menjadi nyata. Para guru mendapat nasehat bukan hanya secara individual tetapi
juga mengenai kelas mereka secara keseluruhan, baik nasehat untuk sumber
dayanya, untuk pengalamannya, dan untuk kesempatan yang memungkinkan
siswa mereka mendalami pelajarannya.
e. Memberikan kontribusi secara aktif pada profesinya
Guru bisa memberikan kontribusinya terhadap profesi dengan berbagai cara
yang berbeda. Sepanjang perjalanan karir, seorang guru perlu membuat pilihan
mengenai tingkatan komitmen yang akan mereka capai. Akankah guru tersebut
menjadi guru yang pasif yang hadir setiap hari, menghabiskan hari, pulang ke
rumah, dan mengumpulkan bon gaji setiap bulannya? Atau menjadi guru yang
aktif yang ikut berpartisipasi secara profesional, kehidupan intelektual dari
mengajar untuk menambah apa yang akan diberikan di dalam kelas atau sekolah?
Pada area apa kekuatan dari keahlian khusus seorang guru akan berkembang, dan
bagaimana kekuatan itu akan digunakan untuk lebih baik menjangkau siswa dan
membantu guru yang lain melakukan hal yang sama.
Kontribusi apa yang akan diberikan oleh seorang guru, apakah akan
menjalankan peran kepemimpinan pada lingkungan sekitar sekolah, untuk
membangun partisipasi dari pihak keluarga di dalam sekolah, atau akan membuat
komitmen untuk menjalankan peraturan pendidikan atau bekerja dalam organisasi
area yang khusus. Dalam merencanakan karirnya sebagai guru, penting untuk
mengetahui bagaimana untuk bisa menjadi produktif dan menjadi anggota yang
aktif dalam profesinya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen guru
Banyak faktor yang mempengaruhi komitmen guru, diantaranya adalah :
a. Kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan organisasi (Mowday, dkk,
dalam Solomon, 2007).
b. Tingkat keterlibatan dalam pengambilan keputusan (Kushman, 1992 dalam
Solomon, 2007).
c. Menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar (Kushman, 1992, dalam
Solomon, 2007).
d. Prestasi siswa (Kushman, 1992 dalam Solomon, 2007).
e. Hadiah dan otonomi tugas (Rosenholtz 1989, dalam Solomon, 2007).
f. Feedback dari lingkungan atas tugas yang telah dilaksanakan (Solomon,
2007).
g. Pengertian guru terhadap tugas dan keahliannya (Firestone & Rosenblum,
dalam Solomon, 2007).
h. Kepuasan kerja (Fresko, Kfir, & Nasser, 1997 dalam Solomon, 2002).
i. Tingkatan tugas (Deci & Ryan, 1985 dalam Solomon, 2007).
j. Dukungan administratif (Firestone and Rosenblum, 1988 dalam Solomon,
k. Pengertian guru akan keunikan siswa (Louis, 1998 dalam Solomon, 2007).
l. Pengabdian guru dalam membantu siswa untuk belajar (Dannetta, 2002 dalam
Solomon, 2007).
B. SELF-EFFICACY 1. Pengertian self-efficacy
Self-efficacy merupakan penilaian terhadap diri sendiri mengenai kemampuan,
efisiensi, dan kompetensi dalam menghadapi kehidupan. Bandura menjelaskan
self-efficacy sebagai persepsi terhadap kemampuan untuk menghasilkan dan
mengatur kejadian dalam hidup. Dengan membahas dan memelihara penampilan
standar akan mempertinggi self-efficacy, dan sebaliknya kegagalan dalam hal
tersebut akan mengurang self-efficacy (Schultz, 1994).
Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) mengemukakan bahwa self-efficacy
merupakan perasaan seseorang terhadap kecukupan, efisiensi, dan kompetensinya
dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menemukan dan
mempertahankan standar performansi, maka seseorang dapat meningkatkan
self-efficacy yang dimilikinya, dan kegagalan untuk menemukan dan mempertahankan
performasi tersebut akan mengurangi self-efficacy yang dimilikinya itu.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah
kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi dan mengatur
kehidupannya yang berkaitan dengan penilaian individu atas kecukupan, efisiensi,
2. Struktur self-efficacy
Self-efficacy bervariasi pada beberapa dimensi yang mempunyai implikasi
penampilan yang penting (Bandura, 1997), perbedaan itu diantaranya adalah :
a. Tingkatan (Level)
Adanya perbedaan self-efficacy yang dihayati oleh masing-masing individu
mungkin dikarenakan perbedaan tuntutan yang dihadapi. Tuntutan tugas
merepresentasikan bermacam-macam tingkat kesulitan atau kesukaran untuk
mencapai performansi optimal. Jika halangan untuk mencapai tuntutan itu sedikit,
maka aktivitas lebih mudah untuk dilakukan, sehingga kemudian individu akan
memiliki self-efficacy yang tinggi.
b. Keadaan Umum (Generality)
Individu mungkin akan menilai diri mereka merasa yakin melalui
bermacam-macam aktivitas atau hanya dalam daerah fungsi tertentu. Keadaan umum
bervariasi dalam jumlah dari dimensi yang berbeda-beda, diantaranya tingkat
kesamaan aktivitas, perasaan dimana kemampuan ditunjukkan (tingkah laku,
kognitif, afektif), ciri kualitatif dari situasi, dan karakteristik individu menuju
kepada siapa perilaku itu ditujukan.
Pengukuran berhubungan dengan daerah aktivitas dan konteks situasi yang
menampakkan pola dan tingkat generality dari kepercayaan terhadap self-efficacy
mereka. Keyakinan diri yang paling mendasar berkisar tentang apa yang individu
c. Kekuatan (Strength)
Pengalaman memiliki pengaruh terhadap self-efficacy yang diyakini
seseorang. Pengalaman yang lemah akan melemahkan keyakinannya pula.
Individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap kemampuan mereka akan teguh
dalam usaha untuk mengenyampingkan kesulitan yang dihadapi.
Berdasarkan uraian di atas maka self-efficacy pada setiap individu berbeda
dalam beberapa dimensi, yaitu tingkat kesulitan tugas, keadaan umum suatu tugas,
dan kekuatan dari keyakinan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas.
3. Sumber-sumber self-efficacy
Menurut Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) penilaian seseorang
mengenai tingkatan self-efficacy yang diyakininya berdasarkan empat sumber
informasi, yaitu :
a. Pencapaian prestasi (Performance attainment)
Pencapaian prestasi merupakan bagian yang paling berpengaruh dalam
penentuan self-efficacy. Pengalaman sukses sebelumnya memberikan indikasi
langsung dari tingkatan kompetensi individu. Tingkah laku atau hasil sebelumnya
menunjukkan kemampuan individu dan menguatkan penilaiannya atas
self-efficacy. Khususnya apabila kegagalan sebelumnya diulangi dengan kegagalan
lagi, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.
Individu dengan self-efficacy yang tinggi percaya bahwa mereka bisa
berdamai secara efektif dengan kejadian yang mereka hadapi dalam
kehidupannya. Mereka mengharapkan kesuksesan dalam rintangan yang akan
performansi yang baik. Mereka memiliki kepercayaan diri yang baik dalam
kemampuan mereka dibandingkan individu dengan self-efficacy yang rendah, dan
mereka hanya sedikit memperlihatkan keragu-raguan. Individu dengan
self-efficacy yang tinggi melihat hal sulit sebagai tantangan dan aktif mencari situasi
yang baru.
b. Pengalaman orang lain (Vicarious experiences)
Melihat kesuksesan orang lain akan menguatkan perasaan akan self-efficacy,
khususnya jika seseorang yang menjadi objek observasi memiliki kemampuan
yang sama dengan individu yang melakukan observasi. Sebaliknya jika individu
melihat orang lain yang dianggap memiliki kesamaan tersebut mengalami
kegagalan, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.
Individu yang memiliki standar penampilan tinggi yang mengambil standar
tersebut dari hasil mengobservasi model yang sukses akan memiliki harapan yang
tinggi, namun jika kemudian gagal, maka individu tersebut akan menghukum
dirinya sendiri dengan perasaan tidak berharga dan depresi.
Jadi, hal yang terpenting adalah menentukan orang yang tepat kemampuan
dan kompetensinya untuk dijadikan model. Model yang dipilih juga akan
menunjukkan strategi dan teknik yang mungkin dilakukan pada situasi yang sulit.
c. Persuasi lisan (Verbal persuasion)
Mengatakan kemampuan yang dimiliki dan prestasi apa yang ingin dicapai
dapat meningkatkan self-efficacy seseorang. Hal ini mungkin yang paling umum
dilakukan oleh orang tua, guru, suami/istri, teman, dan terapis. Agar efektif,
persuasi haruslah realistik.
d. Keterbangkitan psikologis (Psychological arousal)
Keterbangkitan psikologis ini meliputi perasaan tenang atau ketakutan pada
situasi yang membuat stres. Keterbangkitan psikologis ini biasa digunakan untuk
melihat kemampuan individu dalam mengatasi masalah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat sumber
informasi mengenai tingkatan self-efficacy, yaitu pencapaian prestasi, pengalaman
orang lain, persuasi lisan, dan keterbangkitan psikologis.
4. Perkembangan self-efficacy
Bandura (1997) menyatakan bahwa self-efficacy berkembang sejak bayi. Bayi
mulai mengembangkan self-efficacy sebagai usaha untuk melatih pengaruh
lingkungan fisik dan sosial. Bayi cenderung mempelajari penyebab tindakan
melalui pengamatan yang berulang dari suatu kesatuan peristiwa dimana tindakan
orang lain membuat itu terjadi. Mereka mulai belajar mengenai kemampuan
dirinya, kecakapan fisik, kemampuan sosial, dan kecakapan berbahasa yang
hampir secara konstan digunakan dan ditujukan pada lingkungan. Perubahan
sebagai perluasan pengalaman dunia anak dipengaruhi oleh saudara kandung,
teman sebaya, dan individu dewasa lainnya.
Pengalaman transisi remaja meliputi tuntutan untuk mengatasi tuntutan dan
tekanan baru, dari kesadaran seks sampai memilih bidang pelajaran dan karir.
Dalam hal ini remaja harus menetapkan kemampuan baru, yaitu penilaian baru
pada masalah perkawinan dan peningkatan karir. Sedangkan self-efficacy pada
individu yang sudah lanjut usia sangat sulit terbentuk sebab pada tahapan
perkembangan ini terjadi penurunan mental dan fisik, pensiun kerja, dan
penarikan diri dari lingkungan sosial
Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa self-efficacy mengalami
perkembangan terus-menerus dari bayi hingga dewasa. Self-efficacy berubah
seiring dengan perubahan yang dialami oleh individu. Perubahan tersebut meliputi
perubahan fisik, lingkungan sosial, kecakapan dan tuntutan tugas yang dihadapi.
5. Proses yang memengaruhi self-efficacy
Bandura (1997) mengemukakan bahwa terdapat empat proses psikologis
dalam self-efficacy yang turut berperan dalam diri manusia, yaitu :
a. Proses kognitif
Proses kognitif merupakan proses berfikir, termasuk didalamnya adalah
pemerolehan, pengorganisasian, penggunaan informasi. Dampak dari self-efficacy
pada proses kognitif sangat bervariasi. Seseorang akan membentuk suatu tujuan
tertentu sebelum ia melakukan pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut.
Bentuk tujuan personal juga dipengaruhi oleh penilaian akan kemampuan diri.
Semakin seseorang mempersepsikan dirinya mampu, maka individu akan semakin
membentuk usaha-usaha dalam mencapai tujuannya dan semakin kuat komitmen
individu terhadap tujuannya (Bandura, 1997). Kebanyakan tindakan manusia
bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang memiliki
individu dengan self-efficacy yang rendah lebih banyak membayangkan kegagalan
dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan (Bandura, 1997).
Fungsi utama pikiran adalah memungkinkan individu untuk memprediksi
suatu kejadian dan mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang dapat
memengaruhi kehidupan mereka. Untuk dapat memprediksi dan mengembangkan
cara tersebut diperlukan pemrosesan informasi melalui kognitif.
Proses kognitif ini juga dipengaruhi oleh bagaimana kepribadian yang dimiliki
oleh seseorang. Bagaimana cara pandangnya, baik itu terhadap dirinya maupun
orang lain dan kejadian disekitarnya berhubungan dengan self-efficacy seseorang
dalam suatu aktivitas tertentu melalui mekanisme self regulatory (Bandura, 1997).
b. Proses motivasi
Kebanyakan motivasi manusia dibangkitkan melalui kognitif atau pikiran.
Individu memberi motivasi atau dorongan bagi diri mereka sendiri dan
mengarahkan tindakan melalui tahap-tahap pemikiran sebelumnya. Mereka
membentuk suatu keyakinan tentang apa yang dapat mereka lakukan,
mengantisipasi hasil dari suatu tindakan, membentuk tujuan bagi diri mereka
sendiri dan merencanakan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam mencapai
tujuan (Bandura, 1997).
c. Proses afeksi
Proses afektif merupakan proses pengaturan kondisi emosi dan reaksi
emosional. Menurut Bandura (1997), keyakinan individu akan kemampuan coping
mereka turut mempengaruhi tingkatan stres dan depresi seseorang saat mereka
Individu dengan self-efficacy yang rendah merasa tidak berdaya, tidak bisa
memberikan pengaruh dalam kehidupannya. Mereka percaya bahwa usaha mereka
sia-sia, mereka seperti akan mengalami peningkatan kesedihan, apatis, dan
kecemasan. Mereka cepat menyerah dalam menghadapi masalah dalam hidupnya
dan merasa usahanya tidak efektif. Individu dengan self-efficacy yang sangat
rendah tidak akan mencoba untuk mengatasi masalahnya, karena mereka percaya
apa yang mereka lakukan tidak akan membawa perbedaan (Schultz, 1994).
d. Proses seleksi
Manusia merupakan bagian dari lingkungan tempat dimana mereka berada.
Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu, turut
mempengaruhi dampak dari suatu kejadian. Individu cenderung menghindari
aktivitas dan situasi yang di luar batas kemampuan mereka. Bila individu merasa
yakin bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung
tidak menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu
kemudian meningkatkan kemampuan, minat dan hubungan sosial mereka yang
lainnya (Bandura, 1997).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat proses
psikologis yang mempengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu proses kognitif yang
menggunakan pikiran, proses motivasi yang dapat menguatkan keyakinan
individu, proses afeksi yang memengaruhi tingkat stres dari suatu tugas dan
proses seleksi yang mempengaruhi pemilihan individu terhadap situasi dan
6. Faktor-faktor yang memengaruhi self-efficacy
Menurut Bandura (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
self-efficacy, yaitu :
a. Jenis kelamin
Pada beberapa bidang pekerjaan tertentu pria memiliki self-efficacy yang lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita, bagitu juga sebaliknya self-efficacy wanita
unggul dalam beberapa pekerjaan dibandingkan dengan pria. Pria biasanya
memiliki self-efficacy yang tinggi dengan pekerjaan yang menuntut keterampilan
teknis matematis.
b. Usia
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat berlangsung
selama kehidupan. Individu yang lebih tua memiliki rentang waktu dan
pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi suatu hal jika dibandingkan
dengan individu yang lebih muda.
c. Tingkat pendidikan
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada
institusi pendidikan formal. Individu yang memiliki jenjang pendidikan tinggi
biasanya memiliki self-efficacy yang lebih tinggi. Karena pada dasarnya mereka
lebih banyak menerima pendidikan formal dan lebih banyak mendapatkan
kesempatan untuk belajar dan mengatasi suatu persoalan.
d. Pengalaman kerja
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada
adaptasi dan pembelajaran yang ada dalam perusahaan tersebut. Semakin lama
seseorang bekerja maka semakin tinggi self-efficacy yang dimilikinya dalam
bidang pekerjaan tertentu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan self-efficacy
orang tersebut justru cenderung tetap atau menurun. Hal ini tergantung bagaimana
keberhasilan dan kegagalan mempengaruhinya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diketahui bahwa terdapat empat faktor
yang memengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu jenis kelamin, usia, tingkat
pendidikan, dan pengalaman kerja.
C. SELF-EFFICACY GURU 1. Pengertian self-efficacy guru
Bandura (1977, 1986, 1997, dalam Pintrinch, 2002) menyatakan bahwa
self-efficacy guru merupakan kepercayaan guru akan kemampuannya dalam
memutuskan cara terbaik yang diperlukan agar bisa memengaruhi siswanya secara
positif dalam penampilan belajar siswanya tersebut. Self-efficacy guru atau juga
sering disebut sebagai instructional self-efficacy merupakan kepercayaan seorang
guru tentang kemampuannya untuk membantu siswanya dalam belajar (Pintrinch,
2002).
Hoy dan Woolfolk (1990, dalam Pintrinch 2002) menyatakan bahwa
self-efficacy guru merupakan kepercayaan guru bahwa ia mampu menghadapi siswa
yang mengalami kesulitan belajar untuk bisa belajar, hal ini merupakan salah satu
Hackett (dalam Schultz, 1994) menyatakan bahwa self-efficacy memengaruhi
banyaknya waktu yang seseorang habiskan untuk mencari pekerjaan, untuk
mencapai kesuksesan kerja. Pekerja dengan self-efficacy yang tinggi melaporkan
bahwa mereka memiliki tujuan kerja yang lebih tinggi dan memiliki komitmen
kerja yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja dengan self-efficacy yang
rendah (Locke, dalam Schultz, 1994). Self-efficacy yang tinggi fokus pada analisis
dan pemecahan masalah, dimana self-efficacy yang rendah fokus pada kekurangan
orang lain dan takut gagal, yang dapat merusak produktivitas mereka dan
kegunaan penuh kemampuan kognitif mereka dalam pekerjaan (Lazarus &
Folkman, dalam Schultz, 1994).
Ashton dan Webb (dalam Pintrinch, 2002) mengungkapkan bahwa guru
dengan self-efficacy yang rendah mungkin menghindari untuk merencanakan
aktivitas yang mereka yakini melampaui kemampuan mereka, tidak bertahan
dengan siswa yang mengalami kesulitan, menghabiskan usaha yang sedikit untuk
menemukan materi-materi pengajaran, dan tidak mengulang pelajaran dengan
cara yang bisa membuat siswa lebih mengerti.
Sedangkan guru dengan self-efficacy tinggi akan lebih tepat untuk
mengembangkan aktivitas yang menantang, membantu siswa untuk sukses, dan
bertahan dengan siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Guru dengan
self-efficacy yang tinggi menyukai lingkungan kelas yang positif, mendukung ide-ide
siswa, dan menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa (Ashton & Webb,
dalam Pintrich, 2002). Teori self-efficacy memprediksikan bahwa guru dengan
siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini karena guru percaya pada dirinya
dan siswa-siswanya.
Self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan
dalam pelajaran. Tetapi ketika sebagian kecil dari siswanya tidak menunjukkan
peningkatan dalam belajar, guru tersebut tidak perlu berkecil hati jika ia percaya
bahwa strategi pengajaran yang berbeda akan menghasilkan hasil yang lebih baik
(Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa self-efficacy
guru adalah kepercayaan seorang guru akan kemampuannya untuk membantu
siswanya dalam belajar, termasuk juga membantu siswanya yang mengalami
kesulitan belajar.
D. GURU
1. Pengertian guru
Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya)
mengajar (KBBI, 2001). Guru adalah orang yang profesional, artinya secara
formal mereka disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang.
Mereka dididik secara khusus memperoleh kompetensi sebagai guru, yaitu
meliputi pengetahuan, keterampilan, kepribadian, serta pengalaman dalam bidang
pendidikan (Wibowo, 2002).
Guru merupakan profesi, yaitu pekerjaan yang menuntut keahlian. Artinya,
pekerjaan sebagai guru tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan
peserta didik tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena untuk melakukan
tersebut dituntut keahlian atau kompetensi sebagai guru (Wibowo, 2002).
Guru adalah tenaga profesional yang dituntut menguasai kemampuan selidik
reflektif. Selalu bertanya, menjawab pertanyaan, mempertanyakan, termasuk
mempertanyakan jawaban dan mempertanyakan pertanyaan mereka sendiri
(Houston, dalam Wibowo, 2002). Sebagai profesi, guru harus dapat merebut
kepercayaan publik melalui peningkatan kualitas guru dan pelayanan pendidikan
dan pembelajaran. Kepercayaan menjadi faktor kunci dalam mengokohkan
identitas guru. Seiring dengan upaya tersebut, sebagai profesi guru harus selalu
melakukan profesionalisasi yaitu meningkatkan dirinya dan pelayanannya sesuai
dengan tuntutan zaman (Wibowo, 2002).
Guru dengan komitmen yang tinggi akan selalu menggunakan kesempatan
untuk belajar menjadi guru yang profesional. Belajar yang dimaksud adalah
belajar menjalankan tugas-tugas profesional guru, yaitu melaksanakan pendidikan
dan pembelajaran. Profesionalisme guru hendaknya dapat ditunjukkan oleh lima
unjuk kerja, yaitu keinginan berperilaku standar ideal, memelihara profesi,
mengembangkan profesionalitas serta meningkatkan kualitas pengetahuan dan
keterampilannya. Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi, serta bangga
terhadap profesinya (Wibowo, 2002).
Pada tahun 2005 telah disahkan Undang-Undang No. 14 tentang guru dan
dosen. Di dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Dikdasdki,
2005).
Undang-Undang tersebut juga menjelaskan arti dari profesional berkaitan
dengan profesi guru. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma
tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Dikdasdki, 2005).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan
suatu profesi yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik,
dimana profesi tersebut menjadi sumber penghasilan yang memerlukan keahlian,
kemahiran, kecakapan, dan pendidikan profesi.
2. Profesionalitas guru
Dalam menjalankan tugasnya, guru memiliki prinsip-prinsip profesionalitas
yang harus dipenuhi dan dijalankannya (Dikdasdki, 2005). Prinsip-prinsip tersebut
adalah :
a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia.
c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan
bidang tugas.
d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.
i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal
yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Selain prinsip profesionalitas di atas, Dikdasdki (2005) juga menyatakan
bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat
pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi yang dimaksud di sini adalah
kualifikasi akademik yang diperoleh dari pendidikan tinggi program sarjana atau
diploma empat. Sedangkan yang dimaksud dengan kompetensi adalah
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi.
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen juga
menjabarkan hal-hal yang menjadi tanggung jawab seorang guru, yaitu :
a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang
b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan
kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis
kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang
keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.
d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik
guru, serta nilai-nilai agama dan etika.
e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
E. SEKOLAH BILINGUAL 1. Pengertian sekolah bilingual
Pendidikan bilingual melibatkan pengajaran pada semua subjek dalam dua
bahasa yang berbeda (Wikipedia, 2005). Pendidikan bilingual adalah sebuah
penambahan program bilingual dan bicultural dalam waktu lama secara konsisten,
menggunakan dua bahasa dalam instruksi, belajar, dan komunikasi, dengan
jumlah siswa yang seimbang dari kelompok kedua bahasa tersebut, yang
diintegrasikan pada seluruh atau setidaknya setengah dari hari sekolah tersebut
untuk memenuhi kompetensi bilingual, bilateral, akademik, dan lintas budaya
(Soltero, 2004).
2. Tujuan pendidikan bilingual
Pendidikan bilingual memiliki tiga dimensi, yaitu bahasa, akademik, dan
dengan dimensi tersebut, disusun empat tujuan dari pendidikan bilingual, yaitu
perkembangan bahasa pokok (first language), perkembangan bahasa tambahan
(second language), hasil akademik, dan kompetensi multikutural.
Penggunaan dua bahasa harus meliputi empat bagian dalam bahasa, yaitu
mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini karena program bilingual
yang efektif juga bertujuan untuk meningkatkan patokan belajar bagi siswa.
Semua siswa memiliki harapan untuk memiliki prestasi akademik pada atau di
atas patokan di kedua bagian bahasa tersebut.
Pada akhirnya pendidikan bilingual bertujuan untuk mengembangkan
perspektif positif siswa terhadap lintas budaya, bakat intersosial, dan self-concept
yang sehat (Cazahon, dalam Soltero, 2000).
3. Model pendidikan bilingual
Adapun model-model umum dari sekolah bilingual (Wikipedia, 2005) adalah
sebagai berikut :
a. Pendidikan bilingual peralihan (Transitional bilingual education)
Pada model pendidikan ini siswa dibantu untuk melakukan transisi dari bahasa
asli ke bahasa asing (Inggris). Tujuan dari pendidikan ini adalah membantu siswa
agar tidak mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan
dalam bahasa Inggris.
b. Pendidikan bilingual dua bahasa (Two-way or dual language bilingual
education)
Pendidikan ini disusun untuk membantu anak yang bahasa ibunya bukan
biliterate. Idealnya dalam satu kelas model pendidikan ini terdiri dari
masing-masing setengah dari kedua bahasa tersebut. Model ini merupakan model
pendidikan bilingual yang paling berhasil karena guru tetap mengerti ketika
siswanya berbicara dalam bahasa asli mereka dan kemudian guru bisa
membalasnya dengan bahasa Inggris.
c. Pendidikan bilingual late-exit (Developmental bilingual education)
Pada model ini pendidikan bahasa asing hanya menjadi tambahan. Tujuan
pendidikan ini adalah untuk mengembangkan bilingual dan biliterate dalam dua
bahasa. Program pendidikan ini tersedia untuk siswa yang bahasa ibunya bukan
Inggris dan juga untuk program transisi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga model
pendidikan bilingual, yaitu pendidikan bilingual peralihan, pendidikan bilingual
dua bahasa, dan pendidikan bilingual late-exit.
F. HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DENGAN KOMITMEN GURU SEKOLAH BILINGUAL
Louis (1998, dalam Joffres & Haughey, 2001) dan Coladarci (1992, dalam
effros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru secara langsung
mempengaruhi komitmen guru. Bandura (1997, dalam Joffres & Haughey,2001)
menyatakan bahwa self-efficacy guru menunjukkan kepercayaan guru akan
kemampuan personalnya untuk mempengaruhi cara belajar siswa. Kemudian
bahwa komitmen guru merupakan bagian dari afeksi atau reaksi emosi seorang
guru kepada pengalaman mereka di dalam lingkungan sekolah.
Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari
prestasi yang diterima siswa dan juga akan memengaruhi motivasi siswa dalam
belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor
yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika
siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran,
Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).
Rotter, dkk (1966, dalam Joffres & Haughey, 2001) menyimpulkan bahwa
self-efficacy guru tumbuh dalam dua bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan
mengenai kemampuan personal dalam mempengaruhi proses belajar siswa dan
kepercayaan mengenai kemampuan guru (sebagai kelompok) untuk
mempengaruhi cara belajar siswa secara keseluruhan. Self-efficacy guru akan
menambah keefektifan guru dalam mengajar (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy,
& Hoy, 1998, dalam Knobloch & Whittington, 2003), prestasi siswa (Armor, dkk,
1976, dalam Knobloch & Whittington, 2003), komitmen profesional (Coladarci,
1992, dalam Knobloch & Whittington, 2003), dan usia karir (Burley et al., 1991,
dalam Knobloch & Whittington, 2003).
Self-efficacy guru yang rendah merupakan hal yang menentukan dalam
penurunan komitmen guru (Joffres & Haughey, 2001). Reyes dan Coladarci
(1992, dalam Joffres & Haughey, 2001) menemukan bahwa self-efficacy
berhubungan dengan komitmen guru di sekolah, baik itu komitmen guru terhadap
pengertian guru tentang situasinya, dimana dirinya dipengaruhi oleh sejarah
kerjanya dan kehadiran teman atau rekan sejawat dalam pekerjaannya.
Komitmen guru dalam mengajar memegang peranan penting dalam
menentukan seberapa lama guru bisa bertahan pada profesinya (Chapman, 1982;
Chapman & Lowther, 1983; McCracken & Etuk, 1986, dalam Knobloch &
Whittington, 2003). Seorang guru yang memilih karir mereka berdasarkan
motivasi intrinsik untuk melayani orang lain atau tujuan karir jangka panjang
biasanya menunjukkan self-efficacy yang lebih tinggi dalam kegiatan mengajar
mereka (Knobloch & Whittington, 2003).
Komitmen guru mengalami berubahan dan pengurangan ketika guru merasa
tidak sukses, dimana ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah.
Perasaan tersebut mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk
memengaruhi proses belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan
misi dan standar internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan
untuk berprestasi mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).
Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru
akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi
kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan
ketidakmampuan mereka untuk memengaruhi proses belajar siswa (Joffres &
Haughey, 2001). Joffres & Haughey (2001) menemukan bahwa kesesuaian,
dukungan, dan kerja sama cenderung akan memudahkan timbulnya komitmen.
Menurut Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, dan Hoy (dalam Pintrinch, 2002)
dalam pelajaran. Kemudian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga
oleh komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat
Firestone, dkk (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) yang
menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan
kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh
terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias
(dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa
komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam
kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.
Knobloch dan Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa
komitmen seorang guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam
mengajar, dimana hal ini berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan
keberhasilannya dalam mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan
bahwa self-efficacy mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika
berhadapan dengan masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti berasumsi bahwa self-efficacy guru dan
komitmen guru memiliki hubungan yang positif. Artinya semakin tinggi
self-efficacy yang dimiliki seorang guru ketika mengajar, maka semakin tinggi
G. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan uraian teoritis di atas maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah ada hubungan antara self-efficacy dengan komitmen guru
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan metode yang digunakan untuk menjawab
permasalahan penelitian. Penelitian ini bersifat korelasional, yang akan melihat
apakah terdapat hubugan antara self-efficacy dengan komitmen guru di sekolah
bilingual. Populasi yang digunakan adalah guru di suatu sekolah bilingual yang
terdapat di kota Medan. Data penelitian ini akan diolah secara kuantitatif
menggunakan uji Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS versi
15.0 for Windows.
A. IDENTIFIKASI VARIABEL 1. Variabel bebas
Varibel bebas pada penelitian ini adalah self-efficacy guru.
2. Variabel tergantung
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah komitmen guru.
B. DEFINISI OPERASIONAL 1. Komitmen guru
Komitmen guru adalah penafsiran internal seorang guru tentang bagaimana
mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka yang ditandai dengan
dengan Skala Komitmen Guru yang dikembangkan dari lima aspek komitmen
guru, yaitu belajar dari berbagai sumber ilmu pengetahuan, menggunakan
kurikulum dengan bertanggung jawab, mengganti batasan yang diyakini dengan
batasan yang lebih bersifat umum, membicarakan kebutuhan siswa di dalam
lingkungan kelas dan sekolah, serta berkontribusi secara aktif terhadap profesi.
Skala Komitmen Guru akan diisi oleh guru. Skor total merupakan petunjuk
tinggi rendahnya komitmen yang dimiliki seorang guru. Semakin tinggi skor yang
dicapai seorang guru berarti semakin tinggi komitmen guru tersebut. Sebaliknya,
semakin rendah skor yang dicapai seorang guru berarti semakin rendah komitmen
guru tersebut.
2. Self-efficacy guru
Self-efficacy guru adalah kepercayaan seorang guru tentang kemampuannya
untuk membantu siswanya dalam belajar. Self-efficacy guru akan diukur dengan
Skala Self-Efficacy Guru yang dikembangkan dari tiga struktur self-efficacy, yaitu
tingkatan, keadaan umum, dan kekuatan.
Skala Self-Efficacy Guru akan diisi oleh guru. Skor total merupakan petunjuk
tinggi rendahnya self-efficacy yang dimiliki oleh seorang guru. Semakin tinggi
skor yang dicapai seorang guru berarti semakin tinggi self-efficacy guru tersebut.
Sebaliknya, semakin rendah skor yang dicapai seorang guru berarti semakin
rendah self-efficacy guru tersebut.
3. Sekolah bilingual
Sekolah bilingual adalah sekolah yang metode pendidikannya melibatkan
C. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL
Pada subbab ini akan dijelaskan mengenai karakteristik subjek penelitian,
jumlah sampel, dan teknik pengambilan sampel,.
1. Karakteristik subjek penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri subjek penelitian
adalah sebagai berikut :
a. Guru yang mengajar di sekolah bilingual, yaitu sekolah yang menggunakan
dua bahasa sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Pada
penelitian ini sekolah bilingual yang digunakan adalah Chandra Kusuma
School Medan.
b. Guru yang mengajar pada tingkat SD (primary).
c. Guru sekolah bilingual yang telah mengajar selama satu tahun atau lebih. Hal
ini karena menurut Chang dan Choi (2007) komitmen terhadap organisasi dan
komitmen terhadap profesi jelas terlihat setelah bekerja selama 12 bulan atau
satu tahun.
2. Jumlah sampel penelitian
Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 36 orang.
3. Teknik pengambilan sampel
Penelitian ini merupakan penelitian populasi, dimana semua anggota
populasinya diukur. Populasi adalah seluruh individu atau penduduk yang
dimaksudkan untuk diteliti. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk atau
penelitian ini yang menjadi populasinya adalah guru SD (primary) di Sekolah
Chandra Kusuma Medan.
D. INSTRUMEN/ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN
Dalam penelitan ini peneliti menggunakan 2 alat pengumpulan data, yaitu
Skala Komitmen Guru dan Skala Self-Efficacy guru. Skala Komitmen Guru
dikembangkan sendiri oleh peneliti berdasarkan teori komitmen guru yang
terdapat dalam Pugach (200). Skala Self-Efficacy guru juga dikembangkan sendiri
oleh peneliti berdasarkan teori Bandura (1997).
Metode pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
skala. Ada beberapa alasan dan pertimbangan dalam penggunaan metode skala
(Hadi, 2000) :
a. Subjek adalah individu yang paling tahu tentang dirinya.
b. Apa yang dinyatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c. Interpretasi subjek tentang peryataan-pernyataan yang diajukan kepadanya
cenderung sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.
Metode skala yang digunakan adalah metode rating yang dijumlahkan atau
dikenal dengan metode Likert (Azwar, 2000). Skala psikologi yang berbentuk
skala Likert digunakan untuk mengukur komitmen guru dan self-efficacy guru,
dengan menggunakan 4 opsi jawaban yang dilambangkan dengan angka, yaitu 1
untuk very appropriate (sangat sesuai), 2 untuk appropriate (sesuai), 3 untuk not
1. Skala Komitmen Guru
Skala Komitmen Guru belum ada yang telah dipublikasikan secara luas dan
dapat dibeli ataupun digunakan oleh kalangan umum. Oleh karena itu peneliti
mencoba membuat alat ukur sendiri, yang disusun berdasarkan lima aspek
komitmen guru menurut Pugach (2006) yang terdiri dari belajar dari berbagai
sumber ilmu pengetahuan, menggunakan kurikulum dengan bertanggung jawab,
mengganti batasan yang diyakini dengan batasan yang lebih bersifat umum,
membicarakan kebutuhan siswa di dalam lingkungan kelas dan sekolah, serta
berkontribusi secara aktif terhadap profesi.
Tabel 1. Blue Print Skala Komitmen Guru
No. Kategori Item Favorable Item Unfavorable Jumlah
1. Belajar dari berbagai
3. Mengganti batasan yang diyakini dengan
2. Skala Self-Efficacy Guru
Alat ukur self-efficacy guru juga belum ada yang telah dipublikasikan secara
luas dan dapat dibeli ataupun digunakan oleh kalangan umum. Oleh karena itu
peneliti mencoba membuat alat ukur sendiri, yang disusun berdasarkan tiga
struktur self-efficacy menurut Bandura (1997), yaitu tingkatan, keadaan umum,
dan kekuatan.
Tabel 2. Blue Print Skala Self-Efficacy Guru
No. Dimensi Item Favorable Item Unfavorable Jumlah
1. Tingkatan tugas yang dikerjakan
E. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2008 di sekolah yang telah
ditentukan. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mencari informasi
2. Setelah mendapatkan sekolah yang akan diteliti, kemudian peneliti
mengurus surat izin untuk penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara untuk melakukan penelitian ke sekolah tersebut.
3. Setelah tiba di sekolah tersebut, selanjutnya peneliti meminta izin kepada
pihak sekolah untuk melakukan penelitian dengan menunjukkan surat
jalan dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
4. Setelah mendapatkan izin dari pihak sekolah, kemudian peneliti
melanjutkan dengan bertanya mengenai waktu yang tepat untuk
melakukan penelitian.
5. Setelah waktu penelitian disepakati, kemudian peneliti kembali lagi ke
sekolah tersebut dengan membawa alat penelitian (skala) yang akan
diberikan kepada guru-gurunya.
6. Peneliti memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengumpulkan
skala kembali.
F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR
Validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan dalam sebuah penelitian
sangat menentukan keakuratan dan keobjektifan hasil penelitian yang dilakukan.
Suatu alat ukur yang tidak valid dan tidak reliabel akan memberikan informasi
yang tidak akurat mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai tes ini