• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis technology acceptance model atas penerimaan para tenaga perpustakaan madrasah terhadap otomasi perpustakaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis technology acceptance model atas penerimaan para tenaga perpustakaan madrasah terhadap otomasi perpustakaan"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

0

LAPORAN PENELITIAN PUBLIKASI NASIONAL

ANALISIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

ATAS PENERIMAAN PARA TENAGA PERPUSTAKAAN MADRASAH TERHADAP OTOMASI PERPUSTAKAAN

Oleh:

Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum. Nip: 19710103 200003 1 002

Pusat Penelitian dan Penerbitan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

i

Lembar Pengesahan

Bersama ini saya menyatakan bahwa:

Nama : Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum.

NIP : 19710103 200003 1 002

Jabatan : Dosen Tetap (Lektor) Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pangkat/Gol. : Pembina/ IVa

telah menyelesaikan penulisan dan tahapan pendampingan dalam penelitian

Publikasi Nasional dengan judul “ANALISIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE

MODEL ATAS PENERIMAAN PARA TENAGA PERPUSTAKAAN

MADRASAH TERHADAP OTOMASI PERPUSTAKAAN

Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, 4 Desember 2014. Dosen Pendamping,

(3)

ii

Abstrak

Ade Abdul Hak. 2014. Analisis Technology Acceptance Model (TAM) atas Penerimaan Para Tenaga Perpustakaan Madrasah terhadap Otomasi Perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sekaligus menganalisa hubungan dan pengaruh antara pengetahuan & keterampilan (SK), kemudahan penggunaan persepsian (PEU), kegunaan persepsian (PU), sikap ke arah penggunaan (AB), niat untuk menggunakan (BI), dan penggunaan nyata (AU) sistem otomasi perpustakaan berbasis “senayan” oleh para pengelola perpustakaan madrasah. Analisis penelitian dilakukan dengan menggunakan SPSS 21 untuk menguji metode TAM terhadap jawaban 89 responden yang mewakili 3 wilayah sebaran anggota sampel (DKI Jakarta dan Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan). Sampel dipilih dari 750 peserta pelatihan “Program

Peningkatan Kompetensi Tenaga Perpustakaan Madrasah” di 3 wilayah tersebut.

Hasil peneletian menunjukan bahwa gambaran variabel untuk masing-masing konstruk dalam penelitian ini menunjukan hasil yang tinggi, kecuali untuk konstruk penggunaan nyata (AU) yang masih rendah. Ada hubungan yang cukup kuat dan signifikan antar konstruk yang ditandai dengan angka sig. (2-tailed) dibawah 0,05, sehingga cukup signifikan untuk menolak Ho; p = 0 dan menerima

(4)

iii

PENGANTAR

Bissmillahirrahmaannirraahiim.

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan

hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Shalawat dan

salam tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW

yang telah membawa cahaya kehidupan alam semesta ini.

Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak terkait yang

dalam hal ini Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Syarif Hidatullah

Jakarta yang telah memberikan kepercayaan bahwa proposal penelitian yang telah

penulis ajukan telah memenuhi syarat kepatutan dalam kategori pembiayaan

publikasi nasional terakreditasi. Selain itu penulis juga menghaturkan banyak

terimakasih kepada Dr. Muhammad Zuhdi yang telah mendampingi penulisan

penelitian ini sehingga dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam kesempatan ini penulis juga tak lupa menghaturkan terimakasih

kepada ibu Siti Ansyoriah, M.Ag., bapak Hamdi, S.E., dan sdr. Muhammad

Yukha yang telah mendedikasikan diri untuk membantu penulis dalam survey

responden dalam memenuhi data yang ada di beberapa wilayah.

Terakhir penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, namun semua

ini karena keterbatasan penulis. Besar harapan penulis hasil penelitian ini dapat

bermanfaat bagi peleksanaan pelatihan bidang otomasi perpustakaan di

lingkungan madrasah yang ada di Indonesia tercinta ini.

Alhamdulillah.

Jakarta, 3 Desember 2014.

(5)

iv

1.1 Latar Belakang Masalah ___ 1 1.2 Batasan Masalah ___ 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ___ 6

Bab 2 Kerangka Teori ___ 8

2.1 Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 8

2.1.1 Hakikat Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 8 2.1.2 Cakupan Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 11

2.1.3 Manfaat dan Kekurangan Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 13 2.1.4 Platform Sistem Otomasi Perpustakaan Senayan (SLiMS) ___ 15 2.2 Model Penerimaan Teknologi (TAM) ___ 17

2.2.1 Konsep TAM ___ 17

2.2.2 TAM pada Sistem Otomasi Perpustakaan ___ 20 2.3 Hipotesis Penelitian ___ 28

Bab 3 Metodologi Penelitian ___ 31 3.1 Ruang Lingkup Penelitian ___ 31 3.2 Metode Penentuan Sampel ___ 31 3.3 Metode Pengumpulan Data ___ 33 3.4 Metode Pengujian Instrumen ___ 35 3.5 Metode Analisis ___ 37

Bab 4 Hasil Penelitian dan Pembahasan ___ 41 4.1 Analisis Deskriptif ___ 41

4.1.1 Karakteristik Responden ___ 41

4.1.2 Karakteristik Pengetahuan dan Keterampilan ___ 43 4.1.3 Karakteristik Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 44 4.1.4 Karakteristik Kegunaan Persepsian ___ 45

4.1.5 Karakteristik Sikap Ke Arah Penggunaan ___ 46 4.1.6 Karakteristik Niat untuk Menggunakan ___ 47

4.1.7 Karakteristik Perilaku Nyata untuk Menggunakan ___ 48 4.2 Uji Asumsi Klasik ___ 49

4.2.1 Uji Normalitas ___ 49

(6)

v 4.3 Uji Hipotesis ___ 51

4.3.1 Analisis Korelasi ___ 52

4.3.1.1 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Kegunaan Persepsian ___ 52 4.3.1.2 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Kemudahan

Penggunaan Persepsian ___ 53

4.3.1.3 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Sikap Kearah Penggunaan ___ 53

4.3.1.14 Sikap Kearah Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 54

4.3.1.5 Korelasi Pengetahuan & Keterampilan dan Penggunaan Nyata ___ 54 4.3.1.6 Kegunaan Persepsian dan Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 54 4.3.1.7 Kegunaan Persepsian dan Sikap Kearah Penggunaan ___ 55

4.3.1.8 Kegunaan Persepsian dan Niat Untuk Penggunaan ___ 55 4.3.1.9 Kegunaan Persepsian dan Penggunaan Nyata ___ 55 4.3.1.10 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Sikap Kearah

Penggunaan ___ 56

4.3.1.11 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Niat Untuk Penggunaan ___ 56 4.3.1.12 Kemudahan Penggunaan Persepsian dan Penggunaan Nyata ___ 56 4.3.1.13 Sikap Kearah Penggunaan dan Niat Untuk Penggunaan ___ 57 4.3.1.14 Sikap Kearah Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 57 4.3.1.15 Niat Untuk Penggunaan dan Penggunaan Nyata ___ 57 4.3.2 Analisis Jalur Substruktural 1 ___ 58

4.3.2.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 58

4.3.2.2 Pengaruh Parsial Terhadap Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 59

4.3.3 Analisis Jalur Substruktural 2 ___ 60

4.3.3.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Kegunaan Persepsian ___ 62 4.3.3.2 Pengaruh Parsial Terhadap Kegunaan Persepsian ___ 62 4.3.4 Analisis Jalur Substruktural 3 ___ 63

4.3.4.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Sikap ke Arah Penggunaan ___ 64 4.3.4.2 Pengaruh Parsial Terhadap Sikap ke Arah Penggunaan ___ 65 4.3.5 Analisis Jalur Substruktural 4 ___ 67

4.3.5.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Niat Untuk Penggunaan ___ 67 4.3.5.2 Pengaruh Parsial Terhadap Niat Untuk Penggunaan ___ 69 4.3.6 Analisis Jalur Substruktural 5 ___ 71

4.3.6.1 Pengaruh Gabungan Terhadap Penggunaan Nyata ___ 71 4.3.6.2 Pengaruh Parsial Terhadap Penggunaan Nyata ___ 73 4.4 Pembahasan ___ 83

Bab 5 Kesimpulan dan Saran ___ 87 5.1 Kesimpulan ___ 87

5.2 Saran ___ 89

(7)

vi

Daftar Tabel

Tabel 3.1 Case Processing Summary ___ 35 Tabel 3.2 Reliability Statistics ___ 35 Tabel 3.3 Item-Total Statistics ___ 35

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Wilayah ___ 42

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenjang Madrasah ___ 42 Tabel 4.3 Analisis Deskriptif Pengetahuan dan Keterampilan Pengguna ___ 43 Tabel 4.4 Analisis Deskriptif Kemudahan Penggunaan Persepsian ___ 44 Tabel 4.5 Analisis Deskriptif Kegunaan Persepsian ___ 45

Tabel 4.6 Analisis Deskriptif Sikap Ke Arah Penggunaan ___ 46 Tabel 4.7 Analisis Deskriptif Niat untuk Menggunakan ___ 48 Tabel 4.8 Analisis Deskriptif Perilaku Nyata Penggunaan ___ 49 Tabel 4.9 Hasil Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov ___ 51 Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi ___ 52

Tabel 4.11 Hasil Uji Koefisien Determinasi Kemudahan Penggunaan (Model Summary) ___ 58 Tabel 4.12 Hasil Uji F Kemudahan Penggunaan Persepsian (ANOVAa) ___ 59

Tabel 4.13 Hasil Uji T Kemudahan Penggunaan Persepsian (Coefficientsa) ___ 60

Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Determinasi Kegunaan Persepsian (Model Summary) ___ 61 Tabel 4.15 Hasil Uji F Kegunaan Persepsian (ANOVAa) ___ 61

Tabel 4.16 Hasil Uji T Kegunaan Persepsian (Coefficientsa) ___ 62

Tabel 4.17 Hasil Uji Koefisien Determinasi Sikap ke Arah Penggunaan (Model Summary) ___ 64

Tabel 4.18 Hasil Uji F Sikap ke Arah Penggunaan (ANOVAa) ___ 64 Tabel 4.19 Hasil Uji T Sikap ke Arah Penggunaan (Coefficientsa) ___ 65

Tabel 4.20 Hasil Uji Koefisien Determinasi Niat untuk Penggunaan (Model Summary) ___ 67 Tabel 4.21 Hasil Uji F Niat untuk Penggunaan (ANOVAa) ___ 68

Tabel 4.22 Hasil Uji T Niat untuk Penggunaan (Coefficientsa) ___ 69

Tabel 4.23 Hasil Uji Koefisien Determinasi Terhadap Penggunaan Nyata (Model Summary) ___ 71

Tabel 4.24 Hasil Uji F Terhadap Penggunaan Nyata (ANOVAa) ___ 72 Tabel 4.25 Hasil Uji T Terhadap Penggunaan Nyata (Coefficientsa) ___ 74 Tabel 4.26 Hasil Uji Hipotesis ___ 83

(8)

vii

Daftar Gambar

Gambar 2.1. Technology Acceptance Model ___ 19

Gambar 2.2. TAM dalam perpustakaan Digital (J.Y.L. Thong, 2002) ___ 22 Gambar 2.3. Model Penelitian ___ 23

(9)

viii

Daftar Lampiran

Lampiran 1: Daftar Pertanyaan Kuesioner

Lampiran 2: Hasil Data Kuesioner Konstruk Pengetahuan & Keterampilan Lampiran 3: Hasil Data Kuesioner Konstruk Kemudahan Penggunaan Persepsian Lampiran 4: Hasil Data Kuesioner Konstruk Kegunaan Persepsian

(10)
(11)

1 |

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah membawa

perubahan di hampir semua bidang di mana berbagai masalah kehidupan dapat

dipecahkan kecuali dengan penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan

teknologi informasi. Selain bermanfaat bagi manusia, hal ini juga telah membawa

manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat.

Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai anak bangsa

kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya

manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia

merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif,

efektif dan efisien dalam proses pengembangan agar tidak kalah bersaing dalam

menjalani era globalisasi tersebut.

Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan antara lain

melalui peningkatan pendidikan yang diwujudkan dalam Undang-undang Nomor

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal 1

menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta aktif mampu

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara.

Atas dasar alasan inilah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia mutlak

membutuhkan pendidikan. Pendidikan berperan membantu manusia memahami

makna di balik perubahan serta membantu manusia mengerti makna yang

terkandung dalam nilai-nilai baru serta mampu merespon perubahan sekaligus

mampu menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru. Dengan demikian,

Bab 1

(12)

2 |

masyarakat pendidikan menganggap bahwa tidak ada kehidupan tanpa

pendidikan.

Perpustakaan adalah salah satu sarana pendidikan yang strategis yang akan

ikut menentukan mutu hasil pendidikan. Perpustakaan merupakan pusat sumber

belajar sebagai prasyarat dari proses pembelajaran di madrasah yang harus

mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, terutamanya dalam bidang

teknologi dan informasi di era global ini. Selain itu, penerapan kurikulum berbasis

kompetensi (KBK) mengandaikan penggunaan perpustakaan secara intensif untuk

mendukung pengalaman belajar dan pembelajaran mandiri.

Dengan melihat kenyataan tersebut, maka sudah seyogyanya perpustakaan

madrasah untuk dapat menyesuaikan diri dengan semua perubahan tersebut.

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang No. 43 tahun 2007, pasal 19 ayat

1 dan 2 bahwa pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan

sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas

maupun kualitas yang harus dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan

tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat

dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemanfaatan perpustakaan di madrasah oleh siswa dan guru di samping

sebagai prasyarat proses pembelajaran, juga diharapkan dapat memberikan bekal

pendidikan berkelanjutan dan pendidikan seumur hidup. Hal ini telah dijelaskan

pada mukadimah undang-undang tersebut, bahwa perpustakaan diselenggarakan

berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan,

keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan (UU No. 43 Th. 2007:

1).

Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan sebuah perpustakaan madrasah

sebagaimana disebutkan di atas, tentu harus ada kerjasama dan sinergi, termasuk

apresiasi terhadap perpustakaan di antara pemerintah, komite madrasah, kepala

madrasah, guru, dan pustakawan atau para pengelola perpustakaan. Sebagai

bentuk kepedulian pemerintah dalam pengembangan perpustakaan madrasah ini,

saat ini telah terbit Standar Nasional Perpustakaan (SNP 007: 2011) tentang

standar perpustakaan sekolah/madrasah mulai dari tingkat Ibtidaiyah sampai

(13)

3 |

penyelenggaraan, pengelolaan, pengorganisasian bahan perpustakaan, anggaran,

perawatan, kerjasama dan integrasi dengan kurikulum. Standar ini berlaku pada

perpustakaan sekolah/madrasah baik negeri maupun swasta (Perpusnas RI, 2011:

1).

Dengan penjelasan tersebut jelas bahwa secara normatif dan kenyataan

perpustakaan mempunyai peranan penting dalam menunjang mutu pendidikan.

Perpustakaan sebagai jantung suatu lembaga pendidikan yang mempunyai

kekuatan dan kemampuan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan dan

menentukan masa depan pendidikan itu sendiri.

Namun pada kenyataannya, masih banyak lembaga pendidikan terutama

satuan pendidikan madrasah yang belum memiliki perpustakaan sekaligus sumber

daya manusia perpustakaannya yang ideal baik secara kuantitatif maupun

kualitatif. Padahal dalam Permendiknas No. 25 tahun 2008 tentang Standar

Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah telah dinyatakan bahwa setiap jenjang

sekolah/madrasah harus dikelola oleh tenaga yang telah memiliki sertifikat

kompetensi pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah dari lembaga yang telah

ditetapkan oleh pemerintah selambat-lambatnya pada tahun 2013 (Kemendiknas,

2008: 1).

Seiring dengan pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai pusat

pembelajaran bagi para siswa dan guru di sebuah lembaga pendidikan, maka

dipandang perlu sebuah lembaga untuk melaksanakan koordinasi dan

bertanggungjawab atas pengembangan kompetensi tenaga perpustakaan madrasah.

Dalam hal ini Direktorat Pendidikan Madrasah Kementrian Agama RI

bekerjasama dengan Jurusan Ilmu Perpustakaan yang berada di UIN Jakarta,

Yogyakarta, dan Makasar telah menyelenggarakan Program Peningkatan

Kompetensi Tenaga Perpustakaan Madrasah untuk wilayah proprinsi DKI Jakarta,

Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Implementasi program sistem otomasi perpustakaan yang dikenal dengan

program “Senayan” atau SLIM merupakan salah satu materi yang menjadi

harapan bagi para tenaga perpustakaan madrasah dalam mengantisipasi efesiensi

dan efektivitas pengelolaan fungsi-fungsi perpustakaan. Selain itu, dengan adanya

(14)

4 |

terutama dalam mengatasi keterbatasan ruang dan koleksi perpustakaan di

lingkungan madrasah.

Pilihan program “senayan” sebagai salah satu materi otomasi pada Program Peningkatan Tenaga Perpustakaan Madrasah ini karena bersifat open source dan gratis. Perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan ini dibangun dengan

sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi ini pertama kali

dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan

Nasional, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan

Nasional. Seiring perkembangan waktu, aplikasi ini kemudian dikembangkan oleh

komunitas pengguna dan penggiat SLiMS. Beberapa aplikasi yang digunakan

dalam membangun program ini menggunakan PHP, basis data MySQL, dan

pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, SLiMS mendapat penghargaan tingkat

pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk kategori open source (Rasyid, 2009).

Namun, hasil pengamatan sementara menunjukan bahwa tidak lebih dari

25% tenaga perpustakaan madrasah yang mengikuti program peningkatan tersebut

dapat menggunakan program sistem otomasi berbasis “Senayan” ini. Sehingga

kesimpulan sementara dapat dikatakan bahwa program peningkatan dalam hal

otomasi perpustakaan ini belum sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengetahui faktor-faktor apa

yang berpengaruh atas penerimaan para tenaga perpustakaan madrasah terhadap

program sistem otomasi perpustakaan. Salah satu model penerimaan terhadap

teknologi yang paling sesuai sampai sekarang adalah model Technology Acceptance Model (TAM). TAM adalah teori sistem informasi yang membuat model tentang bagaimana seseorang menerima dan menggunakan teknologi

komputer. Model penerimaan teknologi ini memperkenalkan dua variabel kunci

yaitu, kegunaan persepsian (perceived usefullnes) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) yang memiliki relevancy pusat untuk memprediksi penerimaan tenaga perpustakaan madrasah (Acceptance of IT) terhadap teknologi komputer (Davis, 1989).

(15)

5 |

1995). Vaidyanathan sebagaimana dikutip oleh Imam (2009) menjelaskan

beberapa penelitian yang ada menunjukkan bahwa kebenaran TAM atas berbagai

macam sistem penggunaan teknologi informasi pada berbagai jenis instansi dan

perusahaan telah diakui oleh para peneliti di dunia.

Beberapa analisis TAM dalam penggunaan teknologi di lingkungan

perpustakaan telah dilakukan untuk melihat aspek-aspek yang berhubungan

dengan penerapan sistem informasi perpustakaan (Farhansyah, 2012); sistem

otomasi perpustakaan (Vita, 2013); dan perpustakaan digital (Imam, 2009).

Selanjutnya dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemanfaatan TAM

sebagai kerangka teoritis untuk menyelidiki pengaruh faktor eksternal atas

penerimaan tenaga perpustakaan madrasah terhadap program sistem otomasi

perpustakaan. Faktor tersebut terutama adalah faktor eksternal yang akan

berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan

terhadap program sistem otomasi perpustakaan “Senayan” menuju ke arah

penggunaan nyata otomasi perpustakaan madrasah.

TAM menganggap bahwa tingkat penggunaan nyata atau penerimaan tenaga

perpustakaan madrasah atas suatu teknologi dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu

faktor eksternal, kegunaan persepsian, kemudahan penggunaan persepsian, sikap

maupun niat untuk menggunakannya. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan

antara satu dengan yang lainnya.

Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefinisikan sebagai tingkat kepercayaan tenaga perpustakaan madrasah bahwa dengan menggunakan sistem,

maka akan dapat meningkatkan kinerja tenaga perpustakaan madrasah tersebut.

Sedangkan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai tingkat kepercayaan tenaga perpustakaan bahwa sistem

dapat digunakan dengan mudah dan dapat dipelajari sendiri.

1.2 Batasan Masalah

Sebagaimana digambarkan di atas, permasalahan utama dalam penelitan ini

adalah “Apa yang menjadikan masalah belum berhasilnya diterapkan secara nyata

otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” oleh para tenaga perpustakaan

madrasah yang telah mengikuti program peningkatan kompetensi tenaga

(16)

6 |

Selatan?” Untuk itu dalam kesempatan penelitian ini penulis mencoba membatasi pada faktor pengetahuan dan keterampilan, kemudahan penggunaan persepsian,

kegunaan persepsian, sikap, niat, dan perilaku nyata para tenaga perpustakaan

madrasah untuk menggunakan program sistem otomasi perpustakaan berbasis

“Senayan” sebagai salah satu materi pokok dalam program peningkatan tersebut.

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam penelitian ini, antara lain:

1. Bagaimana gambaran pengetahuan dan keterampilan, kemudahan penggunaan

persepsian, kegunaan persepsian, sikap, niat, dan perilaku nyata para tenaga

perpustakaan madrasah untuk menggunakan program sistem otomasi

perpustakaan berbasis “Senayan” setelah pelaksanaan pelatihan?

2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan keterampilan,

kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan persepsian, sikap, niat, dan

perilaku nyata para tenaga perpustakaan madrasah untuk menggunakan

program sistem otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” setelah pelaksanaan

pelatihan?

3. Seberapa besar pengaruh antara pengetahuan dan keterampilan, kemudahan

penggunaan persepsian, kegunaan persepsian, sikap, dan niat terhadap perilaku

nyata para tenaga perpustakaan madrasah untuk menggunakan program sistem

otomasi perpustakaan berbasis “Senayan” baik secara sendiri (parsial) ataupun secara gabungan?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui gambaran tentang pengetahuan & keterampilan para tenaga

perpustakaan madrasah, kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan

persepsian, sikap ke arah penggunaan, niat untuk menggunakan, dan

penggunaan nyata untuk menerapkan program sistem otomasi perpustakaan

berbasis “Senayan” di perpustakaan madrasah?

2. Mengetahui hubungan antar pengetahuan & keterampilan para tenaga

perpustakaan madrasah, kemudahan penggunaan persepsian, kegunaan

persepsian, sikap ke arah penggunaan, niat untuk menggunakan, dan

penggunaan nyata untuk menerapkan program sistem otomasi perpustakaan

(17)

7 |

3. Mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap berhasil atau

tidaknya penggunaan nyata dan penerimaan program sistem otomasi

perpustakaan “Senayan” di perpustakaan madrasah.

Adapun manfaat penelitian ini, antara lain:

1. Memberikan masukan kepada pihak penyelenggara pelatihan, dalam hal ini

Jurusan Ilmu Perpustakaan, dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas

pelatihan tenaga perpustakaan madrasah khususnya dalam bidang penerapan

teknologi informasi (program Senayan).

2. Memberikan rekomendasi bagi pihak terkait, Kemenag RI, dalam memfasilitasi

kerja sama peningkatan tenaga perpustakaan di lingkungan madrasah.

3. Memberikan wawasan keilmuan bagi Jurusan Ilmu Perpustakaan, terutama

dalam pengembangan mata kuliah penerapan teknologi informasi, khususnya

(18)

8 |

2.1 Sistem Otomasi Perpustakaan

2.1.1 Hakikat Sistem Otomasi Perpustakaan

Sebelum memahami pengertian sistem otomasi perpustakaan secara utuh, ada

baiknya kita memahami masing-masing istilah dari pengertian tersebut. Istilah

sistem dapat diartikan sebagai sekumpulan elemen, komponen, atau subsistem

yang saling berintegrasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu (Aji,

2005:238). Sedangkan istilah otomasi berimplikasi pada tingkat tingginya

mekanisasi pekerjaan-pekerjaan atau operasi-operasi yang sifatnya pengulangan

dan rutinitas yang dilakukan dengan mesin dengan sedikit bantuan atau tanpa

bantuan manusia. Lebih sedikit campur tangan manusia dalam kegiatan tersebut,

maka lebih banyak tingkat otomasinya. Namun hal ini, bukan berarti otomasi

sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia (Mishra, 2008:36).

Dalam kaitannya dengan otomasi perpustakaan, sistem terotomasi dapat

digambarkan melalui pendekatan fungsi, antarmuka, dan platform. Istilah sistem terotomasi melalui pendekatan fungsi dapat berupa sistem yang berdiri sendiri

(stand-alone system) atau sistem terintegrasi (integrated system). Kemudian istilah sistem dengan pendekatan antarmuka dapat berupa sistem berbasis

karakter, Windows, dan Web. Sedangkan istilah sistem terotomasi dengan

pendekatan platform, sistem dapat mendukung perangkat PC dan/atau Macintosh. Sebuah sistem yang berdiri sendiri atau terintegrasi dapat berbasis Windows

dan/atau Web dan kemungkinan dapat beroperasi pada sebuah PC dan/atau

Macintosh (Bilal, 2001:3).

Selanjutnya Bilal (2001) menjelaskan bahwa sistem yang berdiri sendiri

biasanya terdiri dari satu atau beberapa modul untuk melakukan kegiatan fungsi

perpustakaan (seperti: sirkulasi, pengatalogan, dan OPAC), namun tidak

menggunakan basis data tunggal. Sedangkan, sebuah sistem terintegrasi terdiri

Bab 2

(19)

9 | dari beberapa modul yang saling berhubungan (seperti: sirkulasi, pengatalogan,

OPAC, pengadaan, dan kontrol serial) dengan menggunakan basis data tunggal.

Masing-masing modul dalam sistem terintegrasi ini merupakan bagian dan bekerja

secara berbarengan dengan modul lainnya yang tersedia dalam sistem terotomasi.

Schultz-Jones (2006) menjelaskan bahwa istilah sistem otomasi merujuk pada

berbagai perangkat lunak dan teknologi perangkat keras yang tersedia untuk

mendukung dan memberikan spektrum layanan sumber daya informasi kepada

pihak pengguna dan pengelola perpustakaan.

Secara sederhana otomasi perpustakaan dapat didefinisikan sebagai

penerapan komputer untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan

perpustakaan yang sebelumnya dilakukan secara tradisional, kegiatan tersebut

meliputi pengadaan, sirkulasi, pengatalogan, referensi dan kontrol serial (Faisal,

2014).

Dalam hal ini Neelakandan dkk. (2010) mempertegas pernyataan di atas

bahwa:

“library automation refers to mechanization of library housekeeping operations predominantly by computerization. The most commonly known housekeeping operations are acquisition control, serials control, cataloguing, and classification and circulation control”.

Istilah otomasi perpustakaan ini pada awalnya secara umum digunakan untuk

kerumahtanggaan perpustakaan seperti digambarkan dalam pernyataan di atas.

Namun, pada masa sekarang cakupan istilah tersebut menjadi lebih luas lagi yaitu

mencakup semua teknologi yang digunakan perpustakaan dan pusat informasi

untuk pengadaan, pengolahan, penyimpanan, temu kembali, penyebaran, dan

penyaluran semua jenis informasi secara lokal, regional, nasional, dan

internasional (Dhanavandan, 2012:667).

Dengan demikian fokus dalam otomasi perpustakaan dewasa ini adalah

sistem, sumber informasi, dan pengguna yang terkoneksi dengan memanfaatkan

hasil pengembangan komputer dan internet. Sistem manajemen perpustakaan

dilakukan secara terintegrasi dengan menerapkan modul-modul standar seperti

pengadaan, pengkatalogan, sirkulasi, akses katalog online dan jaringan kerjasama

melalui fasilitas internet. Hal ini menunjukan bahwa sistem yang berkembang

saat ini adalah bagaimana perpustakaan dapat mengatur sumber dayanya agar

(20)

10 | terintegrasi mempengaruhi setiap aspek kegiatan sehari-hari perpustakaan, mulai

dari sirkulasi dan pengatalogan sampai kepada kemampuan perpustakaan

memberikan sumber dan layanannya melalui situs WEB dan katalog online

(Webber, 2010:xi).

Sistem perpustakaan terintegrasi ini menjadi sistem kritis yang mendukung

banyak operasi perpustakaan (Vaughan, 2011:62). Sistem terpadu yang dapat

mengkombinasikan semua kegiatan perpustakaan dan mendukung kinerja

perpustakaan.

Sistem manajemen perpustakaan atau sistem perpustakaan terintegrasi telah

dikembangkan sebagai ungkapan dalam kemajuan kegiatan teknis perpustakaan

dan kebutuhan pengguna, terutama dalam mengembangkan antarmuka elektronik,

standar dalam penyaringan informasi dan akses protokol data, pembelian dan

proses akuisisi serta sistem katalogisasi (Adamson, 2008:7).

Istilah “otomasi perpustakaan” dan “sistem perpustakaan terintegrasi” ini

mempunyai arti yang sama dan dapat digunakan untuk menggambarkan perangkat

lunak yang mengoperasikan sirkulasi, pengatalogan, katalog online, dan

modul-modul lainnya yang mengoperasikan fungsi kegiatan perpustakaan.

Sehubungan dengan penggunaan istilah ini Schultz-Jones (2006:19)

menjelaskan bahwa:

“An alternate term sometimes used is integrated library system (ILS). The concept behind the term ILS is that a set of functional components integrated in a system software package provides the delivery of services. As technology has advanced our capability to support the delivery of library functions, the concept of integrated systems remains as a primary option for automating library functions...”

Dalam hal ini, Kochtanek (2002:3) menjelaskan bahwa pada awalnya

memang istilah otomasi perpustakaan yang digunakan oleh para profesional untuk

mewadahi kegiatan-kegiatan internal perpustakaan yang sifatnya prosedural.

Namun pada perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1980an istilah tersebut telah

bergeser menjadi sistem perpustakaan terintegrasi. Istilah ini meliputi

fungsi-fungsi otomasi perpustakaan sebagai pendukung pengadaan, pengatalogan,

kontrol sirkulasi, pemesanan bahan, kontrol serial, dan katalog online yang

selanjutnya istilah tersebut sepertinya tidak dapat dipisahkan lagi atau menjadi

(21)

11 | Lebih jauh lagi dalam hal ini Cohn (2001:xv) menjelaskan bahwa

perkembangan istilah tersebut berlangsung sampai akhir tahun 1990an. Selama

periode tersebut, dengan adanya perkembangan bidang teknologi informasi, para

pengguna perpustakaan telah memasuki dunia cyber dengan tuntutan bahwa perpustakaan atau lembaga penyedia informasi diharapkan dapat menyediakan

akses yang lebih luas terhadap berbagai macam format informasi. Sumber-sumber

tersebut dapat berupa akses yang dilakukan melalui fasilitas perpustakaan dan

jaringan perpustakaan terhadap sistem vendors, far-flung networks, full-content database, dan internet.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem otomasi perpustakaan

merupakan serangkaian kegiatan perpustakaan yang saling terintegrasi satu sama

lainnya melalui jaringan komputer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu

untuk membantu pustakawan dalam melakukan tugasnya dan juga membantu

pemustaka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.

2.1.2 Cakupan Sistem Otomasi Perpustakaan

Pada dasarnya cakupan sistem otomasi perpustakaan terdiri dari tiga modul,

yaitu: katalog online (OPAC), pengatalogan, dan sirkulasi. OPAC merupakan

fasilitas temu kembali informasi yang dapat digunakan melalui pendekatan

pengarang, judul, subyek, dan kata kunci dengan menggunakan operator

BOOLEAN (AND, OR, NOT); penelusuran hyperlink (untuk menemukan cantuman dengan kata atau subyek yang muncul pada cantuman tersebut);

penelusuran karakter bebas (seperti word truncation); dan pilihan kombinasi

strategi penelususran (seperti pengarang-judul; pengarang-subyek). Modul

pengatalogan merupakan fasilitas yang mempunyai beberapa tugas, seperti

pengatalogan menggunakan protokol MARC, pengeditan, penyalinan,

perekaman, dan temu kambali cantuman katalog sebelumnya. Kemudian, modul

sirkulasi adalah modul untuk melakukan fungsi sirkulasi, seperti peminjaman,

pengembalian, inventarisasi, peringatan keterlambatan, data koleksi yang masih

tersedia dan masih dipinjam, denda, dan laporan statistik. Dan, untuk selanjutnya

cakupan sistem ini dapat ditambah dengan beberapa modul lainnya, seperti modul

(22)

12 |

Dalam hal ini Mishra (2008:36) menjelaskan bahwa perangkat lunak

manajemen perpustakaan pada dasarnya dirancang untuk memenuhi beberapa

pekerjaan perpustakaan yang meliputi:

1. Pemesanan dan Pengadaan – untuk mengontrol pemesanan dan pengadaan persediaan barang baru.

2. Pengatalogan – untuk menjaga basis data katalog.

3. Kontrol Sirkulasi – untuk mengontrol sirkulasi, seperti persediaan koleksi yang ada, koleksi yang sedang dipinjam, pengembalian, catatan peminjam,

pemesanan dan denda.

4. Katalog Terpasang (OPAC) – menyediakan antar muka ke basis data katalog sehingga pengguna dapat menelusur basis data tersebut.

5. Kontrol Serial – untuk mengontrol semua proses yang berhubungan dengan serial seperti pemesanan, pengadaan, pengatalogan, penjilidan dan

sirkulasi.

6. Modul-modul tambahan – sarana tambahan untuk mendukung pinjam antar perpustakaan, informasi pihak manajemen dan masyarakat.

Namun, pada perkembangan selanjutnya Grant (2012:5) menjelaskan bahwa

saat ini telah banyak perpustakaan yang memulai memikirkan kembali efektivitas

perangkat otomasi untuk memberikan layanan perpustakaan baik dari dalam

maupun luar gedung dengan sebuah sistem yang diberi istilah “library services platforms”. Pengembangan sistem ini dilakukan dengan beberapa alasan karena produk sistem perpustakaan terintegrasi sebelumnya belum dapat dikonfigurasi

ulang dengan baik dan efesien dalam menangani integritas alur kerja yang berbeda

untuk koleksi tercetak dan digitalnya. Kemudian sistem yang lama juga belum

dapat mengambil beberapa kelebihan yang ditawarkan dari hasil perkembangan

teknologi bidang komputer, khususnya dalam masalah cloud computing.

Untuk itu dalam kesempatan ini Grant (2012:13) memberikan gambaran

bahwa cakupan sistem otomasi perpustakaan ke depan meliputi:

(23)

13 | 2. Target jenis pelanggan: perpustakaan umum, akademik, khusus, nasional,

dan konsorsium;

3. Fungsi: seleksi/pengadaan, sirkulasi, pengatalogan, temukembali,

Environmental Resources Management (ERM), ILL, pendaftaran, analitis, pelaporan, interface tunggal, knowledgebase, dukungan data terkoneksi, Open APIs dan/atau SOA, manajemen kegiatan, mobile support, dukungan video, multi-lingual subject heading, dukungan Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR), dukungan Resource Description and Access (RDA), kemampuan pemeliharaan, dukungan buku elektronik.

2.1.3 Manfaat dan Kekurangan Sistem Otomasi Perpustakaan

Beberapa manfaat penerapan sistem otomasi perpustakaan yang sudah

terbukti selama ini antara lain dapat mengembangkan layanan perpustakaan dan

meningkatkan produktivitas, efesiensi, dan akurasi dalam melaksanakan berbagai

macam operasional perpustakaan. Selain itu sistem terotomasi juga dapat

memberikan manfaat lainnya, yaitu:

a. Memungkinkan pengguna untuk menggunakan strategi pencarian yang lebih

bervariasi dari pada mereka yang menggunakan katalog kartu.

b. OPAC berbasis Windows memungkinkan untuk hyperlink pencarian, yaitu

fitur baru yang tidak mungkin dilakukan pada sistem berbasis karakter

(seperti, DOS).

c. Memungkinkan pengguna untuk menelusur koleksi perpustakaan dari tanpa

harus datang ke perpustakaan secara fisik.

d. Menyediakan pengguna dengan akses yang tepat terhadap bahan pustaka.

e. Mendukung sarana baru pencarian informasi dengan memperkenalkan

pengguna untuk informasi global.

f. Mengurangi tugas-tugas rutin atau mengerjakan tugaas tersebut lebih

efisien.

g. Mempercepat dan menyederhanakan proses inventarisasi bahan pustaka.

h. Mendorong kerjasama pengembangan koleksi dan berbagi sumber daya

(24)

14 | i. Memungkinkan pusat-pusat media dan perpustakaan untuk mengimpor dan

mengekspor cantuman MARC.

j. Memotivasi pengguna, dengan cara melengkapi mereka dengan

keterampilan pemecahan masalah dan penelusuran informasi, dan

menyediakan mereka dengan pengalaman belajar seumur hidup.

k. Memungkinkan untuk katalogisasi sumber daya Internet dan untuk

mengimpornya ke dalam sistem lokal.

l. Dapat digunakan dalam pemetaan koleksi (Bilal, 2001:4).

Dalam hal ini Bilal (2001:6) juga menjelaskan bahwa selain beberapa

manfaat yang bisa didapatkan dari penerapan sistem terotomasi ini, ternyata ada

beberapa kekurangan yang biasa muncul, di antaranya:

a. Pelaksanaan sistem terotomasi perpustakaan memerlukan waktu yang tidak

sedikit. Perencanaan, pemilihan, dan penerapan sistem otomasi

membutuhkan komitmen jangka panjang yang signifikan dari pengelola.

Setelah dipilih dan dilaksanakan, sistem otomasi harus dipelihara secara

teratur. Dengan memiliki sistem otomasi yang tergabung dalam jaringan

menambahkan tuntutan lebih lanjut tentang waktu untuk ahli media atau

profesional informasi.

b. Penerapan sistem terotomasi memerlukan dana yang cukup banyak. Biaya

permulaan, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, kabel, dan perangkat

lunak; furniture; beban keberlangsungan seperti persediaan untuk printer dan label barcode; pemeliharaan tahunan dan dukungan teknis; dan konversi

dari daftar kalalog manual perpustakaan menjadi sebuah format terbacakan

mesin (seperti MARC) mungkin lebih banyak dibandingkan dengan

pusat-pusat media dan perpustakaan kecil.

c. Tuntutan sistem terotomasi mungkin tidak memberikan waktu yang

memadai bagi staf untuk memberikan layanan baru atau untuk bekerja

dengan siswa, guru, dan klien lain. Pada satu sisi otomasi mengurangi

beberapa tugas, tetapi pada sisi lain menghasilkan tugas yang baru.

Pelatihan bagi pengguna akhir, keberlangsungan pemecahan masalah

(25)

15 | d. Akses ke sistem terotomasi tidak tersedia ketika sistem bermasalah. Hal ini

akan menghambat akses pengguna ke koleksi, terutama jika katalog kartu

atau shelflist tidak lagi ada di pusat media atau perpustakaan.

2.1.4 Platform Sistem Otomasi Perpustakaan Senayan (SLiMS)

Salah satu langkah yang sangat penting dalam perencanaan sistem otomasi

perpustakaan adalah menentukan perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan

fungsi kegiatan perpustakaan. Dari beberapa platform perangkat lunak yang sudah dikenal di kalangan pustakakwan atau perpustakaan di Indonesia di

antaranya: SIP-ISIS, Athenium, Ibra, dan Senayan.

“Senayan” (atau dikenal juga dengan sebutan SLiMS) merupakan salah satu

perangkat lunak yang disediakan oleh Kemendiknas RI yang dapat diunduh

secara gratis di situs http://slims.web.id/web/ karena software ini bersifat

freeware. Selain itu perangkat lunak ini adalah sebuah open source software yang tentunya bisa dikembangkan dan didalami oleh si pemakai, tetapi tetap

dengan harus memperhatikan kaidah dalam memakai karya orang lain dengan

tidak mengubah developer ataupun tidak merubah nama yang sudah menjadi hak cipta dari si pemilik software itu sendiri.

SLiMS merupakan perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan

berbasis web untuk memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan untuk skala

kecil hingga skala besar. Perangkat lunak ini cukup lengkap dan masih terus

aktif dikembangkan, sehingga sangat cocok digunakan bagi perpustakaan

yang memiliki koleksi, anggota dan staf banyak di lingkungan jaringan, baik

itu jaringan lokal (intranet) maupun internet. Keunggulan SLiMS lainnya adalah

multi-platform, yang artinya bisa berjalan secara native hampir di semua sistem operasi yang bisa menjalankan bahasa pemograman PHP dan RDBMS

MySQL (Ridha, 2014).

Dalam dokumen SLIM (2014) dijelaskan bahwa SLiMS sendiri

dikembangkan di atas platform GNU/Linux dan berjalan dengan baik di atas

platform lainnya seperti Unix BSD dan Windows. SLiMS merupakan aplikasi

berbasis web dengan pertimbangan cross-platform. Sepenuhnya dikembangkan

(26)

16 |

(www.php.net) dan MySQL Database Server (www.mysql.com). Untuk

meningkatkan interaktifitas agar bisa tampil seperti aplikasi desktop, juga

digunakan teknologi AJAX (Asynchronous Java Script And XML). SLiMS

juga menggunakan open source software untuk menambah fitur seperti

PhpThumb dan Simbio (development platform yang dikembangkan dari proyek Igloo). Untuk itu Senayan dilisensikan dibawah GPLv3 yang

menjamin kebebasan dalam mendapatkan, memodifikasi dan mendistribusikan

kembali (rights to use, study, copy, modify, and redistribute computer

programs).

Beberapa fitur yang terdapat dalam SLiMS antara lain:

1. Online Public Access Catalog (OPAC) dengan pembuatan thumbnail yang di-generate on-the-fly. Thumbnail berguna untuk menampilkan sampul buku. Mode penelusuran tersedia untuk yang sederhana (Simple Search) dan tingkat lanjut (Advanced Search). Mendukung Boolean Logic, pencarian menggunakan suara dan keyword suggestions.

2. Detail record juga tersedia format XML (Extensible Markup Language) standar MODS untuk kebutuhan web service.

3. Fitur OAI-PMH sebagai pertukaran data standar.

4. Realy Simple Syndication

5. Fitur Z39.50, p2p service dan SRU untuk copy cataloging dari berbagai Perpustakaan

6. Manajemen data bibliografi yang efisien meminimalisasi pengulangan

data.

7. Manajemen master file untuk data referensial seperti GMD (General

Material Designation),

8. Tipe Koleksi, Penerbit, Pengarang, Lokasi, Supplier, dan lain-lain.

9. Sirkulasi dengan fitur: a. Transaksi peminjaman dan pengembalian; b.

Reservasi koleksi; c. Aturan peminjaman yang fleksibel; d. Informasi

keterlambatan dan denda.

10. Manajemen keanggotaan, termasuk capture foto anggota langsung di sistem.

(27)

17 | 12. Laporan dan Statistik

13. Pengelolaan terbitan berkala

14. Dukungan pengelolaan dokumen multimedia (.flv, .mp3) dan dokumen

digital. Khusus untuk pdf dalam bentuk streaming.

15. SLiMS mendukung beragam format bahasa termasuk bahasa yang tidak

menggunakan penulisan selain latin.

16. Menyediakan berbagai bahasa pengantar (Indonesia, Inggris, Spanyol,

Arab, Jerman, Bengali, Thailand dan lainnya). Pengguna dapat secara

mandiri mengembangkan bahasa pengantar yang diinginkan.

17. Dukungan untuk membentuk katalog induk dan federated search dengan aplikasi UCS dan Nayanes.

18. Counter pengunjung perpustakaan

19. Member Area untuk menuliskan komentar pada koleksi, melihat dan

mengunduh koleksi sedang dan pernah dipinjam.

20. Notifikasi keterlambatan dan pemesanan anggota

21. LDAP server

22. Modul sistem dengan fitur: a. Konfigurasi sistem global; b. Manajemen

modul; c. Manajemen User (Staf Perpustakaan) dan grup; d. Pengaturan hari

libur; e. Pembuatan barcode otomatis; f. Utilitas untuk backup.

2.2 Model Penerimaan Teknologi (TAM)

2.2.1 Konsep TAM

Konsep TAM pertama kali dikembangkan oleh Davis pada tahun 1986

dengan menawarkan sebuah teori sebagai landasan untuk mempelajari dan

memahami perilaku pemakai dalam menerima dan menggunakan sistem informasi

(Davis, 1986:7; Davis, Bagozzi dan Washaw, 1989). Konsep ini merupakan salah

satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat

berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual

terhadap penggunaan sistem teknologi informasi sebagai model penerimaan

teknologi (Lambertus, 2012:763).

Davis dkk. (1989:320) menjelaskan bahwa alasan pertama seseorang

(28)

18 | bahwa perangkat tersebut dapat meningkatkan kinerjanya, yang selanjutnya

disebut variabel kegunaan persepsian (perceived usefulness). Alasan yang kedua bahwa selain berguna perangkat tersebut juga harus mudah digunakan. Karena

belum tentu orang tersebut mau menggunakan perangkat tersebut dengan alasan

tidak mudah menggunakannya. Dengan demikian varibel kedua yang

mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap penggunaan sebuah teknologi

dipengaruhi juga oleh penerimaan kemudahan penggunaannya (perceived ease of use).

Model TAM sebenarnya diadopsi dari Theory of Reasonable Actions (TRA) yaitu teori tindakan yang beralasan dengan premis bahwa reaksi dan persepsi

seseorang terhadap sesuatu hal, akan menentukan sikap dan perilaku orang

tersebut. Reaksi dan persepsi pengguna teknologi informasi (TI) akan

mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan terhadap teknologi tersebut. Salah

satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah persepsi pengguna terhadap

kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai suatu tindakan yang

beralasan dalam konteks pengguna teknologi. Sehingga alasan seseorang dalam

melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan/perilaku

manusia tersebut sebagai tolak ukur dalam penerimaan sebuah teknologi (Imam,

2009).

Dalam hal ini Davis dkk. (1989:985) menjelaskan bahwa TAM merupakan

sebuah model yang diadaptasi dari TRA yang dikhususkan untuk model

penerimaan pengguna terhadap sistem informasi. Tujuan utamanya adalah untuk

menyediakan sebuah pijakan untuk menyelidiki pengaruh faktor-faktor

kepercayaan internal, sikap dan minat. TAM diformulasikan untuk tujuan tersebut

dengan cara mengidentifikasi sejumlah variabel penting yang berhubungan

dengan pengetahuan dan sikap terhadap penerimaan komputer, dan dengan

menggunakan TRA sebagai teori dasarnya untuk menggambarkan hubungan antar

variabel tersebut.

Model TRA dapat diterapkan karena keputusan yang dilakukan individu

untuk menerima suatu teknologi sistem informasi merupakan tindakan sadar yang

dapat dijelaskan dan diprediksi oleh minat perilakunya. TAM menambahkan dua

(29)

19 | konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). TAM berargumen bahwa penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi ditentukan oleh

dua konstruk tersebut (Jogiyanto, 2007:111).

Gambar 2.1. Technology Acceptance Model (Davis, Bagozzi dan Warshaw,1989:985)

Selanjutnya penjelasan kelima konstruk yang sudah terbentuk tersebut dapat

digambarkan dalam penjelasan berikut ini (Davis dkk., 1989;

Yogianto,2007:114-117):

1. Kegunaan Persepsian (Perceived Usefulness)

Konstruk yang pertama ini didefinisikan sebagai sejauhmana seseorang

percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja

pekerjaannya (“as the extent to which a person believes that using a technology will enhance her or his performance.”) Artinya, jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan

menggunakannya. Sebaliknya, jika merasa percaya bahwa sistem informasi

kurang berguna dia tidak akan menggunakannya. Dengan kata lain konstruk

ini merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan.

2. Kemudahan Penggunaan Persepsian (Perceived Ease of Use)

Konstruk yang kedua dari TAM adalah kemudahan penggunaan persepsian

(perceived ease of use) yang didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang

(30)

20 | mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya, jika

seseorang merasa percaya bahwa sistem tidak mudah digunakan maka dia

tidak akan menggunakannya.

3. Sikap terhadap Perilaku

Sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior) didefinisikan sebagai perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku

yang ditentukan (“an individual’s positive or negative feelings about performing the target behavior.”)

4. Minat Perilaku (Behavioral Intention)

Minat perilaku (behavioral intention) adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku yang tertentu. Seseorang akan

melakukan suatu perilaku (behavior) jika mempunyai keinginan atau minat untuk melakukannya.

5. Perilaku (Behavior)

Perilaku (behavior) adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam konteks penggunaan sistem teknologi informasi, perilaku adalah

penggunaan sesungguhnya (actual use) dari teknologi.

2.2.2 TAM pada Sistem Otomasi Perpustakaan

Selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 1995 banyak penelitian

yang mencoba menguji konsistensi, validitas dan reliabilitas pengukuran

instrumen-instrumen TAM. Semua peneliti sependapat bahwa tidak ada

pengukuran yang secara absolut benar untuk membentuk suatu konstruk.

Demikian juga tidak ada pengukuran yang absolut benar untuk konstruk perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEOU) yang berbeda waktu, kondisi dan teknologi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum, hasil-hasil penelitian

menunjukan bahwa pengukuran instrumen-instrumen TAM cukup kuat, konsisten,

valid, dan reliabel (Jogiyanto, 2007:123).

Lebih jauh lagi Jogianto (2007) menjelaskan bahwa beberapa penelitian

tentang TAM mencoba mengembangkan model yang sudah ada dengan

menambahkan beberapa variabel eksternal yang menerangkan lebih lanjut atau

(31)

21 | atau PU dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) atau PEOU di TAM.

Beberapa studi yang lebih jauh untuk memperluas TAM dengan

menambahkan berbagai macam variabel eksternal, seperti perkembangan diri atas

komputer (computer self-efficacy) dan pelatihan yang dapat mempengaruhi faktor-faktor kepercayaan kegunaan persepsian dan kemudahan kegunaan persepsian

masih terus dibutuhkan (Davis, Bagozzi dan Warshaw, 1989; Smarkola,

2011:11).

Smarkola (2011) menggambarkan bahwa pengembangan model TAM dengan

menambahkan variabel eksternal dapat dikategorikan sebagai variabel individual,

organisasi, kultur, dan karakteristik-karakteristik tugas. Beberapa penelitian

berkenaan dengan variabel individual, khususnya dalam pengembangan

kemampuan penggunaan teknologi informasi, telah dilakukan oleh Agarwal dan

Prasad tahun 1999, Gefen dan Straub tahun 1997, dan Karahhanna dkk. tahun

1999. Pada penelitian-penelitian tersebut mengembangkan model TAM dengan

menambahkan lima macam variabel individual sebagai variabel-variabel eksternal

yang lebih menjelaskan konstruk PU dan PEOU. Hasilnya menemukan bahwa

pelatihan (training) berhubungan positif dengan konstruk PU dan pengalaman masa lalu (prior experience), peran pemakai sehubungan dengan teknologi (role with regard to technology), masa kerja (tenure in workplace), tingkat pendidikan (level of education) berhubungan dengan PEOU.

Perkembangan selanjutnya beberapa penelitian tentang pengembangan TAM

diimplementasikan pada perpustakaan digital menghasilkan model pengembangan

TAM yang salah satu di antaranya dilakukan oleh J.Y.L. Thong pada tahun 2002,

di mana faktor eksternal berupa karakteristik antarmuka, konteks organisasi dan

perbedaan individu mampu mempengaruhi persepsi kemudahan penggunaan dan

persepsi kegunaan atas perpustakaan digital. Kemudian Taha pada tahun 2005

mengusulkan bahwa TAM dari Davis dan Tong, dimodifikasi sehingga

(32)

22 | Gambar 2.2. TAM dalam perpustakaan Digital (J.Y.L. Thong, 2002)

Selanjutnya J.Y.L. Thong dan Taha seperti yang dikutip Imam (2007),

menjelaskan ke tiga konstruk yang menjadi variabel tambahan sebagai

pengembangan TAM sebagai berikut ini:

1. Desain Portal Perpustakaan (Library Portal Design)

Penelitian sebelumnya atas perpustakaan digital telah mengidentifikasi

dua aspek yang berbeda atas nilai guna perpustakaan digital yaitu interface usability dan organizational usability (Kling & Elliott 1994). Kualitas antarmuka sistem memberikan suatu kontribusi penting pada nilai guna perpustakaan digital

dan sering dikutip oleh para peneliti dalam kerangka teorinya. Sebagai media

antara sistem dan pemakai, antarmuka bertindak sebagai platform untuk tindakan pemakai. Suatu antarmuka dirancang dengan baik supaya dapat membantu

para pemakai dalam menggunakan sistem secara mudah dengan mengurangi

usaha dalam mengidentifikasi obyek tertentu pada layar atau penyediaan

navigasi yang jelas antara layer satu dengan yang lainnya. Pentingnya sistem

antarmuka dalam pencapaian pemakai atas sistem temu kembali informasi

telah ditulis oleh para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi (Dellon &

Song., 1995: 490).

a. Terminologi (terminology)

Terminologi mengacu pada kata, kalimat dan singkatan yang digunakan oleh

suatu sistem (Lindgaard, 1994). Variabel istilah dapat dikatakan sebagai bahasa.

Karena suatu variabel tertentu, seorang pemakai perlu untuk memahami bahasa

tertentu dalam rangka menerima dan menggunakan teknologi tersebut.

(33)

23 | informasi yang baru tergantung pada banyaknya para pemakai yang saling

berhubungan dengan sistem melalui query terstruktur yang pada gilirannya

tergantung pada pemahaman pemakai atas istilah yang digunakan oleh

perpustakaan digital. Sebagai contoh, suatu masalah utama perpustakaan

digital adalah tidak sesuainya penggunaan jargon (Talja et al. 1998).

b. Desain Antarmuka (screen design)

Desain antarmuka adalah suatu cara dimana informasi dipresentasikan

pada suatu layar (Lindgaard, 1994). Penelitian terdahulu telah menemukan isi

yang sama, suatu cara atas informasi yang ditunjukkan pada layar mampu

mempengaruhi strategi pencarian informasi pemakai sebagaimana

kemampuannya. Dalam konteks perpustakaan digital, tidak hanya “what” yang berhubungan dengan antarmuka tetapi juga “how”. Sebagai contoh, grafik antarmuka telah ditemukan interaksi yang lebih banyak dengan para pemakai

dalam sistem temu kembali informasi dan perpustakaan digital (Liu et al., 2000).

Suatu metode bahwa informasi diatur pada layar dapat mempengaruhi

interaksi pemakai tersebut dengan perpustakaan digital di luar efek isi

informasi. Demikian pula, banyaknya poin-poin tertentu akan membuat sulit

untuk dibaca, sepanjang tombol yang digambarkan dengan gambar tertentu

dapat menciptakan kebingungan dan kesalahpahaman. Secara jelas, antarmuka

yang terorganisir dengan baik dan secara hati-hati dirancang dapat membantu

para pemakai dalam meneliti antarmuka dan mengidentifikasi informasi yang

relevan secara mudah.

c. Navigasi (navigation)

Navigasi adalah kemudahan dimana pemakai dapat berpindah-pindah pada

seputar sistem (Lindgaard, 1994). Suatu masalah seringkali didapatkan oleh para

pemakai ketika mereka mencoba untuk menempatkan informasi digital pada

orientasi yang salah (Dillon, 2000). Sejumlah informasi meningkat dengan cepat,

struktur untuk menyimpan informasi menjadi lebih kompleks. Para pemakai

seringkali mudah kehilangan sistem informasi yang intensif sepanjang

(34)

24 | 2. Organisasi E-resources (E-resources Organization)

Organisasi e-resources mengacu pada tata cara sistem komputer sehingga dapat secara efektif terintegrasi ke dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi

tertentu. Perpustakaan digital mungkin lebih dapat digunakan dalam beberapa

organisasi dibandingkan dengan yang lainya. Beberapa karakteristik yang

sesuai dengan perpustakaan digital dan organisasinya sulit untuk dipakai

dalam mendukung pemakaian fasilitasnya. Empat dimensi usabilitas

organisatoris perpustakaan digital meliputi:

o Accessibility Kemudahan seseorang dalam menempatkan sistem komputer secara spesifik, keuntungan dalam mengakses secara fisik dan

akses elektronik terhadap jumlah koleksi ektroniknya. Dimensi ini

mengacu pada pendekatan secara fisik dan pembatasan adminitratif atas

penggunaan sistem tertentu.

o Compatibility -Tingkat kecocokan perpindahan file dari sistem ke sistem. o Integrability into work practices - Bagaimana sistem berhubungan

dengan seseorang atau kelompok kerja dengan baik.

o Social-organizational expertise - Fasilitas bagi seseorang untuk dapat memperoleh pelatihan dan berkonsultasi dalam belajar menggunakan sistem

dan dapat menemukan bantuan (help) atas permasalahan dalam penggunaan sistem (Kling, 1994).

Berdasarkan kegunaan dan klasifikasi oleh Kling Elliott (1994) dan

Lindgaard (1994), serta oleh Davies (1997), diusulkan oleh JYL Thong

(2002) agar memasukkan tiga variable dalam konteks organisasi yaitu:

relevansi, sistem aksesibilitas dan sistem visibilitas.

a. Relevansi (relevance)

Salah satu dari dimensi organizational usability yang diusulkan oleh

Kling dan Elliott (1994) adalah integrability dari sistem ke dalam pekerjaan

secara praktis dimana sistem sesuai secara praktis baik untuk perorangan

maupun kelompok. Variabel yang sama diusulkan oleh Lindgaard (1994)

sesuai dengan tugas-tugas pemakai, dimana tingkatan sistem sesuai dengan

tugas-tugas yang dilakukan pada lingkungan. Kedua variabel menekankan

(35)

25 | diimplementasikan pada konteks perpustakaan digital, kesesuaian antara isi

sistem dan kebutuhan informasi pemakai secara individu. Literatur ilmu

perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa relevansi adalah istilah yang

tepat untuk mewakili konsep tersebut.

Bahkan, evaluasi sistem temu kembali informasi telah bergulir di sekitar

ide tentang relevansi (Park, 1994). Konsep relevansi yang melekat pada

pemakai dari hasil evaluasi kinerja dalam sistem informasi (Schamber,

Eisenberg& Nilan, 1990). Tujuan dari sistem ini adalah untuk menyediakan

dokumen yang relevan kepada pemakai. Gluck (1996) menemukan hubungan

yang kuat antara relevansi dan kepuasan pengguna dengan sistem informasi,

sedangkan Yao (1995) mencatat bahwa pengguna cenderung untuk mencari

dokumen yang berguna agar relevan. Karena itu, diusulkan oleh JYL Thong

dkk (2002) bahwa relevansi dari sebuah perpustakaan digital untuk pengguna

informasi akan meningkatkan kebutuhan pengguna persepsi dari kegunaan.

b. Aksesibilitas Sistem (system accessibility).

Accessibility didefinisikan sebagai kemudahan dimana seseorang dapat

mencari atau mendapatkan secara spesifik pada suatu sistem komputer (Kling &

Elliott, 1994). Secara tradisional aksesibilitas dari data dan informasi (bukan

sistem komputer) telah menjadi fokus dari penelitian IS. Persepsi

aksesibilitas dapat ditemukan menjadi salah satu yang penting dalam

menentukan frekuensi penggunaan sumber informasi dan pemilihan saluran

informasi. Aksesibilitas yang rendah dapat berpengaruh secara negatif

terhadap penggunaan sumberdaya elektronik, khususnya sumber daya on-line

yang disediakan oleh perpustakaan digital (Zhang & Estabrook, 1998). Secara

khusus, Kraemer dkk. (1993) menemukan bahwa akses yang lebih besar dari

informasi berbasis komputer memiliki kontribusi informasi yang besar atas

manfaatnya pada manajer.

c. Visibilitas Sistem (system visibility)

Visibilitas sistem berasal dari konsep sistem observability yang

merupakan salah satu kunci karakteristik dari inovasi teknologi yang

diidentifikasi oleh Rogers (1995). Observability didefinisikan sebagai tingkatan

(36)

26 | lainnya (Rogers, 1995). Hampir sama dengan situasi dengan inovasi teknologi

lainnya, manfaat menggunakan perpustakaan digital dan bahkan keberadaan

sistem itu sendiri tidak dapat diketahui untuk pemakai potensial. Oleh karena itu,

penting untuk meningkatkan visibilitas atas perpustakaan digital. Menurut Moore

dan Benbasat (1991, hal 203), ‘‘it appears that the more a potential adopter can see an innovation, the more likely he is to adopt it’’. Dasar secara psikologis, fenomena ini disebut seabagai efek eksposur yang berarti

independen dari pertimbangan dasar, eksposur tersebut pada obyek yang

mampu mengubah secara positif atas sikap individu terhadap objek yang

dimaksud. Walaupun sistem visibilitas tidak akan menambah nilai yang

sebenarnya dari fungsi perpustakaan digital dengan pengguna tetapi dapat

membantu pemakai dalam mengetahui fungsi-fungsinya lebih bermanfaat

kemudian meningkatkan niat untuk menggunakan sistem.

3. Kemampuan dan Keahlian Pengguna (User Abilities & Skills)

Hubungan antara kemampuan pengguna dan keberhasilan sistem informasi

dideskripsikan dalam kerangka teori yang diusulkan oleh Zmud (1979).

Suksesnya inovasi teknologi informasi tergantung sebanyak atas individu

terhadap teknologinya. Pare dan Elam (1995) menemukan bahwa ketika

perilaku adopsi adalah sukarela, pengaruh faktor pribadi atas pemakaian

komputer bisa jadi lebih kuat dari faktor sosial atau faktor lingkungan.

Perbedaan individu terutama dalam kemampuan dan keahliannya juga

berperan penting dalam menentukan pencapaian pemakaian atas sistem temu

kembali informasi (Borgman, 1997). Penelitian sebelumnya menguji pengaruh

faktor individu atas perilaku adopsi sistem informasi (Agarwal& Prasad, 1999).

Bagaimanapun juga, kemajuan dalam lingkungan virtual, terutama melalu

teknologi yang berjangkau luas seperti World Wide Web, pengaruh dari

perbedaan individu atas penggunaan teknologi yang lebih baru tidak

mungkin secara keseluruhan diterangkan oleh teori dan metode yang

dikembangkan untuk generasi sistem informasi yang lebih awal (Chen et al.,

2000). Oleh karena itu, suatu kebutuhan penelitian empiris untuk menguji

(37)

27 | a. Perkembangan diri atas komputer (computer self-efficacy)

Berdasarkan teori kognitif sosial (Bandura, 1977), bahwa computer self-efficacy dapat mempengaruhi penggunaan sistem melalui niat untuk memiliki. Hal tersebut telah didokumentasikan dalam berbagai studi. Computer self-efficacy didefinisikan sebagai suatu keputusan individu atas kemampuannya untuk menggunakan komputer (Compeau & Higgins, 1995, hal 192). Penelitian

sebelum telah menemukan bahwa computer self-efficacy memiliki pengaruh positif pada kemauan untuk menggunakan komputer secara umum.

(Venkatesh & Davis, 2003). Mekanisme melalui computer self-efficacy yang akan mempengaruhi perilaku penggunaan melalui TAM dapat lebih dipahami

dengan argument. Dia mencatat bahwa ada dua jenis kontrol faktor-faktor yang

diusulkan oleh Ajzen (1985) dalam model intention-behaviour. Salah satunya adalah faktor internal yang meliputi keterampilan (skill) dan kontrol diri (will power) . Hal lainnya adalah faktor kontrol eksternal (external control factors), yang meliputi waktu, kesempatan, dan kerjasama dengan yang lain.

Sedangkan faktor kontrol eksternal tidak dipertimbangkan secara

eksplisit dalam TAM, akibat faktor internal, seperti keterampilan computer

didapatkan dari variabel persepsi kemudahan penggunaan. Diharapkan computer self-efficacy akan mempengaruhi niat melalui persepsi kemudahan penggunaan. Para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi juga mengakui kemungkinan

pengaruh kemampuan komputer (computer literacy) pada peningkatan penggunaan sistem temu kembali informasi (Davies, 1997), tetapi dalam

penelitian empiris yang terbatas.

b. Pengalaman atas penggunaan komputer (Computer experience)

Pengalaman atas penggunaan komputer secara umum dapat

mempengaruhi keberhasilan interaksi dengan personal computers, World Wide Web dan sistem temu kembali informasi (Igbaria dkk., 1995). Berbagai kriteria

telah diadopsi dalam berbagai kajian sebagai indikator atas pengalaman atas

komputer. Thompson et al. (1994) berpendapat bahwa dalam kontek teknologi

informasi, keterampilan komputer dan lamanya penggunaan harus dihitung karena

Gambar

Gambar 2.2.  TAM dalam perpustakaan Digital (J.Y.L. Thong, 2002)
Gambar 2.3.  Model Penelitian
tabel 4.1 di bawah. Dalam tabel tersebut digambarkan bahwa dari total 89
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis path dapat disimpulkan bahwa: Variabel peresepsi Kemudahan Penggunaan berpengaruh signifikan positif terhadap Peresepsi Kemanfaatan, Variabel

Penelitian ini menggunakan 5 (lima) konstruk yang telah dimodifikasi dari model penelitian TAM sebelumnya yaitu: persepsi tentang kemudahan penggunaan (perceived ease

Hasil pengujian pada tabel 11 menunjukkan untuk hubungan persepsi akan kemudahan penggunaan terhadap sikap akan penggunaan sistem adalah sebesar 49,3054. Nilai ini

Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas ; persepsi kemudahan penggunaan (PEOU), variabel antara ; persepsi kegunaan (PU), sikap terhadap penggunaan

Pada pendekatan technology acceptance model (TAM) terdapat beberapa faktor yang dinilai yaitu persepsi kegunaan atau manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan yang didapat

Instrumen Penelitian Tabel 2 Instrumen Penelitian Variabel Kode Pertanyaan Kemudahan Perceived ease of use PEOU1 Aplikasi AR Kapal mudah digunakan PEOU2 Penggunaan aplikasi AR

• Hasil Pengujian Hipotesis Kedua H2 = Kemudahan penggunaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat menggunakan Berdasarkan tabel 2, nilai signifikansi Sig yang diperoleh dari

Pada pendekatan technology acceptance model TAM terdapat beberapa faktor yang dinilai yaitu persepsi kegunaan atau manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan yang didapat dari hasil