PENGARUH PAKAN DEUGAN KAOAR PROTEIN DAN
RASlO ENERGI PROTEIN YANG SERBEDA TERHADAP
EFlSlENSl PAKAN DAN PERTUMBUHAN BENIH
IKAN BAUNG (Mystus
nemurus
C.V)
OLEH :
AGUS KURNIA
PROGRAM STUD1 lLMU PERAIRAN
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
AGUS KURNIA. Pengaruh Pakan dengan Kadar Protein dan Rasio Energi
Protein yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Baung (Mystztb~ nemurus, C. V). Dibawah bimbingan Dr. Ir. )I. Ridwan Affandi, DEA dan Dr. Ir. Ing Mokoyinta, MS
sebagai anggota komisi.
Tujuan genelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan rasio energi
protein yang tepat untuk efisiensi pakan dan pertumbuhan benih ikan baung (Mystus
nemurus C.V). Ikan yang digunakan pada percobaan ini mempunyai bobot individu rata-
rata 5 3k1.3 g dengan padat penebaran 10 ekor per akuarium. Pakan yang digunakan
sebagai pakan percobaan terdiri atas 6 jenis yakni A(Protein 30%; C/P 9.6)- B(29.1%; C/P 11.5), C(37.4% ; C/P 8.9), D(38.2% ; C/P l l . O ) , E(46.7% ; Cff 8.5) dan F(47.0 ;
C/P 9.8). Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali sehari pada kondisi satiasi (sampai ikan kenyang). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap
dengan 3 uIangan. Penimbangan bobot tubuh dilakukan tiap 10 hari sekali. Lama
pemeliharaan adalah 40
hari.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa total energi pakan yang tinggi membatasi
jumlah pakan yang masuk. Hal ini mengakibatkan nutrien berupa protein yang masuk
juga rendah sehingga retensi protein rendah. Sebaliknya energi pakan yang rendah
menyebabkan konsumsi pakan yang tinggi sehingga energi yang masuk dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pokok ikan sehingga protein dapat digunakan secara efisien
untuk pertumbuhan Hal ini dibuktikan dengan rendahnya ekskresi ammonia yang
Berdasarlcan evaluasi terbdap parameter-parameter diatas bahwa pakan dengan
kadar protein 29.1% dan rasio energi protein 11.5 kkal DE/g pakan menghasilkan
efisiensi pakan dan laju pertumbuhan tertinggi. Hal yang sama juga dapat dicapai dengan
meningkatkan kadar protein sampai 37.4%, namun rasio protein energinya diturunkan
SURAT
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul :
PENGARUH PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN DAN RASIO ENERG1 PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP EFISIENSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN BENLH IKAN BAUNG (Mystus nemurus, C V)
Adalah benar rnerupakan basil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan.
Semua sumber dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat
diperiksa kebenarannya
PENGARUH PAKAN DENGAN KADAR PROTERY DAN
RASIO
ENERGI PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP
EFlSIENSI
PAKAN
DAN PERTUMBUHAN BENIH
IKAN BAUNG
(Mysus
nemurus
C-V)
AGUS KURNIA
99449
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi nmu Perairan
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANUN BOGOR
Tesis : Pengamh Pakan Dengan Kadm Protein dan Rasio Energi Protein Yang Berbeda Terhadap Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan Benih Ikan Baung (Mystus nemurus C.V)
N a m a : Agus Kurnia
Nomor Pokok : 99449
Program Studi : Ilmu Perairan
Menyetujui ,
1 . Komisi Pembimbing
Dr. Ir H n andi DEA
,w
bk 6%1-I
Dr. Ir. Ing Mokoginta, MS
Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi
Ilmu
Perairan,
Dr. Ir. Kusman Sumawidiaia. MSc
Tanggal LuIus : 23 Januari 2002
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bau-Bau Kecamatan Wolio Kabupaten Buton pada tanggal
2 Agushls 1970 dari pasangan Drs. Mauso Patu dan Tinah Samahu. Pendidikan sarjana ditempuh pada Jurusan Sudidaya Perairan, Fakdtas Perikanan Institut Pertmian Bogor,
lulus tahun 1994. Pada tahun 1999, penulis diterima di Program Studi Ilmu Perairan pada
Program Psscasarjana JPB, clan menamatkannya pada bulan Januari 2002. Beasiswa
pendidikan pascasarjana diperoleh dari BPPS Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Jurusan Perikanan Fakultas Oertanian
Universitas Haluoleo Kendari sejak tahun 1996.
Pada tanggal 11 Agustus 1996 penuEs menikah dengan Mi Hafsah, S.H, dan
telah dikaruniai tiga orang anak yakni Mutiah Kholisah, Muhammad Fatih Fawwaz dan
PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah S.W T atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul PENGARUFI PAKAN
DENGAN KADAR PROTEIN DAN RASIO ENERGI PROTEIN YANG
BERBEDA TERHADAP EFISXENSI PAKAN DAN PERTUMBURAN BEN=
IKAN
BAUMG (Mys-s nemunrs,C-V).
Bertempat di Laboratorium Nutrisi Ikan Kolam Percobaan Babakan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPBPada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Tr Ridwan Mandi, DEA dan Ibu Dr Ir. Ing Mokoginta, MS, atas segala bimbingan selama penelitian dan penulisan tesis ini. Ucapan
terima kasih pula penulis sampaikan kepada proyek BPPS Di jen Pendidikan Tinggi dan Universitas Haluoleo. Sujud bakti dan ungkapan terima kasih penulis talc lupa haturkan
kepada ayahanda, ibunda dan keluarga tercinta yang te1ah mernberikan do'a dan
memotivasi penuiis dalam menyelesaikan studi pada program pascasarjana
IPB
Terimakasih pula penulis persembahkan kepada isteri, an&-anakku terkasih yang telah
mendapingi penulis dalam suka dan duka selama pendidikan. Ucapan teima kasih pula
buat teman-teman seangkatan terutama, pak Natsir M.Si, pak EIeri, M.Si, pak Usman
M,Si, ibu Ani, ibu Yanti,M.Si, ibu Rina, M.Si, pak M.Siara, M.Si, pak Fery, M,Si,
Kaspul, W S i dan semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan pendidikan
ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya pada
kita semua Amin.
Bogor, Januari 2002
DAFTAR
ISI
...
DAFTAR TABEL ... vulDAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN ...
.
.
... 1 Latar Belakang. .
... 1Tujuan Penel~t~an . . . 2 Kegunaan Penelitian ... 2 Pendekatan Pemecahan Masalah . . . 3 Hipotesis ... 4 TIIVJAUAN PUSTAKA ...
...
Aspek Biofogi
Kebutuhan Protein dan Energi ...
Kebutuhan Energi Non-Protein ... ...
Kebutuhan Lemak
Kebutuhan karbohidrat ...
Ekskresi Amonia ...
Koefisien Respirasi ...
BAHAN DAN METODE PENELITLAN ...
Tempat dan Waktu Penelitian ... Pakan Uji ...
Pemeliharaan Ikan ... Analisis Proksimat Pakan dan Ikan ...
... Fengukuran Konsurnsi 0 ~ . Produksi COz dan Ekskresi Amonia Peubah Yang Diukur ...
Analisis Data ...
DAFTAR TABEL
Nomor Teks
1 . Kompasisi Pakan Percobaan ...
... 2 . Komposisi Proksimat Pakan Percobaan
3
.
Rata.rata. Konsumsi Pakan, Retensi Protein, Retensi Lemak ... Laju Patumbuhan Harian dan Efisiensi Pakan4 . Kornpasisi Proksimat Tubuh Ikan Baung Pada Awal dan Akhir Percobaan ...
5 . Koefisien Respitasi dan Ekskresi Amonia Rata-Fbta Benih Ikan . . . ...
Baung Pada Setiap Perlakuan
..
Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Teks
1 . Prosedur anaiisis kadar protein pakan dan tubuh ikan (metode semi
mikro Kjeldahl.Takeuchi. 1988) ...
2 . Prosedur analisis kadar Lernak pakan dan tubuh ikan (metode ether ekstraksi Soxhlet; Takeuchi. 1988) . . .
3 . Prosedur analisis kadar abu pakan dan tubuh ikan (Takeuchi. 1988)
...
4 . Prosedur analisis seritt kasar pakan (Takeuchi. 1988)
5 . Prosedur analisis kadar air pakan dm tubuh ikan (Takeuehi. 1988) 6 . Prosedur analisis amonia (metode Phenate; T a m et a1
.
... dalam Ming, 1985)
...
7 . Prosedur analisis karbondioksida (COz) bebas
... 8 . Prosedur analisis oksigen (02) dengan metode titrimetrik
... 9 . Hasil analisis proksimat kasein, gelatin dan dekstrin
10 . Pertumbuhan biomassa ikan baung pada tiap perlakuan selama
.
.
Penel~tlan ...
1 1
.
Konsumsi pakan benih ikan baung pada setiap perlakuan selama perwbaan ....
12 Analisis ragam konsumsi pakan ikan baung ...
... 13 . Retensi protein ikan baung pada setiap ulangan tiap perlakuan
14 . Analisis ragam retensi protein ikan baung ...
15 . Retensi lemak benih ikan baung pada setiap perlakuan selama perwbaan ...
.
17 . Laju pertumbuhan harian benih ikan baung pada setiap perlakuan selama percobaan ...
18
.
Analisis ragam laju pertumbuhan harian ikan baung ... 19 . Efisiensi pakan benih ikan baung pada setiap perlakuan selamapercobaan ...
20 . Analisis ragam efisiensi pakan ikan baung ...
2 1 . Laju konsumsi Oz setiap ulangan setiap perlakuan ... 22 . Laju produksi COz setiap ulangan setiap perlakuan ...
23 . Laju ekskresi amonia setiap ulangan setiap perlalsuan ...
24
.
Bobot ikan baung saat pengukuran 0 2 . COz d m ammonia ...PENDAHULUAN
Latar BeIakang
Ikan baung (Mystus n e m u m s CV) merupakan salah satu jenis ikan air tawar
yang terdapat di beberapa sungai di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan
dan ikan ini berpotensi untuk dibudidayakan. Ikan ini memiliki harga yang relatif
tinggi dan memiliki rasa daging yang enak. Budidaya ikan baung belum banyak
dilakukan dan produksi ikan baung saat ini umumnya berasal dari hasil penangkapan
di sungai. Kegiatan penangkapan yang terus menerus dapat mengurangi produksinya
dan bahkan ikan ini dapat menjadi punah. Oleh karena itu diperlukan usaha
pelestariannya dan sekaligus mendukung produksinya yaitu melalui usaha budidaya
intensif.
Usaha pemeliharaan ikan baung secara intensif baru dirintis terutama setelah
berhasilnya pemijahan dengan penyuntikan hormon dalam rangka penyediaan benih.
Dalam budidaya ikan secara intensif selain kebutuhan benih yang cukup juga
diperlukan pakan yang memadai. Namun informasi yang ada sehubungan dengan
kebutuhan nutrisi pada tingkat benih masih sangat sedikit. Sedangkan untuk
keberhasilan usaha pembenihan salah satunya dicapai dengan pendekatan pemberian
pakan yang tepat kualitas dan kuantitasnya bagi perturnbuhan benih ikan baung.
Pertambahan biomassa ikan sangat bergantung kepada energi yang tersedia
dan cara pemanfataannya di dalam tubuh ikan. Dilihat dari aspek budidaya,
informasi tentang energi dalam ransum diperlukan untuk pertumbuhan ikan yang
dapat t e j a d i jika kebutuhan energi untuk pemeliharaan proses-proses hidup dan
fingsi-fingsi lain sudah terpenuhi. Jika terdapat kelebihan energi, maka sisa energi
tersebut barn dipergunakan untuk meningkatkan pertumbuhan. Olehnya itu
kandungan energi hams menjadi pertimbangan pertama dalam pembuatan pakan ikan
Selain energi, protein merupakan zat makanan yang perlu diperhatikan karena
protein adalah komponen dasar dari jaringan hewan dan berfungsi penting untuk
pemeliharaan dan pertumbuhan
.
Pada tingkat perneliharaan tubuh, ikan memerlukanprotein untuk pembentukan kembali jaringan yang hilang dan produk-produk
berbahan dasar protein seperti sel-sel epitelial usus, enzim dan hormon yang penting
untuk fingsi tubuh. Kebutuhan protein untuk sintesis jaringan baru adalah mutlak,
karena 45-75 % pada bahan kering jaringan adalah berupa protein. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan yang tepat antara energi dan protein yang &kandung pakan
agar tercapai pertumbuhan ikan yang terbaik.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein optimum dan rasio
energi protein yang tepat untuk efisiensi pakan dan perturnbuhan terbaik benih ikan
baung (Mystus nemunrs CV).
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi dasar dalam
penentuan kadar protein optimum dan rasio energi protein yang tepat untuk
Pendekatan Pemecahan Masalah
Dalam menunjang keberhasilan budidaya ikan khususnya budidaya intensif,
pakan merupakan faktor yang sangat perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan karena
hampir 60% dari biaya produksi budidaya ikan digunakan untuk penyediaan pakan. Pakan yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan pada ikan adalah yang mempunyai
kualitas baik, dan ini sangat bergantung pada komposisi bahanlnutrien yang
digunakan.
Pertumbuhan ikan yang relatif lambat disebabkan karena kandungan energi
pakan khususnya yang berasal dari karbohidrat dan lemak tidak cukup untuk proses
metabolisme. Akibatnya protein digunakan untuk proses tersebut, sehingga protein
dalam pakan tidak mencukupi bagi ikan untuk proses pertumbuhan. Disamping itu
penggunaan protein secara berlebihan tidak ekonomis dan sisa metabolisme protein
yang disekresikan dapat meningkatkan kadar amonia, dan ini berbahaya bagi
kehidupan ikan.
Ketepatan dalam penyusunan komposisi nutrien khususnya, karbohidrat,
lemak dan protein adalah usaha untuk mempercepat perturnbuhan. Pakan yang telah
dibuat diujicobakan pada ikan dengan membuat kondisi lingkungan hidupnya
optimal. Untuk mengevaluasi kualitas pakan diukur konsumsi pakan, retensi protein,
retensi lemak, efisiensi pakan dan laju pertumbuhan ikan. Sementara sarnpai saat ini
belum diperoleh informasi tentang kadar protein optimum dan rasio energi protein
pakan dengan tepat untuk menunjang efisiensi pakan dan pertumbuhan terbaik benih
Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalarn penelitian ini adalah pemberian pakan dengan
kadar protein dan rasio energi protein yang tepat dapat menghasilkan efisiensi pakan
TINJAUAN PUSTAKA
Aspek Biologi
Ikan baung (Mystus nemums, C.V) hidup di perairan tawar yang terdapat pada
sungai, danau dan rawa. Ikan ini mempunyai kumis atau sungut yang mencapai mata
Badannya tidak bersisik, mempunyai sirip dada dan sirip lemak yang besar, serta
mulutyang melengkung (Kottelat, m i t t e n , Kartikasari dan Wirjoatrnodjo, 1993)
Ikao baung berwarna coklat kehijauan dengan pita tipis memanjang jelas dari
tutup insang hingga pangkal ekor. Hidup di dasar perairan dan bersifat omnivora dengan
pakan terdiri dari anak ikan, moluska, udang remis, insekta dan rumput (Djadjadiredja,
Halimah dan Arifin, 1977). Daerah penyebaran ikan baung terdapat di kawasan tropika
yang meliputi Afrika, Asia Tenggara dan Asia Timur (Kottelat et al., 1993) dan di Indonesia tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera dan Jawa (Djadjadiredja et al., 1977).
Ikan baung secara taksonomi diklasifikasikan ke dalam philum Chordata, kelas
Pisces, sub kelas Teleostei, ordo Ostariophysis, sub ordo Siluroide., famili Bagridae,
genus Macrones atau Mystrrs dan spesies Macrones nemurus C V (Saanin, 1968) atau
Mystus ?=mums C.V (Kottelat et al, 1993).
Kebutuhan Protein dan Energi
Protein adafah n u t r i a yang sangat penting untuk fUngsi jaringan normal, untuk
pemeliharaan tubuh, penggantian jaringan-jaringan tubuh yang msak dan untuk
pertumbuhan. Kebutuhan protein ikan dipengaruhi oleh berbagai €&or seperti ukuran
energi pakan dan h a l i t a s protein (Watanabe, 1988). Kebutuhan protein pada stadia awal
lebih tinggi dibanding selama fase lanjutan dari pertumbuhan. Mangalik
& I m
Lovell(1989) menyatakan bahwa channel catfish yang berukuran 3 g memerlukan protein hampir 4 kali febih banyak dibanding &an bemkuran 250 g untuk pertumbuhan maksimum. Menurut Page dan Andrews (1973), kebutuhan protein bervariasi menurut
bobot tubuh. Mereka menemukan bahwa channel catifish ukuran 14-1 00 g memerlukan pakan yang mengandung 35 % protein, sedangkan yang berukuran 114-500g memerlukan hanya 25% protein
Jumlah protein yang diperlukan daIam pakan secara langsung dipengaruhi oleh
komposisi asam amino pakan. Ikan, seperti hewan lain tidak memiliki kebutuhan protein
yang mutlak tetapi memerlukan suatu campuran yang seimbang antara asam amino
esensial dan non-esensial. Selanjutnya NRC (1983) mengemukakan pula bahwa kekurangan asam amino esensial mengakibatkan penurunan pertumbuhan. Sumber
protein terbesar dalam pakan buatan Ictalums punctahrs adalah tepung ikan dan tepung
kacang kedelai. Tepung kacang kedelai kekurangan asam amino metionin dan
kekurangan ini dipenuhi dari tepung ikan yang kaya akan asam amino lisin dan metionin
(Andrews, 1977).
Setiap spesies ikan membutuhkan kadar protein yang berbeda untuk
pertumbuhannya dan dipengaruhi oleh umur/uhran ikan, namun pada umumnya ikan
membutuhkan protein sekitar 35 - 50 % dalam pakannya (Hepher, 1990). Kebutuhan optimum protein pakan untuk beberapa spesies catfrsh telah ditentukan pada stadia yang
memerlukan kadar protein 30% (Chuapoehuk, 1987) dan African catfish, C. gariepinus, 45-49 % (Machiels dan Henken, 1984) dalam pakannya.
Selanjutnya Khm et al. (1993) mengemukakan bahwa kebutuhan protein ikan
Malaysian freshwater catfish, ikan baung (Mystus nemurus) yang berukwan 25.4 g
adalah 42 % dan energi 3.69 kkal DE/g. Namun tingkat protein ini belum memberikan
informasi tentang kebutuhan protein dan energi protein rasio pakan optimum untuk benih
yang berukuran lebih kecil.
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kebutuhan ikan terhadap protein.
Hastings (1973) menemukan bahwa pada suhu dibawah 24°C ikan channel catfish tidak tumbuh lebih baik pada protein 35% dibanding kadar protein 25%, tetapi jika suhu air di
atas 24°C ikan akan tumbuh baik pada 30 dan 35% protein dalam pakan. Faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan protein adalah berhubungan dengan ikan itu sendiri.
Menurut Page dan Andrews (1973), kebutuhan protein befvariasi menurut bobot tubuh.
Mereka menemukan bahwa channel eatifish ukuran 14-100 g memerlukan pakan yang
mengandung 35 % protein, sedangkan yang berukuran 114-500 g memerlukan hanya
25% protein.
Pakan yang dikonsumsi ikan akan menyediakan energi yang sebagian besar
digunakan untuk metabolisme yang meliputi energi untuk hidup pokok, energi untuk
aktivitas, energi untuk pencernaan makanan dan energi untuk pertumbuhan, sedangkan
sebagian laimya dikeluarkan dalam bentuk feses dan bahan ekskresi lainnya (Brett dan
Groves, 1979).
Suatu ha1 perbedaan yang pokok dalam nutrisi antara ikan dan hewan darat adalah
hewan darat (Lovell, 1979). Ikan mempunyai kebutuhan energi yang lebih rendah sebab ikan tidak mempertahankan suhu tubuh secara tetap, juga ikan relatif memerlukan energi
yang kurang untuk mempertahankan posisi dan bergerak di air dibanding marnalia dan
burung (Tucker daZm NRC, 19831, dan ikan urnumnya mengeluarkan buangan nitrogen sebagai amonia (Goldstein dan Forster, dalmn NRC, 1983).
Pertumbuhan ikan sangat bergantung kepada energi yang tersedia dalam pakan
dan pembelanjaan energi tersebut. Kebutuhan energi untuk maintenance hams dipenuhi
terlebih dahulu, dan apabila berlebih maka kelebihannya akan digunakan untuk
pertumbuhan (Lovell, 1989). Eni berarti apabila energi dalam pakan jumlahnya terbatas maka energi tersebut hanya digunakan untuk hidup pokok saja dan tidak untuk
pemunbuhan.
Kebutuhan energi hewan dipengamhi oleh umur, musim dan lingkungan. Hewan
muda memerlukan energi yang lebih tinggi per unit bobot tubuh untuk hidup pokok
dibanding dengan hewan dewasa, meskipun reproduksi meningkatkan kebutuhan energi
hewan dewasa. (Watanabe, 1988).
Keberadaan tingkat energi yang optimum dalam pakan adalah penting sebab
kelebihan atau kekurangan energi dapat mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan
(NRC, 1983). Kandungan energi dari pakan bergantung pada komposisi bahan kimianya. dengan niiai pembakaran panas dari protein, lipid dan karbohidrat berturut-turut adalah
5.64, 9.44, 4.1 1 kkaUg dimana kandungan total pakan yang diperoleh dari pengukuran nilai kalori disebut energi kotor. Akan tetapi secara kimia pakan hanya dipengaruhi oleh
panas dari pembakaran, atau energi kotor dan tidak ada informasi tentang apakah energi
pembuatan pakan perlu mengetahui bioavailability energi pakan untuk hewan yang diberi
pakan WRC, 1993).
Henken dan Macfiiels (1984) menyatakan bahwa energi metabolisme untuk pertumbuhan Clarias gariepims adalah minimal 8.4 W tingkat energi dan menurun pada
tingkat protein yang lebih tinggi. Henken et al. (1986aj menyatakan bahwa pada spesies
ini juga dengan berat 40-120 g menunjukkan bahwa laju pertumbuhan, kadar protein
dan protein yang dimanfaaikan adalah febih baik responnya pada 13 MJ/kg energi yang
dapat dimetabolisme dalam pakan dibanding dengan tingkat energi yang Iebih rendah
atau lebih tinggi (8 MJ dan 17 MJ per kg). Sedangkan menurut Garling dan Wilson (1976), kebutuhan energi jenis ikan IctaZ~~n~s purzctutus adalah 2750-3410
ldrallkg pada protein pakan sebesar 36-40%. Suhenda (1988) menyatakan bahwa pakan buatan dengan kadar protein 40 % d m kandungan energi 3000 kkaiflcg pakan dapat digunakan dalam budidaya intensif benih ikan Iele (Clarias 6atrachus).
Dalam penyusunan ransum ikan perlu diperhatikan keseimbangan antara protein
dan energi. Pakan yang kandungan energinya kurangl rendah akan menyebabkan ikan
menggunakan sebagian protein sebagai sumber energi untuk keperluan metabolisme,
sehingga bagian prdein untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Sebaliknya jika
kandungan energi pakan terlalu tinggi akan membatasi jumiah protein yang dimakan
ikan, &batnya pertumbuhan ikan menjadi refatif rendah (Lovell, 1988).
Pertumbuhan atau pembentukan jaringan tubuh paling besar dipengamhi oleh
keseimbangan protein dan energi dalam pakan. Pakan yang mempunyai kadar protein
tinggi belum tentu dapat mempercepat pertumbuhan apabila to& energi pakan rendah.
(maintenance) seperti untuk respirasi, transportasi iodmetabolit, dan pengaturan suhu
tubuh serta untuk aktivitas fisik lainnya. Energi untuk seluruh aktivitas tersebut
diharapkan sebagian besar berasd dari nutrien non-protein (iemak dan karbohidrat).
Apabila sumbangan energi dari bahan non-protein tersebut rendah, maka protein akan
didegradasi untuk menghasilkan energi, sehingga firngsi protein sebagai nutrien
pembangun jaringan tubuh akan berkurang. Dengan kata lain. penambahan nutrien non-
protein sebagai penghasil energi dapat menurunkan penggunaan protein sebagai sumber
energi (protein sparing effect) sehingga dapat meningkatkan fbngsi protein dalam
menunjang perturnbuhan ikan (Furuichi, 1988).
Kebutuhan setiap spesies ikan akan protein dan energi berbeda dan dipengaruhi
oleh umur/ukuran ikan. Mokoginta, Suprayudi dan Setiawati (1995) menyatakan bahwa
benih ikan gurame berukuran 0.27 g mengalami pertumbuhan terbaik pada pemberian
pakan dengan kadar protein 43 % dengan rasio energi protein sebesar 8 kkawg protein. Sedangkan pada penelitian Shiau dan Huang (1990) terhadap tilapia berkesimpulan bahwa pertumbuhan ikan tilapia berukuran 1.60 g meningkat seiring dengan peningkatan energi pada kadar protein 21 % dan 24 % dengan rasio energi 190, 230, 270 kkal DE/100 g. Namun pertumbuhan tidak meningkat lagi pada tingkat energi yang lebih
tinggi yakni pada 310, 350, dan 390 kkal DE/ 100 gr. Page dan Andrews (1973) menyatakan bahwa rasio protein dan energi ikan channel catfish pada bobot 526 g sebesar 95 mg/kkal, sedangkan Garling dan Wilson (1976) menyatakan bahwa pada bobot 34 g channel catfish memerlukan rasio protein energi optimum sebesar 94 mg/kkal.
energi 3.05 kkal DE/g. Stickney dan Love11 dalam NRC (1 983) melaporkan bahwa rasio energi dan protein sebesar 8 - 9 kkaYg protein memberikan pertumbuhan maksimal pada
fingerling channel catfish. Selanjutnya Garling dan Wilson menyarankan bahwa
imbangan optimum antara energi dan protein untuk pertumbuhan channel catfish muda
adalah 9.6 lckal DElg dengan kadar protein 32 - 35 %.
Kebutuhan Energi Non-Protein
Kebutuhan FRmak
Satu unit lemak yang sama mengandung energi dua kali lipat dibandingkan
dengan protein dan karbohidrat. Jika lemak dapat menyediakan energi untuk
pemeliharaan metabolisme, maka sebagian besar protein yang dikonsumsi dapat
digunakan tubuh untuk pertumbuhan dan bukan digunakan sebagai sumber energi
(NRC, 1983).
Kebutuhan ikan akan asam-asam lemak esensial berbeda u n h k setiap spesies ikan
(NRC, 1983; Furuichi, 1988). Perbedaan kebutuhan ini terutama dihubungkan dengan
habitatnya. Ikan yang hidup di laut lebih memerlukan asam lemak n-3, sedangkan ikan
yang hidup di air tawar ada yang hanya membutuhkan asam lemak n-6 atau kombinasi
asam lemak n-3 dan n-6 Vepher, 1990).
Diantara spesies air tawar seperti ikan ayu, channel catfish. coho salmon dan
rainbow trout memeriukan 18:3(n-3) atau EPA d a d atau DHA. Ikan chum salmon, ikan
mas dan sidat Jepang memerlukan campuran yang sama dari 18:2(n-6) dan 18:3(n-3)
sedangkan ikan nila dan Tilapia zilli hanya memerlukan 18:2(n-6) untuk pertumbuhan
&lam NRC (1993) mengemukakan bahwa kandungan protein pakan rainbow trout dapat
diturunkan dari 48 % menjadi 35 % tanpa menurunnya pertambahan bobot badan, jika kadar lemak pakan ditingkatkan dari 15 % menjadi 20 %. Akan tetapi penambahan
iemak ke dalam pakan perlu diperhatikan kuantitasnya, karena kaditr lemak yang terlalu
tinggi akan menyebabkan penyimpamn lemak pada tubuh ikan dan dapat mengakibatkan
penurunan konsumsi pakan dan pertumbuhan, degenerasi hati, dan memuunkan lcualitas
ikan pada waktu dipanen (NRC, 1993).
Keberadaan lemak dalam pakan, termasuk ikan channel catfish, telah ditunjukkan
dipengaruhi oleh ukuran ikan, umur, teknik pemberian pakan, dan komposisi pakan
w ,
1983). Menurut Sandra et al. (1992) bahwa komposisi pakan benih ikan channelcatfish sebesar 10 % menghasilkan bobot tubuh dan efisiensi pakan yang lebih besar
dibanding dengan l e d 5 %. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang diIakukan oleh
Gatlin dan Stickney (1982) yang menyatakan bahwa kadar lemak pakan antara 6-14 %
tidak berpengamh pada pertumbuhan dari channel catfish pada suhu air rata-rata 22.5"C.
Namun sejumlah penelitian lain dengan spesies ikan yang berbeda juga menunjukkan
bahwa ada pengaruh positif pada peningkatan lemak pakan terhadap pertumbuhan dan
pemanfaatan protein pakan
w ,
1983).Kebutuhan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi yang rnurah untuk rnanusia dan hewan
peliharaan, tetapi pemanfaatannya oIeh ikan air tawar bervariasi (NRC, 1983). Peranan
karbohidrat selain sebagai sumber energi juga sebagai prekursor berbagai hasil metabolit
asam amino non esensial dan asam-asam nukleat. Kemudian manfaat lain dengan adanya
karbohidrat dalam pakan adalah bahwa pakan yang mengandung karbohidrat dan lemak
yang tepat dapaf mengurangi penggunaan protein sebagai sumber energi yang dikenal
sebagai protein s p r i n g eflect. Terjadinya protein sparing efiecl oleh karbohidrat dan
lemak dapat menurunkan biaya produksi (pakan) dan mengurangi pengeluaran limbah
nitrogen ke lingkungan (Shiau dan Peng, 1993; Peres dan Teles, 1999). Sparing eflect
dari karbohidrat dan lemak terhadap penggunaan protein pakan untuk pertumbuhan ikan
telah dilaporkan antara lain pada ikan channel catfish, Zctalunrs punctcrtus (Garling dan
Wilson, 1977 dalam Catacutan dan Coioso, 1997).
Ikan mempunyai kemampuan lebih rendah dalam memanfaatkan karbohidrat
dibandingkan hewan darat, namun karbohidrat harus tersedia di dalam pakan ikan, sebab
jika karbohidrat tidak tersedia maka nutrien yang lain seperti protein dan lemak akan
dikatabolisme untuk dijadikan energi sehingga pertumbuhan ikan akan menjadi lambat
(Wilson, 1994). Selanjutnya NRC (1993) mengemukakan bahwa pertumbuhan fingerling catfish lebih tinggi ketika pakannya mengandung karbohidrat dibandingkan hanya
mengandung lemak sebagai sumber energi non-protein.
&an-ikan air tawar dan ikan-ikan laut mencerna karbohidrat. Kemampuan ikan
laut mencerna karbohidrat adalah sekitar 20%, sedangkan ikan air tawar mampu
mencerna di atas 20 O h seperti 30 - 40 O h untuk ikan Cjprinus carpio (Satah, 1991 dalam
Wilson, 1994), 25 - 30 % untuk ikan Ictair~ms puncfnhrs (Wilson, 1991 & C a m Wilson,
Ekskresi Amonia
Jika karbohidrat dan lemak yang digunakan sebagai sumber energi, maka lemak
dan karbohidrat ini &an menghasilkan oksidasi lengkap menjadi karbondioksida dan air,
tetapi jika protein dipakai sebagai sumber energi, hanya ikatan karbonnya yang dipakai
sebagai surnber energi sedangkan nitrogen (amino) yang dipakai sebagai sumber energi,
maka tidak dapat dimetabolisme dan hams dikeluarkan. Proses kimia dimana m g u s
amino dikeluarkan dari asam amino dikenal sebagai proses transaminasi dan deaminasi.
Reaksinya dikatalisis oleh enzim amino transferase didalam sitosol hepatocyt dan enzim
glutamat dehidrogenase dalam mitokondria. Amonia yang telah terbentuk kernudian
dilepaskan ke pembuluh darah hepatic untuk selanjutnya diangkut ke organ pengeluaran
yang dalam ha1 ini insang meldui sistem sirkulasi darah (Dosdat et al., 1996; Hepher,
1990) Nitrogen yang diekskresikan oleh ikan khususnya ikan-ikan teleostei sebagian besar berupa amonia (75 - 90 %), selebihnya berupa urea (5 - 15 %), asam urat, kreatin,
kreatinin, trimetil oksida (TMAO), inulin, asam para-aminohippurik dan asam amino
(Jobling, 1994; Ming, 1985). Karena ikan mengeluarkan kelebihan nitrogen dalam bentuk amonia maka ikan dikenal dengan hewan ammonotelik.
Ming (1985) mengemukakan bahwa meningkatnya ekskresi amonia dengan cepat
Iebih banyak disebabkan oleh Iaju ekskresi nitrogen eksogenous yang lebih tinggi
dibandingkan ekskresi nitrogen endogenous. Laju ekskresi amonia eksogenous lebih
banyak dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi (kadar protein pakan, kualitas protein
bahan pakan, keberadaan energi non protein) dan laju pemberian pakan, sedangkan
ekskresi amonia endogenous diperoleh dari deaminasi asam amino hasil katabolisme
Ming (1985) mengemukakan bahwa ekskresi amonia meningkat denngan cepat
sebagai respon terhadap penambahan protein pakan. Selanjutnya Degani, Horowitz dan
Levanon (1985) mengemukakan bahwa produksi amonia berkorelasi secara linier dengan
kadar protein pakan. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitiannya dimana produksi
ikan AngrrilZa-anguilla yang diberi pakan dengan kadar protein 25 - 35 % lebih rendah
dibandingkan dengan yang diberi pakan 45 - 55 % protein.
Jobiing (1994) mengemukakan bahwa ekskresi amonia ikan yang diberi pakan
lebih tinggi dibandingkan ikan-ikan yang puasa, peningkatan tersebut bahkan bisa sampai
2 kali lebih tinggi (Koshio et al., 1993). Ekskresi amonia akan meningkat begitu selesai
mengkonsumsi pakan, dan beberapa jam kemudian terjadi puncak ekskresi. Brett dan
Zala &am Ming (1985) menyatakan bahwa ekskresi amonia tertinggi pada salmon
terlihat 4 - 4.5 jam setelah ikan mengkonsumsi pakan. Selanjutnya Dosdat et al. (1996) dalam penelitiannya melihat bahwa ekskresi amonia teatinggi pada ikan berukuran 10 g
ditemukan 3 - 5 jam sehabis mengkonsumsi pakan dan pada ikan berukuran 100 g
terlihat 5 - g jam setelah makan. Tinggi rendahnya amonia yang dikeluarkan ikan
bergantung pada kadar protein pakan, keberadaan energi non-protein (rasio protein
energi), kualitas protein bahan pakan dan kondisi lingkungan hidupnya (pH dan
temperatur).
Tingkat toksisitas amonia dipengaruhi oleh pH dan temperatur lingkungan
perairan, dimana konsentrasi amonia meningkat dengan meningkatnya pH dan
temperatur. Lingkungan yang mempunyai konsentrasi amonia tinggi dapat menyebabkan
ikan stres, menghambat pertumbuhan dan dapat menyebabkan kematian ikan (Jobling,
Tingkat toleransi hewan akuatik terhadap amonia berbeda dan bergantung pada
spesies, kondisi fisiologis ikan dan kondisi lingkungan hidupnya (Ming, 1985). Secara
urnum konsentrasi amonia dalam air tidak boleh Iebih dari 1 mg/l. Konsentrasi amonia sebesar 0.4
-
2 mg/l dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian pada ikan.Koefisien Respirasi
Koefisien respirasi (KR) merupakan perbandingan antam 0 2 yang dikonsumsi dan
COz yang diproduksi ikan, yang menggambarkan jenis nutrien yang dipakai dan
dimanfaatkan ikan pada proses metabolisme untuk menghasilkan energi. Menurut Eckert
(1989) menyatakan bahwa nilai JSR untuk metabolisme karbohidrat adalah 1.0, protein
0.8 dan lemak 0.7.
Ikan yang dipuasakan akan merombak Iemak tubuh sehingga KR-nya menjadi 0.7 sedangkan ikan yang sedang membakar makro nutrien (karbohidrat, lemak, dan protein)
dari ransum pemeliharaan, KR-nya menjadi 0.85. Sementara itu ikan yang sedang
mengalami pertumbuhan dimana berkaitan dengan penyimpanan lemak dan protein
(dalam jaring atau alat-alat reproduksi) KR-nya sebesar 1.0 Wuisman et al., 1987).
Menurut Suryaningsih (1997) bahwa koefisien respirasi padit ikan gurame yang
diberi pakan dengan kandungan energi berturut-turut adalah 6, 8 dan 10 kkal DE/ gr protein adalah 1.09, 0.84 dan 0.81. Ia menyarankan agar pakan dengan pertakuan 10 kkal DE/gr protein dapat dipertimbangkan sebagai pakan yang terbaik, jika faktor lingkungan
BAlftAN DAN METODE
Waktu dam Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi %an, Kolarn Percobaan
Babakan Fakultas Perikanan dan Ifmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Sedangkan
waktu pelaksanaannya adalah dari bulan Maret sampai dengan Juni 2001.
Pakan Uji
Pakan uji yang digunakan terdiri dari enam jenis terdiri atas tingkat kadar protein
dan rasio energi protein berbeda yakni A(30%; 9.6), 3(29.1%; 11.5%), C(37.4 %; 8.9),
D(38.2%; 11.0), E(46.7%; 8.5) and F(47.00!; 9.8). Komposisi pakan tertera pada Tabel 1 Tabel 1. Komposisi Pakan Perwbaan ( @ I 0 0 g pakan) dengan Kadar Protein dan
Imbangan Energi Protein yang Berbeda (kkal DE/g protein = C / P )
Bahan Pakan
2, Takeuchi, 1988
Setelah pakan dibuat dilakukan pula analisis proksimat dan hasilnya disajikan
[image:105.572.59.475.215.467.2]Tabel 2. Komposisi Proksimat Pakan Percobaan
D (30.04 Oh), E (28.26 %) dan F ( 22.55 Oh)
1 g protein = 3.5 kkai, 1 g karbohidrat = 2.5 kkal dan 1 g lemak = 8.1 kkal
Ikan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih ikan baung (Mystus
nemtcms) berumur sekitar satu bulan dengan bobot awal 5.3f 1.3 g. SeteLah itu ikan sebanyak 10 ekor tiap akuarium dimasukkan kedalamlg buah akuarium berbentuk
persegi panjang berukuran 50 x 40 x 35 cm. Penernpatan ikan dalam akuarium dilakukan
secara acak (Steel dan Tome, 1993).
Pemberian pakan dilakukan sampai ikan kenyang dengan frekuensi pemberian
3 kaii sehari yaitu pukul 8.00; 13 .OO dan 17.00. Banyaknya pakan yang diberikan selama percobaan dicatat untuk mengetahui tingkat konsumsi pakan yang selanjutnya dijadikan
dasar untuk menghitung efisiensi pakan..
Untuk menjaga agar kualitas air tetap bak, maka dalam penelitian ini semua
media percobaan diberiakukan sistem resirkulasi. Penggantian air dapat dilakukan 4 - 6
[image:106.572.56.544.64.229.2]uji dilakukan penimbangan bobot tubuh ikan setiap 10 hari sekali. Pemeliharaan ikan
dilakukan selama 40 hari.
Analisis Proksimat I b n dan Pakan
Analisis proksimat pakan dan tubuh ikan dilakukan pada awal dan akhir
percobaan. Analisis tersebut meliputi kadar protein kasar, lemak kasar, serat kasar, kadar
abu, kadar air dan BETN.
Analisis proksimat untuk protein kasar dil-n dengan metode Kjeldhal, lemak
kasar dengan metode ekstraksi dengan alat Soxhlet, abu melalui pemanasan sampel
dalam tanur pada suhu 400 - 600°C, serat kasar menggunakan metode pelarutan sampel
dengan asam dan basa kuat serta pemanasan, dan kadar air dengan metode pemanasan dalam oven pa& suhu 105 - 110°C (Takeuchi, 1988). Prosedur metode analisis disajikan
pada Lampiran 1, 2, 3, 4, dan 5.
Pengukuran Konsumsi Or, Produksi C% d a m Ekskresi Amonia
Pengukuran konsumsi 0 2 dan produksi COz dilakukan untuk mendapatkan nilai
koefisien respirasi.
Pengamatan oksigen yang dikonsumsi, amonia dan COz yang diekskresikan
dilakukan dengan cara ikan uji pada setiap perlakuan teriebih dahulu dipuasakan selama
24 jam, kemudian ditimbang bobot tubuhnya. JumIah ikan uji setiap perlakuan adalah
3 ekor dan dengan 2 ulangan. Sewaktu pengukuran, ikan diberi pakan sampai kenyang. Setelah ikan selesai makan, kemudian dipindahkan ke wadah lain yang telah berisi air
dan telah diaerasi selama 24 jam dan dilanjutkan dengan
.
pengukuran parameter amoniaselanjutnya dilakukan setiap jam sekali selama 4 jam pengamatan. Namun nilai konsumsi 0 2 , produksi CO2 dan ekskresi ammonia yang dijadikan data adalah hanya
pada jam ke-0 dan jam ke-1. Hal ini disebabkan untuk menghindari nilai bias akibat efek
katabolisme pada ikan tersebut setelah jam kedua. Selama pengukuran berlangsung,
aerasi dimatikan dan ikan tidak diberi makan. Sedangkan parameter suhu air dalam
wadah diamati setiap satu jam selama pengamatan. Pengukuran konsumsi 0 2 , produksi
C 0 2 dan ekskresi ammonia terdapat pada lampiran 6, 7, dan 8.
Peubah Yang Diukur
a. Laju Pertumbuhan Hin'an
Keterangan : - cx = Laju pertumbuhan harian
WO = Bobot rta-rata ikan pada awal percobaan (g) -
Wt = Bob& rata-rata ikan pada akhir percobaan (g) t = Waktu pemeliharaan (hari)
Sumber : Huisman (1976) b. Efisiensi Pakan
Keterangan : FE = Efisiensi pakan (%)
Bt = Biomassa ikan pada akhir percobaan (g)
30 = Biomassa ikan pada awal percobaan (g)
B d = Biomassa ikan yang mati selama percobaan (g)
F = Jumlah pakan yang dikonsumsi selama percobaan (g) Sumber : Watanabe (1988)
c. Retensi Protein (PR) dan Retensi Lemak (LR)
Bobot protein tubuh akhir - Bobot protein tubuh awal ( g )
PR = x 100 %
Bobot lemak tubuh akhir - Bobot Iemak tubuh awal (8)
LR = x 100 %
Bobot total lemak yang dikonsumsi (g)
Sumber : Watanabe (1988)
d. Ekskresi Amonia
Ekskresi amonia ikan per gram ikan per jam pengamatan setiap perlakuan
dihitung dengan rumus :
[ M ,
-NZ,
-[NH,
- N ~ ~ X V Ekskresi amonid NH3-N (mg/g tubuhljam) =gxt
Keterangan : [ N H 3 -N]t, = Konsentrasi amonia pada akhir pengamatan (mg/l)
[ Nm-wt~ = Konsentrasi amonia pada awal pengamatan (mg/l) V = Volume air di dalam wadah (liter)
t = Lama pengambilan sampel (jam)
g = Bobot ikan (g)
e. Koefisien Respirasi (RQ)
Nilai koefisien respirasi (RQ) dapat dimmuskan sebagai berikut :
RQ = Jurnlah C 0 2 van9 diproduksi Jumlah 0 2 yang dikonsumsi
V x (COz tn - COz to) Produksi COz =
Bobot ikan (g) x a jam Keterangan :
V = Volume air dalam wadah (iiter)
a = L a m a pengambilan sampel
COz tn = K~nsentrasi k a r b ~ n ~ o k s i d a jam ke-n (mg/l) C 0 2 t, = Konsentrasi karbondioksida jam ke-0 (mg/l)
v
x (02 t o 4 2tn)Konsumsi 0 2 =
Bobot ikan (gr) x a jam Keterangan :
V = Volume air dalarn wadah (liter) a = Lama pengambilan sampel
0 2 tn = Konsentrasi oksigen jam ke-n (mgfl)
Andisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak Iengkap dengan
enam p e r l b n dan tiga ulangan. Parameter yang diuji secara statistik adalah konsumsi
palcan, retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan Untuk
rnengetahui pengaruh pakan uji terhadap setiap peubah yang diukur tersebut digunakan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka didapatkan hasil-hasil penelitian
yang meliputi perubahan bobot rata-rata individu, konsumsi pakan, retensi protein,
retnesi lemak, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang disajikan berturut-tumt
di bawah ini. Kemudian disajikan pula data mengenai hasil proksimat tubuh ikan awal
dan akhir pengamatan serta data mengenai koefisien repirasi dan ekskresi amonia se.tiap
perlakuan.
Selama 40 hari pengamatan telah terjadi perubahan bobot tubuh biomassa ikan baung yang disajikan secara lengka pada Tabel Lampiran 10. Perubahan bobot rata-rata individu ikan baung selama percobaan disajikan pada gambar dibawah ini
[image:111.563.55.459.312.495.2]Berdasarkan gambar diatas tertihat bahwa bobot rata-rata individu tertinggi pada
akhir pengamatan terjadi pada perlakuan B(Protein 29.1%; C& 11.5) yakni sebesar
37.54M.43 g dan diikuti oieh C (37.4% ; 8.9), A(30.0%; 9.6), E(46.7?40; 8.5),
F(47.0%; 9.8) dan terendah pada perlakuan D(38.2% ; 1 1.0) sebesar 28.02f 1.55 g.
Pengaruh pakan dengan kadar protein d m rasio energi protein yang berbeda
terhadap konsumsi pakan, retensi protein, retensi Iemak, laju pertumbuhan harian dan
efisiensi pakan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata Konsumsi Pakan (KP), Retensi Protein (RP), Retensi Lemak (RL), Laju Pertumbuhan Harian (LPH) d m Efisiensi Pakan (EP)
''
Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa konsumsi pakan antara perlakuan berbeda (p < 0.10) (Lampiran 12) dimana perlakuan C(37.4%; 8.9) tertinggi dan diikuti oleh
B(29.1%; 11.5), A(300/0;9.6),D(38.2%; 11.0),E(46.7%;8.5)dan F(47%;9.8).
Sementara itu reiensi protein memberikan pengarufi berbeda antar perlakuan
(p < 0.01) (Lampiran 14) dimana perlakuan B (29.1% ; 11.5) tertinggi dan diikuti oieh
perlakuan 4 3 0 % ; 9.6), E(46.7Y0; 8.S), C(37.496; 8.9), F(47Yo; 9.8) dan D(38.2% ; 11.0).
Retensi lemak antar perlakuan juga berbeda antar perlalaan (p < 0.01) (Lampiran 16)
Perlakuan A(30% ; 9.6) mencapai nilai retensi lemak tertinggi dan diikuti oleh perlakuan
C(37.4%; 8.9), B(29.1%; 11.5), E(46.7%; 8.5), F (47%; 9.8) clan terendah pada perlakuan
Selanjutnya laju pemtmbuhan M a n antar perlakuan berbeda antar perlakuan
(p < 0.01) (Lampiran 18) dimana laju perturnbuhan harian tertinggi dicapai oleh
perlakuan B(29.1%; 1 1.5) dan diikuti oleh perlakuan C(37.4%; 8 9), E(46.7%; 8 3 , F(47%; 9.8), A(30%; 9.6) dan D(38.2%;11.0). Sedangkan efisiensi pakan antar
perlakuan juga berbeda antar perlakuan (p < 0.01) dirnana perlakuan D(38.2%;11.0).
lebih rendah dengan kelima perlakuan lainnya (Lampiran 20).
Pengaruh pakan perwbaan terhadap komposisi proksimat tubuh ikan pada setiap
perlakuan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi proksimat tubuh ikan (TI) pa& awal dan akhir percobaan
(% bobot kering)
')
C(72.70 Yo), D(70.90 %), E(72.92 %) dan F(73.60 %)
Tabel 4 menunjuklcan adanya peningkatan kadar protein tubuh diakhir dibanding
tubuh ikan awal. Demikian pula dengan kadar lemak dan kadar abu pada tubuh akhir
secara umum meningkat, kecudi pada perlakuan A(30%; 9.6) dan D(38.2%;11 .O) untuk
kadar lemak dan perlakuan E(46.7%; 8.5) untuk M a r abu.
Protein tubuh tertinggi dicapai oleh perlakman E (46.7%; 8 . 5 ) dan terendah pada
perlakuan C(37.4%; 8.9). Sedangkan kadar lemak tertinggi dicapai oleh perlakuan
F(47.0°?; 9.8) dan terendah pada perlakuan A(30.0%; 9.6). Selanjutnya kadar abu
tertinggi dicapai oleh perlakuan D(38.2%;11.0) dan terendah pada perlakuan
Sebagai data tambahan dilakukan pula pengamatan terhadap koefisien respirasi
(RQ) dan ekskresi amonia yang disajikan pada Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Konsumsi 0 2 , Produksi COz, Koefisien respirasi (RQ) dan ekskresi amonia rata- rata ikan baung setiap perlakuan
Tabel 5 terlihat bahwa koefisien respirasi tertinggi dicapai oleh perlakuan A
sebesar 1 .OO dan terendah pada perlakuan C sebesar 0.72. Sedangkan ekskresi amonia tertinggi dicapai oleh perlakuan F sebesar 0.105 mg MX3/g/jam dan terendah pada perlakuan B(0.085 NH3/g/jam)
Pembahasan
Pertumbuhan merupakan perubafian ukuran dalam suatu periode waktu tertentu.
Perubahan ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Dari sudut fisik, perubahan
berupa peninghtan ukuran bobot, panjang dan lebar tubuh. Dari sudut kimia, perubahan
ini dapat dilihat dari peningkatan kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu dan air di
dalam tubuh. Sedangkan dari sisi energi, pertumbuhan ini dilihat dari peningkatan
[image:114.559.54.483.111.226.2]Pertumbuhan terkait dengan faktor luar dan dari dalam tubuh ikan. Selain
lingkungan perairan. faktor luar yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah
makanan. Unsur makanan yang sangat terkait dengan pertumbuhan adalah protein,
dimana fbngsi utama protein adalah untuk pertumbuhan. Disamping itu protein juga
b d n g s i untuk pembentukan jaringan, pemeliharaan tubuh dan penggantian jaringan-
jaringan yang rusak.
Setelah 40 hari percobaan maka didapatkan adanya pertambahan bobot rata-rata
individu ikan setiap perlakuan (Gambar 1). Hal ini menunjukkan bahwa energi yang
dikonsumsi melebihi energi yang diperlukan untuk kebutuhan pokok, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Lovell (1989) bahwa kebutuhan energi untuk kebutuhan pokok harus
dipenuhi terlebih dahulu, dan apaKila berlebih maka kefebihannya akan digunakan untuk
pertumbuhan.
Berdasarkan energi pakan yang dimiliki oleh keenam pertakuan (Tabel 2) terlihat
bahwa pakan A (30%; 9.61, B(29.124; 11.5) dan C(37.4%; 8.9) memiliki energi antara 2880
-
3340 kkal DElg pakan, sedangkan pakan D(38.2%;11.0), E ( 4 6 . m ; 8.5) danF(47 0%; 9.8) memiliki energi berkisar antara 3900 - 4600 kkal DEIg pakan. Kedua
kelompok energi ini bila dibandingkan terlihat bahwa konsumsi pakan perlakuan
A (30%; 9.6), B(29.1%; 1 1.5) dan C(37.4%; 8.9) lebih tinggi dibanding dengan perlakuan D(38.2%;11.0), E(46.7%; 8.5) dan F(47.0%; 9.8). Hal ini menunjukkan bahwa ikan
dengan pakan yang berenergi lebih rendah berusaha memenuhi kebutuhan energinya
dengan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Hal ini mengakibatkan jumlah nutrien yang
masuk seperti protein dan lemak juga lebih banyak. Terbukti dengan retensi protein dan
tinggi dibanding dengan pakan D(38.2%,11.0), E(46.7%; 8.5) dan F(47.0°/o; 9.8).
Kondisi ini mengakibatkan efisiensi pakan dan laju pertumbuhan juga relatif lebih tinggi.
Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Garling d m Wilson (1976) bahwa kebutuhan
energi ikan IcsaIurus punctdus adalah 2750 - 3410 kkal/kg pakan pada kandungan
protein pakan 36
-
40%. Sementara Suhenda (1988) bahwa pakan buatan dengan kadar protein 400/0 dan kandungan energi 3000 kkal DE/g pakan dapat digunakan dalambudidaya intensif benih ikan lele {Claras batrachus).
Pakan A , B dan C yang merniliki energi retatif sama (2880
-
3340 kkal DE/g)meenghasilkan retensi protein, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang
berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B(29.1%; 11.5) memberikan
retensi protein, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang lebih tinggi dibanding
perlakuan A dan C. Hal ini diduga karena kandungan lemak pakan B relatif iebih tinggi
sebesar 14.79% dibanding dengan pakan A dan C sebesar 5.59% dan 10.06%. Hal ini
menyebabkan energi non protein pakan B relatif lebih cukup " sebagai protein sparing
effect" sehingga protein lebih efisien digunakan untuk pertumbuhan. Sedangkan pakan A
dan C diduga akibat kadar lemak yang relatif rendah sehingga protein ikut diiatabolisir
sebagai sumber energi sehingga porsi protein untuk pembentukan jaringan tubuh juga
berkurang. Hal ini terbukti dengan rendahnya protein tubuh pad& perlakuan A dan C. Akibatnya retensi protein lebih rendah maka efisiensi pakan dan laju permmbuhan m a n
perlakuan A dan C juga lebih rendah dibanding p e r l t h a n B.
Sementara itu pakan D(38.2%; 1 1.0), E(46.7°/o; 8.5) dan F(47.0%; 9.8) juga
memiliki total energi pakan yang relatif sama yakni 3900
-
4600 kkal DE/ g pakanHasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan E (46.7% ; 8.5) menghasilkan retensi
protein, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang lebih tinggi dibanding pakan
D(38.2%; 11) dan perlakuan F(47.9%; 9.8). Berbeda dengan sebelumnya, laju
pertumbuhan perlakuan D dan F yang lebih rendah diduga
k e n a
lemak pakan D dan Fyang tinggi sebesar 25.96% dan 3 1.79% sehingga total energi nonprotein kedua pakan ini
terlampau tinggi bagi kebutuhan en& ikan baung. Lemak pakan yang tinggi akan
membatasi jumlah pakan yang dikonsumsi . Akibatnya jumlah protein yang dikonsumsi
juga berkurang. Hal ini dibuktikan dengan kandungan protein tubuh pada perlakuan D
dan F lebih rendah. Akibatnya retensi protein juga lebih rendah dan ha1 ini dibuktikan
dengan ekskresi ammonia yang lebih tinggi pada perlakuan D dan F dibanding perlakuan
F (Tabel 5). Hal ini mengakibatkan laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan D dan F
lebih rendah dibanding perlakuan E (Tabel 3).
Protein dan imbangan energi protein pakan sangan berperan dalam pertumbuhan
ikan baung. Hasii penelitian menunjukkan bahwa ikan baung dengan perlakuan
B(29.1% ; 11.5) menghasilkan bobot rata-rata akhir individu tertinggi. Hal ini
disebabkan oleh adanya kandungan protein (29.1%), lemak (14.79%) dan karbohidrat
<46.83O/0) yang menghasilkan total energi pakan sebesar 3341 kkal DE/kg pakan yang
relatif sesuai dibanding dengan perlakuan lainnya. Ketepatan energi pakan pada
perlakuan ini mengakibatkan protein yang ada dapat disimpan cukup banyak yang
digunakan untuk pembentukan jaringan tubuh. Hal ini ditunjukkan oleh nilai retensi
protein tertinggi dan protein tubuh yang cukup tinggi, sedangkan ekskresi ammonia
adelah mencapai nilai terendah. Sementara itu nilai koefisien respirasi pada perlakuan ini
dalam metabolismenya. Hal ini menyebabkan taju pertumbuhan harian dan efisiensi
pakan yang tertinggi masing-masing sebesar 5.05M.02% dan 55.63+3.62% dibanding
perlakuan lainnya. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan baung
tertinggi dicapai pada kadar protein pakan 29.1% dan total energi 3341 kkat DE/ kg
pakan.
Pakan C (37.4%;8.9) yang memilib total energi sebesar 3327 WEaI DE/g pakan relatif sama dengan pakan B menghasilkan konsumsi pakan yang tertinggi. Hal ini
mengakibatkan retensi protein yang mkup tinggi sehingga mengakibatkan ekskresi
ammonia dari proses katabolisme protein mkup rendah. Pemanfaatan protein untuk
pembentukan jaringan yang cukup tinggi ini didukung oleh kecenderungan benih ini
menggunakan lemak dalam metabolismenya untuk menghasilkan energi. Hal ini
dibuktikan dengan nilai koefisien respirasi sebesar 0.76. Akibatnya protein cukup efisien
digunakan untuk pertumbuhan. Hal ini mengakibatkan bobot akfiir rata-rata dan laju
pertumbuhan llariannya juga tinggi.
Pakan dengan kadar protein yang relatif sama namun memiliki imbangan energi
protein yang berbeda menghasilkan retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan
harian dan efisiensi pakan yang berbeda. Rasio energi protein yang lebih tinggi
menghasilkan retensi protein, retensi lemak dan laju pertumbuhan harian yang lebih
rendah kecuali pada perbandingan antara perlakuan A dan B. Peningkatan total energi pakan D dan F karena kadar lemak pakan yang tinggi sebesar 25.96% dan 31,79%,
namun memiliki kadar karbohidrat yang lebih rendah sebesar 30.01% dan 16.6%
dibanding pakan C dan E. Peningkatan kadar lemak yang tinggi tersebut menghasilkan
mengemukakan bahwa tinggin~a energi di &lam pakan menyebabkan tejadinya
akumulasi lemak yang tinggi pa& tubuh ikan. Tingginya akumulasi lemak ditubuh
diduga mempengaruhi metabolisme asam amino. Asam amino yang diserap usus dan
tidak dirnanfaatkan untuk sintesis protein tubuh akan dideaminasi menjadi amonia (NH-
3) dan diekskresikan lewat insang (Lovell, 1989). Hal ini ditunjukkan dengan ekskresi ammonia pada perlakuan D dan F yang lebih tinggi dibanding perlakuan C dan E. Deaminasi asam amino menyebabkan retensi protein yang lebih rendah sehingga laju
pertumbuhan harian dan efisiensi pakan menjadi rendah.
Pemberian pakan dengan kadar protein yang relatif sama dan total energi yang
berbeda (kadar lemak rendah dan karbohidrat tinggi) menghasilkan retensi lemak yang
lebih tinggi (Tabel 3). Pakan A menghasilkan retensi lemak tertinggi 1 9 3 . 7 0 i 2 2 . 3 9
sementara kadar lemak pakan paling rendah sebesar 5.59% bila dibandingkan dengan
seluruh perlakuan. Pakan C memiliki retensi lemak yang lebih tinggi dibanding pakan I).
Demikian pula dengan retensi lemak pakan E lebih tinggi dibanding pakan F(Tabe1 3).
Hal ini disebabkan oleh lemak dibutuhkan sebagai lemak struktural Kebutuhan tersebut
dipenuhi dengan cara ikan mensintesis lemak dari nutrien non Iernak. Tabel 2
menunjukkan bahwa pakan A memiliki karbohidrat yang lebih tinggi dibanding pakan B,
demikiam pula antara pakan C dan D serta antara pakan E dan F. Akibatnya
kemungkinan terjadi sintesis lemak yang berasal
dari
karbohidrat menjadi asam lemakdan trigliserida yang terjadi di organ hati dan jaringan lemak (Linder 1992). Katabolisme terhadap karbohidrat fiususnya benih pada perlakuan A terbukt'i dengan nilai koefisien
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Untuk menghasilkan efisiensi pakan dan pertumbuhan terbaik benih ikan baung
maka digunakan pakan dengan kadar protein 29.1% dan rasio energi protein 11.5
(3341.1 1 kkal DEIg) atau kadar protein &tingkatkan sebesar 37.4% namun rasio energi protein ditwunkan menjadi 9 . 8 (3327.1 1 kkal DE/g)
Saran
Dalam usaha pembesaran ikan perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang
penentuan kadar protein dan rasio energi protein yang berbeda sehingga ada
kesinambungan komposisi nutrien antara benih dan ukuran dewasa untuk menghasilkan
DAFTAR PUSTAKA
Alanara, 1994. The effect of temperature,dietary energy content and reward level on the demand feeding activity of raibouw trout (Onchorhynchus mykiss), Aquaculture, 126: 348-359
Andrews, J.W. 1977. Protein requirement, p:10-13, In R.R. Stickney and R.T.
Love11 (Eds) Nutrition and feeding of channel catfish. Southern cooperative Seies Bull., No. 21 8.
Asmanelli, S., S.Suriatna dan H. Yuliansyah, 1977. Uji adaptasi budidaya ikan gurame, nila merah, baung dan patin dalam keramba panda. Laporan Penelitian, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan penefitian dan Pengembangan Pertanian. 35 hal.
Brett, J.R. 1979. Environmental factors and growth, p: 599-675. In W.S. Hoar, D.J. randall and J.R Brett (Eds). Fish Physiology, Vol. VIn. Acad. Press, London.
Brett, J.R. and T.D.D. Groves. 1979. Physiological energetics, p: 280-344. In W.S Hoar D.J. Randal and J.R. Brett (Eds.) Fish Physiology, VoI. VIII. Acad. Press, London.
Catacutan, M.R. and R.M. Coloso. 1997. Growth of juvenile Asian seabass, b f e s
caIcarzyer fed varying carbohydrates and lipid levels. Aquaculture, 149: 137-144.
Chuapoehuk, W. 1987. Protein requirement of waliking catfish, Clmias batrachus (Linnaeus) fiy. Aquaculture, 63 : 215-2 19.
Degani, G.A., A. Horowitz and D. Levanon. 1985. Effect of protein level in purified diet and density, ammonia and 0 2 level on growth of juvenile european eels (Anguilla anguzlla L.). Aquaculture, 46: 193-200.
Djadjadiredja, R., Hatimah, S. dan Arifin, 2. 1977. Buku pengenalan sumberdaya perikanan darat. Bagian I. Diektorat Jenderal perikanan. Jakarta.
Dosdat, A., F. Servais., R. Metailler., C.Huelvan and E. Desbruyeres. 1996. Comparisons of nitrogenous losses in five teleost fish species. Aquaculture, 141 : 107-127.
Eckert, R David, R and George, A 1980. Animal Physiology. Mechanisms and Adaptation. Third Edition. Prentice and Hall, New York.
Forsberg, J.A. and R.C. Summerfelt. 1992. Ammonia excretion by fingerling walleyes fed two formulated diets. The progressive Fish-Culturist, 54345-58.
Furuichi. 1998. Fish nutrition. In Fish nutrition and mariculture. Watanabe, T (ed.). JICA textbook. The General Aquaculture Course. Japan.
Garling, D.L. Jr. and R.P. Wilson. 1976. Optimum dietary protein to energy ratio for channel catfish fingerIings, Ictatui-uspunctatus. J. Nutr. 106: 1368- 1375
Halver, J.E. 1988. Fish nutrition. Academic Press,
INC.
London. 789 pp.Hasting, W.H. and Dikie. 1972. Feed formulation and evaluation, p. 327-371. In Fish Nutrition. J.E Halver (ed.). Acad. Press. Inc. New York.
Henken, A.M., Machiels, M.A.M., Dekker, W., and Hogendom, H. 1986. The effect of dietary protein and energy content on growth rate and feed utilization of the African catfish, CCarias gmiepimrs (Burchell 1822). Aquaculture 58 : 55-74
Hepher, B. 1990. Nutrition of pond fishes. Cambridge University Press. Cambridge, New York. 388 pp.
Hickling, C.F. 1971. Fish culture. Faber and Faber, London, 3 17 p
Huet, M. 1971. Textbook of fish culture. Fishing News Book Ltd., London, 436 p. Huisman, E.A. 1976. Food conversion efficiencies at maintenance and production
levels for carp, Cyprinus curpio