• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN INTERIOR NURUL HUDA ISLAMIC CENTER DENGAN SENTUHAN PENDIDIKAN BERCITARASA PEMBELAJARAN di UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DESAIN INTERIOR NURUL HUDA ISLAMIC CENTER DENGAN SENTUHAN PENDIDIKAN BERCITARASA PEMBELAJARAN di UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

DESAIN INTERIOR NURUL HUDA ISLAMIC CENTER DENGAN

SENTUHAN PENDIDIKAN BERCITARASA PEMBELAJARAN

di UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Seni Jurusan Desain Interior

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Disusun oleh: ANIK WIDYANINGSIH

C 0806003

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Konsep Perencanaan dan Perancangan Interior

Nurul Huda Islamic Center Dengan Sentuhan Pendidikan Bercitarasa pembalajaran di Universitas Sebelas Maret Surakarta

Disetujui untuk diajukan, guna melengkapi syarat kelulusan Tugas Akhir Jurusan Desain Interior

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Surakarta 2010

Disetujui oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

Mulyadi, SSn, M.Ds Ambar Mulyono, SSn, M.T NIP. 19730702 200212 1 001 NIP. 19740611 200801 1 015

Mengetahui Koordinator Tugas Akhir

(3)

commit to user

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disahkan dan dipertanggungjawabkan pada Sidang Tugas Akhir Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret Surakarta

2010

Pada hari Kamis, 29 Juli 2010 Penguji :

1. Ketua Sidang

Lu’lu’ Purwaningrum, SSn, MT

NIP. 19770612 20012 2 003 ( ... ) 2. Sekretaris Sidang

Drs. Soepono Sasongko, M.Sn

NIP. 19570319 198903 1001 ( ... ) 3. Pembimbing I

Mulyadi, SSn, M.Ds

NIP. 19730702 200212 1 001 (... ) 4. Pembimbing II

Ambar Mulyono, SSn, M.T

NIP. 19740611 200801 1 015 ( ... )

Mengetahui,

Ketua Jurusan Desain Interior Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Anik Widyaningsih NIM : C0806003

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Laporan Tugas Akhir berjudul

“Desain Interior Nurul Huda Islamic Center Dengan Sentuhan Pendidikan Bercitaasa Pembelajaran di Universitas Sebelas Maret Surakarta” adalah benar-benar karya sendiri, bukan plagiat dan dibuatkan orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam Laporan Tugas Akhir ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam Daftar Pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan Tugas Akrir dan gelar yang diperoleh.

Surakarta, 29 Juli 2010 Yang membuat pernyataan,

(5)

commit to user

v

MOTTO

“…berdoalah kepada-KU, niscaya akan AKU perkenankan bagimu…” (QS. Al-Ghofir : 60)

“ Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik, Tuhan pasti kan menunjukan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa. ” (Jangan Menyerah, D’Masiv)

“ Jika ingin mewujudkan mimpimu mintalah kepada Allah disertai ibadah dan doa, kemudian tekunlah pada niatmu seraya berikhtiar di jalan-Nya, insyaallah akan dibukakan jalan oleh-Nya dan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. “ (Penulis)

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Karya ini merupakan hasil perjuangan panjang yang melelahkan, teriring oleh kesabaran, ketekunan serta doa dan wujud kasih sayang yang tak terkira, karya ini saya persembahkan kepada:

1. Allah SWT

2. Ayah dan Bunda tercinta, Walidi dan Sri Wahyuni. Ini untukmu Ayah…Ibu… 3. Adikku Bondan Wahyu Tirtono beserta keluarga besarku.

4. Sahabat, kawan tercinta beserta almamaterku. Semoga dari sinilah awal keberhasilanku.

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Tiada kata terindah selain ucapan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, karunia dan berkah-Nya sehingga penulis mendapat bimbingan dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir dengan judul Desain Interior Nurul Huda Islamic Center Dengan Sentuhan Pendidikan Bercitarasa Pembelajaran di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam meyelesaikan Tugas Akhir ini tidak sedikit hambatan yang dihadapi oleh penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini penulis tidak lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada :

1. Allah SWT karena limpahan rahmat, nikmat dan Hidayahnya-Nya penyusunan TA ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Ayah Bunda tercinta, yang telah sabar membimbing Anik hingga detik ini, terima kasih atas semua kasih sayang, perhatian, doa, dukungan penuh (materi dan spiritual), semangat serta nasehatnya tanpa kalian Anik “rapuh”. Love u so much. 3. Adikku Bondan Wahyu Tirtono bandel, perhatian, canda dan tawamu

meramaikan hidupku, terimakasih kau telah menjadi “ojek” setiaku.

4. Drs. Rahmanu Widayat, M.Sn, selaku Ketua Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

5. Pembimbing Tugas Akhir Mulyadi, SSn, M.Ds bersama Ambar Mulyono, SSn, M.T, terima kasih atas waktu, bantuan ide, dan pinjaman buku-buku referensi, motivasi. Pak Mul….terimakasih atas usulan materi TA-nya. Semoga desain Nurul Huda Isamic Center ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terimakasih juga atas nasehat dan doanya.

(8)

commit to user

viii

7. Hafiq Wijanarko, inspirator dan motivatorku, terimakasih telah mengajariku tentang banyak hal; agama, kehidupan, perjuangan juga cinta. Terima kasih juga telah menemani kemanapun Anik survey. “rencanaNYA lebih sempurna dan lebih

indah kanda…”

8. Kartika Chandra Dewi Pertiwi yang tidak bosan-bosannya memboncengkan Anik dari awal masuk kuliah hingga sekarang juga menjadi teman curhat yang baik.

“Bantuan, semangat dan dukungan yang kau beri begitu tulus kurasakan cecep…, hanya Allah yang mampu membalasnya”

9. Ani Kurnia Ningrum sahabat sejak SMPku dulu yang selalu setia mendengarkan keluh kesahku. “Kita tercipta karenaNYA, dan akan kembali kepadaNYA, Anik yakin kamu pasti bisa menatap dunia walau tanpa ibu disisimu”.

10.Nur Hidayati yang setia menemaniku saat-saat sulit waktu KP, karena hanya kita

berdua yang “terbuang” dari kumpulannya.

11.Sahabat-sahabatku Cecep, Nur, Putu, Inung, Hesti yang selalu memberikan dukungan dan semangat yang luar biasa, terima kasih juga telah membantuku di saat – saat pembuatan maket bersama Putri, Fahmi, Maya dan Adek. Semua

interior angkatan ’06 Hafidh, Pram, mas Didik, Harun, Muhib, Rosi, Ari, Rini,

Mbak nita, Mbak Nanik, Arkhi, Ginar terimakasih buat persahabatan dan bantuannya selama ini.

12.Semua anak-anak Interior UNS. Terus semangat dan terus berjuang, karena hidup di interior memang penuh perjuangan hehehe…..

13.Wahid terimakasih untuk service dan pinjaman printernya, Ulik dan Rifki yang telah rela menjadi guide saat keliling Bandung. Esti, Hanif, Ica, Tegar, Dita, Santi, Dinar kalian memberi warna dalam hidupku. I love u all

14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

Tiada sesuatu apapun yang dapat penulis persembahkan selain do’a semoga Allah

(9)

commit to user

ix

Penulis menyadari Tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang dapat membantu sehingga dapat menyempurnakan penyusunan skripsi ini dari pembaca.

Wassalamu’ala

ikum. Wr. Wb

Surakarta, 29 Juli 2010 Penulis,

(10)

commit to user

x

DESAIN INTERIOR NURUL HUDA ISLAMIC CENTER DENGAN

SENTUHAN PENDIDIKAN BERCITARASA BEMBELAJARAN

DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

ABSTRAK

Widyaningsih, Anik. C0806003 2010. Desain Interior Nurul Huda Islamic Center Dengan Sentuhan Pendidikan Bercitarasa Pembelajaran di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pengantar Tugas Akhir: Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Perencanaan Tugas Akhir ini ditujukan untuk membuat perencanaan dan perancangan Islamic Center Nurul Huda yang berada di kawasan pendidikan yaitu Universitas Sebelas Maret Surakara, oleh karenanya konsep desainnya diwujudkan dengan pendekatan pendidikan, sehingga Islamic Center Nurul Huda dirancang dengan menggabungkan fungsi religi dan edukasi

Desain Interior Nurul Huda Islamic Center dengan Sentuhan Pendidikan Bercitarasa Pembelajaran di Universitas Sebelas Maret Surakarta ini dibatasi pada elemen interior terutama pada segi penataan ruang dan memusatkan perencanaan dan perancangan pada penempatan lay out, furniture dan mempertimbangkan pemilihan warna yang berkaitan dengan sesain islami dan sesuai dengan fungsi bangunan

Rumusan masalah yang ditampilkan adalah bagaimana menyelesaikan perencanaan kegiatan, fasilitas, dan pola tata ruang yang baik, menyelesaikan penataan interior ruang yang sesuai konsep dan tema dengan aspek bagaimana menghadirkan suasana dan penataan interior Nurul Huda Islamic Center yang representative dalam menyuguhkan dunia religi dan edukasi dalam lingkungan akademika kepada semua civitas kampus dan masyarakat sekitar.

Tujuan dari karya ini adalah menyelesaikan perencanaan kegiatan, fasilitas, dan pola tata ruang yang baik, menyelesaikan penataan interior ruang yang sesuai konsep dan tema dengan aspek bagaimana menghadirkan suasana dan penataan interior Nurul Huda Islamic Center yang representative dalam menyuguhkan dunia religi dan edukasi dalam lingkungan akademika kepada semua civitas kampus dan masyarakat sekitar.

(11)

commit to user

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR SKEMA ... xv

DAFTAR BAGAN ... xvi

LAMPIRAN ... 1

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 4

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan ... 5

E. Manfaat ... 5

F. Konsep Dan Tema Perancangan ... 5

G. Sasaran Perancangan ... 6

(12)

commit to user

xii

I. Metodologi ... 7

BAB II. KAJIAN LITERATUR ... 11

A. Kajian Teori ... 11

1. Kajian Tentang Islam ... 11

2. Kajian Tentang Arsitektur Islam ... 14

3. Kajian Tentang Masjid ... 31

B. Pendekatan Desain ... 72

1. Pengertian Judul Proyek ... 72

2. Pola Pikir Desain ... 74

3. Konsep ... 76

4. Tema ... 80

BAB III. STUDI LAPANGAN ... 81

A. Masjid Kampus UGM ... 81

B. Islamic Center Semarang (Masjid Ajung Jawa Tengah) ... 86

C. Masjid Kampus ITB ... 92

BAB VI. PROGRAMING ... 100

A. Definisi Proyek ... 100

B. Asumsi Lokasi ... 101

C. Status Kelembagaan ... 101

D. Struktur Organisasi ... 102

E. Program Kegiatan ... 102

F. Alur Kegiatan... 103

G. Program Ruang ... 107

H. Besaran Ruang ... 108

(13)

commit to user

xiii

J. Sistem Interior ... 117

K. Sistem Keamanan ... 124

L. Sistem Organisasi Ruang ... 128

M. Sistem Sirkulasi ... 130

N. Zoning & Grouping ... 132

O. Pola Hubungan Antar Ruang ... 137

BAB V. KONSEP DESAIN ... 139

A. Ide Gagasan ... 139

B. Tema ... 139

C. Suasana Ruang ... 139

D. Pola Penaaan Ruang ... 140

E. Pembentuk Ruang ... 142

F. Pengisi Ruang ... 144

G. Sistem Interior ... 144

H. Sistem Keamanan ... 145

VI. PENUTUP ... 148

DAFTAR PUSTAKA ... 153

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

2.1. Khath Mashq ... 28

2.2. Khath Square Kufic ... 29

2.3. Khath Eastern Kufic ... 29

2.4. Khath Thuluth ... 29

2.5. Khath Nashhi ... 29

2.6. Khath Muhaqqaq ... 30

2.7. Khath Rihani ... 30

2.8. Khath Taliq ... 30

2.9. Zoning Ruang Sholat ... 30

2.10. Pola Hiasan Arabic ... 40

2.11. Penerapan Hiasan Arabic ... 40

2.12. Pola Octagon ... 41

2.13. Pola Bintang ... 41

2.14. Pola Hias Geometri ... 41

2.15. Penerapan Bentuk Geometri Pada Mimbar ... 41

2.16. Penerapan Bentuk Geometri Pada Plafon ... 41

2.17. Perpaduan Pola Hias Kaligrafi Dengan Bentuk Geometri ... 42

2.18. Pantulan Cahaya Yang Berkesan Mewah ... 43

2.19. Pengaruh Kebisingaan Lantai Terhadap Sumber Suara ... 45

2.20. Pemanfaatan Dinding Belakang dan Samping Secara Akustik ... 47

2.21. Pemantulan Ceiling Secara Akustik ... 47

2.22. Sudut Datang Cahaya Terhadap Panggung ... 50

2.23. System Penghawaan ... 53

(15)

commit to user

xv

2.25. Kurfa Penundaan Pemantulan pada 50Hz Untuk Berbagai Volume Ruang ... 60

2.26. Kurfa Pemanjangan Bunyi Pada Tingkat Suara ... 61

2.27. Penundaan Waktu Pada Bunyi PAntul Memperkuat Bunyi Langsung ... 62

2.29. Cacat-cacat Akustik Dalam Auditorium ... 63

2.30. Gaung Pada PErmukaan Pemantulan Bunyi Yang Tidak Sejajar ... 64

2.31. Dinding Belakang Pemantul Bunyi ... 64

2.32. Desain Dinding Isolasi Suara ... 64

2.33. Penataan Lay Out Tipe Proscenium Theaters ... 67

2.34. Penataan Lay Out Tipe Arena Theaters ... 67

2.35. Penataan Lay Out Tipe Open Thurs Theaters ... 68

2.36. Penataan Kursi ... 69

2.37. Tipe Sirkulasi ... 71

2.38. Komponen Pendidikan ... 80

3.1. Masjid Kampus UGM ... 81

3.2. Interior Masjid Kampus UGM ... 86

3.3. Masjid Agung Jawa Tengah ... 87

3.4. Masjid Agung Jawa Tengah ... 87

3.6. Kantor Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah ... 91

3.7. Lobby Masjid Agung Jawa Tengah ... 91

(16)

commit to user

xvi

DAFTAR SKEMA

4.1. Aktivitas Sholat Wajib ... 103

4.2. Aktivtas Peserta Mabit ... 103

4.3. Aktivitas Rapat / Kajian ... 104

4.4. Aktivitas Belajar / Bimbingan / TPA ... 104

4.5. Aktivitas Pengunjung Perpustakaan ... 104

4.6. Aktivitas Petugas Perpustakaan ... 105

4.7. Aktivitas Pengurus Masjid ... 105

4.8. Aktivitas Penyumbang Dana ... 105

4.9. Aktivtas Pengunjung Kafetaria ... 106

4.10. Aktivitas Petugas Kafetaria ... 106

4.11. Aktivitas Pengunjung Minimarket ... 106

(17)

commit to user

xvii

DAFTAR BAGAN

(18)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Universitas Sebelas Maret berdiri sejak 11 Maret 1976, yang awalnya merupakan gabungan dari 5 perguruan tinggi yang ada di Surakarta. Penggabungan beberapa perguruan tinggi tersebut, mempunyai satu tujuan yang besar, yakni meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Surakarta. Setelah 5 tahun melakukan konsolidasi, UNS mempersiapkan diri untuk memulai proses perkembangannya. Pembangunan secara fisik (tahap pertama) dimulai pada tahun 1980 berakhir tahun 1985. Pembangunan fisik kampus yang tergolong cepat, juga diimbangi dengan perkembangan di sektor yang lain. Tahun 1986, dilakukan peletakan dasar-dasar percepatan pertumbuhan, Pada masa ini, perubahan telah terjadi, seperti perkembangan yang cukup bagus dalam bidang akademik dan jumlah staf, juga dalam penguatan infrastruktur kampus.

(19)

commit to user

di tingkat internasional yang mampu berkiprah sebagai perguruan tinggi otonom dan berkelas dunia (world class university). Upaya untuk mengembangkan UNS menjadi universitas unggul di tingkat internasional dan maju di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni seperti yang diamanatkan dalam Visi dan Misi Universitas Sebelas Maret (UNS), mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab yang besar, terutama dalam membangun komitmen bersama yakni mengedepankan kualitas, profesional, efektif dan efisien.

(20)

commit to user

merupakan satu-satunya masjid terbesar yang berada di lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Masjid kampus UNS atau yang lebih dikenal dengan Masjid Nurul Huda UNS sejak pertama diresmikan penggunaannya pada tanggal 22 Oktober 1982 telah menjadi pusat kegiatan keislaman dan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan dakwah islam. Selain fungsinya sebagai sarana tempat ibadah ( sholat ), masjid Nurul Huda Juga berfungsi sebagai sarana menanamkan nilai – nilai islam kepada civitas muslim UNS, khususnya mahasiswa muslim dan berpengaruh sangat signifikan terhadap proses pembentukan moral. Dimasjid Nurul Huda inilah berbagai kegiatan pelatihan dan kajian keislaman dilakukan, dan secara masif berlangsung juga kegiatan pendampingan mata kuliah agama islam ( aistensi agama islam ) selama satu semester penuh yang diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa baru UNS setiap tahunnya. Dari kegiatan masjid Nurul Huda UNS inilah telah banyak dilahirkan sarjana – sarjana muslim yang berkomitmen tinggi pada nilai moral dan berkemampuan melakukan perubahan masyarakat.

(21)

commit to user

jamaah menjadikan masjid kampus menjadi terasa sempit ( tidak memadai ) dan kurang nyaman sebagai sarana ibadah.

Disamping itu saat ini telah terjadi berbagai kerusakan fisik bangunan masjid karena termakan usia. Banyak sekali atap yang bocor, kondisi eternit banyak yang jebol. Berbagai upaya pemeliharaan dan perbaikan pun dilaksanakan. Sejak pertama kali berdiri, masjid Nurul Huda UNS telah mengalami 3 ( tiga ) kali perbaikan, yaitu penambahan dinding kaca pada sisi utara, selatan dan timur lantai satu ( dilakukan sekitar tahun 1987- 1988 ) kemudian penggantian atap dari seng diganti dengan genting ( dilakukan

medio ’90-an ) dan yang ketiga adalah perbaikan lantai 1 serambi masjid pada

tahun 2002 yaitu dari tegel diganti dengan keramik.

Karena perbaikan selama ini hanya bersifat tambal sulam, maka timbullah ide atau gagasan untuk segera dilakukan renovasi secara total masjid Nurul Huda UNS, yang diharapkan akan sangat berpengaruh terhadap penambahan daya tampung masjid dan terciptanya kondusivitas masjid sebagai pusat beribadah sekaligus pusat pendidikan agama islam yang nantinya akan melahirkan civitas-civitas muslim yang berdedikasi dan kompeten.

B. BATASAN MASALAH

1. Pembahasan diutamakan dalam lingkup disiplin interior

2. Fasilitas utamanya adalah bangunan masjid, fasilitas pendukungnya adalah bangunan serba guna.

(22)

commit to user

C. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana merencanakan dan merancang interior masjid di lingkungan pendidikan?

2. Bagaimana merencanakan dan merancang interior Nurul Huda Islamic Center yang berfungsi sebagai sarana beribadah sekaligus sebagai sarana pendidikan?

D. TUJUAN

1. Merencanakan dan merancang interior masjid kampus sebagai masjid pendidikan.

2. Merencanakan dan merancang interior Nurul Huda Islamic Center sebagai sarana beribadah sekaligus sebagai sarana belajar.

E. MANFAAT

Nurul Huda Islamic Center menjadi sebuah sarana beribadah sekaligus sarana pendidikan di lingkungan kampus yang mampu dijadikan wadah untuk mempertebal iman dan taqwa, menimba ilmu dunia dan akherat, pusat syiar agama Islam, serta dapat mempererat tali silaturahmi sesasa muslim.

F. KONSEP DAN TEMA PERANCANGAN

Sesuai dengan judul proyek “Nurul Huda Islamic Center dengan

Sentuhan Pendidikan Bercitarasa Pembelajaran”, maka konsep yang

(23)

commit to user

perpustakaan yang berada di area serambi masjid dan bersifat tebuka, selain itu di salah satu dinding serambi masjidnya ada relief yang menggambarkan tentang perkembangan masjid yang ada di nusantara. Kata-kata bijak yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadist juga hadir sebagai elemen estetis Nurul Huda Islamic Center ini.

Tema modern fungsional hadir dalam suasana ruangnya, clean look, bentuk geometris yang tegas, serta bentuk-bentuk furniture yang simple.

G. SASARAN PERANCANGAN

1. Sasaran Pengunjung

- Seluruh civitas Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta

- Masyarakat sekitar.

2. Sasaran Desain

- Menitik beratkan pada bangunan utama (masjid)

- Penciptaan suasana yang sesuai dengan tema perancangan.

H. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I. (PENDAHULUAN)

Terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan sasaran serta metodologi yang berisi tentang metode dan sistematika pembahasan. Sebagai awal dari perencanaan dan perancangan Nurul Huda Islamic Center di Surakarta.

(24)

commit to user

Membahas tentang kajian teoritis mengenai perancangan Nurul Huda Islamic Center. Agar data-data yang penulis sajikan dapat dipertanggungjawabkan kevalitan datanya, dan dipakai sebagai bahan acuan standart-standart yang ditetapkan pada perancangan Islamic Center.

BAB. III (STUDI LAPANGAN)

Berisikan lokasi-lokasi yang penulis observasi sebagai pembanding dan atau sebagai bahan pembelajaran tentang hal apa saja yang dibutuhkan untuk merancang sebuah Islamic Center yang tepat, agar penulis mendapatkan gambaran yang jelas mengenai Islamic Center, dan sesuai dengan nilai-nilai yang ada.

BAB. IV (KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN)

Berupa konsep perancangan Nurul Huda Islamic Center secara terperinci dengan memberikan alternative-alternatif desain sampai didapatkan desain yang sesuai dengan konsep perancangan.

BAB. V (KESIMPULAN)

Merupakan kesimpulan dari proses analisis konsep perencanaan dan perancangan Nurul Huda Islamic Center.

I. METODOLOGI

Berbagai hal yang berkaitan dengan metodologi penulisan perencanaan dan perancangan kali ini dapat penulis jabarkan secara singkat seperti dibawah ini:

1. Ruang Lingkup Penelitian

(25)

commit to user

perhitungan efisiensi waktu dan biaya, karena tidak memerlukan biaya dan waktu yang khusus untuk datang kesana, lokasinya pun mudah diketemukan, karena terletak di kota-kota besar, yang telah lebih dahulu terkenal di media, baik televisi, koran serta internet. Serta dengan pertimbangan Islamic Center yang telah penulis ketahui mempunyai data yang cukup lengkap sebagai pembanding agar perencanaan dan perancangan kali ini mendapatkan batasan-batasan yang jelas.

Dengan data-data yang telah penulis peroleh, akan mempermudah penulis dalam mempertimbangkan aspek dah hal-hal apa yang boleh ada dan yang tidak boleh, serta yang pantas dan yang tidak. Dan apa saja yang idealnya dibutuhkan didalam Isalmic Center, dalam hal ini juga berfungsi sebagai pedoman perancangan.

2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam perencanaan kali ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari narasumber dari awal berdiri bahkan sejarah berdirinya tempat tersebut. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari suatu organisasi / perusahaan dalam bentuk yag sudah jadi dan berupa publikasi.

Sumber data dalam penelitian kali ini penulis peroleh dari tempat dan peristiwa Islamic Center yang penulis teliti, arsip, dokumen, buku, foto atau sejarah berdirinya Islamic Center yang penulis teliti.

3. Teknik Pengumpulan Data

(26)

commit to user

a. Observasi langsung

Penulis mengadakan pengamatan secara langsung ke objek penelitian dengan memperhatikan segala aspek yang terkait dengan perencanaan Nurul Huda Islamic Center ini.

b. Wawancara

Penulis melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak / narasumber yang terkait dengan objek penelitian yang sedang penulis amati.

c. Pencatatan

Penulis melakukan pencatatan pada data-data yang penting yang sangat berguna dalam perancangan, yang bersumber dari instansi-instansi yang terkait, data-data dari internet, maupun data-data dari buku-buku pustaka.

4. Variabel

Yang menjadi variabel dalam penelitian kali ini adalah:

a. Kebutuhan ruang-ruang yang vital didalam Islamic Center yang akan menentukan ruang-ruang yang dibutuhkan atau minimal harus ada didalam perancangan Nurul Huda Islamic Center, agar tidak terjadi kelalaian atau kekurangan ruang yang sangat dibutuhkan.

(27)

commit to user

c. Konsep, tema dan suasana yang diusung oleh masing-masing Islamic Center, yang dapat dijadikan acuan perencanaan Nurul Huda Islamic Center.

5. Validitas Data

Guna menjaga dan menjamin data yang penulis perolah saat melakukan penelitian, penulis dokumentasikan hal-hal yang telah penulis teliti dan mencari bahan pertimbangan atau bahan dengan konsep dan tema sejenis.

6. Analisis Data

(28)

commit to user

11

BAB II

KAJIAN LITERATUR

A. KAJIAN TEORI

1. Kajian Tentang Islam

i. Pengertian Islam

 Islam berasal dari kata jadian aslama, kata dasarnya salima.

 Aslama : menyerah, taat dan berserah diri pada Allah atau

menganut Islam. Artinya menyerah kepada Allah dan besedia tunduk kepada segala yang datang dari Allah dan bersedia berkorban sebagai tanda pengabdian terhadap Allah sebagai khaliknya. (Gazalba, Sidi Drs: Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, 1989:65)

“Dia itu adalah pelindung kami dan kepadaNYA kami orang

-orang mukmin berserah diri”. (Q.S. Al-Baqaraah : 51)

 Salima : selamat, sejahtera, tidak bercela. Artinya islam itu

membawa pemeluknya ke arah keselamatan baik di dunia maupun di akherat kelak. (Gazalba, Sidi Drs: Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, 1989:65)

“ Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam

silm (kedamaian) seluruhnya dan janganlah kamu turut angkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang terang

(29)

commit to user

“ Dan kalau mereka telah condong cinta kepada salm

(perdamaian) hendaklah kamu condong (cinta pula)

kepadaNYA”. (Q.S. Al-Anfal : 61)

 Islam adalah jalan untuk mencapai ridlo Allah dan keselamatan

dunia akherat dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT. (Drs. KH. Ahmad Dimyathi Badruzzaman,. Dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009)

 Islam adalah agama yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW,

bepedoman pada kitab suci Al-Quran, yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT. (Budiono,MH. Dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009)

“ Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu addin kamu dan

telah kucukupkan nikmatku padamu dan aku berkat islam

menjadi addinmu”. (Q.S. Al-Maidah : 3)

ii. Karakteristik Agama Islam

Karakteristik Agama Islam

Menurut Dr. Yusuf al-Qardhawi, ulama Mesir terkemuka,

dalam bukunya al-Khasha`ish al-Ammah li al-Islam, menjelaskan

karakteristik Islam tersebut sebagai berikut:

(1) Rabbaniyyah (ketuhanan), artinya Islam merupakan agama yang

bersumber dari Allah s.w.t., bukan hasil ciptaan manusia.

(2) Insaniyyah (kemanusiaan), yaitu Islam merupakan satu-satunya

(30)

commit to user

(3) Syumuliyyah (menyeluruh), artinya Islam merupakan agama

yang mengatur segalaaspek kehidupan manusia, mencakup

akidah (teologi), ibadah, muamalah (hubungan antar sesama

manusia), jinayah (pidana), ahwal syakhshiyyah (perdata), dan

akhlak (moralita).

(4) al-Waqi’iyyah (real), artinya semua ajaran Islam adalah realistis,

dapat dengan mudah diaflikasikan dalam kehidupan.

(5) al-Wasathiyyah (moderat), yaitu ajarannya sangat memperhatikan

unsur keseimbangan (balance) antara faktor materi atau jasmani

dengan faktor immateri atau rohani.

(6) al-Wudhuh (jelas), artinya Islam memiliki konsep yang jelas

dalam membina umatnya.

(7) al-Jam’u baina al-Tsabat wa al-Murunnah (integritas antara

permanen dan fleksibel), maksudnya bahwa ajaran Islam

memperhatikan kondisi umat yang berbeda-beda, sehingga

menyatukan dua aspek sekaligus, yaitu antara ajaran yang

permanen dan fleksibel, atau antara azimah (ketetapan awal) dan

rukhshah (keringanan).

Risalah al-Qur’an yang disebut juga sebagai Risalah Ilahiyah

menjadikan agama Islam sebagai agama fitrah, agama yang

menjunjung tinggi akal pikiran, agama ilmu dan hikmah, agama

kebebasan dan kemerdekaan. Risalah al-Qur’an begitu penting dalam

membentuk jiwa manusia sehingga menjadi manusia yang

(31)

commit to user

Keberhasilan risalah Islamiyah tersebut ditunjang oleh hakikat

agama itu sendiri dan beberapa faktor lain. (www.info-jic.org. Dalam

Fajasani Retno Palupi. 2009)

2. Kajian Tentang Arsitekur Islam

i. Arsitektur Islam

Arsitektur islam merupakan wujud pepaduan antara kebudayaan manusia dan proses penghambaan diri seorang manusia kepada Tuhannya, yang berada dalam keselarasan hubungan antara manusia, lingkungan dan penciptanya. Arsitektur islam mengungkapkan hubungan geometris yang kompleks, hirarki bentuk dan ornament, serta makna simbolik yang sangat dalam. Arsitektur Islam merupakan salah satu jaawaban yang dapat membawa pada perbaikan peradaban. Di dalam arsitektur isam terdapat esensi dan nlai-nilai islam yang dapat diterapkan tanpa menghalangi pemanfaatan teknologi bangunan modern sebagai alat dalam mengekspresikan esensi tersebut.

(32)

commit to user

Arsitektur yang merupakan bagian dari budaya selalu berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Oleh karena itu, islam yang turut membentuk peradaban manusia juga memiliki budaya berarsitektur. Budaya arsitektur dalam islam

dimulai dengan dibangunnya ka’bah oleh Nabi Adam as sebagai

pusat ibadah umat manusia kepada Alah SW (Sooud. Dalam Holly Idris. 2008). Ka’bah juga merupakan bangunan yang pertama kai didirikan di bumi. Tradisi ini dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim as bersama putranya, Nabi Ismail as. Mereka berdua memugar kembali

bangunan ka’bah, setelah itu Nabi Muhammad SAW melanjutkan

misi pembangunan ka’bah ini sebagai bangunan yang bertujuan

sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT. Dari sinilah budaya arsiektur dalam islam terus berkembang dan memiliki daya dorong yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mencapai arti secara fungsional dan simbolis.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat Ali Imron ayat 96

“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat

nberibaadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk semua manusia”.

(33)

commit to user

ii. Pengertian Arsitektur Islam

Adapun beberapa pengertian arsitekur ialam antara lain:

a.Arsitektur islam adalah cara membangun yang Islami sebagaimana ditentukan oleh hukum syariah, tanpa batasan terhadap tempat dan fungsi bangunan, namun lebih kepada karakter islaminya dalam hubungannya dengan desain bentuk dan dekorasi. Definisi ini adalah suatu definisi yang meliputi semua jenis bangunan, bukan hanya monument ataupun bangunan religius. (Saoud. Dalam Holly Idris. 2008)

b. Menurut Sir Banister Fletcher, muslim architecture (atau menurutnya sama saja dengan Islamic aschitecture) adalah gaya arsitektur yang digunakan oleh kaum muslim atau disebut Muhammad architecture karena digunakan oleh para pengikut nabi Muhammad (Fletcher. Dalam Holly Idris. 2008), Fletcher kemudian menjelaskan bahwa arsitektu islam cenderung merupakan prodk agama daripada suatu produk Negara.

(34)

commit to user

iii. Islamic Center

Bangunan yang mampu menampung berbagai kegiatan dan

memberikan fasilitas yang lengkap dengan menarik perhatian

masyarakat berbagai kalangan dan dari segala usia untuk datang dan

mengetahui segala hal yang berkaitan atau semua ilmu yang

berkaitan dengan agama Islam.

Islamic center, bukan hanya untuk kepentingan keagamaan

saja, tetapi juga dapat berfungsi untuk mendapatkan ilmu

pengetahuan umum. Dengan fasilitas yang memadahi, para

pengunjung mendapatkan kemudahan-kemudahan yang telah

ditawarkan, sehingga minat pengunjung akan meningkat.

Pengunjung mendapatlan akses yang mudah dalam satu tempat atau

lokasi, selain hal itu, pengunjung juga dapat sembari melakukan

wisata rohani untuk lebih mengenal islam.

iv. Karakter Arsitektur Islam

Ada beberapa hal yang membedakan arsitektur islam dengan tipe arsitektu lain, misalnya arsitektur barat (western architecture), karakter ini tidak haus tanda-tanda cisual tetapi berupa hal yang lebih filosofis.

a.Menurut Fazlu R.Khan, arsitektu islami memiliki karakter:

(35)

commit to user

 Lingkungan binaan yang dikreasikan memiliki rasa

kedamaian (peace), keseimbangan (harmony), dan kesederhanaan (humbleness).

 Pada denah dan lay out ada konsep variasi keluaga dan

aturan mengenai wanita di rumah dan juga pada masyarakat (baca: kawasan). Hal ini menjadi penjajaran mengenai “public”, “semi privat”, dan “privat” yang spesifik.

Laki-aki tidak bersosialisasi secara langsung secara bersamaan. Court pada palace kemudian dibuat beberapa, ada yang khusus untuk perempuan dan ada juga berupa inner court pada suatu hunian keluatga.

2. Kecenderungan simetris dan sentralis yang diekspresikan pada denah tampak luar bangunan dan hal dalam (inside court). Simetri dan centrality adalah usaha untuk mencapai keseimbangan dan kesatuan dalam ruang (space) pada arsitektur islam muncul teutama pada bangunan masjid, istana dan benteng.

(36)

commit to user

dalam bangunan. (sensitive ting inside building). Penghargaan ini dipresentasikan dalam bentuk suara gemricik air yang mempengaruhi persepsi ruang (trickling sound in a delicate setting) dan ai pada fountain yang memang didesain memancur secara keci seperlunya, bukan otlet air yang memancu secara berlebihan (gushing or spraying.)

4. Meresponm iklim dalam bentuk (form and climate).

5. Koninuitas pada ruang secara verikal unuk kejelasan ruang pada arah manapun. Hubungan atas bangunan dengan elemen bagian bawah memiliki area dengan elemen transisi akibatnya apresiasi elemen ruang apabila dilihat dari bawah ke atas tidak mengalami suatu perubahan yang tiba-tiba. 6. Arsitektur sebagai sarana kesatuan tanah dengan langit. Hal

ini terekspresikan secara berulang pada detai-detail arsitektur, misalnya mempengaruhi bagaimana artikulasi pada dinding yang menyelimuti bangunan terhadap langit. Cara memahaminya:

 Ketika pengama mengamati bangunan arsitektur islami dari

kejauhan akan dirasakan suau rasa jalinan antaa langit dan bangunan. Langit menjadi suatu bidang datar dengan bangunan yang dikreasikan linier terputus pada garis atap  Ketika pengamat melihat dinding dan mengamati ujung

(37)

commit to user

visual. Langit dan dinding terasa saling memotong pada ujung atas dinding tersebut.

7. Adaptasi material lokal dan imaji local, hal ini karena arsitektur tergantung pada material struktur yang tersedia waktu itu dan batasan kemampuan perancangan ruang. Misal shelter penting ketika ibadah komunal (missal haji) di mekah adalah struktur atap tenda, sedang pada tempat yang berbeda dan pada waktu yang sama di Bangladesh atap menjadi merupakan potongan pohon. Hal ini menjadi keragaman arsitektur islam.

8. Façade dengan beberapa langgam yang secara kontiniu dan atau tradisional digunakan, sehingga ada beberapa elemen tertentu yang secara kaku dianggab dapat mewakili arsitektur islam, misalnya bebeapa tipe arsitektur yang khas secara buruk ditemui terlalu dipaksakan untuk diterapkan pada façade dan interior

(Fazlu R.Khan. Dalam Holly Idris.2008)

b. Ekspresi perancangan yang islami, menurut Faruqi berkarakter abstraktif, modular, kombinasi beruntun, peuangan, dinamis dan berdetail rumit.

1. Abstraktif

(38)

commit to user

adalah terlarang, karena telah berusaha mempresentasikan hal keillahian dalam bentuk fisik atau harfiah.

2. Struktur yang moduler

Produk diciptakan dari penggabungan modul-modul pada desain yang bermakna menjadi desain kolektif yang lebih besar, sehingga dapat dinilai dari cakupan moduar hingga keseluruhan.

3. Kombinasi beruntun

Modul-modul diatas disusun dengan kombinasi perulangan tertentu sehingga memiliki makna yang baru yang lebih luas atau kompleks, namun tanpa menghilangkan makna-makna unit atau modul penyusunnya. Hal ini tidak memungkinkan artikulasi modul yang terkecil dengan modul yang lebih besar, bahkan modul yang sangat kompleks, sehingga kemungkinan pola dapat tersusun tidak terhingga, sehingga tidak ada focus yang tunggal atau konklusif, tetapi suatu desain yang mempunyai focus yang tidak ada habisnya (menafikan awal dan akhir yang konklusif)

4. Menggunakan perulangan

Keberuntutan diatas disusun berulang, namun sedapat mungkin perulangan ini tidak mengekangindividualisasi tiap modul desain, walaupun berulang diusahakan satu modul tidak mencontoh modul yang lain (ada kontinuitas).

(39)

commit to user

Desain harus dapat dinikmati sepanjang zaman. Pada arsitektur persepsi ini didapat dari pemahaman ketika subjek melakukan gerakan beruruan melewati ruang, koridor, kubah dan cabang-cabangnya, bahkan suatu kompleks bangunan tidak bisa dipahami dari jauh sebagai suatu totalitas melewati bagian-bagian dan sudut-sudutnya.

6. Kerumitan

Desain yang rumit berusaha meningkatkan kemampuan pola atau arabesque untuk menarik pemirsanya. Kerumitan inipun didesain pada kerumitan dan kombinasi, sehingga memiliki ikonografi pola islam yang tidak terbatas, sehingga tetap berada pada suatu tatanan garis lurus.

(Al-faruqi, Ismail R. Atlas Budaya Islam. 2003) v. Ornamentasi dalam Islam

Ornamentasi islam meliputi dekorasi objek portebel yang terbuat dari bulu domba, kain wall, logam, keramik, kain atau maerial alain dan dekorasi arsitektural. Terlepas dari material atau teknik yang digunakan, ornamentasi islam memperlihatkan segi utilitas yang mencolok dalam fungsi dan artinya, maupun dalam struktur formal yang menjadi dasarnya.

1. Fungsi Ornamentasi Dalam Islam

Empat fungsi khusus dan penting yang mendefinisikan keutamaannya, yaitu:

(40)

commit to user

Pola indah yang ditemukan dalam seni islam merupakan upaya estetis nyata kaum muslim untuk menciptakan produk seni yang membuat pemandangnya dapat merasakan transendensi Tuhan.

Ornamentasi merupakan inti dari peningkatan spiritualisasi kreasi artistic islam dan lingkungan muslim. Dengan memberikan pola tak terbatas dimana-mana, ornamentasi dapat menaikkan nilai objek dari bidang kegunaan semata-mata dan menjadikan ungkapan ideology islam.

b. Transfigurasi Material

Ciri dari seni islam adalah sebagai seni yang menekankan abstraksi atau denaturalisasi dalam pemilihan dan pemakaian materi subjeknya. Tujuan estetis seni islam adalah menjauhkan pemandangnya dari konsentrasi kepada diri, dunia ini dan berkonsentrasi pada perenungan tentang tauhid, Tuhan dan alam yang berbeda. Karena itu seniman harus menggunakan material artistic dengan cara yang khusus dan konsisten.

(41)

commit to user

Penekanan pada struktur bangunan actual ditolak, karena itu akan menekankan factor naturalistic, susunan organisasi batang dan batu dari objek atau struktur arsitektural. Oleh karena itu seniman muslim cenderung menyamarkan detail konstruksi dengan lapisan ornament transfigurasi.

d. Keindahan

Fungsi keempat dari ornamentasi dalam seni islam adalah seperti tradisi artistic seluruh kebudayaan. Dengan demikian fngsi ini universal dalam kreasi estetis, yaitu pemakaian ornament untuk memperindah dan menghias

2. Ciri Ornamentasi Dari Berbagai Wilayah

 Wilayah I (Maghrib, Afrika Utara dan Spanyol)

- Jalinan wajik - Motif tempurung

- Lengkung / teras beratap bercuping - Lengkung / teras beratap ladam - Lengkung berjalin

 Wilayah II (Afrika Tengah)

- Gaya yang dipengaruhi motif wilayah I - Benuk geometris garis lurus

- Desain dibuat dengan tangan  Wilayah III (Masyriq)

(42)

commit to user

- Seang seling pita-pita warna  Wilayah IV (Turki)

- Lengkungn segitiga - Segitiga turki

- Kubah segitiga atau kerucut  Wilayah V (Iaran dan Asia Tengah)

- Gambar modis dari alam (sangat penting) - Motif lembut

 Wilayah VI (Anak Benua India)

- Lengkung / gang beratap bercuping - Gambar teratai terbalik di sabit kubah

- Naturalisme lebih besar dalam gambar yang dibentuk dari alam

- Kubah bulat

 Wilayah VII (Asia Timur)

- Motif gelombang - Motif haluan kapal

- Benuk tumbuhan dan hewan yang menakjubkan - Motif paying

- Motif naga

- Lengkung / gang beratap bercuping - Kubah bulat

(43)

commit to user

Dalam beberapa mcontoh pola tak terbatas, eniman nampaknyatelah menggunakan lebih dari satu bentuk dasar dalam satu desain arabesque. Ada beberapa macam struktu arabesque, diantaranya:

 Struktur multi unit

Struktur munfashilah (terputus) pertama dapat disebut arabesque multiunit atau ppola tak terbatas. Struktur ini tersusun dari bagian-bagian atau modul-modul khas yang digabungkan dengan cara aditif dan repetitive.

 Struktur mutadakhilah atau struktur saling berpotongan

Struktur kedua yang lazim dijumpai sebagai prinsip pengatur dasar dibalik pola ornamentasi islam disebut “saling

berpotongan” atau “ mutadakhilah”.

Pengulangan dan keragaman titik-titik focus juga penting disini, untuk memberikan kesan suksesi tanpa akhir. Struktur ini juga merupakan contoh pola tak terbatas, tetapi struktur ini lebih memberikan ekspresi visual estetis tauhid yang lebih memperlihatkan kontinuitas daripada pemusatan.

 Struktur berjalin

(44)

commit to user

dapat membeikan “jalan” bagi evolusi berlanjut. Motif ini

tidak memberi peluang untuk awal atau tengah, klimaks atau kesimpulan untuk pola .

 Struktur berkembang

Spesies kedua struktur bersambung, dan bentuk keempat ornamentasi islam yang lazim dipakai disebut arabesque mengembang. Karena spesies ini memberikan kesan desain eksplosif yang senantiasa berkembang.

4. Seni kaligrafi

Kaligrafi (calligraphy) berasal dari perkataan Latin “

Kalios” yang bererti indah dan “graph” yang bererti tulisan atau

aksara. Erti keseluruhan kaligrafi ialah kepandaian menulis atau tulisan yang menarik. Bahasa Arab menyebutnya khath yang berarti garis atau tulisan indah. (Samsu Abadi Mamat, dalam seni khath.com)

Definisi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Syeikh Syamsuddin Al Akfani di dalam kitabnya, Irsyad Al Qashid bab

“ Hashr Al „Ulum” yang dimaksud:

“Khat/kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan

bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara-cara

merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa

-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya

dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis; menggubah

(45)

commit to user

untuk menggubahnya.” (Samsu Abadi Mamat, dalam seni

khath.com)

Wujud seni kaligrafi bermacam-macam, ada yang berbentuk lengkung, ada pula yang berbentuk geometris. Semua tergantung dari tujuan dari masing-masing kaligafer dalam menerapkannya, bentuk ulisan yang sederhana agar mudah dibaca sebagai media penyampaian firman Allah atau berwujud lukisan sebuah objek sebagai sebuah seni hias murni. Jenis seni

kaligrafi dinamakan “khath”. Menurut Thackston (Frishman &

Khan, 1994:47) ada berbagai macam khath. Berikut contoh bacaan Bismillah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang), dalam berbagai macam Khat, antara lain:

a. Mashq – pertama kali berkembang di Mekah dan Madinah pada abad pertama era muslim.

Gambar 2.1. Khath Mashq

Sumber: petra Christian University Library

b. Square Kufic -- berkembang di Kufa pada abad 9, lebih dihias dan merupakan yang paling berpengaruh dalam seni kaligrafi islam.

(46)

commit to user

Sumber: petra Christian University Library

c. Eastern Kufic versi yang lebih sulit, berkembang pada akhir abad ke 10.

Gambar 2.3. Khath Eastern Kufic

Sumber: petra Christian University Library

d. Thuluth berkembang pada abad Sembilan, biasa digunakan untuk prasasti yang bersifat ornamental.

Gambar 2.4. Khath Thuluth

Sumber: petra Christian University Libra ryNaskhi– relative mudah dibaca dan ditulis, sering kali digunakan untuk naskah Al-Quran setelah didesain ulang pada abad ke10. Khath ini merupakan pokok dasar sebuah kaligrafi dan tidak banyak menampilkan gaya (sederhana). Khath Naskhi sangat tidak cocok dan tidak sesuai apabila dipergunakan untuk berbagai macam model seperti mengemas dengan cara menumpuk huruf satu dengan huruf lainnya.

Gambar 2.5 Khath Naskhi

(47)

commit to user

e. Muhaqqaq – juga biasa digunakan untuk menulis Al-Quran, menampilakan garis-garis lengkung dengan alur yang jelas dari kanan ke kiri.

Gambar 2.6 Khath Muhaqqaq

Sumber: petra Christian University Library

f. Rihani – kombinasi antara Thuluth dan Nskhi, ditulis dengan pena khusus untuk menampilkan karakteristiknya.

Gambar 2.7 Khath Rihani

Sumber: petra Christian University Library

g. Taliq – tulisan yang “menggantung”, dikembangkan oeh kaligafer Persia pada abad ke9, selanjutnya masih digunakan untuk keperluan-keperluan penting meskipun setelah itu diketemukan banyak variasi seperti Nastaliq yang dikenal pada abad 15 dan merupakan model tulisan yang sering digunakan untuk dokumen atau srat menyurat oleh bangsa Persia.

Gambar 2.8 Khath Taliq

(48)

commit to user

3. Kajian Tentang Fasilitas Perencanaan dan Perancangan Interior

a. Bangunan Utama (Masjid)

Masjid adalah rumah Allah, seperti makna yang tersirat dalam firman Allah:

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan

untuk dimuliakan dan disebut nama-NYA di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi

goncang”. (Q.S. An-Nuur : 36-37)

Dengan demikian, masjid adalah rumah Allah SWT, yang dibangun agar umat mengingat, mensyukuri dan menyembahNYA dengan baik. Ibadah terpenting yang dilakukan di masjid adalah shalat yang merupakan tiang-tiang agama islam dan kewajiban ritual sehari-harinya, yang memungkinkan seorang muslim berjumpa dengan Tuhannya lima kali dalam sehari semalam, sehingga bisa dimisalkan dengan kolam-kolam spiritual yang menjadi tempat pembersihan dari segala dosa, noda dan bekas-bekas kelengahannya, setiap hari lima kali. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

“ Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan

petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya poerbuatan-pebuaan yang baik itu menghapuskan (dosa)

(49)

commit to user

i. Pengertian masjid

 Masjid berasal dari bahasa Arab. Kata pokoknya sujudan, fi’il

madinya sajada (ia sudah sujud). Jadi bila dilihat dari segi harfiah, masjid adalah tempat untuk sujud (sembahyang). (Mesjid Pusat Ibadat Dan Kebudayaan Islam.1989:118)

 Nabi Muhammad berkata, “ seluruh jaga tealha dijadikan

bagiku masjid (tempat sujud)”. (Bukhari 7:1)

Yang maksudnya bahwa sujud kepada Tuhan tidak terikat pada tempat.

Yang membedakan seluruh bumi sebagai masjid dan gedung sebagai masjid adalah:

- Seluruh jagad adalah masjid bagi muslim, tempat untuk sujud kepada Tuhan, tempat untuk memperhambakan diri pada Tuhan, tempat meluhurkan Tuhan.

Nabi menerangkan, “ bumi ini bagiku suci, bersih dan

boleh dijadikan tempat untuk sembahyang, maka dimanapun orang berada bolehlah ia sembahyang bika

waktunya telah tiba”. (Hadist Muslim:316)

- Gedung sebagai masjid aadalah tempat atau embaga yang merupakan benih, yang dalam perkembangannya melahirkan dunia islam (sebagai pusat ibadat dan kebudayaan islam).

 Masjid secara bahasa berarti tempat yang digunakan untuk

(50)

commit to user

bangunan yang didirikan untuk tempat berkumpualnya kaum muslim guna mengerjakan shalat.

 Masjid dalam pengertian syar’I adalah tempat yang disediakan

untuk mengerjakan shalat 5 waktu untuk selamanya. Asal kata masjid adalah setiap tempat dibumi yang digunakan untuk sujud kepada Allah. Hal ini berdasarkan hadist Jabir ra. Dari nabi SAW beliau bersabda:

“… dijadikanlah untukku bumi sebagai masjid dan alat

bersuci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, hendaklah ia mengerjakan shalat (dimana saja mereka berada). (HR Bukhari-Muslim)

ii.Sejarah dan Penyebaran masjid

(51)

commit to user

Di zaman perkembangan islam berkembang pula masjid, baik dalam jumlah, besarnya, bentuk, rupa maupun dalam cara pelaksanaan tugas-tugasnya.

Berbeda dari Timur Tengah pembangunan masjid pada awal kurun islam di Indonesia bukanlah dilakukan oleh jendral-jendral, karena arus Islam di Indonesia bukan mengaliri saluran pertikaian politik, tapi saluran perdagangan. Pedagang-pedagang muslim selain membawa barang dagangannya juga membawa keyakinan. Tidak ada pemisahan antara akherat dan dunia, agama dan kebudayaan, antara dagang dan dakwah. Pekerjaan pedagang-pedagang ini yang sekalian juga mubaligh, dilanjutkan oleh mubaligh khusus. Di Jawa mereka terkenal dengan sebutan Wali, kiayi. Di Sumatera dengan panggilan Syekh, Tuanku, Ulama, dan sebagainya. Pendirian masjid berpangkal dari kegiatan-kegiatan mubaligh ini.

Masjid adalah lambang islam. Masjid merupakan barometer atau ukuran dari suasana dan keadaan masyarakat muslim yang ada di sekitarnya. Maka pembanguan masjid bermakna pembangunan islam dalam suatu mmmasyarrrakaaat. Keruntuhan masjid bermakna keruntuhan islam dalam masyarakat.

(Mesjid Pusat Ibadat Dan Kebudayaan Islam.1989:268) iii.Fungsi masjid

(52)

commit to user

b. Masjid merupakan tempat kaum muslimin beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

c. Masjid adalah tempat kaum muslimin beriktikaf, membersihkan diri, menggembleng batin unuk membina kesadaran dan mendapatkan pengalaman batin atau keagamaan sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta keutuhan kepribadian.

d. Masjid adalah tempat bermusyawarah kaum muslimin guna memecahkan persoalan-pesoalan yang timbul dalam masyarakat.

e. Masjid merupakan tempat kaum muslimin berkonsultasi, mengajukan kesulitan-kesulitan, meminta bantuan dan pertolongan.

f. Masjid adalah tempat membina keutuhan ikatan jamaah dan kegotongroyangan didalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

g. Masjid dengan majelis taklimnya merupakan wahana untuk meningkatkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan muslimin. h. Masjid merupakan tempat pembinaan dan pengembangan

kader-kader pemimpin umat.

i. Masjid tempat mengumpulkan dana, menyimpan dan membagikannya.

(53)

commit to user

iv.Dasar Hukum Perancangan Masjid

Al-Quran dan Al-Hadist merupakan pegangan bagi umat islam salam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan sekecil apapun. Al-Quran adalah kitab suci umat islam yang merupakan firman Tuhan yang tertulis dan menjadi pegangan hidup yang utama. Sedangkan A-Hadist adalah segala ucapan dan tingkah laku nabi Muhammad SAW yang dijadikan suri tauladan bagi kehidupan sehari-hari. (Irwin, 1997:262). Jika ketentuan-ketentuan tentang sesuatu hal tidak diatur dalam Quran dan Al-Hadist, maka seorang muslim harus melakukan ijtihad yang berarti mencurahkan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu dengan menggunakan akal sekuat mungkin tetapi idak bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Hadist.

Jadi walaupun tidak diatur secara tertulis dalam Al-Quran dan Al-Hadist mengenai bagaimana seharusnya bentuk suatu masjid, kaum muslim disarankan melakukan ijtihad dalam merencanakan ruang masjid. Ini berate merupakan kesempatan bagi umat islam untuk berpikir, mengambil kepuusan dan berinovasi dalam mendesain suatu masjid.

(54)

commit to user

sederhana, denah segi empat dengan dinding-dinding disekelilingnya. Meskipun demikian, masjid yang sangat sederhana tersebut dijadikan orientasi atau pola dasar yang utama bagi masjid-masjid sesudahnya bahkan hingga saat ini. Pola masjid tersebut adalah masjid lapangan, yaitu adanya lapangan sebagai unsur utama di bagian tengah denah yang dikelilingi dinding sebagai pembaas dengan bagian luar masjid. (Rochym, 1983:26-27).

Lebih lanjut Rochym menjelaskan bahwa disalah satu bagian dinding masjid tersebut, yaiu dinding pada arah Mekkah, kota tempat kedudukan Ka’bah, terdapat sedikit penonjolan dan agak ditinggikan. Tempat ini biasa dipergunakan oleh nabi Muhammad SAW unuk menyampaikan dakwah dan memimpin umat bersembahyang. Dalam perkembangan masjid selanjutnya, ruangan yang khusus ini berubah bentuk menjadi semacam relung

atau ceruk yang senantiasa menunjukkan arah kiblat (Ka’bah) dan

kemudian dikenal dengan nama mihrab. Sedangkan didekatnya yaiu tempat duduk nabi yang merupakan tempat yang ditinggikan diberi nama mimbar dan senantiasa menjadi tempat yang penting untuk ditampilkan dengan penuh gaya dan kemewahan hiasan.

(55)

commit to user

kemudian diikuti jamaah/makmum. Posisi makmum pria adalah di depan makmum wanita. (Ashari, 1999:71).

Pembagian tersebut dapat kita lihat pada zooning dibawah ini:

(arah Ka’bah)

1 2

3

Gambar 2.9. Zoning ruang sholat

Sumber: petra Christian University Library Keterangan:

 Zoning 1 yaitu letak dinding mihrab

dan mimbar sebagai tempat imam beradi ketika memimpin sholat dan berkhotbah, yang juga menunjkkan aah kiblat.

 Zoning 2 yaitu area makmum pria

 Zoning 3 yaitu area makmum wanita.

(56)

commit to user

dan sulur-sulur atau stilasi tumbuhan. Motif-motif tersebut mengakibatkan adanya ciri khas elemen hias pada ruang masjid. v. Elemen Hias Masjid

Elemen hias merupakan salah satu factor penunjang setetika. Bila dikaji secara etimologi, elemen berari unsure, bagian (yang penting, yang dibutuhkan) dari keseluruhan yang lebih besar. (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa, 1990:224).

Dalam desain interior, elemen merupakan unsur-unsur yang membentuk ruang, yaitu unsure geometri berupa itik, garis, bidang dan voume. (Ching, 1996:11).

Elemen hias islam lebih mengacu pada wujud atau jenis motif yang dipilih untuk diterapakn dalam interior bangunan khususnya masjid, sebagai sentuhan akhir yang menunjang estetika dan tentunya berdasarkan aturan-aturan islam. Diantaranya:

a. Pola hiasan Arabesk

(57)

commit to user

Gambar 2.10. Pola hiasan arabik Sumber: petra Christian University Library

Gambar 2.11.

Penerapan hiasan arabik pada bagian atas relung mihrab the great mosque Sumber: petra Christian University Library

b. Pola geometris

(58)

commit to user

Gambar 2.12. pola octagon

Sumber: petra Christian University Library

Gambar 2.13 pola bintang

Sumber: petra Christian University Library

Gambar 2.14.

pola hias geometri (modifikasi) Sumber: petra Christian University Library

Gambar 2.15. Gambar 2.16.

(59)

commit to user

c. Seni kaligrafi arab

Perwujudan seni kaligrafi merupakan media penyampain firman Tuhan. Jadi selain sebagai elemen hias yang sangat tinggi nilainya, penerapannya dalam interior sebaiknya pada posisi yang mudah dibaca karena menggambarkan bahwa Tuhan sedang berbicara dengan manusia.

Gambar 2.17

Tampak dinding bagian mihrab dan mimbar dengan perpaduan pola hias kaligrafi-bentuk geometri

Sumber: petra Christian University Library

d. Pencahayaan

(60)

commit to user

Gambar 2.18.

Interior salah satu masjid di Madinah. Dominasi warna emas dengan pantulan cahaya yang berkesan mewah

Sumber: petra Christian University Library

b. Bangunan Pendukung (Auditorium/ Gedung Serba Guna)

i. Pengertian Auditorium

Menurut A. Kunti Pratiwi dkk, auditorium adalah ruang yang digunakan untuk acara pertunjukan atau audiovisual, seperti theater, konser, pemutaran film dan sebagainya.

Menurut Earnst Neufert, 1980, ruang serbaguna adalah ruang yang dapat digunakan untuk berbagai bentuk kegiatan seperti pertemuan, jamuan makan, pesta, pameran dan sebagainya. Yang menjadi pertimbangan dalam desainnya antara lain: jalan masuk yang terpisah untuk ruang serbaguna yang berukuran luas, dilengkapi dengan partisi yang moveable, dan didukung dengan perlengkapan audiovisual.

Menurut WJS Poerwadarminta, ruang pertemuan adalah ruang tempat berkumpul untuk mendengarkan ceramah, mengadakan pertunjukan dan sebagainya disekolah, universitas, atau gedung lain.

(61)

commit to user

1) Auditorium Khusus

Yaitu, ruang peretemuan yang didesain khusus untuk satu jenis aktivitas seperti drama theater, opera house, concert hall, film theater, dan musical theater.

2) Auditorium Multifungsi

Yaitu, ruang pertemuan yang dirancang untuk mengekomodasi dua atau lebih aktivitas dalam satu tempat. (Joseph De Chiara and Michael J. Crosbine, 1998)

iii. Fungsi Auditorium

1) Sebagai prasarana kegiatan

2) Sebagai tempat mempertunjukkan kegiatan-kegiatan kesenian, kebudayaan, dan acara lainnya baik bersifat formal maupun non-formal.

3) Sebagai tempat mempelajari aspek-aspek seni, budaya, sosial dan aspek yang lainnya.

iv. Aktivitas Auditorium

Aktivitas auditorium terdiri dari : 1) Pihak Penyelenggara

a) Melayani pengunjung (informasi, tiket, menjaga kebersihan, dan lain-lain)

b) Mengurus administrasi

(62)

commit to user

a) Melakukan persiapan (berhias dang anti kostum) b) Melakukan koordinasi dan latihan

c) Melaksanakan pentas 3) Pihak pengunjung

a) Membeli tiket b) Menonton acara v. Elemen pembentuk ruang

1) Lantai

Menurut Harold Burris Meyer & Edward C. Cole , Lantai pada alas ruang auditorium harus tenang dengan alas karpet atau sejenisnya pada seluruh ruang audience, bunyi harus ditangkap dan diserap oleh pendengaran, sehingga lantai tidak menimbulkan bunyi.

Agar semua penonton mendapat pengalaman audiovisiual yang baik, maka kemiringan lantai landai membuat bunyi lebih mudah diserap bila merambat melewati penonton dengan sinar datang miring, seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2.19

Pengaruh kebisingan lantai terhadap dumber suara

(63)

commit to user

2) Dinding

Dinding berfungsi sebagai media pemantul, pengarah dan penyerap suara. Dengan cara pemilihan bahan dan bentuk dinding yang mendukung akustik ruang serta penempatan posisi pada tempat yang tepat maka kondisi mendengar yang baik akan tercapai.

Dinding bangunan sebagaian besar mampu mempunyai ketebalan 30 cm. Dinding sebagai pembatas ruang akustik mempunyai aturan umum yaitu bahan penyerap bunyi harus dipasang pada permukaan batas auditorium yang mempunyai kemungkinan besar menghasilkan cacat akustik seperti gema, gaung, pemantulan berkepanjangan dan pemusatan bunyi. Lapisan akustik mula-mula di berikan pada dinding belakang (berlawanan dengan sumber bunyi) kemudian pada dinding sampai yang paling jauh. Keduanya di beri lapisan absorpsi suara dan dimanfaatkan untuk memantulkan suara dari arah horizontal terhadap penonton yang berada paling jauh dari sumber suara sekalipun. Untuk menghindari pemusatan bunyi (echo) maka dihindari adanya cekungan pada dinding bagian belakang (Leslie L. Doelle & Lea Prasetio, dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009).

(64)

commit to user

bunyi pantul agar merata dan memperkuat bunyi terutama untuk pendengar di bagian samping, dapat diperjelas dengan gambar di baeah ini:

Gambar 2.20

Pemanfaatan dinding belakang dan samping secara akustik Sumber: Lusinda Irene M, dkk, dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009

3) Langit-langit

Langit-langit membantu dalam penyebaran vertical suara dan dapat meredamnya, didukung oleh dinding dan lantai. Pada Auditotium, pemasangan bidang-bidang gema dapat meningkatkan pemantulan secara langsung. Ceiling bagian belakang dibentuk melengkung atau miring di beri penyerap suara untuk mengurangi gema dan menghindari pemantulan balik (feedback).

Gambar 2.21

Pemantulan ceiling secara akustik

(65)

commit to user

Keterangan :

A. Sangat baik, pemantulan tersebar. B. Tidak sebaik A

C. Sangat dihindari, menyebabkan pemusatan bunyi. Menurut Harold Burris Meyer & Edward C. Cole, ketinggian ceiling untuk music antara 1/3 atau 2/3 dari lebar ruangan. Untuk ruang pertunjukan, dengan lebar 100 feet dan panjang 150 feet, tinggi langit-langit antara 30-35 feet. Pada langit-langit stage dibuat labih tinggi dari langit-langit ruang penonton untuk meletakkan segala perlengkapan panggung seperti lampu, kabel, tirai, panel-panel dekorasi, dan lan-lain. vi. Interior sistem

1) Pencahayaan

a) Penerangan Umum

(66)

commit to user

tepat, sehingga efek pencahayaannya berada pada radius yang sebenarnya (Majalah Griya Asri, dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009).

Auditorium pada prinsipnya menghindari bukaan yang berlebihan, pencahayaan buatan pada level 100-200 lux. Ketajaman penglihatan akan bertambah jelas dengan besarnya perbedaan tingkat luminasi antara obyek dengan lingkaran sekitar secara langsung. Bisa juga dengan membuat obyek terang pada background gelap. Pencahayaan umum untuk kegiatan backstage, kegiatan Auditorium sebelum dan sesudah pementasan atau saat pementasan berlangsung, yaitu untuk penerangan sirkulasi termasuk pintu darurat dan petunjuk toilet. Untuk lampu dipilih yang sedang atau hangat, minimal sebesar 10 fe (foot candle) selama istirahat dan 0,1 fe (=0,1 lumen/ft2) selama pertunjukan berlangsung. Untuk foyer atau loby minimal 10 fe. Untuk entrance minimal 30 fe (30 lumen/ft2) = 30 x 10,764 = 322,92 lumen/m2) (Ernst Neufert, 1987, h.176).

b) Penerangan Khusus

Untuk aktivitas panggung yaitu :

 Memperjelas ekspresi atau gerak pemain  Memberi efek untuk menguatkan karakter

(67)

commit to user

 Member efek warna sesuai cerita

 Membentuk ruang gerak pemain

ntuk stage, pencahayaan tidak boleh menimbulkan silau bagi penonton atau pemain. Sudut datang vertical 450 dan sinar datang horizontal 600. Iluminasi di atas stage lebih tinggi dari ruang penonton, supaya perhatiannya terarah ke stage missal sampai 500 lux (A. Faizin, 1990, h.120).

Gambar 2.22

Sudut dating cahaya terhadap panggung

Sumber: Fred Lawson, dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009

c) Sistem Pencahayaan

Menurut J. Pamudji Suptandar penempatan sumber cahaya pada ruangan terdapat beberapa teknik antara lain

i. Teknik pencahayaan pada dinding terdiri dari ;

- Cove Lighting : pencahayaan distribusi tidak langsung dengan sumber cahaya yang ditempatkan pada dinding secara tersembunyi. - Valances Lighting : pencahayaan distribusi tidak

(68)

commit to user

ditempatkan di atas jendela untuk direfleksikan kearah ceiling bawah.

- Wall Lighting : variasi dari valences dengan penempatan sumber cahaya pada dinding tidak terikat di atas jendela dan tidak terikat ketinggian - Accent Lighting : dengan distribusi langsung,

sumber cahaya di tempatkan di dinding.

ii. Menurut M. David Ega, Teknik pencahayaan langit-langit terdiri dari ;

- Cornices Lighting : pencahayaan distribusi langsung, dengan sumber cahaya yang ditempatkan pada langit-langit dan direfleksikan ke bawah.

- Recessed in Ceiling : pencahayaan distribusi langsung, dengan sumber cahaya yang ditempatkan tersembunyi masuk ke langit-langit. - Attached to ceiling atau surface mounted :

pencahayaan distribusi langsung, sumber cahaya menempel pada permukaan langit-langit.

- Luminous : pencahayaan distribusi langsung, dengan penggunaan sheet transparan.

(69)

commit to user

d) Efek Lighting

Merupakan bagian yang sangat penting untuk memproduksi suatu pertunjukan terdiri dari :

 Fire Light, dengan efek sinar seperti nyala api.

 Laser, sinar laser dengan berbagai jenis warna dan

model

 Car Head Light, berupa motor penggerak lampu yang

sangat penting untuk menentukan posisi lampu. e) Posisi pencahayaan gantung

Keefektifan pencahayaan tergantung dari banyaknya peralatan yang dimiliki ruang itu. Kebanyakan Auditorium menggunakan sistem pemasangan lighting secara permanen. Pada beberapa lampu, posisi biasanya dipasang di atas ruang penonton untuk pencahayaan depan (disebut

„Ceiling Coves’). Terdapat juga posisi lighting

menggunakan “Box Boms’, yaitu berupa sambungan pipa

yang menyatu dengan proscenium.

(70)

commit to user

tambahan digunakan uplight di lantai, atau footlight (yang sekarang lebih jarang digunakan).

2) Penghawaan

a) Terdapat dua jenis sistem pengaliran udara, yaitu :

Sistem mekanis, semisal kipas angin untuk mempercepat gerakan udara dengan tidak mengurangi derajat kelembaban udara sekitar.

b) Sistem AC, sistem pengaturan udara dalam ruang secara teratur dan konstan.

Adanya sirkulasi udara yang lancar memungkinkan ruangan dalam suhu dan kelembaban yang wajar dan nyaman.

Gambar 2.23 System penghawaan

Sumber: Fred Lawson, dalam Fajarsani Retno Palupi. 2009

Keterangan :

Gambar

Gambar 2.1. Khath Mashq
Gambar 2.3. Khath Eastern Kufic
Gambar 2.6 Khath Muhaqqaq
Gambar 2.9. Zoning ruang sholat
+7

Referensi

Dokumen terkait