• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac."

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

MAULUDDIN

SKRIPSI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

adalah benar merupakan karya sendiri dan belum digunakan dalam bentuk apapun

kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal

atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain

telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian

akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2009

(3)

RINGKASAN

MAULUDDIN. Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Dibimbing oleh ALIMUDDIN dan MUHAMMAD ZAIRIN JUNIOR.

Ikan gurame membutuhkan waktu 2 – 3 tahun untuk mencapai matang gonad, sehingga memerlukan waktu relatif lama untuk memproduksi induk. Lamanya waktu memproduksi induk dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan benih yang siap tebar. Saat ini, teknologi yang bisa digunakan untuk mempercepat kematangan gonad ikan gurame belum ada. Baru-baru ini, teknologi rekayasa reproduksi pada ikan telah dikembangkan, yaitu pengembangan induk surrogate

(induk semang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan proporsi komposisi sel spermatogonia ikan gurame dari berbagai ukuran.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Desember 2008. Pembuatan preparat histologi dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Dokumentasi hasil histologi dilakukan di Laboratorium Histologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Disosiasi testis dan dokumentasinya dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengamatan preparat histologi yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi sel testikular dan disosiasi gonad yang berfungsi untuk menghitung komposisi sel testikular ikan gurame.

Secara keseluruhan nilai rata – rata berat gonad ikan gurame berkisar antara 0,0755 – 0,2517 g. Nilai rata – rata IKG ikan gurame berkisar antar 8,7025 x 10-3 – 9,5382 x 10-3%. Dari hasil pengamatan preparat histologis testis ikan gurame menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fase spermatogenesis dan tipe sel – sel spermatogenik yang terdapat pada setiap kelas ikan gurame uji. Ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan muda (800 – 1000 g), tipe sel – sel spermatogenik yang ada di dalam testisnya berbeda dengan ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan dewasa (1100 – 1300 g) dan ikan yang matang gonad (2250 – 3200 g). Adapun pada ikan yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang belum berkembang gonadnya (400 – 600 g) belum terlihat atau terdapat adanya gonad. Jumlah spermatogonia terbanyak terdapat pada ikan muda (348.000 sel), yang kemudian jumlahnya semakin menurun baik pada ikan dewasa (192.000 sel) maupun ikan yang matang gonad (116.000 sel). Proporsi spermatogonia tertinggi terdapat pada ikan muda, yaitu sebesar 80,56% dan yang terendah terdapat pada ikan yang matang gonad, yaitu sebesar 6,30%. Adapun sel testikular yang mempunyai diameter terpanjang secara berturut – turut adalah spermatogonia, spermatosit, dan spermatid.

(4)

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

MAULUDDIN

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(5)

Judul : STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

Nama : Mauluddin Nomor Pokok : C14104050

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Alimuddin Prof. Dr. M. Zairin Junior

NIP. 132 133 953 NIP. 131 578 846

Mengetahui,

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc NIP. 131 578 799

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala

rahmat, nikmat, dan karunia-Nya yang tidak dapat dibalas dengan apapun

sehingga skripsi yang berjudul “Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel

Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.” ini dapat diselesaikan oleh penulis.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

setulus-tulusnya kepada :

1. Dr. Alimuddin selaku Pembimbing I dan Prof. Dr. Muhammad Zairin

Junior selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan

dan masukan selama melakukan penelitian sampai dengan penyusunan

skripsi ini.

2. Sri Nuryati, M.Si selaku Dosen Penguji Tamu yang telah memberikan

banyak masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Harton Arfah, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan

bimbingan dan arahan selama studi.

4. Mama, Mama, Mama, dan Ayah serta seluruh keluarga besar atas kasih

sayang, doa, dan dukungan baik moril dan materi.

5. Pak Ranta, Pak Marjanta, Mba Yuli, Kang Asep, Kak Rahmat, Mba Anna,

Mba Lina, Kak Lina, Ibu Irma, Pak Aam, Pak Ade Sunarma BBPBAT

Sukabumi, dan Pak Adhi Winarno FKH IPB atas bantuan yang diberikan.

6. Lazuardi Yudha Anggoro, Deby Yuniasari, Radi Ihlas Albani, Arief Eko

Prasetiyo, Dwi Hany Yanti, dan Sendok yang telah “hadir dan men –

close” atas kebersamaan, kerjasama, dan dukungannya.

7. Teman – teman BDP 41, kakak dan adik kelas BDP, dan pihak – pihak

yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan.

Penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat kepada semua pihak

yang memerlukan.

Bogor, Maret 2009

(7)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta, 24 November 1986 oleh mama dan ayah

yang sangat dicintai. Pendidikan formal yang dilalui adalah SMAN 38 Jakarta.

Pada tahun 2004, penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan

tinggi ke Intitut Pertanian Bogor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada

Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur melalui Jalur USMI

(Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah aktif dalam organisasi

Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) sebagai staf Departemen

Kewirausahawan periode 2005/2006 dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

periode 2006/2007. Selain itu, Penulis juga aktif menjadi Asisten Mata Kuliah

Dasar-dasar Genetika Ikan dan Industri Perbenihan Ikan periode 2007/2008.

Untuk memperdalam wawasan di bidang budidaya perairan, penulis pernah

menjalani praktek kerja lapang di Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara

Barat.

(8)

DAFTAR ISI

3.2.1 Pengumpulan dan Penanganan Ikan Gurame ... 13

3.2.2 Penentuan IKG ... 13

4.1.2 Karakteristik Morfologi Sel Testikular ... 19

4.1.3 Komposisi dan Pengukuran Diameter Sel Testikular ... 21

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Jumlah sel testikular per ekor ikan gurame dari berbagai kelas... 21

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Ikan gurame Osphronemusgouramy Lac. ... 4 2. Ilustrasi berbagai jenis testis. A: testis tubular mamalia, B: testis tubular

anastomosing, C: testis lobular, T: Tubuli, I: Lumen, RT: Rete Testis,

AT: Anastomosing Tubular, MD: Main Longitudinal Testis Duct, dan

L: Lobuli. (Grier, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995) ... 7 3. Ilustrasi dua jenis testis lobular pada ikan teleostei. A: lobuli berlekuk

dan B: lobuli padat (Nagahama, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995) ... 8

4. Skema spermatogenesis ... 9

5. Gambaran histologis tetes ikan carp. 1: sel stem, 2: spermatogonia primer, 3: spermatogonia sekunder, 4: spermatosit primer,

5: spermatosit sekunder, 6: spermatid, dan 7: sel Sertoli

(Takashima dan Hibiya, 1995) ... 11

6. Gambaran histologis testis ikan white perch. : spermatogonia,

a: spermatosit, b: spermatid, dan c: spermatozoa (Blazer, 2002) ... 12

7. Grafik hubungan antara berat ikan dengan berat gonad... 18

8. Grafik hubungan antara berat ikan dengan IKG ... 19

9. Gambaran histologis testis ikan gurame dari berbagai kelas.

A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad,

a: spermatogonia, b: spermatosit, c: spermatid, dan d: spermatozoa ... 20

10. Komposisi sel testikular ikan gurame dari berbagai kelas.

A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad,

1: spermatogonia, 2: spermatosit, dan 3: spermatid ... 22

(11)

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

MAULUDDIN

SKRIPSI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(12)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

adalah benar merupakan karya sendiri dan belum digunakan dalam bentuk apapun

kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal

atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain

telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian

akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2009

(13)

RINGKASAN

MAULUDDIN. Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Dibimbing oleh ALIMUDDIN dan MUHAMMAD ZAIRIN JUNIOR.

Ikan gurame membutuhkan waktu 2 – 3 tahun untuk mencapai matang gonad, sehingga memerlukan waktu relatif lama untuk memproduksi induk. Lamanya waktu memproduksi induk dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan benih yang siap tebar. Saat ini, teknologi yang bisa digunakan untuk mempercepat kematangan gonad ikan gurame belum ada. Baru-baru ini, teknologi rekayasa reproduksi pada ikan telah dikembangkan, yaitu pengembangan induk surrogate

(induk semang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan proporsi komposisi sel spermatogonia ikan gurame dari berbagai ukuran.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Desember 2008. Pembuatan preparat histologi dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Dokumentasi hasil histologi dilakukan di Laboratorium Histologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Disosiasi testis dan dokumentasinya dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengamatan preparat histologi yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi sel testikular dan disosiasi gonad yang berfungsi untuk menghitung komposisi sel testikular ikan gurame.

Secara keseluruhan nilai rata – rata berat gonad ikan gurame berkisar antara 0,0755 – 0,2517 g. Nilai rata – rata IKG ikan gurame berkisar antar 8,7025 x 10-3 – 9,5382 x 10-3%. Dari hasil pengamatan preparat histologis testis ikan gurame menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fase spermatogenesis dan tipe sel – sel spermatogenik yang terdapat pada setiap kelas ikan gurame uji. Ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan muda (800 – 1000 g), tipe sel – sel spermatogenik yang ada di dalam testisnya berbeda dengan ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan dewasa (1100 – 1300 g) dan ikan yang matang gonad (2250 – 3200 g). Adapun pada ikan yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang belum berkembang gonadnya (400 – 600 g) belum terlihat atau terdapat adanya gonad. Jumlah spermatogonia terbanyak terdapat pada ikan muda (348.000 sel), yang kemudian jumlahnya semakin menurun baik pada ikan dewasa (192.000 sel) maupun ikan yang matang gonad (116.000 sel). Proporsi spermatogonia tertinggi terdapat pada ikan muda, yaitu sebesar 80,56% dan yang terendah terdapat pada ikan yang matang gonad, yaitu sebesar 6,30%. Adapun sel testikular yang mempunyai diameter terpanjang secara berturut – turut adalah spermatogonia, spermatosit, dan spermatid.

(14)

STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

MAULUDDIN

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(15)

Judul : STUDI MENGENAI MORFOLOGI DAN KOMPOSISI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac.

Nama : Mauluddin Nomor Pokok : C14104050

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Alimuddin Prof. Dr. M. Zairin Junior

NIP. 132 133 953 NIP. 131 578 846

Mengetahui,

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc NIP. 131 578 799

(16)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala

rahmat, nikmat, dan karunia-Nya yang tidak dapat dibalas dengan apapun

sehingga skripsi yang berjudul “Studi mengenai Morfologi dan Komposisi Sel

Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.” ini dapat diselesaikan oleh penulis.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

setulus-tulusnya kepada :

1. Dr. Alimuddin selaku Pembimbing I dan Prof. Dr. Muhammad Zairin

Junior selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan

dan masukan selama melakukan penelitian sampai dengan penyusunan

skripsi ini.

2. Sri Nuryati, M.Si selaku Dosen Penguji Tamu yang telah memberikan

banyak masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Harton Arfah, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan

bimbingan dan arahan selama studi.

4. Mama, Mama, Mama, dan Ayah serta seluruh keluarga besar atas kasih

sayang, doa, dan dukungan baik moril dan materi.

5. Pak Ranta, Pak Marjanta, Mba Yuli, Kang Asep, Kak Rahmat, Mba Anna,

Mba Lina, Kak Lina, Ibu Irma, Pak Aam, Pak Ade Sunarma BBPBAT

Sukabumi, dan Pak Adhi Winarno FKH IPB atas bantuan yang diberikan.

6. Lazuardi Yudha Anggoro, Deby Yuniasari, Radi Ihlas Albani, Arief Eko

Prasetiyo, Dwi Hany Yanti, dan Sendok yang telah “hadir dan men –

close” atas kebersamaan, kerjasama, dan dukungannya.

7. Teman – teman BDP 41, kakak dan adik kelas BDP, dan pihak – pihak

yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan.

Penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat kepada semua pihak

yang memerlukan.

Bogor, Maret 2009

(17)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta, 24 November 1986 oleh mama dan ayah

yang sangat dicintai. Pendidikan formal yang dilalui adalah SMAN 38 Jakarta.

Pada tahun 2004, penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan

tinggi ke Intitut Pertanian Bogor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada

Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur melalui Jalur USMI

(Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah aktif dalam organisasi

Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) sebagai staf Departemen

Kewirausahawan periode 2005/2006 dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

periode 2006/2007. Selain itu, Penulis juga aktif menjadi Asisten Mata Kuliah

Dasar-dasar Genetika Ikan dan Industri Perbenihan Ikan periode 2007/2008.

Untuk memperdalam wawasan di bidang budidaya perairan, penulis pernah

menjalani praktek kerja lapang di Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara

Barat.

(18)

DAFTAR ISI

3.2.1 Pengumpulan dan Penanganan Ikan Gurame ... 13

3.2.2 Penentuan IKG ... 13

4.1.2 Karakteristik Morfologi Sel Testikular ... 19

4.1.3 Komposisi dan Pengukuran Diameter Sel Testikular ... 21

(19)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Jumlah sel testikular per ekor ikan gurame dari berbagai kelas... 21

(20)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Ikan gurame Osphronemusgouramy Lac. ... 4 2. Ilustrasi berbagai jenis testis. A: testis tubular mamalia, B: testis tubular

anastomosing, C: testis lobular, T: Tubuli, I: Lumen, RT: Rete Testis,

AT: Anastomosing Tubular, MD: Main Longitudinal Testis Duct, dan

L: Lobuli. (Grier, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995) ... 7 3. Ilustrasi dua jenis testis lobular pada ikan teleostei. A: lobuli berlekuk

dan B: lobuli padat (Nagahama, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995) ... 8

4. Skema spermatogenesis ... 9

5. Gambaran histologis tetes ikan carp. 1: sel stem, 2: spermatogonia primer, 3: spermatogonia sekunder, 4: spermatosit primer,

5: spermatosit sekunder, 6: spermatid, dan 7: sel Sertoli

(Takashima dan Hibiya, 1995) ... 11

6. Gambaran histologis testis ikan white perch. : spermatogonia,

a: spermatosit, b: spermatid, dan c: spermatozoa (Blazer, 2002) ... 12

7. Grafik hubungan antara berat ikan dengan berat gonad... 18

8. Grafik hubungan antara berat ikan dengan IKG ... 19

9. Gambaran histologis testis ikan gurame dari berbagai kelas.

A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad,

a: spermatogonia, b: spermatosit, c: spermatid, dan d: spermatozoa ... 20

10. Komposisi sel testikular ikan gurame dari berbagai kelas.

A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad,

1: spermatogonia, 2: spermatosit, dan 3: spermatid ... 22

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Data ikan gurame uji ... 32

2. Klasifikasi sel testikular berdasarkan ukuran dan karakteristik utamanya. . 33

(22)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac.) merupakan ikan asli Indonesia. Ikan gurame memiliki beberapa kelebihan, diantaranya banyak digemari oleh

masyarakat karena rasa dagingnya yang gurih dan lezat (Sendjaja dan Riski, 2002)

serta harga jual (Rp 20.000,- – Rp 28.000,- per kg) dan permintaan pasar yang

relatif tinggi (Tim Agromedia Pustaka, 2007). Sebaliknya, ikan gurame juga

mempunyai kekurangan, antara lain pertumbuhannya tidak secepat ikan tawar

konsumsi lainnya, seperti ikan mas dan ikan lele. Ikan gurame membutuhkan

waktu 2 – 3 tahun untuk mencapai matang gonad (Tim Agromedia Pustaka,

2007), sehingga memerlukan waktu relatif lama untuk memproduksi induk.

Lamanya waktu memproduksi induk dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan

benih yang siap tebar (Sendjaja dan Riski, 2002). Saat ini, teknologi yang bisa

digunakan untuk mempercepat kematangan gonad ikan gurame belum ada.

Baru-baru ini, teknologi rekayasa reproduksi pada ikan telah

dikembangkan oleh Okutsu et al. (2008). Teknologi tersebut adalah pengembangan induk surrogate (induk semang). Prinsip dari pengembangan induk surrogate adalah transplantasi sel stem dari ikan donor ke ikan resipien tertentu yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan ikan donor. Kekurangan

pada ikan donor, antara lain seperti ketersediaan induk ikan yang ada hanya salah

satu jenis kelamin saja, kematangan gonad induk ikan jantan dan betina tidak

sinkron, ukuran induk saat mencapai matang gonad relatif besar yang

menyebabkan ikan sulit ditangani, waktu yang diperlukan untuk mencapai matang

gonad lama, dan sebagainya. Sel stem bakal gonad ikan donor akan berkembang

normal dalam gonad ikan resipien menjadi sperma atau telur dan fungsional

(dapat membuahi atau dibuahi) sehingga ikan resipien dapat menghasilkan benih

ikan donor (Okutsu et al., 2006).

(23)

memiliki banyak aplikasi dalam bidang biologi, peternakan dan perikanan,

diantaranya adalah untuk menjajaki proses-proses perkembangan dan diferensiasi

sel germinal (gametogenesis), terapi regeneratif penyakit organ reproduksi,

memproduksi hewan transgenik melalui modifikasi sel germinal secara genetik,

pemeliharaan sumber daya genetik yang terancam punah, dan menciptakan sistem

pembenihan dimana spesies target dapat diproduksi dari induk yang lain atau dikenal dengan istilah “surrogate broodstock” (Brinster dan Zimmermann, 1994; Okutsu et al., 2006). Metode xenotransplantasi tersebut mungkin dapat digunakan untuk mengatasi lambatnya ikan gurame matang gonad dan kurangnya

ketersediaan benih ikan gurame yang siap tebar.

Salah satu langkah awal dari pengembangan teknologi xenotransplantasi

adalah studi mengenai morfologi dan komposisi sel testikular ikan donor.

Morfologi dan komposisi sel-sel testikular diduga berhubungan dengan ukuran

ikan dan Indeks Kematangan Gonad (IKG) atau Gonado Somatic Index (GSI). Oleh karena itu, diperlukan berbagai ukuran ikan gurame untuk dapat mengetahui

morfologi dan komposisi sel-sel testikular pada setiap ukuran.

Sel germinal dalam testis ikan jantan terdiri atas spermatogonia,

spermatosit, spermatid, dan spermatozoa. Spermatogonia (tipe A) merupakan sel

stem (sel punca atau sel induk). Menurut Okutsu et al. (2005) sel stem spermatogonia dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu sel stem spermatogonia

yang belum terdiferensiasi dan yang terdiferensiasi. Sel spermatogonia yang telah

terdiferensiasi akan mengalami proliferasi (pembelahan) mitosis dan meiosis

sampai menjadi spermatozoa. Adapun sel yang belum terdiferensiasi, memiliki

kemampuan memperbaharui diri (self-renewal) sepanjang hidup organisme dan juga dapat terus berkembang menjadi spermatozoa seperti halnya sel

spermatogonia terdiferensiasi. Sel stem ini dapat menurunkan informasi genetik

ke generasi berikutnya melalui pematangan gonad dan fertilisasi. Selanjutnya sel

stem spermatogonia dapat berkembang menjadi sperma dan telur (Okutsu et al., 2008). Dengan demikian, jika sel stem spermatogonia ikan gurame yang belum

terdiferensiasi ditransplantasikan ke ikan resipien dan selanjutnya sel stem

spermatogonia dapat berkembang menjadi sperma dan telur dalam gonad ikan

resipien, sehingga benih ikan gurame dapat dihasilkan dari ikan resipien tersebut.

(24)

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan dan menganalisis morfologi

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.

Klasifikasi dan sistematika ikan gurame Osphronemus gouramy Lac. menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Labirinthici

Subordo : Anabantoidei

Famili : Anabantidae

Genus : Osphronemus

Spesies : Osphronemus gouramy Lac.

Secara morfologi, ikan gurame memiliki bentuk badan oval agak panjang,

pipih, dan punggung tinggi. Badan berwarna kecoklatan dengan bintik hitam pada

sirip dada. Pada jari pertama sirip perut terdapat alat peraba berupa benang

panjang dan memiliki alat pernapasan tambahan (labirin) yang berfungsi

menghirup oksigen langsung dari udara. Ikan gurame berkembang biak sepanjang

tahun dan tidak tergantung pada musim. Kematangan kelamin biasanya dicapai

saat ikan gurame berumur 2 – 3 tahun (Tim Agro Media Pustaka, 2007).

Di berbagai daerah, ikan gurame dikenal dengan berbagai sebutan,

diantaranya gurameh (Jawa), gurame (Sunda dan Betawi), kalau, kala, alui

(Sumatera). Dalam bahasa Inggris, ikan gurame disebut giant gouramy (Tim Agro Media Pustaka, 2007).

(26)

2.2 Perkembangan Gonad

Pada proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil

metabolisme digunakan untuk perkembangan gonad. Gonad akan semakin

bertambah berat diimbangi dengan bertambah besar ukurannya (Effendie, 1992).

Perkembangan gonad pada ikan dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap

pertumbuhan gonad hingga mencapai tingkat dewasa kelamin dan tahap

pematangan produksi seksual. Tahap pertumbuhan berlangsung sejak ikan

menetas hingga mencapai dewasa kelamin, sedangkan tahap pematangan

berlangsung setelah ikan dewasa. Tahap pematangan akan terus berlangsung dan

berkesinambungan selama fungsi reproduksi ikan berjalan normal (Lagler et al., 1977).

Pengetahuan tentang Tingkat Kematangan Gonad (TKG) sangat penting

dan menunjang keberhasilan dalam membenihkan ikan karena berkaitan erat

dengan pemilihan calon – calon induk ikan yang akan dipijahkan. Untuk

mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan

dengan suatu indeks yang dinamakan Indeks Kematangan Gonad (IKG) atau

Gonado Somatic Index (GSI). Nilai IKG akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadi pemijahan dan akan turun kembali setelah memijah

(Effendie, 1992).

Menurut Yani (1994) selama proses perkembangan berlangsung akan

terjadi perubahan gonad secara sitologi, histologi, dan morfologi. Perubahan

tersebut juga akan menyebabkan terjadinya perubahan bobot dan volume gonad

yang dapat dijadikan sebagai indikator dalam menentukan sejauh mana

perkembangan yang telah dialami oleh gonad dalam proses oogenesis pada ikan

betina dan spermatogenesis pada ikan jantan.

Nilai rata – rata IKG ikan betina selalu lebih besar daripada ikan jantan

pada TKG yang sama. Hal ini terjadi karena pertambahan bobot ovarium selalu

lebih besar daripada pertambahan bobot testis. Peningkatan bobot ovarium

berhubungan dengan proses vitelogenesis dalam perkembangan gonad, sedangkan

peningkatan bobot testis berhubungan dengan proses spermatogenesis dan

(27)

spermatogenesis berjalan secara hormonal di dalam tubuh ikan (Maty, 1985

dalam Frandson, 1992 dalam Shelton, 1989 dalam Cerda et al., 1996)

TKG merupakan pengelompokkan kematangan gonad ikan berdasarkan

perubahan – perubahan yang terjadi pada perkembangan gonad. Pengamatan

perkembangan gonad dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengelompokkan

berdasarkan morfologi dan histologi. Dari pengamatan secara histologi akan dapat

diketahui lebih jelas dan mendetail, sedangkan pengamatan secara morfologi tidak

akan sedetail dengan cara histologi. Akan tetapi, cara morfologi banyak dilakukan

karena dapat dilakukan di lapangan (Yani, 1994).

2.3 Testis

Testis merupakan sepasang organ memanjang yang terletak pada dinding

dorsal (Tang dan Affandi, 2002). Sebagai organ kelamin primer, testis

mempunyai fungsi menghasilkan spermatozoa dan mensekresi hormon

testosteron.

Pada masa lampau, testis ikan teleostei diklasifikasikan ke dalam jenis –

jenis spermatogonia yang terbatas dan tidak terbatas (berdasarkan lokasi tempat

dari spermatogonia; Grier, 1981 dalam Takashima dan Hibiya, 1995) atau jenis – jenis lobular (lobuli – lobuli) atau tubular (tabung) (berdasarkan ada atau tidaknya

keberadaan lumen; Billard, 1986 dalam Takashima dan Hibiya (1995). Di dalam klasifikasi, secara berurutan, jenis – jenis spermatogonia yang terbatas dan tidak

terbatas dapat disamakan dengan jenis – jenis lobular atau tubular.

Dengan menggunakan pendekatan filogenetik, Callard (1991) dalam

Takashima dan Hibiya (1995) mengelompokkan semua testis vertebrata ke dalam

tubular (mamalia, burung, reptil) atau lobular (amfibi, ikan teleostei). Menurut

Callard (1991) dalam Takashima dan Hibiya (1995) sebuah tubuli berbentuk seperti sebuah ruangan terpisah yang terbuka, sedangkan sebuah lobuli berbentuk

seperti sebuah kantung yang tertutup. Dengan demikian, testis jenis lobular

umumnya ditemukan pada ikan teleostei, meskipun terdapat perbedaan di dalam

pola distribusi spermatogonia atau ada atau tidaknya keberadaan lumen di dalam

(28)

tetapi, Grier (1993) dalam Takashima dan Hibiya (1995) membuat sebuah jenis baru dari testis tubular yang ditemukan pada ikan teleostei, yaitu “anastomosing

tubular testis” (testes tubular anastomosing). Jenis testis tersebut secara

filogenetik khususnya ditemukan di bawah ikan teleostei (contoh: Lepidosteus platyrhinchus, Ictalurus natalis, Ophisthonema oglinum, Dorosoma potense, Esox niger, dan lain – lain) dan dicirikan dengan sebuah jaringan yang bercabang dari tubular, seperti testis tubular pada mamalia, berputar - putar di batas luar gonad

(Grier, 1993 dalam Takashima dan Hibiya, 1995).

Gambar 2. Ilustrasi berbagai jenis testis. A: testis tubular mamalia, B: testis tubular anastomosing, C: testis lobular, T: Tubuli, I: Lumen, RT: Rete Testis, AT: Anastomosing Tubular, MD: Main Longitudinal Testis Duct, dan L: Lobuli. (Grier, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995).

Lobuli – lobuli pada testis ikan teleostei dibatasi oleh sebuah ruangan

membran dan sebuah lapisan pembatas sel (myoid). Pada lobuli terdapat tubuli

(29)

sebuah tubuli seminiferi dihubungkan secara sitoplasmik dengan jembatan –

jembatan interselular, dan diferensiasi sel – sel tersebut hampir sinkroni.

Pada spesies dengan lobuli – lobuli berlekuk (hampir terdapat pada ikan

teleostei), baik spermatogonia maupun tubuli seminiferi pada berbagai tahap

berkembangan dapat dilihat diseluruh panjang dari lobuli dan spermatozoa yang

matang dikeluarkan pada saat spermiasi ke dalam lumen lobular. Adapun testis

dengan lobuli – lobuli yang padat, tubuli seminiferi disusun berdasarkan tahap –

tahap perkembangan, bermula dari lobuli yang tertutup, yang mengandung

spermatogonia, dan berakhir di saluran efferent, yang spermatozoa dikeluarkan dari tubuli seminiferi. Pada kebanyakan spesies, steroidogenic cell (sel interstisial atau sel Leydig) dapat diamati diantara celah – celah lobuli – lobuli (Billard, 1986

dalam Takashima dan Hibiya, 1995). Adapun pada spesies lainnya, lobuli – lobuli dan sel - sel Leydig ditemukan di daerah yang terpisah dari testis.

Gambar 3. Ilustrasi dua jenis testis lobular pada ikan teleostei. A: lobuli berlekuk dan B: lobuli padat (Nagahama, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995).

(30)

2.4 Spermatogenesis

Menurut Prasetyaningtyas (2006) spermatogenesis adalah proses

perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Adapun Nobrega et al. (2008) menyatakan spermatogenesis adalah proses biologi yang kompleks dari

transformasi selular yang menghasilkan sel germinal jantan yang haploid yang

berasal dari sel stem spermatogonia yang diploid. Spermatogenesis terjadi di

tubuli seminiferi dan baru dimulai setelah mencapai pubertas sampai mengalami

kematian (Wikipedia, 2009). Produksi spermatozoa akan bertambah bersamaan

dengan meningkatnya umur, akan tetapi produksi spermatozoa kemudian akan

mengalami penurunan sesuai dengan meningkatnya umur.

Tiga fase spermatogenesis menurut Dellmann dan Brown (1992) adalah

sebagai berikut :

1. Spermatositogenesis; terjadi pembelahan secara mitosis dan spermatogonia

bertambah banyak menjadi spermatosit primer. Pada fase ini spermatogonia

mempunyai kemampuan untuk memperbaharui diri sehingga menjadi dasar

dalam spermatogonial stem cell (Ogawa et al., 1997).

2. Miogenesis; tahap perubahan dari spermatosit yang haploid menjadi

spermatid yang diploid.

3. Spermiogenesis; proses transformasi spermatid yang bulat menjadi bentuk

spermatozoa yang matang.

Gambar 4. Skema spermatogenesis.

(31)

2.5 Histologi Testis

Tubuli seminiferi adalah bagian yang dominan dalam testis yang berupa

buluh bulat dan berliku – liku. Pada tubuli terdapat sel – sel spermatogenik dan sel

Sertoli. Sel – sel spermatogenik terdiri dari spermatogonia, spermatosit,

spermatid, dan spermatozoa. Berbagai sel spermatogenik menunjukkan perbedaan

tahapan dalam perkembangan dan diferensiasi spermatozoa.

Sel – sel spermatogenik dibedakan menurut bentuk dan lokasinya di dalam

tubuli seminiferi. Spermatogonia berbentuk bulat dan terlihat paling besar diantara

sel spermatogenik lainnya dengan warna lebih gelap. Spermatosit letaknya lebih

ke sentral dari spermatogonia dan bentuknya bulat. Spermatid letaknya lebih ke

sentral dari spermatosit, bentuknya bulat kecil dengan inti bulat di tengah. Adapun

spermatozoa letaknya di sentral tubuli, bentuknya jelas karena mempunyai kepala

dan ekor.

Sel lain yang berada dalam tubuli seminiferi adalah sel Sertoli. Sel Sertoli

berbentuk bulat atau segitiga dan letaknya di membran basal tubuli seminiferi

diantara spermatogonia. Ciri dari sel Sertoli adalah mempunyai penjuluran ke arah

lumen tubuli seminiferi. Jumlah sel Sertoli bervariasi antara 5 – 10 sel dalam

setiap tubuli seminiferi. Fungsi sel ini adalah sebagai sel pendukung yang

memberi nutrisi, proteksi, dan menunjang sel – sel spermatogenik. Dalam

kerjanya sel ini dipengaruhi oleh Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang mempermudah proses spermatogenesis.

Sel Leydig terletak di daerah segitiga antara tubuli seminiferi dengan

pembuluh darah. Sel Leydig mempunyai bentuk yang tidak beraturan, sel – selnya

polihedral dengan inti bulat. Aktivitas sel Leydig dipengaruhi oleh hormon

Luteinizing Hormone (LH) dan FSH kemudian hormon tersebut berdifusi ke dalam tubuli seminiferi untuk mempermudah proses spermatogenesis dengan

merangsang diferensiasi sel – sel pembentuk spermatozoa (Novelina, 1996).

Melalui pendekatan histologi, di dalam testis terdiri dari jaringan –

jaringan berikut:

1. Tubuli Seminiferi.

Epitel tubuli seminiferi terdiri dari dua macam sel yang berbeda.

(32)

i.) Sel Germinatif; adalah sel yang akan mengalami perubahan selama

proses spermatogenesis, sebelum siap untuk mengadakan fertilisasi.

ii.) Sel Sertoli; adalah sel yang mempunyai bentuk panjang dan kadang –

kadang seperti piramid. Sel ini terletak dekat atau diantara sel

germinatif dan berfungsi memberi makan spermatozoa yang masih

muda dan memfagosit sel – sel spermatozoa yang telah mati atau

mengalami degenerasi.

2. Sel Stroma atau tenunan pengikat di luar tubuli seminiferi. Pada jaringan

ini terdapat pembuluh darah, limfe, sel saraf, dan sel makrofag.

3. Sel Interstitial dan Sel Leydig. Sel Leydig menghasilkan hormon

testosteron, namun dihasilkan juga oleh spermatozoa dan kelenjar adrenal.

Pada testis muda biasanya terlihat hanya ada sel spermatogonia dan sel

sertoli pada tubulinya. Tubuli biasanya belum berlumen dan terdapat jaringan ikat

yang tebal di sekitar tubuli. Adapun pada testis dewasa, terlihat tubuli yang belum

berlumen dan terdapat aktivitas spermatogenesis, yaitu adanya sel spermatogenik.

Sel spermatogenik yang terlihat adalah spermatogonia, spermatosit primer,

spermatid, dan bahkan spermatozoa (Prasetyaningtyas, 2001).

Gambar 5. Gambaran histologis tetes ikan carp. 1: sel stem, 2: spermatogonia primer, 3: spermatogonia sekunder, 4: spermatosit primer, 5: spermatosit sekunder, 6: spermatid, dan 7: sel Sertoli (Takashima dan Hibiya, 1995).

(33)

Gambar 6. Gambaran histologis testis ikan white perch. : spermatogonia, a: spermatosit, b: spermatid, dan c: spermatozoa (Blazer, 2002).

(34)

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Desember 2008. Pembuatan

preparat histologi dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen

Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian

Bogor (IPB). Dokumentasi hasil histologi dilakukan di Laboratorium Histologi,

Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan,

IPB. Disosiasi testis dan dokumentasinya dilaksanakan di Balai Besar

Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

3.2Prosedur Kerja

Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengamatan preparat

histologi yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi sel testikular

dan disosiasi gonad yang berfungsi untuk menghitung komposisi sel testikular

ikan gurame.

3.2.1 Pengumpulan dan Penanganan Ikan Gurame

Ikan gurame uji untuk sementara waktu dipelihara di akuarium atau bak

tandon. Kemudian sebanyak 18 ekor ikan gurame dikelompokkan berdasarkan

tingkat perkembangan gonadnya, yaitu ikan yang belum berkembang gonadnya,

ikan muda, ikan dewasa, dan ikan yang matang gonadnya. Jumlah ikan gurame

yang belum berkembang gonadnya sebanyak lima ekor. Kemudian secara

berturut-turut jumlah ikan muda, ikan dewasa, dan ikan yang matang gonadnya

adalah 3, 3, dan 7 ekor. Berat tubuh ikan gurame yang digunakan berkisar antara

400 – 3200 g. Berat tubuh tersebut ditentukan dengan menggunakan timbangan

manual dengan tingkat ketelitian 0,1 g. Ikan gurame diperoleh dari petani ikan di

Petir dan Empang (Bogor), pasar swalayan di Bogor, dan BBPBAT Sukabumi.

3.2.2 Penentuan IKG

IKG (%) diketahui dengan cara membandingkan antara berat gonad ikan

(35)

Berat gonad ikan uji ditentukan dengan menggunakan timbangan digital dengan

tingkat ketelitian 0,0001 g.

3.2.3 Pembuatan Preparat Histologi Testis

Setelah testis diambil dan ditimbang beratnya, testis dipotong menjadi dua

bagian. Satu bagian digunakan untuk pembuatan preparat histologi testis dan

bagian lainnya untuk disosiasi testis. Sebelum diproses secara histologis, testis

dibersihkan pada larutan Phosphate Buffer Saline(PBS).

Testis difiksasi ke dalam larutan Bouin selama 48 jam. Kemudian

dilakukan dehidrasi dengan cara memasukkan testis ke dalam alkohol 70% selama

24 jam. Setelah itu, testis dipindahkan ke dalam alkohol 80%, 90%, dan 95% yang

masing – masing dilakukan selama 24 jam, sedangkan pada alkohol 100%

(absolut I, II, III), lama pemaparan masing – masing selama satu jam. Selanjutnya

dilakukan penjernihan dengan cara memindahkan testis dari alkohol absolut III ke

larutan penjernih (xylol). Pemaparan dilakukan dalam xylol I (30 menit), xylol II

(30 menit), dan xylol III (1 jam). Tahap berikutnya yang dilakukan adalah

infiltrasi dan embedding. Infiltrasi dilakukan dalam parafin cair yang ditempatkan dalam inkubator bersuhu 60 – 70oC dan dilakukan secara bertahap (tiga tahap),

dengan lama pemaparan masing – masing selama satu jam. Embedding dilakukan dengan memasukkan potongan jaringan ke dalam cetakan embedding yang sebelumnya telah diisi parafin cair hingga cembung di atas plate panas pada

embedding tissue consule. Cetakan embedding selanjutnya dipindahkan ke plate

dingin dan setelah parafin setengah membeku, label jaringan ditempelkan dan

diapungkan di atas air dingin. Setelah parafin beku sempurna, hasil embedding

dapat dilepas dari cetakannya dan diiris – iris berbentuk segi empat, lalu

ditempelkan pada blok kayu. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah pemotongan

blok parafin, yaitu diawali dengan memasang blok jaringan pada mikrotom,

selanjutnya dilakukan pemotongan dengan ukuran 4 µm. Proses pemotongan

dilakukan berkali – kali hingga diperoleh potongan yang sempurna. Hasil

potongan diambil dengan cara melekatkan pada kertas basah dan ditempatkan di

atas permukaan air dingin selama beberapa saat, pindahkan ke atas permukaan air

(36)

deparafinisasi dan rehidrasi. Sediaan dimasukkan dalam xylol sebanayak tiga kali

untuk melarutkan parafin. Rehidrasi dilakukan bertahap dengan cara memasukkan

sediaan ke dalam larutan alkohol bertingkat dari alkohol absolut tiga kali, 95%,

90%, 80%, dan 70% dengan lama waktu pada masing – masing tahap 2 – 5 menit.

Tahap selanjutnya adalah pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Sediaan di

rendam di dalam hematoksilin selama lima menit kemudian direndam dalam air

mengalir selama 10 menit. Selanjutnya dilakukan pewarnaan eosin selama 5

menit. Kemudian dilakukan dehidrasi di mulai dengan alkohol 70%, 80%, 90%,

95% dan alkohol absolut I, II, dan III. Untuk penjernihan dilakukan dengan xylol

I, II, dan III. Kemudian dilanjutkan dengan mounting. Mounting adalah proses penutupan sediaan dengan menggunakan cover glass dengan bantuan perekat. Proses mounting diawali dengan meneteskan (1 – 2 tetes entelan) perekat di sisi

sediaan, selanjutnya cover glass diletakkan secara hati – hati agar perekat dapat menyebar secara merata dan dapat menutupi seluruh permukaan sediaan dan

diupayakan agar tidak terbentuk gelembung udara. Tahap terakhir yang dilakukan

adalah dokumentasi dengan menggunakan mikroskop cahaya yang dilengkapi

kamera (Nikon E600, Japan) dengan lensa objektif 40x. Dokumen gambar diambil

dari beberapa lapang pandang.

3.2.4 Disosiasi Testis

Sebelum dilakukan proses disosiasi, bagian permukaan luar testis

dibersihkan menggunakan larutan PBS. Tahap pertama yang dilakukan adalah

testis dipotong kecil – kecil sepanjang 0,5 cm di cawan petri. Kemudian potongan

testis dicacah sampai sedemikian kecil selama 3 – 5 menit. Setelah itu, larutan

tripsin 0,5% (tripsin dilarutkan di dalam PBS) dimasukkan ke dalam cawan petri

yang berisi potongan testis sebanyak 2 ml. Tahap berikutnya adalah testis tersebut

dicacah kembali dan dipipetteteskan dengan menggunakan mikropipet selama 3 –

5 menit sampai terlihat buih. Selanjutnya, diambil larutan hasil cacahan testis

sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam mikrotube. Dari mikrotube diambil

kembali larutan hasil cacahan testis sebanyak 2 µl dan diteteskan ke dalam gelas

objek cekung. Hal selanjutnya adalah dilakukan pengamatan di bawah mikroskop

(37)

komputer yang telah ter – install software DP20. Selang lima menit kemudian, diambil kembali hasil cacahan testis dari mikrotube sebanyak 2 µl dan kembali

dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Sisa larutan cacahan testis yang

terdapat di mikrotube disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 15.800 rpm.

Kemudian supernatan hasil sentrifus dibuang dan diganti dengan PBS sebanyak 1

µl. Hal ini dilakukan agar sel – sel spermatogenik tidak rusak dan memutus kerja

tripsin. Setelah itu, diambil kembali dengan menggunakan mikropipet sebanyak 1

µl dan diteteskan ke dalam gelas objek cekung dan dilakukan kembali

pengamatan.

3.2.5 Pengamatan Hasil

3.2.5.1 Karakterisasi Morfologi Sel Testikular

Karakterisasi morfologi sel testikular ikan gurame dilakukan untuk

mengetahui perbedaan tipe sel – sel spermatogenik pada ikan gurame, yaitu

spermatogonia, spermatosit, spermatid, dan spermatozoa. Karakterisasi dilakukan

dengan mengamati preparat histologi testis yang telah selesai dibuat di bawah

mikroskop cahaya yang dilengkapi kamera (Nikon E600, Japan) dengan lensa

objektif 40x dan kemudian dibandingkan dengan hasil histologi yang telah

dilakukan berdasarkan kriteria Takashima dan Hibiya (1995) dan Blazer (2002).

Preparat histologi testis yang diamati sebanyak enam buah, yang terdiri dari

preparat histologi testis ikan gurame muda sebanyak satu buah, ikan gurame

dewasa sebanyak dua buah, dan ikan gurame yang matang gonad sebanyak tiga

buah.

3.2.5.2 Penghitungan Komposisi dan Pengukuran Diameter Sel Testikular Penghitungan komposisi sel testikular ikan gurame dilakukan untuk

mengetahui jumlah sel – sel spermatogenik, yaitu spermatogonia, spermatosit,

spermatid, dan spermatozoa. Akan tetapi, pada penelitian ini spermatozoa tidak

dihitung. Sel testikular hasil disosiasi dihitung langsung di bawah mikroskop

Olympus SZX16 yang telah dilengkapi kamera dan terhubung ke komputer yang

memiliki software DP20 yang berguna dalam penghitungan sel.

(38)

Pengukuran diameter sel testikular bertujuan untuk mengetahui ukuran

sel-sel spermatogenik. Pengukuran diameter sel-sel testikular dilakukan dengan cara

membuat garis skala dan kemudian dibandingkan dengan diameter sel-sel

spermatogenik. Selanjutnya hasil pengukuran dikelompokkan ke dalam beberapa

kelas. Ukuran diameter sel – sel spermatogenik dari yang terkecil sampai yang

terbesar adalah spermatozoa, spermatid, spermatosit, dan spermatogonia.

Untuk mengetahui perbedaan morfologi pada masing – masing sel

spermatogenik hasil disosiasi testis dilakukan perbandingan dengan hasil histologi

testis sebelumnya dan hasil disosiasi testis yang telah dilakukan berdasarkan

kriteria Okutsu et al. (2005). Hasil disosiasi testis yang dihitung komposisi dan diukur sel testikular berasal dari empat ekor ikan gurame, yang terdiri dari

disosiasi testis ikan gurame muda sebanyak satu ekor, ikan gurame dewasa

sebanyak satu ekor, dan ikan gurame yang matang gonad sebanyak dua ekor.

3.2.5.3 Proporsi Spermatogonia

Proporsi spermatogonia diketahui dengan cara membandingkan antara

jumlah sel spermatogonia dengan jumlah total sel testikular, dan hasilnya dalam

bentuk persen (%).

3.3 Analisis Data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar serta

dianalisis secara deskriptif untuk setiap penentuan IKG, perkembangan morfologi,

dan proporsi komposisi sel testikular ikan gurame.

(39)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 IKG

Gambar 7. Grafik hubungan antara berat ikan dengan berat gonad.

Secara keseluruhan nilai rata – rata berat gonad ikan gurame berkisar

diidentifikasi atau ditemukan dari lima ekor ikan gurame yang telah diperiksa.

Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semakin besar berat ikan maka semakin

meningkat pula berat gonad.

Nilai rata – rata IKG ikan gurame berkisar antara 8,7025 x 10-3– 9,5382 x

10-3% (Gambar 8). Nilai rata – rata IKG tertinggi (9,5382 x 10-3%) juga terdapat

pada ikan yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang matang gonad (2250 –

(40)

ikan yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan muda (800 – 1000 g). Ikan yang

dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang belum berkembang gonadnya (400 –

600 g), gonad relatif sulit untuk diidentifikasi atau ditemukan, sehingga nilai rata–

rata IKG tidak dapat ditentukan. Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin

besar berat ikan maka semakin meningkat pula nila rata – rata IKG. Semakin

besar berat ikan maka berat gonad juga akan semakin besar yang menyebabkan

nilai IKG akan semakin besar pula.

Gambar 8. Grafik hubungan antara berat ikan dengan IKG.

4.1.2 Karakteristik Morfologi Sel Testikular

Dari hasil pengamatan preparat histologis testis ikan gurame menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan fase spermatogenesis dan tipe sel-sel spermatogenik

yang terdapat pada setiap kelas ikan gurame uji. Pada ikan gurame kelas ikan

muda (800 – 1000 g), tipe sel – sel spermatogenik yang ada di dalam testisnya

berbeda dengan ikan gurame kelas ikan dewasa (1100 – 1300 g) dan ikan yang

matang gonad (2250 – 3200 g). Dari 5 ekor ikan gurame dengan berat tubuh

400-600 g yang diamati, tidak berhasil ditemukan testis sehingga tidak dapat dibuat

preparat histologinya. Dalam kelas yang sama juga terdapat perbedaan fase

(41)

Gambar 9. Gambaran histologis testis ikan gurame dari berbagai kelas. A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad, a: spermatogonia, b: spermatosit, c: spermatid, dan d: spermatozoa.

(42)

Hasil pengamatan preparat histologi menunjukkan bahwa sel

spermatogenik yang terdapat pada ikan gurame kelas ikan muda, yaitu

spermatogonia. Semua tipe sel – sel spermatogenik, yaitu spermatogonia,

spermatosit, spermatid, dan spermatozoa tampak terlihat mulai ada pada ikan

gurame kelas ikan dewasa. Walaupun demikan jumlah spermatozoanya masih

sedikit. Untuk ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang

matang gonad tampak telihat dengan jelas semua tipe sel – sel spermatogenik,

yang didominasi oleh spermatozoa. Banyaknya spermatozoa tersebut menandakan

bahwa ikan gurame tersebut telah matang gonad dan siap memijah.

4.1.3 Komposisi dan Pengukuran Diameter Sel Testikular

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah sel testikular per ekor ikan gurame

dari berbagai kelas bervariasi. Jumlah spermatogonia terbanyak terdapat pada ikan

muda (348.000 sel), yang kemudian jumlahnya semakin menurun baik pada ikan

dewasa (192.000 sel) maupun ikan yang matang gonad (116.000 sel). Proporsi

spermatogonia tertinggi terdapat pada ikan muda, yaitu sebesar 80,56% dan yang

terendah terdapat pada ikan yang matang gonad, yaitu sebesar 6,30%. Adapun sel

testikular yang mempunyai diameter terpanjang secara berturut – turut adalah

spermatogonia, spermatosit, dan spermatid (Tabel 2).

Tabel 1. Jumlah sel testikular per ekor ikan gurame dari berbagai kelas.

Sel testikular Ikan

Tabel 2. Sebaran diameter sel testikular ikan gurame.

Sel Tesitikular Diameter (µm)

Spermatogonia 5,0 – 15,0

Spermatosit 3,0 – 5,0 Spermatid 1,5 – 2,5

(43)

Gambar 10. Komposisi sel testikular ikan gurame dari berbagai kelas. A: ikan muda, B: ikan dewasa, C: ikan matang gonad, 1: spermatogonia, 2: spermatosit, dan 3: spermatid.

(44)

4.2 Pembahasan

Nilai rata – rata IKG ikan gurame dari masing – masing berat ikan

memperlihatkan pola yang meningkat. Syandri (1996) melaporkan bahwa

terjadinya peningkatan nilai IKG ikan jantan berhubungan dengan proses

spermatogenesis dan peningkatan volume tubuli semineferi. Hal ini diperkuat

dengan pendapat Ketchen (1972) dalam Siregar (1989) dalam Ernawati (1999) yang menyatakan bahwa semakin jauh tingkat perkembangan oogenesis atau

spermatogenesis maka nisbah antara gonad dan berat ikan semakin besar.

Selanjutnya menurut Syandri (1996) TKG juga berhubungan dengan IKG.

Semakin matang gonad ikan dan dekat dengan waktu pemijahan maka nilai rata –

rata IKG semakin tinggi. Faktor penyebabnya antara lain adalah ovari sudah diisi

oleh oosit matang dan testis oleh spermatozoa. Adapun Sukendi (2001)

menyatakan bahwa semakin tinggi TKG maka nilai rata – rata IKG akan semakin

tinggi. Nilai IKG dipengaruhi oleh TKG. Hal ini disebabkan TKG yang

meningkat akan diikuti naiknya berat gonad dan berpengaruh pada meningkatnya

berat ikan. Kecuali pada TKG V terjadi penurunan nilai rata – rata IKG karena

pada TKG V sebagian telur atau spermatozoa telah dikeluarkan pada saat

pemijahan sehingga berat gonad akan turun kembali.

Effendie (1992) berpendapat bahwa IKG dapat digunakan untuk

mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad secara kuantitatif. Nilai IKG

selalu dalam bentuk nilai kisaran pada setiap TKG. Misalnya pada TKG III nilai

IKG berkisar antara 6 – 8% dan pada TKG IV nilai IKG berkisar antara 13 – 20%

(Sukendi, 2001).

Nilai rata – rata IKG ikan gurame jantan yang digunakan, yaitu berkisar

antara 8,7025 x 10-3 – 9,5382 x 10-3% adalah sangat kecil jika dibandingkan

dengan IKG ikan lainnya, yaitu IKG ikan baung (Mystus nemurus CV) jantan berkisar antara 0,02 – 8,27% (Sukendi, 2001) dan IKG ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) jantan berkisar antara 1,26 – 7,42% (Syandri, 1996). Perbedaan nilai IKG tersebut diduga merupakan karakter spesifik suatu spesies

ikan. Royce (1984) dalam Syandri (1996) menyatakan bahwa ikan jantan dapat memijah jika nilai IKG berkisar antara 5 – 10%. Dari nilai rata – rata IKG ikan

(45)

jauh dari periode pemijahan atau berada pada periode pasca-pemijahan. Hasil

penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang berbeda dengan Royce

(1984) dalam Syandri (1996). Pada kelas ikan gurame yang memiliki nilai rata – rata IKG 9,5382 x 10-3%, melalui pengamatan secara histologi dan disosiasi dapat

diketahui bahwa banyak terdapat spermatozoa dalam testisnya. Banyaknya

spermatozoa menunjukkan ikan tersebut matang gonad dan siap memijah.

Pada tingkat perkembangan testis ikan gurame kelas ikan muda (800 g –

1000 g), secara histologi terlihat jaringan ikat dan spermatogonia. Namun

demikian, tipe-tipe spermatogonia; tipe A belum dan telah terdiferensiasi serta

tipeB, tidak dapat diidentifikasi. Menurut Amstrong et al. (2002) dalam Syandri (1996) spermatogonia yang berada pada testis berasal dari sel bakal gonad yang

mengalami proliferasi secara mitosis. Pada tingkat perkembangan ini belum

terlihat tanda perkembangan tubuli. Menurut Murphy dan Taylor (1990) dalam

Sukendi (2001) tingkat ini dinamakan belum matang (immature).

Pada ikan gurame kelas ikan dewasa (1100 g – 1300 g), terbentuknya

spermatosit berasal dari hasil perkembangan spermatogonia. Testis mulai

berkembang ditandai dengan terlihatnya kantung – kantung tubuli semineferi yang

berisi spermatosit. Pada tingkat perkembangan ini spermatosit berada agak jauh

dari jaringan ikat. Pengamatan secara histologi menunjukkan bahwa pada ikan

gurame kelas ikan dewasa, spermatosit mulai berkembang menjadi spermatid.

Sebagian spermatid mulai menyebar dan sebagian lagi masih terlindungi oleh

selaput yang berbentuk kantung. Jaringan ikat testis terlihat lebih sedikit

dibandingkan dengan kelas ikan gurame sebelumnya. Selain itu, pada tingkat

perkembangan ini proses pembentukan spermatozoa mulai berjalan. Menurut

Murphy dan Taylor (1990) dalam Sukendi (2001) tingkat ini dinamakan pematangan (maturing).

Pada ikan gurame yang dikelompokkan ke dalam kelas ikan yang matang

gonad (2250 – 3200 g) spermatid dan spermatozoa terlihat lebih jelas. Spermatid

mulai berkembang menjadi spermatozoa. Kantung tubuli semineferi sudah diisi

(46)

pembelahan sel) berkembang menjadi spermatozoa yang fungsional. Pada saat

perubahaan spermatid menjadi spermatozoa maka sel Sertoli, sel interstial, dan sel

Leydig mulia berfungsi. Sel Sertoli mulai berfungsi untuk mensuplai nutrien bagi

spermatozoa, sedangkan sel Leydig mensekresikan hormon steroid. Amstrong et al. (1992) dalam Syandri (1996) melaporkan bahwa perkembangan testis seperti ini ditandai dengan sedikitnya jumlah spermatogonia primer dan sekunder atau

tidak ada sama sekali, spermatid jelas terlihat dan lumen berisi spermatozoa.

Menurut Murphy dan Taylor (1990) dalam Sukendi (2001) tingkat ini perkembangan ini dinamakan tingkat matang (mature). Pada perkembangan testis selanjutnya, pembentukan spermatozoa telah berakhir dan ikan siap untuk

melakukan spermiasi.

Dari hasil pengamatan perkembangan testis secara histologi dapat

menunjukkan TKG yang dialami ikan gurame tersebut. Pada ikan gurame kelas

ikan muda, perkembangan TKG ikan gurame tersebut diduga adalah TKG I.

Selanjutnya, pada TKG III sesuai dengan yang dialami perkembangan testis ikan

gurame kelas ikan dewasa. Adapun pada ikan gurame kelas ikan yang matang

gonad, perkembangan kematangan gonadnya diduga tergolong TKG IV.

Berdasarkan hasil pengamatan histologi dan disosiasi, ikan gurame uji

mengalami fase spermatogenesis yang berbeda – beda dari masing – masing kelas,

yaitu pada ikan muda fase spermatogenesis yang dialaminya adalah

spermatositogenesis, ikan dewasa mengalami miogenesis, dan ikan yang matang

mengalami spermiogenesis. Hal ini berdasarkan ada atau tidaknya tipe – tipe sel

testikular yang terdapat pada masing – masing kelas ikan gurame.

Jumlah spermatogonia ikan gurame (sekitar 120.000 – 350.000 sel) yang

didapat cukup berbeda jauh dengan jumlah spermatogonia hewan lainnya. Pada

tikus dewasa jumlah spermatogonianya lebih sedikit, yaitu 2 – 3 x 104 sel (Olive

dan Cuzin, 2004). Jumlah spermatogonia pada ikan nila yaitu 5 x 106 sel per ml

(Lacerda et al., 2008).

Dalam penelitian ini cara penghitungan jumlah spermatogonia ikan

gurame dilakukan secara kasar. Hal ini menyebabkan jumlah spermatogonia yang

diperoleh mungkin tidak menggambarkan jumlah spermatogonia yang

(47)

Leydig ikut tercampur dengan sel testikular lainnya. Selain itu, dalam proses

disosiasi terdapat sel yang belum terdisosiasi secara sempurna sehingga sel

tersebut tidak ikut dihitung. Lamanya waktu disosiasi yang tepat dan banyaknya

tripsin juga mempengaruhi sel testikular yang dapat dihitung. Waktu disosiasi

dalam penelitian ini adalah 10 menit. Kurang dari 10 menit, sel testikular sulit

untuk dihitung karena sel testikular masih banyak yang belum lepas satu sama lain

(berkoloni) dan bertumpuk – tumpuk. Adapun pada waktu lebih dari 10 menit,

mulai terlihat sel testikular yang rusak. Banyaknya tripsin yang digunakan akan

mempengaruhi aktifnya sel testikular. Semakin banyak tripsin yang digunakan

maka sel testikular akan semakin cepat rusak. Untuk membedakan tipe sel

testikular dengan tipe sel testikular lainnya dilakukan berdasarkan ukuran

diameter sel testikular tersebut. Pedoman ukuran diameter sel testikular mengikuti

Quintana et al. (2004).

Dari jumlah spermatogonia ikan gurame yang diketahui maka ikan gurame

kelas ikan muda sebaiknya dijadikan sebagai donor untuk transplantasi. Dengan

proporsi spermatogonia yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas ikan gurame

lainnya maka peluang keberhasilan transplantasi diduga lebih besar. Okutsu et al. (2006) menyatakan bahwa usia ikan donor yang efisien untuk aplikasi

transplantasi bisa saja bervariasi. Hal ini disebabkan proses kolonisasi,

diferensiasi, dan perkembangan sel germinal pada penelitian – penelitian

sebelumnya diketahui bervariasi pada beberapa jenis ikan.

Metode disosiasi yang dilakukan dalam penelitian ini perlu dioptimalkan.

Hal ini betujuan agar jumlah sel yang diperoleh dan yang hidup banyak. Pada

metode disosiasi ini, jumlah sel testikular yang masih hidup atau telah mati tidak

dapat diketahui. Verifikasi sel hidup dan yang mati dapat dilakukan menggunakan

pewarna Trypan Blue (TB). Dengan menggunakan pewarnaan TB maka sel testikular yang masih hidup akan transparan, sementara yang mati akan berwarna

biru.

(48)

V. KESIMPULAN

5.1Kesimpulan

Proporsi sel spermatogonia yang paling besar terdapat pada ikan gurame

dengan nilai rata – rata IKG paling kecil, yaitu 8,7025 x 10-3, yang terdapat pada

kelas ikan muda (800 – 1000 g).

5.2Saran

Jika dilakukan transplantasi maka ikan gurame yang digunakan sebagai

ikan donor sebaiknya adalah ikan gurame kelas ikan muda, yaitu sekitar 800 –

1000 g. Metode disosiasi yang dilakukan perlu dioptimalkan, seperti lamanya

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. Spermatogenesis. http://www.wikipedia.com [4 Januari 2009].

Blazer, V.S. 2002. Histopathological assessment of gonadal tissue in wild fishes. Fish Physiology and Biochemistry, 26: 85 – 101.

Brinster, R.L. and Zimmerman, J.W. 1994. Spermatogenesis following male germ cell transplantation. Proc. Nat. Acad. Sci. USA 91:11298-11302.

Cerda, J., Calman, B.G, Lafleur Jr., G.J., and Limesan, S. 1996. Pattern of vitellogenesis and follicle maturation competence during the ovarian folicular cycle of Fundulus heteroclitus. General and Comparative Endocrinology, 103: 24 – 45.

Dellmann, H.D. dan Brown, E.M. 1992. Histologi veteriner. Edisi ke–3. Hartono, R. Penerjemah. Jakarta: UI Press. Terjemahan dari: Text book of veterinery histology.

Effendie, M.I. 1992. Metoda biologi perikanan. Yayasan Agromedia. Bogor.

Ernawati, Y. 1999. Efisiensi implantasi analog LH–RH dan 17α– metiltestosteron serta pembekuan semen dalam upaya peningkatan produksi benih ikan jambal siam (Pangasius hypophthalmus). Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Jangkaru, Z. 2003. Memacu pertumbuhan gurami. Penebar Swadaya. Jakarta.

Johnston, D.S., Russel, L.D., and Griswold, M.D. 2000. Advances in spermatogonial stem cell transplantation. Review of Reproduction 5 : 183-188.

Lagler, K.F., Bardach, J.E., Miller, R.H., and Passino, D.R.M. 1977. Ichthyology. John Willey and Son, Inc. Toronto. Canada.

Lacerda, S.M.S.N., Batlouni, S.R., Assis, L.H., Resende, F.M., Campos – Silva, S.M., Campos – Silva, R., Segatelli, T.M., and Franca, L.R. 2008. Germ cell transplantation in tilapia (Oreochromis niloticus). Cybium, 32 suppl.: 115 – 118.

Nobrega, R.H., Batlouni, S.R., and Franca, L.R. 2009. An overview of functional and stereological evaluation of spermatogenesis and germ cell transplantation in fish. Fish Physiol. Biochem., 35:197–206.

(50)

Okutsu, T., Suzuki, K., Takeuchi, Y., Takeuchi, T., and Yoshizaki, G. 2005. Testicular germ cells can colonize sexually undifferentiated embryonic gonad and produce functional eggs in fish. Proc. Nat. Acad. Sci., 103: 2725 – 2729.

Okutsu, T., Takeuchi, Y., and Yoshizaki, G. 2006. Manipulation of fish germ cell: visualization, cryopreservation and transplantation. Journal of Reproduction and Development, 52: 685 – 693.

Okutsu, T., Takeuchi, Y., and Yoshizaki, G. 2008. Spermatogonial transplantation in fish: production of trout offspring from salmon parents. Fisheries for Global Welfare and Environment, 5th World Fisheries Congress 2008, pp. 209 – 219.

Olive, V. and Cuzin, F. 2005. The spermatogonial stem cell: from basic knowledge to transgenic technology. The International Journal of Biochemistry & Cell Biology, 37: 246 – 250.

Ogawa, T., Arechaga, J.M., Avarbock, M.R., and Brinster, R.L. 1997. Transplantation of testis germinal cells into mouse seminiferous tubules. International Journal Development Biology, 41:111 – 122.

Prasetyaningtias, W.E. 2001. Studi histokimia lektin pada distribusi glikokonjugat di epitel tubuli seminiferi testis babi rusa Babyrousa babyrussa. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.

Prasetyaningtias, W.E. 2006. Transplantasi testis muda sebagai upaya preservasi gonad in vivo. Laporan penelitian dosen muda. Institut Pertanian Bogor.

Quintana, L., Silva, A., Berois, N., and Macadar, O. 2004. Temperature induces gonadal maturation and affects electrophysiological sexual maturity indicators in Brachyhypopomus pinnicaudatus from a temperate climate. The Journal of Experimental Biology 207, 1843 – 1853.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan kunci identifikasi ikan. Jilid I dan Jilid II. Binacipta. Bandung.

Sendjaja, J.T. dan Riski, M.H. 2002. Usaha pembenihan gurami. Jakarta: Penebar Swadaya.

Sukendi. 2001. Biologi reproduksi dan pengendaliannya dalam upaya pembenihan ikan baung (Mystus nemurus CV) dari perairan sungai Kampar, Riau. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Syandri, H. 1996. Aspek reproduksi ikan bilih, Mystacoleucus padangensis

Bleeker dan kemungkinan pembenihannya di Danau Singkarak. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

(51)

Takashima, F. and Hibiya, T. 1995. An atlas of fish histology : normal and pathological features. Second Edition. Tokyo. Kondasha Ltd.

Tang, M.U. dan Affandi, R. 2002. Biologi reproduksi ikan.

Tim Agromedia Pustaka. 2007. Panduan lengkap budidaya gurami. Jakarta: Agromedia

Yani, A. 1994. Pola reproduksi ikan bentulu (Barbichtys laevis CV, Cyprinidae, Ostariophysi) di Sungai Indragiri, Riau. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

(52)

i

(53)
(54)

Lampiran 2. Klasifikasi sel testikular berdasarkan ukuran dan karakteristik utamanya (Quintana et al., 2008).

Sel Testikular Diameter

(µm) Nukleus Sitoplasma Lokasi

(55)

Lampiran 3. Ilustrasi testis ikan zebra (Danio rerio) menunjukkan tiga fase berbeda dari spermatogenesis pada ikan (Nobrega et al., 2009).

Keterangan:

A und : spermatogonia A yang tidak berdiferensiasi

A : spermatogonia A

B : spermatogonia B

L/Z : spermatosit primer pada fase leptoten/zygoten P : spermatosit primer pada fase pakiten

D : spermatosit primer pada fase diploten MI : spermatosit primer pada fase metafase I S : spermatosit sekunder

MII/E1: metafase II/ spermatid awal E1 : spermatid awal

E2 : spermatid pertengahan E2 : spermatid akhir

Z : spermatozoa

Gambar

Gambar 1. Ikan gurame Osphronemus gouramy Lac.
Gambar 2. Ilustrasi berbagai jenis testis. A: testis tubular mamalia, B: testis tubular anastomosing, C: testis lobular, T: Tubuli, I: Lumen, RT: Rete Testis, AT: Anastomosing Tubular, MD: Main Longitudinal Testis Duct, dan L: Lobuli
Gambar 3. Ilustrasi dua jenis testis lobular pada ikan teleostei. A: lobuli berlekuk dan B: lobuli padat (Nagahama, 1983 dalam Takashima dan Hibiya, 1995)
Gambar 4. Skema spermatogenesis.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pertumbuhan larva ikan gurame ukuran panjang 1cm dan berat 0,12 gram yang diberi pakan Daphnia Sp.. dengan

Penelitian ini beliujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Artemia yang diperkaya minyak ikan, minyak kelapa dan minyak jagung terhadap volume otak dan peliumbuhan larva ikan

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini dapat diketahui tingkat kelangsungan hidup ikan selama pengangkutan dipengaruhi oleh kualitas air di dalam media

Pada spesies dengan lobuli berlekuk, baik spermatogonia maupun tubulus seminiferus yang berada pada tahap perkembangan dapat dilihat di sepanjang lobuli dan spermatozoa

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan selama 15 hari untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan tambahan dari keong mas terhadap pertumbuhan Ikan Gurami

Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan efek yang ditimbulkan paparan plasma terhadap perubahan sifat fisika dan kimia minyak ikan gurame (Osphronemus

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Pengembangan Marka Molekuler DNA dalam Identifikasi Sel Gonad Ikan Gurame (Osphronemus gouramy) dan Ikan Nila (Oreochromis

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan menunjukan hasil bahwa penyuntikan Ovaprim dosis 0,7 ml/kg bobot tubuh pada induk gurame jantan mampu meningkatkan volume