• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERCEPTION OF UNIVERSITY SRUDENTS TO HOMOSEXUAL IN BANDAR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERCEPTION OF UNIVERSITY SRUDENTS TO HOMOSEXUAL IN BANDAR LAMPUNG"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

BANDAR LAMPUNG

(Case Study To University Students of FISIP Lampung of University)

By:

REZA PARLUVI

Homosexual still becomes the sensitive topic among the society. It is because there is still pros and cons towards homosexual, in religion life and social and culture life. Concerning about homosexual in this country, it is hard for them to accept their abnormality because the society judge it as something wrong so they hide their gay identity. This kind of condition will be negative thing to their life so it will appear as stress, depression and dysfunctional social relation from this case we need to have further investigation about point of view from students as one of part of society toward homosexual in Bandar Lampung. Where the point of view experience of object, event, or relation gotten by concluding information and interpreting the message. The problem of this research is how the point of view of student of Sociology and Political Science Faculty University of Lampung toward homosexual is.

(2)

distance in interacting directly with gay people, where the fearless appears because of the point of the view that homosexual is caused of environment factors or social intercourse.

(3)

LAMPUNG

(Studi Pada Mahasiswa FISIP Universitas Lampung)

Oleh:

REZA PARLUVI

(4)

dengan homoseksual. Dimana ketakuatan tersebut dipicu oleh adanya persepsi bahwa homoseksual lebih banyak disebabkan karena faktor lingkungan atau pergaulan.

(5)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya sebagai manusia, kita membutuhkan untuk dapat berinteraksi dan bersosialisasi. Karena manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya dimana individu berasal. Manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Terutama dalam konteks sosial-budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan lainnya karena pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna bagi manusia lainnya.

(6)

Fenomena yang sampai saat ini masih menjadi topik yang sensitif ditengah-tengah masyarakat adalah tentang homoseksual. Hal tersebut terjadi karena adanya pro dan kontra terhadap homoseksual. Baik itu secra agama, sosial dan budaya. Mengingat homoseksual di tanah air sulit untuk menerima kenyataan dirinya sebagai manusia abnormal, maka mereka sering menyembunyikan orientasi yang dicap salah dalam masyarakat tersebut. Hal semacam ini akan berakibat gejolak negatif dalam dirinya sehingga tampil ke permukaan sebagai stress, depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dan menemukan identitas dirinya ditengah agama dan budaya yang sedemikian kuat.

Homoseksual lain justru dapat menerima apa yang ada di dirinya sebagai suatu bentuk hal yang hakiki. Pribadi semacam ini berani coming out atau menyatakan identitas dirinya yang sesungguhnya sehingga konflik internal dalam dirinya lepas.

(7)

orientasi seksual adalah kearah mana kecendrungan orang tersebut tertarik pada gender atau jenis kelamin tertentu. Secara umum ada tiga jenis orientasi yang dikenal, yaitu:

1. Heteroseksual, yaitu ketertarikan pada orang yang berlainan gender (lawan jenis)

2. Homoseksual, yakni ketertarikan pada sesame jenis.

3. Biseksual, yakni ketertarikan pada orang dari kedua gender tersebut.

Orientasi seksual adalah salah satu dari keempat komponen seksualitas. Ketiga komponen lainnya adalah jenis kelamin (biologis), identitas gender (penghayatan bahwa diri kita adalah laki-laki atau perempuan), dan peranan gender yang ditentukan oleh norma gender (yang ditentukan oleh norma sosial). Berbeda dengan ketiga komponen lainnya, orientasi seksual ini mengandung birahi, emosi, dan kasih sayang.

(8)

menggunakan simbol-simbol ataupun bahasa tubuh yang digunakan oleh kelompok homoseksual.

Menjadi berbeda dari orang-orang pada umumnya tentu akan menemui banyak kendala, apalagi menjadi individu yang berorientasi homoseksual. Homoseksual dianggap menyimpang dari keadaan orang yang umunya heteroseksual, terlebih apabila dilihat dari sudut pandang agama dan norma yang menganggap homoseksual sama dengan dosa karena telah melawan kodratnya. Tidak mengherankan apabila individu yang diketahui sebagai seorang homoseksual, cendrung mendapat hinaan, hujatan, bahkan ancaman fisik.

(9)

dipahami karena mereka menjalin hubungan sama seperti kelompok heteroseksual.

Kelas sosial yang ada di kalangan lesbian/ gay/ waria tidak jauh berbeda dengan kelas sosial di masyrakat pada umumnya. Pembagian kelas tampak pada tempat nongkrong, cara berpakaian, yang semuanya berawal pada kombinasi tingkat penghasilan dan aspirasi kelas. Dilihat dari sisi fisik dan penampilan, sulit diketahui apakah seseorang itu lesbian atau gay (kalau waria tentu cendrung kelihatan). Memang ada stereotipe bahwa lesbian cendrung perempuan yang tomboy, dan laki-laki yang feminim cendrung gay, tetapi ini hanya sebagian dari kelompok mereka.

Berbeda dengan kaum heteroseksual yang secara status memperoleh pengakuan di mata masyrakat dalam hal orientasi seksualitasnya dan sebagai golongan yang normal sesuai dengan kodratnya, maka kaum homoseksual dikucilkan karena mengalami penyimpangan perilaku seksual. Meskipun konstruksi sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang masih pro dan kontra dalam menyikapi homoseksual, tapi pada kenyataanya kaum homoseksual masih dipandang sebagai kelompok marjinal.

(10)

homoseksual tersebut. Akan tetapi di Bandar Lampung homoseksual masih menjadi polemik di dalam masyarakat. Polemik tersebut menjadikan masalah ini menjadi kontrofersi di kalangan masyarat maupun kalangan mahasiswa di Bandar Lampung.

Di Bandar Lampung sendiri jika dilihat dari budaya asli masyarakat Lampung, tidak ada tradisi atau budaya yang diduga mendorong munculnya perilaku homoseksual di dalam masyarakat. Akan tetapi keberadaan mereka memang sudah ada dari dulu, tepatnya kapan homoseksual masuk ke Bandar Lampung memang tidak diketahui secara pasti. Namun sebagian besar dari mereka tidak berani mengakui bahwa diri mereka adalah homoseksual. Hal tersebut disebabkan karena ketatnya norma yang ada di masyarakat dan juga keluarga menganggap bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku menyimpang dan memiliki kelainan kejiwaan. Kebanyakan homoseksual yang ada di Bandar Lampung memang asli suku Lampung, tetapi ada juga yang memiliki suku yang berbeda.

(11)

Sebagian mahasiswa menganggap hal ini bisa diterima tetapi sebagian menganggap ini merupakan kesalahan. Hal tersebut terjadi di negara dengan budaya dan agama yang kuat seperti di negara kita ini, karena persepsi yang beragam demikian akan berakibat gejolak negatif dalam seseorang homoseksual sehingga tampil ke permukaan sebagai stress, depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dalam menemukan identitas dirinya ditengah ancaman cambuk agama dan budaya yang sedemikian kuat. Akan tetapi sejatinya tidak sedikit pula beberapa dari mereka menerima dan mempublikasikan kepada lingkungan sekitarnya tentang orientasi seksual mereka yang menyimpang.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan lebih memfokuskan terhadap persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar Lampung. Misalnya saja apa tanggapan seoarang teman ketika mereka mengetahui salah seorang teman mereka adalah seorang homoseksual. Karena seperti yang kita ketahui, mahasiswa memiliki pemikiran keritis tentang suatu fenomena yang kontrofersi.

B. Rumusan Masalah.

(12)

C. Tujuan Penelitian.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap homoseksual yang ada di Bandar Lampung.

D. Kegunaan Penelitian.

Kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan keilmuan Sosiologi.

(13)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Persepsi

1. Definisi Persepsi.

Menurut Cohen (Bungin, Burhan. 2008:261) dikemukakan bahwa persepsi didefinisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai representasi dari objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan tentang apa yang dapat di tangkap oleh indra kita. Menurut Desiderato (Rakhmat, 1999:51) menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

(14)

yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang objek tersebut. Komponen kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima akan menentukan perubahan yang akan menentukan perasaan dan kemauan untuk berbuat (kognitif).

Persepsi dalam penelitian ini adalah suatu proses dan penerimaan terhadap objek berdasarkan pengetahuan dan pengalaman (kognitif) yang di dalamnya menyangkut tanggapan kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek tersebut yang pada akhirnya berpengaruh terhadap predisposisi seseorang untuk bersikap senang atau tidak senang (afektif) yang merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang dipersepsikan tentang suatu objek tersebut yang mengarahkan seseorang untuk bertindak atau bertingkah laku.

Menurut Morgan, King dan Robinson dalam Isbandi Rukminto Hadi (1994:105) menyatakan bahwa persepsi menunjukkan bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, dan mencium dunia sekitar kita. Dengan kata lain persepsi dapat pula diidentifikasikan sebagai segala sesuatu yang dialami manusia.

(15)

yang diterima akan menentukan pikiran dalam melihat sesuatu. Persepsi yeng terbentuk terkadang adalah perasaan senang dan tidak senang yang menurut David O’ Sears sebagaimana dikutif Sarlito Wirawan Sarwono (2002:97) disimpulkan sebagai persepsi positif dan persepsi negatif.

Miftah Toha (1995:358) seperti yang dikutip Burhan Isnaeni (2004:11) menyatakan bahwa persepsi adalah proses kognitif yang dialami setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Mengenai proses kognisi sendiri, menjelaskan sebagai aspek penggerak perubahan, karena informasi yang diterima akan menentukan perasaan dan kemauan untuk berbuat. Lebih lanjut ia menyatakan beberapa hal yang mempengaruhi komponen kognisi:

a. Faktor pengalaman b. Faktor proses belajar c. Cakrawala

d. Pengetahuan

(16)

Dalam kamus lengkap Psikologi ada beberapa pengertian persepsi yang meliputi:

a. proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan panca indera.

b. Kesadaran dari proses-proses organis.

c. Satu kelompok penginderaan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman masa lalu.

d. Variabel yang mengulangi atau ikut campur, berasal dari kemampuan organisme untuk melakukan perbedaan diantara perangsang-perangsang. e. Kesadaran intutif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang

serta.

2. Sifat Persepsi

Persepsi memiliki sifat-sifat seperti yang diutarakan oleh Didik Kurniawan (2005:10) yaitu:

a. Persepsi adalah pengalaman

Untuk mengartikan makna dari objek atau peristiwa, kita harus memiliki dasar untuk melakukan interprestasi. Dasar ini biasanya ditentukan pada pengalaman masa lalu dengan objek atau peristiwa tersebut atau dengan hal yang menyerupai.

b. Persepsi merupakan proses yang selektif

(17)

hal ini biasanya kita mempersepsikan apa yang kita inginkan atas dasar sikap, nilai dan keyakinan yang ada dalam diri kita, dan menyebabkan karakteristik yang tidak relevan atau berlawanan dengan nilai atau keyakinan kita tersebut.

c. Persespsi adalah penyimpulan

Proses psikologis dari persepsi yang kita lakukan akan akan mengandung kesalahan dalam keadaan tertentu, hal ini antara lain disebabkan oleh pengaruh pengalaman masa lalu, selektifitas dan penyimpulan.

d. Evaluatif

Persepsi tidak akan pernah objektif karena kita melakukan interprestasi berdasarkan pengalaman dan mereflesikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi yang diinginkan untuk memberikan makna pada objek persepsi. Proses merupakan proses psikologis yang ada dalam diri kita maka bersifat subjektif. Suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari interpretasi subjektif adalah evaluasi. Hampir tidak mungkin mempersepsikan suatu objek tanpa mempersepsikan baik serta buruknya objek tersebut.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

(18)

yang memepengaruhi persepsi meliputi sikap, kepribadian, motif, kepentingan, pengalaman masa lalu dan harapan.

Gambar 1. Variabel kunci yang mempengaruhi perilaku individu

Sumber: Stephen P. Robbins, 2002. Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Erlangga. Jakarta.

Menurut David Krech (dalam Jalalludin Rahmat, 1999:52-53), ada dua faktor yang menentukan persepsi seseorang yaitu:

1. Faktor Fungsional

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman, masa lalu dan hal-hal yang termasuk dari faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau fisik stimuli, tetapi karakteristik yang memeberikan respon stimuli itu. Faktor fungsional meliputi:

a. Kebutuhan

Kebutuhan sesaat dan kebutuhan menetap pada diri seorang akan mempengaruhi atau menumbuhkan persepsi seseorang, dengan demikian kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi.

Sikap

Kepribadian

Kemampuan

Motivasi

Pembelajaran

(19)

b. Kesiapan mental

Kesiapan mental seseorang akan mempengaruhi persepsi seseorang.

c. Suasana emosi

Suasana emosi seseorang baik dalam keadaan sedih, bahagia, gelisah maupun marah akan sangat mempengaruhi persepsinya.

d. Latar belakang

Latar belakang dimana seseorang berasal akan memepengaruhi dan menentukan persepsi seseorang pada suatu objek rangsangan.

2. Faktor Struktural

Faktor struktural dimana-mana berasal dari sifat stimuli dan efek-efek saraf yang ditimbulkan pada sistem individu meliputi antara lain:

a. Kemampuan berfikir. a. Daya tangkap inderawi.

b. Seluruh daya tangkap yang ada pada manusia.

Mar’at (1981:22) membagi komponenpersepsi menjadi dua aspek yaitu :

a. Aspek kognitif

(20)

b. Aspek afektif

Merupakan refleksi dari perasaan atau emosi seseorang terhadap objek yang dipersepsikan, bisa berupa pendapat ataupun penilaian. Pendapat yang positif dapat berupa simpati, suka, memihak dan menghargai dan lain-lain. Pendapat yang negatif dapat berupa penghinaan, rasa tidak suka, tidak menghargai dan tidak mendukung.

Berdasarkan beberapa pengertian dan hal-hal yang memepengaruhi persepsi di atas maka dapat dinyatakan persepsi adalah cara pandang dan sikap seseorang mengenai sesuatu hal yang disebabkan pengaruh latar belakang, pengetahuan, penilaian dan tujuan seseorang terhadap hal tersebut.

Proses terbentuknya persepsi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sikap, kepribadian dan kemampuan. Berdasarkan ketiga faktor tersebut akan mempengaruhi motivasi, persepsi, dan pembelajaran individu dan pada akhirnya akan menentukan perilaku individu untuk bertindak sesuai dengan apa yang individu dapatkan dari proses persepsi tadi.

3. Tinjauan Tentang Mahasiswa

1. Definisi Mahasiswa

(21)

menurut Hayatun (1996:24), mahasiswa merupakan kelompok generasi muda elit dalam masyarakat yang mempunyai sifat dan watak yang kritis, keberanian dan kepeloporan. Berperan sebagai kekuatan moral dan berfungsi sebagai kontrol sosial serta sebagai duta pembaharu masyarakat.

Konsep mahasiswa tidak berbeda dengan pemuda, konsep ini identik dengan nilai-nilai yang melekat pada diri manusia tersebut. Mahasiswa sekaligus adalah pemilik masa depan bangsa yang diharapkan mampu berperan aktif sebagai agen perubahan yang perlu dibina. Mahasiswa adalah insan-insan intelektual yang berada pada perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang dididik untuk menjadi calon intelektual bangsa (Wirawan, 1987 :46).

Menurut Slamet (1986:24), mahasiswa adalah manusia yang memiliki kemampuan akademis, ciri karakter atau identitas, mutu kerja dan cara berfikirnya lebih dalam dan memiliki trade mark yang berbeda dengan warga masyarakat lainnya dan berkiprah di perguruan tinggi. Dalam hal ini mahasiswa brfungsi sebagai pemberi informasi, pemberi motivasi, pelancar proses difusi inovasi dan penghubung antara sistem yang memiliki penegtahuan dan keterampilan yang berguna bagi masyarakat luas.

2. Karakteristik Mahasiswa

Damanhuri (1985) memberikan ciri-ciri mahasiswa sebagai berikut:

(22)

lingkungannya dimana mereka menginginkan berbagai perubahan dengan cepat dinamik dan mendasar (radikal).

2. Mahasiswa adalah kelompok yang menjadi sistem pendidikan tinggi. Oleh karena itu, nafas dan sikap akademis akan memberi ciri yang kuat dalam gerak langkahnya, sifat objektif, rasional, kritis, dan skeptis yang menjadi gerak langkahnya, sifat objektif, rasional, kritis, dan skeptis yang menjadi keilmuan amat mempengaruhi pandangannya dalam mengamati setiap masalah. Mereka adalah kelompok yang relatif "independen" karena relatif belum memilki keterkaitan finansial maupun birokratis terhadap pihak manapun. Oleh sebab itu ciri spontan dan lugas dalam bersikap dan memberi pandangan amat kuat.

3. Mahasiswa adalah kelompok yang menjadi subsistem masyarakat secara keseluruhan baik secara lokal, regional, nasional, maupun global. Oleh karenanya dengan menatap konstelasi yang berkembang dengan latar belakang keilmuan, keindependenan mahasiswa senantiasa menempatkan sudut pandang yang tidak mengulang pada kelompok masyarakat lainnya.

(23)

3. Tipe-tipe mahasiswa

Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141) mengklasifikasikan mahasiswa ke dalam 5 tipe, yaitu :

1. Kelompok Idealis Konfroniatif

Mereka adalah mahasiswa yang aktif dikelompok diskusi atau lembaga swadya masyarakat. Kegiatan mereka senantiasa bernuansa pemikiran kritis mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, serta teori-teori yang mendasarinya. Mereka aktif dalam aksi-aksi demonstrasi memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. Ciri dari kelompok ini adalah non-kooperatif. Kelompok ini bersikap menolak posisi pemerintah karena mereka berkeyakinan bahwa pemerintah yang berkuasa saat itu tidak sesuai dengan norma, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip demokrasi keadilan dan hak asasi manusia.

2. Kelompok Idealis Realistis

Kelompok ini juga aktif diberbagai kelompok diskusi atau lembaga swadaya masyarakat. Kelompok ini banyak menggagas ide-ide perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelompok ini cenderung kompromisitis dan kooperatif serta tidak terang-terangan menentang pemerintah dan tetap berusaha mencari jalan di tengah kesumpekan iklim politik.

3. Kelompok Oppurtunis

(24)

pemerintahan (termasuk kebjikan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat).

4. Kelompok Profesional

Mereka adalah para mahasiswa yang berorientasi profesionalisme dan kurang berminat terhadap masalah-masalah ekonomi, pilitik, sosial, dan budaya bangsa, mereka memilih untuk menyelesaikan study secepat mungkin kemudian memperoleh pekerjaan yang dapat menjamin masa depan rakyat.

5. Kelompok Glamour

Kelompok ini sama dengan kelompok profesional yang kurang berminat terhadap masalah-masalah ekonomi, sosial, politik, serta budaya bangsa. Perbedaanya kelompok ini memiliki kecendrungan rekratif, ciri yang menonjol adalah penampilan berbusana yang cenderungglamourdan gaya hidup yang sangat mengikuti mode.

(25)

4. Pengertian Homoseksual

Dari Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (2000:248) homoseksual adalah tentang kecendrungan tertarik melakukan hubungan seks atau mencintai sesame jenis kelamin. Dede Oetomo (2003:6) mendefinisikan orang homoseksual adalah orang yang orientasi atau pilihan seks pokok atau dasarnya, entah diwujudkan atau dilakukan atau pun tidak, diarahkan kepada sesame jenis kelaminnya. Dengan perkataan lain laki-laki atau perempuan homoseksual adalah seseorang yang secara emosianal dan seksual tertarik kepada sesame jenis laki-laki ataupun perempuan. Maka homoseksual dapat didefinisikan sebagai orientasi atau pilihan seks yang diarahkan kepada seseorang atau orang-orang dari jenis kelamin yang sama atau ketertarikan orang secara emosional dan seksual kepada seseorang atau orang-orang dari jenis kelamin yang sama. Sedangkan Alfred C. Kinsey (1965:612) dalam mendefinisikan kata “homoseksual” yang dikaitkan dengan tingkah laku manusia menyebutkan sebaggai hubungan seksual, baik secara fisik maupun psikis, antara individu dari jenis kelamin yang sama.

Di Indonesia, kata homoseksual oleh awam hanya dipakai untuk mengacu kepada laki-laki homoseksual, sedangkan perempuan homoseksual lebih lazim disebut lesbian atau lesbi. Dalam kira-kira sepuluh tahun terakhir ini, dikenal juga istilahgayuntuk mengavu kepada laki-laki homoseksual.

(26)

laki-laki yang berpenampilan dan berprilaku seperti perempuan, baik sepenuhnya maupun sebagian. Walaupun masyarakat awam menyamaratakan gay dan waria, kedua kelompok ini membedakan satu dari yang lain walaupun ada kalanya terjadi “penyeberangan” dari satu kelompok ke kelompok lain. Persentuhan dan “penyeberangan” pada identitas waria terjadi di kelas menengah ke bawah. Maksudnya ada gay yang kadang-kadang berdandan seperti waria, bahkan untuk waktu yang agak lama, atau ketika berada di kota lain. Begitu juga sebagian kecil waria sebaliknya berpenampilan sebagai gay pada kesempatan-kesempatan tertentu. Batas antara gay dan waria sebetulnya batas sosiologis yang dibentuk dalam kesadaran sebagian besar kaum gay dan waria itu sendiri.

(27)

peranan. Oleh karena itu, walaupun derajat ketertarikannya pada aspek seksual berbeda-beda, homoseksualitas sebagai peranan mengakibatkan terjadinya proses penamaan tertentu terhadap gejala tersebut.

1. Jenis-jenis Homoseksual

Dari segi psikiatri ada dua macam homoseksual, yakni homoseksual ego sintonik (sinkron dengan egonya) dan ego distonik (tidak sinkron dengan egonya). Seorang homoseks ego sintonik adalah homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkannya, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya. Sebaliknya, seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis.

Menurut Endang Rahayu (1998:18) yang dikutip dari Mariska (2004), homoseksual terbagi tiga jenis yaitu:

1. Eksklusif.

(28)

2. Vakultatif.

Prilaku seksual yang hanya menyalurkan dorongan seks. Dalam homoseksual vakultatif, seorang homoseksual masih mempunyai gairah terhadap lawan jenis, namun karena adanya dorongan seksual yang tinggi sedangkan lawan jenis untuk menyalurkan dorongan tersebut tidak ada maka dalam menyalurkannya dilakukan dengan sesame jenis. Homoseksual vakultatif biasanya berperan sebagai laki-laki dalam melakukan kontak seksual.

3. Biseksual.

Dapat melakukan relasi atau hubungan seksual yang memuaskan dengan sesame jenis atau lawan jenis. Dalam melakukan kontak seksual, seseorang yang mempunyai orientasi biseksual mempunyai banyak variasi. Ketika seorang biseksual melakukan kontak seksual dengan wanita akan berperan sebagai laki-laki sedangkan ketika melakukan kontak seksual dengan sesame jenis bisa berperan sebagai laki-laki, perempuan, atau berganti peran. Jadi dalam melakukan kontak seksual dengan orang yang sama bisa berganti peran sesuai dengan kemauan masing-masing individu dalam sebuah pasangan seksual.

5. Kerangka Pikir

(29)

heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Homoseksual adalah ketertarikan seseorang terhadap sesame jenisnya baik secara fisik maupun emosioonal. Jika sesame manita di sebut lesbian maka sesama laki-laki disebut gay. Heteroseksual adalah ketertarikan dengan lawan jenis. Sedangkan biseksual adalah orientasi seksual gabungan dari keduanya.

Homoseksual merupakan kelompok yang dianggap berprilaku menyimpang sehingga kebanyakan homoseks masih menyembunyikan identitasnya. Selama ini untuk mengetahui seseorang mengalami penyimpangan tersebut hanya bisa dilakukan atau di ketahui oleh orang-orang yang mempunyai prilaku seks yang menyimpang pula. Untuk orang-orang heteroseksual atau masyarakat normal pada umumnya akan sangat susah membedakannya. Hanya saja kita dapat melihat secara kasat mata seperti cara berpakayan, berbicara dan berprilaku seseorang.

(30)

SKEMATIKA KERANGKA PEMIKIRAN

A. Aspek Kognitif

HOMOSEKSUAL 1. Pengertian.

2. Keberadaan 3. Ciri-ciri 4. Faktor

B.Aspek Afektif

SIKAP MAHASISWA 1. Sikap terhadap homoseksual

2. Sikap apabila disekitar kita ada homoseksual 3. Sikap apabila teman merupakan homoseksual 4. Yang dirasakan ketika berinteraksidengan

homoseksual

5. Pandangan/ harapan kedepan terhadap homoseksual

(31)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan studi kasus (case study), karena studi kasus merupakan suatu pencarian keterangan secara ilmiah dengan menyelidiki fenomena yang terjadi di kehidupan nyata. Dimana penelitian menggunakan metode kualitatif ini didasarkan pada kenyataan bahwa konsep yang dikaji adalah sifat naturalistik yang muncul dan dipengaruhi oleh fenomena atau peristiwa nyata, dan bukan sebaliknya.

(32)

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian memberikan batasan dalam kumpulan data, sehingga dalam pembatasasn ini akan lebih terarah dan fokus pada masalah-masalah yang ingin diteliti. Oleh karena itu menurut Lexy J. Moloeng (2000:63) fokus penelitian yang dimaksud untuk membatasi studi kualitatif sekaligus membatasi penelitian guna memilih mana data yang relefan, agar tidak dimasukan kedalam data yang sedang dikumpulkan, walaupun data itu menarik.

Dalam halaman berikutnya Moloeng (2000:94) menjelaskan ada dua maksud yang ingin dicapai dalam pemecahan permasalahan melalui memenfaatkan fokus penelitian yaitu: Pertama, menetapkan fokus dalam membatasi studi. Kedua, penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi kriteria yang keluar masuk suatu informasi. Adapun yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah:

a. Pengetahuan mahasiswa terhadap homoseksual yang ada di Bandar Lampung.

1. Pengetahuan mahasiswa terhadap pengertian homoseksual.

2. Pengetahuan mahasiswa terhadap keberadaan homoseksual yang ada di Bandar Lampung.

3. Pengetahuan mahasiswa terhadap ciri-ciri seorang homoseksual. 4. Pengetahun mahasiswa mengapa seseorang menjadi homoseksual.

(33)

2. Bagaimana sikap mahasiswa apabila di sekitarnya ada homoseksual. 3. Bagaiman sikap mahasiwa apabila salah satu dari temannya ternya adalah

seorang homoseksual.

4. Bagaimana ketika mahasiswa berinteraksi dengan homoseksual apa yang dirasakan oleh mahasiswa itu sendiri. (dampak terhadap mahasiswa itu sendiri dan dampaknya terhadap lingkungan sosial)

5. Bagaimana pandangan/ harapan mahasiswa kedepanya terhadap homoseksual.

C. Lokasi Penelitian.

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lampung. Adapun alasan dipilih lokasi penelitian ini karena adanya mahasiswa yang dapat memberikan persepsi mereka terhadap homoseksual.

D. Penentuan Informan.

(34)

berantai, mulai dari ukuran informan yang kecil, makin lama menjadi besar seperti halnya bola salju yang menggelinding menuruni lereng gunung ataun bukit.

1. Jenis Sumber Data.

Jenis sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer yang merupakan sumber data pertama yang dihasilkan dalam sebuah penelitian. Sumber data primer dalam penelitian ini akan diperoleh langsung dari pihak yang pertama atau subjek yang langsung berhubungan dengan penelitian yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik universitas Lampung.

2. Data sekunder, yaitu data kedua setelah data primer. Di dalam data sekunder ini penelitian mengambil data dari internet.

2. Teknik Pengumpulan Data.

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Partisipasi Terlibat (participant observation).

(35)

2. Wawanca Mendalam (indepth interview).

Melakukan wawancara langsung dengan inforaman mengenai pokok penelitian, wawancara mendalam ini dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara dengan tujuan mendapatkan keteranagan secara mendalam dari permasalahan yang dikemukakan

Wawancara mendalam ini dilakaukan dengan berbincang-bincang secra langsung atau berhadapan muka dengan informan. Penelitian ini juga berusaha untuk mengembangkan pertanyaan yang diajukan untuk menggali jawaban yang lebih mendalam. Sehingga dalam wawancara tersebut informan tidak merasa sedang dihakimi. Dengan wawancara mendalam diharapkan penulis mendapatkan gambaran secara lebih jelas guna mempermudah analisa data selanjutnya.

3. Teknik Analisi Data.

Dalam analisi data yang dilakukan secra kualitatif, ada tiga alur kegiatan yang dilakukan yaitu:

1. Reduksi Data.

Kegiatan memilih dan memilah hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu:

(36)

b. Setelah mengelompokan data berdasarkan karakteristik, kemudian memilih beberapa informan yang berbeda mengenai persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar Lampung. Hal ini dimanfaatkan peneliti untuk memperdalam kajian serta memperoleh informasi yang berfariasi.

c. Melakukan pendekatan secra kualitatif, untuk memberikan gambaran yang detail dan mendalam dari persepsi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Provinsi Lampung.

d. Melakukan penggabungan kajian pustaka, data dari pengalaman informan, dan kenyataan di lapangan. Hal ini dilakaukan untuk mendapatkan wawasan yang bersifat umum terhadap analisis ini.

2. Display Data.

Yaitu penyajian data sebagai kumpulan informasi tersususun yang memberiakan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambialn tindakan yang dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus di lakaukan.

3. Vertifikasi Data.

(37)

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini mengambil informan sebanyak 8 orang mahasiswa yang berada di jurusan yang berbeda-beda dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang mempunyai persepsi dan sikap yang berbeda-beda terhadap adanya homoseksual di Bandar Lampung.

Setelah diadakannya penelitian terhadap 8 mahasiswa tersebut, dalam hal ini Persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar Lampung, berikut ini akan digambarkan hasil penelitian yang menunjukan profil informan kemudian pembahasan, mengenai persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar lampung.

A. Profil Informan

(38)
[image:38.595.116.520.181.468.2]

akan digambarkan profil para informan yang diwawancarai tentang “Persepsi Mahasiswa TerhadapHomoseksual di Bandar Lampung”.

Tabel 1. Profil Informan N o. Nama (bukan nama sebenarnmya) Kode Informan

Angkatan Jurusan Tanggal

Wawancara

1. Bunga Informan 1 2006 Ilmu

Komunikasi

20 September 2010

2. Rama Informan 2 2007 Administrasi Bisnis

20 September 2010

3. Putra Informan 3 2006 Ilmu

Pemerintahan

20 September 2010

4. Mery Informan 4 2007 Administrasi Negara

21 September 2010

5. Bayu Informan 5 2006 Sosiologi 22 September 2010

6. Vera Informan 6 2007 HUMAS 22 September

2010

7. Arini Informan 7 2008 Pusdok Info 23 September 2010

8. Budi Informan 8 2008 APS 23 September

2010 Sumber: Data Primer tahun 2010

Dari kedelapan informan yakni mahasiswa FISIP Unila dengan jurusan dan latar belakang sosial yang berbeda-beda maka berikut pengelompokan masing-masing informan berdasarkan klasifikasi jenis mahasiswa menurut Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141):

1. Kelompok Idealis Konfroniatif

(39)

Kelompok ini bersikap menolak posisi pemerintah karena mereka berkeyakinan bahwa pemerintah yang berkuasa saat itu tidak sesuai dengan norma, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip demokrasi keadilan dan hak asasi manusia. Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok idealis konfroniatif adalah Rama (informan ke-2). Hal tersebut dikarenakan informan aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Selain itu informan juga cukup aktif dalam menyuarakan permasalahan-permasalahan yang bersifat pro dan kontra. Berikut hasil wawancaranya:

a. Rama: Informan ke-2 (kedua)

Informan kedua dalam penelitian ini bernama Rama (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswi reguler jurusan Administrasi Bisnis angkatan 2007 melalui jalur SPMB. Ia menjalani perkuliahan seperti biasanya dengan mengikuti kegiatan berorganisasi yang ada di Fisip Unila yaitu HMJ Administrasi Bisnis anggota bidang enterplanner 2009-2010, selain itu ia juga menjadi anggota yang bergerak dalam keagamaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandar Lampung komisaris sosial politik dari tahun 2007 sampai sekarang dan menjadi anggota bidang Sumber Daya Manusia (SDM) BEM Fisip 2008-2009. Dengan pengalaman berorganisasi yang cukup diharapkan informan dapat kritis dalam menanggapi masalah homoseksual di Bandar Lampung.

(40)

tersebut. Menurut informan homoseksual merupakan perbuatan asusila yang sanagt terkutuk dan menunjukan bahwa pelaku dari homoseksual tersebut adalah seorang yang mengalami penyimpangan psikologis dan tidak normal.

Sedangkan untuk keberadaan homoseksual di Bandar Lampung informan kurang mengetahui keberadaan para homoseksual tersebut tetapi informan pernah mendengar informasi bahwa homoseksual ada di Bandar lampung. Untuk ciri-ciri dari homoseksual tersebut informan hanya menebak-nebak bahwa homoseksual cendrung berpenampilan nyentrik. Dan biasanya untuk laki-laki bertingkah sepert perempuan dan sebaliknya untuk perempuan bertingkah seperti laki-laki atautomboy.

Informan berpendapat bahwa setiap kejadian pasti ada penyebab, begitu juga homoseksual. Informan berpendapat bahwa penyebab terjadinya seseorang menjadi homoseksual disebabkan karena kurang adanya pendekatan diri terhadap nilai-nilai agama dan mungkin saja tekanan dari lingkungan sekitarnya. Informan mengatakan:

“Kemungkinan seseorang menjadi homoseksual orang tersebut kurang mendalami yang namanya nilai2 kaidah agamanya,juga bisa di sebabkan karena pemberian cap atau pelebelan oleh masyarakat sekitar. Bisa juga karena ada yang memberi contoh tentang hal tersebut,shingga individu itu meniru prilaku yang menyimpang. Tapi ada juga kasus yang karena paksaan dari pihak lain”.

(41)

manusia pada hakikatnya diciptakan secara berpasang-pasangan. Dengan pendapatnya tersebut informan juga tidak mau terlalu dekat dengan para homoseksual karena ia memiliki ketakutan jika homoseksual tersebut akan menular ke dirinya.

Disinggung soal perasaan informan apabila berinteraksi langsung dengan homoseksual, ia langsung bereaksi dan langsung berucap takut. Informan mengatakan:

“Sebenarnya saya takut kalau mesti berinteraksi dengan homoseksual. Tapi mungkin saya akan bersikap biasa saja dan menyembunyikan rasa ketakutan tersebut untuk menghargainya”.

(42)

2. Kelompok Idealis Realistis

Kelompok ini juga aktif diberbagai kelompok diskusi atau lembaga swadaya masyarakat. Kelompok ini banyak menggagas ide-ide perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelompok ini cenderung kompromisitis dan kooperatif serta tidak terang-terangan menentang pemerintah dan tetap berusaha mencari jalan di tengah kesumpekan iklim politik. Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok idealis realistis adalah Bayu (informan kelima). Hal tersebut karena informan cendrung memiliki ide-ide yang baik untuk perubahan. Berikut hasil wawancaranya:

b. Bayu: Informan ke-5 (kelima)

Informan kelima dalam penelitian ini adalah Bayu (bukan nama sebenarnya) mahasiswa jurusan Sosiologi Fisip Unila angkatan 2006. Informan menjadi mahasiswa Fisip Unila melalui jalur SPMB. Pada lingkungan sosial Fisip Unila, Bayu terlihat tidak aktif dalam kegiatan berorganisasi namun di luar kampus informan sering mengikuti seminar-seminar dan lomba debat.

(43)

menurutnya ada juga orang yang berpenampilan seperti orang normal pada umumnya. Jadi mungkin bisa dilihat dari cara bicaranya tambahnya.

Sikap biasa saja yang diambil oleh Bayu menunjukan toleransi yang tinggi terhadap sesama manusia. Karena menurutnya setiap manusia mempunyai hak masing-masing untuk menjalankan hidupnya dan mungkin saja mereka mengambil jalan tersebut bukan keinginan mereka. Karena bisa saja banyak penyebab yang menjadikan mereka memilih hidupnya sebagi homoseksual. Diman Bayu berpendapat faktor lingkungn mempunyai peran yang sangat besar penyebab seseorang memilih hidupnya menjadi homoseksual. Ia berpendapat:

“Gue fikir faktor lingkungan punya peranan penting terjadinya seseorang menjadi homoseksual. Faktor lingkungan yang cenderung bebas diantara masyarakat akan memberikan dorongan seksual yang besar kepada individual untuk melakukan kegiatan seksual. Kegiatan seksual yang udah pernah dilakukan akan menjadikan pengalaman kepada individu untuk mencoba melakukannya kembali. Apabila kegiatan seksual ini dilakukan secara negatif, maka akan memberikan dampak psikologis terhadap perilaku seksual. Dampak dari psikologis yang negatif bisa menyebabkan individu menjadi homoseksual”.

(44)

Walaupun demikian informan mengambil sikap yang positif apabila teman atau saudaranya ada yang mnjalani kehidupan sebagai homoseksual. Informan tetap menganggap mereka ada dan tetap berteman tetapi informan tetap menjaga dirinya agar tidak terpengaruh untuk masuk kedalamya. Ia mengatakan:

“Gue sih tetap bertemen biasa aja, yang terpenting gue bisa memagari diri untuk menghindari kondisi-kondisi yang memungkinkan hal yang tidak diinginkan terjadi. Nggak perlu dijauhin karena mereka nantinya merasa nggak diterima dan terasing di lingkungan atau bahkan keluarganya sendiri. Toh mereka juga manusia biasa seperti kita yang butuh diterima oleh lingkungannya, iya khaan????”

Informan berharap untuk semua manusia yang memilih jalan hidupnya untuk menjadi homoseksual segeralah bertaubat. Karena menurutnya hubungan jenis seperti itu tidaklah lazim dilakukan dan dari cara pandang agama pun. Dan campur tangan orang-orang sekitar pun dapat menjadikan motivasi dan semangat untuk mereka. Informan menambahkan campur tangan pemerintah pun sangat penting dalam masalah sosial seperti ini guna keberlangsungan homoseksual kedepanya.

3. Kelompok Oppurtunis

Berbeda dengan kedua kelompok di atas, kelompok ini cenderung untuk mendukung program-program pemerintah dan berpihak pada pemerintahan (termasuk kebjikan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat). Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

(45)

termaksud kebijakan-kebijakan yang ada. Baik kebijakan dari kampus maupun kebijakan pemerintah. Berikut hasil wawancaranya:

c. Arini: Informan ke-7 (ketujuh)

Informan ketujuh dalam penelitian ini adalah Arini (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswa D3 jurusan PusDok Info angkatan 2008. Informan tergabung dalam anggota HMPD Pusdok Info dan sebagai mahasiswa aktif dalam perkuliahan.

Arini berpendapat bahwa homoseksual adalah seseorang yang memiliki perasaan yang mendalam terhadap sesama jenisnya. Informan beranggapan bahwa mungkin hal tersebut terjadi karena pengalaman kehidupan seseorang yang terserap sepanjang masa pertumbuhan jiwa seseorang sehingga bisa membentuk karakter dan membentuk orientasi seks kearah homoseksual.

(46)

apabila teman atau kerabatnya memilih hidup sebagai homoseksual. Ia mengatakan:

“Saya rasa tidak untuk dikucilkan karena apa pun pilihan mereka toh hak mereka sebagai manusia. Kita sebagai teman mungkin hanya bias memberikan masukan atau saran. Diterima atau tidaknya saran kita kembali lagi ke diri masing-masing, karena toh dia sendiri yang menjalankannya bukan saya”.

Informan memiliki harapan kepada mereka yang memilih hidupnya sebagai homoseksual untuk dapat segera berubah. Karena pada hakikatnya manusia seharusnya berpasangan dengan lawan jenis. Dan kepada pemerintah pula informan berharap agar melakukan tindakan burapa sosialisasi terhadap masalah ini. Karena menurutnya peran pemerintah sangatlah penting guna ketegasan bagi para homoseksual. Mungkin kejelasan hukum seperti di Negara-negara lain. Rasa takut yang pertama kali muncul apabila informan harus berinteraksi langsung dengan homoseksual. Ia mengatakan:

“Takut mungkin itu yang ada dipikiran saya pertama kali kalau saya berinteraksi dengan mereka. Karena yang saya tahu dengan kita bergaul dengan mereka kita bisa saja seperti mereka. Mungkin hal ini juga akan berdampak pada lingkungannya yang akan takut berinteraksi denagn dia. Tetapi mungkin saya akan menyembunyikan rasa takut tersebut untuk dapat menghargai mereka”.

(47)

d. Budi: Informan ke-8 (kedelapan)

Informan kedelapan dalam penelitian ini adalah Budi (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswa D3 jurusan APS angkatan 2007. Informan mengikuti perkuliahan seperti biasanya karena ia sendiri tidak tergabung dalam organisasi yang ada di Fisip Unila namun hanya sebagai anggota HMPD APS.

Budi menjelaskan yang ia ketahui tentang homoseksual. Menurutnya homoseksual adalah hubungan kelamin yang dilakukan oleh sesama jenis. Baik itu sesama laki-laki ataupun sesama perempuan. Ia menambahkan pada umunya penampilan pria homoseksual biasanya lebih macho dari pria kebanyakan. Ia mengatakan:

“Yang saya tahu penampilan pria homo biasanya malah lebih keren dan macho ketimbang pria biasa pada umumnya. Terus biasanya di telinga kiri or kanan pake anting anting. saya lupa yg kiri ato yg kanan. Pokoknya salah satunya”.

Menurutnya juga homoseksual terjadi karena adanya salah asuh dari orang tua, lingkungan sekitar dan kebiasaan atau kekecewaan yang mendalam juga bisa menjadi salah satu pemicu seseorang menjadi homoseksual. Informan menyebutkan apabila homoseksual tersebut merupakan takdir dari Tuhan, manusia tidak bisa berbuat apa-apa.

(48)

Sedangkan sikap yang informan ambil apabila teman atau keluarganya adalah homoseksual, ia tetap memilih sikap untuk menjadi teman yang baik dan tidak menjauhinya. Karena bagaimanpun juga tidak seorangpun menginginkan menjadi homoseksual.

Disini dapat diliahat dengan jelas bahwa sikap informan biasa saja terhadap homoseksual. Ia beranggapan bahwa hal tersebut merupakan dunia merka masing-masing yang tidak seharusnya kita usik. Karena pada dasarnya manusia memiliki kehidupannya masing-masing. Ia mengatakan:

“Ya silahkan aja kalau itu dunia mereka, asalkan ada batas-batas hak orang lain yang harus dihormati juga. Dikatakan penyimpangan, emang iya menurutku... tapi bila menurut mereka itu normal ya sah-sah aja. Inilah dunia, nggak ada yang sempurna, banyak aneh-anehnya”.

Budi berharap kepada homoseksual untuk dapat segera berubah. Karena menurutnya pada hakikatnya manusia diciptakan secara berpasang-pasangan dengan lawan jenis. Dan untuk pemerintah seharusnya melakukan tindakan sosialisasi mengenai bahaya homoseksual kepada masyarakat dari segala lapisan. Menurutnya pemerintah tidak terlalu memikirkan maslah seperti ini.

4. Kelompok Profesional

(49)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok Profesional adalah Bunga (informan pertama), Putra (informan ke-3) dan Vera (informan ke-6). Hal tersebut dikarenakan ketiga informan merupakan mahasiswa yang focus terhadap perkuliahannya dan disamping itu ketiga informan telah memiliki pekerjaan yang tetap. Berikut hasil wawancaranya:

e. Bunga: Informan ke-1 (pertama)

Informan pertama dalam penelitian ini bernama Bunga (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswi reguler jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2006 melalui jalur SPMB. Ia menjalani perkuliahan seperti biasanya dan mempunyai kegiatan di luar perkuliahannya sebagai pengajar di Palm Kids. Informan pertama ini mengetahui tentang keberadaan homoseksual yang ada di Bandar Lampung karena ada beberapa teman wanitanya yang memilih kehidupan seksual sebagai lesbi. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa informan dapat berbagi informasi dari teman-temannya tersebut tentang persepsi dan sikap yang dia ambil selaku mahasiswa Fisip Unila terhadap homoseksual yang ada di Bandar Lampung.

(50)

merupakan lesbi. Walaupun informan mengetahui keberadaan homoseksual tersebut di Bandar Lampung tetapi informan tidak mengetahui secara detail aktifitas mereka secara jelas.

Ditanya mengenai ciri-ciri dari homoseksual tersebut informan mengambarkanya denagan jelas bahwa para homoseksual cendrung mendekati sesama jenisnya dengan cara yang berbeda atau spesial. Menurutnya:

“yang saya tahu tentang ciri-ciri homoseksual mereka sering mendekati teman-temannya yang sesama jenis dan bertingkah laku tidak biasanya. Ini terjadi dengan teman saya penyuka sesama jenis. Dia selalu mendekati teman-teman wanita saya yang cantik-cantik dan selalu bersikap terlalu perhatian layaknya seorang pria yang mendekati seorang wanita”.

(51)

Dengan adanya teman-teman informan yang memilih hidupnya sebagai lesbi informan memilih sikap kepada teman-temannya untuk tidak terlihat menjaga jarak dan tetap bersikap biasa saja terhadap teman-temannya walaupun sebenarnya informan tetap berjaga-jaga dan tidak perlu terlalu dekat dengan mereka. Karena informan mengetahui faktor lingkungan berpengaruh besar terhadap timbulnya homoseksual. Jadi informan selaku temanya tetap berteman sewajarnya saja.

Walaupun informan memilih sikap untuk tetap berteman kepada teman-temannya yang memilih hidupnya sebagai lesbi tapi ketika informan berinteraksi langsung dengan mereka sebenarnya ia merasa geli terhadap teman-temannya tersebut. ada rasa takut dan was-was. Tetapi bagaimanapun ia tetap menghargai pilihan hidup mereka dan tetap bersikap tidak mengucilkan mereka. Yang saya harapkan dari mereka agar mereka bisa berubah dan menjadi normal kembali. Menurutnya:

“ Harapan saya terhadap homoseksual semoga mereka bisa berubah normal kembali menyukai lawan jenis karena memang pada hakikatnya kita diciptakan berpasang-pasangann dengan lawan jenis kita. Harapan saya juga kepada pemerintah harusnya memperhatikan masalah homoseksual yang ada di Indonesia pada umumnya. Misalnya saja memberikan sosialisasi/ penyuluhan sedini mungkin tentang homoseksual agar bisa mengantisipasi makin tingginya tingkat homoseksual. Dan untuk masyarakat sekitar homoseksual saya rasa harus bersikap menerima mereka sehingga mereka kaum homoseksual tidak merasa terasingkan atau tidak merasa di diskriminasikan”.

(52)

teman-teman nya memilih hidup mereka sebagai lesbi. Walaupun demikian informan memilih untuk tetap bersikap sebagaimana mestinya untuk tetap menjalin pertemanan dengan mereka.

f. Putra: Informan ke-3 (ketiga)

Informan ketiga pada penelitian ini bernama Putra (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswa non-reguler Jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2006. Informan tidak terlalu aktif dalam mengikuti organisasi di lingkungan Fisip Unila. Selain kuliah saat ini ia terdaftar sebagai pegawai Bank BRI syariah. Latar belakang kegiatan Putra yang sudah terjun dalam dunia kerja saat masih berkuliah membuat ia banyak berinteraksi dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya. Dengan begitu diharapkan informan dapat membagikan pengalamannya untuk mendukung penelitian ini.

(53)

laki-laki yang bertingkah laku atau berpenampilan seperti perempuan. Karena banyak sekali sekarang ini laki-laki gemulai yang berkeliaran.

Informan beranggapan bahwa penyebab dari seseorang memilih hidupnya sebagai homoseksual disebabkan karena kesalahan dari orang tua atau keluarganya. Menurut Putra:

“Menurutsaya sih bisa jadi penyebab seseorang menjadi homoseksual karena salahnya didikan orang tua, bisa aja ada dendam sama perilaku salah satu orangtuanya sehingga dia tidak bisa memaafkan orangtuanya tersebut (dia tidak akan normal klo belum memaafkan orang tuanya), pernah dilecehkan oleh salah satu anggota keluarga atau teman, pernah patah hati, lingkup pergaulannya, sisi psikologinya. Kasus seperti ini sering terjadi dan banyak diberitakan di media. Kaya kasus Ryan dari Jombang mungkin itu salah satunya”.

Untuk menyikapi homoseksual informan mengambil sikap biasa saja. Karena menurutnya apapun keputusan yang mereka ambil untuk menjalani hidup mereka sebagai homoseksual itu merupakan hak mereka. Tetapi informan mengaku akan merasa sedikit canggung dan takut apabila tahu orang yang sedang berinteraksi dengannya adanya homoseksual. Tetapi selagi tidak menimbulkan dampak yang negatif bagi dirinya, ia tetap akan biasa saja. Tetapi mungkin saja mereka akan bisa berdampak negatif bagi masyarakat atau orang-orang yang mereka sukai. Misalnya saja remaja yang sedang labil.

“Jangan panik” adalah langkah pertama yang diambil oleh informan apabila

disekitarnya ada homoseksual, misalnya teman, kerabat atau saudara. Menurutnya:

(54)

itu Gay atau lesbian,buat dia percaya untuk bisa curhat atau beri ia informasi ke tempat atau sumber informasi yang dapat dipercaya, karena kalo saya sendiri kan belum well informed ya dalam hal seperti ini. Hal itu agar mudah dibawa atau diajak ke psikolog atau psikiater kalo mereka merasa tersiksa dengan keadaannya tersebut, karena hal ini terjadi bukan atas kemauan mereka kecuali buat mereka yang salah gaul atau menganut budaya alternatif, itu tuh nggak penting jenis kelamin yang penting kasih sayangnya”.

Informan cukup prihatin dengan keadaan seperti ini. Ia berharap mereka yang memilih hidupnya sebagai homoseksual dapat kembali kejalan yang benar. Walaupun mungkin sebagian dari mereka bahagia akan pilihan hidupnya sebagai homoseksual tetapi ia rasa hal tersebut merupakan penyimpangan. Informan menegaskan hukum di Indonesia tentang homoseksual belum jelas jadi ia berharap pemerintah juga sebaiknya bertindak tegas terhadap masalah ini agar mereka dapat bertindak dan masyarakat yang ada dilingkungan mereka tidak menghakimi mereka secara moral.

g. Vera: Informan ke-6 (keenam)

(55)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Vera mengenai homoseksual ia mengetahui secara umum tenang homoseksual tersebut. Menurutnya homoseksual adalah perilaku seksual dengan seseorang dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gendernya. Menurutnya seseorang bisa menjadi homoseksual mungkin karena faktor psikis seseorang yang terganggu. Bisa juga karena faktor dari keluarga seseorang yang tidak harmonis atau berantakan. Sehingga hal tersebut dapat mengganggu psikologis seseorang.

Vera juga berpendapat bahwa pada dasarnya ia mengetahui sedikit mengenai ciri-ciri dari homoseksual tersebut. Informan berpendapat bahwa ciri-ciri dari homoseksual biasanya berpenampilan rapih dan terlihat sedikit seperti perempuan. Ciri lainnya mereka cendrung suka tertarik pada aktivitas yang dilakukan oleh lawan jenisnya. Misalnya saja laki-laki yang senang melakukan aktivitas perempuan atau sebaliknya perempuan yang senang melakukan aktifitas yang sering dialakukan oleh laki-laki.

Walaupun inforaman adalah seorang penyiar radio yang sering berinteraksi dengan banyak orang tetapi apabila informan diharuskan untuk dapat berinteraksi langsung dengan homoseksual, informan merasa takut. Ia menyatakan:

(56)

nih gue bukannya takut malah bakal seneng baget karena ada yang buat gue selalu tertawahahaha”.

Walaupun demikian informan akan mengambil sikap untuk tetap biasa saja dan berteman seperti mana mestinya kepada teman-temannya yang apabila ada yang memilih hidupnya sebagai homoseksual. Informan merasa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dan mungkin menjadi homoseksual itu merupakan kekurangan dari mereka. Informan berpendapat tentang keberadaan homoseksual bahwa selagi mereka para homoseksual tidak menggangu hidupnya, ia akan tetap biasa saja kepada mereka yang memilih hidupnya sebagai homoseksual.

Vera memiliki harapan terhadap homoseksual untuk bisa belajar mencintai lawan jenisnya agar menjadi normal kembali. Ia mengatakan:

“Gue sih berharap mereka bisa belajar untuk mencintai lawan jenisnya, agar menjadi normal seperti laki-laki atau perempuan lain pada umumnya. Cara yang dilakukan bisa setahap demi setahap lah ya. Keterbukaan mereka kepada keluarga merupakan awal pemulihan bagi mereka sendiri dimana peranan orangtua sangat penting dalam upaya menjadikan mereka laki-laki atu perempuan yang normal. Kita juga sebagai sesama manusia hendaknya nggak memandang hina kepada mereka. Untuk pemerintah sendiri, mungkin mereka bisa berupaya melakukan sidak, dengan maksud mengarahkan mereka ke jalan yang benar serta melakukan penyuluhan-penyuluhan atau sosialisasi. Bagaimanapun juga mereka tetaplah seorang manusia, sama seperti kita.

(57)

makluk sosial. Vera juga menambahkan bahwa sikap yang kita ambil seharusnya benar-benar dilakukan jangan hanya semata dimulut saja.

5. Kelompok Glamour

Kelompok ini sama dengan kelompok profesional yang kurang berminat terhadap masalah-masalah ekonomi, sosial, politik, serta budaya bangsa. Perbedaanya kelompok ini memiliki kecendrungan rekratif, ciri yang menonjol adalah penampilan berbusana yang cenderungglamourdan gaya hidup yang sangat mengikuti mode. Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok glamour adalah Mery (informan ke-4). Hal tersebut dikarenakan informan berpenampilan mengikuti trent fasion zaman sekarang dan gaya hidup yang cendrung glamour. Dunia model yang membesarkannya menjadi pengaruh yang sangat besar dalam berpenampilannya. Berikut hasil wawancaranya:

h. Mery: Informan ke- 4 (keempat)

(58)

bertemu dengan orang-orang yang memilih hidupnya sebagai homoseksual mengingat Informan berada di ruang lingkup duniafasion.

Dari hasil wawancara dengan Mery mengenai homoseksual ternyata informan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang homoseksual. Ia berpendapat dengan gamblang bahwa homoseksual adalah hubungan cinta sesama jenis. Dan di Bandar Lampung sendiri informan mengetahui bahwa sebenarnya ada komunitas homoseksual tersebut. Menurutnya:

“Ya,.. gue mengetahui adanya homoseksual di Bandar Lampung. Karena saya sering berinteraksi dengan banyak orang di dunia fasion maka tak jarang mereka seperti tukang rias, koreografer, disainer dll sering menunjukan sikap yang aneh kalau mereka melihat pria tampan. Mereka juga pernah beberapa kali bercerita tentang kehidupan seksual yang mereka pilih kepada gue”.

(59)

Informan pernah membaca di salah satu majalah bahwa penyebab mereka menjadi homoseksual ada dua faktor. Menurutnya yang pertama adalah faktor bawaan atau gen, itu terjadi karena adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Hal ini dapat berpengaruh pada sifat dan perilaku seseorang. Jadi mungkin untuk laki-laki diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin seperti para penata rias, koreografer dan sebagainya yang selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Sebaliknya apabila terjadi pada seorang perempuan.

Karena seringnya informan berinteraksi dengan homoseksual, informan merasa nyaman dan senang terhadap mereka. Walaupun pada awalnya informan merasa sedikit takut dan geli. Ia mengatakan bahwa:

“Awalnya si mungkin gue sedikit takut dan geli kalau harus berinteraksi dengan homoseksual. Tapi lambat laun saya biasa aja terhadap mereka. Kebanyakan dari mereka bisa menghibur saya dengan becandaan mereka. Karena kebetulan gue sering berinteraksi dengan mereka mengingat gue bekerja sebagai model pula jadi banyak tukang rias yang homoseksual”.

(60)

Informan pun memiliki harapan yang sangat besar kepada para homoseksual, pemerintah dan lingkungan sekitarnya. Informan menghargai mereka sebagai manusia yang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing. Namun Ia tidak mendukung perilaku yang mereka lakukan dimana dari awal Tuhan menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan, antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada sesama laki-laki atau sesama perempuan. Informan berharap, mereka lebih bisa untuk mengendalikan diri dan bisa menerima apa yang sudah menjadi “ketetapan semula” dari Tuhan. Pemerintah juga harus

bisa mengambil ketegasan akan masalah ini dan bekerjasama dengan berbagai lembaga-lembaga sosial yang bisa membantu mengatasi masalah ini, misalkan saja dengan memberikan rehabilitasi atau pendidikan sejak dini. Ataupun juga bisa memberikan penyuluhan-penyuluhan terhadap orang tua baru agar jangan sampai memberikan perlakuan kepada anak-anaknya yang mendukung ke arah perilaku homoseksual tambahnya.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian yang telah dilakukan menjawab hasil dari “Persepsi Mahasiswa Terhadap Homoseksual Di Bandar Lampung”. Dari hasil penelitian tersebut

(61)

dari homoseksual tersebut dimana para informan beranggapan bahwa homoseksual itu merupakan hubungan kelamin yang dilakukan oleh sesama jenis, baik sesama laki-laki atau perempuan. Hubungan tersebut lebih kehubungan seksual dan emosional seseorang sehingga memiliki rasa memiliki yang sangat besar. kemungkinan penyebab homoseksual dalah; Pertama, faktor biologis yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua faktor psikodinamik yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memperlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Homoseksual sendirin sebenarnya ada di sekitar kita tetapi tidak terlihat oleh kita manusia yang heteroseksual secara kasat mata. Karena mereka memiliki ciri-ciri tersendiri seperti dan hanya sesama homoseksual yang dapat memastikan seseorang itu homo atau tidak. Dalam hal ini homo terbagi menjadi dua yaitu gay untuk laki-laki dan lesbi untuk perempuan. Gay pada umumnya suka pakai baju ketat, menyukai parfum yang mencolok dan aksesoris yang ramai. Apabila yang lesbi, ciri yang mudah ditebak adalah mereka suka berpenampilan tomboy, namun ada lesbi yang sangat feminim pula.

(62)

sekitar, budaya dan juga agama. Dengan begitu pengetahuan para informan terhadap adanya homoseksual di Bandar Lampung sangat beragam. Hal tersebut dikarenakan beberapa dari informan mengetahui adanya homoseksual dari orang-orang sekitarnya yang memilih hidupnya sebagai homoseksual, tetapi beberapa dari informan pula tabu akan keberadaan homoseksual di Bandar Lampung. Karena di lingkungan mereka tidak ada yang memilih hidupnya sebagai homoseksual. Hal itu menunjukan bahwa sebagian dari mahasiswa Fisip Unila belum cukup mengetahui keberadaan dari homoseksual di Bandar Lampung.

(63)

tersebut mereka mengambil garis besar bahwa kita harus saling menghargai satu sama lain karena kita adalah makluk sosial. Karena bagaimanpun juga seseorang homoseksual adalah orang yang membutuhkan tempat di lingkungan masyarakat sehingga mereka merasa tidak dikucilkan.

Hal ini sesuai dengan teori persepsi dari Cohen (Bungin, Burhan. 2008:261) dikemukakan bahwa persepsi didefinisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai representasi dari objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan tentang apa yang dapat di tangkap oleh indra kita. Dimana sensasi yang ditimbulkan oleh homoseksual menimbulkan pengetahuan dan sikap yang diambil oleh mahasiswa FISIP Unila.

Persepsi dalam penelitian ini adalah suatu proses dan penerimaan terhadap objek berdasarkan pengetahuan dan pengalaman (kognitif) yang di dalamnya menyangkut tanggapan kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek tersebut yang pada akhirnya berpengaruh terhadap predisposisi seseorang untuk bersikap senang atau tidak senang (afektif) yang merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang dipersepsikan tentang suatu objek tersebut yang mengarahkan seseorang untuk bertindak atau bertingkah laku.

(64)
(65)

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini mengambil informan sebanyak 8 orang mahasiswa yang berada di jurusan yang berbeda-beda dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang mempunyai persepsi dan sikap yang berbeda-beda terhadap adanya homoseksual di Bandar Lampung.

Setelah diadakannya penelitian terhadap 8 mahasiswa tersebut, dalam hal ini Persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar Lampung, berikut ini akan digambarkan hasil penelitian yang menunjukan profil informan kemudian pembahasan, mengenai persepsi mahasiswa terhadap homoseksual di Bandar lampung.

A. Profil Informan

(66)

akan digambarkan profil para informan yang diwawancarai tentang “Persepsi

[image:66.595.116.520.181.468.2]

Mahasiswa TerhadapHomoseksual di Bandar Lampung”.

Tabel 1. Profil Informan N o. Nama (bukan nama sebenarnmya) Kode Informan

Angkatan Jurusan Tanggal

Wawancara

1. Bunga Informan 1 2006 Ilmu

Komunikasi

20 September 2010

2. Rama Informan 2 2007 Administrasi Bisnis

20 September 2010

3. Putra Informan 3 2006 Ilmu

Pemerintahan

20 September 2010

4. Mery Informan 4 2007 Administrasi Negara

21 September 2010

5. Bayu Informan 5 2006 Sosiologi 22 September 2010

6. Vera Informan 6 2007 HUMAS 22 September

2010

7. Arini Informan 7 2008 Pusdok Info 23 September 2010

8. Budi Informan 8 2008 APS 23 September

2010 Sumber: Data Primer tahun 2010

Dari kedelapan informan yakni mahasiswa FISIP Unila dengan jurusan dan latar belakang sosial yang berbeda-beda maka berikut pengelompokan masing-masing informan berdasarkan klasifikasi jenis mahasiswa menurut Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141):

1. Kelompok Idealis Konfroniatif

(67)

Kelompok ini bersikap menolak posisi pemerintah karena mereka berkeyakinan bahwa pemerintah yang berkuasa saat itu tidak sesuai dengan norma, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip demokrasi keadilan dan hak asasi manusia. Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok idealis konfroniatif adalah Rama (informan ke-2). Hal tersebut dikarenakan informan aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Selain itu informan juga cukup aktif dalam menyuarakan permasalahan-permasalahan yang bersifat pro dan kontra. Berikut hasil wawancaranya:

a. Rama: Informan ke-2 (kedua)

Informan kedua dalam penelitian ini bernama Rama (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswi reguler jurusan Administrasi Bisnis angkatan 2007 melalui jalur SPMB. Ia menjalani perkuliahan seperti biasanya dengan mengikuti kegiatan berorganisasi yang ada di Fisip Unila yaitu HMJ Administrasi Bisnis anggota bidang enterplanner 2009-2010, selain itu ia juga menjadi anggota yang bergerak dalam keagamaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandar Lampung komisaris sosial politik dari tahun 2007 sampai sekarang dan menjadi anggota bidang Sumber Daya Manusia (SDM) BEM Fisip 2008-2009. Dengan pengalaman berorganisasi yang cukup diharapkan informan dapat kritis dalam menanggapi masalah homoseksual di Bandar Lampung.

(68)

tersebut. Menurut informan homoseksual merupakan perbuatan asusila yang sanagt terkutuk dan menunjukan bahwa pelaku dari homoseksual tersebut adalah seorang yang mengalami penyimpangan psikologis dan tidak normal.

Sedangkan untuk keberadaan homoseksual di Bandar Lampung informan kurang mengetahui keberadaan para homoseksual tersebut tetapi informan pernah mendengar informasi bahwa homoseksual ada di Bandar lampung. Untuk ciri-ciri dari homoseksual tersebut informan hanya menebak-nebak bahwa homoseksual cendrung berpenampilan nyentrik. Dan biasanya untuk laki-laki bertingkah sepert perempuan dan sebaliknya untuk perempuan bertingkah seperti laki-laki atautomboy.

Informan berpendapat bahwa setiap kejadian pasti ada penyebab, begitu juga homoseksual. Informan berpendapat bahwa penyebab terjadinya seseorang menjadi homoseksual disebabkan karena kurang adanya pendekatan diri terhadap nilai-nilai agama dan mungkin saja tekanan dari lingkungan sekitarnya. Informan mengatakan:

“Kemungkinan seseorang menjadi homoseksual orang tersebut kurang mendalami yang namanya nilai2 kaidah agamanya,juga bisa di sebabkan karena pemberian cap atau pelebelan oleh masyarakat sekitar. Bisa juga karena ada yang memberi contoh tentang hal tersebut,shingga individu itu meniru prilaku yang menyimpang. Tapi ada juga kasus yang karena paksaan dari pihak lain”.

(69)

manusia pada hakikatnya diciptakan secara berpasang-pasangan. Dengan pendapatnya tersebut informan juga tidak mau terlalu dekat dengan para homoseksual karena ia memiliki ketakutan jika homoseksual tersebut akan menular ke dirinya.

Disinggung soal perasaan informan apabila berinteraksi langsung dengan homoseksual, ia langsung bereaksi dan langsung berucap takut. Informan mengatakan:

“Sebenarnya saya takut kalau mesti berinteraksi dengan homoseksual. Tapi mungkin saya akan bersikap biasa saja dan menyembunyikan rasa ketakutan tersebut untuk menghargainya”.

(70)

2. Kelompok Idealis Realistis

Kelompok ini juga aktif diberbagai kelompok diskusi atau lembaga swadaya masyarakat. Kelompok ini banyak menggagas ide-ide perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelompok ini cenderung kompromisitis dan kooperatif serta tidak terang-terangan menentang pemerintah dan tetap berusaha mencari jalan di tengah kesumpekan iklim politik. Adnan dan Pradiansyah (1999:131-141)

Informan yang masuk dalam klasifikasi kelompok idealis realistis adalah Bayu (informan kelima). Hal tersebut karena informan cendrung memiliki ide-ide yang baik untuk perubahan. Berikut hasil wawancaranya:

b. Bayu: Informan ke-5 (kelima)

Informan kelima dalam penelitian ini adalah Bayu (bukan nama sebenarnya) mahasiswa jurusan Sosiologi Fisip Unila angkatan 2006. Informan menjadi mahasiswa Fisip Unila melalui jalur SPMB. Pada lingkungan sosial Fisip Unila, Bayu terlihat tidak aktif dalam kegiatan berorganisasi namun di luar kampus informan sering mengikuti seminar-seminar dan lomba debat.

(71)

menurutnya ada juga orang yang berpenampilan seperti orang normal pada umumnya. Jadi mungkin bisa dilihat dari cara bicaranya tambahnya.

Sikap biasa saja yang diambil oleh Bayu menunjukan toleransi yang tinggi terhadap sesama manusia. Karena menurutnya setiap manusia mempunyai hak masing-masing untuk menjalankan hidupnya dan mungkin saja mereka mengambil jalan tersebut bukan keinginan mereka. Karena bisa saja banyak penyebab yang menjadikan mereka memilih hidupnya sebagi homoseksual. Diman Bayu berpendapat faktor lingkungn mempunyai peran yang sangat besar penyebab seseorang memilih hidupnya menjadi homoseksual. Ia berpendapat:

“Gue fikir faktor lingkungan punya peranan penting terjadinya seseorang menjadi homoseksual. Faktor lingkungan yang cenderung bebas diantara masyarakat akan memberikan dorongan seksual yang besar kepada individual untuk melakukan kegiatan seksual. Kegiatan seksual yang udah pernah dilakukan akan menjadikan pengalaman kepada individu untuk me

Gambar

Gambar 1. Variabel kunci yang mempengaruhi perilaku individu
Tabel 1.Profil Informan
Tabel 1.Profil Informan

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan merasakan sesuatu inilah yang membuatnya menjadi suatu objek bagi seseorang; persepsi dan objek tidak dapat dipisahkan (berhubungan secara dialektis) dengan

Hasil penelitian menunjukkan persepsi aparatur pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur menganggap bahwa secara fungsional website memberikan kemudahan dan

Faktor-faktor penyebab rendahnya pendapatan industri kecil di Bandarlampung yaitu tingkat pendidikan formal yang rendah, pengalaman berusaha yang belum matang, dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor internal dan eksternal persepsi seperti pendidikan non formal tergolong tinggi, penerimaan tergolong sangat rendah,

xvii ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Pentingnya Literasi Keuangan yang di lihat dari Pengetahuan Dasar Keuangan, Sikap Keuangan, dan Perilaku Keuangan secara

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan variabel pengetahuan, persepsi kerentanan dan persepsi manfaat berhubungan cukup kuat dengan kunjungan Antenatal Care dan variabel persepsi

2Oktober 2018 |55 ANALISIS PERSEPSI DAN SIKAP APARATUR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TERHADAP WEBSITE SEBAGAI REPRESENTASI GOOD GOVERNANCE ANALYSIS OF PERCEPTION AND

Tidak semua informan masyarakat gunung terang menjadikan pengalaman yang sama dalam mengambil tindakan atau tanggapan untuk menonton tayanga mikrofon pelunas hutang, ada beberapa