ABSTRAK
ANALISIS PENGARUH HAMBATAN SAMPING TERHADAP KINERJA LALU LINTAS
(Studi Kasus : Jalan Laksamana Yos Sudarso - Pasar Panjang) Oleh
MEI LISA ADHA
Hambatan samping yaitu aktivitas samping jalan yang dapat menimbulkan konflik dan berpengaruh terhadap pergerakan arus lalu lintas serta menurunkan fungsi kinerja jalan. Besarnya hambatan samping sangat berpengaruh terhadap kapasitas ruas jalan dan kecepatan kendaraan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh yang ditimbulkan oleh hambatan samping terhadap kinerja lalu lintas dan menentukan solusi perencanaan untuk memperbaiki kinerja lalu lintas.
Penelitian yang dilakukan yaitu berupa survei volume lalu lintas untuk melihat tingkat kepadatan kendaraan, kemudian survei hambatan samping untuk melihat besarnya pengaruh gangguan dan survei kecepatan sesaat baik terganggu dan tak terganggu hambatan samping. Penelitian dilakukan pada 500 meter di ruas jalan pasar Panjang. Perhitungan selanjutnya digunakan dengan Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 untuk Jalan Perkotaan.
Berdasarkan hasil perhitungan, volume kendaraan tertinggi yaitu sebesar 922 smp/jam dengan derajat kejenuhan 0,73 didapat tingkat pelayanan C dan kecepatan rata-rata terendah 15,2 km/jam. Untuk mengurangi tingkat hambatan samping akibat kendaraan parkir dan berhenti di bahu jalan, maka perlu dilakukan pemasangan rambu larangan berhenti di sepanjang ruas jalan pasar.
ABSTRACT
ANALYSIS OF THE EFFECT OF SIDE FRICTION ON THE PERFORMANCE OF TRAFFIC
(Case study : Laksamana Yos Sudarso Road – Panjang Market) by
MEI LISA ADHA
Side friction is road side activity that can lead to conflict and affect the movement of the traffic flow and reduce the function of road performance. The amount of side friction affects the capacity and speed of road vehicles. The purpose of this research was to analyze the effect of side friction caused by the traffic performance and determine design solutions to improve the traffic performance.
This research are obtained by doing survey of traffic volume to see the density of vehicles, then surveys the side friction to see the influence of interference and instantenous velocity surveys both distrubed and undistrubed side friction. This research doing in 500 meters in a market segment of Panjang. Next calculation use the Manual Capasity of Indonesian Road in 1997 for the Urban Roads.
Based on calculation, the highest traffic volume is 922 pcu/hours with a degree of saturation of 0,97 with a total volume of vehicles by 2636 pcu/hour obtained a level of service C and the lowest average speed of 15,2 km/hour. To reduce the level of side friction due to vehicle parking and stopping on the shoulder of the road, it is necessary to ban the installation of stop signs along the road market.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Mei Lisa Adha lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan, pada tanggal 31 Mei 1993, merupakan anak keempat dari pasangan Bapak Sehabudin dan Ibu Nurhasanah. Penulis memiliki dua orang saudara laki-laki bernama Jerri Silatama (alm) dan Akhmad Ikhsan dan saudara perempuan bernama dr. Purmaita, Tri Meyyanti, S.T.
Penulis menempuh Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN 17 Muara Enim pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP 1 Muara Enim pada tahun 2007 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 1 Muara Enim pada tahun 2010.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah
Subhana Wa Ta’ala yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi dengan judul ANALISIS PENGARUH HAMBATAN SAMPING TERHADAP KINERJA LALU LINTAS LAKSAMANA YOS SUDARSO - PASAR PANJANG dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Teknik Sipil di Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pada penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh sebab itu penulis memohon maaf dan mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Drs. Suharno, M.Sc., Ph.D
.,
selaku Dekan Fakultas Teknik,Universitas Lampung
2. Bapak Ir. Idharmahadi Adha, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Lampung.
4. Bapak Ir. Syukur Sebayang, M.T., selaku Pembimbing Kedua terima kasih atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini.
5. Bapak Ir. Hadi Ali, M.T., selaku Penguji Utama pada ujian skripsi. Terima kasih untuk masukan dan saran untuk penelitian ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini..
6. Bapak Ir. Ahmad Zakaria, M.T., Ph.D., selaku Pembimbing Akademik.
7. Seluruh Dosen Jurusan Teknik Sipil yang telah membimbing dan memberikan ilmu yang bermanfaat.
8. Ayahku tersayang, Ayah Sehabudin yang selalu memberikan semangat, doa,
dukungan materi dan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
9. Ibuku tersayang, Ibu Nurhasanah yang selalu memberikan doa-doa terbaiknya, semangat, dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
10. Kakak yang ku banggakan disana, Jerri Silatama, ayuk dr.Purmaita, ayuk Tri Meyyanti, S.T., dan adek Akhmad Ikhsan yang telah memberikan doanya, dukungan, semangat, masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
11. Udin Aria Febriantama tersayang, yang selalu memberikan semangat, motivasi dan telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Teman-teman surveyor Lita, Della, Merisa, Randy, Visi, Adhe, Fina, Aldani,
13. Teman, sahabat bahkan keluarga baru, Lita, Inas, Fina, Adhe, Merisa, Della, Yessi, Citra, Visi, Tommy, Randy, dan seluruh teman seperjuangan Teknik Sipil 2010 yang telah mengisi hari-hari dengan semangat dan senantiasa menjadi inspirasi bagi penulis.
14. Sahabat asrama semasa SMA, Resti, Aisyah, Dwi, Eno, Rera, Ririn, Fitri, Yobel, Grace dan juga teman-teman KKN Desa Sukajawa yang selalu memberi semangat kepada penulis.
15. Semua pihak terkait dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Bandar Lampung, Juli 2014 Penulis,
Mei Lisa Adha
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... ii
DAFTAR GAMBAR ... iii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Batasan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Tentang Kemacetan Lalu Lintas ... 6
2.2 Hambatan Samping ... 7
2.3 Geometrik Jalan ... 8
2.4 Kinerja Ruas Jalan ... 10
2.4.1 Volume (Q) ... 10
2.4.2 Kecepatan Arus Bebas (FV) ... 11
2.4.3 Kapasitas ... 15
2.4.4 Derajat Kejenuhan (DS) ... 18
2.4.5 Kecepatan Tempuh ... 18
2.5 Metode Pengamatan Kecepatan ... 19
2.6 Satuan Mobil Penumpang (SMP) ... 20
2.7 Tingkat Pelayanan ... 20
2.8 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 23
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Umum ... 25
3.2 Lokasi Penelitian ... 25
3.3 Pelaksanaan Penelitian ... 27
3.4 Pengambilan Data ... 28
3.5 Pengolahan Data ... 30
3.6 Analisa Data ... 30
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum ... 33
4.2 Volume Lalu Lintas ... 34
4.3 Hambatan Samping ... 41
4.3.1 Data-data Hambatan Samping Di ruas Jalan Pasar Gadingrejo ... 41
4.3.2 Kelas Hambatan Samping ... 46
4.4 Kecepatan Arus Bebas Kendaraan ... 48
4.5 Kapasitas ... 49
4.6 Derajat Kejenuhan... 49
4.7 Survei Kecepatan Sesaat ... 51
4.8 Tingkat Pelayanan (LOS) ... 54
4.10 Solusi Penanganan ... 55
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 57
5.2 Saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kelas Hambatan Samping ... 7
2. Jenis Hambatan Samping Jalan ... 8
3. Kecepatan Arus Bebas Dasar (FVO) untuk Jalan Perkotaan ...12
4. Penyesuaian untuk Pengaruh Lebar Jalur Lalu-Lintas (FVW) ...13
5. Faktor Penyesuaian untuk Pengaruh Hambatan Samping dan Lebar Bahu (FFVSF) ...14
6. Faktor Penyesuaian untuk Pengaruh Ukuran Kota ...15
7. Kapasitas Dasar (CO) Jalan Perkotaan ...16
8. Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat Lebar Jalan (FCW)...16
9. Faktor Penyesuaian Pemisahan Arah ...17
10. Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat Hambatan Samping (FCSF) ...17
11. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCCS) ...18
12. Besaran Ekivalen Mobil Penumpang ...20
13. Karakteristik Tingkat Pelayanan. ...23
14. Volume Kendaraan Dalam Satuan Mobil Penumpang Per Jam. ...35
15. Total Volume Kendaraan Per Jam untuk Arah Teluk Betung (smp/jam). ...36
16. Total Volume Kendaraan Per Jam untuk Arah Jalan Soekarno Hatta (smp/jam) ...37
18. Akumulasi Kendaraan Parkir dan Berhenti di Bahu Jalan
Per 100 meter Selama 4 Jam ...43 19. Jumlah Kendaraan yang Masuk dan Keluar Jalan Per 100 meter
Selama 4 Jam Waktu Pengamatan ...45 20. Jumlah Kendaraan Lambat Ruas Jalan Pasar Panjang
Per 100 meter Selama 4 Jam Waktu Pengamatan ...46 21. Total Hambatan Samping untuk kejadian per 100 meter per jam
(dua sisi) pada Hari Senin ...47 22. Total Hambatan Samping untuk kejadian per 100 meter per jam
(dua sisi) pada Hari Kamis ...47 23. Total Hambatan Samping untuk kejadian per 100 meter per jam
(dua sisi) pada Hari Sabtu ...47 24. Perhitungan Derajat Kejenuhan per Jam Pada Ruas Jalan
Pasar Panjang Arah Teluk Betung ...50 25. Perhitungan Derajat Kejenuhan per Jam Pada Ruas Jalan
Pasar Panjang Arah Jalan Soekarno Hatta ...50 26. Kecepatan Sesaat Tak Terganggu Hambatan Samping
Melewati 500 meter Lintasan ...51 27. Kecepatan Sesaat Terganggu Hambatan Samping
pada Jam Sibuk Pagi ...52 28. Kecepatan Sesaat Terganggu Hambatan Samping
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Peta Lokasi Penelitian ... 5
2. Lokasi Survei Ruas Jalan Pasar Panjang ... 26
3. Bagan Alir Penelitian ... 32
4. Nilai Total Volume Kendaraan untuk Arah Teluk Betung (smp/jam) ... 36
5. Nilai Total Volume Kendaraan untuk Arah Jalan Soekarno Hatta (smp/jam) ... 38
6. Perbandingan Volume Kendaraan Hari Senin ... 39
7. Perbandingan Volume Kendaraan Hari Kamis ... 40
8. Perbandingan Volume Kendaraan Hari Sabtu ... 40
9. Kecepatan Sesaat Terganggu Hambatan Samping pada Jam Sibuk Pagi ... 52
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jalan merupakan sarana transportasi darat yang sangat penting bagi masyarakat untuk berhubungan antara daerah yang satu ke daerah yang lain, selain itu juga untuk memperlancar kegiatan perekonomian, dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Dengan berkembangnya dunia transportasi dan banyaknya jumlah kendaraan maka diperlukan sarana dan prasarana transportasi untuk menunjang kebutuhan masyarakat dan untuk memajukan pertumbuhan pembangunan daerah tersebut.
Bertambahnya jumlah kendaraan dari tahun ketahun dan jumlah jalan yang tidak sesuai lagi dengan kapasitasnya maka sering menimbulkan kemacetan, kemacetan dalam berlalu lintas merupakan hal yang tidak asing lagi kita lihat di kota-kota besar dan salah satunya adalah Kota Bandar Lampung. Salah satu ruas jalan di Kota Bandar Lampung yang sering mengalami kemacetan adalah Jalan Laksamana Yos Sudarso khususnya di depan Pasar Panjang.
2
terdapat sebuah pelabuhan untuk transportasi dan distribusi berbagai komoditi hasil pertambangan dan agrobisnis yaitu Pelabuhan Panjang. Dan jalan ini juga merupakan salah satu akses menuju Pelabuhan Bakaheuni. Dimana untuk menuju tempat-tempat tersebut melewati sebuah pasar yang mempunyai aktivitas cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap kinerja ruas jalan yang dilewati.
Kepadatan lalu lintas di Jalan Laksamana Yos Sudarso ini muncul karena adanya pedagang kaki lima, bongkar muat barang, angkot yang parkir atau berhenti di sepanjang jalan tersebut. Selain itu ditambah jumlah pejalan kaki yang berjalan atau menyebrang sepanjang segmen jalan, dan jumlah kendaraan bermotor yang masuk keluar ke/dari lahan samping jalan serta arus kendaraan yang bergerak lambat seperti sepeda, becak dll. Hal ini sangat mengganggu kendaraan yang lewat di ruas jalan depan Pasar Panjang.
Berdasarkan alasan tersebut maka perlu adanya suatu studi penelitian sebagai upaya mengetahui seberapa besar pengaruh aktivitas pasar terhadap kinerja jalan yang berada di kawasan pasar tersebut dengan judul “Analisis Pengaruh Hambatan Samping Terhadap Kinerja Lalu Lintas (Studi Kasus Jalan Lakamana Yos Sudarso - Pasar Panjang)”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
3
1. Pejalan kaki dan penyeberang jalan. 2. Jumlah kendaraan berhenti dan parkir.
3. Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar dari lahan samping jalan dan jalan samping.
4. Arus kendaraan lambat, yaitu arus total (kend/ jam) sepeda, becak, dan sebagainya.
b) Kemacetan yang diakibatkan hambatan samping.
c) Seberapa besar pengaruh hambatan samping terhadap kinerja jalan Laksamana Yos Sudarso.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Menganalisis pengaruh yang ditimbulkan oleh aktivitas di Pasar Panjang terhadap kinerja lalu lintas di kawasan pasar yaitu Jalan Laksamana Yos Sudarso.
2. Mengetahui kinerja lalu lintas seperti volume lalu-lintas, kecepatan arus
bebas, kapasitas, derajat kejenuhan, dan kecepatan tempuh di Jalan Laksamana Yos Sudarso.
4
1.4 Batasan Penelitian
Untuk mempermudah dalam menganalisis permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok permasalahn sesuai dengan judul penelitian, maka diberikan beberapa batasan masalah sebagai berikut :
a) Lokasi penelitian sepanjang ± 500 m di ruas Jalan Laksamana Yos Sudarso kawasan Pasar Panjang.
b) Pokok bahasan dalam studi ini adalah analisa pengaruh aktivitas Pasar Panjang Bandar Lampung terhadap kinerja jalan.
c) Data untuk menganalisa kinerja jalan didapat dengan metode observasi langsung pada Jalan Laksamana Yos Sudarso.
d) Perhitungan dan analisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan
Indonesia (MKJI) 1997.
1.5 Manfaat Penelitian
a) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aktivitas Pasar Panjang di
sepanjang Jalan Laksamana Yos Sudarso terhadap kinerja lalu lintas. b) Hasil analisa data dari penelitian ini dapat memberi masukan kepada
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Tentang Kemacetan Lalu lintas
Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati atau mencapai 0 km/jam sehingga menyebabkan terjadinya antrian. Pada saat terjadinya kemacetan, nilai derajat kejenuhan pada ruas jalan akan ditinjau dimana kemacetan akan terjadi bila nilai derajat kejenuhan mencapai lebih dari 0,5 (MKJI, 1997).
7
2.2 Hambatan Samping
Hambatan samping yaitu aktivitas samping jalan yang dapat menimbulkan konflik dan berpengaruh terhadap pergerakan arus lalu lintas serta menurunkan fungsi kinerja jalan. Banyak aktivitas samping jalan di Indonesia sering menimbulkan konflik, kadang-kadang besar pengaruhnya terhadap arus lalu-lintas.
Dalam MKJI 1997, adapun tipe hambatan samping terbagi menjadi : 1. Pejalan kaki dan penyeberang jalan.
2. Jumlah kendaraan berhenti dan parkir.
3. Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar dari lahan samping jalan dan jalan samping.
4. Arus kendaraan lambat, yaitu arus total (kend / jam) sepeda, becak, delman, pedati, traktor dan sebagainya.
Tingkat hambatan samping dikelompokkan ke dalam lima kelas sebagai fungsi dari frekuensi kejadian hambatan samping sepanjang segmen jalan yang diamati seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kelas Hambatan Samping
Kelas Rendah L 100 - 299 Daerah pemukiman; beberapa
angkutan umum dsb Sedang M 300 - 499 Daerah industri; beberapa toko
8
Tinggi H 500 - 899 Daerah komersial; aktivitas sisi jalan tinggi
Sangat
Tinggi VH > 900
Daerah Komersial; aktivitas pasar sisi jalan Sumber : MKJI 1997
Hambatan samping merupakan hal yang utama berpengaruh terhadap kapasitas dan kinerja jalan, sedangkan untuk kriteria hambatan samping dibagi menjadi 4 bobot yaitu dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis Hambatan Samping Jalan
Tipe kejadian hambatan samping Simbol Faktor bobot
Pejalan kaki PED 0,5
Kendaraan parkir PSV 1.0
Kendaraan masuk dan keluar sisi jalan EEV 0.7
Kendaraan lambat SMV 0.4
Sumber : MKJI 1997
2.3 Geometrik Jalan
Geometrik jalan merupakan salah satu karakteristik utama jalan yang akan mempengaruhi kapasitas dan kinerja jalan jika dibebani lalu lintas. Dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, diantara yang termasuk dalam geometri jalan sebagai berikut :
1. Tipe jalan : berbagai tipe jalan akan menunjukkan kinerja berbeda-beda
pada pembebanan lalu lintas tertentu, misalnya jalan terbagi dan tak terbagi, jalan satu-arah. Tipe jalan perkotaan yang tercantum dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia MKJI 1997 adalah sebagai berikut : a. Jalan dua-lajur dua-arah tanpa median (2/2 UD)
9
1) tak terbagi (tanpa median) (4/2 UD) 2) terbagi (dengan median) (4/2 D) c. Jalan enam-lajur dua-arah terbagi (6/2 D) d. Jalan satu-arah (1-3/1)
2. Lebar jalur lalu lintas : kecepatan arus bebas dan kapasitas meningkat dengan pertambahan lebar jalur lalu-lintas. Menurut pandangan Sukirman (1994) jalur lalu lintas adalah keseluruhan bagian perkerasan jalan yang
diperuntukkan untuk lalu lintas kendaraan. Lebar jalur lalu lintas merupakan
bagian jalan yang paling menentukan lebar melintang jalan secara keseluruhan.
3. Kereb : sebagai batas antara jalur lalu-lintas dan trotoar sangat berpengaruh terhadap dampak hambatan samping jalan pada kapasitas dan kecepatan. Kapasitas jalan dengan kereb lebih kecil dari jalan dengan bahu. Selanjutnya kapasitas berkurang jika terdapat penghalang tetap dekat tepi jalur lalu-lintas, tergantung apakah jalan mempunyai kereb atau bahu. 4. Bahu : jalan perkotaan tanpa kereb kecepatan dan kapasitas jalan akan
meningkat bila lebar bahu semakin lebar. Lebar dan kondisi permukaannya mempengaruhi penggunaan bahu, berupa penambahan lebar bahu, terutama karena pengaruh hambatan samping yang disebabkan kejadian di sisi jalan seperti kendaraan umum berhenti, pejalan kaki dan sebagainya. 5. Ada atau tidaknya median, median yang direncanakan dengan baik
10
2.4 Kinerja Ruas Jalan
Kinerja ruas jalan adalah ukuran kuantitatif yang digunakan dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Berdasarkan MKJI 1997 fungsi utama dari suatu jalan adalah memberikan pelayanan transportasi sehingga pemakai jalan dapat berkendaraan dengan aman dan nyaman. Parameter arus lalu lintas yang merupakan faktor penting dalam perencanaan lalu lintas adalah volume lalu-lintas, kecepatan arus bebas, kapasitas, derajat kejenuhan dan kecepatan tempuh.
2.4.1 Volume (Q)
Volume adalah jumlah kendaraan yang melewati satu titik pengamatan selama periode waktu tertentu. Nilai volume lalu lintas mencerminkan komposisi lalu lintas, dengan menyatakan arus dalam satuan mobil penumpang (smp) yang dikonversikan dengan mengalikan nilai ekivalensi mobil penumpang (emp).
Volume kendaraan dihitung berdasarkan persamaan :
T N
Q (1)
dengan :
Q = volume (kend/jam) N = jumlah kendaraan (kend) T = waktu pengamatan (jam)
11
1. Kendaraan ringan (LV) yaitu kendaraan bermotor ber as dua dengan 4 roda dan dengan jarak as 2,0-3,0 m ( meliputi : mobil penumpang, mini bus, pick-up, oplet dan truk kecil).
2. Kendaraan berat (MHV) yaitu kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3,50 m, biasanya beroda lebih dari 4 (termasuk bis, truk 2 as,
truk 3 as dan truk kombinasi).
3. Sepeda Motor (MC) yaitu kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda (meliputi : sepeda motor dan kendaraan roda 3).
4. Kendaraan tak bermotor (UM) dimasukkan sebagai kejadian terpisah
dalam faktor penyesuaian hambatan samping.
Berbagai jenis kendaraan diekivalensikan ke satuan mobil penumpang dengan menggunakan faktor ekivalensi mobil penumpang (emp), emp adalah faktor yang menunjukkan berbagai tipe kendaraan dibandingkan dengan kendaraan ringan.
2.4.2 Kecepatan Arus Bebas (FV)
Kecepatan arus bebas (FV) didefnisikan sebagai kecepatan pada tingkat
arus nol, yaitu kecepatan yang akan dipilih pengemudi jika mengendarai
kendaraan bermotor tanpa dipengaruhi oleh kendaraan bermotor lain di jalan
(MKJI, 1997). Persamaan untuk penentuan kecepatan arus bebas mempunyai bentuk umum berikut:
(2)
FVO FVW
FFVSF FFVCS12
dengan :
FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan pada kondisi lapangan (km/jam).
FV0 = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan pada jalan yang diamati (km/jam).
FVW = Penyesuaian kecepatan untuk lebar jalan (km/jam). FFVSF = Faktor penyesuaian akibat hambatan samping dan lebar bahu.
FFVCS = Faktor penyesuaian untuk ukuran kota.
Kecepatan arus bebas (FV) didefinisikan sebagai kecepatan pada tingkat arus nol, yaitu kecepatan yang akan dipilih pengemudi jika mengendarai kendaraan bermotor tanpa dipengaruhi oleh kendaraan bermotor lain di jalan.
Kecepatan arus bebas dasar (FV0) adalah kecepatan arus bebas
segmen jalan pada kondisi ideal tertentu (geometri, pola arus dan faktor lingkungan), dinyatakan dalam km/jam. Penentuan kecepatan arus bebas dasar (FVO) untuk jalan perkotaan terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kecepatan Arus Bebas Dasar (FVO) untuk Jalan Perkotaan
13
Kecepatan untuk lebar jalur lalu lintas (FVw) adalah penyesuaian
untuk kecepatan arus bebas dasar berdasarkan pada lebar efektif jalur lalu lintas (Wc). Penyesuaian untuk pengaruh lebar jalur lalu-lintas (FVW) dapat dilihat pada Tabel 4.
Empat-lajur tak-terbagi Per lajur 3,00
14
Tabel 5. Faktor Penyesuaian untuk Pengaruh Hambatan Samping dan Lebar Bahu (FFVSF)
Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan lebar bahu
Lebar bahu efektif rata-rata Ws (m)
d 0,5 m 1,0 m 1,5 m 2 m
adalah faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota pada kecepatan arus bebas kendaraan ringan. Faktor penyesuaian untuk pengaruh ukuran kota dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Faktor Penyesuaian untuk Pengaruh Ukuran Kota
Ukuran kota (Juta penduduk) Faktor penyesuaian untuk ukuran kota
15
2.4.3 Kapasitas
Kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum melalui suatu titik di jalan yang dapat dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu. Untuk jalan dua lajur dua arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dua arah), tetapi untuk jalan dengan banyak lajur, arus dipisahkan per arah dan kapasitas di tentukan per lajur. Persamaan dasar untuk menentukan kapasitas adalah sebagai berikut :
C = C
O x FCW x FCSP x FCSF x FCCS (smp/jam) (3)
dengan :
C = Kapasitas (smp/jam) C
O = Kapasitas dasar (smp/jam) FC
W = Faktor penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas FC
SP = Faktor penyesuaian pemisah arah FC
SF = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan FC
CS = Faktor penyesuaian untuk ukuran kota.
16
Tabel 7. Kapasitas Dasar (CO) Jalan Perkotaan
Tipe jalan Kapasitas dasar
(smp/jam)
Catatan
Empat-lajur terbagi atau Jalan satu-arah 1650 Per lajur
Empat-lajur tak-terbagi 1500 Per lajur
Dua-lajur tak-terbagi 2900 Total dua arah
Sumber : MKJI 1997
Faktor penyesuaian untuk lebar jalan (FCW) adalah faktor penyesuaian
untuk kapasitas dasar akibat lebar jalan. Faktor penyesuaian lebar jalan
ditentukan berdasarkan lebar jalan efektif yang dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat Lebar Jalan (FCW)
Tipe Jalan Lebar efektif
jalur lalu-lintas (Wc)
Empat-lajur tak-terbagi Per lajur
3,00 Dua-lajur tak-terbagi Total kedua arah
5
Faktor penyesuaian kapasitas untuk pemisah arah (FC
SP) adalah faktor
17
Tabel 9. Faktor Penyesuaian Pemisahan Arah `
Pemisahan arah SP %-% 50-50 55-45 60-40 65-35 70-30
FCSP Dua-lajur 2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88
Empat-lajur 4/2 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94
Sumber : MKJI 1997
Faktor penyesuaian kapasitas untuk hambatan samping (FC
SF) adalah
faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat hambatan samping. Nilai
faktor penyesuaian kapasitas akibat hambatan samping ini dapat dilihat pada
Tabel 10.
Tabel 10. Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat Hambatan Samping (FCSF)
Tipe jalan Kelas hambatan samping
Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan lebar bahu
Faktor penyesuaian ukuran kota (FCCS) adalah faktor penyesuaian untuk
kapasitas dasar didasarkan pada jumlah penduduk. Faktor penyesuaian ukuran
18
Tabel 11. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCCS)
Ukuran kota (juta penduduk) Faktor penyesuaian untuk ukuran kota
< 0,1 0,86
0,1 - 0,5 0,90
0,5 - 1,0 0,94
1,0 - 3,0 1,00
>3,0 1,04
Sumber : MKJI 1997
2.4.4 Derajat Kejenuhan (DS)
Derajat kejenuhan (DS) didefinisikan sebagai rasio arus jalan terhadap kapasitas, yang digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan. Nilai DS menunjukkan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau tidak. Persamaan dasar untuk menentukan derajat kejenuhan adalah sebagai berikut:
C Q
DS (4)
dengan :
DS = Derajat kejenuhan
Q = Arus lalu lintas (smp/jam) C = Kapasitas (smp/jam)
Derajat kejenuhan digunakan untuk menganalisis perilaku lalu lintas.
2.4.5 Kecepatan Tempuh
19
merupakan masukan yang penting untuk biaya pemakai jalan dalam analisis ekonomi.
Kecepatan tempuh didefinisikan sebagai kecepatan rata-rata dari kendaraan ringan (LV) sepanjang segmen jalan.
V =
(5)
Dimana:
V = Kecepatan rata-rata (km/jam) arus lalu lintas dihitung dari panjang segmen jalan dibagi waktu tempuh rata-rata kendaraan melalui segmen jalan.
L = Panjang segmen jalan yang diamati (termasuk persimpangan kecil).
TT = Waktu rata-rata yang digunakan kendaraan menempuh segmen jalan dengan panjang tertentu, termasuk tundaan waktu berhenti (detik/smp).
2.5 Metode Pengamatan Kecepatan
20
2.6 Satuan Mobil Penumpang (SMP)
Menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia MKJI 1997 definisi dari satuan mobil penumpang (smp) adalah satuan untuk arus lalu lintas dimana arus berbagai tipe kendaraan diubah menjadi arus kendaraan ringan (termasuk mobil penumpang) dengan menggunakan ekivalen mobil penumpang (EMP). EMP didefinisikan sebagai faktor yang menunjukkan berbagai tipe kendaraan dibandingkan kendaraan ringan sehubungan dengan pengaruh terhadap kecepatan kendaraan ringan dalam arus lalu lintas (untuk mobil penumpang dan kendaraan ringan yang sasisnya mirip, emp = 1,0). Besaran EMP untuk masing – masing jenis kendaraan pada ruas jalan perkotaan, dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Besaran Ekivalen Mobil Penumpang
Tipe jalan:
Lebar jalur lalu-lintas WC(m)
21
Tingkat pelayanan suatu jalan merupakan ukuran kualitatif yang digunakan United States Highway Capacity Manual (USHCM 1985) yang menggambarkan kondisi operasional lalu lintas dan penilaian oleh pemakai jalan. Tingkat pelayanan suatu jalan menunjukan kualitas jalan diukur dari beberapa faktor, yaitu kecepatan dan waktu tempuh, kerapatan (density), tundaan (delay), arus lalu lintas dan arus jenuh (saturation flow) serta derajat kejenuhan (degree of saturation).
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pelayanan jalan yaitu:
1. Kondisi Fisik Jalan
a. Lebar Jalan pada Persimpangan
Pada jalan satu arah lebar jalan yang menuju persimpangan diukur dari permukaan kerb sampai permukaan kerb lainnya. Sedangkan pada jalan dua arah, yang dimaksud dengan lebar jalan adalah jarak dari permukaan kerb sampai pembagi dengan lalu lintas yang berlawanan arah atau median.
b. Jalan Satu Arah dan Jalan Dua Arah
22
c. Median
Median merupakan daerah yang memisahkan arah lalu-lintas pada segmen jalan. Median yang direncanakan dengan baik meningkatkan kapasitas.
2. Kondisi Lingkungan
a. Faktor Jam Sibuk (Peak Traffic Factor,PHF)
Faktor jam sibuk menunjukkan bahwa arus lalu lintas tidak selalu konstan salama 1 jam penuh. Dalam analisa tentang kapasitas dan tingkat pelayanan sebuah ruas jalan, biasanya PHF ditetapkan berdasarkan periode 15 menit.
b. Pejalan Kaki (Pedestrian)
Perlengkapan bagi para pejalan kaki, sebagaimana pada kendaraan bermotor, sangat perlu terutama di daerah perkotaan dan untuk jalan masuk ke atau keluar dari tempat tinggal. Dalam Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 jalur pejalan kaki adalah lintasan yang diperuntukkan untuk berjalan kaki, dapat berupa trotoar, penyeberangan sebidang (penyeberangan zebra atau penyeberangan pelikan),dan penyeberangan tak sebidang.
d. Kondisi Parkir
23
e. Pedagang Kaki Lima
Pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar, depan toko dan tepi jalan sangat menggangu aktivitas lalu lintas sehingga mengurangi kapasitas suatu ruas jalan.
Sedangkan tingkat pelayanan ditentukan dalam skala interval yang terdiri dari enam tingkat, dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Karakteristik Tingkat Pelayanan
V/C RASIO
Tingkat Pelayanan
Jalan
Keterangan
< 0.60 A Arus lancar, volume rendah, kecepatan Tinggi
0.60 - 0.70 B Arus stabil, kecepatan terbatas, volume sesuai untuk jalan luar kota
0.70 - 0.80 C
Arus stabil, kecepatan dipengaruhi oleh lalu lintas, volume sesuai untuk jalan kota
0.80 - 0.90 D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan rendah
0.90 - 1.00 E Arus tidak stabil, kecepatan rendah, volume padat atau mendekati kapasitas
> 1.00 F
Arus yang terhambat, kecepatan rendah,volume diatas kapasitas, banyak berhenti.
(Tamin dan Nahdalina dalam Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 1998)
2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Untuk melengkapi penelitian dan keabsahan isi maka disertakan penelitian terdahulu sebagai berikut :
24
terjadi pada ruas Jalan Kartini pada hari Senin yaitu berjumlah 2677 kejadian dan pada hari libur yaitu hari Minggu berjumlah 1933 kejadian dengan derajat kejenuhan 0,63.
2. Berdasarkan hasil penelititan skripsi Siti Anugrah Mulya Putri Ofrial yang berjudul Analisis Pengaruh Hambatan Samping Terhadap Kinerja Lalu Lintas Di Jalan Raden Inten Bandar Lampung tahun 2013, menyatakan bahwa kapasitas jalan untuk Jalan Raden Inten mengalami penurunan yaitu jika tanpa hambatan samping adalah sebesar 6204 smp/jam, dan pada kondisi kelas hambatan samping sangat tinggi (HV) hanya sebesar 4818 smp/jam.
3. Berdasarkan jurnal Ahmad Rizani yang berjudul Evaluasi Kinerja Jalan Akibat Hambatan Samping tahun 2013 bahwa faktor hambatan samping yang terjadi masih relatif rendah. Namun untuk tingkat kinerja jalan secara keseluruhan dipengaruhi oleh arus lalu lintas yang padat khususnya pada jam puncak siang (13.00-15.00) dan jam puncak sore (17.00-19.00) dimana derajat kejenuhan yang terjadi antara 0,733-0,998.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Umum
Metodologi penelitian adalah suatu cara bagi peneliti untuk mendapatkan data yang dibutuhkan yang selanjutnya dapat digunakan untuk dianalisa sehingga memperoleh kesimpulan yang ingin dicapai dalam penelitian. Metodologi yang dipakai pada penelitian ini adalah dengan cara melakukan pengolahan data primer hasil survey lapangan serta mengumpulkan beberapa informasi yang dibutuhkan sebagai data sekunder.
3.2 Lokasi Penelitian
26
27
3.3 Pelaksanaan Penelitian
1. Waktu Penelitian
Pelaksanaan survey dilakukan selama tiga hari yaitu pada hari Senin, Kamis dan Sabtu. Dengan mempertimbangkan pengaruh tingkat hambatan samping terhadap volume lalu lintas dan kecepatan pada hari tersebut. Survey pengumpulan data lalu lintas dilakukan pada jam sibuk pagi yaitu pada pukul 06.30 – 09.30 dan sore pada pukul 16.00 - 18.00 WIB.
2. Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian ini meliputi : a. Alat tulis yang berfungsi untuk mencatat semua hasil penelitian. b. Pencatat waktu (Stop Watch) untuk mengukur periode pengamatan
kendaraan.
c. Meteran standar yang digunakan untuk mengukur panjangnya jalan yang diteliti kemudian membagi menjadi per zona.
d. Petugas pengamat, sebagai tenaga pengamat dan pencatat arus lalu
lintas.
e. Jam tangan sebagai penunjuk waktu selama pelaksanaan survey. f. Kamera digital untuk merekam pergerakan arus lalu lintas.
28
3.4 Pengambilan Data
Tahap pengumpulan data memegang peranan penting dalam keberhasilan penelitian karena tahap analisa dan pengolahan data tergantung pada tahap pengumpulan data. Data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survei di lapangan dan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait.
1. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder didapat dari :
1. Studi literatur didapat dari penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.
2. Jumlah penduduk Kota Bandar Lampung didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS).
3. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997.
2. Data Primer
Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Data volume lalu lintas.
29
titik pengamatan untuk setiap arah lalu lintas. Kemudian pencatatan kecepatan kendaraan, dilakukan untuk mengukur kecepatan dibatasi pada jarak per 500 meter, yang dilakukan sebanyak 5 kali dengan mengikuti arus kendaraan untuk masing-masing arah.
b. Data geometrik.
Pengumpulan data geometrik jalan dilakukan dengan mengukur panjang segmen jalan yang diteliti kemudian menentukan bagian per segmen dan mengukur lebar jalan serta lebar bahu jalan. Dalam pengumpulan data ini digunakan meteran sebagai alat bantu ukur. c. Hambatan samping
30
3.5 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan memperhitungkan data yang didapat dari survei yang telah dilakukan sebelumnya berdasarkan MKJI 1997 untuk Jalan Perkotaan yaitu memperhitungkan kecepatan arus bebas, kapasitas jalan, derajat kejenuhan dan tingkat pelayanan dengan data yang didapat berupa volume kendaraan dan kapasitas.
3.6 Analisa Data
Untuk penganalisaan data dan pembahasan dilakukan untuk menilai :
1. Data jumlah arus lalu lintas yang lewat pada segmen jalan yang ditinjau yaitu untuk melihat volume lalu lintas pada segmen tersebut untuk satu satuan waktu dan digunakan persamaan 1 untuk pengolahan datanya. 2. Karakteristik hambatan samping yaitu melihat seberapa dominan manusia
yang melakukan kegiatan menyeberang dan kegiatan-kegiatan lainnya di sekitar ruas jalan pasar Panjang. Kemudian untuk kendaraan parkir berupa ojek yang menunggu penumpang dan kendaraan parkir di depan kawasan pertokoan serta kendaraan berhenti untuk menurunkan penumpang di bahu jalan. Serta kendaraan keluar masuk ruas jalan. Hal ini untuk menghitung kapasitas pada jalan tersebut dengan menggunakan persamaan 3.
31
4. Penganalisisan kecepatan kendaraan tak terganggu hambatan samping dilakukan pada ruas jalan yang sama tetapi pada waktu dimana tidak ada hambatan samping di sekitar ruas jalan pengamatan. Hal ini bertujuan sebagai pembanding tingkat kecepatan kendaraan.
32
3.7 Bagan Alir (Flow Chart)
Adapun langkah-langkah pengolahan dan proses penelitian ini dapat dilihat pada Bagan Alir berikut ini :
Gambar 3. Bagan Alir Penelitian
MULAI
Pengumpulan Data
Data Sekunder Data Primer
Studi Literatur
Data Jumlah Penduduk Kota Bandar Lampung
MKJI 1997
Kinerja Lalu Lintas
Geometrik Jalan
Hambatan Samping :
Pejalan kaki dan penyeberang jalan
Kendaraan berhenti dan parkir
Kendaraan masuk dan keluar lahan samping
Kendaraan lambat
Pengolahan data
Analisa dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
SELESAI
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa kinerja ruas Jalan Pasar Panjang akibat hambatan samping yang terjadi, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Volume kendaraan tertinggi terjadi pada hari Kamis yaitu sebesar 922 smp/jam untuk arah menuju Teluk Betung, derajat kejenuhan yang didapat 0,73 dengan tingkat pelayanan C dan kecepatan rata-rata terendah 15,2 km/jam.
2. Volume kendaraan pada ruas Jalan Pasar Panjang masih cukup rendah yaitu < 2900 smp/jam untuk kapasitas dasar jalan perkotaan dua lajur tak terbagi, tetapi terjadi kemacetan dikarenakan tingginya aktivitas hambatan samping pada jalan tersebut.
58
5.2 Saran
Dari hasil analisa yang telah dilakukan, saran yang dapat diberikan penulis adalah :
1. Untuk mengurangi tingkat hambatan samping akibat kendaraan parkir dan berhenti di bahu jalan, maka perlu dilakukan pemasangan rambu larangan berhenti di sepanjang ruas jalan pasar.
2. Pertokoan yang berada di depan pasar disarankan menyiapkan lahan parkir kendaraan yang cukup agar tidak menggangu kapasitas jalan.
3. Pengadaan trotoar di sisi kanan dan kiri jalan di sepanjang ruas jalan pasar, sebagai fasilitas pedestrian.
4. Perlu adanya ketegasan Pemerintah Kota untuk memberikan larangan bagi
pedagang kaki lima agar tidak berjualan di bahu jalan sehingga bahu jalan dapat digunakan pejalan kaki untuk berjalan dan tidak menggangu badan jalan.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum.
Direktorat Jenderal Bina Marga. 1999. Pedoman Perencanaan Jalur Pejalan Kaki Pada Jalan Umum, Departemen Pekerjaan Umum.
Ofrial, Putri. 2013. Analisis Pengaruh Hambatan Samping Terhadap kinerja Lalu Lintas Di Jalan Raden Inten Bandar Lampung. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
P.Putri, C. 2007. Analisa Kinerja ruas Jalan Akibat Aktivitas Samping Jalan Pada Jalan Utama Kota Bandar Lampung. Symposium X FSTPT, Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Rizani, A. 2013. Jurnal Sains dan Terapan Politeknik Hasnur. Politeknik Negeri Banjarmasin. Banjarmasin.
Setijadji, S.T., A. 2006. Studi Kemacetan Lalu Lintas Jalan Kaligawe Kota Semarang. Tesis Magister Teknik Pembangunan Kota, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Sukirman, Silvia. 1994. Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan. Bandung: Nova.
Tamin, O.Z. 2000. Perencanaan Dan Pemodelan Transportasi. Bandung: ITB. Tamin, O.Z., dan Nahdalina. 1998. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Bandung:
ITB.