0053
ANALISIS PENDAP.4TAN USAHATANI DAN PENIASARAN
KOMODITI JAI-IE
(Kasus di Desa Kalapa~iotiggal. Kecamntali Kalapa~itinggnl, Kabupateli Sukabunii, Propilisi Jawa Barat)
Olcl1 :
A H M A D .4SSARY
A07496127
,JI_IRUS/-\N
II,R,IU-ILRIU SOSIAL EKONOR'II PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
RINGKASAN
AEMAD ASSARY. Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Komoditi Jahe (Kasus di Desa Kalapanunggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat). Dibawah Bimbingan: 1. OTTO A.S BROTOSUNARYO; 2. TANTI NOVIANTI.
Jahe (Zingiber Oficinael) merupakan jenis rernpah-rempah yang sangat ramai
diperdagangkan beberapa tahun belakangan ini. Hai ini disebabkan ekspor jahe
terutama jahe besar terus meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia terdapat beberapa
sentra produksi jahe seperti Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Timur, Jawa Tengah
dan Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra produksi jahe
terbesar ke-2 di Jawa Barat setelah Majalengka.
Peluang untuk mengembangkan komoditi jahe sangat besar. Namun, dilihat
dari produksi dan produktivitas oleh petani masih belum optimal, karena berbagai
alasan salah satunya adalah cara pengusahaa*
!she
oleh petani masih bersifat Itradisional. Sistem pemasaran yang ada juga belum memberi keuntungan yang adil
kepada lembaga-lernbaga pemasaran yang terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk !
mengetahui bagaimana pendapatan usahatani jahb, rasio penerimaan dan pengeluaran
atau R/C, saluran pemasaran, pelaksanaan fi&$-fungsi pemasaran dan rnarjin
pemasaran.
Metode yang digunakan dalam penelit& ini adalah studi kasus. Pemilihan 1
desa ditentukan secara sengaja (Purposive), jeiis data yang digunakan merupakan I
data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan responden petani sebanyak 30
orang dengan batasan bahwa petani tersebut dengalami musim panen pada tahun I
penelitian. Jumlah pedagang yang dipilih ditentukan dengan cara mengikuti arus
komoditi jahe dari petani sampai konsumen. Responden pedagang terdiri dari 4
pedagang pengumpul desa, 3 pedagang pengumpul kecamatan dan 3 pedagang besar.
Hasil penelitian petani jahe di Desa Kalapanunggal menunjukkan bahwa
sebagian besar petani (73%) menanam jahe secara tumpang sari dengan tanaman
jagung dan kacang merah. Jenis jahe yang ditanam seluruhnya adalah varietas jahe
besar dan dipanen saat umur 8 - I0 bulan. Hasil analisis pendapatan diperoleh bahwa
nilai biaya tunai yang dikeluarkan petani untuk menanam jahe per hektar sebesar Rp
9.821.343. Sedangkan biaya tidak tunai adalah sebesar Rp 1.357.093, sehingga total
biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk menanam 1 hektar jahe adalah Rp
11.178.436. Hasil produksi diperoleh sebanyak 8.560 kg dan dijual dengan harga
rata-rata sebesar Rp 2.000lkg. Sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp
7.298.657, dar! pendapatan atas biaya total sebesar Rp 5.941.564. Hasil analisis R/C
diperoleh bahwa R/C atas biaya tunai sebesar 1,74 dan RIC atas biaya total sebesar
1,53.
Saluran pemasaran komoditi jahe di desa penelitian memiliki 3 saluran dalam
menyalurkan jahe dari petani sampai ke konsumen. Saluran 1, Petani - Pedagang
pengumpul desa - Pedagang besar - Eksportir. Saluran 2, Petani - Pedagang -
Pedagang besar - Ekspotir. Saluran 3, Petani - Pedagang pengumpul desa -
Pedagang pengumpul kecamatan - Bandar Pasar. Saluran-saluran tersebut meliputi
beberapa lembaga pemasaran yaitu petani, pedagang pengumpul desa, pedagang
Saluran yang paling banyak dipilih oleh petani adalah saluran I, dan saluran
111 (63%), yaitu saluran yang melalui pedagang pengumpul desa sebagai perantara.
Pedagang pengumpul desa akan melakukan penyortiran, jahe berkualitas yang baik
akan dijual ke pedagang besar, sisanya akan ditawarkan ke pedagang pengumpul
kecamatan.
Pada umumnya setiap iembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi
pemasaran yang sama seperti fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan,
fungsi fisik berupa pengangkutan dan menyimpanan dan fungsi fasilitas berupa
penanggung resiko dan sortasi.
Ma j i n pemasaran yang terbentuk didasarkan pada saluran yang ada. Saluran
I dan I1 memiliki marjin pemasaran yang sama besar yaitu Rp 1.494kg. Saluran I,
memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 1.4941kg atau 53,36% dari harga jual yang
terdiri dari marjin keuntungan sebesar Rp 994kg dan marjin biaya pemasaran Rp
500kg. Saluran I1 mempunyai marjin keuntungan sebesar Rp 1.014fkg dan marjin
biaya pemasaran Rp 4801kg. Saluran 111 majin pemasarannya adalah Rp 1.0941kg
yang terdiri dari majin biaya sebesar Rp 400lkg dan marjin keuntungan sebesar Rp
694kg.
Dari ketiga pedagang di atas, pedagang besar mengeluarkan biaya pemasaran
yang paling besar yaitu Rp 3001kg karena komponen biaya pengangkutan yang besar.
Pada saluran 2 petani mendapat keuntungan tambahan sebesar Rp 20/kg, ha1 ini
disebabkan menjual jahe ke pedagang besar harganya lebih tinggi dibandingkan
dengan menjual ke pedagang pengumpul desa sebanyak Rp 200kg. Tetapi petani
mendapatkan tambahan keuntungan sebesar Rp 20kg. Dari ketiga jalur pemasaran di
atas, jalur 2 adalah jalur yang paling efisien dibandingkan dengan jalur 1 dan 3. Pada
jalur 2 k r m e r slzure sebesar 78,57 persen
Dengan melihat hasil di atas, maka untuk meningkatkan produktivitas dan
keuntungan usahatani jahe, petani perlu mengurangi pemakaian pupuk yang
berlebihan, memilih jalur kmasaran yang paling efisien yaitu jalur 2 dan petani juga
perlu menggunakan bibit yang berkualitas. Untuk meningkatkan posisi tawar-
menawar petani, perlu ada keterlibatan peranan koperasi dalam jalur pemasaran, ha1
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN
KOMODITI JAFlE
(Kasus di Desa Kelapanunggal, Kecamatan Kelapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)
Oleh :
AHMAD ASSARY A07496127
SKRZPSI
Sebagai Salah Satu Syzrzt z~?tt~l< Memp~m!eh G!ar SARJANA PERTANIAN
Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini kami menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh :
Nama : Ahmad Assary
N ~ P : A07496127
Program Studi : Agribisnis
Judul : Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Komoditi Jahe (Kasus di Desa Kalapanunggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sajana Pertanian
pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
PERNYATAAN
DENGAN IN1 SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI IN1 BENAR-BENAR
HASIL KARYA SENDW YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI
KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN
Bogor, Febmari 2001
AHMAD
ASSARYRIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Phum Soai, Angiang - Vietnam pada tanggal 27
April 1972, putra pertama dari tujuh bersaudara pasangan orang tua Bapak Salayman
dan Ibu Mariyah.
Penulis menyelesaikan sekolah dasar di SD Negara " A Chau Phong dan lulus
pada tahun 1985, melanjutkan ke SMP (Secondary School) "A" Chau Phong dan
lulus pada tahun 1989. Pendidikan lanjutan atas (High School) di Thu Khoa Nghia -
Kota Madya Chau Doc pada dua tahun ajaran yaitu 89/90 dan 90191. Kemudian
melanjutkan kelas akhir SMA di Pre-University of Ho Chi Minh city dan lulus pada
tahun 1992.
Pada tahun yang sama penulis diterima di Fakultas Pertanian Universitas
Nasional Ho Chi Minh City. Pada tahun 94 dengan berbagai alasan penulis berhenti
kuliah untuk bekerja.
Berkat Anugrah Allah SWT penulis mendapat beasiswa dari Islamic
Development Bank (IDB) dan diterima di Institut Petanian Bogor pada tahun 1996,
pada program studi agribisnis jurusan ilmu-ilmu sosial ekonomi pertanian, fakultas
KATA PENGANTAR
Bismiiiahhirrahrnanirhahim
Segala puji hanyalah bagi Allah SWT, Zat yang telah melimpahkan berbagai
nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat Ilmu Pengetahuan. Shalawat dan salam
semoga terlimpah dan tercurah kepada Nabi dan Rasul akhr zaman, Muhammad
Saw, kepada Keluarga dan Sahabat-Nya, serta orang-orang yang mengikuti sunnah-
Nya sampai akhir zaman.
Tulisan ini merupakan suatu penelitian kasus yang dilakukan di Desa
Kalapanunggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang
berjudul "Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Komoditi Jahe". Penelitian
ini berusaha mengungkapkan bagaimana pendapatan usahatani dan saluran
pemasaran di lokasi penelitian.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi yang
berkepentingan dan memberi inspirasi pada peneliti lainnya untuk menelaah lebih
jauh tentang sistem usahatani dan pemasaran yang lebih baik.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Otto A.S Brotosuna~yo, dan Ibu Tanti Novianti, SP selaku
dosen Pembimbing skripsi atas segala kesabaran dan curah waktu, bimbingan,
arahan dan bantuannya selama penulisan.
2.
Ibu Ir. Anita Ristianingrum, MS yang telah bersedia menjadi moderator padasaat seminar hasil skripsi penulis.
3. Bapak Dr. Ir. Ma'mun Sarma, MS. MEc yang bersedia menjadi dosen penguji utama skripsi penulis.
4. Bapak Ir. Idqan Fahmi, MEc yang bersedia menjadi dosen penguji komdik.
5. Yah dan Mak, serta adik-adikku yang telah memberi kasih kayang, do'a dan semangatnya.
6 . Bapak Kepala Desa Kalapanunggal serta keluarganya telah banyak membantu
7. Kang Jamal, yang telah bersedia membantu dan menjadi translator selama
pengambilan data di lapangan.
8. Asep, teman seperjuangan dalam penelitian dan pembahas pada saat seminar.
9. Arnaliah, atas persahabatan dan perhatiannya serta bantuannya selama ini. 10. Bapak H. Yunus Dali beserta staf atas perhatian dan bantuan selaina ini. 11. Gofo, atas pinjaman komputer dan do'anya
12. Aysah, Mbak Nina, Widi, dan rekan-rekan di Prime Time atas bantuan dan
do'anya.
13. Daud, Sour, Soh, Thanh, dan teman-temanku yang di UGM, atas support dan
do'anya.
14. Agus, Arief, dan rekan-rekan AGB 33 atas persahabatan dan kebersamaan
selama ini.
15. Sokry, Ahmath, Saron, Claudius dan Teman-teman seperjuangan yang berasal
dari Cambodia dan Malaysia, atas support dan persahabatannya selama ini.
Bogor, Januari 200 1
DAFTAR IS1
DAFTAR IS1 ... ... .. . ...
. . .
... . . . ......
... . . . ..... .
.. . ... . . . ... ... .. . .. . ... ..DAFTAR TABEL.. .
...
... ... ..... .
... ... .... ..
... ... .. .... ...
... . . . ......
..DAFTAR LAMPIRAN ...
.
.
....
DAFTAR GAMB AR...
. ..
... ... ......
..
. ... ... ... ... ... ... ...... .
. . ... ... .1.1. Latar Beiakang ...
...
... . . . ... ......
..
. ... ... .. .
.. . ... . . . .. . ...1.2. Perumusan Masalah.. . .
. . .
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.. . .
. . .
..
. . .. . .
. . . .11. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Keragaan Budidaya Jahe.
2.2. Hasil Penelitian Sebelumnya.. . .
. . .
. . ...
111. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Pendapatan Usahatani ... ... ... ... ...
...
... ... ... ....3.2. Pemasaran . . .
. .
. . .. . .
. . .. . .
. ... ... ..3.2.1. Lembaga dan Saluran Pemasaran..
3.2.2. Fungsi-fungsi Pemasaran.. . .
. . . .
. . .3.2.3. Marjin Pemasaran . . .
1V. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian. .. . ..
... .
. . . .. . ..
. . . ... ... ... ..4.2. Metode Pengumpulan Data.. . . .
.
. .. . .
. . ..
. . ..
..
. . .4.4. Metode Analisis Data.. . ... . . .
...
. . .
... ... . . . .. . ... . . . ...
... ..Halaman
i
iv
4.4.1. Analisis Pendapatan Petani
...
264.4.2. Analisis R/C ... 27
4.4.3. Analisis Saluran Pemasaran ... 28
4.4.4. Analisis Marjin Pemasaran ... 28
V . GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Alam dan Geografis ... 31
5.2. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian ... 32
5.3. Sarana dan Prasarana ... 34
5.4. Lembaga Penunjang ... 34
5.5. Karateristik Petani Jahe di Desa Kalapanunggal ... 35
VI . HASIL ANALISIS PENDAPATAN USAIWTANI DAN PEMASARAN JAHE!
6.1. Analisis Pendapatan Usahatani
6.1.1. Keragaan Usahatani Jahe
... 6.1.1.1 Input Benih
6.1.1.2. Input Pupuk dan Obat-obatan ...
6.1.1.3. Penggunaan Tenaga Kerja ...
6.1.1.4. Penggunaan Alat-alat Pertanian ...
6.1.2. Hasil Analisis Pendapatan Usahatani ...
6.2. Analisis Pemasaran Jahe
.-'
6.2.1. Analisis Saluran Pemasaran
6.2.2. Analisis Lembaga dan Fungsi-fungsi Pemasaran ...
6.2.2.1. Petani ...
6.2.2.3. Pedagang Pengumpul Kecarnatan ...
6.2.2.4. Pedagang Besar
...
6.2.3. Analisis Margin Pemasaran ...
6.2.3.1. Jalur 1 ...
6.2.3.2. Jalur 2 ...
6.2.3.3. Jalur3 ...
V11 . KESLMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
...
7.2. Saran
...
DAFTAR PUSTAKA
...
DAFTAR TABEL
Teks Halaman
1
.
Perkembangan Ekspor Jahe Indonesia Dalam Berbagai Bentuk Tahun 90-99 ... 22
.
Perkembangan Ekspor Jahe Indonesia pada Semester I. 2000 ... 33 . Perkembangan Produksi Jahe di Indonesia, Tahun 1990-1999 ... 4
4 . Produksi clan Produktivitas Jahe Tahun 1997-1999 ... 6
5
.
Metode Perhitungan Pendapatan Usahatani Jahe 29 6.
Areal Desa Kalapanunggal Menurut Penggunaannya, Tahun 1999...
317 . Jumlah Penduduk Desa Kalapanunggal Menurut Golongan Umur ... 32
...
8.
Jumlah Penduduk Desa Kalapanunggal Menumt Tingkat Pendidikan 33 ... 9 . Jumlah Responden Usahatani Jahe Berdasarkan Kelompok Umur 35. .
... !O.
:i;iz!di Kcsp~ndcii ?ckni Jzhe 3e:dasarkan Tingka? Pendldlkzn 36 ... 11 . Nilai Input, Bibit dan Obat-obatan untuk Usahatani Jahe per Ha 40 ... 12.
Nilai Penysutan Peralatan Usahatani Jahe Per Ha Pada Lokasi Penelitian 42 13 . Analisis Pendapatan Usahatani Jahe di Desa Kalanunggal ... 4414 . Analisis Margin Pemasaran Jahe Desa Kalapanunggal ... 54
3
.
Penggunaan Pupuk Petani Contoh Per Hektar ... 644
.
Umur Petani Petani. Lahan Ditanam Jahe dan Pengalaman Penanaman Jahe ... 655 . Daftar Komoditas Unggulan Sub-sektor Perkebunan Kabupaten Sukabumi
...
666 . Luas Perkebunan Jahe Rakyat menurut Kecamatan Tahun 1995-1999 ... 67
7
.
Perincian Analisis Marjin Pemasaran ... 68DAFTAR GAMBAR
Teks Halaman
1 . Jalur Pemasaran Jahe di Daerah Sentra Produksi ... 12
2 . Pola Umum Saluran Pemasaran Produk-produk Pertanian di Indonesia ... 18
3 . Hubungan Antara Fungsi-Fungsi Pertama dan Turunan Terhadap Margn ... 22
4
.
Bagan Alur Pemikiran Penelitian ... 241.1 Latar Belakang
Sektor pertanian menempati posisi yang strateg dalam struktur -
perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian dianggap
mampu menyediakan pangan, menyediakan bahan baku industri, meningkatkan
penerimaan devisa, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan
masyarakat.
,,
Salah satu tanarnan yang banyak menghasilkan devisa bagi negara adalah
tanaman Jahe (Zingiber Oflnule), yang merupakan tanaman rempah-rempah yang
berpotensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi
Nilai ekonomi komoditi ini terletak pada akar tongkatnya yang disebut rimpang, yang
biasa dikonsumsi sebagai penghangat, bumbu dapur, penambah, rasa dan sebagai
bahan baku obat tradisional dan jamu.
Hasil produksi Jahe dapat dipasarkan dalam bentuk Jahe segar, Jahe kering,
Jahe yang diawetkan, minyak atsiri, dan oleoresin. Pemasaran Jahe Indonesia ke luar
negeri sebagian besar dalam bentuk kemasan Jahe segar, yang umumnya berasal dari
jenis Jahe besar. Rimpang tanaman ini menjadi komoditas ekspor yang sangat
penting, dsn telah diekspor ke berbagai negara seperti Jepang, negara-negara timur
tengah, Amerika, dan ~ r o ~ a ' . ,
Berdasarkan data dari BPS, perkembangan ekspor Jahe Indonesia dari tahun
1990 sampai tahun 1999 cenderung meningkat (Tabel. I), yaitu rata-rata sebesar 4,36
persen per tahun, dengan nilai ekspomya yang meningkat rata-rata 7,86 persen per
tahun. Sedangkan ekspor Jahe dalam bentuk olahan meningkat sangat besar yaitu
rata-rata 103,29 persen per tahun
Dengan perkembangan ekspor tersebut produksi dalam negeri juga ikut
meningkat dengan peningkatan rata-rata 5,36 persen tiap tahun (Tabel. 3). Khususnya
pada dua tahun terakhir ini, yaitu tahun 1998 dan 1999, produksi meningkat sangat
besar hampir mencapai 50 persen, ha1 ini disebabkan karena pada tahun-tahun
[image:19.599.94.511.355.596.2]tersebut pennintaan Jahe dari mancanegara sangat besar terutama Jahe besar
'.
1' ; ,,LTabel .1 Perkembangan Ekspor Jahe Indonesia Dalam Berbagai Bentuk Tahun 1990-1999
Sumber BPS, 2000
Ekspor Jahe Indonesia pada Semester I tahun 2000 ini juga meningkat sangat
besar setiap bulannya (Tabel 2). Misalnya pada Jahe segar peningkatannya rata-rata JAHE OLAHAN DAN LAIN-
LAIN
Volume
/
Perubah-1
FOB Value Tahun2 Widodo, "Pasar jahe gajah makin cerah, Komoditas, No. 17 Maret 2000
JAHE SEGAR
sebesar 9,58 persen dan pada bentuk olahan dan lain-lain peningkatan setiap bulan
rata-rata sebesar 10,98 persen.
Di Indonesia terdapat beberapa sentra produksi Jahe yaitu Sumatera Utara,
Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perusahaan Jahe di
propinsi Jawa Barat masih didominasi oleh perkebunan rakyat, hanya sebagian kecil
saja yang sudah diusahakan oleh pihak swasta (Seomarsono,l997). Propinsi Jawa
Barat memiliki beberapa sentra produksi, antara lain berada di Kabupaten Sukabumi
dan Majalengka,
,Kabupaten Sukabumi mempunyai lahan yang sangat potensial, agroklimat
yang sangat mendukung, juga surnberdaya manusia yang ada cukup untuk
I
.mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Selam ~tu, Sukabumi juga merupakan
daerah yang sangat strategis yang dapat memasok berbagai komoditas pertanian
termasuk Jahe ke pasar Jakarta dan kerperluan ekspor dibandingkan dengan wilayah
lain di Jawa Barat. Hal ini disebabkan karena jarak yang relatif dekat sehingga dapat
[image:20.605.52.526.530.719.2]menjamin kesegaran dan ongkos pengangkutan yang relatif murah.
Tabel. 2. Perkembangan Ekspor Jahe Indonesia Pada Semester I, 2000
Bulan
JAEE SEGAR
Volume
I
PerubahanI
FOB ValueJAHE OLAHAN DAN LAIN- LAIN
Menurut Dinas Perkebunan Sukabumi (Lampiran 5), Jahe termasuk salah satu
komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan selain teh, karet, cengkeh dan kelapa.
Sentra produksi Jahe di Kabupaten Sukabumi terdapat di beberapa kecamatan seperti
Kecamatan Lengkong, Jampang tengah, Kalapanunggal dan Sukaraja.
Kecamatan yang mengalami perkembangan areal luas lahan Jahe terbesar
terdapat di Kecamatan Kalapanunggal dengan laju peningkatan sebesar 368,7 persen
per tahun, dan Kecamatan Pelabuhan Ratu dengan perkembangan rata-rata
126,9ipersen per tahun. seperti terlihat pada Lampiran 6. Sebagian besar sentra
produksi Jahe di kecamatan tersebut berada di empat desa yaitu Desa Kalapanunggal,
Makasari, Palasari dan Kedununggal.
Tabel 3. Perkembangan Produksi Jahe di Indonesia, Tahun 1990 - 1999
I
TahunI
ProduksiI
Perubahan/
Pada Desa Kalapanunggal Jahe baru ditanam secara besar-besaran oleh petani
sekitar dua tahun yang lalu (1997), karena menerima bantuan dari Pemerintah daerah ( Ton ) ( % )
1990
Sumber BPS dan Ditjen Perkebunan, 2000
[image:21.595.168.439.394.600.2]Tk. 11 Sukabumi lewat program KUT untuk tanaman Jahe yang disalurkan melalui
Koperasi-Koperasi yang ada di desa tersebut.
Dari uraian di atas terlihat jelas terdapat peluang untuk mengembangkan
-
tanaman Jahe di Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini disebabkan oleh lahan yang
ada masih Luas, tenaga kerja yang mencukupi, iklim mendukung dan petani sudah
banyak mengenal tanaman ini.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan sebelumnya terlihat bahwa volumer ekspor, nilai
ekspor komoditi jahe baik dalam bentuk Jahe segar maupun olahan, dan tingkat
permintaan luar negeri cenderung meningkat. Keadaan ini memberi indikasi bahwa .-
peluang untuk mengembangkan komoditi jahe sangat potensial, dan akan menjadi
insentif bagi petani untuk menanam terus jahe.
Namun, kalau dilihat dari rata-rata produktivitas jahe yang telah dicapai oleh
petani sampai saat ini masih rendah dibandingkan dengan rata-rata tingkat nasional,
dapat dilihat pada Tabel 4. Rendahnya produktivitas tersebut antara lain disebabkan
karena cara pengusahaan petani masih bersifat tradisional. ~ Di antaranya masih banyak
petani yang menggunakan benih lokal yang kualitasnya kurang baik, pengolahan
tanah belum sempuma, dan pemupukan belum sesuai dengan anjuran.
Pertumbuhan hasil produksi jahe yang tinggi dipengaruhi juga oleh pemasaran
yang baik. Pemasaran merupakan salah satu unsur penting dalam sistem komoditas
dan merupakan media bagi perkembangan usahatani jahe. Dengan adanya kondisi
untuk rneningkatkan produksi rnelalui peningkatan produktivitas dan intensitas
[image:23.602.90.518.180.244.2]pertanaman jahe.
Tabel 4. Produksi dan Produktivitas Jahe Tahun 1997-1999
Aspek pemasaran semakin lebih banyak ditentukan oleh peranan lembaga
pemasaran. Beberapa lernbaga pemasaran yang berperan tersebut diantaranya adalah
produsen dalarn ha1 ini petani, Pedagang pengumpul, Pedagang besar dan pengecer.
Lembaga pemasaran yang berfungsi sebagai penghubung akan menentukan
mekanisme pasar dan rnembentuk jalur distribusi atau saluran pemasaran.
Dari permasalahan yang diuraikan di atas dapat dirumuskan beberapa masalah
penelitian sebagai berikut :
I. Bagairnana pendapatan usahatani Jahe yang te jadi di daerah penelitian ?
2. Bagaimanakah saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang
dilakukan setiap lernbaga pemasaran yang terlibat ?
3. Berapakah marjin pernasaran Jahe yang diterima masing-masing lembaga pernasaran yang terlibat ?
Tahun 1997 1998 1999
Sumber BPS, 2000
Luas Lahan (Ha) 3.962 4.996 7.772
Produksi (Ton) 81.176 92.968 120.851
Produktivitas (Tonlha)' 20
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan perurnusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
/ ; 1. Menganalisis pendapatan usahatani Jahe di daerah penelitian.
2. Menganalisis pola saluran dan kelembagaan pemasaran yang terjadi.
3. Menganalisis sebaran marjin pemasaran komoditi Jahe pada setiap lembaga pemasaran.
Sehubungan dengan tujuan yang ditetapkan maka penelitian ini diharapkan
dapat berguna sebagai :
1. Bahan informasi bagi petani Jahe, dan pemerintah daerah sebagai
bahan pertimhangan dalarn mengambil keputusan.
2. Sebagai bahan masukan b a ~ penelitian berikutnya, khususnya yang
11.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Keragaan Budidaya Jahe
Jahe (Zingiber Of$cinale) termasuk dalam famili Zingiberaceae atau temu-
temuan. Jahe dapat dibedakan jenisnya berdasarkan : Aroma, warna, bentuk dan
besarnya rimpang. Atas dasar tersebut Jahe dibedakan menjadi 3 jenis jahe komersial
yaitu : jahe Gajah (Badak), jahe kecil (Emprit), dan jahe merah.
Jahe paling cocok bila ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak
mengandung bahan organik (humus). Pengembangan Jahe umumnya dilakukan pada
tanah - tanah Latosol merah coklat atau Andosol. Tanaman Jahe ini tidak dapat
tumbuh baik pada tanah yang memiliki banyak genangan air atau drainase buruk,
tanah rawa dan tanah berat yang banyak mengandung fraksi liat, serta pada tanah
yang didominasi oleh kandungan pasir kasar (Santoso, 1999).
Salah -". satu kelebihan tanaman Jahe adalah mudah beradaptasi dengan
lingkungan sekitar, namun untuk memperoleh hasil produksi yang optimal perlu juga
diperhatikan persyaratan ikiimnya. Jahe selalu membutuhkan sinar matahari yang
cukup, karena itu bila tanaman Jahe ditanam pada lahan terlindung akan
menyebabkan daunnya menjadi besar, tetapi rimpangnya kecil. Jahe juga
membutuhkan 7 - 9 bulan basah, di Indonesia Jahe umumnya ditanam pada
ketinggian sekitar 200 - 600 m di atas permukaan laut dengan curah hujan rata - rata
berkisar 2500 - 4000 mm per tahun (Santoso, 1995).
Secara umum terdapat dua jenis Jahe, yaitu Jahe kecil dan Jahe besar. Jahe
Jenis Jahe ini dipanen pada umur 9 - 10 bulan setelah tanam, dengan hasil produksi
sekitar 6 - 20 ton per hektar. Jenis Jahe besar dapat dibedakan menjadi dua cara
panen yaitu panen tua (8 - 10 bulan setelah tanam) dan panen muda (sekitar 4 bulan
setelah tanam). Perbedaan waktu panen inilah yang menyebabkan hasil produkasi
Jahe besar lebih bervariasi yaitu mencapai 10 - 30 ton per hektar (Januwati,)
Soemarsono (1997).
Beberapa ha1 yang hams diperhatikan petani untuk mendapatkan hasil Jahe
yang optimal tersebut, selain pembibitan yang baik adalah cara penanaman yang
benar dan pemeliharaan, yang meliputi penyulaman, penyiangan, pembumbunan,
pemberian serasah, serta pemupukan. Selain itu juga dibutuhkan pengendalian hama
yang efektif yang dapat mengganggu hasil produksi Jahe.
2.2 Penelitian Sebelumnya 2.2.1. Penelitian Usahatani Jahe
Pada penelitian Soemarsono,(l997) tentang Usahatani Jahe sebagai usaha
sampingan di Desa Cilangkap Sukabumi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa
pengusahaan Jahe di lokasi penelitian ini menguntungkan karena R/C di kedua jenis
panen tua dan muda lebih dari satu. Walaupun dengan R/C yang lebih kecil, namun
panen muda banyak dilakukan petani karena usahatani Jahe ini hanya merupakan
usaha sampingan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Hasil analisis pendapatan petani diperoleh tingkat pendapatan atas biaya total
dan atas biaya tunai, yaitu pada panen muda, petani memperoleh pendapatan atas
panen tua, petani memperoleh pendapatan atas biaya total sebesar Rp 1.598.390,- dan
Rp 1.80 1.890,- atas biaya tunai.
Selanjutnya Rosmeilisa,
&
Yani (1996) dalam penelitiannya tentangusaha tani dan pengolahan jahe mengatakan bahwa keuntungan petani akan lebih
tinggi bila menjual jahe dalam bentuk jahe segar baik untuk jahe besar maupun jahe
kecil. Keuntungan penjualan jahe kecil basah dan jahe kecil kering masing-masing
sebesar Rp 2.790.000,- dan Rp 1.340.000,- per musim tanam, sedangkan keuntungan
dari jahe besar basah dan jahe besar kering masing-masing sebesar Rp. 4.700.000,-
dan Rp. 250.000,- per panen tua. Tetapi bila produksi berlebihan dan jahe segar
tidak dapat disimpan lama, maka pembuatan jahe kering adalah altematif yang paling
mudah dilaksanakan.
2.2.2. Penelitian Pemasaran Jahe
Pada penelitian Yuhono,(l991) tentang pemasaran Jahe di daerah sentra
produksi Propinsi Bengkulu dan Jawa Barat, dikemukakan bahwa sistem penjualan
Jahe hasil produksi di kedua sentra produksi tersebut adalah sistem penjualan sesudah
panen dan sistem tebasan.
Penjualan sesudah panen berarti petani melaksanakan pemanenan sendiri
kemudian baru dijual ke pedagang pengumpul atau eksportir. Penjualan secara
tebasan adalah cara penjualan dimana sebelum tanaman jahe dipanen sudah dilakukan
transaksi antara petani dengan pembeli atas dasar perincian produksi oleh pembeli,
Di daerah sentra produksi Bengkulu dan Jawa Barat terdapat beberapa jalur
pemasaran jahe sebagai berikut :
1. Petani ---- Pedagang pengumpul ---- Eksportir
2. Petani ---- Pedagang pengumpul ---- Pedagang antar daerah ---- Eksportir
3. Petani ---- Pedagang pengumpul ---- Pedagang antar daerah
----
pedagangpasar KecamatanKabupaten ---- Konsurnsi dalam negeri
4. Petani
----
Eksportir5. Petani ---- Pedagang pengumpul ---- Pedagang antar daerah
----
Industripengolahan
Pada penelitian Soemarsono,(l997) tentang Usahatani Jahe sebagai usaha
sampingan di Desa Cilangkap Sukabumi. Terdapat dua saluran pemasaran yaitu :
1. Jalur I : petani
-+
pedagang pengumpul I+
pedagang pengumpul I1 -+ pasarinduk
2. Jalur I1 : petani -+ pedagang pengumpul II
+
pasar indukPada dasamya petani memiliki kebebasan untuk menentukan jalur pemasaran
yang mana ingin ditempuh. Tetapi jalur I lebih banyak dilakukan petani karena dalam
kehidupan sehari-hari petani selalu membutuhkan uang tunai untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya, ditambah dengan pedagang pengumpul I yang rajin
12
[image:29.595.111.502.120.355.2]Secara skematis jalur - jalur pemasaran tersebut dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Jalur Pemasaran Jahe di Daerah Sentra Produksi
Sumber : Yuhono, dkk (1991).
Petani
Cara penjualan yang dilakukan petani kepada pedagang adalah cara jual
iangsung dengan sistem tawar-menawar, biasanya harga jual lebih sering ditentukan
oleh pedagang pengumpul satu, namun harga tersebut akan diterima petani asalkan
harga tersebut juga diterima oleh petani yang lain. Cara tawar-menawar seperti ini
membuat kekuatan tawar-menawar petani menjadi kurang kuat, ditambah lagi dengan
kebutuhan uang tunai yang mendesak petani untuk menjual jahenya.
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa margin biaya pemasaran untuk
kedua jalur pemasaran sama besar. Margin pemasaran jalur I lebih besar daripada
jalur 11, ha1 ini dikarenakan jalur I lebih panjang. Pada jalur I pedagang pengurnpul I
4
.c
1Industri Pengolahan
Konsumsi dalam Negeri
mendapat keuntungan sebesar Rp. 43,90 per Kg dan pedagang pengumpul I1
mendapat Rp. 70,25 per Kg. Pada jalur
II pedagang pengumpul I1 mendapatkan
keuntungan yang lebih besar lagi yaitu Rp. 89,15 per Kg, namun demikian petani
mendapatkan nilai tambah sebesar Rp 25,OO per Kg dibanding jalur I. Nilai tambah
ini membuat farmer's share pada jalur I1 lebih besar (80,80 %) dibandingkan dengan
farmer's share pada jalur I (76,90 %), artinya bagian yang diterima petani dari harga
111. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Pendapatan Usahatani
Definisi usahatani adalah setiap organisasi dari alam, tenaga ke j a dan modal
yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Ketatalaksanaan organisasi itu
sendiri dapat diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang. Dalam ha1 ini istilah
usahatani mencakup pengertian luas muiai dari bentuk sederhana yaitu hanya untuk
memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada bentuk paling modem yaitu mencari
keuntungan atau laba (Tjakrawilaksana,
dalam
Nova, 1996_).Menurut Tjakrawilaksana (1983) unsur - unsur dalam usahatani yang penting
untuk diperhatikan adalah karakteristik petani pengelola, teknik budidaya,
ketersediaan saran, produksi, modal, serta pendapatan dan tingkat penerimaan. Unsur
- unsur ini mempunyai kedudukan yang sama pentingnya.
Faktor - faktor yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga usahatani
digoiongkan dalam faktor intem dan faktor ekstem. Faktor intem adalah faktor -
faktor yang terdapat dalam usahatani atau masih berada dalam jangkauan petani
pengelola. Sedangkan, faktor ekstem adalah faktor - fakor diluar usahatani dan
banyak ditentukan oleh pihak luar (Swasta dan Pemerintah).
Pennasalahan yang terjadi di atas dianalisa menggunakan analisa usahatani
dan pemasaran. Variabel - variabel yang digunakan untuk menganalisa usahatani
adalah karakteristik petani pengelola, teknik budidaya, ketersediaan sarana produksi,
Pendapatan usahatani yang dimaksudkan di atas adalah pendapatan tunai
usahatani (Form Net cash Flow). Dalam perhitungamya, Soekartawi (1986)
menyatakan bahwa pendapatan usahatani tersebut diperoleh dari selisih penerimaan
tunai usahatani dan pengeluaran usahatani. Penerimaan tunai usahatani adalah nilai
uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pengeluaran usahatani adalah
jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Dalam
ha1 ini penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan
usahatani, demikinan pula halnya dengan pengeluaran tunai usahatani. Selain itu nilai
k e j a yang dibayar dengan benda akan dikeluarkan dari perhitungan pengeluaran
tunai usahatani. Pendapatan tunai usahatani itu sendiri merupakan ukuran
kemampuan usahatani untuk manghasilkan uang tunai.
Perhitungan pendapatan usahatani harus memperhitungkan pula biaya-biaya
dalam usahatani tersebut. Menurut Soekartawi (1986) biaya yang hams dikeluarkan
dalam suatu usahatani dapat meliputi biaya tetap (fixed cosl) dan biaya variabel
(variable cost). Tjakrawilaksana (1983) mendefinisikan biaya tetap sebagai jenis
biaya yang besamya tidak langsung mempengaruhi tingkat produksi pada jangka
pendek atau sering disebut biaya tidak langsung (indirect cost). Dalam jenis biaya ini
termasuk biaya umum (overlzeud cost). Biaya variabel adalah jenis biaya yang besar
kecilnya mempengaruhi produksi dan tingkat operasinya, karena sifatnya yang
mempengaruhi produksi tersebut maka biaya ini disebut biaya langsung (direct cost).
Penjumlahan dua biaya ini disebut biaya total produksi.
Suatu usahatani dikatakan layak atau berhasil apabila usahatani tersebut dapat
(berdasarkan prinsip biaya yang diluangkan atau opportunity cost) kepada
sumberdaya usahatani yang dipakai, mampu memberikan sisa penerimaan atau
pendapatan yang diperlukan bagi pencukupan kebutuhan hidup keluarga petani,
beroperasi secara berkesinambungan dari waktu ke waktu dan dapat meningkatkan
atau mengembangkan usaha (membesarkan skala usaha) dari waktu ke waktu
(Soeharjo dkk, 1973).
Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak, juga dinilai efisiensinya. Salah
satu ukuran efisiensi pendapatan adalah penerimaan untuk setiap biaya yang
dikeluarkan atau rasio IUC. Nilai R/C akan menunjukan besamya penerimaan yang
diperoleh dengan pengeluaran satu satuan biaya. Jika nilai IUC > 1 berarti
penerimaan yang diperoleh akan lebih besar daripada setiap unit biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Sebaliknya, jika nilai IUC < 1
maka setiap unit biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada penenmaan yang
diperoleh.
3.2. Pemasaran
Kotler (1996) mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses sosial dan
manajerial dimana individual dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan
mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bemilai satu
sama lain. Definisi pemasaran pertanian menurut Limbong dan Sitorus (1987)
mencakup segala kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak
milik dan fisik dari hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari produsen ke
menghasilkan perubahan bentuk dari barang yang dimaksud untuk lebih
memudahkan penyaluramya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada
konsumen. Dalam analisis pemasaran ini yang akan dilihat adalah lembaga
pemasaran, saluran pemasaran dan marjin pemasaran.
Sedangkan menurut Dahl, Hammond, Kohl dan Downey (& Pertiwi
2000), pemasaran merupakan serangkaian aktivitas bisnis dari lembaga pemasaran
yang meliputi penyaluran ( Distribusi) dan pelayanan barang-barang yang dibutuhkan
untuk menggerakkan produk atau input dari titik produksi sampai ke konsumen akhir.
Menurut Mendoza (1991) *m Enung (1999), pemasaran dapat dipelajari
dari berbagai sudut pandang dan pendekatan yang berbeda. Seperti pendekatan
fungsional atau fungsi pemasam, pendekatan organisasional atau kelembagaan yang
meliputi seluruh partisipan yang terlibat dan pendekatan subsistem komoditas yang
menggabungkan kedua pendekatan sebelumnya. Dalam pendekatan subsistem
komoditas, analisis kelembagaan didasarkan pada indentifikasi saluran pemasaran
utama. Dimana, analisis mengenai saluran tersebut menyediakan pengetahuan yang
sistematis bagaimana arus barang dan jasa mengalir dari titik asal (produsen) sampai
titik akhir (konsumen). Pendekatan ini meliputi analisis mengenai margin dan biaya
pemasaran.
3.2.1 Lembaga dan Saluran Pemasaran
Lembaga dan saluran pemasaran komoditi Jahe mengikuti arus penyaluran
dari petani sampai konsunen. Dalam pemasaran barang atau jasa terlibat beberapa
antara produsen dengan konsumen sering berjauhan, maka fungsi badan perantara
sangat diharapkan untuk menggerakkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut dari titik
produsen ke titik konsumen.
Menurut Limbong dan Sitorus (1987) pola umum saluran pemasaran produk
pertanian di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut :
L l p r ' y ,
vm
Pengecer Tengkulak
). Pedagang
---+
besarperantara [image:35.602.107.500.238.410.2]L
Gambar 2. Pola umum saluran pemasaran vroduk-produk pertanian di Indonesia
Sumber : Limbong dan Sitorus, 1987
Produsen
-
---4
Lembaga perantara dapat dikelompokkan atas : ( 1 ) Pedagang perantara
(Merchant middlemen) yang terdiri dari pengecer (Retailers) dan grosir
(w/2olesalers), (2) Agen perantara (Agent middlemen) yang terdiri dari Brokers dan
komisi, (3) Pedagang spekulatif (Spekulative middlemen) dan ( 5 ) Organisasi fasilitas
(Facilitative organisalion).
Dalam menyalurkan produk yang dihasilkan, para produsen tidak dapat
melakukan penyaluran produknya ke setiap pasar yang dikehendaki maupun pada Pabrik /
setiap waktu yang dikehendaki produsen. Ada beberapa faktor penting yang hams
dipertimbangkan bila hendak memilih saluran pemasaran.
1. Pertimbangan pasar, yang meliputi konsumen sasaran akhir, potensi
pembeli, geografi pasar, kebiasaan pembeli dan volume pasar.
2. Pertimbangan barang meliputi nilai barang per unit, besar dan berat
barang, kemsakan, sifat teknik barang dan apakah barang tersebut untuk
memenuhi pesanan atau pasar.
3. Pertimbangan intern perusahaan meliputi sumber permodalan, kemampuan dan pengalaman manajemen, pengawasan penyaluran dan
pelaya~an.
4. Pertimbangan terhadap lembaga perantara meliputi segi kemampuan lembaga perantara dan kesesuaian lembaga perantara dengan kebijakan
perusahaan
Timbulnya lembaga pemasaran ini disebabkan oleh a&nya keinginan
konsumen untuk mendapatkan barang yang diinginkan secara mudah. Tugas lembaga
pemasaran ialah melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan
konsumen semaksimal mungkin dan pihak konsumen akan memberikan jasa bempa
margin kepada lembaga pemasaran.
Setiap macam hasil pertanian berbeda mempunyai saluran pemasaran yang
berlainan. Saluran pemasaran suatu hasil pertanian dapat berbeda dan bembah-ubah
tergantung kepada keadaan daerah, waktu dan kemajuan teknologi. Sering pula
skema saluran memperlihatkan besaran-besaran yang relatif dari benda itu yang
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung serta
terlibat dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap digunakan atau
dikonsumsi. Sebuah saluran pemasaran melaksanakan tugas memindahkan barang
dari produsen ke konsumen. Hal itu mengatasi kesenjangan waktu, tempat dan
kepemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari orang-orang yang membutuhkan
atau menginginkannya (Kotler, 1987).
Saluran pemasaran dikarakteristikkan dengan jumlah tingkat saluran
pemasaran. Setiap perantara yang menjalankan peke jaan tertentu untuk mengalihkan
produk dan kepemilikannya agar lebih mendekati pembeli akhir bisa disebut sebagai
tingkat saluran. Karena produsen dan pelanggan akhir melakukan kejasama, maka
keduanya merupakan bagian dari saluran pemasaran.
3.2.2. Fungsi-fungsi Pemasaran
Proses penyampaian barang dari titik produsen ke titik konsumen memerlukan
berbagai kegiatan atau tindakan. Kegiatan-kegiatan tersebut dinamakan sebagai
fungsi pemasaran atau tataniaga. Menurut Limbong dan Sitoms (1987), fungsi
pemasaran merupakan kegiatan yang dapat memperlancar proses penyampaian
barang atau jasa dari titik produsen ke titik konsumen. Fungsi-fungsi terebut
dikelompokkan menjadi 3 fungsi, yaitu :
1). Fungsi pertukaran
Merupakan k e ~ a t a n yang memperlancar perpindahan hak milik dari
barangljasa yang dipasarkan. Fungsi ini terdiri dari fungsi pembelian dan
2). FungsiJisik
Adalah semua kegiatan yang langsung berhubungan dengan barangljasa
sehingga menimbulkan kegunaan tempat, bentuk dan waktu. Kegiatan yang
termasuk didalam fungsi fisik seperti kegiatan penyimpanan, pengolahan dan
pengangkutan.
3). Fungsi fasililas
Adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk memperiancar kegiatan
perukaran yang tejadi antara produsen dan konsumen. Fungsi ini terdiri dari
(1) Fungsi standarisasi dan grading, (2) Fungsi penanggungan resiko, (3) Fungsi pembiayaan dan (4) Fungsi informasi pasar.
3.2.3. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran didefinisikan sebagai perbedaan h a r p 2tau se!isih h ~ r g a
yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima petani produsen, dan dapat pula
dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga sejak dari
tingkat produsen sampai tingkat konsumen akhir. Kegiatan untuk memindahkan
barang dari titik produsen ke konsumen membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun
materi. Pengeluaran yang hams yang hams dilakukan untuk menyalurkan komoditi
dari produsen ke konsumen pada waktu, bentuk, dan tempat yang diminta disebut
biaya pemasaran.
Biaya-hiaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran dalam proses penyaluran
suatu komoditi tergantung dari fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan. Perbedaan
dari lembaga yang satu dengan lembaga yang lain sampai konsumen terakhir. Konsep
ma j i n pemasaran dapat dilihat pada Gambar 2. di bawah ini:
[image:39.595.128.388.170.374.2]Qr, f Jumlah
Gambar 3. Hubungan antara fungsi-fungsi pertama dan turunan terhadap marjin tataniaga dan nilai marjin pemasaran.
Sumber : Limbong dan Sitorus, 1987
Keterangan : Pr = Harga tingkat pengecer
Pf = Harga tingkat petani
Sr = Penawaran tingkat pengecer
Sf = Penawaran tingkat petani
Dr = Permintaan tingkat pengecer
Df = Permintaan tingkat petani
Berdasarkan Gambar.3, besar majin pemasaran merupakan perkalian dari
perbedaan harga yang diterima petani dan harga yang dibayar oleh konsumen dengan
jumlah produk yang dipasarkan. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
M = ( P r - P f ) x Q r , f
Besaran (Pr - Pf) menunjukan besarnya nilai marjin pemasaran suatu
komoditi per unit (Limbong dan Sitorus, 1987). Selanjutnya, Limbong dan Sitorus
(1987) menyatakan bahwa marjin pemasaran terdiri dari dua komponen yaitu biaya
dan keuntungan pemasaran. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
Mi = Ci
+
xi
Dimana : Mi = Marjin tataniaga pada lembaga ke-i
Ci = Biaya tataniaga pada lembaga ke-i
xi
= Keuntungan tataniaga pada lembaga ke-iBesar marjin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat
dinyatakan sebagai penjumlahan dari majin pada masing-masing lembaga tataniaga
yang terlibat. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
M = C M ~
Rendahnya majin pemasaran suatu komoditi belum tentu dapat
mencerminkan efisiensi yang tinggi. Salah satu indikator yang berguna dalam melihat
efisiensi kegiatan tataniaga adalah dengan membandngkan bagian yang diterima
petani (Farmer share) terhadap harga yang dibayar konsumen akhir. Farmer's share
merupakan perbandingan harga yang diterima petani dengan harga yang di tingkat
bentuk persentase (Limbong dan Sitorus, 1987). Bagan pemikiran penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar.4 berikut :
USAHATANI JAHE
Produsen/ Petani
-
Analisis PendapatanLembaga Perantara
Fungsi PemasaranPemasaran
[image:41.595.120.477.185.451.2]1
Konsumen
I
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Kalapanunggal, Kecamatan Kalapanunggal,
Kebupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pemilihan Lokasi ditentukan secara sengaja
@urposive) dengan pertimbangan bahwa daerah Sukabumi merupakan salah satu
sentra produksi jahe di Jawa Barat. Sedangkan pemilihan Kecamatan Kalapanunggal
sebagai- kecamatan contoh disebabkan karena Kecamatan Kalapanunggal merupakan
daerah dengan laju perkembangan luas tanaman jahe paling besar (Lampiran 6). Dari
kecamatan tersebut dipilih Desa Kalapanunggal, karena desa ini merupakan desa
yang memiliki jumlah petani jahe terbanyak. Waktu penelitian dilaksanakan pada
Oktober - November 2000.
4.2. ivietocie r"engumpulan Data dan Penarikan sampel
Pemilihan responden petani dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik
acak sederhana (Simple Random Sample) dari jumlah petani Jahe yang ada di desa
penelitian. Jumlah petani yang dijadikan responden sebanyak 30 orang. Sedangkan
penentuan responden pedagang dan lembaga perantara dilakukan dengan cara
mengikuti arus komoditi Jahe dari petani sampai konsumen akhir. Jumlah total responden pedagang adalah 10 orang yang terdiri dari 4 pedagang pengumpul desa, 3
pedagang pengumpul kecamatan dan 3 orang pedagang besar.
Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data
pedagang contoh, dan pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari instansi-instansi terkait, seperti Biro Pusat Statistik, Kantor statistik
Wilayah Sukabumi, Dinas Perkebunan Sukabumi dan Pemda Sukabumi.
4.3. Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif
dan kuantitatif Analisis dilakukan dengan memasukan data primer yang telah diolah
ke dalam tabel-tabel yang telah disiapkan. Dalam penelitian ini analisis data meliputi
analisis pendapatan usahatani, analisis imbangan penerimaan dan biaya, analisis
saluran dan fingsi-fungsi pemasaran dengan analisis marjin pemasaran.
4.3.1. Analisis Pendapatan Petani
Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan
pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai adalah biaya yang benar-
benar dikeluarkan oleh petani, pendapatan atas biaya total adalah semua input milik
keluarga juga diperhitungkan sebagai biaya.
Secara urnurn pendapatan dianggap sebagai penerimaan dikurangi dengan
biaya yang telah dikeluarkan. Penerimaan usahatani Jahe merupakan nilai dari
penjualan produksi total Jahe yang dihasilkan. Pendapatan dirumuskan secara
matematik sebagai berikut :
n
tunai = Tr - BtDimana :
n
= Pendapatan (Rupiah)Tr = Nilai produksi (Hasil kali jumlah fisik dengan harga)
Bt = Biaya total (Rupiah)
Bd = Biaya yang diperhitungkan (Rupiah)
Biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan petani secara tunai termasuk bunga
kredit. Adapun bentuk perhitungan analisis pendapatan tersebut dapat dilihat pada
Tabel 6. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada
usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan alat-alat
pertanian dan imbangan sewa lahan dan biaya imbangan bibit.
Biaya yang diperhitungkan untuk menghitung berapa sebenarmya pendapatan
kerja petani jika modal, sewa lahan dan tenaga kerja dalam keluarga dan biaya bibit
milik sendiri diperhitungkan. Modal yang dipergunakan petani dihitung sebagai
modal pinjaman, meskipun modal tersebut milik petani sendiri. Tenaga ke rja keluarga
dinilai berdasarkan upah yang berlaku pada waktu anggota keluarga menyumbang
kerja pada usahatani tersebut. Lahan yang digunakan petani diperhitungkan sebagai
lahan sewa yang besarnya berdasarkan rata-rata biaya sewa lahan per hektar di daerah
tersebut.
4.3.2 Analisis lmbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)
Return Cost Ratio atau imbangan penerimaan dan biaya adalah perbandingan
antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan daiam satu proses
dilakukan menguntungkan atau layak dilaksanakan. Sebaliknya, apabila R/C < 1
berarti usahatani tersebut tidak menguntungkan atau tidak layak dilakukan.
4.3.3. Analisis Saluran Pemasaran dan Kelembagaan Pemasaran
Analisis ini dilakukan secara kualitatif untuk melihat saluran pemasaran yang
ada di desa penelitian dan lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam
menyalurkan komoditi Jahe dari produsen sampai konsumen.
4.3.4. Analisis Marjin Pemasaran
Perhitungan marjin pemasaran dilakukan untuk mengetahui perbedaan harga
per satuan di tingkat petani dengan tingkat konsumen atau pada tiap rantai
pemasaran. Secara matematik dapat dimmuskan sebagai berikut :
Mi = Psi -Phi = Ci
+
xiDimana : Mi = Marjin pemasaran pada lembaga pernasaran ke-i
Psi = Harga penjuaian Iembaga pemasaran ke-i
Pbi = Harga pembelian lembaga pemasaran ke-i
x i = Keuntungan lembaga pemasaran ke-i
Ci = Biaya peinasaran pada lembaga ke-i
Tabel 4 . Metode Perhitungan Pendapatan Usahatani Jahe
Nilai Persentase (Ru iah)
P
Penyebaran marjin pernasaran dapat pula dilihat berdasarkan persentase Harga FisiM
Satuan Kornponen
A. Jurnalah Total Penerimaan B. Biaya Tunai
1. Sarana Produksi a. Bibit
b. Pupuk Urea c. Pupuk TSP d. Pupuk KCL e. Pupuk Kandang f. Obat-obatan Jurnlah :
2. Tenaga Ke rja Luar Keluarga 3. Pajak Lahan
4. Bunga Kedit 5. Sewa Lahan -
Jurnlah Total Biaya Tunai C. Biaya yang Diperhitungkan
1. Penyusutan Alat
2. Tenaga Kerja dlm Keluarga 3. Sewa Lahan
4. . .
. . .
. . . Jumlah :D. Jumlah Total Biaya B
+
C E. Pendapatan atas Biaya Total -F. Pendapatan atas Biaya Tunai G. FUC Rasio atas Biaya Total .
H. FUC Rasio atas Biaya Tunai
keuntungan terhadap biaya pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran Jumlah
Fisik
Perhitungan dilakukan dengan rnenggunakan rumus :
[image:46.599.96.512.128.525.2]Dimana : ni = Keuntungan pemasaran lemhaga ke-i
Ci = Biaya pemasaran lembaga ke-i
Untuk mengetahui persentase harga yang diterima petani Jahe terhadap harga
pada konsumen akhir, dilakukan dengan menghitung Farmer's Share yang
dimmuskan sehagai herikut :
F s = P / K x 100%
Dimana : Fs =Farmer's Share
P = Harga yang diterima petani
V.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN5.1. Keadaan Alam dan Geografi
Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memiliki lahan
yang cukup baik untuk budidaya.dan pengembangan berbagai komoditas pertanian.
Tanaman perkebuhan yang ada di Kecamatan Kalapanunggal seperti Jahe, Teh, Kopi
dan lain-lain.
Desa Kalapanunggal merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan
Kalapanunggal, dan dibagi menjadi empat dusun yaitu : Sukamantri, Panyidangan,
Lutuk dan Manglad. Batas desa dibatasi ole11 Desa Palasari Girang disebelah Utara,
Desa Nangka Koneng di Selatan, Walangsari di Barat dan Kadununggal di sebelah
Timur.
Tabel.6. Areal Desa Kalapanunggal Menurut Penggunaannya Tahun 1999
Jenis Kegiatan
LuhunSuwuh
1. Pengairan Pedesaan 2. Tanah Hujan
Luhan Darut
1. LadangITegalan 2. Pekarangan 3. Pengembalaan 4. Kolam
5. Perkebunan Rakyat 6. Perkebunan Besar 7. Kuburan
8. Lain-lain
Jumlah
Sumber : Potensi Desa Kalapanunggal, 1999 Luas (Ha) 52 30,03 63 52,56 1,55 1,3 81,20 608,26 2,50 72,20 964,6
Persen (%)
5,39 3,11 6,53 5,44 0,16 0,13 8,4 1 63,06 0,26 7,48
[image:48.602.102.522.440.670.2]Jarak dari desa ke pemerintahan kecamatan sekitar 700 m, ke ibukota
kabupaten 90
km
dan ke ibukota propinsi sekitar 130 km. Kendaraan umum yangbiasa digunakan oleh penduduk desa adalah ojek dan kolt mini,
Desa Kelapanunggal memiliki ketinggian 500-600 m dpl, dengan curah hujan
rata-rata per tahun sekitar 2290 mm dengan suhu udara berkisar antara 17-28" C, dan
jenis tanah di wilayah ini adalah Latosol. Luas wilayah desa adalah 964,6 ha,
mencakup luas tanah untuk sawah irigasi 82,3 ha, perkebunan rakyat 81,2 ha,
perkebunan besar 608,26 ha dan tegalan 20 ha.
5.2. Keadaan Penduduk dan Mata pencaharian
Jumlah penduduk desa Kelapanunggal berdasarkan hitungan terakhir tahun
1999 terdapat 1029 KK, dengan jumlah 4372 jiwa yang terdiri dari 2278 laki-laki dan
2124 perempuan. Rincian struktur penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin
[image:49.605.103.511.506.716.2]dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah :
Tabel.7. Jumlah Penduduk Desa Kalapanunggal Munurut Golongan Umur, 1999
Golongan Umur
-
I
Laki-Laki (Orang) 7 - 12 tahun13 - 15 tahun 16 - 18 tahun 19
-
25 tahun 26 - 35 tahun 36-
45 tahun 46 - 50 tahun5 1 - 60 tahun 6 1 - 75 tahun
>
76 tahun Total Perempuan (Orang) 3 89 712 152 173 212 202 198 69 54 67 51 2278 0 - 6 tahun'otensi Desa KaIapanunggaI, 1999 353
Jumlah Orang
I
PersenDari Jumlah tersebut, jurnlah angkatan kerja di desa ini adalah sebesar 1447
jiwa yang terdiri dari 865 penduduk usia kerja yang pekeja dan 582 penduduk usia
kerja yang belum pekerja. Selain itu ditinjau dari segi pendidikan, 28,59% telah tamat
[image:50.605.111.510.234.406.2]SD dan 11,5% tamat SLTP, seperti terlihat pada Tabel .8:
Tabel.8. Jumlah Penduduk Desa Kalapanunggal Menurut Pendidikan Tahun 1999
'otensi Desa Kalapanunggal, 1999
Berdasarican potensi desa (1999) tercatat jumlah penduduic yang pziceja pzda
sub-sektor pertanian dan tanaman pangan sebanyak 1412 jiwa (32,29%) dengan
struktur kepemilikan lahan sawah sebanyak 272 orang, lahan tegalan 394, sebagai
penyakap sebanyak 116 orang, sebagai buruh tani sebanyak 217 orang dan sebagai
penyewa/penggarap 413 orang. Pekeja sebagai buruh perkebunan sebanyak 476
orang, buruh petemakan 50 orang dan buruh industri 175 orang dan sisanya perke j a
5.3. Sarana dan Prasarana
Jalan aspal merupakan jalan utama desa yang dapat dilewati oleh berbagai
kendaraan dari roda dua sampai truk. Angkutan umum sebagai sarana transportasi ada
setiap waktu. Desa Kalapanunggal meruapakan pusat pemerintahan kecamatan,
karena itu terdapat banyak sarana yang mendukung dan terletak di pinggir jalan
utama. Pasar desa hanya dibuka pada hari kamis, dan barang-barang yang disediakan
terbatas pada kebutuhan pokok seperti beras, daging, minyak, dl].
Sarana pendidikan yang terdapat di desa adalah dua Taman Kanak-Kanak,
lima sekolah SD dan satu SLTP. Sarana beribadah cukup memadai, diantaranya
terdapat 8 Mesjid dan 14 Mushola. Sarana dan prasarana kesehatan yang terdapat di
desa adalah satu Puskesmas, 9 Posyandu, 1 Dokter, 2 Bidan serta 3 Mantri kesehatan
dan 3 perawat.
5.4. Lembaga Penunjang
Di tingkat petani terdapat 10 kelompok tanai yaitu Kelompok Tan Budi Maju,
Trikarya, Guarbumi, Saluyutiga, Pasti Maju, Maju Terus, Bima Sakti, Karya Mandiri,
Al- Kausar dan Sari Alam. Setiap kelompok tani berperan sebagai penyedia informasi
tentang budidaya berbagai komoditas pertanian, sebagai organisasi yang dapat
mewakili para petani untuk melaksanakan berbagai aktivitas seperti menerima
bantuan KUT dari pemerintah.
Desa Kalapanunggal juga memiliki lembaga-lembaga penunjang laimya yaitu
dua buah koperasi Mitra Tani dan Karya Utama yang menyediakan berbagai sarana
berperan dalam menyediakan KUT, koperasi ini hanya berperan pada tahap
penyediaan sarana produksi seperti bibit, pupuk, dan obat-obatan, tetapi tidak
melakukan pernbelian jahe dari petani. Hal ini banyak disebabkan kurangnya
ketersediaan modal oleh koperasi untuk membeli jahe dari petani. Organisasi pemuda
yang terdapat di desa yaitu Karang Taruna dan sebuah LSM yang bernama Forum
Solidaritas Pemuda.
5.5. Karakteristik Petani Jahe di Desa Kalapanunggal
Pembahasan mengenai karakteristik responden petani Jahe meliputi kelompok
umur, tingkat pendidikan, dan alasan petani menanam komoditi Jahe. Berdasarkan
kelompok umur dapat digambarkan pada (Tabel 9), yaitu kelompok umur sebagain
besar responden berumur antara 31 - 45 tahun yang merupakan usia produktif
sebanyak 13 orang (43%). Sisanya, pada kelompok umur 20 - 30 tahun dan 46 - 50
[image:52.605.96.491.528.630.2]adalah sama sebanyak 5 orang (17%) dan diatas 50 tahun sebanyak 7 orang (23%).
Tabel.9 Jumlah Responden Petani Jahe Berdasarkan Kelompok Umur
Persentase (%) 17 Kelompok Umur
(Tahun) 20 - 30
> 50
Jumlah Responden (Orang)
5
7 23
Rata-rata pendidikan formal petani contoh adalah tamat SD sebanyak 20
orang (67%), tamat SMP 6 orang (20%) dan sisanya sebanyak 4 orang (13%) tamat
[image:53.605.109.503.227.318.2]SMP, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah :
Tabel 10. Jumlah Responden Petani Jahe Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Hal-ha1 yang menjadi pertimbangan petani untuk menanam komoditi jahe di
Desa Kalapanunggal untuk menanam jahe adalah karena beberapa faktor: (1). Tingkat Pendidikan
SD SMJ? SMA Total
Menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi, sebanyak 19 orang responden (63%),
(2). Pemasarannya mudah atau terjamin 5 orang (17%), (3). Mudah dibudidayakan
dijawab oleh 4 orang (13%) dan (4). Lain-lain 2 orang (7%) misalnya karena
mendapat KUT.
Jumlah Responden (Orang)
20 6 4 30
Persentase (%)
VI. HASIL ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN JAHE
6.1. Analisis Pendapatan Usahatani
6.1.1. Keragaan Usahatani Jahe
Varietas Jahe yang ditanam petani contoh seluruhnya adalah varietas Jahe
besar (Jahe Gajah). Dilihat dari pola tanam, sebagian besar petani (73%)
mengusahakan jahe secara tumpangsari dengan tanaman seperti jagung dan kacang
merah, dengan alasan dapat menambah penghasilan. Sedangkan yang mengusahakan
jahe secara monokultur disebabkan tanaman jahe akan kalah bersaing terhadap
tanaman tumpangsari dalam mendapatkan unsur hara.
Jarak tanam yang ditanarn oleh petani contoh berkisar antara 25-40 cm
dalam barisan dan 50-70 cm antarbarisan. Berdasarkan penelitian, jarak tanam
optimal 30-60 cm (Fany B. Painin dan Murhananto, 1999). Selumh Jahe yang
ditanarn oleh petani contoh dipanen tua saat Jahe berumur 8 - 10 bulan, karena
ternyata hasilnya lebih menguntungkan.
Musim panen jahe di desa penelitian tidak tetap, tergantung pada keinginan
petani dan ketersediaan modal. Pada penelitian ini penulis menganalisis usahatani
pada petani yang mengalami musim panen pada bulan Juni - September 1999, ha1 ini
disebabkan pada musim tanam tersebut banyak petani mendapatkan KUT dari
Koperasi setempat, clan pada saat pengambilan data jahe petani masih berumur antara
6.1.1.1. Input Benih
Benih yang digunakan dalam usahatani jahe di lokasi penelitian biasanya
didapatkan 6ari koperasi-koperasi setempat, dibeli dari pasar dan dari petani Jahe
yang lain. Biasanya, benih tersebut rata-rata sudah dipakai selama 2-3 musim, karena
benih yang berkualitas baik kurang tersedia di kios-kios desa, dan harganya juga
relatif lebih mahal. Hal ini dapat menyebabkan hasil tanam kurang menguntungkan.
Penggunaan hibit oleh petani contoh & lokasi penelitian rata-rata 1.600 kg per
yang menunjukan tingkat penggunaan benih masih rendah dibandingkan dengan rata-
rata kebutuhan bibit yang dianjurkan (Painin, Murhanato, 1999), rnisalnya untuk satu
hektar Jahe Gajah panen tua diperlukan sekitar 2.000-3.000 kg per hektar
(Penggunaan bihit oleh petani contoh, lebih jelas dapat di lihat pada Lampiran 1).
Hal tersebut di atas disebabkan para petani rnendapatkan bibit dari koperasi
f
yang banyak mengalami kerusakan tetapi tidak mengganti dengan bibit yang lain, dan juga kurangnya pengalaman menanam jahe oleh para petani. Dari hasil wawancaradiperoleh informasi bahwa di desa penelitian belum pernah sama sekali mendapatkan
penyuluhan tentang budidaya jahe oleh PPL kecamatan. Hal ini disebabkan tenaga
ahli khusus tanaman jahe tidak tersedia di kantor PPL.
Untuk lahan seluas satu hektar petani mengugunakan bibit sebanyak 1.600 kg
dengan harga rata-rata per kg Rp 2.400. Sehingga pengeluaran untuk bibit adalah
6.1.1.2. Input pupuk dan obat-obatau
Pupuk yang digunakan oleh petani adalah pupuk kandang dan pupuk buatan.
Pupuk buatan yang digunakan adalah campuran antara Urea, TSP dan KCL. Untuk
pupuk kandang digunakan sebanyak 18.500 kg (Rp 100/kg), untuk pupuk Urea
sebanyak 309 kg (Rp 1.050/kg), untuk TSP sebanyak 195 kg (Rp 1.5301kg) dan KCL
sebesar 134 kg (Rp 1.750kg).
Penggunaan pupuk yang cukup tinggi ini dikarenakan adanya anggapan oleh
para petani bahwa semakin tinggi dosis pupuk yang digunakan akan semakin subur
tanaman jahe yang ditanam. Hal ini berakibat pada besamya alokasi biaya yang
dikeluarkan untuk pemupukan, seperti pupuk Urea yang menurut analisis (Fany B.
Painin dan Murhananto, 1999) untuk Jahe besar panen tua sekitar 130 - 200 kg.
Petani juga menggunakan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan
penyakit dan juga untuk merangsang pertumbuhan vegetatif Jahe. Jenis obat-obatan
yang digunakan adalah Dithane-45, Furadan, Atonik dan lain-lain. Petani
memperoleh obat-obatan tersebut dari koperasi kalau sebagai anggota. Sedangkan
petani yang bukan anggota dapat membeli dari kios yang ada di desa atau membeli
dari pasar Cibadak.
Untuk Furadan petani menggunakan l l k g per hektar dengan harga Rp
14.500/kg, untuk Dithane-45 rata-rata 2 bungkus dengan harga Rp 45.000/bks, yang
lain seperti ZPT, Insektisida dan Pestisida tergantung kondisi tanaman apakah
diserang hama atau tidak, rata-rata sekitar Rp 64.500 per hektar. Total pengeluaran
6.1.1.3. Penggunaan Tenaga Kerja
Penyediaan tenaga k e j a pada lokasi penelitian relatif banyak dan mudah
didapatkan. Karena luas lahan penanaman Jahe petani yang rata-rata cukup luas yaitu
0,7 ha (perincian dapat dilihat pada Lampiran 2). Dengan demikian sangat banyak
tenaga kerja yang hams digunakan terutama pada saat pengolahan tanah dan
penanaman. Tingkat upah rata-rata yang dibayarkan kepada para pekerja sebesar Rp
[image:57.605.97.521.338.591.2]7.000 per hari ke j a yang dihitung jam k e j a per hari sebanyak 6 jam
Tabel 1 I. Nilai Input Bibit, Pupuk dan Obat-Obatan untuk Usahatani Jahe per 1 Ha
Jenis Input
a. Bibit
b. Pupuk:
- Kandang
- Urea
- TSP
- KCL
c. Obat-obatan :
- Furadan
- Dithane
- Lain-lain
Total
Jumtah (Satuan)
11 kg
2 bks
Harga (RpISatuan) Nilai (Rp)
3.840.000
Tenaga kerja dalam keluarga tergantung pada jumlah keluarga yang dimiliki
oleh setiap keluarga, yang rata-rata sebanyak 3 orang. Tenaga k e j a dalam keluarga
rata-rata adalah 88 HOK. Biasanya tenaga kerja dalam keluarga banyak dikeluarkan
kerja luar keluarga disewa untuk aktivitas seperti pengolahan tanah, penanaman, dan
saat panen.
6.1.1.3.1. Aktivitas pengolahan tanah dan penanaman
Dua aktivitas ini menggunakan tenaga kerja paling banyak baik dalam
keluarga maupun luar keluarga ( TICL), untuk penggunaan TKL yaitu sebanyak 264
HOK per ha, kegiatan ini berkisar antara satu bulan sampai dua bulan tergantung
jumlah TICL yang dipekerjakan dan persiapan untuk penanaman.
6.1.1.3.2. Pemupukan dan Pemeliharaan
Semua aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini ialah pemupukan selain
kandang, penyulaman, penyiangan dan pemberantasan hama dan penyakit. Total
HOK yang digunakan sebesar 83, angka ini menunjukan angka yang sangat kecil
dibandingkan dengan aktivitas pengolahan tanah dan penanaman. Hal ini disebabkan
karena banyak petani mengerjakan sendiri kegiatan ini. Besar kecil kebutuhan TKL
pada kelompok aktivitas ini juga tergantung pada kondisi tanaman apakah banyak
diserang hama dan gulma atau tidak.
6.1.1.3.3. Panen
Panen yang dilakukan petani pada Jahe berumur antara 8-10 bulan, dan
Biasanya dikejakan dengan sangat hati-hati agar rimpang Jahe tidak terluka,
selanjutnya ri