• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh pemberian merek berbahasa asing, iklan dan media terhadap persepsi konsumen : produk minuman kesehatan vita charm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh pemberian merek berbahasa asing, iklan dan media terhadap persepsi konsumen : produk minuman kesehatan vita charm"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN MEREK BERBAHASA ASING,

IKLAN DAN MEDIA TERHADAP PERSEPSI KONSUMEN

(

Produk Minuman Kesehatan Vita Charm

)

Oleh

Helmi Tauhidi

NIM: 102081026147

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PENGARUH PEMBERIAN MEREK BERBAHASA ASING, IKLAN DAN MEDIA TERHADAP PERSEPSI KONSUMEN

(Produk Minuman Kesehatan Vita Charm)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk meraih Gelar Sarjana

Ekonomi

Oleh Helmi Tauhidi NIM 102081026147

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Abdul Hamid, MS Heryanto, SE, M.Si

NIP. 131 474 891 NIP. 131 569 931

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

LEMBAR PENGUJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Kamis Tanggal 07 Bulan Agustus Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Helmi Tauhidi NIM: 102081026147 dengan judul Skripsi “PENGARUH PEMBERIAN MEREK ASING IKLAN DAN MEDIA TERHADAP PERSEPSI KONSUMEN” (Study Kasus Produk Minuman Kesehatan Vita Charm). Memperhatikan penampilan tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 07 Agustus 2008

Tim Penguji Ujian Komprehensif

Prof.Dr.Ahmad Rodoni,MM Heryanto,SE.M.Si

Ketua Sekretaris

(4)

ABSTRACT

The purpose of this accuration to identity the influence between the variable for given a brand in foreign language (X1), advertisement (X2) and media (X3) affect in consumen perception (Y) in healty drink product Vita Charm.

The accuration methode which use are survey methode and 100 respondents which ever consuming the healthy drink product Vita Charm. The sample technic which use in this accuration is with simple random sampling methode.

(5)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh antara variabel pemberian merek berbahasa asing (X1) iklan (X2) dan media (X3) terhadap persepsi konsumen (Y) pada produk minuman kesehatan Vita Charm.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, dan responden sebanyak 100 yang pernah mengkonsumsi produk minuman kesehatan Vita Charm. Teknik penentuan sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode simple random sampling.

(6)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucapkan puji syukur dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini, dengan judul “Pengaruh pemberian merek berbahasa asing, iklan dan media terhadap persepsi konsumen” (Produk Minuman Kesehatan Vita Charm). Shalawat beserta salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang seperti keadaan sekarang ini.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki sangat terbatas, oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik serta tanggapan dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, pengarahan, bimbingan dan do’a yang tulus serta memberikan dorongan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Antara lain:

(7)

2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Dosen pembimbing I, yang telah membantu dan meluangkan waktunya dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai.

3. Bapak Heryanto, SE. M.Si, selaku dosen pembimbing II, yang telah banyak membantu dan meluangkan waktunya dalam penyusunan penyusunan skripsi ini hingga selesai.

4. Bapak Drs. Moh. Faisal Badrun, MBA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen.

6. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen serta seluruh staf akademika dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, atas segala partisipasi dan bantuannya selama penulis menuntut ilmu.

7. Untuk Kakak-kakakku yang tersayang Yayah Huliatunisa S.Ag, Taufik Billah S.Sos. Yang tiada henti-hentinya memberikan dukungan, nasehat, motivasi dan semangat serta do’a nya yang tidak terhingga bagi penulis dalam penulisan skripsi ini hingga dapat terselesaikan. 8. Special to: Husnul, Nt@, Jum’I, Arief, Daniel, Oyot, Izah, Ucup,

(8)

9. Teman-temanku semua yang seperjuangan selama belajar di UIN yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dorongan dan motivasi selama penulis menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Semoga semua amal dan kebaikan serta bantuan yang penulis terima selama menjalani pendidikan mandapat balasan dan ridho dari Allah SWT, Amiiin……

Akhir kata, semoga skripsi ini setidaknya dapat memberikan sumbangan pikiran dan saran untuk perkembangan dalam pendidikan. Wassalam

Jakarta, Februari 2008 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Hal

Daftar Riwayat Hidup ………...i

Abstract ………..ii

Abstrak ……….iii

Kata Pengantar ………iv

Daftar Isi ………..vii

Daftar Tabel ………...x

Daftar Gambar ……….xi

Daftar Lampiran ……….xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………..1

B. Identifikasi Masalah ………3

C. Pembatasan Masalah ………...3

D. Perumusan Masalah ………4

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………...4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Produk ………6

1. Definisi Produk ……….6

2. Tingkat Produk ………..7

3. Klasifikasi Produk ……….9

4. Hierarki Produk ………...11

5. Tampilan Produk ……….12

B. Merek ………13

1. Definisi Merek ………14

2. Istilah Merek ………...14

3. Syarat-syarat Merek yang Baik ………...15

(10)

C. Pemberian Merek Asing ………18

1. Definisi Merek Asing ………..18

2. Tujuan Pemberian Merek Asing ……….19

3. Fungsi Merek Asing ………20

4. Kriteria Merek Asing Yang Baik ………21

5. Merek Berbahasa Inggris ………22

D. Iklan ………...24

1. Definisi Iklan ………...24

2. Kekuatan dan Kelemahan Iklan ………..25

E. Media ……….26

1. Karakteristik Media ……….27

F. Persepsi ……….29

1. Definisi Persepsi ………..30

2. Persepsi dan Produk ………30

3. Persepsi dan Strategi Pemasaran ……….34

4. Hubungan Persepsi dan Merek Berbahasa Inggris ………..38

G. Penelitian Terdahulu ……….39

H. Kerangka Pemikiran ………..41

I. Hipotesis ………42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian ……….43

B. Metode Penentuan Sampel ………43

C. Metode Pengumpulan Data ………...44

D. Metode Analisis ………44

1. Uji Validitas dan Relibilitas ………46

2. Uji Asumsi Klasik ………...47

3. Analisis Regresi Berganda ………..49

4. Penguji Hipotesis ………50

(11)

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ……….55

1. Sejarah Singkat Perusahaan ………55

2. Produk Vita Charm ……….57

3. Jenis-Jenis Produk Vita Charm ………...57

B. Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen ………...58

C. Deskriftif Analisis ……….61

1. Merek Berbahasa Asing (X1) ………..61

2. Iklan (X2) ………64

3. Media (X3) ………..67

4. Persepsi Konsumen (Y) ………...69

D. Uji Asumsi Klasik ……….72

1. Uji Normalitas ……….72

2. Uji Multikolinearitas ………...73

3. Uji Autokolerasi ………..74

4. Uji Heterokedastisitas ……….74

E. Analisis Regresi Berganda ………76

F. Penguji Hipotesis ………..77

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ………...82

B. Implikasi ………...83

DAFTAR PUSTAKA ………..85

(12)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Helmi Tauhidi

Tempat Tanggal Lahir : Serang 31 Desember 1984 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Jl. Jend A Yani No.81 RT 04/03 Ds. Kaduagung Barat Kec. Cibadak Kab. Lebak Banten (42351) Riwayat Pendidikan

• TK. PGRI 1 Kaduagung Timur : Lulus Tahun 1995

• SDN 1 Kaduagung Timur : Lulus Tahun 1996

• MTS.N Rangkas Bitung : Lulus Tahun 1999

• SMU Islam Al-Ghazali Gunung Sindur Bogor : Lulus Tahun 2002 • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : Lulus Tahun 2009

(13)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Keterangan Hal

2.1 Perbandingan Atribut Intrinsik dan Ekstrinsik …………..32

Skala Likert ………...45

3.1 Operasionalisasi Variabel ………..52

4.1 Hasil Try Out ……….61

4.2 Merek Vita Charm Memiliki arti yang Positif

apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia ………62 4.3 Merek Vita Charm Mudah Diucapkan ………..62 4.4 Merek Vita Charm dapat mencerminkan citra yang

berkualitas seperti Negara asal ………..63 4.5 Merek Vita Charm memiliki arti yang sesuai dengan

jenis produk yang berupa produk minuman kesehatan ….63 4.6 Dengan adanya iklan Vita Charm menyebabkan anda

ingin mencobanya walaupun belum pernah ………..64 4.7 Iklan Vita Charm lebih disukai dibandingkan dengan

produk minuman kesehatan lainnya ………..65 4.8 Iklan produk minuman kesehatan Vita Charm

mengandung Pesan yang positif ………65 4.9 Iklan televisi lebih disukai dibandingkan dengan

iklan di Media lainnya ………...66 4.10 Iklan Vita Charm telah memberikan informasi

tentang Komposisi dan Khasiat produk ………66 4.11 Media Elektronik lebih akurat dalam penyampaian

informasi tentang produk Vita Charm dibandingkan

dengan media lainnya ………67 4.12 Televisi merupakan media yang sering dilihat dalam

menyampaikan menyampaikan seluruh informasi ………68 4.13 Televisi mempunyai daya jangkauan yang cukup

luas dibandingkan dengan media lainnya dalam

penyampaian iklan

……….68

4.14 Vita Charm memiliki ciri-ciri khusus pada kemasan

Produknya

………..69

4.15 Kemasan Vita Charm menarik dan sesuai ……….70

4.16 Harga Vita Charm lebih murah dibandingkan

(14)

yang Berkualitas ………71

4.19 Hasil Uji Multikolinearitas ………73

4.20 Hasil Uji Autokorelasi ………...73

4.21 Hasil Analisis Regresi Berganda ………...76

4.22 Model Summary ………77

4.23 Hasil perhitungan Uji t ………..79

4.24 Hasil Uji f anova ………...81

DAFTAR GAMBAR No. Gambar Keterangan Hal 2.1 Lima Tingkatan Produk ………..7

2.2 Pengaruh Intrinsik dan Ektrinsik terhadap persepsi konsumen ………39

2.3 Skema Kerangka Pemikiran ………..41

4.1 Logo Perusahaan ………...56

4.2 Logo Perusahaan ………...56

4.3 Logo Perusahaan ………...56

4.4 Hasil Uji Normalitas Data ……….72

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Keterangan Hal

1 Kuisioner Penelitian ………87

2 Hasil input SPSS ……….90

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini, telah tercipta berbagai macam produk minuman kesehatan, dari mulai produk yang memiliki kandungan unsur alami yang tinggi sampai dengan produk yang memiliki kandungan yang telah diolah melalui proses teknologi didalam produknya. Selain itu juga timbul suatu fenomena baru yaitu dimana konsumen mengkonsumsi produk – produk ramah lingkungan produk recycle, atau lebih memilih pada produk dengan kandungan unsur alami tinggi, perubahan tersebut timbul karena adanya kesadaran pada konsumen akan dampak dari produk-produk sintetis yang dapat memberikan pengaruh kurang baik pada jangka waktu tertentu.

Perubahan perilaku konsumen juga terjadi pada produk minuman. Menurut data statistik terdapat peningkatan Indeks Harga Gabungan 43 Kota di Indonesia per triwulan terhadap minuman tidak beralkohol pada periode Desember 2005 Indeks Harga Konsumen sebesar (232, 97) perubahan terhadap bulan sebelumnya 0,92%, Januari 2006 Indeks Harga Konsumen sebesar (234, 55) perubahan terhadap bulan sebelumnya 0,68% dan Februari 2006 Indeks Harga Konsumen (235, 02) perubahan terhadap bulan sebelumnya yaitu 0, 20%.% (BPS 2005 dan 2006).

(17)

peningkatan, pada Desember 2005 sebesar (236, 99) perubahan terhadap bulan sebelumnya 1,86%, Januari 2006 sebesar (237, 97) perubahan terhadap bulan sebelumnya 0,41% dan Februari 2006 Indeks Harga Konsumen sebesar (238, 20) perubahan terhadap bulan sebelumnya sebesar 0,10% (BPS 2005 dan 2006).

Adanya peluang pada minuman tidak beralkohol serta bertambahnya kesadaran pada masyarakat akan kesehatan merangsang produsen untuk berlomba -lomba memproduksi minuman kesehatan, sebagai salah satu alternatif dari beragam minuman tidak beralkohol dimana minuman kesehatan merupakan minuman yang memberikan efek atau dampak bagi kesehatan atau vitalitas tubuh manusia secara berkala untuk mencapai kondisi prima tanpa merasakan efek samping yang merugikan kesehatan.

(18)

Melalui merek konsumen dapat membedakan antara produk satu dan lainnya sebagai penilaian awal. Dengan cara mengidentifikasikan dan memperoleh informasi melalui iklan dan media mengenai produk tersebut konsumen akan memiliki anggapan tersendiri terhadap produk. pada kenyataannya konsumen jarang mengetahui produk atau pelayanan secara detail. Mereka cenderung untuk menilai produk dengan atribut yang mereka anggap penting yang pada akhirnya akan menimbulkan persepsi tertentu. Persepsi konsumen tidak selalu diperoleh melalui kesadaran atau rasional penuh melainkan dapat timbul karena dorongan emosional (Arnold 1992: 8).

B. Identifikasi Masalah

1. Apakah pemberian merek berbahasa asing dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk Minuman Kesehatan Vita Charm.

2. Apakah iklan dapat memberikan informasi yang detail sehingga dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk Minuman Kesehatan Vita Charm.

3. Apakah penggunaan Media yang tepat sebagai alat atau sarana penyampaian informasi produk dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk Minuman Kesehatan Vita Charm.

C. Pembatasan Masalah

(19)

2. Responden merupakan konsumen dari produk minuman kesehatan Vita Charm.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut "Apakah Terdapat Pengaruh Pemberian Merek Berbahasa Asing, Iklan dan Media terhadap Persepsi Konsumen Pada Produk Minuman Kesehatan Vita Charm?”.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh pemberian merek asing iklan dan media terhadap persepsi konsumen pada produk minuman kesehatan Vita Charm.

2. Manfaat Penelitian

a. Bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap penelitian ini akan memberikan informasi dan sumbangan pikiran mengenai persepsi konsumen terhadap produk yang memiliki bahasa asing terutama sebagai bahan perbandingan dalam penelitian yang sama, guna memberikan manfaat yang diperlukan.

(20)

c. Untuk menambah pengetahuan dalam bidang pemasaran, wawasan dan pengalaman khususnya dalam hal pemberian merek berbahasa asing, iklan, media dan persepsi konsumen.

(21)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Produk

Dalam bauran pemasaran yang dikenal dengan istilah 4P, terdiri atas:

product (produk), price (harga), promotion (promosi) dan place (tempat atau lebih cocok disebut sebagai distribusi). Bagi produsen produk yang diciptakan harus mampu bersaing dipasaran dengan keunikan tersendiri sehingga berbeda dari para pesaingnya. Dengan tujuan agar dapat menarik minat konsumen terhadap produk dan tercapainya kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan 1. Definisi Produk

Menurut Kotler (2000: 394): "Product is anything that can be offered to a market to satisfy a want or need".

Maksud dari definisi diatas yaitu: Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan.

Definisi lain menurut Keegan (1995: 9): "A product is any goods, services, or idea that can offered to a market and that satisfies customer's

want and need".

Artinya produk adalah segala barang, jasa, atau gagasan yang dapat ditawarkan kepada pasar dan dapat memuaskan segala keinginan dan kebutuhan konsumen.

(22)

2. Tingkat Produk

Produsen, dalam upayanya menawarkan produk dipasaran perlu membuat suatu perencanaan dan memperhatikan terlebih dahulu posisi produk yang dihasilkannya sesuai dengan tingkatan produk yang ada.

Gambar 2.1. Lima Tingkatan Product

Five Product Level Kotler (200: 395)

Menurut Kotler (2000: 395), terdapat lima tingkatan produk, yaitu: a. Manfaat Utama (Core Benefit)

Adalah manfaat utama yang sebenarnya ingin dibeli oleh konsumen, misalnya seorang yang menyewakan kamar hotel sebenarnya dia membeli sesuatu agar yang bersangkutan dapat istirahat dan tidur.

(23)

Adalah sesuatu yang melengkapi dan mutlak harus dimiliki. Jadi misalnya sebuah kamar hotel, termasuk didalamnya tempat tidur, meja hias, kamar mandi, kloset, kursi, dan.lain - lain.

c. Produk yang Diharapkan (Expected Product)

Adalah kumpulan atribut dan kondisi yang umumnya diharapkan bila membeli produk tersebut, misalnya konsumen jasa perhotelan mengharapkan tempat tidur dan kamar mandi yang bersih, handuk yang selalu baru setiap hari, dan lain - lain.

d. Produk yang Ditingkatkan (Augmented Product)

Adalah produk yang ditingkatkan agar sesuai dengan keinginan konsumen sampai melampaui harapan mereka. Misalnya suatu hotel dapat meningkatkan produknya dengan menyertakan satu set televisi dengan kendali jarak jauh, bunga segar, check in cepat, check out

segera, makanan dan pelayanan kamar yang baik dan sebagainya. e. Produk Potensial (Potensial Product)

Adalah segala perluasan dari transformasi yang mungkin akan dialami oleh suatu produk. Dimasa yang akan datang, dimana perusahaan – perusahaan secara intensif mencari cara – cara baru untuk memuaskan Konsumen yang berbeda dengan para pesaingnya. Misalnya para pelanggan hotel diberikan kenang – kenangan yang berbentuk satu set perlengkapan makan, tiket gratis ke suatu tempat hiburan, gantungan kunci berlogo hotel yang bersangkutan dan lain - lain.

(24)

Menurut Kotler dan Armstrong (1977: 241-243) klasifikasi produk terdiri atas dua kelompok utama, yaitu barang konsumsi (consumer goods) dan barang industri (industrial goods). Perbedaan antara kedua kelompok utama produk tersebut terletak pada perlakuan produk yang telah dibeli oleh konsumen.

Barang konsumsi (Consumer Goods) adalah barang-barang yang dibeli oleh konsumen pribadi. Pemasar biasanya mengklasifikasikan barang konsumsi atas dasar kebiasaan konsumen dalam berbelanja, karena cara konsumen berbelanja mempunyai implikasi langsung bagi strategi pemasaran nya. Barang konsumsi dapat dibagi lagi menjadi empat golongan yaitu:

a. Barang Kebutuhan Sehari-hari (Convenience Goods)

Yaitu barang-barang yang frekwensi pembeliannya tinggi dan hanya memerlukan sedikit usaha dalam perbandingan dan pembelian, keputusan pembelian dilakukan dengan cepat. Contohnya: sabun, rokok.

b. Barang Belanjaan (Shoping Goods)

Yaitu barang-barang yang mana dalam proses pemilihan dan keputusan pembeliannya konsumen melakukan pembandingan berdasarkan harga kwalitas, model, dan hal-hal lainnya. Frekwensi pembelian agak jarang dan tidak teratur. Contohnya: Meubel, Kosmetik.

(25)

Yaitu barang-barang dengan karakteristik tertentu atau merek yang untuk kelompok pembeli tertentu dalam melakukan pembelian, biasanya melakukan usaha khusus. Contohnya : peralatan menyelam, peralatan fotografi.

d. Barang yang tidak dicari (Unsought Goods)

Merupakan barang-barang yang tidak terpikir oleh konsumen untuk merencanakan pembelian barang-barang ini. Contohnya: batu nisan, batu baterai.

Barang Industri (lndustrial Goods) adalah barang-barang yang dibeli dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang lain. Sehingga perbedaan antara barang industri dan barang konsumsi dapat dilihat berdasarkan tujuan pembelian barang tersebut. Barang industri juga dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu:

a. Bahan baku dan suku cadang (Materials and Parts)

Yaitu barang-barang yang seluruhnya menjadi bagian dari produk akhir. Misalnya: besi, tutup botol

b. Barang modal (Capital Items)

Yaitu barang-barang yang hanya sebagian memasuki produk akhir. Misalnya: alat-alat kantor, mobil Derek.

c. Persediaan dan jasa (Supplies and Services)

Yaitu barang-barang yang sama sekali tidak menjadi bagian akhir dari produk akhir. Misalnya: pelumas, kertas tik.

(26)

Hierarki produk merupakan urutan kebutuhan manusia akan lima jenis produk yang dapat memenuhi kebutuhannya. Dimana antara satu produk dan produk lainnya memiliki hubungan status sama lain.

Menurut Kotler (2000: 396) hierarki produk terdiri atas: a. Kelompok Kebutuhan (Need Family)

Merupakan kebutuhan dasar atau inti bagi manusia. Contohnya: rasa aman, rasa lapar.

b. Kelompok Produk (Product Family)

Merupakan seluruh kelas produk yang dapat memuaskan dasar atau inti dengan cukup efektif. Contohnya: tabungan dengan penghasilan seseorang.

c. Kelas Produk (Product Class)

Merupakan sekumpulan produk didalam kelompok produk yang memiliki hubungan fungsional tertentu. Contohnya: instrumen keuangan.

d. Lini Produk (Product Line)

Merupakan sekumpulan produk didalam kelas produk yang berhubungan erat, karena berfungsi dengan cara yang sama atau karena dijual pada kelompok pelanggan yang sama atau dipasarkan melalui jalur distribusi yang sama atau karena harganya berbeda dengan skala yang sama. Contohnya: asuransi jiwa.

(27)

Merupakan produk yang ada dalam lini produk yang memiliki salah satu bentuk dari produk tersebut. Contohnya: tabungan berjangka. f. Merek (Brand)

Merupakan nama yang dihubungkan dengan salah satu atau lebih produk dalam lini produk yang digunakan untuk mengidentifikasikan sumber atau karakter dari tipe produk tersebut. Contohnya: Coca-cola, Mercedes Benz.

g. Jenis Produk (Product Item)

Merupakan suatu unit dalam merek atau lini produk yang berbeda dalam ukuran, harga, penampilan, atau atribut lainnya. Contohnya: Asuransi yang dapat diperbaharui.

5. Tampilan Produk

Menurut Beardon (1996: 218-226) suatu produk memiliki ciri-ciri khususnya yang ditampilkan. Bagi suatu media untuk promosi, hal ini lazim disebut sebagai tampilan produk (product features) yang terdiri atas: a. Kualitas (Quality)

Kualitas suatu produk akan menentukan seseorang konsumen membeli atau sebaliknya tidak membeli produk tersebut. Konsumen sangat memperhatikan kekuatan atau daya tahan dan bentuk fisik suatu produk.

(28)

Dalam disain harus dipertimbangkan tentang model, keindahan, dan fungsi dari suatu produk, ini berarti bahwa produk harus memiliki model yang menarik dan indah, disamping bermanfaat bagi konsumen. c. Merek (Brand)

Pemberian merek pada suatu produk sangat berguna untuk mengidentifikasikan produk. Konsumen akan lebih mudah mencari produk yang telah lebih dikenal melalui merek produk. Di pasar swalayan, dimana produk dipajang di rak secara bersama-sama merek sangat menolong dalam hal pemilihan atas suatu produk disamping memberi pengaruh secara psikologis, oleh karena merek dapat memberikan citra tertentu atas produk.

d. Kemasan (Packaging)

Kemasan merupakan salah satu bagian penting dari produk. Fungsi dasar dari kemasan adalah untuk memberikan perlindungan pada produk yang ada didalamnya. Saat ini fungsi kemasan semakin berkembang, yaitu sebagai salah satu media promosi yang efektif bagi produk yang dikemasnya.

B. Merek

(29)

Bagi perusahaan, keputusan pemberian merek pada produk dihadapkan pada keputusan dalam menggunakan bahasa dari negara yang bersangkutan atau menggunakan bahasa dari negara lain sebagai nama mereknya.

1. Definisi Merek

Menurut Kotler (2000: 404): "A Brand is a name, term, symbol, or a combination of them, intended to identify the good services of one seller or

group of sellers and to differentiate them those of competitors."

Arti dari definisi tersebut yaitu mereka adalah sebuah nama, inisial, tanda, simbol, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksud untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari seorang penjual kelompok penjual dan untuk membedakan dari produk atau jasa pesaing.

2. lstilah Merek

Selain merek, ada beberapa istilah lain yang sangat berkait dengan merek pada suatu produk. lstilah-istilah tersebut menurut Bearden (1996: 221-222) terdiri atas:

a. Merek (Brand)

Yaitu sebuah nama istilah, tanda simbol atau desain, atau kombinasi dari semuanya ini, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk atau jasa pesaing.

b. Nama merek (BrandName)

(30)

c. Tanda merek (BrandMark)

Yaitu bagian dari suatu merek yang dikenal tetapi tidak dilafalkan seperti simbol, desain, atau semacamnya.

d. Merek dagang (Trademark)

Yaitu merek atau bagian dari suatu merek yang mendapatkan perlindungan hukum, karena mampu memperoleh hak eksklusif penjual untuk menggunakan nama mereka atau tanda merek.

e. Hak cipta (Copyright)

Yaitu hak sah untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual bahan dan bentuk tulisan, musik, atau karya seni.

3. Syarat-syarat Merek yang Baik

Keputusan pemberian merek terhadap suatu produk memerlukan pertimbangan tertentu agar merek dapat diterima dengan baik. Adapun syarat-syarat merek yang baik menurut Aaker (1991: 196) adalah:

a. Mudah dihapal dan diingat.

b. Menunjukan kelas produk tertentu c. Mendukung sebuah slogan atau symbol

d. Menunjukan asosiasi-asosiasi yang, diinginkan tanpa menjadi bosan atau sepele.

e. Nama tersebut sebaiknya otentik, bisa dipercaya, dan menyenangkan serta tidak menyentuh harapan-harapan yang salah.

f. Istimewa, nama itu seharusnya tidak menimbulkan kebingungan terhadap nama-nama pesaing lain.

(31)

Kriteria merek yang baik juga disampaikan oleh Kotler (1991- 451) diantara lain adalah:

a. Merek harus menunjukan suatu ciri-ciri produk seperti manfaat dari mutu suatu produk.

b. Merek harus menyarankan ciri-ciri produk seperti kemampuan dari warna pada produk.

c. Merek harus mudah diucapkan, dikenali, dan diingat. d. Merek harus menarik perhatian.

e. Merek harus punya kekhasan dan unik.

f. Merek harus tidak memiliki arti yang buruk dinegara lain dan bahasa lain.

g. Merek harus terdaftar dan memenuhi kriteria dalam Undang- Undang Merek Dagang.

Sedangkan menuru Arnold (4992: 16) sebuah merek sebaiknya: terdiri dari unsur fisik yang unggul, rasional, dan daya tarik emosional. Sehingga merek memiliki tampilan yang istimewa dan berkepribadian yang jelas sehingga memberikan keuntungan nilai-nilai tersendiri bagi konsumen.

4. Manfaat Merek

(32)

Pride dan Ferrel (1995: 326) memberikan penjelasan mengenai manfaat merek bagi masing-masing konsumen dan produsen, adalah: a. Bagi Konsumen :

a) Membantu untuk mengidentifikasikn produk tertentu yang mereka sukai atau tidak sukai sehingga mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk membeli suatu produk.

b) Membantu dalam mengevaluasi, terutama ketika mereka tidak mampu menilai ciri-ciri produk. Dengan demikian mereka dapat melambangkan tingkat mutu tertentu bagi pembeli.

c) Membantu mengurangi resiko ketika membeli suatu produk. d) Menawarkan imbalan psikologis yang berasal dari pemikiran

sebuah merek yang merupakan simbol status. b. Bagi Produsen:

a) Mengidentifikasikan produk-produk yang membantu pengulangan pembelian menjadi lebih mudah bagi pembeli.

b) Membantu dalam memperkenalkan suatu produk baru,

c) Membantu usaha-usaha promosi, karena promosi setiap produk yang bermerek serupa.

(33)

keuntungan yang dimilikinya adalah bahwa merek tersebut menggantikan ketidaktentuan menjadi usaha yang sungguh-sungguh dalam menganalisa pilihan diantara kategori produk yang sama Konsumen akan tidak menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperlakukan setiap pembelian sebagai pembelian pertama kalinya dimana dengan memilih merek tertentu, konsumen dapat menghemat waktu dan melakukan pilihan yang bebas resiko dan dapat diandalkan.

C. Pemberian Merek Asing (Foreign Branding)

Keputusan pemberian merek pada suatu produk harus dipilih secara hati-hati, baik itu untuk merek dalam bahasa asing ataupun tidak. Hal ini dikarenakan suatu merek dapat memberikan asosiasi positif ataupun negatif terhadap produk yang nantinya akan berpengaruh pada penerimaan dan evaluasi produk oleh konsumen. Dan dalam pemberian merek asing akan melekatkan citra dari negara asal bahasa dengan produk.

1. Definisi Merek Asing.

Menurut Leclerc, Schmitt, dan Dube (1994): "Foreign Branding is the strategy of spelling or pronouncing a Brand name in a foreign

language”

Arti definisi tersebut, pemberian merek asing adalah strategi pengejaan atau pengucapan sebuah merek kedalam bahasa asing.

Definisi lain yang dipaparkan oleh Aaker (1996: 82): "One more strategic option is to associate one's Brand with a country or region that

(34)

Definisi tersebut memiliki arti bahwa salah satu pilihan strategi adalah menghubungkan sebuah merek dengan suatu Negara atau kawasan yang akan menambahkan kredibilitas merek tersebut. Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa merek asing adalah pengejaan ataupun pengucapan sebuah merek dalam bahasa suatu Negara dan menghubungkan dengan sebuah Negara atau kawasan tempat bahasa asing tersebut berasal yang dapat menambah kredibilitas merek tersebut.

2. Tujuan Pemberian Merek Asing

Melihat hubungan antara pemberian merek asing dengan persepsi yang akan ditimbulkan, maka pemberian merek dalam bahasa asing memiliki tujuan tertentu seperti yang telah dipaparkan oleh Charmasson (1988: 157) sebagai berikut:

a. Menciptakan citra produk

Dengan menggunakan bahasa asing dari suatu negara, maka akan memberikan persepsi bahwa produk tersebut diproduksi oleh negara tersebut atau berhubungan dengan negara tersebut Sehingga citra yang ditimbulkan produk akan berhubungan dengan citra dimana bahasa Negara tersebut berasal.

b. Meningkatkan kualitas Produk

(35)

c. Menciptakan keistimewaan

Merek dengan bahasa asing biasanya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan merek-merek lain. Sehingga produk dapat berkesan lebih istimewa dan konsumen akan merasa lebih bangga apabila merek tersebut menggunakan bahasa dari Negara yang memang memiliki kelebihan dalam memproduksi produk tersebut. 3. Fungsi Merek Asing

Menurut Aaker (1991: 162), merek asing mempunyai beberapa fungsi yang antara lain adalah:

a. Membantu Penyusunan Informasi

Dengan menggunakan merek berbahasa asing, maka akan membantu konsumen untuk mengikhtisarkan sekumpulan fakta dan diakses. Sebuah merek asing juga dapat memberikan informasi yang padat bagi konsumen, mempengaruhi pengingatan kembali atas informasi terutama pada saat konsumen melakukan pembuatan keputusan pembelian.

b. Menciptakan Perbedaan

Sebuah merek asing dapat menjadi dasar penting dalam usaha membedakan dan memisahkan antara suatu merek dengan merek lainnya. Perbedaan ini juga dapat menjadi suatu keunggulan kompetitif atas suatu.

c. Menimbulkan Keinginan Membeli

(36)

asing tersebut memberikan kredibilitas dan rasa percaya diri pada konsumen.

d. Menciptakan Sikap / Perasaan Positif

Merek bahasa asing mampu memberikan rangsangan perasaan positif sesuai dengan asal negaranya. Dan beberapa merek asing yang menciptakan perasaan positif selama pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang lain daripada yang lain.

e. Menjadi Dasar untuk Melakukan Perluasan

Sebuah merek asing mampu menghasilkan dasar bagi perluasan dengan menciptakan rasa kesesuaian antara merek tersebut dengan sebuah produk baru, atau dengan menampilkan alasan untuk membeli produk perluasan tersebut.

4. Kriteria Merek Berbahasa Asing yang baik

Menurut Kepferer (1989: 217), merek berbahasa asing memiliki kriteria sebagai berikut:

(37)

b. Merek harus mudah diucapkan

Dikarenakan tidak setiap orang mampu membaca merek dalam bahasa asing yang seringkali sulit untuk dilafalkan merek yang dipilih sebaiknya mudah untuk diucapkan oleh masyarakat dimana produk tersebut dipasarkan agar masyarakat lebih mudah untuk mengingatnya. c. Bahasa asing yang digunakan sebaiknya berasal dari Negara dengan

citra yang baik

Dikarenakan setiap negara memiliki citra dan budaya yang berbeda, maka ada beberapa Negara memiliki citra yang baik untuk produk-produk tertentu. Sehingga dalam hal ini produsen harus berhati-hati dalam memilih merek berbahasa asing agar merek asing yang digunakan memiliki citra baik dan sesuai bagi produk tersebut sehingga konsumen akan memiliki anggapan bahwa produk tersebut berkualitas dan diharapkan konsumen akan lebih tertarik untuk membeli produk tersebut.

d. Nama yang dipilih memiliki arti sesuai dengan jenis produk

Sebaiknya merek asing yang digunakan memiliki arti. Hal ini dikarenakan konsumen biasanya berkeinginan untuk mengetahui arti sesungguhnya merek tersebut. Sehingga merek yang digunakan sebaiknya sesuai dengan jenis produk agar nama tersebut benar-benar sesuai dengan produknya.

5. Merek Berbahasa Inggris

(38)

mendunia, sehingga telah diketahui oleh sebagian besar konsumen. Selanjutnya, pengetahuan akan merek terdiri atas 2 dimensi: kesadaran merek (seperti ingatan dan pengenalan merek) serta citra atau asosiasi merek (yaitu persepsi merek seperti yang direfleksikan oleh suatu jaringan asosiasi dalam ingatan konsumen) (Keller, 1993)

Hasil riset yang dilakukan oleh Leclerc, Schmitt, dan Dube-Rioux (1989) menyatakan bahwa efek dari penyebutan nama merek berbahasa Perancis atau Inggris terhadap persepsi dari produk cangkokan memiliki tampilan yang seimbang antara Hedonik dan Utilitarian dan menurut Leclerc, Schmitt dan Dube (1994), produk hedonik adalah produk yang dinilai berdasarkan seberapa besar kesenangan yang diberikannya. Sedangkan produk Utilitarian adalah produk yang dinilai berdasarkan atas seberapa besar produk tersebut memberikan fungsi.

Produk yang memiliki merek berbahasa Inggris dan merupakan produk Utilitarian, akan lebih disukai dari pada produk dengan merek Perancis karena, kurangnya keserasian antara tampilan yang disuguhkan oleh.steorotip kebudayaan dengan tampilan produk. Sedangkan merek Perancis dengan asosiasi yang hedonik akan memberikan keserasian persepsi yang lebih baik untuk produk-produk hedonik dibandingkan dengan nama Inggris dan hasilnya akan lebih positif terhadap sikap merek (Brand atittudes)

(39)

menghasilkan sikap merek yang sama positifnya (Leclerc, Scmitt, dan Dube, 1994).

D. Iklan

Setiap pengusaha menginginkan hasil produksinya laku keras di pasaran, maka peusahaannya harus melakukan komunikasi pemasaran. Menurut Shimp, (1997: 107) komunikasi pemasaran adalah proses penyesuaian persepsi anatara komunikator pemasaran dengan konsumen mengenai suatu produk bermerek.

Yang dimaksud dengan penyesuaian persepsi di sini adalah baik komunikator maupun konsumen mempunyai pemahaman dan penilaian yang sama bahwa produk yang ditawarkan itu baik dan cocok untuk dikonsumsi. 1. Definisi Iklan

Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan dengan menunjukan performance (penampilan wajah) atau informasi-informasi suatu produk bermerek melalui media massa, dengan maksud agar orang yang melihat atau mendengarnya memperhatikan dan tertarik untuk membelinya (Wells, et al.1998; 8)

(40)

2. Kekuatan dan Kelemahan Iklan

Menurut Tom Brannan (2004: 52) iklan mempunyai kelemahan dan kekuatan yaitu:

a. Kekuatan Iklan.

Kekuatan iklan dan fungsinya yang serbaguna dapat memberikan beragam kreativitas yang dapat diimplementasikan melalui penglihatan, suara atau bahkan penciuman.

Disamping itu, iklan mampu mengatasi pesan dan proposisi paling kompleks sekalipun. Iklan juga secara luas telah digunakan untuk menjelaskan berbagai argumen yang kompleks atas nama kelompok kepentingan tertentu.

Kekuatan utama dari iklan barangkali terletak pada fakta bahwa iklan dibayar untuk publisitas. Artinya, kita dapat memilih media yang tepat untuk mencapai audiens sasaran, melaksanakan kampanye dan, yang paling penting, menyampaikan pesan secara secara tepat mengenai apa yang kita inginkan.

b. Kelemahan Iklan.

(41)

mengherankan jika pemahaman kita tentang proses penjualan tidak sempurna.

E. Media

Harold D. Laswell (Effendi, 1997: 10) mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan Who says what, in which channel, to whom, with what effect, and which channel?

Laswell menunjukan sebuah kegiatan komunikasi yang menggunakan saluran komunikasi. Saluran komunikasi ini dapat diwujudkan melalui penggunaan media. dalam proses komunikasi primer, komunikator dengan komunikan berhadapan langsung tanpa disela oleh objek lainnya atau media, sehingga efek dari komunikasi dapat diperoleh secara langsung. Sedangkan dalam komunikasi sekunder, proses komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan komunikan terjadi melalui penggunaan alat atau media.

Onong U. Effendi (1997; 18) mengatakan bahwa proses komunikasi sekunder menggunakan media yang dapat digolongkan sebagai media massa dan media nirmassa atau nonmassa. Lebih lanjut Effendy juga menyebutkan contoh media massa: radio, surat kabar, dan film bioskop. Media-media itu dikategorikan sebagai media massa karena memiliki sifat masif atau missal. Adapun contoh media nonmassa adalah: surat, telepon, telegram, poster, spanduk, papan pengumuman, bulletin, majalah, radio amatir.

(42)

poster, sedangkan contoh media dalam ruang adalah selebaran, faksimili, dan surat.

Griffin dan Ebert berkata: “Advertising is a paid nonpersonal communication by identified sponsors to inform an audience about products.” (1996: 523). Advertising tidak menggunakan komunikasi primer, tetapi semua bentuk komunikasi yang menggunakan media sebagai saluran penyampaian pesan, baik ditujukan pada massa, kelompok, atau personal. Dalam kajian advertising dikenal pula istilah media lini-atas (above the line) dan media lini bawah (below the line). Contoh media lini-atas adalah media yang ditujukan pada khalayak ramai seperti televisi, radio, bioskop, dan surat kabar, sedangkan media lini-bawah meliputu poster, banner, folder atau brosur yang ditujukan pada kalangan tetuju atau mungkin juga individu.

1. Karakteristik Media

Beberapa jenis media memiliki karakteristik yang meliputi kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap jenis media, diantaranya:

a. Televisi, jenis media ini memiliki beberapa kekuatan dan kelemahan diantaranya:

• Kekuatan

1. Memiliki daya jangkauan yang cukup luas

2. Memiliki efek suara dan gambar (gambar bergerak) yang secara langsung dapat dilihat.

(43)

• Kelemahan

1. Hanya dapat dilihat dan didengar kembali apabila ada pengulangan siaran.

2. Harga tarif sewa slot iklan memerlukan biaya yang cukup mahal.

b. Radio, kekuatan dan kelemahannya anatara lain:

• Kekuatan

1. Pesan yang disampaikan juga dapat dalam bentuk ulasan 2. Memiliki daya rangsang tinggi

3. Para pendengar dapat berimajinasi melalui suara 4. Harga tarif slot iklan dapat terjangkau

• Kelemahan

1. Hanya terdengar suara

2. Hanya dapat didengar jika siaran diputar kembali 3. Memiliki jangkauan yang terbatas

c. Surat kabar, kekuatan dan kelemahannya antara lain:

• Kekuatan

1. Dapat dibaca dimana saja 2. Dapat dibaca berulang kali

3. Biaya pemasangan relative murah atau rendah

• Kelemahan

1. Memeiliki jangkauan yang terbatas

(44)

d. Majalah, kekuatan dan kelemahannya antara lain:

• Kekuatan

1. Dapat dibaca dimana saja 2. Dapat dibaca berulang-ulang 3. Biaya relatif lebih rendah

4. Kualitas visual cukup tinggi karena mutu kertas lebih baik dari surat kabar

5. Memiliki daya rangsang yang cukup

6. Biaya untuk sewa ruang iklan relative sedang

7. Jika selesai dibaca, biasanya disimpan untuk dibuka kembali kemudian

• Kelemahan

1. Memiliki daya jangkauan yang terbatas 2. Memiliki daya rangsang yang rendah

3. Dibeli jika ada berita yang dapat menarik perhatian.

F. Persepsi

(45)

1. Definisi persepsi

Menurut D. Weils dan prensky (1996: 257): “perception is the process by which an individual select stimuli, organizes information about

select and interprets the information"

Yang artinya: Persepsi adalah suatu proses dimana seseorang memilih stimuli dan mengorganisasikan informasi tersebut, kemudian menginterprestasikannya.

Sedangkan menurut Kotler (2000: 173): "Perception is the process by which an individual select, organizes an interprets information inputs

to create a meaningful picture of the world”.

Artinya: Persepsi adalah sebuah proses yang mencakup dimana seseorang memilih, mengorganisasikan dan menafsirkan masukan infomasi untuk menciptakan sebuah gambaran yang penuh arti.

Definisi persepsi lainnya disampaikan oleh Sciffman dan Lazar (2000: 122) "Perception is defined as the process by which an Individual selects, organizes and interprets stimuli a meaningful and coherenth

picture of the world". Artinya: Persepsi didefinisikan menjadi suatu proses dimana individu menyeleksi, mengorganisasikan, menginterprestasikan stimuli menjadi suatu bentuk yang bermakna dan berarti berhubungan dengan gambaran dunia.

2. Persepsi dan Produk.

(46)

persepsi konsumen terhadap suatu produk. Richardtson dan K. Jain (1994) menyatakan bawa persepsi konsumen terhadap produk dipengaruhi oleh: 1. Tanda Intrinsik

Menampilkan atribut-atribut yang berhubungan secara langsung dengan produk dan tidak dapat dimanipulasi tanpa merubah produk secara fisik. Seperti bahan-bahan yang digunakan.

2. Tanda Ekstrinsik

Merupakan atribut-atribut produk yang tidak memiliki hubungan secara fisik terhadap produk. seperti kemasan.

Sedangkan menurut Morris dan Hallaq (1994: 268) persepsi konsumen terhadap produk dilihat melalui:

1. Tanda Intrinsik yang berupa cita rasa, kinerja, dan kualitas. 2. Tanda Ekstrinsik terdiri atas: harga, merek dan asal negara.

(47)

Tabel 2.1

Perbandingan Atribut Intrinsik dan Ekstrinsik yang mempengaruhi persepsi konsumen

Richardson & K. Jain

Morris & Hallaq A. Zeitham L

INTRINSIK

Berdasarkan teori yang dikemukakan Richarsdson dan K. Jain (1994) bahwa tanda intrinsik dan tanda ekstrinsik yang mempengaruhi persepsi konsumen terdiri atas beberapa dimensi. Untuk lebih jelasnya, beberapa keterangan tentang indicator tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tanda Intrinsik

Merupakan semua bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi produk tersebut, berhubungan langsung dengan produk dan tidak merubah bentuk fisik dari produk. dimana bahan-bahan tersebut menjadi bahan-bahan baku dari produk yang dikonsumsi. 2. Tanda Ekstrinsik

(48)

• Harga

Menurut Stanton (1994: 240) definisi harga adalah: "Price is the money (plus some goods) that is needed to acquire some

combinations. of product and, its accompanying service."

Artinya harga merupakan jumlah uang (ditambah sejumlah barang) yang diperlukan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari suatu produk dan pelayanannya.

Kotler (1996: 3O) berpendapat bahwa: “price is amount of money charged for a product or service, or the sum of the value

that consumer exchange for the benefit of having or using the

product or service." Definisi tersebut memiliki pengertian bahwa harga adalah sejumlah uang yang dikenakan untuk suatu produk atau jasa, atau jumlah nilai yang dibayar oleh konsumen atas keuntungan dari pemilikan atau penggunaan dari produk atau jasa tersebut.

• Merek

Dari ketiga definisi yang dikemukakan Kotler (2000:404) Aaker (1991: 7) dan Arnold (1992: 247) dapat disimpulkan pengertian dari mereka adalah: nama, istilah, tanda, atau kombinasi dari semuanya itu, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa, sehingga dapat membedakannya dari pesaing.

• Kemasan

(49)

and producing the container for a product." Yang artinya, pengemasan mencakup semua kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau pembungkus untuk suatu produk. Stanton (1994: 273) menerangkan bahwa kemasan adalah

"Packaging which consits of all the activities of designing and

producing the countainer or wrapper for the product.” Yang artinya bahwa pengemasan merupakan kelompok aktivitas secara umum dalam suatu perencanaan produk yang melibatkan kegiatan merancang dan membuat wadah atau tempat bagi suatu hasil produk.

3. Persepsi dan Strategi Pemasaran

Informasi merupakan bahan utama yang diperlukan para pemasar untuk mempengaruhi konsumen. Oleh karena itu, pengetahuan dari informasi merupakan hal-hal yang sangat perlu dalam strategi pemasaran. Di dalam strategi pemasaran terdapat tujuh faktor khusus yang digunakan, antara lain:

a. Strategi Pemasaran melalui Media

(50)

pemasaran tersebut dapat dimengerti atau ditangkap dengan baik oleh konsumen.

Para konsumen sangat selektif untuk memilih kategori produk yang sangat cocok dengannya dan akan mempertimbangkan berbagai informasi produk yang akan dipilihnya. Dan dalam situasi pemasarannya, para pemasar harus menemukan media yang cocok untuk target pemasarannya. Iklan merupakan alat yang tepat untuk menyampaikan maksud atau pesan dalam suatu produk dan media sangat berperan penting dalam hal ini. Salah stu media yang menunjukan eksistensinya adalah iklan melalui majalah atau surat kabar, karena pesan atau maksud yang disampaikan melalui media majalah atau surat kabar jelas menarik. Dan target-target pemasaran melalui media dapat diklasifikasikan berdasarkan umur, suku, kelas sosial, dan berdasarkan minat seseorang.

b. Strategi Pemasaran melaui Pedagang Kecil (Retail)

(51)

melihat bahwa toko tersebut merupakan toko serba ada. Dengan cara seperti ini dapat meningkatkan total penjualan. Dari segi penempatan atau pendirian sebuah toko pun sangat berpengaruh, jika pendapatan ingin tinggi maka penempatan sebuah toko ditempat yang strategis. Selain penempatan atau pendirian sebauh toko, harga, serta kualitas dari sebuah merek (brand) juga sangat mempengaruhi target penjualan.

c. Iklan dan Desain Kemasan

(52)

inovasi terhadap desain kemasan tersebut. Terdapat beberapa strategi untuk membuat desain kemasan menjadi lebih menarik, salah satunya adalah memanfatkan karakteristik yang dapat memacu sebagi contoh: membuat desain lebih berwarna dan disertai dengan gambar animasi. Yang kedua adalah dapat menyampaikan pesan dan informasi dengan jelas.

Iklan juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk meningkatkan target penjualan. Untuk menarik perhatian para konsumen para pembuat iklan biasanya menggunakan artis atau bintang iklan dalam mempromosikan suatu produk dan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi ketertarikan konsumen terhadap sebuah iklan.

d. Peraturan dari Pesan dalam Pemasaran

Banyak agen-agen iklan yang lebih mengarahkan pesan suatu produk dalam iklan kepada penafsiran dan penggabungan terhadap suatu hal yang berkaitan.

e. Merek-Merek yang Berkembang

(53)

perusahaan biasanya ingin meningkatkan keuntungan dari ketertarikan konsumen terhadap produk yang lama.

f. Evaluasi dalam Periklanan

Periklanan yang sukses harus menjalankan 4 hal penting yaitu: a) Penampilan : harus dapat ditangkap secara fisik oleh konsumen b) Perhatian : harus dapat diperhatikan oleh konsumen c) Penafsiran : harus benar-benar dapat dimengerti d) Ingatan : harus benar-benar tersimpan dalam ingatan Kelengkapan dari periklanan harus diteliti secara menyeluruh, banyak dari percobaan yang terpaku kepada perhatian serta ingatan. Kekuatan dalam menarik perhatian konsumen terdapat pada perdagangan dan desain kemasan. Para pelaku pasar biasanya meneliti penafsiran konsumen dan ketertarikan mereka terhadap suatu barang.

4. Hubungan antara Persepsi dan Merek berbahasa Inggris

Persepsi konsumen dapat tercipta melalui tanda Intrinsik dan ekstrinsik dari atribut-atribut atau produk tertentu. Mereka telah menjadi bagian dari tanda ekstrinsik dari suatu produk. Sehingga

merek memiliki kaitan terhadap terbentuknya suatu persepsi konsumen terhadap produk. Menurut Morris dan Hallaq (1994: 268) tanda

(54)

Sehingga merek berbahasa Inggris yang baik dan menjadi bagian dari tanda ekstrinsik dapat memberikan pengaruh terhadap persepsi konsumen baik secara negatif maupun positif.

Seperti yang telah dipaparkan oleh Mc'Guire (1976), bahwa kedua tanda intrinsik dan ekstrinsik dapat memberikan informasi perspektif pada konsumen sehingga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk tertentu.

Gambar 2.2

Pengaruh Intrinsik dan Ektrinsik terhadap persepsi konsumen

G. Penelitian Terdahulu

Boonghee Yoo, Neveen Donthu, Sungho Lee, (2000) “An Examination of Selected Marketing Mix Elements and Brand Equity”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa seringnya promosi harga, seperti potongan harga, terkait pada ekuitas merek yang rendah, sementara pengeluaran pengiklanan yang besar, harga yang tinggi, citra took yang baik, dan intensistas distribusi yang tinggi terkait dengan pada ekuitas merek yang

Intrinsik

• Citarasa • Kinerja

• Kualitas

Ektrinsik

•Harga

•Merek

•Kemasan

•Asal

negara

(55)

tinggi. Ekuitas merek memberikan keunggulan kompetitif yang bertahan karena menciptakan penghalang kompetitif yang berarti.

Gil dan Sanchez (1997), melakukan studi dengan judul “Consumers preferences for wine attributes: a conjoint approach”. Hasil studi ini menunjukan bahwa konsumen di daerah Navarra preferensi utamanya pada asal produk anggur, preferensi yang kedua pada harga, dan yang ketiga pada tahun pembuatan. Konsumen di daerah Aragon preferensi utamanya juga pad asal produk, tetapi preferensi kedua pada tahun pembuatan dan ketiga pada harga. Konsumen di dua daerah ini memiliki perbedaan perilaku yang signifikan berkenaan dengan preferensinya terhadap harga dan asal produk anggur.

Leclerc, Bernd H. Schmitt, Dube (1994) Melakukan studi dengan judul “Foreign Branding and its Effects on Product Perceptions an Attitudes”. Hasil study ini menyatakan bahwa efek dari penyebutan nama merek berbahasa perancis dan inggris terhadap persepsi dari produk cangkokan memeliki tampilan yang seimbang antara Hedonik dan Utilitarian. Monjardino dan Monteiro (2000) melakukan studi dengan judul

“Conjoint measurement of preferences for traditional cheeses in Lisbon”.

(56)

H. Kerangka Pemikiran

Dalam rangka memenangkan kompetisi dipasaran, pemberian merek terhadap suatu produk akan memberikan ciri khas tersendiri. Merek pada produk memberikan identitas bagi produk, informasi bagi konsumen dan kemudahan dalam mengenali produk. Mereka juga memberikan gambaran secara umum terhadap produk. Pada akhirnya, dalam pemberian merek produsen dihadapkan pada masalah apakah menggunakan merek dalam bahasa asing dan media apa untuk memasarkan kepada konsumen.

Apabila merek dalam bahasa asing, iklan dan media nya sudah terpilih, maka nama merek iklan dan media nya akan disesuaikan dengan produk tersebut. Sehingga adanya penggunaan merek dalam bahasa asing tertentu diharapkan memberikan citra berkualitas / baik terhadap produk.

Dengan demikian, pemberian merek berbahasa asing iklan dan media akan memberikan persepsi tertentu bagi konsumen. Dimana konsumen juga dapat melihat, menilai melalui iklan dan media akan produk tersebut. Secara singkat, uraian dari kerangka pemikiran diatas dapat dilihat pada bagan berikut ini:

Pemberian Merek Bahasa Asing

Persepsi Konsumen Iklan

(57)

I. Perumusan Hipotesa

Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya maka pada penelitian ini digunakan Hipotesis sebagai berikut:

Ho1: Tidak Terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian merek berbahasa asing terhadap persepsi konsumen produk minuman kesehatan Vita Charm.

Ha1: Terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian merek terhadap persepsi konsumen konsumen produk minuman kesehatan Vita Charm. Ho2: Tidak Terdapat pengaruh yang signifikan antara iklan terhadap persepsi

konsumen konsumen produk minuman kesehatan Vita Charm.

Ha2: Terdapat pengaruh yang signifikan antara iklan terhadap persepsi konsumen konsumen produk minuman kesehatan Vita Charm.

Ho3: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara media terhadap persepsi konsumen produk minuman kesehatan Vita Charm.

(58)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

(59)

B. Metode Penentuan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang mengkonsumsi produk minuman kesehatan Vita Charm pada saat penelitian berlangsung dan pelanggan yang berlangganan produk tersebut.

2. Sampel

Dalam penelitian ini menggunakan metode sampel probability yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Metode yang digunakan adalah simple random sampling yaitu pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa melihat strata yang ada di dalam itu. Maka sampelyang diambil adalah 100 responden, sesuai dengan teori.

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan penelitian ini diperlukan data-data yang dapat memberikan pemecahan dari permasalahan yang telah ditentukan pada bab sebelumnya. Berdasarkan cara perolehan dari data tersebut jenis data yang dipergunakan adalah:

1. Data Primer, diperoleh melalui survey lapangan yaitu dengan cara: a. Wawancara (Interview)

(60)

Yaitu dengan cara menyebarkan daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab dengan jumlah pertanyaan 17 pertanyaan, sebelum dilakukan penyebaran kepada 100 responden terlebih dahulu dilakukan try out untuk menguji pertanyaan-pertanyaan mana saja yang valid.

D. Metode Analisis

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan instrument yang disusun berbentuk kuesioner yang di isi oleh para responden. Kuesioner diberikan kepada pelanggan produk minuman kesehatan Vita Charm selesai transaksi pada saat penelitian berlansung. Isi kuesioner disusun berdasarkan indikator yang berasal dari konstruk dan sintesis dari masing-masing variabel penelitian.

Pedoman kuesioner disusun sesuai dengan jumlah variabel penelitian, yaitu:

1. Merek Berbahasa Asing 2. Iklan

3. Media

4. Persepsi Konsumen

(61)

rendah) menggambarkan suatu jawaban negatif, sedangkan ujung kanan (dengan angka besar) menggambarkan positif. Seperti:

Tabel 3.1 Skala Likert Sangat Tidak

Setuju

Tidak Setuju Ragu Setuju Sangat

Setuju

Selanjutnya data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dimana hasil analisisnya akan dipresentasikan dalam bentuk tabel. Hasil dalam tabel dianalisis berdasarkan variabel merek berbahasa asing, iklan dan media yang kemudian dapat dilihat pengaruhnya kepada persepsi konsumen. Setelah dilakukan perhitungan atas kuesioner pengolahan data kuantitatif yang didapat mengenai kualitas pelayanan dan kualitas produk terhadap kepusan pelanggan, maka sebelum di uji statistik di atas terlebih dahulu data yang diperoleh harus dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Iqbal Hasan (2002:77)

1. Uji Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas

(62)

dengan mengkorelasikan antara skor yang diperoleh dari masing-masing item yang berupa pertanyaan ataupun pertanyaan dengan skor totalnya.

Skor total ini merupakan nilai yang diperoleh dari hasil penjumlahan semua skor item. Korelasi antara skor item dengan skor totalnya harus signifikan berdasarkan dimensi konsep berkorelasi dengan skor totalnya maka dapat disimpulkan bahwa alat pengukur tersebut valid.

b. Uji Reliabilitas

Apabila suatu alat pengukuran telah dinyatakan valid, maka tahap berikutnya adalah mengukur reliabilitas dari alat. Sebagai ukuran yang menunjukkan konsistensi dari alat ukur dalam mengukur gejala yang sama dilain kesempatan. Untuk melihat reliabilitas, maka dihitung alpha cronbach masing-masing instrument. Variabel-variabel tersebut dikatakan reliable bila cronbach alpha nya memiliki nilai lebih besar 0,60 (Purbayu 2005:251). Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat konsistensi alat ukur yang akan digunakan yakni apakah alat ukur tersebut akurat, stabil dan konsisten. Teknik yang digunakan adalah koefisien alpha cronbach dengan rumus:

(63)

2 i

S = Jumlah varian dari skor soal

2 t

S = Jumlah varian dari skor total

Reliabilitas suatu instrument dapat diterima jika memilki koefisien alpha cronbach minimal 0, 60 yang berarti bahwa instrument tersebut dapat digunakan sebagai pengumpulan data yang handal yaitu hasil pengukuran relatif konsisten jika dilakukan pengukuran ulang.

2. Uji Asumsi Klasik

Apabila menggunakan OLS (Ordinary Least Square) dalam ekonometrika dijelaskan bahwa peniliti tidak dapat menghindarkan diri dari penyimpangan-penyimpangan asumsi klasik. Uji asumsi menggunakan SPSS 11.5 for windows.

1. Uji Normalitas

Pengujian normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Uji ini merupakan pengujian yang paling banyak dilakukan untuk analisis statistic parametric. Penggunaan uji normalitas karena pada analisis statisticparametic, asumsi yang harus dimiliki oleh data adalah bahwa data tesebut terdistribusi secara normal. Maksud data terdistribusi secara normal adalah bahwa data akan mengikuti bentuk distribusi normal. Bahwa data memusat pada nilai rata-rata dan median. Untuk mengetahui bentuk distribusi data kita bisa menggunakan grafik distribusi.

(64)

Uji asumsi ini berarti bahwa antara variabel independent yang satu dengan independent yang lain dalam model regresi tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna. Suatu data terbebas dari multikolinearitas jika nilai Variance Inflation Factor

(VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0, 1. 3. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi merupakan pengujian asumsi dalam regresi dimana variable dependent tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri. Maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari variable

dependent tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik

nilai variabel sebelumnya atau nilai periode sesudahnya. Untuk mendeteksi gejala autokorelasi kita menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Uji ini menghasilkan nilai DW dihitung (d) dan nilai DW tabel(dL&dV).

Hipotesisnya adalah :

Ho : Tidak ada autokorelasi, jika Durbin Watson -2 sampai dengan 2

Ha : Ada autokorelasi positif/negatif jika Durbin-Watson <-2 maka

terjadi autokorelasi positif, dan jika DW >2 maka terjadi

autokorelasi negatif

4. Uji Heteroskedastisitas

Uji asumsi ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam

sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual

antara satu pengamatan dan pengamatan yang lain. Dalam regresi,

(65)

residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tidak

memiliki pola tertentu. Pola yang tidak sama ini ditunjukkan dengan

nilai yang tidak sama antar satu varians dari residual. Gejala varians

yang tidak sama ini disebut dengan gejala heterokedastisitas,

sedangkan adanya gejala varians residual yang sama dari suatu

pengamatan ke pengamatan yang lain disebut dengan

heterokedastisitas. Salah satu uji untuk menguji heterokedasitisas ini

adalah dengan melihat penyebaran dari varians residual.

3. Analisis Regresi Berganda

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik analisis regresi berganda (Multiple Regression). Analisis regresi

berganda adalah analisis tentang hubungan antara satu dependent variable

dengan dua atau lebih independent variable (Arikunto 2002:56).

Persamaannya yaitu:

Y = a+b1x1+b2x2 +b3X3…….error

Keterangan:

Y = Variabel terikat (persepsi konsumen)

a = Konstanta (harga y bila x = 0)

b = Koefesien regresi yang menunjukan angka peningkatan atau

penurunan variabel dependen yang didasarkan pada hubungan

nilai variabel independent.

X1= Variabel bebas (merek berbahasa asing)

X2 = Variabel bebas (iklan)

X3 = Variabel bebas (media)

(66)

Metode pengujian ini untuk menguji koefisien regresi secara

parsial dari variabel bebas terhadap variabel terikat dengan hipotesis

yang telah dikemukakan oleh Subiyanto (2000:203) sebagai berikut:

Jika:

Jika sig t > 0.05 maka Ha ditolak dan Ho diterima, berarti secara

parsial tidak ada pengaruh antara variabel bebas dan terikat.

Jika sig t < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, berarti secara

parsial ada pengaruh antara variabel bebas dan terikat.

2. Uji F

Digunakan untuk mengetahui pengujian variabel bebas secara

simultan menurut Suprato (2000:267), langkah-langkah uji F-statistik

adalah sebagai berikut:

a. Hipotesis nol dan hipotesis alternatife yang digunakan yaitu:

Ho : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara merek asing, iklan

dan media terhadap persepsi konsumen pada produk minuman

kesehatan Vita Charm.

Ha: b1 0, artinya ada pengaruh antara merek asing, iklan dan

media terhadap persepsi konsumen pada produk minuman

kesehatan Vita Charm.

Tingkat signifikan yang digunakan yaitu = 0.05

(67)

)

R = Koefisien regresi yang ditemukan

k = Jumlah variabel bebas

n = Jumlah sampel

F = Fhitungyang selanjutnya diuji dengan Ftabel

Jika sig F > 0,05 maka Ha ditolak dan Ho diterima, berarti

tidak ada pengaruh antara variabel bebas dan terikat.

Jika sig F < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti

ada pengaruh antara variabel bebas dengan terikat.

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan dari rumusan hipotesis, variabel

penelitian yang akan dianalisis dikelompokkan kedalam empat variabel. Yakni

variabledependent (Y) dan variableindenpendent (X1, X2 dan X3).

1. Variabel terikat (Variable Dependent)

Yaitu variabel terikat dalam penelitian ini adalah Persepsi

konsumen dimana merek asing, iklan dan media yang baik dan yang

dirasakan konsumen akan mempengaruhi persepsi konsumen. Variabel

terikat di konotasikan dengan huruf (Y).

2. Variabel bebas (Variable Independent)

Yaitu variabel bebas dalam penelitian ini adalah merek asing, iklan

dan media yang di konotasikan (X1), (X2) dan (X3).

Gambar

Tabel 2.1 Perbandingan Atribut Intrinsik dan Ekstrinsik
Gambar 2.2 Pengaruh Intrinsik dan Ektrinsik terhadap persepsi konsumen
Tabel 3.1 Skala Likert
tabel(
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menganalisis pengaruh variable pesan iklan yang terdiri dari Isi Iklan (X1), Struktur Iklan (X2), Format Iklan (X3), Sumber Iklan (X4), Durasi Iklan (X5) dan Pengaturan

Analisis Pengaruh Merek, Persepsi Harga dan Daya Tarik Iklan Terhadap Minat Membeli Konsumen Pada Produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Galon Merek Barokatul

Secara simultan variabel persepsi konsumen yang terdiri dari harga (X1), produk (X2), pelayanan (X3), kenyamanan berbelanja (X4), kualitas produk (X5) berpengaruh simultan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi harga (X1), kualitas produk (X2), citra merek (X3) dan word of mouth (X4) terhadap keputusan

Variabel bebas adalah masing-masing Kepuasan Konsumen (X1), Kepercayaan pada Merek (X2) sedangkan variable terikat adalah Loyalitas Konsumen (Y).Dalam penelitian menggunakan

Berdasarkan definisi diatas, persepsi konsumen melihat suatu produk yaitu kafe dengan merek lokal dan kafe dengan merek asing di Kota Bandung dalam hal psikologis berdasarkan

Tabel 11 Uji Reliabilitas Variabel Cronbach Alpha N of Items Kesimpulan Kualitas Produk X1 0,721 7 Reliabel Citra Merek X2 0,740 7 Reliabel Persepsi Harga X3 0,740 8 Reliabel

Pada Variabel Harga X1, Promosi X2, Distribusi X3, Citra Merek X4 dan Kualitas Produk X5 berpengaruh secara simultan terhadap variabel Y yaitu Keputusan Pembelian Konsumen Teh Botol