• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Self-Efficacy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual Di Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan Self-Efficacy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual Di Kota Medan"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN KOMITMEN GURU

SEKOLAH BILINGUAL DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh :

EQI MARDHANI

NIM : 041301015

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan jembatan menuju kesuksesan. Siapapun yang hidup di

dunia ini, berhak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Oleh sebab itu tidak

salah rasanya jika setiap orangtua menjadi sangat hati-hati dalam menentukan

sekolah untuk buah hatinya (Republika, 2007). Salah satu pilihan orangtua saat ini

adalah sekolah bertaraf internasional. Sekolah bertaraf internasional yang tepat

dengan era globalisasi saat ini adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan

dengan kurikulum berstandar internasional, namun juga menekankan nilai-nilai

akhlak yang mulia kepada anak didiknya. Sehingga dihasilkan insan cendekia

dengan akhlak yang terpuji (Ronny Preslysia-Public Relations Officer dikutip dari

Republika, 2007).

Sekolah bertaraf internasional biasanya menggunakan dua bahasa dalam

proses belajar dan mengajarnya, hal ini biasa disebut dengan sekolah bilingual.

Sekolah bilingual merupakan suatu bentuk pengajaran dimana semua komponen

di dalam sekolah itu diterapkan atau dijalankan dalam dua bahasa yang berbeda

satu sama lainnya. Biasanya bahasa mayoritas dan bahasa minoritas (Wikipedia,

2005).

Sekarang ini ada banyak sekolah bilingual di Indonesia, yaitu sekolah yang

(3)

bilingual tersebut adalah karena pendidikan sudah dijadikan sebagai bisnis yang

bisa mendatangkan keuntungan. Bisnis francise sekolah cepat mendatangkan

keuntungan, tidak pernah rugi, dan cepat balik modal. Untuk menarik minat

masyarakat maka ditambahkanlah kurikulum dari luar negeri dan penggunaan

bahasa Inggris di sekolah tersebut. Hal ini akan melambungkan harga yang harus

dibayar oleh orangtua yang ingin anaknya sekolah di sekolah bilingual. Sehingga

sekolah jenis ini terkenal dengan sekolah yang mahal (Netto, 2007).

Menjamurnya sekolah bilingual disebabkan banyaknya peminat, sehingga

kepentingan bisnis lebih diutamakan. Pihak sekolah berupaya keras

mendatangkan tenaga pengajar warga negara asing agar orangtua siswa yakin

anaknya telah masuk ke sekolah bilingual (Netto, 2007).

Harga yang mahal untuk masuk sekolah bilingual ini tidak serta merta diiringi

dengan kualitas yang bagus pula. Banyak sekolah bilingual yang ada di Indonesia

yang kualitas para pengajarnya masih diragukan. Banyak pihak sekolah yang asal

saja dalam memilih guru, asalkan guru tersebut warga negara asing, maka dia bisa

menjadi guru, walaupun tidak punya latar belakang bidang pendidikan sekalipun.

Tidak jarang guru diambil dari warga negara asing yang kehabisan uang di

Jakarta, tidak jarang yang mengajar di kursus-kursus bahasa Inggris, atau turis

yang tinggal di Jalan Jaksa Jakarta. Mereka pun banyak yang hanya tamatan SMA

saja (Netto, 2007).

Banyaknya sekolah bilingual yang bermunculan juga terjadi di Kota Medan.

Sejak beberapa tahun belakangan ini banyak sekolah yang menawarkan sistem

(4)

adalah Chandra Kusuma School. Sekolah ini mempekerjakan guru-guru yang bisa

berbahasa Inggris. Guru-guru tersebut tidak harus memiliki latar belakang ilmu

pendidikan, asalkan sesuai dengan kriteria yang diajukan oleh pihak sekolah.

Selain guru-guru yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Chandra

Kusuma School juga mendatangkan beberapa guru asing dari beberapa negara,

seperti Belanda.

Guru adalah orang yang profesional, artinya secara formal mereka disiapkan

oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara

khusus untuk memperoleh kompetensi seorang guru yang meliputi pengetahuan,

keterampilan, kepribadian, serta pengalaman dalam bidang pendidikan. Keadaan

yang ada di Chandra Kusuma School ini sesungguhnya belumlah ideal, karena

masih adanya guru-guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan

(Wibowo, 2002).

Guru-guru sekolah bilingual yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang

pendidikan akan mengalami hambatan dalam menghadapi siswanya, terutama

dalam pemilihan dan penggunaan kata-kata dalam mengajar. Banyak siswa yang

lambat dalam belajar dan mengerjakan tugas di kelas disebabkan siswa tersebut

tidak mengerti kalimat yang diucapkan oleh gurunya. Siswa seperti mendengar

kata-kata asing yang tidak jelas dan hanya beberapa kata yang mereka mengerti.

Guru yang melihat siswanya lambat mengerjakan tugas langsung menganggap

siswanya tersebut pemalas. Keadaan ini menunjukkan bahwa guru tersebut tidak

(5)

mengenai keadaan dan lingkungan pendidikan, khususnya pendidikan untuk

siswanya (Netto, 2007).

Kemampuan seorang guru untuk bisa menghadapi siswa-siswanya

berhubungan dengan self-efficacy yang dimiliki oleh guru tersebut (Hoy &

Woolfolk dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy merupakan kepercayaan pada satu

kemampuan untuk mengatur dan melaksanakan bagian dari aktivitas yang

dibutuhkan untuk menghasilkan tujuan yang diinginkan (Bandura, 1997).

Self-efficacy merupakan suatu keyakinan dalam diri seseorang bahwa ia mampu

melakukan tugas tertentu. Keyakinan akan self-efficacy mempengaruhi pemilihan

perilaku, usaha, dan ketekunan seseorang. Self-efficacy dapat menentukan

bagaimana perasaan seseorang, cara berfikir, dan berperilaku (Bandura, 1997).

Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari

prestasi yang diterima siswa dan juga akan mempengaruhi motivasi siswa dalam

belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor

yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika

siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran,

Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).

Self-efficacy adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dan memutuskan

tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self-efficacy

merupakan mediator terbesar untuk tingkah laku manusia dan perubahan tingkah

laku. Kepercayaan individu memberikan pengaruh pada tingkah laku, motivasi,

(6)

Selanjutnya, Bandura (1997) juga menyatakan bahwa self-efficacy berguna

untuk melatih kontrol terhadap stressor. Hal ini berhubungan dengan profesi guru

yang seringkali menimbulkan ketegangan. Banyaknya waktu yang dihabiskan

untuk menangani masalah-masalah siswa membuat guru frustasi dan depresi

(Santrock, 2004).

Seorang guru yang efektif memiliki kepercayaan diri akan self-efficacy yang

dimilikinya dan tidak membiarkan emosi negatif mengurangi motivasinya dalam

mengajar. Guru yang efektif menunjukkan sikap yang positif dan antusias dalam

kelas. Sikap ini akan menularkan pada siswa dan akan membantu mereka

merasakan bahwa kelas adalah tempat yang mereka inginkan (Santrock, 2004).

Self-efficacy yang dimiliki seorang guru disebut sebagai self-efficacy guru

(teacher efficacy). Self-efficacy guru merupakan penilaian seorang guru terhadap

kemampuannya untuk menghasilkan suatu hasrat bagi siswa untuk mencapai

tujuan pelajaran, meskipun diantara siswanya ada yang mengalami kesulitan

dalam belajar atau tidak termotivasi untuk belajar (Tschannen-Moran & Woolfolk

Hoy, dalam Henson, 2001).

Kemudian Ashton dan Webb (dalam Pintrich, 2002) menyatakan bahwa

self-efficacy guru merupakan kepercayaan seorang guru mengenai kemampuannya

untuk membantu siswanya dalam belajar. Self-efficacy guru akan mempengaruhi

self-efficacy tipe yang sama dari aktivitas yang memberikan dampak pada siswa,

misalnya pemilihan aktivitas, usaha, ketahanan, dan prestasi. Hoy dan Woolfolk

(dalam Pintrich, 2002) menyatakan bahwa self-efficacy guru merupakan

(7)

belajar untuk bisa belajar, hal ini merupakan salah satu karakteristik personal dari

guru yang berhubungan dengan prestasi siswa.

Guru dengan self-efficacy yang tinggi cenderung untuk mencoba

metode-metode instruksi, mencari metode-metode mengajar tambahan, dan melakukan percobaan

dengan materi instruksional (Allinder, dalam Henson, 2001). Guru yang memiliki

self-efficacy yang tinggi juga akan lebih mengembangkan aktivitas yang

menantang, membantu siswa untuk sukses, dan bertahan dengan siswa yang

mengalami masalah dalam belajar. Guru dengan self-efficacy yang tinggi

menyukai lingkungan kelas yang positif, mendukung ide-ide siswa, dan

menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa (Ashton & Webb, dalam

Pintrich, 2002). Teori efficacy memprediksikan bahwa guru dengan

self-efficacy tinggi bekerja lebih keras dan bertahan lebih lama ketika menghadapi

siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini karena guru percaya pada dirinya

dan siswa-siswanya.

Ashton dan Webb (dalam Pintrich, 2002) mengungkapkan bahwa guru dengan

self-efficacy yang rendah mungkin menghindari untuk merencanakan aktivitas

yang mereka yakini melampaui kemampuan mereka, tidak bertahan dengan siswa

yang mengalami kesulitan, melakukan sedikit usaha untuk menemukan

materi-materi pengajaran, dan tidak mengulang pelajaran dengan cara yang bisa

membuat siswa lebih mengerti.

Namun demikian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga oleh

komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat

(8)

menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan

kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh

terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias

(dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa

komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam

kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.

Louis dan Coladarci (dalam Jeffros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa

self-efficacy guru secara langsung mempengaruhi komitmen guru. Komitmen guru

mengalami perubahan dan pengurangan ketika guru merasa tidak sukses, dimana

ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah. Perasaan tersebut

mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk memengaruhi proses

belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan misi dan standar

internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan untuk berprestasi

mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).

Nias (1981, dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) menyatakan

bahwa komitmen merupakan suatu bagian yang digunakan seseorang untuk

menjelaskan dirinya dan orang lain. Komitmen menunjukkan siapa yang peduli,

berdedikasi, dan siapa yang mengerjakan pekerjaan dengan serius. Beberapa guru

melihat komitmen mereka sebagai bagian dari identitas profesionalnya, hal ini

menjelaskan mereka dan pekerjaannya dimana mereka menikmati pekerjaannya

itu (Elliot & Crosswell, 2001). Sebagian guru lainnya menganggap bahwa

kegiatan mengajar akan menghabiskan waktu hidupnya (Nias, 1981, dalam

(9)

komitmen mereka dengan sekolah, seperti hanya untuk bertahan di sekolah

tersebut. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk meninggalkan

profesinya tersebut (Teacher Commitment and Engagemant, 2007).

Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru

akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi

kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan

ketidakmampuan mereka untuk mempengaruhi proses belajar siswa (Joffres &

Haughey, 2001).

Komitmen guru bisa dipertinggi atau dikurangi dari beberapa faktor seperti

tingkah laku siswa, kolega dan dukungan administratif, dukungan orang tua siswa,

dan undang-undang pendidikan nasional (Day, 2000; Louis, 1998; Riehl & Sipple,

1996; Tsui & Cheng, 1999). Tingkat komitmen guru ini merupakan faktor

penentu dari kesuksesan pendidikan.

Fresko, dkk (dalam Joffres & Haughey, 2001) menyatakan bahwa komitmen

guru merupakan hal yang penting dalam menentukan keefektifan sekolah dan

kepuasan guru. Penelitian menemukan bahwa tingkat komitmen yang rendah akan

mengakibatkan penurunan prestasi siswa, tingkat absensi yang tinggi, dan

meningkatnya turnover guru (Kushman, Reyes & Fuller, Rosenholtz, dalam

Joffres & Haughey, 2001).

Menurut Wibowo (2002) seorang guru harus mempunyai komitmen tinggi

untuk dapat meningkatkan keterampilan yang memungkinkan, yaitu keterampilan

dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah, berpikir kreatif, kritis, produktif,

(10)

Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa komitmen seorang

guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam mengajar, dimana hal ini

berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan keberhasilannya dalam

mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy

mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika berhadapan dengan

masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga. Keadaan di sekolah bilingual

memerlukan usaha yang lebih dari sekolah biasa. Di sekolah bilingual guru

diwajibkan menguasai bahasa Inggris karena proses belajar mengajar disampaikan

dalam bahasa Inggris. Siswa yang dihadapi juga terkadang berasal dari negara

lain, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi guru dan mungkin akan

mempengaruhi emosi dan ketahanan guru dalam menghadapi siswanya.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melihat apakah ada hubungan antara

self-efficacy guru dengan komitmen guru sekolah bilingual di Kota Medan.

B. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara self efficacy dengan

komitmen guru sekolah bilingual di Kota Medan.

C. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini memiliki dua manfaat, yaitu manfaat praktis dan manfaat

(11)

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dalam bidang

psikologi, khususnya psikologi pendidikan, mengenai self-efficacy dan komitmen

guru, serta memberi sumbangan pemikiran bagi penelitian selanjutnya

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

pembaca, guru dan orangtua tentang sekolah bilingual berkaitan dengan

self-efficacy dan komitmen guru di sekolah bilingual yang diharapkan dapat berguna

untuk membantu dalam membina para guru sekolah bilingual di Kota Medan.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I : Pendahuluan, berisi penjelasan mengenai latar belakang

permasalahan, tujuan, manfaat dan sistematika penelitian.

Bab II : Landasan teori, berisi teori dan hasil penelitian yang digunakan

menjadi landasan penelitian. Dalam penelitian ini akan digunakan

teori self-efficacy dari Bandura (1997) dan teori komitmen guru

dalam Pugach (2006). Pada bab ini akan dijelaskan juga mengenai

sekolah bilingual dan hubungan antara self-efficacy dengan

komitmen guru pada sekolah bilingual.

Bab III : Metode penelitian, berisi identifikasi variabel penelitian, definisi

operasional, populasi dan sampel yang akan diteliti, metode

penentuan sampel, alat ukur yang akan digunakan, prosedur

(12)

Bab IV : Analisa dan interpretasi hasil penelitian, berisi tentang hasil

penelitian, pengolahan data, dan interpretasi hasil penelitian.

Bab V : Kesimpulan, diskusi dan saran, berisi kesimpulan yang berusaha

menjawab masalah yang dikemukakan berdasarkan hasil

penelitian. Kemudian berdasarkan kesimpulan dan diskusi akan

(13)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KOMITMEN GURU 1. Pengertian komitmen guru

Komitmen guru merupakan penafsiran internal seorang guru tentang

bagaimana mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka (Solomon,

2007). Secara umum komitmen mengacu pada satu tingkatan penerimaan dalam

organisasi. Komitmen menjelaskan hasil yang disetujui dari sebuah keputusan

atau meminta dan membuat sebuah usaha yang baik untuk menjalankan keputusan

tersebut secara efektif (Yulk, 2002 dalam Solomon, 2007).

Rosenholtz (dalam Solomon, 2007), menyatakan bahwa komitmen lebih

mengacu kepada pengaturan dan manajemen tugas dan perputaran di dalam

organisasi daripada kualitas personal seseorang dalam lingkungan kerja.

Komitmen merupakan subjek dari ketertarikan dalam organisasi yang membuat

pekerja lebih suka menetap di dalam organisasi (Reichers, 1985 dalam Solomon,

2007).

Menurut Riehl dan Sipple (dalam Solomon, 2007) komitmen guru memiliki

efek positif terhadap prestasi siswa di sekolah. Pengertian tentang komitmen guru

berbeda-beda berdasarkan konteks analisanya. Komitmen merupakan keadaan

psikologis yang mengidentifikasikan suatu keterbukaan individual yang

(14)

Komitmen guru dimaknai sebagai komitmen guru merupakan faktor penentu

yang mempengaruhi proses pengajaran dan belajar siswa (Reyes & Rosenholtz,

dalam Solomon, 2007).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

komitmen guru adalah penafsiran internal seorang guru tentang bagaimana

mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka yang ditandai dengan

keinginan untuk menetap di dalam organisasi dan terlibat dalam pekerjaan, serta

keinginan untuk mempengaruhi proses belajar siswa.

2. Aspek-aspek komitmen guru

Pugach (2006) menjelaskan lima aspek dari komitmen guru, yaitu sebagai

berikut :

a. Belajar dari berbagai sumber ilmu pengetahuan

Apa yang didapatkan selama seorang guru menjalankan pendidikannya akan

memberikan dasar bagi guru tersebut untuk mengajar, dimana hal tersebut

diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri guru untuk memulainya. Tetapi

apapun profesinya tidaklah mungkin untuk mempelajari semua hal yang

berkaitan. Tidak mungkin seorang guru mendapatkan semua informasi dari

pendidikan formal yang dijalaninya. Seorang guru diharapkan bisa memulai

dengan tingkat kompetensi yang pasti dalam menciptakan kelas, menyusun

instruksi, dan bekerja bersama siswa untuk mendukung pelajaran mereka. Untuk

unggul dalam profesi ini, untuk menunjukkan bahwa seorang guru mengerjakan

tugasnya dengan serius dan sungguh-sungguh, dan untuk menantang diri guru itu

(15)

mengajar merupakan pengalaman belajar yang berkelanjutan selama masa

perjalanan karir guru tersebut.

Seorang guru telah memiliki pengalaman tentang mengajar selama ia menjadi

siswa dulu, tetapi pengalaman itu sangat berbeda jika dilihat dari perspektif

profesional. Guru belajar mengajar dari latar belakang personal dan

pengalamannya, dari persiapan profesionalnya, dari pengalaman mengajarnya,

dari saran orang lain tentang mengajar, dari pendidikan formal untuk guru, dan

dari program pengembangan profesional.

Pendidikan formal yang diterima seorang guru hanya permulaan dari

pertumbuhan dan perkembangan kehidupan profesinya. Seorang guru yang

berpengalaman tahu bahwa belajar bagaimana mengajar tidak berawal dan

berakhir ketika mereka menyelesaikan program pendidikan gurunya. Mereka tahu

bahwa mereka tidak mengetahui segalanya dan bekerja dengan banyak siswa yang

saling berbeda dengan kebutuhan yang berbeda-beda pula yang memberikan

tantangan tanpa henti. Untuk menjadi guru yang bisa menghadapi tantangan

tersebut guru diharapkan untuk terus belajar.

Untuk menambah pengetahuannya guru hendaknya juga belajar dari praktek

mengajarnya dan dari interaksi dengan orang lain, berhubungan dengan proses

mengajar mereka (Donovan, 2000 dalam Pugach, 2006).

Tinjauan kritis yang akan dihadapi dengan sumber ilmu pengetahuan dari

pertumbuhan profesional seorang guru dan mengembangkan ilmu tersebut dalam

(16)

1) Pertama, guru yang melihat diri mereka sebagai pelajar yang siap belajar dari

para siswanya. Siswa memiliki banyak hal yang bisa diajarkan kepada guru

tentang kehidupan mereka di dalam maupun di luar sekolah, tentang

bagaimana mereka belajar, tentang kehidupan mereka, dan tentang sebaik apa

guru telah mengajar berdasarkan pengertian guru tentang tugas yang telah

dikerjakan oleh siswanya.

2) Kedua, guru yang melihat diri mereka sebagai model pembelajaran yang

penting bagi siswa-siswa mereka. Mengenal bahwa ada hal baru dalam

belajar, dimana belajar memiliki nilai, dan bersama dengan siswa-siswa

mereka guru bisa mencoba pendekatan baru dalam mengajar sebagai cara

dalam belajar.

3) Pada akhirnya, guru membuat pilihan mengenai apa yang mereka lakukan

untuk belajar pada tempat pertama. Apakah seorang guru tertarik untuk fokus

pada isi pelajaran baru, metode mengajarnya, apakah guru akan bersikap

fleksibel dalam mengajar, semua ini berhubungan dengan penempatan

rangkaian pelajaran sepanjang karir seorang guru dan menggambarkannya

dalam sumber ilmu pengetahuan yang beragam.

b. Menjalankan kurikulum dengan bertanggung jawab

Kurikulum merupakan salah satu hal yang utama dimana tujuan yang berbeda

dari setiap sekolah terletak. Seorang guru harus memiliki akses dengan kurikulum

formal, dengan materi instruktusional formal dan buku panduan dalam bekerja.

Tetapi walaupun seorang guru telah mengetahui dan menjalankan kurikulum,

(17)

bagaimana mengajar. Dengan kata lain, ketika guru menjalankan materi dari

kurikulum, guru tidak mengetahui cara untuk mengajar.

Seorang guru harus bisa menjalankan kurikulum dengan menyeluruh dan

mendalam, guru bisa nyaman dengan kurikulum tersebut, kurikulum tersebut

menarik bagi siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar.

Komitmen profesional untuk menggunakan kurikulum secara bertanggung

jawab mengandung arti bahwa guru tidak hanya mengetahui apa yang ada di

dalam kurikulum tersebut, tetapi juga berpikir secara aktif mengenai cara terbaik

dalam mengajar dengan kurikulum tersebut yang bertujuan untuk menbuat siswa

menjadi mandiri. Sepanjang karir seorang guru, mereka menghadapi tantangan

yang belum pernah dihadapi sebelumnya dengan menyeimbangkan isi kurikulum

dengan memberi kuasa pada siswa mereka. Guru yang dihadapkan dengan pilihan

tentang apakah mudah menjalani kurikulum atau melakukan pekerjaan dengan

menghubungkan kurikulum dengan kehidupan siswa, dengan memberikan

pengertian dan alasan untuk belajar topik dan tantangan yang baru.

c. Menggantikan batasan-batasan yang dimiliki dengan batasan umum yang

lebih beranekaragam

Ketika seorang guru tidak terbiasa dengan bahasa dan budaya siswanya atau

ketika guru tersebut bertempat tinggal di luar komunitas para siswa yang

diajarnya, maka gur tersebut harus menjebatani budaya dan berbedaan ekonomi

sosial tidak hanya dengan siswa tetapi juga dengan keluarga siswa.

Tidak hanya masalah budaya yang harus diperhatikan oleh guru, tetapi guru

(18)

siswa yang mengalami disorientasi seksual. Masing-masing dari perbedaan

sangatlah unik, menuntut guru untuk keluar dari kenyamanan hidupnya selama ini

untuk menantang kepercayaannya dan potensial bias, dan untuk menciptakan

ruangan kelas dimana tidak ada siswa yang dikucilkan.

Tindakan yang dipilih guru di dalam kelas untuk menghormati perbedaan

yang ada dapat mempengaruhi kesuksesan ataupun kegagalan yang akan diterima

siswa. Apakah guru akan melihat perbedaan sebagai aset yang akan memperkaya

kelas mereka atau guru akan menghargai perbedaan yang dihadapinya. Apakah

mereka akan komit sebagai guru untuk mempercayai potensi dari masing-masing

siswanya, untuk memberikan kepada setiap siswa dengan tantangan pengalaman

sekolah dan kemungkinan untuk tumbuh, daripada hanya memnyukai siswa yang

memiliki latar belakang yang sama dengan dirinya.

d. Membicarakan kebutuhan pribadi siswa dalam lingkungan kelas dan sekolah

Pada bagian komitmen ini, guru harus mengerti bahwa mengajar bukan hanya

terdiri dari kegiatan pasif yang terjadi di dalam kelas, membuka buku, dan

membaca petunjuk untuk kegiatan selanjutnya di depan kelas. Terampil,

menjalankan pekerjaan sebagai guru dengan aktif untuk menjadi gambaran

bagaimana memotivasi dan terlibat dalam proses belajar siswanya. Mereka

dengan sukarela mencari dan mengimplementasikan metode mengajar yang akan

memungkinkan guru untuk menjangkau seluruh siswanya. Hal ini sering diartikan

sebagai sebuah kebijaksanaan yang menggabungkan seluruh kelas, kelas kecil,

dan kerja individual. Mengajar yang hanya untuk merata-ratakan siswa tidak

(19)

Guru yang membicarakan dengan serius kebutuhan akan siswanya secara aktif

membutuhkan seorang penasehat untuk mereka dan membuat pilihan untuk

mencari sumber dan solusi dari masalah-masalah sehingga kesuksesan bisa

menjadi nyata. Para guru mendapat nasehat bukan hanya secara individual tetapi

juga mengenai kelas mereka secara keseluruhan, baik nasehat untuk sumber

dayanya, untuk pengalamannya, dan untuk kesempatan yang memungkinkan

siswa mereka mendalami pelajarannya.

e. Memberikan kontribusi secara aktif pada profesinya

Guru bisa memberikan kontribusinya terhadap profesi dengan berbagai cara

yang berbeda. Sepanjang perjalanan karir, seorang guru perlu membuat pilihan

mengenai tingkatan komitmen yang akan mereka capai. Akankah guru tersebut

menjadi guru yang pasif yang hadir setiap hari, menghabiskan hari, pulang ke

rumah, dan mengumpulkan bon gaji setiap bulannya? Atau menjadi guru yang

aktif yang ikut berpartisipasi secara profesional, kehidupan intelektual dari

mengajar untuk menambah apa yang akan diberikan di dalam kelas atau sekolah?

Pada area apa kekuatan dari keahlian khusus seorang guru akan berkembang, dan

bagaimana kekuatan itu akan digunakan untuk lebih baik menjangkau siswa dan

membantu guru yang lain melakukan hal yang sama.

Kontribusi apa yang akan diberikan oleh seorang guru, apakah akan

menjalankan peran kepemimpinan pada lingkungan sekitar sekolah, untuk

membangun partisipasi dari pihak keluarga di dalam sekolah, atau akan membuat

komitmen untuk menjalankan peraturan pendidikan atau bekerja dalam organisasi

(20)

area yang khusus. Dalam merencanakan karirnya sebagai guru, penting untuk

mengetahui bagaimana untuk bisa menjadi produktif dan menjadi anggota yang

aktif dalam profesinya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen guru

Banyak faktor yang mempengaruhi komitmen guru, diantaranya adalah :

a. Kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan organisasi (Mowday, dkk,

dalam Solomon, 2007).

b. Tingkat keterlibatan dalam pengambilan keputusan (Kushman, 1992 dalam

Solomon, 2007).

c. Menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar (Kushman, 1992, dalam

Solomon, 2007).

d. Prestasi siswa (Kushman, 1992 dalam Solomon, 2007).

e. Hadiah dan otonomi tugas (Rosenholtz 1989, dalam Solomon, 2007).

f. Feedback dari lingkungan atas tugas yang telah dilaksanakan (Solomon,

2007).

g. Pengertian guru terhadap tugas dan keahliannya (Firestone & Rosenblum,

dalam Solomon, 2007).

h. Kepuasan kerja (Fresko, Kfir, & Nasser, 1997 dalam Solomon, 2002).

i. Tingkatan tugas (Deci & Ryan, 1985 dalam Solomon, 2007).

j. Dukungan administratif (Firestone and Rosenblum, 1988 dalam Solomon,

(21)

k. Pengertian guru akan keunikan siswa (Louis, 1998 dalam Solomon, 2007).

l. Pengabdian guru dalam membantu siswa untuk belajar (Dannetta, 2002 dalam

Solomon, 2007).

B. SELF-EFFICACY 1. Pengertian self-efficacy

Self-efficacy merupakan penilaian terhadap diri sendiri mengenai kemampuan,

efisiensi, dan kompetensi dalam menghadapi kehidupan. Bandura menjelaskan

self-efficacy sebagai persepsi terhadap kemampuan untuk menghasilkan dan

mengatur kejadian dalam hidup. Dengan membahas dan memelihara penampilan

standar akan mempertinggi self-efficacy, dan sebaliknya kegagalan dalam hal

tersebut akan mengurang self-efficacy (Schultz, 1994).

Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) mengemukakan bahwa self-efficacy

merupakan perasaan seseorang terhadap kecukupan, efisiensi, dan kompetensinya

dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menemukan dan

mempertahankan standar performansi, maka seseorang dapat meningkatkan

self-efficacy yang dimilikinya, dan kegagalan untuk menemukan dan mempertahankan

performasi tersebut akan mengurangi self-efficacy yang dimilikinya itu.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah

kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi dan mengatur

kehidupannya yang berkaitan dengan penilaian individu atas kecukupan, efisiensi,

(22)

2. Struktur self-efficacy

Self-efficacy bervariasi pada beberapa dimensi yang mempunyai implikasi

penampilan yang penting (Bandura, 1997), perbedaan itu diantaranya adalah :

a. Tingkatan (Level)

Adanya perbedaan self-efficacy yang dihayati oleh masing-masing individu

mungkin dikarenakan perbedaan tuntutan yang dihadapi. Tuntutan tugas

merepresentasikan bermacam-macam tingkat kesulitan atau kesukaran untuk

mencapai performansi optimal. Jika halangan untuk mencapai tuntutan itu sedikit,

maka aktivitas lebih mudah untuk dilakukan, sehingga kemudian individu akan

memiliki self-efficacy yang tinggi.

b. Keadaan Umum (Generality)

Individu mungkin akan menilai diri mereka merasa yakin melalui

bermacam-macam aktivitas atau hanya dalam daerah fungsi tertentu. Keadaan umum

bervariasi dalam jumlah dari dimensi yang berbeda-beda, diantaranya tingkat

kesamaan aktivitas, perasaan dimana kemampuan ditunjukkan (tingkah laku,

kognitif, afektif), ciri kualitatif dari situasi, dan karakteristik individu menuju

kepada siapa perilaku itu ditujukan.

Pengukuran berhubungan dengan daerah aktivitas dan konteks situasi yang

menampakkan pola dan tingkat generality dari kepercayaan terhadap self-efficacy

mereka. Keyakinan diri yang paling mendasar berkisar tentang apa yang individu

(23)

c. Kekuatan (Strength)

Pengalaman memiliki pengaruh terhadap self-efficacy yang diyakini

seseorang. Pengalaman yang lemah akan melemahkan keyakinannya pula.

Individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap kemampuan mereka akan teguh

dalam usaha untuk mengenyampingkan kesulitan yang dihadapi.

Berdasarkan uraian di atas maka self-efficacy pada setiap individu berbeda

dalam beberapa dimensi, yaitu tingkat kesulitan tugas, keadaan umum suatu tugas,

dan kekuatan dari keyakinan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas.

3. Sumber-sumber self-efficacy

Menurut Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) penilaian seseorang

mengenai tingkatan self-efficacy yang diyakininya berdasarkan empat sumber

informasi, yaitu :

a. Pencapaian prestasi (Performance attainment)

Pencapaian prestasi merupakan bagian yang paling berpengaruh dalam

penentuan self-efficacy. Pengalaman sukses sebelumnya memberikan indikasi

langsung dari tingkatan kompetensi individu. Tingkah laku atau hasil sebelumnya

menunjukkan kemampuan individu dan menguatkan penilaiannya atas

self-efficacy. Khususnya apabila kegagalan sebelumnya diulangi dengan kegagalan

lagi, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.

Individu dengan self-efficacy yang tinggi percaya bahwa mereka bisa

berdamai secara efektif dengan kejadian yang mereka hadapi dalam

kehidupannya. Mereka mengharapkan kesuksesan dalam rintangan yang akan

(24)

performansi yang baik. Mereka memiliki kepercayaan diri yang baik dalam

kemampuan mereka dibandingkan individu dengan self-efficacy yang rendah, dan

mereka hanya sedikit memperlihatkan keragu-raguan. Individu dengan

self-efficacy yang tinggi melihat hal sulit sebagai tantangan dan aktif mencari situasi

yang baru.

b. Pengalaman orang lain (Vicarious experiences)

Melihat kesuksesan orang lain akan menguatkan perasaan akan self-efficacy,

khususnya jika seseorang yang menjadi objek observasi memiliki kemampuan

yang sama dengan individu yang melakukan observasi. Sebaliknya jika individu

melihat orang lain yang dianggap memiliki kesamaan tersebut mengalami

kegagalan, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.

Individu yang memiliki standar penampilan tinggi yang mengambil standar

tersebut dari hasil mengobservasi model yang sukses akan memiliki harapan yang

tinggi, namun jika kemudian gagal, maka individu tersebut akan menghukum

dirinya sendiri dengan perasaan tidak berharga dan depresi.

Jadi, hal yang terpenting adalah menentukan orang yang tepat kemampuan

dan kompetensinya untuk dijadikan model. Model yang dipilih juga akan

menunjukkan strategi dan teknik yang mungkin dilakukan pada situasi yang sulit.

c. Persuasi lisan (Verbal persuasion)

Mengatakan kemampuan yang dimiliki dan prestasi apa yang ingin dicapai

dapat meningkatkan self-efficacy seseorang. Hal ini mungkin yang paling umum

(25)

dilakukan oleh orang tua, guru, suami/istri, teman, dan terapis. Agar efektif,

persuasi haruslah realistik.

d. Keterbangkitan psikologis (Psychological arousal)

Keterbangkitan psikologis ini meliputi perasaan tenang atau ketakutan pada

situasi yang membuat stres. Keterbangkitan psikologis ini biasa digunakan untuk

melihat kemampuan individu dalam mengatasi masalah.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat sumber

informasi mengenai tingkatan self-efficacy, yaitu pencapaian prestasi, pengalaman

orang lain, persuasi lisan, dan keterbangkitan psikologis.

4. Perkembangan self-efficacy

Bandura (1997) menyatakan bahwa self-efficacy berkembang sejak bayi. Bayi

mulai mengembangkan self-efficacy sebagai usaha untuk melatih pengaruh

lingkungan fisik dan sosial. Bayi cenderung mempelajari penyebab tindakan

melalui pengamatan yang berulang dari suatu kesatuan peristiwa dimana tindakan

orang lain membuat itu terjadi. Mereka mulai belajar mengenai kemampuan

dirinya, kecakapan fisik, kemampuan sosial, dan kecakapan berbahasa yang

hampir secara konstan digunakan dan ditujukan pada lingkungan. Perubahan

sebagai perluasan pengalaman dunia anak dipengaruhi oleh saudara kandung,

teman sebaya, dan individu dewasa lainnya.

Pengalaman transisi remaja meliputi tuntutan untuk mengatasi tuntutan dan

tekanan baru, dari kesadaran seks sampai memilih bidang pelajaran dan karir.

Dalam hal ini remaja harus menetapkan kemampuan baru, yaitu penilaian baru

(26)

pada masalah perkawinan dan peningkatan karir. Sedangkan self-efficacy pada

individu yang sudah lanjut usia sangat sulit terbentuk sebab pada tahapan

perkembangan ini terjadi penurunan mental dan fisik, pensiun kerja, dan

penarikan diri dari lingkungan sosial

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa self-efficacy mengalami

perkembangan terus-menerus dari bayi hingga dewasa. Self-efficacy berubah

seiring dengan perubahan yang dialami oleh individu. Perubahan tersebut meliputi

perubahan fisik, lingkungan sosial, kecakapan dan tuntutan tugas yang dihadapi.

5. Proses yang memengaruhi self-efficacy

Bandura (1997) mengemukakan bahwa terdapat empat proses psikologis

dalam self-efficacy yang turut berperan dalam diri manusia, yaitu :

a. Proses kognitif

Proses kognitif merupakan proses berfikir, termasuk didalamnya adalah

pemerolehan, pengorganisasian, penggunaan informasi. Dampak dari self-efficacy

pada proses kognitif sangat bervariasi. Seseorang akan membentuk suatu tujuan

tertentu sebelum ia melakukan pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut.

Bentuk tujuan personal juga dipengaruhi oleh penilaian akan kemampuan diri.

Semakin seseorang mempersepsikan dirinya mampu, maka individu akan semakin

membentuk usaha-usaha dalam mencapai tujuannya dan semakin kuat komitmen

individu terhadap tujuannya (Bandura, 1997). Kebanyakan tindakan manusia

bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang memiliki

(27)

individu dengan self-efficacy yang rendah lebih banyak membayangkan kegagalan

dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan (Bandura, 1997).

Fungsi utama pikiran adalah memungkinkan individu untuk memprediksi

suatu kejadian dan mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang dapat

memengaruhi kehidupan mereka. Untuk dapat memprediksi dan mengembangkan

cara tersebut diperlukan pemrosesan informasi melalui kognitif.

Proses kognitif ini juga dipengaruhi oleh bagaimana kepribadian yang dimiliki

oleh seseorang. Bagaimana cara pandangnya, baik itu terhadap dirinya maupun

orang lain dan kejadian disekitarnya berhubungan dengan self-efficacy seseorang

dalam suatu aktivitas tertentu melalui mekanisme self regulatory (Bandura, 1997).

b. Proses motivasi

Kebanyakan motivasi manusia dibangkitkan melalui kognitif atau pikiran.

Individu memberi motivasi atau dorongan bagi diri mereka sendiri dan

mengarahkan tindakan melalui tahap-tahap pemikiran sebelumnya. Mereka

membentuk suatu keyakinan tentang apa yang dapat mereka lakukan,

mengantisipasi hasil dari suatu tindakan, membentuk tujuan bagi diri mereka

sendiri dan merencanakan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam mencapai

tujuan (Bandura, 1997).

c. Proses afeksi

Proses afektif merupakan proses pengaturan kondisi emosi dan reaksi

emosional. Menurut Bandura (1997), keyakinan individu akan kemampuan coping

mereka turut mempengaruhi tingkatan stres dan depresi seseorang saat mereka

(28)

Individu dengan self-efficacy yang rendah merasa tidak berdaya, tidak bisa

memberikan pengaruh dalam kehidupannya. Mereka percaya bahwa usaha mereka

sia-sia, mereka seperti akan mengalami peningkatan kesedihan, apatis, dan

kecemasan. Mereka cepat menyerah dalam menghadapi masalah dalam hidupnya

dan merasa usahanya tidak efektif. Individu dengan self-efficacy yang sangat

rendah tidak akan mencoba untuk mengatasi masalahnya, karena mereka percaya

apa yang mereka lakukan tidak akan membawa perbedaan (Schultz, 1994).

d. Proses seleksi

Manusia merupakan bagian dari lingkungan tempat dimana mereka berada.

Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu, turut

mempengaruhi dampak dari suatu kejadian. Individu cenderung menghindari

aktivitas dan situasi yang di luar batas kemampuan mereka. Bila individu merasa

yakin bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung

tidak menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu

kemudian meningkatkan kemampuan, minat dan hubungan sosial mereka yang

lainnya (Bandura, 1997).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat proses

psikologis yang mempengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu proses kognitif yang

menggunakan pikiran, proses motivasi yang dapat menguatkan keyakinan

individu, proses afeksi yang memengaruhi tingkat stres dari suatu tugas dan

proses seleksi yang mempengaruhi pemilihan individu terhadap situasi dan

(29)

6. Faktor-faktor yang memengaruhi self-efficacy

Menurut Bandura (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi

self-efficacy, yaitu :

a. Jenis kelamin

Pada beberapa bidang pekerjaan tertentu pria memiliki self-efficacy yang lebih

tinggi dibandingkan dengan wanita, bagitu juga sebaliknya self-efficacy wanita

unggul dalam beberapa pekerjaan dibandingkan dengan pria. Pria biasanya

memiliki self-efficacy yang tinggi dengan pekerjaan yang menuntut keterampilan

teknis matematis.

b. Usia

Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat berlangsung

selama kehidupan. Individu yang lebih tua memiliki rentang waktu dan

pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi suatu hal jika dibandingkan

dengan individu yang lebih muda.

c. Tingkat pendidikan

Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada

institusi pendidikan formal. Individu yang memiliki jenjang pendidikan tinggi

biasanya memiliki self-efficacy yang lebih tinggi. Karena pada dasarnya mereka

lebih banyak menerima pendidikan formal dan lebih banyak mendapatkan

kesempatan untuk belajar dan mengatasi suatu persoalan.

d. Pengalaman kerja

Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada

(30)

adaptasi dan pembelajaran yang ada dalam perusahaan tersebut. Semakin lama

seseorang bekerja maka semakin tinggi self-efficacy yang dimilikinya dalam

bidang pekerjaan tertentu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan self-efficacy

orang tersebut justru cenderung tetap atau menurun. Hal ini tergantung bagaimana

keberhasilan dan kegagalan mempengaruhinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka diketahui bahwa terdapat empat faktor

yang memengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu jenis kelamin, usia, tingkat

pendidikan, dan pengalaman kerja.

C. SELF-EFFICACY GURU 1. Pengertian self-efficacy guru

Bandura (1977, 1986, 1997, dalam Pintrinch, 2002) menyatakan bahwa

self-efficacy guru merupakan kepercayaan guru akan kemampuannya dalam

memutuskan cara terbaik yang diperlukan agar bisa memengaruhi siswanya secara

positif dalam penampilan belajar siswanya tersebut. Self-efficacy guru atau juga

sering disebut sebagai instructional self-efficacy merupakan kepercayaan seorang

guru tentang kemampuannya untuk membantu siswanya dalam belajar (Pintrinch,

2002).

Hoy dan Woolfolk (1990, dalam Pintrinch 2002) menyatakan bahwa

self-efficacy guru merupakan kepercayaan guru bahwa ia mampu menghadapi siswa

yang mengalami kesulitan belajar untuk bisa belajar, hal ini merupakan salah satu

(31)

Hackett (dalam Schultz, 1994) menyatakan bahwa self-efficacy memengaruhi

banyaknya waktu yang seseorang habiskan untuk mencari pekerjaan, untuk

mencapai kesuksesan kerja. Pekerja dengan self-efficacy yang tinggi melaporkan

bahwa mereka memiliki tujuan kerja yang lebih tinggi dan memiliki komitmen

kerja yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja dengan self-efficacy yang

rendah (Locke, dalam Schultz, 1994). Self-efficacy yang tinggi fokus pada analisis

dan pemecahan masalah, dimana self-efficacy yang rendah fokus pada kekurangan

orang lain dan takut gagal, yang dapat merusak produktivitas mereka dan

kegunaan penuh kemampuan kognitif mereka dalam pekerjaan (Lazarus &

Folkman, dalam Schultz, 1994).

Ashton dan Webb (dalam Pintrinch, 2002) mengungkapkan bahwa guru

dengan self-efficacy yang rendah mungkin menghindari untuk merencanakan

aktivitas yang mereka yakini melampaui kemampuan mereka, tidak bertahan

dengan siswa yang mengalami kesulitan, menghabiskan usaha yang sedikit untuk

menemukan materi-materi pengajaran, dan tidak mengulang pelajaran dengan

cara yang bisa membuat siswa lebih mengerti.

Sedangkan guru dengan self-efficacy tinggi akan lebih tepat untuk

mengembangkan aktivitas yang menantang, membantu siswa untuk sukses, dan

bertahan dengan siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Guru dengan

self-efficacy yang tinggi menyukai lingkungan kelas yang positif, mendukung ide-ide

siswa, dan menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa (Ashton & Webb,

dalam Pintrich, 2002). Teori self-efficacy memprediksikan bahwa guru dengan

(32)

siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini karena guru percaya pada dirinya

dan siswa-siswanya.

Self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan

dalam pelajaran. Tetapi ketika sebagian kecil dari siswanya tidak menunjukkan

peningkatan dalam belajar, guru tersebut tidak perlu berkecil hati jika ia percaya

bahwa strategi pengajaran yang berbeda akan menghasilkan hasil yang lebih baik

(Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa self-efficacy

guru adalah kepercayaan seorang guru akan kemampuannya untuk membantu

siswanya dalam belajar, termasuk juga membantu siswanya yang mengalami

kesulitan belajar.

D. GURU

1. Pengertian guru

Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya)

mengajar (KBBI, 2001). Guru adalah orang yang profesional, artinya secara

formal mereka disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang.

Mereka dididik secara khusus memperoleh kompetensi sebagai guru, yaitu

meliputi pengetahuan, keterampilan, kepribadian, serta pengalaman dalam bidang

pendidikan (Wibowo, 2002).

Guru merupakan profesi, yaitu pekerjaan yang menuntut keahlian. Artinya,

pekerjaan sebagai guru tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan

(33)

peserta didik tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena untuk melakukan

tersebut dituntut keahlian atau kompetensi sebagai guru (Wibowo, 2002).

Guru adalah tenaga profesional yang dituntut menguasai kemampuan selidik

reflektif. Selalu bertanya, menjawab pertanyaan, mempertanyakan, termasuk

mempertanyakan jawaban dan mempertanyakan pertanyaan mereka sendiri

(Houston, dalam Wibowo, 2002). Sebagai profesi, guru harus dapat merebut

kepercayaan publik melalui peningkatan kualitas guru dan pelayanan pendidikan

dan pembelajaran. Kepercayaan menjadi faktor kunci dalam mengokohkan

identitas guru. Seiring dengan upaya tersebut, sebagai profesi guru harus selalu

melakukan profesionalisasi yaitu meningkatkan dirinya dan pelayanannya sesuai

dengan tuntutan zaman (Wibowo, 2002).

Guru dengan komitmen yang tinggi akan selalu menggunakan kesempatan

untuk belajar menjadi guru yang profesional. Belajar yang dimaksud adalah

belajar menjalankan tugas-tugas profesional guru, yaitu melaksanakan pendidikan

dan pembelajaran. Profesionalisme guru hendaknya dapat ditunjukkan oleh lima

unjuk kerja, yaitu keinginan berperilaku standar ideal, memelihara profesi,

mengembangkan profesionalitas serta meningkatkan kualitas pengetahuan dan

keterampilannya. Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi, serta bangga

terhadap profesinya (Wibowo, 2002).

Pada tahun 2005 telah disahkan Undang-Undang No. 14 tentang guru dan

dosen. Di dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa guru adalah pendidik

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,

(34)

jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Dikdasdki,

2005).

Undang-Undang tersebut juga menjelaskan arti dari profesional berkaitan

dengan profesi guru. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan

oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan

keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma

tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Dikdasdki, 2005).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan

suatu profesi yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik,

dimana profesi tersebut menjadi sumber penghasilan yang memerlukan keahlian,

kemahiran, kecakapan, dan pendidikan profesi.

2. Profesionalitas guru

Dalam menjalankan tugasnya, guru memiliki prinsip-prinsip profesionalitas

yang harus dipenuhi dan dijalankannya (Dikdasdki, 2005). Prinsip-prinsip tersebut

adalah :

a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,

ketakwaan, dan akhlak mulia.

c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan

bidang tugas.

d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.

(35)

f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.

g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan.

i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal

yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Selain prinsip profesionalitas di atas, Dikdasdki (2005) juga menyatakan

bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat

pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi yang dimaksud di sini adalah

kualifikasi akademik yang diperoleh dari pendidikan tinggi program sarjana atau

diploma empat. Sedangkan yang dimaksud dengan kompetensi adalah

seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,

dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru meliputi kompetensi pedagogik,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang

diperoleh melalui pendidikan profesi.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen juga

menjabarkan hal-hal yang menjadi tanggung jawab seorang guru, yaitu :

a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang

(36)

b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan

kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni.

c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis

kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang

keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik

guru, serta nilai-nilai agama dan etika.

e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

E. SEKOLAH BILINGUAL 1. Pengertian sekolah bilingual

Pendidikan bilingual melibatkan pengajaran pada semua subjek dalam dua

bahasa yang berbeda (Wikipedia, 2005). Pendidikan bilingual adalah sebuah

penambahan program bilingual dan bicultural dalam waktu lama secara konsisten,

menggunakan dua bahasa dalam instruksi, belajar, dan komunikasi, dengan

jumlah siswa yang seimbang dari kelompok kedua bahasa tersebut, yang

diintegrasikan pada seluruh atau setidaknya setengah dari hari sekolah tersebut

untuk memenuhi kompetensi bilingual, bilateral, akademik, dan lintas budaya

(Soltero, 2004).

2. Tujuan pendidikan bilingual

Pendidikan bilingual memiliki tiga dimensi, yaitu bahasa, akademik, dan

(37)

dengan dimensi tersebut, disusun empat tujuan dari pendidikan bilingual, yaitu

perkembangan bahasa pokok (first language), perkembangan bahasa tambahan

(second language), hasil akademik, dan kompetensi multikutural.

Penggunaan dua bahasa harus meliputi empat bagian dalam bahasa, yaitu

mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini karena program bilingual

yang efektif juga bertujuan untuk meningkatkan patokan belajar bagi siswa.

Semua siswa memiliki harapan untuk memiliki prestasi akademik pada atau di

atas patokan di kedua bagian bahasa tersebut.

Pada akhirnya pendidikan bilingual bertujuan untuk mengembangkan

perspektif positif siswa terhadap lintas budaya, bakat intersosial, dan self-concept

yang sehat (Cazahon, dalam Soltero, 2000).

3. Model pendidikan bilingual

Adapun model-model umum dari sekolah bilingual (Wikipedia, 2005) adalah

sebagai berikut :

a. Pendidikan bilingual peralihan (Transitional bilingual education)

Pada model pendidikan ini siswa dibantu untuk melakukan transisi dari bahasa

asli ke bahasa asing (Inggris). Tujuan dari pendidikan ini adalah membantu siswa

agar tidak mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan

dalam bahasa Inggris.

b. Pendidikan bilingual dua bahasa (Two-way or dual language bilingual

education)

Pendidikan ini disusun untuk membantu anak yang bahasa ibunya bukan

(38)

biliterate. Idealnya dalam satu kelas model pendidikan ini terdiri dari

masing-masing setengah dari kedua bahasa tersebut. Model ini merupakan model

pendidikan bilingual yang paling berhasil karena guru tetap mengerti ketika

siswanya berbicara dalam bahasa asli mereka dan kemudian guru bisa

membalasnya dengan bahasa Inggris.

c. Pendidikan bilingual late-exit (Developmental bilingual education)

Pada model ini pendidikan bahasa asing hanya menjadi tambahan. Tujuan

pendidikan ini adalah untuk mengembangkan bilingual dan biliterate dalam dua

bahasa. Program pendidikan ini tersedia untuk siswa yang bahasa ibunya bukan

Inggris dan juga untuk program transisi.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga model

pendidikan bilingual, yaitu pendidikan bilingual peralihan, pendidikan bilingual

dua bahasa, dan pendidikan bilingual late-exit.

F. HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DENGAN KOMITMEN GURU SEKOLAH BILINGUAL

Louis (1998, dalam Joffres & Haughey, 2001) dan Coladarci (1992, dalam

effros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru secara langsung

mempengaruhi komitmen guru. Bandura (1997, dalam Joffres & Haughey,2001)

menyatakan bahwa self-efficacy guru menunjukkan kepercayaan guru akan

kemampuan personalnya untuk mempengaruhi cara belajar siswa. Kemudian

(39)

bahwa komitmen guru merupakan bagian dari afeksi atau reaksi emosi seorang

guru kepada pengalaman mereka di dalam lingkungan sekolah.

Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari

prestasi yang diterima siswa dan juga akan memengaruhi motivasi siswa dalam

belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor

yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika

siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran,

Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).

Rotter, dkk (1966, dalam Joffres & Haughey, 2001) menyimpulkan bahwa

self-efficacy guru tumbuh dalam dua bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan

mengenai kemampuan personal dalam mempengaruhi proses belajar siswa dan

kepercayaan mengenai kemampuan guru (sebagai kelompok) untuk

mempengaruhi cara belajar siswa secara keseluruhan. Self-efficacy guru akan

menambah keefektifan guru dalam mengajar (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy,

& Hoy, 1998, dalam Knobloch & Whittington, 2003), prestasi siswa (Armor, dkk,

1976, dalam Knobloch & Whittington, 2003), komitmen profesional (Coladarci,

1992, dalam Knobloch & Whittington, 2003), dan usia karir (Burley et al., 1991,

dalam Knobloch & Whittington, 2003).

Self-efficacy guru yang rendah merupakan hal yang menentukan dalam

penurunan komitmen guru (Joffres & Haughey, 2001). Reyes dan Coladarci

(1992, dalam Joffres & Haughey, 2001) menemukan bahwa self-efficacy

berhubungan dengan komitmen guru di sekolah, baik itu komitmen guru terhadap

(40)

pengertian guru tentang situasinya, dimana dirinya dipengaruhi oleh sejarah

kerjanya dan kehadiran teman atau rekan sejawat dalam pekerjaannya.

Komitmen guru dalam mengajar memegang peranan penting dalam

menentukan seberapa lama guru bisa bertahan pada profesinya (Chapman, 1982;

Chapman & Lowther, 1983; McCracken & Etuk, 1986, dalam Knobloch &

Whittington, 2003). Seorang guru yang memilih karir mereka berdasarkan

motivasi intrinsik untuk melayani orang lain atau tujuan karir jangka panjang

biasanya menunjukkan self-efficacy yang lebih tinggi dalam kegiatan mengajar

mereka (Knobloch & Whittington, 2003).

Komitmen guru mengalami berubahan dan pengurangan ketika guru merasa

tidak sukses, dimana ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah.

Perasaan tersebut mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk

memengaruhi proses belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan

misi dan standar internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan

untuk berprestasi mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).

Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru

akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi

kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan

ketidakmampuan mereka untuk memengaruhi proses belajar siswa (Joffres &

Haughey, 2001). Joffres & Haughey (2001) menemukan bahwa kesesuaian,

dukungan, dan kerja sama cenderung akan memudahkan timbulnya komitmen.

Menurut Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, dan Hoy (dalam Pintrinch, 2002)

(41)

dalam pelajaran. Kemudian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga

oleh komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat

Firestone, dkk (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) yang

menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan

kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh

terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias

(dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa

komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam

kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.

Knobloch dan Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa

komitmen seorang guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam

mengajar, dimana hal ini berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan

keberhasilannya dalam mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan

bahwa self-efficacy mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika

berhadapan dengan masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti berasumsi bahwa self-efficacy guru dan

komitmen guru memiliki hubungan yang positif. Artinya semakin tinggi

self-efficacy yang dimiliki seorang guru ketika mengajar, maka semakin tinggi

(42)

G. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan uraian teoritis di atas maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah ada hubungan antara self-efficacy dengan komitmen guru

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dijelaskan metode yang digunakan untuk menjawab

permasalahan penelitian. Penelitian ini bersifat korelasional, yang akan melihat

apakah terdapat hubugan antara self-efficacy dengan komitmen guru di sekolah

bilingual. Populasi yang digunakan adalah guru di suatu sekolah bilingual yang

terdapat di kota Medan. Data penelitian ini akan diolah secara kuantitatif

menggunakan uji Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS versi

15.0 for Windows.

A. IDENTIFIKASI VARIABEL 1. Variabel bebas

Varibel bebas pada penelitian ini adalah self-efficacy guru.

2. Variabel tergantung

Variabel tergantung pada penelitian ini adalah komitmen guru.

B. DEFINISI OPERASIONAL 1. Komitmen guru

Komitmen guru adalah penafsiran internal seorang guru tentang bagaimana

mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka yang ditandai dengan

(44)

dengan Skala Komitmen Guru yang dikembangkan dari lima aspek komitmen

guru, yaitu belajar dari berbagai sumber ilmu pengetahuan, menggunakan

kurikulum dengan bertanggung jawab, mengganti batasan yang diyakini dengan

batasan yang lebih bersifat umum, membicarakan kebutuhan siswa di dalam

lingkungan kelas dan sekolah, serta berkontribusi secara aktif terhadap profesi.

Skala Komitmen Guru akan diisi oleh guru. Skor total merupakan petunjuk

tinggi rendahnya komitmen yang dimiliki seorang guru. Semakin tinggi skor yang

dicapai seorang guru berarti semakin tinggi komitmen guru tersebut. Sebaliknya,

semakin rendah skor yang dicapai seorang guru berarti semakin rendah komitmen

guru tersebut.

2. Self-efficacy guru

Self-efficacy guru adalah kepercayaan seorang guru tentang kemampuannya

untuk membantu siswanya dalam belajar. Self-efficacy guru akan diukur dengan

Skala Self-Efficacy Guru yang dikembangkan dari tiga struktur self-efficacy, yaitu

tingkatan, keadaan umum, dan kekuatan.

Skala Self-Efficacy Guru akan diisi oleh guru. Skor total merupakan petunjuk

tinggi rendahnya self-efficacy yang dimiliki oleh seorang guru. Semakin tinggi

skor yang dicapai seorang guru berarti semakin tinggi self-efficacy guru tersebut.

Sebaliknya, semakin rendah skor yang dicapai seorang guru berarti semakin

rendah self-efficacy guru tersebut.

3. Sekolah bilingual

Sekolah bilingual adalah sekolah yang metode pendidikannya melibatkan

(45)

C. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL

Pada subbab ini akan dijelaskan mengenai karakteristik subjek penelitian,

jumlah sampel, dan teknik pengambilan sampel,.

1. Karakteristik subjek penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri subjek penelitian

adalah sebagai berikut :

a. Guru yang mengajar di sekolah bilingual, yaitu sekolah yang menggunakan

dua bahasa sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Pada

penelitian ini sekolah bilingual yang digunakan adalah Chandra Kusuma

School Medan.

b. Guru yang mengajar pada tingkat SD (primary).

c. Guru sekolah bilingual yang telah mengajar selama satu tahun atau lebih. Hal

ini karena menurut Chang dan Choi (2007) komitmen terhadap organisasi dan

komitmen terhadap profesi jelas terlihat setelah bekerja selama 12 bulan atau

satu tahun.

2. Jumlah sampel penelitian

Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 36 orang.

3. Teknik pengambilan sampel

Penelitian ini merupakan penelitian populasi, dimana semua anggota

populasinya diukur. Populasi adalah seluruh individu atau penduduk yang

dimaksudkan untuk diteliti. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk atau

(46)

penelitian ini yang menjadi populasinya adalah guru SD (primary) di Sekolah

Chandra Kusuma Medan.

D. INSTRUMEN/ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN

Dalam penelitan ini peneliti menggunakan 2 alat pengumpulan data, yaitu

Skala Komitmen Guru dan Skala Self-Efficacy guru. Skala Komitmen Guru

dikembangkan sendiri oleh peneliti berdasarkan teori komitmen guru yang

terdapat dalam Pugach (200). Skala Self-Efficacy guru juga dikembangkan sendiri

oleh peneliti berdasarkan teori Bandura (1997).

Metode pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode

skala. Ada beberapa alasan dan pertimbangan dalam penggunaan metode skala

(Hadi, 2000) :

a. Subjek adalah individu yang paling tahu tentang dirinya.

b. Apa yang dinyatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang peryataan-pernyataan yang diajukan kepadanya

cenderung sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.

Metode skala yang digunakan adalah metode rating yang dijumlahkan atau

dikenal dengan metode Likert (Azwar, 2000). Skala psikologi yang berbentuk

skala Likert digunakan untuk mengukur komitmen guru dan self-efficacy guru,

dengan menggunakan 4 opsi jawaban yang dilambangkan dengan angka, yaitu 1

untuk very appropriate (sangat sesuai), 2 untuk appropriate (sesuai), 3 untuk not

(47)

1. Skala Komitmen Guru

Skala Komitmen Guru belum ada yang telah dipublikasikan secara luas dan

dapat dibeli ataupun digunakan oleh kalangan umum. Oleh karena itu peneliti

mencoba membuat alat ukur sendiri, yang disusun berdasarkan lima aspek

komitmen guru menurut Pugach (2006) yang terdiri dari belajar dari berbagai

sumber ilmu pengetahuan, menggunakan kurikulum dengan bertanggung jawab,

mengganti batasan yang diyakini dengan batasan yang lebih bersifat umum,

membicarakan kebutuhan siswa di dalam lingkungan kelas dan sekolah, serta

berkontribusi secara aktif terhadap profesi.

Tabel 1. Blue Print Skala Komitmen Guru

No. Kategori Item Favorable Item Unfavorable Jumlah

1. Belajar dari berbagai

3. Mengganti batasan yang diyakini dengan

(48)

2. Skala Self-Efficacy Guru

Alat ukur self-efficacy guru juga belum ada yang telah dipublikasikan secara

luas dan dapat dibeli ataupun digunakan oleh kalangan umum. Oleh karena itu

peneliti mencoba membuat alat ukur sendiri, yang disusun berdasarkan tiga

struktur self-efficacy menurut Bandura (1997), yaitu tingkatan, keadaan umum,

dan kekuatan.

Tabel 2. Blue Print Skala Self-Efficacy Guru

No. Dimensi Item Favorable Item Unfavorable Jumlah

1. Tingkatan tugas yang dikerjakan

E. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2008 di sekolah yang telah

ditentukan. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mencari informasi

(49)

2. Setelah mendapatkan sekolah yang akan diteliti, kemudian peneliti

mengurus surat izin untuk penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara untuk melakukan penelitian ke sekolah tersebut.

3. Setelah tiba di sekolah tersebut, selanjutnya peneliti meminta izin kepada

pihak sekolah untuk melakukan penelitian dengan menunjukkan surat

jalan dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

4. Setelah mendapatkan izin dari pihak sekolah, kemudian peneliti

melanjutkan dengan bertanya mengenai waktu yang tepat untuk

melakukan penelitian.

5. Setelah waktu penelitian disepakati, kemudian peneliti kembali lagi ke

sekolah tersebut dengan membawa alat penelitian (skala) yang akan

diberikan kepada guru-gurunya.

6. Peneliti memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengumpulkan

skala kembali.

F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR

Validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan dalam sebuah penelitian

sangat menentukan keakuratan dan keobjektifan hasil penelitian yang dilakukan.

Suatu alat ukur yang tidak valid dan tidak reliabel akan memberikan informasi

yang tidak akurat mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai tes ini

Gambar

Tabel 1. Blue Print Skala Komitmen Guru
Tabel 2. Blue Print Skala Self-Efficacy Guru
Tabel 3. Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4. Gambaran subjek penelitian berdasarkan usia
+6

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik individu yang memiliki Self-efficacy yang tinggi adalah ketika individu tersebut merasa yakin bahwa mereka mampu menangani sesecara efektif peristiwa dan situasi

Kuesioner atau daftar pertanyaan ini berisi variabel bebas (stres kerja) dan (kontrol diri), variabel terikat (perilaku kerja kontraproduktif) yang menggunakan

Keterkaitan antara tema perancangan dengan objek ini sangat jelas, dimana substansi organik merupakan faktor yang berpengaruh dalam terbentuknya sebuah tempat Penelitian

Berat jenis lumpur pemboran, prediksi kondisi tekanan bawah permukaan abnormal, kedalaman penempatan casing serta arah sumur pemboran yang tepat dapat ditentukan

Pemetaan reservoir pada penelitian ini meliputi peta struktur kedalaman dengan informasi struktur bawah permukaan diperoleh dari interpretasi seismik 3D yang

faktor yang mempengaruhi bangunan multi fungsi Bangunan ini akan berpengaruh pada tata ruang dalam. dan tata ruang luar bangunan, sistim

Kerja (Pokja) Pengadaan Barang/ Jasa Konstruksi Bidang Cipta Karya dan Pengairan Kabupaten Padang Lawas Utara, telah melakukan Penjelasan (Aanwijzing) Dokumen di website

a) Dis kominfo Jabar perlu memberikan perhatian lebih kepada beberapa indikator faktor s tres kerja lingkungan. Pada beberapa indikator dimens i s tres