PENGEMBANGAN PERANGKAT ASESMEN OTENTIK TERTULIS PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU MELALUI
SCIENTIFIC APPROACH
(Skripsi)
Oleh
LUSI WULANDARI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGEMBANGAN PERANGKAT ASESMEN OTENTIK TERTULIS PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU MELALUI
SCIENTIFIC APPROACH Oleh
LUSI WULANDARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat asesmen otentik tertulis
pada pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach serta mendeskripsikan
pendapat guru mengenai kesesuaian, kemudahan, dan kemanfaatan penggunaan
perangkat asesmen otentik tertulis pada pembelajaran IPA Terpadu melalui
scientific approach. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian
pengembangan dengan langkah-langkah mulai dari analisis potensi dan masalah
kemudian pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba
produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk dan tahap yang terakhir
yaitu produksi. Berdasarkan uji validasi ahli diperoleh rata-rata persentase untuk
aspek konstruksi 76,18% dengan kriteria tinggi, aspek subtansi 73,33% dengan
kriteria tinggi, dan aspek bahasa 63,88% dengan kriteria tinggi. Hasil uji coba
keoperasionalan perangkat asesmen yang dilakukan pada siswa diperoleh bahwa
reliabilitas tes sebesar 0,65 dengan kriteria tinggi, 95,83% siswa telah tuntas dan
persentase rata-rata kesesuaian produk 77,68% dengan kriteria tinggi, kemudahan
penggunaan produk sebesar 74,30% dengan kriteria tinggi dan kemanfaatan
produk sebesar 79,20% dengan kriteria tinggi. Berdasarkan hasil uji coba
pemakaian diperoleh rata-rata kesesuaian, kemudahan, dan kemanfaatan perangkat
asesmen otentik tertulis yang berkriteria tinggi. Hal ini berarti guru merespon baik
perangkat asesmen otentik tertulis yang dikembangkan.
PENGEMBANGAN PERANGKAT ASESMEN OTENTIK TERTULIS PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU MELALUI
SCIENTIFIC APPROACH
Oleh
LUSI WULANDARI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sukamulya pada tanggal 09 Oktober 1993 sebagai putri
pertama dari tiga bersaudara buah hati Bapak Jumadi dan Ibu Salimah. Penulis
mengawali pendidikan formal di Sekolah Dasar Negeri 1 Sukamulya, dan
menyelesaikan studi pada tahun 2005, lalu melanjutkan jenjang pendidikan
menengah pertama di SMP Negeri 1 Banyumas dan lulus pada tahun 2008.
Selanjutnya, penulis menjalani pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1
Pringsewu dan menyelesaikan masa pendidikan tersebut pada tahun 2011.
Tahun 2011 penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Fisika Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung melalui jalur
SNMPTN Undangan. Tahun 2014 penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata
Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di desa Pagar Dewa Kecamatan Sukau
Kabupaten Lampung Barat dan melakukan praktek mengajar di SMA Negeri 1
PERSEMBAHAN
Saya persembahkan karya istimewa ini untuk:
1. Mamak Salimah dan Bapak Jumadi tercinta, terimakasih atas doa, limpahan
kasih sayang yang tak terhingga dan memberikan pengorbanan yang teramat
berarti.
2. Adik-adikku tersayang, Lucky Aditya dan Syakila Aliffiya. Terimakasih atas
do’a dan dukungan serta semangat yang selalu diberikan.
3. Almamater tercinta, Universitas Lampung.
Semoga Allah SWT membalas jasa budi kalian dikemudian hari dan memberikan
MOTTO
“Jika Ada yang Menghina Anda Anggap Saja Sebagai Pujian bahwa
Setiap Saat Dia Memikirkan Anda, sedangkan Anda
Tidak Sedetikpun Memikirkan Dia”
(B. J. Habibie)
“
Jangan Pernah Berhenti Bermimpi dan Menyerah tuk Menggapai
Mimpimu Hingga Menja
di Nyata”
SANWACANA
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pengembangan Perangkat Asesmen Otentik Tertulis pada Pembelajaran IPA
Terpadu Melalui Scientif Approach” sebagai salah satu syarat untuk mencapai
gelar sarjana pendidikan. Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M. Si., selaku Dekan FKIP Unila.
2. Bapak Dr. Caswita, M. Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Bapak Drs. Eko Suyanto, M. Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Fisika.
4. Bapak Dr. Chandra Ertikanto, M. Pd., selaku Pembimbing I atas
kesediaannya memberi bimbingan dan motivasi.
5. Bapak Ismu Wahyudi, S. Pd., M. PFis., selaku Pembimbing II atas
kesediaannya memberi bimbingan dan motivasi.
6. Bapak Dr. Undang Rosidin, M. Pd., selaku Pembahas atas kesediaannya
memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses perbaikan skripsi ini.
7. Ibu Viyanti, S. Pd., M. Pd., terimakasih atas bimbingan, motivasi, dan
dukungan yang ibu berikan.
8. Bapak Dr. Agus Suyatna, M. Si., Bapak Dr. Ngadimun H.d, M. Pd., dan Ibu
Dr. Rochmiyati, M. Si., selaku validator atas kesediaan dan kesabarannya
SMP Kartika 2, SMP Ar-Raihan, dan SMP Gajah Mada di Bandarlampung
atas kesediaan menjadi subjek penelitian.
10. Sahabat terbaikku; Samsuryati, Qurotu A’yun, Novinta Nurulsari, dan Rini
Sintia atas dukungan, doa, dan semangat yang telah diberikan.
11. Rekan-rekan seperjuanganku, Fisel kelas B dan kelas A yang tidak dapat
disebutkan satu persatu. Terimakasih atas do’a, semangat dan dukungannya.
12. Keluarga KKN-KT desa Pagardewa Kecamatan Sukau Lampung Barat.
Bapak Ave, Devi, Muthi, Ingga, Nova, Arum, Neli, Mukhlis, dan bang Noris.
Semoga jalinan persahabatan kita tetap terjarin erat.
13. Keluarga kostan A3, Inayah, Ria, Mba Fetra, Dina, Diah, Shinta, Mba Vita,
terimakasih atas do’a dan dukungannya.
14. Semua pihak yang tidak dapat ditulis satu persatu.
Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan ini banyak kekeliruan, sumbangsih dan
masukan pembaca menjadi permintaan penulis untuk karya selanjutnya.
Bandar Lampung, April 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
B. Jenis-Jenis Asesmen Otentik ... 12
C. Asesmen Otentik Tertulis ... 15
D. Rubrik Asesmen ... 18
E. Jenjang Kemampuan Berpikir Siswa (Taksonomi Bloom) ... 19
F. Pembelajaran IPA Terpadu ... 23
E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian... 41
G. Teknik Analisis Data... 47
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 53
1. Potensi dan Masalah ... 53
2. Pengumpulan Data ... 55
3. Desain Produk ... 56
4. Validasi Desain ... 58
5. Revisi desain ... 60
6. Uji Coba Produk ... 61
7. Revisi Produk ... 63
8. Uji Coba Pemakaian ... 63
9. Revisi produk ... 68
10.Produksi ... 68
B. Pembahasan ... 69
1. Deskripsi Perangkat Asesmen Otentik Tertulis yang Dihasilkan ... 69
2. Deskripsi KesesuaianPenggunaan Produk Hasil Pengembangan Menurut Pendapat Guru... 75
3. Deskripsi KemudahanPenggunaan Produk Hasil Pengembangan Menurut Pendapat Guru... 76
4. Deskripsi KemanfaatanPenggunaan Produk Hasil Pengembangan Menurut Pendapat Guru... 78
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 80
B. Saran ... 81
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kisi-Kisi Angket Pengungkap Potensi dan Masalah ... 85
2. Angket Pengungkap Potensi dan Masalah untuk Guru ... 86
3. Angket Pengungkap Potensi dan Masalah untuk Siswa ... 88
4. Pengisian Angket Pengungkap Potensi dan Masalah untuk Guru ... 90
5. Pengisian Angket Pengungkap Potensi dan Masalah untuk Siswa .... 94
6. Analisis Angket Pengungkap Potensi dan Masalah dari Guru ... 96
7. Analisis Angket Pengungkap Potensi dan Masalah dari Siswa ... 100
8. Deskripsi Angket Pengungkap Potensi dan Masalah Guru ... 103
9. Deskripsi Angket Pengungkap Potensi dan Masalah Siswa ... 105
10. Desain Produk ... 107
11. Kisi-kisi Validasi Ahli ... 110
12. Angket Validasi Ahli ... 112
13. Kisi-kisi Instrumen Uji Kesesuaian ... 114
14. Instrumen Uji Kesesuaian ... 115
15. Kisi-kisi Instrumen Uji Kemudahan ... 116
16. Instrumen Uji Kemudahan ... 117
17. Kisi-kisi Instrumen Uji Kemanfaatan ... 118
18. Instrumen Uji Kemanfaatan ... 119
19. Hasil Uji Validasi Ahli ... 120
20. Hasil Uji Kesesuaian (Uji Coba Produk) ... 121
21. Hasil Uji Kemudahan (Uji Coba Produk) ... 122
22. Hasil Uji Kemanfaatan (Uji Coba Produk) ... 123
23. Hasil Uji Kesesuaian (Uji Coba Pemakaian) ... 124
24. Hasil Uji Kemudahan (Uji Coba Pemakaian) ... 125
25. Hasil Uji Kemanfaatan (Uji Coba Pemakaian) ... 126
26. Keterangan Subjek Penelitian ... 127
27. Skor Penilaian (Anates) ... 128
28. Reliabilitas Tes ... 129
29. Kelompok Unggul dan Asor ... 130
30. Daya Beda ... 131
31. Tingkat Kesukaran ... 132
32. Korelasi Skor Butir dengan Skor Total ... 133
33. Rekap Analisis Butir ... 134
34. Rekapitulasi Nilai Siswa ... 135
35. RPP ... 136
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Dimensi proses kognitif ... 20
2.2 Keterkaitan antara langkah pembelajaran dengan kegiatan belajar dan maknanya ... 29
3.1 Penskoran pada angket uji kesesuaian isi, kemudahan, dan kemanfaatan untuk setiap pernyataan ... 49
3.2 Tafsiran skor... 51
3.3 Kriteria penafsiran koefisien reliabilitas ... 52
4.1 Hasil pengisian angket potensi dan masalah ... 53
4.2 Hasil uji produk ... 62
4.3 Hasil uji coba pemakaian ... 64
4.4 Kriteria analisis soal ... 66
4.5 Hasil Analisis Soal ... 67
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1Tujuan kognitif hasil revisi ... 23
2.2Komponen pendekatan pembelajaran saintifik ... 28
2.3Proses perpindahan kalor secara konduksi ... 32
2.4Bahan-bahan konduktor dan isolator panas ... 33
2.5Arus konveksi pada air yang dipanaskan ... 34
2.6Contoh perpindahan kalor secara radiasi ... 35
3.1 Langkah-langkah pengembangan... 42
4.1 Hasil uji validasi ahli ... 60
4.2 Hasil uji coba produk ... 62
4.3 Hasil uji coba pemakaian ... 65
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pembelajaran adalah pola interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran yang berkualitas sangat bergantung dari
motivasi siswa dan kreatifitas mengajar seorang guru. Proses pembelajaran pada
kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan
scientific approach (Kemendikbud, 2013: 33). Pembelajaran yang menggunakan scientific approach, siswa didorong untuk menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi secara kompleks, mengecek informasi baru dengan
yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi
informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan perkembangan
jaman.
Pembelajaran dengan scientific approach harus menyentuh tiga ranah, yaitu ranah
sikap (afektif), ranah pengetahuan (kognitif), dan ranah keterampilan
(psikomotor). Siswa diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi dengan teori
melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pembelajaran yang
dilakukan menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan
tahu dan berbuat, hal ini akan membantu siswa untuk memperoleh pemahaman
yang lebih mendalam.
Pembelajaran yang baik tentu diakhiri dengan proses evaluasi untuk mengetahui
tingkat kemampuan siswa. Evaluasi menjadi hal yang sangat penting untuk
diperhatikan, karena evaluasi sebagai salah satu alat untuk menilai dan mengukur
tingkat kemampuan siswa di samping memahami perubahan-perubahan yang
terjadi pada keseharian siswa. Penilaian dirancang dan dilaksanakan oleh guru
sesuai dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Sistem penilaian harus
dikembangkan sejalan dengan perkembangan model dan strategi pembelajaran
yang digunakan. Penilaian digunakan oleh guru untuk melihat hasil belajar siswa,
meningkatkan hasil belajar siswa, kualitas pembelajaran, dan ketepatan metode
pembelajaran yang digunakan. Pembelajaran yang menggunakan kurikulum 2013,
sangat diperlukan penilaian yang dapat digunakan untuk menilai semua aspek
secara komprehensif. Komprehensif berarti penilaian dilakukan mulai dari input,
proses, hingga output siswa dalam pembelajaran atau dikenal dengan penilaian
otentik (Kemendikbud, 2013: 3).
Pembelajaran dengan scientific approach menuntut siswa untuk bersikap aktif
mulai dari proses mengamati, menanya, mencoba, mengolah, dan
mengkomunikasikan, sehingga perlu digunakan sistem penilaian yang otentik atau
berdasarkan proses pembelajaran. Penilaian otentik memiliki relevansi yang
cukup kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran
menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa, baik dalam rangka
mengobservasi, menanya, menalar, mencoba, dan membangun jejaring.
Asesmen otentik terdiri dari beberapa jenis, antara lain penilaian kinerja, proyek,
portofolio, dan tertulis. Asesmen otentik muncul atas ketidakpuasan dari penilaian
tertulis, namun penilaian tertulis masih lazim untuk digunakan khususnya tes
tertulis bentuk uraian. Tes tertulis bentuk uraian sebisa mungkin bersifat
komprehensif yang dapat digunakan untuk menilai aspek afektif, kognitif, dan
psikomotor siswa. Tes tertulis bentuk uraian lazim untuk diimplementasikan
dalam kurikulum 2013 karena tes ini menuntut siswa untuk mampu mengingat,
memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis,
mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.
IPA merupakan salah satu ilmu sains. Pembelajaran IPA Terpadu merupakan
pembelajaran yang menghubungkan atau memiliki keterpaduan antara tiga bidang
mata pelajaran, yaitu fisika, kimia, dan biologi. Pembelajaran IPA Terpadu
merupakan pembelajaran yang kompleks dan tidak dapat dipisahkan dari proses
ilmiah. Menilai hasil belajar siswa tidak hanya dilihat dari aspek kognitifnya.
Semua proses yang ada pada saat kegiatan pembelajaran harus dinilai, seperti
keaktifan siswa, keterampilan siswa, atau sikap siswa. Instrumen penilaian
diperlukan untuk menilai aspek-aspek tersebut. Instrumen penilaian yang ada
seharusnya mudah digunakan oleh guru dan menjadi satu kesatuan untuk dapat
Berdasarkan pengisian angket, guru mata pelajaran IPA Terpadu di SMPN 20
Bandarlampung masih menggunakan tes tertulis untuk menilai hasil belajar siswa.
Sebagian besar tes tertulis bentuk uraian yang dibuat guru hanya digunakan untuk
mengukur tingkat pengetahuan (kognitif) saja dan belum sesuai dengan scientific
approach dan kurikulum 2013. Terdapat beberapa hal yang sering dilupakan
sewaktu guru memberikan penilaian kepada siswa. Hal tersebut ialah adanya
hubungan timbal balik antara guru dengan siswa. Sebagian besar guru belum
memberikan feedback sepenuhnya kepada siswa setelah diadakan tes tertulis
bentuk uraian. Feedback yang guru berikan sebagian besar hanya sekedar
membagikan hasil tes tanpa memberitahu jawaban tes yang benar sehingga siswa
tidak dapat memperbaiki di tes berikutnya.
Pelaksanaan penilaian di SMPN 20 Bandarlampung sebagian besar guru
menggunakan asesmen pada akhir bab atau materi bukan pada akhir proses
pembelajaran. Sebagian besar siswa mengaku telah mendapatkan nilai yang adil
untuk mata pelajaran IPA Terpadu dan mereka senang dengan cara penilaian yang
dilakukan oleh guru, namun hanya 40% siswa yang berpendapat bahwa diminta
menunjukan kemampuan kognitif mereka pada saat pembelajaran berlangsung.
Sebagian besar guru berpendapat bahwa asesmen yang dipakai belum mencakup
penilaian untuk ranah C1-C6. Asesmen yang ada sebagian besar hanya
menggunakan ranah C1-C4. Asesmen yang ada di sekolah belum berpatokan pada
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis melakukan penelitian
pengembangan yang berjudul “Pengembangan Perangkat Asesmen Otentik
Tertulis pada Pembelajaran IPA Terpadu Melalui Scientific Approach”.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan
masalah pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah asesmen otentik tertulis untuk guru pada pembelajaran IPA
Terpadu melalui scientific approach?
2. Bagaimana kesesuaian penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis pada
pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil pengembangan
menurut pendapat guru?
3. Bagaimana kemudahan penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis pada
pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil pengembangan
menurut pendapat guru?
4. Bagaimana kemanfaatan penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis pada
pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil pengembangan
menurut pendapat guru?
C.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian pengembangan ini adalah:
1. Mengembangkan perangkat asesmen otentik tertulis pada pembelajaran IPA
2. Mendeskripsikan kesesuaian penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis
pada pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil
pengembangan menurut pendapat guru.
3. Mendeskripsikan kemudahan penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis
pada pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil
pengembangan menurut pendapat guru.
4. Mendeskripsikan kemanfaatan penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis
pada pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach hasil
pengembangan menurut pendapat guru.
D.Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini yaitu menghasilkan perangkat asesmen otentik tertulis yang
sesuai dengan penilaian dalam kurikulum 2013. Bagi guru perangkat asesmen
alternatif ini dapat menjadi contoh atau model dalam menilai kemampuan siswa
khususnya pada aspek kognitif atau aspek pengetahuan siswa.
E.Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian penelitian ini yaitu:
1. Pengembangan yang dimaksud adalah pembuatan perangkat asesmen otentik
tertulis pada pembelajaran sains melalui scientific approach sesuai dengan
tuntutan kurikulum 2013 yang digunakan untuk menilai hasil belajar siswa
2. Scientific approach yang dimaksud adalah pendekatan pembelajaran meliputi proses mengamati, menanya, mencoba, mengolah, dan mengkomunikasikan.
3. Asesmen ditujukan untuk materi pokok perpindahan kalor (induksi, konveksi,
dan radiasi).
4. Uji validasi produk diberikan kepada ahli evaluasi dan materi pada bidang
fisika yaitu dosen pendidikan fisika.
5. Uji coba produk penelitian dilakukan pada 4 orang guru mata pelajaran IPA
Terpadu di SMPN 2 Bandarlampung, dan SMPN 20 Bandarlampung.
6. Uji coba pemakaian dilakukan pada 12 orang guru mata pelajaran IPA Terpadu
di tiga SMP Negeri dan tiga SMP Swasta di Bandarlampung, yaitu SMPN 4
Bandarlampung, SMPN 22 Bandarlampung, SMPN 21 Bandarlampung, SMP
Kartika 2 Bandarlampung, SMP Ar-Raihan Bandarlampung, dan SMP Gajah
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Asesmen Otentik
Asesmen atau penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan
berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil
belajar siswa dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria
dari pertimbangan tertentu. Asesmen juga dapat diperhatikan sebagai proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan
siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa
memastikan siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Asesmen
menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus
diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses
pembelajaran. Asesmen hasil belajar yang dilakukan oleh guru sebaiknya
dilakukan secara berkesinambungan dengan tujuan untuk memantau proses dan
kemajuan belajar siswa serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Asesmen harus dilakukan oleh guru secara terus menerus sehingga guru dapat
melihat perkembangan dari siswanya. Pengertian asesmen menurut Muchtar
(2010: 71) sebagai berikut:
menentukan kegiatan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Apabila ketiga pilar tersebut sinergis dan berkesinambungan, maka akan sangat menentukan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu asesmen harus dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Sistem
asesmen harus dikembangkan sejalan dengan perkembangan model dan strategi pembelajaran.
Asesmen yang digunakan mengalami perkembangan seiring dengan
perkembangan kurikulum. Asesmen yang digunakan dalam kurikulum 2013
menekankan pada kenyataan nyata yang dilakukan siswa pada saat pembelajaran
berlangsung atau biasa disebut dengan asesmen otentik. Asesmen otentik
(authentic assesment) menurut Pusat Kurikulum dalam Muchtar (2010: 72),
yaitu:
Asesmen otentik (authentic assesment) adalah suatu proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.
Asesmen yang dilakukan oleh guru harus dilaksanakan dengan memperhatikan
prinsip-prinsip penilaian yang ada, asesmen dilaksanakan secara berkelanjutan
atau berkesinambungan untuk setiap pembelajaran. Hasil dari asesmen tersebut
haruslah nyata, akurat, dan konsisten dengan perilaku siswa dalam proses
pembelajaran. Asesmen dilakukan sesuai dengan kemampuan siswa dalam proses
pembelajaran. Asesmen otentik menurut Mueller dalam Abidin (2012: 168)
sebagai berikut:
Asesmen otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi
atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai macam pendekatan
Asesmen otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam
bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau
konteks dunia nyata dan dalam suatu proses pembelajaran nyata. Asesmen otentik
digunakan untuk dapat menilai semua aspek dalam pembelajaran, yaitu ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Asesmen otentik bertujuan untuk memberikan
solusi bagi guru yang sulit melakukan asesmen terhadap ketiga aspek tersebut.
Kunandar (2013: 35) menjelaskan pengertian asesmen otentik yaitu:
Asesmen otentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan
kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Dasar (KD) dan Kompetensi Inti (KI).
Asesmen otentik dituntut untuk dapat menilai semua aspek dalam pembelajaran,
yaitu ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Otentik sendiri berarti keadaan yang
sebenarnya yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa.
Asesmen otentik mengacu pada Penilaian Acuan Patokan (PAP), yaitu pencapaian
hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperoleh terhadap skor ideal
(maksimal). Pelaksanaan penilaian menggunakan asesmen otentik guru tidak
hanya pada asesmen level KD tetapi juga kompetensi inti dan SKL. Asesmen
otentik memperhatikan keseimbangan antara asesmen kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang disesuaikan dengan perkembangan
karateristik peserta didik sesuai dengan jenjangnya. Guru dengan segera bisa
mengambil tindakan yang tepat apabila data yang dikumpulkan guru
mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Asesmen
belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran. Kegiatan asesmen
dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Ciri-ciri asesmen otentik
menurut Kunandar (2013: 38), yaitu:
(1) harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk; (2) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (3) menggunakan berbagai cara dan sumber; (4) tes hanya salah satu alat pengumpul data asesmen; (5) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa; dan (6) asesmen harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas). Sedangkan karakteristik asesmen otentik sebagai berikut: (1) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (2) mengukur keterampilan dan performansi bukan mengingat fakta, (3) berkesinambungan serta terintegrasi, dan (4) dapat digunakan sebagai feedback.
Pembelajaran yang menggunakan asesmen otentik ingin mencapai apa yang
dipelajari siswa bukan apakah siswa tersebut belajar. Prinsip utama asesmen
otentik ialah tidak hanya digunakan untuk menilai apa yang diketahui siswa tetapi
digunakan juga untuk menilai apa yang dapat dilakukan siswa dalam
pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa dalam melakukan
asesmen otentik terdapat tiga hal yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu:
(1) otentik dari instrumen yang digunakan, (2) otentik dari aspek yang diukur, dan
(3) otentik dari aspek kondisi siswa.
Pantiwati (2013: 8) berpendapat bahwa siswa di sekolah kategori rendah yang
menggunakan asesmen otentik kemampuan kognitif, berpikir kritis, dan berpikir
kreatifnya sama dengan siswa di sekolah kategori tinggi yang tidak menggunakan
asesmen otentik. Hal tersebut membuktikan bahwa penggunaan asesmen otentik
dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa, berpikir kritis, dan berpikir
B.Jenis-jenis Asesmen Otentik
Asesmen otentik dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: (1) asesmen
kinerja, (2) asesmen proyek, (3) asesmen portofolio, dan (4) asesmen tertulis.
Asesmen kinerja harus melibatkan parsisipasi siswa, khususnya dalam proses dan
aspek-aspek yang akan dinilai. Asesmen kinerja dapat dilakukan dengan berbagai
cara, antara lain: (a) daftar cek (checklist), (b) catatan anekdot/narasi
(anecdotal/narative records), (c) skala penilaian (rating scale), dan (d) memori
atau ingatan (memory approach). Asesmen proyek (project assessment)
merupakan kegiatan asesmen terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh siswa
menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi
yang dilakukan oleh siswa, mulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Asesmen portofolio
merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan
dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Asesmen portofolio bisa berangkat
dari hasil kerja siswa secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok,
memerlukan refleksi siswa, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. Tes
tertulis yang sering dilakukan yaitu bentuk uraian dan pilihan jamak. Burton
dalam Bhakti (2014: 3) berpendapat mengenai Asesmen otentik sebagai berikut:
Asesmen keterampilan digunakan untuk menilai keterampilan siswa pada waktu
berlangsungnya pembelajaran. Asesmen produk digunakan untuk mengetahui
tingkat pemahaman siswa. Asesmen proyek dan portofolio dilakukan untuk
menilai tugas-tugas di luar pembelajaran yang berlangsung di kelas. Asesmen diri
dan asesmen teman sejawat digunakan untuk menilai sikap siswa saat
berlangsungnya pembelajaran. Ujian tertulis dilakukan untuk mengetahui
pemahaman akhir siswa dan observasi dilakukan langsung ketika proses
pembelajaran berlangsung. Bentuk-bentuk asesmen otentik menurut Brown dalam
Taufina (2009: 4), yaitu:
Bentuk-bentuk asesmen otentik antara lain: unjuk kerja (performance), penugasan (proyek/projek), hasil kerja (product), tertulis (paper & pen), portofolio (portfolio), dan sikap dan diri (self assessment).
1. Ujuk kerja (performance). Unjuk kerja adalah suatu penilaian yang
meminta siswa untuk mendemontrasi diri dari kriteria yang diinginkan (unjuk
kerja, tingkah laku, dan interaksi). Asesmen seperti ini memiliki dua karakteristik
dasar, yaitu siswa diminta mendemontrasikan kemampuannya dalam
mengkreasikan statu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan).
2. Penugasan (proyek/projek). Asesmen terhadap suatu tugas yang
mengandung penyelidikan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Proyek adalah
suatu tugas yang meminta siswa menghasilkan sesuatu oleh diri siswa sendiri
pada suatu topik yang berhubungan dengan kurikulum lebih dari hanya sekedar
3. Hasil kerja (product). Asesmen hasil kerja adalah penilaian terhadap
keterampilan siswa dalam membuat suatu produk tertentu dan kualitas produk
tersebut. Tujuan asesmen produk adalah: 1) menilai penguasaan keterampilan
siswa yang diperlukan sebelum mempelajari keterampilan berikutnya, 2) menilai
tingkat kompetensi yang sudah dikuasai siswa pada setiap akhir jenjang, dan 3)
menilai keterampilan siswa yang akan memasuki institusi pendidikan tertentu.
4. Tertulis (paper & pen). Asesmen tertulis dilakukan dengan tes tertulis di setiap
akhir pembelajaran. Tes tertulis dilaksanakan untuk mengetahui tingkat berpikir
kritis siswa.
5. Portofolio (portofolio). Portofolio merupakan terjemahan dari kata
portofolio yang berarti kumpulan berkas atau arsip yang disimpan dalam bentuk jilid dan atau map. Dalam hal asesmen, portofolio dapat diartikan sebagai
kumpulan hasil karya seseorang baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun
berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk kaset video atau audio.
6. Sikap. Asesmen terhadap perilaku dan keyakinan siswa terhadap objek
sikap. Cara observasi perilaku dan keyakinan siswa terhadap objek sikap siswa.
7. Diri (self assessment). Menilai diri sendiri berkaitan dengan status,
C.Asesmen Otentik Tertulis
Asesmen otentik tertulis yang sering digunakan yaitu pilihan jamak dan uraian.
Tes pilihan jamak dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan
memahami. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat asesmen yang menuntut siswa
untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal
yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan
tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Tes tertulis menurut Sofyana (2010: 3), yaitu:
Asesmen secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu: (a) memilih jawaban yang dibedakan menjadi: (1) pilihan ganda, (2) dua pilihan (benar-salah, ya-tidak), (3) menjodohkan, dan (4) sebab-akibat; serta (b) mensuplai jawaban yang dibedakan menjadi: (1) isian atau melengkapi, (2) jawaban singkat atau pendek, dan (3) uraian.
Tes tertulis bentuk uraian ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi, misalnya
mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan serta menyelesaikan
hitung-hitungan terhadap materi atau konsep tertentu. Alat ini juga dapat menilai
berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir kritis,
berpikir kreatif, dan pemecahan masalah. Kelemahan alat ini antara lain cakupan
materi yang ditanyakan terbatas. Tes tertulis sering digunakan oleh guru untuk
menilai hasil belajar siswa. Tes tertulis yang guru gunakan sebagian hanya untuk
mengukur kemampuan di aspek kognitif tanpa mampu mengukur kemampuan
Bentuk tes uraian dalam pelaksanaannya menurut Haryati (2013: 55) dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk asesmen subjektif, dan bentuk asesmen
objektif. Bentuk asesmen subjektif yaitu bentuk tes yang terdapat soal tes dan
kunci jawabannya disertai dengan pedoman jawaban dan pedoman penskoran.
Sedangkan bentuk asesmen objektif yaitu bentuk tes yang dalam mengoreksinya
pada umumnya menggunakan kunci jawaban tertentu seperti menggunakan pola
diantaranya kunci berdamping (strip keys), kunci sistem karbon (carbon system
keys), kunci system tusukan (prinpick system keys), dan kunci berjendela (window keys).
Jenis tes tertulis yang mudah digunakan, yaitu tes tertulis bentuk subjektif, karena
telah ada kunci jawaban yang tepat dan pedoman penskorannya. Hal tersebut
memudahkan guru dalam mengoreksi jawaban siswa dan memberikan nilai untuk
siswa. Menulis tes tertulis bentuk uraian harus memperhatikan beberapa hal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan menurut Joni dalam Kunandar (2013: 206) sebagai
berikut:
Hal-hal yang ditanyakan dalam tes uraian antara lain: (1) mengadakan perbandingan antara dua hal, (2) perumusan dan pertahanan pendapat, (3) hubungan sebab akibat, (4) menjelaskan makna suatu ungkapan, (5) kemampuan dan kecakapan membaca atau menyimpulkan, (6)
kemampuan mengadakan analisis, (7) memberikan suatu ilustrasi orisinil penerapan suatu hukum atau prinsip, (8) mengadakan asesmen terhadap suatu pendapat, (9) merumuskan persoalan-persoalan, dan (10) penarikan kesimpulan.
Membuat tes tertulis yang baik perlu memperhatikan aspek-aspek seperti yang
dikemukakan oleh Joni dalam Kunandar (2013: 206). Seluruh aspek tersebut
Aspek-aspek yang ada mempermudah siswa dalam menjawab soal. Aspek-Aspek-aspek tersebut
juga mempermudah guru untuk membuat pedoman penskoran yang akan
diberikan. Bentuk tes atau instrumen asesmen memiliki keunggulan dan
kelemahan. Keunggulan dan kelemahan tes uraian menurut Kunandar (2013: 207)
antara lain:
Keunggulan tes uraian: (1) mengukur aspek kognitif yang lebih tinggi, (2) mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik, (3) melatih
kemampuan berpikir yang teratur peserta didik, (4) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving) peserta didik, (5) penyusunan soal tidak membutuhkan waktu yang lama, (6) menghindari sikap terkaan dalam jawaban soal, (7) menggali kemampuan berpikir kritis peserta didik, (8) biaya pembuatan lebih murah, (9) mampu memberikan penskoran yang tepat pada setiap langkah peserta didik, dan (10) mampu memberikan gambaran yang tepat pada bagian-bagian yang belum dikuasai peserta didik.
Sedangkan kelemahan dari soal uraian adalah: (1) sampel soal sangat terbatas sehingga bahan materi yang diujikan terbatas pula akibatnya tidak semua bahan yang telah disampaikan dapat terujikan, (2) cara memeriksa hasil pekerjaan peserta didik agak sukar dan bias subjektif, (3)
membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk koreksi, (4) membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan satu soal uraian, (5) tidak banyak mencakup Kompetensi Dasar (KD) yang diuji, (6) untuk nilai pada awal koreksi nilai sangat ketat, tetapi setelah koreksi dalam jumlah banyak nilai agak longgar sehingga kurang objektif, dan (7) tidak mampu
mencakup materi essensial seluruhnya.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan menyusun instrumen asesmen tertulis antara
lain: (a) karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan
diuji; (b) materi, misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi, kompetensi
dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum; (c) konstruksi, misalnya rumusan
soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas; dan (d) bahasa, misalnya rumusan soal
D.Rubrik Asesmen
Rubrik merupakan panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang
diinginkan guru dalam menilai atau memberi tingkatan dari hasil pekerjaan siswa.
Rubrik memuat daftar karakteristik yang diinginkan yang perlu ditunjukan dalam
suatu pekerjaan siswa disertai dengan panduan untuk mengevaluasi setiap
karakteristik yang dibuat. Tujuan dari dibuatnya rubrik penilaian yaitu supaya
siswa secara jelas memahami apa saja yang akan dinilai dalam pembelajaran.
Rubrik juga diharapkan dapat menjadi motivator bagi siswa dalam proses
pembelajaran untuk lebih giat belajar. Langkah-langkah menyusunan rubrik
asesmen menurut Zulhafiszh (2012: 5), yaitu:
Langkah-langkah menyusunan rubrik asesmen yaitu menentukan kriteria asesmen, mendefinisikan kriteria asesmen, menentukan bobot kriteria, menentukan tingkat kinerja, dan menentukan deskriptor.
Rubrik asesmen merupakan suatu panduan yang digunakan untuk memberikan
nilai kepada siswa. Asesmen yang baik harus mengacu kepada rubrik asesmen
yang telah dibuat. Manfaat penggunaan rubrik asesmen antara lain untuk guru
dapat mencegah kesalahpahaman dalam memberikan nilai karena asesmen
didasarkan pada rubrik yang ada, rubrik digunakan untuk meningkatkan kinerja
siswa. Rubrik asesmen dapat mendorong siswa untuk mampu bertanggung jawab
pada pekerjaan yang mereka buat. Rubrik asesmen juga memberikan komunikasi
yang jelas antara guru, siswa, dan orang tua mengenai apa yang diberikan pada tes
dengan nilai yang diberikan. Siswa atau orang tua dapat mengkritik guru apabila
E.Jenjang Kemampuan Berpikir Siswa (Taksonomi Bloom)
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan.
Di Indonesia, taksonomi bloom merupakan acuan asesmen (Haryati, 2013: 22).
Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 dan
David R. Krathwohl (1964). Tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain
(ranah) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih
rinci berdasarkan hirarkinya.
Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh Bloom dan Krathwohl dalam Arikunto
(2012: 129) ada 4 buah, yaitu: (a) prinsip metadologis, yaitu perbedaan-perbedaan
yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar; (b) prinsip
psikologis. Dalam penyusunan taksonomi hendaknya konsisten dengan fenomena
kejiwaan yang ada sekarang; (c) prinsip logis. Taksonomi hendaknya
dikembangkan secara logis dan konsisten; dan (d) prinsip tujuan. Tiap-tiap jenis
pendidikan hendaknya menggambarkan corak yang netral.
Revisi dan pengembangan taksonomi Bloom terus dilakukan, dan pengembangan
yang terbaru adalah pengembangan taksonomi Bloom menjadi 4 domain, yaitu
domain kognitif, afektif, psikomotorik, dan sosial. Kemampuan kognitif menurut
taksonomi Bloom sebelum revisi dibagi menjadi enam, yaitu pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Taksonomi Bloom tersebut
mengalami revisi sehingga tingkatan kognitif siswa menjadi kemampuan
mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan
Setiap tahapan tersebut memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Penyebaran aspek
kognitif menurut Anderson dan David (2001: 67-68) dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2. 1 Dimensi Proses Kognitif Categories &
Cognitive Processes
Alternative
Names Definitions and Examples 1. Remember-Retrieve relevant knowledge from long term memory
1.1 Recognizing Identifying Locating knowledge in long-term memory that is consistent with presented material (e.g., Recognize the dates of important events in U>S. history)
1.2 Recalling Retrieving Retrieving relevant knowledge from long-term memory (e.g., Recall the dates of important event in U.S. history)
2. Understanding – construct meaning from instructional message, including oral, written, and graphic communication
2.1 Interpreting Clarifying, paraphrasing, representing, translating
Changing from one form of representation (e.g., numerical) to another (e.g., paraphrase important speeches and document)
2.2 Exemplifying Ilustracing, instantiating
Finding a specific or illustration of a concept or principle (e.g., give examples of various artistic painting styles)
2.3 Classifying Categorizing, subsuming
Determining that something belongs to a category (e.g, concept or
principle) (e.g., classify observed or described cases of mental disorders) 2.4 Summaring Abstracting,
generalizing
Abstracting a general theme event or major point(s) (e.g., write a short summary of the events portayed on a videotape)
2.5 Inferring Concluding, extrapolating, interpolating, predicting
Drawing a logical conclusion from presented information (e.g., in learning a foreign language, infer grammatical principles from examples)
2.6 Comparing Contrasting, mapping, matching
Detecting correspondences between two ideas, objects, and the like (e.g., compare historical events to
Categories & Cognitive Processes
Alternative
Names Definitions and Examples 2.7 Explaining Constructing
models
Constructing a cause and effect model of a system (e.g., explain the causes of important 18th century events in France)
3. Apply – Carry out or uses a procedure in a given situation
3.1 Executing Carrying out Applying a procedur to a familiar task (e.g., divide one whole number by another whole number, both with multiple digits)
3.2 Implementing Using Applying a procedure to an
unfamiliar task (e.g., use Newton’s
Second Law in situations in which it is appropriate)
4. Analyze – break material into its constituent part and determine how the parts relate to one another and to an overall structure or purpose
4.1 Differentiating Discriminating, distinguishing, focusing, selecting
Distinguishing relevant from irrelevant parts or important from unimportand part of presented material (e.g., distingnguish between relevant and irrelevant numbers in a mathematical word problem)
4.2 Organizing Finding coheren, intergrating, outlining, parsing, structuring
Determining how elements fit or function within a structure (e.g., structure evidence in a historical description into evidence for and against a particular historical explanation)
4.3 Attributing Deconstructing Determine a point of view, bias, values, or intent underlying
presented material (e.g., determine the point of view of the author of an essay in terms of his or her political perpective)
5. Evaluate – make judgments based on criteria and standards 5.1 Checking Coordinating,
detecting, monitoring, testing
Detecting inconsistencies or fallacies within a process or product,
Categories & Cognitive Processes
Alternative
Names Definitions and Examples 5.2 Critiquing Judging Detecting inconsistencies between a
product and external criteria, determining wheter a product has external consistency, detecting the appropriateness of a procedure for given problem (e.g., judge which of two methods is the best way to solve a given problem)
6. Create – put elements together to form a coherent or functional whole, reorganize elements into new pattenr or stucture
6.1 Generating Hypothesizing Coming up with alternative hypotheses based on criteria (e.g., generate hypotheses to account for an observed phenomenon)
6.2 Planning Designing Devising a procedure for
accomplishing some task (e.g., plan a research paper on given historical topic)
6.3 Producing constructing Inventing a product (e.g., build habitats for a specific purpose)
Penjelasan jenjang taksonomi Bloom hasil revisi, yaitu: (1) menghapal
(remember). Menghapal merupakan suatu kegiatan menarik
kembali memori yang tersimpan dalam jangka waktu panjang. Kegiatan
mengingat merupakan proses kemampuan kognitif yang paling rendah
tingkatannya; (2) memahami (understand). Memahami ialah mengkonstruk
makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan
informasi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, atau
mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam
pemikiran siswa; (3) mengaplikasikan (applying). Mengaplikasikan mencakup
penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas;
suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya; (5) mengevaluasi (evaluation).
Mengevaluasi yaitu membuat suatu pertimbangan berdasarkan
kriteria dan standar yang ada dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar
unsur-unsur tersebut dan struktur besarnya; dan (6) membuat (create). Membuat
merupakan kegiatan menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk
kesatuan. Tingkatan dalam domain kognitif hasil revisi menurut Sanjaya (2010:
129) dapat digambarkan seperti Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Tujuan Kognitif Hasil Revisi
F. Pembelajaran IPA Terpadu
Sains adalah ilmu yang mempelajari fenomena-fenomena di alam semesta. Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan atau Sains
yang semula berasal dari bahasa inggris science. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji
kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri objektif, metodik, sistematis,
universal, dan tentatif. Pengertian IPA yang dikemukakan oleh Trianto (2010:
136-137) sebagai berikut:
IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui
Mengingat
Memahami Menerapkan
Menganalisis Mengevaluasi
metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur dan sebagainya.
IPA dibangun atas dasar proses ilmiah, produk ilmiah, dan sikap ilmiah. Dari
pembelajaran yang menggunakan proses atau prosedur ilmiah maka akan
menghasilkan produk yang bersifat ilmiah dan akan menumbuhkan sikap ilmiah
dalam diri siswa. Hakikat IPA menurut Marsetio Donosepoetro dalam Trianto
(2010: 137), yaitu:
IPA sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk
menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam dalam sekolah atau di luar sekolah ataupun bahan bacaan untuk penyebaran atau dissiminasi pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan adalah metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya) yang lazim disebut metode ilmiah (scientific method).
IPA dapat digunakan untuk menemukan pengetahuan baru melalui kegiatan
ilmiah. Pengetahuan yang diterima siswa tidak hanya dalam pembelajaran di
sekolah saja, namun bisa diperoleh dari luar pembelajaran seperti melakukan
kegiatan pratikum dengan metode ilmiah. Dari serangkaian kegiatan yang
dilakukan siswa IPA dapat dipandang sebagai proses, produk, dan prosedur.
Nilai-nilai IPA yang dapat ditanamkan dalam pembelajaran IPA menurut Prihanto
Laksmi dalam Trianto (2010: 141-142) antara lain:
Guru yang membelajarkan IPA di sekolah perlu menanamkan nilai-nilai yang
dapat membuat siswa untuk dapat berpikir secara teratur, sistematis, dan kegiatan
yang dilakukan siswa mengikuti langkah-langkah metode ilmiah. Siswa
diharapkan terampil menggunakan alat-alat eksperimen ketika melakukan
eksperimen dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan. Siswa juga
ditanamkan sikap ilmiah berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan dan sikap
tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pembelajaran IPA menurut Prihanto Laksmi dalam Trianto (2010: 142)
antara lain:
(1) memberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia tempat hidup dan bagaimana bersikap, (2) menanamkan sikap hidup ilmiah, (3) memberikan keterampilan untuk melakukan pengamatan, (4) mendidik siswa untuk mengenal, mengetahui cara kerja serta menghargai para ilmuwan penemunya, dan (5) menggunakan dan menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan permasalahan.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Menengah Pertama
(SMP) pada kurikulum 2013 terdapat beberapa perubahan diantara adalah konsep
pembelajarannya dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science atau
“IPATerpadu” bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Pembelajaran IPA di
sekolah merujuk pada keterpaduan mata pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologi
dengan menggunakan metode ilmiah atau pendekatan ilmiah (scientific
approach). Pembelajaran Terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun
kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip
Fisika sangat memungkinkan siswa mempelajarinya secara integratif.
Mempelajarinya dapat secara individual maupun kelompok dengan aktif
mengekspolorasi, mengelaborasi, mengkonfirmasi, dan mengomunikasikan
hasilnya. Aktivitas tersebut akan membuat siwa aktif mencari tahu. Proses
pembelajarannya menekankan pada kegiatan pemberian pengalaman secara
langsung kepada siswa melalui kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk
mengembangkan kompetensi yang dimiliki siswa. Tujuan pembelajaran IPA
Terpadu menurut Puskur dalam Trianto (2013: 155), yaitu:
(1) meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, (2)
meningkatkan minat dan motivasi siswa, dan (3) dapat digunakan untuk mencapai beberapa kompetensi dasar secara sekaligus.
Konsep yang digunakan yaitu konsep keterpaduan, maka dalam membelajarkan
IPA di sekolah memungkinkan beberapa materi dibelajarkan dalam satu proses
pembelajaran saja. Sebagai contoh ketika membelajarkan materi energi, materi
energi dapat mencakup bidang fisika, kimia, ataupun biologi sekaligus sehingga
lebih efisien dan efektif serta tidak membuat siswa jenuh. Keterpaduan tersebut
dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas karena dituntut untuk
memahami keterkaitan antara materi yang satu dengan lainnya. Pembelajaran IPA
Terpadu dapat mempermudah siswa untuk mengenal, menerima, menyerap, dan
memahami keterkaitan antara konsep pengetahuan dan tindakan yang dilakukan
saat pembelajaran. Menggunakan pembelajaran terpadu siswa lebih berpikir
dengan teratur, terarah, utuh, menyeluruh, sistematik, dan analitik. Siswa juga
karena pembelajaran dilakukan secara terpadu sehingga dapat menghemat waktu,
tenaga, dan saran serta biaya.
Kemendikbud (2013: 4) menjelaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran terpadu antara
lain holistik, bermakna, dan aktif. Holistik merupakan suatu peristiwa yang
menjadi pusat perhatian, dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk
memahami suatu fenomena dari segala sisi. Bermakna maksudnya terdapat
keterkaitan antara konsep menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan
diharapkan anak mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata di
dalam kehidupannya. Sedangkan aktif merupakan pembelajaran terpadu yang
dikembangkan melalui pendekatan discovery-inquiry, sehingga siswa terlibat
secara aktif dalam proses pembelajaran.
G.Scientific Approach
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013 adalah untuk
penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan
pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi, yaitu dikenal dengan scientific
approach. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan,
dan keterampilan. Scientific approach merupakan pembelajaran yang mengadopsi
langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah.
Kegiatan pembelajaran dengan scientific approach dilakukan melalui proses
mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Lima hal
teknik, maupun taktik yang digunakan. Scientific approach ini dapat diterapkan
untuk semua mata pelajaran dan sangat baik untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa. Proses pembelajaran menurut Kemendikbud (2013: 35) terdiri atas
lima pengalaman belajar pokok, yaitu:
(a) mengamati, (b) menanya, (c) mengumpulkan informasi, (d) mengasosiasi, dan (d) mengkomunikasikan.
Pendapat mengenai langkah-langkah pembelajaran ditambahkan oleh Dyer dkk
dalam Sani (2014: 53) bahwa:
Dapat dikembangkan scientific approach dalam proses pembelajaran antara lain: 1) mengamati, 2) menanya, 3) mencoba/mengumpulkan informasi, 4) menalar/asosiasi, dan 5) membentuk jejaring (melakukan komunikasi).
Dalam aktivitas belajar dengan menggunakan scientific approach tidak harus
dilakukan dengan prosedur yang kaku. Proses pembelajaran yang berlangsung
dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Sani (2014: 54)
menggambarkan proses pembelajaran dengan scientific approach sebagai berikut:
Gambar 2.2 Komponen Pendekatan Pembelajaran Saintifik
Komunikasi
Menalar/Asosiasi
Mencoba/Mengumpulkan informasi
Menanya
Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan belajar
sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2: Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan Maknanya. Mengamati Membaca, mendengar,
menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).
Melatih kesungguhan,
ketelitian, mencari informasi.
Menanya Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Mengumpulkan informasi/ eksperimen
melakukan eksperimen membaca sumber lain
selain buku teks melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat. imen mau pun hasil dari kegiatan teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam
LANGKAH Mengkomunikasikan Menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.
Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan
kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Proses-proses tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengamati
Melakukan pengamatan harus melibatkan panca indera. Tujuan dari mengamati
yaitu untuk memperoleh informasi. Proses mengamati tidak terlepas dari
keterampilan lainnya, antara lain melakukan pengelompokan atau
membandingkan. Pengamatan yang cermat sangat dibutuhkan siswa untuk
menganalisis permasalahan atau fenomena yang berkaitan dengan apa yang
diamati. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan kelima panca indera,
2. Menanya
Siswa dilatih untuk membuat pertanyaan berkenaan dengan topik yang akan
dipelajari. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keingintahuan siswa
dan mengembangkan kemampuan siswa. Guru berperan sebagai motivator supaya
siswa menyampaikan pertanyaan yang terkait dengan apa yang dipelajari.
3. Mencoba/memperoleh informasi
Informasi berkaitan dengan apa yang dipelajari diperoleh siswa dengan cara
mengumpulkan berbagai informasi dari sumber-sumber yang ada seperti buku
teks, internet, dan lain-lain. Guru perlu memberikan beberapa pertanyaan yang
dapat digunakan untuk membangun konsep siswa dan menyediakan LKS sebagai
penuntun siswa dalam mencoba untuk membantu siswa dalam melakukan
percobaan.
4. Menalar/asosiasi
Menalar merupakan aktivitas mental khusus dalam melakukan inferensi.
Sedangkan inferensi merupakan kegiatan menarik kesimpulan berdasarkan
pendapat (premis). Data, fakta, atau informasi yang terkait fenomena yang ada.
Upaya guru dalam melatih siswa untuk melakukan kegiatan menalar dapat
dilakukan dengan meminta siswa untuk menganalisis data yang telah diperoleh
dari hasil mencoba sehingga siswa dapat menentukan hubungan antar variabel
yang ada, menguji hipotesis, menjelaskan mengenai data percobaan berdasarkan
5. Membentuk jaringan/komunikasi
Kemampuan berkomunikasi sangat perlu untuk dimiliki siswa supaya siswa dapat
menyampaikan hasil pembelajaran yang telah dilakukan kepada teman lainnya.
Kemampuan berkomunikasi sama pentingnya dengan kemampuan pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman.
H.Perpindahan Kalor (Konduksi, Konveksi, dan Radiasi)
Kalor merupakan salah satu bentuk energi dan dapat berpindah apabila terdapat
perbedaan suhu. Secara alami kalor berpindah dari zat yang suhunya tinggi ke zat
yang suhunya rendah. Secara umum perpindahan kalor ada 3, yaitu konduksi
(hantaran), konveksi (aliran), dan radiasi (pancaran).
1. Konduksi
Kalor dapat berpindah melalui benda, tetapi partikel-partikel benda itu tidak
mengalami perpindahan tempat. Perpindahan kalor seperti ini disebut konduksi
atau hantaran. Konduksi merupakan proses perpindahan kalor tanpa disertai
dengan perpindahan partikelnya. Peristiwa proses perpindahan kalor secara
konduksi dalam Kemendikbud (2013: 171) seperti Gambar 2.3.
Proses konduksi ini secara umum terjadi pada logam atau yang bersifat konduktor
(menghantarkan panas). Benda yang baik menghantarkan kalor disebut konduktor.
Misalnya: besi, tembaga, aluminium, dan perak. Benda yang tidak baik
menghantarkan kalor disebut isolator. Misalnya: kayu, kaca, dan plastik.
Bahan-bahan konduktor dan isolator panas dalam Kemendikbud (2013: 172) dapat dilihat
pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Bahan-bahan Konduktor dan Isolator Panas
Contoh perpindahan kalor secara konduksi yaitu pada saat kita mengaduk teh
panas dengan sendok, maka lama kelamaan tangan kita terasa panas dari ujung
sendok yang kita pegang. Kue yang menggunakan wadah berupa aluminium yang
disimpan di oven juga termasuk proses konduksi yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Konveksi
Konveksi adalah proses perpindahan kalor dengan disertainya perpindahan
partikel. Konveksi ini terjadi umumnya pada zat fluida (zat yang mengalir) seperti
alamiah misalnya saat memasak air terjadi gelembung udara hingga mendidih dan
menguap. Konveksi terpaksa contohnya hair drayer yang memaksa udara panas
keluar yang diproses melalui alat tersebut.
Air merupakan zat cair yang terdiri dari partikel-partikel penyusun air. Saat
memasak air dalam panci, api memberikan energi kepada panci dalam hal ini
termasuk proses konduksi. Panas yang diperoleh panci kemudian dialirkan pada
air. Partikel air paling bawah yang pertama kali terkena panas kemudian lama
kelamaan akan memiliki massa jenis yang lebih kecil karena sebagian berubah
menjadi uap air. Partikel tersebut akan berpindah posisi naik ke permukaan saat
massa jenisnya lebih kecil. Air yang masih diatas permukaan kemudian turun ke
bawah menggantikan posisi partikel yang tadi. Proses tersebut berlangsung
terus-menerus hingga air mendidih dan menguap. Gambaran arus konveksi pada air
yang dipanaskan dalam Kemendikbud (2013: 174) dapat dilihat pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Arus Konveksi pada Air yang Dipanaskan
3. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa memerlukan zat perantara. Pancaran kalor
hanya terjadi dalam gas atau ruang hampa, misalnya penghantaran panas matahari
ke bumi melalui ruang hampa udara. Alat yang digunakan untuk mengetahui
adanya pancaran kalor yang dinamakan termoskop. Contoh radiasi adalah
perpindahan panas dari cahaya matahari ke bumi. Radiasi kalor juga dapat terjadi
pada lampu pijar listrik yang sedang menyala dan api unggun yang sedang
menyala. Tubuh kita terasa hangat pada saat kita berada di sekitar api unggun
yang sedang menyala, karena adanya radiasi kalor yang dipancarkan oleh api
unggun. Contoh perpindahan kalor secara radiasi dalam Kemendikbud (2013:
176) seperti pada Gambar 2.6.
Gambar 2.6 Contoh Perpindahan Kalor secara Radiasi
Semua benda dapat memancarkan dan menyerap radiasi kalor, yang besarnya
antara lain bergantung pada suhu benda dan warna benda. Benda akan menyerap
radiasi kalor dari lingkungan jika suhu benda lebih rendah daripada suhu
lingkungan dan bila suhu benda lebih tinggi daripada suhu lingkungan maka
III. METODE PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah desain penelitian
pengembangan (research development). Penelitian pengembangan pendidikan
adalah sebuah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi
produk pendidikan. Hasil dari penelitian pengembangan tidak hanya
pengembangan sebuah produk yang sudah ada melainkan juga untuk menemukan
pengetahuan atau jawaban atas permasalahan praktis. Produk penelitian
pengembangan tidak hanya berbentuk benda atau perangkat keras (hardware),
seperti buku tetapi bisa juga perangkat lunak (sofware), seperti program
komputer.
Penelitian pengembangan ini mengembangkan perangkat asesmen otentik pada
pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach. Uji ahli dan uji coba
produk diberlakukan pada proses pengembangan ini. Uji ahli dilakukan untuk
mengetahui tingkat kelayakan produk yang dihasilkan berdasarkan kesesuaian
produk dilihat dari kesesuain aspek konstruksi, subtansi, dan bahasa pada
memperoleh informasi atau pendapat guru mengenai bagaimana kesesuaian,
kemudahan dan kemanfaatan dari perangkat asesmen otentik tertulis pada
pembelajaran IPA Terpadu melalui scientific approach yang sudah
dikembangkan. Penelitian pengembangan ini dilaksanakan pada semester genap
tahun pelajaran 2014/2015 di tiga SMP Negeri dan tiga SMP Swasta di
Bandarlampung.
B.Subjek Penelitian
Subjek penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu subjek uji coba produk dan subjek
uji coba pemakaian. Subjek uji coba produk adalah 4 orang guru di SMPN 2
Bandarlampung, dan SMPN 20 Bandarlampung. Subjek uji coba pemakaian
adalah 12 orang guru mata pelajaran IPA Terpadu di tiga SMP Negeri dan tiga
SMP Swasta di Bandarlampung, yaitu SMPN 4 Bandarlampung, SMPN 22
Bandarlampung, SMPN 21 Bandarlampung, SMP Kartika 2 Bandarlampung,
SMP Ar-Raihan Bandarlampung, dan SMP Gajah Mada Bandarlampung serta 24
orang siswa di SMPN 2 Bandarlampung. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan yaitu teknik purposive sampling yang disesuaikan dengan tujuan
peneliti. Sampel diambil berdasarkan letak sekolah yaitu sekolah yang terletak di
pusat kota, tengah kota, dan pinggiran kota Bandarlampung sesuai dengan tujuan
C.Sumber Data
Sumber data penelitian ini diperoleh melalui penelitian pendahuluan, uji coba
produk, dan uji coba pemakaian. Sumber data pada penelitian pendahuluan
diperoleh dari hasil angket guru yang diberikan kepada dua orang guru mata
pelajaran IPA Terpadu dan angket siswa yang diberikan ke satu kelas siswa kelas
VII.C SMPN 20 Bandarlampung. Sumber data pada tahap uji coba produk
diperoleh dari hasil angket uji kesesuaian, kemudahan dan kemanfaatan yang
diberikan kepada empat orang guru mata pelajaran IPA Terpadu di SMPN 2
Bandarlampung, dan SMPN 20 Bandarlampung yang dipilih secara acak. Sumber
data uji coba pemakaian diperoleh dari pengisian angket uji kesesuaian,
kemudahan dan kemanfaatan oleh 12 orang guru mata pelajaran IPA Terpadu di
tiga SMP Negeri dan tiga SMP Swasta di Bandarlampung, yaitu SMPN 4
Bandarlampung, SMPN 22 Bandarlampung, SMPN 21 Bandarlampung, SMP
Kartika 2 Bandarlampung, SMP Ar-Raihan Bandarlampung, dan SMP Gajah
Mada Bandarlampung. Data hasil uji coba siswa diperoleh dari pengisian lembar
asesmen otentik tertulis oleh 24 orang siswa kelas VIII.A di SMPN 2
Bandarlampung.
D.Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang berfungsi untuk mempermudah pelaksanaan suatu
penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
pengungkap potensi dan masalah, angket uji kelayakan yang terdiri dari uji
guru mengenai kesesuaian, kemudahan, dan kemanfaatan penggunaan produk
yang dikembangkan. Penjelasan mengenai instrumen penelitian sebagai berikut:
1. Angket Pengungkap Potensi dan Masalah
Angket pengungkap adanya potensi dan masalah dalam penelitian ini digunakan
untuk memperoleh informasi mengenai perangkat asesmen aspek pengetahuan
yang digunakan di sekolah yang bersangkutan. Angket pengungkap potensi dan
masalah ini juga digunakan untuk memperoleh informasi mengenai
kekurangan-kekurangan perangkat asesmen aspek pengetahuan yang sudah diterapkan di
sekolah sehingga menjadi referensi dalam mengembangkan perangkat asesmen
otentik tertulis berbasis scientific approach.
2. Angket Uji Validasi Ahli
Instrumen ini digunakan untuk menguji kelayakan perangkat asesmen otentik
tertulis yang dikembangkan dengan kesesuaian rumusan indikator dan tuntutan
dalam kisi-kisi. Angket uji kesesuaian isi terdiri dari:
a. Angket Uji Konstruksi
Instrumen ini digunakan untuk menguji kontruksi perangkat asesmen otentik
tertulis yang dikembangkan, misalnya konstruksi sesuai format perangkat
asesmen otentik tertulis yang ideal menurut kurikulum 2013 dan konstruksi sesuai
b. Angket Uji Subtansi
Intrumen ini digunakan untuk mengetahui kesesuaian perangkat asesmen otentik
tertulis hasil pengembangan dengan indikator pencapaian kompetensi dengan KI
dan KD, kesesuaian penulisan indikator dalam kisi-kisi intrumen, mengetahui
kesesuaian rubrik penskoran, dan kesesuaian skala untuk menilai.
c. Angket Uji Bahasa
Instrumen ini digunakan untuk menguji penggunaan bahasa yang digunakan
dalam perangkat asesmen otentik tertulis, misalnya penggunaan bahasa Indonesia
yang baku dan kesesuaian bahasa dengan jenjang pendidikan responden.
3. Angket Uji Kesesuaian
Instrumen ini digunakan untuk mengatahui pendapat guru mengenai kesesuaian
perangkat asesmen otentik tertulis dengan indikator dan kemampuan pengetahuan
siswa yang akan dinilai. Angket ini diberikan kepada guru pada saat uji coba
produk dan uji coba pemakaian.
4. Angket Uji Kemudahan
Instrumen ini digunakan untuk mengatahui pendapat guru mengenai kemudahan
penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis, yaitu kemudahan guru dalam
menggunakan perangkat asesmen otentik tertulis untuk mengukur keseluruhan
dilaksanakan. Angket ini diberikan kepada guru pada saat uji coba produk dan uji
coba pemakaian.
5. Angket Uji Kemanfaatan
Instrumen ini digunakan untuk mengatahui pendapat guru mengenai kemanfaatan
penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis, misalnya kemanfaatan
penggunaan perangkat asesmen otentik tertulis untuk mengukur seluruh aspek
pengetahuan siswa yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dan topik
pembelajaran secara objektif. Angket ini diberikan kepada guru pada saat uji coba
produk dan uji coba pemakaian.
E.Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Prosedur penelitian ini menggunakan langkah penelitian dan pengembangan
menurut Sugiyono (2013: 298) dengan langkah-langkah yaitu: (1) potensi dan
masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi
desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi
produk, dan (10) produksi. Langkah-langkah penelitian dapat dilihat pada Gambar
Gambar 3.1 Langkah-langkah Penelitian Pengembangan
Penjelasan mengenai langkah-langkah penelitian pengembangan sebagai berikut:
1. Potensi dan Masalah
Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai
tambah, sedangkan masalah adalah penyimpangan antara apa yang diharapkan
dengan apa yang terjadi. Potensi dan masalah harus ditunjukan dengan data
empirik. Peneliti mengumpulkan data berkenaan dengan masalah asesmen yang
ada di sekolah dengan menggunakan angket. Angket tersebut diberikan kepada
guru dan siswa. Tujuannya untuk mengetahui perangkat asesmen yang telah
digunakan dan mengetahui kelemahan penggunaan perangkat asesmen tersebut
serta mengidentifikasi perangkat asesmen yang sesuai dengan kondisi sekolah dan
kurikulum 2013.