0
LAPORAN PENELITIAN PUBLIKASI NASIONAL
ANALISIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL
ATAS PENERIMAAN PARA TENAGA PERPUSTAKAAN MADRASAH TERHADAP OTOMASI PERPUSTAKAAN
Oleh:
Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum. Nip: 19710103 200003 1 002
Pusat Penelitian dan Penerbitan
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
i
Lembar Pengesahan
Bersama ini saya menyatakan bahwa:
Nama : Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum.
NIP : 19710103 200003 1 002
Jabatan : Dosen Tetap (Lektor) Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pangkat/Gol. : Pembina/ IVa
telah menyelesaikan penulisan dan tahapan pendampingan dalam penelitian
Publikasi Nasional dengan judul “ANALISIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE
MODEL ATAS PENERIMAAN PARA TENAGA PERPUSTAKAAN
MADRASAH TERHADAP OTOMASI PERPUSTAKAAN”
Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 4 Desember 2014. Dosen Pendamping,
ii
Abstrak
Ade Abdul Hak. 2014. Analisis Technology Acceptance Model (TAM) atas Penerimaan Para Tenaga Perpustakaan Madrasah terhadap Otomasi Perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sekaligus menganalisa hubungan dan pengaruh antara pengetahuan & keterampilan (SK), kemudahan penggunaan persepsian (PEU), kegunaan persepsian (PU), sikap ke arah penggunaan (AB), niat untuk menggunakan (BI), dan penggunaan nyata (AU) sistem otomasi perpustakaan berbasis “senayan” oleh para pengelola perpustakaan madrasah. Analisis penelitian dilakukan dengan menggunakan SPSS 21 untuk menguji metode TAM terhadap jawaban 89 responden yang mewakili 3 wilayah sebaran anggota sampel (DKI Jakarta dan Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan). Sampel dipilih dari 750 peserta pelatihan “Program
Peningkatan Kompetensi Tenaga Perpustakaan Madrasah” di 3 wilayah tersebut.
Hasil peneletian menunjukan bahwa gambaran variabel untuk masing-masing konstruk dalam penelitian ini menunjukan hasil yang tinggi, kecuali untuk konstruk penggunaan nyata (AU) yang masih rendah. Ada hubungan yang cukup kuat dan signifikan antar konstruk yang ditandai dengan angka sig. (2-tailed) dibawah 0,05, sehingga cukup signifikan untuk menolak Ho; p = 0 dan menerima
iii
PENGANTAR
Bissmillahirrahmaannirraahiim.
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Shalawat dan
salam tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW
yang telah membawa cahaya kehidupan alam semesta ini.
Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak terkait yang
dalam hal ini Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Syarif Hidatullah
Jakarta yang telah memberikan kepercayaan bahwa proposal penelitian yang telah
penulis ajukan telah memenuhi syarat kepatutan dalam kategori pembiayaan
publikasi nasional terakreditasi. Selain itu penulis juga menghaturkan banyak
terimakasih kepada Dr. Muhammad Zuhdi yang telah mendampingi penulisan
penelitian ini sehingga dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Dalam kesempatan ini penulis juga tak lupa menghaturkan terimakasih
kepada ibu Siti Ansyoriah, M.Ag., bapak Hamdi, S.E., dan sdr. Muhammad
Yukha yang telah mendedikasikan diri untuk membantu penulis dalam survey
responden dalam memenuhi data yang ada di beberapa wilayah.
Terakhir penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, namun semua
ini karena keterbatasan penulis. Besar harapan penulis hasil penelitian ini dapat
bermanfaat bagi peleksanaan pelatihan bidang otomasi perpustakaan di
lingkungan madrasah yang ada di Indonesia tercinta ini.
Alhamdulillah.
Jakarta, 3 Desember 2014.
iv
1.1 Latar Belakang Masalah ___ 1 1.2 Batasan Masalah ___ 5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ___ 6
Bab 2 Kerangka Teori ___ 8
2.1 Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 8
2.1.1 Hakikat Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 8 2.1.2 Cakupan Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 11
2.1.3 Manfaat dan Kekurangan Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 13 2.1.4 Platform Sistem Otomasi Perpustakaan Senayan (SLiMS) ___ 15 2.2 Model Penerimaan Teknologi (TAM) ___ 17
2.2.1 Konsep TAM ___ 17
2.2.2 TAM pada Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 20 2.3 Hipotesis Penelitian ___ 28
Bab 3 Metodologi Penelitian ___ 31 3.1 Ruang Lingkup Penelitian ___ 31 3.2 Metode Penentuan Sampel ___ 31 3.3 Metode Pengumpulan Data ___ 33 3.4 Metode Pengujian Instrumen ___ 35 3.5 Metode Analisis ___ 37
Bab 4 Hasil Penelitian dan Pembahasan ___ 41 4.1 Analisis Deskriptif ___ 41
4.1.1 Karakteristik Responden ___ 41
4.1.2 Karakteristik Pengetahuan dan Keterampilan ___ 43 4.1.3 Karakteristik Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 44 4.1.4 Karakteristik Kegunaan Persepsian ___ 45
4.1.5 Karakteristik Sikap Ke Arah Penggunaan ___ 46 4.1.6 Karakteristik Niat untuk Menggunakan ___ 47
4.1.7 Karakteristik Perilaku Nyata untuk Menggunakan ___ 48 4.2 Uji Asumsi Klasik ___ 49
4.2.1 Uji Normalitas ___ 49
v 4.3 Uji Hipotesis ___ 51
4.3.1 Analisis Korelasi ___ 52
4.3.1.1 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Kegunaan Persepsian ___ 52 4.3.1.2 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Kemudahan
Penggunaan Persepsian ___ 53
4.3.1.3 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Sikap Kearah Penggunaan ___ 53
4.3.1.14 Sikap Kearah Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 54
4.3.1.5 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Penggunaan Nyata ___ 54 4.3.1.6 Kegunaan Persepsian dan Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 54 4.3.1.7 Kegunaan Persepsian dan Sikap Kearah Penggunaan ___ 55
4.3.1.8 Kegunaan Persepsian dan Niat Untuk Penggunaan ___ 55 4.3.1.9 Kegunaan Persepsian dan Penggunaan Nyata ___ 55 4.3.1.10 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Sikap Kearah
Penggunaan ___ 56
4.3.1.11 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Niat Untuk Penggunaan ___ 56 4.3.1.12 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Penggunaan Nyata ___ 56 4.3.1.13 Sikap Kearah Penggunaan dan Niat Untuk Penggunaan ___ 57 4.3.1.14 Sikap Kearah Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 57 4.3.1.15 Niat Untuk Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 57 4.3.2 Analisis Jalur Substruktural 1 ___ 58
4.3.2.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 58
4.3.2.2 Pengaruh Parsial Terhadap Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 59
4.3.3 Analisis Jalur Substruktural 2 ___ 60
4.3.3.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Kegunaan Persepsian ___ 62 4.3.3.2 Pengaruh Parsial Terhadap Kegunaan Persepsian ___ 62 4.3.4 Analisis Jalur Substruktural 3 ___ 63
4.3.4.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Sikap ke Arah Penggunaan ___ 64 4.3.4.2 Pengaruh Parsial Terhadap Sikap ke Arah Penggunaan ___ 65 4.3.5 Analisis Jalur Substruktural 4 ___ 67
4.3.5.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Niat Untuk Penggunaan ___ 67 4.3.5.2 Pengaruh Parsial Terhadap Niat Untuk Penggunaan ___ 69 4.3.6 Analisis Jalur Substruktural 5 ___ 71
4.3.6.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Penggunaan Nyata ___ 71 4.3.6.2 Pengaruh Parsial Terhadap Penggunaan Nyata ___ 73 4.4 Pembahasan ___ 83
Bab 5 Kesimpulan dan Saran ___ 87 5.1 Kesimpulan ___ 87
5.2 Saran ___ 89
vi
Daftar Tabel
Tabel 3.1 Case Processing Summary ___ 35 Tabel 3.2 Reliability Statistics ___ 35 Tabel 3.3 Item-Total Statistics ___ 35
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Wilayah ___ 42
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenjang Madrasah ___ 42 Tabel 4.3 Analisis Deskriptif Pengetahuan dan Keterampilan Pengguna ___ 43 Tabel 4.4 Analisis Deskriptif Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 44 Tabel 4.5 Analisis Deskriptif Kegunaan Persepsian ___ 45
Tabel 4.6 Analisis Deskriptif Sikap Ke Arah Penggunaan ___ 46 Tabel 4.7 Analisis Deskriptif Niat untuk Menggunakan ___ 48 Tabel 4.8 Analisis Deskriptif Perilaku Nyata Penggunaan ___ 49 Tabel 4.9 Hasil Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov ___ 51 Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi ___ 52
Tabel 4.11 Hasil Uji Koefisien Determinasi Kemudahan Penggunaan (Model Summary) ___ 58 Tabel 4.12 Hasil Uji F Kemudahan Penggunaan Persepsian (ANOVAa) ___ 59
Tabel 4.13 Hasil Uji T Kemudahan Penggunaan Persepsian (Coefficientsa) ___ 60
Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Determinasi Kegunaan Persepsian (Model Summary) ___ 61 Tabel 4.15 Hasil Uji F Kegunaan Persepsian (ANOVAa) ___ 61
Tabel 4.16 Hasil Uji T Kegunaan Persepsian (Coefficientsa) ___ 62
Tabel 4.17 Hasil Uji Koefisien Determinasi Sikap ke Arah Penggunaan (Model Summary) ___ 64
Tabel 4.18 Hasil Uji F Sikap ke Arah Penggunaan (ANOVAa) ___ 64 Tabel 4.19 Hasil Uji T Sikap ke Arah Penggunaan (Coefficientsa) ___ 65
Tabel 4.20 Hasil Uji Koefisien Determinasi Niat untuk Penggunaan (Model Summary) ___ 67 Tabel 4.21 Hasil Uji F Niat untuk Penggunaan (ANOVAa) ___ 68
Tabel 4.22 Hasil Uji T Niat untuk Penggunaan (Coefficientsa) ___ 69
Tabel 4.23 Hasil Uji Koefisien Determinasi Terhadap Penggunaan Nyata (Model Summary) ___ 71
Tabel 4.24 Hasil Uji F Terhadap Penggunaan Nyata (ANOVAa) ___ 72 Tabel 4.25 Hasil Uji T Terhadap Penggunaan Nyata (Coefficientsa) ___ 74 Tabel 4.26 Hasil Uji Hipotesis ___ 83
vii
Daftar Gambar
Gambar 2.1. Technology Acceptance Model ___ 19
Gambar 2.2. TAM dalam perpustakaan Digital (J.Y.L. Thong, 2002) ___ 22 Gambar 2.3. Model Penelitian ___ 23
viii
Daftar Lampiran
Lampiran 1: Daftar Pertanyaan Kuesioner
Lampiran 2: Hasil Data Kuesioner Konstruk Pengetahuan & Keterampilan Lampiran 3: Hasil Data Kuesioner Konstruk Kemudahan Penggunaan Persepsian Lampiran 4: Hasil Data Kuesioner Konstruk Kegunaan Persepsian
1 |
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah membawa
perubahan di hampir semua bidang di mana berbagai masalah kehidupan dapat
dipecahkan kecuali dengan penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan
teknologi informasi. Selain bermanfaat bagi manusia, hal ini juga telah membawa
manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat.
Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai anak bangsa
kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia
merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif,
efektif dan efisien dalam proses pengembangan agar tidak kalah bersaing dalam
menjalani era globalisasi tersebut.
Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan antara lain
melalui peningkatan pendidikan yang diwujudkan dalam Undang-undang Nomor
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal 1
menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta aktif mampu
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara.
Atas dasar alasan inilah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia mutlak
membutuhkan pendidikan. Pendidikan berperan membantu manusia memahami
makna di balik perubahan serta membantu manusia mengerti makna yang
terkandung dalam nilai-nilai baru serta mampu merespon perubahan sekaligus
mampu menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru. Dengan demikian,
Bab 1
2 |
masyarakat pendidikan menganggap bahwa tidak ada kehidupan tanpa
pendidikan.
Perpustakaan adalah salah satu sarana pendidikan yang strategis yang akan
ikut menentukan mutu hasil pendidikan. Perpustakaan merupakan pusat sumber
belajar sebagai prasyarat dari proses pembelajaran di madrasah yang harus
mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, terutamanya dalam bidang
teknologi dan informasi di era global ini. Selain itu, penerapan kurikulum berbasis
kompetensi (KBK) mengandaikan penggunaan perpustakaan secara intensif untuk
mendukung pengalaman belajar dan pembelajaran mandiri.
Dengan melihat kenyataan tersebut, maka sudah seyogyanya perpustakaan
madrasah untuk dapat menyesuaikan diri dengan semua perubahan tersebut.
Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang No. 43 tahun 2007, pasal 19 ayat
1 dan 2 bahwa pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan
sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas
maupun kualitas yang harus dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan
tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Pemanfaatan perpustakaan di madrasah oleh siswa dan guru di samping
sebagai prasyarat proses pembelajaran, juga diharapkan dapat memberikan bekal
pendidikan berkelanjutan dan pendidikan seumur hidup. Hal ini telah dijelaskan
pada mukadimah undang-undang tersebut, bahwa perpustakaan diselenggarakan
berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan,
keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan (UU No. 43 Th. 2007:
1).
Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan sebuah perpustakaan madrasah
sebagaimana disebutkan di atas, tentu harus ada kerjasama dan sinergi, termasuk
apresiasi terhadap perpustakaan di antara pemerintah, komite madrasah, kepala
madrasah, guru, dan pustakawan atau para pengelola perpustakaan. Sebagai
bentuk kepedulian pemerintah dalam pengembangan perpustakaan madrasah ini,
saat ini telah terbit Standar Nasional Perpustakaan (SNP 007: 2011) tentang
standar perpustakaan sekolah/madrasah mulai dari tingkat Ibtidaiyah sampai
3 |
penyelenggaraan, pengelolaan, pengorganisasian bahan perpustakaan, anggaran,
perawatan, kerjasama dan integrasi dengan kurikulum. Standar ini berlaku pada
perpustakaan sekolah/madrasah baik negeri maupun swasta (Perpusnas RI, 2011:
1).
Dengan penjelasan tersebut jelas bahwa secara normatif dan kenyataan
perpustakaan mempunyai peranan penting dalam menunjang mutu pendidikan.
Perpustakaan sebagai jantung suatu lembaga pendidikan yang mempunyai
kekuatan dan kemampuan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan dan
menentukan masa depan pendidikan itu sendiri.
Namun pada kenyataannya, masih banyak lembaga pendidikan terutama
satuan pendidikan madrasah yang belum memiliki perpustakaan sekaligus sumber
daya manusia perpustakaannya yang ideal baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Padahal dalam Permendiknas No. 25 tahun 2008 tentang Standar
Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah telah dinyatakan bahwa setiap jenjang
sekolah/madrasah harus dikelola oleh tenaga yang telah memiliki sertifikat
kompetensi pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah dari lembaga yang telah
ditetapkan oleh pemerintah selambat-lambatnya pada tahun 2013 (Kemendiknas,
2008: 1).
Seiring dengan pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai pusat
pembelajaran bagi para siswa dan guru di sebuah lembaga pendidikan, maka
dipandang perlu sebuah lembaga untuk melaksanakan koordinasi dan
bertanggungjawab atas pengembangan kompetensi tenaga perpustakaan madrasah.
Dalam hal ini Direktorat Pendidikan Madrasah Kementrian Agama RI
bekerjasama dengan Jurusan Ilmu Perpustakaan yang berada di UIN Jakarta,
Yogyakarta, dan Makasar telah menyelenggarakan Program Peningkatan
Kompetensi Tenaga Perpustakaan Madrasah untuk wilayah proprinsi DKI Jakarta,
Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Implementasi program sistem otomasi perpustakaan yang dikenal dengan
program “Senayan” atau SLIM merupakan salah satu materi yang menjadi
harapan bagi para tenaga perpustakaan madrasah dalam mengantisipasi efesiensi
dan efektivitas pengelolaan fungsi-fungsi perpustakaan. Selain itu, dengan adanya
4 |
terutama dalam mengatasi keterbatasan ruang dan koleksi perpustakaan di
lingkungan madrasah.
Pilihan program “senayan” sebagai salah satu materi otomasi pada Program Peningkatan Tenaga Perpustakaan Madrasah ini karena bersifat open source dan gratis. Perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan ini dibangun dengan
sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi ini pertama kali
dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan
Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan
Nasional. Seiring perkembangan waktu, aplikasi ini kemudian dikembangkan oleh
komunitas pengguna dan penggiat SLiMS. Beberapa aplikasi yang digunakan
dalam membangun program ini menggunakan PHP, basis data MySQL, dan
pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, SLiMS mendapat penghargaan tingkat
pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk kategori open source (Rasyid, 2009).
Namun, hasil pengamatan sementara menunjukan bahwa tidak lebih dari
25% tenaga perpustakaan madrasah yang mengikuti program peningkatan tersebut
dapat menggunakan program sistem otomasi berbasis “Senayan” ini. Sehingga
kesimpulan sementara dapat dikatakan bahwa program peningkatan dalam hal
otomasi perpustakaan ini belum sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengetahui faktor-faktor apa
yang berpengaruh atas penerimaan para tenaga perpustakaan madrasah terhadap
program sistem otomasi perpustakaan. Salah satu model penerimaan terhadap
teknologi yang paling sesuai sampai sekarang adalah model Technology Acceptance Model (TAM). TAM adalah teori sistem informasi yang membuat model tentang bagaimana seseorang menerima dan menggunakan teknologi
komputer. Model penerimaan teknologi ini memperkenalkan dua variabel kunci
yaitu, kegunaan persepsian (perceived usefullnes) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) yang memiliki relevancy pusat untuk memprediksi penerimaan tenaga perpustakaan madrasah (Acceptance of IT) terhadap teknologi komputer (Davis, 1989).
5 |
1995). Vaidyanathan sebagaimana dikutip oleh Imam (2009) menjelaskan
beberapa penelitian yang ada menunjukkan bahwa kebenaran TAM atas berbagai
macam sistem penggunaan teknologi informasi pada berbagai jenis instansi dan
perusahaan telah diakui oleh para peneliti di dunia.
Beberapa analisis TAM dalam penggunaan teknologi di lingkungan
perpustakaan telah dilakukan untuk melihat aspek-aspek yang berhubungan
dengan penerapan sistem informasi perpustakaan (Farhansyah, 2012); sistem
otomasi perpustakaan (Vita, 2013); dan perpustakaan digital (Imam, 2009).
Selanjutnya dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemanfaatan TAM
sebagai kerangka teoritis untuk menyelidiki pengaruh faktor eksternal atas
penerimaan tenaga perpustakaan madrasah terhadap program sistem otomasi
perpustakaan. Faktor tersebut terutama adalah faktor eksternal yang akan
berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan
terhadap program sistem otomasi perpustakaan “Senayan” menuju ke arah
penggunaan nyata otomasi perpustakaan madrasah.
TAM menganggap bahwa tingkat penggunaan nyata atau penerimaan tenaga
perpustakaan madrasah atas suatu teknologi dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu
faktor eksternal, kegunaan persepsian, kemudahan penggunaan persepsian, sikap
maupun niat untuk menggunakannya. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan
antara satu dengan yang lainnya.
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefinisikan sebagai tingkat kepercayaan tenaga perpustakaan madrasah bahwa dengan menggunakan sistem,
maka akan dapat meningkatkan kinerja tenaga perpustakaan madrasah tersebut.
Sedangkan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai tingkat kepercayaan tenaga perpustakaan bahwa sistem
dapat digunakan dengan mudah dan dapat dipelajari sendiri.
1.2 Batasan Masalah
Sebagaimana digambarkan di atas, permasalahan utama dalam penelitan ini
adalah “Apa yang menjadikan masalah belum berhasilnya diterapkan secara nyata
otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” oleh para tenaga perpustakaan
madrasah yang telah mengikuti program peningkatan kompetensi tenaga
6 |
Selatan?” Untuk itu dalam kesempatan penelitian ini penulis mencoba membatasi pada faktor pengetahuan dan keterampilan, kemudahan penggunaan persepsian,
kegunaan persepsian, sikap, niat, dan perilaku nyata para tenaga perpustakaan
madrasah untuk menggunakan program sistem otomasi perpustakaan berbasis
“Senayan” sebagai salah satu materi pokok dalam program peningkatan tersebut.
Beberapa pertanyaan yang muncul dalam penelitian ini, antara lain:
1. Bagaimana gambaran pengetahuan dan keterampilan, kemudahan penggunaan
persepsian, kegunaan persepsian, sikap, niat, dan perilaku nyata para tenaga
perpustakaan madrasah untuk menggunakan program sistem otomasi
perpustakaan berbasis “Senayan” setelah pelaksanaan pelatihan?
2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan keterampilan,
kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan persepsian, sikap, niat, dan
perilaku nyata para tenaga perpustakaan madrasah untuk menggunakan
program sistem otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” setelah pelaksanaan
pelatihan?
3. Seberapa besar pengaruh antara pengetahuan dan keterampilan, kemudahan
penggunaan persepsian, kegunaan persepsian, sikap, dan niat terhadap perilaku
nyata para tenaga perpustakaan madrasah untuk menggunakan program sistem
otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” baik secara sendiri (parsial) ataupun secara gabungan?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui gambaran tentang pengetahuan & keterampilan para tenaga
perpustakaan madrasah, kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan
persepsian, sikap ke arah penggunaan, niat untuk menggunakan, dan
penggunaan nyata untuk menerapkan program sistem otomasi perpustakaan
berbasis “Senayan” di perpustakaan madrasah?
2. Mengetahui hubungan antar pengetahuan & keterampilan para tenaga
perpustakaan madrasah, kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan
persepsian, sikap ke arah penggunaan, niat untuk menggunakan, dan
penggunaan nyata untuk menerapkan program sistem otomasi perpustakaan
7 |
3. Mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap berhasil atau
tidaknya penggunaan nyata dan penerimaan program sistem otomasi
perpustakaan “Senayan” di perpustakaan madrasah.
Adapun manfaat penelitian ini, antara lain:
1. Memberikan masukan kepada pihak penyelenggara pelatihan, dalam hal ini
Jurusan Ilmu Perpustakaan, dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas
pelatihan tenaga perpustakaan madrasah khususnya dalam bidang penerapan
teknologi informasi (program Senayan).
2. Memberikan rekomendasi bagi pihak terkait, Kemenag RI, dalam memfasilitasi
kerja sama peningkatan tenaga perpustakaan di lingkungan madrasah.
3. Memberikan wawasan keilmuan bagi Jurusan Ilmu Perpustakaan, terutama
dalam pengembangan mata kuliah penerapan teknologi informasi, khususnya
8 |
2.1 Sistem Otomasi Perpustakaan
2.1.1 Hakikat Sistem Otomasi Perpustakaan
Sebelum memahami pengertian sistem otomasi perpustakaan secara utuh, ada
baiknya kita memahami masing-masing istilah dari pengertian tersebut. Istilah
sistem dapat diartikan sebagai sekumpulan elemen, komponen, atau subsistem
yang saling berintegrasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu (Aji,
2005:238). Sedangkan istilah otomasi berimplikasi pada tingkat tingginya
mekanisasi pekerjaan-pekerjaan atau operasi-operasi yang sifatnya pengulangan
dan rutinitas yang dilakukan dengan mesin dengan sedikit bantuan atau tanpa
bantuan manusia. Lebih sedikit campur tangan manusia dalam kegiatan tersebut,
maka lebih banyak tingkat otomasinya. Namun hal ini, bukan berarti otomasi
sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia (Mishra, 2008:36).
Dalam kaitannya dengan otomasi perpustakaan, sistem terotomasi dapat
digambarkan melalui pendekatan fungsi, antarmuka, dan platform. Istilah sistem terotomasi melalui pendekatan fungsi dapat berupa sistem yang berdiri sendiri
(stand-alone system) atau sistem terintegrasi (integrated system). Kemudian istilah sistem dengan pendekatan antarmuka dapat berupa sistem berbasis
karakter, Windows, dan Web. Sedangkan istilah sistem terotomasi dengan
pendekatan platform, sistem dapat mendukung perangkat PC dan/atau Macintosh. Sebuah sistem yang berdiri sendiri atau terintegrasi dapat berbasis Windows
dan/atau Web dan kemungkinan dapat beroperasi pada sebuah PC dan/atau
Macintosh (Bilal, 2001:3).
Selanjutnya Bilal (2001) menjelaskan bahwa sistem yang berdiri sendiri
biasanya terdiri dari satu atau beberapa modul untuk melakukan kegiatan fungsi
perpustakaan (seperti: sirkulasi, pengatalogan, dan OPAC), namun tidak
menggunakan basis data tunggal. Sedangkan, sebuah sistem terintegrasi terdiri
Bab 2
9 | dari beberapa modul yang saling berhubungan (seperti: sirkulasi, pengatalogan,
OPAC, pengadaan, dan kontrol serial) dengan menggunakan basis data tunggal.
Masing-masing modul dalam sistem terintegrasi ini merupakan bagian dan bekerja
secara berbarengan dengan modul lainnya yang tersedia dalam sistem terotomasi.
Schultz-Jones (2006) menjelaskan bahwa istilah sistem otomasi merujuk pada
berbagai perangkat lunak dan teknologi perangkat keras yang tersedia untuk
mendukung dan memberikan spektrum layanan sumber daya informasi kepada
pihak pengguna dan pengelola perpustakaan.
Secara sederhana otomasi perpustakaan dapat didefinisikan sebagai
penerapan komputer untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan
perpustakaan yang sebelumnya dilakukan secara tradisional, kegiatan tersebut
meliputi pengadaan, sirkulasi, pengatalogan, referensi dan kontrol serial (Faisal,
2014).
Dalam hal ini Neelakandan dkk. (2010) mempertegas pernyataan di atas
bahwa:
“library automation refers to mechanization of library housekeeping operations predominantly by computerization. The most commonly known housekeeping operations are acquisition control, serials control, cataloguing, and classification and circulation control”.
Istilah otomasi perpustakaan ini pada awalnya secara umum digunakan untuk
kerumahtanggaan perpustakaan seperti digambarkan dalam pernyataan di atas.
Namun, pada masa sekarang cakupan istilah tersebut menjadi lebih luas lagi yaitu
mencakup semua teknologi yang digunakan perpustakaan dan pusat informasi
untuk pengadaan, pengolahan, penyimpanan, temu kembali, penyebaran, dan
penyaluran semua jenis informasi secara lokal, regional, nasional, dan
internasional (Dhanavandan, 2012:667).
Dengan demikian fokus dalam otomasi perpustakaan dewasa ini adalah
sistem, sumber informasi, dan pengguna yang terkoneksi dengan memanfaatkan
hasil pengembangan komputer dan internet. Sistem manajemen perpustakaan
dilakukan secara terintegrasi dengan menerapkan modul-modul standar seperti
pengadaan, pengkatalogan, sirkulasi, akses katalog online dan jaringan kerjasama
melalui fasilitas internet. Hal ini menunjukan bahwa sistem yang berkembang
saat ini adalah bagaimana perpustakaan dapat mengatur sumber dayanya agar
10 | terintegrasi mempengaruhi setiap aspek kegiatan sehari-hari perpustakaan, mulai
dari sirkulasi dan pengatalogan sampai kepada kemampuan perpustakaan
memberikan sumber dan layanannya melalui situs WEB dan katalog online
(Webber, 2010:xi).
Sistem perpustakaan terintegrasi ini menjadi sistem kritis yang mendukung
banyak operasi perpustakaan (Vaughan, 2011:62). Sistem terpadu yang dapat
mengkombinasikan semua kegiatan perpustakaan dan mendukung kinerja
perpustakaan.
Sistem manajemen perpustakaan atau sistem perpustakaan terintegrasi telah
dikembangkan sebagai ungkapan dalam kemajuan kegiatan teknis perpustakaan
dan kebutuhan pengguna, terutama dalam mengembangkan antarmuka elektronik,
standar dalam penyaringan informasi dan akses protokol data, pembelian dan
proses akuisisi serta sistem katalogisasi (Adamson, 2008:7).
Istilah “otomasi perpustakaan” dan “sistem perpustakaan terintegrasi” ini
mempunyai arti yang sama dan dapat digunakan untuk menggambarkan perangkat
lunak yang mengoperasikan sirkulasi, pengatalogan, katalog online, dan
modul-modul lainnya yang mengoperasikan fungsi kegiatan perpustakaan.
Sehubungan dengan penggunaan istilah ini Schultz-Jones (2006:19)
menjelaskan bahwa:
“An alternate term sometimes used is integrated library system (ILS). The concept behind the term ILS is that a set of functional components integrated in a system software package provides the delivery of services. As technology has advanced our capability to support the delivery of library functions, the concept of integrated systems remains as a primary option for automating library functions...”
Dalam hal ini, Kochtanek (2002:3) menjelaskan bahwa pada awalnya
memang istilah otomasi perpustakaan yang digunakan oleh para profesional untuk
mewadahi kegiatan-kegiatan internal perpustakaan yang sifatnya prosedural.
Namun pada perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1980an istilah tersebut telah
bergeser menjadi sistem perpustakaan terintegrasi. Istilah ini meliputi
fungsi-fungsi otomasi perpustakaan sebagai pendukung pengadaan, pengatalogan,
kontrol sirkulasi, pemesanan bahan, kontrol serial, dan katalog online yang
selanjutnya istilah tersebut sepertinya tidak dapat dipisahkan lagi atau menjadi
11 | Lebih jauh lagi dalam hal ini Cohn (2001:xv) menjelaskan bahwa
perkembangan istilah tersebut berlangsung sampai akhir tahun 1990an. Selama
periode tersebut, dengan adanya perkembangan bidang teknologi informasi, para
pengguna perpustakaan telah memasuki dunia cyber dengan tuntutan bahwa perpustakaan atau lembaga penyedia informasi diharapkan dapat menyediakan
akses yang lebih luas terhadap berbagai macam format informasi. Sumber-sumber
tersebut dapat berupa akses yang dilakukan melalui fasilitas perpustakaan dan
jaringan perpustakaan terhadap sistem vendors, far-flung networks, full-content database, dan internet.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem otomasi perpustakaan
merupakan serangkaian kegiatan perpustakaan yang saling terintegrasi satu sama
lainnya melalui jaringan komputer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu
untuk membantu pustakawan dalam melakukan tugasnya dan juga membantu
pemustaka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.
2.1.2 Cakupan Sistem Otomasi Perpustakaan
Pada dasarnya cakupan sistem otomasi perpustakaan terdiri dari tiga modul,
yaitu: katalog online (OPAC), pengatalogan, dan sirkulasi. OPAC merupakan
fasilitas temu kembali informasi yang dapat digunakan melalui pendekatan
pengarang, judul, subyek, dan kata kunci dengan menggunakan operator
BOOLEAN (AND, OR, NOT); penelusuran hyperlink (untuk menemukan cantuman dengan kata atau subyek yang muncul pada cantuman tersebut);
penelusuran karakter bebas (seperti word truncation); dan pilihan kombinasi
strategi penelususran (seperti pengarang-judul; pengarang-subyek). Modul
pengatalogan merupakan fasilitas yang mempunyai beberapa tugas, seperti
pengatalogan menggunakan protokol MARC, pengeditan, penyalinan,
perekaman, dan temu kambali cantuman katalog sebelumnya. Kemudian, modul
sirkulasi adalah modul untuk melakukan fungsi sirkulasi, seperti peminjaman,
pengembalian, inventarisasi, peringatan keterlambatan, data koleksi yang masih
tersedia dan masih dipinjam, denda, dan laporan statistik. Dan, untuk selanjutnya
cakupan sistem ini dapat ditambah dengan beberapa modul lainnya, seperti modul
12 |
Dalam hal ini Mishra (2008:36) menjelaskan bahwa perangkat lunak
manajemen perpustakaan pada dasarnya dirancang untuk memenuhi beberapa
pekerjaan perpustakaan yang meliputi:
1. Pemesanan dan Pengadaan – untuk mengontrol pemesanan dan pengadaan persediaan barang baru.
2. Pengatalogan – untuk menjaga basis data katalog.
3. Kontrol Sirkulasi – untuk mengontrol sirkulasi, seperti persediaan koleksi yang ada, koleksi yang sedang dipinjam, pengembalian, catatan peminjam,
pemesanan dan denda.
4. Katalog Terpasang (OPAC) – menyediakan antar muka ke basis data katalog sehingga pengguna dapat menelusur basis data tersebut.
5. Kontrol Serial – untuk mengontrol semua proses yang berhubungan dengan serial seperti pemesanan, pengadaan, pengatalogan, penjilidan dan
sirkulasi.
6. Modul-modul tambahan – sarana tambahan untuk mendukung pinjam antar perpustakaan, informasi pihak manajemen dan masyarakat.
Namun, pada perkembangan selanjutnya Grant (2012:5) menjelaskan bahwa
saat ini telah banyak perpustakaan yang memulai memikirkan kembali efektivitas
perangkat otomasi untuk memberikan layanan perpustakaan baik dari dalam
maupun luar gedung dengan sebuah sistem yang diberi istilah “library services platforms”. Pengembangan sistem ini dilakukan dengan beberapa alasan karena produk sistem perpustakaan terintegrasi sebelumnya belum dapat dikonfigurasi
ulang dengan baik dan efesien dalam menangani integritas alur kerja yang berbeda
untuk koleksi tercetak dan digitalnya. Kemudian sistem yang lama juga belum
dapat mengambil beberapa kelebihan yang ditawarkan dari hasil perkembangan
teknologi bidang komputer, khususnya dalam masalah cloud computing.
Untuk itu dalam kesempatan ini Grant (2012:13) memberikan gambaran
bahwa cakupan sistem otomasi perpustakaan ke depan meliputi:
13 | 2. Target jenis pelanggan: perpustakaan umum, akademik, khusus, nasional,
dan konsorsium;
3. Fungsi: seleksi/pengadaan, sirkulasi, pengatalogan, temukembali,
Environmental Resources Management (ERM), ILL, pendaftaran, analitis, pelaporan, interface tunggal, knowledgebase, dukungan data terkoneksi, Open APIs dan/atau SOA, manajemen kegiatan, mobile support, dukungan video, multi-lingual subject heading, dukungan Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR), dukungan Resource Description and Access (RDA), kemampuan pemeliharaan, dukungan buku elektronik.
2.1.3 Manfaat dan Kekurangan Sistem Otomasi Perpustakaan
Beberapa manfaat penerapan sistem otomasi perpustakaan yang sudah
terbukti selama ini antara lain dapat mengembangkan layanan perpustakaan dan
meningkatkan produktivitas, efesiensi, dan akurasi dalam melaksanakan berbagai
macam operasional perpustakaan. Selain itu sistem terotomasi juga dapat
memberikan manfaat lainnya, yaitu:
a. Memungkinkan pengguna untuk menggunakan strategi pencarian yang lebih
bervariasi dari pada mereka yang menggunakan katalog kartu.
b. OPAC berbasis Windows memungkinkan untuk hyperlink pencarian, yaitu
fitur baru yang tidak mungkin dilakukan pada sistem berbasis karakter
(seperti, DOS).
c. Memungkinkan pengguna untuk menelusur koleksi perpustakaan dari tanpa
harus datang ke perpustakaan secara fisik.
d. Menyediakan pengguna dengan akses yang tepat terhadap bahan pustaka.
e. Mendukung sarana baru pencarian informasi dengan memperkenalkan
pengguna untuk informasi global.
f. Mengurangi tugas-tugas rutin atau mengerjakan tugaas tersebut lebih
efisien.
g. Mempercepat dan menyederhanakan proses inventarisasi bahan pustaka.
h. Mendorong kerjasama pengembangan koleksi dan berbagi sumber daya
14 | i. Memungkinkan pusat-pusat media dan perpustakaan untuk mengimpor dan
mengekspor cantuman MARC.
j. Memotivasi pengguna, dengan cara melengkapi mereka dengan
keterampilan pemecahan masalah dan penelusuran informasi, dan
menyediakan mereka dengan pengalaman belajar seumur hidup.
k. Memungkinkan untuk katalogisasi sumber daya Internet dan untuk
mengimpornya ke dalam sistem lokal.
l. Dapat digunakan dalam pemetaan koleksi (Bilal, 2001:4).
Dalam hal ini Bilal (2001:6) juga menjelaskan bahwa selain beberapa
manfaat yang bisa didapatkan dari penerapan sistem terotomasi ini, ternyata ada
beberapa kekurangan yang biasa muncul, di antaranya:
a. Pelaksanaan sistem terotomasi perpustakaan memerlukan waktu yang tidak
sedikit. Perencanaan, pemilihan, dan penerapan sistem otomasi
membutuhkan komitmen jangka panjang yang signifikan dari pengelola.
Setelah dipilih dan dilaksanakan, sistem otomasi harus dipelihara secara
teratur. Dengan memiliki sistem otomasi yang tergabung dalam jaringan
menambahkan tuntutan lebih lanjut tentang waktu untuk ahli media atau
profesional informasi.
b. Penerapan sistem terotomasi memerlukan dana yang cukup banyak. Biaya
permulaan, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, kabel, dan perangkat
lunak; furniture; beban keberlangsungan seperti persediaan untuk printer dan label barcode; pemeliharaan tahunan dan dukungan teknis; dan konversi
dari daftar kalalog manual perpustakaan menjadi sebuah format terbacakan
mesin (seperti MARC) mungkin lebih banyak dibandingkan dengan
pusat-pusat media dan perpustakaan kecil.
c. Tuntutan sistem terotomasi mungkin tidak memberikan waktu yang
memadai bagi staf untuk memberikan layanan baru atau untuk bekerja
dengan siswa, guru, dan klien lain. Pada satu sisi otomasi mengurangi
beberapa tugas, tetapi pada sisi lain menghasilkan tugas yang baru.
Pelatihan bagi pengguna akhir, keberlangsungan pemecahan masalah
15 | d. Akses ke sistem terotomasi tidak tersedia ketika sistem bermasalah. Hal ini
akan menghambat akses pengguna ke koleksi, terutama jika katalog kartu
atau shelflist tidak lagi ada di pusat media atau perpustakaan.
2.1.4 Platform Sistem Otomasi Perpustakaan Senayan (SLiMS)
Salah satu langkah yang sangat penting dalam perencanaan sistem otomasi
perpustakaan adalah menentukan perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan
fungsi kegiatan perpustakaan. Dari beberapa platform perangkat lunak yang sudah dikenal di kalangan pustakakwan atau perpustakaan di Indonesia di
antaranya: SIP-ISIS, Athenium, Ibra, dan Senayan.
“Senayan” (atau dikenal juga dengan sebutan SLiMS) merupakan salah satu
perangkat lunak yang disediakan oleh Kemendiknas RI yang dapat diunduh
secara gratis di situs http://slims.web.id/web/ karena software ini bersifat
freeware. Selain itu perangkat lunak ini adalah sebuah open source software yang tentunya bisa dikembangkan dan didalami oleh si pemakai, tetapi tetap
dengan harus memperhatikan kaidah dalam memakai karya orang lain dengan
tidak mengubah developer ataupun tidak merubah nama yang sudah menjadi hak cipta dari si pemilik software itu sendiri.
SLiMS merupakan perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan
berbasis web untuk memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan untuk skala
kecil hingga skala besar. Perangkat lunak ini cukup lengkap dan masih terus
aktif dikembangkan, sehingga sangat cocok digunakan bagi perpustakaan
yang memiliki koleksi, anggota dan staf banyak di lingkungan jaringan, baik
itu jaringan lokal (intranet) maupun internet. Keunggulan SLiMS lainnya adalah
multi-platform, yang artinya bisa berjalan secara native hampir di semua sistem operasi yang bisa menjalankan bahasa pemograman PHP dan RDBMS
MySQL (Ridha, 2014).
Dalam dokumen SLIM (2014) dijelaskan bahwa SLiMS sendiri
dikembangkan di atas platform GNU/Linux dan berjalan dengan baik di atas
platform lainnya seperti Unix BSD dan Windows. SLiMS merupakan aplikasi
berbasis web dengan pertimbangan cross-platform. Sepenuhnya dikembangkan
16 |
(www.php.net) dan MySQL Database Server (www.mysql.com). Untuk
meningkatkan interaktifitas agar bisa tampil seperti aplikasi desktop, juga
digunakan teknologi AJAX (Asynchronous Java Script And XML). SLiMS
juga menggunakan open source software untuk menambah fitur seperti
PhpThumb dan Simbio (development platform yang dikembangkan dari proyek Igloo). Untuk itu Senayan dilisensikan dibawah GPLv3 yang
menjamin kebebasan dalam mendapatkan, memodifikasi dan mendistribusikan
kembali (rights to use, study, copy, modify, and redistribute computer
programs).
Beberapa fitur yang terdapat dalam SLiMS antara lain:
1. Online Public Access Catalog (OPAC) dengan pembuatan thumbnail yang di-generate on-the-fly. Thumbnail berguna untuk menampilkan sampul buku. Mode penelusuran tersedia untuk yang sederhana (Simple Search) dan tingkat lanjut (Advanced Search). Mendukung Boolean Logic, pencarian menggunakan suara dan keyword suggestions.
2. Detail record juga tersedia format XML (Extensible Markup Language) standar MODS untuk kebutuhan web service.
3. Fitur OAI-PMH sebagai pertukaran data standar.
4. Realy Simple Syndication
5. Fitur Z39.50, p2p service dan SRU untuk copy cataloging dari berbagai Perpustakaan
6. Manajemen data bibliografi yang efisien meminimalisasi pengulangan
data.
7. Manajemen master file untuk data referensial seperti GMD (General
Material Designation),
8. Tipe Koleksi, Penerbit, Pengarang, Lokasi, Supplier, dan lain-lain.
9. Sirkulasi dengan fitur: a. Transaksi peminjaman dan pengembalian; b.
Reservasi koleksi; c. Aturan peminjaman yang fleksibel; d. Informasi
keterlambatan dan denda.
10. Manajemen keanggotaan, termasuk capture foto anggota langsung di sistem.
17 | 12. Laporan dan Statistik
13. Pengelolaan terbitan berkala
14. Dukungan pengelolaan dokumen multimedia (.flv, .mp3) dan dokumen
digital. Khusus untuk pdf dalam bentuk streaming.
15. SLiMS mendukung beragam format bahasa termasuk bahasa yang tidak
menggunakan penulisan selain latin.
16. Menyediakan berbagai bahasa pengantar (Indonesia, Inggris, Spanyol,
Arab, Jerman, Bengali, Thailand dan lainnya). Pengguna dapat secara
mandiri mengembangkan bahasa pengantar yang diinginkan.
17. Dukungan untuk membentuk katalog induk dan federated search dengan aplikasi UCS dan Nayanes.
18. Counter pengunjung perpustakaan
19. Member Area untuk menuliskan komentar pada koleksi, melihat dan
mengunduh koleksi sedang dan pernah dipinjam.
20. Notifikasi keterlambatan dan pemesanan anggota
21. LDAP server
22. Modul sistem dengan fitur: a. Konfigurasi sistem global; b. Manajemen
modul; c. Manajemen User (Staf Perpustakaan) dan grup; d. Pengaturan hari
libur; e. Pembuatan barcode otomatis; f. Utilitas untuk backup.
2.2 Model Penerimaan Teknologi (TAM)
2.2.1 Konsep TAM
Konsep TAM pertama kali dikembangkan oleh Davis pada tahun 1986
dengan menawarkan sebuah teori sebagai landasan untuk mempelajari dan
memahami perilaku pemakai dalam menerima dan menggunakan sistem informasi
(Davis, 1986:7; Davis, Bagozzi dan Washaw, 1989). Konsep ini merupakan salah
satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat
berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual
terhadap penggunaan sistem teknologi informasi sebagai model penerimaan
teknologi (Lambertus, 2012:763).
Davis dkk. (1989:320) menjelaskan bahwa alasan pertama seseorang
18 | bahwa perangkat tersebut dapat meningkatkan kinerjanya, yang selanjutnya
disebut variabel kegunaan persepsian (perceived usefulness). Alasan yang kedua bahwa selain berguna perangkat tersebut juga harus mudah digunakan. Karena
belum tentu orang tersebut mau menggunakan perangkat tersebut dengan alasan
tidak mudah menggunakannya. Dengan demikian varibel kedua yang
mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap penggunaan sebuah teknologi
dipengaruhi juga oleh penerimaan kemudahan penggunaannya (perceived ease of use).
Model TAM sebenarnya diadopsi dari Theory of Reasonable Actions (TRA) yaitu teori tindakan yang beralasan dengan premis bahwa reaksi dan persepsi
seseorang terhadap sesuatu hal, akan menentukan sikap dan perilaku orang
tersebut. Reaksi dan persepsi pengguna teknologi informasi (TI) akan
mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan terhadap teknologi tersebut. Salah
satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah persepsi pengguna terhadap
kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai suatu tindakan yang
beralasan dalam konteks pengguna teknologi. Sehingga alasan seseorang dalam
melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan/perilaku
manusia tersebut sebagai tolak ukur dalam penerimaan sebuah teknologi (Imam,
2009).
Dalam hal ini Davis dkk. (1989:985) menjelaskan bahwa TAM merupakan
sebuah model yang diadaptasi dari TRA yang dikhususkan untuk model
penerimaan pengguna terhadap sistem informasi. Tujuan utamanya adalah untuk
menyediakan sebuah pijakan untuk menyelidiki pengaruh faktor-faktor
kepercayaan internal, sikap dan minat. TAM diformulasikan untuk tujuan tersebut
dengan cara mengidentifikasi sejumlah variabel penting yang berhubungan
dengan pengetahuan dan sikap terhadap penerimaan komputer, dan dengan
menggunakan TRA sebagai teori dasarnya untuk menggambarkan hubungan antar
variabel tersebut.
Model TRA dapat diterapkan karena keputusan yang dilakukan individu
untuk menerima suatu teknologi sistem informasi merupakan tindakan sadar yang
dapat dijelaskan dan diprediksi oleh minat perilakunya. TAM menambahkan dua
19 | konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). TAM berargumen bahwa penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi ditentukan oleh
dua konstruk tersebut (Jogiyanto, 2007:111).
Gambar 2.1. Technology Acceptance Model (Davis, Bagozzi dan Warshaw,1989:985)
Selanjutnya penjelasan kelima konstruk yang sudah terbentuk tersebut dapat
digambarkan dalam penjelasan berikut ini (Davis dkk., 1989;
Yogianto,2007:114-117):
1. Kegunaan Persepsian (Perceived Usefulness)
Konstruk yang pertama ini didefinisikan sebagai sejauhmana seseorang
percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja
pekerjaannya (“as the extent to which a person believes that using a technology will enhance her or his performance.”) Artinya, jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan
menggunakannya. Sebaliknya, jika merasa percaya bahwa sistem informasi
kurang berguna dia tidak akan menggunakannya. Dengan kata lain konstruk
ini merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan.
2. Kemudahan Penggunaan Persepsian (Perceived Ease of Use)
Konstruk yang kedua dari TAM adalah kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ease of use) yang didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang
20 | mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya, jika
seseorang merasa percaya bahwa sistem tidak mudah digunakan maka dia
tidak akan menggunakannya.
3. Sikap terhadap Perilaku
Sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior) didefinisikan sebagai perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku
yang ditentukan (“an individual’s positive or negative feelings about performing the target behavior.”)
4. Minat Perilaku (Behavioral Intention)
Minat perilaku (behavioral intention) adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku yang tertentu. Seseorang akan
melakukan suatu perilaku (behavior) jika mempunyai keinginan atau minat untuk melakukannya.
5. Perilaku (Behavior)
Perilaku (behavior) adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam konteks penggunaan sistem teknologi informasi, perilaku adalah
penggunaan sesungguhnya (actual use) dari teknologi.
2.2.2 TAM pada Sistem Otomasi Perpustakaan
Selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 1995 banyak penelitian
yang mencoba menguji konsistensi, validitas dan reliabilitas pengukuran
instrumen-instrumen TAM. Semua peneliti sependapat bahwa tidak ada
pengukuran yang secara absolut benar untuk membentuk suatu konstruk.
Demikian juga tidak ada pengukuran yang absolut benar untuk konstruk perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEOU) yang berbeda waktu, kondisi dan teknologi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum, hasil-hasil penelitian
menunjukan bahwa pengukuran instrumen-instrumen TAM cukup kuat, konsisten,
valid, dan reliabel (Jogiyanto, 2007:123).
Lebih jauh lagi Jogianto (2007) menjelaskan bahwa beberapa penelitian
tentang TAM mencoba mengembangkan model yang sudah ada dengan
menambahkan beberapa variabel eksternal yang menerangkan lebih lanjut atau
21 | atau PU dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) atau PEOU di TAM.
Beberapa studi yang lebih jauh untuk memperluas TAM dengan
menambahkan berbagai macam variabel eksternal, seperti perkembangan diri atas
komputer (computer self-efficacy) dan pelatihan yang dapat mempengaruhi faktor-faktor kepercayaan kegunaan persepsian dan kemudahan kegunaan persepsian
masih terus dibutuhkan (Davis, Bagozzi dan Warshaw, 1989; Smarkola,
2011:11).
Smarkola (2011) menggambarkan bahwa pengembangan model TAM dengan
menambahkan variabel eksternal dapat dikategorikan sebagai variabel individual,
organisasi, kultur, dan karakteristik-karakteristik tugas. Beberapa penelitian
berkenaan dengan variabel individual, khususnya dalam pengembangan
kemampuan penggunaan teknologi informasi, telah dilakukan oleh Agarwal dan
Prasad tahun 1999, Gefen dan Straub tahun 1997, dan Karahhanna dkk. tahun
1999. Pada penelitian-penelitian tersebut mengembangkan model TAM dengan
menambahkan lima macam variabel individual sebagai variabel-variabel eksternal
yang lebih menjelaskan konstruk PU dan PEOU. Hasilnya menemukan bahwa
pelatihan (training) berhubungan positif dengan konstruk PU dan pengalaman masa lalu (prior experience), peran pemakai sehubungan dengan teknologi (role with regard to technology), masa kerja (tenure in workplace), tingkat pendidikan (level of education) berhubungan dengan PEOU.
Perkembangan selanjutnya beberapa penelitian tentang pengembangan TAM
diimplementasikan pada perpustakaan digital menghasilkan model pengembangan
TAM yang salah satu di antaranya dilakukan oleh J.Y.L. Thong pada tahun 2002,
di mana faktor eksternal berupa karakteristik antarmuka, konteks organisasi dan
perbedaan individu mampu mempengaruhi persepsi kemudahan penggunaan dan
persepsi kegunaan atas perpustakaan digital. Kemudian Taha pada tahun 2005
mengusulkan bahwa TAM dari Davis dan Tong, dimodifikasi sehingga
22 | Gambar 2.2. TAM dalam perpustakaan Digital (J.Y.L. Thong, 2002)
Selanjutnya J.Y.L. Thong dan Taha seperti yang dikutip Imam (2007),
menjelaskan ke tiga konstruk yang menjadi variabel tambahan sebagai
pengembangan TAM sebagai berikut ini:
1. Desain Portal Perpustakaan (Library Portal Design)
Penelitian sebelumnya atas perpustakaan digital telah mengidentifikasi
dua aspek yang berbeda atas nilai guna perpustakaan digital yaitu interface usability dan organizational usability (Kling & Elliott 1994). Kualitas antarmuka sistem memberikan suatu kontribusi penting pada nilai guna perpustakaan digital
dan sering dikutip oleh para peneliti dalam kerangka teorinya. Sebagai media
antara sistem dan pemakai, antarmuka bertindak sebagai platform untuk tindakan pemakai. Suatu antarmuka dirancang dengan baik supaya dapat membantu
para pemakai dalam menggunakan sistem secara mudah dengan mengurangi
usaha dalam mengidentifikasi obyek tertentu pada layar atau penyediaan
navigasi yang jelas antara layer satu dengan yang lainnya. Pentingnya sistem
antarmuka dalam pencapaian pemakai atas sistem temu kembali informasi
telah ditulis oleh para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi (Dellon &
Song., 1995: 490).
a. Terminologi (terminology)
Terminologi mengacu pada kata, kalimat dan singkatan yang digunakan oleh
suatu sistem (Lindgaard, 1994). Variabel istilah dapat dikatakan sebagai bahasa.
Karena suatu variabel tertentu, seorang pemakai perlu untuk memahami bahasa
tertentu dalam rangka menerima dan menggunakan teknologi tersebut.
23 | informasi yang baru tergantung pada banyaknya para pemakai yang saling
berhubungan dengan sistem melalui query terstruktur yang pada gilirannya
tergantung pada pemahaman pemakai atas istilah yang digunakan oleh
perpustakaan digital. Sebagai contoh, suatu masalah utama perpustakaan
digital adalah tidak sesuainya penggunaan jargon (Talja et al. 1998).
b. Desain Antarmuka (screen design)
Desain antarmuka adalah suatu cara dimana informasi dipresentasikan
pada suatu layar (Lindgaard, 1994). Penelitian terdahulu telah menemukan isi
yang sama, suatu cara atas informasi yang ditunjukkan pada layar mampu
mempengaruhi strategi pencarian informasi pemakai sebagaimana
kemampuannya. Dalam konteks perpustakaan digital, tidak hanya “what” yang berhubungan dengan antarmuka tetapi juga “how”. Sebagai contoh, grafik antarmuka telah ditemukan interaksi yang lebih banyak dengan para pemakai
dalam sistem temu kembali informasi dan perpustakaan digital (Liu et al., 2000).
Suatu metode bahwa informasi diatur pada layar dapat mempengaruhi
interaksi pemakai tersebut dengan perpustakaan digital di luar efek isi
informasi. Demikian pula, banyaknya poin-poin tertentu akan membuat sulit
untuk dibaca, sepanjang tombol yang digambarkan dengan gambar tertentu
dapat menciptakan kebingungan dan kesalahpahaman. Secara jelas, antarmuka
yang terorganisir dengan baik dan secara hati-hati dirancang dapat membantu
para pemakai dalam meneliti antarmuka dan mengidentifikasi informasi yang
relevan secara mudah.
c. Navigasi (navigation)
Navigasi adalah kemudahan dimana pemakai dapat berpindah-pindah pada
seputar sistem (Lindgaard, 1994). Suatu masalah seringkali didapatkan oleh para
pemakai ketika mereka mencoba untuk menempatkan informasi digital pada
orientasi yang salah (Dillon, 2000). Sejumlah informasi meningkat dengan cepat,
struktur untuk menyimpan informasi menjadi lebih kompleks. Para pemakai
seringkali mudah kehilangan sistem informasi yang intensif sepanjang
24 | 2. Organisasi E-resources (E-resources Organization)
Organisasi e-resources mengacu pada tata cara sistem komputer sehingga dapat secara efektif terintegrasi ke dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi
tertentu. Perpustakaan digital mungkin lebih dapat digunakan dalam beberapa
organisasi dibandingkan dengan yang lainya. Beberapa karakteristik yang
sesuai dengan perpustakaan digital dan organisasinya sulit untuk dipakai
dalam mendukung pemakaian fasilitasnya. Empat dimensi usabilitas
organisatoris perpustakaan digital meliputi:
o Accessibility – Kemudahan seseorang dalam menempatkan sistem komputer secara spesifik, keuntungan dalam mengakses secara fisik dan
akses elektronik terhadap jumlah koleksi ektroniknya. Dimensi ini
mengacu pada pendekatan secara fisik dan pembatasan adminitratif atas
penggunaan sistem tertentu.
o Compatibility -Tingkat kecocokan perpindahan file dari sistem ke sistem. o Integrability into work practices - Bagaimana sistem berhubungan
dengan seseorang atau kelompok kerja dengan baik.
o Social-organizational expertise - Fasilitas bagi seseorang untuk dapat memperoleh pelatihan dan berkonsultasi dalam belajar menggunakan sistem
dan dapat menemukan bantuan (help) atas permasalahan dalam penggunaan sistem (Kling, 1994).
Berdasarkan kegunaan dan klasifikasi oleh Kling Elliott (1994) dan
Lindgaard (1994), serta oleh Davies (1997), diusulkan oleh JYL Thong
(2002) agar memasukkan tiga variable dalam konteks organisasi yaitu:
relevansi, sistem aksesibilitas dan sistem visibilitas.
a. Relevansi (relevance)
Salah satu dari dimensi organizational usability yang diusulkan oleh
Kling dan Elliott (1994) adalah integrability dari sistem ke dalam pekerjaan
secara praktis dimana sistem sesuai secara praktis baik untuk perorangan
maupun kelompok. Variabel yang sama diusulkan oleh Lindgaard (1994)
sesuai dengan tugas-tugas pemakai, dimana tingkatan sistem sesuai dengan
tugas-tugas yang dilakukan pada lingkungan. Kedua variabel menekankan
25 | diimplementasikan pada konteks perpustakaan digital, kesesuaian antara isi
sistem dan kebutuhan informasi pemakai secara individu. Literatur ilmu
perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa relevansi adalah istilah yang
tepat untuk mewakili konsep tersebut.
Bahkan, evaluasi sistem temu kembali informasi telah bergulir di sekitar
ide tentang relevansi (Park, 1994). Konsep relevansi yang melekat pada
pemakai dari hasil evaluasi kinerja dalam sistem informasi (Schamber,
Eisenberg& Nilan, 1990). Tujuan dari sistem ini adalah untuk menyediakan
dokumen yang relevan kepada pemakai. Gluck (1996) menemukan hubungan
yang kuat antara relevansi dan kepuasan pengguna dengan sistem informasi,
sedangkan Yao (1995) mencatat bahwa pengguna cenderung untuk mencari
dokumen yang berguna agar relevan. Karena itu, diusulkan oleh JYL Thong
dkk (2002) bahwa relevansi dari sebuah perpustakaan digital untuk pengguna
informasi akan meningkatkan kebutuhan pengguna persepsi dari kegunaan.
b. Aksesibilitas Sistem (system accessibility).
Accessibility didefinisikan sebagai kemudahan dimana seseorang dapat
mencari atau mendapatkan secara spesifik pada suatu sistem komputer (Kling &
Elliott, 1994). Secara tradisional aksesibilitas dari data dan informasi (bukan
sistem komputer) telah menjadi fokus dari penelitian IS. Persepsi
aksesibilitas dapat ditemukan menjadi salah satu yang penting dalam
menentukan frekuensi penggunaan sumber informasi dan pemilihan saluran
informasi. Aksesibilitas yang rendah dapat berpengaruh secara negatif
terhadap penggunaan sumberdaya elektronik, khususnya sumber daya on-line
yang disediakan oleh perpustakaan digital (Zhang & Estabrook, 1998). Secara
khusus, Kraemer dkk. (1993) menemukan bahwa akses yang lebih besar dari
informasi berbasis komputer memiliki kontribusi informasi yang besar atas
manfaatnya pada manajer.
c. Visibilitas Sistem (system visibility)
Visibilitas sistem berasal dari konsep sistem observability yang
merupakan salah satu kunci karakteristik dari inovasi teknologi yang
diidentifikasi oleh Rogers (1995). Observability didefinisikan sebagai tingkatan
26 | lainnya (Rogers, 1995). Hampir sama dengan situasi dengan inovasi teknologi
lainnya, manfaat menggunakan perpustakaan digital dan bahkan keberadaan
sistem itu sendiri tidak dapat diketahui untuk pemakai potensial. Oleh karena itu,
penting untuk meningkatkan visibilitas atas perpustakaan digital. Menurut Moore
dan Benbasat (1991, hal 203), ‘‘it appears that the more a potential adopter can see an innovation, the more likely he is to adopt it’’. Dasar secara psikologis, fenomena ini disebut seabagai efek eksposur yang berarti
independen dari pertimbangan dasar, eksposur tersebut pada obyek yang
mampu mengubah secara positif atas sikap individu terhadap objek yang
dimaksud. Walaupun sistem visibilitas tidak akan menambah nilai yang
sebenarnya dari fungsi perpustakaan digital dengan pengguna tetapi dapat
membantu pemakai dalam mengetahui fungsi-fungsinya lebih bermanfaat
kemudian meningkatkan niat untuk menggunakan sistem.
3. Kemampuan dan Keahlian Pengguna (User Abilities & Skills)
Hubungan antara kemampuan pengguna dan keberhasilan sistem informasi
dideskripsikan dalam kerangka teori yang diusulkan oleh Zmud (1979).
Suksesnya inovasi teknologi informasi tergantung sebanyak atas individu
terhadap teknologinya. Pare dan Elam (1995) menemukan bahwa ketika
perilaku adopsi adalah sukarela, pengaruh faktor pribadi atas pemakaian
komputer bisa jadi lebih kuat dari faktor sosial atau faktor lingkungan.
Perbedaan individu terutama dalam kemampuan dan keahliannya juga
berperan penting dalam menentukan pencapaian pemakaian atas sistem temu
kembali informasi (Borgman, 1997). Penelitian sebelumnya menguji pengaruh
faktor individu atas perilaku adopsi sistem informasi (Agarwal& Prasad, 1999).
Bagaimanapun juga, kemajuan dalam lingkungan virtual, terutama melalu
teknologi yang berjangkau luas seperti World Wide Web, pengaruh dari
perbedaan individu atas penggunaan teknologi yang lebih baru tidak
mungkin secara keseluruhan diterangkan oleh teori dan metode yang
dikembangkan untuk generasi sistem informasi yang lebih awal (Chen et al.,
2000). Oleh karena itu, suatu kebutuhan penelitian empiris untuk menguji
27 | a. Perkembangan diri atas komputer (computer self-efficacy)
Berdasarkan teori kognitif sosial (Bandura, 1977), bahwa computer self-efficacy dapat mempengaruhi penggunaan sistem melalui niat untuk memiliki. Hal tersebut telah didokumentasikan dalam berbagai studi. Computer self-efficacy didefinisikan sebagai suatu keputusan individu atas kemampuannya untuk menggunakan komputer (Compeau & Higgins, 1995, hal 192). Penelitian
sebelum telah menemukan bahwa computer self-efficacy memiliki pengaruh positif pada kemauan untuk menggunakan komputer secara umum.
(Venkatesh & Davis, 2003). Mekanisme melalui computer self-efficacy yang akan mempengaruhi perilaku penggunaan melalui TAM dapat lebih dipahami
dengan argument. Dia mencatat bahwa ada dua jenis kontrol faktor-faktor yang
diusulkan oleh Ajzen (1985) dalam model intention-behaviour. Salah satunya adalah faktor internal yang meliputi keterampilan (skill) dan kontrol diri (will power) . Hal lainnya adalah faktor kontrol eksternal (external control factors), yang meliputi waktu, kesempatan, dan kerjasama dengan yang lain.
Sedangkan faktor kontrol eksternal tidak dipertimbangkan secara
eksplisit dalam TAM, akibat faktor internal, seperti keterampilan computer
didapatkan dari variabel persepsi kemudahan penggunaan. Diharapkan computer self-efficacy akan mempengaruhi niat melalui persepsi kemudahan penggunaan. Para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi juga mengakui kemungkinan
pengaruh kemampuan komputer (computer literacy) pada peningkatan penggunaan sistem temu kembali informasi (Davies, 1997), tetapi dalam
penelitian empiris yang terbatas.
b. Pengalaman atas penggunaan komputer (Computer experience)
Pengalaman atas penggunaan komputer secara umum dapat
mempengaruhi keberhasilan interaksi dengan personal computers, World Wide Web dan sistem temu kembali informasi (Igbaria dkk., 1995). Berbagai kriteria
telah diadopsi dalam berbagai kajian sebagai indikator atas pengalaman atas
komputer. Thompson et al. (1994) berpendapat bahwa dalam kontek teknologi
informasi, keterampilan komputer dan lamanya penggunaan harus dihitung karena